Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Saya ingin mengungkapkan rasa syukur ke hadirat Allah SWT, dan mengucapkan terima kasih yang tak terhingga, atas segala saran, sambutan dan komentar atas blog yang baru saya ciptakan ini. Saya menyimak dengan sungguh-sungguh semua masukan yang telah diberikan. Saya menganggap semua itu sangat berharga bagi saya, sebagai seorang pemula di dunia blog.
Saya telah bertemu secara langsung dengan rekan-rekan, Jay, Priyadi, Vavai dan beberapa yang lain. Kami berbincang-bincang lebih satu jam. sambil minum dan makan malam di Billiton Bistro, Plaza Senayan, Jakarta, hari Rabu malam tanggal 7 November yang lalu. Pertemuan itu saya rasakan sungguh sangat berharga. Saya bukan saja dapat berkenalan secara langsung dengan mereka yang telah relatif lama berkecimpung di dunia perblogan, tetapi juga dapat menimba ilmu dengan mereka. Dengan pertemuan itu, maka segala keraguan, spekulasi dan syak-wasangka yang semula ada atas diri saya, dapat diakhiri. Kalau menggunakan istilah agama, rekan-rekan itu bukan saja “ainul yaqin” (percaya karena menyaksikan dengan mata kepala), tetapi juga menjadi “haqqul yaqin” (sungguh-sungguh percaya di alam pikiran dan hati). Atas kebaikan dan saran mereka, serta rekan-rekan yang lain, akhirnya saya membuat blog saya sendiri, sebagai wahana bertukar pikiran.
Vavai bahkan telah berbaik hati membantu saya membuat blog yang baru, dengan disain dan penampilan, yang Insya Allah, akan lebih baik daripada blog saya yang ada sekarang ini. Dengan blog yang baru itu nantinya, rekan-rekan yang ingin menyampaikan komentar, akan lebih mudah melakukannya. Saya ingin membuka ruang yang selebar-lebarnya pada blog saya ini, sehingga mereka yang bukan “blogger” juga dapat mengakses dan menyampaikan komentar mereka. Saya ingin belajar, mendengar dan memperhatikan pandangan dari semua orang, tanpa mempersoalkan siapa orang itu. Mungkin pandangan kita berbeda, bahkan bertentangan satu sama lain. Tetapi tidak mengapa. Saya percaya bahwa hikmah dan kebijaksanaan, akan kita peroleh di tengah benturan pendapat yang berbeda-beda. Meskipun demikian, dalam rangka pembelajaran bagi kita semua, alangkah baiknya jika suatu pendapat yang kita kemukakan, didasari oleh argumentasi-argumentasi sebagai pendukungnya. Pandangan yang sinis — mohon maaf saya menggunakan istilah ini — tetapi tanpa argumen, walaupun tetap harus kita hormati, namun kurang bermakna bagi kita yang dahaga akan pengetahuan, hikmat dan kebijaksanaan.
Seperti telah saya ungkapkan dalam Kata Pengantar, saya hanyalah seorang hamba Allah yang dhaif. Pengetahuan saya sangatlah terbatas. Karena itu, saya berlindung kepada Allah SWT, agar saya dijauhkan dari sikap “ngotot” dan ingin benar sendiri. Saya selalu mengemukakan pendapat dengan dilandasi oleh suatu argumen. Kalau ternyata, dalam suatu pertukar-pikiran, saya menemukan pendapat orang lain yang didukung oleh argumen yang lebih kokoh dibandingkan dengan argumen yang saya miliki, maka saya dengan tulus dan ikhlas akan meninggalkan pendapat saya, dan mengikuti pendapat orang lain itu. Saya selalu memohon kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, semoga saya dijauhkan dari segala sikap takabur, riya dan sombong. Semoga pula Dia senantiasa menyirami batin dan pikiran saya, dengan sikap tawaddhu’ dan rendah hati.
Sebelum mengakhiri ungkapan terima kasih ini, saya ingin mengajak rekan-rekan semua untuk tetap menggunakan bahasa yang baik, sopan dan saling menghormati, walaupun mungkin kita berbeda dalam mengemukakan pendapat. Saya banyak menimba ilmu dalam berpolemik dengan beberapa tokoh, antara lain Mohammad Natsir, Mohamad Roem, Sjafruddin Prawiranegara, Buya Hamka dan Sutan Takdir Alisjahbana. Semua beliau itu, yang kini semuanya telah wafat, adalah guru saya dan membimbing saya secara langsung. Saya juga belajar kepada Syed Muhammad Naqieb al-Attas, seorang filsuf dan cendekiawan Malaysia. Saya pernah berpolemik dengan Nurcholish Madjid, Affan Ghaffar, Fachry Ali dan berkali-kali terlibat perdebatan lisan dengan beberapa tokoh di dalam maupun di luar negeri. Saya menelaah dengan tekun Polemik Kebudayaan tahun 1930-an antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Saya telaah juga polemeik Soekarno dengan Mohammad Natsir tentang agama dan negara menjelang kita merdeka. Saya baca juga perdebatan antara Sutan Sjahrir, Sjafruddin Prawiranegara dan sejumlah tokoh lain di era tahun 1950-an.
Perdebatan-perdebatan klasik dalam filsafat dan ilmu kalam juga saya telaah dengan seksama. Saya mempelajari dengan tekun balas pendapat antara Al-Ghazali dengan Ibnu Rusjd, antara Ibnu Taymiyyah dengan banyak pemikir, dan seterusnya. Bahkan, saya juga menelaah dengan tekun perdebatan yang cukup keras tentang “dasar negara” di Majelis Konstituante RI antara tokoh-tokoh Masyumi, PNI, PKI, PSI dan tokoh-tokoh lainnya. Semua polemik dan perdebatan itu, pada umumnya dilakukan dengan sportif, argumentatif, menggunakan bahasa yang baik, dan tidak pernah menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada relevansinya dengan topik perdebatan.
Akhirnya, saya mohon maaf tentang penggunaan bahasa. Beberapa rekan mengkritik saya karena bahasa saya sangat dipengaruhi oleh Bahasa Melayu klasik. Saya mohon maaf atas semua itu. Namun anehnya, beberapa tahun yang lalu, saya dan Susilo Bambang Yudhoyono, pernah diberi penghargaan oleh Pusat Bahasa, sebagai penguna Bahasa Indonesia yang baik. Saya sendiri sebenarnya heran dengan penghargaan itu. Di atas semua itu, sejujurnya saya katakan, bahwa saya mengikuti nasehat Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, seorang pujangga Melayu keturunan Bugis yang hidup di abad 19. Beliau pernah berkata bahwa bahasa itu menunjukkan bangsa. Bahasa yang baik, menunjukkan bangsa yang baik. Bahasa yang buruk, menunjukkan bangsa yang buruk pula.
Wallahu’alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 8th, 2007
118 tanggapan untuk “UCAPAN TERIMA KASIH”
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
Hukum Tata Negara Indonesia (komentar #31)
Assalamu’alaikum wr wb.
Surprise….., begitulah kira2 ungkapan yang keluar dari dalam diri saya ketika mengetahui Bapak Yusril Ihza Mahendra, Tokoh Politik dan Pakar Hukum Tata Negara Indonesia yang selama ini menjadi Idola saya ikutan ngeblog di blogspot. Selanjutnya, Saya ingin memberikan ucapan selamat atas peluncuran blog pak yusril dan saya berharap dengan adanya media blog ini, kami generasi muda Indonesia sebagai penerus bangsa dan negara dapat berdialog dan bertukar pikiran serta dapat menimba ilmu dan pengalaman dari bapak.
Pak yusril boleh minta alamat email pribadi bapak?oya pak silahkan mampir ke blog saya di http://www. hukumtatanegaraindonesia.blogspot.com salam Firdaus Arifin. (email : Firdausarifin@yahoo.com)
November 11th, 2007 at 10:40 am
Swary Utami Dewi (komentar #32)
Abang,
Ini Tami. Selamat kembali ke komunitas. Maksudku yang gak dibingungkan oleh hal-hal politis. He he. Kita di YISC Al-Azhar masih sering kontak.
Mudah-mudahan Abang bisa tetap sukses di bidang barunya: ngeblog dan main film.
Cheng Ho memang hebat, telah menemukan dunia sebelum para penjelajah barat menemukan apa yang mereka sebut sebagai dunia baru. Baru nyadar aku sesudah membaca bukunya Garvin, bahwa penjelajah barat membawa peta-peta yang sudah dihasilkan dari perjalanan armada di bawah pimpinan Cheng Ho.
Kapan-kapan ada waktu kita reunian lagi ya Bang.
Oya, Tami juga punya blog: http://www.sudewi.blog.com
Silakan buka dan komentari.
Thanks dan salam buat anak-anak, terutama Kenia (Ade). Lama aku gak melihat dia.
Wass, Tami
YISC Al Azhar
November 11th, 2007 at 11:00 am
Windede (komentar #33)
hebat… hebat… senang membaca gaya tulisan anda om yusril… :)
November 11th, 2007 at 11:33 am
Aul (komentar #34)
Kalau saya tidak masalah dengan melayu klasik, nambah pengetahuan. Kalau perlu bahasa yang bapak bisa dimasukin saja asalkan ada artinya.
Mungkin pada ga suka sama melayu klasik, lagi pada ga demen sama Malaysia :D
November 11th, 2007 at 12:23 pm
BECHI (komentar #35)
Apa kabar bos? Kelihatannya makin seger saja setelah kagak jadi Pak Menteri. He..he..he… Gimana nih persiapan capres 2009? Maju dong? Negeri ini butuh pemimpin energik dan ‘nakal’ (centil) seperti sampean lho.
Sudah saatnya tokoh-tokoh muda tampil. Berani enggak? Kalau berani, mari kita ‘mainkan’ bos… Sukses selalu ya.. Ada titipan salam nih dari sahabat lama sampean Uki M Kurdi. (www.bechipersda.blogspot.com)
November 11th, 2007 at 2:02 pm
Muhammad Kustiawan (komentar #36)
Assalamualaikum wr wb
Salam Kenal Untuk Bang Yusril, senang sekali bisa melihat Blog Bang yusril, yang juga pernah menjadi murid langsung pujangga politisi besar Islam Indonesia Muhammad Nasir, Hamka, syafrudin, dll. Kebetulan saya sdg meneliti pemikiran para pujangga besar politisi Islam tsb di Universitas di jepang dgn spesialisai Ilmu Politik..bila berkenan boleh sharing pengetahuan Bang yusril terutama mengenai kejadian sebenarnya “pertarungan” ttg dasar negara di Majelis Konstituante th 195o-an.
terima kasih banyak atas perhatian bang Yusril
wasalam
MK
November 11th, 2007 at 3:43 pm
ozzie (komentar #37)
Selamat ya..Bang.
Senang sekali melihat tulisan anda di BlogSpot ini. Kalau sempat main-main juga ke website kami http://www.begalor.com ( Content belum selesai semua ) kalau sempat, bergabung juga di Milis Belitung - paling tidak suara-suara “aneh” anak-anak Belitung perantauan ada yang membacanya hehehe.
Sekali selamat bergabung di BlogSpot.
Salam
ozzie
November 11th, 2007 at 6:29 pm
Pan Mohamad Faiz (komentar #38)
Assalamualaikum Bang Yusril,
Senang mendengar kabar bahwa Abang berencana untuk menjadi “Blogger” Indonesia berikutnya. Sebagai adik kandung di HMI Komisariat FHUI, juga junior penuntut ilmu hukum dan politik di negara India (Pakistan), saya menyambut baik dan mendukung penuh rencana tersebut.
Jika sudah terwujud sepenuhnya, mungkin Abang akan menjadi Guru Besar HTN UI pertama yang masuk dalam daftar komunitas Blogger Indonesia.
Selanjutnya, kami mohon izin untuk melakukan diskusi online mengenai issue-issue hukum, politik dan kepemerintahan.
Salam juga untuk Yuri di Jakarta.
Wassalam,
New Delhi
- Blogger Hukum Indonesia -
November 11th, 2007 at 6:40 pm
WishNoize (komentar #39)
~Assalamualaikum~
Saya hanya mau comment :
Seandainya seluruh tokoh sumber berita di Indonesia memiliki blog, tentunya dapat mengurangi ketidakseimbangan pemberitaan Pers (tanpa bermaksud menyudutkan pekerja Pers), yang selama ini dirasa hanya bertujuan mendongkrak Oplah dengan “mengheboh-hebohkan” berita yg seharusnya tidak (terlalu) heboh.
Mari jadikan Blog sebagai media informasi yang jujur dan berimbang.
Kalau perlu komunitas Blogger membuat Majalah gratis yg bahannya disadur dari artikel-artikel blog yang ada, lalu dibagi-bagikan kepada masyarakat yg belum mendapat kesempatan nge-Blog. Hal itu juga dapat jadi perangsang masyarakat untuk ngeblog.
~WasSalam~
November 11th, 2007 at 7:44 pm
Mada (komentar #40)
Tuan Yusril,
Selamat ngeblog.
Informasi saja, kumpulan blog tokoh lain silakan simak:
http://tokohindonesia.blogspot.com/
Untuk kumpulan blog orang-orang yang “mengutip omongan orang lain tentang saya, tetapi saya sendiri tidak pernah dikonfirmasi atau dimintai pendapatnya”
silakan simak:
http://www.jurukabar.com
Hormat saya,
yul
November 11th, 2007 at 8:39 pm
witriwahyu/chemie-uns (komentar #41)
Pak yusril, kok masih polos blognya..hihhi–;))
November 11th, 2007 at 9:45 pm
witriwahyu/chemie-uns (komentar #42)
Pak yusril, kok masih polos blognya..hihhi–;))
November 11th, 2007 at 9:46 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #43)
Assalamu’alaikum,
Terima kasih atas semua tanggapan. Kepada Abiulil, saya tentu tidak keberatan nama saya digunakan sebagai nama anak Anda. Nama Yusril, tentu bukan milik saya sendiri. Sebelum saya, sudah banyak orang menggunakan nama itu.
Untuk Firdaus Arifin dan Pan Mohammad Faiz, Insya Allah, dialog kita mengenai politik dan hukum tatanegara, dapat kita lakukan melalui blog ini. Saya ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman, sambil belajar juga dari semua orang yang berminat dengan kedua bidang pengetahuan itu. Resminya sesungguhnya gelar PhD yang saya peroleh adalah di bidang Ilmu Politik, seperti telah saya jelaskan dalam Kata Pengantar. Sebab itu, Prof. Harun Alrasid pernah mengolok-olok saya sebagai “professor salah angkat” karena saya diangkat sebagai professor hukum tatanegara. Waktu itu saya hanya tertawa dan mengatakan, toh saya belajar hukum S1 dan S2, jadi tidak salah angkat juga. Prof. Djokosutono juga hanya punya gelar S1 Hukum diangkat menjadi professor HTN, malah beliau sangat dihormti Prof. Harun. Dorodjatun Kuntjorojakti juga resminya Doktor Ilmu Politik, tetapi toh diangkat sebagai gurubesar Ekonomi.
Untuk Swari Utami, saya ucapkan terima kasih banyak. Sudah lama tidak bertemu. Saya senang untuk datang ke YISC lagi. Beberapa kali, saya datang ke Silat, ketika sholat zuhur di Al-Azhar di hari minggu, dan bertemu teman-teman di sana.
Untuk Bechi, saya ucapkan terima kasih juga. Kirim salam juga untuk Boss Uki M Kurdi, koncone sampeyan itu. Tolong bilang pada Boss Uki, saya ini kok dikuyo-kuyo terus sama Koran Surya asuhan beliau itu.
Terakhir, untuk Mohammad Kustiawan, saya sangat senang untuk mendiskusikan masalah itu. Ada beberapa artikel akademis yang pernah saya tulis tentang pemikiran politik Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Isa Anshary dan Buya Hamka. Rasanya saya masih mempunyai notulen sidang Konstituante secara lengkap yang saya warisi dari Prof. Osman Raliby. Beberapa ahli, telah membuat telaah tentang debat dasar negara di majelis itu. Saya juga pernah menelaahnya dan mendiskusikannya dengan Pak Natsir, Pak Osman Raliby dan Pak Zainal Abidin Ahmad.
Demikian tanggapan balik saya, semoga ada manfaatnya bagi kita semua.
November 12th, 2007 at 12:31 am
Galeri Muslim (komentar #44)
wah selamat ya pak, akhirnya buat blog and become blogger.
ini yang diceritaan mas vavai di millist, persis sama yang bapak ceritaan perihal pertemua di biliton bistro.
semoga bannyak manfaat yang bisa kita petik dari blog bapak
November 12th, 2007 at 7:20 am
artja (komentar #45)
Selamat datang di dunia blogger, Pak.
November 12th, 2007 at 8:46 am
resti (komentar #46)
Karena sudah ada yang memanggil abang, saya mau merubah panggilan jadi “abang” juga. Hehehe…kemarin masih sungkan soalnya. lagi pula bang yusril cuma setahun lebih tua dari suami saya, jadi ga beda2 amat kalo manggil abang.
Bang, melihat panjangnya jawaban yang abang tulis atas respon kawan-kawan, sepertinya sih,sudah waktunya abang membuat postingan tersendiri. Karena respon abang sudah bisa menjadi bahan tulisan terbaru.
Atau abang mau tunggu format blog terbaru dari vavai? Saya dan suami menunggu updating blognya abang lo! Karena belum update, jadi kita baca2 respon yang makin lama makin banyak.
Sekarang saya sedang berusaha membuat blog, hanya tulisan saya berkisar seputar kuliner.
Saya mengenal komunitas2 di dunia maya sejak menggunakan krl jabotabek sebagai tranportasi ke tempat kerja. Sekarang saya dan kawan-kawan mengasuh situs http://www.krlmania.com yang dikelola secara independen oleh para komuter yang menggunakan krl jabotabek. Karena pelayanan yang buruk dan tidak adanya wadah untuk menyalurkan aspirasi para penumpang yang daya tawarnya lemah terhadap transportasi publik, akhirnya kami membentuk komunitas di krl-mania@yahoogroups.com dan menghasilkan situs diatas.
Silakan abang berkunjung ke situs kami, barangkali nanti abang bisa memberikan masukan kepada para pengambil kebijakan tranportasi publik di negara ini. Walau bukan lagi mentri, tapi siapa tahu abang bisa memberikan masukan secara informal.
November 12th, 2007 at 8:55 am
Hipyan Nopri (Mr) (komentar #47)
Assalamualaikum.
Selamat bergabung di dunia blog, pak Yusril. Dengan bergabungnya pak Yusril, saya berharap dunia perblogan Indonesia akan semakin ramai dengan para bloger yang menawarkan berbagai hal, mulai dari hal-hal yang ringan dan santai sampai hal-hal yang serius dan berat.
Sebagai orang yang berlatar belakang bahasa dan pendidikan, saya sangat mendukung prinsip dan kebiasaan pak Yusril menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar.
Melalui komentar ini saya ingin menyampaikan keprihatinan yang sangat mendalam atas fakta pemakaian bahasa Indondesia dewasa ini. Nampaknya, salah satu butir Sumpah Pemuda - berbahasa yang satu, bahasa Indonesia - sudah mulai luntur dalam kehidupan bangsa kita belakangan ini.
Coba kita lihat media massa elektronika, statisun televisi nasional, terutama Metro TV, semakin alergi menggunakan bahasa Indonesia. Banyak sekali acara yang isinya berbahasa Indonesia namun diberi judul berbahasa Inggris - Headline News, Top Nine News, Today’s Dialogue, dll.
Coba kita lihat proyek-proyek yang dirintis Sutiyoso - busway, waterway, monorail.
Coba kita lihat nama-nama pemukiman elit yang juga cenderung lebih suka menggunakan bahasa Inggris.
Coba kita lihat pula film-film Indonesia baik sinetron maupun layar lebar, bahase Jakarte nampaknye sudeh jadi bahase nasional menggunakan bahasa Indonesia.
Apa yang terjadi dengan sebagian rakyat Indonesia ini? Mengapa mereka alergi dengan bahasa nasionalnya sendiri? Apakah mungkin bahasa Indonesia lambat-lain akan digantikan oleh bahasa Inggris sebagai bahasa nasional kita? Ataukah ini hanyalah wujud dari sindroma rendah diri yang sedang mewabah di kalangan sebagian rakyat kita?
Apa pun alasannya, mari kita terus berjuang untuk terus memasyarakatkan pemakaian bahasa Indonesia yang baik dan benar sesuai dengan konteksnya.
Salam
Hipyan (Mr)
November 12th, 2007 at 8:57 am
DeathnotE (komentar #48)
selamat menulis bang Yusril.
November 12th, 2007 at 8:57 am
LifeByYourHand (komentar #49)
eibwodselamat datang om yusril..
November 12th, 2007 at 10:30 am
an diana (komentar #50)
selamat datang di dunia bloggerian! ;) lumayan saya jadi bisa mengenal bapak lebih dekat lagi melalui tulisan2 bapak. sering2 di up date ya pak. kalau bisa ditambah foto2 agar lebih menarik. salam hangat dari depok :)
November 12th, 2007 at 10:50 am
bundanya i-an (komentar #51)
saya hanya blogger emak2 biasa, tapi senang sekali saat BW saya bisa hinggap disini… :))
November 12th, 2007 at 11:50 am
Edien (komentar #52)
Wah boleh juga nih….saya termasuk penggemar Pak Yusril. Saya tuh terkesan dengan pak Yusril tuh gaya bicaranya loh. Ok pak selamat menjadi member bloger
November 12th, 2007 at 1:36 pm
abie... (komentar #53)
salam,
semoga sukses pak…
November 12th, 2007 at 2:16 pm
:: atok ajar nulis :: (komentar #54)
Assalamu’alaikum Wr Wb
Pak kalau boleh request, mungkin Bapak bisa mulai dari berita di sini
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/10/03/brk,20071003-108974,id.html
tentang pernyataan ini:
“Namun saksi ahli dari Bappenas, Emin Adi Muhaimin mengatakan menteri tidak memiliki kewenangan menentukan metode pengadaan barang. Emin mengatakan, Keppres No. 80 tahun 2003 tersebut menyebut bahwa yang berwenang menentukan metode pengadaan barang hanyalah panitia bersama-sama pengguna barang”
Menurut saya sama sekali ndak nyambung bila dihubungkan dengan pernyataan Bapak yang ini:
“Saya setuju penunjukkan langsung namun tidak menunjuk perusahaan tertentu, kewenangan saya hanya menyetujui metode penunjukkan langsung,” kata Yusril sebagaimana dibacakan JPU I Kadek Wiradana”
Mungkin bisa dihubungkan dengan
Keppres No 80 th 2003 Bagian Kesembilan
Itu usul saja, sukur kalau diterima. Dan itu juga kalau saya tidak kliru.
Mohon Pencerahan
Wassalamu’alaikum Wr Wb
————-
Kuncoro AS
November 12th, 2007 at 3:29 pm
annots (komentar #55)
Assalamu’alaikum
Senang sekali bisa membaca tulisan seorang negarawan seperti pak Yusril. Selamat datang di dunia blogsphere :)
November 12th, 2007 at 3:34 pm
:: atok ajar nulis :: (komentar #56)
Maaf, balik lagi. Ternyata linknya mandul. yang benar: sini
November 12th, 2007 at 3:44 pm
Rio Menajang (komentar #57)
Saya berharap gaya penulisan dipertahankan, (melayu klasik atau ragam bahasa yang baik dan benar?>. Kenyataan banyaknya komentar yang masuk pertanda keberhasilan menjangkau netter atau blogger yang umumnya kaum muda; peluang yang menantang justru menyeret tokoh-tokoh publik yang lain ke alam blog.Penulis berpeluang menjadi pembangun jembatan.
Sebagai bahan referensi bahwa blog tidak selalu santai (walau bukan tesis doktor) tengok blog Richard Posner (yang pakar hukum) bersama Gary Becker yang pemenang Nobel bidang ekonomi. http://www.becker-posner-blog.com/index.html
(maaf kalau tidak bisa tertaut aktif, ilmu saya belum sampai).
November 12th, 2007 at 5:06 pm
hendra (komentar #58)
Salam
Bang Yusril, terimakasih, ditengah kesibukan, Abang masih sempat mau berbagi cerita dan pengalaman yang pastinya sangat bermanfaat buat generasi bangsa ini. Pertanyaan yang serius-serius sudah diwakili sama teman-teman yang lain, satu hal yang ingin saya ketahui dan mungkin juga teman-teman yang lain juga ingin mengetahuinya bahwa beberapa waktu terakhir ini Abang telah menyelesaikan syuting Film, Laksamana Chengho, bahkan disurat kabar tertulis bahwa Abang tidak bisa hadir ke persidangan karena sibuk syuting. Pertanyaannya, kenapa Abang tertarik untuk main Film? dan kenapa Film sejarah ini yang dipilih? tidak tentang Soekarno atau Soeharto
Terimakasih..dan maaf bahasa saya kurang bagus
(Hendra-Anna University-India)
November 12th, 2007 at 5:07 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #59)
Untuk Hendra,
Assalamu’alaikum,
Saya telah bercerita banyak tentang film Cheng Ho di Blog Jay. Anda dapat membukanya blog tsb dan membaca komentar beberapa rekan yang lain.
Kini Jupiter Global Film sedang mengusahakan website khusus mengenai film tsb. Mungkin cuplikan adegannya nanti dapat dilihat di sana.
Untuk Reza Yazdi, terima kasih atas niatnya mengunjungi Billiton Bistro di Plaza Senayan. Anda dapat search di berbagai website mengenai Billiton Bistro sebelum berkunjung ke sana.
November 12th, 2007 at 7:27 pm
zhmee (komentar #60)
Saya alumni FISIP USU tahun 2007 dari jurusan Ilmu Politik. Saya sangat tertarik untuk mempelajari filsafat arab. beberapa telah saya baca, diantaranya Muqaddimah-nya Ibn Khaldun, Misykah Al-Anwar-nya Al-Ghazali dan ada beberapa lagi yang lain. Mengutip dari yang bapak tulis: “Saya mempelajari dengan tekun balas pendapat antara Al-Ghazali dengan Ibnu Rusjd, antara Ibnu Taymiyyah dengan banyak pemikir, dan seterusnya”.
Saya sangat tertarik dengan balas pendapat ini, namun saya belum mendapatkan karya Al-ghazali yang mungkin paling fenomenal. Kalau saya tak salah me ngerti, pasti yang bapak maksud adalah Tahafut Al-falasifah dan Tahafut At-tahafut. Untuk karya Ibnu Rusyd, tersedia banyak di pasaran. Tapi Tahafut Al-falsifah, saya sudah lelah mencari dan hasilnya nihil.
Alangkah indahnya jika sesekali seorang Yusril Ihza Mahendra dalam blognya menampilkan perdebatan ini, tentunya dari sudut pandang anda. Maaf.. Kalau terlalu lancang memberi saran.
Tapi terus terang, pemuda ISlam sekarang semakin tidak mengenal mereka dan karya-karyanya.
Dan, saya mohon sesekali bapak berkunjung ke blog saya di http://www.altratimuri.wordpress.com
Terima kasih.
November 12th, 2007 at 11:26 pm
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda