Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Minggu pagi tanggal 11 November 2007, saya diberitahu oleh kakak saya, salah seorang saudara sepupu saya, Abdul Hamid bin Baharum, telah berpulang ke rahmatullah, setelah seminggu menderita sakit. Mendapat kabar itu, saya langsung bergegas menyetir mobil datang ke rumahnya di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ketika tiba, saya menyaksikan jenazahnya yang terbaring kaku sedang dimandikan. Saya menunggui sampai jenazah dikafani dan kemudian disholatkan di sebuah mushalla kecil tidak jauh dari rumahnya. Selesai dishalatkan, sejumlah orang membawa jenazah ke sebuah ambulan. Mereka semua berangkat ke pemakaman umum karet. Jenazahpun dimakamkan. Ada dua orang memakai peci dan kain sarung dan berbaju batik membaca talqin dan kemudian berdoa bersama-sama.
Sebagai saudara dekat, saya diminta untuk menyampaikan sambutan. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih, mohon doa dan mohon maaf bagi almarhum, saya mengutip salah satu peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. Suatu ketika Rasulullah menyaksikan sekelompok orang membawa jenazah ke pemakaman. Rasulullah bertanya, jenazah siapakah yang akan dimakamkan itu. Maka salah seorang dari mereka menjawab bahwa itu adalah jenazah si Fulan. Rasulullah kemudian bertanya kepada mereka: Adakah si Fulan itu, selama hidupnya dikenal sebagai orang yang baik. Mereka serentak menjawab: Kami menyaksikan, ya Rasul Allah, si Fulan itu memang orang baik. Maka bersabdalah Rasulullah: Jika jenazah seseorang di usung ke pemakaman, dan 40 orang mengatakan bahwa dia adalah orang baik, maka Allah SWT akan memasukkan ruh orang itu ke dalam surga. Kemudian, saya bertanya kepada hadirin yang hadir di pemakaman: Adakah Saudara-saudara semua menyaksikan bahwa semasa hidupnya, Abdul Hamid bin Baharum ini adalah orang yang baik? Maka serentak para hadirin menjawab: Ya, beliau orang yang baik. Maka saya berkata: Ya Allah, ampunilah saudara kami ini kalau dia melakukan kesalahan. Terimalah segala amal kebajikan yang telah dilakukannya. Masukkanlah dia ke dalam surga Jannatun Na’im.
Selesai upacara pemakaman yang amat bersahaja itu, istri saya yang ikut ke pemakaman Karet bertanya kepada saya. Dia katakan dalam Bahasa Inggris, Pak Hamid yang baru meninggal tadi pagi, mengapa begitu cepat dimakamkan. Di Jepang atau di Philipina, katanya, jenazah baru dimakamkan beberapa hari, bahkan seminggu setelah kematian. Tadi juga saya melihat, ketika imam membaca do’a, mengapa orang yang hadir tidak mengikutinya dengan serius. Mereka saling ngobrol sesamanya. Isteri saya bertanya demikian, karena seumur hidupnya, inilah untuk pertama kalinya dia bertakziah ke rumah seorang Muslim yang meninggal dan mengikuti upacara pemakaman. Dia baru memeluk agama Islam setahun lebih. Sambil menyetir mobil saya jelaskan kepadanya, bahwa dalam ajaran Islam, orang meninggal harus segera dimakamkan. Tidak perlu menunggu lama-lama karena hanya akan memberatkan ruh orang yang meninggal.
Jika seseorang telah wafat, maka selesailah urusannya dengan dunia ini, kecuali tiga hal, yakni ilmu yang bermanfaat dan diajarkan kepada orang lain, amal jariah dan anak yang soleh yang terus-menerus mendoakan orang tuanya. Jika telah wafat, kita harus merelakannya untuk pergi menemui sang Pencipta. Keluarga si meninggal, tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, karena setiap orang pasti akan mati. Karena itu, jika anak-anak dan isteri si mati telah hadir, maka kaum kerabat yang lain tak perlu ditunggu lama-lama. Jenazah akan segera dimakamkan. Isteri saya nampak mengerti. Dia berkomentar, alangkah sederhananya upacara pemakaman menurut agama Islam. Dia berdiri di sisi liang lahat dan melihat jenazah diturunkan hanya memakai kain kafan, tanpa kerenda dan dia bertanya tentang hal itu. Saya katakan padanya, ini adalah filosofi ajaran Islam bahwa jasad manusia berasal dari tanah. Karena itu, kembali ke tanah seperti semula. Terhadap kritiknya mengapa hadirin kurang khusyu’ ketika pembaca talqin membaca do’a, saya menerima kritik itu. Saya sependapat dengannya, alangkah baiknya jika kita mengikuti upacara pemakaman dengan perasaan yang lebih khidmat.
*******
Sejak saya datang ke rumah saudara sepupu saya yang wafat itu, saya sungguh merasa sedih, terharu dan berpikir panjang. Rupanya, hari ini berakhirlah kisah perjalanan seorang anak manusia, setelah melalui lautan perjalanan hidup yang cukup panjang. Dia wafat dalam usia 68 tahun. Hamid Baharum yang saya kenal, memang orang baik, sederhana dan bersahaja. Dia bersekolah di sebuah sekolah teknik di Manggar, Belitung, yang cukup menjadi kebanggaan masyarakat Belitung yang sederhana di masa itu. Sekolah itu telah ada sejak tahun 1928, ketika bangsa kita masih dijajah, dan bernama Ambach School (maaf kalau saya salah menulis kata Bahasa Belanda ini). Orang Belitung yang pada umumnya hidup miskin dan bersahaja, sangatlah bersuka-cita kalau anaknya diterima di sekolah itu. Bayangkan, baru menjadi murid saja sudah dianggap setengah pegawai oleh PN Tambang Timah. Kalau tamat akan langsung diangkat sebagai pegawai tetap perusahaan negara itu, dengan gaji dan fasilitas yang lumayan besarnya bagi orang di kampung. Tiap bulan murid sekolah itu mendapat setengah gaji pegawai tetap, mendapat beras 10 kilo, dan berbagai ransum keperluan sehari-hari mulai dari kacang hijau, gula, kopi, minyak goreng sampai sabun mandi, odol dan sikat gigi. Begitu suka citanya orang tua ketika anak mereka diterima, dapat saya ingat ketika saya masih kecil: ada tetangga kami yang tiba-tiba menyelenggarakan kenduri. Ayah saya diundang untuk membaca do’a. Saya tentu ikut ayah saya agar dapat makanan dengan lauk-pauk yang lebih enak, dibandingkan dengan apa yang saya makan sehari-hari. Setelah tiba di rumah tetangga itu, barulah saya tahu, beliau menyelenggarakan kenduri karena anaknya diterima di sekoah teknik tempat Hamid Baharum pernah bersekolah itu.
Tetapi, Hamid Baharum rupanya tidak puas hanya sekolah di sekolah teknik itu, dan kurang puas pula menjadi pegawai PN Tambang Timah dengan gaji yang lumayan besarnya. Dia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke STM. Dia ingin mengadu nasib. Saya tidak ingat persis kapan dia hijrah ke Jakarta. Mungkin sekitar tahun 1958. Ketika itu saya baru berusia dua tahun. Jadi mustahil untuk tahu dan mengingatnya. Namun rupanya nasib Hamid tidaklah sebaik yang dia harapkan. Setelah tamat STM dia bekerja di berbagai perusahaan swasta sebagai pegawai kecil. Rumahnya sangat sederhana. Dia tinggal di perkampungan yang terbilang kumuh di sebuah gang kecil di Jalan Pintu Air, tidak jauh dari stasiun kereta api Pasar Baru. Ketika saya telah menjadi mahasiswa dan tinggal di Jakarta, saya berusaha mencari rumah Hamid. Pernah saya berjalan kaki dengan almarhum ayah saya mencari rumahnya dan bertanya kepada penduduk di sekitar Jalan Pintu Air. Namun usaha saya sia-sia. Saya tak berhasil menemukan rumahnya. Alamatnya tidak terlalu jelas. Saya baru bertemu Hamid, setelah lebih sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta. Dia membaca nama saya di koran-koran dan melihat wajah saya di televisi, lalu berusaha mencari alamat saya sampai akhirnya kami bertemu. Sejak itu saya sering bertemu dengannya. Kadang-kadang saya datang ke rumahnya hanya untuk berbincang-bincang sambil tertawa.
Hamid nampaknya berjuang keras untuk meraih nasib hidup yang lebih baik. Namun apa daya, seperti kata pepatah: Maksud hati memeluk gunung. Apa daya tangan tak sampai. Sampai wafat, dia hidup dalam keprihatinan, di tengah kerasnya perjuangan hidup di kota Jakarta. Suatu hari saya datang lagi bertandang ke rumahnya ketika saya telah menjadi Menteri Kehakiman dan HAM. Penduduk di gang kecil itu nampak heran dan tidak percaya ada menteri datang ke tempat itu. Mereka seakan tak percaya pula kalau Hamid yang telah lama tinggal di kampung itu adalah saudara sepupu saya. Seperti biasa, Hamid senang saya datang. Kami berbincang-bincang ke sana-kemari. Saya tanya Hamid, apa yang dia kerjakan sekarang. Sambil ketawa dia bilang, dia “narik bajaj”. Dia lantas menunjuk sebuah bajaj setengah rongsokan yang di parkir di gang sempit di sebelah rumahnya. Saya tertegun melihat bajaj yang sudah hampir menjadi bangkai itu. Ada perasaan iba di hati saya. Bertahun-tahun saudara sepupu saya ini merantau ke Jakarta, namun nasibnya tak kunjung membaik. Dia telah berpindah-pindah kerja dan akhirnya menjadi supir bajaj. Sementara usianya makin bertambah tua saja.
Namun dalam penglihatan saya, Hamid nampak tidak terlalu hanyut dalam kesedihan dalam menjalani kesulitan hidup yang dideritanya. Saya yang menjadi menteri, meskipun mungkin nampak gagah di mata orang lain, kepala saya pusing setiap hari. Wajah saya tak nampak selalu cerah dan gembira. Hamid bercakap-cakap dengan saya menggunakan Bahasa Melayu Belitung, yang dialeknya sudah bercampur-aduk dengan Bahasa Betawi, sambil tertawa dan kadang-kadang melucu. Dia bercerita tentang kehidupan dan tentu berkisah tentang kesusahan hidup sebagai orang kecil, yang saya simak baik-baik. Semua itu adalah nasib yang harus diterima dengan sabar, katanya. Suatu ketika saya menyarankan kepadanya agar dia mencari rumah yang lebih baik, rumah BTN saja agar terjangkau. Saya dan saudara yang lain dapat membantu. Saya berpendapat, jika pindah, dia akan hidup lebih tenang di daerah yang jauh dari kebisingan dan hingar bingar. Dia bisa bikin warung untuk menjalani hari tuanya. Hamid rupanya mempertimbangkan saran saya. Dia sempat membeli rumah BTN yang katanya terletak di Kampung Citayam, di daerah Depok. Namun, tidak lama dia tinggal di situ. Dia lebih senang kembali ke gang kecil di Pintu Air. Banyak tetangga dan banyak teman yang sudah puluhan tahun tinggal bersama. Hingar-bingar dan kebisingan, serta kesesakan penduduk di daerah itu, rupanya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Dia tak betah tinggal di tempat sunyi, meski dalam pandangan saya, lebih asri dan tertata lebih baik.
Kini Hamid telah pergi. Seperti telah saya katakan, saya menyaksikan jenazahnya dimandikan dan dikafankan. Ia diusung ke pemakaman, dengan upacara yang sangat sederhana dan bersahaja. Ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat, sekali lagi hati saya tertegun. Beginilah rupanya akhir perjalanan hidup di dunia yang fana ini. Semua orang, semua kita akan pergi seperti Hamid, tidak perduli apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan dan nama yang masyhur atau bukan. Hidup ternyata terlalu singkat, walau terkadang kita merasakannya terlalu panjang. Saya teringat ketika saya belajar agama dan filsafat dan membahas masalah waktu. Usia 68 tahun seperti Hamid, mungkin sudah terlalu panjang dibandingkan rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia. Namun dalam pandangan para malaikat, usia Hamid mungkin hanya sekejap mata. Ada malaikat yang setiap hari turun naik dari langit ke bumi membawa rahmat Allah. Namun dijelaskan dalam keyakinan agama, bahwa satu hari malaikat turun-naik itu adalah sama dengan seratus ribu tahun dalam persepsi manusia di dunia fana. Kalau begitu ukurannya, maka tentulah di mata para malaikat, Hamid hidup hanya sekejap, begitu juga orang lain. Lalu saya teringat akan seekor belalang yang hidup di pohon nangka. Warna sayapnya mirip daun nangka yang masih muda. Konon, menurut para ahli biologi, belalang itu hidup tidak lebih dari 24 jam, dan kemudian mati. Waktu saya kecil, saya berkata di dalam hati: kasihan sekali dengan belalang ini, usianya begitu pendek. Tetapi, kalau ingat tentang turun-naiknya malaikat tadi, mungkin para malaikat akan berkata: kasihan sekali melihat manusia, hidup mereka pendek sekali. Sehari kami turun naik dari langit ke bumi, telah jutaan manusia lahir dan mati. Persepsi tentang waktu nampaknya berbeda di antara makhluk ciptaan Allah. Cukup panjang bagi belalang nangka, sangat pendek bagi manusia. Sangat panjang bagi manusia, terlalu pendek bagi para malaikat.
*******
Kematian Hamid Baharum, saudara sepupu saya itu, makin menyadarkan saya bahwa suatu ketika sayapun akan dikuburkan orang seperti dia. Semua hanyalah masalah waktu belaka. Kalau memang demikian keadaannya, saya berpikir, untuk apalah terlalu “ngotot” dalam kehidupan yang fana ini. Tentu kita ingin berbuat amal-kebajikan sebanyak mungkin selama kita hidup, agar bukan saja bermanfaat bagi sesama manusia dan sesama makhluk, tetapi juga sebagai bekal menjalani kehidupan akhirat kelak. Namun, meskipun kita selalu berniat dan beriktikad baik — dan dalam kenyataan kita sungguh-sungguh mewujudkannya dengan segenap kemampuan — toh belum tentu baik juga dalam pandangan manusia-manusia yang lain. Hidup manusia dipenuhi oleh perasaan hasad, iri hati, dengki, curiga dan salah paham. Namun itulah kenyataan hidup yang tak dapat ditolak. Seribu kebaikan yang kita lakukan, terasa hampir tak berbekas, dan alangkah mudahnya dilupakan orang. Namun satu saja kesalahan yang mungkin telah kita buat, akan dihujat setiap hari. Mungkin pula kesalahan itu akan dikenang orang sepanjang masa. Apalagi sekarang kita sedang hidup di alam penuh kebebasan berekspressi dan kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat. Kita tengah hidup di alam demokrasi dengan segala macam tingkat pemahaman dan penafsirannya.
Kalau demikian, haruskah saya berhenti berniat dan beriktikad baik dan berbuat baik di alam nyata? Saya pikir tidak. Seringkali orang tidak menyadari kebaikan dan juga kebenaran. Mereka baru menyadarinya jauh di belakang hari. Bahkan terasa sudah begitu terlambat. Kebaikan tetaplah kita lakukan demi kebaikan itu sendiri, agar kita ikhlas dalam beramal dan batin kita merasa terpuaskan. Kepuasan batin itu penting, walau kenyataan hidup seringkali terasa menyakitkan. Kalau kita banyak berbuat baik kepada orang lain, lebih baik kita melupakannya. Tetapi kalau orang lain berbuat baik kepada kita, wajiblah kita terus mengingat-ingatnya. Semoga saya, menjadi orang yang pandai menghargai segala kebaikan orang lain, dan memaafkan setiap kesalahan dan kekhilafan.
Wallahu ‘alam bissawab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 13th, 2007
67 tanggapan untuk “AKHIRNYA SEMUA KITA AKAN PERGI (I)”
DessyCherryPonie (komentar #1)
Baca postingan ini seraya ku sambil berdoa semoga sewaktu pemakaman kakek ku setahun yang lalu 40 orang yang hadir juga berpikiran beliau adalah orang baik, amin. Agar senantiasa dibukakan pintu surga baginya.
Om Yuzril bagaimana kalo di blognya dipasang koment box gitu bisa diambil dari aggix.com atau banyak lagi yang lainnya. Tetep semangat nge blognya ya….
November 13th, 2007 at 10:02 am
nismara (komentar #2)
Pak Yusril, saya turut berduka atas berpulangnya saudara Bapak yang sesuai penuturan Bapak dapat saya simpulkan bahwa orangnya sangat qona’ah, menerima apapun yang diberikan dengan ikhlas dan senang. Dia hidup sederhana dan malah cenderung kurang, tapi dia tidak mau meminta belas kasihan oang lain, termasuk saudara sepupunya yang jadi menteri. Apabila sifat itu selalu dijadikan pegangan dan sandarannya adalah Allah, saya yakin dunia akan tentram.
Selamat jalan Pak Bahrum, semoga segala amal baik diterima oleh Allah s.w.t.
November 13th, 2007 at 10:18 am
dwee (komentar #3)
Saya turut bela sungkawa atas meninggalnya saudara sepupu Pak Yusril.
Semoga segala amal perbuatan baik Pak Bahrum diterima Allah dan dibukakan pintu surga bagi beliau.
Membaca tulisan Pak Yusril membuka perenungan bagi diri saya. Terima kasih telah berbagi, Pak.
November 13th, 2007 at 11:08 am
sepenggaljejak (komentar #4)
Pak Yusril, saya juga baru nge-blog nih, pak. Saya baca publikasi blog anda di banyak media, makanya saya coba-coba melihat isinya.
Sesekali Pak Yusril, anda harus mengisahkan pengalaman anda bekerjasama dengan presiden-presiden RI sejak masanya Presiden Suharto sampai Presiden SBY. Sekali-sekali mampir juga ke blogku yang masih sangat sederhana.
November 13th, 2007 at 11:14 am
rudi.ruru (komentar #5)
Bismillahirrahmanirrahiem.
Assalaamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Innalillaahi Wa Inna Ilaihi Raaji’uun. Segala sesuatu adalah milik Allah SWT, dan (pasti) semua itu akan berpulang pada-Nya.
mmm..Abangku, membaca postingang abang ini, serasa hatiku teringat kembali pada ayah yang meninggal pada hari kamis 03 November 2005 lalu pada saat kumandang adzan maghrib dan bertepatan dengan Iedul Fitri 1426H.
Sedih rasanya hati ini bang, namun saya yakin apa yang telah beliau lakukan untuk saya sebagai salahsatu putra yang dititipkan Allah kepadanya, saya berharap Allah akan memberikan tempat yang sangat layak (Jannatun Na’im) bagi beliau.
Betapa tidak, dengan sembilan anak yang harus beliau tanggung, namun pendidikan dan budipekerti adalah hal yang paling utama beliau ajarkan.
Beliau sangat berharap anak-anaknya kelak akan menjadi orang yang berguna minimal bagi lingkungan sekitarnya dan atu bahkan bagi umat manusia keseluruhan.
Secara pribadi, saya sangat bangga dengan ayah saya, bagaimana tidak, hingga akhir hayatnya saja beliau masih saja menanyakan masa depan pendidikan si Bungsu adikku (anak ke 9) yang kala itu baru saja wisuda D3 dari STT TELKOM.
Bagi beliau, pendidikan adalah warisan utama yang dapat menghidupi dan menyinari kehidupan anak-anaknya. Meski ketika kecil dulu, sebagai seorang bocah kadang saya merasa jengkel atau sakit hati kalau ayah marah-marah apabila prestasi saya di sekolah menurun.
Pernah suatu ketika saya dipukul menggunakan sabuk kulit beliau hanya gara-gara saya telat mengikuti pengajian rutin remaja di Masjid dekat rumah.
Saat itu hati saya merasa sakit sekali, betapa tidak, umur saya yang saat itu telah mencapai 17 tahun tentulah malu rasanya jika harus menerima bentakan dan pukulan apalagi itu dilakukan didepan teman-teman kuliah saya.
Namun, akhirnya kini baru saya sadari, betapa ayah adalah sosok orang tua yang sangat mencintai anak-anaknya. (maaf kalo saya menangis ketika membuat tulisan ini).
Saya baru merasakan begitu berharganya apa yang telah ayah tanamkan kepada anak-anaknya. Saat ini saya telah menjadi salahsatu aktivis Partai yang pernah abang pimpin (PBB) di kota Bandung.
Tidak hanya itu, saat inipun dengan usia yang masih cukup muda saya telah menjadi salah satu orang yang sering diajak berbincang dan berdiskusi oleh Walikota Bandung dalam hal kondisi sosial, politik, dan ekonomi kemasyarakatan di kota kami. Belum lagi pekerjaan mapan yang telah saya dapatkan di sebuah perusahaan BUMD di Bandung.
Tentu semuanya adalah berkat kerja keras Ayah dan Ibu yang senantiasa setia mendampingi putra-putranya dalam suka maupun duka, senang ataupun susah.
Yaa Allah, ampunilah dosaku dan dosa kedua Orang tuaku. Sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi aku tanpa pamrih. Amien.
Wassalam. Rudi Chaerudin, A.Md. (Ketua PAC PBB Kec Kiaracondong Kota Bandung & Ket. Bag. Politik & Otda DPC PBB Kota Bandung).
November 13th, 2007 at 11:51 am
Gede H. Cahyana (komentar #6)
Salam.
Saya ragu, apakah betul blog ini dikelola oleh Pak Yusril dari Partai Bulan Bintang itu. Sebab, karakter artikelnya tidak seperti yang sering saya baca di majalah Tempo pada dekade 1980-an.
Mohon Pak Yusril bisa memberikan konfirmasinya lewat media massa atau lewat blog ini dengan menampilkan profilnya yang sejati.
Selama tidak ada hal tersebut, saya malah curiga blog ini menjadi “batu” berat yang menenggelamkan Pak Yusril.
Salam.
Gede H. Cahyana
http://gedehace/blogspot.com
November 13th, 2007 at 11:52 am
aLe (komentar #7)
Turut berduka cita :)
November 13th, 2007 at 12:27 pm
an diana (komentar #8)
Innalillaahi wa inna ilahi rajiiuun, turut berduka cita ya Pak! Postingan ini mengingatkan saya pada almarhum bapak dan almarhumah ibu saya. Kita memang akan pergi secara bergiliran…
Pak, tambahin foto dan Shout Box ya? Biar bisa saling interaktif gitu. Dan biar yakin bahawa blog ini memang punya Bapak (kalau saya sih insya Allah yakin ini blog Bapak Yusril ;) ). Sukses!
November 13th, 2007 at 1:10 pm
dewee (komentar #9)
selamat pak yusril atas peluncuran blog nya….. ditunggu tulisan berikutnya pak, mungkin ke depan tulisan-tulisan bapak termasuk yang dulu-dulu bisa dikumpulkan dalam sebuah buku…
November 13th, 2007 at 1:51 pm
Meti Mediyastuti (komentar #10)
innalillahi wainnalillahi roji’un
turut berduka cita ya pak, setelah membaca tulisan bapak, sangat terharu dan itu semua mengingatkan kita akan kematian dan kita memang pasti kembali kepada-Nya….
ya betul pasang shout box ya pak…biar lebih rame
November 13th, 2007 at 1:55 pm
Meti Mediyastuti (komentar #11)
selamat datang ya pak di dunia blog…sebenernya saya penasaran ketika tadi baca koran tribun Jabar…pas dihalaman depan membahas blognya bapak, karena penasaran saya mampir kesini…alhamdulillah ketemu!!!
November 13th, 2007 at 2:04 pm
resti (komentar #12)
turut berduka cita ya bang..
mudah2an, saudara abang dipertemukan dengan para kekasih Allah…
hidup memang sekedar gurau, setelah kita meninggal, itulah hidup sebenarnya.
November 13th, 2007 at 2:14 pm
resti (komentar #13)
untuk gede h. cahyana,
silakan lihat di http://priyadi.net, disitu ada laporan pertemuan para blogger dengan bang yusril, setelah sebelumnya terjadi dugaan2 bahwa ini hanya sekedar karakter palsu di dunia maya.
November 13th, 2007 at 2:19 pm
aditya (komentar #14)
assalamu’alaykum Ustad Yusril, dan inna lillahi wa inna ilayhi raji_un buat engku hamid.
Kalau membaca tulisan Anda, Prof, kesannya Anda soleh dan santun. Tapi sebagai wartawan, beberapa kali ketemu Anda langsung, saya berpendapat bahwa anda kadang menyenangkan, kadang sombong. Maaf, mungkin karena itulah Anda dimusuhi wartawan. Jadi jangan marah, ini koreksi dari seorang pengagum setia.
November 13th, 2007 at 2:27 pm
aboh (komentar #15)
semua yang bernyawa pasti akan mati. alamiah saja. masalahnya bagaimana menjalani hidup karena itu cerminan kehidupan setelah “hidup” berakhir.
inalillahi waina ilaihi roji’uun. semoga apa yang bapak gambarkan tentang almarhum, benar adanya. dan benar juga menurut Allah. sehingga beliau mendapat tempat terbaik di akhirat.
selamat atas blognya pak!
Tulisan bapak saya tunggu lagi. cerita / kisah / fikiran2 yang bertebaran selama menjadi menteri sekian periode, tentunya sangat berguna bagi bangsa ini.
bravo YIM!
November 13th, 2007 at 2:40 pm
mukus (komentar #16)
Kehidupan didunia ini adalah hanya bagian dari suatu perjalanan yang belum kita selesaikan, seperti seorang pengembara yang sedang melakukan perjalanan menuju suatu tempat yang diimpikannya.
Banyak cerita suka dan duka, tangis dan tawa yang menghiasi perjalan ini dan semua itu memang harus jalani.
Banyak sekali tantangan dan godaan yang mengganggu perjalan ini sehingga terkadang ada rasa keputusasaan dalam menempuh perjalanan ini, namun ketika kita Istiqamah pada aturan yang telah ditetapkan oleh yang membuat perjalanan Insya Allah kita akan selamat sampai tujuan dengan penuh kebahagian.
Kita berharap semoga perjalan hidup kita yang singkat ini dapat kita jalani dengan baik yang dapat menghasikan kebaikan untuk diri kita juga untuk orang lain dan ingat sang waktu terus medorong kita menuju titik terakhir perjalan ini.
November 13th, 2007 at 2:53 pm
artja (komentar #17)
Saya turut berduka cita.
Semua yang bernyawa memang akan mati. Tidak terkecuali kita.
“Dan cukuplah kematian sebagai peringatan,” begitu sabda Nabi. Maka kita selalu harus mengingatkan diri sendiri bahwa kelak kita akan mati.
Semoga saja pada saat mati dan dikubur kelak, orang-orang yang mengantar kita di kuburan akan memberi konfirmasi positif ketika diajukan pertanyaan tentang kebaikan kita. Amin.
November 13th, 2007 at 4:51 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #18)
Assalamu’alaikum,
Sejak tulisan ini saya muat tadi pagi, telah ada 17 bloger yang memberikan tanggapan. Secara umum, saya berterima kasih atas semua tanggapan itu. Terima kasih pula atas ucapan duka cita atas wafatnya saudara sepupu saya, yang telah saya ceritakan dengan panjang lebar. Semoga setiap kematian, akan menyadarkan kita semua, bahwa suatu ketika kitapun akan mati juga.
Saran Sepenggal Jejak agar saya menulis tentang pengalaman bekerja di bawah beberapa Presiden RI, saya sambut baik. Kapan-kapan memang saya ingin menulis hal itu, untuk menambah wawasan kita semua.
Untuk Gede Cahyana, mohon Anda mengikuti kontroversi masalah ini di blog Jay, Priyadi dan Vavai, serta yang lainnya. Kontroversi tentang saya, telah diselesaikan dengan baik, setelah berbagai “test” dilakukan terhadap saya. Teman-teman telah “ainul yaqin” dan “haqqul yaqin” setelah bertemu secara langsung dengan saya di Billiton Bistro. Beberapa koran Jakarta, juga sudah mengkonfirmasi kesahihan blog saya ini.
Untuk Aditya, saya ucapkan terima kasih dan rasa hormat saya atas tanggapan dan kritik yang disampaikan. Saya pribadi sebenarnya amat bersahaja dan selalu bersikap terbuka. Pengalaman saya menghadapi wartawan di era keterbukaan sekarang ini, memang jauh beda dengan “zaman dahulu”. Kalau wartawan bertanya baik-baik, saya dengan senang hati akan menjawab dan menjelaskan dengan baik-baik pula apa yang mereka tanyakan. Masalahnya, saya seringkali bertemu dengan wartawan yang mengajukan pertanyaan dengan gaya interogasi, dan menghakimi orang yang ditanya. Menghadapi hal seperti ini, kadang-kadang saya kesal juga. Pertanyaan yang diajukan sudah tidak bermutu, tetapi sok tahunya minta ampun.
Ketika saya mahasiswa saya pernah mengikuti pendidikan kewartawanan. Saya pernah jadi wartawan paruh waktu. Sebelum saya bertanya kepada seseorang, biasanya saya pelajari dulu masalahnya. Ada wartawan “zaman sekarang” yang mungkin tidak pernah mendapat pendidikan kewartawanan, sehingga bertanya nampak tidak profesional. Ketika saya jadi Mensesneg, saya mengdapi “wartawan Istana” yang semestinya sudah tergolong wartawan yang handal. Namun, kadang-kadang gaya interogasi, sok tahu dan menghakimi mereka ajukan kepada saya. Saya mohon maaf atas semua ini. Marilah kita saling melakukan koreksi, demi kebaikan kita bersama. Sekali lagi, terima kasih banyak atas masukan dan komentar Anda.
November 13th, 2007 at 8:58 pm
WishNoize (komentar #19)
Innalillahi wa inna ilaihi rojiuun…
Turut berbela sungkawa…
November 14th, 2007 at 12:35 pm
Jude (komentar #20)
Assalamualaikum W.W..
Saya mengetahui keberadaan blog ini setelah membaca koran, dan saya sangat penasaran.
Sekarang rasa penasaran saya terjawab. Tulisan Bapak sungguh indah, dalam menggambarkan segala situasi yang dialami dalam kehidupan Bapak.
Saya juga mengucapkan turut berduka cita atas kehilangan yang baru saja dialami, semoga amal ibadah almarhum diterima disisinya.
November 14th, 2007 at 1:30 pm
koolsonic (komentar #21)
saya turut mengucapkan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya untuk sepupu bapak yusril. kiranya arwah beliau diterima disisiNya dan segala kesalahan beliau diampuni. Kita semua berasal dari tanah..pada akhirnya akan kembali ke tanah pula..
Setiap kita punya waktu didunia dimana waktu tersebut seluruhnya sangat berharga dan amat sayang jika terbuang sia-sia. menurut saya kita harus berbuat yang terbaik semampu kita didalam kehidupan kita supaya bilamana kita akan berpulang kepadaNya, tiada yang kita sesali dan kita berbahagia karena pernah merasakan hidup yang telah dianugerahkan Tuhan kepada kita.
Best regards,
Ika
November 14th, 2007 at 2:01 pm
Samarudin Hormin (komentar #22)
Hidup adalah perjuangan. Perjuangan adalah upaya menggapai cita-cita. Cita-cita adalah keinginan, dan keinginan manusia tidak sama. Apa yang saudara Bang Yusril alami mungkin itu adalah kebahagiaan baginya.
Untuk bang Yusril, berjuanglah sesuai dengan cita-cita luhur. Sekian dan Terima kasih. Salam dari Saya di Bangka
November 14th, 2007 at 4:04 pm
ndoro kakung (komentar #23)
tulisan yang menyentuh, tapi kenapa panjang amat bos?
November 15th, 2007 at 2:43 am
jalansutera (komentar #24)
Turut berduka cita, Pak Yusril.
Alangkah lebih bagusnya jika blog ini juga dilengkapi dengan foto-foto subyek yang diceritakan dalam artikel ini. Saya tahu pak Yusril adalah newbie di dunia blog. Tapi saya yakin Pak Yusril menyempurnakan blog ini dalam waktu yang singkat.
Salam untuk seluruh keluarga, Pak..
November 15th, 2007 at 1:12 pm
dedi (komentar #25)
sebetulnya saya sedang luarbiasa sibuk. Pertama karena musti berpacu dengan tenggat dalam pekerjaan. Kedua, menyiapkan kertas kerja tentang program tahunan dan LPJ tahun berjalan. Tapi entah kenapa mata saya nyangkut di tulisan Prof. Yusril Ihza tentang kematian. Ada beberapa persoalan penting untuk dibahas tentangnya.
Pertama soal ketidak-khidmatan orang ketika mengantar jenazah ke tempat pemakaman. Ini soal menarik dan penting. Tetapi bila dipikir-pikir lebih jauh, ternyata ini adalah satu soal kecil dari begitu banyak persoalan orang islam. Kita lupa bahwa sesaat lagi kitalah yang diusung ke liang lahat. Entah bagaimana kita bisa berhadapan dengan Malaikat Penjaga Kubur. Bisakah kita menjawab pertanyaan mereka?
Ini sungguh mengerikan. Karena 50 atau katakanlah 70-an tahun di dunia yang baru saja kita lewati, terasa hanya sesaat. Hilang sudah semua kebanggaan dan kesenangan. Tak ada lagi prestasi, bahkan tak ada peluang untuk sekedar beristighfar. Padahal bolehjadi sebagian besar dari seluruh usia kita diisi dengan kesia-siaan dan dosa. Jadi, bagaimana mungkin kita sanggup menjalani jutaan tahun penuh kepedihan dan derita di alam kubur, sedangkan derita kecil di dunia saja nyaris tak mampu kita memikulnya.
November 15th, 2007 at 1:51 pm
didats (komentar #26)
wah, pak,
tulisannya bagus bangeet..
turut berduka cita pak.
kalo boleh request, saya mau tau gimana jejaknya pak yusril yang merantau ke jakarta dan akhirnya bisa jadi mentri.
cerita sukses sering membuat saya makin getol untuk bekerja pak.
November 15th, 2007 at 7:13 pm
Azmi (komentar #27)
Assalamualaikum.
Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sebelumnya, Saya mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya.
Setelah baca, Saya jadi teringat kembali dengan gaya bahasa Andrea Hirata serta pengalamannya di Belitong sana di ke 3 novelnya: Laskar Pelangi, Sang Pemimpi dan Endensor. Bagaimana pendidikan sangat dihargai di sana dan bagaimana perjuangan masyarakat di sana mencapai pendidikan. Akhirnya, lewat mimpinya, sampai juga dia di Eropa dan menjajakkan kakinya di seluruh Eropa.
Bang Yusril jadi penulis novel aja kali ya (^.^). Dari awal pindah ke Jakarta, sampai jadi menteri. Bakal jadi best seller. Hehehe.
November 15th, 2007 at 10:00 pm
pembaca blog (komentar #28)
robbana atina fiddunya hasanah, wa fil akhiroti hasanah, wa qina azabannar. amin.
November 16th, 2007 at 12:55 am
Heranof Firdaus (komentar #29)
Assalamu’alaikum Pak Yusril.
Atas informasi vavai saya coba melihat-lihat “rumah” Bapak ini. Syukurlah kalau memang blog ini ditujukan untuk menambah wawasan, berbagi pengetahuan dan pengalaman. Saya senang sekali bergabung di sini.
Kekesalan Bapak terhadap perilaku “wartawan sekarang” menurut saya punya nilai jual. Saya sering menyaksikan di tv dialog Bapak baik dengan sesama pakar maupun dengan reporter, yang menampilkan karakter temparemental dan ekspresif., justru di situlah daya tariknya., dan punya nilai jual terhadap pemirsa., hehehe. Bukankah tayangan gambar dan suara membutuhkan tekanan suara dan mimik wajah.
Barangkali, reporter memang menunggu keluarnya reaksi Bapak yang terkesan keras menjawab pertanyaan yang menurut Bapak memojokkan dan mengadili. Ada dua kemungkinan penyebab reporter bersikap demikian, mungkin karena memang belum terdidik tapi berlagak serba tahu, bisa juga memang mereka butuh “news value” yang punya nilai jual tersebut.
Mohon maaf, jika ada salah dan janggal.
Wassalam.
November 16th, 2007 at 3:01 am
is-albab (komentar #30)
Bang Yusril,
Mendukung komentar dan request sdr. Didats,
sepertinya akan sangat bermanfaat jika ada
semacam memoar perjalanan Pak Yusril sampai
saat ini. Dari Belitong, jadi Menteri,
jadi Cheng Ho(main film), sampai ngeblog !
Saya kira akan banyak manfaatnya bang, sebagai bahan
guidance, pencerahan dan pembelajaran bagi generasi
selanjutnya yang ingin mentransformasikan mimpi
jadi kenyataan (transforming “dream” into “reality”).
Best regards,
is-albab
November 16th, 2007 at 9:45 am
haanadza (komentar #31)
Sampai berkaca-kaca saya membacanya. Memang ketika kita tenggelam dalam perbuaruan kenikmatan dunia, manusia (eh saya) seolah-olah tak akan ada kematian, tapi klo menyempatkan diri merenung/tafakkur begitu sebentarnya kita (saya) di dunia ini. Tahun 2100 yang aktif di blog ini “pasti” sudah berpindah alam. Allahumma inna nas-aluka husna khatimah, Amin.
November 16th, 2007 at 10:14 am
Moh Evert Yulianto (komentar #32)
Saya terharu membaca tulisan ini, dan membuat makin yakin bahwa kita hanya meminta tolong kepada Allah Swt, bukan kepada makhluk.
Sukses buat Bang.
November 16th, 2007 at 12:44 pm
masliliks (komentar #33)
turut berbela sungkawa ya pak
bener sih, manusia emang suka lupa kalo cuman mampir minum…
November 16th, 2007 at 2:04 pm
iERn_van_B@ch (komentar #34)
saya setuju dengan pendapat YIM tentang gaya wartawan saat ini, yang merasa sok teu dan sok penting, padahal bisa dibilang bahwa kerjaan dia itu hanya ngompori massa yang kebanyakan masih uneducated.
November 16th, 2007 at 2:39 pm
Noor Muhammad (komentar #35)
Selamat datang dg Blog yg baru pak Yusril, tampilannya sudah ok. Insya Allah kami akan senang membaca tulisan2 yg akan anda munculkan dalam blog ini. Cerita tentang kepergian sepupu Almarhum Hamid sungguh amat menyentuh dan banyak hikmah yg dapat kami serap dari tulisan itu. Kami tunggu tulisan2 berikutnya. Wassalam
November 16th, 2007 at 3:32 pm
hardjo (komentar #36)
kepala ini serasa disiram air es. ‘dalam’ sekali pak tulisannya
November 16th, 2007 at 5:37 pm
Rudi Answar (komentar #37)
Assalamualaikum.
Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sebelumnya, Saya mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya.
Pak Yusril,
KEHILANGAN UANG KEHILANGAN BANYAK, KEHILANGAN SAHABAT KEHILANGAN LEBIH BANYAK, KEHILANGAN SEMANGAT ADALAH KEHILANGAN SEGALA GALANYA
Komentar bapak dalam kalimat:
“Cukup panjang bagi belalang nangka, sangat pendek bagi manusia. Sangat panjang bagi manusia, terlalu pendek bagi para malaikat”
Mengingatkan saya pada kejadian tujuh tahun lalu,
sekedar berbagi (gantian gitu lo..)
Saya juga pernah mengalami mengalami di alam lain (Alam ghaib) ternyata di alam sana satu detik sebanding dengan seribu tahun di alam dunia, namun paling mengherankan satu langkah di alam dunia sama dengan ribuan kilometer di alam ghaib.
Saat itu juga saya melihat mahluk aneh warna gelap tak tampak rupa, juga melihat sinar terang yang indah.
Tapi saat itu tetangga dan sanak saudara sudah sedang membacakan yasin buat saya.
Bayangkan pak, di alam sana kita hanya mempunyai dua sifat saja yang lainya gak ada, cuma “Senang” Dan “Tidak Senang”
Saya ceking ke dokter tubuh saya normal.
Dibantu oleh seorang kyai, saya ikhlas hari itu juga sedekah satu ekor sapi, saya kembali ke alam normal, dan sampai sekarang saya sangat trauma dengan kejadian itu.
Sejak saat itu saya menghindari hal-hal sedih, takut terulang lagi
oh sram…..
Jangan maen-maen pak, tulisan bapak sangat menyentuh hati saya
Judul Blog Bapa “AKHIRNYA SEMUA KITA AKAN PERGI”
Membuat merinding
Jika ada saran kirim ke email
Screet_h2_j8s8x@yahoo.co.id
November 17th, 2007 at 2:13 am
Kandar Cik Kulup (komentar #38)
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bang, saya tahu blog abang dari koran. Terus, begitu aku buka ada berita duka tentang saudara kita yang meninggal di jakarta, kebetulan saya keturunan “perenggu” kek Dulah, terus aku konfirmasi ayah ternyata waktu di ac seangkatan dengan beliau, innalillahi semoga arwahnya ditempatkan di tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amien.
Salut untuk keberanian abang berdialog via internet, mudah-mudahan banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari dunia maya ini, saat ini ada dua orang belitong yang aku kagumi salah satunya anda dan bang andrea sang novelis yang bisa membuat suasana “Billitonis”. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya, salam hangat buat keluarga.
Wassalam
November 17th, 2007 at 11:07 am
luthfi maulana (komentar #39)
bang yusril,……
kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian saudara sepupu abang, semoga segala kebaikan beliau mendapat ganjaran sebagai pahala dari Alloh SWT.
November 17th, 2007 at 4:53 pm
N. Jamil ghazali (komentar #40)
Dari Allah kita berasal dan kepada-Nya jua akan kembali ..
Ungkapan ttg perjalanan hidup sepupu Pak Yusril sampai ajal menjemput menyentuh hati siapa saja, karena ditulis apa adanya .. semoga amal-amalnya diterima Allah dan kesalahannya di ampuni .. amin … 3 x
November 17th, 2007 at 7:39 pm
Muhammad Rachmat (komentar #41)
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
November 18th, 2007 at 10:55 pm
koro (komentar #42)
jarang sekali saya menjumpai blog seperti ini… banyak pelajaran, hikmah, tausiyah, dan nasihat bagi diri saya pribadi maupun pembaca lainnya…
walaupun banyak cerita miring tentang diri pak yusril dimasyarakat kita, tapi dengan membaca pengalaman pak yusril ini, benar2 dapat membuka hati saya bahwa orang lebih senang melihat kekurangan kita, dibanding melihat kebaikan kita.
mudah2an pak yusril tetap diberi petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT begitu pula kita semua. Amin.
November 19th, 2007 at 10:53 am
odik_kazneh (komentar #43)
Membaca tulisan pa Yusril, saya teringat ketika seminggu menjelang lebaran kemarin saya mendapat kabar calon bapak mertua saya telah tiada. Beliau mendapat perawatan di Rs. Wijaya Kusumah Kuningan sekitar tiga hari, dan setelah itu tanpa firasat apapun meninggalkan keluarga yang sangat mencintainya.
Saya akhirnya mafhum bahwa diatas segalanya masih ada yang kuasa. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil oleh-Nya, entah esok, lusa, bulan depan, kita tidak tahu. Yang kita tahu hanyalah agar kita selalu mempersiapkan diri saat tiba giliran kita menghadap yang kuasa. Dan sebagai anak, melalui tulisan anda, saya kembali tergugah tentang 3 hal yang tak mungkin terputus, amal kebajikan, shodakoh jariyah dan doa anak yang sholeh.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, turut berduka buat pa Yusril
O ya, saya tahu blog pa Yusril dari koran, saya penasran dan saya buka dech….pengen tahu apa isinya he…..saya juga lagi belajar ngeblog neh…
November 19th, 2007 at 1:50 pm
lusy miandra (komentar #44)
Turut berduka cita.
November 19th, 2007 at 4:04 pm
mathematicse (komentar #45)
Terharu dengan kisah hidup, Pak, Hamid. Mudah-mudahan amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT.
Ada kenikmata tersendiri ketika membaca artikel ini…
Salam kenal Pak Yusril…
November 21st, 2007 at 3:58 pm
jebee (komentar #46)
Jebee
Apakah baru kini bapak sadari “Akhirnya Semua Kita akan Pergi”?? setelah terjungkal dari empuknya kursi kabinet ??
Sekiranya bapak masih bersandar dikursi kabinet itu, apakah kalimat meyentuh ini masih terselip dikalbu sanubari ??
“Akhirnya semua kita menyadari”
tapi sayang kesadaran itu muncul bukan diawal mengabdi……
Semoga kita dapat memetik semua hikmahnya
Salam Hangat
November 22nd, 2007 at 4:39 am
Hendry Rusli (komentar #47)
Pak Yusril,
Saya salah satu pengagum Pak Yusril dan selalu mengikuti berita tentang Pak Yusril baik dikoran maupun di media elektronik, dan dari masa masa menjadi Menteri. Cara Pak Yusril berbicara dan berdiskusi di Televisi menunjukan bahwa Pak Yusril mempunya wawasan yang luas. Artikel ini memberikan kita pelajaran bahwa manusia ini sebenarnya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kebesaran Tuhan, dan kita masih melihat banyak sekali manusia yang sombong, baik memamerkan harta dan jabatan, padahal waktu meninggal kita tidak membawa apa apa.
Terimakasih untuk sharingnya dan sukses untuk Bapak.
November 22nd, 2007 at 5:28 pm
shelly (komentar #48)
kog Bapak bisa tertarik main film? ^__^
November 22nd, 2007 at 9:36 pm
bukek siansu (komentar #49)
atau bisa juga memang Anda yang sombong. Bisakah(?)…?
Seperti Dessy yang miss no comments. Makin dia no comments ya makin dicecar. Atau teringat masa2 sekolah kalok ada teman yang marah saat dogoda, Kecuali dia adalah “jagger”nya si situ, dianya itu akan terus menerus jadi sasaran godaan.
Mau memilih jadi jagger, tentu tidak simpatik. Mau bersantun-santun melelahkan. Jadi, sila pilih sendiri
November 23rd, 2007 at 8:42 am
yayan (komentar #50)
Pak Yusril yang baik,
Menyentuh sekali ceritanya..kita semua berdoa semoga almarhum diberi tempat sebaik-baiknya disisi-Nya…btw, karena Pak Yusril dari Belitung jadi ingat Andrea Hirata, penulis tetralogi laskar pelangi…
salam,
yayan
“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim,laki2 dan perempuan mukmin,laki2 dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,laki2 dan perempuan yang benar,laki2 dan perempuan yang khusyuk,laki2 dan perempuan yang bersedekah, laki2 dan perempuan yang berpuasa, laki2 dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki2 dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ” ( QS Al-Ahzab (33) : 35)
November 25th, 2007 at 5:48 pm
Deni (komentar #51)
Assalamualaikum Pak Yusril,
Saya baru pertama kali mengunjungi blog bapak dan langsung tertarik membaca tulisan ini. Salut terhadap tulisan-tulisan yang ada di blog ini, banyak memberikan tausiah yang berguna bagi kita semua.
Semoga saya bisa belajar bagaimana menulis sesuatu yang jauh lebih bermanfaat untuk orang lain.
November 26th, 2007 at 7:17 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #52)
#42 Koro. Demikianlah kenyataan hidup. Kalau ada seribu kebaikan yang kita kerjakan, alangkah mudah orang melupakannya. Sebaliknya, kalau ada satu kesalahan, dia akan berkembang beranak-pinak dan akan diingat orang selamanya.
#43. Jebee. Kesadaran saya akan kematian mulai tumbuh ketika saya kelas 3 SD. Ada teman sekelas saya, namanya Pendi. Di sekolah Pendi berjualan kwaci yang ada mainannya. Kalau saya ada uang sedikit, saya selalu membeli kwaci dengannya. Saya senang mengkoleksi mainan berbentuk tentara membawa senapang, terbuat dari plastik. Ukurannya sangat kecil. Empat hari Pendi tidak masuk sekolah karena sakit. Saya ingin menjenguknya, tetapi rumahnya di Kampung Kalmoa, terasa jauh kalau saya berjalan kaki dari rumah saya di Kampung Sekip. Hari kelima kami sekelas diberi tahu bahwa Pendi telah meninggal. Hati saya sedih bukan kepalang. Saya berjalan kaki ke rumah Pendi dan melihat jenazahnya terbaring. Saya menangis sejadi-jadinya. Kasihan sekali dengan Pendi, ayahnya sangat miskin sehingga tak dapat membawa dia untuk berobat, sampai akhirnya meninggal. Saya mengantar jenazah Pendi sampai ke pemakaman di Kampung Gunung, di kota Manggar, Belitung Timur.
Sejak itulah saya menyadari sebuah kematian. Di tahun yang sama, ayah seorang teman sekelas saya namanya Hasan, meninggal. Ayah Hasan bekerja sebagai supir bis mengangkut pegawai PN Timah. Saya datang ke rumah Hasan dan melihat dia dan adik-adiknya menangis sedih. Hasan hanya sekolah sampai kelas 4 SD kemudian berhenti, karena tak sanggup bayar uang sekolah. Dia kemudian menjadi nelayan.
Ketika saya SMP saya diserang sakit. Sering saya muntah darah, tetapi dokter Puskesmas bilang saya bukan diserang TBC. Saya bolak-balik ke rumah sakit tapi tak kunjung sembuh. Badan saya sudah kurus sekali. Saya merasa sebentar lagi saya akan mati. Salah seorang paman saya akhirnya mengobati saya dengan daun sirih yang dia bacakan doa dan jampi-jampi. Lalu saya sembuh. Belakangan saya tahu dari Ibu saya, paman mengatakan mungkin hidup saya tidak akan lama, paling-paling hanya sampai umur 40 tahun. Ibu saya menasehati saya supaya jadi orang baik. Saya melihat ibu saya menangis ketika menasehati saya. Tapi paman bilang, umur manusia adalah kekuasan Tuhan, manusia hanya menduga saja. Paman saya itu seorang sufi. Dia mengamalkan ajaran tasawwuf dan taat beribadah.
Saya selalu dibayang-bayangi perasaan bahwa kematian akan segera tiba. Ketika umur saya 40 tahun, saya, keluarga dan teman-teman menyelenggarakan selamatan ulang tahun. Seumur hidup, baru itulah pertama kali saya menyelenggarakan selamatan ulang tahun. Keluarga saya miskin dan bersahaja. Kami tak mengenal tradisi merayakan ulang tahun. Kini usia saya sudah 51 tahun, tetapi saya masih hidup juga. Namun, bayangan akan kematian selalu muncul dalam pikiran dan perasaan saya. Jadi menteri atau tidak, kesadaran akan kematian itu tak pernah pupus dalam hati dan pikiran saya.
Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga.
November 26th, 2007 at 10:36 am
hamidfara_aza (komentar #53)
#52 YIM,
// “Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga “//
Mungkin judul tulisannya ” Mudzakarah maut “…..?
(maaf kalau so tahu), pasti lebih tajam lagi kajiannya.
November 26th, 2007 at 11:02 am
hamidfara_aza (komentar #54)
#52 YIM,
Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga.
Mungkin judul tulisannya ” Mudzakarah maut “…..?
(maaf kalau so tahu), pasti lebih tajam lagi kajiannya
November 26th, 2007 at 6:59 pm
Andi Gunawan (komentar #55)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Memang Pak Yusril, semua kita akan pergi …….
Tapi sebelum pergi kita harus bawa bekal
Kalau bekal kita tak cukup tentu akan celaka
Maka, seperti yang Pak Yusril bilang bawalah bekal
yang banyak, dengan ilmu, beramal soleh dan sodaqoh.
Pak Yusril aku mau belajar menyusun kata yang baik dari bapak
untuk di blog saya, saya juga ingin Pak Yusril mengomentari
kekurangan-kekurangan di blog saya, maklum baru belajar…
ni alamatnya http://www.AyoBangkitIndonesiaku.wordpress.com
Terima kasih
November 28th, 2007 at 3:48 pm
tasnim (komentar #56)
Saya baru membaca blog pak yusril hari ini. Saya setuju dengan tulisan bapak,”akhirnya semua kita akan pergi”. Itulah hakikat kehidupan, ibarat orang dalam perjalanan panjang,dia akan singgah di suatu tempat,dan kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Itulah dunia,tempat transit sebelum perjalanan hidup yang sebenarnya..
Semoga kita senantiasa mendapat lindungan dari Allah swt
November 29th, 2007 at 6:46 pm
Nuke (komentar #57)
Pak Yusril, ini adalah tulisan pertama Anda di blog ini yang saya baca, dan komentar saya, Anda seorang penulis dan pencerita yang sangat baik. Merupakan suatu keberuntungan besar bagi para blogger indonesia, mendapati Anda bergabung di dunia maya ini, menulis blog.
November 30th, 2007 at 7:39 pm
zakasembung (komentar #58)
assalamualaikum, wr,wb… slamat ya bang ude jadi artis neh…….
tulisan tentang abang d resufle kapan d muat bang….padahal kan SBY abang yg dukung…
bagus juga d muat bang…
December 1st, 2007 at 12:55 pm
Wirawan.Hendra (komentar #59)
Bang Yusril,
Jauh jauh kita dari kampung mencari pendidikan & penghidupan yang lebih baik, tapi bagaimanapun nasib kita telah digariskan oleh Allah SWT, sebagai orang sekampong, saya mengucapkan turut berduka cita semoga diterima amal & ibadahnya di Surga
Amin
Wirawan
December 1st, 2007 at 8:16 pm
Durineeque (komentar #60)
hey.. why your site loading so slow?
December 6th, 2007 at 10:38 am
Agus Muldya (komentar #61)
Yth Bang Yusril,
Innailahi wainailahi rojjiun semoga almarhum Abdul Hamid bin Baharum
mendapatkan tempat yang baik di sana. saya kita tulisan Bang Yusril di Blog seperti ini akan bermanfaat buat banyak orang. semoga beramal dengan menuliskan pengalaman dan pemikirannya di tempat yang bisa di akses banyak orang dan gratis ini bisa berlangsung panjang sehingga manfaatnya banyak.
Jangan lupa menuliskan berbagai peristiwa besar di Indonesia yang bang Yusril ada didalamnya sehingga banyak orang juga tahu sejarah dengan berbagai informasi yang diterimanya.
salam
Agus muldya
December 6th, 2007 at 11:06 am
Ahmad David Kholilurrahman (komentar #62)
“Allahumma firglahu warhamhu wa’afihi wa’fuanhu…..”(Ila akhir du’aa).
December 7th, 2007 at 12:45 am
daeng limpo (komentar #63)
Innalillahi Wainna ilahi roji’un
Kita semua akan kembali kepadaNya pak, cuman saya takut kalau kembali nanti roh saya nggak diterima dialam akhirat masalahnya waktu lahir roh saya suci masak kembali kepadaNya kotor. Tolong pencerahan dari Bapak Yusril. Salam. Senang bisa berjumpa dengan Bapak lewat Blog.
December 13th, 2007 at 7:17 pm
Tabloid Berita Mingguan Metro Bangka Belitung (komentar #64)
Assallumualaikum Wr Wb
Izin Mengambil Tulisan
Bang Yusril, kami pengasuh Tabloid Mingguan Metro Bangka Belitung yang terbit setiap hari Kamis di Pangkalpinang. Peredaran tabloid ini di seluruh daerah-daerah yang berada di Bangka Belitung. Tabloid ini baru berusia 3 bulan, masih sangat baru, dan kami bersama kawan-kawan mencoba untuk membangunnya. Semoga tabloid ini bisa menjadi bacaan bagi masyarakat.
Beberapa waktu lalu, kami datang mengunjungi blog Bang Yusril, dan kami sangat tertarik dengan tulisan Bang Yusril berjudul AKHIRNYA SEMUA KITA AKAN PERGI. Tulisan ini sangat penting sekali dibaca masyarakat di Bangka Belitung. Tapi, tentu saja tak semuanya bisa membacanya melalui internet. Maka, dari itu pula, kami mohon izin pada Bang Yusril, tulisan itu bisa dimuat di tabloid Metro Bangka Belitung. Dan kami akan kirimkan tabloid itu ke alamat Bang Yusril.
Demikian, atas kesediaan Bang Yusril untuk mengizinkan pemuatan tulisan itu, kami ucapkan terima kasih.
Wassallam
Replianto
Redaktur Pelaksana
Catatan: Mohon Bang Yusril kirimkan alamat untuk pengiriman tabloid itu
December 14th, 2007 at 5:53 pm
Roedy Chandra Al Rasyid (komentar #65)
Ayah Hamid memang sosok yg menyenangkan,bahasanya yg campur aduk justru jadi hiburan tersendiri jika berkumpul pada saat musim liburan kuliah. Jiwa muda yg memang kental mewarnai kehidupannya & punya daya tarik sendiri utk kami (saya & Adik), dari soal lagu jaman mick jeger sampe hal yg berbau politik, tak jarang kami panggil beliau dgn sebutan sekretaris pak Menteri dan disambut dgn tawanya yg khas. Biasanya bisa berjam-jam kami duduk di ruang tamu rumahnya, mendengarkan cerita beliau saat berkunjung/bertemu anda, terpancar kebahagian serta rasa bangga yg sangat luar biasa. Haru jg bahagia seperti ada spirit baru dalam diri beliau untuk hidup lebih lama, walau kami tahu penyakit menahun yg beliau derita tak menyurutkan semangatnya utk tetap bisa menyaksikan peristiwa2 bersejarah keluarga ini. ayah hamid memang sedikit berbeda dibandingkan Ayah rasyid atau kek bahtiar yg bawaannya serius & pedas kalau berbicara!, mungkin warisan datok baharum yg sedikit berwatak keras. Masih ingat jika sdh begitu ngadunya ke Ayah Hamid,dgn ketawa khasnya beliau hanya bilang, mereka memang begitu tapi maksudnya baik,untuk menghibur kami biasanya dia akan memulai dgn cerita pengalamannya bersama anda, dengan gaya duduk bak seorang intelektual jenius dia mulai cerita & tentunya dgn suguhan kopi panas ala nek mumuk(istri beliau, begitu kami memanggilnya), selang beberapa lama biasanya rumahnya mulai penuh dgn kedatangan putri bungsu(haryati) kek Hasim & Amelia (nek Am), dan tak jarang mereka jg ikutan nimbrung utk mendengarkan kelakar pak asisten menteri (Ayah Hamid) sambil sesekali menyela kelakar beliau. Intinya dari akhir sebuah kelakar beliau menyelipkan nasehat ke pd kami, untuk banyak belajar dari setiap peristiwa ini, bekerja keras & terus lah berusaha jgn pernah patah arang, jadilah seperti apa yg kami inginkan & jgn jadikan kemiskinan sebagai pembatas atas sebuah keinginan & jangan sesekali menjadikan kemiskinan dan keterbatasan sebagai sebuah alasan untuk mengutuk nasib, apa yg telah tuhan berikan adalah sebuah kesempatan untuk dapat kita famami kelak dikemudian hari. entah dari mana kalimat tersebut keluar & hari ini saya baru tahu setelah saya membaca tulisan anda tentang beliau, yg tak pernah beliau ceritakan kepada kami, mungkin beliau berpikir tak ada yg dapat dia banggakan atas dirinya. Terima-Kasih atas semuanya, ternyata orang selama ini saya hormati punya segudang cerita yg dapat saya jadikan pelajaran. Selamat jalan Ayah Doa kami tak akan pernah Putus, Tunaikan tugas mu yg lain disana Ayah,katakan pd sang kuasa jika kau pasrah atas segala sesuatu yg kau tinggalkan diatas muka bumi ini. (Salam Hormat - Post By@RChandra 17/12/2007)
December 17th, 2007 at 5:18 pm
Badrut Tamam Gaffas (komentar #66)
Innalillah …semua sememangnya akan berpulang kembali kepada sang pencipta termasuk saya juga dan kefanaan yang melekat pada diri kita, karena itu harapan untuk bang yusril untuk menjadi pemimpin masa depan harus mendapatkan jalan untuk diperjuangkan, selagi kesempatan itu terbuka jangan pernah menyerah.
Cukuplah jiwa besar bang yusril saat mundur dari pencalonan hingga gus dur jadi RI 1, cukuplah bang yusril memberi jalan bagi SBY dan JK dan sekarang saatnya bang yusril tentukan jalan sendiri demi ummat dan bangsa ini.
Do’aku untuk YIM, semoga Allah melapangkan jalan itu…
December 17th, 2007 at 7:24 pm
darmawira (komentar #67)
pak replianto apa khabar
December 21st, 2007 at 8:28 am
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda