Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Assalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh,
Minggu pagi tanggal 11 November 2007, saya diberitahu oleh kakak saya, salah seorang saudara sepupu saya, Abdul Hamid bin Baharum, telah berpulang ke rahmatullah, setelah seminggu menderita sakit. Mendapat kabar itu, saya langsung bergegas menyetir mobil datang ke rumahnya di kawasan Pasar Baru, Jakarta Pusat. Ketika tiba, saya menyaksikan jenazahnya yang terbaring kaku sedang dimandikan. Saya menunggui sampai jenazah dikafani dan kemudian disholatkan di sebuah mushalla kecil tidak jauh dari rumahnya. Selesai dishalatkan, sejumlah orang membawa jenazah ke sebuah ambulan. Mereka semua berangkat ke pemakaman umum karet. Jenazahpun dimakamkan. Ada dua orang memakai peci dan kain sarung dan berbaju batik membaca talqin dan kemudian berdoa bersama-sama.
Sebagai saudara dekat, saya diminta untuk menyampaikan sambutan. Setelah menyampaikan ucapan terima kasih, mohon doa dan mohon maaf bagi almarhum, saya mengutip salah satu peristiwa yang terjadi di zaman Rasulullah s.a.w. Suatu ketika Rasulullah menyaksikan sekelompok orang membawa jenazah ke pemakaman. Rasulullah bertanya, jenazah siapakah yang akan dimakamkan itu. Maka salah seorang dari mereka menjawab bahwa itu adalah jenazah si Fulan. Rasulullah kemudian bertanya kepada mereka: Adakah si Fulan itu, selama hidupnya dikenal sebagai orang yang baik. Mereka serentak menjawab: Kami menyaksikan, ya Rasul Allah, si Fulan itu memang orang baik. Maka bersabdalah Rasulullah: Jika jenazah seseorang di usung ke pemakaman, dan 40 orang mengatakan bahwa dia adalah orang baik, maka Allah SWT akan memasukkan ruh orang itu ke dalam surga. Kemudian, saya bertanya kepada hadirin yang hadir di pemakaman: Adakah Saudara-saudara semua menyaksikan bahwa semasa hidupnya, Abdul Hamid bin Baharum ini adalah orang yang baik? Maka serentak para hadirin menjawab: Ya, beliau orang yang baik. Maka saya berkata: Ya Allah, ampunilah saudara kami ini kalau dia melakukan kesalahan. Terimalah segala amal kebajikan yang telah dilakukannya. Masukkanlah dia ke dalam surga Jannatun Na’im.
Selesai upacara pemakaman yang amat bersahaja itu, istri saya yang ikut ke pemakaman Karet bertanya kepada saya. Dia katakan dalam Bahasa Inggris, Pak Hamid yang baru meninggal tadi pagi, mengapa begitu cepat dimakamkan. Di Jepang atau di Philipina, katanya, jenazah baru dimakamkan beberapa hari, bahkan seminggu setelah kematian. Tadi juga saya melihat, ketika imam membaca do’a, mengapa orang yang hadir tidak mengikutinya dengan serius. Mereka saling ngobrol sesamanya. Isteri saya bertanya demikian, karena seumur hidupnya, inilah untuk pertama kalinya dia bertakziah ke rumah seorang Muslim yang meninggal dan mengikuti upacara pemakaman. Dia baru memeluk agama Islam setahun lebih. Sambil menyetir mobil saya jelaskan kepadanya, bahwa dalam ajaran Islam, orang meninggal harus segera dimakamkan. Tidak perlu menunggu lama-lama karena hanya akan memberatkan ruh orang yang meninggal.
Jika seseorang telah wafat, maka selesailah urusannya dengan dunia ini, kecuali tiga hal, yakni ilmu yang bermanfaat dan diajarkan kepada orang lain, amal jariah dan anak yang soleh yang terus-menerus mendoakan orang tuanya. Jika telah wafat, kita harus merelakannya untuk pergi menemui sang Pencipta. Keluarga si meninggal, tidak boleh tenggelam dalam kesedihan, karena setiap orang pasti akan mati. Karena itu, jika anak-anak dan isteri si mati telah hadir, maka kaum kerabat yang lain tak perlu ditunggu lama-lama. Jenazah akan segera dimakamkan. Isteri saya nampak mengerti. Dia berkomentar, alangkah sederhananya upacara pemakaman menurut agama Islam. Dia berdiri di sisi liang lahat dan melihat jenazah diturunkan hanya memakai kain kafan, tanpa kerenda dan dia bertanya tentang hal itu. Saya katakan padanya, ini adalah filosofi ajaran Islam bahwa jasad manusia berasal dari tanah. Karena itu, kembali ke tanah seperti semula. Terhadap kritiknya mengapa hadirin kurang khusyu’ ketika pembaca talqin membaca do’a, saya menerima kritik itu. Saya sependapat dengannya, alangkah baiknya jika kita mengikuti upacara pemakaman dengan perasaan yang lebih khidmat.
*******
Sejak saya datang ke rumah saudara sepupu saya yang wafat itu, saya sungguh merasa sedih, terharu dan berpikir panjang. Rupanya, hari ini berakhirlah kisah perjalanan seorang anak manusia, setelah melalui lautan perjalanan hidup yang cukup panjang. Dia wafat dalam usia 68 tahun. Hamid Baharum yang saya kenal, memang orang baik, sederhana dan bersahaja. Dia bersekolah di sebuah sekolah teknik di Manggar, Belitung, yang cukup menjadi kebanggaan masyarakat Belitung yang sederhana di masa itu. Sekolah itu telah ada sejak tahun 1928, ketika bangsa kita masih dijajah, dan bernama Ambach School (maaf kalau saya salah menulis kata Bahasa Belanda ini). Orang Belitung yang pada umumnya hidup miskin dan bersahaja, sangatlah bersuka-cita kalau anaknya diterima di sekolah itu. Bayangkan, baru menjadi murid saja sudah dianggap setengah pegawai oleh PN Tambang Timah. Kalau tamat akan langsung diangkat sebagai pegawai tetap perusahaan negara itu, dengan gaji dan fasilitas yang lumayan besarnya bagi orang di kampung. Tiap bulan murid sekolah itu mendapat setengah gaji pegawai tetap, mendapat beras 10 kilo, dan berbagai ransum keperluan sehari-hari mulai dari kacang hijau, gula, kopi, minyak goreng sampai sabun mandi, odol dan sikat gigi. Begitu suka citanya orang tua ketika anak mereka diterima, dapat saya ingat ketika saya masih kecil: ada tetangga kami yang tiba-tiba menyelenggarakan kenduri. Ayah saya diundang untuk membaca do’a. Saya tentu ikut ayah saya agar dapat makanan dengan lauk-pauk yang lebih enak, dibandingkan dengan apa yang saya makan sehari-hari. Setelah tiba di rumah tetangga itu, barulah saya tahu, beliau menyelenggarakan kenduri karena anaknya diterima di sekoah teknik tempat Hamid Baharum pernah bersekolah itu.
Tetapi, Hamid Baharum rupanya tidak puas hanya sekolah di sekolah teknik itu, dan kurang puas pula menjadi pegawai PN Tambang Timah dengan gaji yang lumayan besarnya. Dia merantau ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikannya ke STM. Dia ingin mengadu nasib. Saya tidak ingat persis kapan dia hijrah ke Jakarta. Mungkin sekitar tahun 1958. Ketika itu saya baru berusia dua tahun. Jadi mustahil untuk tahu dan mengingatnya. Namun rupanya nasib Hamid tidaklah sebaik yang dia harapkan. Setelah tamat STM dia bekerja di berbagai perusahaan swasta sebagai pegawai kecil. Rumahnya sangat sederhana. Dia tinggal di perkampungan yang terbilang kumuh di sebuah gang kecil di Jalan Pintu Air, tidak jauh dari stasiun kereta api Pasar Baru. Ketika saya telah menjadi mahasiswa dan tinggal di Jakarta, saya berusaha mencari rumah Hamid. Pernah saya berjalan kaki dengan almarhum ayah saya mencari rumahnya dan bertanya kepada penduduk di sekitar Jalan Pintu Air. Namun usaha saya sia-sia. Saya tak berhasil menemukan rumahnya. Alamatnya tidak terlalu jelas. Saya baru bertemu Hamid, setelah lebih sepuluh tahun saya tinggal di Jakarta. Dia membaca nama saya di koran-koran dan melihat wajah saya di televisi, lalu berusaha mencari alamat saya sampai akhirnya kami bertemu. Sejak itu saya sering bertemu dengannya. Kadang-kadang saya datang ke rumahnya hanya untuk berbincang-bincang sambil tertawa.
Hamid nampaknya berjuang keras untuk meraih nasib hidup yang lebih baik. Namun apa daya, seperti kata pepatah: Maksud hati memeluk gunung. Apa daya tangan tak sampai. Sampai wafat, dia hidup dalam keprihatinan, di tengah kerasnya perjuangan hidup di kota Jakarta. Suatu hari saya datang lagi bertandang ke rumahnya ketika saya telah menjadi Menteri Kehakiman dan HAM. Penduduk di gang kecil itu nampak heran dan tidak percaya ada menteri datang ke tempat itu. Mereka seakan tak percaya pula kalau Hamid yang telah lama tinggal di kampung itu adalah saudara sepupu saya. Seperti biasa, Hamid senang saya datang. Kami berbincang-bincang ke sana-kemari. Saya tanya Hamid, apa yang dia kerjakan sekarang. Sambil ketawa dia bilang, dia “narik bajaj”. Dia lantas menunjuk sebuah bajaj setengah rongsokan yang di parkir di gang sempit di sebelah rumahnya. Saya tertegun melihat bajaj yang sudah hampir menjadi bangkai itu. Ada perasaan iba di hati saya. Bertahun-tahun saudara sepupu saya ini merantau ke Jakarta, namun nasibnya tak kunjung membaik. Dia telah berpindah-pindah kerja dan akhirnya menjadi supir bajaj. Sementara usianya makin bertambah tua saja.
Namun dalam penglihatan saya, Hamid nampak tidak terlalu hanyut dalam kesedihan dalam menjalani kesulitan hidup yang dideritanya. Saya yang menjadi menteri, meskipun mungkin nampak gagah di mata orang lain, kepala saya pusing setiap hari. Wajah saya tak nampak selalu cerah dan gembira. Hamid bercakap-cakap dengan saya menggunakan Bahasa Melayu Belitung, yang dialeknya sudah bercampur-aduk dengan Bahasa Betawi, sambil tertawa dan kadang-kadang melucu. Dia bercerita tentang kehidupan dan tentu berkisah tentang kesusahan hidup sebagai orang kecil, yang saya simak baik-baik. Semua itu adalah nasib yang harus diterima dengan sabar, katanya. Suatu ketika saya menyarankan kepadanya agar dia mencari rumah yang lebih baik, rumah BTN saja agar terjangkau. Saya dan saudara yang lain dapat membantu. Saya berpendapat, jika pindah, dia akan hidup lebih tenang di daerah yang jauh dari kebisingan dan hingar bingar. Dia bisa bikin warung untuk menjalani hari tuanya. Hamid rupanya mempertimbangkan saran saya. Dia sempat membeli rumah BTN yang katanya terletak di Kampung Citayam, di daerah Depok. Namun, tidak lama dia tinggal di situ. Dia lebih senang kembali ke gang kecil di Pintu Air. Banyak tetangga dan banyak teman yang sudah puluhan tahun tinggal bersama. Hingar-bingar dan kebisingan, serta kesesakan penduduk di daerah itu, rupanya sudah menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupannya. Dia tak betah tinggal di tempat sunyi, meski dalam pandangan saya, lebih asri dan tertata lebih baik.
Kini Hamid telah pergi. Seperti telah saya katakan, saya menyaksikan jenazahnya dimandikan dan dikafankan. Ia diusung ke pemakaman, dengan upacara yang sangat sederhana dan bersahaja. Ketika jasadnya diturunkan ke liang lahat, sekali lagi hati saya tertegun. Beginilah rupanya akhir perjalanan hidup di dunia yang fana ini. Semua orang, semua kita akan pergi seperti Hamid, tidak perduli apakah dia kaya atau miskin, berpendidikan atau tidak, punya jabatan dan nama yang masyhur atau bukan. Hidup ternyata terlalu singkat, walau terkadang kita merasakannya terlalu panjang. Saya teringat ketika saya belajar agama dan filsafat dan membahas masalah waktu. Usia 68 tahun seperti Hamid, mungkin sudah terlalu panjang dibandingkan rata-rata usia harapan hidup orang Indonesia. Namun dalam pandangan para malaikat, usia Hamid mungkin hanya sekejap mata. Ada malaikat yang setiap hari turun naik dari langit ke bumi membawa rahmat Allah. Namun dijelaskan dalam keyakinan agama, bahwa satu hari malaikat turun-naik itu adalah sama dengan seratus ribu tahun dalam persepsi manusia di dunia fana. Kalau begitu ukurannya, maka tentulah di mata para malaikat, Hamid hidup hanya sekejap, begitu juga orang lain. Lalu saya teringat akan seekor belalang yang hidup di pohon nangka. Warna sayapnya mirip daun nangka yang masih muda. Konon, menurut para ahli biologi, belalang itu hidup tidak lebih dari 24 jam, dan kemudian mati. Waktu saya kecil, saya berkata di dalam hati: kasihan sekali dengan belalang ini, usianya begitu pendek. Tetapi, kalau ingat tentang turun-naiknya malaikat tadi, mungkin para malaikat akan berkata: kasihan sekali melihat manusia, hidup mereka pendek sekali. Sehari kami turun naik dari langit ke bumi, telah jutaan manusia lahir dan mati. Persepsi tentang waktu nampaknya berbeda di antara makhluk ciptaan Allah. Cukup panjang bagi belalang nangka, sangat pendek bagi manusia. Sangat panjang bagi manusia, terlalu pendek bagi para malaikat.
*******
Kematian Hamid Baharum, saudara sepupu saya itu, makin menyadarkan saya bahwa suatu ketika sayapun akan dikuburkan orang seperti dia. Semua hanyalah masalah waktu belaka. Kalau memang demikian keadaannya, saya berpikir, untuk apalah terlalu “ngotot” dalam kehidupan yang fana ini. Tentu kita ingin berbuat amal-kebajikan sebanyak mungkin selama kita hidup, agar bukan saja bermanfaat bagi sesama manusia dan sesama makhluk, tetapi juga sebagai bekal menjalani kehidupan akhirat kelak. Namun, meskipun kita selalu berniat dan beriktikad baik — dan dalam kenyataan kita sungguh-sungguh mewujudkannya dengan segenap kemampuan — toh belum tentu baik juga dalam pandangan manusia-manusia yang lain. Hidup manusia dipenuhi oleh perasaan hasad, iri hati, dengki, curiga dan salah paham. Namun itulah kenyataan hidup yang tak dapat ditolak. Seribu kebaikan yang kita lakukan, terasa hampir tak berbekas, dan alangkah mudahnya dilupakan orang. Namun satu saja kesalahan yang mungkin telah kita buat, akan dihujat setiap hari. Mungkin pula kesalahan itu akan dikenang orang sepanjang masa. Apalagi sekarang kita sedang hidup di alam penuh kebebasan berekspressi dan kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat. Kita tengah hidup di alam demokrasi dengan segala macam tingkat pemahaman dan penafsirannya.
Kalau demikian, haruskah saya berhenti berniat dan beriktikad baik dan berbuat baik di alam nyata? Saya pikir tidak. Seringkali orang tidak menyadari kebaikan dan juga kebenaran. Mereka baru menyadarinya jauh di belakang hari. Bahkan terasa sudah begitu terlambat. Kebaikan tetaplah kita lakukan demi kebaikan itu sendiri, agar kita ikhlas dalam beramal dan batin kita merasa terpuaskan. Kepuasan batin itu penting, walau kenyataan hidup seringkali terasa menyakitkan. Kalau kita banyak berbuat baik kepada orang lain, lebih baik kita melupakannya. Tetapi kalau orang lain berbuat baik kepada kita, wajiblah kita terus mengingat-ingatnya. Semoga saya, menjadi orang yang pandai menghargai segala kebaikan orang lain, dan memaafkan setiap kesalahan dan kekhilafan.
Wallahu ‘alam bissawab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 13th, 2007
67 tanggapan untuk “AKHIRNYA SEMUA KITA AKAN PERGI (I)”
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
haanadza (komentar #31)
Sampai berkaca-kaca saya membacanya. Memang ketika kita tenggelam dalam perbuaruan kenikmatan dunia, manusia (eh saya) seolah-olah tak akan ada kematian, tapi klo menyempatkan diri merenung/tafakkur begitu sebentarnya kita (saya) di dunia ini. Tahun 2100 yang aktif di blog ini “pasti” sudah berpindah alam. Allahumma inna nas-aluka husna khatimah, Amin.
November 16th, 2007 at 10:14 am
Moh Evert Yulianto (komentar #32)
Saya terharu membaca tulisan ini, dan membuat makin yakin bahwa kita hanya meminta tolong kepada Allah Swt, bukan kepada makhluk.
Sukses buat Bang.
November 16th, 2007 at 12:44 pm
masliliks (komentar #33)
turut berbela sungkawa ya pak
bener sih, manusia emang suka lupa kalo cuman mampir minum…
November 16th, 2007 at 2:04 pm
iERn_van_B@ch (komentar #34)
saya setuju dengan pendapat YIM tentang gaya wartawan saat ini, yang merasa sok teu dan sok penting, padahal bisa dibilang bahwa kerjaan dia itu hanya ngompori massa yang kebanyakan masih uneducated.
November 16th, 2007 at 2:39 pm
Noor Muhammad (komentar #35)
Selamat datang dg Blog yg baru pak Yusril, tampilannya sudah ok. Insya Allah kami akan senang membaca tulisan2 yg akan anda munculkan dalam blog ini. Cerita tentang kepergian sepupu Almarhum Hamid sungguh amat menyentuh dan banyak hikmah yg dapat kami serap dari tulisan itu. Kami tunggu tulisan2 berikutnya. Wassalam
November 16th, 2007 at 3:32 pm
hardjo (komentar #36)
kepala ini serasa disiram air es. ‘dalam’ sekali pak tulisannya
November 16th, 2007 at 5:37 pm
Rudi Answar (komentar #37)
Assalamualaikum.
Innalillahi wa innailaihi rojiun. Sebelumnya, Saya mengucapkan turut berduka cita sedalam-dalamnya.
Pak Yusril,
KEHILANGAN UANG KEHILANGAN BANYAK, KEHILANGAN SAHABAT KEHILANGAN LEBIH BANYAK, KEHILANGAN SEMANGAT ADALAH KEHILANGAN SEGALA GALANYA
Komentar bapak dalam kalimat:
“Cukup panjang bagi belalang nangka, sangat pendek bagi manusia. Sangat panjang bagi manusia, terlalu pendek bagi para malaikat”
Mengingatkan saya pada kejadian tujuh tahun lalu,
sekedar berbagi (gantian gitu lo..)
Saya juga pernah mengalami mengalami di alam lain (Alam ghaib) ternyata di alam sana satu detik sebanding dengan seribu tahun di alam dunia, namun paling mengherankan satu langkah di alam dunia sama dengan ribuan kilometer di alam ghaib.
Saat itu juga saya melihat mahluk aneh warna gelap tak tampak rupa, juga melihat sinar terang yang indah.
Tapi saat itu tetangga dan sanak saudara sudah sedang membacakan yasin buat saya.
Bayangkan pak, di alam sana kita hanya mempunyai dua sifat saja yang lainya gak ada, cuma “Senang” Dan “Tidak Senang”
Saya ceking ke dokter tubuh saya normal.
Dibantu oleh seorang kyai, saya ikhlas hari itu juga sedekah satu ekor sapi, saya kembali ke alam normal, dan sampai sekarang saya sangat trauma dengan kejadian itu.
Sejak saat itu saya menghindari hal-hal sedih, takut terulang lagi
oh sram…..
Jangan maen-maen pak, tulisan bapak sangat menyentuh hati saya
Judul Blog Bapa “AKHIRNYA SEMUA KITA AKAN PERGI”
Membuat merinding
Jika ada saran kirim ke email
Screet_h2_j8s8x@yahoo.co.id
November 17th, 2007 at 2:13 am
Kandar Cik Kulup (komentar #38)
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bang, saya tahu blog abang dari koran. Terus, begitu aku buka ada berita duka tentang saudara kita yang meninggal di jakarta, kebetulan saya keturunan “perenggu” kek Dulah, terus aku konfirmasi ayah ternyata waktu di ac seangkatan dengan beliau, innalillahi semoga arwahnya ditempatkan di tempat yang layak di sisi Allah SWT. Amien.
Salut untuk keberanian abang berdialog via internet, mudah-mudahan banyak pelajaran yang bisa kita dapat dari dunia maya ini, saat ini ada dua orang belitong yang aku kagumi salah satunya anda dan bang andrea sang novelis yang bisa membuat suasana “Billitonis”. Ditunggu tulisan-tulisan berikutnya, salam hangat buat keluarga.
Wassalam
November 17th, 2007 at 11:07 am
luthfi maulana (komentar #39)
bang yusril,……
kami turut berduka cita yang sedalam-dalamnya atas kepergian saudara sepupu abang, semoga segala kebaikan beliau mendapat ganjaran sebagai pahala dari Alloh SWT.
November 17th, 2007 at 4:53 pm
N. Jamil ghazali (komentar #40)
Dari Allah kita berasal dan kepada-Nya jua akan kembali ..
Ungkapan ttg perjalanan hidup sepupu Pak Yusril sampai ajal menjemput menyentuh hati siapa saja, karena ditulis apa adanya .. semoga amal-amalnya diterima Allah dan kesalahannya di ampuni .. amin … 3 x
November 17th, 2007 at 7:39 pm
Muhammad Rachmat (komentar #41)
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
November 18th, 2007 at 10:55 pm
koro (komentar #42)
jarang sekali saya menjumpai blog seperti ini… banyak pelajaran, hikmah, tausiyah, dan nasihat bagi diri saya pribadi maupun pembaca lainnya…
walaupun banyak cerita miring tentang diri pak yusril dimasyarakat kita, tapi dengan membaca pengalaman pak yusril ini, benar2 dapat membuka hati saya bahwa orang lebih senang melihat kekurangan kita, dibanding melihat kebaikan kita.
mudah2an pak yusril tetap diberi petunjuk dan bimbingan dari Allah SWT begitu pula kita semua. Amin.
November 19th, 2007 at 10:53 am
odik_kazneh (komentar #43)
Membaca tulisan pa Yusril, saya teringat ketika seminggu menjelang lebaran kemarin saya mendapat kabar calon bapak mertua saya telah tiada. Beliau mendapat perawatan di Rs. Wijaya Kusumah Kuningan sekitar tiga hari, dan setelah itu tanpa firasat apapun meninggalkan keluarga yang sangat mencintainya.
Saya akhirnya mafhum bahwa diatas segalanya masih ada yang kuasa. Kita tidak tahu kapan akan dipanggil oleh-Nya, entah esok, lusa, bulan depan, kita tidak tahu. Yang kita tahu hanyalah agar kita selalu mempersiapkan diri saat tiba giliran kita menghadap yang kuasa. Dan sebagai anak, melalui tulisan anda, saya kembali tergugah tentang 3 hal yang tak mungkin terputus, amal kebajikan, shodakoh jariyah dan doa anak yang sholeh.
Innalillahi wa inna ilaihi roji’un, turut berduka buat pa Yusril
O ya, saya tahu blog pa Yusril dari koran, saya penasran dan saya buka dech….pengen tahu apa isinya he…..saya juga lagi belajar ngeblog neh…
November 19th, 2007 at 1:50 pm
lusy miandra (komentar #44)
Turut berduka cita.
November 19th, 2007 at 4:04 pm
mathematicse (komentar #45)
Terharu dengan kisah hidup, Pak, Hamid. Mudah-mudahan amal baik beliau diterima di sisi Allah SWT.
Ada kenikmata tersendiri ketika membaca artikel ini…
Salam kenal Pak Yusril…
November 21st, 2007 at 3:58 pm
jebee (komentar #46)
Jebee
Apakah baru kini bapak sadari “Akhirnya Semua Kita akan Pergi”?? setelah terjungkal dari empuknya kursi kabinet ??
Sekiranya bapak masih bersandar dikursi kabinet itu, apakah kalimat meyentuh ini masih terselip dikalbu sanubari ??
“Akhirnya semua kita menyadari”
tapi sayang kesadaran itu muncul bukan diawal mengabdi……
Semoga kita dapat memetik semua hikmahnya
Salam Hangat
November 22nd, 2007 at 4:39 am
Hendry Rusli (komentar #47)
Pak Yusril,
Saya salah satu pengagum Pak Yusril dan selalu mengikuti berita tentang Pak Yusril baik dikoran maupun di media elektronik, dan dari masa masa menjadi Menteri. Cara Pak Yusril berbicara dan berdiskusi di Televisi menunjukan bahwa Pak Yusril mempunya wawasan yang luas. Artikel ini memberikan kita pelajaran bahwa manusia ini sebenarnya tidak ada apa apanya dibandingkan dengan kebesaran Tuhan, dan kita masih melihat banyak sekali manusia yang sombong, baik memamerkan harta dan jabatan, padahal waktu meninggal kita tidak membawa apa apa.
Terimakasih untuk sharingnya dan sukses untuk Bapak.
November 22nd, 2007 at 5:28 pm
shelly (komentar #48)
kog Bapak bisa tertarik main film? ^__^
November 22nd, 2007 at 9:36 pm
bukek siansu (komentar #49)
atau bisa juga memang Anda yang sombong. Bisakah(?)…?
Seperti Dessy yang miss no comments. Makin dia no comments ya makin dicecar. Atau teringat masa2 sekolah kalok ada teman yang marah saat dogoda, Kecuali dia adalah “jagger”nya si situ, dianya itu akan terus menerus jadi sasaran godaan.
Mau memilih jadi jagger, tentu tidak simpatik. Mau bersantun-santun melelahkan. Jadi, sila pilih sendiri
November 23rd, 2007 at 8:42 am
yayan (komentar #50)
Pak Yusril yang baik,
Menyentuh sekali ceritanya..kita semua berdoa semoga almarhum diberi tempat sebaik-baiknya disisi-Nya…btw, karena Pak Yusril dari Belitung jadi ingat Andrea Hirata, penulis tetralogi laskar pelangi…
salam,
yayan
“Sungguh, laki-laki dan perempuan muslim,laki2 dan perempuan mukmin,laki2 dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya,laki2 dan perempuan yang benar,laki2 dan perempuan yang khusyuk,laki2 dan perempuan yang bersedekah, laki2 dan perempuan yang berpuasa, laki2 dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki2 dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar ” ( QS Al-Ahzab (33) : 35)
November 25th, 2007 at 5:48 pm
Deni (komentar #51)
Assalamualaikum Pak Yusril,
Saya baru pertama kali mengunjungi blog bapak dan langsung tertarik membaca tulisan ini. Salut terhadap tulisan-tulisan yang ada di blog ini, banyak memberikan tausiah yang berguna bagi kita semua.
Semoga saya bisa belajar bagaimana menulis sesuatu yang jauh lebih bermanfaat untuk orang lain.
November 26th, 2007 at 7:17 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #52)
#42 Koro. Demikianlah kenyataan hidup. Kalau ada seribu kebaikan yang kita kerjakan, alangkah mudah orang melupakannya. Sebaliknya, kalau ada satu kesalahan, dia akan berkembang beranak-pinak dan akan diingat orang selamanya.
#43. Jebee. Kesadaran saya akan kematian mulai tumbuh ketika saya kelas 3 SD. Ada teman sekelas saya, namanya Pendi. Di sekolah Pendi berjualan kwaci yang ada mainannya. Kalau saya ada uang sedikit, saya selalu membeli kwaci dengannya. Saya senang mengkoleksi mainan berbentuk tentara membawa senapang, terbuat dari plastik. Ukurannya sangat kecil. Empat hari Pendi tidak masuk sekolah karena sakit. Saya ingin menjenguknya, tetapi rumahnya di Kampung Kalmoa, terasa jauh kalau saya berjalan kaki dari rumah saya di Kampung Sekip. Hari kelima kami sekelas diberi tahu bahwa Pendi telah meninggal. Hati saya sedih bukan kepalang. Saya berjalan kaki ke rumah Pendi dan melihat jenazahnya terbaring. Saya menangis sejadi-jadinya. Kasihan sekali dengan Pendi, ayahnya sangat miskin sehingga tak dapat membawa dia untuk berobat, sampai akhirnya meninggal. Saya mengantar jenazah Pendi sampai ke pemakaman di Kampung Gunung, di kota Manggar, Belitung Timur.
Sejak itulah saya menyadari sebuah kematian. Di tahun yang sama, ayah seorang teman sekelas saya namanya Hasan, meninggal. Ayah Hasan bekerja sebagai supir bis mengangkut pegawai PN Timah. Saya datang ke rumah Hasan dan melihat dia dan adik-adiknya menangis sedih. Hasan hanya sekolah sampai kelas 4 SD kemudian berhenti, karena tak sanggup bayar uang sekolah. Dia kemudian menjadi nelayan.
Ketika saya SMP saya diserang sakit. Sering saya muntah darah, tetapi dokter Puskesmas bilang saya bukan diserang TBC. Saya bolak-balik ke rumah sakit tapi tak kunjung sembuh. Badan saya sudah kurus sekali. Saya merasa sebentar lagi saya akan mati. Salah seorang paman saya akhirnya mengobati saya dengan daun sirih yang dia bacakan doa dan jampi-jampi. Lalu saya sembuh. Belakangan saya tahu dari Ibu saya, paman mengatakan mungkin hidup saya tidak akan lama, paling-paling hanya sampai umur 40 tahun. Ibu saya menasehati saya supaya jadi orang baik. Saya melihat ibu saya menangis ketika menasehati saya. Tapi paman bilang, umur manusia adalah kekuasan Tuhan, manusia hanya menduga saja. Paman saya itu seorang sufi. Dia mengamalkan ajaran tasawwuf dan taat beribadah.
Saya selalu dibayang-bayangi perasaan bahwa kematian akan segera tiba. Ketika umur saya 40 tahun, saya, keluarga dan teman-teman menyelenggarakan selamatan ulang tahun. Seumur hidup, baru itulah pertama kali saya menyelenggarakan selamatan ulang tahun. Keluarga saya miskin dan bersahaja. Kami tak mengenal tradisi merayakan ulang tahun. Kini usia saya sudah 51 tahun, tetapi saya masih hidup juga. Namun, bayangan akan kematian selalu muncul dalam pikiran dan perasaan saya. Jadi menteri atau tidak, kesadaran akan kematian itu tak pernah pupus dalam hati dan pikiran saya.
Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga.
November 26th, 2007 at 10:36 am
hamidfara_aza (komentar #53)
#52 YIM,
// “Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga “//
Mungkin judul tulisannya ” Mudzakarah maut “…..?
(maaf kalau so tahu), pasti lebih tajam lagi kajiannya.
November 26th, 2007 at 11:02 am
hamidfara_aza (komentar #54)
#52 YIM,
Saya ingin menulis hal ini lebih dalam, nanti di blog ini juga.
Mungkin judul tulisannya ” Mudzakarah maut “…..?
(maaf kalau so tahu), pasti lebih tajam lagi kajiannya
November 26th, 2007 at 6:59 pm
Andi Gunawan (komentar #55)
Assalamualaikum Wr. Wb.
Memang Pak Yusril, semua kita akan pergi …….
Tapi sebelum pergi kita harus bawa bekal
Kalau bekal kita tak cukup tentu akan celaka
Maka, seperti yang Pak Yusril bilang bawalah bekal
yang banyak, dengan ilmu, beramal soleh dan sodaqoh.
Pak Yusril aku mau belajar menyusun kata yang baik dari bapak
untuk di blog saya, saya juga ingin Pak Yusril mengomentari
kekurangan-kekurangan di blog saya, maklum baru belajar…
ni alamatnya http://www.AyoBangkitIndonesiaku.wordpress.com
Terima kasih
November 28th, 2007 at 3:48 pm
tasnim (komentar #56)
Saya baru membaca blog pak yusril hari ini. Saya setuju dengan tulisan bapak,”akhirnya semua kita akan pergi”. Itulah hakikat kehidupan, ibarat orang dalam perjalanan panjang,dia akan singgah di suatu tempat,dan kemudian melanjutkan perjalanannya kembali. Itulah dunia,tempat transit sebelum perjalanan hidup yang sebenarnya..
Semoga kita senantiasa mendapat lindungan dari Allah swt
November 29th, 2007 at 6:46 pm
Nuke (komentar #57)
Pak Yusril, ini adalah tulisan pertama Anda di blog ini yang saya baca, dan komentar saya, Anda seorang penulis dan pencerita yang sangat baik. Merupakan suatu keberuntungan besar bagi para blogger indonesia, mendapati Anda bergabung di dunia maya ini, menulis blog.
November 30th, 2007 at 7:39 pm
zakasembung (komentar #58)
assalamualaikum, wr,wb… slamat ya bang ude jadi artis neh…….
tulisan tentang abang d resufle kapan d muat bang….padahal kan SBY abang yg dukung…
bagus juga d muat bang…
December 1st, 2007 at 12:55 pm
Wirawan.Hendra (komentar #59)
Bang Yusril,
Jauh jauh kita dari kampung mencari pendidikan & penghidupan yang lebih baik, tapi bagaimanapun nasib kita telah digariskan oleh Allah SWT, sebagai orang sekampong, saya mengucapkan turut berduka cita semoga diterima amal & ibadahnya di Surga
Amin
Wirawan
December 1st, 2007 at 8:16 pm
Durineeque (komentar #60)
hey.. why your site loading so slow?
December 6th, 2007 at 10:38 am
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda