Beranda

SEKEDAR INFO

Assalamu’alaikum warahmatullah  wabarakatuh, 

Di Indonesia Matters ada perdebatan saya dengan seorang yang menggunakan inisial  ”Dragonwall” dan yang lain. Setelah beberapa kali jawab-menjawab, saya berniat untuk membuka perdebatan menanggapi berbagai tulisan  tentang saya, yang dibuat oleh penulisnya, yang bernama Patung. Beliau ini seringkali menyerang seseorang dalam kaitannya dengan  Islam dalam nada provokatif dan sinis. Saya ingin mengajaknya berdiskusi secara akademis di blog saya. Sebagai latar belakang, silahkan Anda buka Indonesia Matters.

Terima kasih,

Wassalamu’alaikum warahmatullah wabarakatuh

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 16th, 2007

86 tanggapan untuk “SEKEDAR INFO”

  1. resti vurwarin (komentar #1)

    Assalamualaikum wr wb

    saya sebetulnya agak sangsi bila dragonwall atau patung mau muncul dengan identitas sebenarnya. Internet memang hutan belantara, informasi benar dan salah, bahkan fitnah bisa bertebaran disini.

    Selain itu, sangat tak beradab saya rasa, jika dalam debat terbuka seperti ini hal2 yang sangat privat (dalam hal ini pernikahan bang yusril), diangkat menjadi topik yang justru dipakai untuk menyerang seseorang. Setiap orang punya masalah masing2 dan tidak untuk konsumsi publik. Sebagai orang luar kita hanya bisa ‘melihat kulit’, tapi tak pernah tahu masalah sebenarnya.

    Saran saya pada bang yusril, tetaplah tenang dalam menjawab setiap serangan kepada diri abang. Karena ketenangan akan membuat pikiran kita tetap terbuka dan menjawab serangan2 tsb dengan elegan. Biarkan publik menilai sendiri dari tulisan2 yang ada. Bukankan tulisan akan menggambarkan karakter dan kedalaman pemikiran penulisnya?

    wassalam

  2. solo mamma (komentar #2)

    Pak Yusril,
    Saya juga ikut menyarankan untuk tidak melayani tanggapan atau pendapat yang berbau negative dari berbagai macam topik apalagi kalau tendesius dan jauh dari sifat ilmiah dan rasional karena sekali pak yusril terpancing akhirnya akan merugikan pak yusril sendiri. ingat pak yusril adalah asset bangsa jangan dirusak karena terpancing dengan emosi dari orang yang tdk bertanggung jawab. tetaplah tenang.
    bravo pak yusril

  3. Yusril Ihza Mahendra (komentar #3)

    Resti Vurwarin dan Solo Mamma,
    Assalamu’alaikum,

    Terima kasih banyak atas masukan yang Anda berdua berikan. Saya merasa berkewajiban untuk menjelaskan segala sesuatu yang saya anggap perlu, agar saya tidak terus-terusan disudutkan oleh publikasi yang tidak fair. Saya berharap, saya tetap elegan dalam meladeni mereka. Saya berdoa dan beristighfar, semoga saya tidak larut dalam emosi dalam menjelaskan dan menjawab apa yang mereka katakan.

    Sekali lagi terima kasih atas saran dan nasehat yang disampaikan kepada saya.

    Wassalam.

  4. Wibisono Sastrodiwiryo (komentar #4)

    Pak Yusril,

    Saya hanya ingin share pengalaman pribadi berdebat dengan kelompok yang ingin berdiskusi tapi tidak mau menampilkan identitas aslinya.

    Menurut hemat saya kita hanya buang buang tenaga dan waktu meladeni orang orang seperti itu. Mereka adalah orang orang pengecut. Sok perhatian dengan negara atau sebuah nilai tapi sebenarnya tidak. Mereka punya tujuan lain dan hanya berani ketika bersembunyi dibalik identitas yang obscure.

    Kalau memang mau berdiskusi maka mereka harus menghormati dengan menggunakan identitas yang valid dan bahasa yang santun. Inilah yang saya pernah peringatkan di posting Anda di Ucapan Terima.

    Ada ribuan orang yang mungkin bisa menyerang kita secara pribadi secara bersama sama karena teknologi Internet memungkin hal itu. Tapi sedikit dari mereka yang berani diskusi secara intelektual. Kebanyakan mereka hanya berani karena obscurity.

    Tentunya kita tidak akan bisa meladeni ribuan orang itu. Tapi tidak usah khawatir karena sekarang orang orang sudah mulai mengerti bahwa kredibilitas dibangun dengan integritas yang tidak dimiliki oleh komentator yang anonymous itu.

    Ada beberapa tips yang ingin saya share:

    Syaratkan komentator yang ingin komentar di Blog kita untuk menggunakan identitas valid, terutama jika dia menyerang atau mau berdiskusi. Kalau cuma numpang lewat monggo.

    Bahkan ada Blogger senior yang menganjurkan untuk tidak menanggapi sama sekali komentar negatif. Saya hanya sependapat jika komentar negatif tersebut adanya di Blog orang lain tapi kalau komentar tersebut ada di Blog kita maka pendapat saya adalah wajib kita respon dengan kondisi yang fair tentunya (sama sama menggunakan identitas yang valid)

    Jika ingin menanggapi sesuatu di Blog lain maka lebih baik fokus pada pemilik artikel. Tidaklah terlalu penting menanggapi komentar orang lain yang bukan pemilik artikel. Tapi saya mengerti jika yang menjadi obyek artikel adalah pribadi Anda.

    Untuk itu ada baiknya Anda belajar menggunakan trackback. Trackback adalah sebuah artikel kita yang kutipannya muncul di Blog orang lain sebagai komentar.

    Tapi guru terbaik adalah pengalaman, mungkin Anda mesti melalui semua ini dulu untuk bisa menjadi blogger yang efisien. Tindakan Anda untuk menyeret mereka berdiskusi di Blog Anda ini sudah tepat, cuma syaratkan satu lagi supaya mereka mau menggunakan identitas yang valid.

    Kalau tidak maka kita bisa babak belur di hujani komentar yang negatif dari orang yang tidak kelihatan. Dunia Blog memang lebih demokratis dibanding media mainstream tapi sama sekali tidak lebih ramah.

  5. didats (komentar #5)

    Selamat datang di Internet pak!

    Tapi kalau menurut bapak ada hal-hal yang harus ditanggapi, ditanggapi seperlunya saja. Kita tidak bisa membuat semua orang setuju dengan apa yang kita lakukan, karena setiap orang punya jalan pikiran masing-masing.

    Jadi, tanggapi aja seperlunya pak, dan ga usah dimasukkan ke dalam hati.

  6. firman firdaus (komentar #6)

    Betul Pak. Beginilah internet. Mereka akan merasa “menang” kalau kita terpancing.

  7. Abdurahman (komentar #7)

    Assalamualaikum Wr. Wb.

    Senang juga akhirnya ada “tokoh” yang menggunakan internet sebagai media komunikasi. Semoga juga hal ini dijadikan contoh oleh “tokoh-tokoh” yang lain baik yang masih menjabat atau yang sudah tidak menjabat agar berani untuk mempersempit jurang komunikasi yang ada di media-media konvensional.

    Buat Bpk. Yusril saya ucapkan selamat datang di dunia internet. mengenai tulisan bapak di Indonesia Matters saya beri saran anggap aja sebagai pemanasan. tentu bapak tahu kan kalo siapapun dan dimanapun dapat menyerang siapapun juga di dunia internet ini. mereka dapat menggunakan nama siapa saja untuk menyerang-memfitnah-menuduh-dan lain sebagainya tanpa takut identitas aslinya terbongkar. meskipun dengan beberapa teknik tertentu identitas mereka bisa dibongkar.jadi pak yusril “nyante2″ saja menanggapi berita di sekitar diri bapak. apalagi bapak memiliki backup yang cukup kuat dengan dunia IT.

    dan saya akui salut kepada pak yusril yang “berani” berdebat langsung dengan nama asli dengan dragonwall.. mungkin ada beberapa efek psikologis ketika banyak orang mengetahui bapak bisa dihubungi lewat internet maka akan semakin banyak musuh-musuh bapak yang menggunakan media ini untuk menyerang bapak.

    saya akan menunggu tulisan-tulisan bapak yang lain.

  8. Vavai (komentar #8)

    Seperti yang bisa bapak baca dari rekan-rekan sesama blogger, pada akhirnya orang dapat menilai mana tulisan yang tendensius tanpa fakta dan mana yang bisa dipertanggung jawabkan. Tetaplah semangat untuk menulis dan merespon komentar secara elegan pak.

    Setiap orang bisa memilih apakah ia ingin membiarkan hidupnya diselimuti rasa curiga dan selalu bersikap sinis ataukah memilih untuk belajar memahami pendapat orang lain.

    Tulisan-tulisan yg mengkritisi bapak juga bisa dijadikan media untuk bahan posting. Ini akan bagus sebagai bahan pembelajaran dan media untuk berdiskusi. Hal ini juga menjadi point penting blog sebagai rujukan memahami dan menilai kualitas intelektual seseorang.

  9. solo mamma (komentar #9)

    Assalamu alaikum ww

    Pak Yusril,

    Pada saat saya menyampaikan saran tentang serangan secara pribadi pada diri pak Yusril dari orang-orang yang saya anggap tidak bertangung jawab saya belum membuka Indonesia Matters dan membaca tuntas serangan yang sangat menyudutkan Pak Yusril secara pribadi dan keluarga dari Dragonwall. Tapi ketika membaca pembelaan bapak, saya melihat Bapak sudah terpancing dengan juga menggunakan kalimat yang kurang pantas diucapkan oleh seorang Yusril kalimat itu adalah :” Saya menyarankan agar anda memotong kemaluan anda sendiri, karena hanya berani bicara dengan nama samaran “Dragonwall”. Lebih baik anda tampil secara jantan. Anda juga harus memotong leher anda sendiri, karena percuma punya kepala tetapi tidak punya otak.”
    Saya tidak tidak ingin masuk lebih jauh dengan komentar itu, karena hal itu adalah hak sepenuhnya Pak Yusril.
    Pak Yusril,
    Yang ingin saya tanggapi sekaligus bertanya bahwa kebijakan memberlakukan Visa on Arrival (VoA) yang kebetulan diberlakukan ketika Pak Yusril sebagai Menkum Ham. Bahwa memang disadari setiap kebijakan yang akan diambil melahirkan sisi positif dan sisa negatif dan setelah ditimbang-timbang manfaat dan mudhartanya barulah diambil keputusan. Maaf saya tidak membaca latar belakang pengambilan keputusan VoA tersebut. Namun bila menilik urain Pak Yusril saya sebagai orang awam dalam bidang ini berksempulan bahwa kebijakan VoA diambil untuk meningkatkan atau menarik sebanyak-banyaknya Tourist dari manca negara yang pada gilirannya akan menambah pemasukan devisa dari sector parawisata. Bukankah demikian Pak Yusril. Ini artinya pintu Negara kita terbuka sangat lebar bagi siapa saja yang ingin masuk ke negara kita, entah dengan tujuan apa mereka berkujung kesini. Disinilah letak masalahnya. Bahwa tidak ada lagi filter yang memproteksi negara kita dari orang-orang yang datang dengan tujuan melakukan infiltrasi dan operasi inteligen yang sangat merugikan Negara. Berapa besar sich nilai financial yang kita peroleh dari kebijakan itu dibandang dengan leluasanya para intel asing yang beroperasi di Indonesia. Baru-baru ini Kastaf AD mengisaratkan bahwa banyak agen asing mengincar para remaja untuk dijadikan agen (Antara 10/11/07). Itu salah satu. Ditengarai juga bahwa tumbuh suburnya terrorist sebelum ini juga karena operasi intel asing. Melihat fakta itu apakah tidak sebaiknya kebijakan VoA dievaluasi kembali. Tentu saja bukan tanggung jawab Pak Yusril meninjaunya kembali, namun setidaknya bisa memberi saran senbagai orang yang pernaha terlibat langsung.
    Saya tiap bulan ke luar negeri (saat ini sedang dalam perjalanan laut menuju Singapore seterusnya ke Jakarta) dan Insya Allah pada bulan Januri 2008 akan ke China meskipun tidak banyak negeri yang saya kunjungi namun pengalaman menunjukan bahwa betapa sulitnya memperoleh visa dari kedutaan besar tiap Negara. Untuk memperolehnya harus melalui persyaratan administrasi yang panjang dan berbelit antara lain harus ada Letter of Invitation, Surat Sposnor, Surat Keterangan Kesehatan dari Dokter dan lain-lain. Tentu persyaratan adminstrasi itu dimaksudkan agar orang tidak dengan mudah masuk ke Negara mereka agar inviltrasi dan operasi inteligent di negaranya bisa diminimalisasi meskipun tidak bisa dihindari.
    Demikian tanggapan saya Pak Yusril semoga Bapk berkenan memberikan tanggapan.
    Atas perhatiannya saya ucapkan banyak terima kasih.
    Wassalamu alaikum WW.
    Solo Mamma

  10. Yusril Ihza Mahendra (komentar #10)

    Rekan-rekan,

    Terima kasih atas semua saran dan tanggapan. Baiklah saya akan memberikan tanggapan yang benar-benar saya rasa perlu untuk saya luruskan. Saya tidak ingin terseret dalam perang retorika, yang berpotensi akan menggeser masalah yang menjadi substansi ke arah lain. Saya mengerti bahwa tidak semua orang dapat diyakinkan, meskipun kita telah memberikan penjelasan. Pada akhirnya, kita harus menghormati perbedaan, apapun motif yang ada di balik semua itu.

    Saya tentu tidak terlalu berharap agar setiap orang akan berani tampil dengan diri yang sesungguhnya. Ini adalah dunia maya. Kadang-kadang, bagi mereka, kebenaran bukanlah hal yang utama dan penting, yang penting adalah apa yang mereka targetkan akan tercapai.

    Kepada Solo Mamma khususnya, saya ucapkan terima kasih. Begitu pula rekan-rekan yang lain.

  11. Wibisono Sastrodiwiryo (komentar #11)

    Pak Yusril,

    Satu comment saya masih dibelum dimoderasi. …

    Catatan : Sudah diapproved. Terima kasih atas notifikasinya…

  12. luthfi maulana (komentar #12)

    bang yusril, ..
    buat saya type orang seperti dragonwall itu sangat banyak baik dalam kehidupan riil maupun maya, dan buat saya juga hal ini tidaklah mengagetkan karena pada tahun 1999 ketika abang berkiprah dalam parpol ( pbb ) banyak sekali pihak-pihak yang menyerang dengan mengkaitkan profesi abang sebagai penulis teks presiden Soeharto dan menganggap partai yang diketuai oleh bang yusril sebagai partainya cendana dan masih banyak lagi…dan untuk hal ini pula saya sangat yakin jika semua itu akan berlalu begitu saja…dan untuk klarifikasinya terhadap persolan itu memang perlu…

  13. N. Jamil ghazali (komentar #13)

    Pak Yusril ..
    Ciri-ciri orang jujur itu mau terbuka dan mengatakan apa adanya .. anda telah membuktikan itu .. untuk kasus dragonwall itu barangkali harus di-sikapi sebagai orang yang fasiq .. sebagaiman tersebut dalam qs. al-hujuraat 6.

  14. iERn_van_Bach (komentar #14)

    saya setuju dgn p.Jamil Gazali, paling paling tidak jauh dari para yahuda wa nashoro
    buat bung YIM maju terus pantang mundur
    orang jawa bilang becik ketitik ala ketara, ntar ketahuan siapa emas siapa loyang
    sekali lagi bung jangan takut,….ALLAHU AKBAR……………

  15. Marwan Adli (komentar #15)

    Assalamualalikum Wr.Wb
    Pak Yusril, Sebagaimana kita ketahui bahwa dunia ini memang unique, apalagi di dunia maya, jadi saya pikir biarkan saja mereka yang mempunyai pendapat berbeda,tidak perlu ditanggapi berlebihan, Masyarakat banyak membutuhkan pemikiran Bapak,lebih baik energinya dituangkan dalam bentuk tulisan sehingga dapat bermanfaat bagi yang membacanya.
    Saya berharap Bapak menulis tentang Lapas yang saat ini sedang menghadapi tantangan dan perhatian masyarakat (over capacty, drug problem and others).
    Kalapas Kalabahi, Nusa Tenggara Timur.

  16. lamvoenx (komentar #16)

    pak yusril,semoga anda dapat maju kembali pada pilpres tahhun depan,saya selalu siap memilih anda…kelak kalau jadi pejabat lagi,tolong jangan lupa urusi penambang timah liar yang ada di bangka dan belitung karena kondisinya sangat memprihatinkan,alamnya sudah rusak.dan orang yang kucintai ada di sana…..aku cinta bangka

  17. Muhammad Rachmat (komentar #17)

    dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
    dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..
    dulu ddiriku pernah mendukung, untu jadi presiden PESIDEN RI…………………..

  18. jalansutera (komentar #18)

    Pak Yusril,

    Orang yang menyembunyikan identitas di forum dan komentar blog adalah orang-orang pengecut. Saya pikir bapak tidak perlu meladeni argumentasi mereka. Saya yakin mereka juga tidak akan menunjukkan blog pribadi mereka sendiri. Apalagi identitas resmi yang bisa dihubungi, mereka pasti akan menutup itu semua.

    Saran saya, Pak Yusril lebih baik berkonsentrasi untuk berdiskusi di blog sendiri saja. Ini akan lebih berguna dan tidak membuang tenaga daripada meladeni Troll seperti DragonWall itu.

    Selamat ngeblog, Pak.

    Salam

    Pujiono
    JalanSutera.com

  19. Jafar G Bua (komentar #19)

    Saya jurnalis yang bekerja di Palu, Sulawesi Tengah. Sebagai koresponden majalah Forum Keadilan, Detik.com hingga Trans TV. Di suatu waktu di paruh 1998, saya pernah mewawancarai Anda di rumah Habib Syech Saggaf Aljufrie, ulama kharismatis, cucu pendiri Alchairaat SIS Aldjufrie, seorang ulama dari Hadramaut, Yaman. Saya senang Anda turut meramaikan dunia blogging Indonesia mengikuti yang lainnya. Maju terus, saya pembaca setia blog Anda. Saya juga berharap, Anda dapat berkunjung ke blog saya di htto://catatanposo.blogspot.com dan http://jgbua.wordpress.com

  20. Lily (komentar #20)

    Saya sudah baca forum di indonesia matters dan saya tidak lihat patung atau dragonwall serang Pak Yusril secara pribadi. Dimana mereka nyangkut isteri dia? Dimana mereka salah? Apakah Pak Yusril tidak bisa bela diri dengan argumentasi benar kalau argumentasi mereka salah, atau terima kalau mereka benar. Kan tidak ada orang tanpa salah, dan kalau orang ada dalam posisi benar dan percaya dengan perbuatannya selama ini benar kan parody dan kritiknya akan mati sendiri.

  21. Pretty (komentar #21)

    Ass pak yusril,

    Bagus juga punya website sendiri, semoga makin banyak pejabat di negara tercinta ini yang mengikuti jejak ini. Sayang, masih dalam bahasa Indonesia, apabila dalam bahasa Inggris tentu lebih banyak yang bisa kasih pendapat disini.

    wass

  22. abah oryza (komentar #22)

    hi … pak eh Bang, kok belum ada yang komen pertamax, ya iyalah, secara bapak jarang posting, coba sering posting kayak om BR, loh kok BR?yah kalo mau sama sih. terus kenapa harus banyak posting, yah biar banyak yang diuraikan bukan sekedar berpanjang2 koemn kayak gini, kan capek juga liatnya, dan yang pasti membosankan, kan nggak seru juga punya blog membosankan. iya sih kalo orang terkenal pasti tetep dikunjungi, tapi kan kalo membosankan lama2 orang males juga sih, soalnya kalo menurut saya sih orang2 diinternet tuh gampang bosan dan seneng hal baru. nah aspek kebaruan ada diposting tersebut. eh, bay the way alias betewe, kalo baca komen ini bang yusril bete n bosan nggak, yah mudah-mudahan nggak bosen sih, kan ini kritik membangun, makelum pak, eh bang. saya termasuk bloger pecinta komen dan paling seneng dengan posting terbaru, kalo bisa pertamax … makasih yah bang, sudah baca curhat saya, kalo tidak berkenan nggak usah di approve, tapi tetep dibaca kan pak?kalo mengijinkan boleh juga kok di approve, saya seneng malah. makasih

  23. Arema (komentar #23)

    Pak Yusril, sekedar update, sudah banyak tanggapan2 baru atas posting bapak di Indonesia Matters, silakan dijawab, terima kasih.

  24. Lukman Payapo (komentar #24)

    Sekitar lebih kurang 3 hari yang lalu, saya membaca secara utuh perdebatan Pak Yusril dengan saudara/i yg menggunakan identitas dragonwall, dan akhirnya saya tergelitik untuk turut memberikan cooment/opini pada blog Indonesia matters, khususnya berkaitan dengan masalah visa atas kuasa Dirjen Imigrasi di KBRI/KJRI di luar negeri dan Visa on Arrival (VoA) seperti yg dipersoalkan dragon wall tersebut.

    berdasarkan ilmu yg telah saya pelajari dan pengalaman empiris yg saya alami, sekiranya saya telah mengemukakan secara panjang lebar tentang kebijakan VoA dikaitkan dengan aspek hukum, sosio historis, kedaulatan negara, asumsi kuantitatif data warga negara asing yg menggunakan fasilitas ini yg masuk ke wilayah Indonesia, kedudukan PNBP Imigrasi korelasinya dalam sistem keuangan negara (APBN), serta implikasinya dengan aspek keimigrasian yg lain seperti sebelumnya telah secara spesifik dijelaskan oleh Pak Yusril.

    Namun sayangnya, Indonesia matters tidak secara jujur ingin memuat/posting comment yg telah saya create di blog itu. Hal ini menunjukkan bahwa tekanan-tekanan melalui berita yg unbalance tidak hanya terjadi di dunia nyata, begitu halnya di dunia maya. Percaturan polemik yg tidak didukung oleh fakta hukum dan data empiris serta proses reduksi ide-ide riil yg penuh propaganda, seharusnya membuat kita makin sadar akan bahaya laten yg monolitik. Kelompok-kelompok seperti inilah yg harus diwaspadai dalam pembangunan demokratisasi pemikiran dan perang urat syaraf di negeri kita sekarang ini. Suatu hal yg menjadi keprihatinan kita bersama.

  25. ndoro kakung (komentar #25)

    mau menanggapi atau tidak itu terserah pak yusril. tapi sebetulnya saya penasaran juga melihat bagaimana pak yusril akan bereaksi di ranah blog. soalnya, rule of the game nya jauh berbeda dari kehidupan sehari-hari.

  26. dody (komentar #26)

    Ass wr wb.

    Selamat bung…atas adanya blog dari anda.
    Semoga bermanfaat untuk kita semua(berkualitas)…..& yng jelas

  27. susanto (komentar #27)

    Yth.Pak Yusril,

    Memang tak enak rasanya kalau kita disudutkan tanpa kita diberi kesempatan untuk memberikan argumen.Sama seperti Pak Yusril ketika dicopot dari jabatan menteri,saya termasuk yang penasaran.Kita kan harus fair,ini berkaitan dengan kredebilitas dan profesionalisme seseorang Pak yusril harus diberi kesempatan untuk berargumentasi.Saya yakin Pak Yusril orang yang berjiwa besar.Jabatankan hanya titipan Allah dan akan dipertanggungjawabkan di dunia dan akhirat.ya kan pak ?”Akhirnya semua kita akan pergi”
    Setiap hal yang menyudutkan hal-hal yang bersifat pribadi dan memang bukan untuk konsumsi publik,Jangan Pak Yusril tanggapi ambil hakmahnya saja pak.

    urang Belitong

  28. parvita (komentar #28)

    Bang Yusril, welcome to the blogging world. Lepas dari segala polemik, saya angkat topi Bang Yusril berani muncul di Indonesia Matters. Memang tidak semuanya di IM musti ditanggapi dengan serius.

    Note saja, kalau sudah berani tampil di cyberworld, harus berani dilempar2 tomat busuk, Bang. Pepujian, seperti halnya banyak di halaman blog Anda ini, juga sama bahayanya dengan kritikan2 tajam mengenai Anda yang mungkin ada di blog2 lain. Lagi namanya juga orang terkenal, semakin tinggi awak berada semakin kencang angin berhembus, toch?

    Just be yourself, that’s the best.

    Parvita (bukan nama samaran).

  29. dkazuma (komentar #29)

    Wah, baru kali ini aq masuk ke blognya pejabat tinggi. Ternyata bukan hanya rakyat jelata yang demen ngeblog, sampe pejabatnya juga. Semoga betah pak.

  30. andrias ekoyuono (komentar #30)

    Begitulah dunia internet yang sangat beragam, jadi memang orang-orang bisa membuat komentar tanpa diketahui identitas aslinya. Dan seperti dunia nyata, dunia maya juga memiliki masyarakat dengan berbagai karakter. Tentunya pak Yusril bisa menanggapi dengan bijaksana, serta tidak menyurutkan niat pak Yusril untuk mengarungi dunia blog khususnya dan dunia internet pada umumnya.

  31. Bonar (komentar #31)

    Pak Yusril.

    Saya mempost sebuah reply/kritik off topic di indonesia matters, namun sepertinya masih menunggu moderasi.

    saya akan paste disini, daripada hilang begitu saja.

    Bonar Says: +0 Your comment is awaiting moderation.
    November 19th, 2007 at 6:39 pm
    @PRETTY:
    “me think, 2nd best after ‘rasa not so sayang’ at Unspun blog ”

    I couldnt agree more

    @YIM: this is from PR perspective.

    to be honest, i never liked you before.

    Only after you made your blog, and reading your conversations everywhere in blogosphere, i started to understand you and your thoughts, and more or less, admire you, just a little bit though, not much… yet :)
    “tak kenal maka tak sayang” they said

    HOWEVER, I also quite agree with many many accusations presented on this blog.

    and your “fighter style” really irks me… and i was a person who is starting to like your thoughts.
    I understand the complexities of minister’s job, it makes sense if you didnt get all the details on your previous job.
    I understand your need to defend your past decisions, and your impulse to threat some people with laws. Law maybe easy solution for you, but believe me, you dont do -yourself- justice by that approach.

    as a longtimer in indonesian politics, by now you shoud realize that indonesians prefer “BEACON of Justice and Truthfulness”, instead of a Fighter.

    Show us we are wrong about you, present your proofs and opinions(maybe in your blogs).
    Consider the accusations as mass opinions, not a personal opinions, dont challenge your enemies in their faces one by one, let them come to you.
    maybe you should ask unspun to be your PR consultant? :)

  32. cokk (komentar #32)

    pak yusril, komentar yang anda dapat setelah turun dari jabatan dan yang ada di internet saya rasa masih teramat halus dibanding dengan yang dialami pak habibie. beliau ini dihujat dan dicucimaki di forum terhormat di senayan. saya yang menyaksikan di layar teve waktu itu sampai merinding. sebegitu besarnyakah kebecian kepada kepemimpinan suharto hingga habibie diperlakukan demikian; ataukah karena keislamannya?

    kalau asumsi kedua yang diambil, konsekuensi logisnya adalah pak yusril belum ber-”juang” sebesar dan seberat pak habibie. pula, -saya yakin pak yusril tentu lebih tau– jalan ke sana itu mendaki lagi sukar: beberapa teman pak yusril tentu pernah merasakan dinginnya lantai penjara; sebagian dari mereka ada yang gugur, sebagian lagi masih menunggu-nunggu. dan mereka tidak mengubah janji mereka.

    sesungguhnya cucimaki dan hujatan itu adalah satu pertanda baik; jadi teruslah berkarya dan tegakkan dien yang di sanubarimu itu hingga mewujud.

    Cokk at http://www.depsos.go.id

  33. phy (komentar #33)

    Pak Yusril, semoga anda tetap bersemangat nge-blog walaupun menghadapi komentar2 pedas seperti di IM. Mohon lebih sering update, Pak, karena tulisan Pak Yusril bagus. Tiap hari saya buka nih, tapi jarang banget ada update..Mohon lebih rutin, karena anda penulis yang handal dan berwawasan luas.

  34. aLe (komentar #34)

    terimaksih infonya :D

    saLam kenal oM ;)

  35. aboh (komentar #35)

    sudahlah..
    jangan kaya kebakaran jenggot, jangan pula terlalu mempermasalahkan harus asli atau samaran…
    emang begini ini kan dunia maya ini.

    semua serba mungkin dan tidak haram toh..?
    biarkan saja, karena masing2 hadir dengan fikiran, pendapat dan caranya sendiri.

    yang penting kan isinya,
    kalau perlu tanggapi. kalo tidak, ya biarkan saja.
    tanggapi saja pendapat, saran atau permintaan yang penting dan memang bapak anggap penting untuk ditanggapi.
    yang lain-lain, biarkan saja berlalu.

    pasal itu dianggap menyerang, kalo jurusnya tidak bermutu, kan ga kan mempan, bapak kan ahli bela diri, hehehe.

    hal gini kan biasa.

    saran saya, mendingan bapak fokus dengan tujuan semula hadir di blog ini. dan tdk usah pusingkan untuk mengatur cara blogger lain mengekpresikan dirinya. buang energi.

    ok, mister.

    saya lihat, tulisan yang memang banyak diminta ( termasuk oleh saya ) tentang berbagi pengalaman selama dulu jadi menteri sekian periode kok belum muncul? ato emang itu termasuk katagori ” tidak penting ” hehe.

    di comment kata pengantar saya tanya perasaan bapak punya istri orang sebrang juga kok. kalo itu wilayah yang tidak boleh kita ketahui, ya saya ga masalah, ga usah dijawab deh…

    bagi saya selain sebagai manusia biasa, YIM adalah juga manusia luar biasa, jadi wajar toh kalo saya penasaran dengan hal2 yang pribadi. ( kalo boleh :) )

    mangga ah, kang…
    teraskeun we,
    tong unggut kalindungan tong gedag ka anginan…
    salam.

  36. parvita (komentar #36)

    Bagaimana tahunya kalau yang membalas komentar2 ini Bang Yusril sendiri ya, bukan asistennya atau orang suruhannya? Jangan2 seperti hotline untuk telpon SBY dulu. :)

    Just wondering.

  37. ADIE (komentar #37)

    Hebat, bang yusril.

    masih mau nanggapin permasalahan yang ga penting seperti di IM, itulah dunia maya…bebas menghujat,korek-korek borok yang belum tentu benar…
    tapi sekarang saat nya abang menulis artikel… saya sangat menunggu posting terbaru…
    jangan takut sama pengecut…
    Haram manyarah, waja sampai kaputing tu pang…

  38. vj (komentar #38)

    maju trus pa yusril…
    :)

  39. mukus (komentar #39)

    Assalamu’alaiku WR WB.
    Bang jika agama kita dihinakan itu menjadi suatu kewajiban untuk memperjuangkannya, namun mesti diingat harus luruskan niat jangan sampai ada setitikpun dihati Bang Yusril untuk membela kepentingan pribadi. Ingat kisah ketika seorang sahabat Rosulullah SAW ketika didalam suatu peperangan akan membunuh seorang musuhnya namun musuhnya itu meludahinya, maka sahabat itu urung untuk membunuhnya karena takut membunuhnya itu dikarenakan kebencian karena musuhnya itu meludahinya bukan karena berjuang untuk menegakan Al Islam.
    Selamat berjuang Bang Yusril
    Wassalamu’alaikum WR. WB.

  40. sufehmi (komentar #40)

    Assalamu’alaikum wr. wb,

    Saya hanya ingin menyumbangkan beberapa masukan :

    [ 1 ] Posting di ranah publik (seperti Internet) ini memang bisa berbahaya.
    Pada saat ini, ada 2 posting di blog saya yang terpaksa saya disable, karena dijadikan senjata untuk memfitnah saya kepada aparat.

    Jadi, saya pribadi bisa paham mengapa mereka memilih anonim di Indonesia Matters.

    Di lain pihak, banyak komentar/posting mereka yang tidak bermutu; dan cara terbaik untuk menghadapinya adalah dengan membalasnya tanpa emosi.
    Salah satu contohnya bisa dibaca disini.

    [ 2 ] Dragonwall berkomentar disini bahwa Indonesia menjadi tidak demokratis jika menerapkan hukum Islam, dan ini adalah diskriminasi.

    Logika ini sangat keliru.

    Sebagai contoh, kalau saya berada di Vatikan, tentu otomatis hukum disitu yang berlaku atas diri saya.

    Ketika saya bekerja di Inggris selama 5 tahun, otomatis saya juga dikenakan hukum Inggris, walaupun ada yang tidak saya sukai dan/atau malah jelas merugikan saya.

    Demikian halnya jika Anda berada di Indonesia, maka hukum di Indonesia yang akan berlaku. Apakah berupa hukum warisan Belanda, Islam, dst.

    Pepatah orang Minang, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung.

    Jika Anda tidak suka dengan hukum yang berlaku, ya berlakukan demokratis, seperti yang anda sendiri teriakkan. Ubah melalu jalan & cara yang seharusnya.

    Otherwise, put up & shut up. As I did in UK for years.

    [ 3 ] Sepertinya di Indonesia Matters (dan beberapa forum lainnya) ada kecenderungan merancukan kebebasan berbicara dengan anarki. Bebasnya tanpa tanggung jawab, sehingga cenderung ke slander, libel, character assassination, dst.

    Yang seperti ini saya kira tidak perlu kita dukung.

    Anyway, mungkin itu dulu dari saya.

    Trims,
    Harry

  41. nico wijaya (komentar #41)

    Sabar pak, sy jg pernah merasakan diserang dgn anonymous. Mpe rame. Tadinya tak tanggapi, tp tak biarin jd brenti sendiri. Ribut2 gak produktif. Mending posting blog yg bisa ikut mencerdaskan anak bangsa.
    Saya tunggu postingan selanjutnya pak. Biar sy tambah cerdas :D

  42. hariadhi (komentar #42)

    Menurut saya langkah Pak Yusril ini tepat. Daripada debat dibiarkan tidak terkendali di blog pihak ketiga, tentu lebih baik kalau difasilitasi di tempat sendiri. Kalau di blog orang lain kesannya kurang kerjaan.

    Saya juga berharap sekasar apapun nanti tulisan penyerang itu, Pak Yusril tetap menunjukkan kualitas pribadi yang tinggi, dengan tetap tenang dan bersikap terbuka. Ga usah dimoderasi atau delete, Pak. Seperti semboyan saya biasanya: toh pada akhirnya pembaca kebanyakanlah yang akan menilai attitude mana yang lebih baik, Pak Yusril, Patung, atau Dragonwall?

  43. awsamudra (komentar #43)

    Saya rasa perdebatan adalah suatu hal yang sangat wajar, hal tesebut akan membawa manusia kepada pemahaman yang lebih dalam mengenai dunia dan lingkungannya tapi yang terlebih penting perdebatan akan membuat manusia lebih mengenal dirinya sendiri. Karena saya yakin setiap kali seseorang bertindak dalam bentuk apapun. dalam tataran hati yang paling dalam ia mengetahui tindakannya tersebut salah atau tidak. Namun keberanian untuk mengakui kesalahan terhadap diri sendiri adalah suatu hal yang harus diraih dengan perjalanan yang panjang. Sering kali kita merasakan kesenangan disaat lawan perdebatan kita mengalami “dead end” walau sebenarnya pada saat itu kita mempertahankan suatu yang jelas salah. Tapi jangan salah ‘kesenangan’ bukanlah kebahagian karena kebahagian yang hakiki bagi saya hanya dapat diraih disaat kita berani untuk mengakui kesalahan diri sendiri

    salam kenal pak Yusril….

  44. tantan (komentar #44)

    Ass.
    Bang Yusril. Mungkin Abang sudah lupa ke saya. Dulu waktu di UIN Ciputat, beberapa kali ke rumah Abang bersama Fahmi dan Bang Jurhum.
    Saya menantikan kiprah politik Abang lebih jauh…
    Atau minimal membuat memoar on line di sini. Kami tunggu.

    Wass

    Tantan

  45. Erwin Juanda (komentar #45)

    Salam kenal Bang Yusril..

    Saya salut cara bang Yusril menjawab komentar2 para blogger2 di dunia maya, seperti komentar bang yusril di website nya Wibisono Sastrodiwiryo
    dengan tema SENJATA BARU bang Yusril…..

    dan saya salut juga dengan Mas Wibi yang begitu dewasa dan ksatria menerima dengan lapang dada penjelasan bang yusril sendiri tanpa ada niat ingin egoisme dan saling menghargai satu sama lain…

    diskusi seperti ini yang kita harap kan.. sehingga kita dapat menjadi komentator2 yang dewasa, arif dan bijaksana….setelah kita tau duduk permasalahan yang sebenrnya…. tidak seperti komentar Dragonwol yang penuh kesinisan dan tidak bertanggung jawab….

    sekiat dari saya di tangerang,
    Wassalam !

    Putra BAbel

  46. Pretty (komentar #46)

    Hm, setahu saya thread ini dan mungkin blog ini dibuat untuk mengajak orang - orang berdiskusi mengenai topik diskusi yang kemarin ‘hangat’ di Indonesian Matters tentang kebijakan Voa (please cmiiw) Nah, diskusinya mana ???

    Pretty
    (bukan nama samaran … dan berhubung tidak punya latar belakang pengetahuan yang adequate, belum mau memulai diskusinya, tapi ingin menikmati dulu :)

  47. lily (komentar #47)

    Pretty seperti nya tidak akan ada diskusi disini hangat ataupun menarik. Disini untuk diskusi “gak apa pak yusril, sabar, jangan di anggap dll” mana dia ada jawab pertanyaan yang real? sekarang mala hilang gak berani kali?

  48. parvita (komentar #48)

    Iya Lily, jangan berharap terlalu banyaklah, jangan2 yang jawab juga bukan dia pribadi. Atau cuman kebawa ‘hot’ aja gara2 diskusi di IM terus buat blog sendiri buat saingan, abis itu ngilang. Entah sibuk, entah belum tahu cara maintain an interesting blog, asal ndak ‘ange-ange ci’ ayam’.

    Cape juga sih baca comment yang itu2 melulu, padahal nunggu posting yang agak menarik, sukur2 controversial. Misalnya yang ringan2 ajalah, pendapatnya dia mengenai Reog Ponorogo yang diclaim sama orang Malaysia itu. Kan waktu Reog Ponorogo didaftarkan Bupati Ponorogo sebagai budaya Ponorogo, kan diperlihatkan ke dia juga sebagai Mentri Hukum dan HAM tahun 2004. Jangan2 dia ga tahu lagi tentang ini, hehehe.

    ~peace

  49. Bonar (komentar #49)

    @parvita
    ahhh.. you got your facts wrong…

    YIM bikin blog bukan gara2 mo saingan sama IM. Correlative, not causative.
    Sebelumnya i followed conversationsnya YIM di jay’s dan priyadi’s, lalu YIM bikin blog di blogspot atas saran2 dari blogs2 tsb. IM controversy itu cuman baru2 ini aja, sebelumnya YIM aktif di different hemisphere of blogs.

    but yeah… you’re right… cape jg baca2 comments yg gitu2 aja.

    @Pretty
    you are everywhere, arent you :)

  50. Yusril Ihza Mahendra (komentar #50)

    Assalamu’alaikum,

    @llily, @parvita, @bonar. Di tulisan saya yang terakhir, saya telah menegaskan bahwa semua posting maupun reply saya tulis sendiri. Ketika saya mahasiswa, saya dapat membedakan tulisan Sukarno dengan tulisan Mohammad Natsir, atau tulisan Deliar Noer dengan tulisan Taufik Abdullah, sekalipun tulisan itu diberikan orang kepada saya tanpa disebut siapa penulisnya. Kalau anda rajin-rajin membaca, suatu saat Anda akan dapat membedakan ekspressi pikiran, perasaan, gaya bahasa dan pilihan kosa kata yang digunakan seorang penulis. Selama saya menjadi menjadi Mensesneg ada sekitar 306 pidato Presiden SBY yang saya tulis. Suatu ketika ada pidato yang saya kirimkan ke Presiden dan Presiden mengembalikan pidato itu ke Sekneg denan disposisi “Ini bukan dibuat Pak Yusril”. Pidato itu memang ditulis orang lain, karena dia “ngotot” agar pidato yang dia buat itulah yang dibaca Presiden. Maka dalam satu jam saya harus menyiapkan pidato pengganti yang saya tulis sendiri.

    Kalau saya boleh menasehati, janganlah terlalu banyak berprasangka. Lebih baik menahan diri dulu, simak baik-baik, baru kemudian menyampaikan suatu pendapat.

    Seperti telah saya tegaskan juga dalam tulisan saya yang terakhir, saya tidak melakukan moderasi atas setiap komentar. Anda dapat membuktikannya sendiri. Begitu komentar anda kirim, maka seketika itu juga akan tampil di blog ini. Apa yang saya lakukan di blog ini beda dengan Indonesia Matters atau Indcoup. Di kedua blog ini, setiap komentar harus menunggu moderasi dulu. Ditampilkan atau tidak, tergantung pertimbangan mereka sendiri. Itu adalah hak mereka. Saya juga tidak akan mendelete sebuah tulisan, kecuali atas permintaan pengirimnya. Thomas Arie Setiawan telah menjelaskan hal ini dalam salah satu blog. Silahkan Anda membacanya.

    Blog saya ini mengundang siapa saja yang berminat untuk bertukar-pikiran secara jernih dan argumentatif, atas dasar saling menghormati. Saya mengundang Anda untuk mengemukakan pandangan dan tanggapan, dan Insya Allah, saya akan menanggapinya pula.

    Saya telah menegaskan bahwa saya tidak akan terlena dengan pujian dan sanjungan. Selama ini saya tidak marah jika dikritik. Dulu, kadang-kadang saya marah dan jengkel dengan rumors, kecaman, serangan dan caci maki yang saya anggap tidak mempunyai pijakan yang kokoh. Apalagi fitnah yang sengaja ingin menjatuhkan. Sekarang saya sudah belajar banyak. Saya berusaha maksimal untuk mengerti dan menahan diri.

    Silahkan Anda membaca posting saya yang terakhir.
    Terima kasih.

  51. Yusril Ihza Mahendra (komentar #51)

    @Parvita. Pendaftaran untuk memperoleh sesuatu hak dalam Hak Kekayaan Intelektual, diajukan langsung ke Direktorat Jenderal Hak Kekayaan Intelektual, tidak ke Menteri Kehakiman dan HAM. Ada pendelegasian wewenang kepada Dirjen untuk memproses suatu permohonan hak. Dirjen pula yang menandatanganinya atas nama Menteri Kehakiman dan HAM.

    Kalau saya boleh bertanya kepada anda, hak apa yang dimintakan oleh Bupati Ponorogo atas Reog Ponorogo sebagai budaya daerahnya, di tahun 2004 itu? Apa klaim yang dilakukan orang Malaysia tadi?

    Mohon maaf saya tidak mengikuti lagi perkembangan masalah ini. Sudi kiranya Anda menjelaskannya untuk saya pelajari.

  52. Bonar (komentar #52)

    @YIM:
    Pak Yusril.

    Saya tidak pernah menuduh demikian, maaf jika terkesan begitu. Walaupun hal tersebut bukanlah maksud saya, hal itu mungkin adalah sepenuhnya kesalahan saya.

    Saya cukup mengerti gaya bahasa dan sebagian pemikiran Anda.
    Hal itu dikarenakan saya sudah membaca sebagian tulisan Anda di blogosphere. Walaupun demikian, saya masih belum berani memastikan bahwa suatu tulisan atau komentar adalah 100 persen dari Anda, kecuali jika itu tertulis sebagai posting di website Anda. Keraguan dan skeptisisme adalah pendirian standar saya.

    Hal itu hendaklah kiranya tidak dianggap sebagai suatu prasangka buruk, anggap saja sebagai bagian dari realita bahwa karakter dan upbringing setiap orang adalah berbeda.

    Berkaitan dengan moderasi pada situs-situs lain, saya menganggap masing-masing pemilik situs internet tersebut memiliki alasan-alasan mereka sendiri yang mungkin kita tidak tahu. Kita tidak perlu berburuk sangka terhadap motivasi mereka, sebagaimana kita tidak perlu menganggap mereka sepenuhnya benar atau salah. Orang baik terkadang melakukan kesalahan, dan tidak jarang orang yang berhati buruk melakukan hal-hal baik.

    Saya telah membaca tulisan Anda yang baru. Untuk itu saya “angkat topi” untuk Anda. Keberanian Anda mengakui kesalahan, betapapun itu sebenarnya hanyalah kesalahpahaman bahasa, menunjukkan kebesaran jiwa Anda.

    Namun patut dicatat, bahwa komentar-komentar terhadap Anda tidaklah patut dibiarkan lewat begitu saja. Hal itu dikarenakan ada kemungkinan sebagian dari komentar-komentar dan artikel tersebut merupakan pendapat yang diterima umum. Sebagaimana yang kemudian saya sadari ketika membaca tulisan-tulisan Anda, pendapat saya mengenai Anda sedikit banyak dipengaruhi oleh pendapat umum. Walaupun demikian, membalasnya satu persatu diarena penyerang-penyerang Anda bukanlah merupakan hal yang efektif, dan tidaklah elok melakukan itu dengan emosi yang tinggi. Situs Anda merupakan sarana yang lebih efektif, cukup tunjukkan kepada penyerang Anda, kemana harus mencari pencerahan.

    Sebagai penutup, saya masih menunggu tulisan yang lebih berbobot dan membahas hal-hal aktual dari Anda. Saya masih melihat tulisan Anda sebelumnya di situs ini barulah pembukaan dan basa-basi. Sungguh berbeda jika dibandingkan dengan tulisan-tulisan Bapak Juwono Sudarsono di situs pribadinya. Saya cukup optimis Anda akan segera menulis sesuatu yang menggigit, menggugah pemikiran, mungkin kontroversial, dan memberikan manfaat.

  53. putra (komentar #53)

    Pak, ente makin ganteng aja jadi artis? ente mah orangnya fleksibel ya bos.. diculasin didunia perpolitikan beralih ke dunia enetertaint…smoga sukses selalu bos… akademik ok, karir politik ok… skrg entertaint..hehehe sip lah setuju….

  54. Pretty (komentar #54)

    @Bonar
    yeah, tell me about it ^_^ I love blogwalking..but am still have no adequate knowledge to argue myself. nice to know you, I’ve read your comments here and there and I guess some point is ‘pencerahan’ for me too.

    @YIM
    Pak Yusril, saya masih nunggu tulisannya yang tentang issue terkini yang bukan curhat :)

  55. Yusril Ihza Mahendra (komentar #55)

    @Pretty

    Saya belum dapat menulis lebih rinci tentang kebijakan visa on arrival, karena saya sedang mengumpulkan berbagai arsip berkaitan masalah itu. Saya harus memintanya di Dep Hukum dan HAM, karena saya tidak memilikinya secara pribadi. Kalau bahannya sudah terkumpul, Insya Allah, saya akan menulisnya.

    Saya sedang menata kembali ribuan buku koleksi dan bahan-bahan tertulis lain, agar memudahkan saya mencari rujukan dalam menulis. Saya ingin menulis dengan data dan rujukan yang jelas. Kalau asal nulis saja, saya khawatir hanya akan menjadi bahan tertawaan rekan-rekan.

    Terima kasih atas perhatiannya.

  56. Vavai (komentar #56)

    #Pretty, mudah-mudahan harapan ini bisa lekas didapat :-D. Mungkin untuk menulis sesuatu yang sifatnya formal (seperti VoA itu) butuh data yang mesti didapatkan dari lembaga-lembaga yang memegangnya.

    Sebagai contoh, untuk menyatakan bahwa VoA tidak mengganggu arus wisatawan ke Indonesia tentu harus didukung fakta berapa banyak wisatawan sebelum dan sesuah VoA diterapkan dan dibatalkan. Kira-kira begitu.

    Meski demikian, karena latar belakang Pak Yusril dari akademik, paling tidak kita bisa berharap ada posting-posting yang komprehensif mengenai hal-hal yang lebih fokus ;-)

  57. abdulkadir (komentar #57)

    Biasanya orang indonesia kalau bikin blog dasarnya adalah untuk sharing intelektual dan narsis, dan sepertinya pak yusril ada kecenderungan itu(narsis). dalam debat dengan si temboknaga keliatan ciri narsisnya, merasa paling benar!padahal sebagai bekas pejabat publik, anda dilengserkan karena ada salah. sebenarnya publik maya itu mendebat kebijakan bapak dulu. kalau sekarang saya ingin meresensi film anda, tapi belum nonton! ada dvd-nya pak?
    mending kita di blog ngurusin topik yang sangat duniawi (kuliner, dugem, mobil, golf…dst).
    setuju, bos?

  58. Yusril Ihza Mahendra (komentar #58)

    #57 Pak Abdul Kadir, saya sendiri tidak tahu salahnya apa, semuanya hanya hipotesis yang sulit dibuktikan kebenarannya. Karena itu saya berpikir normatif saja, menteri-menteri itu diangkat dan diberhentikan Presiden. Jadi kapan saja Presiden mau berhentikan, tanpa alasan pun, boleh saja. Dalam suratnya yang dikirimkan kepada saya, Presiden SBY menjelaskan bahwa beliau terpaksa mengambil keputusan itu karena “adanya desakan publik”. Saya tidak ingin menafsirkan apa yang beliau maksud dengan kata-kata itu. Ketika saya bertemu Presiden SBY di rumahnya di Cikeas, beliau menjelaskan kepada saya berbagai hal tentang desakan publik itu. Saya hanya mengatakan, sudahlah Pak Bambang, saya tidak ingin mempersoalkannya.

    Kalau soal “uang Tomy di Paribas” dan kasus AFIS, saya telah menjelaskan hal itu baik di rapat Polkam maupun dalam rapat kabinet terbatas. Juga telah saya jelaskan kepada aparat penegak hukum. Saya sedang kumpulkan bahan untuk nanti saya tulis di blog ini.

    Saya tidak merasa paling benar. Kalau saya salah, ya, saya akan mengakui salah, tetapi kalau benar, saya akan bertahan dengan argumen yang saya yakini. Kalau tidak bisa meyakinkan orang lain, saya diam saja. Biarlah waktu yang mungkin akan membuka tabir kebenaran. Siapa tahu saya yang salah.

    Saya mengakui ada kesalahan saya ketika menjawab Dragonwall. Hal itu telah saya nyatakan di dalam posting saya di blog ini. Saya telah meminta maaf kepadanya.

    Sekian dulu tanggapan saya. Terima kasih atas perhatiannya.

  59. aang (komentar #59)

    untuk pak yusril. perkenalkan saya aang (nickname tapi nickname baik di dunia nyata dan maya) 21 tahun dan sekarang mengabdi di salah satu instansi pemerintah di bidang pengawasan keuangan.
    menurut saya sudah jadi resiko sebagai publik figur, tokoh politik, atau pejabat untuk menerima kritikan pedas, menyudutkan, tidak adil, bahkan sudah sangat melanggar batas kesopanan. dan saya rasa bapak sudah tahu dan sadar akan resiko hal ini.
    namun, saya tidak menyangka komentar bapak di blog tersebut. rupanya bapak sudah terpancing. dan sepertinya lain kali tidak usah ditanggapi pak. bukannya menggurui karena saya masih jauh muda dan pengalaman masih sedikit. tapi menurut pengalaman saya, yang juga pernah populer di dunia politik kampus, bapak yang rugi karena telah terpancing dengan komentar pedas orang lain. karena bapak publik figur dan seorang tokoh politik tentunya orang akan menyorotkan lampu-lampu perhatian mereka pada anda dibandingkan dengan dragon wall, dragon naga, dan dragon-dragon lain (maaf bercanda).
    kalau istilah anak muda neh “words never bring us down. so hell yeah! just say whatever you want to say!”
    jika kita memiliki itikad baik dan mempunyai tujuan untuk kebaikan ummat. maka komentar pedas sebanyak apapun tidak akan menggentarkan kita.
    saya tunggu kiprah bapak ke depan!!

  60. bambu (komentar #60)

    salam,

    Jika memang Yusril sepakat untuk berdebat tentang suatu topik, maka silakan saja bahas topiknya. dengan siapapun itu. kenapa mesti bergeser membahas orangnya? itu akan menggeser substansi diskusi.
    jika memang yusril sudah memberikan bantahan, belaan, dan klarifikasi….maka biarkan halayak yang jadi juri. menimbang dan menilai sesuatu yg Yusril kemukakan.
    jangan terpancing untuk menjauhkan subtansi diskusi…

    wassalam,

  61. Yusril Ihza Mahendra (komentar #61)

    #60 Bambu. Terima kasih atas sarannya. Seperti saya katakan, nanti saya akan menulis masalah “uang Tomy Suharto” dan masalah “AFIS”, setelah bahannya saya kumpulkan kembali. Saya pindah-pindah tempat tinggal, karena itu banyak dokumen terserak. Sebagian dokumen masih ada di DephukHam dan di Sekneg. Kedua masalah ini berkaitan dengan hukum, karena itu saya harus menulisnya secara cermat, jangan sampai salah. Kalau tulisan ini nanti telah saya posting, saya harap, barulah rekan-rekan menyampaikan komentarnya. Untuk itu, saya mohon kesabarannya.

    Terima kasih atas perhaitannya.

  62. Mulyadi (komentar #62)

    Assalamu Alaikum wR.wB.

    Sebelum bung Yusril menjadi menteri, saya merasa salut dengan basic keilmuan yang bung miliki. modal ini pula ditambah kendaraan partai dapat mengantarkan bung menjadi menteri. namun, dunia politik itu lain, penuh intrik. ada yang menyanjung, namun tidak sedikit yang mencerca. karena namanya manusia - ya bukan malaikat - pasti memiliki kelemahan, sepintar-pintarnya bung yusril.

    Yang menjadi permasalahan buat saya bukan masalah pemecatan bung dari struktur pemerintahan, namun pada spektrum yang lebih luas. Etika politik di negeri kita rupanya tidak disandarkan pada profesionalitas, tetapi lebih pada untung rugi secara pribadi dan kroni, bukan seberapa besar andil untuk bangsa, dan bung Yusril termasuk orang yang kurang beruntung di penghujung cerita sebagai “pembantu” raja dan kerajaan yang namanya “Indonesia”.

    Namun, menurut saya masih banyak kalangan yang menghendaki bung tetap “bersuara” dalam kapasitas keilmuan yang bung yusril miliki. saya tunggu.

    Wassalam

  63. Meity (komentar #63)

    assalamualaikum,

    sejak ada berita bapak bikin blog, saya penasaran pengen liat dan baca. maklum, kadang orang cuma ikutan trend semata lalu pergi gitu aja.

    semoga bisa tahan pak di dunia maya, aneh memang, kadang dunia maya bisa jadi satu tempat di mana kita bebas berekspresi tanpa harus takut satu apapun.. bisa menjadi tempat di mana kita bisa jadi orang lain atau malah jadi diri sendiri, saking sulitnya jadi orang jujur di dunia nyata. tapi menanggapi cerita bapak ttg dragonwall, sama seperti para blogger lain, tarik napas aja pak.. ga usah bikin susah diri sendiri. :) orang-orang kayak gitu, dimana-mana sama.. gak peduli kita udah menjabarkan kebenaran yang ada.. jadi, sudahlah..

    diluar hal itu,, cuma bisa bilang semoga bapak bisa terus konstan isi blog nya. lumayan, ilmu pengetahuan saya ikutan bertambah jg kalau bapak nulis, hihihi.. oh iya pak, ibu saya titip salam. dia fans berat bapak. (ini saya serius loh pak)

    salam untuk istri dan keluarga pak, semoga sehat selalu.

    groetjes,

  64. Klarifikasi Yusril « Budayawan Muda (komentar #64)

    [...] anonymous. Sungguh menghabiskan tenaga. Tapi akhirnya memang semua itu harus dilalui. Berbagai masukan teknis diberi oleh teman teman untuk Pak Yusril yang semangat sekali dengan dunia yang baru dikenalnya [...]

  65. H. Subur Walulo (komentar #65)

    Sedikit komentar ttg polemik di IM dan ’sambutan2 hangat’ utk sdr YIM di blog ini. Beberapa ‘points’:
    1. Polemik IM sayang menjadi “off-topic” walaupun dgn kontribusi anda (YIM). Betul keluar hal2 lain yg interesant tapi, inti utama kenapa anda ‘dicopot’ dari kabinet tidak terjawab. Biar itu hak prerogative presiden, fitnah tentunya bukan alasan utk mencopot anda. Kalau memang anda di fitnah, kenapa anda tidak bawa mereka yg memfitnah kemeja hijau?
    2. Beberapa jawaban anda ttg korupsi sangat ‘typical’. Bagi saya (40+) spt ‘de ja vu’, sayang … Saya beri dua contoh utk illustrasi:
    a) jawaban anda thd Janma yg nyoggok aparat imigrasi soal visa. Ini masuk kategori ‘wrong-answer’. Karena apa? Karena anda tidak memecahkan persoalan dgn jawaban spt itu yg dianggap ‘intimidasi’oleh sebagian org. Jadi ingat ‘pasal subversi’. “Fear, .. don’t let your power be based on fear’. Anda cuma akan mendapatkan penjilat pantat.
    b) Jawaban ttg bukti vs fitnah. Ini susahnya “negera hukum”. Cuma satu perbedaan: integritas pejabat khususnya dan ‘civil servant’ umumnya. Maling ayam atau pembunuh hrs terbukti ‘beyond reasonable doubt ..’ Tapi pejabat yg tersangka terlibat korupsi bagaimana kalau buktinya dibalik? Jawaban yg sudah tersedia: semua orang sama dimata hukum, juga pejabat. Tidak sama sekali benar. Mereka2 ini punya posisi dan akses2 yg orang lain atau pembukti tidak atau susah mendapatkanya. Dalam hal ini aparat hukum yg bersih, selalu ketinggalan langkah. Krn mereka hrs minta ijin ini-itu. Semantara itu semua potensial bukti2 udah putih atau lenyap. Ini umum, tidak cuma di Ind. Makanya film2 a la Dirty Harry sangat populer… Kalau di Amrik ada Dirty Harry di China tugas itu dilakukan pemerintah (lepas dari human right issue).

  66. Yusril Ihza Mahendra (komentar #66)

    Pak H Subur,

    Terima kasih atas tanggapan Bapak. Saya telah menjelaskan panjang lebar sikap saya selanjutnya mengenai polemik di Indonesia Matters di dalam posting saya yang berjudul “Saya Dapat Memetik Hikmah dan Pelajaran”. Kalau sekiranya Bapak belum membacanya, kiranya sudi membaca artikel itu. Kalau sudah membacanya, ya tidak apa-apa.

    Blog saya ini terbuka untuk kita berdiskusi atas dasar saling menghargai pendirian masing-masing. Karena itu, saya tidak memoderasi, apalagi tidak menampilkan suatu komentar. Selama blog ini ada, baru sekali saya mendelete sebuah kalimat dalam komentar, yang berisi dukungan terhadap penggunaan narkotika. Kalimat yang lain saya biarkan.

    Saya tidak menggalang dukungan agar orang lain menyokong pendapat saya. Sebaliknya juga tidak menghalangi orang lain untuk menyampaikan kritik dan pendapat yang berbeda. Semua saya biarkan mengalir di blog ini. Saya berpendapat, demokrasi harus saya mulai dari diri saya sendiri.

    Sekali lagi terima kasih atas komentarnya.

  67. H. Subur Walujo (komentar #67)

    Pak Yusril yth,

    Terima kasih atas rapid-reply dari anda. Tersirat niat anda yg tulus utk ‘belajar’. Barusan saya baca tulisan anda di posting: “Saya Dapat Memetik Hikmah dan Pelajaran”. Mungkin jawaban ini lebih tepat dipindahkan ke ‘thread’ diatas, terserah anda.

    Well, ‘first impression’: koq panjang amat ya … Tetapi kalau boleh saya coba meringkas intinya dalam satu atau dua kalimat, tanpa bermaksud mengecilkan bagian2 yg lain, ‘kan saya coba dibawah.

    Anda ‘belajar’ dunia cyber, mengakui ‘terbawa arus’ emosi dalam berpolemik dan malah berbesar hati meminta maaf pada salah satu responden. Sebagai pengamat yg berusaha netral saya hanya bisa katakan: perbuatan yg terpuji. Go on and you will learn more …

    Anda menuliskan ttg kebebasan, etika dan hukum. Pada intinya, bila anda serius dgn apa yg ada tulis disitu, saya banyak setuju dgn yg pendapat anda. By the way: dalam internet-traffic ada juga “netiquette”. Artinya ‘kebebasan’ itupun relatif. Tergantung taraf ‘kedewasaan’ masing2. Personal-attack, caci-maki etc. sebenarnya diluar netiquette tsb. Dalam anonimitas dunia cyber, semua jadi berlebihan (exagerated). ‘Kan aman, anonim. Jawabannya bukan ikut terpancing emosi atau represif, tapi “ignorance”. Sampai yg bersangkutan lebih dewasa dan bisa berkomunikasi tanpa makian. Dgn demikian kita bisa saling mendidik.

    Saya tidak setuju dgn pendapat anda, kalau yg dimaksud anda dalam mengontrol keseimbangan segitiga Kebebasan - Hukum - Etika, kaidah agama hrs dipaksakan oleh pemerintah dalam hukum tatanegara. Karena bagaimanapun juga akan timbul konflik. Ini bukan berarti negara marxis atau komunis (lagi2 ‘de ja vu’). Saya bangga dgn Indonesia dan sebagai warganegaranya. Kenapa? Karena praktek sila pertama. Ekses2 seperti Ambon, Poso dsb. bukan cermin Ind yg saya kenal. Saya malu utk itu. Jgn buat Indonesia seperti Malaysia yg sekarang dalam krisis identitas. Demikian juga negara2 barat terutama US yg tidak bisa mengambil sikap. Jadikanlah ‘Cool Indonesia’ contoh bagi negara2 lain yg lagi pusing ini. Bahwa kita bisa hidup rukun bersama berdasar Pancasila & Bhineka Tunggal Ika, yg tidak hanya dibuku2 SD-SMP/U atau pidato2, tapi dikehidupan tiap lapisan penduduk RI.

    Sebelum saya sendiri ber-tele2; akan saya akhir tanggapan ini dgn menyatakan pendapat pribadi saya ttg “penyakit no. 1″ di INd: Korupsi stukturil. Kapan ini diakhiri??? Lagu lama ini benar2 melumpuhkan RI intern maupun extern. Orang2 (terutama kader2 muda) jadi skeptis/sinis atau ‘mumpung’. Dua2nya tidak berguna buat RI. Yg skeptis/sinis tapi tidak punya kekuasaan jadi anarkis atau ’silent-majority’. Yg mumpung dan lewat koneksi dapat & salah gunakan jabatan jadi kecoak bangsa. Unfortunately, both are well educated. What a waste …

  68. Yusril Ihza Mahendra (komentar #68)

    Pak H Subur,
    Assalamu’alaikum,

    Sejak dari dulu saya berpendapat bahwa negara ini akan menjadi baik, termasuk mengatasi korupsi, kalau kita membangun sistem yang kuat dan didukung oleh sb.dsb. Notaris di mana saja, walau di kepualauan Kei atau di Biak dapat segera mengakses website Depkeh, tanpa repot-repot terbang ke Jakarta menghabiskan waktu dan biaya untuk urus pengesahan PT. Sistemlah, Pak Subur, yang membuat orang jadi baik. Namun Pak Haji, ketika sistem ini mulai saya bangun alangkah banyak yang menentang, bahkan menyebarkan rumors? Yang menentang itu justru pegawai Depkeh sendiri, para calo dan juga kalangan notaris. Mengapa?. Jawabannya sederhana, mereka akan dirugikan secara finansial dengan berlakunya sistem ini. Dengan kata lain, orang tidak bisa lagi memungut biaya ekstra, pungli dsb.

    Saya sebenenarnya telah melangkah membangun sistem keimigrasian kita yang sangat canggih. Permohonan pasport dilakukan online. Orang hanya perlu datang ke kantor imigrasi untuk ambil sidik jari dan tandatangan setelah diberitahu melalui e-mailnya. Biaya langsung di setor ke bank yang ditunjuk. Begitu juga sistem rekording, penyimpanan data yang online ke seluruh kantor imigrasi di tanah air. Saya dibantu Pak Mahatir Mohammad membangun “electronic pasport”, sehingga orang dapat berangkat dan pulang melalui counter imigrasi di bandara tanpa berhubungan dengan petugas imigrasi lagi. Sistem itu sudah diuji coba oleh Pak Mahatir sendiri di Bandara Ngurah Rai. Alat itu merekam semua aktivitas lalu lintas pemegang paspor ybs. Kalau suatu ketika dia melakukan kejahatan, dia tidak mudah membuat alibi, dengan alasan misalnya dia sedang di LN, dsb. Rekod akan menunjukkan bahwa dia tidak ke LN pada waktu kejadian.

    Kalau sistem tidak online ke semua kantor imigrasi, orang bisa punya dua paspor atau lebih. Orang keluar masuk negara kita tanpa terekod. Datang dari Polonia, pergi lewat Denpasar, jejaknya tidak diketahui. Ini menyangkut sistem yang terkait dengan intelejen dan pertahanan negara.
    Sistem dengan database tinggi itu berhubungan dengan sidik jari. Semua terkait dengan sistem pencegahan dan penaggulangan kejahatan. Photo orang di pasport bisa diganti dengan photo orang lain. Para penjahat di Thailand sudah mampu melakukan itu dengan canggih. Sudah banyak kejadian spt itu. Tetapi kalau tiap kaunter punya alat pembaca sidik jari yang online ke pusat, maka dalam waktu hanya 6 detik sisidk jari itu bisa dibaca milik siapa. Seketika itu juga pemegang pasport itu bisa ditahan. Walau photonya sama, namun sidik jari menunjukkan dia bukan pemilik paspor itu. Ini mencegah trans-national organized crime, termasuk jaringan narkotika dan terorisme. Saya tidak mau menjawab pertanyaan bagaimana sistem ini bekerja, waktu kami menangkal dan membongkar jaringan teroris, sebagaimana diminta oleh komentator di Indonesia Matters. Ini sudah menyangkut rahasia operasi intelejens yang tidak boleh saya buka. Saya harus hati-hati Pak Haji. Toh, siapa yang membuat komentar itu, dan apa nawaitu mereka dibalik semua itu, kita tidak tahu, Pak haji. Saya tidak boleh su’uzzon (berburuk sangka), tetapi sikap hati-hati perlu. Pak Haji Subur, saya pun tidak tahu siapa Bapak, tapi saya tak mempersoalkannya. Saya hanya menanggapi pendapat Bapak dengan sikap “huznuzzon” (berbaik sangka, seperti disebutkan dalam hadits Nabi), dan saya yakin akan hal itu. Tetapi Bapak tahu pasti yang menjawab komentar Bapak ini saya, Yusril Ihza Mahendra, manusia kongrit yang benar-benar wujud di dunia nyata. Lain halnya kalau saya memiliki blog, tapi nama saya bukan pakai nama saya, Yusril Ihza Mahendra. Namanya Sapujagat misalnya, he he… Tidak ada risiko apa-apa.

    Saya telah melangkah untuk membangun sistem AFIS dan pengambilan sidik jari dilakukan bersamaan dengan diterbitkannya akte kelahiran. Data sidik jari itu disimpan di drektorat daktiloskopi dan berlaku seumur hidup. Dari situlah dapat dipastikan penerbitan KTP, SIM, permohonan ke bank, penerbitan akte perkawinan, pasport dsb. Sekarang Pak Haji Subur, orang bisa kawin dua kali di tempat berbeda dan dua KUA akan mengeluarkan surat nikah bagi ybs. Pertama dia ngaku bernama Amat terus nikah di Kecamatan Kebob Jeruk. Minggu depan dia ngaku bujangan bernama Samin, dan kawin lagi di KUA Kecamatan Kebayoran Lama. Pasti bisa, karena sidik jari tidak online. Orang yang sama yang sudah dihukum di Cipipang, ketika bebas melakukan kejahatan lagi di Jayapura, polisi tidak tahu rekam jejak kejahatan orang ybs. Jaksa juga tidak dapat menuntut dia sebagai residvis, hakim juga bisa keliru menjatuhkan vonis. Ini semua berkaitan dengan sistem sidik jari. Tapi Pak Subur, ada blog namanya Indcoup yang menaci-maki dan bilang AFIS itu sama dengan mesin Clocktime untuk pegawai kantor, yang harganya cuma 150 dolar. Ketika pendapat ini dikritik dan dibantah, dan menyerang penulisnya hanya sok tahu, komentar itu masuk ruang “moderasi” dan tak pernah ditampilkan. Saya tidak marah, itu hak ybs dan dia bebas mengelola blognya. Hanya saja dalam hati saya ada kesan, blog Indcoup itu hanya mau menang sendiri, hanya mau benar sendiri. Mau bebas mengkritik orang lain, tetapi ketika balik dikritik, tidak mau menampilkan di blognya. Ini pertanda ybs belum menjadi demokrat sejati dalam arti yang fair. Belum jadi pejabat saja sudah begitu kelakuannya. Bagaimana kalau ybs suatu ketika jadi Menteri Kehakiman? Jangan-jangan setiap orang yang mengkritik langsung ditangkapi.

    Saya telah melangkah membangun sistem keimigrasian, namun sayangnya Pemerintah tidak punya duit untuk membiayai proyek itu. Itulah sebabnya saya mengubah permohonan visa di LN menjadi visa on arrival, dan biayanya disetor ke bank menjadi PNBP. Uang itulah yang kita harap akan menyumbang pembiayaan pembangunan sistem keimigrasian kita.
    Saya mulai melangkah memulai proses pembangunan sistem keimigrasian kita. Langkah ini akan disusul dengan training, perbaikan insentif bagi pegawai dsb. Agar Pak Haji tahu, disamping gaji yang ukurannya sama bagi setiap pegawai negeri, insentif untuk pegawai imigrasi di Bandara Sukarno-Hatta, hanya Rp.5000/hari. Untuk bayar tol saja sudah tidak cukup. Belum lagi untuk makan. Bagaimana orang tidak terdorong melakukan pungli. Untuk menaikkan insentif itu, saya harus berdebat panjang dengan Bappenas dan Dep. Keuangan. Saya harus memperbaiki semua ini, walau sampai saya berhenti jadi MenkehHam belum semua masalah tertangani. Supaya Pak haji tahu juga. Di LP Cipinang, 30 orang petugas jaga/keamanan, harus mengawasi 2100 narapidana. Senjata mereka cuma karaben, yang kalau ditembakkan barangkali pelurunya mampet. Uang kopi yang dibayarkan ketika jaga malam Rp. 3500/malam. Tiap kali saya minta tambahan pegawai, selalu dijawab Menpan kita menganut “zero growth”. Lama saya berkelahi soal ini, ahirnya uang kopi dinaikkan sedikit. Untuk beli sebungkus rokok saja tidak cukup. Sistem harus diperbaiki, pegawai harus ditraining terus-menerus, dan sistem penggajian juga harus diperbaiki. Saya telah bekerja keras membangun sistem untuk memperbaiki imigrasi dan penjara, tentu hasilnya masih jauh dari yang diharapkan.

    Pak Haji, itulah sebabnya saya enggan melanjutkan debat dengan Janma, Dragonwall dll di Indonesia Matters. Kalau berdebat titik tolaknya a-priori dan ingin benar sendiri, lebih baik saya tidak meladeninya. Saya ingin berdiskusi secara jernih, empati dan saling hormat-menghormati. Kalau pikiran sudah kusut-masai, apalagi disertai kemarahan, tuduh-menuduh dan kata-kata kasar, diskusi takkan menghasilkan apa-apa. Untuk hal seperti itu, saya cukup menangkap esensi masalah yang mereka kemukakan, tanpa perlu saya ikut terlibat atau melanjutkan perdebatan.

    Kalau bicara undang-undangnya Pak Haji, jangan lupa sayalah yang merevisi UU Korupsi sehingga isinya begitu keras seperti sekarang ini. Saya juga yang memimpin penyusunan RUU pembentukan KPK, membahasnya dengan DPR hingga jadi UU. Bahkan saya juga memfasilitasi seleksi pimpinan KPK sekarang ini di Depkeh dan HAM. Begitu juga saya pula yang menyusun RUU Pencucian Uang, dan menyeleksi calon-calon pimpinan lembaga itu. Saya juga ikut menyusun konvensi PBB tenang korupsi, dan menandatangani konvensi itu di markas PBB di New York. Mudah-mudahan orang tidak lupa bagaimana saya berdebat sengit dengan Menkeh Swiss dan Singapura waktu membahas draf konvensi itu. Saya menganggap mereka inkonsisten dan hanya ingin untung sendiri.

    Makanya saya heran, belakangan ada suara-suara yang menuduh saya menghambat pemberantasan korupsi. Barangkali inilah politik… Celakanya, walau saya Ketua Parpol waktu itu, gaya saya tidak seperti gaya politikus. Saya masih nampak seperti akademisi, mungkin sampai sekarang masih begitu.

    Mudah-mudahan suatu ketika nanti, saya dapat menuliskan gagasan saya mengenai pembangunan sistem ini, agar diketahui oleh pembaca di blog ini.

  69. hamidfara_aza (komentar #69)

    #68,
    Mudah-mudahan suatu ketika nanti, saya dapat menuliskan gagasan saya mengenai pembangunan sistem ini, agar diketahui oleh pembaca di blog ini.

    Menurut saya ini sudah merupakan bagian mukaddimah tulisan K’ Yusril tentang ” sistem “. Maaf kalau salah.
    Wah, mukaddimahnya aja udah panjang apalagi isinya yah.

  70. H. Subur Walujo (komentar #70)

    Pak Yusril, Assalamu’alaikum,

    1. sistem ke

  71. Yusril Ihza Mahendra (komentar #71)

    #70 Pak H Subur Walujo,

    Apa ada masalah sehingga komentar Bapak hanya sepotong kalimat seperti di atas? Kalau ya, tolong dikirim sekali lagi.

    Saya juga ingin bertanya pada Bapak, apakah ada saya berpendapat bahwa “untuk mengontrol keseimbangan antara kebebasan, hukum dan etika, maka kaidah agama harus dipaksakan Pemerintah melalui hukum tatanegara” seperti Bapak katakan? Seingat saya, saya tidak pernah berpendapat demikian. Saya mohon penjelasan.

  72. Safan (komentar #72)

    berdakwah tidak hanya dpt dilakukan di dunia nyata, maka sy sangat merespon & salut kpd YIM yg berani bergabung dalam dunia maya u/ menyampaikan pemikiran2nya sangat brilian, krn setahu sy beliau sangat menguasai ajaran2 agama Islam & mampu menyampaikan dengan sangat sederhana serta mudah dipahami terkadang menggunakan analogi yg mudah dicerna………..truslah berdakwah…………..kami siap menampung ilmu anda…………..

  73. H. Subur Walujo (komentar #73)

    Pak Yusril, Assalamu’alaikum,

    Maaf, tadi keburu terpencet tombol ’send’….

    Sebelum saya menaggapi tulisan anda ttg korupsi akan saya jawab dulu pertanyaan anda #70 diatas.

    Saya menafsirkan atau menarik kesimpulan itu waktu membaca uraian anda. Maaf kalau tidak tepat. Cuplikan2:

    [Quote] … Ajaran agama-agama, kecuali Buddhisme, mengkaitkan kesadaran terhadap norma dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, serta keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal di akhirat. …[End Quote]

    [Quote] … Di dalam Islam, manusia disuruh mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Semakin dekat manusia … Semua ini berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran norma moral. Sanksi itu …[End Quote]

    [Quote] … Kita kembali ke soal norma. Oleh karena sanksi terhadap pelanggaran norma moral itu hanya ada di dalam hati – atau paling jauh kecaman masyarakat terhadap seeorang yang melakukannya – maka tidak jarang norma-norma moral itu kemudian ditransformasikan menjadi norma hukum, tertulis maupun tidak tertulis. … …[End Quote]

    Memang bukan bapak yg berpendapat seperti itu tapi saya tidak setuju dgn transformasi ‘norma moral’ yg diajarkan banyak agama atau etika menjadi ‘norma hukum’. Saya banyak melihat tendens di negara2 seperti Malaysia dan Turki dimana beberapa kelompok ingin menerapkan “transformasi” yg anda sebut tadi, sebagai reaksi dari sikap yg tidak simaptik dari Barat terutama Amrik. Karena sperti anda katakan sendiri:
    “Penegakan norma-norma hukum dilakukan oleh sebuah otoritas yang memiliki kewenangan untuk itu”. Kalau otoritas yg bersangkutan bukan negara, ya tentunya aparat lain yg mempunyai wewenang setaraf dgn yudisial formal (polisi/jaksa, hakim). Semoga anda tidak berpendapat seperti itu (…maka tidak jarang …). Ini bisa bikin kacau RI tercinta.

    Uraian anda ttg pmberantasan korupsi sangat menarik. Di beberapa bagian saya maklum utk dilema yg dimiliki eksekutif kita ttg “ayam atau telur” (soal dana) dan prioritas.

    Soal gaji: Saya sependapat dgn anda. Mereka harus mendapat gaji cukup utk kebutuhan primair. Dgn gaji yg cukup peluang minta sogok diperkecil. Dananya? Pajak. Perpajakan di Ind, maaf … amburadul. Disini masih banyak peluang. Bikin pajak yg sangat progresif. Saya tahu dalam akhir2 ini memang baru ditata, tapi ya itu .. buat awam “..to little too late..”

    Soal sistem: Pak korupsi menurut saya tidak bisa diberantas dgn sistem. Saya ingat diskusi dgn pak Habibie cs (BPPT) waktu dia jadi menristek dan kami mahasiswa. Dia (pak Habibie) bilang: Ind. udah ketinggalan teknologi , jadi hanya bisa susul negara2 lain dgn “leap frog” lewat teknologi canggih: bikin peawat. Karena diindustri pesawt semua terterap teknologi canggih. Kalau tidak terus tetap tertinggal. Saya bilang: ini teori (dan mungkin hobby pak Habibie). Bikin pesawat perlu modal besar. Perusahaan2 pesawat terbang yg udah established aja jungkir balik dan Airbus disubsidi berat oleh permerintah2 di Europa, koq Ind yg masih punya utang selangit mau bikin industri pesawat terbang…. Bikin aja industri utility vehicle 100% asli (waktu itu Proton masih konsep). Dasarnya udah ada (spt Kijang yg cuma mampu bikin karoseri). Nurtanio kini? ..history.. berapa dana yg bisa diselamatkan tanpa proyek mercusuar ini? Conbtoh lain Tenaga atom: yg lain pada ditutup kita yg banayk sumber daya alternatip mau coba2 bikin. Ironisnya: at the end .. dari semua itu kita tergantung lagi oleh negara2 asing/pendonor. Kalau mereka kritik beleid kita, kitanya sewot.

    Kenapa beras aja kita harus impor? Pak Yusril, saya bertanya: negara kita ini kaya sumber daya alam. Saya tidak habis ngerti kenapa rakyat kita termasuk melarat? Saya tdak bisa mengambil kesimpulan lain dari: mismanagement / korupsi. Bukan sistemnya pak, orang2 yg megelola dan bertanggung jawab. Itu yg harus di prio kan.

    Bapak mau terapkan sistem imigrasi yg canggih, itu bagus. Tapi apakah itu prio pertama? Nurut saya menangkap semua koruptor2 dan pejabat2 yg bersangkutan lebih baik. Tidak usah ditembak spt di China, krn bisa berurusan dgn HAM. Cukup dengan disita semua hartanya dan dibikin malu dimuka publik (etika). Jangan bikin kejaksaan sulit menacari bukti2 yg udah lenyap. Atau menghambat jalan mereka dgn ‘instruksi’ atasan. Terapkan TDPB (Tangkap Dulu Perkara Belakang) utk org2 yg melakukan “KUHP”. Dan yg saya maksud bukan KUHP perkara2 teri seperti melanggar LL, tapi korupsi2 besar, pemalsuan, intimidasi aparat hukum (SP3). Kalau perlu hukum penunjang: bikin RUU.

    Salam, Subur W.

  74. Yusril Ihza Mahendra (komentar #74)

    Pak H Subur. Dari sudut pandangan filsafat memang ada perbedaan antara norma moral dengan norma hukum dan norma sopan santun. Saya telah menguraikan hal ini dalam tulisan saya. Norma moral bersifat fundamental, walau para filsuf berbeda pendapat tentang universalitas norma-norma itu. Saya termasuk kelompok yang berpendapat bahwa norma moral itu universal. Ten Commandements Nabi Musa yang saya contohkan dalam tulisan, menurut hemat saya adalah norma moral yang universal. Perintah jangan membunuh, jangan mencuri dan jangan berdusta, adalah norma moral yang universal. Kalau norma jangan membunuh itu dirumuskan ke dalam hukum tertulis, dan diberi ancaman sanksi, dan ditegakkan oleh sebuah otoritas terhadap orang yang melanggarnya — bisa negara bisa bukan — maka norma moral jangan membunuh tadi telah berubah menjadi norma hukum. Bahwa Bapak tidak setuju norma moral ditransformasikan menjadi norma hukum, saya menghormati pendapat itu.

    Sistem yang saya maksudkan tentu beda dengan teknologi membuat pesawat terbang seperti diskusi anda dengan BJ Habibie. Bahwa teknologi dapat membantu pembangunan sistem, memang ada benarnya. Dalam pandangan saya, manusia itu mempunyai kecenderungan yang sama besar ke arah kebaikan dan kejahatan. Tentu ada yang berpandangan sebaliknya, bahwa manusia itu pada dasarnya baik. Filsafat Jawa aliran Paguyuban Ngesti Tunggal (Pangestu) menganut faham terakhir ini. Ada juga aliran filsafat yang memandang manusia itu pada dasarnya buruk. Sistem yang dibangun dengan disertai dengan aturan hukum yang jelas, akan banyak membantu agar manusia terdorong ke arah yang baik.

    Bahwa menangkapi orang-orang yang diduga bersalah adalah salah satu langkah menegakkan sistem dan menegakkan hukum. Namun, jika manusia berganti sistem tidak, maka manusia yang baru akan melakukan hal yang sama seperti dilakukan manusia sebelumnya. Ibnu Khaldun, dalam kitab Muqaddimah, telah membahas masalah ini panjang lebar kira-kira seribu tahun yang lalu. Ambillah contoh misalnya sistem tidak mengatur dengan tegas berapa lama masa jabatan Presiden, maka Presiden bisa menjadi seumur hidup. Presiden lama itu diturunkan, dan digantikan Presiden baru yang penuh idealisme. Namun lama kelamaan idealisme Presiden baru itu akan luntur. Kekuasaan itu menggoda. Akhirnya dia cenderung mengikuti gaya Presiden sebelumnya, yang justru pernah dia lawan. Jadi, sistem dan aturan konstitusi harus tegas: Masa jabatan Presiden 5 tahun misalnya, dan hanya boleh dua periode saja.

    Menangkapi penjahat saja tanpa perbaikan sistem, norma hukum, penegakan hukum dan membangun kesejahteraan dan menegakkan keadilan, akan sia-sia juga.
    Tukang menangkapi penjahat itu lama kelamaan akan berkelakuan seperti penjahat juga.

  75. H. Subur Walujo (komentar #75)

    Ok, Pak Yusril yg anda maksud dengan ’sistem’ itu ternyata lebih luas. Termasuk manusianya. Saya kira ’sistem’ perangkatnya atau penunjangnya. Saya simpulkan ini krn anda mencontohkan dengan piranti canggih imigrasi, sistem notaris dsb. Krn itu saya asosiasikan dgn impian leap-frog nya BJH. Dalam sistem wawasan anda itu piranti lunaknya adalah manusianya dan piranti kerasnya teknologinya termasuk penunjang fisiknya (sperti komputer, netwerk dan telekomunikasi). Anda ‘kan tahu investment yg termahal dan tersusah dalam membangun sistem itu piranti lunaknya. Tak perduli membangun sistem ICT atau membangun sistem negara. Jadi manusianya lah, pak yg penting. Manusianya faktor utama.

    Diawali dari pejabat2nya (eksekutif, legislatif dan yudikatif). Ya…, dari mereka. Karena mereka2 ini yg harus memberi contoh apa arti itu integritas dan accountablity. Mungkin cuma ada di-Ind (ex) ketua DPR yg tersangka tindak pidana tapi tetap jalan terus karena tidak merasa bersalah. Ini DPR pak … DPR. Wakil rakyat …, ketuanya lagi.
    Dinegara lain, pejabat spt itu turun (walaupun belum terbukti bersalah) utk tidak menggangu jalannya hukum dan manjadi bola politik / moral. Kalau memang tidak terbukti bersalah baru jabat lagi (kalau masih nafsu). Bukan kebalikannya seperti di INd. Jaksa disuruh buktikan dulu. Selama orang2 seperti ini memimpin negara kita; pak Yusril, saya cuma bisa menangis.

    Sistem yg mengatur tegas aturan2 hukum atau undang2 itu ada pak. Mungkin belum sempurna, tapi ada. UU Anti Korupsi misalnya. Cuma pelaksanaannya, pak. Pelaksanaannya. Orang2 menjadi skeptis/frustasi karena mereka melihat Pak. Rakyak tidak buta. Undang2 dan peraturan diganti2 dan disempurnakan tapi kalau orng2 yg harus melaksankan peraturan2 tidak dibenahi ya percuma. Selama ada hakim/jaksa yg mau terima sogok, takut atau tidak dilindungi terhadap intimidasi … ya, percuma. Selama ada menteri, angoto DPR yg punya ‘proyek2′ …percuma punya aturan2 dan sistim yg canggih. Dalam hal ini etika mungkin bisa membantu. Tapi tidak bisa melawan kemunafikan dan kemumpungan …

    Pak YIM, normal moral yg universal itu terbatas pak. Contoh2 yg anda ambil (jangan membunuh, jangan mencuri, …) itu mungkin universal. Tapi norma2 yg diambil dari kebiasaan adat atau ‘culture’ itu dinamis, Pak. Yg dulu tidak etis sekarang bisa diterima atau sebaliknya. Kenapa? Karena masyarakat itu dinamis. Dgn atau tanpa globalisai. Satu contoh: praktek sati, di india. Walupun kontroversial (bukan ajaran agama Hindu, tapi ditafsirkan demikian). Soalnya setelah norma ditrnsfer ke hukum formal, maka ada sangsinya. Sangsi yg mana? Penafsiran siapa?

    Saya percaya dgn kelenturan masyarakat dunia kearah equilibrium. Kalau terlalu terkekang ada gerakan yg ingin membawa kearah kebebasan. Kalau terlalu bebas ada gerakan yg ingin membatasi kebebasan agar tidak membawa ekses2 negatif (yg universal). Contohnya pengunaan umum narkotik didunia barat thn 60-70an. Sejak thn 90-an ada arus balik. Kenapa? Karena ekses2 tersebut …

    Dalam menaati norma2 moral saya lebih cenderung memilih The Universal Declaration of Human Rights PBB, yg juga ditanda tangani oleh RI.

  76. daffa (komentar #76)

    bang YIM,
    salut pada abang yang dengan berani muncul di IM, salut juga atas perjuangan abang selama ini.
    MAJU TERUS MAWAS DIRI (Semboyan Urang Belitong)

  77. Juniar R. Sahidin (komentar #77)

    Sampurasun

    Saya adalah pengagum Om Yusril sejak tahun 1997, sejak saya mulai melek politik saat masih pelajar SMA (selain Amin Rais, Hidayat Nurwahid, dan Habibie).
    Senang akhirnya bisa mendapatkan kesempatan untuk berbincang dengan idola sendiri.
    Semoga Om Yusril tetap istiqomah dengan keilmuannya, dan menjadi salah satu mantan menteri yang bisa berinteraksi langsung dengan rakyat dan menampung seluruh sapirasi kami (siapa tahu Om suatu saat jadi presiden).

    Wilujeng dongkap di jagat tanpa batas “internet”

    Cag, ahh!

  78. Yusril Ihza Mahendra (komentar #78)

    #75 Pak H Subur Walujo. Saya tetap berpendapat bahwa norma-norma moral (etika) adalah norma fundamental dan bersifat universal. Kalau norma sopan santun — yang diangkat dari kultur masyarakat yang dinamis itu — memang relatif tergantung pada ruang dan waktu. Tetapi tidak apa-apa kalau kita berbeda pendapat dalam hal ini.

    Praktek sati adalah tradisi masyarakat Hindu India dan juga dipraktekkan di zaman Majapahit (saya riset ttg hal ini ketika mengoreksi skenario film Cheng Ho). Tetapi tradisi keagamaan seperti itu tidak mungkin ditransformasikan menjadi norma hukum publik yang mengikat semua warga India, dan memang tidak pernah terjadi. Pemerintah British India malah melarang sati melalui hukum positif. Tetapi saya kira bukan langkah yang tepat juga dilihat dari perspektif umat Hindu di zaman itu.

    Universal declaration of Human Rights merupakan himpunan hak-hak asasi manusia. Namun tidak merumuskan kewajiban-kewajiban asasi manusia. Karena itu deklarasi ini banyak dikritik juga. Patut kita sadari bahwa deklarasi itu diawali dengan suatu seminar internasional. Rumusannya diangkat dari berbagai doktrin dan pemikiran, termasuk ajaran agama. Dari kalangan Islam yang hadir dan membentangkan makalah ialah Humayun Kabir, seorang filsuf India Muslim. Memang ada yang berpandangan bahwa deklarasi itu dapat juga dianggap sebagai rumusan norma-norma etika.

  79. karaengisla (komentar #79)

    Maaf Pak saya telat membaca web Bapak (itupun setelah berjibaku mencarinya)
    Seperti kata orang internet, adalah rimba tak bertuan, kebijakan dan kebajikan amat dibutuhkan untuk menanggapi komentar orang-orang yang sepertinya lebih tau diri kita dari pada diri kita sendiri. Keep writing Pak….. Yang diuji kadarnya itu hanya emas, kalau dia perak atau perunggu tak perlu diuji

  80. dhoni setiawan (komentar #80)

    Saya ini bodoh. Apa Pak YIM orang pintar? Gak juga, ah.
    Hoee!!! Ada yang pintar gak di sini?!
    Komunitas Indonesia Matters, mereka juga orang bodoh.

    Ada yang pintar??!

    Lha yang mbedakan di antara orang2 bodoh adalah tanggung jawabnya.

  81. Vaicha (komentar #81)

    dragonwall telah meminta maaf untuk pak yusril di indonesiamatters pada comment hal 4…

  82. indcoup (komentar #82)

    Pak Yusril,

    saya minta maaf kepada Pak Yusril bahwa saya indentikan AFIS itu sama dengan mesin Clocktime untuk pegawai kantor kerna memang lain.

    Saya juga minta maaf kepada Pak Yusril bahwa Pak Yusril sependapat saya hanya mau menang aja.

    regards

    Indcoup

  83. Yusril Ihza Mahendra (komentar #83)

    #82 Indcoup. Terima kasih atas tanggapannya. Tentu kita harus saling memaafkan kekeliruan masing-masing. Selanjutnya marilah kita berdiskusi dengan tenang, semoga kita mendapat banyak manfaat dan pelajaran.
    Semoga Allah SWT akan senantiasa membimbing kita semua ke jalan kebenaran.

    Salam hormat saya.

  84. Bonar (komentar #84)

    #82:
    Mencurigakan ah… Anda kayanya bukan indcoup, bukannya indcoup lagi melarikan diri gara2 bertengkar dengan sesama brit?

  85. Muhammad Zainal Arifin (komentar #85)

    Assalamu’alaikum wr.wb
    Bicaralah atas nama sejarah dan jangan pernah memanipulasi sejarah, Rubahlah sesuatu yang bisa di ubah, terimalah sesuatu yg tidak bisa di ubah
    Mungkin itu awal yang pantas kita ucapkan dlm proses sharing kita…
    Saya melihat saat ini ada sesuatu yg Bapak perankan dlm dunia politik….
    Aku adalah org yang saat ini salut dengan kekonsistenan bapak dlm menjalankan amanah sebagai kholifah di muka bumi ini….
    ada beberapa hal yg hendak saya tanyakan kpd bapak, dan saya berkenan bpk menjawabnya…
    1. Menurut pendapat bapak konsep kepemimpinan yg seperti apa yg cocok untuk di terapkan di bumi pertiwi ini (indonesia)?
    2. Apakah menurut bapak benar bahwa model pemilihan gubernur di kembalikan lagi seperti semula?sebab hal itu untuk mengurangi bajet pengeluaran APBD di tiap daerah masing-masing?tolong kasih alasannya.
    mungkin hanya beberapa hal itu yang hendak saya tanyakan kepada bapak, semoga yg kita diskusiakn ini baik untuk kemajuan bagsa ini. Amin…..

  86. edi.santosa (komentar #86)

    Pak, kebetulan istri saya jg mualaf, dan saya sempat takut komentar 2 miring seperti yang mereka sampaikan di internet tentang pernikahan Bapak atau tentang pribadi istri bapak jg menimpa istri sy(baik dr keluarganya ataupun lingkungannya).Alhamdulilah itu semua tidak terjadi, karena saya yakin niat saya baik begitupun dengan niat istri saya.Alhamdulilahnya lagi, hubungan sya dengan keluarga istri sangat baik, bahkan saya jadi menantu kesayangan hehehe….Semoga Bapak & keluarga selalu dilimpahi kasih sayang…tapi saya juga kangen sama Ibu Kesih,semoga beliau selalu sehat & bahagia selalu….

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda