Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Setelah lebih kurang sebulan mengharungi dunia blog, akhirnya saya harus mengakui bahwa saya dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran. Dunia maya ini adalah laksana dunia tanpa batas. Mungkin sudah terlalu lama di negara kita ini masyarakat merasa terkekang, sehingga banyak yang takut menyampaikan pikiran dan pendapatnya secara terbuka. Walaupun sejak era Presiden Habibie kebebasan mulai dibuka, namun masih banyak yang khawatir dan ragu-ragu. Di dunia maya ini, seseorang akan menemukan kebebasan yang selama ini didambakannya. Berbagai tulisan bermunculan dengan aneka ragam bentuk dan gaya bahasa, mulai dari menyampaikan harapan, saran, keluh-kesah, sampai yang menghujat dan mencaci-maki. Ada pula yang menggunakan kebebasan itu untuk menyebarkan desas-desus, rumors, sampai kepada fitnah yang dapat menyudutkan seseorang yang sungguh-sungguh ada di alam nyata. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah kebebasan dalam makna yang sesungguhnya itu memang ada?
Sebelum saya memasuki pembahasan mengenai bahan pelajaran yang dapat saya petik seperti tertera dalam judul tulisan ini, saya ingin lebih dahulu membahas makna “kebebasan” beserta implikasi-implikasinya bagi kehidupan manusia. Saya ingin menguraikannya dalam bahasa yang sederhana, sehingga pembahasan ini tidak nampak begitu rumit, dan memusingkan kepala mereka yang membacanya. Kalau kita ingin membahasnya lebih dalam, kita akan melangkah memasuki dunia filsafat dan pemikiran keagamaan. Dunia ini, juga merupakan dunia tidak bertepi. Perdebatan filsafat dan agama, adalah telah berlangsung sepanjang sejarah, sejak pertama kali manusia mampu berpikir logis dan sistematis. Namun perdebatan itu tidak pernah sampai ke hujung. Kita memang harus maklum, sepanjang manusia ada di muka bumi ini, selama itu pula problema akan ada. Manusia akan terus berupaya untuk mengkritisi setiap masalah yang muncul, dan berusaha menemukan jawabannya.
Setiap bahasa tentulah mempunyai perbendaharaan kata “kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu. Tetapi adakah kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan yang tanpa batas? Pertanyaan ini seperti mengandung paradoks. Kalau kebebasan ada batasnya, masihkah dia dapat kita sebut sebagai kebebasan? Jika kita melihat ke dunia fisik, kebebasan dalam arti yang absolut sesungguhnya tidaklah ada. Secara fisik, manusia dan bahkan semua makhluk, terikat kepada hukum-hukum alam, terikat kepada the laws of nature. Para pemikir agama Islam, mengkaitkan hukum-hukum alam itu dengan sunnatullah, yakni hukum-hukum Allah yang tidak tertulis, yang mengatur seluruh isi alam semesta, demi memelihara keseimbangan dan menjaga kelangsungan keberadaan seluruh makhluk. Beberapa kali kata sunnatullah itu disebutkan di dalam al-Qur’an. Ambillah contoh sederhana: kita ingin hidup seperti ikan di dalam air, atau kita ingin terbang di udara seperti burung, atau pula kita ingin seperti penyu, biawak dan buaya yang hidup di air dan di darat. Dapatkah kita bebas mewujudkan keinginan kita? Tentu saja tidak. Kebebasan di dunia fisik, dibatasi oleh hukum-hukum alam. Tidak seorangpun mampu melampauinya, betapapun mereka sungguh menginginkannya.
Kalau di dunia fisik kebebasan yang sesungguhnya itu tidak ada, bagaimanakah halnya dengan kehidupan sosial umat manusia? Apakah mereka boleh melakukan apa saja yang mereka kehendaki? Apakah mereka boleh mengatakan apa saja yang mereka inginkan? Jawabannya ternyata tidak juga. Kalau di dunia fisik segalanya dibatasi oleh hukum alam, maka dalam kehidupan sosial umat manusia, batas-batas itu ditentukan oleh norma atau kaidah. Norma adalah konsepsi abstrak dalam alam pikiran dan perasaan manusia, yang isinya di satu pihak adalah suruhan, dan di lain pihak adalah larangan. Norma-norma itu mengandung sifat imperatif, sesuatu yang mengandung perintah untuk dihormati, dijunjung dan ditaati. Ambillah contoh: bolehkah kita menganiaya orang lain? Bolehkah kita berdusta? Bolehkah kita mengambil milik orang lain tanpa izinnya? Bolehkah kita menghilangkan nyawa orang lain tanpa sebab? Bolehkah kita menyebarkan fitnah terhadap orang lain? Jawab kita tentu tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Sebab norma membatasi kebebasan kita. Manusia masih dapat dianggap sebagai manusia, jika mereka menyadari adanya norma-norma yang harus ditaati. Tanpa itu semua, manusia mungkin akan kehilangan hakikat kemanusiaannya yang sejati.
Begitu mendasarnya masalah norma dalam kehidupan manusia, telah menyebabkan pembahasan terhadap masalah itu menjadi tema penting dalam setiap ajaran agama. Para filsuf –seperti telah saya katakan di awal tulisan ini — juga membahasnya dengan dengan berbagai kerangka pemikiran dan sudut pandang. Mereka menggolongkan pembahasan tentang masalah itu ke dalam Filsafat Moral atau Etika. “Ten Commandments” atau sepuluh perintah Tuhan yang dibawa Nabi Musa, yang antara lain berisi larangan membunuh, berdusta dan berkhianat, semuanya semuanya dapat dikategorikan sebagai norma-norma di bidang etika. Tema yang sama diulangi lagi di dalam al-Qur’an. Panch Sila, yakni lima larangan bagi orang awam, dan Dasa Sila, yakni sepuluh larangan bagi para rahib di dalam ajaran Buddha, adalah juga norma-norma di bidang etika. Mo Limo dalam filsafat Jawa, nampaknya juga merupakan rumusan norma di bidang etika.
Ajaran agama-agama, kecuali Buddhisme, mengkaitkan kesadaran terhadap norma dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, serta keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal di akhirat. Meskipun di dunia ini, dalam kenyataannya, ada orang baik bernasib buruk dan ada pula orang jahat bernasib baik, namun semua hanyalah sementara. Di akhirat nanti, orang baik akan mendapat tempat yang baik, mereka masuk surga Jannatun Na’im. Orang jahat akan mendapat tempat yang sebaliknya, mereka dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam. Para filsuf Marxis, tentu saja menyanggah semua doktrin keagamaan seperti ini. Sebagian ilmuwan juga sejalan pikirannya dengan filsuf Marxis. Memang, hingga sekarang penelitian tentang keberadaan surga dan neraka, belum dapat dibuktikan secara empiris. Itu semua berada di luar jangkauan kajian saintifik.
Di dalam Islam, manusia disuruh mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Semakin dekat manusia kepada Tuhannya, akan semakin peka hati nuraninya terhadap persoalan-persoalan etika. Semakin jauh manusia dari Tuhannya, semakin hilang pula rasa kepekaan itu. Semua ini berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran norma moral. Sanksi itu tidak akan kita temukan di mana-mana, kecuali pertama-tama ada di dalam hati nurani kita sendiri. Ada perasaan bersalah di dalam hati, jika kita melanggar norma etika. Tidak perlu orang lain tahu, apalagi menghukum kita. Cukuplah hati nurani kita yang berbicara kepada diri kita sendiri. Namun di dunia nyata, di zaman sekarang, rasa kepekaan hati nurani itu terasa kian menipis, di tengah haru-biru perubahan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup. Seorang teman berkata kepada saya: “Boss, janganlah terlalu idealis… di zaman sekarang, jangankan mau mencari yang halal, mencari yang haram saja susah. Cobalah Boss pergi ke hutan, jangankan mau berburu rusa atawa pelanduk. Mau berburu babi saja susah bukan main”. Saya hanya tertawa. Lidah saya terasa kelu, seperti kehabisan kata-kata menghadapi teman saya itu. Dia memang orang “realistis” atau katakanlah “pragmatis”.
Kita kembali ke soal norma. Oleh karena sanksi terhadap pelanggaran norma moral itu hanya ada di dalam hati – atau paling jauh kecaman masyarakat terhadap seeorang yang melakukannya – maka tidak jarang norma-norma moral itu kemudian ditransformasikan menjadi norma hukum, tertulis maupun tidak tertulis. Norma hukum lebih eksplisit rumusannya dan lebih tegas ancaman sanksi bagi barangsiapa yang melanggarnya. Penegakan norma-norma hukum dilakukan oleh sebuah otoritas yang memiliki kewenangan untuk itu. Sebenarnya, kalau norma-norma etika ditaati, maka pelanggaran terhadap norma hukum akan dapat diminimalkan. Sebaliknya juga, jika norma-norma hukum begitu longgar, tidak tegas atau memang belum mampu menjangkau suatu perbuatan, maka norma etika harus diperkuat. Tanpa itu, kehidupan masyarakat akan centang perenang, carut-marut tak tentu arah.
Di negeri kita, sejak kita memasuki era Reformasi — seperti telah saya singgung di alinea pertama tulisan ini — beberapa norma hukum kita telah diperlonggar, antara lain norma-norma hukum di bidang pers dan norma-norma kemerdekaan berserikat, menyatakan pikiran dan pendapat. Norma-norma hukum di bidang hak asasi manusia mulai dikedepankan. Semua itu sungguh positif bagi rakyat kita yang mendambakan tegaknya demokrasi di negeri ini. Namun di sisi lain, kecenderungan semakin melemahnya norma-norma etika terasa makin menguat. Kalau keadaan ini tidak menjadi perhatian kita bersama, maka secara perlahan-lahan bangsa kita akan mengalami keruntuhan. Kalau semuanya aji mumpung dan hantam kromo, maka sukar bagi kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Tanpa kepatuhan terhadap norma etika, di tengah longgarnya norma hukum, maka orang dengan mudah menyuarakan apa saja yang ingin mereka suarakan, dan berbuat apa saja yang mereka inginkan, tanpa berpikir lebih jauh konsekuensi apa yang akan terjadi. Dalam suasana kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat, orang dengan mudah menyebar-luaskan fitnah dan caci-maki tanpa beban apapun di dalam kesadaran hati nuraninya. Seperti telah saya katakan, kepekaan hati nurani mulai menghilang.
Sekarang, saya ingin kembali kepada fokus utama tulisan ini, mengenai pengalaman saya yang baru sebentar di dunia blog. Adalah keliru kalau kita mengatakan bahwa di dunia maya ini tidak ada norma hukum. Berbagai negara telah merumuskan berbagai kaidah yang disebut sebagai hukum dunia maya atau cyberlaw. Setelah adanya internet, berbagai jenis dan bentuk kejahatan baru muncul ke permukaan, yang disebut sebagai kejahatan dunia maya atau cybercrime. Namun, secanggih apapun hukum diformulasikan, tetap saja dia tidak mampu mengejar kecepatan perkembangan teknologi informasi. Di negeri kita sendiri, norma-norma hukum di bidang ini belum banyak yang kita formulasikan. Aparatur penegak hukum kita juga belum siap untuk menanganinya. Dalam suasana seperti itu, saya berpendapat, kepatuhan kepada norma-norma etika haruslah kita kedepankan.
Di alam demokrasi, tentu saja kita bebas mengekspresikan pendapat dan menyampaikan kritik secara terbuka. Di dunia maya, seseorang dapat mengemukakan pendapat kritik baik dengan menyebutkan nama asli, atau menggunakan nama samaran. Saya diingatkan oleh beberapa rekan, agar lebih melihat kepada substansi yang dikemukakan daripada melihat kepada siapa yang membuat posting. Saya sependapat dan berterima kasih dengan semua nasehat itu. Namun demikian, secara etis saya tetap berpendapat bahwa semua orang haruslah bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan. Seseorang tidak dapat berdalih kebebasan, kemudian melakukan serangan dengan kata-kata yang keras dan tajam di luar batas-batas norma kepatutan terhadap orang lain. Seseorang tetap tidak dapat dibenarkan menyebarkan rumors, apalagi fitnah yang dapat menyebabkan runtuhnya harkat dan martabat seserang.
Dari sudut pandang etika, sangatlah tidak bertanggungjawab, apabila seseorang yang menggunakan nama samaran mengumbar fitnah dan caci-maki terhadap seseorang yang ada di alam nyata. Besar kecilnya dampak segala rumors, fitnah dan caci-maki, haruslah dipulangkan kepada mereka yang menjadi korban. Kita tidak dapat mengatakan: dampaknya tidak besar, karena itu boleh saja kita melakukannya. Berapa banyak mereka yang mungkin menjadi korban, namun tidak berdaya. Akhirnya membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Kita tidak boleh pula mengatakan, bahwa semua itu adalah risiko menjadi orang terkenal, entah politikus, pejabat pemerintahan atau artis dan bintang film. Memang itu adalah risiko, tetapi apakah memfitnah dan mencaci maki, secara etika tetap dibenarkan?
Pengalaman saya di dunia blog ini juga menyadarkan saya bahwa tidak semua orang yang nampak garang, akan bersedia menerima kegarangan orang lain terhadap dirinya. Tidak sedikit yang menulis dengan nada sangat kritis terhadap seseorang dan kemudian ditampilkan di dalam blog mereka. Namun, ketika kritik itu ditanggapi dengan kritis pula, mereka mendelete posting itu dan tidak menampilkannya. Tentu saja di dunia perblogan hal itu memang dimungkinkan, sesuai aturan permainan yang disepakati. Tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa mereka yang berteriak demokrasi dan kebebasan berekspresi, ternyata secara mental belumlah siap. Mereka hanya ingin hebat sendiri dan ingin menang sendiri. Kritik hanya berlaku bagi orang lain, tapi bagi awak nanti dulu. Namun, fenomena seperti itu ternyata bukan hanya di dunia blog. Beberapa koran yang memiliki edisi online juga melakukan hal yang sama. Begitu garang mereka membuat berita. Begitu tajam mereka menulis editorial atau tajuk rencana. Namun ketika ditanggapi dengan kritis, mereka memoderasi tanggapan itu. Masih untung kalau demikian. Sebagian malah hanya menampilkan tanggapan itu sejam dua jam, sesudah itu tak nampak lagi di layar kaca.
Saya ingin bersikap terbuka dengan siapa saja di blog saya ini. Selama blog saya ini ada, hanya sekali saya mendelet sebuah kalimat dalam posting yang isinya dukungan untuk mengkonsumsi narkotika. Selebihnya, saya membiarkan apa adanya. Saya berusaha sekuat hati agar tidak terlena dengan segala macam pujian dan sanjungan. Saya akan terus berjuang sepenuh hati pula untuk menahan diri terhadap segala kritik, walaupun dengan kata-kata yang tajam. Saya telah belajar bahwa menanggapi kritik yang tajam dengan kata-kata penuh tuduhan dengan kata-kata yang sepadan, hasilnya hanya akan sia-sia. Ketika saya menanggapi Dragonwall di Indonesia Matters, saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walau saya kira belum sebanding dengan kata-kata keras yang ditutujukannya kepada saya. Beberapa rekan menasehati saya akan jangan bersikap demikian. Saya berterima kasih atas segala nasehat itu, dan saya menerima kritik yang mereka sampaikan.
Kepada Dragonwall, siapapun Anda, saya mohon maaf kalau saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walaupun seperti telah saya katakan di atas, mungkin belum sebanding dengan kata-kata yang telah Anda gunakan terhadap saya. Saya juga mengakui bahwa saya larut dalam suasana, sehingga saya salah menangkap apa yang Anda tuliskan. Benar, bahwa Anda tidak menyerang istri saya. Serangan terhadap istri saya ada di dalam topik yang lain, baik di Indonesia Matters maupun di Indcoup. Saya berterima kasih kepada seorang rekan yang menyarankan agar saya membaca blog yang terakhir ini. Saya juga telah salah memahami, serangan Anda kepada Aburizal Bakrie, seolah-olah serangan terhadap saya.
Saya menyadari bahwa berbagai hal yang dikemukakan Dragonwall, Janma, Arema, Bonar dan yang lainnya, baik di Indonesia Matters maupun di Unspun, atau tulisan lain di blog yang lain, suatu ketika nanti memang perlu saya jelaskan dari sudut pandang saya sendiri, dengan argumentasi-argumentasi dan bukti-bukti yang saya miliki. Apabila nanti semua telah saya jelaskan, maka segala sesuatunya akan saya kembalikan kepada mereka yang berkepentingan. Saya tidak mempunyai kewenangan apapun untuk memaksa orang lain untuk menerima, kalau mereka memang tidak merasa yakin. Saya sendiripun tidak dapat juga dipaksa orang lain terhadap apa yang saya sendiri tidak pernah yakin. Jika semua ini terjadi, saya menyerahkannya kepada pembaca yang lain untuk menarik kesimpulan sendiri-sendiri dan memberi penilaian. Saya hanya akan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Mungkin waktu jualah yang akhirnya akan mengungkapkan tabir dari sebuah kebenaran. Terhadap mereka yang terus ngotot dan ingin benar sendiri serta tidak pernah berhenti menyerang, saya hanya akan berdoa seperti doa Nabi Isa a.s: Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang ini, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Sementara saya, akan terus berusaha untuk bersabar dan mengendalikan diri.
Keinginan saya untuk menulis, memberikan tanggapan dan menjelaskan berbagai hal di dalam blog ini kadang-kadang memang terasa melelahkan. Saya ingin menegaskan bahwa semua tulisan yang saya buat, termasuk semua tanggapan, adalah tulisan saya sendiri. Tidak ada orang lain, apalagi staf yang membantu saya menulis dan memberi tanggapan. Ekspressi pikiran dan perasaan saya dalam menulis, nampak telah mempunyai nuansa tersendiri, yang mudah-mudahan dapat dibedakan oleh orang yang membacanya. Istri saya kadang-kadang saja membantu memperbaiki ejaan dan tatabahasa, jika saya menulis di dalam Bahasa Inggris. Kadang-kadang dia juga membantu saya menganalisis suasana batin seseorang sebagaimana terekspresikan ke dalam posting. Bahkan tidak jarang dia juga menganalisis suasana batin saya sendiri ketika saya menulis. Dia memang berlatarbelakang pendidikan psikologi dan gemar menelaah literatur filsafat.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan menegaskan sekali lagi, bahwa saya banyak belajar dan memetik hikmah dari dunia blog ini. Saya hidup di sebuah zaman, ketika perkembangan teknologi informasi telah berkembang maju. Begitu banyak tulisan yang dimuat, yang secara langsung atau tidak, bersintuhan dengan diri saya sendiri. Saya berkewajiban untuk meluruskan, menjelaskan dan bertukarpikiran terhadap hal-hal yang saya pandang perlu untuk ditanggapi. Sementara itu, kesempatan yang ada ini dapat pula saya manfaatkan untuk menyumbangkan pikiran dan gagasan, serta berbagi pengalaman. Semoga semua itu akan ada manfaatnya bagi saya pribadi dan bagi kita semua.
Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan semua persoalan.
Wallahu’alam bissawab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 23rd, 2007
104 tanggapan untuk “SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN”
Pages: [1] 2 3 4 » Show All
jalansutera (komentar #1)
pertamax nih keliatannya. bahasannya panjang banget. membacanya perlu waktu. nanti komentar lagi ah…
November 23rd, 2007 at 11:39 am
hariadhi (komentar #2)
Nah.. selamat. Pak Yusril sudah maju dengan mental pemenang. :D Selamat datang di dunia kebebasan, Pak! (iya sih, kebebasan itu absurd, apalagi yang di internet :D)
November 23rd, 2007 at 11:40 am
Vavai (komentar #3)
#jalansutera, selamat, menjadi pertamax :D
Saya malah cetak dulu baru baca, lumayan bisa tambah bacaan setelah shalat Jum’at :P
November 23rd, 2007 at 11:49 am
ndoro kakung (komentar #4)
diskusi selanjutnya, perlukah etika di ranah blog? siapa yang memiliki otoritas merumuskan etika itu?
November 23rd, 2007 at 12:53 pm
Luthfi (komentar #5)
apakah ini materi khutbah jumat tadi Pak?
November 23rd, 2007 at 1:08 pm
eRry (komentar #6)
Secara umum, kebebasan itu ada batasnya. Tetapi sampai mana batasnya itu, masih dalam persepsi subjektif dari tiap kelompok maupun perorangan ..
November 23rd, 2007 at 1:30 pm
aNdRa (komentar #7)
Maaf pak Yusril, numpang komentar.
@ndoro kakung:
Menurut saya perlu, namun belum punya bayangan bagaimana merumuskannya. Seperti juga etika di dunia nyata, yang sangat beragam sesuai norma yang berlaku di suatu komunitas/masyarakat. Saya sangat mendukung seandainya ada yang mau bersama-sama merumuskan “etika universal” di dunia maya khususnya dalam hal memposting dan mengomentari blog. Tapi apakah nanti blog akan kehilangan kekuatannya dlm hal kebebasan berekspresi? *bingung*.
November 23rd, 2007 at 1:31 pm
nugrahadi (komentar #8)
@andra :
bukankah dulu sudah pernah ada netiket ?? tapi sepertinya tidak pernah dipahami, seperti kasus sebuah milis aktivis yang lagi hangat :D
November 23rd, 2007 at 1:38 pm
Pamulat Yuwono (komentar #9)
Pak,
Katanya ada yah kebebasan bagi warga untuk mengakses informasi negara selama tidak melanggar kerahasiaan negara ?
Kalau iya ada, nanti kapan2 ditulis di Blog ya pak, pengalaman bapak selama di ‘ring 1′. Tentunya untuk informasi-informasi yang bermanfaat bagi khalayak ramai. Dan yang bisa kita petik bersama hikmahnya.
November 23rd, 2007 at 1:42 pm
Baihaqi (komentar #10)
Assalamualaikum P Yusril.
Beberapa tahun terakhir kebanyakan dari kita memang tenggelam dalam euphoria kebebasan dan demokrasi. Malah menerut saya cenderung “kebablasan” dari pada “kebebasan”. Banyak yang suka menyuarakan sesuatu dengan prinsip “pokok’e” (bhs jawa). Asal tidak setuju, tanpa menawarkan alternatif. Sedikit-sedikit turun ke jalan untuk demo (dipikirnya demonstrasi = demokrasi). Sering tema yang diusung suatu demo adalah penegakan hukum, tetapi demonya dengan melanggar hukum, pakai motor tanpa helm, duduk diatas kap bus dlsb.
Kebebasan di Internet? Saya rasa juga ada batasnya. Di Australia, sudah banyak yang ditangkap polisi akhir-akhir ini karena memposting komentar tidak senonoh di blog seorang remaja putri.
BTW, senang baca tulisan bapak, banyak pencerahan yang saya peroleh.
Wassalam
November 23rd, 2007 at 1:49 pm
daustralala (komentar #11)
sikap yang genuine dari seorang gentleman nih…
November 23rd, 2007 at 1:53 pm
dedi adityawarman (komentar #12)
Akhirnya…
Alhamdulillah, akhirnya Prof memutuskan untuk memulai wacana yang lebih bermutu ketimbang meladeni dragonwall di indonesiamatters. (kami lebih dulu mencoba mengcounter beberapa statement bung dragon tetapi nampaknya mengendap di redaksi indonesiamatters. Ya sudah.)
Prof YIM yth. Dalam beberapa hal, nampaknya Anda adalah seorang yang jujur (nyaris identik dengan lugu). Di sisi lain, meski Anda sekarang bukan pejabat negara, tetapi Anda masih memiliki akses terhadap penyelenggaraan negara ini. Jadi kalau ada yang mengusulkan agar Anda mencalonkan diri sebagai capres, hendaknya itu diartikan sebagai harapan agar negara yang telah berada di bibir jurang kehancuran ini, mungkin, bisa diselamatkan oleh seorang akademisi hukum tatanegara yang punya pengalaman dikhianati (dan punya pengalaman nge-blog hahaha).
“Ditelikung”-nya Anda oleh pers, mungkin merupakan PR seorang pakar hukum agar kelak kebebasan pers tak lagi dimanfaatkan untuk mengangkat seseorang dan menjatuhkan yang lain. Masih dalam konteks kebebasan, agaknya diperlukan perangkat aturan agar indonesiamatters, misalnya, atau berbagai mediamassa, tak dapat lagi pilih kasih dalam memuat dan mengedepankan opini publik.
November 23rd, 2007 at 1:54 pm
acing (komentar #13)
buset…. waktu nulis diurutan ke5 eh pas posting udah yg ke 11
November 23rd, 2007 at 2:25 pm
acing (komentar #14)
rasanya saya salah kamar deh… saya pindah ke kata pengantar aja ah… bang Yus komen disini mohon di hapus ajah….
November 23rd, 2007 at 2:32 pm
almasih (komentar #15)
whalaah.., akhirnya saya dapat juga sedikit hikmah dan pembelajaran.
Padahal sudah lebih setahun saya berblog-ria. Entah sudah berapa situs yang saya, pembuatnya bahkan tidak bisa mengakses karena lupa password. Sedikit pembelajaran yang saya dapatkan, mungkin bisa disebut begitu, adalah mending ga usah buat situs, jelajahi saja, komentari dimana perlu.
untuk orang sekelas saya yang menulis buku harian saja tidak (disempatkan), itu lebih baik.
November 23rd, 2007 at 2:49 pm
Aoklah (komentar #16)
Assalamualaikum wr wb
Galeri foto kapan ada isinya bang?.. :)
November 23rd, 2007 at 3:08 pm
an006 (komentar #17)
Kebebasan itu ada….
Karena tidak adanya tekanan…..
Tekanan akan konsekuensi dari kebebasan yang ia gunakan….
Tidak selamanya seseorang berani karena benar….
Terkadang orang berani karena bodoh…..
Sebagai orang yang pinter….
Tentunya sebuah negara gak bakalan nyerang negara lain yang jelas-jelas punya power kayak “senjata nuklir” kalo gak mau mati….
Itulah sedikit alasan kenapa orang “enggan” membuka jatidirinya ketika menghadapi negara super power “gue punya kekuatan untuk menjarain elo kalo perlu” seperti bapak…
jadi inget rezim harto kan?
Begitu turun baru deh semua orang berani buka mulut
November 23rd, 2007 at 4:13 pm
Epat (komentar #18)
Selamat datang pak di ranah blog “republik indonesia”.
Menurut saya kebebasan atau kemerdekaan yang hakiki adalah tidak akan pernah ada selama kita masih menjadi yang diciptaKan. :-D Nurani dan Hikmah lah yang akan mengawal setiap individu untuk menjadi lebih baik baik.
November 23rd, 2007 at 4:47 pm
Yandri (komentar #19)
Cyberlaw di Indonesia?
kalau Cybercrime… banyak..!
Sebagai pakar hukum dan sudah masuk ke dunia cyber, tidak ada salahnya jika bapak membuat formula hukum terhadap cybercrime.. Kalau sdh jadi, rame2 kita datang ke DPR untuk disyahkan.
Tapi siapa yg mau membayar DPR agar undang2 cybercrime ini mulus utk disyahkan…
(Jangan bilang… “Gitu aja kok repot..!)
La, repotlah… hehehe…
Wong, undang2 pornografi dan porno aksi aja sampe sekarang DPR belum mensyahkan… (mungkin dpt “mengganggu” kinerja” anggota DPR… kali ya?)
November 23rd, 2007 at 5:23 pm
Fadli (komentar #20)
Wah…jadi ikut metikhikmahnya nih pak…
thx…n wellcome di ranah blog
bisa request gak pak.?
Posting tentang masa muda bapak ketika berguru dengan
tokoh2 nasional..
trims sebelumnya
November 23rd, 2007 at 5:25 pm
ayahshiva (komentar #21)
wah kalo di pecah pecah bisa jadi 4-5 kalo postingan neh
November 23rd, 2007 at 5:37 pm
ThrowInside » Perlukah sejarah dihapus, ? (komentar #22)
[...] *sekedar tambahan, baru jalan-jalan ke blog pak Yusril. perspektif tentang kebebasan diulas cukup menarik oleh beliau disini. [...]
November 23rd, 2007 at 5:41 pm
edo (komentar #23)
salam kenal pak Yusril. senang akhirnya blog resmi bapak hadir pasca di blogspot. saya jadi dapat sumber baru untuk belajar :)
mohon ijin untuk sedikit berpendapat, bang yusril..
anyway, sometimes saya justru merasa etika di dunia internet or blogger justru lebih beretika daripada di dunia real. paradoks kebebasan disatu sisi justru malah menyebabkan law of nature itu terjadi. ketika kita menulis asal, akan ada banyak orang yang memprotes. ketika kita difitnah, ada sekian banyak pula yang memberikan data-data yang justru membantu kita memposisikan diri dengan benar. blog yang isinya cuma pengen cari ratting tanpa ada “isi” hanya akan menikmati popularitas sesaat, lalu mati dengan sendirinya. kita tidak lagi terpaku oleh bahwa “yang muda tidak boleh bicara”, tidak lagi dibohongi oleh penampilan yang perlente dan sebagainya.
dunia ini memberikan potret etika, keadilan dan kebebasan tersendiri buat kita..
salam, bang yusril…
November 23rd, 2007 at 5:55 pm
nico wijaya (komentar #24)
Numpang belajar.
November 23rd, 2007 at 6:50 pm
sufehmi (komentar #25)
Amat betul sekali pak. Salah satunya dibahas disini
Pengalaman Menteri Pertanian (Pak Anton) juga serupa. Beliau difitnah di media massa. Lalu untuk mengklarifikasinya, beliau mengadakan press release.
Kemudian apa yang terjadi ? Press release tersebut tidak ada dimuat, sehingga sama saja seperti beliau tidak pernah merespons sama sekali.
Belakangan baru diketahui bahwa beberapa boss media ybs punya business interests yang terancam dengan kebijakan2 Pak Anton yang pro rakyat.
Akhirnya beliau minta tolong untuk dibuatkan blog. Walaupun sampai saat ini beliau masih dibantu oleh staffnya (sampai dikritik karena blognya seperti press release), namun beliau membaca SEMUA komentar dan membalasnya.
Yang lucu, dulu itu semua komentarnya beliau balas langsung via email (karena saya setting agar komentar yang masuk di blog otomatis dikirim ke email beliau). Bagus sih, cuma sayang kan karena replynya jadi hanya bisa dinikmati oleh komentator ybs :)
Setelah saya kirim panduan cara membalas komentar di blog, kemudian pak Anton sudah mulai membalasi beberapa komentar dari posting-posting ybs.
Masih tertarih-tatih, karena kesibukan & berbagai keterbatasan beliau, namun kita perlu hargai niat baik & semangatnya.
Nah alhamdulillah pak Yusril ada diberi kelebihan oleh Allah swt yaitu kemampuan untuk mencurahkan pikirannya dalam bentuk tulisan. Mudah-mudahan dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, Amin.
Thanks.
November 23rd, 2007 at 7:08 pm
Erwan (komentar #26)
Assalamualikum bang Yusril,
Tulisan yang luar biasa, inilah salah satu kelebihan bapak yang saya kagumi, kemampuan bapak untuk memindahkan tulisan kedalam visualisasi yang mudah untuk dimengerti. Saya seolah membayangkan bapak sedang berdiri didalam kelas memberi kuliah filsafat.
Bagi saya kebebasan adalah keseimbangan. Normatifnya membicarakan kebebasan sama dengan membicarakan sesuatu yang secara lahiriah sudah ada sebelum ada itu sendiri ada. Sesuatu yang “sengaja” diciptakan oleh sang khalik karena kesempurnaan hanyalah milikNya. Jika kebebasan itu adalah milik manusia maka manusia dalam konteks khaliknya cukuplah sampai pada tahap keseimbangan.
Yang selalu menjadi pertanyaan atas persoalan kebebasan adalah siapa yang menentukan kebebasan. Dalam konteks yang lebih heroik sejauh mana kebebasan mampu berkontribusi pada perubahan. Padahal secara lahiriah manusia terdorong kearah perubahan. Sulit bagi saya untuk membayangkan perubahan Indonesia yang lebih baik jika Negara dalam hal ini pemerintahan yang sedang berkuasa terlalu mendominasi defenisi tentang kebebasan itu sendiri.
Kebebasan dalam bahasa sang khalik atau keseimbangan dalam bahasa manusia adalah lahir dari ketidakbebasan atau ketidakseimbangan itu sendiri. Malah dalam salah satu literatur yang sempat saya baca kiamat itu sendiri adalah akumulasi dari ketidakseimbangan. Mati atau meninggal awam dikatakan sebagai kiamat kecil adalah salah satu bentuk ketidakseimbangan tubuh dalam merespon dunia luar. Maka sampailah manusia pada keseimbangan baru. dalam Islam mereka memulai hidup dalam alam barzah.
Yang menjadi persoalan adalah persfektif kita tentang keseimbangan itu sendiri yang cenderung melihat ketidakseimbangan sebagai sesuatu yang “negatif”. Mungkin hal ini dipengaruhi oleh naluri alamiah manusia untuk mencapai kesempurnaan. Padahal sudah sangat jelas dikatakan bahwa kesempurnaan hanyalah milik sang khalik. Tidak pernahkah kita melihat ketidakseimbangan sebagai sesuatu yang positif. Pembangkit Listrik Tenaga Air misalkan yang digerakkan oleh air yang mengalir dari tempat yang tinggi ke tempat yang rendah. Mengalir dari sesutu yang berasal dari ketidakseimbangan tempat. Atau bukankah ketidakseimbangan pula yang menghantarkan tokoh-tokoh muda maju dalam pentas politik nasional diawal orde reformasi.
Demikian halnya dengan etika kebebasan menjadi sangat relatif jika kita melepaskan kebebasan pada kebebasan itu sendiri. Ia menjadi sangat subjektif karena norma dan Etika akan sangat ditentukan oleh dominasi kepentingan dalam lingkaran dampak dari kebebasan itu sendiri. Mungkin kebebasan menjadi kurang bermakna. Namun apalah arti makna itu sendiri bagi kebebasan. Sekali lagi kebebasan hanya milik sang Khalik manusia tidak akan pernah sampai pada kebebasan sejati. Bagi saya debat tentang kebebasan tak kan pernah sampai pada kata sepakat walaupun etika dan norma diikutsertakan dalam ruang yang sama. Terima Kasih
November 23rd, 2007 at 8:32 pm
firdaus arifin (komentar #27)
Ass, wr. wb. Pak yusril, sangat bagus sekali posting ttg makna kebebasan, tulisannya sangat dalam n filosofis. Saya berharap rekan2 blowgger dapat tercerahkan. oya terkait dengan fitnah dan berbagai pernyataan tendensius terhadap pribadi bpk beserta istri yang dilakukan oleh dragonwall dll, saya hanya ingin sampaikan, bahwa hal2 seperti itu tdk usah direspon pak yusril, anggap aja itu orang sinting/orang yg ga punya etika dan agama. Wassalam FIRDAUS ARIFIN
November 23rd, 2007 at 10:04 pm
herru (komentar #28)
Saya berpendapat sudah seharusnya pemerintah memberikan perhatian lebih kepada blogger saat ini. Alur lalu lintas opini dan berita dalam blog bisa dijadikan inputan bagi pemerintah, pun kebebasan dalam berblog harus diperhatian.
November 23rd, 2007 at 11:51 pm
Wibisono Sastrodiwiryo (komentar #29)
Dear Pak Yusril,
Pertama tama saya ingin menyampaikan selamat atas perkembangan yang telah Anda alami selama sebulan mengarungi dunia Blog.
Saya ingin share tentang tema kebebasan dalam dunia Blog. Kebebasan akan selalu tak pernah cukup, sama seperti halnya nafsu, kalau diperturutkan tak akan ada habisnya.
Saya mewajibkan orang yang komentar di Blog saya untuk berkata santun dan menggunakan identitas asli (bukan samaran). Sangsinya jika dilanggar adalah paling ringan tidak saya tanggapi tapi paling berat saya akan hapus komentarnya.
Sampai sekarang saya belum pernah menghapus komentar karena pengunaan nama samaran tapi kalau penggunaan kata kasar pernah karena menghujat Kerajaan Malaysia dengan perkataan sangat kasar (walaupun saya sedang tidak suka dengan Malaysia tapi saya tidak setuju hujatan sarkastik rendahan ada dalam Blog saya).
Walhasil yang komentar jadi lebih sopan dan bermartabat dalam berkomentar. Sungguhpun demikian mereka masih tetap mengeluhkan sikap saya tidak memperbolehkan penggunaan nama samaran.
Saya bilang kalau tetap mau pakai nama samaran jangan berharap terlalu banyak dari tanggapan saya. Rupanya mereka memilih tetap menggunakan nama samaran tapi tetap ingin mendapat tanggapan yang komprehensif dari saya.
Saya tetap beri tanggapan seproporsional mungkin dengan sarat penggunaan bahasa yang santun. Jadi mereka tetap ingin menikmati kebebasan tanpa harus “membayar mahal”.
Hikmahnya bagi saya dalam menanggapi komentar yang menyerang adalah latihan mengendalikan diri, tenang dan adil dalam menanggapi komentar.
Jam terbang dalam blogging sangat mengambil peran penting. Masih banyak blogger yang tidak mau menanggapi komentar negatif. Seperti yang pernah saya lihat: menjawab dengan tenang dan penuh pengertian akan mampu mengubah pandangan komentator negatif tersebut.
Akan sulit diceritakan, saya yakin Pak Yusril suatu saat nanti akan mengalaminya, atau bahkan mungkin sudah mengalaminya karena penjelasan Pak Yusril pada postingan saya.
November 24th, 2007 at 2:31 am
sawali tuhusetya (komentar #30)
Assalamu’alaikum Wr.wb.
Wah, selamat memasuki dunia maya, Pak Yusril. Salut nih sudah mau berbagi ilmu dan pengalaman melalui blog.
Tentang makna kebebasan di dunia maya, memang orang bisa ngomong apa saja, tanpa dibatasi dimensi ruang dan waktu. Namun, perlahan tapi pasti akan terseleksi dengan sendirinya oleh “alam”. Mereka yang tidak bisa menggunakan kebebasan berekspresi dengan rasa tanggung jawab, pengunjunglah yang akan menjadi hakimnya. Ini artinya *halah sok tahu nih* kebebasan di dunia justru akan sangat dibatasi oleh kemungkinan2 pendapat lain yang akan disampaikan oleh publik. Lain dengan demo, misalnya, habis orasi, mereka bisa langsung menghilang. Tapi di dunia maya, tulisan2nya akan terus memfosil dalam ranah publik.
OK, salam kenal, Pak.
November 24th, 2007 at 3:21 am
Pages: [1] 2 3 4 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda