Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Setelah lebih kurang sebulan mengharungi dunia blog, akhirnya saya harus mengakui bahwa saya dapat memetik banyak hikmah dan pelajaran. Dunia maya ini adalah laksana dunia tanpa batas. Mungkin sudah terlalu lama di negara kita ini masyarakat merasa terkekang, sehingga banyak yang takut menyampaikan pikiran dan pendapatnya secara terbuka. Walaupun sejak era Presiden Habibie kebebasan mulai dibuka, namun masih banyak yang khawatir dan ragu-ragu. Di dunia maya ini, seseorang akan menemukan kebebasan yang selama ini didambakannya. Berbagai tulisan bermunculan dengan aneka ragam bentuk dan gaya bahasa, mulai dari menyampaikan harapan, saran, keluh-kesah, sampai yang menghujat dan mencaci-maki. Ada pula yang menggunakan kebebasan itu untuk menyebarkan desas-desus, rumors, sampai kepada fitnah yang dapat menyudutkan seseorang yang sungguh-sungguh ada di alam nyata. Menjadi pertanyaan bagi saya, apakah kebebasan dalam makna yang sesungguhnya itu memang ada?
Sebelum saya memasuki pembahasan mengenai bahan pelajaran yang dapat saya petik seperti tertera dalam judul tulisan ini, saya ingin lebih dahulu membahas makna “kebebasan” beserta implikasi-implikasinya bagi kehidupan manusia. Saya ingin menguraikannya dalam bahasa yang sederhana, sehingga pembahasan ini tidak nampak begitu rumit, dan memusingkan kepala mereka yang membacanya. Kalau kita ingin membahasnya lebih dalam, kita akan melangkah memasuki dunia filsafat dan pemikiran keagamaan. Dunia ini, juga merupakan dunia tidak bertepi. Perdebatan filsafat dan agama, adalah telah berlangsung sepanjang sejarah, sejak pertama kali manusia mampu berpikir logis dan sistematis. Namun perdebatan itu tidak pernah sampai ke hujung. Kita memang harus maklum, sepanjang manusia ada di muka bumi ini, selama itu pula problema akan ada. Manusia akan terus berupaya untuk mengkritisi setiap masalah yang muncul, dan berusaha menemukan jawabannya.
Setiap bahasa tentulah mempunyai perbendaharaan kata “kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu. Tetapi adakah kebebasan yang sesungguhnya, kebebasan yang tanpa batas? Pertanyaan ini seperti mengandung paradoks. Kalau kebebasan ada batasnya, masihkah dia dapat kita sebut sebagai kebebasan? Jika kita melihat ke dunia fisik, kebebasan dalam arti yang absolut sesungguhnya tidaklah ada. Secara fisik, manusia dan bahkan semua makhluk, terikat kepada hukum-hukum alam, terikat kepada the laws of nature. Para pemikir agama Islam, mengkaitkan hukum-hukum alam itu dengan sunnatullah, yakni hukum-hukum Allah yang tidak tertulis, yang mengatur seluruh isi alam semesta, demi memelihara keseimbangan dan menjaga kelangsungan keberadaan seluruh makhluk. Beberapa kali kata sunnatullah itu disebutkan di dalam al-Qur’an. Ambillah contoh sederhana: kita ingin hidup seperti ikan di dalam air, atau kita ingin terbang di udara seperti burung, atau pula kita ingin seperti penyu, biawak dan buaya yang hidup di air dan di darat. Dapatkah kita bebas mewujudkan keinginan kita? Tentu saja tidak. Kebebasan di dunia fisik, dibatasi oleh hukum-hukum alam. Tidak seorangpun mampu melampauinya, betapapun mereka sungguh menginginkannya.
Kalau di dunia fisik kebebasan yang sesungguhnya itu tidak ada, bagaimanakah halnya dengan kehidupan sosial umat manusia? Apakah mereka boleh melakukan apa saja yang mereka kehendaki? Apakah mereka boleh mengatakan apa saja yang mereka inginkan? Jawabannya ternyata tidak juga. Kalau di dunia fisik segalanya dibatasi oleh hukum alam, maka dalam kehidupan sosial umat manusia, batas-batas itu ditentukan oleh norma atau kaidah. Norma adalah konsepsi abstrak dalam alam pikiran dan perasaan manusia, yang isinya di satu pihak adalah suruhan, dan di lain pihak adalah larangan. Norma-norma itu mengandung sifat imperatif, sesuatu yang mengandung perintah untuk dihormati, dijunjung dan ditaati. Ambillah contoh: bolehkah kita menganiaya orang lain? Bolehkah kita berdusta? Bolehkah kita mengambil milik orang lain tanpa izinnya? Bolehkah kita menghilangkan nyawa orang lain tanpa sebab? Bolehkah kita menyebarkan fitnah terhadap orang lain? Jawab kita tentu tidak boleh. Mengapa tidak boleh? Sebab norma membatasi kebebasan kita. Manusia masih dapat dianggap sebagai manusia, jika mereka menyadari adanya norma-norma yang harus ditaati. Tanpa itu semua, manusia mungkin akan kehilangan hakikat kemanusiaannya yang sejati.
Begitu mendasarnya masalah norma dalam kehidupan manusia, telah menyebabkan pembahasan terhadap masalah itu menjadi tema penting dalam setiap ajaran agama. Para filsuf –seperti telah saya katakan di awal tulisan ini — juga membahasnya dengan dengan berbagai kerangka pemikiran dan sudut pandang. Mereka menggolongkan pembahasan tentang masalah itu ke dalam Filsafat Moral atau Etika. “Ten Commandments” atau sepuluh perintah Tuhan yang dibawa Nabi Musa, yang antara lain berisi larangan membunuh, berdusta dan berkhianat, semuanya semuanya dapat dikategorikan sebagai norma-norma di bidang etika. Tema yang sama diulangi lagi di dalam al-Qur’an. Panch Sila, yakni lima larangan bagi orang awam, dan Dasa Sila, yakni sepuluh larangan bagi para rahib di dalam ajaran Buddha, adalah juga norma-norma di bidang etika. Mo Limo dalam filsafat Jawa, nampaknya juga merupakan rumusan norma di bidang etika.
Ajaran agama-agama, kecuali Buddhisme, mengkaitkan kesadaran terhadap norma dengan keimanan kepada Tuhan Yang Maha Mendengar dan Maha Mengetahui, serta keyakinan akan adanya kehidupan yang kekal di akhirat. Meskipun di dunia ini, dalam kenyataannya, ada orang baik bernasib buruk dan ada pula orang jahat bernasib baik, namun semua hanyalah sementara. Di akhirat nanti, orang baik akan mendapat tempat yang baik, mereka masuk surga Jannatun Na’im. Orang jahat akan mendapat tempat yang sebaliknya, mereka dimasukkan ke dalam Neraka Jahannam. Para filsuf Marxis, tentu saja menyanggah semua doktrin keagamaan seperti ini. Sebagian ilmuwan juga sejalan pikirannya dengan filsuf Marxis. Memang, hingga sekarang penelitian tentang keberadaan surga dan neraka, belum dapat dibuktikan secara empiris. Itu semua berada di luar jangkauan kajian saintifik.
Di dalam Islam, manusia disuruh mendekatkan diri kepada Tuhan atau taqarrub ilallah. Semakin dekat manusia kepada Tuhannya, akan semakin peka hati nuraninya terhadap persoalan-persoalan etika. Semakin jauh manusia dari Tuhannya, semakin hilang pula rasa kepekaan itu. Semua ini berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran norma moral. Sanksi itu tidak akan kita temukan di mana-mana, kecuali pertama-tama ada di dalam hati nurani kita sendiri. Ada perasaan bersalah di dalam hati, jika kita melanggar norma etika. Tidak perlu orang lain tahu, apalagi menghukum kita. Cukuplah hati nurani kita yang berbicara kepada diri kita sendiri. Namun di dunia nyata, di zaman sekarang, rasa kepekaan hati nurani itu terasa kian menipis, di tengah haru-biru perubahan dan perjuangan untuk mempertahankan hidup. Seorang teman berkata kepada saya: “Boss, janganlah terlalu idealis… di zaman sekarang, jangankan mau mencari yang halal, mencari yang haram saja susah. Cobalah Boss pergi ke hutan, jangankan mau berburu rusa atawa pelanduk. Mau berburu babi saja susah bukan main”. Saya hanya tertawa. Lidah saya terasa kelu, seperti kehabisan kata-kata menghadapi teman saya itu. Dia memang orang “realistis” atau katakanlah “pragmatis”.
Kita kembali ke soal norma. Oleh karena sanksi terhadap pelanggaran norma moral itu hanya ada di dalam hati – atau paling jauh kecaman masyarakat terhadap seeorang yang melakukannya – maka tidak jarang norma-norma moral itu kemudian ditransformasikan menjadi norma hukum, tertulis maupun tidak tertulis. Norma hukum lebih eksplisit rumusannya dan lebih tegas ancaman sanksi bagi barangsiapa yang melanggarnya. Penegakan norma-norma hukum dilakukan oleh sebuah otoritas yang memiliki kewenangan untuk itu. Sebenarnya, kalau norma-norma etika ditaati, maka pelanggaran terhadap norma hukum akan dapat diminimalkan. Sebaliknya juga, jika norma-norma hukum begitu longgar, tidak tegas atau memang belum mampu menjangkau suatu perbuatan, maka norma etika harus diperkuat. Tanpa itu, kehidupan masyarakat akan centang perenang, carut-marut tak tentu arah.
Di negeri kita, sejak kita memasuki era Reformasi — seperti telah saya singgung di alinea pertama tulisan ini — beberapa norma hukum kita telah diperlonggar, antara lain norma-norma hukum di bidang pers dan norma-norma kemerdekaan berserikat, menyatakan pikiran dan pendapat. Norma-norma hukum di bidang hak asasi manusia mulai dikedepankan. Semua itu sungguh positif bagi rakyat kita yang mendambakan tegaknya demokrasi di negeri ini. Namun di sisi lain, kecenderungan semakin melemahnya norma-norma etika terasa makin menguat. Kalau keadaan ini tidak menjadi perhatian kita bersama, maka secara perlahan-lahan bangsa kita akan mengalami keruntuhan. Kalau semuanya aji mumpung dan hantam kromo, maka sukar bagi kita untuk meraih masa depan yang lebih cerah. Tanpa kepatuhan terhadap norma etika, di tengah longgarnya norma hukum, maka orang dengan mudah menyuarakan apa saja yang ingin mereka suarakan, dan berbuat apa saja yang mereka inginkan, tanpa berpikir lebih jauh konsekuensi apa yang akan terjadi. Dalam suasana kebebasan menyatakan pikiran dan pendapat, orang dengan mudah menyebar-luaskan fitnah dan caci-maki tanpa beban apapun di dalam kesadaran hati nuraninya. Seperti telah saya katakan, kepekaan hati nurani mulai menghilang.
Sekarang, saya ingin kembali kepada fokus utama tulisan ini, mengenai pengalaman saya yang baru sebentar di dunia blog. Adalah keliru kalau kita mengatakan bahwa di dunia maya ini tidak ada norma hukum. Berbagai negara telah merumuskan berbagai kaidah yang disebut sebagai hukum dunia maya atau cyberlaw. Setelah adanya internet, berbagai jenis dan bentuk kejahatan baru muncul ke permukaan, yang disebut sebagai kejahatan dunia maya atau cybercrime. Namun, secanggih apapun hukum diformulasikan, tetap saja dia tidak mampu mengejar kecepatan perkembangan teknologi informasi. Di negeri kita sendiri, norma-norma hukum di bidang ini belum banyak yang kita formulasikan. Aparatur penegak hukum kita juga belum siap untuk menanganinya. Dalam suasana seperti itu, saya berpendapat, kepatuhan kepada norma-norma etika haruslah kita kedepankan.
Di alam demokrasi, tentu saja kita bebas mengekspresikan pendapat dan menyampaikan kritik secara terbuka. Di dunia maya, seseorang dapat mengemukakan pendapat kritik baik dengan menyebutkan nama asli, atau menggunakan nama samaran. Saya diingatkan oleh beberapa rekan, agar lebih melihat kepada substansi yang dikemukakan daripada melihat kepada siapa yang membuat posting. Saya sependapat dan berterima kasih dengan semua nasehat itu. Namun demikian, secara etis saya tetap berpendapat bahwa semua orang haruslah bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan. Seseorang tidak dapat berdalih kebebasan, kemudian melakukan serangan dengan kata-kata yang keras dan tajam di luar batas-batas norma kepatutan terhadap orang lain. Seseorang tetap tidak dapat dibenarkan menyebarkan rumors, apalagi fitnah yang dapat menyebabkan runtuhnya harkat dan martabat seserang.
Dari sudut pandang etika, sangatlah tidak bertanggungjawab, apabila seseorang yang menggunakan nama samaran mengumbar fitnah dan caci-maki terhadap seseorang yang ada di alam nyata. Besar kecilnya dampak segala rumors, fitnah dan caci-maki, haruslah dipulangkan kepada mereka yang menjadi korban. Kita tidak dapat mengatakan: dampaknya tidak besar, karena itu boleh saja kita melakukannya. Berapa banyak mereka yang mungkin menjadi korban, namun tidak berdaya. Akhirnya membiarkan semua itu berlalu begitu saja. Kita tidak boleh pula mengatakan, bahwa semua itu adalah risiko menjadi orang terkenal, entah politikus, pejabat pemerintahan atau artis dan bintang film. Memang itu adalah risiko, tetapi apakah memfitnah dan mencaci maki, secara etika tetap dibenarkan?
Pengalaman saya di dunia blog ini juga menyadarkan saya bahwa tidak semua orang yang nampak garang, akan bersedia menerima kegarangan orang lain terhadap dirinya. Tidak sedikit yang menulis dengan nada sangat kritis terhadap seseorang dan kemudian ditampilkan di dalam blog mereka. Namun, ketika kritik itu ditanggapi dengan kritis pula, mereka mendelete posting itu dan tidak menampilkannya. Tentu saja di dunia perblogan hal itu memang dimungkinkan, sesuai aturan permainan yang disepakati. Tetapi fenomena ini menunjukkan bahwa mereka yang berteriak demokrasi dan kebebasan berekspresi, ternyata secara mental belumlah siap. Mereka hanya ingin hebat sendiri dan ingin menang sendiri. Kritik hanya berlaku bagi orang lain, tapi bagi awak nanti dulu. Namun, fenomena seperti itu ternyata bukan hanya di dunia blog. Beberapa koran yang memiliki edisi online juga melakukan hal yang sama. Begitu garang mereka membuat berita. Begitu tajam mereka menulis editorial atau tajuk rencana. Namun ketika ditanggapi dengan kritis, mereka memoderasi tanggapan itu. Masih untung kalau demikian. Sebagian malah hanya menampilkan tanggapan itu sejam dua jam, sesudah itu tak nampak lagi di layar kaca.
Saya ingin bersikap terbuka dengan siapa saja di blog saya ini. Selama blog saya ini ada, hanya sekali saya mendelet sebuah kalimat dalam posting yang isinya dukungan untuk mengkonsumsi narkotika. Selebihnya, saya membiarkan apa adanya. Saya berusaha sekuat hati agar tidak terlena dengan segala macam pujian dan sanjungan. Saya akan terus berjuang sepenuh hati pula untuk menahan diri terhadap segala kritik, walaupun dengan kata-kata yang tajam. Saya telah belajar bahwa menanggapi kritik yang tajam dengan kata-kata penuh tuduhan dengan kata-kata yang sepadan, hasilnya hanya akan sia-sia. Ketika saya menanggapi Dragonwall di Indonesia Matters, saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walau saya kira belum sebanding dengan kata-kata keras yang ditutujukannya kepada saya. Beberapa rekan menasehati saya akan jangan bersikap demikian. Saya berterima kasih atas segala nasehat itu, dan saya menerima kritik yang mereka sampaikan.
Kepada Dragonwall, siapapun Anda, saya mohon maaf kalau saya telah menggunakan kata-kata yang keras dan tajam, walaupun seperti telah saya katakan di atas, mungkin belum sebanding dengan kata-kata yang telah Anda gunakan terhadap saya. Saya juga mengakui bahwa saya larut dalam suasana, sehingga saya salah menangkap apa yang Anda tuliskan. Benar, bahwa Anda tidak menyerang istri saya. Serangan terhadap istri saya ada di dalam topik yang lain, baik di Indonesia Matters maupun di Indcoup. Saya berterima kasih kepada seorang rekan yang menyarankan agar saya membaca blog yang terakhir ini. Saya juga telah salah memahami, serangan Anda kepada Aburizal Bakrie, seolah-olah serangan terhadap saya.
Saya menyadari bahwa berbagai hal yang dikemukakan Dragonwall, Janma, Arema, Bonar dan yang lainnya, baik di Indonesia Matters maupun di Unspun, atau tulisan lain di blog yang lain, suatu ketika nanti memang perlu saya jelaskan dari sudut pandang saya sendiri, dengan argumentasi-argumentasi dan bukti-bukti yang saya miliki. Apabila nanti semua telah saya jelaskan, maka segala sesuatunya akan saya kembalikan kepada mereka yang berkepentingan. Saya tidak mempunyai kewenangan apapun untuk memaksa orang lain untuk menerima, kalau mereka memang tidak merasa yakin. Saya sendiripun tidak dapat juga dipaksa orang lain terhadap apa yang saya sendiri tidak pernah yakin. Jika semua ini terjadi, saya menyerahkannya kepada pembaca yang lain untuk menarik kesimpulan sendiri-sendiri dan memberi penilaian. Saya hanya akan berserah diri kepada Allah Ta’ala. Mungkin waktu jualah yang akhirnya akan mengungkapkan tabir dari sebuah kebenaran. Terhadap mereka yang terus ngotot dan ingin benar sendiri serta tidak pernah berhenti menyerang, saya hanya akan berdoa seperti doa Nabi Isa a.s: Ya Allah, ampunilah dosa orang-orang ini, karena sesungguhnya mereka tidak mengerti apa yang mereka perbuat. Sementara saya, akan terus berusaha untuk bersabar dan mengendalikan diri.
Keinginan saya untuk menulis, memberikan tanggapan dan menjelaskan berbagai hal di dalam blog ini kadang-kadang memang terasa melelahkan. Saya ingin menegaskan bahwa semua tulisan yang saya buat, termasuk semua tanggapan, adalah tulisan saya sendiri. Tidak ada orang lain, apalagi staf yang membantu saya menulis dan memberi tanggapan. Ekspressi pikiran dan perasaan saya dalam menulis, nampak telah mempunyai nuansa tersendiri, yang mudah-mudahan dapat dibedakan oleh orang yang membacanya. Istri saya kadang-kadang saja membantu memperbaiki ejaan dan tatabahasa, jika saya menulis di dalam Bahasa Inggris. Kadang-kadang dia juga membantu saya menganalisis suasana batin seseorang sebagaimana terekspresikan ke dalam posting. Bahkan tidak jarang dia juga menganalisis suasana batin saya sendiri ketika saya menulis. Dia memang berlatarbelakang pendidikan psikologi dan gemar menelaah literatur filsafat.
Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan menegaskan sekali lagi, bahwa saya banyak belajar dan memetik hikmah dari dunia blog ini. Saya hidup di sebuah zaman, ketika perkembangan teknologi informasi telah berkembang maju. Begitu banyak tulisan yang dimuat, yang secara langsung atau tidak, bersintuhan dengan diri saya sendiri. Saya berkewajiban untuk meluruskan, menjelaskan dan bertukarpikiran terhadap hal-hal yang saya pandang perlu untuk ditanggapi. Sementara itu, kesempatan yang ada ini dapat pula saya manfaatkan untuk menyumbangkan pikiran dan gagasan, serta berbagi pengalaman. Semoga semua itu akan ada manfaatnya bagi saya pribadi dan bagi kita semua.
Akhirnya, hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan semua persoalan.
Wallahu’alam bissawab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 23rd, 2007
104 tanggapan untuk “SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN”
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
jebee (komentar #31)
Assalamualikum
Salam keseimbangan para netter seantero…
Pak Yusril, senang bisa dapat langsung berdiskusi dan menyaring pencarahan dari Bapak.
Sangat menarik posting Bapak ini, tetapi dari uraian diatas saya kurang dapat menangkap pokok pembahasannya, apakah ini semacam wejangan, Khotbah Jumat kata kawan kita diatas, curhat, atau Bapak ada merasa tersentil oleh sentilan sentilan dari komunitas di jagad maya ini.
Namun paling tidak, bagi saya dapat menarik atas empat point, yakni KEBEBASAN, KESIMBANGAN, ETIKA dan HIKMAH.
Sebelumnya sebagai saran, untuk lebih banyaknya kita menimba pencerahan dari Bapak, kalau bisa nantinya Bapak dalam satu kali posting, cukup satu topik saja kemudian kita dialogkan bersama-sama, apakah tentang kritikan terhadap bapak, tentang keilmuan yang sangat banyak Bapak miliki, tentang kehidupan bermasyarakat, bernegara, hukum, tata pemerintahan, kemiskinan dsb.
sehingga kita bisa mengambil hilai/manfaat/hikmah dari dialog kita itu, juga sekaligus kita bisa memahami Bapak (sebelum dan sesudah dibukanya ruang Blog ini).
Pertama, tentang KEBEBASAN, Bapak menanyakan tentang makna “Kebebasan”, “kemerdekaan” atau yang sepadan dengan itu.
Sebenarnya Bapak sudah menjawabnya sendiri yakni : PARADOKS.
menurut saya itulah jawabannya.
Tidak ada yang sempurna didunia ini, kadang kita menuntut orang untuk menggunakan hak kebebasan/kemerdekaan dengan meminta untuk memperhatikan hak kebebasan yang kita miliki, tetapi apakah kita sendiri sudah memiliki standar kebebasan itu sendiri ?? memang di dalam agama ada norma agama yang mengaturnya, dalam bermasyarakat ada norma sosial yang mengikat, dalam bernegara ada hukum yang mengatur, tentunya Bapak lebih tahu dari saya.
Tetapi Pak, Kadangkala karena kita hanya seorang Manusia yang pasti memiliki kelemahan itu tadi, pasti juga ada melanggar rambu Kebebasan itu. Semua kita manusia hanya bisa berusaha.
Dalam kesempatan ini saya ingin mengomentari tentang Kebebasan Sosial yang mana fitrah kita sebagai Makhluk Sosial diluar tatanan HUKUM FORMAL atau AGAMA.
Oleh sebab itu menurut saya kita harus mendudukkan terlebih dahulu hal mana yang kita anggap ada pihak lain yang mungkin menurut kita agak menyimpang dari nilai kebebasan itu yang secara umum kita sepakati. bagimanapun “pihak” yang kita anggap melewati garis kebebasan itu, pasti mereka juga memiliki argumen dan pandangan sendiri yang mungkin kalau dilakukan dialog yang lebih panjang lagi, mungkin kita sendiri akan “Tertegun” bahwa ada lorong lain yang mempunyai cahaya yang mendekati kebenaran, yang mementahkan argumen yang telah kita yakini benar tadi, jika kita sendiri mau mengakui.
Sekilas saya berpendapat, Posting dan pemikiran bapak ini muncul, juga ada berkaitan dengan tersentilnya Bapak oleh kritikan terhadap diri bapak (semoga pendapat saya ini salah).
Menurut saya Pak, itu adalah konsekuensi hidup (bukan konsekuensi jabatan, mantan pejabat, selebritis, dsb), orang yang tidak merasakan seperti anugerah yang bapak dapatkan (pernah menjadi Menteri, Pendiri dan mantan Ketua partai berpengaruh, Seorang Guru Besar, seorang Artis, memiliki keahlian yang beragam, dsb) apakah itu tukang bakso, kuli tinta, kuli bangunan, pengemis, TKW, PSK, juga sama seperti bapak, juga pasti mendapatkan kritikan, tekanan, cacian dari lingkungan sosialnya, cuma bedanya kalau orang yang seperti kami kebanyakan ini tidak terpublikasi itu saja cuma bedanya Pak.
Dan sekiranya Bapak gerah dengan Publikasi yang Bapak anggap tidak berimbang itu, coba renungi lagi, bukankah bapak bisa menjadi besar salah satunya juga ada unsur Publikasinya ??
Semua itu adalah warna kehidupan Pak, dalam diri kita saja ada darah merah dan darah putih, begitu juga hidup ada pro ada kontra, justru semua itu adalah untuk menjaga KESEIMBANGAN itu tadi.
Kita tidak akan merasakan sebuah nikmat sanjungan dan pujian (yang bernada PRO) jika kita tidak ikut merasakan adanya nikmat sebuah hujatan (bernada KONTRA).
Kita tidak bisa tuntut orang untuk seperti yang kita bisa.
Kita menganggap orang tidak beretika, cara bicara atau memberikan pendapat yang seenaknya, kurang sopan dan santun, menurut saya BIARLAH….. itu tandanya orang tersebut memiliki kepedulian terhadap kita.
kalau sejenak kita pulangkan kediri kita, apakah kita juga tidak pernah menyakiti orang lain ?? mungkin iya tidak dengan kata-kata, tidak dengan sindiran, tidak dengan cacian, tetapi bisa saja mungkin dengan gerak tubuh, dengan ujung pena berupa tanda tangan, dengan khilaf memenuhi janji, dsb.
Pak, tanpa saya sadari sudah kepanjangan rupanya, tiada niat dan unsur untuk menggurui, Maaf saja jika kalimat saya Bapak rasakan seperti Menggurui, cuma begitu cara bicara dan bahasa yang saya punya Pak, semua hanya haus untuk mendapatkan nila pencerahan dan memperbaiki diri.
Tiga Point lagi tentang KESEIMBANGAN, ETIKA dan HIKMAH nanti saja komentarnya, Takut kepanjangan, menjemukan bagi kawan lain yang telah antri untuk berbagi komentar.
semoga Bapak mau membahasnya.
Itu dulu Pak, nanti disambung lagi…..
SALAM PENCERAHAN
JEBEE
November 24th, 2007 at 4:49 am
PrimaryDrive (komentar #32)
Yusril,
Setelah membaca cerita dan renungan anda ttg pengalaman pertama anda di dunia blogging, kami masih menunggu tulisan anda ttg isu2 yang lebih substansial :)
Coba saya ingin menanyakan bagaimana pendapat anda ttg hal berikut ini. Apakah instrumen pemerintahan RI sebetulnya sanggup untuk berfungsi dengan memadai? Artinya, apakah sebetulnya riil untuk memerintah dan mengatur negara dr sabang sampai merauke, dengan penduduk 200 juta orang, dengan instrumen pemerintahan yg ada sekarang?
November 24th, 2007 at 7:55 am
Vavai (komentar #33)
#PrimaryDrive,
Mudah-mudahan untuk kedepannya pak Yusril bisa memuat posting-posting yang “lebih substansial”. Dari apa yang saya tangkap, Pak Yusril masih dalam tahapan “pembiasaan” menggunakan blog sebagai salah satu “instrumen” media personal.
Karena latar belakang politik dan kedudukan sebelumnya, banyak rekan blogger masih memandang pak Yusril sebagai politikus an sich padahal mungkin yang ingin dimuat di blog ini adalah pemikiran dari sisi personalitas :D
BTW, pertanyaan ini bisa menjadi posting baru, mudah-mudahan…
November 24th, 2007 at 10:02 am
masjay (komentar #34)
benar - benar berat topik blog di sini, bacanya kudu konsen…. materi kuliah 1 sks. hehehe
November 24th, 2007 at 11:12 am
Wibisono Sastrodiwiryo (komentar #35)
Mas Vavai, ada satu komentar saya dimoderasi (belum diapprove).
trims
#Catatan, sudah diapprove. Komentar mas Wibi terkena perangkap akismet karena ada beberapa link keluar :D.
November 24th, 2007 at 11:14 am
Bonar (komentar #36)
@PrimaryDrive:
“Apakah instrumen pemerintahan RI sebetulnya sanggup untuk berfungsi dengan memadai?”
Pertanyaan itu menggelitik saya dari pagi tadi.
Pertama, mungkin saya perlu bertanya tentang definisi term “instrumen” itu sendiri.
can you please elaborate?
Kedua,
I get the feeling bahwa Anda meragukan “Negara” ini? Apakah Anda bermaksud menyatakan, bahwa “Indonesia” itu tidak realistis?
apakah itu juga berarti Anda meragukan “Bangsa” ini?
Ketiga,
Maaf jika terkaan saya salah dan cenderung ad-hominem,
Apakah Anda adalah salah satu dari para Self-Defeatists yang meragukan hak, kewajiban dan kemampuan diri untuk self-governing?
Ataukah Anda cenderung separatist yang lebih suka melihat negeri ini terpecah belah karena tidaklah “riil untuk memerintah dan mengatur negara dr sabang sampai merauke” ?
Atau mungkin Anda adalah revolusionis fasist ataupun sosialist yang pesimis terhadap bentuk pemerintahan?
Atau ada kemungkinan lain?
Dalam menanyakan pertanyaan ini, bulu kuduk saya sampai berdiri, Mohon rasa penasaran saya dipuaskan.
November 24th, 2007 at 12:26 pm
sufehmi (komentar #37)
menjawab dengan tenang dan penuh pengertian akan mampu mengubah pandangan komentator negatif tersebut.
Setuju, reply yang baik kadang bisa menggugah lawan diskusi sehingga jadi bisa lebih terbuka terhadap pandangan-pandangan kita.
Tapi memang ini sulit, apalagi kalau kita sudah diserang terlebih dahulu oleh ybs. Namun di beberapa kesempatan ketika saya coba melakukan ini, biasanya kemudian ybs jadi berbalik bisa memahami sudut pandang saya dan/atau meminta maaf kepada saya. Jadi saya kira memang idealnya begini. Cuma ya itu, saya juga masih berlatih terus untuk mempraktekkannya, karena sabar itu memang berat sekali :-)
November 24th, 2007 at 3:17 pm
abdulkadir (komentar #38)
Saya pernah melihat di media foto anda sedang/selesai jogging, menarik sekali! Dan juga foto yg lagi belanja di pasar.
Sepertinya anda bugar sekali, itu perlu bos! duduk berjam-jam depan komputer/blog bisa pegal-pegal.
Saya ada usul, dulu di bandung (masa kuliah) saya anggota pedestrian (klub hiking kota-hutan-gunung), asyik lo pak!
Kapan gabung kita bos, jalan-jalan di jakarta, bisa lihat kondisi riel rakyat!
asyik lo bos! abis itu kita makan-makan (apalagi ditraktir!)
Bless you…..
November 24th, 2007 at 4:36 pm
miftah (komentar #39)
selamat….pak..
panjang..tapi abis juga saya baca :D
November 24th, 2007 at 6:27 pm
PrimaryDrive (komentar #40)
Bonar,
Dengan “instrumen pemerintahan” saya memaksudkan semua infrastruktur yang kita gunakan dalam mengatur negara; jadi ini semua sistem birokrasi kita, mulai dari mentri, pegawai departemen, sampai ke pak RT.
Well, saya ingin menanyakan pendapat Yusril :) Tapi anda benar, saya tidak percaya instrumen dan sistem pemerintahan yg kita gunakan akan membawa rakyat Indonesia ke kemakmuran dan keadilan yg dijanjikan. Sistem ini sudah berubah menjadi sistem macet, yg sebenarnya juga tidak terlalu mengejutkan melihat berbagai konstrain dan permasalahan yg kita coba pecahkan. Ibaratnya dengan sistem ini kita mecoba pergi ke bulan pakai becak. It’s not going to happen, and it’s a cruel lie we’re spreading to our millions of people.
Pendapat saya sistem pemerintahan Indonesia tidak realistis. Mohon dicatat bahwa saya tidak menunjuk ke “bangsa Indonesia”, tetapi ke “instrumen” atau “sistem” yang digunakan bangsa Indonesia untuk mengatur dirinya.
Heh, kalau anda ingin menanam padi anda pakai kerbau untuk mengolah lahan anda. Kalau anda ngotot pakai sendok teh, dengan sejuta patriotisme dan percaya diri anda tidak akan bisa melakukannya.
So, kembali ke pertanyaan saya, apakah kita semua sudah pernah mempertanyakan apakah RI ini sebetulnya realistis?? Kalau “ya”, ok kita maju terus. Kalau tidak, mungkin lebih baik kita memusatkan energi kita untuk memikirkan alternatif yg lebih riil.
Betul. Sistem pemerintahan pusat ini tidak akan bisa bekerja lagi. Kita bisa coba ganti presiden A dengan B, B dengan C, dst. Tidak akan bekerja. Jarak pemerintahan antara pusat dengan daerah terlalu panjang. Saya rasa secara individu, daerah akan bisa lebih maju kalau berorepasi sendiri2.
Presepsi anda bahwa ini kedengaran “separatis” atau “pecah belah”, itu cuma karena kita terbiasa dengan presepsi bahwa Indonesia harus merupakan kesatuan, dr sabang sampai merauke. But why?? Yg paling utama tentunya adalah bahwa rakyat bisa makmur. Kalau memang untuk mencapai itu kita harus membelah Indonesia jadi tiga, tujuh, atau tujuj belas, ya .. let’s do it!
Sebuah “negara” itu bukan “given by axiom”. Negara itu tidak lebih dr sebuah sistem untuk mencapai tujuan bersama. Kalau tidak berfungsi, mungkin sudah saatnya untuk meninjau sistem baru?
Fasist?? Ini anda jangan sembarangan menggunakan kata lho. Ini tuduhan berat! Tapi menjawab pertanyaan anda, suya bukan revolusionist, bukan fasist, bukan sosialist.
Tetapi saya menganggap diri saya kritis. So, that makes me a Critist huh? ;)
Hahaha, well, yg jelas saya bukan setan ;)
November 24th, 2007 at 7:50 pm
PrimaryDrive (komentar #41)
Hmmmm…… HTML tag-nya ngga kerja. Posting saya diatas kali jadi membingungkan dibaca krn ngga jelas yg mana kutipan, yg mana tekst saya. Duh…
November 24th, 2007 at 7:52 pm
Zulidamel (komentar #42)
Assalamu’alaikum Wr.wb
Pak Yusril, saya sangat antusias menunggu tulisan bapak dari beberapa hari yang lalu dan ingin belajar banyak hal. Tapi setelah membaca mebuat saya berfikir karena tulisan bapak benar-benar ungkapan perasaan. Untuk membacanya saja terasa melelahkan, bagaimana nulisnya pak!… tentunya bapak telah meluangkan waktu yang cukup banyak untuk ini.
Baru kali ini saya membaca tulisan di blog yang saya ulang-ulang membacanya karena saya ingin menemukan makna setiap kalimat yang tersusun sangat rapih dan panjang, mungkin tulisan ini dapat di bagi menjadi 4 - 5 atau lebih judul.
Salam atas kehadiran bapak di dunia blog.
November 24th, 2007 at 7:56 pm
Edy Krisnadi (komentar #43)
Assalamualaikum Pak Yusril,
Selamat datang di dunia maya, dan salam kenal.
Saya pernah aktif di dunia maya sekitar thn 2000-2002, dan menghilang selama kurang lebih 5th. Sekarang saya baru lihat-lihat perkembangan. Ada yang ingin saya sampaikan bahwa arsip-arsip saya yang saya posting 5th lalu, ternyata maish ada dan sangat mudah saya temukan lewat search engine.
Dengan demikian mudah-mudahan bapak tidak mudah terpancing emosinya, karena sayang jika orang seperti bapak sampai meninggalkan arsip yang kurang baik. Dan mudah-mudahan pula saya, dan kita semua dapat mengambil banyak hikmah dari dunia yang luar biasa ini.
Demikian saja komentar dari saya.
Salam,
Edy krisnadi
November 25th, 2007 at 10:32 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #44)
#38 Abdul Kadir,
Boss,
Terima kasih atas ajakan anda…Gaya hidup saya tidak berubah dari dulu sampai sekarang. Di Jakarta saya pernah jualan ikan asin dan jual kelapa di pasar-pasar. Pernah saya jadi kondektur bis kota jurusan Lapangan Banteng- Tanjung Priok selama 5 bulan. Kadang-kadang tukar rute dari Tg Priok ke Cilincing. Kebiasaan saya pergi beli ikan, sayur mayur dan bumbu-bumbu sampai sekarang tidak berubah. Saya bisa mengajari istri saya memasak, sampai mengajari juru masak restoran.
Saya hidup dari keluarga miskin di kampung. Di masa kecil saya membaca buku dan mengaji dengan lampu minyak tanah. Pernah suatu ketika sumbu lampu minyak sudah pendek. Ayah saya menjahit sumbu itu dengan kain lap bekas baju singlet agar dapat menghisap minyak. Sampai kelas 4 SD saya pergi ke sekolah tanpa memakai alas kaki, dengan baju yang ditambal-tambal. Waktu kecil saya menerima upahan memanjat pohon kelapa untuk memetik buahnya. Tahun yang lalu, saya masih memanjat pohon kelapa di Belitung, gara-gara teman saya orang Malaysia tak percaya saya pandai memanjat pohon kelapa. Dia bilang, di negerinya itu pekerjaan beruk, binatang sebangsa monyet…
Sambil tertawa saya bilang teman-teman, saya tak perlu berteori jadi orang miskin, karena punya pengalaman empiris ttg itu. Sampai sekarang saya masih pergi memancing ikan di laut lepas naik perahu-motor kayu. Orang lain ada yang pergi mancing karena hoby. Saya katakan padanya, saya bukan hoby, karena di masa lalu itu mata pencarian saya. Kadang-kadang saya 2-3 hari baru pulang melaut. Saya sungguh menyadari betapa berat hidup jadi nelayan.
Waktu saya jadi menteri, ajudan dan pengawal saya ajak ke laut dan pada mabuk semua. Begitu juga ketika naik gunung di Belitung, ajudan dan pengawal, yang sebenarnya anggota TNI dan Brimob, malah ngos-ngosan masuk hutan dan naik-turun gunung.
Saya bilang pada pengawal, berani tidak dia memanjat pohon untuk mengambil madu. Mereka bilang, bisa gawat nanti digigit tawonnya. Saya akhirnya mengajari mereka bagaimana caranya mengambil madu tanpa digigit lebah.
Saya mengenal hampir semua pedagang ikan dan sayur di Pasar Mayestik dan Pasar Ciputat. Juga pedagang ikan di Pasar Muara Karang, Pluit. Waktu mahasiswa, tempat “mangkal” saya adalah Pelabuhan Kalibaru dekat Tanjung Priok. Saya biasa melayarkan perahu layar menyeberang dari Jakarta sampai Pulau Karimata dekat Pontianak. Saya sungguh menikmati gaya hidup seperti itu. Sebab itu saya tak pernah jadi anggota Pramuka atau klub hobby. Sebabnya, karena hidup saya sudah seperti itu.
Sampai sekarang saya masih lari di antara 6-8 km di aerobic stadium Senayan, atau sekitar tempat tinggal saya, tiga empat kali seminggu. Lebih setahun belakangan ini saya kembali latihan bela diri, karena main film Cheng Ho saya tidak pakai stuntman. Di China saya harus lari dan menunggang kuda melintasi pegunungan memimpin 3000 pasukan infantri pemberontak menggempur istana Kaisar Ming di kota Nanjing dari Beijing. Puluhan kali saya harus memainkan adegan perkelahian dengan pedang dan tombak. Juga menembakkan meriam kuno abad ke 15. Walau itu hanya film, tetapi ini sungguh pekerjaan yang berat dan melelahkan.
Terima kasih Boss!
November 25th, 2007 at 2:40 pm
hamidfara_aza (komentar #45)
#44 K’ Yusril.
Wach, cerita latar belakang hidup K’ Yusril dari kampung halaman sampai Kota Jakarta, banar - benar seru dan mengharukan, saya jadi serius sekali membacanya. Karena dari dulu saya senang sekali dengan style K’ Yusril yang calm, cool, dan tawadhu’.
Btw, tolong ajari saya, gimana cara mengambil madu tapi tidak tersengat lebah, karena waktu kecil saya pernah disengat lebah, bahkan sampai saya turun dari pohon pun masih dikejar kejar lebah itu, ternyata ia marah sekali sarangnya diganggu orang lain, akhirnya hidung saya jadi bengkak, terkena sengatannya.
Salam Ta’zhim
November 25th, 2007 at 3:09 pm
Vavai (komentar #46)
#44,
Pak,
Pengalaman jadi kondektur, melaut dan pengalaman waktu di kampung akan sangat baik jika dipost jadi satu tulisan. Ini akan jadi posting yang menarik.
Saya sependapat dengan hamidfara_aza, saya saja pernah dikejar-kejar tawon gara-gara sarangnya yang seperti kendi tempat minum (banyak madu-nya) saya timpuk supaya jatuh. Saya bisa selamat setelah berbaring tak bergerak selama bermenit-menit tapi hidung saya kemasukan debu :-P.
Mungkin banyak yang tidak tahu kalau bapak “pernah miskin” sehingga pre-asumsi rekan-rekan blogger, bapak tidak akan pernah tahu kerasnya kehidupan rakyat kebanyakan karena bapak dianggap sebagai bagian dari pejabat yang sudah hidup senang dari kecil…
November 25th, 2007 at 3:30 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #47)
#45 Hamidfara dan #46 Vavai,
Ha ha… Orang di Jakarta kadang-kadang nggak bisa membedakan antara lebah dengan tawon. Kalau tawon sampai tua juga nggak akan ada madunya. Saya pernah mentertawakan tetangga saya seorang dosen ekonomi yang membiarkan sarang tawon ada di pohon di halaman rumahnya. Saya bilang nanti malam dibakar saja. Caranya lampu dimatikan, dan bara api dimasukkan ke kaleng. Kaleng itu diletakkan di ujung sebatang bambu, dan didekatkan dengan sarang tawon itu. Nanti tawon itu mati semua. Tetangga saya itu bilang, jangan Pak Yusril. Kita tunggu sampai ada madunya. Kan lumayan. Saya bilang itu sarang tawon, bukan madu. Tapi dia nggak percaya. Ya sudah, terserah dia. Sarang tawon bisa besar seperti buah nangka. Kalau ditimpuk berantakan dan tawonnya ngamuk uber sana uber sini. Kalau gigit kepala bisa ubanan tiba-tiba, lho. Ada juga orang pingsan digigit tawon.
Lebah madu biasanya ada di hutan, bersarang di dahan cukup tinggi. Jarang-jarang lebah madu masuk kota, walau ada juga. Ada semacam lilin di sarangnya dan dapat dibedakan dengan jelas dari sarang tawon.
Untuk memanjat pohon mengambil madu pertama-tama kita nggak boleh pakai baju, karena lebah akan masuk ke baju dan menggigit kita. Jadi pakai celana pendek ketat dari bahan nilon aja. Badan kita dilumuri minyak, agar lebah tidak bisa hinggap di badan dan menggigit. Sebelum madu diambil, sarang madu harus diasap dengan menggunakan daun rumbia yang dibakar. Daun rumbia jenis tertentu di hutan — orang Belitung menyebutnya daun Nangak, pohonnya berduri — kalau dibakar asapnya akan membuat lebah jadi puyeng, enggak mati. Dalam situasi puyeng mereka nggak bakalan menggigit. Tetapi pakai celana ketat dan badan dilumuri minyak wajib hukumnya, sebab ada satu dua lebah yang nggak puyeng, mungkin nggak menghirup asap. Jadi itu berisiko bisa menggigit.
Vai, saya agak malas menulis artikel di blog ini cerita-cerita kayak beginian. Bisa-bisa blog ini nggak intelektual lagi, nggak membawa pada pencerahan. Kalau orang kampung mereka nggak usah diajari bagaimana caranya menambil madu. Itu cuma mengajari buaya berenang saja. Lagi pula, cuma sedikit orang di kampung baca blog, barangkali. Sorry saya bukan ngeledek orang kampung. Saya ini tetap orang kampung juga.
November 25th, 2007 at 5:47 pm
Firdaus Arifin (komentar #48)
Ass, Wr. Wb.
Pak Yusril, saya menyarankan ada baiknya bapak buat posting tersendiri mengenai sejarah hidup dan perjuangan bapak sejak dimulai dari kampung manggar di Belitung hingga Sampai di Jakarta, karena berdasarkan penelusuran saya terhadap komentar2 disetiap posting bapak, rata2 banyak blogger yang sangat antusias ingin tahu seperti apa sosok Seorang Yusril Ihza Mahendra. Dalam Pandangan saya kayaknya hal tersebut sangat penting, sebagai upaya preventif untuk mencegah informasi yang salah mengenai pribadi bapak. oya pak satu lagi bila perlu ceritakan juga mengenai sejarah nama Ihza dan Mahendra, Insya allah saya yakin banyak rekan2 blowgger yang belum tahu mengenai sejarah kedua nama tersebut.
Tambahan buat rekan2 blogger yang mau tahu mengenai biografi Pak Yusril, bisa dibaca Buku Sang Bintangyang Cemerlang, yang ditulis oleh Saudara Firdaus Syam.
November 25th, 2007 at 6:21 pm
hamidfara_aza (komentar #49)
#47.
Terima kasih K’ Yusril, sudah comment and share atas pengetahuan dan pengalamannya, walaupun hal itu terlihat sepele, tapi itu adalah sebuah ilmu yang berharga bagi saya.
Saya sangat menantikan tulisan K’ Yusril berikutnya.
Salam Ta’zhim,
hamidfara_aza
November 25th, 2007 at 6:53 pm
Bonar (komentar #50)
@YIM:
Quote:
“Vai, saya agak malas menulis artikel di blog ini cerita-cerita kayak beginian. Bisa-bisa blog ini nggak intelektual lagi, nggak membawa pada pencerahan.”
Justru terbalik pak, cerita kaya gitu yang kadang bisa memberikan pencerahan lebih daripada tulisan-tulisan yang diusahain intelektual.
Ringan, Santai, mungkin kontroversial, dan setidaknya bikin “Oh, ternyata begitu ya?”.
Tapi bukan berarti harus abandon samasekali tulisan2 penting.
November 25th, 2007 at 8:10 pm
rusmanik (komentar #51)
Mengapakah kebebasan harus ada jika ternyata tidak bisa sebebas-bebasnya?
Maaf, kita sedang bertanya. Tidak punya maksud apa-apa dan tak terkait lain-lain kecuali bertanya.
Makasih
November 25th, 2007 at 11:14 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #52)
#Rusmanik. Itulah yang saya katakan dalam tulisan bahwa pertanyaan apakah kebebasan itu absolut atau tidak, adalah sebuah pertanyaan yang mengandung paradoks. Analisis dalam tulisan saya menunjukkan, walaupun semua bahasa mempunyai istilah “kebebasan” namun, baik secara fisik maupun sosial, ternyata kebebasan yang absolut itu tidak ada.
Namun, apa boleh buat, istilah “kebebasan” tetap dipakai. Saya teringat kepada tulisan Syed Hossein Nasr, seorang pemikir Syi’ah, ketika membahas masalah takdir dalam ajaran Islam. Dia mengumpamakan istilah “kebebasan” dengan cahaya. Kebebasan walaupun ada batasnya, tetaplah kita namakan kebebasan. Demikian pula cahaya, betapapun kecil dan redupnya, tetaplah dia kita namakan cahaya.
November 25th, 2007 at 11:57 pm
Thomas Arie (komentar #53)
PrimaryDrive (#41), Mengenai HTML untuk blockquote sudah dimodifikasi, sehingga lebih jelas mana kutipan, mana tanggapan… Terima kasih sudah diingatkan…
November 26th, 2007 at 3:02 am
Yu Djoem (komentar #54)
Walah, iki beneran pak Yusril yang menteri itu bukan?
Yu Djoem, jadi gemeteran begini
November 26th, 2007 at 9:25 am
Yu Djoem (komentar #55)
Walah, iki beneran Pak Yusril yang jadi menteri itu bukan?
Mbak yu, jadi gemeteran begini
November 26th, 2007 at 9:26 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #56)
#54 Yu Djoem. Saya nggak jadi menteri lagi. Saya orang biasa aja kok. Mbok ya gak usah gemeteran Mbakyu…
Komentar Mbakyu kok ono loro. Jadi saya yang satu saya delete aja, ya..
Matur nuwun Mbakyu.. Saya juga baca blog Mbakyu.. Jadinya kepengen belajar Boso Jowo, he he …
November 26th, 2007 at 9:42 am
Vavai (komentar #57)
#47, Sebenarnya bukan tidak bisa membedakan tawon dengan lebah pak. Setahu saya, orang Betawi sini menyebut tawon untuk semua yang berjenis lebah, kecuali yang memang jelas-jelas punya nama, kumbang misalnya. Jadi, seringkali tawon diasosiasikan secara langsung dengan lebah.
Lha kok jadi membahas soal tawon ya :-P
Bapak sudah menguasai bahasa Urdu, Tagalog dan Mandarin tentu akan sangat mudah belajar bahasa Jawa :-) .
November 26th, 2007 at 10:37 am
Zulidamel (komentar #58)
Assalamu’alaikum Wr.wb
Memang berat pak! Saya belum membaca artikel yang bapak maksud namun saya cukup memahami karena begitu banyak manusia disekitar kita baik dikalangan atas maupun bawah yang tidak menggunakan nuraninya. Tapi saya yakin, pak Yusril akan dapat menghadapi semua itu dengan tenang dan dapat merubah apa yang bapak tidak suka kearah yang lebih baik. Setiap serangan harus direspon namun tidak dengan cara-cara mereka. Kita tidak perlu emosi karena kalau kita emosi berarti mereka menang sementara kita larut dalam kesal/marah/dendam/dsb berarti kita kalah. Apalagi serangan seperti itu, jelas orang-orang pengecut namun kalau tidak direspon juga dapat berbahaya.
Sekalipun pak Yusril sekarang tidak duduk dikursi penguasa namun tanggung jawab moral terhadap bangsa ini. Coba bapak bandingkan tantangan yang dihadapi oleh pendiri Negara ini, apa yang bapak alami sangat kecil tapi bagi mereka tak ada kata menyerah!.
November 26th, 2007 at 10:38 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #59)
#57 Vavai, terima kasih. Ketika saya menjadi mahasiswa filsafat, saya mengikuti kuliah filsafat Jawa. Saya terpaksa membaca terjemahan Serat Centini dan karya-karya Ronggowarsito seperti Serat Kalatida, yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris dan Belanda. Untung karya-karya filsafat Jawa yang agak “nyleneh” seperti Serat Darmogandul dan Gatoloco ada terjemahannya dalam Bahasa Indonesia. Waktu itu saya cari guru bahasa Jawa, tapi ternyata lebih mudah cari guru bahasa Inggris daripada cari guru bahasa Jawa, he he…
November 26th, 2007 at 11:13 am
Yu Djoem (komentar #60)
Terima kasih pak Yusril atas tanggapannya.
Biarpun bapak tidak menjadi menteri lagi, bapak tetep sosok “Priyayi” bagi kalangan bawah, spt mbak yu ini
November 26th, 2007 at 12:37 pm
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda