<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: SAYA DAPAT MEMETIK HIKMAH DAN PELAJARAN</title>
	<atom:link href="http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/</link>
	<description>Blog Yusril Ihza Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 12:38:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Sumarno Cholil</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-58231</link>
		<dc:creator>Sumarno Cholil</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 17:42:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-58231</guid>
		<description>Assalaamu &#039; alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

Apa kabar Bang Yusril....&quot;?
Semoga seiring dengan datangnya posting di BLOG milik Pak Yusril ini menambah fenomena baru dalam dunia &quot; cyber &quot;.

Oiya... Awalnya, saya tidak menyangka sama sekali kalau BLOG ini milik Pak Yusril, betapa tidak...&quot; saya benar benar melihat hal yang baru di dalam diri seorang Pak Yusril Ihza Mahendra yang dulunya begitu seringnya tampil di TV dengan pemberitaan yang beraneka ragam.

Dan, kini saya berjumpa di dunia maya, perjumpaan ini di buka dengan tema &quot; kebebasan &quot; yang tadi sudah Pak Yusril katakan. Dan di dalam mengarungi di dunia Cyber inipun, Pak Yusril mendefinisikan menjadi dua buah kebebasan dalam ber-cyber.
Cyber Law
Cyber Crime 
Waw.... Fantastis sekali... Dan buat saya ini memang bukan lah hal yang aneh lagi ketika kebebasan ini muncul baik kebebasan fisik maupun kebebasan dalam bersosialisasi dengan sesama manusia.

Buat saya orang yang awam yang hanya mengenyam sekolah sekolahan saja, alias asal asalan saja.

Membaca tentang &quot; kebebasan &quot; Saya jadi berintrospeksi diri, dan saya melihat dari sisi Manusia itu sendiri secara umum memiliki 3 macam bentuk penyakit yang dari dulu hingga sekarang selalu tak pernah selaras dan seirama.

kekurangan manusia itu sendiri
di hinggapi oleh 3 hal macam penyakit diantaranya :

1). Tipis kepercayaan agamanya
2). Lemah akalnya
3). Hilang kesopanannya.

Nah, di dunia manapun kita berpijak. Kalau tiga hal tadi bisa kita pahami lebih dalam lagi, maka Insya Allah.... Semua itu akan teratasi.

Saya rasa, ketiga macam bentuk kekurangan manusia itu menjadi pijakan kita semua dalam berfikir dan berprilaku.

Tak banyak yang dapat saya katakan disini, dan saya suka dengan pembahasan tentang makna kebebasan yang pada tempatnya ini.

Wassalaamu &#039; alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh

By. Sumarno Cholil

sumarno_cholil@yahoo.co.id
faith_moesleem@yahoo.com
safety352@gmail.com
cukup lah 3 saja Pak Yusril.

Saya tampakkan itu semua, karena saya merasa bertanggung jawab dengan apa yang saya tuliskan.

Dan saya setuju, saya tak mengenal cyber dan nyata itu berbeda, karena kebenaran tetap lah harus di tegakkan...!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu &#8216; alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh</p>
<p>Apa kabar Bang Yusril&#8230;.&#8221;?<br />
Semoga seiring dengan datangnya posting di BLOG milik Pak Yusril ini menambah fenomena baru dalam dunia &#8221; cyber &#8220;.</p>
<p>Oiya&#8230; Awalnya, saya tidak menyangka sama sekali kalau BLOG ini milik Pak Yusril, betapa tidak&#8230;&#8221; saya benar benar melihat hal yang baru di dalam diri seorang Pak Yusril Ihza Mahendra yang dulunya begitu seringnya tampil di TV dengan pemberitaan yang beraneka ragam.</p>
<p>Dan, kini saya berjumpa di dunia maya, perjumpaan ini di buka dengan tema &#8221; kebebasan &#8221; yang tadi sudah Pak Yusril katakan. Dan di dalam mengarungi di dunia Cyber inipun, Pak Yusril mendefinisikan menjadi dua buah kebebasan dalam ber-cyber.<br />
Cyber Law<br />
Cyber Crime<br />
Waw&#8230;. Fantastis sekali&#8230; Dan buat saya ini memang bukan lah hal yang aneh lagi ketika kebebasan ini muncul baik kebebasan fisik maupun kebebasan dalam bersosialisasi dengan sesama manusia.</p>
<p>Buat saya orang yang awam yang hanya mengenyam sekolah sekolahan saja, alias asal asalan saja.</p>
<p>Membaca tentang &#8221; kebebasan &#8221; Saya jadi berintrospeksi diri, dan saya melihat dari sisi Manusia itu sendiri secara umum memiliki 3 macam bentuk penyakit yang dari dulu hingga sekarang selalu tak pernah selaras dan seirama.</p>
<p>kekurangan manusia itu sendiri<br />
di hinggapi oleh 3 hal macam penyakit diantaranya :</p>
<p>1). Tipis kepercayaan agamanya<br />
2). Lemah akalnya<br />
3). Hilang kesopanannya.</p>
<p>Nah, di dunia manapun kita berpijak. Kalau tiga hal tadi bisa kita pahami lebih dalam lagi, maka Insya Allah&#8230;. Semua itu akan teratasi.</p>
<p>Saya rasa, ketiga macam bentuk kekurangan manusia itu menjadi pijakan kita semua dalam berfikir dan berprilaku.</p>
<p>Tak banyak yang dapat saya katakan disini, dan saya suka dengan pembahasan tentang makna kebebasan yang pada tempatnya ini.</p>
<p>Wassalaamu &#8216; alaikum Warohmatullaahi Wabarokaatuh</p>
<p>By. Sumarno Cholil</p>
<p><a href="mailto:sumarno_cholil@yahoo.co.id">sumarno_cholil@yahoo.co.id</a><br />
<a href="mailto:faith_moesleem@yahoo.com">faith_moesleem@yahoo.com</a><br />
<a href="mailto:safety352@gmail.com">safety352@gmail.com</a><br />
cukup lah 3 saja Pak Yusril.</p>
<p>Saya tampakkan itu semua, karena saya merasa bertanggung jawab dengan apa yang saya tuliskan.</p>
<p>Dan saya setuju, saya tak mengenal cyber dan nyata itu berbeda, karena kebenaran tetap lah harus di tegakkan&#8230;!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yuven</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-57773</link>
		<dc:creator>yuven</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 15 Feb 2009 10:27:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-57773</guid>
		<description>saya kira Bapak tidak bisa berbicara seperti kami yang awam ini. Saya setuju dengan pernyataan Bapak terhadap smua yang Bapak katakan dlm cerita tentang negara kita ini. &quot;saya terus bertanya sampai sekarang &quot;pemerintahan siapa nanti yang benar2 tegas dan konsisten terhadap hukum dan UU?&quot;. DPR terus kunjung ke negeri orang, tapi apa hasilnya? sy kira demikian dulu pa Yusril, salam damai...!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>saya kira Bapak tidak bisa berbicara seperti kami yang awam ini. Saya setuju dengan pernyataan Bapak terhadap smua yang Bapak katakan dlm cerita tentang negara kita ini. &#8220;saya terus bertanya sampai sekarang &#8220;pemerintahan siapa nanti yang benar2 tegas dan konsisten terhadap hukum dan UU?&#8221;. DPR terus kunjung ke negeri orang, tapi apa hasilnya? sy kira demikian dulu pa Yusril, salam damai&#8230;!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Michael Jones</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-53787</link>
		<dc:creator>Michael Jones</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 02 Feb 2009 10:58:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-53787</guid>
		<description>Kebebasan itu bagi saya pribadi adalah pertama-tama harus mulai dari dalam hati, kebebasan itu ada kaitannya dgn kebenaran, kalau kita menemukan sesuatu kebenaran maka pasti kita berharap kebenaran itu akan membebaskan hati kita, kebenaran itu membuat hati kita terasa lega dan nyaman. Kalau berbicara ttg kebenaran maka mau tidak mau kita akan masuk ke dalam dimensi yang lebih dalam tentang Tuhan, setan, alam semesta, jiwa / pikiran manusia.

Saya yakin hampir setiap orang di dunia sudah bertanya di dalam hatinya, setelah mati saya akan kemana? tetapi saya akan membantu anda semua, kebenaran / kebebasan sejati itu sesungguhnya terdapat didalam Isa Almasih / Shirotool Mustaqim, Dialah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Yesus Kristus adalah Penyelamat Pribadi setiap orang yang percaya kepadaNya. Yesuslah yg akan menyelamatkan kita dari hukuman api neraka.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Kebebasan itu bagi saya pribadi adalah pertama-tama harus mulai dari dalam hati, kebebasan itu ada kaitannya dgn kebenaran, kalau kita menemukan sesuatu kebenaran maka pasti kita berharap kebenaran itu akan membebaskan hati kita, kebenaran itu membuat hati kita terasa lega dan nyaman. Kalau berbicara ttg kebenaran maka mau tidak mau kita akan masuk ke dalam dimensi yang lebih dalam tentang Tuhan, setan, alam semesta, jiwa / pikiran manusia.</p>
<p>Saya yakin hampir setiap orang di dunia sudah bertanya di dalam hatinya, setelah mati saya akan kemana? tetapi saya akan membantu anda semua, kebenaran / kebebasan sejati itu sesungguhnya terdapat didalam Isa Almasih / Shirotool Mustaqim, Dialah Jalan, Kebenaran, dan Kehidupan. Yesus Kristus adalah Penyelamat Pribadi setiap orang yang percaya kepadaNya. Yesuslah yg akan menyelamatkan kita dari hukuman api neraka.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: koranlokal</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-41519</link>
		<dc:creator>koranlokal</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 30 Nov 2008 05:19:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-41519</guid>
		<description>kirim donk data pribadinya keemail: redaksi@koranlokal.com

untuk kita expos di koranlokal pantura jateng


WWW.KORANLOKAL.COM</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>kirim donk data pribadinya keemail: <a href="mailto:redaksi@koranlokal.com">redaksi@koranlokal.com</a></p>
<p>untuk kita expos di koranlokal pantura jateng</p>
<p><a href="http://WWW.KORANLOKAL.COM" rel="nofollow">http://WWW.KORANLOKAL.COM</a></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Qinimain Zain</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-35126</link>
		<dc:creator>Qinimain Zain</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 05 Oct 2008 01:50:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-35126</guid>
		<description>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)

Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)
Oleh Qinimain Zain

FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).

JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   

Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. 

Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?

Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan - sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).

Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.

SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).

Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.

Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). 

Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.

SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).

Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, sangat tidak sempurna, tidak sempurna, cukup sempurna, mendekati sempurna, dan sempurna dari lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  

Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      

Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. 

SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).

BAGAIMANA strategi Anda?

*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>(Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 26 Oktober 2007)</p>
<p>Strategi Paradigma Baru Kongres Cerpen Indonesia V<br />
 (Studi Kasus: Polemik Ukuran Nilai Sastra)<br />
Oleh Qinimain Zain</p>
<p>FEELING IS BELIEVING. ILMU diukur dari kekuatannya merumuskan hukum-hukum yang berlaku umum dan hubungannya atas kenyataan, seni dinilai dari pergulatannya dengan hal-hal yang partikular dan penciptaannya atas sesuatu yang belum ada dalam kenyataan (Nirwan Ahmad Arsuka).</p>
<p>JUM’AT, Sabtu dan Minggu, 26-28 Oktober 2007 ini, berlangsung Kongres Cerpen Indonesia V di Taman Budaya, Banjarmasin, yang rencana dibuka orasi budaya oleh Wakil Gubernur Kalimantan Selatan,  HM Rosehan Noor Bachri, yang dihadiri ratusan sastrawan, budayawan dan intelektual seluruh Indonesia. Dan, panitia sudah memastikan akan tampil pembicara hebat seperti Lan Fang, Korie Layun Rampan, Jamal T. Suryanata, Agus Noor, Saut Situmorang, Nirwan Ahmad Arsuka, Ahmadun Yosi Herfanda, Katrin Bandel, dan Triyanto Triwikromo. Dari forum ini diharapkan banyak masukan kemajuan. Sedang, tulisan ini hanyalah oleh-oleh kecil dari saya (Kalsel) akan masalah polemik panjang Taufiq Ismail-Hudan Hidayat yang masih jadi ganjalan.   </p>
<p>Polemik adalah fenomena biasa. Namun, untuk memecahkan dan menjelaskannya polemik sastra (baca: seni) menonjolkan seks sekalipun, harus berdasar sistem ilmu pengetahuan. Jika tidak, hasilnya berbantahan dan sakit hati berkepanjangan. Artinya, bagaimana pun harus dengan kritik akademis, yang diharapkan mampu memberi jalan ke arah penyehatan kembali kehidupan kesusastraan. </p>
<p>Lalu, apa kesulitan sesungguhnya memecahkan hal seperti ini?</p>
<p>Kembali berulang-ulang memberitahukan (dan tidak akan bosan-bosan &#8211; sudah ratusan pemecahan), akar masalahnya adalah sebelum tahun 2000, (ilmu) pengetahuan sosial belum dapat disebut sebuah ilmu pengetahuan, karena tidak memenuhi Total Qinimain Zain (TQZ) Scientific System of Science  yaitu memiliki kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum (kecuali Teori Hirarki Kebutuhan Abraham H Maslow, proposisi silogisme Aristoteles, dan skala Rensis A. Likert tanpa satuan, belum cukup monumental). Adalah tidak mungkin menjelaskan sebuah fenomena apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistemnya. (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).</p>
<p>YANG baik tidak dapat terletak dalam pertanyaan sendiri, melainkan harus dalam jawaban (Robert Spaemann).</p>
<p>Mengenai polemik. Inti pertentangan adalah beda pandangan akan nilai kebenaran sesuatu. Menurut Eric Johnson, setiap orang selalu mempunyai reference point atau titik referensi, yaitu apa yang sudah dialami, diketahui atau diyakininya. Artinya, bila titik referensi seseorang atau kelompok masyarakat dengan orang atau kelompok yang lain tentang sesuatu berbeda, apalagi dimuati kepentingan, polemik  mungkin terjadi. Namun sesungguhnya, seorang pribadi dan sebuah kelompok masyarakat yang bahagia, bukan disebabkan tidak adanya pertentangan, tetapi karena tidak adanya keadilan kebenaran. Jadi yang penting dalam pertentangan, mengetahui keadilan pandangan kebenaran pribadi seseorang dihadapkan dengan pandangan orang lain yang berseberangan akan sesuatu hal itu. Artinya, untuk menengahi sebuah pertentangan dan menentukan nilai kebenarannya agar obyektif, harus berdasar kerangka referensi pengetahuan pengalaman yang teratur, yang tak lain sebuah sistem ilmu pengetahuan.</p>
<p>SETIAP kebijaksanaan harus bersedia dipertanyakan dan dikritik oleh kebijaksanaan-kebijaksanaan lain. Keberlakuan universal harus dapat membuktikan diri dalam konfrontasi dengan mereka yang berpikir lain (Benezet Bujo).</p>
<p>Dalam paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN: The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority (2000), TQZ Philosophy of Reference Frame, terdapat jumlah lima fungsi, berurutan, berkaitan, dan satu kesatuan, kebenaran sesuatu dinilai berdasar titik referensi  (1) How you see yourself (logics), (2) How you see others (dialectics), (3) How others see you (ethics), (4) How others see themselves (esthetics), sampai ke level (5) How to see of all (metaphysics), yang harus ditanyakan sebelum keputusan menjatuhkan nilai kebenaran sesuatu dalam pertentangan.</p>
<p>Di sini terdapat hubungan dan pergeseran referensi nilai kuantitatif dengan kualitatif. Dari level logics (benar) yang kuantitatif, ke dialectics (tepat), kemudian ethics (baik),  lalu esthetics (bagus), sampai ke level metaphysics (abadi) yang semakin kualitatif. Atau, penekanan referensi sesuatu bergeser dari nilai kebenaran kelompok besar menjadi lebih secara satuan individu, dari hal bersifat konkrit (logika) menjadi abstrak (metafisik). Nampak jelas pula, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, bisa dianggap tidak benar oleh yang lain karena mempunyai titik referensi yang berbeda. Atau malah, sesuatu yang dianggap benar oleh seseorang atau sekelompok orang, tetapi tidak tepat bagi yang lain, tepat tetapi tidak baik, baik tetapi tidak bagus, dan mungkin saja bagus tetapi dianggap tidak abadi sebagai kebenaran suatu keyakinan tertentu. Dan, jika sampai pada keyakinan nilai kebenaran abadi, ini sudah sangat subyektif pribadi. (Sudut pandang level How you see yourself dan  How you see others, How others see you dan How others see themselves, adalah subyektif karena dalam sudut pandang reference object dan reference direction, sedang  How to see of all, adalah lebih obyektif, level adil). </p>
<p>Ada paradoks di sini. Semakin menilai kebenaran sesuatu mengutamakan kepentingan umum (kuantitatif) akan meniadakan kepentingan pribadi (kualitatif). Sebaliknya, semakin mengutamakan kepentingan pribadi (kualitatif) akan meniadakan kepentingan umum (kuantitatif). Ini yang harus disadari dalam menghadapi dan dijelaskan menengahi suatu polemik atau pertentangan apa pun, di mana pun dan kapan pun. Dan, sastrawan (baca: seniman) sadar, harga sesuatu karya terletak kemampuannya menciptakan momentum nilai di antara tarik ulur paradoks ini. Antara konvensi dan revolusi, antara pengaruh nilai lama dan mempengaruhi nilai baru.</p>
<p>SENI kemajuan adalah mempertahankan ketertiban di tengah-tengah perubahan, dan perubahan di tengah-tengah ketertiban (Alfred North Whitehead).</p>
<p>Kembali ke polemik ukuran nilai sastra menonjolkan seks. Dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru TQZ, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas, dan D(ay) atau Hari kerja (sistem ZQD), padanan m(eter), k(ilo)g(ram), dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta, sistem mks). Artinya, kebenaran sesuatu bukan hanya dinilai skala kualitasnya (1-5Q dari sangat buruk, buruk, cukup, baik, dan sangat baik), tetapi juga sempurnanya (1-5Z, sangat tidak sempurna, tidak sempurna, cukup sempurna, mendekati sempurna, dan sempurna dari lima unsur fungsi TQZ, yang untuk TQZ Philosophy yaitu  logics, dialectics, ethics, esthetics, dan metaphysics secara berurut). Artinya, kekurangan atau keburukan salah satu fungsi membuat suatu karya nilainya tidak sempurna.  </p>
<p>Contoh, definisi paradigma lama, kesusastraan adalah tulisan yang indah. Paradigma baru, nilai keindahan tidak lengkap kalau tidak dikaitkan dengan unsur kebenaran, ketepatan, kebaikan, dan keabadian. Kini, definisi TQZ kesusastraan adalah seni tulisan yang benar, tepat, baik, bagus (indah), dan abadi secara sempurna. Artinya,  bila ada pertentangan nilai akan karya sastra (juga yang lain), menunjukkan karya itu  memiliki salah satu atau lebih unsur filsafatnya buruk, sebagai sebuah karya yang sempurna. (Memang, sah saja penulis mengejar keunikan atau kebaruan pribadi, mengeksploitasi unsur seks dalam  karyanya. Mungkin saja berkualitas segi logika cerita, dialektika nilai, keindahan teknis penulisan dan karya monumental (abadi) suatu genre sehingga juara dalam satu perlombaan. Tetapi dalam paradigma TQZ, tidak sempurna karena abai unsur etika).      </p>
<p>Sekarang jelas, yang dikejar penulis mana pun, bukan sekadar ukuran nilai kualitas  beberapa unsur, tetapi karya dengan kualitas nilai kebenaran (lima unsur yang) sempurna. Inilah titik kerangka referensi bersama menilai karya sastra (dan juga apa pun) dalam sistem ilmu pengetahuan paradigma baru. </p>
<p>SEKOLAH dan kuliah, seminar dan training, buku dan makalah, ulasan dan kritikan, tanpa menyertakan alat metode (sistem ilmu pengetahuan) pelaksanaannya hanyalah dorongan mental yang membosankan, yang tidak efektif, efesien dan produktif (Qinimain Zain).</p>
<p>BAGAIMANA strategi Anda?</p>
<p>*) Qinimain Zain – Scientist &amp; Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: <a href="mailto:tqz_strategist@yahoo.co.id">tqz_strategist@yahoo.co.id</a> (www.scientist-strategist.blogspot.com)</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: kevin.a</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-11655</link>
		<dc:creator>kevin.a</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 12 Aug 2008 09:15:57 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-11655</guid>
		<description>wah.........pak panjang amat ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>wah&#8230;&#8230;&#8230;pak panjang amat ya!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Abuyahya</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-1510</link>
		<dc:creator>Abuyahya</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 18 Jan 2008 04:20:49 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-1510</guid>
		<description>Assalaamu&#039;alaikum Wr. Wb.

Sama Bang,

Saya dapat banyak hikmah dan pelajaran setelah &lt;a href=&quot;http://abuyahyalearntoblog.blogspot.com&quot; rel=&quot;nofollow&quot;&gt;belajar &quot;blogging&quot; &lt;/a&gt;. Tentunya juga banyak hikmah dan pelajaran yang saya serap dari tulisan Bang Yusril ini!

Semangat terus, Bang...

Wass. Wr. Wb.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalaamu&#8217;alaikum Wr. Wb.</p>
<p>Sama Bang,</p>
<p>Saya dapat banyak hikmah dan pelajaran setelah <a href="http://abuyahyalearntoblog.blogspot.com" rel="nofollow">belajar &#8220;blogging&#8221; </a>. Tentunya juga banyak hikmah dan pelajaran yang saya serap dari tulisan Bang Yusril ini!</p>
<p>Semangat terus, Bang&#8230;</p>
<p>Wass. Wr. Wb.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Vavai</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-3/#comment-1128</link>
		<dc:creator>Vavai</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 14:45:58 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-1128</guid>
		<description>#100
Selamat, menjadi komentator ke 100 untuk topik ini :-D

&lt;blockquote&gt;eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan :D&lt;/blockquote&gt;

Ada kok, bisa gunakan halaman kontak.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>#100<br />
Selamat, menjadi komentator ke 100 untuk topik ini :-D</p>
<blockquote><p>eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan :D</p></blockquote>
<p>Ada kok, bisa gunakan halaman kontak.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: dajal007</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-2/#comment-1127</link>
		<dc:creator>dajal007</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 23 Dec 2007 11:44:27 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-1127</guid>
		<description>ye.... jadi yang keseratus :D

wah... panjang euy bahasannya, tapi te o pe be ge te es ka el deh

seandainya manusia itu merasa bisa bebas sebebas-bebasnya dalam hal apa pun, bisa jadi manusia itu telah menghilangkan atau kehilangan fitrahnya sebagai manusia. sebab, seperti yang bapak bilang tulis, manusia dan makhluk-makhluk lainnya punya batasan masing-masing, baik secara fisik maupun sosial.

masalah penyerangan pribadi lewat tulisan mah udah biasa pak :D apalagi di forum-forum diskusi, dibawa santai aja ^_^

bey de wey ani wey bus wey, istri bapak seneng sama psikologi dan filsafat ya... sama donk kaya saya, punya blog juga ga pak? mau maen juga nih ke sono. eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan :D

NB : jangan tanya kenapa saya pake nama ini ya... ^_^</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>ye&#8230;. jadi yang keseratus :D</p>
<p>wah&#8230; panjang euy bahasannya, tapi te o pe be ge te es ka el deh</p>
<p>seandainya manusia itu merasa bisa bebas sebebas-bebasnya dalam hal apa pun, bisa jadi manusia itu telah menghilangkan atau kehilangan fitrahnya sebagai manusia. sebab, seperti yang bapak bilang tulis, manusia dan makhluk-makhluk lainnya punya batasan masing-masing, baik secara fisik maupun sosial.</p>
<p>masalah penyerangan pribadi lewat tulisan mah udah biasa pak :D apalagi di forum-forum diskusi, dibawa santai aja ^_^</p>
<p>bey de wey ani wey bus wey, istri bapak seneng sama psikologi dan filsafat ya&#8230; sama donk kaya saya, punya blog juga ga pak? mau maen juga nih ke sono. eh, iya. di blog ini kok ga ada kotak pesennya pak? kalo ada kan jadi lebih enak kalo mau sekadar ngobrol tanpa mengomentari tulisan :D</p>
<p>NB : jangan tanya kenapa saya pake nama ini ya&#8230; ^_^</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: yudi wahyudin</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/comment-page-2/#comment-1046</link>
		<dc:creator>yudi wahyudin</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Dec 2007 14:26:00 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/23/saya-dapat-memetik-hikmah-dan-pelajaran/#comment-1046</guid>
		<description>Ass pak Yusril...
Dulu saya kurang menyukai penampilan dan gaya bapak yang terkesan angkuh  dan arogan (kalau tampil di tv), ditambah lagi dengan pemberitaan berbagai media masa yang kerapkali menyudutkan bapak maka lengkaplah sudah ketidaksukaan saya.
Tetapi kini setelah saya mencoba menelusuri blog bapak  dan mencoba untuk menikmati dan memahami seluruh tulisan bapak, sikap saya terhadap bapak sontak jadi berubah. saya tidak tahu penyebabnya kenapa saya bisa berubah. dan saya jadi malu sendiri betapa selama ini saya telah keliru menilai bapak. selama ini saya telah dan selalu berpikiran negatif terhadap bapak, sekarang saya baru menyadari ternyata selama ini saya telah menjadi korban bobroknya pemberitaan media masa, saya telah  terhanyut oleh bualan2 kosong mereka.
Karenanya   saya berharap agar bapak bisa terus mempertahankan keberadaan BLOG ini,  yang manfaatnya telah saya rasakan secara langsung. dan saya mohon  kepada bapak agar bisa mengajak rekan bapak yang lain (yang punya pengaruh dijagad perpolitikan nasional) untuk ikut terjun juga didunia BLOG,  dan juga saya usulkan agar dimasa datang para anggota Dewan diwajibkan memiliki Bolg masing2 supaya kita bisa tahu apa saja sepak terjang mereka selama duduk menjadi anggota Dewan.
sekian saja dulu pak! terimakasih atas tulisan2nya yang penuh pencerahan.
wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass pak Yusril&#8230;<br />
Dulu saya kurang menyukai penampilan dan gaya bapak yang terkesan angkuh  dan arogan (kalau tampil di tv), ditambah lagi dengan pemberitaan berbagai media masa yang kerapkali menyudutkan bapak maka lengkaplah sudah ketidaksukaan saya.<br />
Tetapi kini setelah saya mencoba menelusuri blog bapak  dan mencoba untuk menikmati dan memahami seluruh tulisan bapak, sikap saya terhadap bapak sontak jadi berubah. saya tidak tahu penyebabnya kenapa saya bisa berubah. dan saya jadi malu sendiri betapa selama ini saya telah keliru menilai bapak. selama ini saya telah dan selalu berpikiran negatif terhadap bapak, sekarang saya baru menyadari ternyata selama ini saya telah menjadi korban bobroknya pemberitaan media masa, saya telah  terhanyut oleh bualan2 kosong mereka.<br />
Karenanya   saya berharap agar bapak bisa terus mempertahankan keberadaan BLOG ini,  yang manfaatnya telah saya rasakan secara langsung. dan saya mohon  kepada bapak agar bisa mengajak rekan bapak yang lain (yang punya pengaruh dijagad perpolitikan nasional) untuk ikut terjun juga didunia BLOG,  dan juga saya usulkan agar dimasa datang para anggota Dewan diwajibkan memiliki Bolg masing2 supaya kita bisa tahu apa saja sepak terjang mereka selama duduk menjadi anggota Dewan.<br />
sekian saja dulu pak! terimakasih atas tulisan2nya yang penuh pencerahan.<br />
wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
