|

ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim, 

Setelah berselang satu hari sejak saya memposting renungan terkait dengan norma etika, saya melihat telah ada lebih dari tiga puluh tanggapan dari para komentator. Saya mengucapkan terima kasih atas semua tanggapan itu, baik yang berupa saran, pertanyaan maupun kritik atas apa yang saya tuliskan. Dari semua tanggapan itu, saya dapat menangkap kesan bahwa kebanyakan komentator berpandangan bahwa norma etika memang perlu ditegakkan. Ada yang mengusulkan agar ada pihak yang mensponsori perumusan etika universal di dunia blog. Namun timbul pula kekhawatiran, kalau rumusan etika itu disepakati, justru akan membuat dunia blog, tidak lagi sebagai media ekspressi pemikiran yang tajam dan menarik. Dunia blog akan menjadi serupa dengan media yang lain, seperti koran dan majalah. Saya dapat memahami pendapat ini.

Tulisan saya memang berisi sebuah renungan bagi kita semua. Tidak berarti saya menggurui siapa-siapa, karena yang pertama-tama saya gurui adalah diri saya sendiri. Persoalan etika memang persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, sebab itulah saya mencoba untuk membahasnya, dalam situasi yang baru, ketika teknologi informasi  memperkenalkan blog sebagai wahana berkomunikasi. Inti masalah yang saya bahas, bukanlah masalah baru. Sejak Nabi Musa, Plato dan Aristoteles masalah ini telah dibahas. Pada hemat saya, norma-norma etika adalah norma-norma fundamental dan absolut yang mengandung sifat universal, seumpama Ten Commandements Nabi Musa. Norma jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan memfitnah dan sebagainya adalah norma fundamental dan absolut.  Tanpa norma-norma itu, maka manusia akan kehilangan hakikat sebagai manusia yang sejati.

Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit.

Pada hemat saya, tidak perlu kita merumuskan kode etik, code of conducts dan sejenisnya dalam bentuk yang tertulis. Norma-norma etika harus hidup  di dalam hati-sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang  lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan  dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.

Saya bisa saja memukul orang lain, karena saya menguasai ilmu bela diri, tetapi bolehkah? Saya mampu saja mengambil barang dagangan  pedagang di pinggir jalan, karena penjualnya seorang wanita tua, tetapi bolehkah? Saya dapat saja memfitnah  dan mencaci maki orang lain karena saya punya blog yang tidak dapat dikontrol siapapun, tetapi bolehkah? Saya memiliki senjata, saya dapat saja menembak orang lain, tapi bolehkah saya membunuh seseorang? Semua pertanyaan ini haruslah dikembalikan kepada kesadaran hati-nurani kita masing-masing. Dengan cara itu, kita akan memiliki apa yang disebut dengan “tanggungjawab etika” atau “tanggungjawab moral”. Sia-sia saja kita merumuskan kode etik secara tertulis. Percuma saja kita merumuskan matriks yang memuat sederet kewajiban dan larangan untuk dihafal luar kepala. Semua itu tidak menjadi jaminan apa-apa agar norma  ditaati. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya.

Dalam pandangan saya, kesadaran etika seperti uraian di atas itu akan mempu membedakan mana tulisan yang berisi polemik iintelektual, dan mana tulisan yang dapat dikategorikan sebagai agitasi, propaganda dan perang urat syaraf. Dalam sejarah bangsa kita, kita telah menemukan banyak polemik yang tinggi mutu intelektualnya, dan memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita. Polemik itu antara lain, ialah polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik  tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun, dan Polemik Kebudayaan Timur dan Barat antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Demikian pula tulisan-tulisan bernada polemis yang dibuat oleh Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dan lain-lain di bidang pembangunan politik dan ekonomi. Polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid, sangatlah menarik untuk dibaca. Demikian pula polemik Mohamad Roem dengan Rosihan Anwar yang berkaitan dengan sejarah politik di tanah air era tahun 1950-an. Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.

Polemik yang bernuansa intelektual sebagaimana saya gambarkan di atas, tentu berbeda jauh dengan kegiatan agitasi dan propaganda. Dua istilah ini sangat terkenal di masa partai komunis masih kuat pengaruhnya. Sebelum itu, Adolf Hitler dan Jozef Goebbels telah merancang propaganda Nazi dengan sangat canggih. Hampir semua  partai fasis dan partai komunis mempunyai suatu badan tersendiri yang menangani masalah ini. Badan itu mereka namakan dengan “Departemen Agitasi dan Propaganda” atau Agitprop yang berada di bawah komite sentral partai tersebut. Agitasi adalah menyerang lawan dengan segala cara dengan tujuan untuk merendahkan, memojokkan dan menjatuhkan. Pilihan kata-kata sangat tajam dan lugas. Propaganda mempunyai nada yang hampir sama, yakni menyampaikan fakta atau bukan fakta kepada publik dengan maksud untuk membentuk publik opini, sesuai yang diinginkan oleh sang propagandis. Dalam propaganda, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumors dan fintah adalah halal belaka. Agitasi dan propaganda melahirkan perang urat syaraf atau psychological war.

Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena  yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai  keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah  kebenaran yang dirubah sedikit saja. Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian “diplintir” sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.

Selama saya menjadi asisten Professor Osman Raliby yang mengajar mata kuliah propaganda politik dan perang urat syaraf di Universitas Indonesia sekitar tahun 1978-1980, berulang kali beliau mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Professor  Osman Raliby pernah “berguru” kepada Jozef Goebbels, ketika beliau belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. Kita harus jujur, fair dan adil. Demikian nasehat Professor  Raliby kepada saya. Kalau propaganda dihadapi pula dengan propaganda, dunia ini akan makin centang perenang. Dengan propaganda, orang dapat menciptakan “surga”, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan “neraka” di tengah sebuah komunitas. Seperti saya jelaskan dalam Kata Pengantar blog ini, saya mengundang siapa saja yang berminat untuk berdiskusi, bertukar pikiran dengan semangat intelektual atas dasar saling menghormati. Tulisan singkat saya kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.

Wallahu’alam bissawab.

Short URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=38

Posted by Yusril Ihza Mahendra on Nov 24 2007. Filed under Personal. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response or trackback to this entry

83 Responses to “ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA”

Pages: [1] 2 » Show All

  1. 1
    Muhammad Ihsan Firdaus Says:

    Assalamualaikum warohmatulloh,

    Tulisan yang bermanfaat pak, syarat dengan ilmu yang ditunjang dengan pengalaman pribadi sehingga tercipta sebuah alur tulisan yang enak di baca dan mudah dipahami …

    Semoga Allah Subhanahu Wata’ala senantiasa memberikan kemudahan dan menetapkan Bapak dalam ke istiqomahan … Insya Allah amin …

  2. 2
    Luthfi Says:

    ….. Tulisan singkat saya kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. …..

    waduh Pak, segini panjang koq masih dibilang singkat?

  3. 3
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    @Lutfi,
    Sorry Boss, paling tidak, jika dibandingkan dengan tulisan sebelumnya, tulisan ini lebih singkat, he he …

    Mungkin terlalu lama saya jadi dosen, sehingga terbiasa menguraikan sesuatu panjang lebar, agar dapat dimengerti. Mohon maaf kalau terasa terlalu panjang.

  4. 4
    Marwan Adli Says:

    Assalamualaikum Ww.Wb.
    Sungguh indah dan bernilai tulisan Bapak untuk kemajuan anak bangsa,
    kita membutuhkan pencerahan yang berkualitas dan beretika agar kita tidak menjadi agitator dan propagandis.
    Kami tunggu tulisan yang berikutnya
    Marwan Adli
    Kalapas Kalabahi, NTT

  5. 5
    edo Says:

    hehehe…
    satu hal yang selalu membuat saya tertarik membaca tulisan bang yusril adalah kajian yang selalu komprehensif, terstruktur, dengan dasar-dasar yang jelas. saya sangat ingin bisa seperti ini. to be honest, mengingat cara berfikir saya yang nyaris berantakan seperti tabrakan elektron-elektron, saya kesulitan melakukan pemilahan-pemilahan. disatu sisi, saya meihat ini perlu saya pertahankan karena benturan informasi-informasi itulah yang menyebabkan timbulnya kreatifitas, membuat otak tidak hanya menjadi perpustakaan informasi, tapi menjadi laboratorium informasi.
    maaf oot bang, tapi adakah formulasi agar kedua point ini bisa berjalan seimbang?

    btw, saya setuju dengan ulasan bang yusril.
    dalam pikiran bodoh saya, hanya ada 1 hukum yang tak terbantahkan : hukum Tuhan. Akan tetapi, dalam kontekstual tertentu, hukum yang lahir dari bentuk penataan sebuah masyarakat seperti norma, etika, tidak perlu di rumuskan. norma2 seperti menurut saya adalah kesepakatan dari setiap pihak. dan norma tersebut akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan manusia itu sendiri.
    Dalam masyarakat yang tidak ada strukturnya, maka tidak perlulah sebuah “konsensus” itu diatur. kecuali dalam suatu tatanan yang ada strukturnya seperti negara, perusahaan, mana aturan main itu perlu disiapkan.
    thank bang yusril
    *menunggu tulisan-tulisan bang yusril berikutnya

  6. 6
    edo Says:

    btw, maaf ya bang, kl setiap saya komentar cenderung juga berpendapat. hanya ingin juga membagi apa yang ada dipikiran :)

  7. 7
    achmadi Says:

    - quote –
    Selama saya menjadi asisten Professor Osman Raliby yang mengajar mata kuliah propaganda politik dan perang urat syaraf di Universitas Indonesia sekitar tahun 1978-1980, berulang kali beliau mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama.
    - end of quote –

    Boleh tahu teknik propaganda yang dimaksud apa saja yak? Bukannya dalam bidang kemasyarakatan ( siapapun orangnya/institusinya ),terutama yang berkaitan dengan kepentingan publik dan ekonomi, teknik propaganda selalu dipakai?

  8. 8
    Handi Says:

    ….. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf….

    Pak Yusril, tapi hal begini sudah memang bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan saja di dunia blog. Jadi yah tinggal bagaimana kita menanggapinya, apakah emosi kita terpancing atau tidak. Dan bagaimana kita dapat mengatasinya secara elegan. Sebagai politikus tentunya pak Yusril sudah sangat berpengalaman dalam hal beginian ya pak.

  9. 9
    eRry Says:

    Kebenaran adalah 1000 kebohongan
    Entah kenapa saya merasa politik Indonesia menganut ajaran Jozef Goebbels ..

  10. 10
    Erwan Says:

    Assalamualaikum Bang,

    Saya memberanikan diri untuk mencari kesamaan arti dari judul diatas menjadi Hati, Pikiran dan Tindakan.

    Jika merunut kepada prosesnya mungkin akan terjadi paradoks antara Pikiran dan Hati. Mengingat hubungan kerja antara Pikiran dan Hati tidaklah selalu linear. Bagi individu yang mengedepankan nilai-nilai moralitas yang tinggi tentu hati berada di urutan pertama. Bisa jadi Hati lah yang menentukan cara kita berpikir. Atau mungkin sebaliknya Hati kita di tentukan dari cara berpikir kita dalam melihat dan merespon sebuah tindakan. Terlepas dari itu semua kita tentu sepakat bahwa setiap tindakan kita telah melalui proses “penyaringan” oleh hati dan pikiran. Saya mengistilahkan ini sebagai sebuah tindakan (dalam kondisi) sadar.

    Adapun propaganda sebagai tindakan sadar tentulah punya tujuan-tujuan yang sadar pula. Propaganda sebagai produk komunikasi tentu bermuatan informasi yang juga dengan sadar telah di rancang dan diprediksi hasil akhirnya. Memang ada hal yang lemah dari propaganda ini yaitu dimungkinkannya ia dilakukan dengan atau tanpa fakta. Propaganda tanpa fakta inilah yang kemudian kita yakini secara awam sebagai sebuah propaganda.

    Penekanan masalah propaganda justru ada di fakta-fakta yang akan digunakan sebagai bahan informasi untuk mempengaruhi orang lain. Disinilah mungkin fungsi hati nurani dan kejernihan berpikir dalam memilah fakta-fakta yang ada.

    Propaganda menjadi sangat “kotor” tatkala ia melekat pada politik yang secara lahiriah memang mengandung unsur menguasai orang lain. Kebutuhan akan kekuasaan atas diri orang lain cenderung membuat pilihan-pilhan atas fakta menjadi sangat “politis”.

    Sejatinya propaganda sangat lazim digunakan untuk mengubah apa yang dipikirkan orang mengenai keadaan “politis” tertentu hal ini tentu bertujuan untuk mengubah cara berlaku orang terhadap sebuah persoalan.

    Dan sejatinya pula secara tidak sadar justru kita sering melakukan propaganda terhadap orang lain. Terima Kasih

  11. 11
    N. Jamil ghazali Says:

    Polemik para intelektual zaman dulu – awal kemerdekaan RI s.d. 70-an memang bermutu dan patut ditiru, karena antara ilmu dan akhlaqnya seimbang, jauh dari kesan mau menang sendiri, apalagi sampai menfitnah. Polemik zaman sekarang kalau tidak menfitnah, menghujat dan mau menang sendiri atau ada pesanan orang ketiga untuk tujuan tertentu yang katanya di bayar dengan harga mahal.. Wallahu ‘alam

  12. 12
    hadikin Says:

    Luar biasa kesadaran Prof mantan menteri dan pejabat negara 5 presiden Indonesia! Salut! Jika ada pemilihan presiden blogger Indonesia, bapak salah satu calon kuat yang kudukung!

  13. 13
    chairina Says:

    Kadang saya berfikir, apakah teori ini bisa dibawa ke tataran nyata di masyarakat?
    Teori tentang etika misalnya, pastinya hati nurani kita tahu bagaimana etika yang baik, entah itu dalam berpolitik atau bermasyarakat… tapi akhirnya etika2 itu terlupakan saja.

    Saya berharap, para pemimpin bangsa tetap pada koridor etika, dan kembali pada hati nurani…

    insyaAllah, amin

  14. 14
    solma Says:

    Assalamu alaikum ww,
    Pak Yusril,

    Tulisan Bapak sungguh luar biasa, sebuah pencerahan bagi mereka yang selalu ingin memperluas wawasan dan perenungan atau penyadaran bagi mereka yang senantiasa berfikir negative, agitatif dan propagandis memutar balikkan fakta dari kebenaran menjadi kebohongan.
    Sayang sekali kalau tulisan yang bermutu ini hanya dapat dinikmati bagi komunitas dunia maya yang melek IT. Karenanya saya sarankan pak Yusril aktif kembali menulis di dunia nyata agar tulisan-tulisan bapak dapat dinimkmati oleh semua pihak.

    Wassaalamu alaikum ww

  15. 15
    jebee Says:

    Salam Hangat

    Pak Yusril, benar Etika, Intelektualitas, Propaganda, Norma, dan term lainnya merupakan persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, menurut saya semua itu sudah melekat pada diri setiap orang yang telah melewati pergulatan ranah ilmu pengetahuan, pembelajaran, pencerahan dan pengalaman hidup.
    Semua itu akan nampak terwujud/terimplementasi dalam tindakan nyata/hakiki dari masing masing individu.

    Sekali lagi saya tidak apriori/sinis terhadap Bapak, cuma sudah beberapa banyak komentar yang muncul untuk meminta Bapak membahas ke hal yang lebih substansial, tetapi sepertinya Bapak selalu bersilat bahasa bak seorang guru bangsa.
    Menurut saya itu juga adalah propaganda Bapak untuk memperbaiki citra yang kadung agak tercela pasca dilengserkan oleh Pak SBY.

    Karena itu ada baiknya, Bapak mulai membuka diri mungkin dengan membahas hal hal yang agak substansial yang berhubungan dengan aksi nyata yang sudah bapak sumbangkan buat negara ini, seperti Bapak yang disebut terlibat dengan kasus Tomy Soeharto, Kasus saat Bapak menjabat Mensesneg, dsb. Karena menurut saya bagaimanapun masyarakat dan warga blog akan tetap menjadikan itu sebuah pertanyaan yang menyelip dihati.

    Katakan yang sebenarnya, jangan dipoles dengan kata kata bak pujangga, karena kasus yang melibatkan diri bapak itu sangat berkaitan dengan hak warga negara Indonesia yang ikut bersama sama membayar pajak dari peluh keringat mereka, jika Bapak selalu berkelit dengan fatwa fatwa tanpa menyentuh substansialnya, pemikiran bapak yang bernas itu sepertinya hanya berlaku untuk orang yang membaca, bagi bapak tentunya jawabannya terserah saya.
    Kalau Bapak sudah menjelaskan duduk perkaranya, saya yakin kita akan tahu duduk persoalannya, dan citra bapakpun lambat laun akan dijawab oleh sang waktu.

    Tentunya kita juga tidak bersuudzon atau berburuk sangka terhadap berita tentang diri bapak yang sangat heboh sebelum dilengserkan oleh pak SBY itu, kita tahunya Bapak disebut sebut terkait dengan masalah yang sangat sensitif bagi sebuah penegakkan hukum di Indonesia.
    Sebelum Bapak bisa menjelaskan perkara itu, yakinlah celoteh celoteh miring akan selalu hadir di blog ini.

    Karena itu ETIKA, INTELETUALITAS dan PROPAGANDA yang bapak kupas itu akan nampak nyata dari tindakan/perbuatan nyata dari orangnya.

    Itu dulu Pak….

  16. 16
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    @Jebee. Saya menyimak dengan baik keinginan dari rekan-rekan agar saya menulis tentang masalah Bank Paribas dan juga masalah AFIS. Insya Allah, saya akan menulis hal itu. Saya sedang mengumpulkan semua dokumen yang terkait, agar saya dapat menulis dengan teliti. Saya sependapat, bahwa saya harus menjelaskan hal itu dari sudut pandang saya sendiri, argumen dan bukti-bukti yang saya miliki. Secara selintas saya pernah menyinggung masalah ini di blog Budayawan Muda milik Wibisono Sastrodiwiryo, tetapi belum rinci. Mungkin anda dapat membacanya juga.

    Beberapa posting yang telah dapat dibaca di blog saya ini, masih berada pada tahap pendahuluan, agar saya sendiri, dan mungkin juga orang lain, dapat belajar. Dengan demikian, nanti akan jelas ke arah mana perjalanan blog saya ini. Blog ini saya bangun dengan suatu landasan etis, filosofis dan karakteristik tersendiri. Penegasan-penegasan seperti itu harus saya bangun di tahap awal, agar saya tidak salah dalam melangkah.

    Saya ucapkan terima kasih atas komentar anda. Salam hormat saya.

  17. 17
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    @Ahmadi. Istilah propaganda pada mulanya adalah istilah yang luhur dan digunakan oleh gereja Katolik dalam rangka menyebarkan agama. Nampaknya Hitler yang kemudian menggunakan istilah propaganda seperti saya uraikan dalam tulisan saya, sehingga konotasi istilah itu menjadi negatif di belakang hari. Jozef Goebbels sendiri mengemukakan adanya tiga titik singgung dalam komunikasi, yakni informasi, edukasi dan propaganda. Sejauh propaganda diartikan positif, dalam makna untuk mempengaruhi dan membentuk publik opini, hal itu sah saja. Membuat iklan tentang suatu produk misalnya, tentu ada aspek “propaganda”nya juga, walau tentu tidak dalam pengertian yang berkaitan dengan politik.

  18. 18
    iman brotoseno Says:

    Bang Yusril
    Memang kita tidak mungkin membuat standarisasi bagaimana beretika dalam komentar atau polemik di dunia blogsphere ini. Pertama, memang begitu luasnya spektrum kualiitas pembaca, dengan tingkat pendidikan yang berbeda, pemahaman yang relatif, serta strata sosial yang beranekaragam. Kedua, kalau saya pribadi berusaha tidak terpancing untuk menjawab semuanya. Dont get carried away with the subjects. Kita tidak melulu harus ‘ memiliki hak jawab ‘ sebagaima media jurnalisme konservative. Beberapa hal yang mulai dragging polemiknya dalam blog saya, lebih baiik saya sudahi dengan mendiamkan.Saya anggap should be proud living in democracy dengan segala pendapat dan opini.
    Selamat Datang di dunia blogging.

  19. 19
    Wibisono Sastrodiwiryo Says:

    Pak Yusril,

    Bagaimana jika sebuah kode etik ditulis hanya untuk kepentingan teknis, misalnya jika ada seorang yang memang belum tahu ngerti etik dan ingin tahu. Jadi kita bisa lebih mudah tinggal memberi rujukan, daripada mungkin harus cerita tentang kode etik berkali kali… kan capek juga Boss.

    Saya pernah punya pengalaman dituduh melakukan propaganda. Saya jadi terhenyak dan meneliti ulang tulisan saya. Sejauh ini tidak ada terbukti saya melakukan propaganda.

    Semula saya ingin meminta mereka membuktikan tuduhannya tapi saya urungkan karena mereka tak menggunakan identitas asli yang membuat saya kehilangan respect atas pribadi mereka.

    Menuduh orang dengan tanpa identitas dan tanpa fakta adalah hal paling mudah yang bisa dilakukan di Blog. Memang tidak harus kita tanggapi tapi terus terang itu sangat mengganggu seperti yang telah Anda alami sendiri.

    Di saat inilah saya mendambakan suatu iklim etika yang lebih baik dan sehat untuk dunia Blog kita. Saya masih ingin lebih banyak mendengar kisah kisah tentang pergulatan norma, etika, intelektualisme dan propaganda. Untuk kita pelajari sebagai bahan perbandingan.

  20. 20
    Wibisono Sastrodiwiryo Says:

    Pak Yusril,

    Budayawan Muda itu Blog saya. Nanti saya coba rangkum beberapa tulisan tercecer yang Anda tulis dalam satu buah postingan. Dan juga sekalian akan tanya sesuatu.

  21. 21
    Junarto Says:

    Bang Yusril kalau boleh usul,

    Tulisan panjang2 is oke, asal paragrafnya dibuat pendek2.

  22. 22
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    @Wibisono, terima kasih atas koreksi Anda. Respons saya kepada Jebee telah saya perbaiki, dan ada hal yang saya tambahkan. Apa yang Anda kemukakan adalah hal yang sejak awal menjadi fokus perhatian saya. Walau dunia blog terkesan carut-marut dilihat dari sudut etika, namun kita harus memulai penggunaan blog yang menjunjung tinggi sila “kemanusiaan yang adil dan beradab” dan akhirnya akan membawa kepada “hikmat kebijaksanaan”, seperti kata dalam Pancasila, he he.. Bagi sebagian orang blog seperti itu tidak menarik. Tetapi saya ingin mencobanya lebih dulu… Siapa tahu kita akan menciptakan trend yang baru.

    @Junarto, tulisan saya memang panjang dan paragrafnya juga panjang. Saya berusaha untuk menyesuaikannya agar mudah dibaca. Satu paragraf memang berisi satu pokok gagasan, karena itu agak sulit memecah suatu alinea sebelum gagasannya diuraikan dengan jelas. Kebanyakan tulisan di blog, menggunakan gaya tulisan wartawan, atau juga gaya artikel populer di koran dan majalah. Tulisan di blog saya ini, mungkin agak sedikit filosofis dan akademis agar dapat membawa ke arah pencerahan..

  23. 23
    hamidfara_aza Says:

    Assalamualaikum…….,
    Senang sekali saya membaca tulisan K’ Yusril di blog ini.
    Tulisan yang singkat tapi syarat makna untuk kita jadikan acuan dalam melangkah. Saya tunggu tulisan berikutnya dari Kaka’.

    Salam Ta’zhim,

  24. 24
    Mohammad Natsir Says:

    Assalammu’alaikum wr wb..

    Tulisan yang cerdas dengan bahasa yang ringan dan jauh dari kesan menggurui. terima kasih pak yusril, atas sumbangsih pemikiran dan keilmuannya yang sangat bermanfaat buat saya pribadi dan anak bangsa pada umumnya, saya dengan setia menanti tulisan Bapak berikutnya.

    Sekedar uneg2 nih pak, saya rasa saya menemukan kombinasi yang kuat dari setiap tulisan Bapak, antara seorang akademisi dan Politisi. Apakah dalam kehidupan nyata Bapak sering dihadapkan kepada kontradiksi, paradoks, atau dilema dalam mengambil langkah dan keputusan profesional ?
    Bagaimana Bapak mensikapi semua ini ?

    terima kasih sebelumnya..

    Wassalam…

  25. 25
    Abdurahman Says:

    di UI ada netiket pak.. mungkin bisa dipake sharing..

    http://blog.ui.edu/blog/tossy/2007/06/16/etika-di-internet#comment-6

  26. 26
    jebee Says:

    Salam Hangat

    Pak Yusril terimakasih atas tanggapannya tentang komentar saya thd posting Etika, Intelektuailitas dan Propaganda (sementara).

    Saya tergelitik untuk ikut urun rembuk mengenai masalah etis terutama mengenai identitas valid/asli dari sang komentator/apresiator/audiens/partisipan/perembuk/pendialog/pemusyawarah/dsb sebagaimana yang dikomentari oleh Sdr/Mas/Bung/Bos Wibisono yang mengatakan bahwa “mereka tak menggunakan identitas asli yang membuat saya kehilangan respect atas pribadi mereka.” tentunya dengan kata lain jika ada pendapat/komentar dari orang yang berapresiasi thd pemikiran kita di BLOG yang menurut kita pendapatnya kurang proporsional, menohok, menyindir, mencaci dsb tentunya tidak usah terlalu diapresiasi karena sipengomentar tidak jantan, tidak jentelmen, tidak respek, tidak sportif dsb, tentunya begitu bukan ?

    Saya lihat yang mana Pak Yusril menurut saya juga terikuti alur/konsep yang ditawarkan oleh Bung Wibisono itu (ini pendapat saya pribadi setelah membaca komentar Pak Yusril di Posting SEKEDAR INFO, tentunya Pak Yusril bisa mengklarifikasi).

    Karena itu ijinkan saya ikut bercurah rembuk, yang mana saya juga dalam taraf belajar dan akan selalu belajar.

    1. Menurut saya pemikiran Bung Wibisono itu sah sah saja, karena kita menganggap (pemilik BLOG) kita sudah sangat sportif, sudah sangat jantan menunjukkan jati diri kita yang asli. Karena wajar juga kalau kita meminta jika warga maya yang apresiasi thd Blog kita agar menunjukkan juga jatidirinya.

    2. Kalau ada warga maya yang berapresiasi thd blog kita, terlepas dari komentar positif (apakah dukungan, motivasi, sanjungan, pujian, dsb) dan negatif (ledekan, curiga, prasangka, sentilan, bahkan cacian) dan terlepas pula si sang apresiasi mencantumkan nama/identitas asli atau nama/identitas gaulnya, haruskah kita membedakan takaran apresiasi kita terhadap mereka ??, apakah kita hanya mau membahas yang manis manis saja dan kalau ada yang pahit harus yang kita ketahui identitasnya, haruskah begitu ??

    3. Menurut saya bukan terletak pada identitas diri itu untuk menyatakan itu etis atau tidak etis, itu sportif atau tidak sportif, kedua-duanya memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing, memiliki manfaat dan dampak tersendiri bagi perkembangan BLOG kita dan tentunya yang paling hakiki bagi kearifan dan kematangan kita dalam menyikapi semua tali silaturahmi, dan silaturahmipun tidak harus terbentuk dalam saling mengetahui secara penampakkan identitas.
    Seperti saya atau pengagum Buya M.Natsir yang tidak pernah bersua secara fisik dengan beliau, mungkin bisa saja bersilaturahmi pemikiran dengan Alm.Muhammad Natsir dengan membaca karya karya beliau, saya bisa saja mengatakan setuju atau tidak setuju, walaupun beliau tidak tahu siapa kita lagi, apakah identitas asli yang dituntut itu masih relevan ? Mari kita renungkan lebih luas lagi cakupan tali silaturahmi ini, atau saya yang salah berbasa basi.

    4. Sebagai contoh misalnya Saya adalah teman/kerabat dekat/adik/istri atau yg lainnya yang sangat mengetahui sedikitnya tentang Pak Yusril dan sebaliknya, dan ingin sekali berdiskusi/meminta pendapat dengan Pak Yusril atau sedikit sedikit mencoba menggelitik Beliau untuk meningkatkan/mengingatkan/ adrenalin pemikirannya, jika saya memberi komentar dengan mencantumkan identitas asli saya tentunya ada sedikit banyaknya ewuh pakewuh, ada tepa selera, ada sungkan, dibahaspun mungkin tidak serius benar dsb, padahal intinya yang akan kita ambil bukanlah sekedar mengetahui siapa orang yang kita ajak untuk berdiskusi bersama tetapi apa hakikat dari sebuah topik diskusi yang akan kita ambil intisari hikmahnya bagi kemaslahatan bersama.

    5. Jika ada celoteh celoteh miring yang sangat menghantam pribadi kita tanpa argumentasi atau melengkapi data primer maupun sekunder, menurut saya itu BIASA SAJA, jawab saja Alhamdulillah bukankah Nabi Muhammad SAW pun ketika dilempar kaum kafir Beliau malah mendokan kaum tersebut semoga dibukakan pintu cahaya kebenaran ?
    Anggap saja sang apresiator sedang menguji kematangan emosional kita, atau mereka sedang mengalami himpitan hidup yang luar biasa dari adanya turut campur tangan kita mengelola sebuah negara, institusi, organisasi, yayasan, warung, hidup bertetangga dsb.
    Apakah kita menutup hati, bahwa kita banyak sedikitnya memiliki kesalahan dan kelemahan ??

    Percayalah lambat laun, komentar seperti itu akan hilang sendirinya, karena yang hadir didunia blog ini tentunya juga bisa menakar mana yang argumentatif dan mana yang sebuah partisipatif.

    6. Karena itu permintaan saya kepada Pak Yusril, jangan lagi memperdebatkan jika ada nama samaran, celoteh miring, sindiran, cacian yang muncul diBLOG Bapak sebuah bentuk yang TIDAK BERETIKA tergantung melihatnya dari sudut pandang apa (yakinlah semuanya ada manfaatnya, sebagai contoh manfaat adanya nama samaran, bisa saja suatu saat Pak Yusril akan dibikin surprise luar biasa oleh sang penyamar rupanya itu adalah Istri atau orang yang Bapak rindukan).

    7. Sorry agak keras sedikit, justru menurut saya kalau kita membatasi diri seperti itu dari uluran BLOG yang kita buat sendiri kemudian kita sendiri pula yang menuntut orang menampakkan dirinya, JUSTRU ITU MENUNJUKKAN KEKERDILAN, KETAKUTAN DAN KEGAMANGAN KITA UNTUK BERARGUMEN MENCARI MUTIARA HAKIKAT ILMU DAN PENCERAHAN YANG MENDEKATI KESEPAKATAN DAN KEBENARAN YANG AKAN KITA SADARI BERSAMA YANG SEMOGA JUGA BISA MENDEKATI TUNTUTAN SEPERTI DALAM KITAB AGAMA.
    Bisa saja para partisipan berkomentar, “salah lou ikut ikutan buat blog, emangnya lou belum SIAP apa, masih untung neeh gue buka BLOG lou” hahahahaaaaa…..

    8. Jika dianggap sudah sangat keterlaluan (tentunya diluar SARA dan menjurus ungkapan kriminalitas) menurut saya LEBIH DIAMINI saja, semoga sang apresiator lambat laun kembali kejalan yang benar dalam melakukan debat argumentasi.

    9. Berikanlah apresiasi yang sama dan berimbang sesuai konteks yang akan Bapak sikapi, sebagaimana yang Bapak ungkapkan sebelumnya “SAYA LEBIH MENGHARGAI ARGUMEN DAN SUBSTANSI DARI SEBUAH MATERI (maaf jika saya salah tangkap lagi).”

    Itu dulu Paak…
    Insya Allah akan ikut celoteh miring lagii….

  27. 27
    resti Says:

    bang yusril,
    ada hal yg sering tak disadari oleh seseorang yang memberikan respon atas suatu tulisan di dunia maya, baik itu blog atau pun mailing list. Saat kita mendebat seseorang, sering kali pikiran kita terfokus pada sosok yang sedang kita debat pendapatnya secara terbuka, tidak lewat jalur pribadi (dengan langsung mengirim email pribadi kepada yang bersangkutan). Dengan mendebat secara terbuka, maka publik akan membaca hal2 yang sebetulnya tidak untuk konsumsi mereka. Oleh karena itu, kita sangat perlu berhati2 dalam adu argumentasi di daerah publik.

    misalnya, dalam satu mailing list, ada hal2 yang ingin saya diskusikan lebih lanjut tapi tidak pantas diketahui orang banyak, maka lebih baik saya mengirimkan e-mail secara pribadi kepada yang bersangkutan, sehinggat orang lain tak perlu tahu. Hal demikian, berlaku pula di dunia blog. Apalagi, blog memiliki pembaca yang lebih terbuka dibandingkan dengan mailing list.

    Tulisan abang diatas, sangat saya hargai. Hal ini menunjukkan abang mau mengakui kesalahan abang. Dan publik akan menilai sendiri siapa pihak yang suka “lempar batu sembunyi tangan”.

    SAya tunggu tulisan abang selanjutnya….

    O,ya bang, kapan menulis tentang proses pembuatan film cheng ho? Terutama tentang aktivitas belakang layar, ya bang. misalnya pemilihan kostum, analisa sejarah dll.

    Kemarin saya sempat berdiskusi dengan kawan2 soal foto patung chengho yang berkumis di blognya JAY, padahal cheng ho adalah seorang kasim yang mestinya tak memiliki kumis karena sudah dikebiri sejak sebelum baligh.

    Sampai2 saya mencari tulisan2 tentang ilmu biologi yang berkaitan dengan hal itu. Apakah pembuatan film cheng ho sampai memperhatikan hal2 kecil seperti ini?

    terima kasih sebelumnya…..

  28. 28
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    #26. Jebee. Pada mulanya memang saya mempersoalkan identitas seseorang, karena saya menganggap ada penghinaan, penistaan dan fitnah dari seseorang yang menyembunyikan identitas terhadap seorang yang ada di alam nyata. Semua itu tercermin dalam tanggapan saya di Indonesia Matters. Saya masih terbawa cara berpikir seorang “jurist”.

    Tetapi setelah saya mempelajari segala sesuatu berkaitan dengan dunia blog dan memetik pengalaman, saya mulai menyadari tidak perlu lagi mempersoalkan nama asli atau nama samaran. Biarkanlah mereka menulis apa adanya.

    Tulisan saya yang berjudul “Saya Dapat Memetik Pelajaran dan Hikmah” adalah ungkapan perubahan pikiran saya. Setelah membaca posting “Sekedar Info”, ada baiknya dilanjutkan dengan membaca posting ini. Nanti, akan nampak dinamika pemikiran saya.

    Terima kasih atas perhatiannya.

  29. 29
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    #24 Mohammad Natsir. Nampaknya istilah dilema lebih tepat. Memang benar, dalam dunia nyata saya seringkali dihadapkan kepada dilema, yakni pilihan sulit di antara berbagai alternatif. Jika dilema antara yang baik dengan yang buruk, dan yang benar dengan yang salah, tentu saya akan mengambil yang baik dan yang benar. Namun dalam dunia nyata, adakalanya kita berhadapan dengan situasi ekstrim, seperti kata pepatah “ibarat makan buah si malakama, dimakan bapak mati, tidak dimakan ibu mati”. Memilih salah satunya sangat sulit.

    Namun antara pemikiran di alam idea, dengan realitas tempat kita memutuskan dan bertindak, memang ada bedanya. Tidak selalu apa yang ideal dalam pikiran kita, akan mampu kita wujudkan dalam kenyataan. Kita harus menangani kasus-kasus kongkrit yang memerlukan pemecahan segera. Memang membutuhkan semacam “rekonsiliasi” antara dunia idea dengan dunia realistis. Kalau tidak, kita akan jadi murni “idealis” dan perfeksionis. Atau sebaliknya kita akan menjadi murni “pragmatis”.

    Saya memang berlatar belakang akademisi, tetapi saya juga terlibat dalam dunia aktivisme, dan kemudian memegang sebuah tanggungjawab penyelenggaraan pemerintahan negara. Saya mencoba untuk mengkombinasikan apa yang saya anggap terbaik.

    Demikian tanggapan saya. Terima kasih atas kontribusi pemikiran anda.

  30. 30
    mukus Says:

    Assalamu’alaikum WR WB
    Bang Yusril, Alhamdulillah tulisannnya menurut saya dapat bermanfaat bagi para pembacanya, satu hal yang cukup menarik buat saya yaitu tentang kebohongan yang tentunya kita semua telah banyak menyaksikan berbagai kebohongan dinegeri ini yang disampaikan oleh para elit politik, penguasa dll yang hanya mengejar kekuasaan, hanya ingin mempertahankan kekuasaan tanpa menghiraukan dampak buruk yang terjadi pada masayarakat dari kebohongan yang disampaikannya yang bisa ikut-ikutan menjadi pembohong bahkan bisa saling membunuh.

    Ada sebuah kisah ketika Rosulullah SAW kedatangan seseorang yang ingin masuk Islam namun dia tidak mau meninggalkan kebiasaan buruknya seperti mabuk, berjudi berzina dll dan belum mau melaksanakan kewajibannya sebagai muslim, namun Rosulullah SAW dapat menerimanya namun dengan satu syarat tidak boleh BERBOHONG dan orang itupun dapat menerimanya yang akhirnya seiring dengan perjalanan waktu dia menjalani hidupnya tanpa kebohongan maka akhirnya dia dapat meninggalkan segala kebiasaan buruknya dan dapat menjalankan segala kewajibannya sebagai seorang muslim.

    Mudah-mudahan kita semua dapat terhindar dan menghindari dari berbuat kebohongan dan Allah SWT menberikan perlindungan kepada kita dari sifat pembohong.
    Wassalamu’alaikum WR WB.

  31. 31
    Faridin Says:

    Tulisan yang sangat bagus sekali pak..
    Pak, saya mau tanya mengenai propaganda melalui internet yang terjadi sekarang ini menyangkut pembentukan Negara Islam. Banyak propaganda agar publik tidak mengakui Pancasila dan demokrasi, Propagandis menginginkan Indonesia membentuk khilafah..
    Bagaimana menurut bapak ?

  32. 32
    surodadu Says:

    he he ada yang merasa gak yaa…
    kayaknya sih memang banyak yang merasa bisa tapi sedikit yang bisa merasa.

  33. 33
    is-albab Says:

    ……….Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit. ………
    …………..
    Didataran intelektualitas, sudah tidak perlu diragukan lagi apa yang digambarkan bang Yusril mengenai hukum, adat, norma sopan santun dan etika. Banyak masyarakat yang memuji ketika bang Yusril tampil di media dalam suatu diskusi, debat, atau adu argumentasi mengenai suatu masalah. Ketika itu juga masyarakat ada yang memberikan penilaian kurang baik dan menyayangkan terhadap implementasi sikap yang seakan akan arogan dan pride dalam penyampaiannya. Seakan akan ada ketidak sesuaian intelektualitas dan implementasinya di masyarakat. Disatu sisi intelektual akan mengangkat popularitas dan sebaliknya didataran implemensinya malah menurunkan popularitas yang berimbas kepada ketidak percayaan masyarakat. Misalnya ketika mendapat suatu tekanan, malah balik menyerang, kayak main bola aja, cape deh.. (komentator tolong,cmiiw). Kalau ini bang Yusril katakan dilema, hanya yang mempunyai masalah yang tahu itu, akan tetapi masyarakat umum tidak sepenuhnya sadar akan hal itu. Kritikan ini saya sampaikan, setelah banyak saya dengar dari teman teman yang mengatakan demikian. Dengan maksud baik dan do’a dari saya kedepan setelah ada blog bang Yusril dengan judul “Saya dapat memetik hikmah dan pelajaran”, ini benar benar akan ada hikmah yang dapat diambil, tidak hanya terbatas pada norma dan etika intelektualitas dikalangan blogger, tetapi yang lebih penting dalam implementasi dunia nyata. Saya yakin, seyakin yakinnya, masyarakat masih sangat membutuhkan orang orang seperti bang Yusril untuk dapat menggiring jalannya bangsa ini kedepan !

    BR,
    is-albab

  34. 34
    Erwin J Says:

    Salam Pak Sril.

    Menarik sekali tentang tema ini,

    *) Saya ingin Menanyakan Bagaimana pendapat Pak Yusril tentang
    Karikatur NAbi Muhammad Saw di sebuah majalah Denmark kemarin ????

    bagaimana reaksi kita sebagai orang Muslim ?
    karena Kebebasan tsb tidak Mutlak ada tepiannya dimana kalau menyentuh harga diri dan kehormatan suatu golongan,

    *) sikap yang bagaimana yang membedakan sahadat Tauhid dengan Sahadatain ?

    Mohon tangapan secara intelektual nya dari Pak Yusril
    Sekian

    Wassalam

  35. 35
    MK Says:

    “polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun”

    salam hormat pak yusril,
    saya tertarik dengan polemik sukarno dan mohammad Natsir, bila berkenan dijelaskan polemik tsb di majelis konstiuante menurut data yg bpk punya( misalnya berapa % dukungan utk kelompok islam, bagaimana posisi agus salim, kenapa Pak Hatta yg juga sedaerah dgn Natsir tdk mendukung konsep Natsir, dan bagaimana sikap elit indonesia timur dan elit kristen thd seorang Natsir,dll), saya sgt senang dan berterima kasih sekali bila dikirmkan ke email saya. Kebetulan beberap Profesor di jepang ada yg ingin mengetahui sosok Muhammad Natsir yg tetap komitmen dgn Ide besarnya.

    Kedua, menarik sekali perbincangan mengenai Etika dan Propaganda yg dipaparkan Pak Yusril,namun menurut saya persoalan etika dan propoganda bukan saja masalah boleh atau tidak boleh , tidak lain adalah masalah “mengapa melakukan propoganda ?, mengapa harus beretika”?. menurut saya Propoganda dan etika tidak lepas dari dari adanya “ideologi”, sehingga propoganda merupakan alat untuk memenangkan ideologi yg dianut, kenapa karena Ideologi menjadi semacam “mentar model” atau “cognitive map” yg akan membantu kita menyederhanakan dunia politik , sosial dll yg amat ruwet karena ada propoganda menjadi gambar atau peta “psycho-pseudo- logic” yang sangat sederhana dan cenderung hitam-putih. Bagi kaum komunis,cognitive map tsb akan membantu memilah mana kelompok proletar dan mana yg borjuis; bagi kaum liberal peta kognitif itu akan membantu mengenali mana mana yg pro dan mana yg anti pasar; bagi kaum Islamis juga akan membantu membedakan mana yg kelompok yg mengikuti anjuran Qur’an/Hadist dan mana tidak, dst. (lebih detailnya, bisa dibaca antara lain dlm Clifford Geertz, “Ideology as Cultural System,”(1964)ttg bagaimana ideologi menjadi alat untuk menyederhanakan kompleksitas dunia). Contoh yg tidak baik dari tujuan ideologi seperti dipaparkan Salah satu penganjur Fasisme, dan menjadi political adviser Musolini, adalah Robert Michels yg meyakini lebih jauh lagi bahwa ‘oligarchy’ bukan hanya hukum besi bagi organisasi, tapi juga bagi sejarah manusia itu sendiri. Bagi Michels, ketaatan mutlak kepada pemimpin politik adalah sunatullah, shg fasisme adalah ideologi yg paling rasional bagi masa depan sejarah manusia. (Teori hukum besi oligarkhi membuat Michels banyak pengikut, tapi ideologi fasisnya membuatnya banyak dimusuhi dan dicela, membuatnya kurang dikenal).
    maaf terlalu panjang, mudah2 an kita bisa saling memberikan penyerahan. Terima kasih ditunggu komentarnya.

    salam hangat dari negeri sakura
    MK

  36. 36
    Yance Arizona Says:

    Tulisan pak Yusril pada bagian ini, sepanjang yang saya baca dan pahami, bicara etika sebagai perilaku dalam kaitannya dengan intelektualisme. sehingga tulisannya berisi etika, dinamika sosial dan dasar-dasarnya.. lalu bagaimana bila etika tersebut dikaji dalam kaitannnya sebagai hak dan kewajiban.. meski sudah disinggung dalam tulisan, saya pikir hal itu bisa diperluas dalam jangkauan dimensi hak-hak untuk mengakses sumberdaya alam. dalam hal ini tentu yang perlu ditelisik adalah hak dalam pengertian kolektif (masyarakat) untuk menikmati sumberdaya alam. sepanjang ini hak masyarakat yang berada di dalam dan sekitar kawasan sumberdaya alam seakan terabaikan karena dominasi pemerintah (atas nama negara) yang kemudian di serahkan untuk kepentingan investasi. masyarakat menanggung beban dan kita menanggung bencana alam akibat keruasakan alam dari eksploitasi perusahaan besar. bagaimana itu Pak?

  37. 37
    boma Says:

    Bang,
    Luar biasa kajian abang ini. Detil abis.
    Panteslah teks pidato sebagian besar Presiden RI abang yang buat. Sempurna!

    BTW, saya dulu pernah mampir ke ktr abang dengan sahabat saya Anthony Tanyag. Beberapa bln kemudian, saat istri saya dinas ke Manila, Anthony menjamu abis. Sayangnya saya kehilangan kontak beliau bang. Hp nya (+6392090932xxx) dah tdk aktif lg. Apakah abang punya nomer hp beliau yg baru?

    Trims and met berkarya di dunia yg baru bang!

  38. 38
    anna Says:

    Assalalu Alaikum ww
    Saya salut dengan bapak dengan adanya blog ini, saya bisa belajar banyak tentang banyak hal, dan saya harap penentu2 kebijakan di negara kita bisa membaca tulisan2 bapak, utamanya kepada anggota2 dewan yang terhormat di seluruh Indonesia, biar anggota dewan yang terhormat itu bisa belajar dari pemikiran2 bapak, apalagi anggota dewan yang terhormat di lengakapi masing2 notebook dan fasilitas internet……
    saya tunggu pemikiran2 bapak selanjutnya
    wassalam

  39. 39
    Donny Reza Says:

    Boss Yusril, ada yang namanya psikologi populer atau ilmiah-populer, mungkin kah pak Yusril menulis buku hukum-populer? *Duh, apa pula itu?* Hanya saran saja sih, saya tidak pernah tahu apakah pak Yusril pernah menulis buku atau tidak, belum pernah lihat soalnya. Saya pernah lihat biografi pak Yusril, tapi buku-buku yang bertema suatu hal tertentu belum pernah. Barangkali ada, mungkin bisa disebutkan judul-judulnya?

    Saya hanya melihat kalau tulisan-tulisan pak Yusril memang mencerahkan, lebih cocok untuk dijadikan buku, sehingga dampaknya bukan hanya di dunia maya saja, tapi juga di dunia nyata.

    Jika persoalan etika adalah “boleh atau tidak boleh”, maka siapa kah yang membolehkan? Karena saya seorang muslim, pastinya saya akan menjawab Allah. Sebab jika ukuran boleh atau tidak itu dikembalikan kepada manusia yang inginnya serba relatif, saya kira akan berantakan. CMIIW.

    Oh, ya. Rasa-rasanya kok saya jarang menemukan ya ‘polemik’ sesantun M.Natsir dan Sukarno sekarang ini?

  40. 40
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    #37 Boma. Terima kasih banyak atas komentarnya. Saya juga kehilangan kontak dengan ybs. Saya hanya tahu kantornya di Quezon City. Namun suatu ketika saya ke sana, kantornya sudah tutup. Saya tidak tahu pindah ke mana.

  41. 41
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    #33 al-isbab. Terima kasih atas tanggapan dan kritiknya terhadap saya. Saya mohon maaf kalau tanpa saya sadari sikap-sikap saya menimbulkan tafsiran bahwa saya arogan. Saya harus melakukan introspeksi. Sekali lagi terima kasih atas pandangannya.

  42. 42
    acing Says:

    saya belum sempet baca,
    ngisi komentar disini untuk subscribe ajah biar bisa terima semua kementar via email….

    sebab dari kementar2xnya aja udah banyak nyedot ilmu

  43. 43
    Mariana Silvania Says:

    terimakasih ilmu nya pak. Blog nya keren. ditunggu sekali tulisan-tulisan selanjutnya. pesan saya, jangan berhenti atau cepat bosan nge-blog ya pak.

  44. 44
    wealth seminar review Says:

    bersandarlah pada hati nurani kita utk menilai etika perbuatan kita terhadap orang lain.

  45. 45
    Agus Nizami Says:

    Yang penting niatnya ikhlas lillahi ta’ala kemudian jalankan sesuai dengan petunjuk Allah.

    Ada yang berpropaganda untuk keburukan, menzhalimi orang, dsb.

    Nah itu harus dilawan dengan cara yang baik dan media yang sepadan.

    Jika lawan pakai rudal, kita tidak bisa melawannya hanya dengan pisau atau tangan kosong.

  46. 46
    Arie Ashford Says:

    SEKARANGLAH SAATNYA, Pak Yusril! Sudah Bapak mulai dengan Polemik-polemik antar Tokoh-tokoh Nasional (Tjokroaminoto vs Semaun; Natsir-Soekarno) dan telah muncul nama-nama yang tak asing dalam literatur baik sejarah maupun politik (Josef Goebels, Robert Michels, Hitler, Musollini). Juga ada pertanyaan-pertanyaan seputar hal-hal sensitif di negeri ini, bahwa Dunia Internasional (Negara Islam, Khalifah, Demokrasi).
    Sungguh, Saya juga Mahasiswa sebuah perguruan tinggi yang sedang melakukan riset tentang soal-soal crucial tersebut di atas (maaf!).
    Bila berkenan, tentu pendapat Pak Yusril sangatlah bermanfaat tentang semua hal itu.
    Sebagai penuntun (sekali lagi sorry, Pak), topik yang sedang saya teliti tentang Formalisasi Syariat ISlam di Indoensia. Ringkasnya, fenomena ini dikaitkan dengan isu-isu yang seperti dikaitkan di atas: Demokratisasi, Isu Negara Islam, Munculnya Kelompok Islam Puritan (lagi-lagi maaf untuk istilah ini), Persoalan Perda-perda yang semakin marak di daerah, dan tentunya isu Multi-multi yang sedang trend (multi-kultural, multi-relijius, dan multi-etnik).
    Mungkin akan sangat beraroma ilmiah, ya Pak. Tapi Saya yakin ada di antara teman-teman blogger yang juga menikmati dan menanti pendapat Bapak tentang hal ini.
    Semoga Bapak senantiasa diberi kesehatan dan kejernihan berfikir.

    Salam dari Fakir Penuntut Ilmu,

  47. 47
    Riyogarta Says:

    Satu kata (saja) untuk menilai blog ini yaitu WOW

    WOW, karena saya selama ini saya (maaf) menilai Bapak adalah orang yang angkuh, nyebelin dan sebagainya hehehe. Maaf lho pak :) Hanya setelah membaca tulisan Bapak di blog, bahkan sejak di blogspot, insya Allah penilaian saya ternyata salah :)

    WOW, karena sama sekali saya tidak menyangka seseorang yang biasa menulis pidato kepresidenan bisa menulis blog yang enak dibaca, tidak membosankan tanpa menghilangkan gaya penulisannya. Saya hanya membayangkan bahwa semua tulisan di blog ini, semuanya bisa jadi pidato. Salut!

    WOW, karena isi tulisan p’Yusril ini benar-benar memperlihatkan kelas seorang intelektual yang telah banyak makan asam garam dalam memperdalam ilmu yang dimilikinya. Harapan saya, blog ini akan terus diisi tulisan-tulisan seperti itu yang insya Allah akan banyak membantu masyarakat blog Indonesia dalam memperluas wawasannya.

    WOW, karena saya tidak habis pikir, kok bisa ya P’Yusril ini membuat tulisan yang panjang dengan isi yang tetap padat. Dan saya yakin ini pun dikerjakan p’Yusril dalam tempo yang tidak lama. Mmm, kapan-kapan boleh dong Pak membuat posting yang berisi kiat-kiat menulis agar kita semua bisa menulis seperti itu :)

    WOW, karena Bapak sangat rajin menanggapi komentar yang masuk dengan isi yang lebih dari sekedar tanggapan. Lihat saja tanggapan di posting ini, tidak ada yang pendek :)

    dan yang terakhir, WOW karena renungan tulisan pada posting ini yang kembali menyadarkan kita semua bahwa yang namanya etika itu persoalan boleh atau tidak boleh dengan dasar hati nurani. Sederhana, sayang tidak sesederhana pelaksanaannya dimana hati nurani lebih sering dikalahkan oleh nafsu.

    Ah … seandainya mereka semua para wakil rakyat mengerti akan hal ini, seandainya semua para pejabat negara memahami hal ini, seandainya kita semua mengetahui bahwa kunci dari ini semua adalah hati nurani …. mmm betapa indah negara kita ini. Andai …

  48. 48
    Yusril Ihza Mahendra Says:

    #46 Arie Ashford.

    Terima kasih atas komentarnya. Saya juga mengikuti perdebatan mengenai Islam dan soal-soal kemasyarakatan dan kenegaraan, walau tidak seintens dulu, ketika saya menulis disertasi tentang modernisme dan fundamentalisme Islam. Belum lama ini Universitas Islam Negeri Syarif Hidyatullah mengundang saya untuk menyampaikan makalah dalam seminar ttg Hukum Islam di Asia Tenggara. Saya diminta menyampaikan makalah dengan topik transformasi syari’at Islam ke dalam hukum nasional. Walau saya guru besar hukum tatanegara, tetapi topik ini berkaitan dengan filsafat hukum dan teori ilmu hukum yang saya ajar di program S3 hukum. Saya sedang menulis makalah itu, Insya Allah akan disampaikan tanggal 9 Desember nanti. Kalau tak ada aral melintang, Insya Allah makalah itu akan saya posting juga di blog ini, agar kita dapat mendiskusikan masalah itu dari sudut pandang akademis. Di berbagai blog ada tulisan tulisan mengenai hukum Islam, namun sebagian besar jauh dari semangat intelektual dan akademis.

    #47 Riyogarta.
    Tidak apa-apa. Saya tidak menyalahkan Anda jika kesan seperti itu timbul, karena tayangan televisi atau hasil liputan setelah wawancara dengan saya di berbagai media, bisa-bisa membuat orang berkesan demikian. Seperti kata pepatah, melihat gunung dari jauh adakalanya terlihat cantik, tetapi setelah didekati tidaklah demikian. Manusia mungkin bisa sebaliknya. Kadangkala kalau dilihat dari jauh, nampak seperti angkuh dan sombong. Namun setelah dekat, kesan itu bisa berubah. Mudah-mudahan kita bisa menjadi sahabat dalam bertukar-pikiran. Insya Allah.

    Tolong do’akan semoga saya selalu sehat dan berkesempatan untuk menulis. Saya ingin menulis buku seperti dulu lagi. Sayang, selama ini waktu saya tersita untuk kegiatan lain.

    Terima kasih atas tanggapannya.

  49. 49
    Riyogarta Says:

    Saya ingin menulis buku seperti dulu lagi. Sayang, selama ini waktu saya tersita untuk kegiatan lain.
    Insya Allah saya doakan Pak :)

    Kalau boleh usul nih Pak, tulis dulu ajah di blog semua ide dan pemikirannya. Selanjutnya, blog toh bisa diterbitkan dalam bentuk buku ;) Di satu sisi, orang seperti saya –dan saya yakin masih banyak lagi yang lain– bisa tetap membaca dan mengikuti tulisan-tulisan di blog ini tanpa harus menunggu terbitnya buku. Lebih-lebih waktu untuk menulis buku sudah tersita untuk kegiatan lain katanya –kegiatan ngeblog maksudnya :d

  50. 50
    Riz-Q May Says:

    saya setuju pak… walopun ga ngerti juga… kepanjangan c… males bacanya … lagian ga bakal bantu skripsi saya juga… judulnya aja ga ad yang ngena…
    “Developing compression and verification algorithm for dna-based security 3g wireless network”

    nah.. bingung kan? saya juga pak… ya uda deh… nge-blog trus pa yah… saya dukung dari blakang… bukan back door pa ya…

    Riz-Q May
    ~~stupid no play
    ~~bodoh bukan main

Pages: [1] 2 » Show All

Leave a Reply

Recently Commented

  • As.Wr.Wb Maju terus bang... (Nanang Subakti Karsowirono - August 30, 2010)
  • sejak tampil sebagai pembela ahmadiyah, teu... (abifasya - August 26, 2010)
  • “dan menolak untuk ikut serta secara aktif... (Hadi - September 1, 2010)
  • Benar, arogansi sebagai “Aparat” dan... (Hadi - September 3, 2010)
  • Ass.W.W…maju terus bang... (nova ardinal - August 26, 2010)
  • Sebagai orang “sangat awam” saya... (pakne ridah - August 26, 2010)