Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Setelah berselang satu hari sejak saya memposting renungan terkait dengan norma etika, saya melihat telah ada lebih dari tiga puluh tanggapan dari para komentator. Saya mengucapkan terima kasih atas semua tanggapan itu, baik yang berupa saran, pertanyaan maupun kritik atas apa yang saya tuliskan. Dari semua tanggapan itu, saya dapat menangkap kesan bahwa kebanyakan komentator berpandangan bahwa norma etika memang perlu ditegakkan. Ada yang mengusulkan agar ada pihak yang mensponsori perumusan etika universal di dunia blog. Namun timbul pula kekhawatiran, kalau rumusan etika itu disepakati, justru akan membuat dunia blog, tidak lagi sebagai media ekspressi pemikiran yang tajam dan menarik. Dunia blog akan menjadi serupa dengan media yang lain, seperti koran dan majalah. Saya dapat memahami pendapat ini.
Tulisan saya memang berisi sebuah renungan bagi kita semua. Tidak berarti saya menggurui siapa-siapa, karena yang pertama-tama saya gurui adalah diri saya sendiri. Persoalan etika memang persoalan fundamental dalam kehidupan manusia, sebab itulah saya mencoba untuk membahasnya, dalam situasi yang baru, ketika teknologi informasi memperkenalkan blog sebagai wahana berkomunikasi. Inti masalah yang saya bahas, bukanlah masalah baru. Sejak Nabi Musa, Plato dan Aristoteles masalah ini telah dibahas. Pada hemat saya, norma-norma etika adalah norma-norma fundamental dan absolut yang mengandung sifat universal, seumpama Ten Commandements Nabi Musa. Norma jangan membunuh, jangan mencuri, jangan berdusta, jangan memfitnah dan sebagainya adalah norma fundamental dan absolut. Tanpa norma-norma itu, maka manusia akan kehilangan hakikat sebagai manusia yang sejati.
Norma etika berbeda prinsipil dengan norma sopan santun yang bersifat konvensional, relatif dan tergantung penerimaan sebuah komunitas. Norma sopan santun satu suku-bangsa tentu berbeda dengan norma sopan santun suku-bangsa lainnya. Norma etika juga berbeda dengan norma hukum, yang pada umumnya diformulasikan ke dalam hukum postif yang tertulis. Norma hukum akan jelas kapan dinyatakan berlaku, dan kapan tidak berlaku lagi. Norma etika berlaku universal dan berlaku selamanya. Hanya dalam keadaan tertentu, atau ada faktor-faktor tertentu, yang memungkinkan norma etika dapat dikesampingkan. Harus ada justifikasi yang kuat untuk memungkinkan hal itu, seperti keadaan yang amat memaksa. Saya menyadari bahwa etika seringkali berhadapan dengan dilema, suatu situasi yang amat sulit, dan suatu pilihan yang amat sulit.
Pada hemat saya, tidak perlu kita merumuskan kode etik, code of conducts dan sejenisnya dalam bentuk yang tertulis. Norma-norma etika harus hidup di dalam hati-sanubari setiap orang. Dia harus tumbuh sebagai kesadaran. Sebelum melakukan sesuatu, setiap kita hendaknya bertanya kepada hati nurani kita masing-masing: patutkah hal ini saya lakukan? Dasar dari segala norma etika adalah keadilan. Adakah adil, kalau saya mengatakan sesuatu atau melakukan seuatu kepada orang lain? Ini adalah pedoman dalam tindakan. Persoalan etika, bukan persoalan bisa atau tidak bisa, mampu atau tidak mampu, dan dapat atau tidak dapat. Persoalan etika ialah persoalan boleh atau tidak boleh.
Saya bisa saja memukul orang lain, karena saya menguasai ilmu bela diri, tetapi bolehkah? Saya mampu saja mengambil barang dagangan pedagang di pinggir jalan, karena penjualnya seorang wanita tua, tetapi bolehkah? Saya dapat saja memfitnah dan mencaci maki orang lain karena saya punya blog yang tidak dapat dikontrol siapapun, tetapi bolehkah? Saya memiliki senjata, saya dapat saja menembak orang lain, tapi bolehkah saya membunuh seseorang? Semua pertanyaan ini haruslah dikembalikan kepada kesadaran hati-nurani kita masing-masing. Dengan cara itu, kita akan memiliki apa yang disebut dengan “tanggungjawab etika” atau “tanggungjawab moral”. Sia-sia saja kita merumuskan kode etik secara tertulis. Percuma saja kita merumuskan matriks yang memuat sederet kewajiban dan larangan untuk dihafal luar kepala. Semua itu tidak menjadi jaminan apa-apa agar norma ditaati. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya.
Dalam pandangan saya, kesadaran etika seperti uraian di atas itu akan mempu membedakan mana tulisan yang berisi polemik iintelektual, dan mana tulisan yang dapat dikategorikan sebagai agitasi, propaganda dan perang urat syaraf. Dalam sejarah bangsa kita, kita telah menemukan banyak polemik yang tinggi mutu intelektualnya, dan memberikan kontribusi besar bagi proses pembentukan bangsa dan negara kita. Polemik itu antara lain, ialah polemik Sukarno dengan Mohammad Natsir tentang hubungan Islam dengan Negara, polemik tentang Islam dan Sosialisme antara Tjokroamitono dengan Semaun, dan Polemik Kebudayaan Timur dan Barat antara Sutan Takdir Alisjahbana dengan Armijn Pane. Demikian pula tulisan-tulisan bernada polemis yang dibuat oleh Mohammad Hatta, Sutan Sjahrir, Sumitro Djojohadikusumo dan Sjafruddin Prawiranegara dan lain-lain di bidang pembangunan politik dan ekonomi. Polemik intelektual tentang Islam dan Sekularisme, yang terjadi antara Mohamad Rasjidi dengan Nurcholish Madjid, sangatlah menarik untuk dibaca. Demikian pula polemik Mohamad Roem dengan Rosihan Anwar yang berkaitan dengan sejarah politik di tanah air era tahun 1950-an. Kalau kita menelaah dengan seksama, polemik mereka sungguh sportif, kesatria, argumentatif dan tidak menyerang pribadi seseorang, yang tidak ada hubungannya dengan materi yang diperdebatkan. Mereka juga menggunakan kata-kata yang sopan, sehingga nampak suasana saling hormat-menghormati, walaupun perbedaan pendapat di antara mereka demikian tajam.
Polemik yang bernuansa intelektual sebagaimana saya gambarkan di atas, tentu berbeda jauh dengan kegiatan agitasi dan propaganda. Dua istilah ini sangat terkenal di masa partai komunis masih kuat pengaruhnya. Sebelum itu, Adolf Hitler dan Jozef Goebbels telah merancang propaganda Nazi dengan sangat canggih. Hampir semua partai fasis dan partai komunis mempunyai suatu badan tersendiri yang menangani masalah ini. Badan itu mereka namakan dengan “Departemen Agitasi dan Propaganda” atau Agitprop yang berada di bawah komite sentral partai tersebut. Agitasi adalah menyerang lawan dengan segala cara dengan tujuan untuk merendahkan, memojokkan dan menjatuhkan. Pilihan kata-kata sangat tajam dan lugas. Propaganda mempunyai nada yang hampir sama, yakni menyampaikan fakta atau bukan fakta kepada publik dengan maksud untuk membentuk publik opini, sesuai yang diinginkan oleh sang propagandis. Dalam propaganda, segala kedustaan, penjungkir-balikan fakta, rumors dan fintah adalah halal belaka. Agitasi dan propaganda melahirkan perang urat syaraf atau psychological war.
Dalam blog, ada tulisan-tulisan yang mengundang timbulnya polemik yang bernuansa intelektual. Namun ada pula, tulisan-tulisan yang mengandung sifat agitasi dan propaganda yang melahirkan perang urat syaraf. Tulisan yang bernuansa intelektual memang mengajak kepada pencerahan. Namun tulisan yang bernada agitasi dan propaganda, tentu jauh dari semangat itu, karena yang dicari bukanlah kebenaran, tetapi upaya sistematis membentuk publik opini sesuai keinginan orang yang melakukannya. Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja. Ada sebuah peristiwa terjadi dan menjadi sebuah fakta. Fakta itu kemudian “diplintir” sedikit saja dan disebarluaskan dengan teknik-teknik tertentu, maka dengan serta merta dia akan menjadi propaganda yang efektif. Sasaran propaganda tentu saja publik yang awam tentang seluk-beluk suatu masalah.
Selama saya menjadi asisten Professor Osman Raliby yang mengajar mata kuliah propaganda politik dan perang urat syaraf di Universitas Indonesia sekitar tahun 1978-1980, berulang kali beliau mengingatkan saya agar jangan menggunakan teknik-teknik propaganda, karena semua itu bertentangan dengan etika dan bertentangan dengan ajaran agama. Professor Osman Raliby pernah “berguru” kepada Jozef Goebbels, ketika beliau belajar di Universitas Humbolt, Berlin, menjelang Perang Dunia II. Kita harus jujur, fair dan adil. Demikian nasehat Professor Raliby kepada saya. Kalau propaganda dihadapi pula dengan propaganda, dunia ini akan makin centang perenang. Dengan propaganda, orang dapat menciptakan “surga”, namun dengan propaganda juga orang dapat menciptakan “neraka” di tengah sebuah komunitas. Seperti saya jelaskan dalam Kata Pengantar blog ini, saya mengundang siapa saja yang berminat untuk berdiskusi, bertukar pikiran dengan semangat intelektual atas dasar saling menghormati. Tulisan singkat saya kali ini, mungkin dapat dijadikan bahan pemikiran, untuk membedakan antara diskusi intelektual untuk mencari pencerahan, dengan agitasi, propaganda dan perang urat syaraf yang dilakukan untuk membangun citra buruk, memojokkan dan menjatuhkan demi kepentingan sang agitator dan propagandis. Saya sungguh ingin menjauhkan diri dari kegiatan yang bernuansa agitasi, propaganda dan perang urat syaraf.
Wallahu’alam bissawab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 24th, 2007
79 tanggapan untuk “ETIKA, INTELEKTUALISME DAN PROPAGANDA”
Pages: « 1 2 [3] Show All
vetamandra (komentar #61)
membaca tulisannya pak yusril, hati ini jadi adem tentrem, bahasanya enak, biasanya kalangan akademik bahasanya berlibet-libet, tapi ini tidak. Mengalir..mudah dipahami. Sipp pak
December 1st, 2007 at 11:20 am
Fauzan (komentar #62)
Bang Yusril terima kasih atas pemikiran dan pencerahannya.
Saya ingin belajar dari Anda: (1) gimana caranya agar struktur berpikir kita bisa runut dan logis seperti yang Anda jalankan sekarang, apa kiat yang dulu Anda tempuh untuk bisa seperti itu. (2) anda selalu menyebut sebagai pengagum Muhammad Natsir, saya kebetulan masih bau kencur, apa sih yang paling menarik dari Natsir, apa pemikiran beliau yang paling monumental. Saya cari buku tentang Natsir tapi nggak pernah jumpa. Kebetulan juga, kampung nenek saya di Sumatera barat sama dengan Natsir. (3) apakah Anda sudah menetapkan niat jadi capres 2009? Wasalam.
December 1st, 2007 at 9:41 pm
James (komentar #63)
bang,
itu mungkin sebagian dari permasalahan aktual yang ada di dalam masyarakat kita…
saya sendiri suka berfikir sendiri, kenapa bangsa indonesia perkembangannya seperti berjalan di tempat. padahal sistem yang ada di kita sudah sangat lengkap dan menyentuh hingga arus bawah. dari presiden sampai dengan RT (rukun tetangga) dari dapartment pemerintahan sampai dengan kelurahan.
saya berbicara dengan seorang pns yang bekerja di department sosial. kalau dipikir berapa banyak orang yang bekerja disana, jika di kali dengan department sosial di daerah, saya udah sulit menghitung pakai jari.
kenapa sampai (salah satu contoh) ada orang2 yang terlantar di jalanan malah ada yang sampai kelaparan, itu saya melihat sendiri dan membantu ala kadarnya, saya hanya membaca di media massa ada yang sampai meninggal karena kelaparan.
Jawaban yang saya dapatkan adalah, mereka yang dijalanan adalah para pemalas yang tidak mau bekerja, saya sanggah secepatnya jawaban dia, bagaimana mereka malas jika yang mati dan kelaparan anak2 kecil yang seharusnya di bawah bimbingan orang tua, akan tetapi keadaan yang diluar dari kemampuan mereka akhirnya mereka harus berada di jalanan. Bisa jadi di buang sama orang tuanya, atau kedua orang tuanya sudah meninggal. Jawabannya bahwa ngak semua hal dapat di lakukan oleh department sosial, saya katakan di bentuknya department itu harus menyelesaikan masalah. Jawabannya adalah dengan system. Karena dari lingkup terkecil didalam sebuah propinsi mempunyai pembagian wilayah yang dikepalai oleh fungsi di dalam bagian2 tersebut, misalnya ada kecamatan, kelurahan, trus rw s/d rt dan semuanya tersistim. Bukan semuanya di kerjakan oleh karyawan department sosial. Pengawasannya yang tidak jalan dan kemasa bodoan yang ada. Apalagi rumorsnya tidak gampang memecat pegawai negeri.
Saya masuk ke topik berbeda, saya katakan, dengan adanya system yg seperti dijelaskan diatas,seharusnya bisa lebih bersinergi dan karyawan yang ada bisa melaksanakan tugas. Bagaimana memperkecil orang2 yang ada di jalanan. Mana ada yang mau jadi gelandangan dan pengemis? Data di setiap kelurahan yang di dapat dari rw dan rt jelas, memperlihatkan angka keluarga yang kurang mampu. Kenapa ngak di buat system membantu usaha modal kecil bagi para keluarga kurang mampu, dengan modal 1 juta dia bisa membuat warung atau jualan makanan kecil2an. Karena selama ini yang ada membantu masyarakat hanya dengan sembako dan sembako lagi. Itu bukan penyelesaian. Jika di berikan modal, setidaknya mereka dapat berusaha. Seingat saya beberapa tahun lalu ada bantuan bagi warga miskin dengan uang, akan tetapi tidak berjalan dengan semestinya, ada yang terhitung keluarga mampu diberikan modal.
Trus bagaimana selanjutnya? Tanya sang pns. Banyak yang terjadi sekarang adalah “bank berjalan” dimana ada sekelompok orang yang mempunyai uang memutar uangnya dengan cara meminjamkan uang kepada orang2 yang membutuhkan modal. Dan dipungut bunga yang besar. Pembayarannya bisa mingguan, bulanan, ada juga yang harian. Dan yang lebih hebatnya setiap mereka mau meminjamkan dana ada survey terlebih dahulu. Hebatnya lagi mereka bisa menagih setiap hari uang dari para peminjam uang. Coba system itu di konversi ke pemerintahan, survey dari para peminjam di convert jadi survey melihat apakah keluarga ini harus diberikan bantuan modal atau tidak sampai dengan jenis usaha apa yang dapat dilakukan. Selanjutnya yang menagih setiap hari di convert menjadi orang2 pns yang memantau perkembangan usaha, apakah usaha itu benar2 berjalan atau setelah mendapat modal di buat hura2. jika di bank berjalan ada penarikan barang ketika peminjam tidak dapat melunasi hutangnya maka di pemerintahan diberikan sangsi yang lain yang bisa memacu mereka untuk benar2 menjalankan usaha yang sudah di sepakati saat survey. Kalau mau berhitung, pns yang ada, jumlahnya berpuluh kali lipat banyaknya dari pada karyawan bank berjalan. Kenapa pekerja yang minoritas bisa menjalankan system sedangkan para pemerintah yang mempunyai kelebihan dari segala hal tidak bisa menjalankannya.
Bayangkan kalau itu berjalan, berapa banyak keluarga yang bisa menaikkan taraf hidupnya, berapa banyak anak2 yang bisa sekolah, dan akhirnya menggurangi orang2 yang berada dijalanan.
Dan sang pns menjawab, bahwa buat dia sekarang ini adalah bagaimana keluarganya bisa tercukupi dan urusan2 tersebut adalah kebijakan pemerintah. Dia hanya menjalankan tugas yang diberikan, walaupun dia bisa memberikan advice kepada atasannya.
Bang yusril, apakah memang pns yang ada sekarang ini pekerjaannya sudah sangat banyak dan tidak dapat menjalankan fungsi2 yang lain? Kalau sepengetahuan saya malah banyak yang kebingungan mau ngapain. Kita ngak bisa nutup mata di mana banyak para pns jam 10 pagi masih berkeliaran dan rata2 pulang jam 3 sore. Itu gak bisa di pungkiri.
Dan apa saja sih yang dikerjakan department2 kita yang kalau kita lihat hal2 yang menjadi pokok dari pekerjaannya tidak dapat dikerjakan. Bagi saya dengan system yang ada sampai ke tingkat RT, kalau dikerjakan dengan benar semuanya akan berjalan walaupun tidak harus 100%, karena tidak ada sesuatu yang harus sempurna.
Terakhir dari bang yusril sendiri, pemikiran apa yang bisa mengentaskan berjalannya system ini, karena dengan fasilitas yang ada dan semuanya terpenuhi outputnya malah tidak ada.
Tks
James
December 3rd, 2007 at 6:04 pm
Raja Huta (komentar #64)
Sungguh absurd, bicara etika ditengah realitas yang secara mutlak berwatak oportunis, apalagi Bang Yusril adalah bagian penting dari realitas dimaksud. Setinggi apapun etika seorang Yusril Ihzamahendra, tadinya, begitu dia masuk dalam pusaran politik Indonesia maka dia akan menghadapi tiga pilihan :
1.Ikut arus alias oportunis
2.Melakukan revolusi untuk membongkar tatanan yang busuk itu,lalu membangun tatanan baru yang mengerti apa itu etika
3.Langsung keluar dari pusaran itu pada detik-detik pertama, lalu menjadi seorang resi atau begawan
Tak perlu kujelaskan disini apa yang sudah menjadi sejarah Bang Yusril.
Indonesia ini sangat bersifat politik, bahkan dunia intelektual juga dicengkeram oleh kekuatan-kekuatan politik. Pada era Soeharto, kaum intelektual kita cuma bisa jadi jago kutip pendapat ahli-ahli dari luar, terutama dari intelektual barat. Ini lantaran tidak adanya kebebasan yang memadai untuk membuat penelitian atau sekadar menulis tesis yang obyektif, karena Soeharto sangat phobia pada pengungkapan fakta dan kebenaran. Di era reformasi,kalangan intelektual kita menjadi kacung parpol-parpol besar atau terjun jadi avontur di gelanggang politik yang amat dekaden itu.
Apakah Bang Yusril lain sendiri, artinya bisa luput dari tekanan rezim Soeharto, kemudian jadi ilmuwan/politisi dengan integritas yang sempurna di era reformasi ini?
Aku tidak ada minat untuk sekadar ingin tahu mengenai kadar etika atau integritas Bang Yusril atau tokoh manapun di Indonesia. Aku sudah lama kehilangan minat itu, karena aku lihat toh sistem sampai psikopolitik dan sosialnya memang belum memungkinkan untuk muncul figur-figur yang beretika dan integritas tinggi.
Mana ada sejarahnya seorang pejabat di birokrasi, menteri dan pejabat politik lainnya mengundurkan diri ketika sudah nyata-nyata gagal menjalankan kewajibannya ?
Kita semua sudah tak punya malu Bang, karena takut miskin. Ini kata kuncinya!
December 5th, 2007 at 9:17 am
dyan (komentar #65)
tulisan yang berat.. tapi isinya benar-benar bagus dan mengena Pak.
Saya baru aja dpt kiriman link blog tidak mengindahkan “etika” spt yg Bapak paparkan diatas. Bukan apa-apa tapi ini menjelekkan martabat bangsa kita http://ihateindon.blogspot.com
semoga mereka akhirnya sadar bahwa negara kita tidak akan hancur hanya karena “blog tidak beretika” yg mereka buat..
December 7th, 2007 at 11:58 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #66)
#65 dyan. Inilah contoh agitasi dan propaganda seperti saya jelaskan dalam posting saya.
December 7th, 2007 at 12:21 pm
Fhary Maryanto (komentar #67)
Sungguh sebuah tulisan yang mengagumkan…ada satu kalimat yang saya ambil untuk saya jadikan pedoman dalam hidup ini… yaitu” bahwa segala perbuatan sebelum dilakukan harus mempertimbangkan asas KEADILAN”
December 8th, 2007 at 10:14 am
Joko Arisanto (komentar #68)
Menurut saya kebenaran baik hukum, agama, maupun etika jika masih disampaikan oleh manusia maka sifatnya masih kontekstual, abstrak, dan tidak mutlak.
Setiap manusia boleh memiliki pandangan sendiri terhadap kebenaran. setiap manusia boleh menyampaikan kebenaran menurutnya. Namun seharusnya TIDAK BOLEH mempengaruhi atau memaksa manusia lain mengikuti pandangannya tentang kebenaran yang diyakininya.
Karena setiap manusia BISA memiliki pandangan sendiri yang berbeda dengan manusia lain. Dan bisa menyampaikannya, mempengaruhi, atau memaksa manusia lain. Maka setiap manusia PERLU memiliki keyakinan, keteguhan hati atau prinsip yang didasari oleh pengetahuan untuk mempertahankan diri dari segala bentuk iklan, penipuan, agitasi, serta propaganda.
Pengetahuan untuk hal tersebut diatas bisa diperoleh dari belajar dari berbagai sumber dengan berbagai cara dan lembaga. Karena itu lembaga2 belajar ini harus dibebaskan terleih dahulu dari kebohongan2.
salam.
December 10th, 2007 at 1:16 pm
capry (komentar #69)
satu jawaban untuk kita semua - renungi dari “huru hara” kecil dalam blog pak yusril ini…..yaitu :
“….. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya….” (baca artikel)
Yup !!! Spiritualis - isme - sasi - … (CMIIW) yang harus kita pakai — Law Of The Universe –
December 10th, 2007 at 4:04 pm
widhy sinau (komentar #70)
Yusril said:…Jozef Goebbels, Menteri Propaganda Nazi di zaman Hitler, mengatakan: Sebarkan kebohongan berulang-ulang kepada publik. Kebohongan yang diulang-ulang, akan membuat publik menjadi percaya. Tentang kebohongan ini, Goebbels juga mengajarkan bahwa kebohongan yang paling besar ialah kebenaran yang dirubah sedikit saja…
Guru dari Yusril berguru kepada Goebbels, sang Menteri, yang hati, tindakan dan pikiran tak selalu seirama…persoalan terbesar dari kebohongan yang disengaja adalah menyembunyikan informasi, sehingga asimetrik.
Dalam sosiologi kebohongan memang ada iterasi dalam kebohongan. Sampai turunan ke sekian, dimana kebohongan itu tidak lagi bisa sembunyi, maka perlu serentetan kebohongan baru lagi untuk menutupi kebohongan yang usang.
Di Inggris ada lomba bohong, yang tidak boleh ikut cuma dua, politisi dan pengacara. Ini bukan pembunuhan karakter lho. Lebih baik bung Yusril jadi Dosen saja. Biar bisa ikutan. Heh.
Tapi mengingat tulisan bung, tentang agitasi dan propaganda, saya juga akan menyarankan kepada panitia lomba bohong di Inggris, kalau orang Indonesia juga jangan dilibatkan dalam lomba itu. Bukan takut menang, cuma takut Indonesia jadi juara bertahan.
He he he, keep on fighting! saya sedang bohong lho…
December 10th, 2007 at 9:50 pm
Abdul Manan (komentar #71)
Saya kagum dengan ulasan anda yang tajam, jujur dan jernih, meskipun penampilan agak sedikit angkuh
December 13th, 2007 at 10:51 am
syamsu alam (komentar #72)
Salam hangat selalu Bang Yusril, meski baru 1-2 bulan bang yusril membuka komunikasi lewat jalur blog, rasanya kita sudah mendapatkan studi intensif hukum tata negara. Ada baiknya alur-alur berpikir filsafat hukum Indonesia yang pernah diajarkan bang yusril di kampus, dapat ditampilkan di blog ini, sehingga kita semua dapat belajar secara otodidak dari pemikiran-pemikiran cerdas bang yusril. Indah memang, kalau sudah pernah ketemu Bang Yusril dan dapat berkomunikasi ‘batin intelektual’ seperti ini di blog ini.
Satu hal yang mungkin saat ini menjadi pertanyaan saya, karena Bang Yusril sudah mengungkapkan tokoh-tokoh intelektual ‘Guru Bangsa’ Indonesia di masa lalu, tokoh-tokoh yang telah menyumbangkan ide-ide besar untuk satu kesatuan bangunan Indonesia ke depan. Nah, SIAPAKAH TOKOH-TOKOH INDONESIA ‘AGAMIS-NASIONALIS YANG SAAT INI DAPAT DIANGGAP PEMBAHARU, DAPAT MEMBERI PERUBAHAN BERARTI UNTUK MENJADIKAN INDONESIA NEGERI ADIL, MAKMUR, SENTOSA?
mohon tanggapan cerdasnya Bang…
Jabat erat selalu
syamsu alam
December 22nd, 2007 at 1:26 pm
Eep (komentar #73)
saya setuju sekali Pak Yusril, kalau dibuatkan aturan baku etika di blog, saya juga takut blog akan menjadi serupa dengan media lainnya tersebut. Kalau mengenai etika, saya rasa etika yang “universal” berlaku di dunia “universal” tanpa memandang batasan agama, bangsa, suku, dan ras, itulah yang tetap kita pegang teguh dalam menulis di blog. Menyerang orang lain tanpa bukti, tanpa alasan yang jelas, mencemarkan nama orang lain, dll., itu menurut saya sebagian dari nilai-nilai atau etika yang sudah seharusnya ada tanpa harus dirumuskan lagi. Semua dikembalikan ke hati nurani masing-masing saja, kembalikan ke suara hati masing-masing saja, karena suara hati adalah suara Tuhan.
December 29th, 2007 at 6:01 am
arham (komentar #74)
pak, mau kasih saran..coba pakai brian nested comment supaya kalo ngebales message temen2 yg laen jadi enak….demo nya bisa diliat di http://road-entrepreneur.com :-)
ato pake myavatar yg ini jadi ada photonya …tap ngak nested komen..
January 2nd, 2008 at 12:42 pm
arham (komentar #75)
@YI Mahendra #22
wah..bahasaya keren…..coba ikut pemilu 2009.. :-)
January 2nd, 2008 at 12:54 pm
ulil amri (komentar #76)
Assalamu’alaikum.
sebelumnya, selamat nih pak, atas blognya (hehehe… telat).
kalau dilihat-lihat, dunia blog sekarang ini, sudah seperti miniatur dari kehidupan bermasyarakat saja. digeluti oleh berbagai kalangan, dan juga membawa beragam kepentingan. kejadian-kejadian di dunia blog pun tidak jauh beda dengan dikehidupan nyata kita. ada saling tukar pendapat, ada saling silaturahim, ada yang saling berdebat, sampai ada yang saling menggosipkan.
dan kalau keadaannya sudah kompleks seperti ini sepertinya ada baiknya juga kalau bibuatkan aturan/etikanya. tapi kalau dipikir-pikir akan mengalami kesulitan dalam menerapkannya. karena tidak seperti dunia nyata yang memiliki pemimpin yang berkekuatan hukum dalam mengatur rakyatnya, di blog ini struktur kepemimpinannyakan tidak jelas. yang ada hanya para tetua blog, yang tentu saja tidak memiliki kekuatan memaksa blogger lain untuk patuh. tapi ada kekuatan yang dimiliki olehdunia blog. yaitu kekuatan opini. misalkan saja para sesepuh di dunia blog mengajak para blogger lain untuk memperhatikan etika yang baik dalam mengarungi dunia blog ini, atau memberikan tuntunan yang bersifat menasehati (bukan memaksa), besar sekali kemungkinan akan di ikuti oleh blogger lainnya.
wassalam.
January 3rd, 2008 at 11:48 am
daffa ghifari (komentar #77)
banyak hal yang dapat dipelajari dari tulisan pa yusril, saya harap pa yusril terus memberikan tulisan dan opini mengenai politik aktual didalam negeri
maju terus pa yusril
January 31st, 2008 at 4:09 pm
Billy (komentar #78)
etika dan sopan santun menurut saya akan bakal jadi masalah krisis sosial yang meng-global. “mengapa’, bukan lagi jadi pertanyaan, yang jadi pertanyaan sekarang adalah “siapa’. siapa yang akan bekerja keras untuk masalah etika ini. dan jangan anggap remeh masalah ini. ada kata-kata bijak untuk masalah ini. “Jangan berikan mutiaramu kepada babi dan berikan barang berhargamu kepada anjing, karena mereka akan berbalik dan mengoyakmu”. sebelumnya, saya minta maaf apabila ada perkataan saya yang salah. dan saya sangat senang dapat berinteraksi dengan bapak, Semoga sukses
June 19th, 2008 at 4:45 pm
Dodo Gusmao (komentar #79)
Salam Hangat,
Setelah membaca apa yang bapak uraikan diatas saya merasa berterima kasih karena merupakan suatu masukan atau pedoman yang bermanfaat bagi saya maupun bagi siapa saja yang membacanya.
October 23rd, 2008 at 9:19 am
Pages: « 1 2 [3] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda