Beranda

MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Sesungguhnya ada keengganan di hati saya untuk menulis masalah ini, mengingat masalahnya sudah campur aduk antara masalah hukum, politik dan komentar dari berbagai pihak yang mungkin belum mendalami inti persoalan. Semula saya sudah ingin melupakan masalah ini, sebagaimana saya pernah melupakan tuduhan bahwa saya menerima dana cessie Bank Bali pada masa Presiden Abdurrahman Wahid. Belakangan berita yang begitu menggebu-gebu di media massa, ternyata hanya rumors belaka dan samasekali tidak terbukti. Presiden Abdurrahman Wahid sendiri akhirnya mengklarifikasi bahwa saya, dan juga Hamzah Haz tidak terlibat.

Masalah “uang Tomy” di Paribas itu muncul ke permukaan setelah adanya perkara di Pengadilan Guernsey, Inggris, antara Garnet Invesment dengan Bank Paribas. Saya tidak pernah berurusan dengan Garnet Investment ini, baik sewaktu menjadi Menteri Kehakiman dan HAM maupun sesudahnya. Firma hukum Ihza&Ihza juga tidak. Sebelum masuk ke masalah Paribas, saya ingin menjelaskan lebih dulu tentang firma hukum ini. Pada awalnya, firma itu bernama Yusril Ihza Mahendra and Partners, yang didirikan ketika saya berhenti sebagai menteri di zaman Presiden Abdurrahman Wahid. Namun setelah saya masuk kabinet lagi di zaman Presiden Megawati, saya non aktif dari sana. Firma hukum itu ditangani oleh anggota keluarga Ihza yang lain, sehingga diganti namanya menjadi Ihza&Ihza. Patut diketahui bahwa Ihza itu adalah nama keluarga, bukan nama kecil saya. Pengacara yang menangani kasus Garnet vs Paribas di Pengadilan Guernsey bukanlah Ihza&Ihza, tetapi OC Kaligis. Namun pemberitaan media massa mengenai masalah ini campur aduk begitu rupa.

Kasus yang dulu saya pernah terlibat menanganinya, bukan kasus Garnet, tetapi Motorbike International Ltd, sebuah perusahaan yang terdaftar di Bahama. Perusahaan ini bukan berbadan hukum Indonesia. Namun ketiga pemilik sahamnya, yakni Hutomo Mandalaputra alias Tomy Suharto, Sujaswin Lubis dan Abdurrahman Abdul Kadir Mulahale, adalah warganegara Indonesia. Ketiganya duduk sebagai direksi. Namun ketika Tomy ditahan oleh aparat hukum Indonesia, dia non aktif dari kepengurusan. Surat-menyurat perusahaan ditandatangani Sujaswin dan Abdurrahman. Rekening yang dibukukan di Paribas terdaftar atas nama Motorbike International Ltd, bukan atas nama pribadi Tomy Suharto sebagaimana selalu diberitakan media massa. Kalau pemberitaan menyebut uang itu milik Sujaswin Lubis atau milik Abdurrahman Abdul Kadir Mulahale, tentu tidak menarik dan juga tidak punya nilai politis. Nama kedua orang ini, bahkan, samasekali tidak pernah muncul dalam pemberitaan, walau mereka adalah juga pemilik Motorbike.

Menurut laporan yang saya terima, telah bertahun-tahun Motorbike berusaha untuk mencairkan deposit tersebut, namun Bank Paribas selalu menolaknya dengan berbagai alasan yang sulit untuk mereka terima. Akhirnya mereka bertanya kepada Paribas, apakah ada perintah dari Pengadilan di Inggris untuk membekukan uang itu. Jawaban Paribas tidak ada. Kalau demikian, apakah ada laporan dari Komisi Pengawas Transaksi Keuangan– semacam PPATK — Inggris bahwa uang itu dicurigai sebagai money laundering. Paribas menjawab, juga tidak ada. Paribas hanya mengatakan bahwa mereka curiga dan khawatir kalau-kalau uang itu adalah hasil kejahatan. Motorbike mengatakan, bank tidak bisa menahan sebuah rekening hanya atas dasar kecurigaan. Hal seperti itu akan mempengaruhi kredibilitas sebuah bank. Diskusi itu berlanjut, sampai akhirnya Paribas menyatakan ingin meminta pendapat hukum dan sekaligus klarifikasi dari Pemerintah Indonesia tentang Motorbike dan ketiga pemegang sahamnya. Permintaan itu disampaikan Paribas melalui Motorbike dan pengacaranya.

Firma hukum Ihza&Ihza yang menerima kuasa dari Motorbike — yang ditandatangani oleh Sujaswin Lubis dan Abdurrahman Abdul Kadir Mulahale sebagai direksi — akhirnya mengajukan permohonan pendapat hukum dan klarifkiasi Pemerintah Indonesia itu. Hidayat Achyar dari firma hukum Ihza&Ihza mengatakan kepada saya, bahwa sejak semula mereka sebenarnya tidak ingin melibatkan Pemerintah Indonesia. Namun karena permintaan itu datang dari Paribas, maka mereka tidak punya pilihan lain kecuali melakukannya. Terus terang waktu itu saya menghadapi dilema, karena sangat mungkin kasus ini dipolitikkan dikemudian hari. Orang dengan mudah mengkait-kaitkan Ihza&Ihza dengan saya. Namun saya berpikir, bahwa saya harus melayani semua orang. Kalau surat itu datang dari firma hukum yang lain, pasti akan saya layani juga.

Semua masalah yang diajukan kepada saya sebagai menteri, dari siapapun datangnya, tidak boleh saya tolak. Saya tidak boleh bekerja atas dasar suka atau benci. Saya tidak boleh membeda-bedakan orang dalam memberi pelayanan. Bisa-bisa saya dituduh melanggar HAM karena melakukan diskriminasi. Toh, saya juga menerima Adnan Buyung Nasution yang menelpon minta bertemu, walau ketika datang, beliau membicarakan kliennya Ricardo Gelael. Saya juga menerima Todung Mulya Lubis, Munir, Hendardi, Abdul Hakim Garuda Nusantara dan banyak lagi yang lain. Mereka datang menyampaikan permasalahan kepada saya. Semua saya tanggapi dan saya layani, walau tidak semua dapat saya tangani dan selesaikan.

Saya juga menerima tokoh-tokoh politik dari segala partai, termasuk Sabam Sirait dan VB Da Costa dari PDIP, tokoh Golkar, PPP, PBB dan partai-partai lain. Tokoh “kontroversial” di dunia bisnis, Tommy Winata, saya terima juga karena dia ingin menyampaikan suatu permasalahan. Saya juga menerima orang-orang eks PKI dan eks Mahid yang datang menyampaikan permasalahan hukum dan hak asasi manusia. Bahkan saya menerima telepon Subron Aidit dari luar negeri, yang menyatakan keinginannya untuk pulang ke tanah air. Saya juga menerima Ustadz Abubakar Baasyir dan membantu mengurus amnesti beliau dalam kasus tindak pidana yang terkait dengan politik, bersama Abdullah Sungkar. Saya mengerti Ihza&Ihza mempunyai hubungan dengan saya, tetapi saya harus memberikan pelayanan yang adil dan proporsional, sama seperti pihak-pihak lain. Saya juga tahu dan mengerti bahwa dalam Motorbike itu ada Tomy Suharto sebagai salah seorang pemegang saham. Saya mengerti Tomy Suharto sedang menghadapi perkara pidana. Namun dilihat dari sudut hukum, hak-hak keperdataannya sebagai warganegara tidak hilang karena perkara pidana yang dihadapinya.

Mungkin itulah kesalahan saya, jika orang lain melihatnya dari sudut pandang politik. Tetapi sebagai Menteri Kehakiman dan HAM saya selalu berpikir secara hukum: setiap warganegara Indonesia yang menghadapi masalah harus saya tangani. Tidak boleh ada perasaan suka atau benci. Saya selalu mengacu kepada prinsip yang ditegaskan al-Qur’an “Jangan sekali-kali kebencian kamu terhadap suatu golongan, menyebabkan kamu berlaku tidak adil terhadap mereka. Berlaku adillah, karena sesungguhnya adil itu lebih dekat kepada takwa”. Saya harus bekerja profesional, walaupun tentu akan menghadapi risiko dipergunjingkan secara politik. Ketika saya berdialog dengan eks Mahid di Belanda atas perintah Presiden Abdurrahman Wahid, anggota DPR dari PPP, Aisyah Amini, telah menuduh saya “anak Masyumi telah rangkul-rangkulan sama PKI”. Anggota PBB ada juga yang marah kepada saya. Mereka menuduh saya ingin “menjemput orang PKI pulang ke tanah air”. Tapi biarkanlah. Tidak ada kerja tanpa risiko. Apapun yang dilakukan pejabat pemerintahan, akan selalu menuai kritik. Orang akan menilai sesuatu dari sudut pandang dan kepentingannya masing-masing. Tidak ada satu langkah yang diambil, akan mampu memuaskan kepentingan semua orang.

Surat yang disampaikan firma hukum Ihza&Ihza itu dikirimkan kepada saya tanggal 26 Pebruari 2004. Intinya memohon pendapat hukum terkait dengan rekening Motorbike di Bank Paribas. Mereka juga memohon klarfikasi apakah Motorbike International Ltd dan para pengurusnya, terkait tindak pencucian uang atau tidak menurut data Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK). Tentu Departemen Kehakiman dan HAM tidak dapat menjawab permintaan itu, kecuali lebih dahulu melakukan koordinasi dengan instansi-instansi terkait. Sebab itulah, dilakukan korespondensi dengan PPATK dan dilakukan pengecekan di kejaksaan dan pengadilan, untuk memastikan apakah ada perkara pidana atau perdata, yang melibatkan Motorbike serta pengurus dan pemegang sahamnya.

Ada dua surat PPATK menjawab pertanyaan Direktorat Jendral Administrasi Hukum Umum. Surat pertama Nomor 3/246/PPATK tanggal 17 Mei 2004, dan ditandatangani oleh ketuanya Dr. Yunus Husein selengkapnya berbunyi “Menunjuk surat Saudara No.C.HT.04.10-03 tanggal 19 April 2004 perihal mohon informasi, bersama ini diberitahukan bahwa berdasarkan pengecekan pada database administrasi kami nama badan hukum Motor Bike International Ltd, tidak pernah dilaporkan oleh penyedia jasa keuangan sebagai pihak yang melakukan transaksi keuangan mencurigakan (suspicious transaction report). Demikian, atas perhatian Saudara diucapkan terima kasih.” Dalam surat ini tidak dicantumkan kode rahasia. Namun dalam surat kedua, yang lebih tegas menyebutkan nama Hutomo Mandalaputra, Sujaswin Lubis dan Abdurrahman Mulahale, saya menemukan adanya keterangan bahwa informasi ini “bersifat rahasia”. Karena itu, surat kedua ini tidak pernah saya buka kepada publik.

Koordinasi juga dilakukan untuk mengecek register perkara di Kejaksaan Agung, guna memastikan apakah ada kasus pidana, baik ditingkat penyelidikan, penyidikan atau penuntutan atas Motorbike. Hasilnya nihil. Satu-satunya kasus pidana yang ada, berkaitan dengan salah satu pemegang saham Motorbike adalah kasus Hutomo Mandalaputra, yang telah diputus oleh Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, namun sedang dalam tahap pemeriksaan di tingkat banding. Amar putusan perkara itu menyatakan terdakwa terbukti bersalah dalam kasus menyimpan senjata api dan bahan peledak, membujuk (uitlokker) untuk melakukan pembunuhan berencana. Kasus yang didakwakan kepada Hutomo Mandalaputra tidak ada kaitannya dengan rekening Motorbike di Bank Paribas. Bagi orang awam, putusan seperti itu telah cukup menjadi alasan bahwa terhukum adalah “penjahat” dan harus dikucilkan dalam semua hal. Namun dari segi hukum, saya mengetahui bahwa Pasal 1918 BW menegaskan, kekuatan putusan pengadilan pidana, hanya terbatas pada apa yang menjadi diktum putusan itu, dan tidak bisa dikaitkan dengan masalah lain. Jadi putusan pidana pembunuhan berencana dan kepemilikan bahan peledak, tidak dapat dikaitkan dengan sengketa perdata rekening Motorbike di Bank Paribas.

Setelah melakukan koordinasi dan pengecekan itulah, sebagai Menteri Kehakiman dan HAM, saya menyampaikan pendapat hukum dan klarifikasi kepada Bank Paribas. Surat dalam bahasa Inggris itu, kalau diterjemahkan intinya mengatakan: “Bahwa hasil pemeriksaan dari Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan menyatakan tidak terdapat nama Motorbike International Ltd sebagai pihak yang melakukan transaksi mencurigakan. Bahwa tidak terdapat perkara baik perdata maupun pidana yang terkait dengan Motorbike International Ltd di pengadilan-pengadilan di Indonesia, karenanya tidak terdapat alasan hukum bagi Pemerintah RI untuk menuntut/meminta dana milik Motor Bike International Ltd pada BNP Paribas atau melakukan tuntutan hukum terhadap BNP Paribas. Oleh sebab itu, BNP Paribas tidak berhak untuk menahan dana milik Motor Bike International Ltd, kecuali ada putusan pengadilan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.”

Surat bernomor M-UM.01.06-94 itu saya tanda-tangani tanggal 4 Juni 2004, dan ditembuskan kepada Kedutaan Besar RI di London. Bahkan surat kepada Bank Paribas itu disampaikan melalui KBRI London. Ada sejumlah korespondensi antara Departemen Kehakiman, Paribas dan KBRI London, dan sebaliknya, yang ditangani oleh Wakil Duta Besar atau Deputy Chief of Mission (DCM) Eddy Pratomo. Penanganan kasus dana Motorbike di Bank Paribas, memang diketahui, bahkan melibatkan KBRI di London dan dilakukan secara terbuka. Tidak ada yang dirahasiakan. Departemen Kehakiman harus menempuh langkah itu, karena apa yang dilakukan di luar negeri, haruslah dikoordinasikan dengan KBRI setempat. Bahwa belakangan di koran-koran ada statemen dengan nada menyangkal dari Eddy Pratomo, saya tidak ingin mengomentarinya.

Belakangan hari setelah kasus ini mencuat menjelang reshuffle kabinet, ada pendapat dari kalangan pengamat bahwa rekening Motorbike di Bank Paribas itu adalah uang hasil korupsi mantan Presiden Suharto yang dilarikan Tomy ke luar negeri. Sebab itu, uang tersebut adalah milik negara, milik rakyat Indonesia. Dubes RI yang baru di London, Dr. Marti Natalegawa, juga menyampaikan statemen yang lebih kurang sama. Saya tidak dapat menyalahkan pendapat dan statemen seperti itu, jika dilakukan untuk konsumsi politik dan diplomasi. Sebagai Menteri Kehakiman, seperti telah saya katakan, saya harus bertindak menurut hukum. Pasal 553 jo Pasal 1965 Burgerlijk Wetboek (BW) menegaskan bahwa seseorang atau suatu badan hukum haruslah dianggap beriktikad baik. Seseorang atau badan hukum yang dituduh beriktikad buruk, harus dibuktikan di hadapan pengadilan. Pasal 1977 BW menegaskan bahwa siapa saja yang menguasai benda bergerak adalah pemilik benda itu. Tuduhan bahwa benda bergerak itu bukan milik orang yang menguasainya, harus dibuktikan oleh si penuduh di depan pengadilan. Bukan sebaliknya orang yang menguasai benda bergerak itu yang harus membuktikan bahwa benda itu adalah miliknya.

Karena uang itu disimpan di bank atas nama Motorbike International Ltd, maka jika ada tuduhan atau klaim bahwa uang itu bukan miliknya, maka pihak yang menuduh atau mengklaim itu harus membuktikan sebaliknya di depan pengadilan. Sampai posting ini saya tulis — sepanjang pengetahuan saya — belum ada gugatan perdata atau tuntutan pidana atas Motorbike atau para pemegang sahamnya oleh pihak manapun juga, termasuk oleh Pemerintah RI atas keabsahan kepemilikan mereka atas uang yang disimpan di Bank Paribas itu. Dalam mediasi untuk mencapai perdamaian dalam kasus Goro versus Bulog, jaksa malah mengajukan usul agar uang Garnet Investment –- bukan Motorbike –- dibekukan sebagai jaminan agar Tomy membayar kewajibannya kepada Bulog. Usul ini secara implisit menunjukkan bahwa jaksa juga mengakui bahwa uang itu milik Garnet, bukan milik pihak lain.

Saya menyaksikan ada semacam penggalangan opini yang luar biasa melalui media massa mengenai kasus Paribas ini. Ketua PPATK Yunus Hussen berulangkali mengungkapkan kekecewaannya kepada saya, karena segala ucapannya selalu diputarbalikkan oleh koran Media Indonesia. Yunus merasa dia dijadikan alat oleh koran yang dikomandani Ketua Dewan Pembina Golkar Surya Paloh itu untuk memojokkan saya. Saya menduga semua ini berkaitan dengan isyu resuffle kabinet yang ketika itu didesakkan kepada Presiden SBY. Berbagai diskusi diselenggarakan di berbagai tempat, termasuk oleh Indonesian Corrupiton Watch (ICW). Namun saya tidak pernah diundang dan diberikan kesempatan untuk memberikan keterangan dan terlibat dalam diskusi, sehingga semuanya terkesan sepihak dan mau menang sendiri. Prof. Dr. Romly Atmasasmita, mantan Dirjen Administrasi Hukum Umum dan mantan Kepala BPHN ketika saya menjadi Menteri Kehakiman, juga menyampaikan pendapat dalam diskusi yang diselenggarakan ICW itu. Pendapatnya dimuat Kompas. Demikian pula pendapat Prof. Dr. Yenti Gunarsih, yang disebut pakar money laundering dari Universitas Trisakti. Intinya, Prof. Romly mengatakan bahwa Departemen Kehakiman dan HAM tidak boleh mengeluarkan pendapat hukum (legal opinion), sehingga pendapat hukum yang saya keluarkan menjawab pertanyaan Bank Paribas adalah melampaui tugas dan kewenangan. Sampai hari ini saya belum mengkonfirmasi kepada Prof. Romly apa benar pendapatnya demikian. Namun Kompas memuat berita itu lebih dari sekali, tanpa bantahan dari beliau.

Benarkah Departemen Kehakiman dan HAM tidak boleh mengeluarkan pendapat hukum kepada pihak swasta terkait dengan masalah perdata? Mari kita baca Keputusan Menteri Kehakiman dan HAM No. M.01-PR.07.10 Tahun 2001. Pasal 242 huruf b Keputusan tersebut menyebutkan bahwa salah satu tugas Direktorat Perdata, Ditjen Administrasi Hukum Umum ialah “pemberian pertimbangan, pendapat hukum, legalisasi dan penyelesaian masalah di bidang hukum perdata umum”. Dalam praktek, baik sebelum, pada saat dan sesudah Prof. Romly menjadi Dirjen AHU, telah ada ratusan pendapat hukum yang dikeluarkan untuk memenuhi permintaan instansi Pemerintah, swasta maupun perorangan. Ada pendapat hukum yang ditandatangani oleh Direktur Perdata, ada yang ditanda-tangani oleh Dirjen AHU, ada pula yang ditandatangani Menteri, semuanya mengikuti praktik yang berlaku di departemen itu.

Setelah saya mengirimkan pendapat hukum ke Paribas tanggal 4 Juni 2004, saya tidak mengikuti lagi perkembangan selanjutnya. Sebab hanya permintaan pendapat hukum itu saja yang diminta kepada saya. Dengan demikian, tugas saya telah saya anggap selesai sampai di situ. Ketika masalah Paribas ini mulai menghangat di media massa, saya bertanya kepada Hidayat Achyar, apakah benar Ihza&Ihza menangani uang Motorbike di Bank Paribas sampai cair. Hidayat menunjukkan kepada saya surat kuasa dari direksi Motorbike: kuasa berlaku sejak tanggal 12 Pebruari 2004 sampai dengan tanggal 12 November 2004. Karena sampai tanggal kuasa berakhir, uang tak kunjung cair, maka kuasa Motorbike kepada Ihza&Ihza berakhir. Motorbike menganggap Ihza&Ihza tidak mampu melaksanakan kuasa yang mereka berikan, karena itu mereka tidak ingin memperpanjangnya. Saya tidak tahu apa masalah itu mereka tangani sendiri, atau menunjuk pengacara yang lain. Saya sendiri berhenti menjadi Menteri Kehakiman dan HAM tanggal 20 Oktober 2004.

Seperti kita baca dari berbagai pemberitaan media, uang Motor Bike di Bank Paribas itu baru cair pada bulan Mei 2005, hampir setahun setelah saya memberikan pendapat hukum, dan 7 bulan setelah saya berhenti menjadi Menteri Kehakiman dan HAM dan digantikan oleh Hamid Awaludin. Saya bukan ingin mengelak dari tanggungjawab, tetapi sejujurnya saya katakan saya tidak mengetahui lagi bagaimana cerita selanjutnya sampai uang itu cair. Hamid Awaludin tidak pernah berkomunikasi dengan saya tentang masalah itu. Saya membaca dari berbagai media bahwa uang itu dicairkan melalui rekening Departemen Kehakiman dan HAM. Disebut-sebut pula bahwa saya dan Ihza&Ihza yang mencairkan uang itu. Semua berita ini jauh dari kebenaran.

Berbagai pendapat dan komentar dari politisi dan pengamat kembali muncul ke permukaan. Ada yang mengatakan saya membantu mencairkan uang Tomy, dan mengkaitkan saya pernah bekerja di Sekneg menulis pidato Presiden Suharto, sehingga mempunyai hubungan dekat dengan keluarga Cendana. Padahal, bertemu atau berbicara melalui telepon saja dengan Tomy, seumur hidup saya belum pernah. Ada yang mengatakan saya terlibat “money laundering” dan menuding saya sebagai “koruptor”. Ada pula yang mendesak agar saya mundur. Ada juga beberapa aksi unjuk rasa yang meminta agar Presiden SBY memecat saya, dengan membawa berbagai spanduk mengatas namakan berbagai komite. Walaupun belum dapat dikonfirmasikan, saya mendengar pula beberapa anggota Dewan Pertimbangan Presiden — yang belum sebulan dilantik — juga mendesak Presiden agar saya diberhentikan. Kalau tidak, mereka akan mengundurkan diri dari dewan itu.

Setelah berbagai pemberitaan ini muncul ke permukaan, saya menghubungi Hamid Awaludin untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hamid membenarkan bahwa Bank Paribas pernah menghubunginya dan berniat akan mencairkan simpanan Motorbike. Keinginan Paribas itu juga disampaikan melalui korespondensi kepada Wakil Dubes RI di London, Eddy Pratomo. Ketika Eddy di Jakarta, beliau juga menemui Hamid menginformasikan perkembangan terakhir masalah Motorbile dengan Paribas, didampingi Dirjen AHU Zulkarnain Yunus. Tetapi Bank Paribas mau menyerahkan uang tersebut melalui Pemerintah Indonesia, hal ini mereka kemukakan dalam korespondensi. Menghadapi hal itu, Hamid berkonsultasi dengan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Wapres mengatakan silahkan saja. Pemerintah berkewajiban membantu warganegaranya. Lebih baik uang warganegara Indonesia yang ada di luar negeri, dibawa pulang untuk investasi di tanah air untuk membuka lapangan kerja, daripada ditahan-tahan bank asing di luar negeri, dan diputar untuk keuntungan mereka sendiri. Wapres mengatakan bahwa beliau akan melaporkan masalah itu kepada Presiden.

Dalam satu kesempatan, Hamid rupanya melaporkan secara langsung kepada Prsiden SBY tentang keinginan Bank Paribas itu. Pendapat Presiden ternyata lebih kurang sama dengan pendapat Wakil Presiden. Presiden minta Hamid untuk lebih dulu memberitahu Bank Indonesia. Sebab itulah Hamid menulis surat kepada Gubernur BI bernomor M.UM.01.06-90 tanggal 4 April 2005. Isinya antara lain mengatakan “kami informasikan bahwa BNP Paribas meminta kami untuk menampung dana rekening milik Motorbike International Ltd pada BNP Paribas ke rekening Departemen Hukum dan HAM RI sebagai dana titipan yang untuk selanjutnya diserahkan kepada pengurus Motorbike International Ltd”. Menurut Hamid, surat dengan nada yang sama juga disampaikan kepada Menteri Keuangan, untuk meminta pendapat. Tetapi seorang kepala biro di Departemen Keuangan menyangkal pernah menerima surat tersebut.

Akhirnya, menurut Hamid, Departemen Hukum dan HAM memang membuka rekening khusus untuk menampung uang titipan Bank Paribas itu. Begitu uang diterima, uang tersebut kemudian diserahkan kepada kuasa direksi Motorbike. Setelah diserahkan, rekening khusus tersebut ditutup. Setelah semua ini selesai, Hamid sekali lagi menyampaikan laporan tertulis kepada Presiden, disertai dengan copy dokumen-dokumen yang terkait dengan masalah itu. Saya ikut membaca laporan Hamid itu, karena disampaikan melalui Sekretariat Negara.

Di berbagai media cetak dan elektronik saya membaca berbagai komentar dari para pakar dan pengamat serta politisi, dengan aneka ragam pendapat. Pada umumnya mengatakan bahwa adalah suatu tindakan yang salah, rekening pemerintah digunakan untuk menampung uang swasta. Ada pula yang mengatakan uang itu dimasukkan ke dalam rekening Departemen Kehakiman dan HAM sehingga bercampur dengan dana APBN. Salah satu pendapat yang ingin saya ketengahkan di sini berasal dari Prof. Dr. Arifin Soeriaatmadja, yang mengatakan bahwa pembukaan rekening pemerintah harus dengan persetujuan Menteri Keuangan. Saya dengan Hamid, lagi-lagi dituding melakukan money laundering, dan seperti biasa dituntut mundur dari jabatan.

Dalam satu kesempatan saya bertemu Prof. Arifin dan bertanya kepada beliau pasal mana dari UU Keuangan Negara yang dijadikan landasan pendapatnya. Beliau merujuk pada Pasal 29 jo Pasal 31 UU No. 1 Tahun 2004 tentang Keuangan Negara. Saya dan beliau, akhirnya sama-sama membaca UU dimaksud. Defenisi tentang perbendaharaan negara, keuangan negara, penerimaan dan pengeluaran negara yang dimaksud dalam UU ini jelas dirumuskan dalam undang-undang. Pasal 29 dan 31 mengatur tentang pembukaan rekening untuk menampung penerimaan dan pengeluaran uang negara terkait dengan dana APBN di lingkungan instansi tertentu, yang pembukaannya dilakukan setelah “mendapat persetujuan” dari Bendahara Umum Negara (Menteri Keuangan). Rekening yang dibuka staf Hamid, seperti saya jelaskan di atas, adalah uang titipan Bank Paribas untuk diserahkan kepada direksi Motorbike.

Saya mengatakan kepada Prof. Arifin, pada suatu ketika, ada kapal berbendera Jepang yang ditembaki bajak laut sampai tenggelam di pantai Somalia. Beberapa awak kapal yang selamat ternyata warganegara Indonesia. Pemilik kapal, ingin membantu awak kapal yang selamat agar bisa pulang. Maka mereka mentransfer uang ke rekening KBRI di Somalia untuk diserahkan kepada awak kapal tersebut. Saya tanya Prof. Arifin apakah itu salah. Beliau mengatakan, itu keadaan darurat. Baiklah. Saya tanya lagi, bagaimana dengan uang saku jamaah haji yang dibayarkan sebagai bagian dari ONH dan diberikan kembali kepada mereka ketika jamaah tiba di Saudi Arabia. Uang itu disetorkan ke rekening Departemen Agama. Apakah itu tidak menyalahi undang-undang? Setahu saya, swasta yang melakukan tender atas proyek Pemerintah juga harus menyetorkan sejumlah uang jaminan. Uang jaminan milik swasta itu juga disetorkan ke rekening Pemerintah. Kalau kalah tender, uang itu dikembalikan. Apa ini juga tidak menyalahi undang-undang? Prof. Arifin tidak menjawab. Saya hanya ingin menguji pendapat beliau, karena pendapat itu berulang-kali diberitakan Kompas. Pendapat saya yang menyanggah pendapatnya, tidak mendapat tempat pemberitaan yang proporsional.

Ketika masalah Paribas ini makin menghangat di media massa, saya juga menjelaskan secara lisan kepada Presiden latar belakang masalah itu. Presiden kemudian memerintahkan Menko Polhukam Widodo untuk menyelenggarakan rapat terbatas untuk membahasnya. Saya, Menhuk dan Ham Hamid, Kapolri Sutanto, Jaksa Agung Abdurrahman Saleh dan Kepala BIN Syamsir Siregar hadir. Saya dan Hamid menjelaskan segala sesuatu apa adanya, seperti saya ceritakan di atas. Beberapa hari kemudian, Widodo mengatakan kepada saya bahwa summary rapat Polhukam itu telah dilaporkannya kepada Presiden. Menurut Widodo, Presiden telah mengerti duduk masalah kasus Bank Paribas itu. Saya juga mendengar Presiden telah meminta Ketua Timtas Tipikor Hendarman Supandji, untuk menelaah kasus ini dan melaporkannya kepada beliau.

Hamid juga rupanya membuat laporan sekali lagi kepada Presiden, sesudah laporannya yang pertama. Kali ini lebih lengkap disertai dengan copy dokumen-dokumen tambahan. Laporan itu disampaikannya melalui ajudan Presiden, dua hari sebelum pertemuan bilateral dengan Pemerintah Singapura di Bali. Saya tidak membaca laporan Hamid yang terakhir ini, karena tidak disampaikan melalui Sekretariat Negara. Namun Hamid masih menyimpan copy laporan itu. Suatu ketika, tatkala Hamid telah diberhentikan, dalam pertemuan dengan Presiden SBY, Hamid menanyakan apakah Presiden telah membaca laporan mengenai Paribas yang diserahkan melalui ajudan. Presiden mengatakan, beliau sudah memahami hal-hal yang terkait dengan masalah Bank Paribas. Hamid tidak bertanya lebih lanjut.

Ketika saya telah berhenti dari kabinet, Kepala BIN Syamsir Siregar diperintahkan Presiden untuk menemui saya untuk berbincang-bincang tentang berbagai hal. Saya katakan pada Syamsir, saya menerima pemberhentian saya dari kabinet dan tidak ingin mempersoalkannya lagi. Secara konstitusional, Presiden berhak memberhentikan para menteri, kapan saja Presiden mau. Namun di masyarakat ada anggapan, pemberhentian saya itu terkait dengan masalah Bank Paribas. Untuk itu saya minta agar saya diperiksa. Kalau ada bukti-bukti yang cukup, silahkan dituntut. Kalau tidak ada, saya ingin diklarifikasi, agar masalah ini tidak menjadi beban saya seumur hidup sampai ke anak-cucu. Waktu itu Syamsir menelpon Presiden di depan saya. Menurut Syamsir, Presiden setuju memenuhi permintaan saya. Presiden akan menyerahkan hal itu kepada Jaksa Agung. Saya mengerti, kejaksaan memang berwenang menangani tindak pidana khusus yang dipersangkakan kepada saya itu.

Setelah beberapa lama menunggu, saya membaca statemen Jaksa Agung Handarman Supandji. Kejaksaan Agung telah menelaah dengan seksama kasus itu, dan tidak menemukan alasan hukum untuk melakukan penuntutan terhadap saya. Suatu ketika saya mendengar bahwa Hendarman mengatakan, Kejaksaan Agung telah melakukan analisa hukum atas kasus itu, sejak dia menjadi Jampidsus. Kasus ini lebih banyak nuansa politiknya. Mereka tidak menemukan adanya masalah hukum untuk meningkatkan kasus itu ke tingkat penyidikan. Hendarman mengatakan kejaksaan harus bertindak berdasarkan hukum, bukan atas dasar tekanan politik dan opini publik yang dibentuk media massa. Secara pribadi saya tidak begitu kenal dengan Hendarman. Bagi saya sosoknya agak “misterius”. Saya menghargai keberaniannya, walau ucapannya itu seperti melawan arus opini yang telah dibentuk oleh politisi, aktivis dan media massa.

Berita klarifikasi Hendarman itu tentu saja tidak segemuruh berita yang menuduh saya terkait dengan kasus Paribas. Beberapa koran, bahkan, memberi tajuk berita itu “Jaksa Agung Bela Yusril”, walau isi beritanya sama saja seperti saya uraikan tadi. Saya tidak memerlukan pembelaan. Saya hanya memerlukan kebenaran menurut hukum diungkapkan. Setelah statemen Hendarman, saya masih membaca berbagai komentar, juga di dalam blog, yang intinya mengatakan, Yusril mungkin benar dari sudut hukum. Tetapi dia melanggar “asas kepatutan” karena membantu keluarga Suharto. Mereka lupa, kalau saya melaksanakan tugas melayani warganegara Indonesia, siapapun orangnya. Mereka tidak menyebut Sujaswin Lubis dan Abdurrahman yang juga pemilik Motorbike. Mungkin mereka tidak tahu. Mereka hanya tahu itu “uang Tomy” seperti berita media massa. Tanggapan saya atas komentar itu singkat saja. Asas kepatutan memang dikenal dalam dunia hukum, namun ukuran kepatutan itu sendiri bisa sangat subyektif. Kalau norma-norma hukum telah jelas dan tidak memerlukan penafsiran lagi, maka hukum harus dijalankan. Norma hukum tertulis yang tegas, tidak dapat dikesampingkan dengan “asas kepatutan” yang masih dapat diperdebatkan. Inilah kepastian hukum, yang selama ini selalu dipersoalan banyak orang ada tidaknya di negeri ini.

Akhirnya, apa yang saya tulis di blog ini, mungkin juga tidak akan banyak pengaruhnya untuk menjernihkan masalah. Namun lebih baik saya tulis, biar kalau ada yang bertanya lagi, saya tidak capek menjelaskannya. Kalau sekiranya besok Allah Ta’ala memanggil saya untuk menghadapNya, maka anak-cucu saya di kemudian hari, akan dapat membaca apa yang saya tuliskan ini, agar tidak menjadi beban bagi mereka. Begitu juga jika ada rekan yang membaca berita atau analisa kasus ini di berbagai blog, antara lain Indonesia Matters, Asiasentinel atau Website Indonesian Corruption Watch (ICW), ada baiknya untuk membaca tulisan ini sebagai bahan pembanding. Setelah itu silahkanlah mengambil kesimpulan sendiri-sendiri.

Demikianlah tulisan saya mengenai kasus Bank Paribas ini. Hanya kepada Allah jua saya mohon berlindung dan hanya kepadaNya jua, saya menyerahkan segala persoalan.

Wallahu’alam bissawab.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — November 30th, 2007

216 tanggapan untuk “MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS”

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 » Show All

  1. resti vurwarin (komentar #1)

    saya ingin tahu, besok media akan menulis apa soal uang bank paribas setelah abang menulis hal ini di blog. kita tunggu…

  2. hamidfara_aza (komentar #2)

    Alhamdulillah, akhirnya selesai juga baca tulisan K’ Yusril lagi.
    Kalo tidak salah ada 33 alinea, lumayan bikin mata full konsentrasi bacanya.
    Akhirnya, saya akan menilai apa yang diberitakan media massa, hanya keburukan dari seseorang yang tidak disukai, jauh dari nilai kebenaran yang ada dalam tulisan ini, saya tidak bermaksud untuk taklid buta apa yang K’ Yusril telah uraikan disini, tapi saya cenderung untuk mempercayainya, karena versi ini belum pernah dimuat oleh media massa.
    “…………Prof. Arifin tidak menjawab. Saya hanya ingin menguji pendapat beliau, karena pendapat itu berulang-kali diberitakan Kompas. Pendapat saya yang menyanggah pendapatnya, tidak mendapat tempat pemberitaan yang proporsional”.
    Inilah jawab kelas tinggi menurut saya, maklum dua Prof berdiskusi.
    Berjuang terus K’ Yusril. Saya yakin, bahwa kebenaran akan muncul, dan kebathilan akan sirna. Allah bersama kita.

    Salam Ta’zhim,

  3. Vavai (komentar #3)

    Pembahasan dan penjelasan yang komprehensif. Bagus sekali pak.

    Seperti halnya Resti #1 dan Hamidfara #2, saya ingin tahu respon dan penjelasan dari pihak lain sehingga apa yang selama ini dikonsumsi masyarakat via media massa dapat lebih clear dan jernih untuk dibahas.

    Terus menulis via blog pak. Pada akhirnya orang akan dapat menilai mana yang berupa fakta dan mana yang masih sumir.

    Paling tidak, diskusi dan debat melalui blog bisa mencerahkan dan memberikan pemahaman bagi kita semua.

  4. hamidfara_aza (komentar #4)

    Ketika masyarakat (saya) HANYA mengikuti perkembangan pemberitaan di media massa, tentang berbagai kasus yang menerpa K’ Yusril, karena hanya sebagian yang diuraikan diatas, maka sebagian besar masyarakat secara otomatis akan memberikan vonis (kepagian) terhadap K’ Yusril, mengikuti irama yang dimainkan oleh media massa, yaitu vonis keburukan/tindakan bertentangan dengan hukum, termasuk juga saya waktu itu.

    Tetapi setelah saya dengan cermat mengikuti alur tulisan “pembelaan ” ini, saya baru terbuka, dan ini sesuai dengan tujuan awal K’ Yusril membuat blog ini, bahwa untuk memberikan pencerahan, saya termasuk orang di dalamnya.

    Maaf, kalo saya menyebutnya sebagai “pembelaan ” (pledoi) perdana, karena akan ada lagi pembelaan berikutnya dari K’ Yusril tentang berbagai kasus terdahulu. Tulisan semacam inilah yang sebagian masyarakat ingin ketahui, apa yang sebenarnya yang telah terjadi, sehingga menjadi proforsional beritanya dan berimbang, akhirnya masyarakat jualah yang kan menilai.

  5. Alexander Soebroto (komentar #5)

    Sangat teratur dalam penyampaiannya, memang masih banyak kita temui politisi tingkat tinggi yang mahir bermanuver tapi lemah dalam berargumen.

    Aturan berpikir benar (logika) dari sisi hukum yang dikemukan oleh bung Yusril ini patut ditiru oleh semua lapisan masyarakat dan pejabat yang lainya. Saya sangat suka dengan ilistrasi kapal jepangnya tadi :)

    Ada orang mengatakan kepada saya seperti ini ;

    ‘Alex kalau anda takut naik pesawat, maka sebaiknya Anda tidak usah tidur ditempat tidur, perlu Anda ketahui bahwa 80% orang meninggal diatas tempat tidur, dan yang meninggal karena pesawat terbang tidak lebih dari 5%’

    Kelihatan sekilas komentar kawan saya tadi tidak ada yang salah, tapi dari ‘aturan berpikir yang benar’ tidak kita temui sedikitpun kebenaran didalam statment itu.

    Kalaupun betul yang meninggal karena pesawat terbang adalah 5% , tapi itu tidak ada kaitannya sama sekali dengan meninggal di tempat tidur yg 80% tadi.

    Yang 5% tadi adalah angka kecelakaan.
    sedangkan yang diomongkan 80% tadi adalah hal suatu perkara yang wajar dan normal.

    Bias makna bagi masyarat dan liarnya kepentingan bagi politisi memang sangat berperan penting untuk menilai suatu perkara.

    Namun untuk ‘urusan’ Bung Yurril ini, yang terbaik dan yang paling adil adalah dibuktikan dipengadilan :) , bukan di media massa only.

    Salam
    Alexander Soebroto

  6. Romi (komentar #6)

    “…saya mengetahui bahwa Pasal 1918 BW menegaskan,…”

    “BW” itu apa ya pak?

  7. poetra (komentar #7)

    Saya juga ketika itu menonton dialog bang Yusril di metro mengenai kasus ini, dengan salah seorang pakar administrasi niaga dari UGM, dan saya ingat betul bang Yusril memakai jeans dan jaket kulit. Keren sekali bang, hehe.

    Saya juga sudah membaca tulisan abang, dan sangat menghargainya sebagai bentuk dari hak jawab abang. Semoga tulisan abang ini bisa meminimalisir kekeliruan yang ditimbulkan media, dan semoga bisa menjadi bahan rujukan sebagai klarifikasi juga.

    Tetap semangat bang, dan tetap berjuang untuk Indonesia :)

  8. Donny Reza (komentar #8)

    Sama, saya juga penasaran, jadi pengen tahu, adakah media yang membahas ini lagi? Walaupun tidak dianjurkan, tapi saya hanya berfikir, seandainya pak Yusril dari dulu ngeblog…hehehe :)

  9. F4T80Y5 (komentar #9)

    diluar konteks di atas…. saya sendiri melihat banyak hal simple di blow-up sampai jadi berita besar….. sedangkan berita besar ditekan habis hingga tak bergema……. saya gak tau siapa & apa yang menyebabkan ini…… apakah wartawannya, Redaksi atau owner pemilik media….

    mudah2an blog bisa membuat warna lain deri kebenaran dan keseimbangan berita……..

  10. aboh (komentar #10)

    Alhamdulillah…

    ketidak yakinan saya akan pemberitaan yang menyangkut pribadi YIM kaitan dengan “Uang Tommy di bank Paribas” ini menemukan jawaban yang melegakan. setidaknya informasi ini keluar langsung dari yang peran utama.

    satu babak telah terlalui, ( buat saya :) ),

    saya berharap, ada ” gentle man ” yang terkait dengan apa yang YIM uraikan untuk comment. ( itu pun kalau berani ).

    sehingga mudah2 an episode ini bisa ” the end “, ( buat saya:) )

    terima kasih, pak.
    It’s a right track..!

  11. Yusril Ihza Mahendra (komentar #11)

    #6 Romi. BW singkatan dari Burgerlijk Wetboek atau Kitab Undang-Undang Hukum Perdata. Terima kasih.

  12. Bonar (komentar #12)

    #6 Romi:
    Atau dengan kata lain: Buku basah berlapis burger. :)

    (maaf, mood saya sedang ceria)

    #11 YIM:
    Postingan ini harus di e-mail ke media Pak, supaya ada tanggapan/refutation. DetikCom itu media yang paling banyak dibaca di internet, saya kira Anda sudah punya kontak kesana.

  13. M Fahmi Aulia (komentar #13)

    Hmm…saya jadi lebih terbuka wawasannya mengenai kasus itu.
    Salut untuk bung Yusril yg berani untuk menulis (dengan cukup detail) kasus tersebut.

    Saya juga setuju, bahwa SEMUA warga Indonesia BERHAK mendapat PERLAKUAN YANG SAMA.
    *tepuk tangan untuk bung Yusril*

  14. escoret (komentar #14)

    waduuwww..bingung mau komentar apa..???

    *asli,masih bingung *

  15. Yusril Ihza Mahendra (komentar #15)

    # Boss Bonar, kalau bahasa Inggris “wet” memang artinya basah. Tapi dalam bahasa Belanda artinya “undang-undang”. Ya.. selamat berceria boss!

    Detik.com beritanya sering ngawur dan sepihak juga. Saya sedang mengalami krisis kepercayaan kepada media massa..

  16. Arie Ashford (komentar #16)

    FANTASTIC. Ruararrr Biasa!
    Saya setuju dengan Bang Bonar, agar, “Postingan ini harus di e-mail ke media Pak, supaya ada tanggapan/refutation”.
    Tapi tak penting ada tidaknya tanggapan-lah. Yang terpenting informasi ini sampai kepada pihak-pihak yang memang “berkepentingan”.
    Pak Yusril, Saya juga bermaksud meneruskannya ke beberapa mailing list dan blogtemanyang ada di luar negeri, yang sangat penasaran dengan PEMENTASAN DRAMA SINGKAT BERKORBAN BESAR ini. Ini sekaligus permohonan izin ke Bapak, ya?
    Kalau begini, Saya boleh sangat-lah berharap persoalan penlitian Saya menunggu giliran akan Bapak bantu menjelaskannya.

    Sekali lagi terima kasih, Pak Yusril.

  17. Kandar Cik Kulup (komentar #17)

    Assalamualaikum,wr.wb.

    Saya jadi ngerti kenapa waktu itu, bang yusron mengatakan bahwa SBY bertindak di bawah tekanan. Semoga di kemudian hari kalo abang jadi presiden tidak bertindak di bawah tekanan ya bang, he.he (bener iwan fals; politik itu kejam) btw jangan kapok bang, sukses..ditunggu cerita soal alat sidik jarinya.

  18. Yusril Ihza Mahendra (komentar #18)

    #16 Arie Ashford, terima kasih atas perhatiannya. Silahkan saja untuk disebarkan ke yang lain, siapa tahu berminat membacanya.

    #17 Kandar, terima kasih juga atas posting yang dikirim. Saya sadar bahwa Presiden memang mengambil keputusan di bawah tekanan yang begitu berat. Presiden SBY berulangkali mengatakan hal ini kepada saya sambil meminta maaf. Saya selalu mengatakan kepada beliau, sudahlah … Sampai hari ini Presiden SBY masih kontak dengan saya, baik pertelepon, atau memanggil saya datang ke Cikeas atau malam-malam ke Istana Negara.

    Saya memang sering mengambil keputusan kontroversial, karena saya yakini kebenarannya. Saya berpikir, biarlah waktu yang akan menunjukkan keputusan saya benar atau salah. Namun sikap seperti saya itu selalu kalah dengan publik opini yang dibentuk oleh media massa. Saya bukan Surya Paloh yang punya Media Indonesia dan Metro TV, atau konglomerat yang berada di balik sebuah koran, majalah dan media elektronik.

    Terima kasih. Salam saya untuk Cik Kulup dan Pak Con (Mansur). Sudah lama saya tidak bertemu beliau.Semoga beliau selalu sehat.

  19. Ray (komentar #19)

    Wah tulisan yg bagus.. membukakan mata saya bahwa yg saya tahu, saya baca dan saya dengar selama ini ternyata salah. Ternyata Media masa memang banyak berbohong kepada publik, ya mungkin mereka ingin mendongkrak pendapatan dari hasil kebohongan tersebut, tapi satu yg pasti, tulisan Bung Yusril disini pasti akan membukakan mata bagi mereka yg tidak tahu kebenaran.

    Saya sendiri berharap ada sebuah media yg akan mengulas tulisan Bung Yusril disini, sehingga masyarakat tahu dan mereka akan sadar apa yg sebenernya telah terjadi, mereka bisa membandingkan dan mereka akan bisa menilai mana yg benar dan mana yg salah, siapa yang harus di bela.

    Tetaplah menulis pendapat, ide dan pengalaman Bung Yusril tentang hal hal yang menyimpang dan patut untuk di luruskan. Semoga tulisan di sini akan berguna dan bermanfaat bagi kita semua. Amin

  20. zakasembung (komentar #20)

    assalamualaikum, wr,wb… slamat ya bang ude jadi artis neh…….

    tulisan tentang abang d resufle kapan d muat bang….padahal kan SBY abang yg dukung…
    bagus juga d muat bang…

  21. Dhan (komentar #21)

    Bang Yusril sudah mengambil langkah yang tepat dengan membuat blog dan membuka diskusi dengan publik melalui media ini. Public relation itu memang perlu bang, bahkan untuk pribadi sekalipun.

    Biarlah apapun penilaian sebagian pihak yang mungkin berpendapat bahwa abang sedang menggalang masa pendukung lewat blogosphere dan menilai bahwa tulisan di blog ini sangat bias dan satu versi. Itu memang tidak bisa dihindarkan. Sebuah blog tidak harus objektif walaupun bisa saja dibuat demikian. Bias sampai batas tertentu dan tidak melampaui etika yang dapat diterima itu sah-sah saja. Biarpun nilai etika itu sendiri sangat subjektif dan berbeda untuk tiap individu.

    Semua orang berhak untuk membela dan berbicara atas nama dirinya.

  22. R. Zainuddin (komentar #22)

    Tentu saja ada kelainan “uang Tommy” dengan uang seperti contoh yang ditulis sdr Yusril di bawah ini, karena Pemerintah di sana terlibat pada pengelolaan uang2 tersebut, uang2 itu sementara dapat “diakui” sebagai milik negara sebelum diserahkan ke Pelaut, jemaah haji demikian juga uang jaminan tender sebelum dikembalikan ke peserta tender.
    Tetapi “uang Tommy” dapat dikaitkan bahkan dicurigai dengan pencucian uang oleh Soeharto yang sedang diusut Pemerintah, mestinya sdr Yuzril dan Hamid sebagai Menteri menempatkan diri sebagai bagian dari Pemerintah yaitu menyimpan dulu uang tersebut di rekening Pemerintah sampai kedudukan uang tersebut clear, dengan demikian membantu Pemerintah dalam masalah pengusutan pencucian uang Soeharto bukan tujuannya menolong warga negara yang “dianggap” pemilik uang tersebut , apalagi Sujaswin Lubis dan Abdurrahman Abdul Kadir Mulahale partner Tommy tidak pernah diketahui batang hidungnya, apa ada atau hanya siluman. Dengan demikian penyimpanan uang tersebut di Bank Pemerintah disejajarkan dengan penyimpanan uang seperti contoh-contoh yang diberikan sdr Yuzril.
    Jadi jelas ada kesalahan nyata sdr Yusril dan Hamid yaitu tidak membantu Pemerintah dalam pengusutan pencucian uang Soeharto yang terkait dengan “uang Tommy”, dan meskipun tidak mudah dibuktikan tetap saja ada kecurigaan bahwa kedua Menteri menerima “tanda terima kasih” dari Tommy cs atas bantuan pencairan uang tersebut. Mangkanya “hukuman” pelengseran dari Menteri bagi keduanya terasa belum cukup.

    ====================================================
    Saya mengatakan kepada Prof. Arifin, pada suatu ketika, ada kapal berbendera Jepang yang ditembaki bajak laut sampai tenggelam di pantai Somalia. Beberapa awak kapal yang selamat ternyata warganegara Indonesia. Pemilik kapal, ingin membantu awak kapal yang selamat agar bisa pulang. Maka mereka mentransfer uang ke rekening KBRI di Somalia untuk diserahkan kepada awak kapal tersebut. Saya tanya Prof. Arifin apakah itu salah. Beliau mengatakan, itu keadaan darurat. Baiklah. Saya tanya lagi, bagaimana dengan uang saku jamaah haji yang dibayarkan sebagai bagian dari ONH dan diberikan kembali kepada mereka ketika jamaah tiba di Saudi Arabia. Uang itu disetorkan ke rekening Departemen Agama. Apakah itu tidak menyalahi undang-undang? Setahu saya, swasta yang melakukan tender atas proyek Pemerintah juga harus menyetorkan sejumlah uang jaminan. Uang jaminan milik swasta itu juga disetorkan ke rekening Pemerintah. Kalau kalah tender, uang itu dikembalikan. Apa ini juga tidak menyalahi undang-undang? Prof. Arifin tidak menjawab. Saya hanya ingin menguji pendapat beliau, karena pendapat itu berulang-kali diberitakan Kompas. Pendapat saya yang menyanggah pendapatnya, tidak mendapat tempat pemberitaan yang proporsional.

  23. hamidfara_aza (komentar #23)

    …….Presiden SBY berulangkali mengatakan hal ini kepada saya sambil meminta maaf. Saya selalu mengatakan kepada beliau, sudahlah … ,

    Setelah saya mencermati tulisan di atas, ” hal ini “, saya mau bertanya , apakah hal ini yang dimaksud adalah tekanan,masalah uang Tomy, atau rencana reshuffle, sehingga masalah inilah yang membuat K’ Yusril di reshuffle dari kabinet ?

    Kedua, sebenarnya banyak hal mengenai pemberitaan K’ Yusril yang disampaikan secara sepihak oleh media massa, tapi MASALAH “UANG TOMY” DI BANK PARIBAS, kenapa dijadikan sebagai jawaban perdana di blog ini…?

  24. Marwan (dikampong Lalang) (komentar #24)

    Abang, trimäkasih penjelasannya yang komprehensif. Kita minta media agar baca dong penjelasan ini.

  25. Aba Rayhan (komentar #25)

    Tampaknya Saudara R. Zainuddin. Kurang teliti deh baca keseluruhan ” Tetapi “uang Tommy” dapat dikaitkan bahkan dicurigai dengan pencucian uang oleh Soeharto yang sedang diusut Pemerintah, mestinya sdr Yuzril dan Hamid sebagai Menteri menempatkan diri sebagai bagian dari Pemerintah yaitu menyimpan dulu uang tersebut di rekening Pemerintah sampai kedudukan uang tersebut clear, dengan demikian membantu Pemerintah dalam masalah pengusutan pencucian uang Soeharto bukan tujuannya menolong warga negara yang “dianggap” pemilik uang tersebut , apalagi Sujaswin Lubis dan Abdurrahman Abdul Kadir Mulahale partner Tommy tidak pernah diketahui batang hidungnya, apa ada atau hanya siluman.

  26. Aba Rayhan (komentar #26)

    Agaknya, kok Saudara R. Zainuddin tidak utuh deh baca pengakuan Bang Yusril. Apalagi kan, Nama Saudara pake’ Zainuddin. Ujungnya Din lho? Tak ada dosa turunan menurut ujung nama (Din)-nya Bapak, setahu Saya.
    Lagi-an, jelas deh BW-BW-an dan KUHP-KUHP-an yang ditegaskan Bang Yusril. Bahwa seseorang tidak dapat dikenai persoalan atas satu perkara karena perkara yang berbeda. Sekali lagi, bener lho Bang Yusril –mengutip Qurán yang dijadikan acuan ‘Din’-nya Saudara:
    “Janganlah ketidaksukaan kamu kepada seseorang membuat kamu menjadi tidak adil”. Kira-kira begitulah.
    Gitu lho, Saudara Zainud-Din.

    Catatan:
    Bang Yusril dan Temen-temen maaf halaman blog-ku belum terisi blas. Sedang diupayakan.
    Sorry, lho Saudara Din!

  27. iman brotoseno (komentar #27)

    Memang negeri ini sepertinya banyak kasus bias karena opini dan kedudukan politik seseorang..Ditunggu ceritanya juga mengenai perseteruan anda dengan Ketua KPK dulu..
    Salam kampus rawamangun

  28. afif (komentar #28)

    hebat kang ! !, saya ga tahu hukum tapi membaca tulisan kang yusril, bikin saya percaya indonesia masih ada harapan baik di masa mendatang. Meski ??????????banyak deeehhhh tanda (?) nya! minimal masih ada orang yang tidak berat sebelah, dalam menyikapi keadilan yang agak berbau politik. .

  29. luthfi maulana (komentar #29)

    Dinegeri ini banyak sekali orang yang merasa pintar tapi sedikit yang “pintar merasa” , kalau kepintaran itu hanya untuk membawa mudhorot bodoh mungkin lebih baik. Seorang bodoh mungkin ketika berbuat suatu kesalahan dimaklumi karena kebodohannya, tapi orang pintar..? semoga Alloh SWT selalu meluruskan hati Bang Yusril agar tetap istiqomah, ketika kita bertindak dan berucap dalam kebenaran dan konsisten maka Alloh SWT yang akan membela kita dari setiap upaya dan rekayasa yang diperbuat oleh kaum kafir dan munafiq dan orang - orang sok jago….

  30. R. Zainuddin (komentar #30)

    Apa pun arti dari Aba Rayhan tidak mengurangi kecurigaan saya bahwa “uang Tommy” ada kaitannya dengan korupsi Soeharto, cuma pembuktiannya ditangan Kejaksaan Agung.
    Inti tulisan saya di atas sdr Yusril keliru bila menyamakan penimpanan “uang Tommy” di rekening Negara dengan peristiwa penyinmpanan uang pelaut, pengembaliuan ongkos haji dan uang jaminan tender yang juga pada rekening Negara. Keduanya berbeda, karena pada peristiwa pertama Negara tidak harus terlibat sedangkan yang kedua Negara memang terlibat, no. rekeningnyapun masih ada sampai sekarang.
    Sdr Yusril mestinya lebih melibatkan diri dalam pengusutan pencucian uang Suharto daripada sekedar menolong seseorang yang patut dicurigai memegang uang Soeharto.

    Bagito sdr uztaz Rayhan

Pages: [1] 2 3 4 5 6 7 8 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda