<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: MASALAH &#8220;UANG TOMY&#8221; DI BANK PARIBAS</title>
	<atom:link href="http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/</link>
	<description>Blog Yusril Ihza Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Fri, 12 Mar 2010 12:38:01 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.1</generator>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
		<item>
		<title>By: Batikihza.com</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-85618</link>
		<dc:creator>Batikihza.com</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Aug 2009 09:33:02 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-85618</guid>
		<description>Tulisannya bagus sekali pak


www.batikihza.com

produsen batik pekalongan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Tulisannya bagus sekali pak</p>
<p><a href="http://www.batikihza.com" rel="nofollow">http://www.batikihza.com</a></p>
<p>produsen batik pekalongan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: aldi</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-31458</link>
		<dc:creator>aldi</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 23 Sep 2008 09:14:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-31458</guid>
		<description>test</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>test</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: RANI BADRI KALIANDA MUHAMMAD</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-15782</link>
		<dc:creator>RANI BADRI KALIANDA MUHAMMAD</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 09:20:07 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-15782</guid>
		<description>Ass. Wr.Wb.

Bung Yusril, Anda cepet sekali menanggapi komentar saya...pikiran Anda memang jernih...Anda tepat kita harus membangun Negeri  ini dengan pikiran &amp; keinginan yang jerniih... Biarlah media bergerak sebagaimana alirannya...Kita tidak boleh anti terhadap sesuatu, Contoh Anti Narkoba - semakin banyak Narkoba, Anti Korupsi - Semakin canggih dan beraninya orang korupsi. Anti soekarno hingga kini cerita soekarno tidak pernah padam, Anti Nikotin - penjualan Rokok makin meningkat dan luar biasa. 

Bung Yusril, jika para pelaku politik di tanah air dan media anti Anda, pesan saya jangan anda lawan situasi itu nanti yg anda Antikan malah semakin besar dan anda makin meredup. Tetapi jika anda tersenyum dan menjadikan rasa Anti pada Anda, adalah spirit untuk menata perjuangan Anda. Lihatlah nantinya perasaaan orang yg simpati pada Anda akan bergerak seperti Bola salju, Anda akan diusung oleh khalayak untuk menjadi yg terdepan memimpin Bangsa.

Tentu Bung masih ingat, bagaimana Mega jadi besar karena orde baru anti pada Mega, atau SBY jadi besar karena bung TK anti SBY....Mari kita belajar dari Rasullah yg menjadikan musuh2nya adalah Gurunya yg kian mendekatkan dirinya pada Illahi Robby.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass. Wr.Wb.</p>
<p>Bung Yusril, Anda cepet sekali menanggapi komentar saya&#8230;pikiran Anda memang jernih&#8230;Anda tepat kita harus membangun Negeri  ini dengan pikiran &amp; keinginan yang jerniih&#8230; Biarlah media bergerak sebagaimana alirannya&#8230;Kita tidak boleh anti terhadap sesuatu, Contoh Anti Narkoba &#8211; semakin banyak Narkoba, Anti Korupsi &#8211; Semakin canggih dan beraninya orang korupsi. Anti soekarno hingga kini cerita soekarno tidak pernah padam, Anti Nikotin &#8211; penjualan Rokok makin meningkat dan luar biasa. </p>
<p>Bung Yusril, jika para pelaku politik di tanah air dan media anti Anda, pesan saya jangan anda lawan situasi itu nanti yg anda Antikan malah semakin besar dan anda makin meredup. Tetapi jika anda tersenyum dan menjadikan rasa Anti pada Anda, adalah spirit untuk menata perjuangan Anda. Lihatlah nantinya perasaaan orang yg simpati pada Anda akan bergerak seperti Bola salju, Anda akan diusung oleh khalayak untuk menjadi yg terdepan memimpin Bangsa.</p>
<p>Tentu Bung masih ingat, bagaimana Mega jadi besar karena orde baru anti pada Mega, atau SBY jadi besar karena bung TK anti SBY&#8230;.Mari kita belajar dari Rasullah yg menjadikan musuh2nya adalah Gurunya yg kian mendekatkan dirinya pada Illahi Robby.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Juswan</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-15757</link>
		<dc:creator>Juswan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 08:32:55 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-15757</guid>
		<description>Bung Yusril,

Saya sungguh merasa tersanjung bahwa anda menanggapi pendapat saya demikian spontan dan jelas. Dengan demikian saya menjadi lebih paham [semoga juga semakin arif] memahami kompleksitas dunia perpolitikan di negara kita ini.

FYI saya berasal dari pulau tetangga anda yaitu pulau Bangka. Saya berkecimpung di dunia politik para akhir era 60-an
sebagai wakil ketua Partai Katolik Kabupaten Bangka. Saat itu kami sudah mulai memperjuangkan daerah Bangka Belitung untuk menjadi Propinsi namun rupanya Allah belum berkenan, karena mendapat tentangan keras dari Mendagri waktu itu [yang kita tahu bersama] dan alasan mereka untuk terus mempertahankannya.  Setelah santan habis diperas dari parutan kelapa barulah ampasnya diserahkan kepada kita untuk dikelola.

Wassalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bung Yusril,</p>
<p>Saya sungguh merasa tersanjung bahwa anda menanggapi pendapat saya demikian spontan dan jelas. Dengan demikian saya menjadi lebih paham [semoga juga semakin arif] memahami kompleksitas dunia perpolitikan di negara kita ini.</p>
<p>FYI saya berasal dari pulau tetangga anda yaitu pulau Bangka. Saya berkecimpung di dunia politik para akhir era 60-an<br />
sebagai wakil ketua Partai Katolik Kabupaten Bangka. Saat itu kami sudah mulai memperjuangkan daerah Bangka Belitung untuk menjadi Propinsi namun rupanya Allah belum berkenan, karena mendapat tentangan keras dari Mendagri waktu itu [yang kita tahu bersama] dan alasan mereka untuk terus mempertahankannya.  Setelah santan habis diperas dari parutan kelapa barulah ampasnya diserahkan kepada kita untuk dikelola.</p>
<p>Wassalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: RANI BADRI KALIANDA MUHAMMAD</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-15699</link>
		<dc:creator>RANI BADRI KALIANDA MUHAMMAD</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 06:38:40 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-15699</guid>
		<description>Ass. Wr.Wb.

Bung Yusril, Anda benar! Dalam berbuat baik kita tidak boleh pandang bulu, siapa pun yang datang untuk meminta bantuan wajib kita layani. Tidak ada orang yg bisa merubah prilaku kita atau membohongi kita, jika kita tidak memberi kesempatan padanya. Disinilah pentingnya kita kontemplasi baik dengan diri maupun dengan Sang Maha kasih....karena semua akibat terjadi karena adanya sebab....Jadi berfikirlah selalu tentang &quot;Sebab&quot; bukan &quot;Akibat&quot;, kalau sebab yng anda lahirkan benar, pasti akibatnya juga sama....Sebab yang baik harus seimbang, tidak kaku dan hanya mengedepankan atau ditilik dari satu Aspek saja. 

Anda sangat pintar baik dalam berfikir, berbicara dan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Ingat Bung Indonesia sangat membutuhkan Anda... Jika Anda merasa benar,  jangan kalah oleh yg batill...jalan kita masih panjang...masih jutaan orang di negeri ini,  yg  memiliki jiwa yg sama untuk membangun Indonesia Raya...Mari kita satukan frequensi agar kita bertemu dalam gelombang yang Sama...Gelombang yg tidak membangun Badannya saja melainkan juga membangun Jiwanya, sebagaimana lagu Indonesia Raya....&quot;Bangunlah jiwa, bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya...&quot; Namun yg membuat Bunda menangis, Anak-anak Negeri, hanya membanun badannya saja, membangun keserakahannya, egonya, nafsunya dan kebenarannya saja..

Wass

&lt;em&gt;Terima kasih banyak. Saya sependapat bahwa jiwa dan raga harus sama-sama dibangun. Saya berpendapat bahwa sudah saatnya sebagai sebuah bangsa, kita bekerja keras membangun bangsa ini, atas dasar iktikad baik bersama. Perasaan saling curiga, bukanlah perasaan yang baik untuk membangun bangsa. Sekarang ini pers kita bebas. Sementara tanggungjawab moral begitu rendahnya. Kalau kebenaran yang diungkapkan, tentu tidak menarik dilihat dari sudut jurnalistik. Namun jika rumors, buntutnya akan panjang. Di zaman Ore Baru dulu, senjata pamungkas untuk memojokkan lawan politik ialah menyebutnya &quot;terindikasi&quot; G 3 S PKI. Benar atau tidak, itu soal lain. Yang penting imej telah dibangun. Di zaman sekarang, G 30 S dan PKI bukan isyu yang menarik lagi. Sebab itu, yang populer untuk memojokkan lawan politik ialah &quot;terindikasi&quot; melakukan korupsi &quot;aliran dana&quot;. Apalagi dikaitkan dengan keluarga mantan Presiden Suharto, dia akan menjadi isyu dan rumors politik yang sangat efektif. Benar atau tidaknya, itu &quot;urusan nomor 16&quot; (yakni nomor puyer Bintang Tujuh), karena yang terpenting ialah lawan politik terpojok dan menjadi isyu yang diharapkan akan membuatnya &quot;terkapar&quot; dari panggung politik. (YIM)

&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ass. Wr.Wb.</p>
<p>Bung Yusril, Anda benar! Dalam berbuat baik kita tidak boleh pandang bulu, siapa pun yang datang untuk meminta bantuan wajib kita layani. Tidak ada orang yg bisa merubah prilaku kita atau membohongi kita, jika kita tidak memberi kesempatan padanya. Disinilah pentingnya kita kontemplasi baik dengan diri maupun dengan Sang Maha kasih&#8230;.karena semua akibat terjadi karena adanya sebab&#8230;.Jadi berfikirlah selalu tentang &#8220;Sebab&#8221; bukan &#8220;Akibat&#8221;, kalau sebab yng anda lahirkan benar, pasti akibatnya juga sama&#8230;.Sebab yang baik harus seimbang, tidak kaku dan hanya mengedepankan atau ditilik dari satu Aspek saja. </p>
<p>Anda sangat pintar baik dalam berfikir, berbicara dan menuangkan gagasan dalam bentuk tulisan. Ingat Bung Indonesia sangat membutuhkan Anda&#8230; Jika Anda merasa benar,  jangan kalah oleh yg batill&#8230;jalan kita masih panjang&#8230;masih jutaan orang di negeri ini,  yg  memiliki jiwa yg sama untuk membangun Indonesia Raya&#8230;Mari kita satukan frequensi agar kita bertemu dalam gelombang yang Sama&#8230;Gelombang yg tidak membangun Badannya saja melainkan juga membangun Jiwanya, sebagaimana lagu Indonesia Raya&#8230;.&#8221;Bangunlah jiwa, bangunlah Badannya untuk Indonesia Raya&#8230;&#8221; Namun yg membuat Bunda menangis, Anak-anak Negeri, hanya membanun badannya saja, membangun keserakahannya, egonya, nafsunya dan kebenarannya saja..</p>
<p>Wass</p>
<p><em>Terima kasih banyak. Saya sependapat bahwa jiwa dan raga harus sama-sama dibangun. Saya berpendapat bahwa sudah saatnya sebagai sebuah bangsa, kita bekerja keras membangun bangsa ini, atas dasar iktikad baik bersama. Perasaan saling curiga, bukanlah perasaan yang baik untuk membangun bangsa. Sekarang ini pers kita bebas. Sementara tanggungjawab moral begitu rendahnya. Kalau kebenaran yang diungkapkan, tentu tidak menarik dilihat dari sudut jurnalistik. Namun jika rumors, buntutnya akan panjang. Di zaman Ore Baru dulu, senjata pamungkas untuk memojokkan lawan politik ialah menyebutnya &#8220;terindikasi&#8221; G 3 S PKI. Benar atau tidak, itu soal lain. Yang penting imej telah dibangun. Di zaman sekarang, G 30 S dan PKI bukan isyu yang menarik lagi. Sebab itu, yang populer untuk memojokkan lawan politik ialah &#8220;terindikasi&#8221; melakukan korupsi &#8220;aliran dana&#8221;. Apalagi dikaitkan dengan keluarga mantan Presiden Suharto, dia akan menjadi isyu dan rumors politik yang sangat efektif. Benar atau tidaknya, itu &#8220;urusan nomor 16&#8243; (yakni nomor puyer Bintang Tujuh), karena yang terpenting ialah lawan politik terpojok dan menjadi isyu yang diharapkan akan membuatnya &#8220;terkapar&#8221; dari panggung politik. (YIM)</p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Juswan</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-15647</link>
		<dc:creator>Juswan</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 22 Aug 2008 04:55:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-15647</guid>
		<description>Pak Yusril,

Sebagai dosen tentunya anda tahu bahwa pendekatan tunggal tidak dapat lagi dipakai tetapi sudah harus pendekatan jamak atau multiple approach. Hukum dan Politik baru dua approach dan inipun sudah bikin masalah besar. Anda dijatuhkan secara politis, pertanyaannya mengapa MS Kaban dan Paskah Suzetta tidak?
Seperti halnya kasus Ryan maka orang hukum selalu melihat masalahnya dari pendekatan Hukum atau Kriminologi. Orang psikologi melihatnya dari pendekatan Psikologi. Belum lagi dari Psikaitri atau Sosiologi. Bahkan orang Media mendekati persoalan ini dari pendekatan Media sehingga terciptalah Selebriti Kriminal.
Kalau pendekatannya terbatas pada pendekatan Hukum atau Politik, maka kalau menyangkut orang kecil dipakailah pendekatan Hukum tetapi untuk para untouchables dipakailah pendekatan Politik.  Dan dalam pendekatan Politik dipakai juga pendekatan Ekonomi yaitu Untung Rugi.  Apa ruginya secara Politik kalau bung Yusril dikorbankan atau apa Untungnya kalau dipertahankan.  Masalahnya lalu Untung Rugi buat Siapa?  Untuk Presiden atau untuk Negara?
Tentunya pertanyaan ini sifatnya retorika karena tidak ada yang mampu memahami kompleksitas pengambilan keputusan seseorang Presiden bila dikaji secara multi-approach.  Apakagi kalau cuma analisis masyarakat yang komponennya begitu rancu dengan interesse yang demikian beragam.


&lt;em&gt;Saya mengerti bahwa suatu masalah memang harus didekati dari berbagai sudut pandang. Namun sebagai Menteri Kehakiman dan HAM, maka pendekatan yang harus saya kedepankan ialah hukum. Presiden Gus Dur sebagai contoh menggunakan pendekatan budaya dalam membenarkan separatis OPM untuk mengibarkan bendera Papua Merdeka, karena bendera tsb menurut beliau adalah &quot;bendera budaya&quot;.  Sebagai Menteri Kehakiman waktu itu, saya hanya mengingatkan beliau bahwa Presiden memegang kekuasaan menurut UUD. Sumpah Presiden juga menyatakan akan setia kepada UUD dan segala undang-undang, serta akan menjalankannya dengan selurus-lurusnya.

Saya tidak dapat memastikan apakah benar saya diberhentikan karena pembentukan opini yang digalang sehubungan dengan kasus uang Tommy di Paribas atau ada masalah lain.  Atau ini hanya salah satu faktor saja di samping faktor-faktor lain yang jauh lebih besar. Saya berharap, andapun tidak akan menggunakan &quot;pendekatan tunggal&quot; tetapi &quot;multiple approach&quot; pula dalam menganalisis dan memahami masalah ini. Kalau &quot;multple approach&quot; yang digunakan, saya yakin masalah ini sesungguhnya sangat kompleks daripada sekedar isyu uang Tomy di Paribas. 

Soal Paskah dan Kaban diberhentikan atau tidak, itu semua tergantung pada keinginan Presiden, karena dia berwenang mengangkat dan memberhentikan menteri. Bersamaan dengan saya dan Hamid, juga diberhentikan Saifullah Jusuf dan Abdurrahman Saleh. Sebelum itu, Presiden SBY juga telah memberhentikan Alwi Shihab, Jusuf Anwar, Andung Nitimihardja, tanpa kita tahu apa masalahnya. Namun dalam kasus Sudi Silalahi, yang begitu kuat tekanan publik opini melalui media dalam kasus rekomendasinya kepada PT Sun Hoo yang  mengatas-namakan Presiden untuk merelokasi KBRI di Seoul, tidak ada tindakan apapun dari Presiden SBY. Jadi, segala sesuatunya memang terserah kepada keputusan Presiden. Itulah sebabnya saya tidak banyak berkomentar ketika saya diberhentikan dari kabinet. Inipun bukan yang pertama saya diberhentikan. Di masa  Presiden Gus Dur saya juga diberhentikan dari Menteri Kehakiman dan HAM, walau semua orang tahu saya mundur dari pencalonan Presiden dan memberikan kesempatan kepada beliau untuk terpilih di Sidang MPR tahun 1999. Saya tidak merasa kecewa, apalagi sakit hati.

Dalam pandangan saya, seorang politisi kadang-kadang ibarat sebatang pohon yang menjulang tinggi. Makin tinggi pohon itu, makin mudah dia diterpa angin. Sayapun juga mungkin seperti itu. Saya berasal dari orang kebanyakan, dari suku yang kecil (Belitung), dan memimpin partai yang kecil pula (PBB). Dalam situasi seperti itu, saya memang mudah diterpa angin. Kadang-kadang pohon itu sanggup menahan angin dan tetap untuk tegak berdiri, namun kadang-kadang dahannya patah, bila badai dan topan datang menerjang. Namun saya berharap, pohon itu tetap tegak berdiri di tempatnya, walau angin, badai dan topan akan selalu datang menerpa. 

Mudah-mudahan anda sudi menyimak hal-hal yang tersirat di balik apa yang saya ungkapkan ini.

Demikian tanggapan saya dan saya ucapkan terima kasih. (YIM)



&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Pak Yusril,</p>
<p>Sebagai dosen tentunya anda tahu bahwa pendekatan tunggal tidak dapat lagi dipakai tetapi sudah harus pendekatan jamak atau multiple approach. Hukum dan Politik baru dua approach dan inipun sudah bikin masalah besar. Anda dijatuhkan secara politis, pertanyaannya mengapa MS Kaban dan Paskah Suzetta tidak?<br />
Seperti halnya kasus Ryan maka orang hukum selalu melihat masalahnya dari pendekatan Hukum atau Kriminologi. Orang psikologi melihatnya dari pendekatan Psikologi. Belum lagi dari Psikaitri atau Sosiologi. Bahkan orang Media mendekati persoalan ini dari pendekatan Media sehingga terciptalah Selebriti Kriminal.<br />
Kalau pendekatannya terbatas pada pendekatan Hukum atau Politik, maka kalau menyangkut orang kecil dipakailah pendekatan Hukum tetapi untuk para untouchables dipakailah pendekatan Politik.  Dan dalam pendekatan Politik dipakai juga pendekatan Ekonomi yaitu Untung Rugi.  Apa ruginya secara Politik kalau bung Yusril dikorbankan atau apa Untungnya kalau dipertahankan.  Masalahnya lalu Untung Rugi buat Siapa?  Untuk Presiden atau untuk Negara?<br />
Tentunya pertanyaan ini sifatnya retorika karena tidak ada yang mampu memahami kompleksitas pengambilan keputusan seseorang Presiden bila dikaji secara multi-approach.  Apakagi kalau cuma analisis masyarakat yang komponennya begitu rancu dengan interesse yang demikian beragam.</p>
<p><em>Saya mengerti bahwa suatu masalah memang harus didekati dari berbagai sudut pandang. Namun sebagai Menteri Kehakiman dan HAM, maka pendekatan yang harus saya kedepankan ialah hukum. Presiden Gus Dur sebagai contoh menggunakan pendekatan budaya dalam membenarkan separatis OPM untuk mengibarkan bendera Papua Merdeka, karena bendera tsb menurut beliau adalah &#8220;bendera budaya&#8221;.  Sebagai Menteri Kehakiman waktu itu, saya hanya mengingatkan beliau bahwa Presiden memegang kekuasaan menurut UUD. Sumpah Presiden juga menyatakan akan setia kepada UUD dan segala undang-undang, serta akan menjalankannya dengan selurus-lurusnya.</p>
<p>Saya tidak dapat memastikan apakah benar saya diberhentikan karena pembentukan opini yang digalang sehubungan dengan kasus uang Tommy di Paribas atau ada masalah lain.  Atau ini hanya salah satu faktor saja di samping faktor-faktor lain yang jauh lebih besar. Saya berharap, andapun tidak akan menggunakan &#8220;pendekatan tunggal&#8221; tetapi &#8220;multiple approach&#8221; pula dalam menganalisis dan memahami masalah ini. Kalau &#8220;multple approach&#8221; yang digunakan, saya yakin masalah ini sesungguhnya sangat kompleks daripada sekedar isyu uang Tomy di Paribas. </p>
<p>Soal Paskah dan Kaban diberhentikan atau tidak, itu semua tergantung pada keinginan Presiden, karena dia berwenang mengangkat dan memberhentikan menteri. Bersamaan dengan saya dan Hamid, juga diberhentikan Saifullah Jusuf dan Abdurrahman Saleh. Sebelum itu, Presiden SBY juga telah memberhentikan Alwi Shihab, Jusuf Anwar, Andung Nitimihardja, tanpa kita tahu apa masalahnya. Namun dalam kasus Sudi Silalahi, yang begitu kuat tekanan publik opini melalui media dalam kasus rekomendasinya kepada PT Sun Hoo yang  mengatas-namakan Presiden untuk merelokasi KBRI di Seoul, tidak ada tindakan apapun dari Presiden SBY. Jadi, segala sesuatunya memang terserah kepada keputusan Presiden. Itulah sebabnya saya tidak banyak berkomentar ketika saya diberhentikan dari kabinet. Inipun bukan yang pertama saya diberhentikan. Di masa  Presiden Gus Dur saya juga diberhentikan dari Menteri Kehakiman dan HAM, walau semua orang tahu saya mundur dari pencalonan Presiden dan memberikan kesempatan kepada beliau untuk terpilih di Sidang MPR tahun 1999. Saya tidak merasa kecewa, apalagi sakit hati.</p>
<p>Dalam pandangan saya, seorang politisi kadang-kadang ibarat sebatang pohon yang menjulang tinggi. Makin tinggi pohon itu, makin mudah dia diterpa angin. Sayapun juga mungkin seperti itu. Saya berasal dari orang kebanyakan, dari suku yang kecil (Belitung), dan memimpin partai yang kecil pula (PBB). Dalam situasi seperti itu, saya memang mudah diterpa angin. Kadang-kadang pohon itu sanggup menahan angin dan tetap untuk tegak berdiri, namun kadang-kadang dahannya patah, bila badai dan topan datang menerjang. Namun saya berharap, pohon itu tetap tegak berdiri di tempatnya, walau angin, badai dan topan akan selalu datang menerpa. </p>
<p>Mudah-mudahan anda sudi menyimak hal-hal yang tersirat di balik apa yang saya ungkapkan ini.</p>
<p>Demikian tanggapan saya dan saya ucapkan terima kasih. (YIM)</p>
<p></em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Amri</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-7090</link>
		<dc:creator>Amri</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 12 Jun 2008 09:11:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-7090</guid>
		<description>Penjelasan ini mnrt saya bisa menjernikan &quot;sisi gelap&quot; karir politik Abang di mata publik. Sblm membaca tulisan ini sy juga sempat &#039;terpengaruh&#039; dgn berita2 bhw Abang ikut berkonspirasi dlm pencairan dana Paribas tsb. Sy juga heran kenapa Abang tidak melakukan bantahan secara terbuka dan memilih berdiam diri sehingga berita2 soal tersebut terkesan kurang seimbang dan langsung sepi begitu Abang keluar dr Kabinet. Jika benar bhw klarifikasi ini sdh Abang sampaikan ke Presiden SBY shrsnya beliau tidak melakukan reshuffle thdp Abang dan Hamid. Apalagi Abang dkk punya andil cukup besar menjadikan SBY jd Presiden (termasuk tuduhan &#039;miring&#039; yg sempat beredar soal Bu Ani pada saat pemilu 2004).Tp ternyata SBY tidak kuat juga menghadapi tekanan publik. Mudah2an peristiwa ini ada hikmahnya ya Bang....</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Penjelasan ini mnrt saya bisa menjernikan &#8220;sisi gelap&#8221; karir politik Abang di mata publik. Sblm membaca tulisan ini sy juga sempat &#8216;terpengaruh&#8217; dgn berita2 bhw Abang ikut berkonspirasi dlm pencairan dana Paribas tsb. Sy juga heran kenapa Abang tidak melakukan bantahan secara terbuka dan memilih berdiam diri sehingga berita2 soal tersebut terkesan kurang seimbang dan langsung sepi begitu Abang keluar dr Kabinet. Jika benar bhw klarifikasi ini sdh Abang sampaikan ke Presiden SBY shrsnya beliau tidak melakukan reshuffle thdp Abang dan Hamid. Apalagi Abang dkk punya andil cukup besar menjadikan SBY jd Presiden (termasuk tuduhan &#8216;miring&#8217; yg sempat beredar soal Bu Ani pada saat pemilu 2004).Tp ternyata SBY tidak kuat juga menghadapi tekanan publik. Mudah2an peristiwa ini ada hikmahnya ya Bang&#8230;.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: edi.santosa</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-6555</link>
		<dc:creator>edi.santosa</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 06 Jun 2008 11:58:42 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-6555</guid>
		<description>Wah saya kok mendadak cengeng ya baca tulisan Bapak yang ini. gak tau karena gak kedip kali karena panjang hehehe...saya seperti dapat merasakan kegalauan Bapak juga. Wuih untung cita2 saya jd politikus gak nyampe hehe..i think this is not my world ya.kira2 artikel2 Bapak bisa gak ya saya Print???</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Wah saya kok mendadak cengeng ya baca tulisan Bapak yang ini. gak tau karena gak kedip kali karena panjang hehehe&#8230;saya seperti dapat merasakan kegalauan Bapak juga. Wuih untung cita2 saya jd politikus gak nyampe hehe..i think this is not my world ya.kira2 artikel2 Bapak bisa gak ya saya Print???</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: abdul</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-3615</link>
		<dc:creator>abdul</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 05 May 2008 10:48:38 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-3615</guid>
		<description>assalamualikum pak yusril,

terima kasih atas penjelasan bapak tentang masalah bnp paribas yang saya tanyakan,menurut pendapat saya masalah yang bapak alami adalah masalah politis semata,dan saya kecewa dengan SBY karena memberhentikan bapak bukan karena masalah ketidaksanggupan bapak,tetapi masalah politis.
kalau seperti ini,indonesia sampai kapanpun tetap jalan di tempat malah mungkin tambah terpuruk, kalau semua masalah dijadikan alat politik oleh para politi-tikus yang ambisius dan power syndrom yang tidak memikirkan nasib rakyat, yang hanya memikirkan golongannya masing-masing.
Maju terus pak,insyaallah kami di belakang bapak.....

wassalam


&lt;em&gt;Saya berterima kasih juga atas perhatian Anda terhadap masalah BNP Paribas yang sangat tidak menyenangkan ini. Namun saya tetap mengambil hikmah dari semua peristiwa itu. Semoga Allah SWT semakin meneguhkan hati saya dalam menghadapi setiap cobaan. (YIM)&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>assalamualikum pak yusril,</p>
<p>terima kasih atas penjelasan bapak tentang masalah bnp paribas yang saya tanyakan,menurut pendapat saya masalah yang bapak alami adalah masalah politis semata,dan saya kecewa dengan SBY karena memberhentikan bapak bukan karena masalah ketidaksanggupan bapak,tetapi masalah politis.<br />
kalau seperti ini,indonesia sampai kapanpun tetap jalan di tempat malah mungkin tambah terpuruk, kalau semua masalah dijadikan alat politik oleh para politi-tikus yang ambisius dan power syndrom yang tidak memikirkan nasib rakyat, yang hanya memikirkan golongannya masing-masing.<br />
Maju terus pak,insyaallah kami di belakang bapak&#8230;..</p>
<p>wassalam</p>
<p><em>Saya berterima kasih juga atas perhatian Anda terhadap masalah BNP Paribas yang sangat tidak menyenangkan ini. Namun saya tetap mengambil hikmah dari semua peristiwa itu. Semoga Allah SWT semakin meneguhkan hati saya dalam menghadapi setiap cobaan. (YIM)</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: SANG DEWI</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/comment-page-5/#comment-2549</link>
		<dc:creator>SANG DEWI</dc:creator>
		<pubDate>Fri, 04 Apr 2008 10:12:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/30/masalah-uang-tomy-di-bank-paribas/#comment-2549</guid>
		<description>SAYANGNYA sekarang sudah ada penjegalan KEBEBASAN BERAGUMENTASI DAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT MURNI di Indonesia (BUMI NUSANTARA YANG MENANGIS yang tak pernah luput dari HUJAN GERIMIS) dengan adanya UU ITE. Siap menjerat dan menstop kebebasan Sang Yusril beragumentasi. 

waduh hujan gerimis lagi ,  Hayo Sang Blogger !!  siapkan payungnya !!

emang pake dasar apa sih itu Pakar IT kok nuduh blogger sebagai hacker ??

pake dasar kain blacu kali ya untuk kain kafannya si Pakar IT

Wah kalau begitu mudahnya Indonesia mengeluarkan UU 

Saya mau juga buat UU sendiri Ah......

Undang-Undang di Balik Udang &quot;Siapa yang makan nasi dia harus menanam Padi&quot; &quot;Siapa yang makan daging sapi dia harus jadi Sapinya&quot; &quot;Siapa yang makan ikan dia harus jadi ikannya&quot;,  DAN SETERUSNYA    he.. he.. he..  ah jadi gila dah....

Matur Nuwun, Sang Dewi mau kekayangan dulu Ah....

EEh... jangan-jangan  Sang Dewi ini nih yang disebut HACKERNYA .</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>SAYANGNYA sekarang sudah ada penjegalan KEBEBASAN BERAGUMENTASI DAN MENYAMPAIKAN PENDAPAT MURNI di Indonesia (BUMI NUSANTARA YANG MENANGIS yang tak pernah luput dari HUJAN GERIMIS) dengan adanya UU ITE. Siap menjerat dan menstop kebebasan Sang Yusril beragumentasi. </p>
<p>waduh hujan gerimis lagi ,  Hayo Sang Blogger !!  siapkan payungnya !!</p>
<p>emang pake dasar apa sih itu Pakar IT kok nuduh blogger sebagai hacker ??</p>
<p>pake dasar kain blacu kali ya untuk kain kafannya si Pakar IT</p>
<p>Wah kalau begitu mudahnya Indonesia mengeluarkan UU </p>
<p>Saya mau juga buat UU sendiri Ah&#8230;&#8230;</p>
<p>Undang-Undang di Balik Udang &#8220;Siapa yang makan nasi dia harus menanam Padi&#8221; &#8220;Siapa yang makan daging sapi dia harus jadi Sapinya&#8221; &#8220;Siapa yang makan ikan dia harus jadi ikannya&#8221;,  DAN SETERUSNYA    he.. he.. he..  ah jadi gila dah&#8230;.</p>
<p>Matur Nuwun, Sang Dewi mau kekayangan dulu Ah&#8230;.</p>
<p>EEh&#8230; jangan-jangan  Sang Dewi ini nih yang disebut HACKERNYA .</p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>
