Sekolah Raja itu menggunakan Bahasa Melayu menggunakan huruf Arab dan huruf Latin. Saya masih menyaksikan tulisan tangan kakek saya sangatlah bagus dan rapi. Kebiasaan seperti itu diperolehnya di Sekolah Raja. Konon gurunya akan marah besar jika murid-murid menulis dengan jelek. Setelah menamatkan sekolah raja itu, kakek saya masih melanjutkan pendidikan ke sekolah tehnik. Beliau belajar mengenai permesinan, sehingga di kampung beliau tersohor sebagai ahli bubut yang pakar membuat sukucadang berbagai jenis mesin. Seperti saya ceritakan di Bagian I, kakaknya yang bernama Saad sempat menjadi marinir Belanda, walau akhirnya berubah profesi jadi nakhoda. Karena kepiawaiannya membubut itu, kakek saya sering ikut orang Belanda bekerja berpindah-pindah dari satu daerah ke daerah lain. Beliau pergi bekerja sambil merantau dengan temannya yang bernama Sidik, ayah dari Alwi, pemilik rumah besar di Numpang Empat. Alwi dikenal sebagai orang kaya di Manggar zaman dahulu.
Kakek saya bercerita mula-mula merantau ke Betawi, mungkin sekitar tahun 1905. Beliau tinggal di Meester Cornelijs, katanya kepada saya. Belakangan saya baru tahu, kalau Meester Cornelijs itu adalah daerah Jatinegara sekarang ini. Beliau juga pernah menempati rumah yang agak besar ukurannya di dekat Stasiun Manggarai. Rumah itu adalah rumah dinas Jawatan Kereta Api Belanda. Kakek saya rupanya diajak ke Betawi untuk memasang peralatan mesin kereta api di Stasiun Jatinegara dan Manggarai. Beliau juga ikut memasang derek pintu air Jembatan Manggarai sekitar tahun 1916. Ketika saya SMP beliau menggambar pintu air Manggarai itu, yang menurut beliau terdiri dari atas tiga bagian, yakni aliran sungai, jalan mobil dan orang serta jalan kereta api diatasnya. Jauh di belakang hari ketika saya telah pindah ke Jakarta, saya melihat jembatan Manggarai itu. Rupanya kakek saya tidak ngawur, jembatan Manggarai yang saya saksikan itu persis sama dengan yang beliau gambar. Pekerjaan memasang mesin dan membubut berbagai peralatan kereta api itu dilakukannya dari Jakarta, Bandung, Semarang, Puwokerto, Surabaya dan Malang, dan juga kota-kota lain yang saya sudah tidak ingat lagi. Cerita beliau memasang rel dan membangun stasiun kereta api terlalu panjang dan detil.
Jama Sandon juga bercerita bahwa beberapa tahun beliau tinggal di Bandung sesudah tahun 1920. Tugas beliau di sana adalah memasang peralatan mesin pabrik kina, obat penyembuh penyakit malaria. Karena kepiawaiannya membubut dengan mesin-mesin modern itu, suatu ketika kakek saya diajak orang Belanda untuk menjadi instruktur — beliau menyebutnya menjadi “mandor”– di Technische Hoogeshcool guna mengajari mahasiswa praktik kerja. Baru belakangan saya tahu bahwa sekolah yang disebut kakek saya itu adalah Institut Teknologi Bandung sekarang ini. Entah apa sebabnya pada pertengahan tahun 1920an itu, kakek saya kembali lagi ke Belitung. Orang Belanda nampaknya membutuhkan tenaganya untuk bekerja di Bengkel Bubut NV GMB, untuk membuat berbagai suku cadang mesin dan kapal keruk untuk menambang timah. Menurut ibu saya, kakek saya pernah berencana untuk pindah ke Kuching di Serawak. Ada orang Inggris yang menawarkan beliau kerja di sana. Tetapi beliau akhirnya tidak jadi pindah ke Serawak itu, karena ada isyu sebentar lagi akan ada perang besar. Orang Jepang akan menyerang Hindia Belanda dan Malaya.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 14th, 2007
46 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN III)”
Pages: [1] 2 » Show All
Bonar (komentar #1)
hah…
saya baru baca beberapa paragraf awal…. langsung otak saya berputar2…. ini… serius???????
Jadi Pak Yusril keturunan orang bunian? Hehehehehehhe.
December 14th, 2007 at 11:01 pm
mr.bambang (komentar #2)
Hå?? Pak YIM keturunan jin? Sulit dimengerti bagi orang awam seperti sayah
December 15th, 2007 at 12:06 am
jebee (komentar #3)
Salam hangat Pak Yusril
Seruuu sekali Pak ceritanya…. antara fiksi dan non fiksi hahaaaaa……
Tapi saya mau tanya, katanya nenek Bapak ada keturunan Minangkabaunya, biasanya di Minangkabau ada dua hal yang tak akan lapuk karena hujan dan tak lekang oleh panas, yakni garis keturunan Matrilinial dan adanya SUKU. Pertanyaan saya Suku Nenek, Ibu dan tentunya juga suku Bapak beradik kakak apa namanya ? Mana tahu kita sepersukuan heheheeeeee……
Kemudian dalam kehidupan orangtua Bapak, apakah masih ada nuansa adat Minagkabaunya ? seperti tata cara berpakaian, masakan, bermamak berkemanakan, petatah petitih, adat warih, adat bajawek, dsb… (cuma tanya sajaaa).
Karena Bapak sudah dilewakan/diangkat sebagai Datuak Maharajo Palinduang dari pasukuan di Payakumbuh, apakah Bapak mengerti sedikit banyaknya tentang adat Minangkabau dan makna gala yang Bapak sandang itu ? semoga gala/gelar itu tidak hanya sebagai etalase/pajangan/formalitas saja karena Bapak dianggap keturunan anak Minangkabau yang sudah menjadi orang (Seandainya Bapak tidak menjadi orang terkenal dan terpandang, apakah gala adat itu kira kira tetap diwariskan ke pundak Bapak atau ke saudara Bapak yang lainnya ?).
Apakah Bapak juga mengetahui siapa dahulunya yang memegang gala Datuak Maharajo Palinduang itu ? Apakah Bapak ada mengenal banyak sedikitnya saudara Nenek dan Ibu Bapak yang di Payakumbuh itu sampai sekarang ?
Salam
Jebee
December 15th, 2007 at 4:53 am
Yusuf arbi (komentar #4)
akhirnya selesai juga saya membaca perjalanan masa kecil bapak, mungkin kalau dibuat novel akan menjadi laskar pelanginya andrea hirata, gimana pak yusril ??
December 15th, 2007 at 7:33 am
Vavai (komentar #5)
Pak Yusril memang seorang pentutur yang baik. Cerita yang disampaikan mengalir secara natural dan memberikan banyak pelajaran tanpa harus terkesan menggurui. Juga tak ada beban dalam menceritakan asal usul dan latar belakang.
Menanti kisah selanjutnya :-D
December 15th, 2007 at 9:48 am
YIM (komentar #6)
Rekan-rekan, soal keturunan jin itu, jangankan bagi orang lain, bagi sayapun sulit untuk mencernanya. Namun karena seperti itulah kepercayaan seluruh keluarga ibu saya, maka seperti itulah yang saya ungkapkan. Pengetahuan yang saya miliki belum mampu menembus dan membuka tabir misteri dunia makhluk halus, seperti jin dan orang bunian.
Kepada Jebee, nenek saya itu bersuku Melayu. Konfirmasi tentang hal ini telah dilakukan baik di Siabu, Bangkinang maupun di Payakumbuh. Keluarga masih ada di Siabu dan Bangkinang. Saya tidak hafal namanya satu demi satu. Ketika kaum kerabat mau mengangkat saya sebagai datuk, mulanya saya sendiri tidak serius. Kakak saya malah mengolok-olok saya akan menjadi Datuk Maringgih, seperti dalam kisah Siti Nurbaya.
Nuansa adat Minangkabau dalam kehidupan keluarga kami di Belitung boleh dikata hampir punah. Nenek saya dari pihak ibu masih ada sedikit-sedikit. Beliau masih bisa berbahasa Minangkabau, walau terpatah-patah. Ibu saya sudah tidak bisa. Setiap hari kami bertutur kata dalam Bahasa Melayu Belitung, yang mirip bahasa Melayu Riau Kepulauan dan Bahasa Johor. Pengaruh dari keluarga ayah saya, yang keluarga bangsawan dan ulama, nampaknya sangat besar.
Saya sendiri tidak tahu apa alasannya sanak saudara mengangkat saya menjadi datuk. Mereka mau lakukan hal itu sudah lama sekali, bahkan ketika saya baru tamat kuliah. Tetapi tidak pernah saya tanggapi dengan serius. Akhirnya, demi menghormati kaum kerabat, saya mau juga menerimanya. Upacara malebar laweh merantang panjang, dilakukan di hadapan ninik mamak di Pagaruyung. Sejak itu, saya harus membaca literatur adat Minangkabau lebih banyak lagi. Juga menghafal pepatah petitih, agar tidak ditertawakan anak kemenakan, he he…
Untuk Yusuf Arbi, sampai sekarang saya belum membaca buku Laskar Pelangi, karangan Andrea Hirata. Mulanya saya ingin segera membeli buku itu. Namun sementara ini biarlah saya menulis kenang-kenangan di masa kecil ini, tanpa membaca buku itu. Semua yang saya tulis ini berdasarkan ingatan saya saja. Sebagian kecil saya konfirmasikan dengan ibu saya dan paman saya. Kisah yang saya tulis akan berlanjut ke bagian IV dan seterusnya. Saya berencana akan menulis serial ini sampai saya tamat SMA dan meninggalkan Belitung.
Adik saya yang paling kecil DR. Yustiman, dua hari yang lalu datang ke rumah saya dan membawa buku silsilah keluarga. Adik saya itu dulu kuliah di Fakultas Sastra UI tapi kemudian menjadi doktor ilmu komunikasi. Di menunjukkan hubungan kekerabatan kami dengan Andrea Hirata, dari keluarga nenek dari pihak ayah saya, yang tinggal di Kampung Batu Penyu, Kecamatan Gantung. Saya sendiri belum pernah bertemu dengan Andrea Hirata, walau saya banyak mendengar tentang namanya.
Demikian penjelasan saya.
December 15th, 2007 at 11:41 am
Tonny (komentar #7)
Walau ceritanya lumayan panjang, tapi terasa mengganjal jika tidak diselesaikan membacanya… runtut, terbuka, dengan bahasa yang tidak terlalu “berat” dan lumayan detil… Saya merasa ada banyak hikmah yang bisa saya petik dari penuturan pak Yusril…
Saya yakin akan masih ada banyak hal yang menarik jadi topik kedepan dalam rangka pembelajaran dan sharing sesama anak bangsa pak…
Kami menanti tulisan2 berikutnya :)
December 15th, 2007 at 11:54 am
Arie Ashford (komentar #8)
Seperti Saya minta dalam komentar sebelumnya, Bapak Yusril, bila ada versi Inggrisnya, insya Allah akan menjadi hit di beberapa negara.
Bila ada tema-teman yang bersedia, boleh juga inisiatif merintisnya. Siapa tahu Bapak Yusril 2009 nanti jadi “orang besar” beneran seperti ramalan Kakek-nya yang Ahli Perbubutan, toh? Ya setidaknya Wakil Presiden.
Keren-kan, penulis biografi masa kecil Wapres dalam bahasa Inggris?
Semoga.
December 15th, 2007 at 12:24 pm
ginanjar (komentar #9)
WOW …!!! itu yang bisa saya katakan setelah khatam membaca kisah hidup masa kecil Pak Yusril … luar biasa, penuturan dan susunan kata yang sangat baik sekali, sekarang saya paham kenapa Pak Yusril mendapat kepercayaan untuk menulis pidato2 orang2 monor 1 di negeri ini… teruslah menulis Pak, banyak sekali ilmu2 yang bisa didapatkan di blog Bapak ini dan saya yakin sangat2 berguna untuk semua yang membacanya, tentunya yang membaca dengan hati yang tulus tanpa prasangka macam-macam. Salam.
December 15th, 2007 at 12:52 pm
mohammad natsir (komentar #10)
gak perlu membaca sampai selesai tulisan bapak, cukup dengan membaca comment2 yang masuk kita akan tahu kualitas dan kapasitas yang bapak miliki.
gak salah, kalo bapak mendapat predikat professor hukum tata negara, karena memang cara berfikir bapak sangat komprehensif dan sistematis, ibarat bangunan yang kokoh, rapi dan safety.
Saya berharap kata2 ini tidaklah berlebihan, bagi sebagian orang pujian itu bisa berarti ‘teror’……he he he.
Sekedar berimajinasi pak, kalo suatu saat nanti bapak mendapat amanah untuk memimpin republik kita tercinta ini, kira2 Ibu Sri Mulyani Indrawati masuk kabinet gak ya ? …:), jujur aja menurut aku kinerja dia begitu exellent…bener gak pak ?
December 15th, 2007 at 3:04 pm
Bonar (komentar #11)
@YIM:
Sudah lama saya tidak baca cerita-cerita seperti ini. Waktu kecil sepertinya banyak sekali cerita seperti ini, tapi terakhir waktu baca-baca buku anak-anak sd, saya perhatikan kualitasnya jelek sekali. Buku-buku cerita jaman sekarang meremehkan otak anak-anak Indonesia, yang mungkin sebenarnya sanggup untuk mencerna lebih.
Saya tidak begitu paham akan tata sikap Anda di dunia nyata, secara (terj:dikarenakan -red :) media cuma menampilkan Anda sedikit-sedikit, tapi dari tulisan cerita-cerita Anda, sepertinya Anda cocok jadi pendongeng (=story teller), dongeng-dongengnya Kak Seto tidak ada apa-apanya dibanding cerita masa kecil Anda.
Saya mungkin memiliki banyak ketidaksetujuan dengan pandangan-pandangan Anda, dimasa lalu maupun kelak dimasa depan (yang Saya kira itu wajar-wajar saja), tapi setidaknya kalau ditanya siapa pengarang dongeng favorit saya, tidak ragu saya akan jawab salah satunya Yusril Ihza Mahendra.
NB: Sayang sekali tidak ada catatan trah orang-orang bunian ya, soalnya mungkin saja kita berkerabat…. Hehehehe!!!
December 15th, 2007 at 3:43 pm
aboh (komentar #12)
wah copy pasteku jadi lama nih:)
ga ada show all nya, jadi mesti per page.
makin menarik pak..
jangan lama2 lanjutannya..
gak sabar nih.
izin, pak!. ku ceritakan kisah bapak ini, pada anak2 ku.
mereka suka.
mereka juga ga sabar nunggu cerita selanjutnya.
banyak hal yang bermanfaat buat mereka,
yang mungkin ( pasti ) ga akan mereka temui dikeseharian kini.
hatur nuhun……
December 15th, 2007 at 5:43 pm
resti (komentar #13)
wah kayak baca dongeng bang.
Membaca soal kakek yang main sepak bola dengan memberi minyak yg sudah diberi jampi2 pada kakinya, saya jadi teringat liga Indonesia. Ternyata, mistik sangat dekat lo, dengan dunia sepak bola kita. Dulu pernah dibahas di tabloid olah raga terkenal. kaget2 juga bacanya….bayangkan, hampir tiap kesebelasan punya dukun masing2!!!
o,ya bang, orang bunian itu memang betul2 ada ga sih? maksud saya, apakah mereka itu suku terasing, yang kemudian dianggap jin oleh penduduk setempat, atau hanya sekedar legenda di daerah belitung?
December 16th, 2007 at 12:29 am
Yustiman Ihza, Ph.D (komentar #14)
Halo bang Yusril Ihza, kali ini kita (adik dan abang) ketemu di website abang sendiri hehe… Tahu gak bang, kekuatan gaya penulisan cerita ‘kenang-kenangan di masa kecil’ abang itu terletak pada penuturan cerita yang tidak bisa dipenggal menjadi bagian-bagian tersendiri. Ibaratkan pohon, abang akan menceritakan pohon, dahan, dan ranting-rantingnya. Selamat ya, bang ! Salam.
December 16th, 2007 at 12:06 pm
Rike YS (komentar #15)
Halo, cik Yusril. Sepakat, jika cerita cik nanti telah menjadi pohon yang besar. maka akan aku temukan cerita memorial masa kecil, perjuangan hidup, dan silsilah keluarga Ihza yang menakjubkan. Selamat ya, cik. Karakter cik semakin kuat dengan penuturan memorial ini. Selain sebagai pakar Hukum Tata Negara, satu hal lagi yang membuat aku kagum dengan cik. Bisa menjadi novelis kesusasteraan melayu. Sukses ye, cik. Salam.
December 16th, 2007 at 12:56 pm
alfi (komentar #16)
bang YUsril pintar dalam menyajikan dan mendeskripsikan historynya…story telling bener. ALur dan aliran cerita yang berjalan seperti rangakaian perjalanan yang penuh tanya KEMANA LAGI KITA DIAJAK. And gimana lanjutnya…? jagn lama-lama jedanya. Bang…foto2 bisa ditambahin doonx
December 16th, 2007 at 6:24 pm
dho (komentar #17)
Salam Pak Natsir, Pak YIM n semua.
bp. mohammad natsir : gak perlu membaca sampai selesai tulisan bapak, cukup dengan membaca comment2 yang masuk kita akan tahu kualitas dan kapasitas yang bapak miliki.
gak salah, kalo bapak mendapat predikat professor hukum tata negara, karena memang cara berfikir bapak sangat komprehensif dan sistematis, ibarat bangunan yang kokoh, rapi dan safety.
Saya berharap kata2 ini tidaklah berlebihan, bagi sebagian orang pujian itu bisa berarti ‘teror’……he he he.
Kadang orang berpendapat tidak dengan apa adanya, Pak Natsir. Jadi saya kurang setuju kalo orang bisa paham kualitas dan kapasitas orang yang lain dari pendapat orang-orang sekitar. Ibarat saya sedang jalan di dekat pasar, kemudian ada orang (katakanlah lebih dari seorang) meneriaki orang yang lain yang sedang jalan dan kebetulan ke arah saya dengan teriakan -COPET! COPET!-, apakah salah jika saya terus saja berlalu? atau salahkah saya dengan bertanya -APA BENAR KAMU COPET?-, ataukah akan salah bila saya langsung pukulin aja tuh orang?
Masalah berlebihan atau tidaknya komentar Pak YIM pun tidak bisa menilai karena Pak YIM gak tau juga kan hati masing2 komentator. Malaikat pun gak tau. Yang bisa nilai ya cuma komentator sama Tuhan aja. Sedang kita sendiri, pembaca, juga gak tau kan apa yang ada di hati penulis saat ngposting tulisannya.
So,..bagi saya akan lebih sip kalo kita, penulis n pembaca, memaknai aja semua tulisan di sini, gak dari penulis maupun komentatornya.
To Pak YIM, just curious, udah baca 2 bukunya Es Ito, Negara Kelima dan Rahasia Medee?
Itu yang pertama.
Yang ke dua tolong tunda dulu tulis masa kecil berikutnya.. saya mohon utk menuliskan dulu tentang Mother’s Day. Bukan saja dari titik pandang anak ke Ibu, tapi demikian pula dari Ibu ke anak.
Yang ke tiga, mohon yang ke dua dikaitkan dengan yang pertama.
Saya sering berpikir, apa iya makna tahapan dan kaitan pertama, ke dua, serta ke tiga tersebut menjadi rahasia kekuatan “kita” yang sebenarnya.
Makasih n Salam.
December 16th, 2007 at 6:37 pm
dho (komentar #18)
eh..maaf. yang alinea pertama itu quote dari responnya bp. Muhammad Natsir. Respon ke-10 Masa Kanak2 (III)
December 16th, 2007 at 6:39 pm
jebee (komentar #19)
Salam Hangat Semua
Saya sependapat dengan dho (# 17).
Saya kebetulan habis membaca Artikelnya Samuel Mulia yang dia beri penggalan judul “Jilat Yuk”
Maaf, bukan saya memaksudkan kita sebagai penjilat, tetapi mungkin bisa sebagai tambahan referensi dan pencerahan dalam memaknai sebuah pemikiran dengan landasan logis dan rasional.
Izinkan saya melalui Blog Pak Yusril ini untuk mempostingkannya :
Jilat Yuk
“Yuuukkkk!” teriak teman-teman saya. Langsung ada yang nyeletuk, “Jilat apaan?” Teman yang satu menimpali, “Apa saja, asal yang legit.” Suara lain tak mau kalah, “Jilat yang uenak-uenak saja.” Begitulah reaksi ketika saya mencetuskan kata jilat.
Kata jilat buat saya sangat mengundang. Dijilat, terjilat, menjilat, kejilat. Saya tak tahu apakah saya yang kemesuman atau tidak, tetapi mendengar kata itu saya langsung berpikir ke hal-hal yang senonoh. Maksudnya, hal-hal yang selama ini dianggap tak senonoh, tetapi sejujurnya sangat senonoh. Sama seperti komentar orang, kalau saya sedang berbicara mengenai alat kelamin, maka mereka berkomentar, “Ih… lo omongnya jorok.”
Jorok I
Jadi, buat mereka, berbicara alat kelamin itu sesuatu yang jorok, yang tak senonoh. Saya berpikir itu baru senonoh, belum dua nonoh, apalagi tiga nonoh. Terus saya pikir kalau pembicaraan alat kelamin dianggap jorok, maka alat kelamin sendiri juga dianggap jorok. Maka, saya sebagai manusia dengan IQ jongkok dan kata orang tak senonoh, berpikir saya juga sebuah manusia yang jorok.
Saya bisa hadir di dunia ini, selain anugerah yang Maha Kuasa, tetapi juga merupakan hasil dari pertemuan dua kelamin berbeda yang dianggap jorok itu. Jadi, saya dan manusia di jagat raya adalah manusia jorok, manusia yang tak senonoh. Karena saya tiga bersaudara, maka kami adalah tiga nonoh. “Yaaa… enggak begitu, Mas. Kalau omong yang kayak gitu mbok ya jangan di tempat umum,” balas teman saya.
Oooh…. kemudian saya berpikir lagi. Di tempat umum tak boleh omong yang jorok karena tak enak didengar telinga orang lain. Tak berpendidikan kedengarannya, tak santun, dan kelihatan kasar, meski di ruang publik pikiran kotor bisa ke mana-mana karena tak terdengar, tak terlihat, dan tak dapat dirasakan, tak dapat dihakimi kalau tidak berpendidikan.
“Yaa… meski terasa munafik sih… tetapi, kan kelihatan lebih nggenah,” lanjutnya lagi.
Oooh… jadi supaya kelihatan nggenah, jangan berbicara jorok. Tetapi, apa sih yang disebut jorok itu?
“Jorok itu porno, cabul,” kata teman saya. Saya mengangguk mengerti. “Jorok itu kalau aku dorong Mas ke jurang.
“Saya menjorok Mas,” kata teman saya yang satu lagi.
“Jorok itu menonjol,” kata seorang teman wanita. “Maksud gue semenanjung itu menjorok ke laut. Enggak usah mikir yang enggak-enggak deh,” lanjutnya lagi.
Ada yang nyeletuk, “Jorok dari Jakarta ke Bandung itu adalah seratus delapan puluh kilometer.”
“Itu jaraakkk, Neeeng,” teriak kami semua.
Bagaimana dengan kata jilat. “Tergantung,” kata teman saya yang kurus kerempeng. “Kalau lo menjilat es krim, enggak jorok dan uenak. Kalau lo menjilat anu… itu jorok meski juga uenak,” katanya lagi. “Maksudnya anu?” tanya saya balik. “Ahh… Mas, sudah deh. Enggak usah sok goblok begitu,” balasnya lagi.
Jorok II
Kemudian saya menjelaskan, teman saya curhat beberapa hari lalu di mana pimpinan di kantornya itu senang sekali dijilat. “Kalau itu bagaimana? Jorok enggak?” tanya saya. Mereka kemudian berebut mau bersuara.
“Tergantung lagi. Kalau bosnya memang suka dijilat dan itu hobinya, yaaa… bagaimana ya, enggak joroklah. Meski kasihan saja, mereka yang harus menjilat. Lidahnya bisa gempor tu, Mas,” komentar teman saya.
Nah, teman saya yang curhat di mal suatu senja itu lidahnya sudah gempor, maka ia keluar karena kelelahan tak bisa melayani bosnya yang suka dijilat, meski satu teman prianya sampai hari ini masih saja menjalankan tugasnya sebagai penjilat dalam kesetiaannya, yang telah membuatnya bisa menerima kendaraan roda empat dan jalan-jalan ke negeri Paman Sam. Maka, benarlah kalimat “berjilat-jilat dahulu, bersenang-senang kemudian”.
Terjilat memang pernah saya rasakan, meski berlangsung tak terlalu lama. Dan terus terang uenak-nya setengah mati. Bisa melayang ke langit ketujuh. Saya tak tahu apakah memang langit punya lantai sampai ketujuh dan kenikmatan paling puncak adalah di lantai tujuh. Yang jelas, terjilat membuat saya tersanjung, saya dibutakan dengan komentar yang menyenangkan ego saya.
Saya malas mendengar program yang saya jalankan gagal. Saya sakit hati kalau mendengar majalah lain lebih bagus dari majalah di mana saya bekerja. Jadi, saya memerlukan mulut yang bernyanyi manis dan meninabobokkan saya. Kalaupun mereka mengatakan program atau majalah saya tidak lebih bagus, mereka memiliki sejuta pandangan yang melegakan dan masuk akal sehingga saya tak terlalu mengomel-ngomel.
Kata teman saya, punya anak buah penjilat itu sangat nikmat. Minta apa saja mereka akan berusaha memenuhinya untuk memenangkan hati. Tak hanya minta disediakan bakso atau ketupat sayur, minta yang lebih dari itu pun bisa. “Jadi dayang-dayang anak gue saja bisa kalau sedang ke luar negeri,” kata teman saya itu.
Jadi siapakah yang paling jorok dalam hal ini? Si penjilat atau yang suka dijilat? “Mas, Mas… sampean ini memang goblok. Kalau sudah sama-sama enak terjilat dan menjilat, jorok itu sudah enggak ada lagi,” komentar teman saya si kurus kerempeng itu. “Jorok itu cuma buat mereka yang ogah dijilat,” tambahnya lagi.
Samuel Mulia, Penulis mode dan gaya hidup
Sumber: Kompas/16 Desember 2007
December 16th, 2007 at 7:01 pm
Fazrul salman al farisi (komentar #20)
kepada yth
Pak yusril
Bila berkenan saya inginmengomentari tulissan-tulisan Pak yusril. mungkin saya salah, terus terang saya melihat apa yang pak yusril ceritakan latar belakang Pak yusril yang berasal dari suku bangsawan dan juga ada sebagian keluarga berasal dari suku jin dan kalimat yng seterusnya……yg menunjukan hampir beberapa % menunjukan kalimat-kalimat “kesombongan” dan menggangap ini lho masa kecil saya itu susah, namun sebaliknya juga ingin mengatakan ini lho saya suku bangsawan dan sebagian suku jin. saya tidak tahu benar atau tidak kisah masa keciil yg ditulis. namun saya berharap cerita masa kecil ini benar-benar “jujur” dan tidak di”reka-reka” menurut bayangan kepala Pak yusril. karena antara apa yg dibayangkan , diingat-ingat adalah beda gn apa yg sebenarnya terjadi. Sekali lagi saya salah, sepintas secara mendalam, saya melihat seperti itu. Apalagi tulisan dibaca dan cermati berbagai pihak, mungkin juga pendukung pak yusril atau mungkin juga simpatisan PBB atau juga massa mengambang yg bersimapti dgn pak yusril. oleh saya menasehatkan pak Yusril mohon dicerna dan dipahami secara mendalam kebenaran semua tulisan ini agar jangan sampai terjebak dan dijadikan alat bagi lawan politik pak yusril..eh maaf kalau pak yusril ingin kembali ke pertarungan politik kekuasaan di 2009 nanti. itu saja dari kawan lama pak yusril
December 16th, 2007 at 9:25 pm
YIM (komentar #21)
#20 Fajrul salman al-farisi. Terima kasih atas komentar dan juga sekaligus nasehatnya. Apa yang saya tulis adalah apa yang sebenarnya terjadi dan yang saya ingat dengan baik. Bahwa gaya bahasa saya waktu menuliskannya mungkin berbeda jika saya menceritakan hal itu tiga puluh tahun yang lalu, mungkin ada benarnya. Apa yang saya tulis, saya harapkan agar dipahami secara utuh, tidak sepotong-sepotong. Kalau dikutip sepotong-sepotong, memang berpotensi menimbulkan kesalahpahaman. Dalam menuliskan kisah ini, saya mengikuti style tulisan Buya Hamka, Kenang-Kenangan Hidup. Saya terinspirasi dari buku itu. Kalau ada kesan “kesombongan” dalam tulisan saya, mohon saya dimaafkan.
Masyarakat Belitung, tempat saya lahir dan dibesarkan jumlahnya tidak banyak. Ketika saya meninggalkan Belitung tahun 1975, penduduk Belitung sekitar seratus ribu orang. Sekarang sekitar 200.000 orang. Kota Manggar yang saya ceritakan ketika saya meninggalkan Belitung, baru berpenduduk sekitar 15.000 orang. Sebagian besar orang saling- kenal mengenal. Kalau ada yang salah dan keliru dalam tulisan ini, saya berharap, mereka akan mengoreksinya.
Terima kasih atas komentarnya.
December 16th, 2007 at 11:57 pm
rinie (komentar #22)
ass pak yusrill..
saya sempat kaget saat tau bahwa anda memiliki garis keturunan dng andrea hirata…terrnyata Belitung banyak melahirkan orang2 cerdas seperti bapak dan andrea yg sudah saya kenal…Dari cerita yg bapak paparkan diatas ada beberapa kemiripan dng cerita andrea, itu dikarnakan satu pulau kali yahh…
cerita bapak kayaknya bisa dibuat novel nihh pak, tapi jika dibuat novel atau buku pasti nanti dikira meniru andrea hirata,btw saya suka dng cerita bapakk.. saya jadi ingin menulis cerita juga tentang diri saya sendiri.. biar kita mengingat orang2 yg berjasa dan kita cintai di waktu kecill.
yg terakhir dari saya , bapak sudah baca tertaloginya andrea hirata?? kayaknya bpk mesti baca dehh, ceritanya Belitung abiess.. kayaknya saya mesti cari suami orang belitung nihh he he.. biar ikut2 tan pintar..!!
wassalam.
December 17th, 2007 at 1:26 pm
ririn (komentar #23)
ass pak yusril,
saya sungguh terkesan dengan cerita masa kecil bapak, baik dari isi ceritanya sendiri maupun dari gaya bahasa bapak dalam menyampaikannya. saya cuma mau tanya, setelah menjadi orang besar seperti sekarang ini, apa yang ingin bapak lakukan dan apa impian yang ingin bapak wujudkan terhadap tanah kelahiran bapak, belitung? karena setahu saya dari novel andrea hirata, nasib orang melayu belitung sangat miskin dan tertinggal padahal hidup diatas pulau yang mengandung kekayaan alam yang melimpah ruah.
btw, saya tidak sabar menunggu lanjutan ceritanya pak yusril nih… sama seperti saya tidak sabar menunggu novel keempatnya andrea hirata…
wassalam.
December 17th, 2007 at 3:13 pm
Vaicha (komentar #24)
Pak Yusril, info terbaru bahwa DRAGONWALL telah meminta maaf pada Bapak (baca di indonesiamatters, pada comment hal 4). trims..
December 17th, 2007 at 4:03 pm
cokk (komentar #25)
Prof, orangtua Anda kreatif sekali dengan pemberian nama yang kesemuanya diawali dengan yus. Eh, apa benar begitu; atau ada yang tidak dimulai dengan yus?
Adakah kisah tersendiri dengan nama-nama itu?
December 18th, 2007 at 3:58 am
Ahmad David Kholilurrahman (komentar #26)
Assalamu’alaikum Wr Wb.
Semakin menyimak kisah KKdMK (III), kisah abang terus mengalir. Begitulah kekuatan tutur orang Melayu. Kalau berkisah sampai ke hal pelek (detil). kisah yang bagus adalah yang mengalir seperti sungai menuju muara.
Tentang kisah keturunan bunian, agaknya saya sependapat dengan bapak abang. Kita mesti berpikir rasional untuk mengikis habis paham lama. Saya menimba ilmu di lembaga pendidikan Islam (Persis Bangil) yang berpaham modernis; mengikis habis aroma pekat penyakit Tahayul Bid’ah dan Khurafat!
Kakek abang. lahir tepat masa traktaat London 1884 yang membelah kemaharajaan Riau-Lingga-Pahang-Johor menjadi dua wilayah berbeda, satu dibawah Belanda dan lainnya dibawah Inggris. Zaman ini dikenal zaman yang sangat sulit. Ditengah zaman kelam ini, karya-karya Raja Ali Haji dkk menyuluh cahaya terang nusantara.
Pantaslah abang berpostur gagah-besar, ada darah Persia (Iran) yang mengalir dalam diri abang. Bang Yusron (bertemu ketika beliau mengisi seminar di Bangil sebagai pengganti abang), sekitar tahun 1998 dulu. Beliau pun berpostur serupa. Cuma lebih mirip orang Jepang (apa karena beliau pernah belajar dan bermukim dinegeri Matahari Terbit). He..he..he
Salam hangat dari Lembah Nil!
Wassalam,
Ahmad David Kholilurrahman
December 18th, 2007 at 6:16 am
endoy (komentar #27)
Good …. good …. good. Mau koment apalagi. Pokoknya Oke dech. Walaupun panjang tapi bacanya nikmat banget.
Salam damai buat Bang Yusril
December 18th, 2007 at 11:33 am
Emil Syahriwan (komentar #28)
Bung Yusril, Menulis itu indah…Menulis itu nikmat … Menulis itu kekuatan
Tulisan yang Anda buat indah dan kalau dilihat dari komentar2 yang ada banyak juga yang menikmatinya.
Secara obyektif saya mendukung tulisan Anda.
Kita orang Indonesia terlebih yang dibesarkan atau keturunan dari daerah memang memiliki keindahan masa kecil dengan mendengar cerita cerita mitos keluarga, hal itu kunci semangat dan kunci kebanggaan (beda dengan kesombongan) dan itulah Indonesia memiliki khas budaya dan mitos yang beragam-ragam.
Buat masyarakat sekarang yang hidup diperkotaan cerita mitos serta kharisma leluhur sudah jarang didengar lagi bahkan terkadang menjadi bahan ledekan, hampir sebagian besar masyarakat dikehidupan kota lebih cenderung banggga dan menghargai orang berdasarkan garis keturunan pejabat atau orang kaya.(hampir sebagian besar-tidak semuanya lho)
Tulisan Anda secara tidak langsung mencoba membangun nilai-nilai sejarah budaya dan mitos kembali, ini tentunya sangat berguna untuk keluarga dan keturunan Anda kelak nanti. Selain itu menurut saya akan berguna juga buat kita yang lainnya, karena hampir semua orang Indonesia memiliki cerita dan mitos tentang leluhurnya.
Mengenai komentar Bung Fajrul, mungkin bung Fajrul hanya lupa.. bahwa kita Bangsa Indonesia memang memiliki keragaman budaya dan mitos. Sejarahnya Indonesia memang terdiri dari berbagai suku dan daerah yang memiliki keturunan bangsawan-bangsawan di lingkungan mereka sendiri, saat ini sejarah seperti itu hampir terlupakan. (dan memang masyarakat lebih banyak tahunya Bangsawan di Indonesia adalah bangsawan dari kerajaan-kerajan besar seperti di Jawa). Media dan buku sejarah memang lebih banyak menulis tentang kerajaan-kerajaan besar di jawa serta keturunannya dan juga sebagian kecil kerajaan daerah lainnya, sedangkan masih banyak sejarah kerajaan-kerajaan besar dan kecil di daerah lainnya kurang terekspos sehingga banyak masyarakat Indonesia tidak tahu.
Cerita dari bung Yusril bisa kita lihat dari sudut bahwa ia mencoba mengenalkan sejarah dan mitos daerah asalnya yang memang secara kebetulan dia juga merupakan salah satu dari keturunan sejarah itu.
Di Sumatera cerita itu biasa diberikan oleh para orang tua kepada anak-anaknya selain untuk membangun rasa percaya diri, juga agar para keturunannya selalu mengenal dan mengingat saudara-saudara mereka bahkan saudara jauhnya. tujuannya supaya silaturahmi tetap terjaga dan mereka saling mengingat di dalam tubuh mereka mengalir darah keturunan yang sama. Alasan lainnya, Karena orang sumatera dikenal perantau, dikhawatirkan nantinya menjadi tidak saling mengenal lagi antar keturunannya oleh karena itu silsilah biasa selalu diceritakan.
Kembali kepada Bung Yusril,
Lanjutkan bung kalau tulisan tersebut memberi kenikmatan untuk Anda dan ingat! banyak juga yang menikmati tulisan Anda. Setiap penulis memiliki gaya yang berbeda, apakah itu ringkas atau pendek itulah gaya. Penulis gaya ringkas/pendek belum tentu bisa menulis runtut dan detail seperti Anda begitu juga sebaliknya. Gaya anda menulis runtut dan detal, itulah gaya Anda. (itulah kekuatannya).
Dari segi kekuatan, apapun penilaian orang terhadap tulisan Anda baik materi dan isinya saya yakin akan Ada sesuatu hasil yang positif akan Anda capai di masa mendatang. Good Luck!
December 18th, 2007 at 2:46 pm
Mr-Bands-007 (komentar #29)
Prof. Luar biasa periodisasi kehidupan yang prof tulis saya baca-baca kata demi kata mungkin lebih dari 50 ribu kata itu sebuah fenomena kehidupan yang bisa membuat orang lain terjengang mengingat prof. mungkin memiliki kecerdasan yang majemuk. Tidak cukup dari itu juga memiliki perilaku santun dalam menulis. Nanti akan aku ceriterakan murid-murid saya bahwa ada Prof. yang sibuk masih sempat nulis dan ngeblok.
December 18th, 2007 at 3:54 pm
Amirul Huda (komentar #30)
Mengalir, lir, lir liiiir…, saya tunggu terus kelanjutannya
December 18th, 2007 at 4:09 pm
Pages: [1] 2 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda