Menurut penuturan ibu saya, di masa muda kakek saya gemar bermain drama klasik. Peran yang paling disukainya ialah melakonkan Raja Jin dengan kostum yang nampak menyeramkan. Beliau kadang-kadang juga membaca syair. Syair yang paling disukainya ialah Syair Hari Kiamat, yang sering beliau baca ketika usianya mulai senja. Mungkin karena sudah tua kakek saya mulai menyadari kematian yang suatu saat pasti akan tiba. Syai’r Hari Kiamat memang berisi banyak nasehat, agar manususia tidak terlalu terlena dengan dunia fana. Hidup yang sesungguhnya dan hidup yang kekal adalah kehidupan akhirat. Kakek saya itu bukan tergolong orang yang taat beragama di masa mudanya. Menurut ibu saya, kelakuan kakek saya itu sama saja seperti kakaknya Haji Saad. Mereka tergolong kelompok setengah preman dan tingkah lakunya nampak garang, eksentrik dan sering tanpa kompromi. Namun ketika telah tua, kakek saya mulai sedikit demi sedikit menjalankan perintah agama.
Suatu ketika di tahun 1966, kakek saya ingin menunaikan ibadah haji bersama nenek saya. Kami agak heran, karena kakek saya itu hanya kadang-kadang sembahyang lima waktu dan kadang-kadang tidak. Uang beliau punya. Emas berlian kepunyaan nenek saya cukup banyak pula. Namun di tahun 1960-an itu, calon jemaah haji harus diundi dulu mengingat daya tampung Kapal Arafat yang mengangkut jemaah haji sangat terbatas. Tiga tahun berturut-turut beliau ikut undian, namun selalu gagal. Mungkin karena jengkel — mengingat beliau agak bringasan — beliau tidak mau lagi ikut undian tahun berikutnya. Beliau bilang kepada saya, pegawai yang mengundi calon jemaah itu brengsek semuanya. Uang persediaan untuk pergi haji bersama nenek saya itu, kemudian beliau gunakan untuk berdagang. Tetangga kami, namanya Nek Siti, sampai mengalami stress berat disebabkan selalu gagal dalam undian pergi haji. Suami Nek Siti, namanya Merdin, adalah seorang saudagar asal Punjab, India.
Menurut cerita Taib, adik kandung kakek saya, kakek saya itu di masa mudanya sering terlibat perkelahian. Saya tidak sempat bertanya apa masalahnya beliau terlibat perkelahian itu. Dugaan saya, beliau terlibat perkelahian itu setelah kalah bermain judi. Saya dengar, kakek saya di masa muda memang suka taruhan bermain ceki dan bermain macok. Sebagian teman-temannya bermain judi itu orang Cina. Beberapa di antara orang Cina itu saya kenal, ketika mereka sudah tua. Saya juga pernah mendengar cerita ibu saya bahwa suatu hari kakek saya babak belur dipukuli orang dengan kayu, sehingga kepalanya retak dan dibawa ke rumah sakit Belanda. Kakek saya konon sedang naik sepeda ketika pulang kerja, dan tiba-tiba disebelahnya ada orang yang mengendarai sepeda dengan cepat, dan memukul kepalanya dengan kayu sehingga terjatuh. Ketika jatuh, kepala kakek saya masih terus dipukul dengan kayu tadi hingga retak. Ibu saya mengatakan, peristiwa itu terjadi tahun 1933, ketika ibu saya berusia empat tahun. Beliau menunggui kakek saya yang pingsan dan dirawat dokter Belanda dan kepalanya diberi es balok. Ibu saya menyangka kakek saya akan mati. Rupanya tidak. Kepala kakek saya dijahit oleh dokter Belanda itu dan berbekas sampai beliau tua.
Orang yang memukul kakek saya itu ternyata orang Cina pembunuh bayaran. Kakek saya tidak mengenal orang itu. Tetapi dia salah sasaran, karena target yang harus dibunuh rupanya bukan kakek saya. Pembunuh bayaran itu ditangkap. Kakek saya dijadikan saksi korban di sidang Landrad (Pengadilan Negeri zaman Belanda) di Tanjung Pandan. Ibu saya, walau berusia empat tahun, masih ingat sidang di Landrad itu. Pembunuh bayaran itu dihukum penjara oleh hakim orang Belanda. Ibu saya mengatakan mereka hadir di pengadilan itu yang jaraknya sekitar 90 km dari Manggar, naik mobil polisi Belanda. Tetapi polisinya orang Jawa. Sidangnya hanya satu kali, palu langsung diketok dan terdakwa dinyatakan terbukti bersalah. Pembunuh bayaran itu, kata ibu saya “masuk rumah tutupan”. Ibu saya selalu menyebut penjara dengan istilah itu.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 14th, 2007
46 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN III)”
Pages: « 1 [2] Show All
Mohammad Natsir (komentar #31)
Terima kasih kepada sdr. dho ( #17) dan jabee ( #19) atas commentnya…..
dengan segala kerendahan hati saya coba jadikan bahan untuk ‘kontemplasi’…..
nuwun sewu pak yusril, kalo saya ikut numpang ‘waroeng’ bapak untuk sekedar bertukar kata dan sapa….
saya menyadari sepenuhnya, dengan segala ‘keterbatasan’ yang saya miliki bahwasannya setiap tulisan atau commentar yang saya posting itu hanyalah semata-mata wujud ‘ekspresi’ apa adanya, tanpa ada tendensi atau pretensi apapun ( setidaknya niat dalam hati ).
namun demikian, tetap saja tulisan, comment, atau ‘ekspresi’ yang apa adanya tersebut tidak dapat lepas dari ‘nilai’ atau ‘penilaian’ yang di anut orang lain…
mungkin apa yang saya tulis menunjukkan ‘keterbatasan’ dan ‘kapasitas’ yang saya miliki…..
begitu juga sebaliknya, setiap commentar atas tulisan tersebut juga menunjukkan ‘kapasitas’ commentatornya……
anyway, it’s just a blog….
a better place to share opinion, …a better place to feel ‘freedom’…..
wassalam…..
December 18th, 2007 at 7:04 pm
Marwan Adli (komentar #32)
Assa.Ww.wb
Saya print artikel ini dan saya baca sampai habis, luar biasa.
December 19th, 2007 at 9:58 am
Anggara (komentar #33)
semoga jejak keluarga bisa ketemu pak, oya minta ijin untuk melakukan agregat blog bapak ke http://blawggerindonesia.blogspot.com pak
December 19th, 2007 at 12:47 pm
Masmulyadi (komentar #34)
Saya senang membaca biografi tokoh-tokoh, untuk abik (gak papa yah saya panggil abik) ini meminjam dari Andrea Hirata - penulis buku laskar pelangi yang juga dari belitung - saya pengen baca juga cerita ketika sekolah, mulai dari SD - sampai S3.
Oh, iya kami ingin silaturrahmi dengan pak Yusril, jika ada waktu?
December 20th, 2007 at 2:10 pm
aboh (komentar #35)
selamat ie’dul adha pak…!
tak sabar nunggu bag IV nya.
December 20th, 2007 at 7:13 pm
randy (komentar #36)
Assallamualaikum Wr.Wb
Harapan saya semoga bapak sehat selalu dan mendapat lindungan Allah SWT
Pa Yusril yang terhormat saya adalah pengangum setia bapak & setiap sepak terjang bapak selalu saya ikuti sampai sekarang. Saya ingat pertama kali saya membaca berita tentang pengangkatan bapak menjadi guru besar entah thn berapa saya sdh lupa lagi sampai2 anak saya yg ke tiga saya kasih nama bapak dibelakangnya mdh2an bisa menjadi anak yang pandai dan shaleh seperti bapak.
Saya baru membaca sejarah masa kecil bapak, kok.. ! saya baru nemu ya…. tulisan itu, apa baru di up load? tp saya masih penasaran menunggu episode selanjutnya kalau bisa jangan pake lama ya pak.
Satu lagi saya mohon bapak terbitkan dalam bentuk e-book buku mengenai detik2 lengsernya soeharto tapi yg lebih aktual dan belum pernah diungkapkan sebelumnya kepada masyarakat baik tentang situasi, pikiran, perasaan dan rencana bapak memasuki dunia politik.
Terima kasih
Wassalam
Randy
December 20th, 2007 at 11:15 pm
bank al (komentar #37)
wah, seru juga nih. Saya baru kali ini mendengar ada manusia keturunan Jin.
Karena ada perkawinan antara manusia dan Jin, semestinya keturunannya selain manusia ada juga yg berupa Jin dong Pak Yusril. Lantas, sudah pernah saling silaturahmi nggak antara keluarga yg keturunan manusia dan keturunan Jin ?
December 22nd, 2007 at 11:29 am
Kadi (komentar #38)
Menarik sekali kisahnya bung YIM. Tapi ada satu hal yang lebih menarik bagi saya yakni asal-usul nenek bung yang bernama Muna istri dari Musa. Bagi saya orang Muna, Sulawesi Tenggara kisah ini entah kebetulan saja atau malah ada kaitannya dengan nenek moyang orang Muna di pulau Muna yang menurut kisah para orang-orang tua di sana nenek moyang raja-raja Muna juga brasal dari orang misterius yang mana permaisurinya adalah seorang wanita yang kemunculannya misterius berasala dari rumpun bambu. Wallahu alam.
Teruskan postingnya bung…..salut.
December 30th, 2007 at 5:54 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #39)
#37 bank al. Mestinya begitu. Tentu ada yang jin dan ada yang manusia, kalau percaya. Sayangnya sampai sekarang baru silaturrahmi yang manusia saja. Yang jin belum. Kalau benar ada silaturrahim sama mereka, nampaknya serem juga, he he. Saya sendiri, bank al,masih sulit untuk mencerna kisah ibu kakek saya yang konon putri jin itu. Biarkanlah cerita itu jadi legenda keluarga saja.
#38 Kadi. Terima kasih atas infonya. Saya belum pernah mendengar kisah tsb. Siapa tahu kita dapat saling bertukar informasi antar budaya.
December 30th, 2007 at 4:56 pm
ade (komentar #40)
keren banget pak yusril. jadi tahu sejarah hidup bp yang ternyata sangat berwarna. Saya setuju dengan bang yusuf, kisah ini layak di novelkan. sangat menarik dan nggak membosankan. dan memang mirip cerita andrea hirata, ‘tetralogi laskar pelangi”, tentu dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang lebih ‘kaya’. kisah yang menurut saya sangat menginspirasi. banyak tempat yang bapak sebutkan dalam cerita ini juga dikisahkan andrea hirata. anda mungkin sebaiknya ketemu hehehe…. atau sudah???
well done pak yusril.
January 18th, 2008 at 4:38 pm
Djiman Tendra (komentar #41)
Wow, itu adalah kenang-kenangan yang indah dan tak terlupakan! Biar panjang tapi asyik membaca.
January 23rd, 2008 at 2:44 pm
Shofwan Karim (komentar #42)
Ass. ww. Bismillah. Yth. Bp. Prof. Dr. H. Yusril Ihza Mahendra, SH. , M.Sc. Nama saya Shofwan Karim.
Saya mahasiswa S3 UIN Jakarta yang dulu di bawah bimbingan Bp untuk disertasi berjudul ” Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi Pemikiran Mohammad Natsir”. Akibat saya terlambat menyelesaikannya, maka saya hampir DO. Sejak lama saya ingin berkonsultasi dengan Bp. Tetapi karena kesulitan menghubungi Bp, maka sejak 8 bulan lalu dengan isi yang sudah diperbaiki Disertasi itu saya beri judul : ” Nasionalisme, Islam sebagai Dasar Negara dan Pancasila dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia ( Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Untuk pembimbing saya minta Prof. Dr. Badri Yatim yang juga dosen Sekolah Pasca Sarjana UNI melanjutkan bimbingan Bp. dulu. Dengan demikian beliau bersama Prod. Dr. Azyumardi Azra menjadi pembimbing Disertasi saya ini. Insya Allah Kamis, 28 Februri ini saya ujian Pendahuluan atau Ujian Tertutup. Harapan saya, nanti kalau sudah selesai ujian tertutup dan itu akan diperbaiki untuk ujian terbuka, maka saya berharap dari lubuk hari yang paling dalam untuk dapat bersilaturrahim kepada Bp. sambil mohon dapat berdiskusi pribadi dan mohon masukkan. Bila hal itu memungkinkan, maka bersama ini saya sampaikan email saya : shofwan.karim@gmail.com. Atas kerandahan hati Bp. mengabulkan permohonan saya ini, terlebih dulu daya aturkan ribuan terimakasih. Wassalam dan hormat saya, Shofwan Karim
February 23rd, 2008 at 3:50 pm
Shofwan Karim (komentar #43)
Pak Prof. YIM Yth. Mohon berkonsultasi dan mendapatkan alamat atau orang yang bisa dihubungi untuk dapt berhubungan dengan Bp. Wassalam, Shofwan Karim, Padnag
February 23rd, 2008 at 4:41 pm
novel damopolii (komentar #44)
ass.wr wb
wah cerita pak yusril tentang asal usul dr pihak ibu yg berasal dr anak
yg dilahirkan dr sebilah bambu,sangat mirip dengan legenda di daerah kami,di bolaang mongondow,dimana raja I di bolmong “mokodoludut” dilahirkan dari sebilah bambu..
////emang pemimpin negara kita sangat dkt dgn yg sifatnya mistis,bung karno,pak harto,sampai gus dur pun punya jin,tapi pak yusril lebih hebat,krn keturunan langsung..hehehe.
He he he… terima kasih banyak. Biarkanlah itu menjadi semacam legenda keluarga. Saya sendiri antara percaya dan tidak percaya akan hal itu. (YIM)
March 8th, 2008 at 12:43 pm
Tedy Triharsa (komentar #45)
salut buat bang yusril yang masih ingat kampung halaman melalui tulisanya yang secara tidak langsung menggambarkan kesederhanaan.. maslah mistis mungkin sampai saat ini masih dapat diterima kalau pulau belitung itu sarat dengan hal-hal mistis…. mulai dari batu satam yang melegenda sampai dengan daerah membalong yang dikenal dengan para normal yang ampuh…. semoga tulisan yang selanjutnya tambah menarik
March 12th, 2008 at 4:01 pm
Irbel Budaya (komentar #46)
Bung Yusril–sebagian cerita tentang anda sudah pernah saya dengar dari teman saya yang juga teman Bung Yusril yaitu Sdr.Lauren Siburian. Namun satu hal yang menarik dari semuanya itu ialah bahwa ‘darah minang’ sebetulnya mengalir sangat kental didiri Bung–buktinya dengan semua paparan Bung dalam Blog ini –”urang Minang itu pandai bakaba” (The Minangkabaunese have a talent to bring the fact to true story). Mudah2an suatu saat Bung juga akan menulis tentang Republik ini.
July 16th, 2008 at 2:38 pm
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda