Ismail, saudara nenek saya yang saya yang paling bungsu tinggal tidak seberapa jauh dari rumah Sudin. Rumahnya terbuat dari kulit kayu di dekat kebun nipah. Saya tidak ingat apa pekerjaan Ismail itu. Kehidupan beliau nampak sangat miskin. Dua anaknya saya kenal bernama Wahid dan Hanan. Hanan ini sering sakit-sakitan, nampaknya menderita asma. Isteri Ismail itu orang Bangka. Saya ingat logat bicaranya yang terdengar aneh di telinga saya. Bahasa Belitung dengan bahasa Bangka memang berbeda, walau kedua pulau itu berdekatan. Beliau sering mampir ke rumah nenek saya sehabis membawa Hanan pergi ke rumah sakit. Ismail meninggal ketika saya masih kecil sekali. Mungkin saya baru berumur lima tahun. Saya ingat ketika Ismail meninggal, jenazahnya dimakamkan di pekuburan Kampung Lalang, di dekat rumah nenek saya.Saudara-saudara nenek saya yang lain, tidak ada yang saya kenal. Mustafa dan Musa sudah meninggal di zaman Belanda. Satu-satunya anak Musa yang saya kenal, namanya Gudud. Dia bekerja menjadi Satpam. Saya mendengar, sebagian sanak-saudara nekek saya ada di Kampung Aik Selumar di dekat Sijuk. Namun saya belum pernah berjumpa dengan mereka.
Sifat nenek saya nampak berbeda jauh dengan kakek saya. Nenek saya itu sungguh sabar, sangat ramah dan tutur katanya perlahan dan selalu memberikan nasehat. Beliau nampak sebagai orang tua yang bijaksana, walau seumur hidupnya nenek saya itu tidak pernah bersekolah formal. Beliau membaca dan menulis huruf Arab. Beliau itu termasuk orang yang murah hati, karena tidak pernah henti-hentinya bersedekah membantu orang lain. Beliau mengatakan rejeki itu datang dari Tuhan dan Tuhan itu Maha Kaya. Makin banyak rejeki yang dibagi-bagikan kepada orang lain, maka akan makin banyak pula rejeki yang datang. Kami cucu-cucunya selalu diberi uang oleh beliau. Nenek juga selalu menasehati kami agar sabar saja, karena kakek kami Jama Sandon, orangnya agak bringasan. Namun kakek, kata nenek saya, sesungguhnya adalah orang yang baik hati. Saya kira nenek saya benar. Kakek saya itu pekerja keras dan wataknyapun keras pula. Beliaupun juga sering membantu orang lain yang susah, walau tidak sebanyak nenek saya.
Betapa kerasnya watak kakek saya itu dapat saya critakan sebagai berikut. Pernah suatu ketika saya menyaksikan ada seorang nelayan namanya Batjo, datang memesan pancing ikan tenggiri kepada kakek saya dalam jumlah yang besar. Kakek saya dengan senang hati membuatkan pancing itu. Beberapa hari kemudian Batjo datang ingin mengambil pesanannya. Mungkin pesanannya itu tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Batjo marah dan kakek saya pun marah. Mereka adu mulut. Tiba-tiba Batjo mencabut sebilah pisau dari pinggangnya. Kakek saya yang sedang duduk, dengan sigap menarik parang panjang di bawah meja tempat beliau mengikir pancing itu. Maka dengan cepat parang itu ditebaskan ke leher Batjo. Untung Batjo cepat merunduk. Kalau tidak, saya tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi. Saya tahu parang panjang yang sangat tajam itu buatan kakek saya sendiri. Batjo kemudian lari tunggang langgang. Saya yang masih kecil dan menyaksikan peristiwa kakek saya menebas leher Batjo itu, sungguh ketakutan luar biasa. Dalam hati saya hanya mengatakan, ganas benar kakek saya itu. Kakak saya yang perempuan pernah mengatakan bahwa kakek kami itu “orangnya sadis”. Saya hanya tertawa saja. Saya hanya bilang, tidak heran karena beliau itu keturunan jin. Tapi kakak saya bilang, kalau begitu kita juga keturunan jin.
Sejak kejadian itu Batjo tidak berani lagi datang ke rumah kakek saya. Di kalangan nelayan Bugis, Batjo memang dikenal sebagai jagoan. Rambutnya gondrong dan sorot matanya tajam. Ketika kecil kira-kira umur enam tahun, saya pernah melihat Batjo berkelahi dengan nelayan lain asal Bawean, namanya Meka. Mereka berkelahi di tepi laut sehabis mereka pergi memancing. Tindak ada yang berani melerai. Untung datang Daeng Semaong, Lurah Kampung Lalang, yang sangat disegani semua orang Bugis di kampung kami. Saya mendengar Daeng Semaong memarahi Batjo. Tetapi saya tidak mengerti apa yang dikatakannya, sebab Daeng Semaong menggunakan bahasa Bugis. Hanya empat kata yang diucapkan Daeng Semaong yang saya mengerti, katanya “bikin malu orang Bugis”.Batjo duduk bersimpuh di atas pasir laut seperti pesakitan dimarahi Daeng Semaon. Kalau saya membayangkan wajah Daeng Semaong itu, hati saya terasa lucu. Beliau itu perawakannya tinggi besar. Beliau selalu memakai stelen baju dan celana warna putih dan memakai topi putih model topi Kontroluer Belanda.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 14th, 2007
46 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN III)”
Pages: « 1 [2] Show All
Mohammad Natsir (komentar #31)
Terima kasih kepada sdr. dho ( #17) dan jabee ( #19) atas commentnya…..
dengan segala kerendahan hati saya coba jadikan bahan untuk ‘kontemplasi’…..
nuwun sewu pak yusril, kalo saya ikut numpang ‘waroeng’ bapak untuk sekedar bertukar kata dan sapa….
saya menyadari sepenuhnya, dengan segala ‘keterbatasan’ yang saya miliki bahwasannya setiap tulisan atau commentar yang saya posting itu hanyalah semata-mata wujud ‘ekspresi’ apa adanya, tanpa ada tendensi atau pretensi apapun ( setidaknya niat dalam hati ).
namun demikian, tetap saja tulisan, comment, atau ‘ekspresi’ yang apa adanya tersebut tidak dapat lepas dari ‘nilai’ atau ‘penilaian’ yang di anut orang lain…
mungkin apa yang saya tulis menunjukkan ‘keterbatasan’ dan ‘kapasitas’ yang saya miliki…..
begitu juga sebaliknya, setiap commentar atas tulisan tersebut juga menunjukkan ‘kapasitas’ commentatornya……
anyway, it’s just a blog….
a better place to share opinion, …a better place to feel ‘freedom’…..
wassalam…..
December 18th, 2007 at 7:04 pm
Marwan Adli (komentar #32)
Assa.Ww.wb
Saya print artikel ini dan saya baca sampai habis, luar biasa.
December 19th, 2007 at 9:58 am
Anggara (komentar #33)
semoga jejak keluarga bisa ketemu pak, oya minta ijin untuk melakukan agregat blog bapak ke http://blawggerindonesia.blogspot.com pak
December 19th, 2007 at 12:47 pm
Masmulyadi (komentar #34)
Saya senang membaca biografi tokoh-tokoh, untuk abik (gak papa yah saya panggil abik) ini meminjam dari Andrea Hirata - penulis buku laskar pelangi yang juga dari belitung - saya pengen baca juga cerita ketika sekolah, mulai dari SD - sampai S3.
Oh, iya kami ingin silaturrahmi dengan pak Yusril, jika ada waktu?
December 20th, 2007 at 2:10 pm
aboh (komentar #35)
selamat ie’dul adha pak…!
tak sabar nunggu bag IV nya.
December 20th, 2007 at 7:13 pm
randy (komentar #36)
Assallamualaikum Wr.Wb
Harapan saya semoga bapak sehat selalu dan mendapat lindungan Allah SWT
Pa Yusril yang terhormat saya adalah pengangum setia bapak & setiap sepak terjang bapak selalu saya ikuti sampai sekarang. Saya ingat pertama kali saya membaca berita tentang pengangkatan bapak menjadi guru besar entah thn berapa saya sdh lupa lagi sampai2 anak saya yg ke tiga saya kasih nama bapak dibelakangnya mdh2an bisa menjadi anak yang pandai dan shaleh seperti bapak.
Saya baru membaca sejarah masa kecil bapak, kok.. ! saya baru nemu ya…. tulisan itu, apa baru di up load? tp saya masih penasaran menunggu episode selanjutnya kalau bisa jangan pake lama ya pak.
Satu lagi saya mohon bapak terbitkan dalam bentuk e-book buku mengenai detik2 lengsernya soeharto tapi yg lebih aktual dan belum pernah diungkapkan sebelumnya kepada masyarakat baik tentang situasi, pikiran, perasaan dan rencana bapak memasuki dunia politik.
Terima kasih
Wassalam
Randy
December 20th, 2007 at 11:15 pm
bank al (komentar #37)
wah, seru juga nih. Saya baru kali ini mendengar ada manusia keturunan Jin.
Karena ada perkawinan antara manusia dan Jin, semestinya keturunannya selain manusia ada juga yg berupa Jin dong Pak Yusril. Lantas, sudah pernah saling silaturahmi nggak antara keluarga yg keturunan manusia dan keturunan Jin ?
December 22nd, 2007 at 11:29 am
Kadi (komentar #38)
Menarik sekali kisahnya bung YIM. Tapi ada satu hal yang lebih menarik bagi saya yakni asal-usul nenek bung yang bernama Muna istri dari Musa. Bagi saya orang Muna, Sulawesi Tenggara kisah ini entah kebetulan saja atau malah ada kaitannya dengan nenek moyang orang Muna di pulau Muna yang menurut kisah para orang-orang tua di sana nenek moyang raja-raja Muna juga brasal dari orang misterius yang mana permaisurinya adalah seorang wanita yang kemunculannya misterius berasala dari rumpun bambu. Wallahu alam.
Teruskan postingnya bung…..salut.
December 30th, 2007 at 5:54 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #39)
#37 bank al. Mestinya begitu. Tentu ada yang jin dan ada yang manusia, kalau percaya. Sayangnya sampai sekarang baru silaturrahmi yang manusia saja. Yang jin belum. Kalau benar ada silaturrahim sama mereka, nampaknya serem juga, he he. Saya sendiri, bank al,masih sulit untuk mencerna kisah ibu kakek saya yang konon putri jin itu. Biarkanlah cerita itu jadi legenda keluarga saja.
#38 Kadi. Terima kasih atas infonya. Saya belum pernah mendengar kisah tsb. Siapa tahu kita dapat saling bertukar informasi antar budaya.
December 30th, 2007 at 4:56 pm
ade (komentar #40)
keren banget pak yusril. jadi tahu sejarah hidup bp yang ternyata sangat berwarna. Saya setuju dengan bang yusuf, kisah ini layak di novelkan. sangat menarik dan nggak membosankan. dan memang mirip cerita andrea hirata, ‘tetralogi laskar pelangi”, tentu dengan pengalaman dan perjalanan hidup yang lebih ‘kaya’. kisah yang menurut saya sangat menginspirasi. banyak tempat yang bapak sebutkan dalam cerita ini juga dikisahkan andrea hirata. anda mungkin sebaiknya ketemu hehehe…. atau sudah???
well done pak yusril.
January 18th, 2008 at 4:38 pm
Djiman Tendra (komentar #41)
Wow, itu adalah kenang-kenangan yang indah dan tak terlupakan! Biar panjang tapi asyik membaca.
January 23rd, 2008 at 2:44 pm
Shofwan Karim (komentar #42)
Ass. ww. Bismillah. Yth. Bp. Prof. Dr. H. Yusril Ihza Mahendra, SH. , M.Sc. Nama saya Shofwan Karim.
Saya mahasiswa S3 UIN Jakarta yang dulu di bawah bimbingan Bp untuk disertasi berjudul ” Islam dan Pancasila sebagai Dasar Negara: Studi Pemikiran Mohammad Natsir”. Akibat saya terlambat menyelesaikannya, maka saya hampir DO. Sejak lama saya ingin berkonsultasi dengan Bp. Tetapi karena kesulitan menghubungi Bp, maka sejak 8 bulan lalu dengan isi yang sudah diperbaiki Disertasi itu saya beri judul : ” Nasionalisme, Islam sebagai Dasar Negara dan Pancasila dalam Kerangka Negara Kesatuan Republik Indonesia ( Studi Pemikiran Mohammad Natsir). Untuk pembimbing saya minta Prof. Dr. Badri Yatim yang juga dosen Sekolah Pasca Sarjana UNI melanjutkan bimbingan Bp. dulu. Dengan demikian beliau bersama Prod. Dr. Azyumardi Azra menjadi pembimbing Disertasi saya ini. Insya Allah Kamis, 28 Februri ini saya ujian Pendahuluan atau Ujian Tertutup. Harapan saya, nanti kalau sudah selesai ujian tertutup dan itu akan diperbaiki untuk ujian terbuka, maka saya berharap dari lubuk hari yang paling dalam untuk dapat bersilaturrahim kepada Bp. sambil mohon dapat berdiskusi pribadi dan mohon masukkan. Bila hal itu memungkinkan, maka bersama ini saya sampaikan email saya : shofwan.karim@gmail.com. Atas kerandahan hati Bp. mengabulkan permohonan saya ini, terlebih dulu daya aturkan ribuan terimakasih. Wassalam dan hormat saya, Shofwan Karim
February 23rd, 2008 at 3:50 pm
Shofwan Karim (komentar #43)
Pak Prof. YIM Yth. Mohon berkonsultasi dan mendapatkan alamat atau orang yang bisa dihubungi untuk dapt berhubungan dengan Bp. Wassalam, Shofwan Karim, Padnag
February 23rd, 2008 at 4:41 pm
novel damopolii (komentar #44)
ass.wr wb
wah cerita pak yusril tentang asal usul dr pihak ibu yg berasal dr anak
yg dilahirkan dr sebilah bambu,sangat mirip dengan legenda di daerah kami,di bolaang mongondow,dimana raja I di bolmong “mokodoludut” dilahirkan dari sebilah bambu..
////emang pemimpin negara kita sangat dkt dgn yg sifatnya mistis,bung karno,pak harto,sampai gus dur pun punya jin,tapi pak yusril lebih hebat,krn keturunan langsung..hehehe.
He he he… terima kasih banyak. Biarkanlah itu menjadi semacam legenda keluarga. Saya sendiri antara percaya dan tidak percaya akan hal itu. (YIM)
March 8th, 2008 at 12:43 pm
Tedy Triharsa (komentar #45)
salut buat bang yusril yang masih ingat kampung halaman melalui tulisanya yang secara tidak langsung menggambarkan kesederhanaan.. maslah mistis mungkin sampai saat ini masih dapat diterima kalau pulau belitung itu sarat dengan hal-hal mistis…. mulai dari batu satam yang melegenda sampai dengan daerah membalong yang dikenal dengan para normal yang ampuh…. semoga tulisan yang selanjutnya tambah menarik
March 12th, 2008 at 4:01 pm
Irbel Budaya (komentar #46)
Bung Yusril–sebagian cerita tentang anda sudah pernah saya dengar dari teman saya yang juga teman Bung Yusril yaitu Sdr.Lauren Siburian. Namun satu hal yang menarik dari semuanya itu ialah bahwa ‘darah minang’ sebetulnya mengalir sangat kental didiri Bung–buktinya dengan semua paparan Bung dalam Blog ini –”urang Minang itu pandai bakaba” (The Minangkabaunese have a talent to bring the fact to true story). Mudah2an suatu saat Bung juga akan menulis tentang Republik ini.
July 16th, 2008 at 2:38 pm
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda