Kehidupan nelayan, sama saja susahnya dengan kehidupan petani. Nelayan hanya dapat melaut selama enam bulan dalam setahun, sesuai pergantian musim dan arah angin. Kalau musim angin bertiup dari selatan, maka nelayan di bagian timur Belitung praktis tak dapat melaut. Angin terlalu kencang dan gelombang teramat besar. Kalau ada yang berani turun ke laut, hanya bermodalkan katir, bisa-bisa tak pulang lagi ke rumah. Kalau angin bertiup dari arah Barat, maka nelayan di bagian Barat pulau Belitung yang gantian tidak bisa melaut. Ikan dan hasil laut lainnya, sebenarnya melimpah ruah di Belitung di masa itu. Namun, karena penduduk terbatas, harga ikan akan segera jatuh jika hasil tangkapan telah memenuhi pasar ikan. Nelayan menjual ikan melalui tengkulak-tengkulak yang dapat membantu mereka meminjami uang dan beras, yang tentu harus diperhitungkan jika mereka dapat melaut kembali. Dalam pengamatan saya, tengkulak ikan itu bukanlah orang jahat seperti tukang ijon di Jawa. Prinsip kerja mereka adalah saling membantu.
Cita-cita nelayan di Belitung pada masa itu sederhana saja. Jika harga satu kilo ikan sama dengan harga sekilo beras, maka mereka sudah puas dan bahagia. Kenyataannya mereka harus menjual empat kilo ikan tenggiri baru dapat membeli sekilo beras. Ikan yang lebih rendah kualitasnya, bisa lima enam kilo baru setara dengan sekilo beras. Tidak heran jika nelayan Belitung hidup compang camping. Kebanyakan rumah mereka berdinding kulit kayu, beratap daun nipah dan beralaskan tanah belaka. Tak ada fasilitas apapun bagi mereka. Rumah sakit harus bayar, walau rumah sakit pemerintah seperti DKR. Kesehatan para nelayan sangat rendah. Pakaian mereka lebih compang-camping dibanding keluarga pegawai negeri dan petani. Pendidikan anak-anak nelayan sangat rendah. Paling mampu hanya tamat SD saja. Jarang-jarang anak nelayan masuk SMP.
Sebagian besar, mungkin sekitar 80 persen penduduk Belitung beragama Islam. Agama terbesar kedua adalah Buddha/Konghucu yang dianut oleh masyarakat Cina. Agama Kristen, dalam jumlah yang kecil, dianut oleh kaum pendatang. Penganut agama Kristen yang telah lama menetap di Belitung berasal dari keturunan orang Belanda dan Ambon, yang telah menetap di pulau itu sejak zaman kolonial. Sebelum kedatangan agama Islam yang diperkirakan pada penghujung abad 12, orang Belitung menganut animisme yang bercampur-baur dengan ajarah Hindu dan Buddha. Tidak ditemukan adanya bekas-bekas candi Hindu dan Buddha ataupun arca-arca pemujaan dalam agama itu di Belitung. Terracotta bekas pemujaan memang ditemukan di daerah sekitar Membalong, termasuk pekuburan tua yang menunjukkan zaman pra-Islam. Legenda masyarakat tentang kisah Tuk Menek Melanggar Buding, adalah gambaran tentang peristiwa Islamisasi Belitung pada abad-abad pertama kehadiran agama ini.
Tuk Menek konon kabarnya adalah penyebar agama Islam dari Aceh yang berhasil mengislamkan daerah Sijuk. Namun Tuk Kundo, penguasa daerah Buding menolak memeluk agama Islam. Mereka tetap mempertahankan animisme. Suatu ketika Tuk Menek masuk ke daerah Buding untuk menyebarkan agama Islam, dan terjadi perlawanan dari Tuk Kundo. Peristiwa itulah yang disebut dengan istilah Tuk Menek Melanggar Buding. Dia melanggar garis demarkasi yang memisahkan daerah Sijuk yang Muslim, dengan daerah Buding yang mempertahankan tradisi keagamaan lama. Kerajaan Balok, di sekitar Sungai Cerucuk di Tanjung Pandan mungkin sekali menganut agama Hindu. Tidak banyak informasi mengenai kerajaan Balok, kecuali legenda dan cerita rakyat. Namun Kerajaan Badau, telah memeluk agama Islam. Kerajaan ini berorientasi ke Jawa dan Palembang. Bangsawan-bangsawan mereka menggunakan gelar kebangsawanan Jawa dan Palembang.
Islamisasi masyarakat Belitung pada umumnya berlangsung secara damai. Para penyebar agama Islam cukup toleran dengan kepercayaan-kepercayaan dan tradisi lama yang tetap hidup, namun secara perlahan mengalami proses Islamisasi. Kepercayaan terhadap makhluk-makhluk halus yang dapat menimbulkan malapetaka tetap hidup dalam masyarakat. Masyarakat Belitung mempunyai kosa kata yang kaya dalam memberi nama dan kategori berbagai jenis makhluk halus, yang secara umum disebut dengan hantu. Upacara-upacara keagamaan lama, seperti selamatan kampung, maras taun, membuang jung (tradisi suku Laut), aneka jenis selamatan, tetap berlangsung hingga hari ini. Demikian pula kepercayaan terhadap jampi-jampi dan benda-benda keramat tetap hidup dalam masyarakat. Harmoni antara Islam dengan kepercayaan lama itu tercermin dalam struktur pemerintahan asli masyarakat Belitung, yakni keberadaan pimpinan sebuah kampung, yang berada di tangan dukun kampung dan penghulu. Di masa kolonial, pimpinan ini ditambah lagi dengan lurah. Sebuah desa atau sebuah kampung, barulah lengkap apabila mempunyai ketiga unsur pimpinan itu.
Dukun Kampung dalam masyarakat Belitung adalah jabatan yang diangkat oleh masyarakat. Tidak selalu jabatan itu diangkat dari seseorang berdasarkan garis keturunan, walau kecenderungan itu ada di banyak kampung di Belitung. Tugas dukun kampung adalah mengurusi dunia gaib dan menjaga keselamatan masyarakat dari berbagai penyakit dan malapetaka yang ditimbulkan oleh makhluk-makhluk halus. Orang di kampung akan memberitahu dukun kalau mereka akan membuka hutan dan membuat ladang. Kalau kawasan itu dikuasai makhluk halus, maka dukun harus membereskan masalah ini lebih dulu, agar jangan timbul malapetaka. Dukun Kampung mempunyai kemampuan untuk bernegosiasi dengan makhluk halus. Ada kalanya makhluk halus bersedia pindah ke tempat lain, jika tempat itu akan digunakan oleh manusia. Hal yang sama juga dilakukan ketika akan mendirikan rumah, dan ketika akan menempati rumah yang baru selesai dibangun. Setiap tahun, setiap kampung akan menyelenggarakan upacara selamatan kampung. Upacara itu diselenggarakan di rumah Dukun Kampung dan dihadiri masyarakat, yang datang membawa daun gandarusa dan daun hati-hati. Dukun Kampung akan memimpin upacara yang diakhiri dengan pembacaan doa menurut agama Islam. Daun gandarusa dan daun hati-hati tadi di bawa pulang setiap orang, di campur air dan dipercikkan di dalam rumah dan halaman masing-masing. Sebagian masyarakat Cina juga menghadiri upacara selamatan kampung, yang dipercaya dapat mengelakkan seluruh penduduk kampung dari malapetaka.
Dukun kampung dipercaya masyarakat sebagai dukun yang bersih dan sejalan dengan ajaran Islam. Jampi-jampi yang mereka baca juga diambil dari ayat-ayat al-Qur’an di samping berbagai kalimat yangdiucapkan dalam Bahasa Melayu Tua. Isi jampi-jampi itu adalah perintah atau ancaman kepada makhluk-makhluk halus agar jangan mengganggu penduduk kampung. Pada umumnya Dukun Kampung adalah orang yang taat beragama. Karena ituDukun Kampung dengan Penghulu yang mengurusi hal-ikhwal kegamaan berjalan seiring. Di beberapa kampung malah ada jabatan Dukun Kampung dan Penghulu berada dalam tangan satu orang, walau keadaan itu biasanya hanya sementara saja. Di samping Dukun Kampung yang secara resmi diangkat oleh masyarakat, terdapat pula dukun-dukun tidak resmi yang menjalankan praktek perdukunan, yang terkait dengan penyembuhan berbagai jenis penyakit, sampai yang melakukan kejahatan dengan menggunakan ilmu gaib.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 21st, 2007
27 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN IV)”
Yusuf arbi (komentar #1)
wah benar2 kisah yang amat menarik pak. saya juga membaca tulisan bapak di blog ini yang diposting kembali di kompas. mungkin akan lebih menarik pak kalo anda menjawab berbagai statemen di media melalui blog ini.
December 22nd, 2007 at 2:40 am
Marwan (dikampong Lalang) (komentar #2)
Bang Yusril
Met pagi, trima kasih info e malam-malam jam 00.12 sabtu dini hari.
Gaya cerita yang ringan ini sangat menakjubkan yang terjadi di KKMK, seorang putra anak bangsa yang berasal dari sebuah pulau bernama Belitung yang sangat luar biasa menjalani hidup. Bahkan setahu saya, Abang menjadi satu-satunya anak bangsa yang menjadi mentri untuk 5 presiden dari mulai Soeharto, Habibie, Gus Dur, Megawati dan Soesilo Bambang Yudhoyono luar biasa. Sangat smart dan inspiratif cerita ini, apakah akan belanjut cerita ini bang?
Bila boleh usul tolong dibloq ini tulis juga tentang detik-detik reshufle kabinet SBY yang salah satu gerbong menerpa abang, apa yang terjadi sebenarnya di hati nurani seorang SBY sehingga mengganti Abang sebagai mensekneg.
Sukses slalu
December 22nd, 2007 at 7:13 am
Vavai (komentar #3)
Kisah yang sangat menarik pak. Ketika membacanya, tergambar jelas bagaimana kondisi sosial pada masa-masa yang bapak sampaikan. Kumpulan seri kenangan masa kecil ini patut dikoleksi sebagai bacaan yang menggugah.
BTW, selamat berlibur akhir tahun pak :-)
December 22nd, 2007 at 11:12 am
Roedy Chandra Al Rasyid (komentar #4)
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Ass.. Pak YIM.
Sejarah yg panjang & komplek pak!, ok kita coba telaah mengapa gaji pegawai negeri saat itu begitu kecil padahal pemerintah daerah saat itu punya pajak yg bisa diperoleh dari pertambangan timah kala itu?, mengenai perubahan gaya hidup apakah hal ini jg berdampak pada kehidupan sosial keluarga bapak?, bukankah jaman itu mungkin ada jg keluarga bapak yg jadi pegawai perusahaan yg tdk tergolong rendahan, Bagaimana hubungan bapak dgn mereka, apakah jg sama seperti mereka memperlakukan masyarakat rendahan?. Maaf pak saya tdk bermaksud apa-apa hanya ingin tahu bagaiman sikap bapak jika hal ini terjadi pd diri bapak?. Saya jg mengalami hal yg sama, terlahir bukan dari keluarga berada, bagaimana saya harus hidup diantara pegawai staf timah yg hidup serba berkecukupan, sangat terasa & msh membekas dalam ingatan. bagimana rasanya saat ditolak bersekolah dilingkungan mereka, bahkan sempat diperolokkan (oleh pegawai staf - yg masih tergolong keluarga.red) saat saya berniat melanjutkan sekolah ke jenjang lebih tinggi. Hanya bermodalkan tekat dan uang hasil berjualan buah2an dan sayur-mayur yg saya tanam dipekarangang rumah yg dulunya gudang peralatan peninggalan buyut. Saya hanya ingat pesan ibu jgn pernah menoleh kebelakang saat saya mulai menuruni anak tangga rumah, saya tdk tahu maksudnya yg hanya saya ingat beliau melemparkan segenggam beras berwarna kuning sambil menangis. Ada perasaan haru juga kemarahan dalam diri kala itu, persis seperti peribahasa yg bapak katakan “Seperti itik yg berenang ditengah danau namun mati kehausan”. Kemana keluarga ini saat aku butuhkan, keinginan ku hanya dapat bersekolah tinggi saat itu. Hari demi hari terlewatkan walaupun harus tidur selama 14 bulan dijalanan & menjadi kuli cuci anak-anak orang staf timah dibandung, akhirnya saya berhasil menyelesaikan kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri dibandung. Jujur pak saya berhasil melewati itu semua karena kemarahan kala itu. Buat saya gambaran ini bukan hanya sekedar kenangan masa kecil tapi lebih dari itu. Saya benar-benar tertarik ingin mengetahui lebih jauh ilmu tentang kehidupan sosial masyarakat seperti ini dari bapak. “Apakah memang sudah harus demikian(rumusannya)”Orang yg dulunya sengsara terus jadi orang berkecukupan, terus mereka berubah menjadi orang lain?. Apakah fase-fase kehidupan yg mereka yg suram justru yg menjadi sumber masalahnya & bagaimana dgn bapak sendiri?”. Dari cerita-cerita masa kecil bapak, terasa sekali buat saya perasaan yg saling bercampur aduk dlm diri bapak, haru, gembira bahkan mungkin kesedihan serta amarah, entahlah…?, tapi saya begitu hanyut dalam setiap cerita dan penekanan kalimat yg selalu bapak ulang-ulang tentang ayah bapak & kehidupan keluarga bapak yg serba terbatas. Ibu pernah bilang “Rudy, Make Your Self sure a will and don’t forget pray to your god”, sepanjang hari hingga hari ini mungkin inilah jawaban dari semua kesombongan ku akibat dari kemarahan ku selama ini. Sesungguhnya aku tak akan seperti ini jika aku tak percaya adanya Tuhan yg Maha berkehendak. (Mohon maaf Pak YIM jika tulisan ku kurang sopan, aku hanya ingin berbagi & belajar banyak mengenai konsep sosial masyarakat & pengaruhnya dalam kehidupan individu baik secara experiences bapak maupun pendekatan secara empiris dari bidang ilmu yg bapak miliki, Sekali lagi mohon maaf jika beberapa pertanyaan saya diatas dinilai pak YIM tak sopan, Salam Hormat Post by@RChandra-Bandung 22/12/2007). Terima-Kasih - Wass..
December 22nd, 2007 at 12:19 pm
Purnama (komentar #5)
Erureka! this is what i am waiting for sir. Teruskan pak, kisah kisah bapak tidak hanya kaya pengalaman dalan hidup seseorang anak manusia, sebenarnya juga sarat potret sosial kultural masarakat Belitong. Alangkah bagusnya bila bapak memperbanyak gambaran seting sosial yang menjadi background kisah kisah bapak. Bapak dan orang tua kami adalah satu generasi sebelum saya, jadi saya sangat membutuhkan potret tersebut dari bapak. Di kisah bapak, saya melihat bagaimana generasi bapak (anak anak Belitong satu generasi di atas saya menjalani hidup yang sulit) sehingga, saya semakin kagum akan generasi orang tua saya, rasa haru saya mewakili ribuan patah kata yang bapak kisahkan, semua seting tarasa nyata di depan mata, menambah gambaran tentang cerita cerita orang orang tua kami ke kami semakin terasa mewarnai hidup saya, dulu dan sekarang dan mungkin nanti. Trimakasih atas kisahnya pak.
December 22nd, 2007 at 2:19 pm
ditha (komentar #6)
ass pak yusril..
cerita anda luar biasa..menambah pengetahuan saya..
btw saya mau tanya..berapa lama waktu yg bpk butuhkan untuk membuat cerita sebanyak 4 bagian ini..??
wassalam
December 22nd, 2007 at 6:01 pm
spank (komentar #7)
Assaamualaikum wr,wb. pak saya gak banyak tanya kebetulan saya dari pulau bangka juga nasibnya kira2 sama juga terlahir dari keluarga yang kurang mampu hanya modal tekad saja membuat saya eksis, kira2 kapan ya pak cerita bapak ini tidak terulang pada generasi setelah kami nantinya, tingkat kesejahteraan masyarakat meningkat mau sekolah sampai pt bisa soalnya sekarang ini kelihatan dimasyarakat ada berbagai penurunan kualitas (pendidikan, kesehatan,makanan,gaji dstnya)?tolong dong pak bisikkan ke sby pejabat hukum itu kiranya bisa menegakkan law enforcement dengan benar agar negara kita jadi makmur sumber penyakit kitakan ada dijalur yudikatif inikan pak? apa perlu bapak bikin film judge bo versinya terbalik kalau disana hukum gak bisa dibeli tapi disini bisa dibeli? maaf ni pak kalau saya agak menyinggung perasaan bapak, salam buat keluarganya pak terus maju saya do’akan bapak biar jadi RI
I nantinya.
December 22nd, 2007 at 7:17 pm
jebee (komentar #8)
Assalamualaikum WW
Salam kedamaian dan kesejahteraan Pak Yusril
Alhamdulillah, ini rasanya sangat menyentuh sekali tulisan “kenang-kenangan di masa kecil (bagian IV)” ini Pak.
Pak, menurut saya “KESENJANGAN SOSIAL” yang ada dalam tulisan bapak ini, sebenarnya tidak hanya pada zaman dahulu dan di PT. Timah yang ada dibelitung itu saja.
Saya pikir sampai sekarang hal itu masih terus berlanjut dan hampir merata diseluruh wilayah Indonesia dan pada BUMN BUMN yang ada di tanah air, tentunya dalam suasana dan dinamika yang berbeda, tetapi hakikat dari “KESENJANGAN” itu tetap mengakar.
(Memang tulisan Bapak itu, lebih mendeskripsikan tentang kampung halaman Bapak tempo dulu, tetapi saya rasa juga tidak ada salahnya jika saya bertanya untuk ruang yang lebih luas yakni tentang Indonesia, karena banyak sedikitnya Bapak sudah pernah ikut mengelolanya)
Pada kesempatan ini izinkan saya untuk bertukar pikiran dan meminta pandangan Bapak, mana tahu pandangan saya salah, subjektif atau tanpa dasar yang bisa dipertanggungjawabkan.
1. Sampai sekarang mari kita lihat, disetiap jengkal bumi Indonesia yang digerus sumber daya alamnya oleh investor/penanam modal/”komprador” (apakah pemerintah/BUMN maupun pihak swasta), sangat bertolak belakang dengan kehidupan warga setempat yang telah mendiami dan menjaga tanah moyang leluhurnya, seperti beberapa contoh, PT. Tembaga Pura dan Freeport di Irian Jaya (aneh yang digaruk emas, tetapi diberi label PT tembaga pura) bagaimana dengan warga sekitar ? masih berkoteka dan bertelanjang dada bukan ? di Batam dan Kepulauan Riau yang digerus pasir buminya untuk membangun pulau di negara Singapura dan berdiri berbagai perusahaan berskala besar, bagaimana dengan suku lautnya yang merupakan asli penduduk setempat ? masih mengayuh sampan menerjang ombak bukan ? di Riau dengan pengerukan minyak bumi dan hutannya, tetapi bagaimana dengan masyarakatnya ? masih berlepotan dengan kemiskinan, banjir dan penyakit menular bukan ? di NTB, Jawa, Kalimantan, Sulawesi dsb….. berapa besar sumbangan perusahaan perusahaan itu terhadap komunitas lokal setempat, dalam ikut andil memajukan kesejahteraan, pendidikan, kesehatan dan warga setempat ?.
Jangankan kita berharap buat bangsa dan negara buat periuk nasi pemilik asli tanah yang digerus itu saja entah ada perhatian Badan Usaha/perusahaan tersebut.
2. Saya tidak habis pikir sampai detik ini, para perusahaan perusahaan dan BUMN BUMN yang ada itu seperti memiliki kerajaan sendiri, okelah kalau perusahaan swasta, tetapi ini BUMN pun juga demikian.
Saya punya kasus sendiri dilingkungan saya Pak, saya memiliki saudara PNS yang sudah bekerja lebih dari sepuluh tahun, dia sudah bekeluarga dan kedua duanya PNS, mereka tamat dari perguruan tinggi yang cukup terkenal di Jawa, memang pekerjaannya tidak dipemerintah pusat tetapi di daerah, sekarang katanya sudah bergolongan III/c, katanya gaji pokok ditambah tunjangan lainnnya tidak sampai 2 juta/orang, Saya juga lihat dengan mata kepala sendiri, sampai sekarang dia belum punya rumah sendiri/masih ngontrak, belum punya kendaraan, okelaah.. itu kan urusan dapurnya dia, “salah sendiri mengapa ngak ikut ikutan korupsi.” hahahahaa….
Kemudian saya juga punya ipar, yang baru dua tahun ini diangkat sebagai karyawan pada PT. Semen……… di Sumatera (BUMN milik pemerintah), untuk Bapak ketahui, katanya “gajinya empat kali lipat bahkan lebih” dari saudara saya yang PNS yang sudah mengabdi lebih sepuluh tahun itu, kemudian katanya ada lagi tunjangan lebaran, tunjangan kepemilikan kendaraan roda empat, tunjangan mobilier rumah tangga, tunjangan tahunan, asuransi kesehatan yang tidak kayak ASKES..dsb….. ketika dia beritahu ke saya.. saya kaget… Masa Allah… tetapi bukan berarti saya sentimen, untuk secara pribadi tentunya saya sangat senang dan bersyukur karena dia saudara saya juga, tetapi untuk keadilan bagi anak bangsa dan institusi yang ada di negara ini, ibaratnya negara kita ini lebih kejam dari zaman penjajahan dulu. Tentunya saudara saya itu tidak bisa disalahkan, dia kan hanya bekerja dan menerima haknya.
Saya akhirnya mulai sadar, karena ini sudah saya lihat dan buktikan sendiri, memang dahulu saya tidak begitu yakin kalau gaji BUMN itu besar. Rupanya setelah saya tahu dan buktikan sendiri.. memang iyaa BUMN sama saja dengan penjahajan yang sangat mengakar… lihatlah Pak BUMN BUMN yang ada (apakah dibidang telekomunikasi, perbankan, pertambangan, kawasan industri, energi, jasa konstruksi, perumahan, semen, asuransi, kehutanan, kesehatan, perkebunan…. dsb….) itu rata rata mereka memiliki gaji yang sangat besar dan sepertinya mereka memiliki ranah hukum sendiri.
Bagi saya tidak masalah mereka mendapatkan gaji yang besar, tentunya itu adalah untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyat Indonesia juga. Tetapi pertanyaannya tentang “KESENJANGAN” itu tadi lagi.
Bukankah pegawai BUMN itu juga sama hakikat tugas dan fungsinya dengan PNS, TNI dan Polri ? bukankah mereka sama sama mengabdi buat negara ? cuma saja pada BUMN mereka mengelola sumber daya yang banyak berhubungan dengan pendapatan negara, itu saja. Bukankah yang berbeda diantara mereka hanya pada fokus dan bidang tugasnya saja ??
Bukankah semua sumber daya yang dikelola oleh BUMN itu adalah juga milik negara juga ? mengapa harus didiskriminasi gaji pegawai mereka dengan pegawai pemerintah lainnya ??
Suatu ketika saya pernah bertanya dan berdiskusi dengan salah seorang yang mengerti seluk beluk BUMN, mengapa gaji pegawai BUMN lebih besar dari gaji PNS, TNI dan Polri, jawabannya untuk menghindari korupsi karena mereka mengelola sumber daya yang bersifat menghasilkan devisa…. saya hanya bisa berujar..”ooooo…”
Jadi kalau PNS,TNI dan Polri yang mempunyai tugas dan fungsi untuk melayani masyarakat, menjaga keutuhan negara dan penegakkan hukum yang tentunya tidak menghasilkan uang… yaa makanya digaji sedemikian saja… tentunya demikian bukan ?? hukum apa yang dipakai ini Pak ???
Apa betul pada BUMN BUMN itu tidak terjadi korupsi ?? kalau itu filosofinya yang dipakai ??
Coba lihat direktur direktur BUMN, para komisaris, gaji mereka bahkan melebihi gaji menteri dan Presiden…
rasanya semakin lelah saja kita berbicara tentang “KESENJANGAN” ini pak……
3. Belum lagi kita berbicara tentang KESENJANGAN antara PNS yang bekerja di pemerintah pusat dengan daerah, KESENJANGAN antara gaji DPR dengan abdi negara yang berkutat puluhan tahun.
Apalagi KESENJANGAN itu jika kita bandingkan dengan masyarakat yang yang tinggal dikolong jembatan, masyarakat yang mengayuh biduk ditengah badai, masyarakat yang mengais sisa kotoran, masyarakat yang mengemis kenegeri orang, masyarakat yang ditangkulaki oleh pemilik modal…………… panjang lagi Pak….
4. Saya pernah Pak beberapa bulan ikut bekerja disebuah institusi pemerintah pusat yang cukup strategis (Departemen/Badan……), hampir setiap hari saya menangis, saya selalu memberontak, sehingga banyak pegawai dan pejabat dlingkungan saya tempat bekerja itu tidak bersimpati kepada saya, tetapi bagi saya tidak masalah, saya sudah cukup puas walau hanya bisa dengan berkata. Ditempat saya bekerja itu setiap hari selalu diberi jatah makan siang dengan nasi kotak/kateringan. Yang membikin saya menjerit, jatah makanan yang sangat sangat layak itu menurut saya (karena menunya cukup memadai, yakni : nasi putih, lauk utama (ayam/daging/ikan), sayur, kerupuk dan buah). Namun apa yang saya lihat tiap hari Pak ?, lebih dari 50% nasi yang diperuntukkan bagi pegawai/karyawan yang ada dilingkungan tempat saya bekerja itu TIDAK DIMAKAN, akhirnya banyak yang dibuang. Saya memang setiap hari memakan nasi jatah itu, sering juga menerima sindiran, tapi bagi saya tidak mengapa. Karena saya mensyukuri sekali, karena selama ini saya bekerja diluar, untuk dapat minum teh pagi saja sudah sangat bahagia sekali, apalagi kalau saya ingat dengan pemulung pemulung dan pengemis jalanan yang banyak bersileweran disamping geduang tempat saya menumpang bekerjaa ini.
Untuk diketahui saja satu porsi jatah makan siang itu, saat itu tahun 2004 berkisar 12.500.. sedangkan karyawan pada departemen/badan itu saja ada sekitar seribu orang lebih, bayangkan Pak berapa anggaran yang terbuang tiap hari. Ini hanya baru contoh kecil Pak, belum lagi masalah surat jalan/SPPD, belum lagi masalah honorer, belum lagi proyek ini proyek itu, pengeloaan dana pinjaman luar negeri, yang sangat tidak masuk akal pembagiannya Pak…..olalalaa dsbbbbbbbbbb……. membahas masalah kemiskinan masyarakat tetapi rapatnya dihotel bintang lima, berbicara tentang kelaparan masyarakat, tetapi rapatnya melahap menu menu istemewa dihotel bertaburan bintang…………….dsb..
Saya tidak tahu bagaimana dengan Departemen tempat Bapak mengabdi dulu….
Untuk kapasitas mereka yang bekerja dipemerintah pusat (walau banyak tamatan luar negeri), saya lihat kapasitas mereka juga tidak jauh beda dengan orang orang yang bekerja di instansi daerah, bahkan pada kasus kasus tertentu orang daerah lebih beridealis, lebih disiplin dalam bekerja, lebih agak bermoral dan mungkin agak lebih intelek.
Maaf … bukan saya menyombongkan diri, saya suatu ketika pernah ikut berdiskusi dan menganalisis tentang rancangan dua buah Undang Undang yang sangat urgen bagi negara yakni UU No.25 Tahun 2004 tentang SPPN dan UU No.32 Tahun 2004 tentang Pemda, saat itu saya menemukan adanya ketidaksingkronan diantara kedua UU itu, yakni tentang peraturan hukum yang akan dipakai dalam penetapan RPJMD. UU ini dibahahas saat saat terakhir pemerintahan Ibu Megawati. Nyatanya pendapat saya itu tetap tidak digubris… akhirnya apa yang terjadi, banyak diantara daerah yang bingung dan bahkan ada yang menimbulkan konflik kepentingan di daerah dalam penetapan RPJMDnya, apakah harus memakai UU No.25 tahun 2004 yang cukup ditetapkan dengan Peraturan Kepala Daerah atau merujuk ke UU No.32 tahun 2004 yang RPJMDnya harus ditetapkan oleh Peraturan Daerah. Apa artinya ini Pak ? coba bayangkan UU yang digodok dalam waktu yang bersamaan dan topik yang sama pula, sangat tidak konsisten, sangat bertolak belakang, dibilang mereka bodoh dan tidak mengetahui hukum kayaknya tidak juga, jadi apa ini Pak ? Apalagi lagi yang harus kita katakan dengan “KESENJANGAN” ini….????
Sebenarnya masih banyak Pak yang ingin saya dapatkan pencerahan dari Bapak, tetapi untuk sementara ini dulu, kepada para Saudara komentator lainnya.. MOHON MAAF… jika saya terlalu subjektif, semua hanya demi kecintaan, rasa memiliki dan kegamangan bersama terhadap TANAH AIR TERCINTA.
SALAM
JEBEE
December 23rd, 2007 at 2:14 am
endoy (komentar #9)
Kisah Pak yusril ini, kayaknya begitu tamat ditulis dan diceritakan di blog ini langsung masuk ke penerbit. Sukses slalu buat Bang Yusril.
Libur akhir tahun kemana Bang ? Walau sempat rame, pembicaraan RI-1 2009 saat Bang Yos menyatakan Siap mencalonkan diri jadi RI-1, sekarang adem-adem saja, ditunggu kejutannya dari Bang Yusril !
December 23rd, 2007 at 6:42 am
irawan santoso (komentar #10)
Maaf saya kebetulan singgah di blog ini. Saya baca tulisan berjudul Kenang-kenangan di masa kecil (IV). Tapi yang nyata justru alur bertutur yang kurang lentur. Mungkin struktur berceritanya kurang tertib. Mungkin lebih tambah menarik bila sentuhan filosofisnya lebih ditonjolkan. Khususnya tatkala mengisahkan seputar kehidupan Balitung di era Yusril kecil. Cukup dari sudut pandang Yusril kecil saja. Lalu, ditambah dengan gaya bahasa yang lebih halus, mungkin cerita ini akan makin menarik. Sehingga setiap yang singgah ke blog ini dan membaca, tidak akan cepat-cepat meninggalkannya. Tidak sekedar membaca karena penulisnya adalah seorang Yusril Ihza Mahendra.
Salam.
December 23rd, 2007 at 9:53 am
Muhammad A Hasna (komentar #11)
Luar biasa , itulah yang ingin saya ungkapkan kepada saudaraku Yusril, dengan pemahaman sejarah keluarga, daerah sendiri , sejarah politik Masyumi, kelompok sosialis lainnya dan bahkan budaya melayu telah mampu dijabarkan dgn cemerlang. sekali lagi selamat, mudah-mudahan dgn pemahaman saudara Yusril ini, paling tidak bisa mendorong kejelasan “tempat Islam dalam negara” . Seperti yg kita ketahui sejak republik ini berdiri, penuh dengan pertarungan politik yg tidak akan habis-habisnya, yang itu diakhirnya selalu dengan “kekalahan Islam Politik” dalam hal ini Mulai dari Sarekat islam, masyumi, PPP sampai hari ini. Islam politik telah terkubur bersama-sama pemimpinnya, bahkan Nasir, selaku tokoh masyumi tidak bisa berbuat apa-apa pada masa orde baru. islam Politik hanya kenangan, hanya mimpi besar yg tidak terwujud. Indonesia dengan hampir 90% berpenduduk muslim sama sekali tidak berubah, bahkan semakin banyak “pemimpin yg tidak bermoral”. Saudara Yusril harus menemukan apa yg salah pada “islam Politik”, apa yg salam pd pemimpin Islam, apa yg salah pada dgn negeri seribu lebih pulau ini, Mengapa “islam Mati”, Mengapa kelompok Non Muslim yg minoritas merasa tersisihkan di negeri ini, mengapa Islam santri dan Islam abangan tidak akur di jawa, mengapa Muhamamdiyah dan NU tidak bisa akur, mengapa kita tidak sepakati bahwa negeri ini bukan islam tapi negeri sekuler dgn Pancasila sbg pondasinya, mengapa rakyat kita tidak bergairah dalam hidup, tidak mau berusaha tapi ingin hasil gede? semua permasalahan bangsa itu harus diteleah dgn tekun saudara Yusril, semua cara hrs dicoba, jangan mengulangi cara-cara yg gagal. Dulu sukarno bisa kuat krn tangan kanannya adlah PKI tapi GAGAL dlm membangun bangsa, suharto bisa langgeng 32 thn berkuasa krn tanggan kanannya adalah Tentara dan kekuatan tradisional jawa(kejawen) tp GAGAL TOTAL, Gusdur gagal krn melupakan Kekuatan Islam yg mendukungya, Habiebie hanya sebentar krn orde baru, Megawati gagal juga krn terlalu mendukung kaum minoritas danmelupakan kekuatan Islam, sekarang SBY masih menimbang-nimbang kekuatan mana yg harus dipilih?..kalau menurut saya mengapa SBY tdk mencoba mengerakkan pemerintah ini dgn tangan kanan Islam Modren, Insya allah paling tidak kekuatan islam bersatu dan membawa bangsa ini menjadi mandiri? tolong saudara Yusril katakan persoalan serius ini Pada SBY, saya nan jauh tidak jauh ini tidak bisa berbuat banyak hanya memberi sedikit gambaran saja. mudah-mudahan bermamfaat bagi bangsa yg terus dilanda krisis kepercayaan diri. wassalam
December 23rd, 2007 at 11:18 am
endoy (komentar #12)
@irawan santoso
hihihi….. baru baca sebagian sudah “menilai” :D
Baca dari bagian I sampai IV, baru “menilai”. Sikap kritis bagus dan terpuji untuk kemajuan, tetapi kalo tiba-tiba kritis dari sesuatu yang belum diketahui lucu jadinya :D
Peace bro !
December 24th, 2007 at 11:06 am
iwan Asnawi (komentar #13)
hallo, Bang Yusril Ihza mahendra…
kita pernah ketemu di Kontrass, sebelum Munir terbunuh, dan Anda pernah menepuk pundak saya. waktu saya duduk
di depan Akuarium Kontrass. sudah terlalu banyak yang memuji anda!!! jadi saya disini tidak untuk memuji anda lagi!!! cuma bertanya… dari yang mungkin lebih bijaksana…
saya orang biasa, dari keturunan orang biasa pula yang kebetulan tinggal di Swiss sekarang… dan saya sangat, sangat rasional pula. pernah kuliah, pernah asisten Professor di Universitét Bern. Switzerland. tapi, memang ada yang menarik dari tulisan Anda tentang “Pulong” atau “kedaong”… tentang Mahkluk sebesar Itik yang terbang malam hari, yang dapat membunuh orang. lewat kesurupam terlebih dahulu. saya tak akan membesarkan “cerita” ini, tapi memang pernah terjadi langsung pada saya, secara utuh. dan memang saya hampir “mati”, sengaja saya kasih tanda kutip, karena saya masih hidup sampai sekarang. kalau saya boleh bertanya secara lengkap, bagaimanakah cara menangkal Ilmu ini? tolong tuliskan secara detail…
dari Saya: Iwan Asnawi, Swiss…
December 25th, 2007 at 4:26 am
jebee (komentar #14)
Ass.WW
Salam kenal Pak Iwan Asnawi
Waaah… tinggal di Swiss yaa… Swissnya dimana Pak ?? apa boleh mampir buat liburan tahun baru…. hehehee…..
Mohon maaf Pak, apa boleh saya minta alamat emailnya ?
atau kalau Bapak tidak mau mencantumkan emailnya disini, tolong forward kealamat email saya yaa Pak ; jebebungsu@yahoo.co.id
Terima Kasih sebelumnya Pak
Salam…
December 25th, 2007 at 7:12 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #15)
#13 Iwan Asnawi. Sayang saya tak memiliki kepakaran khusus menangani orang yang menurut kepercayaan masyarakat Belitung bisa dibunuh melalui makhluk halus bernama Pulong dan Kedaong. Di masyarakat Belitung, pekerjaan menangani masalah ini diserahkan kepada Dukun Kampung. Saya sendiri sebenarnya tidak begitu percaya dengan makhluk tersebut. Kalaupun masalah itu saya ceritakan di sini, adalah deskripsi antropologis masyarakat Belitung yang saya menjadi bagian dari mereka. Bukan berarti saya mempercayainya. Ayah saya hanya mengajarkan agar kami taat beragama dan memohon perlindungan hanya kepada Allah. Dengan demikian, kami akan terhindar dari segala gangguan makhluk halus yang dipercaya masyarakat Belitung.
Mohon maaf, saya tak dapat menjawab pertanyaan Anda. Semoga selama bermukim di Swiss, anda selalu sehat wal’afiat. Di sana, tentu tidak ada Pulong dan Kedaong.
Salam hormat saya.
December 26th, 2007 at 1:35 pm
Arie Ashford (komentar #16)
alhamdulilah, akhirnya setting sosial yang kuat dengan nuansa antropologi terkuak dan muncul sebagai kekuatan tersendiri dalam cerita Pak Yusril.
Saya yakin, Pak Yusril pernah belajar serius antropologi selaian penulisan kreatif, bukan begitu Pak?
Sekali lagi kami tunggu terus jilid berikutnya, Pak Yusril.
December 26th, 2007 at 5:18 pm
iwan Asnawi (komentar #17)
Yth: Bang Yusril Ihza Mahendra…
Ass…Wr.wb…
Terima kasih yang sedalam-dalamnya atas balasan “pertanyaan” saya, dan atas do’a-nya juga. Alkhamdulillah, sampai sekarang saya dalam keadaan sehat wal’afiat. Dan saya juga berdo’a, semoga Anda diberikan “kelapangan” untuk menuliskan pemikiran Anda di Blog ini. Saya di antara Ribuan atau bahkan Jutaan orang yang mengagumi tulisan Anda.
Hormat Saya: Iwan Asnawi, Swiss
December 27th, 2007 at 4:21 am
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V) — Yusril Ihza Mahendra (komentar #18)
[...] Bagian IV serial tulisan ini, saya telah menjelaskan setting sosial masyarakat Belitung, tempat saya lahir dan menetap di situ [...]
December 27th, 2007 at 4:17 pm
Erwin (komentar #19)
Seakan sedang membaca “text book” yang bercerita tentang dongengan…(cukup berat untuk bacaan ringan tapi cukup ringan untuk bacaan berat)
@irawan : Mas,kalo pak YIM bikin cerita spt yg mas kriteriakan mungkin sekarang beliau sudah jd novelis sekelas J.K.Rowling
@vavai : kisah pak YIM bagus dr sisì detail dan historis,cerita ini memang bukan dongengan yg bisa diceritakan dengan mudah. Lebih kearah pemaparan pola pikir yg teratur..
December 27th, 2007 at 6:43 pm
eka gustiani (komentar #20)
paman Y.I.M
senang sekali akhirnya ada juga foto jadulnya(jaman dulu).
sukses selalu
December 29th, 2007 at 3:07 pm
jebee (komentar #21)
Antara Pidato Kebudayaan Ahmad Syafi’i Maarif dan Pidato Kedongengan Yusril Ihza Mahendra
Indonesia Ibarat Gajah Setengah Lumpuh
PADANG, KOMPAS-Mantan Ketua Umum dan kini Penasehat PP Muhammadyah, Ahmad Syafi’i Maarif, dalam pidoto kebudayaannya di Padang, Sumatera Barat, Sabtu (29/12), mengatakan, Indonesia sebagai negara yang sedang bingung merumuskan jati dirinya di tengah-tengah peluang dan ancaman globalisasi yang tidak mengenal rasa iba.
“Indonesia sebagai bangsa dan negara muda, karena kelalaian para pemimpin sejak proklamasi 1945 sampai detik ini, masih tertatih-tatih dan sempoyongan dalam menjaga kedaulatannya yang telah agak lama dilecehkan Singapura dan Malaysia,” katanya.
Dengan penduduk sekitar 240 juta dibandingkan dengan Malaysia yang hanya 24 juta dan Singapura 5 juta, Indonesia menurut Syafi’i, ibarat gajah setengah lumpuh. Telinga dan sela-sela jari kakinya dimasuki berbagai jenis semut-semut kecil-kecil yang ganas, sehingga menyebabkan si gajah menjadi gelisah dan tidak percaya diri.
Semut-semut ini berupa manuver-manuver kecil dari Malaysia dan Singapura, dua negara jiran yang lagi bermaya secara ekonomi. Mereka tahu betul bahwa Indonesia sedang sakit yang agak parah. Mereka sedang mengukur Indonesia sampai di mana daya tahannya. Hutan yang 2/3 luasnya sudah gundul semakin menyulitkan posisi Indonesia untuk angkat kepala dalam berbagai pertemuan dunia.
“Sebagai bangsa yang lagi ’gerah’ dengan masalah domestik yang berketiakular, Indonesia sekarang memang tidak memiliki kemampuan diplomasi yang tangguh dan meyakinkan, seperti dulu pernah diperlihatkan Agus Salim, Hatta, Sjahrir, Roem, LN Palar, Adam Malik, Soedjatmiko, Mochtar Kusumaatmadja, dan masih ada nama-anam lain. Ada semacam kekosongan di ruang diplomasi ini karena banyak dihuni oleh birokrat yang bekerja umumnya secara mekanis dan tunggu perintah,” paparnya, di hadapan sekitar 500 pejabat dan tokoh berbagai kalangan, termasuk Gubernur Sumbar Gamawan Fauzi.
Pada bagian lain Syafi’i Maarif menyorot betapa kumuhnya lingkungan budaya bangsa ini. Di mana-mana ditemui kenyataan merajalelanya cara hidup ikan lele. Semakin air keruh, semakin laham makannya. Fatwa agama, pengarahan pejabat, seruan adat, sudah lama tak berfungsi.
“Jika ada ungkapan lama sebagai kritik terhadap kebebalan seseorang; masuk telinga kanan, keluar telingga kiri, sekarang kondisinya semakin hitam. Masuk telinga kanan, keluar telinga kanan. Segala kritik sosial, nasehat-nasehat agama, petuah-petuah adat seakan-akan tak ada gunanya lagi. Nurahi dan akal sehat sudah lama lumpuh,” jelasnya.
Dipaparkan, di lingkungan birokrasi dan aparatur negara dalam upaya melawan korupsi, misalnya, fakta terlihat dalam formula yang menghebohkan ini; “Koruptor dan aparat penegak hukum sebenarnya bersahabat!”.
Menurut Syafi’i, Indonesia sedang kehilangan kesungguhan dalam mengurus bangsa dan negara. Dalam suasana mentalitas dan budaya yang keruh ini, adalah sebuah nonsens besar bila para elite masih juga berbicara tentang idealisme, hari depan bangsa, dan tentang melawan kemiskinan, sementara laku mengkhianati itu semua tanpa rasa dosa. Perasaan tidak takut kepada dosa dan dusta adalah salah satu buah dari penyakit “mentalitas menerabas” yang semakin kronis menggerogoti urat nadi bangsa ini. (NAL)
Sumber : Kompas/29-12-2007
Bagaimana dengan Pidato Kebudayaan dan Kerakyatan Yusril Ihza Mahendra… ?? Kita tunggu cerita cerita dongeng selanjutnya ……
December 30th, 2007 at 4:22 am
Yusril Ihza Mahendra (komentar #22)
#21 Jebee. Yang saya ceritakan adalah sebuah realitas. Bukan dongeng. He he, terima kasih atas komentarnya. Kapan-kapan baru nulis pidato kebudayaan.
December 30th, 2007 at 4:49 pm
jebee (komentar #23)
#22 Pak YIM. “Koruptor dan aparat penegak hukum sebenarnya bersahabat!” adalah sebuah realitas juga kan ?? he he, terima kasih atas tanggapannya. Tetapi komentar saya pada #8 belum ditanggapi tuh, apa saat Bapak memimpin departemen Kehakiman dan HAM serta memimpin Setneg juga begitu realitasnya… ?? he he…
December 30th, 2007 at 6:48 pm
Tari (komentar #24)
Halo Pak Yusril,
Saya lagi mencari2 legenda belitung nih yang berkaitan dgn bentang alam/geomorfologi belitung, dan ingin dibandingkan dengan penjelasan ilmiah dari sudut pandang geologis. Saya berencana membuatnya menjadi tulisan yang menarik untuk menarik wisatawan ke Belitung.
Bapak punya kumpulan Legenda Belitung?
Trims sebelumnya
January 1st, 2008 at 12:26 pm
Wawan Darmawan (komentar #25)
Selamat Tahun baru 1429H Bang Yusril …….
Tulisan bapak bagaikan air mengalir, runtut, sistemik, dan mampu dideskripsikan dengan mudah oleh para pembaca awam termasuk saya, Saya juga sebenarnya banyak belajar dari tulisan-tulisan bapak, saya dukung terus ceritanya, karena banyak pengalaman hidup bapak yang dapat kita petik sebagai pembelajaran baik itu di masa kecil, remaja, dewasa atau bahkan kehidupan dalam dunia pekerjaan dan karir. Terutama saat-saat bang Yusril aktif di pemerintahan. Jika bang Yusril ada waktu menyempatkan berkunjung ke blog saya, maka dengan senang hati saya menerimanya. Paling tidak ada hal yang ingin sampaikan kepada bang Yusril, sehubungan dengan amanah teman2 di Mesjid Al-Baitullah sebagai panitia pembangunan Mesjid Al-Baitullah yang sedang kami kerjakan. Tulisan abang menginspirasi saya untuk juga rajin menuliskan berbagai pernak-pernik kehidupan, khususnya menuliskan berbagai hal yang menyangkut rintangan dan hambatan atau suka cita sebagai panitia pembangunan mesjid ini. Saya ikuti terus tulisan2nya lewat blog bang Yusril. Thx
January 11th, 2008 at 11:50 am
doni (komentar #26)
salout utk bung yus dari temen lamamu.
May 16th, 2008 at 2:59 pm
IT.FT.ITB.DADANG SACHIR 93 EL/WRITER R893ST1,ITB/INTENBSP42+YAKEU (komentar #27)
PAK JUSRIL SAYA TURUT PRIHATIN PADA KEADAAN SEKARANG, KADANG 2 SAYA PIKIR2 MAU DIBAWA KEMANA KITA INI,.
SAYA ADA BUKU YANG KAYAKNYA( HASIL RESUME R893ST1) NAMANYA R7893ST1 MAN+DILLA, SEKITAR 600 HALAMAN YANG DIBIKIN CD KECIL. SAYA ADA MAKSUD UNUK BAHAN MASUKAN BAGI BUDAYAWAN MUDA, HANYA PROBLEMNYA SULIT MEBUAT KATA KATA YANG INDONESIA CRUCIAL. BOLEH SAYA KIRIM KEPADA BAPAK SEBAGAI BAHAN MASUKAN/INPUTAN DARI BANDUNG BSP43 / A.N NIKE +ACTI65, SAYA HARAPKAN KIRANYA BAPAK DAPAT KIRIM EMAIL SEHINGGA SAYA DAPAT KIRIMKAN SALINANNYA VIA EMAIL BAPAK. EMAIL SAYA: RIIIBONDILLABASEACTI2002@GMAIL.COM. SALAM DARI KEPRIHATINAN. BANDUNGSPIRIT42.
May 19th, 2008 at 1:00 pm
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda