Suatu hal yang agak aneh, siaran Radio Malaysia yang menggunakan Bahasa Melayu dari Kuala Lumpur dan Serawak terdengar lebih jelas. Namun di zaman itu, rakyat tidak sembarangan boleh menyetel Radio Malaysia. Hubungan kita dengan negara tetangga itu dari hari ke hari makin memburuk. Ketika tahun 1963, Presiden Sukarno mengumumkan konfrontasi, maka mendengar siaran radio Malaysia dilarang aparat keamanan. Rakyat hanya disuruh mendengar pidato Presiden Sukarno dan Menlu Subandrio yang berapi-api melalui RRI. Isinya tentang Nasakom, Jarek, Tavip, Ganyang Malaysia dan entah apa lagi. Pidato-pidato itu hanya memusingkan kepala. Kami anak-anak tidak tertarik mendengarnya. Ayah saya, mantan aktivis Masyumi, juga nampak tak begitu senang mendengar pidato Sukarno. Isinya propaganda saja, kata beliau. Beliau nampak kesal, setelah tokoh-tokoh Masyumi, Mohammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara dan Burhanuddin Harahap ditangkap Sukarno dan dijebloskan ke dalam penjara. Natsir dan Sjafruddin pernah datang ke Belitung menjelang Pemilu 1955. Ayah saya menjadi panitia menyambut mereka. Pidato Natsir di Gedung Nasional Tanjung Pandan, sangat berkesan dalam pikiran ayah saya. Sjafruddin malah datang ke Manggar. Ibu saya menyediakan makanan untuk menjamunya. Waktu itu, ibu saya menjadi Ketua Muslimat Masyumi tingkat kecamatan.
Keberadaan radio di kampung kami benar-benar dirasakan kalau orang kampung ingin mendengar pertandingan badminton. Mereka pendukung fanatik regu Thomas Cup Indonesia. Semua mendukung Ferry Sounoville dan Unang, dua jagoan bulutangkis Indonesia di zaman itu. Tetangga-tetangga datang ke rumah kami ingin mendengar radio yang suaranya sayup-sayup sampai itu. Begitu juga rumah tetangga lain yang memiliki radio. Suatu hari saya mendengar Ferry Sonoville berhasil mengalahkan lawannya, mungkin dari Swedia. Namanya saya sudah lupa. Namun pada set pertama Ferry kalah. Keesokan harinya, ketika saya duduk-duduk di pantai, adik kakek saya, Pak Yakub, bertanya kepada saya, apakah Ferry Sounoville menang dalam pertandingan semalam. Kakek saya itu seorang guru SD merangkap tengkulak ikan, sehingga tiap hari ada di pantai menunggu nelayan pulang melaut. Saya katakan, Ferry menang, walau kalah si set pertama.
Saya tanya apa Kik Kub – demikian saya memanggil Pak Yakub — tidak mendengar radio tadi malam. Beliau bilang mendengar, tapi terhenti setelah satu set tatkala Ferry kalah. Saya agak heran mendengarnya. Siaran radio, kata Pak Yakub, berhenti gara-gara Kik Bulu – panggilan orang kampung kami yang bernama Arsyad — emosi ketika Ferry kalah. Saking kesalnya, loudspeaker radio yang terbuat dari papan tripleks itu ditegam (dipukul menggunakan lengan tangan) oleh Kik Bulu hingga tegerabai (rusak berantakan). Akibatnya radio listrik mereka tak berfungsi lagi. Pak Yakub nampak jengkel dengan kelakuan temannya, Kik Bulu, yang emosional itu. Akibatnya semua pendengar radio bubar pulang ke rumah masing-masing. Namun beliau nampak gembira setelah saya ceritakan Ferry Sounoville menang. Kik Kub mengatakan akan mendengar siaran radio lagi nanti malam di rumah tetangga yang lain, ketika pertandingan Thomas Cup akan dilanjutkan. Kik Bulu memang brengsek, katanya kesal. Gara-gara dia, tetangga tidak dapat mendengar siaran Thomas Cup.
Selain radio dan mesin jahit itu, ayah saya memiliki sebuah sepeda, yangtelah ada sejak kami tinggal di Tanjung Pandan. Sepeda itu setiap hari dipergunakan ayah saya pergi bekerja,berceramah, membonceng ibu saya ke pasar, sampai mengangkut air dan membawa kayu bakar yang kami ambil dari hutan. Semua anak-anak, berjalan kaki saja ke mana-mana. Ketika kami pindah ke Kampung Sekip itu, dua kakak saya, Yusmin dan Yusfi, sudah masuk SMP. Sekolah mereka di dekat Kantot Polisi – kami menyebut kawasan itu Tangsi – yang berjarak kira-kira 3 km dari rumah kami. Mereka pergi ke sekolah berjalan kaki. Karena itu pagi-pagi sekali mereka telah meninggalkan rumah dan pulang ketika telah sore. Kakak saya yang paling tua, Yuslim, pada tahun 1963 melanjutkan pendidikan ke PGA 6 Tahun di Palembang. Anak-anak yang lain masih SD. Saya, Yusron, dan Yuslaini, ketika kami pindah ke Kampung Sekip tahun 1961, belum sekolah.
Dengan satu anak bersekolah di Palembang, dua masuk SMP dan dua masih SD, maka beban keluarga saya terasa sungguh sangat berat. Keadaan ekonomi pada tahun 1961 terasa makin sulit. Ayah saya tidak punya pekerjaan tambahan, selain menjadi pegawai negeri walau jabatannya Kepala KUA. Kantor KUA yang dikepalai ayah saya itu terletak di samping Masjid Kampung Lalang. Kantor itu tidak nampak sebagai kantor pemerintah. Bangunannya mirip rumah sederhana terbuat dari kayu dan beratap seng. Pegawai di kantor itu hanya tiga orang. Ayah saya sendiri sebagai Kepala KUA, Tahir sebagai sekretaris dan Saleh sebagai petugas administrasi merangkap opas pengantar surat di kantor itu. Pekerjaan Kepala KUA itu, nampak sebagai pekerjaan setengah formal, setengah informal.
Formal, karena kantor itu adalah unit birokrasi paling bawah dari Departemen Agama RI yang langsung berurusan dengan masyarakat. Informal, karena jabatan Kepala KUA itu adalah setingkat di atas penghulu. Jadi jabatan itu semacam tokoh masyarakat saja, yang sehari-hari menangani urusan keagamaan, mulai anak lahir, urusan perkawinan sampai menyelenggarakan pemakaman orang yang meninggal. Selain mengurusi Kantor Urusan Agama, ayah saya sibuk berdakwah, membaca khutbah di setiap Jum’at dan menerima tamu orang-orang yang datang meminta nasehat, bimbingan dan petunjuk. Dengan kesibukan sepanjang hari, bahkan hingga larut malam seperti itu, ayah saya tidak banyak waktu untuk mengurusi keluarga. Kadang-kadang beliau mendapat uang tambahan, kalau ada pasangan yang menikah memberikan uang sekedarnya. Namun kegiatan memberi ceramah, kegiatan itu sukarela saja. Orang sudah mau mendengar pengajian saja, bagi beliau sudah sangat bagus.
Ayah saya tidak pernah lagi aktif dalam gerakan politik setelah kami pindah ke Manggar. Partai Masyumi yang beliau menjadi pengurusnya di tingkat cabang, telah dibubarkan Presiden Sukarno pada akhir tahun 1960. Sejak itu, ayah saya tidak pernah mau menjadi anggota partai politik manapun juga. Sekali Masyumi tetap Masyumi, katanya kepada kami suatu ketika. Teman-temannya yang lain, Pak Abubakar Madjid, Salman, Talib Sjarief dan paman saya Arba’ie menggiatkan Partai Syarikat Islam Indonesia (PSII) setelah Masyumi bubar. Ayah saya tidak mau menjadi anggota PSII. Beliau hanya ingin berdakwah saja. Paman saya yang lain, Adam yang sehari-hari menjadi penghulu, malah menjadi aktivis PNI melalui Djami’atul Muslimin Indonesia (Djamus). Beliau pengagum berat Sukarno, beda dengan ayah saya yang nampak kurang suka kepada Sukarno. Pada tahun 1960an itu, ayah saya berpendangan bahwa Sukarno sudah dipengaruhi PKI. Negara kita, kata beliau, makin bergerak ke kiri.
Sungguhpun tidak terlibat langsung dalam gerakan politik, ayah saya tetap mengikui perkembangan politik dengan intensif. Beliau mengingatkan tetangga terhadap bahaya Komunis dan menasehati agar mereka jangan menjadi anggota PKI atau organisasi satelitnya. Saya masih ingat, kekhawatiran ayah saya terhadap gerekan Komunis itu, ketika diselenggarakan peringatarn Hari Buruh di tahun 1963. Ada pawai sangat panjang dari kaum buruh yang tidak henti-hentinya meneriakkan yel-yel anti kapitalis dan imperialis, serta dukungan kepada kaum proletar. Saya mengikuti beliau menyaksikan pameran Hari Buruh di MPB (Medan Pertemuan Buruh) perusahaan timah, yang seluruh ruangannya dihiasi kain berwarna merah seperti rumah mau terbakar.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 27th, 2007
38 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)”
Pages: « 1 [2] Show All
Ahmad akbar nasution (komentar #31)
#12 Yusril Ihza Mahendra menulis:
“Apalagi Pak Buyung Nasution, anggota Wantimpres, biarkan saja beliau ngomong apa saja, tidak perlu ditanggapi serius. Saya hanya ketawa-ketawa saja membaca komentar Pak Buyung yang menolak saya yang disebut-sebut dicalonkan SBY menjadi Ketua MK”.
Pak yusril, komentar seperti diatas, tidak sepantasnya anda tulis di blog dan menganggap bang Butung Nasution “menolak anda menjadi anggota MK”. Bang Buyung tidak mengatakan “menolak” pak yusril kok. Hanya mengatakan bahwa dirinya sebagai Majelis pertimbangan presiden tidak mengetahui berita pak yusril di Cekeas. namun kok tiba-tiba media massa mengetahui keberadaan anda di cikeas, dan berita ttg PakYusril di media massa mengeruak.Yg jadi pertanyaan kok media massa dan wartawan mengetahui keberadaan anda di cikeas? dan mengapa media mengekspos berita ttg Yusril dan MK? saya tidak begitu ambil pusing apakah kepentingan ini mengarah pada pemilu 2009. namun yg ingin saya katakan sesama ahli hukum tidak boleh mendahului bung..:)
Bang buyung sdh terlalu lama berpengalaman soal “hukum” , jadi mohon dihargai…
salam hangat dan dashyat
ahmad akbar Nasution
January 2nd, 2008 at 6:13 pm
david oktaviandi (komentar #32)
Ass. Wr. Wb
Bang Yusril, saya sangat bangga dan haru membaca pengalaman hidup abang. Kadangkala punya keinginan menulis seperti yang abang tuturkan. Oya, Bang kapan berkunjung ke Pulau Bangka, memberikan ide2 cemerlang supaya pembangunan di Provinsi kite cepat berkembang. Selamat buat Abang, semoga abang dapat terus berkarya dan dapat diikuti oleh kami2 yang sedang berjuang ini di rantau ini dan semoga saya juga cepat menyelesaikan studi saya di ITB. Aoklah, salam buat keluarga semoga sehat selalu Amin……..
January 3rd, 2008 at 10:13 am
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI) — Yusril Ihza Mahendra (komentar #33)
[...] saya mulai tertarik dengan laut ketika memasuki usia tujuh tahun. Seperti telah saya singgung pada Bagian V, saya sesekali ikut pergi ke tepi pantai bersama kakak saya Yusfi. Tapi karena dia makin sibuk [...]
January 5th, 2008 at 11:00 am
Vavai (komentar #34)
#31 Ahmad Akbar Nasution
Pak/Mas Akbar, di Metro TV disampaikan bahwa Adnan Buyung Nasution menyampaikan bahwa Yusril tidak pantas menjadi ketua MK.
Itulah hebatnya wartawan. Saya masih ingat salah seorang wartawan Kompas (Persada Network tepatnya), Domuarita Ambarita menyinggung pertemuan ini dalam salah satu komentarnya, bahkan mungkin sebelum beritanya dimuat di media massa… Soal mengapa media mengulas tentang Pak Yusril dan MK, karena posisi MK sangat strategis dan punya nilai jual berita. Jika menjadi wartawan, berita pertemuan pak Yusril dengan SBY setelah hiruk pikuk reshuffle kabinet tentu pantas dijadikan berita.
Yang mendahului justru pak Buyung. Lha dia malah sudah menyatakan menolak pak Yusril menjadi ketua MK padahal diusulkanpun belum. Saya melihatnya sebagai bentuk rasa terlangkahinya pak Adnan Buyung sebagai Wantimpres bidang hukum.
Soal terlalu lama berpengalaman, tentu dengan segudang pengalaman itu pak Adnan Buyung semestinya bisa lebih bijak dalam mengeluarkan komentar pada sesuatu yang bahkan masih sumir kabar kebenarannya. Justru respon pak Adnan Buyung yang terlalu cepat ini malah jadi menimbulkan praduga-praduga.
Oh ya, saya masih ingat pak Adnan Buyung sempat ditulis dalam posting pak Yusril soal Uang Tommy di Bank Paribas. Silakan dibaca satu baris kalimat terkait pak Adnan Buyung yang mungkin terlewarkan.
January 5th, 2008 at 11:32 am
a.malik (komentar #35)
Seputar issue Pak Yusril hendak diangkat menjadi Ketua MK menjadi ramai baik oleh komentar politisi, pakar atau juga fihak lainnya akan menjadi menarik lagi apabila Pak Yusril menanggapi secara jernih dari aspek hukumnya maupun dari segi etika termasuk didalammnya keseponanan politik.Saya orang awam dalam bidang hukum dan tidak pernah terjun kedunia politik tetapi mengikuti perkembangan politik bahkan sejak pemilu pertama. (Jadi saya jauh lebih tua dari Pak Yusril, seharusnya saya panggil dik Yusril ,tetapi karena ilmu beliau lebih tinggi saya harus memangilnya Pak Yusril .)
Kembali kepada pokok persoalan , menurut pengetahuan saya Ketua MK dipilih oleh para anggautanya dan bukan diangkat (lebih tegasnya ditunjuk) oleh Presiden.Jadi orang apapun gelarnya apalagi oleh anggauta DPR atau Pakar ataupun seorang Sarjana Hukum yang menyerang Pak Yusril ataupun SBY dengan alasan “mengangkat” pak Yusril sebagai Ketua MK . Ini kan aneh menanggapai sesuatu yang tidak mungkin atau mereka memang tidak mengetahui ketentuan yang berlaku, kalau ini yang berlaku mau menuju kemana bangsa ini kalau para elits pola fikirnya seperti itu. Issue alat penyididik jari Dephumkan dan pencairan “uangtomy” dijadikan alasan komentar mereka.Kalau ini alasannya dimana azas praduga tak bersalah harus diletakkan padahal semua elits berteriak mengenai supremasi hukum.Kalau dalam hukum Islam ini namanya sikap suudzon yang sangat dilarang oleh agama.Kalau memang mereka yang berkomentar tersebut merupakan pendekar anti korupsi dan penegakkan supremasi hukum ajukan laporan kepada fihak yang berwenang dengan bukti-2 yang kuat. Saya berpendapat issue negatif terhadap Pak Yusril akan terus bergulir sampai pemilu 2009 dan kemudian akan gencar kembali tahun 2010 menghadap pemilu berikutnya.Latar belakang perkiraan ini-tentu sebagai orang awam - karena pada pemilu 2009 pemimpin masa kini akan lenyap dari peredaran dan akan timbul tokoh-2 muda. Diantara tokoh muda yang ada sekarang ini harus diakui suka atau tidak suka Pak Yusril berada dalam urutan pertama dalam hal kemampuannya dan kemungkinan terpilih menjadi Presiden 2014 akan terbuka lebar ,ini yang mereka takuti karena Pak Yusril akan menegakkan supremasi hukum ,etika dan tentu saja pelaksanaan hukum Islam dimana memungkinkan.(Insya Allah)
Karena itu yang harus dilakukan oleh Pak Yusril adalah mengclearkan issue negatif terhadap dirinya ,blog ini merupakan salah satunya, atau cara lain sesuai dengan hukum yang berlaku. Selain menyebar luaskan ide-2 segar untuk kepentingan bangsa ini. Terakhir perkuat barisan , perjuangkan secara konsisten demokrasi dan supremasi hukum sesuai dengan karakter tokoh-2 Masyumi dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah dan meminta petujuNya
January 5th, 2008 at 2:23 pm
a.malik (komentar #36)
Dugaan saya mengenai akan terus bergulirnya issue negatif terhadap Pak Yusril akan terus bergulir mendekati kenyataan. Dalam berita kemarin dilansir mengenai lenyapnya uang BHS pada zaman Pak Yusril jadi Menteri. Dalam berita tersebut tidak dijelaskan lenyapnya uang tersebut digunakan oleh siapa dan untuk apa dan apakah melanggar peraturan,berita ini tentu menyesatkan. Baca pula tajuk rencana Media Indonesia hari ini 8/12008 yang menyatakan bahwa kredibilitas MK akan terganggu apabila pAK Pak Yusril menjadi anggauta HAKIM mk. Walaupun dinytakan bahwa Pak Yusril tidak tersangkut dalam issue negatif tersebut tetapi pendapat masyarakat yang menyebabkan kredibilitas MK akan terganggu bila Pak Yusril yang katanya mempunyai track record yang jelek.tERUS TERANG SAYA TIDAK MENGERTI LOGIKA BERFIKIR KORAN INI,. Untuk itu dengan segala hormat sudah waktunya Pak Yusril lebih offensip untuk mengcounternya. Kalau dibiarkan terus terus seperti kata ahli propaganda suatu kebohongan yang terus menerus ditiupkan akhirnya dianggap menjadi kebenaran.
January 8th, 2008 at 8:18 am
adi riyadi (komentar #37)
Bang, ada apa sih sebenarnya Abang dengan Adnan Buyung Nasution (ABN)? Dia kok begitu berlebihan menyikapi berbagai perilaku Abang. Semuanya disikapi ’salah’ dan seolah-olah Abang nggak ada benarnya. Bilang saja ke ABN bahwa, nggak ada untungnya Abang jadi ketua MK. Kalau ABN mau, suruh ambil saja jabatan ketua MK. Biasanya orang yang banyak menentang itu, jangan-jangan malah….. Ya, ada udang di balik batu lah. Bung ABN, Ente itu mestinya berterima kasih sama Bang Yusril. Ente diangkat oleh SBY itu berkat dukungan PBB, partai yang didirikan dan dibesarkan Yusril. Sedangkan sumbangan Ente apa terhadap naiknya SBY jadi presiden? Toh saat Bung ABN diangkat menjadi Wantimpres oleh SBY, Bang Yusril juga tidak menghalangi. Padahal, kalau Yusril mau, tidak sulit bagi beliau untuk menghalangi Ente jadi Wantimpres. Kalaupun Bang Yusril legawa diberhentikan SBY sebagai Mensesneg, menurut hemat saya, itu merupakan sikap kenegarawanan Bang Yusril meski dikecewakan SBY. Jadi, saya pesan, Bung ABN yang realistis saja menyikapi segala sesuatu dari YIM. Toh kebenaran itu bisa datang dari siapa saja, termasuk dari seorang Yusril sekalipun.
Buat Bang Yusril. Nggak usah ditanggapi sikap berlebihan ABN itu. Buang-buang energi. Toh tidak ada untungnya berdebat dengan ABN yang sekarang tidak banyak bersuara untuk rakyat itu. Masih banyak pekerjaan yang harus Abang selesaikan untuk bangsa dan negara ini. Negara ini butuh orang-orang yang mau berbuat, bukan orang yang hanya bisa berdebat dan ‘menghambat’. Indonesia butuh pemimpin yang tegas dan tidak butuh pemimpin yang membuat rakyat selalu was-was. Akibat kenaikan BBM, rawan pangan, dan sebagainya.
Kalau nggak keberatan, saya mohon Abang kasih komentar…..
Terima kasih atas saran dan pandangannya. Saya sebenarnya memang enggan meladeni Pak Buyung. Biarlah beliau bicara apa saja yang diinginkannya. Saya tidak ingin mengungkapkan keburukan orang lain, walau saya mengetahuinya. Pak Buyung sendiri tidak mungkin menjadi hakim dan ketua Mahkamah Konstitusi karena faktor usia. Usia beliau sekarang sudah di atas 70 tahun, sedangkan hakim MK otomatis pensiun di usia 67 tahun.
Seperti telah saya katakan kepada media, saya hampir 100 persen akan menolak menjadi hakim MK. Untuk menjadi hakim MK, tidak diperlukan dukungan politik, karena jabatan itu adalah jabatan keahlian di bidang hukum, khususnya hukum tatanegara. Saya ingin memperkuat dan medongkrat suara PBB dalam pemilun 2009, sehingga memungkinkan saya maju dalam pemilu Presiden nanti.
Demikian tanggapan saya (YIM)
March 4th, 2008 at 12:44 am
teguh santoso (komentar #38)
Wah,ternyata Pak Yusril yang saya sering liat di TV necis yang saya pikir anak kota itu punya pengalaman masa kecil yang luar biasa.Mungkin itu yang menempa anda sehingga menjadi seperti sekarang.Sukses pak and kapan2 diceritaiin juga kenangan pas pacaran :)
November 4th, 2008 at 9:33 pm
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda