Ikan-ikan kemuring itu kami masukkan ke dalam tempurung kelapa yang diberi tangkai kawat tembaga yang diisi air. Ikan gabus hanya mau makan umpan yang hidup. Ikan kemuring itu kemudian dikaitkan pada mata pancing yang diikat dengan nilon kira-kira 1 meter panjangnya. Nilon itu diikat pada akar-akar pohon Gelam yang banyak tumbuh di danau. Kalau pancing itu sudah dimakan gabus, maka suara gabus menggelepar akan segera terdengar. Kami menghampirinya, melepas pancing dari mulut ikan dan memasukkannya ke dalam karung timah yang diisi air, agar Gabus itu tetap hidup sampai kami pulang. Selain gabus, kadang-kadang kami dapat ikan Keli (ikan Lele), ikan Mentutu (Ikan Malas). Sesekali kami juga dapat Ikan Bulan, bahkan Ikan Tengkelesak (ikan Arwana). Di zaman itu ikan Tengkelesak atau ikan Arwana tidak ada harganya. Ikan Arwana itu digulai saja. Rasanya lebih enak dari ikan Gabus.
Ikan Gabus yang masih hidup setibanya kami di rumah, kami pelihara di dalam tong, untuk persediaan makan beberapa hari. Kalau ikannya sudah mati, ibu saya memanggang ikan itu hingga kering sehingga tahan beberapa hari. Kalau Yusfi dan saya tidak memancing atau mendapat ikan setelah membantu nelayan mengangkat perahu, kami di rumah hanya makan ikan selar atau ikan jui asing yang harganya memang murah. Ikan asin itu digoreng atau dipanggang saja, kalau tidak ada minyak kelapa. Untuk sayur, saya sering memetik nangka muda di tanah pekuburan Kampung Lalang.Kadang-kadang sendiri, kadang-kadang dengan ayah saya. Kadang-kadang dibantu Kik Jahari, orang Jawa penjaga kuburan itu. Saya juga sering memetik jantung pisang di halaman Mesjid Kampung Lalang. Nangka muda dan jantung pisang itu digulai dengan santan, dan sering ditambahkan kepala ikan asing agar terasa lebih enak. Di belakang rumah kami, sengaja kami tanami pohon singkong karet – di Jakarta orang menyebutnya singkong racun — yang pohonnya lebih besar dari singkong biasa. Umbi singkong karet tidak bisa dimakan, karena mengandung racun. Namun pucuknya dapat dipetik hampir setiap hari karena tumbuhnya cepat sekali. Daun singkong karet itu bisa digulai dengan santan, atau direbus saja dimakan dengan sambal terasi dan ikan asin. Kalau perut sudah lapar, nikmatnya tiada terkira.
Kami juga menanam keladi, yang mudah tumbuh di saluran pembuangan air. Keladi itupun menjadi makanan kami sehari-hari. Selain keladi, kami juga menanam oyong dan ketule, buah sejenis oyong juga. Segala keperluan bumbu-bumbu semua kami tanam, mulai dari lengkuas, serai, kunyit dan jahe. Kalau kemiri, kami punya pohonnya yang besar di rumah kakek saya. Buah kemiri kadang-kadang kami pakai untuk bermain, namanya main kumbek. Cabe juga ditanam, walau kadang-kadang tidak mencukupi, sehingga harus membeli. Karena ayah saya kadang-kadang menerima gaji kadang-kadang tidak, maka untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari yang tak mungkin kami dapat dari alam, maka terpaksa keluarga kami harus berhutang di warung sekitar rumah kami.
Walau saya baru berumur 5-6 tahun, ada perasaan malu juga saya disuruh berhutang di warung, walau si pemilik warung nampak tetap ramah dan mencatat barang-barang yang kami hutang di buku hutang mereka. Perasaan malu itu makin bertambah, jika kebetulan ada orang lain yang juga belanja dengan membayar kontan. Namun, daripada tidak dapat memenuhi kebutuhan yang mendesak, apa boleh buat kami harus berhutang. Tiga warung yang sering saya disuruh ibu saya berhutang itu ialah kepunyaan Jamaudin – yang biasa kami panggil Pak Akam — warung kepunyaan Arif dan warung kepunyaan Jelani.Pak Akam adalah sahabat ayah saya. Sedang Arif dan Jailani masih tergolong keluarga.
Apa yang disuruh ibu saya hutangkan di warung itu sebenarnya adalah barang-barang yang sederhana, yakni gula pasir, tepung kanji, tepung tapioka, sabun cuci, odol, terasi, asam Jawa, terasi dan kadang-kadang juga ikan asin. Bahkan kadang-kadang cabe juga harus berutang, jika cabe di kebun kami tidak berbuah. Seingat saya, tak pernah saya disuruh berhutang beras. Kalau beras jatah pegawai negeri telah habis, ibu saya akan menyuruh saya meminta beras ke rumah nenek, seperti telah saya ceritakan. Saya selalu berjalan kaki pergi ke warung-warung itu, dengan baju kumal dan celana ditambal, tanpa alas kaki. Kadang-kadang sambil menarik mobil-mobilan dari kayu, atau mendorong gelindingan, yakni lingkaran terbuat dari kawat besi yang didorong dengan tangkai besi juga yang diberi ujung kayu sambil berjalan atau setengah berlari. Dengan menarik mobil-mobilan atau mendorong gelindingan, saya tidak merasa bosan berjalan ke warung-warung dan pulang ke rumah membawa barang-barang yang diminta ibu saya untuk dihutang itu. Ayah saya nampak konsisten membayar hutangnya. Begitu gajian diterima, maka yang pertama kali dilakukan adalah membayar lunas hutang-hutang itu. Saya tahu, gaji yang tersisa setelah membayar hutang-hutang itu tinggal sedikit sekali. Mungkin tidak cukup untuk biaya makan satu minggu. Belum lagi untuk membayar uang sekolah kakak saya, dan mengirim uang kepada kakak saya yang tertua yang sekolah di Palembang.
Untuk membayar biaya sekolah, kakak saya Yusfi mengambil inisiatif sendiri. Sambil pergi memancing, dia pulang ke rumah memikul kayu bakar. Saya juga ikut memikul kayu yang kecil saja ukurannya. Kayu bakar itu kemudian dibelah dengan kampak, dan disusun-susun untuk dijual. Kadang-kadang saya menunggui Yusfi membuat layang-layang yang juga dijualnya. Anak-anak di kampung suka sekali bermain layang-layang di Padang Bola tidak jauh dari rumah kami. Uang menjual kayu, layang-layang dan kadang-kadang juga menjual ikan yang ditangkapnya, dapat membuat Yusfi membayar uang sekolah. Ketika kakak saya satu lagi masuk SMP di tahun 1963, beban tambah berat. Saya masih ingat, ibu saya beberapa kali menjual ayam milik kami kepada seorang perempuan Cina pedagang ayam, yang datang membeli ayam di kampung-kampung. Saya sudah lupa nama perempuan Cina setengah baya yang sering datang ke kampung mengumpulkan ayam naik sepeda.
Hasil menjual ayam itu dibelikan sepatu putih, atau sepatu karet merek Bata, dan baju seragam anak SMP. Juga membeli buku-buku, pensil dan tas sekolah. Ayam kami cukup banyak. Kami mempunyai kurungan ayam cukup besar. Tiap pagi dan sore kami memberi makan ayam itu dengan kerak nasi, limbah makanan dan ketupang, yakni ampas parutan kelapa. Sungguhpun banyak ayam, namun keluarga kami tak sekalipun memotong ayam untuk dimakan. Ayam hanya dipotong setahun sekali untuk menyambut Hari Raya Idul Fitri atau ketika ada kenduri perkawinan. Makan daging ayam bagi masyarakat Belitung di zaman itu, adalah suatu kemewahan yang luar biasa. Kami hanya mendengar daging ayam adalah makanan pegawai staf perusahaan timah. Orang kampung hanya punya ayam, tetapi sangat jarang memakannya, kecuali telurnya saja. Itupun hanya sedikit, karena telur-telur itu akan ditetaskan lagi atau dijual di warung-warung.
Saya dan anak-anak kecil yang lain akan sangat bahagia jika ada orang menyelenggarakan kenduri perkawinan. Kami biasanya berada di dapur terbuka menunggui orang memasak nasi menggunakan kawah – kuali yang ukurannya sangat besar. Kalau nasi sudah masak, maka kami akan diberi kerak nasi yang dikasi kuah gulai ayam. Daging ayamnya tentu saja tidak ada. Paling-paling yang diberikan hanyalah berutu, atau bagian dari pantat ayam. Lumayan juga. Tukang masak nasi untuk kenduri perkawinan itu adalah adik kakek saya, Pak Yakub. Beliau nampaknya sudah pakar memasak nasi dalam kawah dalam jumlah yang banyak, tanpa hangus oleh api kayu bakar yang menyala-nyala sangat besar itu. Untuk mengaduk nasi, beliau menggunakan sendok kayu yang panjang ukurannya, persis dayung sebuah perahu. Pak Yakub selalu baik kepada serombongan anak-anak yang selalu menunggui beliau memasak nasi itu.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — December 27th, 2007
38 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN V)”
Pages: « 1 [2] Show All
Ahmad akbar nasution (komentar #31)
#12 Yusril Ihza Mahendra menulis:
“Apalagi Pak Buyung Nasution, anggota Wantimpres, biarkan saja beliau ngomong apa saja, tidak perlu ditanggapi serius. Saya hanya ketawa-ketawa saja membaca komentar Pak Buyung yang menolak saya yang disebut-sebut dicalonkan SBY menjadi Ketua MK”.
Pak yusril, komentar seperti diatas, tidak sepantasnya anda tulis di blog dan menganggap bang Butung Nasution “menolak anda menjadi anggota MK”. Bang Buyung tidak mengatakan “menolak” pak yusril kok. Hanya mengatakan bahwa dirinya sebagai Majelis pertimbangan presiden tidak mengetahui berita pak yusril di Cekeas. namun kok tiba-tiba media massa mengetahui keberadaan anda di cikeas, dan berita ttg PakYusril di media massa mengeruak.Yg jadi pertanyaan kok media massa dan wartawan mengetahui keberadaan anda di cikeas? dan mengapa media mengekspos berita ttg Yusril dan MK? saya tidak begitu ambil pusing apakah kepentingan ini mengarah pada pemilu 2009. namun yg ingin saya katakan sesama ahli hukum tidak boleh mendahului bung..:)
Bang buyung sdh terlalu lama berpengalaman soal “hukum” , jadi mohon dihargai…
salam hangat dan dashyat
ahmad akbar Nasution
January 2nd, 2008 at 6:13 pm
david oktaviandi (komentar #32)
Ass. Wr. Wb
Bang Yusril, saya sangat bangga dan haru membaca pengalaman hidup abang. Kadangkala punya keinginan menulis seperti yang abang tuturkan. Oya, Bang kapan berkunjung ke Pulau Bangka, memberikan ide2 cemerlang supaya pembangunan di Provinsi kite cepat berkembang. Selamat buat Abang, semoga abang dapat terus berkarya dan dapat diikuti oleh kami2 yang sedang berjuang ini di rantau ini dan semoga saya juga cepat menyelesaikan studi saya di ITB. Aoklah, salam buat keluarga semoga sehat selalu Amin……..
January 3rd, 2008 at 10:13 am
KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI) — Yusril Ihza Mahendra (komentar #33)
[...] saya mulai tertarik dengan laut ketika memasuki usia tujuh tahun. Seperti telah saya singgung pada Bagian V, saya sesekali ikut pergi ke tepi pantai bersama kakak saya Yusfi. Tapi karena dia makin sibuk [...]
January 5th, 2008 at 11:00 am
Vavai (komentar #34)
#31 Ahmad Akbar Nasution
Pak/Mas Akbar, di Metro TV disampaikan bahwa Adnan Buyung Nasution menyampaikan bahwa Yusril tidak pantas menjadi ketua MK.
Itulah hebatnya wartawan. Saya masih ingat salah seorang wartawan Kompas (Persada Network tepatnya), Domuarita Ambarita menyinggung pertemuan ini dalam salah satu komentarnya, bahkan mungkin sebelum beritanya dimuat di media massa… Soal mengapa media mengulas tentang Pak Yusril dan MK, karena posisi MK sangat strategis dan punya nilai jual berita. Jika menjadi wartawan, berita pertemuan pak Yusril dengan SBY setelah hiruk pikuk reshuffle kabinet tentu pantas dijadikan berita.
Yang mendahului justru pak Buyung. Lha dia malah sudah menyatakan menolak pak Yusril menjadi ketua MK padahal diusulkanpun belum. Saya melihatnya sebagai bentuk rasa terlangkahinya pak Adnan Buyung sebagai Wantimpres bidang hukum.
Soal terlalu lama berpengalaman, tentu dengan segudang pengalaman itu pak Adnan Buyung semestinya bisa lebih bijak dalam mengeluarkan komentar pada sesuatu yang bahkan masih sumir kabar kebenarannya. Justru respon pak Adnan Buyung yang terlalu cepat ini malah jadi menimbulkan praduga-praduga.
Oh ya, saya masih ingat pak Adnan Buyung sempat ditulis dalam posting pak Yusril soal Uang Tommy di Bank Paribas. Silakan dibaca satu baris kalimat terkait pak Adnan Buyung yang mungkin terlewarkan.
January 5th, 2008 at 11:32 am
a.malik (komentar #35)
Seputar issue Pak Yusril hendak diangkat menjadi Ketua MK menjadi ramai baik oleh komentar politisi, pakar atau juga fihak lainnya akan menjadi menarik lagi apabila Pak Yusril menanggapi secara jernih dari aspek hukumnya maupun dari segi etika termasuk didalammnya keseponanan politik.Saya orang awam dalam bidang hukum dan tidak pernah terjun kedunia politik tetapi mengikuti perkembangan politik bahkan sejak pemilu pertama. (Jadi saya jauh lebih tua dari Pak Yusril, seharusnya saya panggil dik Yusril ,tetapi karena ilmu beliau lebih tinggi saya harus memangilnya Pak Yusril .)
Kembali kepada pokok persoalan , menurut pengetahuan saya Ketua MK dipilih oleh para anggautanya dan bukan diangkat (lebih tegasnya ditunjuk) oleh Presiden.Jadi orang apapun gelarnya apalagi oleh anggauta DPR atau Pakar ataupun seorang Sarjana Hukum yang menyerang Pak Yusril ataupun SBY dengan alasan “mengangkat” pak Yusril sebagai Ketua MK . Ini kan aneh menanggapai sesuatu yang tidak mungkin atau mereka memang tidak mengetahui ketentuan yang berlaku, kalau ini yang berlaku mau menuju kemana bangsa ini kalau para elits pola fikirnya seperti itu. Issue alat penyididik jari Dephumkan dan pencairan “uangtomy” dijadikan alasan komentar mereka.Kalau ini alasannya dimana azas praduga tak bersalah harus diletakkan padahal semua elits berteriak mengenai supremasi hukum.Kalau dalam hukum Islam ini namanya sikap suudzon yang sangat dilarang oleh agama.Kalau memang mereka yang berkomentar tersebut merupakan pendekar anti korupsi dan penegakkan supremasi hukum ajukan laporan kepada fihak yang berwenang dengan bukti-2 yang kuat. Saya berpendapat issue negatif terhadap Pak Yusril akan terus bergulir sampai pemilu 2009 dan kemudian akan gencar kembali tahun 2010 menghadap pemilu berikutnya.Latar belakang perkiraan ini-tentu sebagai orang awam - karena pada pemilu 2009 pemimpin masa kini akan lenyap dari peredaran dan akan timbul tokoh-2 muda. Diantara tokoh muda yang ada sekarang ini harus diakui suka atau tidak suka Pak Yusril berada dalam urutan pertama dalam hal kemampuannya dan kemungkinan terpilih menjadi Presiden 2014 akan terbuka lebar ,ini yang mereka takuti karena Pak Yusril akan menegakkan supremasi hukum ,etika dan tentu saja pelaksanaan hukum Islam dimana memungkinkan.(Insya Allah)
Karena itu yang harus dilakukan oleh Pak Yusril adalah mengclearkan issue negatif terhadap dirinya ,blog ini merupakan salah satunya, atau cara lain sesuai dengan hukum yang berlaku. Selain menyebar luaskan ide-2 segar untuk kepentingan bangsa ini. Terakhir perkuat barisan , perjuangkan secara konsisten demokrasi dan supremasi hukum sesuai dengan karakter tokoh-2 Masyumi dan jangan lupa selalu berdoa kepada Allah dan meminta petujuNya
January 5th, 2008 at 2:23 pm
a.malik (komentar #36)
Dugaan saya mengenai akan terus bergulirnya issue negatif terhadap Pak Yusril akan terus bergulir mendekati kenyataan. Dalam berita kemarin dilansir mengenai lenyapnya uang BHS pada zaman Pak Yusril jadi Menteri. Dalam berita tersebut tidak dijelaskan lenyapnya uang tersebut digunakan oleh siapa dan untuk apa dan apakah melanggar peraturan,berita ini tentu menyesatkan. Baca pula tajuk rencana Media Indonesia hari ini 8/12008 yang menyatakan bahwa kredibilitas MK akan terganggu apabila pAK Pak Yusril menjadi anggauta HAKIM mk. Walaupun dinytakan bahwa Pak Yusril tidak tersangkut dalam issue negatif tersebut tetapi pendapat masyarakat yang menyebabkan kredibilitas MK akan terganggu bila Pak Yusril yang katanya mempunyai track record yang jelek.tERUS TERANG SAYA TIDAK MENGERTI LOGIKA BERFIKIR KORAN INI,. Untuk itu dengan segala hormat sudah waktunya Pak Yusril lebih offensip untuk mengcounternya. Kalau dibiarkan terus terus seperti kata ahli propaganda suatu kebohongan yang terus menerus ditiupkan akhirnya dianggap menjadi kebenaran.
January 8th, 2008 at 8:18 am
adi riyadi (komentar #37)
Bang, ada apa sih sebenarnya Abang dengan Adnan Buyung Nasution (ABN)? Dia kok begitu berlebihan menyikapi berbagai perilaku Abang. Semuanya disikapi ’salah’ dan seolah-olah Abang nggak ada benarnya. Bilang saja ke ABN bahwa, nggak ada untungnya Abang jadi ketua MK. Kalau ABN mau, suruh ambil saja jabatan ketua MK. Biasanya orang yang banyak menentang itu, jangan-jangan malah….. Ya, ada udang di balik batu lah. Bung ABN, Ente itu mestinya berterima kasih sama Bang Yusril. Ente diangkat oleh SBY itu berkat dukungan PBB, partai yang didirikan dan dibesarkan Yusril. Sedangkan sumbangan Ente apa terhadap naiknya SBY jadi presiden? Toh saat Bung ABN diangkat menjadi Wantimpres oleh SBY, Bang Yusril juga tidak menghalangi. Padahal, kalau Yusril mau, tidak sulit bagi beliau untuk menghalangi Ente jadi Wantimpres. Kalaupun Bang Yusril legawa diberhentikan SBY sebagai Mensesneg, menurut hemat saya, itu merupakan sikap kenegarawanan Bang Yusril meski dikecewakan SBY. Jadi, saya pesan, Bung ABN yang realistis saja menyikapi segala sesuatu dari YIM. Toh kebenaran itu bisa datang dari siapa saja, termasuk dari seorang Yusril sekalipun.
Buat Bang Yusril. Nggak usah ditanggapi sikap berlebihan ABN itu. Buang-buang energi. Toh tidak ada untungnya berdebat dengan ABN yang sekarang tidak banyak bersuara untuk rakyat itu. Masih banyak pekerjaan yang harus Abang selesaikan untuk bangsa dan negara ini. Negara ini butuh orang-orang yang mau berbuat, bukan orang yang hanya bisa berdebat dan ‘menghambat’. Indonesia butuh pemimpin yang tegas dan tidak butuh pemimpin yang membuat rakyat selalu was-was. Akibat kenaikan BBM, rawan pangan, dan sebagainya.
Kalau nggak keberatan, saya mohon Abang kasih komentar…..
Terima kasih atas saran dan pandangannya. Saya sebenarnya memang enggan meladeni Pak Buyung. Biarlah beliau bicara apa saja yang diinginkannya. Saya tidak ingin mengungkapkan keburukan orang lain, walau saya mengetahuinya. Pak Buyung sendiri tidak mungkin menjadi hakim dan ketua Mahkamah Konstitusi karena faktor usia. Usia beliau sekarang sudah di atas 70 tahun, sedangkan hakim MK otomatis pensiun di usia 67 tahun.
Seperti telah saya katakan kepada media, saya hampir 100 persen akan menolak menjadi hakim MK. Untuk menjadi hakim MK, tidak diperlukan dukungan politik, karena jabatan itu adalah jabatan keahlian di bidang hukum, khususnya hukum tatanegara. Saya ingin memperkuat dan medongkrat suara PBB dalam pemilun 2009, sehingga memungkinkan saya maju dalam pemilu Presiden nanti.
Demikian tanggapan saya (YIM)
March 4th, 2008 at 12:44 am
teguh santoso (komentar #38)
Wah,ternyata Pak Yusril yang saya sering liat di TV necis yang saya pikir anak kota itu punya pengalaman masa kecil yang luar biasa.Mungkin itu yang menempa anda sehingga menjadi seperti sekarang.Sukses pak and kapan2 diceritaiin juga kenangan pas pacaran :)
November 4th, 2008 at 9:33 pm
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda