Beranda

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)

Kami berenang di laut itu kadang-kadang sampai petang. Kalau ada perahu nelayan datang, kami sibuk membantu nelayan mengangkat perahu, membersihkannya dan menaruh ikan dalam keranjang rotan untuk ditimbang di pondokan tepi pantai. Selesai melakukan pekerjaan itu, semua anak-anak yang membantu diberi upah satu atau dua ekor ikan ukuran kecil oleh nelayan. Kalau tangkapan ikan sangat sedikit, kami tidak diberi apa-apa. Ikan-ikan itu kami cucuk dengan akar atau rotan dan digantungkan di pondok itu. Kami berenang lagi, menunggu nelayan lain yang datang. Kami bekerja membantu mereka lagi. Setelah dikasi ikan, kami menambahkannya pada ikan-ikan yang sudah kami gantungkan terlebih dahulu. Kamipun berenang lagi sambil menunggu perahu lain yang datang merapat ke pantai.

Pekerjaan membantu nelayan itu terasa sungguh menyenangkan. Kami bekerja sambil bermain. Kadang-kadang menyusuri pantai mengumpulkan kerang-kerang kecil dan kadang-kadang juga kepiting pantai. Saya belajar membedakan mana kepiting yang boleh dimakan, mana kepiting yang mabuk. Saya juga mengenal nama berbagai jenis ikan. Saya juga belajar membedakan mana ikan yang masih segar, mana ikan yang sudah tidak segar lagi, tanpa harus melihat insang ikan itu. Di zaman itu, nelayan tidak membawa es untuk melaut. Mereka melaut tidak terlalu jauh, maklum hanya menggunakan perahu katir yang kecil tanpa mesin. Mereka berangkat tengah malam dan pulang siang hari. Orang Belitung kurang suka makan ikan yang sudah didinginkan dengan es itu. Mereka bilang rasanya sudah tidak enak lagi.

Kalau air surut jauh ke tengah, maka perahu katir itu harus diangkat atau dipikul beramai-ramai ke pangkalan di tepi pantai. Setelah semua nelayan pulang melaut, kamipun pulang sambil menenteng ikan yang ditusuk dengan rapi pemberian para nelayan. Ikan itu untuk makan keluarga kami masing-masing. Biasanya saya sampai di rumah sekitar pukul 3-4 sore. Kalau saya sampai ke rumah, ibu saya akan menanak nasi sambil memanggangkan ikan. Saya tentu sudah sangat lapar seharian bermain di pantai. Ikan yang dipanggang itu saya makan dengan tumbukan cabe dan garam saja. Rasanya enak sekali. Ibu saya kemudian membersihkan dan memasak ikan-ikan yang lain untuk makan malam kami sekeluarga. Ikan yang saya dapat, kadang-kadang banyak sekali. Cukup untuk dua atau tiga kali makan kami sekeluarga.

Sebelum kami mandi dan berenang, biasanya kami naik lebih dahulu ke atas bukit, untuk melihat layar perahu nelayan. Dengan melihat layar itu, kami dapat memperkirakan berapa lama lagi mereka akan mendarat di pantai. Kami tidak boleh berada di tempat yang jauh ketika perahu datang. Bisa-bisa kami tidak dapat membantu mengangkat perahu dan dengan sendirinya tak dapat upah ikan. Kadang-kadang ikan itu kami bakar juga di tepi laut, kalau perut sudah lapar sehabis berenang sambil menunggu perahu lain datang mendarat. Ikan yang saya bakar tidak pernah ikan yang utuh. Ikan yang utuh harus saya bawa pulang untuk makan keluarga kami. Ikan yang saya panggang itu ialah belahan ikan kerisi atau ikan anjang-anjang, yang sisi lainnya dijadikan umpan untuk memancing ikan tenggiri. Kadang-kadang kami juga memanggang belahan dada ikan tenggiri sisa umpan untuk memancing ikan kerisi. Belahan ikan kerisi bekas umpan itu, kami sebut ikan talep-talepan. Istilah ini mungkin berasal dari Bahasa Bawean. Namun ikan talep-talepan panggang itu enak sekali setelah dicuci dengan air laut lebih dahulu sebelum dipanggang. Kami memanggang ikan itu menggunakan sabut dan pelepah kelapa serta kayu-kayu yang hanyut di tepi pantai.

Saya bermain dengan anak-anak nelayan dan anak-anak kampung yang miskin di tepi laut itu sejak belum masuk SD hingga kelas V. Jadi lebih lima tahun lamanya, hampir setiap hari. Bisa dibayangkan, jika ketika kecil itu kulit saya hitam terbakar matahari. Rambutpun menguning karena dibasahi air laut dan teriknya sinar matahari di tepi pantai. Pakaian compang-camping dan semuanya tidak pakai alas kaki. Namun itulah kehidupan anak-anak pantai yang miskin. Anak-anak kecil sudah harus berpikir membantu meringankan beban keluarga, suatu hal yang mungkin tidak pernah terpikirkan anak-anak di kota dan keluarga orang kaya. Saya banyak berpikir dan merenung di tepi pantai khususnya kalau musim Selatan sudah tiba. Saya merenung tentang kesusahan hidup, tentang jurang antara orang miskin dan orang kaya, serta berpikir tentang masa depan agar hidup lebih baik. Sering saya merebahkan badan di sela-sela batu, atau di pasir yang dingin bawah pohon kelapa dan pohon cemara. Angin kencang menderu-deru. Gelombang laut memutih. Ombaknya meruntuhkan bibir pantai menimbulkan abrasi. Dalam situasi seperti itu, kadang-kadang empat bulan, kadang-kadang lebih, hanya satu dua nelayan yang berani berjibaku turun ke laut. Mereka mencoba memancing ikan senangin, ikan mayong dan kadang-kadang memancing ikan kincir (sejenis ikan marlin) yang ada tombak di ujung mulutnya.

Saya masih ingat salah seorang rekan kami yang masih muda dan pemberani, pergi melaut di musim Selatan. Namanya Hamdani. Dia anak Pak Said Ja’far, salah seorang imam mesjid di Kampung Lalang. Hamdani sudah dinasehati nelayan lain agar tidak melaut, tapi dia nekad saja. Hamdani melaut sendirian di tengah anginIMG_0002 kencang dan ombak besar. Malang baginya dia hilang di laut. Nelayan lain tak berani mencarinya mengingat angin dan ombak begitu besar. Berhari-hari kami menunggunya pulang, tapi tak pernah kembali. Ayahnya Said Dja’far nampak sangat sedih dan terpukul. Ada kapal besi yang mendarat di Manggar dan melaporkan mereka melihat sebuah perahu katir melaju kencang ke arah Selat Karimata. Said Dja’far menduga Hamdani hanyut ke Ketapang, Kalimantan Barat. Beliau pergi ke sana mencari anaknya, namun nelayan di sana tak juga menemukan Hamdani. Dia hilang di laut. Jenazah maupun perahu katirnya tak pernah ditemukan. Saya sendiri menitikkan air mata mendengar hilangnya Hamdani. Saya selalu terbayang wajahnya yang tampan, ramah dan baik hati. Umurnya ketika itu mungkin sekitar delapan belas tahun. Saya membayangkan, alangkah tragisnya hidup jadi nelayan. Hasil tak seberapa, namun nyawa jadi taruhan.

Meskipun saya tahu di musim Selatan tak banyak bahkan tak ada nelayan turun ke laut, namun seperti telah saya katakan, saya tetap saja pergi ke pantai. Kadang-kadang saya hanya membantu nelayan membetulkan perahu menggunakan dempul dan kulit kayu gelam untuk menambal, atau menjahit layar yang koyak. Sering pula saya belajar sambil membantu saudara sepupu ayah saya, namanya Kik Amang, membuat pukat (jaring ikan) dan membuat jala. Kik Amang adalah saudara kandung Badjeri, sang pemain biola. Kegiatan membuat pukat atau jala itu kami sebut membubul. Pukat dibuat dengan nilon menggunakan jarum besar yang dibuat dari bambu. Jala dibuat dari bahan sejenis benang sutera sintetis. Kik Amang adalah orang tua yang ramah dan suka mengajari kami bagaimana caranya membuat pukat, khususnya pukat tarik. Beliau bukan tengkulak ikan, tetapi pemilik banyak perahu katir yang dikerjasamakan dengan nelayan dengan sistem bagi hasil. Pukat jenis ini panjangnya ratusan meter ditarik empat orang dari laut ke arah pantai ketika air surut. Kalau musim Selatan tiba, pukat tarik banyak membantu nelayan menangkap ikan-ikan kecil. Ikan yang paling banyak ditangkap ialah ikan selangat dan ikan layur.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 5th, 2008

48 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. resti (komentar #31)

    membaca tanya jawab antara jebee dan bang yusril….inilah contoh diskusi yang mungkin tidak dikehendaki oleh sebagian politikus kita. bagaimanapun, blog adalah sarana interaktif, tak setuju langsung disanggah. Tak semua orang tahan menghadapi komentar pedas.
    mungkin karena kita tidak terbiasa untuk adu argumentasi di sekolah karena metoda pendidikan di Indonesia umumnya menganggap murid yang baik adalah murid yang patuh dan menerima apapun dari gurunya.

    Tapi bagi pemimpin yang ingin mendapatkan informasi seluas2nya dari masyarakat, blog bisa dijadikan salah satu cara untuk berinteraksi dengan masyarakat. Jika dahulu umar bin khattab harus berjalan di malam hari untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, maka kemajuan teknologi memungkinkan informasi diperoleh 24 jam sehari darilapangan, tinggal dipilah mana yang benar, mana yang tidak.

  2. edo (komentar #32)

    #to mas/mba jubee : saya bukan negarawan. cuma blogger dan pekerja biasa. saya hanya belajar untuk menghormati siapa saja. karena dengan begitulah kita dihormati. saya juga tidak tertarik untuk berapatis, baik kepada sampeyan atau bang Yusril. event saya tidak setuju dengan cara menyampaikan sampeyan, saya sama kacaunya kalau jgua membalas dengan “memaki-maki”. Saya hanya ingin mencoba melihat bahwa semuanya berangkat dari itikad baik. walau kadang, cara menyampaikan berpengaruh terhadap cara orang menangkap.
    saya hanya ingin kembali ke esensi.
    mari kita tunggu dan nikmati pandangan, perspektif, entah apapun itu. saya yakin hanya masalah waktu, bang yusril menurunkan tulisan-tulisan yang tidak hanya bercerita tentang kehidupan beliau, tapi tentang kondisi berbangsa dan bernegara.

    duh, serius bangedh dah yak.. huehiuehiueuie… adeeem ademmm.. lagi musim ujan nih :p

    *balik nyeruput kopi, bakar rokok, nunggu tulisan bang yusril berikutnya…

  3. aini t.vierra (komentar #33)

    wah, setelah membaca komentar-komentar s/d #30 ini , saya mendapat kesan isi dari blog tentang KKMK pak Yusril membelok ke arah tentang jebee. Para komentarpun curious ” Who is jebee? seorang wanitakah? pria? LSM? Yayasan? Yang jelas si jebee ini menjadi pusat perhatian para komentar di blog ini. Kesan saya jebee adalah seseorang yg ingin suatu challenge , tahu banyak tentang politik, hukum, ekonomi, berbangsa dan bernegara. Beliau akan bahagia sekali kalau semua tuntutan pertanyaan dari pak Yusril dijawab dengan memuaskan dirinya seperti yg beliau harapkan . Untuk itu , bagaimana pak Yusril , ini ada sedikit saran dari saya kalau pak Yusril ajak saja tantangan tsb dengan membuka suatu forum diskusi untuk publik. Siapa yg mau hadir silahkan, yg jelas jangan sampai jebee tidak hadir. Biarkan jebee lontarkan pertanyaan pertanyaan pada anda. Tapi kan pak Yusril pasti lebih tahu mana petanyaan yg memang pantas dijawab, mana pertayaan yg hanya memancing, dst., sesuai kapasitas pak Yusril dalam menjawab pertanyaan itu. saya tidak punya praduga sedikitpun mengapa pak Yusril menulis KKMK nya di blog ini, seperti jebee katakan bahwa ini adalah suatu cara untuk membelokkan perhatian masyarakat dari suatu kasus. Itulah kehebatannya si jebee, sampai sampai beliau lebih tahu isi pikiran pak Yusril. Walaupun pak Yusril sudah meluangkan waktunya untuk menulis yg benar, enak dibaca, bahasa yg mudah dimengerti, runtut isinya , masih dicurigai niat baiknya pak Yusril. Seperti komentar Resti di atas bahwa blog adalah suatu forum untuk diskusi, interaksi di zaman teknologi ini. Tapi untuk tuntutan pertanyaan dari jebee dijawab dalam blog ini , menurut saya adalah kurang efektif. Mengapa? wong , kita tidak tahu latar belakang si jebee. Setiap tuduhan ataupun kritik pada seseorang haruslah didasari fakta dan tanggung jawab. Jangan seperti melempar batu sembunyi tangan. Kapan jebee mau ketemu pak Yusril untuk berdiskusinya ? Kita tunggu lho, sebab kita kita ini ingin belajar juga dari jebee. Sorry jebee , ini sedikit uneg uneg saja. Salam buat pak yusril, saya tetap menanti sambungan KKMK dari pak yusril. kalau si jebee sudah bosan, harap jangan baca. Salamku untuk jebee juga. Terima kasih.

    Sdr. Aini T. Vierra,

    Terima kasih juga atas saran-sarannya. Insya Allah, jika ada acara diskusi politik, saya akan mengundang — atau meminta panitia mengundang — Jebee, anda atau siapa saja yang berminat. Kita dapat bertemu muka dan berdiskusi secara langsung. Dengan diskusi seperti itu, Insya Allah kita semua akan mendapat pencerahan. (YIM).

  4. Hartono (komentar #34)

    yap, pendidikan kita memang ga begitu, tp menyinggung guru-yang (mungkin) hari sebelumnya terlihat di rumah makan dgn seorang pria, di depan kelas, adalah tdk sopan.
    it just doesn’t fit
    dan kalo ngajak debat di forum diskusi politik aja, jgn di blog yang notabene buku harian org.
    gimana kl saya kasih komentar/ corat coret di buku harian mu? toh hak setiap org untuk menyampaikan pendapat kan?
    ya memang, tp menurut saya tidak pada tempatnya
    sekian
    terima kasih untuk tanggapan Pak Yusril saya jadi tersanjung dan kagum pada Bapak
    untuk yg kasih komentar saya, hello juga, wah saya jadi punya penggemar (narcis-mode on) heheheh

  5. Yasser (komentar #35)

    assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam kenal bagi blogger http://www.Yusrilihzamen.com
    khusus buat uni jebee, maaf, anda muslim? kalau anda seorang muslim hendaklah anda membang teguh prinsip “tabayun” dalam berkomunikasi. tau kah anda uni jebee tabayun?….
    untuk bang yusril, saya menunggu tulisan-tulisan anda mengenai konsep-konsep hukum islam dan pemecahannya bagi indonesia ini.

  6. Iwan Asnawi (komentar #36)

    Ass…Wr.Wb…

    Yth: Bang YIM…
    Waaahhh…, bertambah seru!!!… Komentar tentang si Jebee!!! Sampai mau diangkat ke Thema “Diskusi Politik” segala oleh Sdr. Aini T Vierra, dan di-Amien-kan pula oleh Bang YIM.

    Tapi, menurut saya masih terlalu dini Bang YIM. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu “emosional” kalau komentar (si Jebee) yang saya anggap “sambil berlalu” ini untuk ditanggapi begitu serius! Karena ini, tak akan membuat membuat Bang YIM bergerak kemana-mana, seperti jalan di tempat.

    Saya kira, sudah jelas. Sejelas-jelasnya!!! Anda kan menulis “Kenang-Kenangan di Masa Kecil”, belumlah menyentuh pada substansi “Politik di Indonesia”, yang semua sudah maklum Anda pernah di dalamnya. Singkat kata, Anda pun belum bercerita tentang saat, “di SMP dan SMA”. Dan akhirnya, berkeputusan ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah Anda. Sampai akhirnya jadi Dosen dan Guru Besar (Professor), kemudian ke Partai Politik.

    Nuansa, langkah demi langkah “step by step”… Ini perlu, paling tidak untuk saya, supaya alur “cerita” menjadi utuh. Tapi, kalau pun nanti Anda akan membuat “Forum” lain di luar Blog ini. Saya pun akan maklum, karena kapasitas Anda tidak hanya sebagai penulis “KKMK”. Hanya alangkah lebih terasa “pas”, kalau disini (Blog) hanya untuk komentator “KKMK” saja.

    Saya, seorang yang juga menghargai “perbedaan”! Bagi saya perbedaan adalah warna-warni Dunia. Tapi, perbedaan kan harus juga pada Tempatnya, juga tepat Waktunya, dan Objeknya. Kalau nanti semua, disama ratakan?! Waaahhh, jadi kacau juga Negara Bang!!!

    Namun, kalau nanti Abang pun bersikeras membuat “Diskusi Politik”… Sekali lagi, saya menjadi maklum.

    Hormat Saya, yang lebih muda:

    Iwan Asnawi, Switzerland

  7. Usep (komentar #37)

    Mohon ijin untuk ikutan berdiskusi,setelah mambaca tulisan2 Pak/Bu Jeebee kalau saya melihat itu adalah ungkapan atau luapan ketidak puasan terhadap pemimpin2 kita yang hanya memikirkan kekuasaan dan tidak memikirkan rakyat,jadi menurut saya itu tidak bermaksud menghina atau memfitnah Pak Yusril,dan kalau yg diungkapkan Bu/Pak Jeebee tidak benar ya Pak Yusril tinggal jawab saja bahwa hal itu tidak benar….
    Nah inilah salah satu bentuk kelemahan bangsa kita selalu saja kalau ada yang mengkritik dianggap tidak suka,anti,dll dan ingat waktu mahasiswa th 1998 banyak yang diculik nah itu semua timbul dari fikiran yang anti kritik dan beda pendapat.
    Mungkin itu dari saya,terima-kasih.
    Dan Pak Yusril tdk perlu emosi inilah ujian bagi kedewasaan berpolitik dan berbeda pendapat,mohon maaf saya menasehati Pak Yusril bukan sok tau tp menurut saya inilah demokrasi…

    Sdr. Usep,

    Saya samasekali tidak emosi. Insya Allah saya tenang saja dan bahasa saya tetap sopan menghargai perbedaan pendapat (YIM)

  8. edo (komentar #38)

    menurut saya, tidak penting siapa jubee..
    mari kita sama2 perhatikan pesan yang disampaikan. termasuk oleh siapa saja.
    hehehhe piss

  9. jebee (komentar #39)

    Ass. WW

    Yth. Pak Yusril dan Kawan semua….

    Saya sebenarnya sudah tidak ingin untuk mengganggu « rumah » Pak Yusril ini, saya berusaha “tabayun” seperti yang disarankan oleh Sdr Yasser, tapi yang namanya kecintaan dan kerinduan akan sebuah relung dialog untuk Indonesia yang sangat saya cintai dan saya puja ini, akhirnya tak sanggup juga saya menahan gejolak untuk ikut bersama-sama bertandang kerumahnya Pak Yusril ini demi dahaga untuk menimba ilmu dan pencerahan dari Pak Yusril dan kawan semua.

    Saya akui kata kata saya sangatlah menusuk, menyakiti hati, menohon, tidak sopan, atau lebih kasar lagi « kurang ajar »… tentu semuanya yang bisa menilai kawan semua.
    Saya ingat pada sebuah peristiwa yang saya alami sendiri, saat pertama kali saya tampil disebuah « forum resmi » yang diisi oleh orang orang yang berpengetahuan cukup tinggi dalam ukuran tingkatan akademis, saya dikritik habis, saya dicerca, dsbbb… tapi Alhamdulillah saya tidak terpancing saat itu, saya tidak marah/emosi sama sekali, dongkol dikit tentu ada…. Setelah pulang kerumah saya hanya menyalahi diri saya sendiri, saya renungi memang saya yang tidak menyiapkan diri untuk berbicara didepan forum dengan baik, memang ilmu saya sangat dangkal…. Akhirnya saya selalu belajar sedikit demi sedikit memperbaiki diri, membaca semampunya… MAAF kawan semua bukan saya mengangkuhkan diri di forum ini (semua hanya bentuk diskusi kita bersama, saling mengisi dan mengingatkan) akhirnya kawan yang mengkritik habis saya diawal forum itu.. pada forum forum selanjutnya dia malah minta MAAF kepada saya.. maafnya tentu saja bisa tidak dengan langsung mengatakan maaf, tapi dia datang kerumah saya dengan membawa keluarganya….
    Kawan sedikitpun saya tidak dendam… apa yang saya peroleh setelah itu ? untuk ukuran saya sendiri, dengan adanya kritikan itu saya tertantang untuk berbuat lebih baik lagi.. akhirnya banyak hal lain positif dan bermanfaat baik moril maupun materil yang saya peroleh karena kritikan itu….
    Sekarang tergantung kita bersama menyikapi kata kata saya yang pedas itu… (SAYA JUGA SELALU BELAJAR).

    Kemudian sobat, kita memang sering dituntut untuk berkata dan bertutur dengan sopan santun… saya sangat setuju sekali itu… tapi bagi saya sendiri cakupan sopan santun itu sangatlah luas tidak hanya dalam tutur kata atau pada coretan tangan, bagi saya sopan santun itu tergantung melihat dari sisi mana, sebuah serba relatif, apalagi kalau ada diantara kawan yang menjadi publik figur, cara senyum atau gerak kepala kita saja bisa dinilai orang (walau kadang itu sudah bawaan kita sedari lahir), cara ucapan kita yang seperti mengejek/merendahkan orang lain bisa juga dinilai orang, kalau kita dalam organisasi, cara kita memimpin juga sebuah tindak sopan santun, cara kita menandatangani sebuah surat juga cermin sopan santun….. sekarang mari kita renungi lagi apakah kalau ada orang yang mengkritik sangat pedas itu tidak sopan santun ??

    Saya beberapa hari ini agak ketagihan menonton berita kampanya menuju arena pemilihan Presiden di USA baik di televisi maupun di YouTube, Maaf lagi bukan maksud saya kebarat baratan, saya lihat, saya amati dan saya coba menelaah kata kata kampanye para kandidat itu (walau dalam bahasa Inggris saya yang terbatas) saya rasa diskusi kita, atau tunjuklah langsung komentar saya yang sangat « kasar » kepada Pak Yusril kiranya belumlah sepanas dan seterbuka para capres amerika itu dalam berdebat. Mereka bahkan sampai melabrak keareal pribadi para kandidat, Barack Obama saja dicerca dengan pengalaman sekolahnya di Indonesia, itu saja dia masih berusia sekitar 7 tahun, dicerca bahwa dia pernah menggunakan narkoba, dicerca dengan pengalamannya yang minim, tetapi memang celah korupsi untuk menyudutkannya tidak ada, dsb… begitu juga dengan para kandidat lainnya….. tapi karena Obama bisa meyakinkan dan menjawab dengan tangkas, tenang, penuh argumentasi, penuh bukti dan fakta, elegan, rendah hati dan simpatik, semua malah berbalik kepercayaa publik kepadanya… (saya kira ini bisa kita ambil hikmahnya).

    Kemudian saya akui lagi, okelah kasar kata kata saya itu, sebenarnya itu ungkapan kejenuhan juga, di negara kita budaya feodalisme dan hipokrit masih begitu kental juga kayaknya, padahal Alm. Muchtar Lubis sudah menyoroti ini sejak tahun 80an yang lalu, mungkin bisa dibaca bukunya dengan judul Wajah Indonesia, dia disitu menyoroti sifat sifat bangsa Indonesia, salah satunya feodalistis itu, tapi sampai sekarang kok ndak hilang hilang yaa ? di negara kita sepertinya kata kata sopan hanya dituntut berlaku bagi kalangan jelata saja, kalau tidak agak kasar pula saya mengatakan « sebenarnya telinga para pemimpin kita yang meminta sopan santun itu sebenarnya sudah budek dengan kata kata sopan para rakyat, (tentu tidak semua pemimpin kita seperti itu), semoga tidak ada yang merasa.
    Dan kadang walau ada pertanyaan yang dijawab oleh para punggawa kita itu, biasanya kebanyakan jawaban jawaban budaya Sang Patron saja, “yaa terima kasih saya ucapkan, yaa kita tampung usul dan sarannya, yaa nanti kita bicarakan, yaa kita usahakan, yaa… yaa.. yayya yaya… lingkaran biru kali.. hehe. Sedikit sekali jawaban yang kita peroleh dengan sebuah alur argumentasi dan pencerahan yang bisa kita ambil manfaatnya bersama.

    Waduuhhh… kepanjangan lagi… kelamaan bertandangnya kerumah Pak Yusril. Habis rumahnya adem sih……….
    Sekali lagi semua subjektif saya semata.

    JEBEE
    INDONESIA

  10. Usep (komentar #40)

    Pak/Bu Jebee,sebaiknya supaya lebih fair pake nama asli saja jadi kesannya lebih JANTAN kan sampeyan juga menyuruh Pak yusril untuk LEBIH JANTAN mengakui bhw sudah ada kesalahan administrasi pd pengadaan AFIS.

    Jadi sebelum menyuruh orang lain maka introspeksi diri sendiri dulu,menurut saya begitu…
    Jangan samai menepuk air didulang terpencik muka sendiri ha ha ha……

  11. Farhan (komentar #41)

    Assamualaikum, pak Yusril..enak juga baca kenangan dimasa kecilnya, saya usul teruskan saja, hitung-hitung sebagai bahan autobiografi pak Yusril nantinya…selain masalah politik dimasa lalu dan masa berjalan. Pendapat pak Yusril bagus juga tidak akan menghalangi orang yang akan mengkritisi tulisannya. Itu bagus karena ada saling “balance” tidak satu pihak saja mengungkapkan temuan atau masalah yang didengar, dilihat, dibaca, sehingga suasananya menjadi hidup tidak monoton. Oh..ya pak Yusril di kisah Kenangan dimasa kecil ada cerita tentang cara mengambil kelapa di daerah Belitung Timur yang tidak menggunakan binatang beruk seperti di Malaysia dan di belitung tidak ada beruknya, memang beruk liar tidak ada di belitung tetapi beruk yang sudah dijinakan sudah ada di Tg. Pandan terutama di Air Saga orang yang mau memetik kelapa sudah banyak yang pakai binatang beruk. Teruslah menulis kisah dari kecil sampai sekarang, tetapi selingi juga dengan kisah dibidang politik selama ikut di pemerintahan, mudah2an dari tulisan tersebut pembaca blog ini dapat mengambil hikmah yang baiknya dan yang jeleknya dibuang. Terima kasih, wassalam.

    Sdr. Farhan,

    Terima kasih atas tanggapannya. Apa yang saya ceritakan tentang memetik kelapa adalah kisah di tahun 1964. Waktu itu belum ada beruk yang dijinakkan agar pandai memetik kelapa. Kalau sekarang di Air Saga sudah ada beruk demikian, syukurlah. Mudah-mudahan beruk itu tidak mengambil kesempatan kerja orang yang pekerjaannya menerima upahan memetik kelapa, seperti ketika saya masih kecil.

    Insya Allah, saya akan menulis berbagai hal terkait dengan politik, hukum, sejarah dan kemanusiaan lainnya dalam blog ini, sehingga tidak didominasi oleh kisah di masa kecil saya. Salam hormat saya.

  12. Aris Akhmad (komentar #42)

    Assalamialiakum,
    Salam kenal dari saya Pak Yusril, dan juga temen-temen blogger….

    senang juga seh seorang seperti Pak Yusril masih menyempatkan waktu untuk nge-blog…ditengah kesibukannya. kalo saya yakin sekali Pak Yusril pasti akan membahas tentang masalah-masalah yang ada di sekitar kita kelak (bisa besok atau lusa..). Jadi kita boleh saja memberikan usulan kepada beliau tentang suatu permasalahan yg mungkin menarik untuk dibahas, namun tentu saja Pak Yusril juga punya kesibukan sehari-hari jadi tidak mungkin dong harus selalu posting tiap hari…Jadi buat temen-temen, senior blogger mungkin harus maklum…tidak perlu menjadikan apa yang sudah dijawab dengan tulus oleh Pak Yusril ga perlu diperdebat-kusirkan. Dan saya pikir Bung Yusril tidak terlihat seperti orang yang sedang kebakaran jenggot kok….jawabannya masih juga runut dan andap asor…mungkin kita dan saya sendiri juga perlu belajar menyampaikan pendapat seperti hal-nya disampaikan saudara Yusril contohkan…

    wasalam

  13. Sufyan Atstsaury (komentar #43)

    Ass. Pak Yusril…
    terimakasih atas kisah kenangan di masa kecil VI, nama nama ikan seperti ikan mayong, gagok , sambal lingkung dan istilah “ngeracau” masih sangat akrab di telinga saya karena saya tumbuh dan berkembang di Pulau Bangka , tetangga Pulau Belitung. Terus terang, cerita ini menghibur dan menyegarkan pikiran saya.

    Semoga ada lagi kisah kenangan masa kecil seri berikutnya.

    Wassalam,
    Sufyan , Sorowako Sulsel.

  14. Rc Syams Hadi (komentar #44)

    Ass..Wr..Wb..

    Bang Yusril..

    Saya salut dengan daya ingat ikam yg bisa segitu detailnya. ini baru orang lalang asli…saya tahu semua kisah ini benar adanya, karena saya pun pernah mengalami berpetualang ke hutan dan di pantai..tp tidak sehebat ikam..jadi gaok euy kenagan spt itu..kapan2 kite ngambat di pengempangan hayu..sape tahu dpt ikan buto cine.dan .ikam dapat salam dari Lupis (Sudirman) ikam dgn lupis pernah di teradasan kek Yakup ya.. gara2 teluk ikan tenggiri..he he he dan jg KKMK ini udah kuceritakan dgn kak nin..belau senyum2..he..jg salam dari belau Tue..sampai ketemu di pengempangan.
    Terima Kasih..

    Terima kasih banyak. Insya Allah akan saya lanjutkan lagi. Salam juga dengan Sudirman dan teman-teman lain. Saya tak pernah lupa dengan mereka.

  15. Irdie Umar (komentar #45)

    Ass. Bung YIM…
    Beruntung dan terimakasih saya dapat mengikuti semua KKMK ini, tapi saking asiknya membaca serial tsb, untuk sementara komentar2 saya abaikan dan begitu ada kesempatan baru saya mengikutinya, eh ternyata saya sudah ketinggalan jauh, komentar2 rekan blogger serta tanggapannya juga tak kalah menariknya serta juga menambah wawasan… terutama : jebee #3, dan edo #24 yang sudah diakui dengan # 25, menarik memang juga tanggapan Bung YIM serta blogger lainnya, harapan saya sih semoga Bung YIM mau melanjutkan kisah2 lainnya di masa smp, sma, pt dan pengalaman diseputar pemerintahan dan seluk beluknya yang tidak diketahui umum dan tentunya bukan merupakan rahasia negara. oke bung YIM kami tunggu dengan penuh harap…salam

  16. aditya (komentar #46)

    #13.

    ” …….yang tentunya diiring dengan derak ketulusan , keikhlasan dan kejujuran hati nurani.
    Semoga itu tidak hanya dalam catatan dan ucapan Saudara saja, semoga juga tercermin dalam tindakan, perilaku dan terutama sekali dalam keberadaan Saudara jika nantinya kembali mendapat Anugerah, Hidayah dan Amanah untuk mengelola bangsa dan Rakyat Indonesia ini”

    Dari pernyataan Jebe diatas terlihat bahwa seakan-akan Jebe adalah manusia yang dapat mengungkapkan ketulusan, kejujuran hati nurani, namun dari beberapa posting yang disampaikan terlihat Miss Jebe tidak lain hanya sebagai seorang manusia yang tidak dapat di percaya (munafik), disatu sisi Miss Jebe menginginkan kejujuran dari pihak lain sedangkan Miss Jebe sendiri tidak jujur dalam berucap…..

    Ketidak jujurannya terlihat dari pernyataannya yang menyatakan sebagai orang yang awam dalam politik dan pemerintahan tetapi Miss Jebe tahu sangat detail terhadap tindakan yang dilakukan oleh YIM.. hal ini berarti Jebe tidak lain merupakan seorang yang sangat paham dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh YIM sehingga Miss Jebe selalu justifikasi bahwa seluruh perbuatan YIM salah, minimal khilaf…

  17. suyatno (komentar #47)

    Salam, mulai enjoy menulis lagi pak. Mungkin, kisah remaja dan pemuda saat jatuh cinta perlu juga. Termasuk spirit studi di Jakarta. Salam. http://www.garduguru.blogspot.com

  18. tommy indrawan (komentar #48)

    sorry mas ,apa sih yang d benak mas ketika melakukan apa yang tidak sesuai kenyataan

Pages: « 1 [2] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda