Beranda

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)

Apa yang diobrolkan orang di tepi pantai itu adalah segala macam peristiwa, dari dunia sampai akhirat. Mulai dari cerita lucu-lucu, cerita hantu-hantu sampai ngobrol masalah politik. Konfrontasi RI-Malaysia ketika itu menjadi isyu yang hangat. Kebanyakan nelayan-nelayan itu, termasuk Pak Yakub, adik kakek saya, nampak kurang setuju. Mengapa kita perang sesama Melayu kata mereka. Ada pula pembicaraan tentang Jawa non Jawa. Mulai pecahnya konfrontasi menyebabkan orang Belitung kurang merasa senang. Di Bukit Samak ketika itu ditempatkan sepasukan tentara dari Kodam Dipongeoro dan Kodam Siliwangi. Sebagian tentara-tentara itu kadang-kadang datang untuk ngobrol di pantai. Mereka berbicara Bahasa Indonesia logat Jawa dan Sunda yang sangat kental, sehingga terasa asing di telinga kami. Perasaan kurang suka dengan tentara-tentara itu, juga disebabkan mereka nampak seperti mencurigai orang kampung sebagai berpihak kepada Malaysia.
Di balik bukit Samak, ketika itu dijadikan daerah terlarang untuk dimasuki. Kawasan itu dijaga siang-malam oleh prajurit bersenjata lengkap. Para nelayan dan tengkulak ikan yang ngobrol di pondokan tepi pantai itu mengatakan bahwa tentara memasang radar dan meriam penangkis serangan udara di kawan semak-semak itu. Mungkin yang mereka maksud itu sekarang ini yang dinamakan rudal darat ke udara. Kampung kita, kata mereka, dijadikan basis pertahanan untuk menghadang Angkatan Udara Inggris, jika mereka akan menyerang Jakarta dari Singapura. Dari obrolan itu, saya juga mendengar bahwa banyak pesawat tempur RI ditempatkan di lapangan terbang militer di dalam hutan, yang terletak di Kampung Sungai Padang. Letak Kampung Sungai Padang, agak jauh dari Manggar. Mungkin sekitar 100 km. Saya sudah lama mendengar bahwa Kampung Sungai Padang dijadikan basis Angkatan Udara, tetapi saya belum pernah pergi ke sana.

Kami memang sering menonton pesawat-pesawat tempur yang disebut pesawat MIG yang terbang menggelegar sambil memancarkan gas di udara. Mereka terbang berombongan dan rendah sekali, sehingga nampak oleh mata kepala. Dari banyaknya tentara yang sering datang ke Pantai Pengempangan itu, saya dapat membedakan seragam Angkatan Darat dan seragam Angkatan Udara. Angkatan Udara itu memakai baju biru. Topinya juga beda dengan Angkatan Darat. Mereka mengendarai jeep buatan Rusia berwarna biru. Di dalam jeep itu ada senapan mesin yang panjang, lengkap dengan pelurunya. Angkatan Udara itu sering-sering menembak kelapa, yang membuat kakek saya merasa kurang senang dengan kelakuan mereka. Kata kakek saya, kalau peluru itu mengenai umbut kelapa, maka pohon kelapa itu akan mati. Kalau menembak buahnya saja tidak apa-apa.

Suatu hari para nelayan dan tengkulak ikan itu bercerita tentang nasib Tukang Dakocan yang sering keluar masuk kampung menjual manisan kembang gula. Orang kampung menyebut dua penjual gembang gula itu dengan istilah demikian, karena mereka IMG_0014menggunakan cetakan terbuat dari tanah liat yang dalamnya diisi adonan gula berwara-warni. Adonan itu kemudian ditiup dan membentuk gambar boneka yang kami sebut Dakocan itu. Anak-anak senang sekali dengan tukang dakocan itu karena dia dapat mencetak boneka kembang gula berbagai bentuk dan berwarna-warna. Harganya pun murah saja, walau saya sendiri tak mampu membeli dakocan itu. Suatu hari tukang dakocan itu menghilang entah kemana, sehingga anak-anak menunggu kedatangannya untuk membeli dakocan. Dari obrolan nelayan dan tengkulak ikan itu saya mengetahui bahwa tukang dakocan itu telah ditangkap tentara. Meraka berdua, katanya adalah mata-mata Malaysia yang menyusup ke kampung kami dan menyamar menjadi tukang dakocan. Ketika ditangkap, dalam kotak kayu tempat menyimpan peralatan membuat kembang gula itu ditemukan peta-peta yang menunjukkan posisi instalasi militer RI di kampung kami.

Selesai orang-orang itu mengobrol, saya bertanya kepada Pak Yakub, apa yang dimaksud dengan mata-mata. Pak Yakub menerangkan bahwa mata-mata itu adalah tentara musuh yang tugasnya mengintip kekuatan tentara lawan. Kalau tukang dakocan itu melapor kepihak Malaysia, maka tentara Inggris dengan mudah menghancurkan persenjataan tentara kita. Saya baru mengerti setelah mendengar penjelasan Pak Yakub. Seumur hidup baru sekali itu saja saya mendengar istilah mata-mata. Saya bertanya kepada Pak Yakub, di mana sekarang tukang dakocan itu berada. Beliau mengatakan, setelah ditangkap, mereka dibawa ke Tanjung Pandan. Pak Yakub sendiri tidak tahu nasib tukang dakocan itu selanjutnya. Suasana di kampung terasa kurang menyenangkan di zaman konfrontasi itu.

Selain isyu banyaknya mata-mata yang menyusup, ada lagi isyu meresahkan tentang Penebok yang menakutkan anak-anak. Penebok konon spesialis memotong leher orang untuk membangun instalasi listrik dan jembatan. Saya tidak dapat memahami apa hubungannya kepala orang dengan instalasi listrik. Saya bertanya kepada banyak orang, termasuk kepada ibu saya, tak seorangpun dapat menjelaskan. Dari berbagai cerita, sudah beberapa mayat ditemukan di tempat sepi tanpa kepala. Konon kepala mereka telah diambil oleh Penebok tadi. Benar tidaknya cerita itu, saya tak dapat memastikannya. Namun isyu tentang Penebok dapat muncul sewaktu-waktu. Entah siapa yang membuat isyu itu, namun sebagian besar rakyat percaya. Karena saya tak percaya, saya tak perduli dengan isyu Penebok itu. Saya tenang-tenang saja berjalan dari Kampung Sekep ke Pantai Pengempangan, kadang-kadang seorang diri. Tak pernah saya bertemu dengan Penebok, kecuali bertemu buaya yang sedang berenang di Kulong di Kampung Bakau.Kita kembali lagi ke kisah Pantai Pengempangan, orang-orang yang sering ngobrol dan suasana pondokan di tepi pantai itu.

Kakek saya, Haji Zainal bin Haji Ahmad, yang sudah sangat sepuh, sesekali datang juga ke pondokan itu, kalau beliau sedang berada di kebun kelapanya di Pantai Pengempangan itu. Usia kakek saya ketika itu hampir seratus tahun, namun beliau masih kuat berjalan ke kebun kelapa, atau menanggok ikan di sero. Kalau kakek saya datang, orang-orang yang duduk-duk itu tidak berani ngomong tidak karuan. Mereka sangat segan dengan kakek saya itu. Orang-orang segera menyalami sambil mencium tangannya kalau beliau datang ke pondokan itu. Kakek saya itu, walaupun pergi ke kebun kelapa, selalu mengenakan sorban. Bicaranya pelan namun penuh wibawa. Anak-anak kecil di tepi pantai itu merasa takut dengan beliau. Kakek saya selalu menasehati nelayan-nelayan itu agar jangan lupa pengerjakan sembahyang lima waktu. Kalau hari Jum’at, kata beliau, sebaiknya jangan melaut agar dapat pergi ke mesjid menunaikan sembahyang Jum’at. Namun sepanjang penglihatan saya, tak banyak nelayan pergi ke mesjid sembahyang Jum’at. Salah seorang dari mereka yang taat ialah Ambo Saka, beliau seorang nelayan Bugis yang sudah agak lanjut usianya.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 5th, 2008

48 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. resti (komentar #31)

    membaca tanya jawab antara jebee dan bang yusril….inilah contoh diskusi yang mungkin tidak dikehendaki oleh sebagian politikus kita. bagaimanapun, blog adalah sarana interaktif, tak setuju langsung disanggah. Tak semua orang tahan menghadapi komentar pedas.
    mungkin karena kita tidak terbiasa untuk adu argumentasi di sekolah karena metoda pendidikan di Indonesia umumnya menganggap murid yang baik adalah murid yang patuh dan menerima apapun dari gurunya.

    Tapi bagi pemimpin yang ingin mendapatkan informasi seluas2nya dari masyarakat, blog bisa dijadikan salah satu cara untuk berinteraksi dengan masyarakat. Jika dahulu umar bin khattab harus berjalan di malam hari untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, maka kemajuan teknologi memungkinkan informasi diperoleh 24 jam sehari darilapangan, tinggal dipilah mana yang benar, mana yang tidak.

  2. edo (komentar #32)

    #to mas/mba jubee : saya bukan negarawan. cuma blogger dan pekerja biasa. saya hanya belajar untuk menghormati siapa saja. karena dengan begitulah kita dihormati. saya juga tidak tertarik untuk berapatis, baik kepada sampeyan atau bang Yusril. event saya tidak setuju dengan cara menyampaikan sampeyan, saya sama kacaunya kalau jgua membalas dengan “memaki-maki”. Saya hanya ingin mencoba melihat bahwa semuanya berangkat dari itikad baik. walau kadang, cara menyampaikan berpengaruh terhadap cara orang menangkap.
    saya hanya ingin kembali ke esensi.
    mari kita tunggu dan nikmati pandangan, perspektif, entah apapun itu. saya yakin hanya masalah waktu, bang yusril menurunkan tulisan-tulisan yang tidak hanya bercerita tentang kehidupan beliau, tapi tentang kondisi berbangsa dan bernegara.

    duh, serius bangedh dah yak.. huehiuehiueuie… adeeem ademmm.. lagi musim ujan nih :p

    *balik nyeruput kopi, bakar rokok, nunggu tulisan bang yusril berikutnya…

  3. aini t.vierra (komentar #33)

    wah, setelah membaca komentar-komentar s/d #30 ini , saya mendapat kesan isi dari blog tentang KKMK pak Yusril membelok ke arah tentang jebee. Para komentarpun curious ” Who is jebee? seorang wanitakah? pria? LSM? Yayasan? Yang jelas si jebee ini menjadi pusat perhatian para komentar di blog ini. Kesan saya jebee adalah seseorang yg ingin suatu challenge , tahu banyak tentang politik, hukum, ekonomi, berbangsa dan bernegara. Beliau akan bahagia sekali kalau semua tuntutan pertanyaan dari pak Yusril dijawab dengan memuaskan dirinya seperti yg beliau harapkan . Untuk itu , bagaimana pak Yusril , ini ada sedikit saran dari saya kalau pak Yusril ajak saja tantangan tsb dengan membuka suatu forum diskusi untuk publik. Siapa yg mau hadir silahkan, yg jelas jangan sampai jebee tidak hadir. Biarkan jebee lontarkan pertanyaan pertanyaan pada anda. Tapi kan pak Yusril pasti lebih tahu mana petanyaan yg memang pantas dijawab, mana pertayaan yg hanya memancing, dst., sesuai kapasitas pak Yusril dalam menjawab pertanyaan itu. saya tidak punya praduga sedikitpun mengapa pak Yusril menulis KKMK nya di blog ini, seperti jebee katakan bahwa ini adalah suatu cara untuk membelokkan perhatian masyarakat dari suatu kasus. Itulah kehebatannya si jebee, sampai sampai beliau lebih tahu isi pikiran pak Yusril. Walaupun pak Yusril sudah meluangkan waktunya untuk menulis yg benar, enak dibaca, bahasa yg mudah dimengerti, runtut isinya , masih dicurigai niat baiknya pak Yusril. Seperti komentar Resti di atas bahwa blog adalah suatu forum untuk diskusi, interaksi di zaman teknologi ini. Tapi untuk tuntutan pertanyaan dari jebee dijawab dalam blog ini , menurut saya adalah kurang efektif. Mengapa? wong , kita tidak tahu latar belakang si jebee. Setiap tuduhan ataupun kritik pada seseorang haruslah didasari fakta dan tanggung jawab. Jangan seperti melempar batu sembunyi tangan. Kapan jebee mau ketemu pak Yusril untuk berdiskusinya ? Kita tunggu lho, sebab kita kita ini ingin belajar juga dari jebee. Sorry jebee , ini sedikit uneg uneg saja. Salam buat pak yusril, saya tetap menanti sambungan KKMK dari pak yusril. kalau si jebee sudah bosan, harap jangan baca. Salamku untuk jebee juga. Terima kasih.

    Sdr. Aini T. Vierra,

    Terima kasih juga atas saran-sarannya. Insya Allah, jika ada acara diskusi politik, saya akan mengundang — atau meminta panitia mengundang — Jebee, anda atau siapa saja yang berminat. Kita dapat bertemu muka dan berdiskusi secara langsung. Dengan diskusi seperti itu, Insya Allah kita semua akan mendapat pencerahan. (YIM).

  4. Hartono (komentar #34)

    yap, pendidikan kita memang ga begitu, tp menyinggung guru-yang (mungkin) hari sebelumnya terlihat di rumah makan dgn seorang pria, di depan kelas, adalah tdk sopan.
    it just doesn’t fit
    dan kalo ngajak debat di forum diskusi politik aja, jgn di blog yang notabene buku harian org.
    gimana kl saya kasih komentar/ corat coret di buku harian mu? toh hak setiap org untuk menyampaikan pendapat kan?
    ya memang, tp menurut saya tidak pada tempatnya
    sekian
    terima kasih untuk tanggapan Pak Yusril saya jadi tersanjung dan kagum pada Bapak
    untuk yg kasih komentar saya, hello juga, wah saya jadi punya penggemar (narcis-mode on) heheheh

  5. Yasser (komentar #35)

    assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam kenal bagi blogger http://www.Yusrilihzamen.com
    khusus buat uni jebee, maaf, anda muslim? kalau anda seorang muslim hendaklah anda membang teguh prinsip “tabayun” dalam berkomunikasi. tau kah anda uni jebee tabayun?….
    untuk bang yusril, saya menunggu tulisan-tulisan anda mengenai konsep-konsep hukum islam dan pemecahannya bagi indonesia ini.

  6. Iwan Asnawi (komentar #36)

    Ass…Wr.Wb…

    Yth: Bang YIM…
    Waaahhh…, bertambah seru!!!… Komentar tentang si Jebee!!! Sampai mau diangkat ke Thema “Diskusi Politik” segala oleh Sdr. Aini T Vierra, dan di-Amien-kan pula oleh Bang YIM.

    Tapi, menurut saya masih terlalu dini Bang YIM. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu “emosional” kalau komentar (si Jebee) yang saya anggap “sambil berlalu” ini untuk ditanggapi begitu serius! Karena ini, tak akan membuat membuat Bang YIM bergerak kemana-mana, seperti jalan di tempat.

    Saya kira, sudah jelas. Sejelas-jelasnya!!! Anda kan menulis “Kenang-Kenangan di Masa Kecil”, belumlah menyentuh pada substansi “Politik di Indonesia”, yang semua sudah maklum Anda pernah di dalamnya. Singkat kata, Anda pun belum bercerita tentang saat, “di SMP dan SMA”. Dan akhirnya, berkeputusan ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah Anda. Sampai akhirnya jadi Dosen dan Guru Besar (Professor), kemudian ke Partai Politik.

    Nuansa, langkah demi langkah “step by step”… Ini perlu, paling tidak untuk saya, supaya alur “cerita” menjadi utuh. Tapi, kalau pun nanti Anda akan membuat “Forum” lain di luar Blog ini. Saya pun akan maklum, karena kapasitas Anda tidak hanya sebagai penulis “KKMK”. Hanya alangkah lebih terasa “pas”, kalau disini (Blog) hanya untuk komentator “KKMK” saja.

    Saya, seorang yang juga menghargai “perbedaan”! Bagi saya perbedaan adalah warna-warni Dunia. Tapi, perbedaan kan harus juga pada Tempatnya, juga tepat Waktunya, dan Objeknya. Kalau nanti semua, disama ratakan?! Waaahhh, jadi kacau juga Negara Bang!!!

    Namun, kalau nanti Abang pun bersikeras membuat “Diskusi Politik”… Sekali lagi, saya menjadi maklum.

    Hormat Saya, yang lebih muda:

    Iwan Asnawi, Switzerland

  7. Usep (komentar #37)

    Mohon ijin untuk ikutan berdiskusi,setelah mambaca tulisan2 Pak/Bu Jeebee kalau saya melihat itu adalah ungkapan atau luapan ketidak puasan terhadap pemimpin2 kita yang hanya memikirkan kekuasaan dan tidak memikirkan rakyat,jadi menurut saya itu tidak bermaksud menghina atau memfitnah Pak Yusril,dan kalau yg diungkapkan Bu/Pak Jeebee tidak benar ya Pak Yusril tinggal jawab saja bahwa hal itu tidak benar….
    Nah inilah salah satu bentuk kelemahan bangsa kita selalu saja kalau ada yang mengkritik dianggap tidak suka,anti,dll dan ingat waktu mahasiswa th 1998 banyak yang diculik nah itu semua timbul dari fikiran yang anti kritik dan beda pendapat.
    Mungkin itu dari saya,terima-kasih.
    Dan Pak Yusril tdk perlu emosi inilah ujian bagi kedewasaan berpolitik dan berbeda pendapat,mohon maaf saya menasehati Pak Yusril bukan sok tau tp menurut saya inilah demokrasi…

    Sdr. Usep,

    Saya samasekali tidak emosi. Insya Allah saya tenang saja dan bahasa saya tetap sopan menghargai perbedaan pendapat (YIM)

  8. edo (komentar #38)

    menurut saya, tidak penting siapa jubee..
    mari kita sama2 perhatikan pesan yang disampaikan. termasuk oleh siapa saja.
    hehehhe piss

  9. jebee (komentar #39)

    Ass. WW

    Yth. Pak Yusril dan Kawan semua….

    Saya sebenarnya sudah tidak ingin untuk mengganggu « rumah » Pak Yusril ini, saya berusaha “tabayun” seperti yang disarankan oleh Sdr Yasser, tapi yang namanya kecintaan dan kerinduan akan sebuah relung dialog untuk Indonesia yang sangat saya cintai dan saya puja ini, akhirnya tak sanggup juga saya menahan gejolak untuk ikut bersama-sama bertandang kerumahnya Pak Yusril ini demi dahaga untuk menimba ilmu dan pencerahan dari Pak Yusril dan kawan semua.

    Saya akui kata kata saya sangatlah menusuk, menyakiti hati, menohon, tidak sopan, atau lebih kasar lagi « kurang ajar »… tentu semuanya yang bisa menilai kawan semua.
    Saya ingat pada sebuah peristiwa yang saya alami sendiri, saat pertama kali saya tampil disebuah « forum resmi » yang diisi oleh orang orang yang berpengetahuan cukup tinggi dalam ukuran tingkatan akademis, saya dikritik habis, saya dicerca, dsbbb… tapi Alhamdulillah saya tidak terpancing saat itu, saya tidak marah/emosi sama sekali, dongkol dikit tentu ada…. Setelah pulang kerumah saya hanya menyalahi diri saya sendiri, saya renungi memang saya yang tidak menyiapkan diri untuk berbicara didepan forum dengan baik, memang ilmu saya sangat dangkal…. Akhirnya saya selalu belajar sedikit demi sedikit memperbaiki diri, membaca semampunya… MAAF kawan semua bukan saya mengangkuhkan diri di forum ini (semua hanya bentuk diskusi kita bersama, saling mengisi dan mengingatkan) akhirnya kawan yang mengkritik habis saya diawal forum itu.. pada forum forum selanjutnya dia malah minta MAAF kepada saya.. maafnya tentu saja bisa tidak dengan langsung mengatakan maaf, tapi dia datang kerumah saya dengan membawa keluarganya….
    Kawan sedikitpun saya tidak dendam… apa yang saya peroleh setelah itu ? untuk ukuran saya sendiri, dengan adanya kritikan itu saya tertantang untuk berbuat lebih baik lagi.. akhirnya banyak hal lain positif dan bermanfaat baik moril maupun materil yang saya peroleh karena kritikan itu….
    Sekarang tergantung kita bersama menyikapi kata kata saya yang pedas itu… (SAYA JUGA SELALU BELAJAR).

    Kemudian sobat, kita memang sering dituntut untuk berkata dan bertutur dengan sopan santun… saya sangat setuju sekali itu… tapi bagi saya sendiri cakupan sopan santun itu sangatlah luas tidak hanya dalam tutur kata atau pada coretan tangan, bagi saya sopan santun itu tergantung melihat dari sisi mana, sebuah serba relatif, apalagi kalau ada diantara kawan yang menjadi publik figur, cara senyum atau gerak kepala kita saja bisa dinilai orang (walau kadang itu sudah bawaan kita sedari lahir), cara ucapan kita yang seperti mengejek/merendahkan orang lain bisa juga dinilai orang, kalau kita dalam organisasi, cara kita memimpin juga sebuah tindak sopan santun, cara kita menandatangani sebuah surat juga cermin sopan santun….. sekarang mari kita renungi lagi apakah kalau ada orang yang mengkritik sangat pedas itu tidak sopan santun ??

    Saya beberapa hari ini agak ketagihan menonton berita kampanya menuju arena pemilihan Presiden di USA baik di televisi maupun di YouTube, Maaf lagi bukan maksud saya kebarat baratan, saya lihat, saya amati dan saya coba menelaah kata kata kampanye para kandidat itu (walau dalam bahasa Inggris saya yang terbatas) saya rasa diskusi kita, atau tunjuklah langsung komentar saya yang sangat « kasar » kepada Pak Yusril kiranya belumlah sepanas dan seterbuka para capres amerika itu dalam berdebat. Mereka bahkan sampai melabrak keareal pribadi para kandidat, Barack Obama saja dicerca dengan pengalaman sekolahnya di Indonesia, itu saja dia masih berusia sekitar 7 tahun, dicerca bahwa dia pernah menggunakan narkoba, dicerca dengan pengalamannya yang minim, tetapi memang celah korupsi untuk menyudutkannya tidak ada, dsb… begitu juga dengan para kandidat lainnya….. tapi karena Obama bisa meyakinkan dan menjawab dengan tangkas, tenang, penuh argumentasi, penuh bukti dan fakta, elegan, rendah hati dan simpatik, semua malah berbalik kepercayaa publik kepadanya… (saya kira ini bisa kita ambil hikmahnya).

    Kemudian saya akui lagi, okelah kasar kata kata saya itu, sebenarnya itu ungkapan kejenuhan juga, di negara kita budaya feodalisme dan hipokrit masih begitu kental juga kayaknya, padahal Alm. Muchtar Lubis sudah menyoroti ini sejak tahun 80an yang lalu, mungkin bisa dibaca bukunya dengan judul Wajah Indonesia, dia disitu menyoroti sifat sifat bangsa Indonesia, salah satunya feodalistis itu, tapi sampai sekarang kok ndak hilang hilang yaa ? di negara kita sepertinya kata kata sopan hanya dituntut berlaku bagi kalangan jelata saja, kalau tidak agak kasar pula saya mengatakan « sebenarnya telinga para pemimpin kita yang meminta sopan santun itu sebenarnya sudah budek dengan kata kata sopan para rakyat, (tentu tidak semua pemimpin kita seperti itu), semoga tidak ada yang merasa.
    Dan kadang walau ada pertanyaan yang dijawab oleh para punggawa kita itu, biasanya kebanyakan jawaban jawaban budaya Sang Patron saja, “yaa terima kasih saya ucapkan, yaa kita tampung usul dan sarannya, yaa nanti kita bicarakan, yaa kita usahakan, yaa… yaa.. yayya yaya… lingkaran biru kali.. hehe. Sedikit sekali jawaban yang kita peroleh dengan sebuah alur argumentasi dan pencerahan yang bisa kita ambil manfaatnya bersama.

    Waduuhhh… kepanjangan lagi… kelamaan bertandangnya kerumah Pak Yusril. Habis rumahnya adem sih……….
    Sekali lagi semua subjektif saya semata.

    JEBEE
    INDONESIA

  10. Usep (komentar #40)

    Pak/Bu Jebee,sebaiknya supaya lebih fair pake nama asli saja jadi kesannya lebih JANTAN kan sampeyan juga menyuruh Pak yusril untuk LEBIH JANTAN mengakui bhw sudah ada kesalahan administrasi pd pengadaan AFIS.

    Jadi sebelum menyuruh orang lain maka introspeksi diri sendiri dulu,menurut saya begitu…
    Jangan samai menepuk air didulang terpencik muka sendiri ha ha ha……

  11. Farhan (komentar #41)

    Assamualaikum, pak Yusril..enak juga baca kenangan dimasa kecilnya, saya usul teruskan saja, hitung-hitung sebagai bahan autobiografi pak Yusril nantinya…selain masalah politik dimasa lalu dan masa berjalan. Pendapat pak Yusril bagus juga tidak akan menghalangi orang yang akan mengkritisi tulisannya. Itu bagus karena ada saling “balance” tidak satu pihak saja mengungkapkan temuan atau masalah yang didengar, dilihat, dibaca, sehingga suasananya menjadi hidup tidak monoton. Oh..ya pak Yusril di kisah Kenangan dimasa kecil ada cerita tentang cara mengambil kelapa di daerah Belitung Timur yang tidak menggunakan binatang beruk seperti di Malaysia dan di belitung tidak ada beruknya, memang beruk liar tidak ada di belitung tetapi beruk yang sudah dijinakan sudah ada di Tg. Pandan terutama di Air Saga orang yang mau memetik kelapa sudah banyak yang pakai binatang beruk. Teruslah menulis kisah dari kecil sampai sekarang, tetapi selingi juga dengan kisah dibidang politik selama ikut di pemerintahan, mudah2an dari tulisan tersebut pembaca blog ini dapat mengambil hikmah yang baiknya dan yang jeleknya dibuang. Terima kasih, wassalam.

    Sdr. Farhan,

    Terima kasih atas tanggapannya. Apa yang saya ceritakan tentang memetik kelapa adalah kisah di tahun 1964. Waktu itu belum ada beruk yang dijinakkan agar pandai memetik kelapa. Kalau sekarang di Air Saga sudah ada beruk demikian, syukurlah. Mudah-mudahan beruk itu tidak mengambil kesempatan kerja orang yang pekerjaannya menerima upahan memetik kelapa, seperti ketika saya masih kecil.

    Insya Allah, saya akan menulis berbagai hal terkait dengan politik, hukum, sejarah dan kemanusiaan lainnya dalam blog ini, sehingga tidak didominasi oleh kisah di masa kecil saya. Salam hormat saya.

  12. Aris Akhmad (komentar #42)

    Assalamialiakum,
    Salam kenal dari saya Pak Yusril, dan juga temen-temen blogger….

    senang juga seh seorang seperti Pak Yusril masih menyempatkan waktu untuk nge-blog…ditengah kesibukannya. kalo saya yakin sekali Pak Yusril pasti akan membahas tentang masalah-masalah yang ada di sekitar kita kelak (bisa besok atau lusa..). Jadi kita boleh saja memberikan usulan kepada beliau tentang suatu permasalahan yg mungkin menarik untuk dibahas, namun tentu saja Pak Yusril juga punya kesibukan sehari-hari jadi tidak mungkin dong harus selalu posting tiap hari…Jadi buat temen-temen, senior blogger mungkin harus maklum…tidak perlu menjadikan apa yang sudah dijawab dengan tulus oleh Pak Yusril ga perlu diperdebat-kusirkan. Dan saya pikir Bung Yusril tidak terlihat seperti orang yang sedang kebakaran jenggot kok….jawabannya masih juga runut dan andap asor…mungkin kita dan saya sendiri juga perlu belajar menyampaikan pendapat seperti hal-nya disampaikan saudara Yusril contohkan…

    wasalam

  13. Sufyan Atstsaury (komentar #43)

    Ass. Pak Yusril…
    terimakasih atas kisah kenangan di masa kecil VI, nama nama ikan seperti ikan mayong, gagok , sambal lingkung dan istilah “ngeracau” masih sangat akrab di telinga saya karena saya tumbuh dan berkembang di Pulau Bangka , tetangga Pulau Belitung. Terus terang, cerita ini menghibur dan menyegarkan pikiran saya.

    Semoga ada lagi kisah kenangan masa kecil seri berikutnya.

    Wassalam,
    Sufyan , Sorowako Sulsel.

  14. Rc Syams Hadi (komentar #44)

    Ass..Wr..Wb..

    Bang Yusril..

    Saya salut dengan daya ingat ikam yg bisa segitu detailnya. ini baru orang lalang asli…saya tahu semua kisah ini benar adanya, karena saya pun pernah mengalami berpetualang ke hutan dan di pantai..tp tidak sehebat ikam..jadi gaok euy kenagan spt itu..kapan2 kite ngambat di pengempangan hayu..sape tahu dpt ikan buto cine.dan .ikam dapat salam dari Lupis (Sudirman) ikam dgn lupis pernah di teradasan kek Yakup ya.. gara2 teluk ikan tenggiri..he he he dan jg KKMK ini udah kuceritakan dgn kak nin..belau senyum2..he..jg salam dari belau Tue..sampai ketemu di pengempangan.
    Terima Kasih..

    Terima kasih banyak. Insya Allah akan saya lanjutkan lagi. Salam juga dengan Sudirman dan teman-teman lain. Saya tak pernah lupa dengan mereka.

  15. Irdie Umar (komentar #45)

    Ass. Bung YIM…
    Beruntung dan terimakasih saya dapat mengikuti semua KKMK ini, tapi saking asiknya membaca serial tsb, untuk sementara komentar2 saya abaikan dan begitu ada kesempatan baru saya mengikutinya, eh ternyata saya sudah ketinggalan jauh, komentar2 rekan blogger serta tanggapannya juga tak kalah menariknya serta juga menambah wawasan… terutama : jebee #3, dan edo #24 yang sudah diakui dengan # 25, menarik memang juga tanggapan Bung YIM serta blogger lainnya, harapan saya sih semoga Bung YIM mau melanjutkan kisah2 lainnya di masa smp, sma, pt dan pengalaman diseputar pemerintahan dan seluk beluknya yang tidak diketahui umum dan tentunya bukan merupakan rahasia negara. oke bung YIM kami tunggu dengan penuh harap…salam

  16. aditya (komentar #46)

    #13.

    ” …….yang tentunya diiring dengan derak ketulusan , keikhlasan dan kejujuran hati nurani.
    Semoga itu tidak hanya dalam catatan dan ucapan Saudara saja, semoga juga tercermin dalam tindakan, perilaku dan terutama sekali dalam keberadaan Saudara jika nantinya kembali mendapat Anugerah, Hidayah dan Amanah untuk mengelola bangsa dan Rakyat Indonesia ini”

    Dari pernyataan Jebe diatas terlihat bahwa seakan-akan Jebe adalah manusia yang dapat mengungkapkan ketulusan, kejujuran hati nurani, namun dari beberapa posting yang disampaikan terlihat Miss Jebe tidak lain hanya sebagai seorang manusia yang tidak dapat di percaya (munafik), disatu sisi Miss Jebe menginginkan kejujuran dari pihak lain sedangkan Miss Jebe sendiri tidak jujur dalam berucap…..

    Ketidak jujurannya terlihat dari pernyataannya yang menyatakan sebagai orang yang awam dalam politik dan pemerintahan tetapi Miss Jebe tahu sangat detail terhadap tindakan yang dilakukan oleh YIM.. hal ini berarti Jebe tidak lain merupakan seorang yang sangat paham dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh YIM sehingga Miss Jebe selalu justifikasi bahwa seluruh perbuatan YIM salah, minimal khilaf…

  17. suyatno (komentar #47)

    Salam, mulai enjoy menulis lagi pak. Mungkin, kisah remaja dan pemuda saat jatuh cinta perlu juga. Termasuk spirit studi di Jakarta. Salam. http://www.garduguru.blogspot.com

  18. tommy indrawan (komentar #48)

    sorry mas ,apa sih yang d benak mas ketika melakukan apa yang tidak sesuai kenyataan

Pages: « 1 [2] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda