Sehabis pulang dari laut sore hari, saya makan dulu dan kemudian ikut anak-anak lain main bola, atau menonton orang bermain volly ball di belakang rumah kami. Di lapangan bola Kampung Sekep juga ada klub bola, yang setiap minggu ada orang latihan atau bertanding sepak bola. Selesai dari semua itu, saya pergi ke sumur tetangga untuk mandi sebelum pulang ke rumah. Tempat kami mandi itu berpindah-pindah dari satu sumur ke sumur lain. Seperti telah saya ceritakan di Bagian V, saya selalu mengambil air pagi hari di sumur-sumur itu sebelum pergi sekolah. Suatu hal yang membuat kami gembira ketika masih kanak-kanak ialah kami selalu menyaksikan orang latihan bermain musik di kampung kami. Orkes musik itu dipimpin oleh seorang bernama Lahat – orang kampung memanggilnya Mak Lahuk– sehingga orkesnya diolok-olok dengan sebutan Orkes Mak Lahuk. Saya tidak tahu apa nama orkes itu sebenarnya, sebagaimana juga saya tidak tahu siapa nama Lahat yang sebenarnya. Dia dipanggil demikian, karena memang berasal dari daerah Lahat, dekat Palembang.
Ada dua tempat mereka berlatih musik, kalau tidak di rumah mertua Lahat, namanya Mat Asim, atau di rumah Saleh Wai di Kampung Sekep. Lahat sendiri mahir memainkan segala jenis alat musik yang digunakan orkesnya. Namun dia paling sering bermain gambus, sambil menyanyikan lagu berirama padang pasir. Orkes itu sering manggung kalau ada kenduri pernikahan di kampung kami, atau acara-cara keramaian yang lain. Pak Sale Wai, pemilik rumah tempat latihan musik itu selalu menyanyi lagu penutup latihan malam itu. Lagu favoritnya adalah keroncong Bengawan Solo. Kalau latihan di rumah Mat Asim, sebelum musik dimulai, kami biasanya duduk-duduk dulu di persimpangan jalan Kampung Bawah, yang dijadikan tempat orang berjualan kue, roti dan singkong goreng.
Mat Asim yang sudah tua sering duduk di perempatan jalan itu sambil berpantun. Beliau sering mengajak anak-anak bersahut pantun. Makin lama pantun Mat Asim makin seru, tetapi juga makin jorok. Bahasa Belitung menyebut pantun jorok Mat Asim itu sebagai pantun mapas-nyarut. Ayah saya sering menasehati saya agar jangan terlalu banyak mendengarkan pantun Mat Asim, karena pantunnya kebanyakan ngerecau atau ngawur. Namun saya senang saja mendengar Mat Asim berpantun aneh-aneh itu. Bagi saya, Mata Asim itu bagai satrawan tua yang tak pernah kehabisan ide dalam menyusun dan mempermainkan kata-kata. Namun setahu saya, Mat Asim tak pandai membaca syair. Selesai mendengar Mat Asim berpantun, kami menonton musik. Kami pulang kira-kira pukul sepuluh malam setelah menyaksikan orang bermain musik. Besoknya kami harus sekolah.
Di sekolah sering saya dan anak-anak laut yang lain diolok-olok karena kulit kami yang terbakar. Ada pula yang tega mengatakan kami mengemis ikan di pantai. Ada rasa ingin marah, tetapi lebih baik diam saja menahan diri. Kami bekerja di pantai membantu para nelayan. Kami tidak rela disebut pengemis. Jika mendengar penghinaan semacam itu, hati saya terasa menjerit. Saya ingin terus sekolah, walau apapun jadinya. Kakek saya, ayah saya dan beberapa orang lain mengatakan, hanya sekolah yang akan mengubah nasib. Saya percaya dengan semua itu. Orang Belitung miskin, begitu juga orang Bugis dan Bawean miskin, karena pendidikan mereka rendah sekali. Mereka hanya jadi nelayan, pegawai negeri rendahan dan pegawai rendahan perusahaan timah.
Kadang-kadang timbul perasaan ingin memukul mereka. Kalau saya mengikuti gaya kakek saya Jama Sandon, mungkin anak-anak itu sudah babak belur saya pukuli. Tetapi saya selalu ingat nasehat kakek saya Haji Zainal agar hidup selalu bersabar. Segala hinaan dan penderitaan hidup harus dihadapi dengan tenang. Tuhan Maha Adil, demikian nasehat beliau. Teman saya sekelas namanya Chudri – biasa dipanggil Ook – paling solider dengan anak-anak laut. Ayah Chudri seorang nelayan Bugis, namanya Sale. Dia marah dengan anak-anak yang mengolok-olok anak nelayan. Minan yang juga sekelas dengan saya, pernah mengancam mereka dengan pisau. Ayah Minan, Ismail Bugis, bukan nelayan. Ayahnya itu pegawai rendahan perusahaan timah. Minan tak suka pergi ke laut. Dia penjelajah hutan yang handal. Kadang-kadang dia suka berkelahi. Saya tidak mau ikut-ikutan berkelahi.
Teman saya yang bernama Chudri itu berpisah dengan saya ketika kami kelas III SD. Ayahnya pindah ke Balikpapan dan ingin menjadi nelayan di sana. Harga ikan di Balikpapan, katanya lebih mahal dibandingkan di Belitung, sehingga hidup keluarganya diharapkan akan lebih baik. Keluarga mereka juga ada di kota itu, setelah hijrah dari Sulawesi Selatan. Saya tak tahu berapa jauh dari Belitung ke Balikpapan. Mereka, akan menuju kota itu naik perahu layar. Saya sedih kehilangan taman yang begitu baik dan setia. Sejak keluarganya pindah ke Balikpapan, saya tak pernah lagi bertemu dengannya sampai sekarang. Ketika telah dewasa, beberapa kali saya ke Balikpapan dan kota lain di Kalimantan Timur. Saya bertanya tentang Chudri, kalau-kalau ada orang Bugis di sana yang mengenalnya. Namun dia tak pernah saya temukan.
Di kala nelayan tidak melaut, saya membantu ibu saya membuat minyak kelapa. Minyak kelapa itu kemudian kami jual di warung-warung terdekat. Kadangkala ada juga tetangga yang datang ke rumah membelinya. Hasil penjualan minyak kelapa itu, digunakan ibu saya untuk mengirimi uang kepada kakak saya yang sekolah PGA di Palembang. Kelapa itu sebagian berasal dari halaman rumah kami sendiri. Kalau sudah tidak cukup, ibu saya menyuruh saya membeli kelapa di rumah-rumah tetangga. Saya pernah membeli kelapa dengan adik kakek saya Yusuf, yang rumahnya di dekat pantai pengempangan. Beliau membantu membuang sabut kelapa itu dan menyisakan sebagian sabutnya agar dapat membuat tali mengikat dua kelapa. Saya tak ingat lagi berapa kelapa yang saya beli dengan beliau. Tetapi saya ingat tak semua kelapa itu harus saya bayar, sebagiannya diberikannya begitu saja.
Ada kalanya susah mencari kelapa di kampung karena kelapa yang sudah tua masih di pohon. Pemilik kelapa itu mengatakan silahkan saja membeli kelapa asal memetik sendiri. Dalam keadaan seperti itu, saya harus memanjat pohon dan memetiknya. Baru saya mengerti bahwa memanjat kelapa itu ada upahnya. Setiap lima
kelapa yang dipetik, upahnya satu biji kelapa. Dengan demikian, kelapa yang saya dapatkan, ada yang membeli dan ada yang di dapat sebagai upah. Karena itu, saya senang saja memetik kelapa di pohon-pohon agar dapat mendapat upah dan sekaligus membelinya. Pemilik kelapa juga merasa senang, agar kelapa yang sudah tua itu tidak menimpa orang yang kebetulan melintas di bawah pohon itu. Ketika kecil, saya tak merasa takut memanjat pohon kelapa, walau agak pohonnya agak tinggi. Kadang-kadang senang juga melihat pemandangan dari pelepah pohon kelapa yang tinggi. Di tempat itu saya dapat beristirahat sejenak di atasnya sebelum meluncur turun ke bawah. Memang ada seni tersendiri memanjat dari batang kelapa untuk naik ke sela-sela pelepahnya. Kita harus hati-hati jangan sampai memegang pelepah yang tua. Risikonya, kita bisa jatuh dari pohon. Alhamdulillah, meskipun kadang-kadang saya mampu memanjat sekitar sepuluh pohon kelapa sehari, saya selalu selamat tanpa pernah mengalami celaka. Ketika belakangan saya bertemu rekan dari Malaysia, baru saya tahu kalau di negeri jiran itu, pekerjaan memanjat pohon kelapa itu adalah pekerjaan Beruk, hewan sebangsa monyet. Di Belitung tak ada beruk. Monyet hutan atau kera dan lutung memang banyak. Namun monyet jenis ini tak dapat dilatih memetik kelapa.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 5th, 2008
48 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)”
Pages: [1] 2 » Show All
tonny (komentar #1)
Alhamdulillah…akhirnya berlanjut lagi…
Jadi ingat syair lagu masa kecil saya, “nenek moyangku seorang pelaut” … ternyata benar2 menarik kehidupan mereka…
Maaf Pak Yusril, kok sekarang font-nya terasa agak beda dari yang dulu (lebih besar2), beberapa penulisan katanya ada beberapa yang tanpa jeda… tapi tidak megurangi kenikmatan alurnya…
Saya juga mengikuti beberapa komentator tentang rumor akan dicalonkannya bapak jadi ketua MK dibeberapa media, hampir sebagian besar merasa keberatan dengan pencalonan pak Yusril, apakah itu bukan bagian dari upaya pembentukan citra negatif kepada bapak? Apalagi pemilu tinggal sebentar lagi… Yah semoga ada hikmah yang bisa dipetik dari semua peristiwa yang ada & senantiasa dilimpahi kesabaran…
Catatan : Mohon maaf, Tonny. Pada saat anda baca, posting ini sedang mengalami proses edit format tampilan, perbaikan kesalahan ketik, penambahan gambar dan pemberian paging (halaman) pada display extended entry. Sekarang semestinya sudah sesuai dengan standar seperti biasanya. Terima kasih atas perhatiannya.
January 5th, 2008 at 10:45 am
Ibnu Rusdi (komentar #2)
Assalamu,allikum bang Yusril,
Wah dengan cerita dan foto yang abang tampilkan saya juga jadi teringat Tanjung Pandan dengan pantainya yang menggoda. Saya bukan orang kampung abang, tapi saya hampir setiap tahun berkunjung ke Tanjung Pandan, untuk berkunjung ke sebuah perkebunan kelapa sawit yang gak jauh dari Tanjung Pandan.
Akan tetapi saya sekaligus prihatin melihat Tanjung Pandan saat ini, dipelosok-pelosok dusun yang saya kunjungi kini banyak bermunculan Tambang Timah liar yang mengabaikan sistem lingkungan bang. Lebih prihatin lagi sekaligus saya dengar pemiliknya adalah anggota Dewan yang terhormat. Jangan sampai lingkungan Tanjung Pandan menjadi lebih parah. Saya yakin abang pasti udah dengar cerita ini.
OK bang SELAMAT TAHUN BARU 2008, saya adalah salah seorang yang senantiasa menunggu tulisan dan berita abang di media masa.
Wassalam
Ibnu Rusdi
Terima kasih atas perhatian anda. Dari dulu saya sangat prihatin dengan kegiatan penambangan timah yang serampangan, tanpa perduli dengan kelestarian alam dan lingkungan. Sejak masih zaman PN Timah masih jaya-jayanya, saya telah mempermasalahkan hal ini. Apalagi sekarang ketika penambangan timah telah dilakukan oleh swasta dan bahkan oleh perseorangan. Izin Kuasa Penambangan sekarang juga telah beralih ke Pemda. Kontrol terhadap ekses penambangan, baik resmi maupun liar sangat lemah. (YIM)
January 5th, 2008 at 11:25 am
jebee (komentar #3)
Terus terang Bosan juga akhirnya baca Blog ini….
Saya yang mungkin juga beberapa kawan lainnya, yang ingin selalu menunggu torehan pikiran dan ucapan seorang tokoh sekaliber Yusril Ihza Mahendra hanya digiring untuk sebuah pelupaan kasus besar korupsi dan pengangkangan hukum dalam sejarah Indonesia, dan membelokkan opini masyarakat untuk memperbaiki sebuah pencitraan yang kadung tercela.
Saya awalnya, sangat berharap seorang mantan menteri, seorang guru besar, seorang tokoh elit partai, seorang pakar hukum.. dsb… bisa memberikan sebuah pencerahan hukum, pencerahan untuk perbaikan kondisi sosial, ekonomi, budaya dan kesejahteraan anak bangsa, solusi demi kebaikan bangsa dan negara, ikut merasakan rentetan musibah yang tiap detik menghujani bangsa… adakah rasa itu terselib disanubari seorang Yusril ?? Sepertinya tidak… sebenarnya kalau dia memiliki human interest yang dalam, kepekaan nurani kepada rakyat jelata.. sebenarnya wahana blog ini juga bisa digunakannya untuk menyapa rakyat yang tercabik nyawanya oleh longsor, rakyat yang tersedak nafasnya oleh luapan banjir dan lumpur, rakyat yang terkerat jantungnya oleh dentuman gempa, rakyat yang terburai oleh kecongkakan hukum, rakyat yang terkorbani oleh prosesi demokrasi, rakyat yang mamasuki tahun baru dengan tatapan semu… adakah seorang Yusril yang mencicipi menu lezat dan bau wangi parfum di jasnya yang diperoleh dari peluh keringat rakyat untuk sekedar menyapa rakyat jelata itu ???????
Saya awalnya memang agak gembira dan menyambut positif kehadiran Blog YUSRIL IHZA MAHENRA ini, dimana ada ucapan untuk saling berdiskusi, saling berargumentasi dalam bingkai kenegaraan dan kehidupan bermasyarakat..
Kita tentunya tidak bisa menyalahi, apa yang akan diisi oleh Pak Yusril di blognya ini, tentu itu adalah arena kewenangan dan haknya sendiri. tetapi setelah beberapa lama, setelah beberapa banyak komentar yang muncul untuk minta diskusi, minta pendapat, minta pencerahan dari seorang kaliber Yusril terutama tentang kehidupan berbangsa dan bernegara yang tak lain juga berhubungan dengan latar belakang keilmuan dan pengalaman Yusril sepertinya semua DICUEKKIN…. yang ditanggapi hanya komentar yang bernafas memuji, menyanjung dan dan lainnya…….
Memang baik ada cerita cerita tentang masa lalu itu, tetapi mungkin ada baiknya diselang selingi dengan sebuah opini, pendapat, pemikiran seorang Yusril terhadap setiap permasalahan bangsa yang sepertinya setiap detik pula selalu menghiasi dinamika negara ini… mana.. mana Pak pemikiran dan keprihatinanmu ??
Sejak Blog ini dilaunching berapa banyak sudah benang kusut wajah bangsa kita menyeruak.. seperti kasus pimpinan KPK, Komisi Yudisial, MA dengan KPUD Sulsel, Konferensi Pemanasan Global di Bali, Kasus Narkoba, Kasus diskriminasi Lembaga Pemasyarakatan, Kasus hubungan Indonesia - Malaysia,….. waduh……. masih panjang lagi Pak……………………… mana keikutsertaan Yusril memberikan kita sepatah dua patah kata kalimat kalimat ikut urun rembuk kalau bukan sebuah solusi ???
Yang didapat di Blog ini hanya sebuah kamuflase, sebuah kecongkakan dan kearoganan seorang ilmuwan dan politisi… hanya sebuah wahana yang digunakan untuk memoles diri kembali supaya lebih tampil seksi dan membuai rakyat untuk melupakan kisah pilu kasus kasus korupsi yang disemai selama ini…
Ah…. kegersangan dan kehausanku untuk berdiskusi tentang nasib bangsaku ini… masih jauh panggang dari api…
Atau akau sendiri yang tidak sabar menanti, pemikiran pemikiran tajam dari Yusril ? Atau menunggu Yusril dulu untuk dilantik menjadi Ketua MK, Wakil Presiden atau Presiden RI…
Atau menunggu dulu bangsa ini remuk redam sambil datangnya singgasana kekuasaan itu…. entahlah.
SELAMAT BERBLOGGER RIA…
SELAMAT TEBAR PESONA…
January 5th, 2008 at 1:21 pm
aini t.vierra (komentar #4)
Pak Yusril, akhirnya saya dapat membaca juga lanjutan kisah masa kecil anda pada bagian VI ini yg saya tunggu. Saya tetap senang membacanya dan saya mendapat kesan bahwa anda sangat memahami kehidupan orang miskin , terutama para nelayan , petani, ataupun pegawai rendahan. Itulah sebabnya saya berdoa agar pak Yusril dapat memimpin bangsa ini menuju kesejahteraan dengan memperbaiki kehidupan rakyat yg masih miskin. Pak Yusril sudah mengalaminya di masa kecil, tentu planning untuk meningkatkan kesejahteraan mereka tidaklah susah buat pak Yusril. Seseorang dapat membuat suatu planning berdasarkan pengalaman pribadi biasanya tujuannya akan lebih realistis dan akan berhasil. Terus terang saja , sebelum menulis komentar ini, saya agak terkejut membaca komentar # 3 itu. Terlepas permasahan yg dialami atau dikritik pada pak Yusril dalam karirnya sebelum ini, yg jelas saya kurang setuju dengan komentar # 3 di atas. Alasannya , sudah jelas jelas judulnya saja Kenagan Masa Kecil pak Yusril dan beliau tulis bersambung dari bagian I, II … dan VI. Tentu isinya harus konsisten dengan apa yg dialami pak Yusril ketika masa kecilnya. Jadi di sini saya tidak melihat dari segi pengalamannya selama di pemerintahan., tetapi pengalaman di masa kecil.
January 5th, 2008 at 1:57 pm
aini t.vierra (komentar #5)
Maaf , ada gangguan kecil sehingga komentar ini terpotong. Krtik dari komentar # 3 itu, menurut saya salah alamat. Boleh saja anda kritik blog ini, tapi kan sudah dikatakan bahwa pak Yusril baru belajar tentang blog ini. Ini hal baru baginya. Mungkin pak Yusril belum menemui tekniknya untuk menyisipi komentar ataupun tanggapan bersamaan dengan tulisan pengalamannya. Yang jelas saya lihat ada kejujuran dari pak Yusril dalam menulis tentang masa kecilnya. Beliau tidak menutupi hal hal yg kurang layak ( bagi orang yg kaya )misalnya ia harus utang di warung ketika keluarganya tidak punya uang ataupun belum gajian. Berjalan kaki ke rumah nenek untuk minta beras. Pakai baju compang camping, tanpa alas kaki, dst. Sekali lagi , menurut pendapat saya apa yg ditulis oleh pak Yusril dalam blog ini adalah konsisten dengan judul tulisannya KEnang kenangan Masa kecil, bukan sepak terjang selama di karir pemerintahan.Sorry , jika penulis komentar # 3 tidak mengerti maksud saya. Salam, perjuangkan cita cita anda pak Yusril.
January 5th, 2008 at 2:10 pm
Yusril Ihza Mahendra (komentar #6)
# Jebee.
Mohon sabar Uni. Insya Allah, saya akan menulis tentang politik, hukum dan masalah-masalah sosial dan kemanusiaan lainnya. Memang menulis di blog tergantung mood juga. Bahwa ketika membaca sebuah posting ada yang berminat dan ada yang tidak tentu wajar saja. Fokus perhatian orang memang berbeda-beda. Untuk itu saya maklum.
January 5th, 2008 at 2:31 pm
jebee (komentar #7)
Memang Pak saya tidak sabar untuk berdiskusi dengan anda, terutama tentang politik, hukum, pemerintahan, sosial kemasyarakatan, ekonomi dan tentang ketatanageraan lainnya, karena hal itulah yang sangat mendesak dan peka bagi bangsa ini sekarang.
Mengapa saya sepertinya ngoyo sekali memancing anda untuk diskusi kearah sana ? kalau anda bukan seorang Yusril yang seorang pakar hukum, politisi dan mantan menteri yang pernah mengurusi negara ini, mungkin tidak sekritis itu pula saya sama anda.
Coba anda baca kembali komentar saya di kenang-kenangaan di masa kecil bagian V, disitu saya menyoroti sedikit tentang kesenjangan-kesenjangan yang terjadi, itu saya tulis sebenarnya juga berkaitan dengan tulisan anda yang ada menceritakan tentang kesenjangan di tempat anda zaman dahulu, mengapa anda cuekkin ?? oooo.. rupanya anda tidak mood, jadi mood anda hanya muncul untuk komentar yang memuji muji saja, baguslah… PANTAS.
Untuk Saudara Aini t.vierra, terima kasih atas masukannya, memang kadangkala kita rakyat jelata terlalu lugu dan bersahaja untuk menerima sebuah cerita yang dibalut dogma untuk suatu kepentingan tertentu yang kita sendiri hanya akan menyadari suatu hari nanti.
Sepertinya saya terlalu keras yaa ? sebenarnya nggak juga, cuma saya sesak saja menyaksikan para keluguan dan kebersahajaan rakyat Indonesia seperti anak anak kecil yang dipermainkan oleh para petualang petualang singgasana kekuasaan, ketika kekuasaan sudah ditangan… apakah rakyat kecil itu akan diingat kembali ???? Wallahualam. Apakah Saudara Yusril masuk didalam yang saya kemukakan itu ?? jawabannya IYA… karena semasa Yusril menjabat menteri, coba saja tanya bagaimana itu perlakuan terhadap Lembaga Pemasyarakatan yang ada, tingkah laku para hakim penegak hukum, tingkah laku birokrat di departemen yang dipimpinnya..dsb.
Mood yang saya maksud adalah menulis posting. Setiap komentar saya baca satu demi satu. Ada yang saya tanggapi ada yang tidak. Kebanyakan yang saya tanggapi justru yang beda pendapat dengan saya, atau kalau ada hal yang memang perlu diberikan penjelasan tambahan. Yang setuju atau yang “memuji” saya diamkan saja. Kalau ada komentar yang tidak saya berikan tanggapan, bukan saya tak perduli. Kadangkala saya biarkan saja untuk dikomentari oleh komentator yang lain. Demikian penjelasan saya. (YIM)
January 5th, 2008 at 5:08 pm
jebee (komentar #8)
ehhh… Pak Yusril, Pak Harto lagi dirawat tuh di RSPP, apa sudah membesuk ??
Kalau nanti membesuk, titip “salam” yaa buat Tomy, he he….
Waah.. rupanya anda penggemar Tomy sampai mau titip “salam” padanya. Sayang seumur hidup saya belum pernah bertemu dengannya, he he.. (YIM).
January 5th, 2008 at 6:07 pm
jebee (komentar #9)
“Salam” nya kan ada tanda kutip Pak, maksudnya jangan salam tempel atau bisik bisik lainnya, hehe…
boleh dan bisa saja kan maksudnya salam supaya insyaf dan kembali kejalan yang benar.
Benar niihh, belum pernah bertemu…?? walau sekiranya memang belum pernah bertemu tapi paling tidak kan sudah membantu mencairkan uangnya kan ?? hehehe……
Jangan melarikan diri dari realitaslah Pak, hadapi apa yang telah diperbuat, bertanggungjawab dan jadilah diri sendiri dan apa adanya….(cuma saran).
Saya tidak melarikan diri dari tanggungjawab. Namun haruslah diingat bahwa apa yang saya lakukan dalam masalah Motorbike dan Paribas bukanlah tindakan pribadi, tetapi suatu tindakan jabatan. Secara pribadi, orang boleh suka atau tidak suka dengan seseorang. Namun ketika bertindak dalam jabataan, maka perasaan seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Saya sudah menjelaskan segala sesuatu yang saya anggap perlu sehubungan dengan masalah Motorbike dan Paribas itu. Bahwa anda mempunyai kesimpulan sendiri terhadap hal itu, dan berbeda dengan pandangan saya, saya menghormati perbedaan itu.
Secara pribadi saya tak mengenal Tomy Suharto. Berjumpa dengannya atau berbicara dengannya langsung maupun menggunakan alat komunikasi seumur hidup juga belum pernah. Demikian penjelasan saya. Terima kasih saya ucapkan. (YIM)
January 5th, 2008 at 6:50 pm
jebee (komentar #10)
Sabtu, 4 Januari 2008
BADAI PASTI BERLALU
Pak Yusril…..
Umur hanya ditangan Allah SWT…
Sekarang kondisi Pak Harto mantan Presiden Republik Indonesia yang berkuasa selama 32 tahun di ranah zamrud khatulistiwa dalam kondisi kritis. Terlepas dari aspek hukum yang melilitnya dan sepak terjangnya selama ini, secara kemanusiaan dan hamba-NYA kita tentunya tetap mendo’akan Beliau supaya cepat sembuh.
Ketika Pak Harto sekarang tergeletak lemas diranjang RSPP dibulan Januari 2008 ini, saya ingat tepat sepuluh tahun yang lalu, yakni tahun 1998 saat pekikan suara reformasi berkumandang membelah pori pori kesengakan nafas anak bangsa, saat krisis moneter menghantam bangsa ini, yang juga detik detik petaka bagai kelangsungan pemerintahan Pak Harto, saat itu muncul ketengah tengah seorang tokoh muda yang tampan dan ahli membuat pidato.
Saya ingat dia membuatkan pidato untuk Pak Harto dengan adanya sebuah kalimat yang takkan bisa saya lupa yakni “BADAI PASTI BERLALU” Pak Hartopun membacakan pidato itu dengan suara berat dan penuh harapan.
Pak Yusril, sekali lagi Nyawa hanya ditangan Allah SWT, sebelum Pak Harto meninggalkan bumi tercinta ini selamanya, ada baiknya anda datang, besuk dan ucapkan do’a supaya Beliau sembuh.
Setelah itu, untuk anda sendiri renungkanlah makna pidato yang sudah anda sodorkan untuk dibacakan oleh Pak Harto sepuluh tahun yang lalu itu.
KAPAN BADAI PASTI BERLALU ???
Sebagai sesama Muslim tentu saling mendoakan adalah perbuatan yang baik. Kalimat Badai Pasti Berlalu dibuat oleh Pak Moerdiono. Suatu ketika nanti saya akan menulis memoir tentang semua ini. Pidato yang diucapkan itu, seingat saya adalah tahun 1997, mudah-mudahan saya tidak salah. Apa yang anda kemukakan adalah persepsi tentang suatu peristiwa, atau katakanlah sebagai bagian dari suatu penulisan sejarah, dengan menggunaan historiografi tertentu. Orang lain boleh juga menuliskannya dengan menggunakan kerangka historiografi yang berbeda. Tentu dengan lebih dulu mengumpulkan data sejarah sebanyak mungkin, sebelum menganalisisnya. Bahwa penyajian fakta mungkin berbeda, sebagaimana analisisnya juga berbeda, hal itu wajar saja. Bagaimana proses dan prosedur penulisan naskah pidato Presiden, belum banyak diketahui oleh masyarakat. Insya Allah, suatu ketika saya akan menuliskannya untuk menambah wawasan kita bersama.
Sebagaimana saran anda, saya sendiri, tentu akan selalu merenungkan setiap peristiwa yang terjadi, apalagi saya terlibat di dalamnya. Dari perenungan itu saya akan banyak belajar dan mmetik hikmah. Apa yang baik, akan diteruskan. Apa yang salah, tentu harus diperbaiki dan ditinggalkan. Sebagai bangsa, kita tentu harus belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu, agar ke depan kita dapat bertindak lebih baik lagi.
Hanya itu tanggapan saya. Terima kasih saya ucapkan. (YIM)
January 5th, 2008 at 7:16 pm
n. jamil ghazali (komentar #11)
Saya menggaris bawahi komentar jebee, ibarat makanan terasa banget sambel beladonya yang pedes menyegat. Makanan pedes itu sehat lho, sama seperti jamu memang pahit tapi sehat. Hati-hati dengan makanan manis dan manisan .. kecuali manisnya madu memang obat ..
Kita memang banyak yang gak sabaran menunggu tulisan-tulisan pak Yusril ttg politik, hukum dan masalah sosial kemanusiaan .. sebenarnya sudah waktunya pak Yusril mulai memberi pencerahan hal-hal tersebut mengingat saat ini negeri kita sedang carut marut dan sering ditimpa multi musibah .. kita tunggu ..
January 5th, 2008 at 8:56 pm
jebee (komentar #12)
# 9 Yth. Pak Yusril
“Saya tidak melarikan diri dari tanggungjawab. Namun haruslah diingat bahwa apa yang saya lakukan dalam masalah Motorbike dan Paribas bukanlah tindakan pribadi, tetapi suatu tindakan jabatan. Secara pribadi, orang boleh suka atau tidak suka dengan seseorang. Namun ketika bertindak dalam jabataan, maka perasaan seperti itu harus dibuang jauh-jauh. Saya sudah menjelaskan segala sesuatu yang saya anggap perlu sehubungan dengan masalah Motorbike dan Paribas itu. Bahwa anda mempunyai kesimpulan sendiri terhadap hal itu, dan berbeda dengan pandangan saya, saya menghormati perbedaan itu.”
Pak Yusril..
Diskusi ini mungkin sudah kita lalui pada beberapa komentar dan tanggapan terdahulu.
Saya secara Pribadi tidak ada bermasalah seujung kotoran kukupun dengan Saudara, apalagi ada unsur like and disklike, jujur saja secara pribadi anda adalah idola saya, saya kagum dengan wawasan dan pemikiran Saudara. Justru yang saya selalu soroti itu adalah kapasitas Saudara dalam sebuah TINDAKAN JABATAN yang pernah saudara amanahi. Tentunya hal itu adalah apresiasi saya terhadap Saudara, apalagi memang saya haus sekali untuk dapat berdiskusi, berargumentasi terhadap Indonesia yang sangat saya puja dan cintai ini, salah satunya dengan anda.
Dahulu saya sudah mengatakan, saya akan angkat tangan dan mengatakan ANDA SEORANG KSATRIA jika masalah Motorbike dan Paribas ini Saudara Yusril selaku menteri Hukum dan HAM membicarakan dahulu dengan Presiden atau membahasnya dalam sidang kabinet, karena ini adalah permasalahan yang sangat urgen, tidak hanya menyangkut keberadaan Saudara selaku Menteri Hukum dan HAM saja, tetapi ini substansinya adalah negara, bangsa dan rakyat Indonesia, jadi seharusnyalah melalui konsultasi, koordinasi, komunikasi atau perintah dari seorang Presiden terlebih dahulu untuk memutuskannya. Tetapi kan sayang Anda tidak melakukan itu.
Memang secara hukum kemanapun dibawa Saudara akan tetap menang, karena terlalu banyak celah hukum yang bisa dipermainkan apalagi oleh saudara sendiri yang bisa berkelit bak belut dilumpur kelam.
Cuma kan Anda tidak mau sedikitpun mengakui ada celah kelemahan dan kekurangan yang ada pada tindakan Saudara pada permasalahan itu, Anda seolah olah selalu berada pada jalur yang Benar.
Aspek ETIKA PEMERINTAHAN dan ETIKA BIROKRASI Anda labrak begitu saja, Aspek Kepedihan Hati Nurani Rakyat Jelata tidak anda ajak untuk berkomunikasi. Dan nyatanya Aspek ini tidak pernah anda bahas dan tanggapi, anda hanya tetap bersikukuh kepada hukum yang kaku itu saja.
Jadi ini hanya tetap berpulang kepada HATI NURANI ANDA SENDIRI saja, saya kira komentar ini telah terlalu banyak dikomentari oleh para penggemar Blog Anda.
Cuma anda tetap pada KEANGKUHAN dan KEAROGANAN, Tidak mau mengakui secara jujur, jantan bahwa ada titik kekhilafan, kekurangan, kelalaian, atau kesengajaan Saudara. Belum ada tersirat anda mengakui bahwa anda termasuk hanya seorang hambanya yang tidak terlepas dari kelemahan “Tidak Ada Manusia yang Sempurna,” makanya saya katakan bertanggungjawablah pada realitas.
Masalah Anda kenal atau tidak dengan Tomy, anda pernah berkomunikasi atau tidak dengan Tomy itu nggak penting bagi saya, itu konsumsi dan ranah anda sendiri, tetapi anda jangan lupa dalam kapasitas jabatan anda sering masuk kerumah Orangtuanya Tomy Soeharto, apakah lewat pintu resmi ataupun loncat pagar.
Jebee,
Hanya bagian paragraf terakhir anda (yang saya edit jadi cetak miring) yang perlu saya tanggapi. Pertama kali saya datang ke rumah Presiden Soeharto tanggal 16 Mei 1998 dini hari pk. 1.30. Ada serombongan tentara mengetuk rumah saya di Ciputat dan mengatakan bahwa Presiden memanggil Bapak sekarang juga. Kedua, saya datang tanggal 20 Mei sampai pagi hari 21 Mei 1998 atas perintah Saadillah Mursyid, Mensesneg waktu itu. Selama Presiden Soeharto menjadi Presiden, hanya itulah saya datang ke rumah beliau di Jalan Cendana. Setiap orang datang ke rumah Presiden, selalu direkord oleh ajudan atau Paspempres. Saya tak ingin apa yang anda katakan itu menjadi fitnah, kecuali anda dapat membuktikan sebaliknya. Saya mohon maaf mengemukakan semua ini agar tidak menimbulkan salah paham yang luas di masyarakat. Saya dituntut untuk mengemukakan sesuatu secara jujur, dan karena itu saya memenuhinya. Namun saya mohon pula, agar anda juga mengemukakan sesuatu dengan kejujuran, bukan dengan rekaan belaka. Dengan demikian, semuanya akan menjadi adil dan berimbang. (YIM)
January 5th, 2008 at 9:10 pm
jebee (komentar #13)
# 10 Yth. Pak Yusril
BENAR.. Pidato itu dibacakan oleh Presidern Soeharto Bulan Agustus Tahun 1997 saat pengukuhan Pamong Praja Muda di Jatinangor - Jawa Barat, MAAF atas kekeliruan saya dan terima kasih atas ingatan Saudara.
Pak, ini membikin saya mengerinyit dahi lagi, dahulu dalam sebuah wawancara oleh sebuah media cetak, Anda mengatakan bahwa pidato itu anda yang membuat dan sengaja membuatnya untuk introspeksi bagi Pak Harto sendiri, mungkin kepada kawan yang dari media massa bisa kembali menemukan kliping komentar/wawancara Pak Yusril ini.
“Sebagaimana saran anda, saya sendiri, tentu akan selalu merenungkan setiap peristiwa yang terjadi, apalagi saya terlibat di dalamnya. Dari perenungan itu saya akan banyak belajar dan memetik hikmah. Apa yang baik, akan diteruskan. Apa yang salah, tentu harus diperbaiki dan ditinggalkan. Sebagai bangsa, kita tentu harus belajar dari pengalaman-pengalaman masa lalu, agar ke depan kita dapat bertindak lebih baik lagi.”
Saya sangat tersentuh dengan paragraph kedua tanggapan Saudara ini, sebenarnya hal ini yang saya tunggu keluar dari celah celah tangan saudara saat mengutak ngatik laptop atau komputer, yang tentunya diiring dengan derak ketulusan , keikhlasan dan kejujuran hati nurani.
Semoga itu tidak hanya dalam catatan dan ucapan Saudara saja, semoga juga tercermin dalam tindakan, perilaku dan terutama sekali dalam keberadaan Saudara jika nantinya kembali mendapat Anugerah, Hidayah dan Amanah untuk mengelola bangsa dan Rakyat Indonesia ini.
TERIMA KASIH…
January 5th, 2008 at 9:34 pm
Aa Nata (komentar #14)
Yusril said:
Secara pribadi saya tak mengenal Tomy Suharto. Berjumpa dengannya atau berbicara dengannya langsung maupun menggunakan alat komunikasi seumur hidup juga belum pernah. Demikian penjelasan saya. Terima kasih saya ucapkan. (YIM)
=> Ah really? Are you sure? Ah masa cih pakkkk? Hard to believe man :P *ngacirrr
Itulah fakta yang sesungguhnya terjadi. Percaya atau tidak itu masalah lain. Percaya tentang sesuatu kadangkala tidak memerlukan pembuktian impiris. Sebuah bukti empirispun bisa saja tidak dipercayai. Dunia percaya adalah dunia tersendiri. Terima kasih. (YIM)
January 5th, 2008 at 9:46 pm
aini t.vierra (komentar #15)
saya sudah membaca komentar dari #6 s/d #13. Terima kasih untuk jebee atas tanggapan komentarnya pada saya. Artinya, anda mengerti maksud komentar saya pada anda. Memang saya tidak terlibat aktif dalam masalah masalah poitik, pemerintahan dan tokoh tokoh pemerintahan. Kalau diikuti terus komentar tentang kasus kasus seperti yg jebee soroti dalam blog ini, memang saya buta sama sekali. Yang jelas ada etiket yg baik dari pak Yusril untuk menulis blog ini supaya orang tahu latar belakang pak Yusril. Tidak hanya menjudge saja. Contohnya, semua orang tak percaya bahwa pak Yusril tidak pernah bertemu dengan Tommy. Nah, percayakah orang kalau Yusril kecil , tidak punya alas kaki ke sekolah walaupun orang tuanya seorang tokoh masyarakat saat itu? Percayakah orang kalau Yusril kecil harus makan cabai tumbuk dengan garam serta ikan , tanpa nasi ? Itulah , kadang walaupun fakta atau pengalaman seseorang yg diungkapkan drngan benar, kadang orang tidak percaya. Kita lebih cenderung judgemental , sebab kita telah memvonis seseorang tanpa mau menelaah latar belakang dst. Saya kesannya memeang lugu dalam hal percaturan masalah yg ada di Indo yg melibatkan pak yusril seperti yg dikritisi oleh jebee. Yg jelas , yusril itu orang yg tahu kesusahan orang lain, hidup sederhana, kerja keras, kreatif untuk yg positif ( masih kecil sudah bisa bantu keluarga dapat ikan dengan bantu nelayan ), tidak ada pikiran macam macam untuk gunakan jabatannya ( jadi dosen , gampang saja ia rayu mahasiswinya , kalau ia mau gunakan jabatanya ). Jadi menurut pendapat saya pak yusril itu punya landasan moral yg kuat. Ia akan berpikir dulu sebelum bertindak. Memang harapan saya, suatu saat pak Yusril bisa menulis sebuah buku tentang semua apa yg pernah pak yusril alami. paling tidak , dari tulisan memoir masa kecil ini, saya juga belajar dari pak yusril bahwa memang orang miskin itu tidak berdaya. Satu satunya untuk mengubah nasib mereka , lewat pendidikan. Itulah harapan saya semoga di masa depan pak yusril bisa meyumbangkan kemampuannya untuk mengangkat bangsa ini dari kemiskinan lewat pendidikan. Lebih baik , konsentrasikan waktu untuk yg positif bagi bangsa ini, daripada mencari kesalahan kesalahan yg tanpa landasan yg kuat. saya hanyalah orang yg lugu dalam politik, tapi tidak prejudice pada seseorang. terima kasih. salam buat jebee dan Pak Yusril.
January 5th, 2008 at 11:58 pm
cokk (komentar #16)
salam’alaykum.
saya merasa perlu menyampaikan pendapat. sejujurnya ada banyak hal yang disampaikan jebee yang berkesesuaian dengan apa yang saya ingini. jadi dengan komen ini, semoga menjadi tambahan pertimbangan dari Prof. supaya segera memulai penulisan mengulas permasalahan kontemporer berbangsa. mengenai minyak tanah yang semakin langka, mengenai kejahatan negara kepada rakyatnya, realisasi anggaran pendidkan yang tak kunjung terpenuhi. dan segala sesuatunya yang membuat kami yang sedang susah setidaknya merasa memiliki bumper yang kuat.
saya cukup intens mengkases situs pak Yusril adalah untuk diceritakan kembali di rumah karena istri saya nge-fans pada pimpinan bulan bintang ini. di kampung, banyak dari anggota keluarga istri yang jadi pengurus pbb. itu sebagai tambahan alasan bagi saya, mendapatkan bahan omongan untuk berakrab-ria dengan sanak di kampung. saya pribadi lebih berharap membaca hal yang lain.
Terimakasih, kami (saya dan jebee dan mungkin ada beberapa yang lain) menantikan tulisan dan pendapat Prof. Namun tentu saja ada cukup banyak juga yang menyukai topik semula. istri saya sendiri dan aini t.viera misalnya. Kalau tidak memberatkan saya usul supaya dibuatkan semacam tag-banner menuju tema(-tema) tulisan. satu untuk yang lebih kepada kesukaan aini, satunya lagi mengulas permasalahan berbangsa (untuk jebee), dan beberapa sub atau tema yang lainnya. Salam.
January 6th, 2008 at 1:17 am
purnama (komentar #17)
Jabee la bosan, aku ndak……………………..
January 6th, 2008 at 2:33 am
purnama (komentar #18)
Jabee nak mintak ditanggapi, aku ndak………..
January 6th, 2008 at 2:36 am
purnama (komentar #19)
Namun meski begitu, saya pun setuju bila Pak Yusril dapat membagi bagikan ilmu bapak ke kita-kita. Saya perjelas lagi, ilmunya pak, tentunya, saya juga tetap menantikan kehadiran lanjutan cerita bapak ini, insyaAllah, ndak bosanin kok pak. Hanya saja, saya pun juga memerlukan banyak hal yang berkaitan dengan hukum dan politik, apakah itu secara umum atau global maupun lebih terperinci. Baik keindonesiaan, maupun internasional secara umum. Maksud saya, saya sama sekali bukan berharap nantinya tulisan bapak dapat dikopi paste orang orang seperti saya, hanya saja, Saya sebagai seorang pelajar tentunya dapat merasakan manfaatnya meskipun bapak tidak menulis hukum dan politik secara keilmuan bukanlah tema yang dapat menarik perhatian orang banyak. Namun tidak segala sesuatu yang bermanfaat itu dapat dinikmati banyak orang kan pak. Sebagaimana saya adalah seorang yang menikmati riwayat hidup bapak dengan berbagai alasan dan pertimbangan. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
January 6th, 2008 at 2:48 am
Iwan Asnawi (komentar #20)
Ass…Wr.Wb…
Hallo, Bang Yusril Ihza Mahendra…
Saya tak akan menampik akan adanya perdebatan Anda dengan si Jebee, atau yang lain di ruang Anda ini (Blog). Tapi, kesan saya sepertinya akan “bias” kalau Anda terus-terusan mengomentari satu orang saja seperti si Jebee itu. Jadi, saya berharaf akhiri saja!!! Kan, kata pepatah lama “Biarkan Anjing menggong-gong, asal tak menggigit. Eh, maksud saya… Asalkan Kafillah tetap berlalu”…
Saya sebagai penikmat tulisan Anda, jadi terganggu juga atas ulah si Jebee itu.
Teruskan, menulis “Kisah Abang”…
Hormat Saya: Iwan Asnawi, Swiss…
January 6th, 2008 at 4:25 am
Bonar (komentar #21)
@jebee:
Anda lagi pms ya? hahahahah…. Just kidding.
Angkat topi untuk Anda, Pak/Bu Jebee. Salut!
Saya menunggu lanjutannya dengan senyum lebar!
Tapi berbeda dengan Anda, saya masih cukup menikmati serial KKMK, walaupun saya membacanya hanya pada saat-saat yang sangat sangat luang saja.
Oh ya Pak/Bu Jebee, soal ‘etika pemerintahan’ yang anda sebut-sebut, ini menggelitik saya:
Etika? etikanya siapa? siapa yang memformulasikannya? siapa yang menyepakatinya? siapa yang mengharuskannya? :)
Sepanjang yang saya tahu (dan saya harap saya salah karena kurangnya pengalaman saya), kata ‘etika’ hanya dipakai oleh orang yang merasa lebih mulia secara moral untuk memaksakan pendapatnya kepada orang lain yang dianggapnya rendah secara moral.
January 6th, 2008 at 9:35 am
jebee (komentar #22)
#11 Yth. Pak Yusril
Oyalah Pak… berapa kali Bapak mau datang kerumahnya Pak Harto di Jl.Cendana, menurut saya itu hal lumrah saja kok, WAJAR apalagi memang Bapak dulu termasuk salah seorang tim konseptor pidatonyo Presiden RI. Saya mengatakan bahwa bapak sering datang kerumahnya Pak Harto apakah lewat pintu resmi atau loncat pagar, informasi itu saya peroleh juga dari cerita Bapak kok di media massa, yang begitu antusias dan bangganya Bapak menceritakan saat saat genting menjelang Pak Harto akan lengser keprabon itu.
Kalau Bapak mempraduga kata saya itu menjurus ke arah Fitnah, SAYA MOHON MAAF, tetapi dari lubuk hati saya tidak ada berpikiran demikian. Justru saya jadi bertanya tanya sendiri, mengapa Bapak harus kebakaran jenggot dan mengatakan akan menjadi fitnah segala jika harus datang kerumahnya Pak Harto. Menurut saya yaa Wajar dan kewajiban Bapak kalau dipanggil atasan untuk datang kerumahnya untuk diskusi dan saling sharing pemikiran. Sekiranya Bapak datang tidak dengan dipanggil atau inisiatif sendiri, menurut saya juga tidak ada masalah kok, itukan juga sebuah bentuk jalinan tali silaturahmi sebagai sesama Hamba-Nya.
Bapak bilang Bapak hanya datang kerumahnya Pak Harto hanya dua kali itu saja selama Beliau menjabat Presiden, walaupun setelah Beliau tidak menjabat Presiden lagi, Bapak mau datang atau tidak kerumahnya Pak Harto menurut saya juga tidak ada masalah.
Walaupun hanya dua kali itu Bapak datang kerumahnya Pak Harto, tetapi Bapak jangan emoh/sungkan/risih lagi kalau dikatakan bahwa Bapak pernah ikut, bekerja, dididik, dibina dan masuk kedalam lingkungan pekerjaan kenegaraan yang dipimpin oleh Pak Harto.
Yang jadi pertanyaan, mengapa Bapak harus sewot jika disinggung dengan nama Pak Harto. Apakah dengan adanya embel Pak Harto ini akan mendegradasi integritas Bapak ?? menurut saya picik dan kecil sekali jiwa kita kalau takut dikaitkan demikian….
Menurut saya bagaimanapun Bapak tidak bisa lepas dari aroma Orde Baru, dan bukan hanya Bapak semua kita warga Indonesia harus menerima realitas pernah melewati nuansa orde baru, orde baru itu ada plus dan minusnya, sekarang tergantung pada pribadi kita masing masing, apakah ada aroma minusnya atau plus, atau ada minus dan plusnya. Jadi mengapa harus ragu, gamang atau takut ada embel embel Pak Hartonya…. Kalau kita memang memiliki integritas, kapasitas dan kapabilitas, tidak pernah KKN… yaa santai sajalah….. WAKTU AKAN BERBICARA DAN ALLAH SWT TIDAK AKAN MENYIA-NYIAKAN UMMATNYA YANG JUJUR DAN APA ADANYA.
Jika saya ikut ikutan menyoroti kasus Bapak pada masalah Motorbike dan Bank Paribas ini yang mana juga ada embel embel Tomy Soehartonya, saya menyoroti bukan ke Tomy atau Pribadi Bapak, tetapi lebih kepada substansi dan suasana yang menyelimuti permasalahan itu dan dalam kapasitas Bapak dalam jabatan Bapak di negara ini.
Sementara itu dulu Pak….
January 6th, 2008 at 12:22 pm
edo (komentar #23)
menarik euy perdebatannya :)
mohon ijin urun rembug.
jelas saya sangat ingin membaca tulisan bang yusril tentang kemaslahatan bangsa. simple buat saya. Bang yusril bukan hanya seorang pengamat, tapi juga pelaku. akan sangat menarik buat saya untuk belajar dari perspektif bang yusril.
seorang YIM menulis cerita masa lalunya? Buat saya tetap menarik walaupun saya akhirnya tidak bisa membaca tuntas karena panjangnya cerita dan keterbatasan waktu. Toh, saya tetap mendapatkan banyak hikmah dari tulisan bang yusril.
buat saya dinamika ini menarik. sulit terjadi di dunia nyata. terkadang saya melihat di dunia maya aslinya seseorang lebih terlihat, karena tersembunyi dari banyak hal. apapun dan siapapun yang menulis, pasti akan ada yang suka dan tidak suka. akan ada yang optimis dan pesimis. buat saya, saya cuma ingin yang positif saja. Lelah rasanya hidup dalam segala kenegatifan tentang hidup. mending berfikir positif, mencoba berbuat yang lebih baik.
dibilang fans saya sih bukan. tapi yang jelas saya kagum terhadap bang yusril untuk alasan sederhana : tidak banyak orang penting yang mau menyisihkan waktunya untuk ngeblog :). at least ada perspektif lain yang saya dapatkan.
salah seorang guru saya bilang “what you think is who you are”. silahkan dimaknai sendiri-sendiri. toh semua cuma perspektif :)
saya toh tidak lebih baik dari siapapun di forum ini. cuma penikmat yang tengah belajar dan ingin lebih baik. so, mari sama-sama berkaca.
buat bang yusril, saya termasuk orang yang menunggu tulisan-tulisan bang yusril dalam wacana kebangsaan. saya yakin banyak yang seperti itu, disini. semoga bang yusril punya waktu untuk berbagi ilmu.
salam,
January 6th, 2008 at 4:39 pm
edo (komentar #24)
oh ya.
btw, saya yakin bang yusril paham bahwa ini resiko sebagai orang yang diharapkan dan public figure. lagi-lagi inget pesen guru saya, “besar kecil kekecewaan adalah representative dari besar kecilnya kecintaan”. so, ini impact pengharapan kayaknya bang. saya sih percaya mas/mba jebee seperti itu hehehhe.. sama halnya dengan semua orang yang menyisihkan waktunya untuk membaca blog ini :)
salam kenal untuk semua
January 6th, 2008 at 4:42 pm
jebee (komentar #25)
Salam Merdeka kawan semua …
MOHON MAAF kepada para saudara sidang blogger, pembaca, penikmat, pengomentar BLOG PAK YUSRIL yang saya muliakan.
Mungkin komentar saya sangat mempengaruhi kekhusukan dan kenikmatan kita dalam membaca, memaknai, menghayati, mengambil hikmah dan pelajaran dari postingan cerita KKMK ini.
Iya seeh, tanpa saya sadari pernyataan saya yang mengatakan… “Terus terang Bosan juga akhirnya baca Blog ini…” itu muncul secara otomatis saja, karena apa, saya mungkin juga kawan kawan lainnya selalu menantikan adanya pencerahan pemikiran dari Pak Yusril..tentang kehidupan berbangsa dan bernegara ..(saya terus terang jika buka laptop pasti yang saya buka pertama kali adalah BLOG PAK YUSRIL ini), karena kita lihat hampir setiap hari kelucuan, kecurangan, kegaduhan hukum, politik, sosial, ekonomi dsb menghisasi wajah bangsa kita. Mengapa saya begitu ngoyo mengarahkan Pak Yusril untuk mengeluakan pemikirannya kearah sana, karena kita tahu bersama Beliau merupakan salah satu tokoh yang kita pandang bisa ikut bersama sama memberikan solusi yang konstruktif bagi ranah nusantara ini. Apalagi diawal kata Beliau suadah memberikan sinyal untuk terbuka dan berdiskusi kepada kita bersama tentang masalah berbangsa dan bernegara ini.
Kita tentunya juga mengerti beliau tentunya tidaklah bisa begitu saja membuat postingan yang apa adanya dan asal sorot saja, apalagi beliau kita lihat cukup hati hati, harus ada referensi yang akurat untuk membuat sebuah postingan. Kita tentunya tidaklah menuntut untuk seperfect itu, tapi minimal adalah semacam artikel pendek atau opini ringan tentang problematika bangsa yang saban detik berlinang air mata ini, sebagai setetas obat penglipur lara bagi kita bersama untuk memahami gejolak bangsa yang terus bergelora. Membuat pidato Presiden saja bisa kok dalam beberapa jam….
Sebenarnya saya TIDAKLAH BOSAN membaca dan mengikuti cerita KKMK ini, terus terang banyak pelajaran, kenangan, hikmah yang dapat kita ambil bersama. Saya juga menitikkan air mata membaca kisah dan pengalaman itu, sepertinya kehidupan saya juga tak jauh seperti itu, tentu dalam dinamika yang berbeda, tetapi inti tentang kemiskinan, kemelaratan, kesenjangan itu hampirlah sama.
Jadi mengapa saya mengatakan BOSAN ? saya sangat sependapat sekali dengan komentar Mas COKK yang menurut saya itulah sebenarnya yang saya maksud dan saya harapkan, saya kira itu pendapat dan solusi yang baik, cuma saja saya tidak bisa menyusun kata seindah dan seramah Mas Cokk itu, kemudian pendapat Mas EDO juga sangat negerawanan memang itu sebenarnya ada dalam benak saya, ‘SEMUA INI ADALAH IMPACT PENGHARAPAN” saya atau kita semua yang besar akan tatapan kebesaran dan kemegahan peradaban ranah Indonesia untuk maju, bermartabat, bermaslahat, berbudaya dan masyarakatnya dapat hidup layak dan sejahtera.
Untuk Mas Bonar… Insya Allah mengenai Etika Pemerintahan dan Etika Birokrasi itu akan saya coba nanti mencarikan referensinya… tapi kayaknya Pak Yusril lebih matang dan akurat itu untuk kita mintakan bersama pencerahan dari Beliau, karena dalam Pidato Presiden saja cukup banyak ditemukan kata kata Etika Pemerintahan.
MOHON MAAF kalau mengganggu
SALAM PERSAUDARAAN….
January 6th, 2008 at 8:07 pm
Ahmad David Kholilurrahman (komentar #26)
Assalamu’alaikum. wr wb.
Bang Yusril,
Teruslah bercerita terus. Saya menikmati tuturan abang yang sangat rinci dan menarik. Betapa abang sangat pandai bertutur-kata, mewarisi kepandaian orang-orang Melayu terdahulu. Betul lah bangsa Melayu adalah bangsa pujangga.
Jauh dirantau, saya sedikit terobati dengan kisah-kisah khas kampung. Jauh menyuruk ingatan saya ke laman masa kanak-kanak dulu. Teruskan kisah-kisah abang, semoga suatu kelak dibukukan dan diterbitkan.
Kosakata cucuk, menyucuk ikan dengan rotan atau akar, sangat khas sekali. Juga pekerjaan yang dulu saya lakukan bila mendapat ikan hasil pancingan.
Salam saya dari negeri seribu menara!
Wassalam
January 6th, 2008 at 9:45 pm
Hartono (komentar #27)
Untuk Bung Jebee :
kenapa anda ngricuh di “rumah” orang?
bikin blog sendiri aja kenapa?
apa anda berharaap dengan tulisan itu anda jadi pahlawan?
atau jangan jangan anda cuma suruhan/ kaki tangan dari saingan pak yusril?
Perkara Pak Yusril bikin blog otobiografinya adalah masalah pribadi, jangan di setir ke arah politis.
Dalam hal ini andalah yang mengganggu privasi seseorang.
jangan setiap kata2 dari seorang mantan politikus disangkutkan dengan politik dan kewajiban ataupun kesalahan yang pernah dibuat.
Last question
apakah anda seorang malaikat? ataou seorang yg berwenang menghakimi seseorang?
heran habis demokrasi di reformasi, semua org pengen jadi raja kayak bung Jebee ini.
Untuk Administrator mohon postingan di review dulu sesuai apa ngga sebelum diposting. ini sudah wajar untuk menghindari perusuh2
maklum abis reformasi, banyak bonek2 yang merasa pahlawan bangsa, malah jadi provokator bikin ricuh aja.
kalo menurut Bung Sophan Sophiaan, kayak monyet lepas dr kandang, lompat ke kiri - lompat ke kanan
mohon maap kalo ada yg tersinggung
Pak Hartono,
Terima kasih atas komentar anda. Saya pribadi berpendapat, biarkanlah seseorang menyampaikan pendapatnya secara terbuka di blog ini. Saya menghargai semua pendapat. Seperti telah saya kemukakan di awal munculnya blog ini, saya ingin belajar, bertukar informasi dan bertukar pikiran atas dasar saling hormat-menghormati pandangan masing-masing, secara simpatik. Walaupun saya tak bermaksud menggurui, namun tetaplah saya berharap, kita tetap menghargai sopan santun dan tutur bahasa yang baik. Dengan cara itu, Insya Allah, kita dapat bertukar pikiran secara jernih dan jauh dari purbasangka. Semoga Allah Ta’ala akan membimbing kita semua ke arah kebijaksanaan dan kebajikan. (YIM)
January 7th, 2008 at 3:46 am
Iwan Asnawi (komentar #28)
Ass…Wr.Wb…
Hallo, lagi… Bang Yusril Ihza Mahendra…
Ketok pintu lagi nih Bang di Blog Anda, mau ikutan, “say hello pada Hartono”… Saya mendukung pendapat si Hartono… “Hidup Hartono!!!”… Ehh, Hartono… Jebee itu kayaknya Emak-Emak deh… Abis, dipanggil Uni sih, sama Bang YIM… Membangun Opini jangan disini dong Uni Jebee!!!
Mudah-mudahan Anda bijaksana Bang YIM?!…
Hormat Saya: Iwan Asnawi, Swiss…
January 7th, 2008 at 4:29 am
Aa Nata (komentar #29)
Yusril said:
Secara pribadi saya tak mengenal Tomy Suharto. Berjumpa dengannya atau berbicara dengannya langsung maupun menggunakan alat komunikasi seumur hidup juga belum pernah. Demikian penjelasan saya. Terima kasih saya ucapkan. (YIM)
=> Ah really? Are you sure? Ah masa cih pakkkk? Hard to believe man :P *ngacirrr
Itulah fakta yang sesungguhnya terjadi. Percaya atau tidak itu masalah lain. Percaya tentang sesuatu kadangkala tidak memerlukan pembuktian impiris. Sebuah bukti empirispun bisa saja tidak dipercayai. Dunia percaya adalah dunia tersendiri. Terima kasih. (YIM)
=> Ok Pak. Saya apresiasi pernyataan anda diatas bahwa Anda menyatakan Bahwa FAKTA yang sesungguhnya terjadi adalah “Secara pribadi saya tak mengenal Tomy Suharto. Berjumpa dengannya atau berbicara dengannya langsung maupun menggunakan alat komunikasi seumur hidup juga belum pernah. Demikian penjelasan saya. Terima kasih saya ucapkan. (YIM)”. Namun apabila dikemudian hari kemudian kenyataannya tidak demikian, INTEGRITAS anda benar-benar sesuatu yang dipertanyakan.
Semoga saja tidak terjadi demikian. Karena saya ga mau suuzzon sama orang. Dan Good luck with your new endeavors!
Just keep in mind, kalo masyarakat adalah kontrol sosial nomor 1. Remember who you came from.
Best regards,
Adinoto a.k.a Aa Nata.
Pak Adinoto,
Terima kasih saya ucapkan atas pandangannya. Saya menyadari konsekuensi dari apa yang saya tuliskan. Kalau hati tak yakin, saya takkan mengatakannya. Seperti kata orang Melayu: Apakah lagi yang dapat dijadikan pegangan orang lain, selain kata-kata kita? Kalau kata-kata sudah tak dapat lagi dipercaya, maka segala marwah dan martabat akan sirna. Kehidupan sesungguhnya telah kehilangan akan makna. Saya menyadari semua ini dengan sepenuh keyakinan. (YIM)
January 7th, 2008 at 4:30 am
Anwarul Haqi (komentar #30)
bung jebee. kita juga pgn tau dunk siapa anda.
apakah jebee ini nama orang atau LSM atau yayasan atau apa?
bikin blog sendiri aja. gratis kok.
atau mungkin blum punya blog tapi ada FS account mungkin. hehe.
lucu aja ngeliatnya kalo debatnya jadi seperti Pak Yusril vs Anonymous.
Pak Yusril sudah cukup down to earth mau bikin blog dan menjawabnya sendiri.
Jarang banget politisi seperti ini.
Buat Pak Yusril, selamat menuangkan pikiran :)
Siap2 bakal banyak komentar di blog ini.
January 7th, 2008 at 8:51 am
Pages: [1] 2 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda