Beranda

KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)

Sehabis pulang dari laut sore hari, saya makan dulu dan kemudian ikut anak-anak lain main bola, atau menonton orang bermain volly ball di belakang rumah kami. Di lapangan bola Kampung Sekep juga ada klub bola, yang setiap minggu ada orang latihan atau bertanding sepak bola. Selesai dari semua itu, saya pergi ke sumur tetangga untuk mandi sebelum pulang ke rumah. Tempat kami mandi itu berpindah-pindah dari satu sumur ke sumur lain. Seperti telah saya ceritakan di Bagian V, saya selalu mengambil air pagi hari di sumur-sumur itu sebelum pergi sekolah. Suatu hal yang membuat kami gembira ketika masih kanak-kanak ialah kami selalu menyaksikan orang latihan bermain musik di kampung kami. Orkes musik itu dipimpin oleh seorang bernama Lahat – orang kampung memanggilnya Mak Lahuk– sehingga orkesnya diolok-olok dengan sebutan Orkes Mak Lahuk. Saya tidak tahu apa nama orkes itu sebenarnya, sebagaimana juga saya tidak tahu siapa nama Lahat yang sebenarnya. Dia dipanggil demikian, karena memang berasal dari daerah Lahat, dekat Palembang.

Ada dua tempat mereka berlatih musik, kalau tidak di rumah mertua Lahat, namanya Mat Asim, atau di rumah Saleh Wai di Kampung Sekep. Lahat sendiri mahir memainkan segala jenis alat musik yang digunakan orkesnya. Namun dia paling sering bermain gambus, sambil menyanyikan lagu berirama padang pasir. Orkes itu sering manggung kalau ada kenduri pernikahan di kampung kami, atau acara-cara keramaian yang lain. Pak Sale Wai, pemilik rumah tempat latihan musik itu selalu menyanyi lagu penutup latihan malam itu. Lagu favoritnya adalah keroncong Bengawan Solo. Kalau latihan di rumah Mat Asim, sebelum musik dimulai, kami biasanya duduk-duduk dulu di persimpangan jalan Kampung Bawah, yang dijadikan tempat orang berjualan kue, roti dan singkong goreng.

Mat Asim yang sudah tua sering duduk di perempatan jalan itu sambil berpantun. Beliau sering mengajak anak-anak bersahut pantun. Makin lama pantun Mat Asim makin seru, tetapi juga makin jorok. Bahasa Belitung menyebut pantun jorok Mat Asim itu sebagai pantun mapas-nyarut. Ayah saya sering menasehati saya agar jangan terlalu banyak mendengarkan pantun Mat Asim, karena pantunnya kebanyakan ngerecau atau ngawur. Namun saya senang saja mendengar Mat Asim berpantun aneh-aneh itu. Bagi saya, Mata Asim itu bagai satrawan tua yang tak pernah kehabisan ide dalam menyusun dan mempermainkan kata-kata. Namun setahu saya, Mat Asim tak pandai membaca syair. Selesai mendengar Mat Asim berpantun, kami menonton musik. Kami pulang kira-kira pukul sepuluh malam setelah menyaksikan orang bermain musik. Besoknya kami harus sekolah.

Di sekolah sering saya dan anak-anak laut yang lain diolok-olok karena kulit kami yang terbakar. Ada pula yang tega mengatakan kami mengemis ikan di pantai. Ada rasa ingin marah, tetapi lebih baik diam saja menahan diri. Kami bekerja di pantai membantu para nelayan. Kami tidak rela disebut pengemis. Jika mendengar penghinaan semacam itu, hati saya terasa menjerit. Saya ingin terus sekolah, walau apapun jadinya. Kakek saya, ayah saya dan beberapa orang lain mengatakan, hanya sekolah yang akan mengubah nasib. Saya percaya dengan semua itu. Orang Belitung miskin, begitu juga orang Bugis dan Bawean miskin, karena pendidikan mereka rendah sekali. Mereka hanya jadi nelayan, pegawai negeri rendahan dan pegawai rendahan perusahaan timah.

Kadang-kadang timbul perasaan ingin memukul mereka. Kalau saya mengikuti gaya kakek saya Jama Sandon, mungkin anak-anak itu sudah babak belur saya pukuli. Tetapi saya selalu ingat nasehat kakek saya Haji Zainal agar hidup selalu bersabar. Segala hinaan dan penderitaan hidup harus dihadapi dengan tenang. Tuhan Maha Adil, demikian nasehat beliau. Teman saya sekelas namanya Chudri – biasa dipanggil Ook – paling solider dengan anak-anak laut. Ayah Chudri seorang nelayan Bugis, namanya Sale. Dia marah dengan anak-anak yang mengolok-olok anak nelayan. Minan yang juga sekelas dengan saya, pernah mengancam mereka dengan pisau. Ayah Minan, Ismail Bugis, bukan nelayan. Ayahnya itu pegawai rendahan perusahaan timah. Minan tak suka pergi ke laut. Dia penjelajah hutan yang handal. Kadang-kadang dia suka berkelahi. Saya tidak mau ikut-ikutan berkelahi.

Teman saya yang bernama Chudri itu berpisah dengan saya ketika kami kelas III SD. Ayahnya pindah ke Balikpapan dan ingin menjadi nelayan di sana. Harga ikan di Balikpapan, katanya lebih mahal dibandingkan di Belitung, sehingga hidup keluarganya diharapkan akan lebih baik. Keluarga mereka juga ada di kota itu, setelah hijrah dari Sulawesi Selatan. Saya tak tahu berapa jauh dari Belitung ke Balikpapan. Mereka, akan menuju kota itu naik perahu layar. Saya sedih kehilangan taman yang begitu baik dan setia. Sejak keluarganya pindah ke Balikpapan, saya tak pernah lagi bertemu dengannya sampai sekarang. Ketika telah dewasa, beberapa kali saya ke Balikpapan dan kota lain di Kalimantan Timur. Saya bertanya tentang Chudri, kalau-kalau ada orang Bugis di sana yang mengenalnya. Namun dia tak pernah saya temukan.

Di kala nelayan tidak melaut, saya membantu ibu saya membuat minyak kelapa. Minyak kelapa itu kemudian kami jual di warung-warung terdekat. Kadangkala ada juga tetangga yang datang ke rumah membelinya. Hasil penjualan minyak kelapa itu, digunakan ibu saya untuk mengirimi uang kepada kakak saya yang sekolah PGA di Palembang. Kelapa itu sebagian berasal dari halaman rumah kami sendiri. Kalau sudah tidak cukup, ibu saya menyuruh saya membeli kelapa di rumah-rumah tetangga. Saya pernah membeli kelapa dengan adik kakek saya Yusuf, yang rumahnya di dekat pantai pengempangan. Beliau membantu membuang sabut kelapa itu dan menyisakan sebagian sabutnya agar dapat membuat tali mengikat dua kelapa. Saya tak ingat lagi berapa kelapa yang saya beli dengan beliau. Tetapi saya ingat tak semua kelapa itu harus saya bayar, sebagiannya diberikannya begitu saja.

Ada kalanya susah mencari kelapa di kampung karena kelapa yang sudah tua masih di pohon. Pemilik kelapa itu mengatakan silahkan saja membeli kelapa asal memetik sendiri. Dalam keadaan seperti itu, saya harus memanjat pohon dan memetiknya. Baru saya mengerti bahwa memanjat kelapa itu ada upahnya. Setiap lima IMG_0003kelapa yang dipetik, upahnya satu biji kelapa. Dengan demikian, kelapa yang saya dapatkan, ada yang membeli dan ada yang di dapat sebagai upah. Karena itu, saya senang saja memetik kelapa di pohon-pohon agar dapat mendapat upah dan sekaligus membelinya. Pemilik kelapa juga merasa senang, agar kelapa yang sudah tua itu tidak menimpa orang yang kebetulan melintas di bawah pohon itu. Ketika kecil, saya tak merasa takut memanjat pohon kelapa, walau agak pohonnya agak tinggi. Kadang-kadang senang juga melihat pemandangan dari pelepah pohon kelapa yang tinggi. Di tempat itu saya dapat beristirahat sejenak di atasnya sebelum meluncur turun ke bawah. Memang ada seni tersendiri memanjat dari batang kelapa untuk naik ke sela-sela pelepahnya. Kita harus hati-hati jangan sampai memegang pelepah yang tua. Risikonya, kita bisa jatuh dari pohon. Alhamdulillah, meskipun kadang-kadang saya mampu memanjat sekitar sepuluh pohon kelapa sehari, saya selalu selamat tanpa pernah mengalami celaka. Ketika belakangan saya bertemu rekan dari Malaysia, baru saya tahu kalau di negeri jiran itu, pekerjaan memanjat pohon kelapa itu adalah pekerjaan Beruk, hewan sebangsa monyet. Di Belitung tak ada beruk. Monyet hutan atau kera dan lutung memang banyak. Namun monyet jenis ini tak dapat dilatih memetik kelapa.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 5th, 2008

48 tanggapan untuk “KENANG-KENANGAN DI MASA KECIL (BAGIAN VI)”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. resti (komentar #31)

    membaca tanya jawab antara jebee dan bang yusril….inilah contoh diskusi yang mungkin tidak dikehendaki oleh sebagian politikus kita. bagaimanapun, blog adalah sarana interaktif, tak setuju langsung disanggah. Tak semua orang tahan menghadapi komentar pedas.
    mungkin karena kita tidak terbiasa untuk adu argumentasi di sekolah karena metoda pendidikan di Indonesia umumnya menganggap murid yang baik adalah murid yang patuh dan menerima apapun dari gurunya.

    Tapi bagi pemimpin yang ingin mendapatkan informasi seluas2nya dari masyarakat, blog bisa dijadikan salah satu cara untuk berinteraksi dengan masyarakat. Jika dahulu umar bin khattab harus berjalan di malam hari untuk mengetahui kehidupan rakyatnya, maka kemajuan teknologi memungkinkan informasi diperoleh 24 jam sehari darilapangan, tinggal dipilah mana yang benar, mana yang tidak.

  2. edo (komentar #32)

    #to mas/mba jubee : saya bukan negarawan. cuma blogger dan pekerja biasa. saya hanya belajar untuk menghormati siapa saja. karena dengan begitulah kita dihormati. saya juga tidak tertarik untuk berapatis, baik kepada sampeyan atau bang Yusril. event saya tidak setuju dengan cara menyampaikan sampeyan, saya sama kacaunya kalau jgua membalas dengan “memaki-maki”. Saya hanya ingin mencoba melihat bahwa semuanya berangkat dari itikad baik. walau kadang, cara menyampaikan berpengaruh terhadap cara orang menangkap.
    saya hanya ingin kembali ke esensi.
    mari kita tunggu dan nikmati pandangan, perspektif, entah apapun itu. saya yakin hanya masalah waktu, bang yusril menurunkan tulisan-tulisan yang tidak hanya bercerita tentang kehidupan beliau, tapi tentang kondisi berbangsa dan bernegara.

    duh, serius bangedh dah yak.. huehiuehiueuie… adeeem ademmm.. lagi musim ujan nih :p

    *balik nyeruput kopi, bakar rokok, nunggu tulisan bang yusril berikutnya…

  3. aini t.vierra (komentar #33)

    wah, setelah membaca komentar-komentar s/d #30 ini , saya mendapat kesan isi dari blog tentang KKMK pak Yusril membelok ke arah tentang jebee. Para komentarpun curious ” Who is jebee? seorang wanitakah? pria? LSM? Yayasan? Yang jelas si jebee ini menjadi pusat perhatian para komentar di blog ini. Kesan saya jebee adalah seseorang yg ingin suatu challenge , tahu banyak tentang politik, hukum, ekonomi, berbangsa dan bernegara. Beliau akan bahagia sekali kalau semua tuntutan pertanyaan dari pak Yusril dijawab dengan memuaskan dirinya seperti yg beliau harapkan . Untuk itu , bagaimana pak Yusril , ini ada sedikit saran dari saya kalau pak Yusril ajak saja tantangan tsb dengan membuka suatu forum diskusi untuk publik. Siapa yg mau hadir silahkan, yg jelas jangan sampai jebee tidak hadir. Biarkan jebee lontarkan pertanyaan pertanyaan pada anda. Tapi kan pak Yusril pasti lebih tahu mana petanyaan yg memang pantas dijawab, mana pertayaan yg hanya memancing, dst., sesuai kapasitas pak Yusril dalam menjawab pertanyaan itu. saya tidak punya praduga sedikitpun mengapa pak Yusril menulis KKMK nya di blog ini, seperti jebee katakan bahwa ini adalah suatu cara untuk membelokkan perhatian masyarakat dari suatu kasus. Itulah kehebatannya si jebee, sampai sampai beliau lebih tahu isi pikiran pak Yusril. Walaupun pak Yusril sudah meluangkan waktunya untuk menulis yg benar, enak dibaca, bahasa yg mudah dimengerti, runtut isinya , masih dicurigai niat baiknya pak Yusril. Seperti komentar Resti di atas bahwa blog adalah suatu forum untuk diskusi, interaksi di zaman teknologi ini. Tapi untuk tuntutan pertanyaan dari jebee dijawab dalam blog ini , menurut saya adalah kurang efektif. Mengapa? wong , kita tidak tahu latar belakang si jebee. Setiap tuduhan ataupun kritik pada seseorang haruslah didasari fakta dan tanggung jawab. Jangan seperti melempar batu sembunyi tangan. Kapan jebee mau ketemu pak Yusril untuk berdiskusinya ? Kita tunggu lho, sebab kita kita ini ingin belajar juga dari jebee. Sorry jebee , ini sedikit uneg uneg saja. Salam buat pak yusril, saya tetap menanti sambungan KKMK dari pak yusril. kalau si jebee sudah bosan, harap jangan baca. Salamku untuk jebee juga. Terima kasih.

    Sdr. Aini T. Vierra,

    Terima kasih juga atas saran-sarannya. Insya Allah, jika ada acara diskusi politik, saya akan mengundang — atau meminta panitia mengundang — Jebee, anda atau siapa saja yang berminat. Kita dapat bertemu muka dan berdiskusi secara langsung. Dengan diskusi seperti itu, Insya Allah kita semua akan mendapat pencerahan. (YIM).

  4. Hartono (komentar #34)

    yap, pendidikan kita memang ga begitu, tp menyinggung guru-yang (mungkin) hari sebelumnya terlihat di rumah makan dgn seorang pria, di depan kelas, adalah tdk sopan.
    it just doesn’t fit
    dan kalo ngajak debat di forum diskusi politik aja, jgn di blog yang notabene buku harian org.
    gimana kl saya kasih komentar/ corat coret di buku harian mu? toh hak setiap org untuk menyampaikan pendapat kan?
    ya memang, tp menurut saya tidak pada tempatnya
    sekian
    terima kasih untuk tanggapan Pak Yusril saya jadi tersanjung dan kagum pada Bapak
    untuk yg kasih komentar saya, hello juga, wah saya jadi punya penggemar (narcis-mode on) heheheh

  5. Yasser (komentar #35)

    assalamu’alaikum Wr. Wb.
    Salam kenal bagi blogger http://www.Yusrilihzamen.com
    khusus buat uni jebee, maaf, anda muslim? kalau anda seorang muslim hendaklah anda membang teguh prinsip “tabayun” dalam berkomunikasi. tau kah anda uni jebee tabayun?….
    untuk bang yusril, saya menunggu tulisan-tulisan anda mengenai konsep-konsep hukum islam dan pemecahannya bagi indonesia ini.

  6. Iwan Asnawi (komentar #36)

    Ass…Wr.Wb…

    Yth: Bang YIM…
    Waaahhh…, bertambah seru!!!… Komentar tentang si Jebee!!! Sampai mau diangkat ke Thema “Diskusi Politik” segala oleh Sdr. Aini T Vierra, dan di-Amien-kan pula oleh Bang YIM.

    Tapi, menurut saya masih terlalu dini Bang YIM. Atau mungkin lebih tepatnya, terlalu “emosional” kalau komentar (si Jebee) yang saya anggap “sambil berlalu” ini untuk ditanggapi begitu serius! Karena ini, tak akan membuat membuat Bang YIM bergerak kemana-mana, seperti jalan di tempat.

    Saya kira, sudah jelas. Sejelas-jelasnya!!! Anda kan menulis “Kenang-Kenangan di Masa Kecil”, belumlah menyentuh pada substansi “Politik di Indonesia”, yang semua sudah maklum Anda pernah di dalamnya. Singkat kata, Anda pun belum bercerita tentang saat, “di SMP dan SMA”. Dan akhirnya, berkeputusan ke Jakarta untuk melanjutkan kuliah Anda. Sampai akhirnya jadi Dosen dan Guru Besar (Professor), kemudian ke Partai Politik.

    Nuansa, langkah demi langkah “step by step”… Ini perlu, paling tidak untuk saya, supaya alur “cerita” menjadi utuh. Tapi, kalau pun nanti Anda akan membuat “Forum” lain di luar Blog ini. Saya pun akan maklum, karena kapasitas Anda tidak hanya sebagai penulis “KKMK”. Hanya alangkah lebih terasa “pas”, kalau disini (Blog) hanya untuk komentator “KKMK” saja.

    Saya, seorang yang juga menghargai “perbedaan”! Bagi saya perbedaan adalah warna-warni Dunia. Tapi, perbedaan kan harus juga pada Tempatnya, juga tepat Waktunya, dan Objeknya. Kalau nanti semua, disama ratakan?! Waaahhh, jadi kacau juga Negara Bang!!!

    Namun, kalau nanti Abang pun bersikeras membuat “Diskusi Politik”… Sekali lagi, saya menjadi maklum.

    Hormat Saya, yang lebih muda:

    Iwan Asnawi, Switzerland

  7. Usep (komentar #37)

    Mohon ijin untuk ikutan berdiskusi,setelah mambaca tulisan2 Pak/Bu Jeebee kalau saya melihat itu adalah ungkapan atau luapan ketidak puasan terhadap pemimpin2 kita yang hanya memikirkan kekuasaan dan tidak memikirkan rakyat,jadi menurut saya itu tidak bermaksud menghina atau memfitnah Pak Yusril,dan kalau yg diungkapkan Bu/Pak Jeebee tidak benar ya Pak Yusril tinggal jawab saja bahwa hal itu tidak benar….
    Nah inilah salah satu bentuk kelemahan bangsa kita selalu saja kalau ada yang mengkritik dianggap tidak suka,anti,dll dan ingat waktu mahasiswa th 1998 banyak yang diculik nah itu semua timbul dari fikiran yang anti kritik dan beda pendapat.
    Mungkin itu dari saya,terima-kasih.
    Dan Pak Yusril tdk perlu emosi inilah ujian bagi kedewasaan berpolitik dan berbeda pendapat,mohon maaf saya menasehati Pak Yusril bukan sok tau tp menurut saya inilah demokrasi…

    Sdr. Usep,

    Saya samasekali tidak emosi. Insya Allah saya tenang saja dan bahasa saya tetap sopan menghargai perbedaan pendapat (YIM)

  8. edo (komentar #38)

    menurut saya, tidak penting siapa jubee..
    mari kita sama2 perhatikan pesan yang disampaikan. termasuk oleh siapa saja.
    hehehhe piss

  9. jebee (komentar #39)

    Ass. WW

    Yth. Pak Yusril dan Kawan semua….

    Saya sebenarnya sudah tidak ingin untuk mengganggu « rumah » Pak Yusril ini, saya berusaha “tabayun” seperti yang disarankan oleh Sdr Yasser, tapi yang namanya kecintaan dan kerinduan akan sebuah relung dialog untuk Indonesia yang sangat saya cintai dan saya puja ini, akhirnya tak sanggup juga saya menahan gejolak untuk ikut bersama-sama bertandang kerumahnya Pak Yusril ini demi dahaga untuk menimba ilmu dan pencerahan dari Pak Yusril dan kawan semua.

    Saya akui kata kata saya sangatlah menusuk, menyakiti hati, menohon, tidak sopan, atau lebih kasar lagi « kurang ajar »… tentu semuanya yang bisa menilai kawan semua.
    Saya ingat pada sebuah peristiwa yang saya alami sendiri, saat pertama kali saya tampil disebuah « forum resmi » yang diisi oleh orang orang yang berpengetahuan cukup tinggi dalam ukuran tingkatan akademis, saya dikritik habis, saya dicerca, dsbbb… tapi Alhamdulillah saya tidak terpancing saat itu, saya tidak marah/emosi sama sekali, dongkol dikit tentu ada…. Setelah pulang kerumah saya hanya menyalahi diri saya sendiri, saya renungi memang saya yang tidak menyiapkan diri untuk berbicara didepan forum dengan baik, memang ilmu saya sangat dangkal…. Akhirnya saya selalu belajar sedikit demi sedikit memperbaiki diri, membaca semampunya… MAAF kawan semua bukan saya mengangkuhkan diri di forum ini (semua hanya bentuk diskusi kita bersama, saling mengisi dan mengingatkan) akhirnya kawan yang mengkritik habis saya diawal forum itu.. pada forum forum selanjutnya dia malah minta MAAF kepada saya.. maafnya tentu saja bisa tidak dengan langsung mengatakan maaf, tapi dia datang kerumah saya dengan membawa keluarganya….
    Kawan sedikitpun saya tidak dendam… apa yang saya peroleh setelah itu ? untuk ukuran saya sendiri, dengan adanya kritikan itu saya tertantang untuk berbuat lebih baik lagi.. akhirnya banyak hal lain positif dan bermanfaat baik moril maupun materil yang saya peroleh karena kritikan itu….
    Sekarang tergantung kita bersama menyikapi kata kata saya yang pedas itu… (SAYA JUGA SELALU BELAJAR).

    Kemudian sobat, kita memang sering dituntut untuk berkata dan bertutur dengan sopan santun… saya sangat setuju sekali itu… tapi bagi saya sendiri cakupan sopan santun itu sangatlah luas tidak hanya dalam tutur kata atau pada coretan tangan, bagi saya sopan santun itu tergantung melihat dari sisi mana, sebuah serba relatif, apalagi kalau ada diantara kawan yang menjadi publik figur, cara senyum atau gerak kepala kita saja bisa dinilai orang (walau kadang itu sudah bawaan kita sedari lahir), cara ucapan kita yang seperti mengejek/merendahkan orang lain bisa juga dinilai orang, kalau kita dalam organisasi, cara kita memimpin juga sebuah tindak sopan santun, cara kita menandatangani sebuah surat juga cermin sopan santun….. sekarang mari kita renungi lagi apakah kalau ada orang yang mengkritik sangat pedas itu tidak sopan santun ??

    Saya beberapa hari ini agak ketagihan menonton berita kampanya menuju arena pemilihan Presiden di USA baik di televisi maupun di YouTube, Maaf lagi bukan maksud saya kebarat baratan, saya lihat, saya amati dan saya coba menelaah kata kata kampanye para kandidat itu (walau dalam bahasa Inggris saya yang terbatas) saya rasa diskusi kita, atau tunjuklah langsung komentar saya yang sangat « kasar » kepada Pak Yusril kiranya belumlah sepanas dan seterbuka para capres amerika itu dalam berdebat. Mereka bahkan sampai melabrak keareal pribadi para kandidat, Barack Obama saja dicerca dengan pengalaman sekolahnya di Indonesia, itu saja dia masih berusia sekitar 7 tahun, dicerca bahwa dia pernah menggunakan narkoba, dicerca dengan pengalamannya yang minim, tetapi memang celah korupsi untuk menyudutkannya tidak ada, dsb… begitu juga dengan para kandidat lainnya….. tapi karena Obama bisa meyakinkan dan menjawab dengan tangkas, tenang, penuh argumentasi, penuh bukti dan fakta, elegan, rendah hati dan simpatik, semua malah berbalik kepercayaa publik kepadanya… (saya kira ini bisa kita ambil hikmahnya).

    Kemudian saya akui lagi, okelah kasar kata kata saya itu, sebenarnya itu ungkapan kejenuhan juga, di negara kita budaya feodalisme dan hipokrit masih begitu kental juga kayaknya, padahal Alm. Muchtar Lubis sudah menyoroti ini sejak tahun 80an yang lalu, mungkin bisa dibaca bukunya dengan judul Wajah Indonesia, dia disitu menyoroti sifat sifat bangsa Indonesia, salah satunya feodalistis itu, tapi sampai sekarang kok ndak hilang hilang yaa ? di negara kita sepertinya kata kata sopan hanya dituntut berlaku bagi kalangan jelata saja, kalau tidak agak kasar pula saya mengatakan « sebenarnya telinga para pemimpin kita yang meminta sopan santun itu sebenarnya sudah budek dengan kata kata sopan para rakyat, (tentu tidak semua pemimpin kita seperti itu), semoga tidak ada yang merasa.
    Dan kadang walau ada pertanyaan yang dijawab oleh para punggawa kita itu, biasanya kebanyakan jawaban jawaban budaya Sang Patron saja, “yaa terima kasih saya ucapkan, yaa kita tampung usul dan sarannya, yaa nanti kita bicarakan, yaa kita usahakan, yaa… yaa.. yayya yaya… lingkaran biru kali.. hehe. Sedikit sekali jawaban yang kita peroleh dengan sebuah alur argumentasi dan pencerahan yang bisa kita ambil manfaatnya bersama.

    Waduuhhh… kepanjangan lagi… kelamaan bertandangnya kerumah Pak Yusril. Habis rumahnya adem sih……….
    Sekali lagi semua subjektif saya semata.

    JEBEE
    INDONESIA

  10. Usep (komentar #40)

    Pak/Bu Jebee,sebaiknya supaya lebih fair pake nama asli saja jadi kesannya lebih JANTAN kan sampeyan juga menyuruh Pak yusril untuk LEBIH JANTAN mengakui bhw sudah ada kesalahan administrasi pd pengadaan AFIS.

    Jadi sebelum menyuruh orang lain maka introspeksi diri sendiri dulu,menurut saya begitu…
    Jangan samai menepuk air didulang terpencik muka sendiri ha ha ha……

  11. Farhan (komentar #41)

    Assamualaikum, pak Yusril..enak juga baca kenangan dimasa kecilnya, saya usul teruskan saja, hitung-hitung sebagai bahan autobiografi pak Yusril nantinya…selain masalah politik dimasa lalu dan masa berjalan. Pendapat pak Yusril bagus juga tidak akan menghalangi orang yang akan mengkritisi tulisannya. Itu bagus karena ada saling “balance” tidak satu pihak saja mengungkapkan temuan atau masalah yang didengar, dilihat, dibaca, sehingga suasananya menjadi hidup tidak monoton. Oh..ya pak Yusril di kisah Kenangan dimasa kecil ada cerita tentang cara mengambil kelapa di daerah Belitung Timur yang tidak menggunakan binatang beruk seperti di Malaysia dan di belitung tidak ada beruknya, memang beruk liar tidak ada di belitung tetapi beruk yang sudah dijinakan sudah ada di Tg. Pandan terutama di Air Saga orang yang mau memetik kelapa sudah banyak yang pakai binatang beruk. Teruslah menulis kisah dari kecil sampai sekarang, tetapi selingi juga dengan kisah dibidang politik selama ikut di pemerintahan, mudah2an dari tulisan tersebut pembaca blog ini dapat mengambil hikmah yang baiknya dan yang jeleknya dibuang. Terima kasih, wassalam.

    Sdr. Farhan,

    Terima kasih atas tanggapannya. Apa yang saya ceritakan tentang memetik kelapa adalah kisah di tahun 1964. Waktu itu belum ada beruk yang dijinakkan agar pandai memetik kelapa. Kalau sekarang di Air Saga sudah ada beruk demikian, syukurlah. Mudah-mudahan beruk itu tidak mengambil kesempatan kerja orang yang pekerjaannya menerima upahan memetik kelapa, seperti ketika saya masih kecil.

    Insya Allah, saya akan menulis berbagai hal terkait dengan politik, hukum, sejarah dan kemanusiaan lainnya dalam blog ini, sehingga tidak didominasi oleh kisah di masa kecil saya. Salam hormat saya.

  12. Aris Akhmad (komentar #42)

    Assalamialiakum,
    Salam kenal dari saya Pak Yusril, dan juga temen-temen blogger….

    senang juga seh seorang seperti Pak Yusril masih menyempatkan waktu untuk nge-blog…ditengah kesibukannya. kalo saya yakin sekali Pak Yusril pasti akan membahas tentang masalah-masalah yang ada di sekitar kita kelak (bisa besok atau lusa..). Jadi kita boleh saja memberikan usulan kepada beliau tentang suatu permasalahan yg mungkin menarik untuk dibahas, namun tentu saja Pak Yusril juga punya kesibukan sehari-hari jadi tidak mungkin dong harus selalu posting tiap hari…Jadi buat temen-temen, senior blogger mungkin harus maklum…tidak perlu menjadikan apa yang sudah dijawab dengan tulus oleh Pak Yusril ga perlu diperdebat-kusirkan. Dan saya pikir Bung Yusril tidak terlihat seperti orang yang sedang kebakaran jenggot kok….jawabannya masih juga runut dan andap asor…mungkin kita dan saya sendiri juga perlu belajar menyampaikan pendapat seperti hal-nya disampaikan saudara Yusril contohkan…

    wasalam

  13. Sufyan Atstsaury (komentar #43)

    Ass. Pak Yusril…
    terimakasih atas kisah kenangan di masa kecil VI, nama nama ikan seperti ikan mayong, gagok , sambal lingkung dan istilah “ngeracau” masih sangat akrab di telinga saya karena saya tumbuh dan berkembang di Pulau Bangka , tetangga Pulau Belitung. Terus terang, cerita ini menghibur dan menyegarkan pikiran saya.

    Semoga ada lagi kisah kenangan masa kecil seri berikutnya.

    Wassalam,
    Sufyan , Sorowako Sulsel.

  14. Rc Syams Hadi (komentar #44)

    Ass..Wr..Wb..

    Bang Yusril..

    Saya salut dengan daya ingat ikam yg bisa segitu detailnya. ini baru orang lalang asli…saya tahu semua kisah ini benar adanya, karena saya pun pernah mengalami berpetualang ke hutan dan di pantai..tp tidak sehebat ikam..jadi gaok euy kenagan spt itu..kapan2 kite ngambat di pengempangan hayu..sape tahu dpt ikan buto cine.dan .ikam dapat salam dari Lupis (Sudirman) ikam dgn lupis pernah di teradasan kek Yakup ya.. gara2 teluk ikan tenggiri..he he he dan jg KKMK ini udah kuceritakan dgn kak nin..belau senyum2..he..jg salam dari belau Tue..sampai ketemu di pengempangan.
    Terima Kasih..

    Terima kasih banyak. Insya Allah akan saya lanjutkan lagi. Salam juga dengan Sudirman dan teman-teman lain. Saya tak pernah lupa dengan mereka.

  15. Irdie Umar (komentar #45)

    Ass. Bung YIM…
    Beruntung dan terimakasih saya dapat mengikuti semua KKMK ini, tapi saking asiknya membaca serial tsb, untuk sementara komentar2 saya abaikan dan begitu ada kesempatan baru saya mengikutinya, eh ternyata saya sudah ketinggalan jauh, komentar2 rekan blogger serta tanggapannya juga tak kalah menariknya serta juga menambah wawasan… terutama : jebee #3, dan edo #24 yang sudah diakui dengan # 25, menarik memang juga tanggapan Bung YIM serta blogger lainnya, harapan saya sih semoga Bung YIM mau melanjutkan kisah2 lainnya di masa smp, sma, pt dan pengalaman diseputar pemerintahan dan seluk beluknya yang tidak diketahui umum dan tentunya bukan merupakan rahasia negara. oke bung YIM kami tunggu dengan penuh harap…salam

  16. aditya (komentar #46)

    #13.

    ” …….yang tentunya diiring dengan derak ketulusan , keikhlasan dan kejujuran hati nurani.
    Semoga itu tidak hanya dalam catatan dan ucapan Saudara saja, semoga juga tercermin dalam tindakan, perilaku dan terutama sekali dalam keberadaan Saudara jika nantinya kembali mendapat Anugerah, Hidayah dan Amanah untuk mengelola bangsa dan Rakyat Indonesia ini”

    Dari pernyataan Jebe diatas terlihat bahwa seakan-akan Jebe adalah manusia yang dapat mengungkapkan ketulusan, kejujuran hati nurani, namun dari beberapa posting yang disampaikan terlihat Miss Jebe tidak lain hanya sebagai seorang manusia yang tidak dapat di percaya (munafik), disatu sisi Miss Jebe menginginkan kejujuran dari pihak lain sedangkan Miss Jebe sendiri tidak jujur dalam berucap…..

    Ketidak jujurannya terlihat dari pernyataannya yang menyatakan sebagai orang yang awam dalam politik dan pemerintahan tetapi Miss Jebe tahu sangat detail terhadap tindakan yang dilakukan oleh YIM.. hal ini berarti Jebe tidak lain merupakan seorang yang sangat paham dengan tindakan-tindakan yang dilakukan oleh YIM sehingga Miss Jebe selalu justifikasi bahwa seluruh perbuatan YIM salah, minimal khilaf…

  17. suyatno (komentar #47)

    Salam, mulai enjoy menulis lagi pak. Mungkin, kisah remaja dan pemuda saat jatuh cinta perlu juga. Termasuk spirit studi di Jakarta. Salam. http://www.garduguru.blogspot.com

  18. tommy indrawan (komentar #48)

    sorry mas ,apa sih yang d benak mas ketika melakukan apa yang tidak sesuai kenyataan

Pages: « 1 [2] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda