Beranda

TANGGAPAN ATAS EDITORIAL KORAN TEMPO DAN MEDIA INDONESIA

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Saya tidak ingin berkomentar terlalu banyak tentang rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memilih saya menjadi hakim Mahkamah Konstitusi (MK). Rencana itu baru tawaran yang disampaikan kepada saya, sehingga belum merupakan suatu keputusan. Apalagi saya disebut-sebut akan menjadi Ketua MK. Ketua mahkamah itu dipilih oleh sembilan hakim MK sendiri. Presiden tidak dalam posisi yang dapat menentukan siapa yang akan menjadi Ketua MK. Saya sendiri tidak mengharapkan, apalagi meminta suatu jabatan. Inisiatif menawarkan posisi hakim MK itu murni datang dari Presiden. Saya mohon maaf mengatakan ini semua, supaya jangan sampai timbul salah paham. Bukan pula maksud saya untuk menyombongkan diri mengemukakan hal ini. Saya hanya ingin mengatakan sesuatu secara jujur dan tulus.

Apa yang perlu saya tanggapi dalam tulisan ini adalah reaksi atas rencana Presiden itu sebagaimana ditulis dalam editorial Koran Tempo (7 Januari 2008) dan Media Indonesia (8 Januari 2008). Koran Tempo mengingatkan saya jangan sampai lupa bahwa Presiden “memang menerima tekanan publik” karena saya “diduga terlibat kasus pencairan uang US $ 10 juta atau Rp 90 milyar milik Tommy Soeharto di BNP Paribas” sehingga saya diberhentikan dari kabinet. Rekam jejak saya di kabinet juga dikatakan tak terlalu mulus. Saya pernah bertikai dengan bekas Ketua KPK Taufiqurrahman Ruki karena diduga terlibat dalam kasus korupsi pembelian alat identifikasi sidik jari otomatis senilai Rp 18 mliyar saat menjadi Menteri Kehakiman dan HAM”. Terakhir “kita mendengar kabar raibnya Rp. 3,3 milyar dana yang disita dari koruptor Hendra Rahadja dalam rekening di Departemen Hukum dan HAM”. Duitnya tersisa Rp 5,5 juta. Selisihnya tak diketahui rimbanya. Atas dasar ketiga hal itu, singkat kata, dapat disimpulkan bahwa mereka berpendapat saya tak pantas menjadi hakim, apalagi Ketua MK. Jangan MK dijadikan “sebagai tempat penampungan orang-orang terbuang”, demikian kata editorial Media Indonesia.

Bahwa ada tidaknya tekanan publik kepada Presiden ketika saya diresuffle dari kabinet, itu sepenuhnya saya serahkan kepada Presiden sendiri. Sebaiknya, Presidenlah yang menjelaskan hal ini, sehingga orang tidak berspekulasi. Namun saya harus mengatakan di sini, Koran Tempo dan Media Indonesia adalah dua koran yang paling menggebu-gebu memberitakan kasus-kasus itu, yang menurut penilaian saya sudah jauh dari semangat obyektif. Pemberitaan seperti itu tentu berdampak pada pembentukan opini publik, yang kemudian diklaim  sendiri sebagai tekanan publik itu. Koran-koran lain yang juga memberitakan masalah ini, pada hemat saya masih dalam batas-batas relatif obyektif dan berimbang.

Saya ingin menegaskan di sini bahwa satu-satunya tindakan yang saya lakukan dalam kasus Motorbike International Ltd dengan BNP Paribas adalah memberikan pendapat hukum atas pertanyaan Paribas sendiri. Hal ini telah saya jelaskan panjang lebar di dalam posting di blog ini, sehingga saya tak perlu lagi mengulanginya di sini. Pencairan dana dari BNP Paribas terjadi pada bulan Mei tahun 2005, setelah saya tidak lagi menjadi Menteri Kehakiman dan HAM sejak tanggal 20 Oktober 2004. Jampidsus Kejaksaan Agung telah menginvestigasi kasus ini atas perintah Presiden. Hasilnya, mereka tak menemukan alasan hukum dan bukti yang meyakinkan untuk meneruskan kasus itu ke tingkat penyidikan. Jaksa Agung Hendarman telah menyampaikan klarifikasi tentang masalah ini, tetapi tak mendapat porsi yang wajar dalam pemberitaan media.

Dalam kasus pengadaan alat identifikasi sidik jari di Departemen Kehakiman dan HAM, tidaklah benar saya diduga terlibat dalam kasus korupsi. Dalam penyidikan, saya dipanggil sebagai saksi dan tidak pernah dinyatakan sebagai tersangka, apalagi terdakwa. Saya telah memberikan keterangan lengkap dan rinci kepada penyidik KPK. Bahwa benar saya telah menyetujui dipilihnya metode penunjukan langsung dalam pengadaan proyek itu, setelah DPR dan Menteri Keuangan menyetujui adanya dana dalam Anggaran Belanja Tambahan pada bulan Oktober 2004. Memutuskan apakah metode tender atau penunjukan langsung adalah tindakan administratif sebagaimana diatur dalam Kepres 80 Tahun 2003. Kalaupun memutuskan salah satu dari kedua metode itu adalah suatu kesalahan, maka kesalahan itu tidak dapat diberi sanksi pidana, karena Kepres 80/2003 itu sendiri adalah hukum administrasi, bukan hukum pidana. Tindak pidana korupsi baru ada apabila dalam pengadaan barang itu terjadi penyimpangan yang merugikan keuangan negara.

Saya telah berhenti jadi Menteri Kehakiman dan HAM pada tanggal 20 Oktober 2004, sebelum dana ABT itu sendiri dicairkan oleh Departemen Keuangan. Pelaksanaan pengadaan alat sidik jari itu dilakukan di tahun 2005, beberapa bulan setelah saya berhenti dari departemen itu. Siapa yang ditunjuk mengadakan barang, berapa harganya, bagaimana cara membayarnya, semuanya dilakukan ketika saya tidak lagi menjadi Menteri Kehakiman dan HAM. Penyidik KPK dapat memahami semua keterangan saya itu, tentunya setelah melakukan cross-chek dengan keterangan saksi-saksi yang lain serta alat bukti lainnya. Semua keterangan saya itu telah dicatat di dalam Berita Acara Pemeriksaan (BAP) dan dilakukan dibawah sumpah.

Bahwa kemudian saya tak dapat bersaksi di pengadilan ketika saya dipanggil, saya telah menjawab surat panggilan itu dengan alasan yang sah, dengan merujuk kepada pasal-pasal KUHAP dan UU KPK sendiri. Saya ketika itu berada di China dalam kegiatan pembuatan film yang jadualnya tidak mungkin ditunda– karena melibatkan ratusan aktor lain dari berbagai negara — atau diwakilkan kepada orang lain. Majelis hakim maupun jaksa dapat menerima alasan yang saya kemukakan. Oleh karena keterangan saya telah dilakukan dibawah sumpah, maka menurut KUHAP, keterangan itu mempunyai kekuatan hukum yang sama dengan keterangan yang diucapkan di sidang pengadilan. Berbagai media, termasuk Media Indonesia sengaja memblow up ketidak hadiran saya di pengadilan itu dengan berbagai opini. Berbagai pemberitaan menyebutkan saya harus dihadirkan paksa di pengadilan. Menurut hukum acara, saksi hanya dapat dipanggil paksa apabila telah dipanggil tiga kali dan tidak datang tanpa alasan yang sah. Editorial Media Indonesia juga mengatakan bahwa ketidakhadiran saya di pengadilan itu bisa menjadi preceden bagi orang lain. Editorial ini membalik logika, seolah saya orang pertama yang tak hadir sebagai saksi dengan alasan yang serupa. Telah terjadi puluhan kali ketidakhadiran saksi dalam sidang dengan alasan yang sah dan diterima oleh majelis hakim.

Hal terakhir yang perlu saya jelaskan adalah terkait dengan uang yang disita dari Hendra Rahardja. Tugas untuk menangani harta kekayaan Hendra Raharja adalah tugas Tim Likuidasi Bank Harapan Sentosa (BHS). Tim inilah yang bertugas memburu harta Hendra untuk membayar kewajiban BHS kepada Bank Indonesia. Saya memang mengajukan permintaan ekstradisi kepada Pemerintah Australia agar Hendra dipulangkan ke Indonesia. Namun dia melakukan perlawanan di pengadilan Australia, maka sampai dia meninggal di sana, upaya ekstradisi belum berhasil. Tim Likuidasi ingin menyita harta Hendra di Australia, tetapi mereka tak dapat melakukan itu, kecuali dilakukan oleh Pemerintah RI. Oleh karena Departemen Hukum dan HAM – yang menjadi koordinator dalam pelaksanaan Mutual Legal Assistant (MLA) dengan negara lain — membentuk tim gabungan antar departemen. Setelah saya berunding dengan Jaksa Agung Australia, uang Hendra yang berhasil disita hanya tinggal Rp 3,9 milyar saja. Yang lain sudah ditransfer ke China dan Hongkong. Indonesia dan Australia akan meneruskan kerjasama dalam melacak keberadaan harta Hendra di China dan Hongkong itu. Uang yang disita di Australia kemudian diserahkan oleh Pemerintah Australia kepada Pemerintah RI dan ditampung dalam rekening khusus Departemen Kehakiman dan HAM.

Pada tanggal 19 Mei 2004 sejumlah Rp. 3,3 milyar hasil sitaan dari Australia itu telah diserahkan oleh Departemen Kehakiman dan HAM kepada Tim Likuidasi BHS untuk memenuhi kewajiban BHS kepada Bank Indonesia. Bukti penerimaan oleh Tim Likuidasi BHS masih ada di arsip Departemen Hukum dan HAM. Sekitar Rp 600 juta telah digunakan sebagai biaya Tim Likuidasi dan Tim Gabungan dalam memburu harta Hendra baik di Australia, China maupun Hongkong. Bahwa uang Rp. 5,5 juta memang sengaja disisakan agar rekening tidak ditutup. Rekening itu disiapkan untuk menampung hasil penyitaan harta Hendra di China dan Hongkong itu. Ketika dalam beberapa bulan terakhir ini Departemen Keuangan meminta agar rekening itu ditutup, maka uang yang Rp 5,5 juta itulah yang diserahkan ke Departemen Keuangan. Jadi tidaklah benar kalau editorial Koran Tempo dan Media Indonesia, mengatakan uang Rp 3,3 milyar itu raib dan tak diketahui di mana rimbanya.

Inilah penjelasan dan sekaligus klarifikasi yang ingin saya kemukakan agar tidak timbul kesalahpahaman terhadap tiga masalah di atas. Saya hanya berharap bahwa segala masalah hukum seyogianyalah ditangani dengan hukum itu sendiri. Kita semua harus menghormati prinsip negara hukum dan asas praduga tak bersalah, yang dijamin di dalam sistem hukum kita sendiri. Pembentukan opini oleh pers dapat mengarah kepada “trial by the press”, sesuatu yang harus kita hindari dalam menghormati supremasi hukum. Pemberitaan yang berulang-ulang menyebutkan hal yang sama, walaupun telah dibantah, berpotensi untuk melakukan pembunuhan karakter terhadap seseorang.

Sebagai penutup ingin saya kemukakan di sini, bahwa dipilih atau tidak menjadi hakim MK oleh Presiden bukanlah hal yang terlalu penting. Bagi saya, menjaga nama baik, harkat dan martabat pribadi adalah jauh lebih penting dari segala jabatan dan kedudukan. Pemberitaan yang terus-menerus mengenai masalah “pencairan uang Tommy Soeharto”, “dugaan korupsi dalam pengadaan alat AFIS” dan terakhir “raibnya uang sitaan Hendra Rahardja” saya anggap perlu untuk ditanggapi dan dijernihkan, agar hal ini tidak menjadi beban saya seumur hidup, bahkan sampai ke generasi anak cucu nanti.

Demikianlah tanggapan saya atas editorial Koran Tempo dan Media Indonesia. Saya mohon maaf kalau ada kata-kata saya yang kurang pantas dalam memberikan tanggapan dan menjelaskan ketiga masalah ini kepada khalayak dan khususnya kepada penulis editorial baik Koran Tempo maupun Media Indonesia.

Akhirnya hanya kepada Allah Ta’ala jua saya mengembalikan segala persoalan dan kepadaNya jua saya memohon segala perlindungan.

Wallahu’alam bissawwab.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 8th, 2008

160 tanggapan untuk “TANGGAPAN ATAS EDITORIAL KORAN TEMPO DAN MEDIA INDONESIA”

Pages: « 1 2 3 4 [5] 6 » Show All

  1. Capry (komentar #121)

    yaaa ..kita mandi ..mandi uap Pencerahan..

    Ramalan Mama Lauren :

    september nanti (2008) Anda Berdua akan mengalami kemaluan besar .. malu thd diri sendiri.

    saya kemudian berdoa :

    “…ya tuhan jauhkanlah komentar saya dari golongan centang perenang.. sebagaimana kedua orang tuaku memelihara aku dulu.. ”

    Salam,

    Capry - makassar

  2. jebee (komentar #122)

    yaaa…. kita mandi… tapi mandinya jangan satu kolam yaa ???
    nanti kemaluanku tambah besar….. he he…..

    kalo doamu itu, aku belum bisa janji,
    tapi aku akan berusaha menggraffiti rumahmu sejelek mungkin
    semoga ditahun 2009 nanti
    kau akan bisa bersanding dengan laksamana malahayati macam aku ini….. he he
    tapi sekali lagi kuiingatkan
    jangan kau robah sikap jelekku
    karena itu adalah kekuatanku

    Salam juga, walau aku belum percaya pada kamu

    JEBEE
    Indonesia

  3. Capry (komentar #123)

    Rahwana menjadi suci hanya karena dia penjahat murni.

    SBY dan Che Guevara

    takkan dapat merubah aku

    aku adalah aku ..

    aku yang punya kemaluan besar terhadap kamu ber2

    NB:veteran bonar ..Hadir ?

    Cheers,

    Capry - Makassar

  4. Capry (komentar #124)

    Everest, K2, Carstensz

    mampu mengalahkan tingginya kemaluanku

    tapi aku gembira

    tapa kalian yg lama

    mempengaruhi kemaluanku pd kalian berdua

    hingga api konflik silaturahmi

    terjaga seharum nama Mesopotamia dan Andalusia

    Wahai malahayati sudilah kiranya

    Dharma yg engkau lakukan telah mampu

    menggemparkan setiap Quarks dalam materi

    maka tak baur apa yg kelihatan

    Sang Dharma pun menanggung resah

    dengan ayat .. Talk is Cheap, Show me the code…

    Salam,

    Capry - Makassar

  5. Usep (komentar #125)

    ha ha ha…….hebat euy….!
    penyair kabeh ieu teh ha ha ha………
    ha ha ha ha……..
    Blog Pak Yusril teh dipake teu puguh….tuluuuuuuung….tuluuuuuung……..

  6. Bonar (komentar #126)

    @Capry #119:

    seperti ada kalimat dalam salah satu artikel disini

    ““….. Pengetahuan seseorang tentang sesuatu, tidaklah berbanding lurus dengan kesadarannya. Apalagi ketaatannya….”

    Oh iyaya, benar juga. Itu kritik buat saya pribadi juga. Terimakasih mengingatkan.

    @Jebee #120:

    itu saja tak sanggup kau jawab……………
    katanya kau seorang penikmat bukunya para filosof dan dah menjadi filosof pula,

    Saya tidak pernah mengklaim demikian. Saya tidak pernah mengklaim bahwa diri saya adalah seorang filsuf.
    Mengingat bahwa di internet informasi mengenai hal itu berlimpah ruah, sekedar membaca karya filsuf, samasekali bukan hal yang istimewa.

    Pernyataan Anda itu yang disebut “misrepresentasi posisi lawan/memanipulasi pernyataan lawan, lalu menyerang posisi termanipulasi tersebut”.

    Itu teknik “jahat” dalam berdiskusi, tandanya Anda memang pada dasarnya tidak memiliki itikad baik. Sedemikian sehingga, saya kira Anda juga cukup berhak merasakan teknik tersebut, kelak.
    Nama logical fallacynya adalah “Poisoning the well”, silahkan di wiki, koreksi saya jika salah mengidentifikasi, Logical fallacy mana yang lebih tepat?

    Sayangnya, dengan sedikit akal sehat, dan pikiran dingin, semua orang bisa melihat bahwa Anda melebih-lebihkan posisi saya :)

    Lagipula, santai sedikit lah Pak/Bu Jebee, Indonesia, jangan emosi segitunya. Saya memang belum berani menjawab PrimaryDrive, saya mengaku belum sanggup melihat konsekwensi-konsekwensinya. Anda mungkin lebih mampu? Ya Monggo…

    tuk kau ketahui aku lebih cantik dari laksamana malahayati,

    Wah! CANTIK? berarti Anda wanita? Kenalan Boleh?™ :)

    untuk menjawab # 94 itu….. aku hanya bisa ketawa dulu he..he..

    Lagi-lagi,
    Anda memang berulangkali menggunakan teknik jahat ini pada YIM, ini yang disebut sebagai “Appeal to Ridicule” (ref: http://en.wikipedia.org/wiki/Appeal_to_ridicule)

    Tapi buat saya ngga mempan lah. Seluruh pembicaraan saya terhadap Anda disini ditulis dengan tongue in cheek, saya selalu menuliskannya dengan gembira.

    Akhirnya, dengan meneladani kata-kata GB Shaw: Tidak ada aturan legal yang melarang ketidakkompetenan berpikir.
    Maka dari itu Pak/Bu Jebee, Indonesia:

    Seluruh pernyataan Anda saya akui sungguh-sungguh Sah dan Legal.

  7. alfian bahtiar (komentar #127)

    Seandainya sepuluh tahun yang lalu…..

    perkenankan saya bergabung dalam komunitas “komentator” tulisan Bang Yusril (ijinkan saya memanggil dengan sebutan Abang, karena saya merasa Abang masih begitu muda, baik dilihat dari usia Abang yang masih muda dibanding tokoh lain sebagai tokoh nasional, dan semangat Abang yang masih membara)

    saya tertarik untuk mengomentari tentang kemungkinan Bang Yusril untuk mengisi jajaran Hakim Konstitusi melalui usulan dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (saya tidak tahu, (setidak-tidaknya) siapa dua nama lagi yang akan diusulkan oleh presiden Yudhoyono)
    Saya akan memulainya dari sisi karakteristik presiden kita, Bpk Susilo Bambang Yudhoyono. terutama dalam karakteristik beliau memilih orang-orang disekitarnya, memilih para pembantunya dalam menjalankan pemerintahan satu periode ini. menurut saya, Bpk. presiden Yudhoyono memiliki integritas yang kuat dalam memilih seseorang. beliau selalu memperhatikan kapasitas dan kompetensi yang dimiliki oleh seseorang. (walaupun memang semua tidak bisa dilepaskan dari kalkulasi politik).
    saya sedikit memberi contoh, orang-orang terbaik yang dipilih oleh beliau, seperti Kapolri Jend Soetanto, Mantan Panglima TNI Marsekal Djoko Suyanto, Mendagri Mardiyanto, Jaksa Agung Hendarman Soepandji dan masih banyak lagi.
    apa yang bisa dipetik dari situ, secara sederhana, kalau Presiden Yudhoyono memilih seseorang, saya percaya hal itu tidak sekedar memilih, tapi pilihan itu didasarkan pada sebuah kajian yang mendalam. termasuk mengapa Bpk. Presiden memilih Bang Yusril sebagai kandidat untuk diajukan sebagai kandidat Hakim Konstitusi periode mendatang.
    saya tidak mengerti secara persis alasan Bpk presiden secara lebih mendasar, tetapi saya, sebagai awam akan mencoba menganalisis beberapa kelebihan yang dimiliki oleh bang Yusril:
    1. Sebagai ahli tata negara, Abang sangat kompeten, baik secara teoritis (karena Abang adalah salah satu akademisi di kampus terkemuka negeri ini, Abang juga bersentuhan langsung dengan realitas tata negara kita. sebagai penulis pidato presiden dan sebagai menteri.
    2. telah terbukti sampai hari ini, bahwa Abang telah lolos dari berbagai macam sangkaan, berbagai macam tuduhan dan berbagai macam intrik di dunia politk kita. bisa dibilang, sebagai politisi, Abang adalah salah satu politisi yang handal. saya jadi teringat latar belakang Abang mengapa memilih studi di fakultas Hukum “kalau kuliah di FISIP, hanya bisa menjadi politisi dan tidak bisa menjadi ahli hukum, tetapi kalau kuliah di Fakultas Hukum, bisa menjadi dua-duanya sekaligus” (koreksi kalau saya salah, karena saya pernah membacanya di suatu majalah).

    saya kira itulah setidaknya kelebihan Bang Yusril, tentu masih banyak yang lain. tetapi memang semua tidak bisa diukur dari kaca mata kompetensi saja. bangsa kita (terutama politiknya -sebagai sebuah supra struktur negara-) masih saja sulit untuk bisa menempatkan orang-orang baik dan kompeten berada di tempatnya. mungkin karena memang nasib negara berkembang saat ini. India memiliki kalangan pebisnis yang begitu bergerak cepat dalam merespon pasar globalisasi, sehingga mengangkat perekonomian disana, tetapi tidak diimbang dengan kecepatan para politisinya yang selalu terlibat intrik hingga menghambat percepatan kemajuanya.

    jadi, selamat berjuang Bang Yusril, Abang masih muda, dan memiliki kompetensi yang dibutuhkan bangsa ini untuk maju. syak wasangka media ?? ya begitulah adanya, saya yakin ini adalah bagian dari pembelajaran kita. rimba politik begitu lebatnya, tetapi sebagai tokoh, Abang bukanlah “tokoh yang tidak jelas hutan rimbanya”, tetapi memiliki latar belakang aktivisme yang kuat (saya jadi teringata tulisan Abang tentang Sri Bintang Pamungkas, Tempo, entah edisi dan tahun berapa).

    cukup sayang kalau abang berhenti disini dan kembali menjadi dosen, atau bahkan banting setir selamanya menjadi bintang film. HAKIM KONSTITUSI ?? tentu (sekali lagi) Bpk SBY tidak sekenanya saja!!.

    Seandainya sepuluh tahun lalu….
    di Majelis itu
    minoritas bukanlah suatu perkara di negara kita
    Seandainya
    Semua terbuka bagi siapa saja,
    termasuk yang muda usia

    Billahitaufiq wal Hidayah

  8. jebee (komentar #128)

    Bung Bonar
    Bung Usep
    Bung Capry
    Bung Iwan Asnawi yang di Swiss
    oyaaa…. Bung Yusril perlu juga nggak yaa ^-^?? hehe..

    aku benci sama kalian semua,
    aku pikir kalian mungkin merasakan hal yang sama juga dengan aku
    tapi semakin aku benci sama kalian,
    semakin sulit tuk melupakanmu
    tapi belum sampai tuk mengatakan rindu

    waduuuh kok aku jadi sentimentil yaaa…

    tapi kalian jangan GeeR dulu
    “Perang Baratayudha” kita belum usai…
    aku capek tadi seharian nyangkul disawah
    dan besok rencana mo keladangnya tetangga
    mo ngacak ngacak keledei ama kedelei, padi, jagung, singkong, jengkol, pete dan lainnya
    OK
    aku kekolong jembatan dulu…
    kehabitatku
    buat nyambung nafas ntuk esok hari

    Salam Pencerahan

    JEBEE
    Indonesia

  9. Iwan Asnawi (komentar #129)

    @hey, Jebee…
    kamu begadang ya? Disini masih petang…

    Ikutan dong “ngacak-ngacaknya”, aku juga suka naik Keledai dan makan kedelai. Tapi, aku tak suka jengkol…

    @tuh, salamin sama Bonar… Sudah sampai Grogol belum? Sebentar belok kiri,ya… Jangan lupa, ssssttt “Kondekturnya” lagi tidur… he…he…

    @duh, bung Capry yang di Makasar… Nakut-nakutin, bawa “Badik” segala… Siapa takut? “Gua kirain Preman?”, enggak taunya tukang pukul… Eeh, maksud gua “Puisikus” (benar enggak tuh, Seniman: Suka Nipu Teman)…he…he…

    @Bang YIM, maaf nih numpang lewat. Biasa, nyamperin “nak-kanak” he…he…

  10. jebee (komentar #130)

    Bonar # 114,

    Anda berujar ;

    “Kalau Anda melihat kebelakang, sarkasme Anda yang paling tidak dapat saya terima adalah di #61:

    (Saya coba pula “mengasumsikan” antara YIM dengan BONAR “sepertinya” dua hati satu jiwa deh, hehe).”

    ===========================

    Saya ndak mau pula Anda gelisah terlalu lama dengan kesarkasmean saya yang paling TIDAK ANDA TERIMA itu.
    Saya coba menjawab kegelisahan anda itu sedikit, tetapi saya agak lega karena kalimat saya itu yang anda anggap paling sarkasme, syukur…. syukur……Alhamdulillah… oh mon dieu.

    Kenapa saya bersyukur ?
    1. Bagi saya itu belum terlalu sarkasme, justru banyak kata kata saya lainnya yang amat pedih, perih, menohok, menyerang dsttt terhadap pribadi Pak Yusril, cuma saya bingung sendiri jadinya yang gelisah kok anda siiihh, malah Pak Yusrilnya enjoy saja… hehe makanya keluar kata sarkasme saya yang anda anggap tidak dapat anda terima itu.

    2.Kedua sudah mulai keluar senjata pamungkas oleh saudara, ohh maaakkk…..
    “Mission Accomplished!
    NB: omong-omong, di Internet itu tidak ada yang benar-benar anonim lhoh. Suatu saat, identitas saya dan anda akan terbuka. Ketika itu terjadi, yang Tabah ya… :)”

    Semoga kalimat itu belum mematikan saya untuk selalu ada sebagai manusia yang diberi insang berfikir.

    Tentu anda bertanya apa alasan saya mengatakan bahwa ;
    “(Saya coba pula “mengasumsikan” antara YIM dengan BONAR “sepertinya” dua hati satu jiwa deh, hehe).”

    Alasan 1 ;
    Tiada sedikitpun maksud saya melabeli saudara, jawabannya ada kok di BLOG YIM ini, coba deh anda baca dan renungi lagi :
    http://yusril.ihzamahendra.com/2007/11/24/norma-etika-intelektualisme-dan-propaganda/#more-38

    Sarkasme saya yang paling tidak anda terima itu muncul, karena saya mencoba mencernai dan memahaminya sendiri selanjutnya saya memodifikasi positif maksud postingan itu, saya berpikir maka saya ada (Cogito ergo sum, Rene Descrates).

    Benar atau salah analisis saya itu, wajar kan ? yang namanya saja saya lagi belajar dan mencari pencerahan dalam sebuah proses pembelajaran.

    Selanjutnya saya mencoba merangkaikannya apa ada kaitannya dengan sebuah analisis yang tidak berkesudahan, bahwa “Akal yang digunakan sebagai instrument berfilsafat harus diuji dulu validitasnya, apakah ia absah atau tidak dalam menguak realitas. Betapa tidak, dalam menguak realitas terdapat perdebatan panjang semenjak zaman Yunani Kuno (lampau) hingga masa Postmodern (kiwari) antara kubu rasionalis (rasio) dan empiris (indriawi dan persepsi). Semenjak Plato hingga Michel Foucault dan Jean-François Lyotard.

    Alasan 2 ;
    Biarlah saya mengawang, berlatih dengan kepekaan fallacy saya sendiri. Biarkanlah waktu yang menjawab semua itu, tetapi saya memang berharap Asumsi Saya itu SALAH.

    ohh… masih kabur yaaa … jadi tolong pula beri saya pelajaran lagi semoga saya bisa menyadari sepenuhnya bahwa saya betul betul seorang sarkasme.

    JEBEE

  11. jebee (komentar #131)

    Bung Bonar, saya lupa menambahkan alasan ketiga,

    moderator tolong dong sambungin link saya…. kelupaan terus jadinya.

    Alasan 3 ;

    Kalimat saya itu muncul, dari permainan kita tentang sebuah Asumsi kan ?
    Anda kala itu mempunyai asumsi kepada SBY tentang pemberhentian Pak Yusril dari jabatannya, kemudian saya buat pula kalimat saya itu untuk menyetarakan sebuah asumsi kepada anda.
    Mengapa jadi pertanyaan berat bagi anda ? kalau anda sudah bertanya dan merasakan, berarti anda sudah menjawabnya sendiri.
    Itulah permainan asumsi.

  12. Capry (komentar #132)

    @#129
    saya hanya ingin menganalogikan jika kata kata tersublim menjadi “badik”
    (baca:senjata yg bisa dipakai membunuh juga ut kupas bawang) digunakan oleh semua ‘orang’
    secara tdk bijaksana, betapa berbahayanya !!

    ini juga sebenernya tersirat pengakuan
    buat Jebee dan Bonar, dimata saya (sementara) mereka adalah
    piawai yg baik dalam olah neokorteks
    (baca:bagian dr otak yg mengontrol kecerdasan linguistik, spasial/visual, dan interpersonal)

    sy pribadi sangat tidak ingin “mereka” berhenti” sebab alasan paling
    fundamental (sebaiknya bagi semua pembaca disini) adalah ‘Hikmah’

    Hikmah apa yg tengah dipertontonkan kepada dewan pembaca sekalian .?

    Hikmah sementara yg dapat saya ambil ;
    .. inilah sisi baik manusia ttg pikirannya, sekaligus menjadi penjara yg dapat menganulir kebebasan intrinsik dalam mengenal diri lebih jauh.. -silakan di interpretasikan sebab ini juga “debatable” hanya saja tidak ingin menjadi menjadi topik baru (OOT)

    Salam,

    Capry - Makassar

  13. Bonar (komentar #133)

    @Jebee:

    Bagi saya itu belum terlalu sarkasme, justru banyak kata kata saya lainnya yang amat pedih, perih, menohok, menyerang dsttt terhadap pribadi Pak Yusril, cuma saya bingung sendiri jadinya yang gelisah kok anda siiihh, malah Pak Yusrilnya enjoy saja

    Sebenarnya, tadinya saya tidak perduli. (Silahkan baca lagi kronologisnya)

    YIM mungkin lebih mampu menghadapi Anda, saya tidak menganggap YIM perlu dibela, kenal aja kaga!

    Hanya saja, waktu saya bergumam (baca:urun pendapat ),
    Anda malah menyerang saya, dengan melabeli saya (#67).
    Ketika saya diserang, Saya wajib meluruskannya bukan? sesederhana itu.
    Jika saya bersalah, mungkin kesalahan saya adalah kadang saya memakai metode Anda dalam menyerang Anda :) Sedikit bercanda, tak mengapa khan?

    Sekarang setelah Anda mengakui niat dan metode Anda (dalam bentuk yang cukup puitis di #112), saya kira tidak perlu lagi lah saya meneruskan menyerang pribadi/karakter Anda, toh anda tidak ada inovasi metode baru dalam menyerang yang bisa bikin saya tersenyum.

    Kita tidak perlu lagi bersembunyi dibalik kata-kata manis.

    Kalau Anda ingin meneruskan menyerang pribadi/karakter, ya monggo… Setidaknya sekarang kita semua sudah mengenal Anda dengan lebih baik :) Saya akan melewatkannya saja deh.

    Kecuali jika obyek diskusi Anda menarik dan relevan, atau kecuali jika argumen-argumen saya tentang substansi awal dibantah (#92, ijin prinsip yang Anda inginkan, sudah diberikan YIM di #94 lho).

    Malah, saya masih mengharapkan argumen(#92) saya dipatahkan.

    (Mengenai tafsir kata “asumsi”, atau seperti tafsir kata “mungkin” dan “hanya mungkin”, atau yang sejenisnya, itu pada dasarnya saya lewatkan begitu saja, saya anggap anda lebih ahli dalam hal itu, manut wae wis!)

  14. Ita/ (komentar #134)

    Tanggapan atas Editorial Koran tempo dan Media Indonesia

    Pak YIM yth,

    Adalah menjadi kewajiban siapapun untuk melakukan klarifikasi pada sesuatu yang mengundang fitnah dan penciptaan opini. Saya secara pribadi sangat setuju dan cukup salut bapak tetap membuat sebuah blog untuk tetap memelihara relationship dengan siapapun ( walaupun, barangkali pada saat menjabat dulu, saya barangkali tidak punya kesempatan untuk melakukan tanggapan pendapat atas apapun aktivitas bapak ). Hal yang baik yang barangkali mesti saya sampaikan pada bapak adalah tetap berterima kasih pada bapak yang telah mengisi kesibukan kabinet dalam kepemerintahan di masa lalu ( siapapun presidennya ). Apa yang telah bapak lakukan, saya yakin sekali, selalu dengan itikad baik sebagai salah satu anak bangsa ini. Siapapun orangnya, diposisi bapak pada saat itu, tentu tidaklah mudah untuk tetap menunjukkan kapasitas karakter personal, karena siapapun kalau sedang berada dalam suatu system, maka otomatis akan bertanggung jawab terhadap system tsb. Mudah2an, bapak tetap melakukan aktivitas yang memiliki kapasitas sebagai negarawan dan dapat menjadi trendsetter bagi masyarakat banyak, selain saya doakan bapak selalu memiliki karakter Tut Wuri Handayani, Bravo pak YIM!!!

  15. aditya (komentar #135)

    hallo Jebe….

    Teruskan Perjuangan mu untuk selalu menjadi pendebat, tapi sebaiknya anda juga harus menjadi pendebat yang profesional, karena saya melihat banyak hal yang justru sebetulnya telah di jelaskan oleh YIM, tapi justru anda ulangi kembali, atau sudah masalah telah di jelas kan oleh YIM tapi anda mempertanyakan kembali, sehingga mungkin sebagian pembaca blog ini menjadi bosen dengan materi debat anda.

    terimakasih semoga perdebatan anda dengan YIM menjadi lebih menarik dan hanya karena faktor ketidak sukaan anda Bolg ini mebnjadi bolg yang menjemu kan…

  16. jebee (komentar #136)

    Bung Bonar # 133,

    ==>“Melabeli ?”

    mungkin.. iya,
    tapi saya cukup mengerti dulu, disini ada pengaruh lain yang mempengaruhi objektifitas dan kerasionalan berpikir seseorang, diantaranya mungkin faktor psikologis, phobia terhadap publikasi, stabilisasi karakter masa lalu dan kedepan, ketakutan terhadap pembentukan opini publik yang negatif, dan dampak lainnya.
    Saya cukup mengerti. Thanks

    ==> “Jika saya bersalah, mungkin kesalahan saya adalah kadang saya memakai metode Anda dalam menyerang Anda :) Sedikit bercanda, tak mengapa khan?”

    saya pikir tidaklah salah, orang akan mempertahankan harga dirinya dan kebenaran yang dianutnya dengan berbagai cara pula.
    Tapi ada satu hal renungan mendasar bagi saya, yakni tentang kesimpulan mengatakan SALAH atau BENAR cara yang dipakai orang dalam menyerang kita, sebelum kita mengambil tindakan yang sama harusnya lebih hati hati terlebih dahulu karena kalau tidak, bisa bisa berbalik kediri kita sendiri, bisa membuat kita malu sendiri, karena apa kita belum tahu seutuhnya apa maksud orang menyerang kita.

    Sebagai contoh, bisa saja orang menyerang kita dengan cara meruntuhkan gubuk kita dengan tiba-tiba dan diam-diam tetapi dengan maksud untuk membangunkan istana megah (ah seperti cerita Cinderella aja…). Jika kita langsung berpikiran sama dengan sipenyerang tentu dengan segala cara, daya dan upaya pula kita menyerang orang tsb.
    Menurut saya ini juga tidak salah, yang salah tentu sipenyerang gubuk mengapa tanpa izin dan pemberitahuan terlebih dahulu menyerang gubuk orang lain (walau niat baik), …..naah disini muncul pertanyaan seperti yang anda asumsikan bahwa saya tidaklah tulus (baca Bonar #114 “Saya paham bahwa apa yang Anda bilang, banyak yang tidak tulus, istilah lainnya sinis.” selanjutnya Bonar #126 …”tandanya Anda memang pada dasarnya tidak memiliki itikad baik”)
    untuk menjawab arti sebuah KETULUSAN/KEIKHLASAN itu, maka kasus diatas sudah memberi contoh kepada kita, apa itu arti sebuah KETULUSAN/KEIKHLASAN ?

    NB: Saya kurang tahu apakah kata tulus dan ihklas bisa di samakan.

    Untuk pernyataan ;
    “toh anda tidak ada inovasi metode baru dalam menyerang yang bisa bikin saya tersenyum.”

    (ini biar waktu yang membuktikan kita bersama), saya sudah coba apa yang saya bisa tapi kerja belum selesai (lho ini kan bait pusinya pujaan saya, cuma “Kami” nya saya robah jadi “Saya”..hehe), saya sudah coba tapi HATI NURANI saya SANGAT SANGAT SANGAT TIDAK BISA MENERIMA, tidak usah saya perjelas maksudnya, kalau saya mau dan berniat jahat bisa saja saya menggunakan ‘inovasi’ lain (bagaimanapun saya juga bisa menggunakan jaringan dan infra/suprastruktur baik manusia ataupun tekhnologi yang ada untuk saya pergunakan). Bisa jadi akan membuat sdr. lebih repot dan kebakaran jenggot lagi (MAAF).
    Saya hanya bisa berdoa jangan sampai saya sekerdil itu.

    Ditunggu Pencerahan tentang arti sebuah KETULUSAN

    JEBEE
    Indonesia

  17. Usep (komentar #137)

    Maaf Pak/Bu jebee saya tdk pernah membenci siapapun.
    silahkan anda berpendapat apa saja.

    Terima-kasih

  18. Bonar (komentar #138)

    @Jebee,Indonesia #136:

    saya sudah coba tapi HATI NURANI saya SANGAT SANGAT SANGAT TIDAK BISA MENERIMA, tidak usah saya perjelas maksudnya, kalau saya mau dan berniat jahat bisa saja saya menggunakan ‘inovasi’ lain (bagaimanapun saya juga bisa menggunakan jaringan dan infra/suprastruktur baik manusia ataupun tekhnologi yang ada untuk saya pergunakan). Bisa jadi akan membuat sdr. lebih repot dan kebakaran jenggot lagi (MAAF).
    Saya hanya bisa berdoa jangan sampai saya sekerdil itu.

    Wah, terus terang saya jadi takut… Anda pasti amat hebat dan berkuasa, lagipun mulia. Terimakasih untuk tidak meneruskan ancaman untuk menggunakan ‘inovasi’ lain Anda itu, saya sungguh-sungguh bersyukur mengenal seseorang dengan hati nurani semulia Anda, sungguh butuh orang berjiwa besar untuk mengontrol diri tidak menggunakan sumber daya sehebat itu.

    Omong-omong, oh ya ini kelupaan dikit:

    Kalau Anda ingin meneruskan menyerang pribadi/karakter, ya monggo… Setidaknya sekarang kita semua sudah mengenal Anda dengan lebih baik :) Saya akan melewatkannya saja deh.

    Kecuali jika obyek diskusi Anda menarik dan relevan, atau kecuali jika argumen-argumen saya tentang substansi awal dibantah.

  19. jebee (komentar #139)

    ASTAGHFIRULLAH
    MAAF-kanlah YA ALLAH kata kata saya yang melebihi kodratku sebagai Hamba Ciptaan-MU.

    Terima Kasih atas Pencerahannya

    Saya memang KERDIL, ANGKUH, AROGAN dan SOMBONG.

    Semoga ketabahan Saudara melayani keangkuhan saya, bisa meluluhlantakkan ketidakwarasan kehausan saya menjawab KEVALIDITASAN AKAL dalam MENGUAK REALITAS.

    Sekali lagi Terima Kasih

    JEBEE
    Indonesia

  20. Capry (komentar #140)

    @Jebee
    Sekali lagi Terima Kasih

    JEBEE
    Indonesia…..

    Heyy.. Jebee..
    apa perang bharatayuda kita ini usai ..?

    jangan gt lah bah….

    bagaimana dong rencana kita mandi di kolam

    Capry - Makassar

  21. Capry (komentar #141)

    @Bonar
    Wah, terus terang saya jadi takut… Anda pasti amat hebat dan berkuasa, lagipun mulia. Terimakasih untuk tidak meneruskan ancaman untuk menggunakan ‘inovasi’ lain Anda itu,…

    loh.. kenapa takut rekan Bonar..?

    terima saja “tantangan” itu .

    kami , khususnya saya, sngat penasaran ….INFRA dan SUPRA struktur apa seeh.. yg mw dia gunakan itu
    ..kali aja membuka wacana radikal I.T yg baru..

    @Jebee.
    khusus pernyataan - INFRA DAN SUPRA - itu… saya tertegun dan sangat mendukung anda agar tidak usah terlampau takut dikatakan orang sombong, angkuh, coba anda lakukan kekuatan anda itu…

    toh kalau anda tidak merasa demikian — ga ngaruh koq .. ya ga..?

    Were watching out — Ayo kamu bisa !!

    Capry - Makassar

  22. H 1 R O (komentar #142)

    terus terang tadi malam,
    mungkin karena malam jumat kalee.. hehe..
    aku mulai tersadar
    terbangun dari kegelisahanku…
    aku baca postingan “huru hara” kalian disini
    awalnya aku geram habiis ama kamu kamu,
    apalagi
    kamu jebee Ngotot bangeet, Angkuh dan tak tau diri
    kamu Bonar sok banget, tapi okelah wawasanmu dibawah sedikit Om Yusril
    kamu Usep, nggak punya pendirian
    kamu Iwan, wajarlah kamu sepertinya lagi cari identitas, sepi yaa diluar negeri…
    kamu Capry, walau pendatang baru dalam dunia persilatan ini, kamu kompoor habiiiis, semoga tak banyak orang sepertimu direpublik ini, tapi kuakui karakter kompormu cukup memberi inspirasi dan inovasi… semoga saja sikap kompormu, dimaknai positif oleh pasukanmu (jika kamu mau jadi B1MA nanti)…
    dan para komentator komentatir lainnya, yang terpaksa antri gara gara kalian..

    tapi aku SALUUUTT sama Om Yusril,
    orang macam gitu masih dengan sabar dihadapi, tabah… tabah…..tabahkan hatimu OM
    aku juga berpikir tentunya Om Yusril udah mempertimbangkan resiko dari orang orang “G I L A” macam mereka
    tapi aku tak habis pikir setiap habis baca komentar kalian,
    hasratku ntuk membaca perseteruan kalian selanjutnya jadi ketagihan
    tanpa kusadari membutuhkan waktu empat jam untuk melahap dan menghayati perseteruan kalian

    walau aku benci berat ama kalian
    aku tetap berpikiran positif seperti OM Yusril,
    nggak emosional, sok sok-an dan plin plan kayak kalian

    memang awalnya aku sepakat juga dengan kamu jebee
    aku ragu, skeptis, pesimis dengan tampilan tampilan manis politisi
    untuk pencitraan diri
    salah satunya BLOG YIM ini
    tapi untuk (sementara) aku dapat mengambil HIKMAHNYA
    huru hara kalian disini
    mengingatkan saya seperti yang pernah diceritakan Om Yusril
    akan balasan surat surat…. “Ir Soekarno dan Muh. Natsir”….

    walau yang mendekati ilmunya Ir. Soekarno dan Muh. Natsir diblog ini hanya Om Yusril
    tapi nggak apa apalah…. aku tetap menanti ada mitra tanding Om Yusril nanti yang lebih sepadan..
    semoga menjadi sejarah pula bagi anak cucuku untuk membaca buku sejarah dikemudian hari
    seperti ;
    balasan surat …… “YUSRIL IHZA MAHENDRA dan MISTERY GUEST”…
    balasan surat …… “YUSIL IHZA MAHENDRA dan Orang-Orang GILA”
    balasan surat …… “YUSRIL IHZA MAHENDRA dan ANAK ANAK INDONESIA”
    balasan surat …… “YUSRIL IHZA MAHENDRA dan TAUFIQURRAHMAN RUKI”… (kita tunggu Beliau muncul)
    balasan surat …… “YUSRIL IHZA MAHENDRA dan SBY”….. (kita harap SBY mau memberi pencerahan pula utk kita)
    dan yang spektakuler
    kita tunggu
    balasan surat ….. “YUSRIL IHZA MAHENDRA dan BARACK OBAMA”…… hehe mana tau…..

    (BeeTeeWeii… bagi percetakan terutama percetakan MI dan T, bisa tuh dicuri idenya…. buat buku….. aku yakiin kalian dapat untung Gedee apalagi kata kata temanku OM YUSRIL mau diarak jadi Y 1 M for One lhooo… jangan lewatkan nilai jualnya…… cepat ambil kesempatan, ntar nyesal lhoo… hehehe….)

    Oyaaa… sebelum aku lupa, buat percetakan MI dan T,
    kalian juga bisa minta tuuhhh dokumen dokumen surat surat OM Yusril denga guru guru Beliau dahulunya
    (seperti.. Buya Muh. Natsir, Nurcholis Madjid, Teuku Rahman, aduhh pasti banyak deehh guru guru Beliau lainnya, disamping kalian dapat untung, juga berpahala lhoo buat kami kami generasi muda yang udah tua ini…hhehehe.. tentunya bagi peradaban Indonesia)

    semoga aku masih diberi kekuatan untuk bisa menyaksikan perseteruan perseteruan aktor lainnya
    dan menikmati jurus jurus silat baru di BLOG YIM ini
    untuk membaca, merenungi, menghayati dan mengambil HIKMAH dari
    balasan balasan surat orang orang GILA di BLOG YIM ini

    kuanggap ini model baru pencerahan seperti tokoh tokoh Indonesia yang Konsisten dan Berintegritas Tinggi itu
    dalam membangun peradaban Bangsa Indonesia yang maju, sejahtera, adil dan makmur
    “gemah ripah loh jinawi

    G I L A
    aku akhirnya menyadari
    yang G I L A seutuhnya itu adalah OM YUSRIL IHZA MAHENDRA
    kamu bikin anak Indonesia “G I L A”
    tapi
    memang orang yang berpikir G I L A yang bisa merubah dunia ini
    semoga Indonesia dapat dipimpin oleh orang G 1 L A
    sepertimu OM YUSRIL
    semoga……………………….AMIIINNNN………..

  23. Capry (komentar #143)

    @H1RO
    mm… emang anda pemain lama gitu disini (blog) ..?
    singkat aja seh…
    Lebih baik disebut pencuri dibanding tidak sama sekali.

    Emang blog ini ..sedianya dimaksudkan ut sharing koq..(baca:baku bantah).
    PLUS kuliah gratis KUMDANG dr bang YIM

    so.. ENJOY IT BRO..

    salam,

    Capry - Makassar

  24. H 1 R O (komentar #144)

    # Capry

    mmmmhhhhh…. iyaaaa.. yaa… kata kataku jadi pisau bermata dua….
    tuan makan senjata…

    tapi lou tega bangeeettt… teganya.. teganya…
    lou membikin jebee besar kemaluan
    sehingga dia nggak berani lagi melihatkan wajahnya disini…..

    ajak lagi…tuhhh… mandi bareng

    salam juga, walau aku belum percaya ama kamu (hehe.. nyuri Hak Patennya jebee)

  25. Capry (komentar #145)

    #144
    wow.. ngajak Jebee..?
    heh sekadar anda tahu aja yah.. Jebee & Bonar + “Swiss”
    itu bukan komentator ecek ecek..yg mw ngebalas koment dg
    ajakan ‘childish’ bla.. bla.. bla ..gt..

    saran sy ..sekali lagi SARAN…jgn coba coba
    ngambil posisi karakter, metode redaksional, gaya penulisan..
    mereka..
    u’ll showing what a ‘f**kin traps is this..:-)

    salam,

    Capry - Makassar

  26. H 1 R O (komentar #146)

    ooooo jadi kau laiii, ngajak aku jadi lawan pula rupanya
    okelahhh
    kau jual, aku juga belum tentu mau beli

    kau emang preman, provokator dan pencuri sejati rupanya
    buat kau ketahui ya !
    pencuri bisa menjadi ulung, karena berlatih mencuri
    kau ingat jepang kaaaann ? itu adalah bangsa pencuri
    tapi tuk kau ingat pula !
    pencuri sejati adalah yang mau memberikan ilmu sakti pencurinya

    walau aku ingat salah satu guru pencuriku,
    mengatakan
    “agiahkan yang saganggam yang sabijo pacik’an…’
    aku tak tau apa itu artinya
    aku bukan filosof kayak guru kita (red.. Y 1 M for One)
    tapi
    gara gara yang sebiji itu tidak diberikan, akhirnya aku tak memiliki kelengakapan ilmu pencuriku…
    kalau aku menjadi guru pencuri pula, tentu aku aku tidak pula memberikan ilmu yang sebiji itu keanak didikku
    kalau begitu
    jika ilmu guruku ada 50
    aku tentunya ada 49
    jika sudah 50 tahun tentu ilmu mencuri guruku itu akan hilang..

    sekarang aku minta
    kau ajak dan ajarkanlah aku ntuk berguru ke guru spiritual, hukum, filosofimu itu
    sehingga aku bisa pula menjadi PENCURI SEJATI….

    alors,
    aku mau menyusun kekuatan dulu ntuk menyerangmu
    aku akan mencari veteran Tulang Bonar yang katanya udah jadi ustadz
    aku juga akan merayu Si Omong Besar jebee, aku yakin sekarang dia lagi nyangkul disawahnya
    jadi
    akan kutunggu kau diperempatan…….

    akhirnya
    kalau pencuri itu emang katauan juga jadinya
    hehehe……

    Sesama pencuri harus saling mengingati.. hehe
    biar tak kualat diakhir hayat nanti

    Salam pencerahan sesama pencuri

  27. Aba Rayhan (komentar #147)

    Capry, H1ro, Jebee, Bonar, dan rekan penikmat lainnya. Aku lupa istilah yang pernah dituliskan HAMKA dalam buku –yang aku juga lupa judulnya. Tapi kira-kira begini [Tolong dibetulkan bila keliru]
    HAMKA pernag megutip kalimat bijak dalam bahasa Jerman (?), katanya:

    “Ich muste das wessen um zum glauben platz du bekomen”

    dan tampaknya ente terkena ini teman-teman.
    Sekadar contoh Jebee. Emosi begitu bergelaroa hingga kata merubah dan merobah tidak sempat disadari.

    Tetapi, di atas semua hal tersebut di atas, terima aksih banyak atas paparan yang mencerahkan. Semoga kami yang mengamati masih menyimpan penyaring yang bisa memilih dan memilah yang baik dan bermanfaat saja.

  28. jebee (komentar #148)

    Aba Rayhan # 147

    terima kasih banyak Aba Rayhan, yaa terima kasih, aku manut, aku berusaha untuk tabayun dan sadar
    Oh Pak Yusril, kalau aku salah tolonglah kau sapa aku, terus terang aku tak sanggup juga dengan begitu banyak komentator menyerang dan menasehatiku… kalau aku melayani mereka bisa bisa aku ikut gila pula, yang ujung ujungnya tetap menohok Anda Pak Yusril.

    Pak Yusril tolong jangan dendam sama aku…Please.. aku tunggu Bapak untuk bisa menyapaku, sudilah kiranya, jika kata kataku selama ini sangat menohok, mencaci, memaki pribadi Bapak. Salahkah aku menohok Bapak selama ini ? karena potret seperti itulah yang aku terima selama ini tentang Bapak. Tersinggungkah Bapak dengan ucapan ucapanku yang perih selama ini ? tentu iya, tapi jika Bapak diIzinkan oleh Allh SWT untuk bisa menjadi Presiden Republik Indonesia nanti, mungkin kata kata sarkasmeku itu hanya sebutir debu yang menggelantung di pakaian Bapak.
    Seperti kata yang selalu aku pegang selama ini aku adalah “MANUSIA YANG TIDAK SEMPURNA”

    Semua itu kulakukan karena kecintaanku terhadap Indonesia, mungkin caraku yang memang sangat sarkasme, baik aku sadari ataupun tanpa kusadari.
    atau angan anganku terhadap tokoh tokoh Indonesia sekarang ini
    yang menggantung harapan terlalu tinggi ?

    JEBEE
    Indonesia

  29. Capry (komentar #149)

    @#148 Jebee

    loh.. bagaimana dg yang ini Jeb..

    jangan kau robah sikap jelekku
    karena itu adalah kekuatanku — in #122

    Tak perlu khawatir gt bro.. toh kata kata tak menyentuh kenyataan ..
    kata kata hanya sebuah “tools” aja
    tetapi jangan pula muncul — “apa arti sebuah nama” — ini laen lg loh..:-)

    santai lah..bung !!
    p’rasaan gada deh yg nyerang km..? semua masih dalam konteks-nya

    Abang YIM itu Jiwa Besar Koq.. diserang pers / ditantangin debat / aja dia layani…

    mungkin abang itu hanya berpikir, jika mw di layani atu atu orang disini bisa “centang perenang” beneran
    nih blog.. mending kita kita aja yg saling ‘ndidik’ gt…

    Kl kita ga di tegur tuan rumah,.. emang ga enak seh…
    tapi siapa tau tuan rumah kan jg sibuk etc..

    btw, D’you Know..? anda orang hebat ..

    Salam,

    Capry - Makassar

  30. justletmelearn (komentar #150)

    Pak Yusril,

    Kami sekeluarga termasuk pengagum bapak terkecuali ayah saya yang lebih fanatik kepada bapak :-) Sampai saat ini beliau masih terus menyimpan pamflet masa kampanye Partai Bulan Bintang (dari jaman pemilu masa Presiden Habibie) .. sambil terus berusaha “menyadarkan” saya untuk kembali ke “jalan yang benar” karena ke-Golputan saya.

    Sejujurnya saya berharap, bapak menjadi seorang guru bangsa, bukan “sekedar” politikus, yang tidak tersekat-sekat oleh partai dan jabatan-jabatan di pemerintahan. Saya ingin sekali melihat ‘jalan pemikiran” bapak bisa terdistribusi kepada generasi berikut-nya ..

    Bapak di juluki Natsir muda, sudah saat-nya sekarang bapak menelorkan Yusril-yusril muda. Dan saya berkeyakinan hal ini hanya bisa di lakukan kalau bapak melepaskan baju politik yang saya rasa sudah terlalu sempit untuk bapak.

    Menulis di blog ini adalah upaya yang sangat krusial dalam usaha menelorkan Yusril-2 muda, saya takut itu terhenti karena nanti bapak akan lebih sibuk lagi kalau kembali “bertugas” di pemerintahan.

    Saya ingin apa yang Mohamad Roem katakan “Saya ini milik ummat” (ketika menolak tawaran menjadi Rektor universitas Muhamadiyah dengan syarat menjadi anggota Muhammadiyah) terucap dari mulut bapak. Bagi saya partai dan bapak adalah analog antara tubuh dan jiwa … tubuh adalah kurungan jiwa .. “tubuh” bapak terlalu kecil untuk jiwa dan pikiran bapak. Jadilah Chanakya ala Indonesia pak!

    Saya juga menunggu tulisan-tulisan bapak dalam bahasa Inggris. Saya ingin pula “mengenalkan” pemikiran-pemikiran ke-Islaman bapak dan juga pemikiran-pemkiran pendahulu bapak di Masyumi kepada teman-teman saya disini terutama salah seorang pembimbing dissertation saya yang begitu tertarik dengan Islam di Indonesia.

    Wassalam,

    Tanggapan saya:

    Terima kasih atas saran dan pandangannya. Partai politik atau organisasi apapun sebenarnya bukanlah tujuan, melainkan hanya alat belaka untuk mencapai sebuah tujuan. Kalau tujuan akan tercapai tanpa partai politik dan tanpa organisasi, maka mendirikan partai atau organisasi itu menjadi tidak perlu. Fanatisme berlebihan kepada partai atau organisasi jelas merupakan sikap yang keliru. Saya menelaah begitu banyak literatur untuk menelaah sejarah bangsa-bangsa serta tokoh-tokohnya, dan berdiskusi panjang dengan guru-guru saya mengenai hal ini. Saya berkesimpulan bahwa tidak mudah bagi seseorang untuk memutuskan jalan hidup seperti yang dipikirkan dan direncanakannya sendiri. Seperti kita berjalan ke sebuah tujuan, akan banyak hal yang kita jumpai di perjalanan yang tak pernah kita bayangkan, dan bahkan tak pernah terlintas dalam pikiran, tetapi tiba-tiba kita telah terlibat dalam hal-hal yang kita jumpai itu.

    Saya sendiri tak pernah membayangkan saya akan menjadi pemimpin sebuah partai politik. Tetapi tiba-tiba terjadi seuah pergolakan sosial dan politik yang saya, sengaja atau tidak terlibat di dalamnya, dan akhirnya saya terdorong juga untuk tampil ke permukaan. Mahatma Gandhi mungkin juga tak pernah terpikir akan terlibat politik begitu dalam, karena dia adalah pemikir kemanusiaan. Namun mau atau tidak mau dia ikut memikirkan bangsanya, dan akhirnya terdorong juga terlibat dalam Kongres India. Mohammad Iqbail demikian juga. Pada dasarnya dia adalah seorang penyair, pemikir filsafat dan ahli hukum. Tetapi, kata sebagai penulis sejarah Pakistan, negara itu didirikan di atas syair-syair Mohammad Iqbal. Syairnya menggelora dan mendorong orang untuk bergerak. Akhinrya Iqbal terdorong terlibat ke dalamnya. Dia akhirnya menjadi tokoh Liga Muslim India, yang memperjuangkan berdirinya Pakistan. Soekarno, Hatta, Agus Salim, Natsir, Sjahrir, Tan Malaka dan lain-lain, sesungguhnya mempunyai bakat yang besar untuk menjadi pemikir. Namun pada akhirnya semua mereka terlibat politik, dan juga memimpin partai politik. Keterlibatan mereka dalam partai, bagi saya tidaklah mengurangi penghargaan dan penghormatan kita kepada beliau-beliau itu bahwa mereka adalah negarawan. Intensitas keterlibatan mereka ke dalam partai politik, derajatnya tentu berbeda-beda, namun semuanya telah terlibat.

    Dalam skala yang lebih kecil, katakanlah sahabat baik saya Jimly Ashhiddiqy. Sekarang ada yang mengatakan bahwa beliau betul-betul “jurist” yang “netral” dan independen. Orang mungkin lupa atau tidak tahu, bahwa Bung Jimly dulunya juga terlibat organisasi dan politik. Beliau bahkan pernah menjadi anggota dan pengurus DPP Partai Persatuan Pembangunan. Mohamad Roem yang anda contohkan, adalah tokoh Jong Islamieten Bond dan Masyumi bahkan terpilih menjadi Ketua Partai Muslimin Indonesia di awal Orde Baru. Jadi soal negarawan atau bukan, tergantung pula dari sudut pandang dan kerangka berpikir kita. Saya ingat ketika Ayip Rosyidi sedang menulis biografi Pak Sjafruddin Prawiranegara, saya sedang berbincang-bincang dengan Pak M Natsir di rumahnya. Pak Sjafruddin datang dan tiba-tiba beliau bilang pada Pak Natsir: “Bung Natsir, menurut Ayip, kita berdua ini bukan politikus”. Pak Natsir tertawa dan balik bertanya “Apa yang dimaksud Ayip dengan “politikus”? Kalau politikus itu orang yang pandai membalikkan yang hitam menjadi putih dan yang putih menjadi hitam, sudah terang kita berdua ini bukan politikus, kata Pak Natsir sambil tertawa. Pak Sjafruddin tertawa, dan sayapun ikut tertawa. Ini sekedar cerita saja, namun mungkin perlu direnungkan untuk membahas “negarawan tadi”.

    Demikianlah tanggapan saya. Tentu pandangan saya ini banyak kekurangannya. Namun demikian, mudah-mudahan ada manfaatnya untuk kita renungkan.

Pages: « 1 2 3 4 [5] 6 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda