Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Ketika kita masih SD, kita selalu diajari guru kita bahwa negara kita adalah negara agraris. Alasannya, sebagian besar rakyat kita menggantungkan hidup pada pertanian. Kita diajari juga bahwa negara kita adalah negara bahari. Alasannya, sebagian besar wilayah negara kita adalah laut. Luas daratan lebih kecil dibanding luas lautnya. Hanya itu saja pelajaran yang kita terima. Kita tidak didorong untuk berpikir lebih jauh: Bagaimana kita harus meningkatkan produksi pertanian dan kelautan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Saya yang sejak kecil menjadi anak hutan dan anak laut, bukan hanya berteori tentang kemiskinan petani dan nelayan. Saya mempunyai pengalaman empiris hidup dalam kemiskinan, di tengah-tengah kehidupan petani dan nelayan.
Tentu tidak ada satupun pemerintah di negara kita yang tidak memperhatikan pembangunan pertanian dan kelautan. Berbagai instutusi perguruan tinggi yang mengembangkan pendidikan dan penelitian di kedua bidang ini, telah lama kita miliki. Hasilnya belum seberapa. Sebagian besar petani kita masih bertani menggunakan cara-cara tradisional, yang kini justru mengancam kelestarian alam. Perkebunan besar dibuka, namun hanya menghasilkan buruh tani, suatu bidang pekerjaan yang merupakan bagian rakyat kita yang paling miskin. Perusahaan perikanan besar didirikan, namun juga hanya menghasilkan buruh nelayan, yang juga hidup tak kalah miskin. Petani dan nelayan yang merupakan komponen terbesar bangsa kita, belum mampu kita sejahterakan. Ketidakberhasilan kita meningkatkan taraf kesejahteraan petani dan nelayan, adalah kegagalan kita meningkatkan kesejahteraan bagian terbesar rakyat kita.
Saya tidak ingin berpanjang kalam membahas masalah di atas pada kesempatan ini. Ilmu saya juga tak dalam membahas masalah itu dengan berbagai aspeknya. Saya ingin fokus pada krisis kedelai, bahan dasar utama pembuatan tahu dan tempe, yang telah menjadi makanan utama sebagian besar rakyat di negeri kita. Meskipun kedelai sangat penting, namun produksi kedelai dalam negeri, tak pernah mampu memenuhi kebutuhan. Kita harus megimpor kedelai dari luar negeri, terutama dari Amerika Serikat. Kita bukannya tidak mampu meningkatkan produksi kedelai untuk memenuhi kebutuhan. Persoalannya terletak pada harga. Ketika harga kedelai di luar negeri lebih murah, maka kecenderungan pedagang untuk mengimpor cukup besar. Untuk mengurangi impor ini, Pemerintah menerapkan biaya masuk. Karena harga menjadi seimbang, bahkan lebih murah, maka petani dalam negeri tak terdorong untuk meningkatkan produksi. Dalam keadaan seperti ini, tanpa kita sadari kita mulai tergantung pada impor.
Ketika harga kedelai di luar negeri meningkat tajam, ditambah lagi dengan biaya masuk, maka harga kedelai impor di dalam negeri langsung melonjak. Ketika itu terjadi, kita tidak mungkin menghentikan impor, karena produksi dalam negeri tak mencukupi. Bahkan harga kedelaiproduk domestik juga akan naik. Kini, Pemerintah menghapus biaya masuk untuk sementara. Namun langkah itu takkan efektif, sebab harga pembelian impor sebelum dikenakan bea masuk sudah naik hampir dua kali lipat. Harga kedelai produk dalam negeri juga sudah terlanjur naik. Perlu waktu relatif lama untuk menstabilkan harga. Harga yang wajar hanya akan tercipta kembali kalau harga kedelai impor turun atau produksi kedelai dalam negeri meningkat. Hal yang sama, sebenarnya juga terjadi pada produk pertanian yang lain, seperti jagung, lada, cengkeh, bawang putih.
Masalah utama pertanian kita, bukanlah terletak pada mampu atau tidaknya kita meningkatkan produksi, tetapi lebih kepada stabilitas harga. Negara industri besar seperti Amerika Serikat tak pernah perduli nasib negara agraris yang miskin. Ketika saya di kabinet di bawah Presiden Megawati, kita ribut terus dengan Amerika Serikat karena memaksa agar Pemerintah mengizinkan peternak dan pedagang Amerika Serikat, untuk mengekspor sayap ayam potong ke negara kita. Kita tak mau mengizinkan, karena sayap ayam tak banyak dimakan orang di negeri itu, sementara di negeri kita banyak orang mengonsumsinya karena murah. Kalau sayap ayam dijual besar-besaran di negeri kita, produksi ayam dalam negeri akan terpukul. Rakyat sudah merasa cukup makan sayap ayam murah, daripada beli dagingnya yang lebih mahal. Amerika selalu berdalih perdagangan bebas. Dari dulu saya sangat hati-hati dengan konsep perdagangan bebas itu, termasuk lamanya saya menelaah RUU Penanaman Modal, yang membuat anggota kabinet yang lain agak jengkel dengan sikap saya. Kalau penanam modal dalam negeri dan luar negeri diberi status sama dalam segala hal, dan tidak dibatasi berapa besarnya modal yang ditanam, saya katakan bisa-bisa tukang cukur atau tukang martabak dari Bangladesh memohon izin penanaman modal untuk membuka sebuah kios cukur dan kios martabak. Ini masalah besar bagi bangsa kita.
Untuk membantu petani dan nelayan kita, saya pernah melontarkan gagasan dalam sidang kabinet, agar Pemerintah memberikan subsidi pembelian produk pertanian dan perikanan, tentu dengan konsekuensi pengurangan subsidi BBM dan listrik. Harga dasar gabah dan kedelai misalnya ditetapkan bisa lebih tinggi dari harga pasaran. Dengan demikian harga akan stabil dan gairah petani untuk menanam juga besar. Bulog membeli gabah dan kedelai dengan harga yang lebih tinggi. Pemerintah melempar ke pasar dengan selisih harga setelah dikurangi subsidi. Dengan cara itu tukang ijon juga akan berhenti beroperasi memeras petani dan nelayan. Gagasan saya itu, menurut Wapres Yusuf Kalla, sulit dilaksanakan di lapangan. Saya mengerti, gagasan ini baru ditataran permukaan. Namun kita harus menelaahnya secara rinci agar dapat dilaksanakan di lapangan. Mungkin kita uji coba pada produksi padi dan kedelai lebih dahulu, untuk kita lihat hasilnya dan melakukan evaluasi.
Saya berpendapat bahwa dampak berganda dalam pembangunan ekonomi harus dimulai dari pertanian dan kelautan. Kalau petani dan nelayan sejahtera, daya beli mereka meningkat, maka mereka akan berpikir untuk memperbaiki rumah, membeli peralatan rumah yang lebih modern, membeli kendaraan dan seterusnya. Tetapi kalau petani dan nelayan, yang merupakan bagian terbesar rakyat kita, tak mampu menjadi penggerak dampat berganda, maka pertumbuhan ekonomi kita, hanya akan menggantungkan pada investasi, belanja Pemerintah dan konsumsi masyarakat perkotaan. Padahal, Investasi belum berjalan sebagaimana kita harapkan, karena faktor-faktor non ekonomi, seperti kepastian hukum, pelayanan birokrasi yang berbelit, pungli dan situasi keamanan serta kenyamanan berusaha yang belum mendukung.
Belanja Pemerintah banyak pula yang tertunda dan tertahan karena kekhawatiran birokrasi kalau-kalau mereka dicurigai melakukan korupsi. Memberantas korupsi memang telah menjadi tekad kita bersama dan tentu harus terus digalakkan. Namun ketakutan yang berlebihan akan digunjingkan dan diperiksa kejaksaan dan KPK karena dugaan korupsi, dapat berdampak negatif pula pada penggunaan anggaran. Para pejabat ragu-ragu mengambil keputusan karena khawatir dan takut salah. Dana APBD yang cukup besar yang tak digunakan itu disimpan di bank-bank milik Pemda. Uang itu kemudian didepositokan lagi di Bank Indonesia. BI harus membayar bunganya.
Kini masalah kedelai mencuat ke permukaan. Harganya melonjak tajam. Sementara produsen tahu dan tempe, tidak mungkin serta merta menaikkan harga jual produknya. Daya beli masyarakat makin lemah. Harga bahan makanan yang lain seperti minyak goreng dan telur juga mengalami kenaikan. Akibatnya, produsen tahu tempe bukan saja mengurangi produksi, bahkan terancam bangkrut. Kebangkrutan ini serta merta berdampak pada meningkatnya pengangguran. Tahu tempe yang selama ini dianggap sebagai produk makanan murah namun bergizi, berubah menjadi barang yang mahal. Kalau rakyat tak mampu lagi membeli tahu tempe sebagai lauk pauk sehar-hari, maka apa lagi yang akan dimakan?
Langkah sungguh-sungguh untuk membenahi ekonomi kita untuk mengangkat harkat dan martabat petani dan nelayan, sungguh merupakan pekerjaan besar, berat dan sulit. Namun kita tidak mungkin mengabaikan hal ini. Kasus melonjaknya harga kedelai, kiranya menjadi pelajaran sangat berharga untuk kita lebih bersungguh-sungguh membenahi pembangunan pertanian dan perdagangan kita.***
Wallahu’alam bissawwab
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 16th, 2008
60 tanggapan untuk “KEDELAI DAN KEBIJAKAN PERTANIAN KITA”
Pages: « 1 [2] Show All
Iwan Asnawi (komentar #31)
@Tambahan untuk ded, kumpulan anekdot yang cukup menarik misalnya pada, “Mati Ketawa ala Rusia” (alih bahasa, pertengahan 80-an di Indonesia). Latar belakang, kejatuhan Partai Komunis di Rusia…
Atau kumpulan Don Quisot. Latar belakang, Pahlawan “Kesiangan”… (edisi Inggris, biasanya buku pegangan mahasiswa Sastra Inggris, dulu. Mungkin kurikulumnya berubah saya tidak tau)…
Ada juga, buku anekdot untuk anak-anak… “Marx und Morris”, edisi Jerman. Buku tentang betapa “jahilnya” mereka… Di beberapa wilayah Negara di Erofa yang berbahasa Jerman, (Jerman, Austria, sebagian Swiss), “Marx dan Morris”, dijadikan “roti kering” (cake). Untuk makanan anak-anak, supaya mereka tidak nakal (jahil) seperti mereka.
@Dalam tulisan YIM, misalnya… Waktu Bapaknya Bang YIM memimpin do’a minta hujan yang diikuti oleh semua umat, yang berbeda Agama (baca: KKMK). Ini juga sebenarnya salah satu contoh anekdot yang menarik, dan punya latar belakang yang sangat kuat…
Dan pengikat alur ceritanya pas… Disitulah kekuatan anekdot bung!
January 22nd, 2008 at 5:34 am
Rinie S Y (komentar #32)
YIM….kembali saya akan ungkapkan apa yang saya rasakan sekarang ini, saya miris ngebayangin saudara2 kita yang jauh dipelosok pedesaaan sana pada pake lauk apa sekarang ya… karena di Jakarta ini saja setiap pagi saya selalu liat pemandangan bapak2 bersepeda dengan kerupuk penuh di sepeda bagian belakangnya…krupuk2 tersebut dengan warna warni yang mencolok (gak tau pake pewarna apa)….ini Jakarta….. Bagaimana dng daerah2 sono ya…mungkin sebentar lagi akan lebih banyak lagi berita anak2 dan balita2 dan orang2 yang kurang gizi atau gizi buruk untuk yang kesekian kalinya na’udzubillah ya Allah…menurut anda apa yang harus kita lakukan…..berdoa saja ????? mendoakan siapa menurut anda…..orang2 dipelosok-pelosok sana…atau penguasa kita…atau siapa ya YIM…..Saya mohon maaf bila apa yang saya rasakan mungkin bagi sebagian orang terasa mengada-ada dan mungkin terlalu dibesar-besarkan, tapi sungguh saya miris….
January 23rd, 2008 at 12:02 pm
jebee (komentar #33)
Rinie S Y numpang kenal yaa ??? namamu mirip nama orang dirumahku deehh ?? hehe….
Bahasamu syahdu, humanistis walau agak sedikit melankolis tapi cukup filosofis…..
Rin… benar juga katamu “…menurut anda apa yang harus kita lakukan…..berdoa saja ????? mendoakan siapa menurut anda…..orang2 dipelosok-pelosok sana…atau penguasa kita…atau siapa ya YIM…..”
Rin… kalau aku sih menjawabnya “ora et la bora” aja dulu… aku akan berusaha selalu memperhatikan negaraku dengan segala kisah pilu dan cerianya….
Jika aku diberi waktu dan kesempatan oleh Allah SWT ntuk mengabdi bagi negeriku aku akan berusaha semaksimal mungkin memberikan segala tenaga, pikiran dan waktuku buat dimana aku mengabdi, jika di lingkungan RT yaa aku akan mengabdi sebaik mungkin di RT tsb, cuma aku akan selalu tidak mau terbawa arus juga tidak mau melawan arus, aku harus mampu meniti arus, aku akan mengatakan yang benar itu benar dan yang salah itu adalah salah, walau jabatan ketua RT-ku jadi taruhannya.
Trus aku akan berusaha untuk tidak kena penyakit “Peng-AKU-an diri” inilah aku, inilah yang aku lakukan, merendahkan orang lain, dsb. Aku hanya berprinsip, jika ada yang baik dan berguna bagi orang lain dari usaha yang aku lakukan itu biarlah cukup dirasakan oleh orang lain itu, aku tak akan meminta uluran asa terima kasihnya apalagi balas budi, namun jika ada kesalahan/kelalaian/kekhilafan yang aku lakukan maka diawal dan diakhir mengabdi aku akan meminta kritisilah aku/marahilah aku/cercalah aku/makilah aku…. dengan itu akan semakin tahu siapa aku.
Trus… mengenai kawan kawanku di desa ini yang hatimu ter-miris-i memandanginya apakah mereka makan atau tidak… aku hanya bisa menarik nafas panjang ntuk berbagi cerita dengan kamu, aku tanya ama kamu, kamu sendiri sekarang apakah sering melihat, merasakan, dan ikut berbaur dengan irama kehidupan kawan kawanku yang kamu bilang entah makan apa mereka hari ini ?
Rin… aku mau mebahas ini dengan kamu kapan kapan, tapi berhubung hari dah semakin tinggi, aku mau nyangkul kesawah, hari ini aku berusaha berbuat yang terbaik bagi tanaman di sawahku, semoga jika berbuah dapat dituai dan dimasak oleh kawan kawan se-ndeso ku,
jadi itu dulu obrolan kita siang ini di warung kopi YIM ini yaaa ??
terima kasih, salam.
January 23rd, 2008 at 1:48 pm
isrona (komentar #34)
Persoalan kedelai tak pernah lepas dari urusan pertanian. Urusan pertanian ngak pernah lepas dari urusan politik. Sepertinya ngak pernah ada kemauan politik untuk membenahi berbagai persoalan yang berkaitan dengan kebijakan pertanian dan kelautan. Contoh saja untuk urusan kelautan sebenernya khan punya anggaran yang boleh dibilang tidak terlalu kecil, kemana larinya itu dana yang ada,,,banyaknya malah ditilep ama orang-orang khan. Makanya daku kaget banget waktu dana kelautan begitu mudahnya digunakan untuk yang bukan urusan kelautan, nelayan menjadi korban. Saya tidak tahu apa dana pertanian juga sebenernya punya nasib yang sama dengan dana kelautan?
Pertanian dan perikanan, peternakan bisa jadi merupakan konspirasi global negara2 maju, untuk membiarkan negara seperti Indonesia tak mampu memecahkan persoalan yang berkaitan dengan pertanian, perikanan, dan peternakan. Lantas para birokrat kita menjadi sangat bodoh untuk mengurusinya. Dan petani menjadi sasaran empuk ketidak berhasilan pembangunan pertanian, demikian juga dengan peternak dan nelayan. Makanya jarang banget mereka memikirkan nasib para pegang cangkul, pemegang jaring dan pemedang cemeti. Anggapan pertanian, perikanan, dan peternakan tak menguntungkan terus berlanjut sekedar memberikan subsidi sedikit saja tak berani.
Subsidi, menurut hemat saya tak pernah membuat petani,peternak dan nelayan menjadi malas mereka bukan tipe manusia malas. Mereka jenis manusia pekerja keras.
Sekedar mendapatkan pupuk atau bibit bahkan lahan pertanian saja sekarang ini susah banget. Pupuk dan bibit menjadi sulit dan mahal untuk dinikmati para petani, gimana produk pertanian kita bisa bersaing dengan produk import. Dalam kondisi seperti ini malah ada orang yang main-main dengan pupuk dan bibit, tobat.
Mengapa kita tidak pernah mau mecoba sekedar memberikan kemudahan bagi mereka untuk mendapatkan katakan saja pupuk dan bibit.
dah dulu …
salam buat semua,
yang lagi belajar nulis
January 29th, 2008 at 10:40 pm
isrona (komentar #35)
Ada ngak yah investor yang tertarik untuk menanamkan modalnya di sektor ini?
January 29th, 2008 at 10:48 pm
Saherman (komentar #36)
sekitar 2 tahun lalu, seorang teman yang mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah workshop di Thailand berhasil memotret kapal-kapan yang bersandar di pelabuhan negeri itu setelah menjarah ikan-ikan di perairan Indonesia. Kapal-kapal itu berbendera Indonesia dan pada lambungya ditulisi kalimat-kalimat dalam bahasa daerah di Indonesia. (ingat tulisan-tulisan di truk di daerah-daerah Jawa antara lain “Gajah Oling”, “Doa Ibu”, atau di daerah Sumatera seperti “Bujang Lapuk”). Seolah kapal-kapal Thailand itu miliki nelayan Indonesia, padahal mereka mengeruk kekayaan laut di Nusantara untuk dibawa pulang ke Thailand. Mereka mencuri.
Di Indonesia, Nelayan kita meminta supaya ada subsidi untuk nelayan karena untuk mengoperasikan kapal motor penangkap ikan biayanya terlalu berat untuk mereka. Permintaan subsidi itu ditolak pemerintah. Saya lupa persisnya kapan berita itu saya dapati dari sebuah media, yang jelas tahun lalu, Jusuf Kalla mendatangi Thailand dan meminta (tentu saja melalu pemerintah sana) supaya nelayan Thailand mau ikut mengeksplorasi kekayaan laut Indonesia. Luar biasa pemikiran Pemimpin kita saat ini, lebih senang menyejahterakan nelayan negeri tetangga daripada menyejahterakan rakyatnya sendiri.
Bukan saja soal pertanian dan Kelautan, semua lini kehidupan bangsa ini justru sepertinya mau diserahkan kepada orang asing ketimbang memberdayakan bangsa sendiri untuk mengurusnya. Pemimpin macam apakah yang layak kita jadikan teladan kalau seperi ini.
Sesungguhnya saya sering merasa lelah membicarakan kondisi semacam ini. Syukurlah ada Anda semua, dan Pak Yusril juga, yang masih mau mendiskusikannya.
January 31st, 2008 at 1:33 pm
ACUVIARTA (komentar #37)
Ass.Yth.Bang Yusril
Bang, saya ingin menyampaikan Sedikit Komentar Mengenai Kedelai dan Kebijakan Pertanian.
Bang YIM, kekuatiran bang YIM mengenai krisis kedelai patut diberikan apresiasi tersendiri..terutama sebagai bentuk keresahan sosial sebagai warga negara, intelektual, dan pengamat. Masalah instabilitas harga kedelai sebenarnya tidak harus ceritanya seperti hari ini kalau pemerintahan BERSAMA KAMI BISA….sedikit saja melek informasi dan melek reaksi. Ketika ribuan pengusaha tahu tempe bereaksi dan mengempung istana, baru ada reaksi dari pemerintah. Pemerintah kita sewajarnya terlebih dahulu menjawab beberapa pertanyaan sebelum menyikapi fenomena kenaikkan harga kedelai dan harga sejumlah bahan makanan kebutuhan pokok dan industri yang lain (terigu, minyak goreng, gula pasir, etc). Pertanyaannya: (1) kenapa petani tidak mau menanam kedelai? (2) kenapa Polri menemukan ribuan ton kedelai yang ditimbun? (3) kenapa importir berteriak minta diturunkan pajak impor dan pengalihan beban PPN-nya ke pemerintah? (4) kenapa harga impor (fob) naik?(5) kenapa harga kedelai tidak stabil, (6) kenapa distribusi tersendat?Biang kerok semuanya itu karena minimnya perencanaan yang dilakukan pemerintah dalam mengatasi persoalan jangka panjang kerawanan sejumlah kebutuhan pokok.Insentif fiskal yang ditempuh pemerintah tidak lebih hanya sebagai pemadam kebakaran, padahal pemerintah menghadapi tekanan meningkatnya defisit APBN 2008. Telatnya up date data-data produksi pertanian serta perkembangan konsumsinya menyebabkan kalkulasi stok dan produksi kedelai kacau balau. Tidak sempurnanya informasi ini dimanfaatkan distributor pada semua rantai distribusi untuk mendulang profit melalui beragam spekulasi……….hingga jadinya seperti sekarang.Langkah pengamanan APBN yang dilakukan pemerintah pada satu sisi hanya patut dipuji sebagai langkah penyelamatan dini, tetapi pasti persoalan utamanya belum tersentuh. Masalah ini akan terus berulang di tahun-tahun mendatang.YANG MENGHERANKAN…KENAPA PEMERINTAH TIDAK MAU MENDIRIKAN BUMN YANG KHUSUS MENGELOLA PRODUK HULU PERTANIAN STRATEGIS……….BEGITU JUGA DENGAN PENGELOLAAN PRODUK HILIRNYA. Mau melimpah produksi atau tidak tampaknya sama saja, kalau pemerintah tidak terlibat di kedua sisi tersebut (hulu dan hilir). Produksi hulu pertanian TURUN…harga naik (contoh kasus kedelai), akan tetapi produk hulu NAIK…..tetap saja harga produk hilirnya naik (CPO dan minyak goreng). Kenapa kita harus mengekspor CPO ke Belanda, apakah negara ini tidak memiliki kemampuan mengolah CPO menjadi minyak goreng serta beragam produk turunnya yang lain?saya kira tidak.Mengherankan memang kalau Presidennya saja DOKTOR PERTANIAN…..kok bisa-bisanya tidak optimal memperhatikan Sektor pertanian?
January 31st, 2008 at 9:46 pm
Aday (komentar #38)
Aslm,,
Ini kali pertama saya komen ke blog pak Yuzril..
Salam kenal..
Klo menurut saya,, kebijakan jangka pendek pemerintahan yang tlah lalu yang membuat kita susah gini..
Ibarat kata,, Pemerintahan sekarang ditinggali berjuta masalah yang harus segera diselesaikan..
February 9th, 2008 at 11:44 am
A. Arifianto tanJabok (komentar #39)
salam bung yusril,
menanggapi tulisan tersebut ada beberapa opini yang bisa saya sampaikan,
pertama, lemahnya pola pikir bangsa (rakyat), ini tak lebih karena sistematisasi yang ada tidak berhasil dicerna dan menjadi sistem yang patut dikagumi dan menjadi inspirasi setiap elemennya. tengok negara-negara maju lainnya, kenapa kita terkagum, pastinya secara obyektif memang sistem tersebut mengagumkan.
PTN menjadi BHMN, lalu terpeleset menjadi swasta. efeknya, selamat datang para generasi (mahasiswa) kapital… apa yang bisa kita perbuat jikalau ada 2-3 bahkan lebih generasi yang bertahan demi kapital, dimana setiap generasi jika mensimulasikan sebagai umat muhammad (maximal usia sekitar 60 tahun), maka selamatlah 60 tahun kedepan indonesia dipenuhi dengan hal tersebut.
kedua, otonomi atau bahkan federasi, mungkin saya tak sepandai bung yusril dalam hal tatanegara, bagaimana mewujudkannya saya serahkan pada ahlinya.
otonomi, pemecahan kelembagaan menjadi lebih kecil yang saya maksudkan dilakukan bukan hanya kepada lembaga negara, tetapi juga kepada lembaga mikro-nya, seperti bulog, semua departemen.
tapi saya terkadang terfikir apakah bentuk negara akan berubah karena hal ini? entahlah…
mungkin ini yang sedikit menggelitik saya… terimakasih bila ditanggapi lagi…
salamualaikum,
Apa yang ada sekarang adalah upaya kita bersama untuk memperbaiki keadaan. Saya berpendirian bahwa tugas kita sebagai generasi penerus ialah meneruskan apa yang baik yang telah disumbangkan oleh generasi terdahulu, dan memperbaiki apa yang salah dan keliru. Tentu kita harus menemukan terobosan-terobosan baru terhadap hal-hal yang mungkin belum terpikirkan oleh generasi sebelumnya. Segala sesuatunya tentu harus menimbang-nimbang tantangan, peluang dan momentum yang ada. (YIM)
February 9th, 2008 at 2:04 pm
Iyus (komentar #40)
Assalamualaikum, Wr, Wb. Bang, mungkin saya baru pertama kali ikut bergabung dalam blog abang. Apalagi saat ini yang abang lontarkan masalah pangan. Pak Harto memang sudah tiada, namun kita harus mengkaji kembali apa-apa yang menjadi kebijakan beliau sewaktu menjabat. terlepas kesalahan-kesalahan yang beliau buat, harus kita akui pada era tahun 1980 an, Indonesia sempat mengalami kejayaan khususnya swasembada pangan. berbagai kebijakan yang menyangkut swasembada pangan menjadi prioritas program pembangunan Nasional Pak Harto. kalau kita tilik kembali, mengapa swasembada Pangan Indonesia begitu kuat, dikarenakan pak Harto memancangkan tiang-tiang terhadap pembangunan yang khususnya memihak kepada kebutuhan rakyat. Pangan menjadi program utama, sehingga sewaktu orde baru mulai melaksanakan tugasnya, hal yang pertama dibentuk adalah kelembagaan Pangan yaitu BULOG. namun pada proses perjalanannya di era tahun 1990 an, mulailah BULOG dijadikan lembaga penopang dana baik pribadi maupun lembaga politik. Sehingga pada tahun 2003 Bulog dilepaskan statusnya dari Lembaga non Pemerintah menjadi Perusahaan BUMN berupa PERUM. komoditas-komoditas yang selama ini ditanggani oleh Bulog yaitu sembilan bahan pokok, mulai di lepas. sehingga Perum BULOG saat ini hanya menanggani Beras raskin.
Ketika sembilan bahan pokok dilepas kepasar bebas, maka disitulah dimulainya kehancuran terhadap sistem pangan Nasional. Rakyat mulai dicekik dengan mahalnya harga pangan. Pasar memberlakukan harga yang diluar batas kemampuan rakyat. Pengusaha Sembako semakin kaya. harga kedele semakin tinggi dikarenakan dari awal Indonesia dikondisikan oleh asing untuk tergantung kepada import kedele. Pada saat itu era 1990 an, pembelian kedele masih disubsidi oleh pemerintah melalui BULOG sebagai lembaga ketahanan pangan. namun setelah Bulog berubah menjadi PERUM otomatis subsidi tidak ada lagi.
Dari situlah kita mulai merefleksikan diri sebagai anak bangsa, apakah semua kebijakan Pak harto dengan Orde barunya dan repelitanya salah. kita perlu mengambil hal-hal yang baik dari sistem pemerintahan Pak Harto. melalui blog abang ini, saya hanya mengusulkan agar lembaga-lembaga ketahanan Pangan dapat di efektifkan lagi. kita tahu bahwa apa yang menjadi kata pepatah “Dimana ada gula, pasti disitu ada semut”, dengan pembentukan lembaga-lembaga yang berfungsi sebagai pengambil kebijakan masalah pangan, maka insya Allah stabilisasi harga dan kemampuan rakyat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dapat terealisasi. Tentu lembaga ini harus dikontrol dan diawasi dengan aturan-aturan yang ketat, sehingga tidak ada lagi kasus Bulog Gate ataupun wijarnako-wijarnako yang lain.
Siapapun nantinya yang menjadi Presiden, apabila ingin berhasil dalam pemerintahannya, hanya satu kata kunci yang harus menjadi perhatian yaitu bagaimana mengatasi ketersediaan pangan yang terjangkau oleh rakyat dan memprioritaskan sektor pertanian menjadi program pembangunan utama.
Akhirul kata, dengan keterbatasan yang ada, saya mohon dapat diberikan masukan yabg lebih luas lagi mengenai pandangan saya. Assalamualaikum, Wr. Wb.
Saya sependapat bahwa apa yang telah disumbangkan oleh Pemerintah terdahulu, dari siapapun termasuk oleh Pak Harto, kalau memang baik dan bermanfaat, haruslah diteruskan, sambil memperbaiki kekurangan-kekurangannya. Kita tidak boleh merombak apa yang ada secara total, sementara konsep penggantinya masih belum teruji. Negara tidak boleh dijadikan kelinci percobaan, kalau ternyata akan berakibat fatal. Saya sependapat bahwa komponen bangsa yang perlu diperkuat haruslah bertolak dari pertanian dan kelautan. (YIM)
February 12th, 2008 at 3:19 pm
Bonar (komentar #41)
@Bustanus:
Mau ngelamar kerja, Pak? :) Atau mau pamer kehebatan/gelar/kenalan?
Pernah mendengar istilah “comment spamming” dan “Surat berantai”, Pak?
Membaca tulisan Anda hingga titik koma, merupakan 15 menit tersia-siakan yang tidak akan kembali lagi dalam hidup saya.
(Mohon Maaf jika agak terlalu keras)
February 19th, 2008 at 7:36 am
Pertanian dan Kesejahteraan « berbagi cerita.. (komentar #42)
[...] subsidi pertanian telah saya jelaskan di dalam tulisan saya mengenai Kedelai. Suatu hal yang tak kalah pentingnya ialah mendudukkan kembali soal otonomi daerah dalam kaitannya [...]
February 25th, 2008 at 10:45 pm
djarot (komentar #43)
Salam Kenal dari saya Bung Yusril
Permasalahan pertanian kita memang saat ini sedang kacau. mulai dari komoditas padi,jagung,kedelai dll, juga masalah sarana dan pendukung dlm kita berbudidaya sudah kacau.
padi……… Bulog dan sub bulog membeli gabah petani yang jauh dari harga standart yg ditetapkan
permainan dlm lingkup bulog ,
pemerintah tidak tegas dlm hal ini titik.
March 5th, 2008 at 7:51 pm
isrona (komentar #44)
Bayangkhan saja sekedar membicarakhan satu topik seperti “tempe” kita sepertinya buang energi dengan berlembar-lembar halaman. Dalam tataran diskusi seperti ini sepertinya tak pernah selesai. Semnetara itu akar permaslahan tidak akan pernah bisa diselesaikhan dengan hanya berdebat. Coba kita tengok dalam tataran praktis keseharian di alam para petani atau para nelayan, perbaikan apa yang bisa mereka dapatkhan. Petani diaerah tempat saya tinggal betapa sulitnya mereka mendapatkhan pupuk yang dikehendaki. Infrastrukutr yang mendukung ketersedian kebutuhan akan pupuk sangat lemah.
Yang bisa saya lihat adalah tidak adanya “kebijakan” yang berpihak kepada para petani. Kalaulah subsidi menjadi sebuah biang kerok dan dituding menjadi penyebab kemalasan. Dinegara manapun didunia ini “subsidi” selalu ada, proteksi terhadap hasil produk pertanian dijalankan.
Sementara itu sejak jatuhnya HM.Suharto(alm) lembaga seperti bulog dibabat habis. Disikat karena dianggap sebagai biangnya kebocoran anggaran negara. Akibatnya, tidak ada lagi ketahanan pangan dinegara yang konon memiliki tanah yang subur negeri yang agraris.
Dari lembaran2 halaman di blognya Professor ini saya malah ingin bertanya dalam tataran praktis, apa yang bisa dilakukan untuk keluar dari persoalan kedelai dan persoalan umum lainnya yang berkaitan dengan pertanian dan kelautan?
Adakah keberanian dari pihak pemerintah untuk benar2 memperhatikan urusan pertanian dan kelautan?
Saya sendiri tak tergolong ahli di bidang pertanian dan kelautan, walau saya sangat menaruh perhatian terhadap soal itu.Selama saya aktif di pemerintahan, masalah yang saya tangani terpfokus ke bidang politik dan hukum. Kalau saya jadi Presiden, tentu saya tak hanya ingin berteori tentang masalah ini. Kebijakan harus dirumuskan dan diputuskan, kemudian dilaksanakan dalam kenataan. (YIM)
March 7th, 2008 at 4:45 pm
Iwan Asnawi (komentar #45)
@Yth, YIM
@Pada komentar, 35 Mbak Isrona…
Pertanyaan anda, ada enggak sih investor untuk menanamkan modalnya disini?
Setau saya dulu, zaman Soeharto, ada JICA (Japan International Corporation Agancy). Yang menggarap project besar2an, sampai sekarang di Muara Enim (Sumatera Selatan). Project pertambangan, eksplorasi Batu Bara, dan pembangkit listrik tenaga Uap. Dan pada hubungannya dengan project pertanian di hulu Ogan Komering Ulu tepatnya di Belitang, project Transmigrasi. Yang juga anda bisa lihat sampai sekarang disana (Belitang, OKU), ada lahan pertanian yang sangat luas. Luar biasa luasnya, Project Bendungan dan Irigasi untuk lahan Pertanian…
Bahkan, pada rencana pembuatan Jembatan Penghubung antara Pulau Jawa dan Sumatra. Lewat Pelabuhan Bakauheuni (P. Sumatera) ke Pelabuhan Merak (di P. Jawa)…
Project ini, mendapat tentangan dari Negara Investornya sendiri, yaitu Jepang. Lembaga penentang itu adalah JATAN (Japan Tropical action Nettwork).
Karena, menurut mereka (JATAN), project ini tak lebih dari sekedar pembuat penyengsaraan baru bagi rakzat. Memang, kita tau akhirnya, hutan di wilayah itu (Sum Sel) habis tinggal kenangan. Dan yang menikmati hanya segelintis orang saja, yang tinggal di Hulu. Sedang rakyat di belakangnya (di hilir aliran sungai) menderita. Derita itu, misalnya, kalau musim hujan air belimpah dan banjir. Menggenangi semua tanah, dan lahan pertanian. Kalau musim kemarau, rakyat kekurangan air. Karena air, bisa dibuka dan ditutup seenaknya di hulu…Demi kebutuhan oran di Hulu Sungai Komering.
Project ini Multi National Agancy, kalau dulu tabu diungkap, namanya juga project Keluarga (Friend and Clan) he…he… Kalau sekarang saya tidak tau?
Sudah Demokrasi barangkali ya?
Tapi, saya masih korespondens dengan seorang Professor dari Jepang (JATAN)…
@YIM, mungkin anda lebih tau?
Maaf kalau kepanjangan…
Salaam hormat…
March 7th, 2008 at 5:30 pm
novel damopolii (komentar #46)
ass wr wb
Pak Yusril, mohon pemikirannya untuk kebijakan dalam bidang perkebunan di negara kita..
karena potensi negara kita bukan cuma pertanian, pertambangan dan kelautan tapi juga perkebunan..
contohnya : “buah mangga gedong” (hasil panen daerah indramayu dan majalengka) di pasaran timur tengah
(arab saudi, khususnya) mencapai $ 30 / kg, serta buah manggis di pasaran eropa mencapai $70 / kg.
Di Arab Saudi, mangga tersebut di buat jus mangga, yang kemudian oleh orang2 indonesia yg pergi haji, di beli
sebagai oleh2 bagi sanak keluarga.(hehe..gmn ya kalo mereka tau jusnya tuh bahan bakunya berasal dari indonesia).
Cuma sayangnya petani kebun di negara kita belum disupport, baik dari pemerintah maupun dari pihak perbankan.
benar kata iwan asnawi (komentar #17) ini adalah masalah “keberpihakan”.
Jikalau Allah SWT mentakdirkan pak yusril jadi pemimpin negara kita (RI 1 atau RI 2), seberapa besar nanti
keberpihakan pak yusril ke bidang pertanian, kelautan dan perkebunan ?
March 9th, 2008 at 10:26 pm
Iwan Asnawi (komentar #47)
@Yth, YIM…
Maaf menyapa kawan,
Hi, Novel apa kabar dang? Di Bolaang Mangondo sekarang, atau masih di Yogya, atau sudah ke Jakarta juga? Terima kasih atas kesepakatannya, saya titip salam sama kawan2 semua eks asrama Mahasiswa Bolaang Mongondo di Yogya dulu…
YIM, saya juga mendukung pertanyaan Novel di atas…
Dan memang seperti yang sudah anda ungkapkan, kesalahan pada Pemerintah yang terdahulu mestinya kita perbaiki.
Soalnya adalah, bagaimana kita memperbaikinya? Itukan juga memerlukan Konsep yang jelas? Konsep anda, misalnya tentang Perkebunan, Pertanian, dan Kelautan?
Mestinya, paling tidak kita disini tau juga…
Tidak hanya sekedar membuat imbuhan belaka…
Dan kita kan tidak harus menangisi, atau bahkan mengumpat masa lalu…
Saya memaklumi betapa sibuknya anda saat ini, tentang pembuatan Film kolosal anda…
Mudah2an anda selalu dalam keadaan sehat wal afiat.
Salaam hormat…
March 10th, 2008 at 2:06 am
PrimaryDrive (komentar #48)
Saya setuju bahwa kesejahteraan petani dan nelayan layak mendapatkan perhatian. Saya agak hati2 dengan sugesti YIM, dan juga pernyataan dr anda2 yg lain, yg ingin memberikan fasilitas spt kredit peralatan dll. Walaupun ini akan meringankan hidup mereka, ini menurut saya bukan akar dr persoalannya (dr kemiskinan petani dan nelayan kita).
Sektor pertanian miskin krn sektor tsb tidak produktif; misalnya, spt YIM bilang, petani kedelai kita tidak mampu bersaing produksinya dengan industri yg sama dr amerika. Kok dibandingkannya dengan Amerika, ini apa tidak miring perbandingannya? Sama sekali tidak, krn kenyataannya di pasar domestik petani kedelai kita bersaing dengan impor dr Amerika.
Untuk semua sektor, apa itu pertanian atau pendidikan atau jasa, berlaku kaidah yg sama. Sektor itu harus sehat dan produktif. Kalau tidak ujung2 nya sektor tsb jadi beban buat sektor lain (spt sugesti YIM untuk membiayai kredit peralatan petani lewat pengurangan subsidi BBM). Kalau cuma sedikit2 tidak apa2, tapi kalau terlalu besar subsidi thd sebuah sektor, itu artinya kita ‘bodoh’ dalam mengelola sektor tsb! Kita harus mencari tahu apakah tidak ada cara lain yg lebih pintar.
Kembali ke petani dan nelayan, persoalannya kalau strategi pembangunan kita di sektor ini bersandar ke investasi di petani dan nelayan kecil, walaupun ini kedengarannya sangat luhur dan sosial, menurut saya ini tidak efektif. Petani/nelayan kecil tidak punya kecerdasan, kemampuan inovasi, know-how dll yg dibutuhkan untuk mengangkat sektor ini ke tingkat super produktif. Yg mampu untuk melakukan ini adalah eksploitasi sektor dengan industri! Jadi, petani besar. (implikasinya kita mesti mendukung konglomerat! ;)
Kalau pembaca masih ingat pak Habibie… ternyata beliau benar. Satu2nya kekuatan yg mampu untuk mengangkat Indonesia dengan 200 juta rakyatnya ke kesejahteraan adalah teknologi. Mungkin bukan letterlijk dengan jualan CN235, tapi secara umum kita lebih baik memfokuskan investasi kita di modernisasi dan industrialisasi.
Suka atau tidak, era petani kecil sebetulnya sudah lewat. Kita hanya akan memberikan janji kosong kalau kita mengatakan sebaliknya. Kita tidak bisa memberikan subsidi untuk mereka selamanya. Untuk menolong, jalan terbaik adalah dengan menyalurkan subsidi ke pendidikan, supaya pendidikan kita sebaik mungkin tapi semurah mungkin. Supaya anak2 dr para petani kecil kita bisa sekolah memadai, dan bisa mendapatkan tempatnya di era yg baru, yaitu era modernisasi.
March 10th, 2008 at 3:10 am
Andy Achmad Sampurna Jaya (komentar #49)
seperti yang sudah saya duga sebelumnya, blognya orang penting selalu laris, bahkan komentar didalamnya lebih ber-variasi dari pada posting sebenarnya :) mungkin, inilah contoh “pertanian” yang laris, bertanam posting dan menuai komentar :))
salam.
Terima kasih dan salam kembali. Saya menulis sebuah risalah untuk menjadi bahan renungan dan diskusi kita bersama. Komentarnya memang beragam, bahkan kadangkala keluar dari topik. Tapi biarkanlah. Bagi saya semua itu positif saja dalam membangun kebersamaan kita untuk mencari pemecahan terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi bangsa dan negara kita. (YIM)
March 10th, 2008 at 10:03 am
novel damopolii (komentar #50)
ass wr wb
pakyusril,mohon maaf tuk numpang nyapa kawan..
pak iwan…makasih jg atas kesamaan pendapatnya..alhamdulillah ak baik2 aja,skrg lg tugas di lampung,kalau boleh mhn imel dan nmr pak iwan yg bisa novel hubungi..thanks
pak yusril..usul,gmn kalo kta adakan temu muka utk komunitas bog inil..
wassalamu alaikum wr wb
March 10th, 2008 at 2:12 pm
Bonar (komentar #51)
Subsidi atau tidak subsidi, adalah masalah yang kompleks memang.
Amerika sendiri, ketika mengalami depresi ekonomi 1930an justru menerapkan subsidi sebagai safety net untuk ketahanan pangan (food security) rakyatnya. Kebijakan tersebut terus menerus diperbaharui hingga sekarang. Artinya secara ironis, tempe yang dimakan rakyat indonesia itu disubsidi pemerintah amerika serikat.
Jika kemudian diputuskan akan disubsidi, patut dipertimbangkan hal-hal ini:
1. Bagaimana keluar dari subsidi (exit strategy) kelak?
ataukah kebijakan subsidi hanya merupakan eksploitasi demi popularitas politik, yang kemudian mewariskan masalah ke pemerintahan berikutnya?(ingat2lah soal subsidi minyak zaman Pak Harto)
dilemanya, harus memilih antara popularitas politik jangka pendek(kepastian pemenangan pemilu) dengan kepentingan bangsa di jangka yang lebih panjang
2.Seberapa sanggup mensubsidi?
RUU ketahanan pangan dan energi 2007 amerika serikat mengalokasikan dana sebesar hampir 300 milyar dollar untuk subsidi pertanian. Itu lebih besar dari total GDP(!) nominal Indonesia!!.
Itu baru amerika, seekor sapi di skotlandia disubsidi sebesar 12ribu pound pertahun, belum lagi negara-negara lain.
Apa iya, mensubsidi merupakan kebijakan yang masuk akal?
Kecuali jika kita memiliki kekuatan mensubsidi dengan besar yang sama, sulit untuk membuat pertanian kita menjadi kompetitif. Alternatifnya, pertanian menjadi sektor yang dikuasai oleh negara (mencontoh vietnam). Tapi ada orang bijak yang bilang, pemerintah adalah sumber masalah.
3. Seberapa adil subsidi ?
Jika petani/nelayan miskin disubsidi, maka sudah sepantasnya jika pegawai miskin, pedagang miskin, pengusaha miskin lainya juga disubsidi. Kenapa mensubsidi sektor usaha yang minim inovasi? kenapa mensubsidi sektor usaha yang kemungkinan tidak mampu mensustain keberlangsungannya dimasa depan?
Anak pedagang dan pengusaha, aspirasinya adalah menjadi sarjana, lalu berdagang dan membuat usaha, akibatnya terjadi efek multiplikasi. Anak petani dan nelayan, aspirasinya adalah menjadi sarjana, lalu menjadi pegawai, pedagang dan pengusaha. Jika begitu apa bukannya makin memberatkan subsidi di masa depan?
Jika kemudian diputuskan untuk tidak mensubsidi, harus dipertimbangkan hal-hal berikut ini:
1. Siapa yang kasi makan rakyat?
Realitanya, tanpa subsidi, petani kecil sulit bertahan.
pada jangka panjang, ketahanan pangan jadi amat sangat tergantung pada seberapa besar amerika atau negara-negara lain mensubsidi pertaniannya. Jika tiba-tiba amerika memutuskan untuk tidak mensubsidi, kita sudah tidak memiliki basis petani yang kuat.
2 Bagaimana lagi menangani pengangguran?
Ketika pertanian lokal gagal bertahan karena harga impor begitu murah, para ex-petani memilih untuk menjadi gelandangan dan pengemis ke kota, atau duduk-duduk saja menunggu hutang, bantuan pemerintah, bencana, dan hujan uang dari langit.
Eksesnya adalah menurunnya produktifitas, menurunnya GDP, dan munculnya ekonomi sampah (wasteful economy), investor tidak tertarik dengan hal-hal ini. Ekonomi secara garis besar akan tertekan.
Liberalisme ekonomi pertanian tidak dapat dilakukan sendiri oleh indonesia jika negara-negara kaya(yang mengaku) liberal tidak meliberalisasikan pertanian mereka, belum lagi tantangan kompetisi dari negara2 yang sudah sosialis dari awalnya.
Jikalaupun sudah diputuskan apa yang harus dipilih, dengan atau tanpa kondisi-kondisi idealnya, kita masih harus menghadapi unintended consequences yang merupakan inheren dari setiap kebijakan.
Ada pepatah, kemerdekaan adalah efek samping dari surplus ekonomi. Jika benar begitu, secara defacto indonesia masih belum merdeka. Benar-benar dibutuhkan pemimpin dengan inovasi besar dan pemahaman akut dibidang ekonomi, dan berani tidak populer untuk memerdekakan Indonesia.
March 10th, 2008 at 2:13 pm
PrimaryDrive (komentar #52)
200% setuju dengan Bonar!
March 10th, 2008 at 2:39 pm
Iwan Asnawi (komentar #53)
Yth, YIM…
Mohon maaf lagi nih…numpang lewat. Mudah2an tidak mengganggu ketentraman anda, di Blog anda ini.
@Novel… Tinggal di Lampung, waaah saya suka kopi Lampung.
Setelah kuliah di Yogya. Saya ke Rusia, lalu ke London, dan tinggal beberapa tahun disana. Kemudiannya, diundang ke Bern (Universitaet Bern), Switzerland. Sampai dapat pekerjaan, dan jodoh disini. Istri saya, orang Swiss…he…he…
Anak saya satu, laki2. 11 tahun, alkhamdulillah kami semua sehat.
Dan Email saya adalah, iwanint@yahoo.com…
Tentang nomor telp, akan saya kasih setelah nanti kamu hubungi lewat email saya itu.
YIM, usul Novel itu bagus juga… Bagaimana kalau anda (atau kita sekalian) mengadakan, Seminar Akbar dari penghuni Blog anda ini. Saya mau datang, kendati tinggal di Swiss… Asal ada undangannya, tiket tak perlu. Karena, saya mampu bayar sendiri…he…he…
Salaaam hormat saya…
Tidak apa-apa silahkan saja. Bagus juga kalau blog ini dapat menjadi jembatan antar teman. Tentang seminar akbar para blogger, suatu idea yang bagus juga. Saya sendiri tidak tahu bagaimana mengadakannya.
March 10th, 2008 at 6:16 pm
Iwan Asnawi (komentar #54)
Yth, YIM…
Ini hanya usul, maaf di luar tofik…
Terima kasih atas, kerendahan dan kemurahan hati anda… Apalagi dengan tambahan, anda sendiri tidak tahu bagaimana mengadakannya? Saya tersanjung juga, “mudah2an saya tidak sedang anda ayun”.
Idea saya begini, Seminar anda kan “layak jual”. Layak jual itu tentu tidak saja pada tataran material (uang), tapi dia juga diharafkan untuk memulai “koalisi”menuju RI 1 dan RI 2.
Seperti anda katakan sendiri PBB (Partai Bintang Bulan) itu kecil, jadi mestinya ada koalisi antar partai. Nah, kenapa tidak dimulai dengan seminar2 (kecil ataupun besar)… tujuannya, ya koalisi itu.
Kemudian Thema seminar, tentu anda lebih tau. Apalagi anda tinggal dan hidup di Indonesia, artinya mengerti betul perkembangan politik di Indonesia. Tapi bagi saya, thema tentang, “pemerintahan Sipil dan atau Militer” dalam kancah ketatanegaraan di Indonesia, masih sangat menarik untuk dikupas menjelang Pemilu 2009. Apalagi dikaitkan dengan keberpihakan terhadap “Petani dan “Nelayan”…
Saya kira, kalau ada kawan2 (teman2, atau rekan2, konco2) bersepakat… Thema, nilai jual (uang) menjadi tidak penting disini. Soalnya adalah pembicara seminar! Kalau pembicara hanya pada kalangan anda sendiri (PBB). Waaah, akan menjadi tidak menarik… Karena, ya hanya satu arus saja… Arusnya, ya okay Boss…he…he…
Tapi, ide saya adalah bagaimana misalnya mempertemukan anda dengan Mahfud MD, atau Sultan Hameng Kubuwono X, atau bahkan Buyung Nasution dan Arief Budiman dulu di Salatiga (saya haraf mereka mau). Terlepas dari kentalnya perbedaan pendapat antara kalian (anda dan Bang Buyung atau yang lain), paling tidak publik akan tau. Dimana sih letak perbedaan pendapat itu, termasuk misalnya orang2 dari Majalah Tempo, sekalian si Surya Paloh dari Media Indonesia.
Karena asumsi saya adalah, “mereka juga mencintai Negara ini”.
Kalau itu benar, maka mengapa tidak mau ikut berpikir mencari jalan keluar?
Salaaam hormat dari saya…
March 12th, 2008 at 7:18 pm
dyah prihatinningrum (komentar #55)
semakin lama semakin miris aja dunia indonesia… udah kacau kebijakan2nya.mungkin banyak hal yang harus dikaji ulang sebelum mengeluarkan kebijakan baru terutama yang menyangkut politik pangan kita… entah bertahan sampai kapan jika terus menerus mencari solusi masalah… dengan menghasilkan masalah lainnya.
banyak hak kita yang tertindas.. hanya dengan memandang persoalan dengan kacamata sebelah..
March 28th, 2008 at 12:29 pm
Mohammad Novel damopolii (komentar #56)
ass.wr wb
Pak Yusril mhn ijin tuk tanggapi komentarnya bu dyah
bu dyah..
saya sependapat dengan anda, bahwa cara berpikir pars pro toto (berpikir sebagian untuk keseluruhan)
banyak dia anut oleh sebagian besar pejabat di negara kita dalam membuat kebijakan, sehingga kebijakan
yang dihasilkan, justru hanya menimbulkan masalah baru…
namun saya , anda dan banyak orang pun menyadari, bahwa tidak ada satu solusi/kebijakan yang dapat menyelesaikan semua masalah,atau memuaskan seluruh kalangan..
jadi menurut pendapat saya pribadi (subjektif),”keberpihakan” adalah salah satu dasar pemimpin/pejabat dalam mengeluarkan dan melakukan kajian ulang kebijakan.
sehingga, baiknya kalo kita sudah jadi pejabat,atau bu dyah jadi pejabat (mungkin sekarang adalah pejabat,sori kalo salah), tinggal mikir dan nanya, “mau memihak ke siapa”
March 29th, 2008 at 3:52 pm
Bakhtiar MJ (komentar #57)
Saya sangat menyayangkan sikap Pemda Kabupaten Bireuen, yang hingga saat ini masih belum mengoperasikan pabrik susu kedelai yang telah dibangun di kawasan kantor BPP Penudada Kab. Bireuen, Prop. NAD.
Pdahal, tahun ini saja, 12.000 Ha. lahan kedelai telah dipanen, sehingga sangat memungkinan menurunnya harga jual kedelai milik petani. hal ini akan berdampak pada pendapatan dan keberlangsungan penanam kedelai oleh petani..
mohon, kepada pihak yang berkompeten dalam persoaalan ini agar segera dapat melakukan langkah-langkah stategis guna pengembangan tanaman kedelai dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Saya sependapat (YIM)
June 29th, 2008 at 12:52 pm
vikho (komentar #58)
pak YIM, cuma ingin mengomentari photo anda yang di atas….
kenapa dgn photo itu???
dan kenapa dgn kostum itu?
Kalau itu adegan film, saya tetap bertanya kenapa memilih setting etnis tionghoa/ apapun (maaf bila ada yang tersinggung…)
Dan juga…Apa Indonesia bisa keluar dari perjanjian GATT yang dahulu disepakati???
Sebenarnya kebijakan pertanian Indonesia itu apa saja???
Maaf, banyak bertanya…saya tunggu balasannya…
Mahasiswa di Jogjakarta.
Salam
October 6th, 2008 at 12:32 pm
Chrisna Permana (komentar #59)
Permasalahan pertanian di Indonesia, selain yang sudah sangat jelas dijabarkan oleh Bang Yusril seperti kebijakan, dan efek persaingan global menurut saya juga diperparah oleh pembangunan fisik yang lebih bersifat “stimulative structural reform”. Yang mana Indonesia di era modern ini, pembangunan fisik justru lebih berpihak terhadap kemajuan industrialisasi aplikatif (sebagai andalan penggerak ekonomi nasional), justru pada saat pundi-pundi utama pendukung industrialisasi tersebut belum sepenuhnya mantap. Mulai dari penerapan teknologi yang masih lambat, sumber daya manusia yang belum berdaya saing tinggi, faktor kebijakan dan perlindungan peraturan pemerintah yang masih belajar utk membaik, hingga iklim keamanan sosial dan kestabilan ekonomi yang masih rentan oleh pengaruh dalam maupun luar negeri. Sedangkan di sisi lain, pembangunan fisik yang tendensius tersebut justru mengancam eksistensi perkembangan pertanian. Pembangunan fisik yang bersifat stimulative structural reform, mencakup jalan tol, saluran drainase pabrik, tempat pengolahan sampah, sarana berbelanja modern (hypermarket, mall), hingga perumahan kota baru.
Satu contoh kasus yang menyoroti perhatian saya adalah, demi kepentingan ekonomi dan industri, digulirkan wacana Tol 1000 km Trans-Jawa (Anyer hingga Banyuwangi). Siapa berkepentingan dan siapa menuai keuntungan di sini? Jika melihat dari efeknya terhadap petani. Saya justru pesimis. Khawatir akan transformasi struktural semakin menjadi-jadi di Pulau Jawa. Belumkah disadari bahwa pembangunan tol Cikampek sudah mengorbankan lahan pertanian di karawang? fakta tercatat sejak tahun 1962 hingga 1991 Karawang adalah produsen beras terbesar di Indonesia. Berdasarkan data BPS, 20% produksi nasional adalah berasal dari Karawang. Akan tetapi ditahun yang sama, semenjak tol cikampek dibangun, industri berkembang di sepanjang jalur strategis tol tersebut. Migrasi tenaga kerja industri dari daerah lain berdatangan dan membuat permukiman baru, sementara penduduk setempat mulai berurbanisasi menjadi masyarakat industri. Lahan sawah berkurang 139 Ha setiap tahun sejak 1991-kini, produksi gabah kering berkurang 450.360 ton hampir setiap tahun. Belakangan bahkan fenomena seperti ini mulai merambah ke Purwakarta, Subang, Bekasi dan bahkan Tasikmalaya. Tol versus petani. Karena tol sangat stimulan terhadap transformasi struktural dari sektor primer (pertanian) ke sektor sekunder (industri).
Bayangkan jika kemudian tol 1000 km jadi terbangun. Jalan tol tersebut melalui hampir 12 titik strategis pertanian di Jawa Barat (padahal Jawa Barat merupakan produsen pertanian terbesar di Indonesia). Adalah Indramayu, Sukabumi, Cirebon, Subang, Probolinggo, Pemalang, Pekalongan, Kudus, Pati hingga Grobogan akan mengalami fenomena yang sama dengan karawang. Kurang lebih sekitar 600 Ha lahan pertanian irigasi teknis terkonversi (belum lagi multiplier efeknya berupa pertumbuhan permukiman pekerja industri dan pusat perbelanjaan yang mungkin akan mengkonversi lahan tani lebih besar lagi). Siapa lantas yang akan mendukung produksi pertanian Jawa Barat?
Alih-alih berdebat, saya justru hendak meningatkan, laju pertumbuhan penduduk tahun 2005-2010 indonesia akan mencapai 1,3% yang mana penduduk Indonesia akan bertambah mencapai 243 juta jiwa. Yang berarti (asumsi beras dikonsumsi 139 kg pertahun) maka dibutuhkan beras sebanyak 33,78 juta ton. dan kebutuhan pangan (beras) pada tahun 2030 bahkan akan lebih ekstrim mencapai 59 juta ton. Jumlah beras yang sangat tinggi dan perlu dukungan dari produksi nasional.
Pemerintah berdalih bahwa pertanian akan ditukar untuk dikembangkan di daerah lain. Namun dimana? sudah banyak diketahui adalah Pulau Jawa sebagai lahan tani paling subur. Bahkan tingkat kesuburannya 1 berbanding 9 dengan di pulau-pulau lain di Indonesia. Jika di Pulau Jawa saja lahan tani terus terkonversi secara akumulatif sebesar 1.002.055 Ha atau 61%, bagaimana nasib masa depan produksi pertanian kita? siapa yang dapat memenuhi kebutuhan pangan anak cucu kita?
Mari sama-sama membina dan mengingatkan. Bang Yusril, apabila kemudian menjadi presiden (alhamdulilah dan amin…saya justru sangat mendoakan), hendaklah menerbitkan kebijakan-kebijakan yang pro poor. Melindungi kaum tani, ditengah upaya menggenjot perekonomian melalui industri. Banyak cara, mulai dari pengembangan agro-industri, kebijakan daerah strategis nasional, hingga peraturan-peraturan lainnya yang saya yakin abang lebih mumpuni soal ini. Yang terpenting adalah, lindungi petani kita dengan pembangunan yang lebih adil bagi mereka, atau jikalaupun pembangunan modern dan industrialisasi tidak dapat terelakan, mohon sekiranya petani-petani kita dapat dilindungi eksistensinya melalui peran peraturan dan kebijakan. Karena melindungi petani, berarti kita melindungi perut anak cucu kita di masa yang akan datang.
Salam Hormat,
Chrisna Permana
Pengamat Ekonomi Regional - Urban Regional Development Institute
October 7th, 2008 at 8:33 am
Chrisna Permana (komentar #60)
Oiya, satu lagi untuk Bang YIM, ca-presiden andalan kita (ehehe…),
Kalau saya tidak salah, masalah harga kedelai kita (cukup besar juga pengaruhnya) dimainkan oleh para importir yang nakal. Konon importir kedelai kita sedikit jumlahnya, sehingga terbuka kemungkinan untuk bermain sepakbola “kartel”. Penimbunan merupakan salah satu bentuk politik importir yang bisa menggoyang kestabilan harga kedelai. Nah berarti di sini ada kebocoran peraturan pemerintah, yang harus dievaluasi di masa yang akan datang, bagaimana untuk kita mengurangi kemungkinan bertumbuhnya kartel.
Informasi tambahan, bahwa kartel kedelai akhirnya berdampak juga terhadap harga tahu tempe. Saya jg smpat berdiskusi dengan Bapak Dickdick Suhada, salah satu pejabat asisten deputi di Kementerian Negara Koperasi dan UKM, usai beliau menghadiri rapat kabinet terbatas mengenai kedelai dengan Pak Fahmi Idris, Bu Marie Elka, dan Pak Boediono beserta jajaran kedeputiannya. bahwa menurut beliau, proses alur distribusi kedelai juga menjadi kunci sulitnya mengontrol harga kedelai. Urutan prosesnya adalah dari importir ke distributir kemudian diteruskan ke Koperasi Kedelai untuk selanjutnya di distribusikan langsung ke pengusaha tahu tempe. Pada setiap titiknya, masing-masing meminta persen kenaikan harga, akibatnya begitu sampai di titik terakhir harga kedelai menjadi mahal… Jadilah pengusaha tahu tempe mau tak mau menaikkan harga krn biaya produksinya yang mahal. Benar-benar negara yang sangat rumit prosedural.
Terima Kasih,
October 7th, 2008 at 8:52 am
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda