Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Setelah saya berdialog dengan Pak Amien Rais di Metro TV seperti saya ceritakan dalam posting tadi, banyak orang meminta kepada saya naskah pernyataan berhenti Presiden Soeharto dari jabatannya, tanggal 21 Mei 1998. Naskah asli pengunduran diri itu telah diserahkan kepada Arsip Nasional untuk disimpan di sana. Semua ini kami lakukan agar dokumen ini jangan sampai hilang seperti Naskah Supersemar tahun 1966. Hanya ada dua copy yang dibuat waktu itu, satu disimpan oleh Almarhum Pak Saadillah Mursyid, dan satunya saya simpan sebagai koleksi pribadi. Naskah ini bukanlah tergolong sebagai rahasia negara, karena telah dibacakan oleh Presiden Soeharto di depan umum, di Istana Negara, pada tanggal 21 Mei 1998. Saya sendiri ada di situ, sebagai saksi sejarah dari peristiwa ketatanegaraan yang langka terjadi di negara kita. Saya persilahkan anda membaca naskah ini, sebagaimana naskah aslinya, tanpa saya memberikan banyak komentar.




Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 17th, 2008
69 tanggapan untuk “NASKAH PERNYATAAN BERHENTI PRESIDEN SOEHARTO, 21 MEI 1998”
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
Usep (komentar #31)
Mas/Pak/Bu Jebee….krn saya ga tau yg pasti,hebat ya bisa tau klo aku basa-basi padahal aku beneran lho ga tau makanya minta pencerahan dari orang-orang pinter di blog ini,gitu lho….
Ok mas/pak/bu jebee….pisss ah…..
he he he…..eh lupa selamat ngojek nya ati2 banyak rampok di jalan….eh jangan lupa setorannya…..
Pak Usep dan rekan-rekan yang lain,
Sebagai “sohibul bait” blog ini, kalau boleh saya menyarankan, alangkah baiknya jika gaya bahasa anda ini diperbaiki agar lebih mudah saya membacanya. Saya harus membaca berulang-ulang komentar anda agar bahasanya dapat saya pahami, belum lagi memahami isinya. Mohon maaf, ini sekedar saran saya saja, agar diskusi kita berjalan lebih baik dan lebih sempurna. Terima kasih atas perhatiannya. (YIM)
January 19th, 2008 at 4:29 pm
Iwan Asnawi (komentar #32)
@Hallo, Yth: Bang Yim, disini sedang diadakan “World Economic Forum” (WEB)di Davos, Switzerland…
Pertanyaan, apalagi yang akan kita “gadaikan”? Biar dapat “pinjaman uang” lagi…
Isyu, hari ini akan terjadi “Demonstrasi” oleh Kelompok garis “Keras Kanan” (Recht Exstreem, Swiss Nasionalis)… Makanya saya di Bern, di Ibukota Swiss… Dimana akan terjadi demonstrasi tersebut. Penjagaan ketat, kemungkinan akan terjadi huru-hara…
Imformasi ini saya tujukan juga untuk “rekan-rekan”, pencinta blog Anda… Mungkin ada manfaatnya… Karena, bagaimanapun kalau dapat “uang pinjaman”, rakyat lagi yang akan menanggung hutangnya. Langsung atau tidak langsung…
Salaaam…
January 19th, 2008 at 8:54 pm
Iwan Asnawi (komentar #33)
@tambahan, tanggal 31 Januari akan ada pidato Bill Gates… Dan memang, Bill Gates sebagai simbol orang yang “Multy Kapitalis” termasuk WEF (World Economic Forum) sebagai pihak penyelenggara. Tak disukai mereka (Recht Exstreem)… Informasi lengkap masuk di “www.World Economic Forum.com”
Apakah ada orang Indonesia ikut dalam forum itu?, saya tidak begitu jelas… Karena saya, kan di luar instrumen “Birokrasi”…he…he…
Salaaam lagi dari saya…
January 19th, 2008 at 9:34 pm
aboh (komentar #34)
saya setuju sama Mr. YIM.
jadi rieurr.. baca dialoog jebee, usep dkyl.
mungkin memang karena ga da lagi yang bisa di usili dari posting anda ini.
jelas dan tak terbantahkan!
atau mungkin lagi berguru sama suhu yang lain, atau semedi nyari inspirasi.
ayolah, jebee, usep, bonar,asnawi, and all..
saya suka ngikutin dialoog kalian, ” seperti biasanya”
salam..
January 19th, 2008 at 10:25 pm
koohar (komentar #35)
menarik sekali bila kita melihat situasi menjelang kejatuhan sueharto. dalam hal ini tuntutan dan tekanan publik yang menginginkan adanya pergantiaan kekuasaan telah terwujud. akan tetapi kejatuhan soeharto ini tidak diikuti dengan runtuhnya sebuah rezim yang merupakan sekumpulan orang-orang yang menjadi playmakers orde baru. sehingga pada tahap selanjutnya, di era reformasi, kita dalam hal ini yang diberi amanat untuk mengusut berbagai penyelewengan sangat sulit untuk melihat mana lawan dan mana kawan. karena kadang kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan. politik saling melindungi lebih banyak dimainkan oleh politisi pasca soeharto. konspirasi politik untuk salaing menjatuhkan sering menjadi obat mujarab untuk ngobati rasa sakit hati.
secara konstitusi memang, dalam pasal 8 UUD 1945, siapapun wakil presiden waktu itu ia berhak untuk menjadi presiden. akan tetapi untuk rezim yang telah berdiri 32 tahun saya pikir orang-orang yang ada di dalam pemerintahan atau rezim itu yang datang silih berganti, sudah sepantasnya tidak terlibat lagi dalam menjalankan pemerintahan. kalau ini adalah sebuah reformasi, semestinya kita harus menuntut agar orang-orang yang ada didalamnya juga ikut dilengserkan sehingga reformasi dalam hal ini bukan hanya merubah sistemnya dengan konsep baru. tapi yang terpenting juga orang-orang yang telah bekerja selama dokrin orba dipakai. maksud saya. kepemimpinan yang sudah sangat lama tidak akan mampu hanya dengan sebuah kata reformasi, karena apa, karena kita tidak pernah mempersoalkan orangnya. hari ini reformasi hanya sebuah konspirasi untuk menyelamatkan posisi politik yang pernah didapatkan sejak mereka ada dibawah dokrin orde baru. wassalam.
Tanggapan saya:
Sejarah suatu bangsa selalu mempunyai kecenderungan demikian. Soekarno dulu mengecam demokrasi liberal dan menggantinya dengan demokrasi terpimpin. Demokrasi Terpimpin lahir, dengan orang-orang lama juga, kecuali Masyumi dan PSI. Orde Baru dengan Demokrasi Pancasila kemudian lahir, tetapi tetap dengan orang-orang lama juga, kecuali PKI. “Orde” Reformasi lahir, tetapi tetap dengan orang-orang lama juga.
Negara itu, Bung Koohar, antara lain terdiri atas Pemerintah dan Rakyat. Rakyat juga hidup di zaman lama, demikian juga di zaman baru.
Revolusipun, seringkali hanya berjalan singkat. Setelah itu pola-pola lama akan berulang. Demikianlah sejarah sosial. Ada perubahan, namun ada pula kesinambungan. Kalau kita masuk ke konteks budaya, masalahnya jauh lebih rumit daripada itu. Namun perubahan dan kesinambungan akan tetap ada. Ada yang mengambil cara radikal, seperti Po Pot di Kamboja. Mereka membangun rezim baru, dan juga rakyat baru. Lalu hampir semua tokoh-tokoh lama, sipil, militer, intelektual dibunuhi. Rakyat yang dianggap telah dipengaruhi pikiran rezim lama, dibunuhi juga. Hampir tiga juta orang dibunuh dengan kejam. Hasilnya? Tragedi kemanusiaan, kekejaman dan perang saudara, yang membuat rakyat Kamboja memerlukan waktu sangat panjang untuk bangkit kembali.
Saya dulu berpikir, perubahan hendaknya tidak terjadi pada orang, tetapi juga pada sistem. Sebab itu slogan saya “Tidak ada Reformasi Tanpa Amandemen Konstitusi” mendapat banyak dukungan. Namun, kita terbentur dengan budaya yang terus berlanjut. Demikian pula Pemerintah. Segala keputusan dan kebijakan Pemerintah lama, tak mudah dirubah dalam sekejap. Kalau Pemerintah yang lama membuat utang, maka Pemerintah baru wajib membayar utang itu, walau mereka tak suka kebijakan berutang yang dibuat Pemerintah lama. Menangani urusan Pemerintah taklah semudah yang diduga banyak orang. Banyak tokoh-tokoh ketika berada di luar pemerintahan, kata-katanya nampak hebat, pintar dan mampu. Namun, begitu masuk dalam pemerintahan, mereka baru tahu, menyelesaikan masalah tidaklah semudah yang mereka bayangkan. Akhirnya tidak sedikit yang bingung sendiri.
Mudah-mudahan apa yang saya katakan ini, menjadi bahan renungan kita bersama. (YIM)
January 19th, 2008 at 11:40 pm
Paijo (komentar #36)
Hhmmm… Jadi terbayang bagaimana isi Supersemar dulu…….
January 20th, 2008 at 4:48 am
Iwan Asnawi (komentar #37)
@Bang YIM, terima kasih Boss… Telah mengingatkan saya, untuk berbahasa lebih bagus (sopan). Karena bagaimana pun saya ikut dalam blog Anda. Dan untuk itu, saya mencoba menggunakan “Bahasa Indonesia” yang baku.
@Hallo, Aboh… nama saya Iwan (bukan Asnawi)…he…he…
Salaaam…
January 20th, 2008 at 6:21 am
Bonar (komentar #38)
@ All:
Astaga, baru ditinggal beberapa hari sudah jadi kacau ngga jelas begini ya… Hehehehe.
Hukum termodinamika II ternyata berlaku juga di blog.
@Aboh:
Diskusiin apa di topik ini?
@Yang Punya Blog:
Maaf Off Topic di paragraf berikut.
@Iwan Asnawi:
Bung, bukannya negara-negara sana itu cenderung morally self-righteous? Mereka bicarain apa sih sebenarnya disana? bukannya malah ngejar millenium goal yang legendaris itu? kalo begitu mestinya bentuknya hibah dong, bukan hutang?
Ceritakan bung moodnya disana seperti apa? Demonstrasinya nasionalis? berarti anti negara ketiga kah?
January 20th, 2008 at 11:15 am
Iwan Asnawi (komentar #39)
@To Bonar, thanks for your comment: I will explain to you in English because in the very beginning that Mr.YIM agree that we can use English language.
What is morally self-righteousness of the state = it means the state in advance of its actions will forgive itself for possible mistakes, it pardons itself.
The subject of WEF in Davos is “global responsibility” means each country taking part in the globalization process is also sharing responsibility for economic and social results of globalization. In the last point something to give (hibah), or to make debt (hutang):
There is never in terms of economic capitalism “theory or practice” has to give to a group (institution or nation) for free because then the motor of world money economy will stop or will not run.
In the capital of Berne the police expected a demonstration concerning WEF in Davos, so they safeguarded the public buildings and streets in the Berne against any mischiefeous endeavours. Because some months ago there was alongside a demonstration “vandalism” and chaos in the middle of Berne, capital of Switzerland. Maybe this was a follow-up of the case of Bank UBS (United Bank of Switzerland) - on the largest and strongest banks in the world - which lost 4.3 milliards of Swiss Francs due to the collaps of housing market in America. This reason make the extreme right (this is a movement group, not from within parliament), this is a more conservative group who wish to protect Swiss interest in the world.
But they are not anti-developing countries like Indonesia, they are more against other countries with a strong same level economy like Switzerland. And Indonesia probably only following what is the result of this conference. Because, Indonesian economy is not part of the “giving” (receiving debt) countries but a country which “takes” (accepting debt). For more result of WEF will inpact to our country, Indonesia. Same like couple years ago what Al gore (vice President of USA), talk about Global Warming…
This is all the information which I can write at the moment.
Yours sincerely,
Iwan Asnawi
January 20th, 2008 at 5:07 pm
aboh (komentar #40)
@ bonar #38 :
apa we, hehehe, biasanya rada cemerlang bonar dkk mengkritisi apapun.
saya cuma penikmat…. sambil nambah wawasan…
@ Iwan Asnawi Iwan Asnawi Iwan Asnawi #37
haloo jg….!
January 20th, 2008 at 7:17 pm
Nasrullah (komentar #41)
Bang YIM, saya mau tanya pernyataan maaf dalam tulisan tangan pak Harto itu apakah dibacakan juga ketika beliau menyatakan berhenti jadi presiden, bagaimana bila dilihat dari sudut HTN? Makasih sebelumnya bang.
Tanggapan saya:
Ya beliau bacakan tulisan tangan itu. Saya masih simpan video dan CD pengunduran diri itu. Sekneg juga punya. Ada juga transkrip yang diambil dari rekaman pidatonya. Aspek-aspek HTN dari pengunduran diri itu takkan saya jelaskan sekarang. Saya sudah berdebat panang dengan Prof. Dimyati Hartono,Prof. A. Muis, Prof. Gde Atmadja dll. mengenai soal ini. Saya harus membaca ulang seluruh arsip perdebatan mengenai hal itu, dan perlu waktu untuk menghimpun dan menganalisisnya kembali. Nampaknya, perlu menulis sebuah buku untuk menjelaskan perdebatan tentang masalah ini. Mohon maaf belum dapat menjawabnya sekarang. (YIM)
January 20th, 2008 at 8:46 pm
Nasrullah (komentar #42)
Bang YIM, saya mau tanya pernyataan maaf dalam tulisan tangan pak Harto itu apakah dibacakan juga ketika beliau menyatakan berhenti jadi presiden, bagaimana bila dilihat dari sudut HTN? Apakah relevan pernyataan tersebut, apalagi di saat ia sedang terdesak untuk mundur.
Makasih sebelumnya bang
January 20th, 2008 at 9:03 pm
dodi (komentar #43)
thx Om. untunglah, jadi gak perlu ke Arsip Negara untuk melihat tambahan tulisan tangan itu. sudah penasaran sejak beberapa waktu lalu dan, voila, muncullah ia di sini.
January 20th, 2008 at 11:55 pm
Usep (komentar #44)
Pak YIM saya mohon maaf atas kata2 saya,memang saya tidak bermaksud untuk mengacau di blog ini,itu hanya jawaban spontan saya.
Sekali lagi mohon maaf pada Pak YIM.
Terima-kasih banyak,saya banyak mendapatkan ilmu di blog ini.
Tidak apa-apa. Terima kasih juga atas pengertiannya. Saya berharap seluruh isi blog ini akan terdokumentasi dengan baik, dan mudah-mudahan bisa dibaca juga oleh generasi mendatang. Saya sungguh berharap, blog ini akan mengawali tradisi baru blog di negeri kita, yang kaya dengan diskusi intelektual yang bermanfaat dan membawa pencerahan bagi kita semua. Blog “centang perenang” sudah terlalu banyak, dan bagi saya sungguh “melelahkan” membacanya. Blog yang berisi diskusi yang serius belum banyak. Saya ingin memulainya dan mohon dukungan dari rekan-rekan semua (YIM)
January 21st, 2008 at 7:25 am
Usep (komentar #45)
Terimakasih Pak YIM.
Atas “BERHENTI” nya Pak Harto sampai sekarang saya belum faham dengan aspek pertanggung-jawabannya,karena kan presiden adalah mandataris MPR dan harus mempertanggung-jawabkannya,kalau berhenti ditengah jalan maka yang harus bertanggung-jawab adalah wakil presidennya.
Jadi sama sekali tidak ada pertanggung-jawabannya.
Saya tunggu pencerahan dari Pak YIM selanjutnya.
Tanggapan saya:
Pernyataan berhenti adalah pernyataan sepihak dan berlaku serta merta. Jadi bukan permohonan berhenti. Pertanggungjabaan Presiden kepada MPR dilakukan pada akhir masa jabatan, jika keadaan berlangsung normal. Mantan Presiden Soeharto tidak dapat menyampaikan penyataan berhentinya itu di hadapan MPR karena alasan situasi politik pada waktu itu. Gedung DPR?MPR sedang diduduki oleh para demonstran. Secara prosudural, MPR juga hanya dapat menyelenggarakan sidang istimewa dengan memorandum DPR. Dalam perkembangan selanjutnya, Presiden Habibie, setelah menjabat Presiden, memang menyampaikan pidato pertanggungjawaban di akhir masa jabatannya yang dipercepat, setelah terbentuknya MPR hasil Pemilu 1999. (YM)
January 21st, 2008 at 10:33 am
Yusril Ihza Mahendra Maafkan Pak Harto « Shariah @ National Law (komentar #46)
[...] Posted on January 22, 2008. NASKAH PERNYATAAN BERHENTI PRESIDEN SOEHARTO, 21 MEI 1998 yang memuat Permintaan Maaf di sini [...]
January 22nd, 2008 at 9:25 am
koohar (komentar #47)
makasih atas tanggapan pak Yusril…
Jadi dengan demikian kita belum memiliki referensi atau contoh yang baik sebagai negara yang mengalami hal yang serupa. memang kita tak mudah untuk mendapatkan pelajaran dari negara-negara lain, dengan karakter sosial budaya dan kultur politik yang berbeda. namun sekarang ini, mau tak mau kita mesti harus mencermati era transisi pasca reformasi. ibarat nasi sudah menjadi bubur, lebih baik kita berpikir bagaimana supaya bubur itu bisa enak untuk dimakan. seperti yang kita ketahui bersama, amandemen terhadap konstitusi kita sudah 4 kali dilakukan, namun itu dirasa belum cukup. masih banyak hal-hal yang substansial yang diabaikan. seperti halnya masalah yang mendasar apakah kita ini memakai sistem presidensil ataukan parlementer. memang dlam era ini secara UU kita telah bergerak menuju sistem presidensil dengan adanya pemilihan langsung terhadap presiden dan lain-lain. namun secara prakteknya. kita sering melihat kerancuan yang dikarenakan oleh sikap seorang presiden sendiri yang masih begitu “takut ” terhadap tekanan partai. dan dalam pemilihan umum pun, kita masih mendahulukan pemilu legislatif dari pada pemilu presiden. ada lagi sistem bikameral tiruan yang tidak seimbang (ngak tau menganut model mana), bahkan kamar yang satu begitu dikerdilkan dan tak punya gigi. kata Mayjen Saurip kadi yang begitu sering berdiskusi dengan saya, penyakit indonesia ini ada dihulu dan bukan dihilirnya. jadi kalau sekarang dihilir airnya kotor itu karena kita tidak pernah mau bekerja keras untuk memikirkan yang dihulu.
Saya teringat tulisan bapak dalam buku “rekonsiliasi tanpa menghianati reformasi”. judul itu sangat pas sekali dengan kondisi sekarang ini. dimana banyak rekonsiliasi, kompromi, konspirasi dan apalah namanya yang menghianati reformasi. dan ada yang berpendapat bahwa reformasi atau era transisi ini hanya akan menjadikan rakyat sebagai angka-angka saja untuk pemanis pada data-data. jumlah kemiskinan sekian, jumlah pengangguran sekian, pertumbuhan ekonomi sekian dan lain-lain. nilai plus yang hanya kita rasakan adalah terbukanya saluran demokrasi yang selama orde baru sangat tertutup. inilah hadiah terbesar dari kejatuhan orde baru itu.
pak yusril…
kita kemarin punya pemimpin soekarno dan soeharto, apa kurangnya kedua pemimpin itu bila melihat figurnya yang kuat. namun kedua orang itu di akhir kepemimpinannya sama-sama dilindas oleh sistem yang ia pelihara sendiri. jadi menurut hemat saya, seperti yang juga pernah bapak katakan dalam pelunsuran biogarafi bpak, ini terletak pada sistem kita. orang jahat berada pada sistem yang baik akan tidak nyaman untuk melakukan penyelewengan. orang baik jika berada pada sistem yang buruk, maka ia akan pusing sendiri dan lambat laun akan ketularan penyakitnya. namun kita berharp lebih dari itu bagaimana kita memiliki individu-individu yang baik dan berpijak pada sistem yang baik pula. sehingga tidk ada lagi kong kalikong atau kompromi-kompromi 12 menit di bandara (maaf ini bahasa ketika sby dan amin rais bertemu untuk meng”clear”kan maslah dana DKP)
Akhirnya kita mesti banyak belajar, mendengar dan membaca situasi politik akhir-akhir ini yang kadang sulit menemukan mana ekor dan mana kepalanya. kepakaran bapak dalam ilmu HTN sangat saya kagumi, namun demikian saya sering melihat bapak berdebat dengan tokoh-tokoh yang juga seilmu dengan bapak, tidak sedikit diantara mereka yang banyak lepas kontrol untuk mematahkan argumen bapak. mungkin mereka berada diluar sistem jadi mereka bebas dengan pure intelektual tentunya. sebuah kalimat yang sering saya ingat dari bapak “lawan dalam berdebat, kawan dalam berpikir”
demikianlah demokrasi ini terus bergerak menuju bentuknya yang ideal untuk bangsa indonesia.
January 22nd, 2008 at 6:05 pm
ainun abudullah (komentar #48)
assalamu’alaikum Wr. Wb.
yth. pak yusril :
ngapunten, ini teman - teman dari jawa timur tunggu artikel - artikel pak yusril yang lain.
January 23rd, 2008 at 8:24 am
detnot (komentar #49)
wah, jarang-jarang nih bisa liat dokuemn penting kayak begini
January 23rd, 2008 at 9:54 am
Hendriyanto (komentar #50)
assalamu’alaukum wr.wb.
Innalillahiwainalillahirajiuun.
Saat membaca tulisan ini mantan presiden ke 2 RI SOEHARTO berpulang kerahmatullah tepat pukul 13.10 menit di RSPP Jakarta. Saya selaku warga negara dan masyarakat biasa mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya. Semoga arwah dan segala amal ibadah beliau selagi hidup didunia ini diterima disisi Allah swt. Amin…
Thank you buat bang yusril, postingan pidato ini bernilai sejarah banget buat anak cucu kita nanti yang hidup di Negara Yang kita cintai ini… wassalam
January 27th, 2008 at 4:52 pm
Random Thoughts » Selamat Jalan Pak Harto (komentar #51)
[...] dan memaafkan segala kesalahannya. Sudah menjadi keharusan kita untuk memaafkan, apalagi Beliau juga pernah meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Semoga jasa-jasa dan amal baik beliau diterima di sisi Allah, dan [...]
January 27th, 2008 at 10:55 pm
ERNA (komentar #52)
wah pk harto lengser…….aku masih umur 8 thun…………
tpi aku masih pernah merasakan kepemimpinan pak harto…….
mnurutku beliau adalah pemimpin yg baik…….
waktu pak harto jadi presiden……….smua org bilang…….harga sembako sangatlah stabil…..
pak…..harto tetaplah pemimpin terbaik dimata kami warga lumajang………………
peduli sama rakyat kecillllllll
pak harto tetap hidup………….
smoga tenang………..
January 28th, 2008 at 1:45 pm
bangzenk (komentar #53)
Diskusi tungku dan kompor, menarik..
Saya bolos sekolah ketika itu, karena tayangan langsung di RCTI sayang untuk dilewatkan. Meskipun kelas 6 SD, saya tahu ini sejarah penting Indonesia (ya iya atuh.. kan ada PSPB ma PMP plus IPS..). Ketika itu saya lihat si Abang di deket Pak Harto ( betul ga bang? seingat saya di belakang, ga di belakang banget) Coba ditayangkan ulang kayaknya akan menarik..
Komentarnya: YIM pada Komentar #11
“Saya belum dapat menjawab masalah ini sekarang. Waktu itu ada konsensus antara para pemimpin politik untuk mempercepat Pemilu. Kalau murni dilihat dari hukum tatanegara positif, pandangan anda benar. Namun perlu penelitian yang lebih mendalam untuk menelaah dinamika hukum tatanegara dalam masa peralihan di masa itu.Kalau ada yang ingin menulis tesis atau disertasi mengenai hal ini, tentu akan menjadi topik kajian akademis yang menarik (YIM)”
bagaimana jika dibentuk kajian juga Bang, Abang sebagai penasehat. Goal-nya terbentuk buku catatan baru Indonesia. ya, itu kan harapan. jika dilakukan orang per orang akan menyita banyak energi. Kecuali sekelas Abang.
demikian saja, numpang lewat.. Kang Usep dan Kang Jebee.. hayu atuh..
salamhangat,
-rijalDi Sini-
Insya Allah, suatu saat saya akan menulisnya sendiri. (YIM)
January 28th, 2008 at 6:20 pm
Iqbal dragon (komentar #54)
Pak Yusril salut saya ucapkan buat bapak sebagai salah satu saksi sejarah bangsa ini, sebagai rakyat biasa saya kagum sama bapak yang mau mem-publish naskah tulisan tangan Oppung Soeharto, anda tidak merahasiakannya seperti para pejabat dinegara kita yang tingkahnya seperti pemain ketoprak, anda mau semua rakyat dinegara kita ini mengerti apa yang terjadi, jadi jelaslah bahwa beliau berhenti karena ingin menyelamatkan bangsa ini dari pecah belah.
January 29th, 2008 at 5:58 pm
masemann (komentar #55)
Boss, ada yg pertanyaan mengganjal, rumah Pak Harto di Jl. Cendana itu aku perhatikan sejak beliau mulai tinggal disitu sampai beliau meninggal sepertinya tidak ada “perubahan” banyak. Terlihat sangat sederhana untuk rumah seorang presiden yang pernah sangat “berkuasa” dst ……..dst, tidak terletak di jln 2 jalur seperti mis. jln Diponegoro jl. Tengku Umar. dan kalu kita jalan di jl. cendana ke arah utara kemudian belok kanan dan atau belok kiri, kelihatannya begitu banyak rumah2 yang sangat lebih bagus dan mewah. Apa waktu beliau berkuasa Sekneg dan atau “siapa” tidak ada yang pernah ngusulin perbaikan dan atau pindah ke jalan utama ? terima kasih bos, selamat kerja.
Memang demikianlah keadaannya. Sepanjang pengamatan saya, rumah tsb memang “sederhana” untuk ukuran seorang Presiden, dalam arti kalau saya bandingkan dengan rumah dinas gubernur di berbagai daerah. Apa yang nampak bagus hanyalah ruang depan untuk menerima tamu. Bagian dalam dan belakang nampak sederhana saja. Ketika menjadi Mensesneg, dalam rangka dinas, saya mengunjungi rumah mantan Presiden Soeharto. Saya melihat rumah beliau sudah kurang terawat. Bagian belakang rumah itu sudah banyak yang rusak dan atapnya bocor. (YIM)
February 1st, 2008 at 11:10 am
Khalid (komentar #56)
Ass WW, terima kasih banyak kepada pak Yusril atas keikhlsannya menyampaikan naskah yg sangat bernilai sejarah ini. Ada pertanyaan yg ingin kami ajukan kepada Bapak terkait dgn naskah tersebut, yaitu terhadap adanya tambahan tulisan tangan oleh almarhum pak Harto di naskah pidato tersebut, apakah tambahan tulisan tangan tersebut memang langsung inisiatif/pemikiran beliau sendiri atau sengaja didikte oleh orang-orang di sekitar beliau pada saat penyusunan naskah pidato ? Mohon penjelasan dari pak Yusril ..tks
Tambahan itu adalah inisiatif Presiden Soeharto sendiri. Pada awalnya saya tak sependapat ada kata-kata pernyataan kabinet demisioner. Saya berpendapat kabinet tidak demisioner, karena diteruskan oleh Presiden baru. Namun Presiden Soeharto tetap menghendaki ada kata-kata itu, maka beliau tambahkan sendiri. (YIM)
February 4th, 2008 at 4:49 pm
yosepabraham (komentar #57)
assalamualaikum …
bung Yusril dalam pernyataan tersebut tidak tercantum kata kata yang sudah tak asing lagi waktu di wawancarai di stasiun tv pak harto mengatakan**
heleh ora dadi presiden yo ora pathe,en***itu kan bahasa jawa yang artinya halah nggak jadi presiden juga nggak bisulan,kadas kurapan,
maaf dan terima kasih bung YIM
Saya tidak mengetahui wawancara tersebut. Tetapi kata-kata seperti itu memang tidak ada dalam teks pernyataan berhenti Presiden Soeharto (YIM)
February 4th, 2008 at 6:20 pm
Asep (komentar #58)
Benar apa kata beberapa teman bahwa Pak Harto menambahkan beberapa kalimat menurut versi sendiri. Terima kasih Pak Yusril, bukti sejarah menarik untuk kajian mendatang.
February 5th, 2008 at 12:55 am
Achoey (komentar #59)
Wah subhanalloh, ini bner2 blog tingkat tinggi. Yang comment juga blogger tingkat tinggi. Muga jadi ajang berbagi kemanfaatan.
February 6th, 2008 at 7:47 pm
bimaa (komentar #60)
assalammu’alaykum..
Pak Yusril.. Punya dokumen (asli/rekayasa) naskah Surat Perintah Sebelas Maret (SUPERSEMAR)? hayo… siapa yang ngumpetin..?? Tolong pak.. bangsa ini juga mau minta kejelasan yang nyata. Terimakasih..
salam,
bimaa
ps: blognya bagus..
February 9th, 2008 at 10:49 pm
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda