Beranda

SELAMAT JALAN HM SOEHARTO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Setelah menderita sakit yang berkepanjangan sejak menyatakan berhenti sebagai Presiden, tadi siang, mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina SuhartoJakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali). Dengan wafatnya beliau, kita telah kehilangan lagi seorang mantan Presiden, yang pernah memimpin bangsa dan negara kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Presiden Soekarno memegang jabatan Presiden selama lebih kurang 22 tahun. Itupun silih berganti sebagai Kepala Eksekutif dan Kepala Negara ketika kita menganut sistem parlementer. Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara hanya memegang jabatan kurang dari setahun. Presiden Soeharto memegang jabatan selama 32 tahun, sampai akhirnya menyatakan berhenti dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.

Selama memegang kekuasan, Presiden Soeharto telah berbuat banyak dalam membangun bangsa dan negara kita, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kita menjadi bangsa dan negara yang disegani dikawasan Asia. Di bawah kepemimpinannya pula, pembangunan sosial dan ekonomi kita mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Banyak kemajuan yang dicapai, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik seperti peningkatan kualitas hidup dan sumberdaya manusia bangsa kita. Bangsa kita yang hidup sangat miskin dan terbelakang di masa Orde Lama, di masa Orde Baru berhasil memperbaiki keadaan internalnya, sehingga kita bergerak maju mendekati taraf negara menengah. Andaikata tidak terjadi krisis moneter pada tahun 1997, pembangunan sosial ekonomi kita mungkin akan bergerak ke arah yang jauh lebih maju. Namun badai krisis yang begitu dahsyat, tidak saja merontokkan sendi-sendi ekonomi, namun juga meruntuhkan kekuatan Orde Baru sendiri.

Karena Presiden Soeharto adalah tokoh sentral dalam Orde Baru, maka kejatuhannya otomatis meruntuhkan seluruh tananan yang telah berhasil dibangunnya. Semua ini memang menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika ada awal, maka akan ada pula akhir. Demikianlah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Orde itu berakhir, dan kita berada dalam masa transisi untuk memantapkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang baru di era reformasi. Biaya krisis kita sangat besar. Bukan saja biaya finansialnya, tetapi juga biaya sosial dan politiknya. Kita berupaya untuk bangkit kembali. Sistem kita perbaiki. Konstitusi kita amandemen. Kita melihat kekeliruan masa lalu, dan berupaya untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Kita merumuskan kebijakan-kebijakan baru di segala bidang. Hasilnya, belum sepenuhnya memuaskan.

Ketika Orde Baru runtuh seiring dengan berhentinya Presiden Soeharto, sebagian masyarakat kita cenderung melihat masa lalu itu dengan pandangan yang kelam. Berbagai hujatan dilontarkan hanya untuk menyebut kesalahan, kekeliruan dan daftar dosa. Orang tak lagi berpikir jernih untuk melihat sisi-sisi kebaikan dan sumbangan yang telah diberikanya kepada bangsa dan negara. Gejala seperti ini juga terjadi saat kejatuhan Presiden Soekarno. Beliau yang begitu dipuja-puji, diberi berbagai gelar dan sebutan dan bahkan dikukuhkan sebagai Presiden seumur hidup. Namun ketika beliau jatuh, segala kebaikan dan sumbangannya yang begitu besar kepada bangsa dan negara, seolah dilupakan. Hal yang hampir sama terjadi pula pada Presiden Soeharto. Beliau terus-menerus dipilih menjadi Presiden setiap lima tahun kembali, diberi berbagai julukan, namun pada saat beliau jatuh, seolah kebaikan dan sumbangannya kepada bangsa dan negara, seperti tidak ada artinya samasekali.

Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebesar apapun seorang pemimpin, tetap saja ada kekurangan dan kekeliruan. Begitu lama Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memegang kekuasaan, semuanya berawal dari ketidakjelasan konstitusi kita. Presidennya juga memanfaatkan celah dan kelemahan itu untuk mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan itu menggoda dan mudah membuat pemimpin menjadi lupa. Sekarang, kelemahan sistem itu telah kita perbaiki. Kita harus berani mengakui bahwa, semua ini adalah kekuarangan kita sebagai bangsa yang kita harus berani mengakuinya. Kita harus memperbaiki kesalahan itu, dan berani melangkah ke dapan, tanpa harus terpenjara oleh masa lalu. Sikap terpenjara kepada masa lalu akan membuat bangsa kita terus-menerus bertikai, hujat-menghujat, salah-menyalahkan dan akhirnya tidak siap untuk melangkah ke depan.

Kini H.M. Soeharto telah pergi untuk selama-lamanya. Secara hukum, dengan wafatnya seseorang, maka segala tuntutan pidana menjadi gugur demi hukum. Dengan demikian, dilihat dari sisi hukum, seseorang haruslah dianggap tidak bersalah, sebelum ada putusan pengadilan yang berlaku tetap. Upaya peradilan pidana kepada H.M. Soeharto telah dimulai untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Proses itu terhenti dengan sakitnya beliau. Kini beliau telah wafat. Semua tuntutan pidana menjadi gugur untuk selama-lamanya. Persoalan hukum tatanegara yang menyangkut beliau sudah lama selesai. Setiap lima tahun, pertanggungjawabannya diterima MPR. Beliau menyatakan berhenti tanggal 21 Mei 1998, juga sah dilihat dari sudut hukum tatanegara postif yang berlaku ketika itu.

Apa yang tersisa kini ialah gugatan perdata oleh Negara Republik Indonesia terhadap H.M. Soeharto. Gugatan itu tidak hanya ditujukan kepada H.M. Soeharto sebagai ketua dari beberapa yayasan, tetapi juga ditujukan kepada pribadi beliau, dalam bentuk gugatan ganti rugi. Saya berpendapat, sebaiknyalah Presiden SBY mencari penyelesaian masalah ini di luar pengadilan. Tentu bukan dengan win-win solution seperti ditawarkan Jaksa Agung Hendarman, tetapi suatu upaya damai dengan pendekatan dari hati kehati, baik dengan pengurus yayasan yang lain, maupun dengan para ahli waris H.M. Soeharto. Untuk itu, semua pihak harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Jika semua berbicara dari hati ke hati dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, saya yakin pintu penyelesaian akan senantiasa terbuka.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada perspektif keagamaan. Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan. Bangsa kita adalah bangsa yang relijius. Sudah saatnya sikap relijius itu kita kedepankan, pada saat H.M. Soeharto telah dipanggil Allah Ta’ala untuk menghadapnya. Segala kebaikan dan sumbangsih beliau kepada bangsa dan negara, wajib kita kenang untuk selamanya. Terhadap semua kesalahan dan kekeliruannya, kita wajib untuk belajar dan memetik hikmah, agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Perjalanan bangsa dan negara kita masih panjang. Kita harus senantiasa menatap dan melangkah ke depan dengan segenap daya dan kemampuan. Sebagai bangsa kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu yang kelam.

Selamat jalan Pak Harto! Semoga Allah SWT menerima segala amal kebajikan yang telah dilakukan, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan.***

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 27th, 2008

59 tanggapan untuk “SELAMAT JALAN HM SOEHARTO”

Pages: [1] 2 » Show All

  1. Samsul (komentar #1)

    Inna li-Llahi wa inna ‘ilaihi raji’un.. Selamat jalan Pak Harto. Semoga Allah menerimamu di sisi-Nya. Amin.

  2. Namora (komentar #2)

    Selamat jalan Pak Harto.
    Semoga jasa-jasa dan amal baik beliau diterima di sisi Allah, dan diampuni segala dosanya.

  3. Adri (komentar #3)

    Selamat Jalan Pak Harto.

    Terima kasih banyak atas pengabdian bapak terhadap bangsa ini….. Tidak ada satu manusiapun di dunia yg luput dari kesalahan….. Namun biarlah itu semua Yang Maha Kuasa yg menilainya.

    Kami manusia, Tidak berhak mengadili 1orang yg lain, karena kami juga manusia berdosa.

    Kami sebagai generasi penerus akan tetap memegang teguh prinsip : “Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai sejarah dan pahlawannya.”

    Selamat Jalan Our beloved Smiling General……..

  4. arif aulia rahman (komentar #4)

    Inna li-Llahi wa inna ‘ilaihi raji’un.. Selamat jalan Pak Harto..Semoga amal kebaikan di terima di sisi ALLAH SWT.amien

    Selamat jalan bapak pembangunan…..

    Kami sebagai nak bangsa menghatur kan sembah nuwun kepada bapak yg tlah membangun bangsa ini…

    Bagi kami bapak adalah sosok pemimpin yang arif…

    Seyum bapak akan slalu ada di hati anak bangsa untuk melanjut kan perjuangan bapak selama ini

    dalam membangun negri ini….

  5. Risvi Khoumeiny (komentar #5)

    memaafkan mantan presiden Soeharto, bolehlah.
    mencari penyelesaian masalah gugatan di luar pengadilan, bolehlah.

    tapi, jangan sampai semua yang terlibat dalam jerat kasus soeharto menjadi termaafkan, akhirnya ada keuntungan tersendiri bagi mereka yang terlibat menjadi ikut-ikutan termaafkan gara-gara kasusnya dihentikan.

    enak saja mereka berdalih, “lho, kasusnya kan sudah dihentikan?”..

    harus ada hukum yang jelas bahwa yang berhenti diusut adalah seorang individu bernama Soeharto, bukan nama lain.

  6. LiSan Skywalker (komentar #6)

    Selamat jalan Pak Harto T_T

  7. masagus (komentar #7)

    Selamat Jalan Panglima Besar Jendral HM Soeharto, Semoga Jasa dan amal baik beliau kepada bangsa dan negara mendapatkan tempat yang selayaknya sisi Allah SWT, dan semoga masalah beliau yang terkatung-katung dari sisi perdata, bisa cepat selesai, sehingga tidak ada beban masa lalu yang menggayutinya.

    Allahumaghfirlahu warkhamhu wa’afii wa’fuanhu …

  8. Seggaf (komentar #8)

    Selamat Jalan, pak Harto ….
    Kalau saya menganalogikan Pak Harto ini seperti Anakin Skywalker di Starwars, pemuda yang hebat akan tetapi terjebak ke dark side karena berbagai alasan.
    Jadi inget pendapat Lord Acton (bener nggak ya namanya?) bahwa apabila kekuasaan terlalu mutlak, maka akan dipastikan kediktatorannya.
    Mohon kalau ada salah quote diperbaiki, oom…

  9. zaM (komentar #9)

    Selamat Jalan Pak Harto
    tentu saja kau juga manusia biasa yang tak sempurna
    yang memiliki kelebihan dan kekurangan
    tetapi kau juga pernah mempimpin negeri ini
    dan memberi konstribusi yang sangat banyak
    sejarah telah mencatatnya,
    Hormat kami padamu

    zaM | http://dzam.blogspot.com

  10. v-jay (komentar #10)

    Selamat jalan pa harto, semoga semua amal ibadah nya di terima oleh Allah SWT, Amiin.

  11. paydjo (komentar #11)

    innalillahi wa inna illaihi roji’un
    selamat jalan pak harto, semoga beliau diterima di sisi-Nya dan mendapat balasan sesuai amal ibadahnya

  12. widian wicaksono (komentar #12)

    saya baru tahu kalau yang membikin nsakah pidato pak harto(60an naskah)itu pak yusril

    saya juga baru tahu kalau pak harto makan pop mie berdua sama pak yusril.

    saya menyadari betapa rakyat kita sudah buta akan jasa pak harto.

    kalau boleh tahu juga rokok pak yusril apa yaaa?karena saya baru tahu juga kalau pak yusril merokok

    seandainya saya boleh usul 2009 pak yusril berpasangan dengan SRI SULTAN HB X
    SEBAGAI DUET SRI SULTAN DAN YUSRIL

    SAYA YAKIN AKAN MENANG

  13. ded (komentar #13)

    Setelah sekian lama, baru tadi pagi saya bisa memaafkan Soeharto (Tentu saja pemaafan kaum dhuafa semcam saya tak ada harganya). Tetapi akhirnya saya bisa memaafkan. Pemaafan ini, paling tidak bagi saya, adalah untuk diri saya sendiri, untuk kesehatan psikologis saya. Tidak memaafkan berarti membiarkan virus jelek dalam batin saya.
    Hanya saja saya sangat ingin menanyakan referensi yang digunakan Prof YIM, “Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan.”
    Terimakasih bila sempat menjawab

  14. didats (komentar #14)

    sesungguhnya pengadilan yang sebenarnya baru dimulai, apakah ia salah atau ia benar. ga ada yang bisa mengelak dari pengadilan di akhirat. walaupun itu seorang soeharto.

  15. Raymond (komentar #15)

    Inna ilahi wa inna lillahi rojiun
    *Selamat Jalan Pak Harto*

    Semua insan manusia pasti akan kembali kepada khaliknya dengan meninggalkan semua kenangan dan kesedihan, pun demikian dengan mantan Presiden kedua ini yakni H.M. Soeharto.
    Beliau telah meninggal dunia dengan banyak kenangan semasa menjabat menjadi Presiden RI, semua bentuk kekurangan dan kesalahan saat menjadi presiden tidaklah luput dari sorotan masyarakat, maka itu dengan segenap hati saya mengajak saudara sekalian agar bisa memaafkan dan mengampuninya.

    Pak Harto Semoga Anda Diberi Kemudahan Saat Prosesi Pemakaman
    Wassallam

  16. Raymond (komentar #16)

    Berkacalah pada cermin masa lalu, dimana pada masa lalu seseorang telah memperjuangkan kehidupan rakyat kecil dan membangun kesejahteraaan rakyat.

  17. Rinie S Y (komentar #17)

    Selamat Jalan Pak Harto… semoga jalanmu dan kuburmu selalu terang dan lapang dengan segala amal ibadahmu dan semua yang menjadikan gelap dan sempit diampuni Allah Ta’ala, amin.

  18. Erwin Juanda (komentar #18)

    Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)

    Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja.

    SELAMAT JALAN PAK HARTO….
    Semoga Amal ibadah bapak di terima dan tenang di sisinya..
    doa kami anak negeri menyertaimu… AMIIIN,

  19. miftah (komentar #19)

    Inna Lillahi wa Inna Ilaihi Rojiun

    Smoga ruh pak Harto di terima di sisi Allah
    di terima amal sholehnya n tidak diikuti dosa2nya oleh para anak bangsa

  20. ERNA (komentar #20)

    selamat jalan…..bapak pembangunan……

    semoga engkau diterima disisinya………

    kami sungguh merasa kehilangan…….

    smua manusia tak ada yg sempurna………..

    smoga salah dan dosa bapak dimaafkan oleh sang pencipta….

    jasa2mu akan slalu kami kenang……….

    biarpun bapak tlah pergi…….namun nama bapak takkan lekang dihati…………

  21. Riza Azmi (komentar #21)

    Selamat Jalan Pak Harto. Terimakasih atas jasa-jasa mu. Kalau boleh bercerita kembali ke masa-masa Pak Harto memimpin, kelihatannya semuanya terkendali sekali, enak, tentram. Stabilitas nasional benar2 terjaga, walaupun harganya dibayar mahal juga tapi dunia ini mana ada yang gratis? Mungkin, Sukarno, Suharto, sulit didapat kembali di 100 tahun akan datang.

    Btw, agak OOT mengenai urutan presiden, Saya dapat email dari milis, bunyinya begini;

    ====================================

    Dua tokoh yang terlewat itu adalah Sjafruddin Prawiranegara dan Mr. Assaat. Keduanya tidak disebut, bisa karena alpa, tetapi mungkin juga disengaja. Sjafruddin Prawiranegara adalah Pemimpin Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) ketika Presiden Soekarno dan Moh. Hatta ditangkap Belanda pada awal agresi militer kedua, sedangkan Mr. Assaat adalah Presiden RI saat republik ini menjadi bagian dari Republik Indonesia Serikat (1949).

    Pada tanggal 19 Desember 1948, saat Belanda melakukan agresi militer II dengan menyerang dan menguasai ibu kota RI saat itu di Yogyakarta, mereka berhasil menangkap dan menahan Presiden Soekarno, Moh. Hatta, serta para pemimpin Indonesia lainnya untuk kemudian diasingkan ke Pulau Bangka. Kabar penangkapan terhadap Soekarno dan para pemimpin Indonesia itu terdengar oleh Sjafrudin Prawiranegara yang saat itu menjabat sebagai Menteri Kemakmuran dan sedang berada di Bukittinggi, Sumatra Barat.

    Untuk mengisi kekosongan kekuasaan, Sjafrudin mengusulkan dibentuknya pemerintahan darurat untuk meneruskan pemerintah RI. Padahal, saat itu Soekarno - Hatta mengirimkan telegram berbunyi, “Kami, Presiden Republik Indonesia memberitakan bahwa pada hari Minggu tanggal 19 Desember 1948 djam 6 pagi Belanda telah mulai serangannja atas Ibu Kota Jogjakarta. Djika dalam keadaan pemerintah tidak dapat mendjalankan kewajibannja lagi, kami menguasakan kepada Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Menteri Kemakmuran RI untuk membentuk Pemerintahan Darurat di Sumatra”.

    Namun saat itu telegram tersebut tidak sampai ke Bukittinggi. Meski demikian, ternyata pada saat bersamaan Sjafruddin Prawiranegara telah mengambil inisiatif yang senada. Dalam rapat di sebuah rumah dekat Ngarai Sianok Bukittinggi, 19 Desember 1948, ia mengusulkan pembentukan suatu pemerintah darurat (emergency government). Gubernur Sumatra Mr. T.M. Hasan menyetujui usul itu “demi menyelamatkan Negara Republik Indonesia yang berada dalam bahaya, artinya kekosongan kepala pemerintahan, yang menjadi syarat internasional untuk diakui sebagai negara”.
    Pada 22 Desember 1948, di Halaban, sekitar 15 km dari Payakumbuh, PDRI “diproklamasikan”. Sjafruddin duduk sebagai ketua/presiden merangkap Menteri Pertahanan, Penerangan, dan Luar Negeri, ad. interim. Kabinatenya dibantu Mr. T.M. Hasan, Mr. S.M. Rasjid, Mr. Lukman Hakim, Ir. Mananti Sitompul, Ir. Indracahya, dan Marjono Danubroto. Adapun Jenderal Sudirman tetap sebagai Panglima Besar Angkatan Perang.

    Sjafruddin menyerahkan kembali mandatnya kepada Presiden Soekarno pada tanggal 13 Juli 1949 di Yogyakarta. Dengan demikian, berakhirlah riwayat PDRI yang selama kurang lebih delapan bulan melanjutkan eksistensi Republik Indonesia.

    Mr. Assaat
    Dalam perjanjian Konferensi Meja Bundar (KMB) yang ditandatangani di Belanda, 27 Desember 1949 diputuskan bahwa Belanda menyerahkan kedaulatan kepada Republik Indonesia Serikat (RIS). RIS terdiri dari 16 negara bagian, salah satunya adalah Republik Indonesia. Negara bagian lainnya seperti Negara Pasundan, Negara Indonesia Timur, dan lain-lain.
    Karena Soekarno dan Moh. Hatta telah ditetapkan menjadi Presiden dan Perdana Menteri RIS, maka berarti terjadi kekosongan pimpinan pada Republik Indonesia.

    Assaat adalah Pemangku Sementara Jabatan Presiden RI. Peran Assaat sangat penting. Kalau tidak ada RI saat itu, berarti ada kekosongan dalam sejarah Indonesia bahwa RI pernah menghilang dan kemudian muncul lagi. Namun, dengan mengakui keberadaan RI dalam RIS yang hanya beberapa bulan, tampak bahwa sejarah Republik Indonesia sejak tahun 1945 tidak pernah terputus sampai kini. Kita ketahui bahwa kemudian RIS melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia tanggal 15 Agustus 1950. Itu berarti, Assaat pernah memangku jabatan Presiden RI sekitar sembilan bulan.

    Nah sobat Percil, dengan demikian, SBY adalah presiden RI yang ke-8. Urutan Presiden RI adalah sebagai berikut: Soekarno (diselingi oleh Sjafruddin Prawiranegara dan Assaat), Soeharto, B.J. Habibie, Abdurrahman Wahid, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono.


    ====================================

  22. Aulia (komentar #22)

    InnaLillahi Wa Inna Lillahi Roji’un

    Demi melihat pemberitaan yang bombastis di CNN, BBC, Sky News dan berbagai media asing lainnya, apalagi ditambah liputan dari media lokal yang tiada henti. Kiranya kita semua tersadar, bahwa Almarhum memang mantan pemimpin negara yang Special dan patut dikenang sepanjang masa. Biarlah semua kebaikan dan kejelekannya diserahkan pada Allah SWT.

    Yang menjadi pertanyaan, adakah Trah Cendana akan mendirikan Parpol dalam waktu dekat nanti?
    (simpati yang tinggi terhadap keluarganya sangat amat memungkinkan hal itu terjadi, apalagi pada umumnya, negara-negara berkembang di ASIA gemar mencari figur politik/parpol yang memiliki ‘trah keturunan’)
    Wallahualam….

  23. Farhan (komentar #23)

    Pak Harto adalah mantan presiden kita, tetapi beliau juga adalah manusia seperti kita, bisa salah dan bisa benar. Ketika beliau telah tiada, maka gugatan atas kesalahan pidananya menjadi hilang, kecuali masalah perdatanya masih berlanjut, begitukan hukum tata negara kita pak Yusril. Mudah-mudahan pemerintah sekarang ini akan mengambil keputusan yang terbaik adil dan bijaksana menurut hukum kita.

  24. bangzenk (komentar #24)

    Assalamu’alaikum Bang Yusril..
    Postingan kali ini tidak membuka ruang untuk diskusi?
    Sependapat dengan apa yang disampaikan, bahwa
    [1] ketika seseorang meninggal yang kita kenang adalah kebajikannya
    [2] gugatan perdata tetap dilanjutkan

    ada yang disesalkan, sebagai seorang aktivis proses hukum mantan presiden soeharto cukup memiliki arti penting untuk bisa mengusut para kroni-nya. dengan kata lain, ada pihak-pihak yang diuntungkan dengan meninggalnya Pak Harto karena “dosa-dosa” nya seolah tercuci bersih.

    harapannya, melalui gugatan perdata “kerugian negara” dapat di minimalisir, kalaupun tidak mengembalikan sepenuhnya. karena masih dalam proses, kita tunggu hasilnya. akan banyak-kah yang peduli atau membiarkan 32 tahun penyimpangan Orde Baru menjadi angin lalu?

    kita masih Indonesia dengan Pancasila dan UUD’45, bukan?

    Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh..
    salamhangat,

    -rijalDiSini-

  25. Erwin Santosa (komentar #25)

    Inna lillahi wa innaillaihi rojiun ..
    Telah berpulang ke Rahmatullah seorang mantan pemimpin Republik Indonesia yang memiliki kharisma dalam memimpin sebuah Republik.
    Semoga amal ibadahnya diterima olehNya … Amin

  26. Setelah Bosan « berbagi cerita.. (komentar #26)

    [...] 3. Belajar-memaafkan Kalau kamu masih ketua BEM, hari ini apa yang akan kamu lakukan terkait meninggalnya Pak Soeharto? Jawab saya: Masuk kelas, kuliah. Pimpin do’a di kelas smoga Allah berkenan menerima iman dan islamnya karena kita harus mengenang kebajikan bukan kedzaliman. Seperti apa yang disampaikan Bang Yusril. [...]

  27. Ruli (komentar #27)

    selamat jalan pak Harto. semoga kebaikannya digandakan, dan kesalahannya diampunkan.
    yg kekal hanyalah Allah.

  28. syamsu (komentar #28)

    Salam alaikum wr wbr

    Yang terbaik aja deh buat pak harto.. n buat pak yusril met kenal ya pak… :)

  29. satria (komentar #29)

    salam, bang, kalo menurut saya kita bisa saja memaafkan suharto. yah, secara personal orang boleh saja memaafkan suharto.
    masalahnya, kapan suharto minta maaf, kapan suharto pernah mengakui bahwa apa yang diperbuatnya terhadap bangsa ini (dalam beberapa hal-walaupun banyak saya sebut beberapa) salah. setau saya ngga pernah tuh Bang.
    gawatnya, kita tidak terbiasa jujur dengan sejarah. jadi alih-alih memaafkan, kebanyakan orang awam akan menganggap pernyataan para elite politik yang bilang ‘maafkan pak harto’ sebagai ’sebenarnya pak harto tidak bersalah’. dan itu terjadi secara bertahapbang, ngga vulgar tapi pasti.
    penghargaan terhadap jasa itu ngga ada hubungannya dengan kesalahan yang tidak perlu dihukumi.
    bukannya rosulullah juga pernah berkata, ’seandainya fatimah mencuri, niscaya aku yang akan memotong tangannya’. ini keadilan bang, keadilan itu bukan penegakan hukum untuk rakyat kecil, tapi semua orag termasuk suharto.
    jangan juga nanti orang berfikir, maafkan pak harto’ lalu, ‘jasa pak harto banyak’, lalu ‘ yang salah bukan pak harto’ , lalu’hayu kita bikin partai orba’ lalu orang-orang yang seharusnya bertanggungjawab atas kerusakan negeri ini jadi bebas dan berkuasa lagi.
    masalah ‘biar Tuhan yang menghukum’ ya memang, disuruh ngga disuruh Tuhan pasti melakukan penilaian dan menghukumi tindakan. kok jadi kita ngatur-ngatur Tuhan.
    sudahlah, jalankan proses hukum, jangan politiking, tetapkan bersalah, kembalikan harta negara, nanti saya dan rakyat maafkan.
    bang, tobat itu harus ada ekspresi materialnya, kalo dosa yang dilakukan ada hubungannya sama orang lain. bukan dalam hati aja. tobat ko ngga minta maaf, dan anak sampe cicitnya masih jadi raja-raja…
    eh, jangan-jangan kita yang minta suharto dihukum lagi nanti yang disuruh tobat…
    mati aku….

  30. satria (komentar #30)

    Dengan demikian, dilihat dari sisi hukum, seseorang haruslah dianggap tidak bersalah (betul).
    dianggap tidak bersalah walaupun semua orang bisa membuktikan kesalahannya.

    Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan. (kata Bang Yusril)
    komprominya, dikenang sebagai personal yang baik-baik ngga apa-apa, sebagai presiden diktator, korup, despot, ngga bisa dianggap baik bang, kalo masyarakat sampe mikir ini baik, itu namanya penyakit jiwa alias GILA.

    Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya (kata Bang Yusril)
    Bangsa kita juga harus belajar menghukum penjahat walaupun itu bapaknya sendiri (kata saya)

Pages: [1] 2 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda