Beranda

SELAMAT JALAN HM SOEHARTO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Setelah menderita sakit yang berkepanjangan sejak menyatakan berhenti sebagai Presiden, tadi siang, mantan Presiden Soeharto menghembuskan nafas terakhir di Rumah Sakit Pertamina SuhartoJakarta. Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali). Dengan wafatnya beliau, kita telah kehilangan lagi seorang mantan Presiden, yang pernah memimpin bangsa dan negara kita dalam kurun waktu yang cukup lama. Presiden Soekarno memegang jabatan Presiden selama lebih kurang 22 tahun. Itupun silih berganti sebagai Kepala Eksekutif dan Kepala Negara ketika kita menganut sistem parlementer. Ketua Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) Sjafruddin Prawiranegara hanya memegang jabatan kurang dari setahun. Presiden Soeharto memegang jabatan selama 32 tahun, sampai akhirnya menyatakan berhenti dari jabatannya pada tanggal 21 Mei 1998.

Selama memegang kekuasan, Presiden Soeharto telah berbuat banyak dalam membangun bangsa dan negara kita, sehingga mampu mengangkat harkat dan martabat bangsa kita menjadi bangsa dan negara yang disegani dikawasan Asia. Di bawah kepemimpinannya pula, pembangunan sosial dan ekonomi kita mulai dilaksanakan dengan sungguh-sungguh. Banyak kemajuan yang dicapai, baik pembangunan fisik maupun pembangunan non fisik seperti peningkatan kualitas hidup dan sumberdaya manusia bangsa kita. Bangsa kita yang hidup sangat miskin dan terbelakang di masa Orde Lama, di masa Orde Baru berhasil memperbaiki keadaan internalnya, sehingga kita bergerak maju mendekati taraf negara menengah. Andaikata tidak terjadi krisis moneter pada tahun 1997, pembangunan sosial ekonomi kita mungkin akan bergerak ke arah yang jauh lebih maju. Namun badai krisis yang begitu dahsyat, tidak saja merontokkan sendi-sendi ekonomi, namun juga meruntuhkan kekuatan Orde Baru sendiri.

Karena Presiden Soeharto adalah tokoh sentral dalam Orde Baru, maka kejatuhannya otomatis meruntuhkan seluruh tananan yang telah berhasil dibangunnya. Semua ini memang menjadi pelajaran berharga bagi bangsa kita. Tidak ada yang abadi di dunia ini. Jika ada awal, maka akan ada pula akhir. Demikianlah Orde Baru di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Orde itu berakhir, dan kita berada dalam masa transisi untuk memantapkan pola kehidupan berbangsa dan bernegara kita yang baru di era reformasi. Biaya krisis kita sangat besar. Bukan saja biaya finansialnya, tetapi juga biaya sosial dan politiknya. Kita berupaya untuk bangkit kembali. Sistem kita perbaiki. Konstitusi kita amandemen. Kita melihat kekeliruan masa lalu, dan berupaya untuk melangkah ke depan dengan lebih baik. Kita merumuskan kebijakan-kebijakan baru di segala bidang. Hasilnya, belum sepenuhnya memuaskan.

Ketika Orde Baru runtuh seiring dengan berhentinya Presiden Soeharto, sebagian masyarakat kita cenderung melihat masa lalu itu dengan pandangan yang kelam. Berbagai hujatan dilontarkan hanya untuk menyebut kesalahan, kekeliruan dan daftar dosa. Orang tak lagi berpikir jernih untuk melihat sisi-sisi kebaikan dan sumbangan yang telah diberikanya kepada bangsa dan negara. Gejala seperti ini juga terjadi saat kejatuhan Presiden Soekarno. Beliau yang begitu dipuja-puji, diberi berbagai gelar dan sebutan dan bahkan dikukuhkan sebagai Presiden seumur hidup. Namun ketika beliau jatuh, segala kebaikan dan sumbangannya yang begitu besar kepada bangsa dan negara, seolah dilupakan. Hal yang hampir sama terjadi pula pada Presiden Soeharto. Beliau terus-menerus dipilih menjadi Presiden setiap lima tahun kembali, diberi berbagai julukan, namun pada saat beliau jatuh, seolah kebaikan dan sumbangannya kepada bangsa dan negara, seperti tidak ada artinya samasekali.

Bangsa kita memang harus belajar banyak bagaimana caranya mereka memperlakukan mantan pemimpinnya. Tidak ada manusia yang sempurna. Sebesar apapun seorang pemimpin, tetap saja ada kekurangan dan kekeliruan. Begitu lama Presiden Soekarno dan Presiden Soeharto memegang kekuasaan, semuanya berawal dari ketidakjelasan konstitusi kita. Presidennya juga memanfaatkan celah dan kelemahan itu untuk mempertahankan kekuasaan. Kekuasaan itu menggoda dan mudah membuat pemimpin menjadi lupa. Sekarang, kelemahan sistem itu telah kita perbaiki. Kita harus berani mengakui bahwa, semua ini adalah kekuarangan kita sebagai bangsa yang kita harus berani mengakuinya. Kita harus memperbaiki kesalahan itu, dan berani melangkah ke dapan, tanpa harus terpenjara oleh masa lalu. Sikap terpenjara kepada masa lalu akan membuat bangsa kita terus-menerus bertikai, hujat-menghujat, salah-menyalahkan dan akhirnya tidak siap untuk melangkah ke depan.

Kini H.M. Soeharto telah pergi untuk selama-lamanya. Secara hukum, dengan wafatnya seseorang, maka segala tuntutan pidana menjadi gugur demi hukum. Dengan demikian, dilihat dari sisi hukum, seseorang haruslah dianggap tidak bersalah, sebelum ada putusan pengadilan yang berlaku tetap. Upaya peradilan pidana kepada H.M. Soeharto telah dimulai untuk melaksanakan ketentuan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor XI Tahun 1998. Proses itu terhenti dengan sakitnya beliau. Kini beliau telah wafat. Semua tuntutan pidana menjadi gugur untuk selama-lamanya. Persoalan hukum tatanegara yang menyangkut beliau sudah lama selesai. Setiap lima tahun, pertanggungjawabannya diterima MPR. Beliau menyatakan berhenti tanggal 21 Mei 1998, juga sah dilihat dari sudut hukum tatanegara postif yang berlaku ketika itu.

Apa yang tersisa kini ialah gugatan perdata oleh Negara Republik Indonesia terhadap H.M. Soeharto. Gugatan itu tidak hanya ditujukan kepada H.M. Soeharto sebagai ketua dari beberapa yayasan, tetapi juga ditujukan kepada pribadi beliau, dalam bentuk gugatan ganti rugi. Saya berpendapat, sebaiknyalah Presiden SBY mencari penyelesaian masalah ini di luar pengadilan. Tentu bukan dengan win-win solution seperti ditawarkan Jaksa Agung Hendarman, tetapi suatu upaya damai dengan pendekatan dari hati kehati, baik dengan pengurus yayasan yang lain, maupun dengan para ahli waris H.M. Soeharto. Untuk itu, semua pihak harus mendahulukan kepentingan bangsa dan negara. Jika semua berbicara dari hati ke hati dan mengutamakan kepentingan bangsa dan negara, saya yakin pintu penyelesaian akan senantiasa terbuka.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan mengembalikan segala sesuatunya kepada perspektif keagamaan. Dari sudut pandang agama Islam, apabila seseorang telah wafat, maka yang wajib dikenang untuk selamanya ialah amal-kebajikan yang dilakukan orang itu. Segala kesalahannya wajib untuk dilupakan. Bangsa kita adalah bangsa yang relijius. Sudah saatnya sikap relijius itu kita kedepankan, pada saat H.M. Soeharto telah dipanggil Allah Ta’ala untuk menghadapnya. Segala kebaikan dan sumbangsih beliau kepada bangsa dan negara, wajib kita kenang untuk selamanya. Terhadap semua kesalahan dan kekeliruannya, kita wajib untuk belajar dan memetik hikmah, agar kesalahan itu tidak terulang lagi. Perjalanan bangsa dan negara kita masih panjang. Kita harus senantiasa menatap dan melangkah ke depan dengan segenap daya dan kemampuan. Sebagai bangsa kita tidak boleh terpenjara oleh masa lalu yang kelam.

Selamat jalan Pak Harto! Semoga Allah SWT menerima segala amal kebajikan yang telah dilakukan, dan mengampuni segala dosa dan kesalahan.***

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 27th, 2008

60 tanggapan untuk “SELAMAT JALAN HM SOEHARTO”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. satria (komentar #31)

    Bang, ngomong-ngomong blognya layoutnya keren, ajarin bikinnya dong.
    cerah dan proporsional, manis dan menarik.
    semoga isi tulisan di blog ini juga begitu.
    Yakin Usaha sampai !!!

  2. aditya (komentar #32)

    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali).

    Telah mangkat seorang yang pernah memimpin bangsa ini dari keterpurukan ekonomi, kepada perkembangan ekonomi yang pesat dan kembali kepada keterpurukan kembali kedalam segala sektor, terutama ekonom,politik dan hukum.

    bersumber dari berberapa literatur dapat dilahat bahwa sumbangsih H.M Soeharto sangat besar dalam membangun Negara Indonesia ini, paling tidak beliau telah melepakan program pembanguan secara berkala yang biasa disebut dengan Repelita (Rencana Pembangunan Lima Tahun). Repelita berseumber dari Garis-Garis Besar Haluan Negara (GBHN), yang ditetapkan oleh rakyat melalui wakilnya yang ada di Majelis Permusyawaratan Rakyat.

    Melihat dari sistem perencanan perencanaan yang di nyatakan dalam Konstitusi Indonesia ini, maka secara langsung sebenarnya Presiden Soeharto yang berkuasa saat itu tidak dapat dikatakan bersalah sepenuhnya dalam pengelolaan negara Indonesia, hal ini dikarenakan Soeharto hanyalah sebagai pemegang mandat yang diberikan oleh oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat. Atas dasar hal tersebut maka dalam sistem ketetatanegaraan Indonesia pada saat itu yang harus mempertanggung jawabkan sepenuhnya dari keterpurukan segala sektor pembangunan tersebut adalah Majelis Permusywaratan Rakyat.

    Dalam teori hukum administrasi, khususnya yang membahas tentang perwakilan wewenang dalam lingkup jabatan administrasi negara dikenal dua sistem perwakilan wewenang tersebut, ada delegasi dan juga ada mandat. dalam delegasi penyerahan wewenang kepada pejabat negara diserahkan sepenuhnya sehingga pertanggungjawaban pun sep[enuhnya menjadi tanggung jawab pemegang delegasi tersebut, sedangkan dalam penyerahan wewenang secara mandat, maka yang memegang pertaggung jawaban adalah pemberi mandat. jadi dalam sistem ketatanegaraan ketika Majelis Permusyawaratan Rakyat tersebut memyerahkan madatnya kepada Presiden, maka Presiden hanya melaksanakan apa yang telah ditentukan oleh Majelis Permusyawaratan (dalam hal ini adalah GBHN).

    Melihat kepada ketentuan yang terdapat dalam konstitusi Indonesia (sebelum perubahan), maka secara langsung kita sebagai rakyat Indonesia tidak dapar meyalahkan Presiden sepenuhnya.

    Atas dasar uraian singkat di atas maka saya ingin mengajukan pertanyaan kepada ahlul bait dari Bolg ini, bagaimanakah pandangan bapak terhadap permasalahan pertanggung jawaban seorang mandataris MPR pada saat itu (menurut UUD 45 sebelum perubahan)?
    selanjutnya apakah Soeharto sebagai Presiden dapat dipersalahkan dan bertanggung jawab penuh dalam masa kepemimpinannya tersebut?

    Terimakasih, billahitaufiq walhidayah……

  3. abu ghifari (komentar #33)

    from a friend … untuk kita renungkan .. semoga yg telah mendahului kita termasuk ‘The Smiling General’ di berikan tempat yg baik di sisi Allah SWT, amiin …

    AKU DIMAKAMKAN HARI INI

    Perlahan, tubuhku ditutup tanah,
    perlahan, semua pergi meninggalkanku,
    masih terdengar jelas langkah langkah terakhir mereka
    aku sendirian, di tempat gelap yang tak pernah
    terbayang, sendiri, menunggu keputusan…

    Istri, belahan hati, belahan jiwa pun pergi,
    Anak, yang di tubuhnya darahku mengalir, tak juga
    tinggal, Apatah lagi sekedar tangan kanan, kawan dekat,
    rekan bisnis, atau orang-orang lain,
    aku bukan siapa-siapa lagi bagi mereka.

    Istriku menangis, sangat pedih, aku pun demikian,
    Anakku menangis, tak kalah sedih, dan aku juga,
    Tangan kananku menghibur mereka,
    kawan dekatku berkirim bunga dan ucapan,
    tetapi aku tetap sendiri, disini,
    menunggu perhitungan …

    Menyesal sudah tak mungkin,
    Tobat tak lagi dianggap,
    dan ma’af pun tak bakal didengar,
    aku benar-benar harus sendiri…

    Tuhanku,
    (entah dari mana kekuatan itu datang,
    setelah sekian lama aku tak lagi dekat dengan-Nya),
    jika kau beri aku satu lagi kesempatan,
    jika kau pinjamkan lagi beberapa hari milik-Mu,
    beberapa hari saja…

    Aku harus berkeliling, memohon ma’af pada mereka,
    yang selama ini telah merasakan zalimku,
    yang selama ini sengsara karena aku,
    yang tertindas dalam kuasaku.
    yang selama ini telah aku sakiti hati nya
    yang selama ini telah aku bohongi

    Aku harus kembalikan, semua harta kotor ini,
    yang kukumpulkan dengan wajah gembira,
    yang kukuras dari sumber yang tak jelas,
    yang kumakan, bahkan yang kutelan.
    Aku harus tuntaskan janji janji palsu yg sering ku umbar dulu

    Dan Tuhan,
    beri lagi aku beberapa hari milik-Mu,
    untuk berbakti kepada ayah dan ibu tercinta ,
    teringat kata kata kasar dan keras yg menyakitkan hati mereka ,
    maafkan aku ayah dan ibu ,
    mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayang mu beri juga aku waktu,
    untuk berkumpul dengan istri dan anakku,
    untuk sungguh sungguh beramal soleh

    Aku sungguh ingin bersujud dihadap-Mu,bersama mereka …
    begitu sesal diri ini
    karena hari hari telah berlalu tanpa makna
    penuh kesia sia an
    kesenangan yg pernah kuraih dulu, tak ada artinya sama sekali
    mengapa ku sia sia saja, waktu hidup yg hanya sekali itu
    andai ku bisa putar ulang waktu itu …

    Aku dimakamkan hari ini,
    dan semua menjadi tak terma’afkan,
    dan semua menjadi terlambat,
    dan aku harus sendiri,
    untuk waktu yang tak terbayangkan …

  4. bangzenk (komentar #34)

    @satria #27

    maaf memaafkan beda urusan ama gugatan yang mesti tetep jalan. kasus pidana terhenti, perdata? kita tunggu keseriusan Pemerintah RI.

  5. Hairul Wz (komentar #35)

    Innalillahi wa innailaihi rajiun
    Selamat Jalan Bapak Pembangunan Jendral Besar HM Soeharto semoga amal ibadahnya diterima didepan Allah swt dan dosa2nya diampuni Amin.
    setelah wafat perkara pidana yang didakwakan kepada HM Soeharto gugur sedang gugatan perdata masih bisa diteruskan, selama ini gugatan perdata yang diajukan adalah masalah Yayasan - yayasan yang pernah di binanya pertanyaan saya adalah :
    1. jika yang digugat yayasan kenapa yang dikejar hanya pak harto sebagai pembina ? bukan pengurus yang lain atau ketuanya
    2. Yayasan supersemar banyak membantu mahasiswa pintar yang kurang mampu, apakah mereka juga dianggap menikmati hasil korupsi dan dapat juga diseret sebagai penikmat hasil kejahatan
    3. sebelum pemilu 1997 pak harto pernah bertanya kepada pak harmoko “apakah saya masih dikehendaki untuk memimpin negara ini tolong dicek dulu karena kalau tidak saya akan lengser keprabon mandek pandito” kata pak harto. pak harmoko menjawab “sudah pak berdasrkan survei mayarakat masih menghendaki bapak sebagai presiden lagi” karena yang mendorong pak harto maju jadi presiden adalah pak harmoko pada waktu itu sebagai ketua MPR maka kenapa pak harmoko tidak pernah diperiksa atas kesalahannya ya minimal karena kebohongan publik yang disampaikannya pada pak harto

    saran saya yayasan2 yang pernah dibina oleh pak harto, beserta seluruh aset kekayaannya diambil alih pemerintah saja karena yayasan2 tersebut masih dibutuhkan

    mohon penjelasan atas pertanyaan tersebut
    terimaksaih bang Yusril
    Wassalamu’alaikum

  6. Bonar (komentar #36)

    2. Yayasan supersemar banyak membantu mahasiswa pintar yang kurang mampu, apakah mereka juga dianggap menikmati hasil korupsi dan dapat juga diseret sebagai penikmat hasil kejahatan

    Jangan lupa juga dengan SD inpres.
    Para penikmat hasil kejahatan itu, anak-anak SD itu (atau bekas-bekas anak sd inpres, seperti saya), mungkin harus dihukum seberat-beratnya! :)

  7. rahmat dahlan (komentar #37)

    pak yusril, kok tidak ikut ke astana giri bangun?

    Mohon maaf saya kebetulan sedang berada di daerah, ketika Pak Harto wafat. Saya tak dapat mengejar pesawat untuk kembali ke Jakarta, apalagi ke Karanganyar tempat Pak Haro dimakamkan. Beberapa wartawan TV memburu saya dan membuat wawancara. Mereke menyiarkannya via TVRI dan stasiun TV di Jakarta menggunakan satelit. Koran-koran melakukan wawancara pertelepon. (YIM)

  8. chandra (komentar #38)

    Selamat Jalan Pak Harto, sesungguhnya manusia itu tidak luput dari kesalahan dan dosa, saya mendoakan semoga Arwah Beliau di terima Allah SWT dan mendapat tempat yang sebaik-baiknya. SElama ini kita telah banyak merasakan jasa budi baik beliau semasa menjabat sebagai presiden, mari sama-sama kita maafkan kesalahan beliau karna biar bagaimanapun beliau adalah pahlawan bagi kita semua. hilangkan rasa benci dan sakit hati kepada beliau karena beliau juga adalah manusia yang tidak luput dari dosa dan kesalahan. Selamat Jalan PAK HARTO. Akan ku kenang jasa-jasamu selalu. ya Allah terimalah amal budi ibadahnya selama didunia ini. Amiin.

  9. wahyu (komentar #39)

    Yah.. tak ada yang abadi, semua pasti berakhir.
    Masa-masa dramatis (atau di dramatisir???) pak Harto di RSPP akhirnya selesai.

    Selamat jalan eyang, semoga amal kebaikan diterima yang maha kuasa, dan segala dosa diampuni.
    Bagaimanapun beliau adalah bagian sejarah yang membentuk Indonesia hingga seperti sekarang. Bila tak ada beliau, Indonesia mungkin lebih maju, atau mungkin juga malah terpuruk.

    Setuju dengan pak Yusril, kita jangan terpaku dengan masa lalu. Lebih baik kita memikirkan bagaimana menghadapi dan memperbaiki Indonesia ke depan.

  10. Rudi (komentar #40)

    Semoga di lapangkan jalannya n di ampuni semua dosa2nya

  11. wahyu (komentar #41)

    oh ya Pak Yusril.

    izin minta link blog-nya. :)

    Monggo Mas, silahkan! (YIM)

  12. Purnama (komentar #42)

    Sesungguhnya kita milikNya, dan kepadanyalah kita akan kembali. Semoga amal ibadah pak Harto diterima Allah, dan diampuni dosa-dosanya. Amiin

  13. Iqbal dragon (komentar #43)

    Selamat Jalan Jenderal Besar, Anda salah satu Putra Terbaik bangsa ini……..Semoga Allah SWT menempatkanmu dalam Surga Jannatunnaim…..
    Terima kasih atas sumbangsihmu bagi bansa ini sehingga menjadi bangsa yang disegani di asia…..
    Karena Bagaimanapun HM Soeharto juga manusia…….

  14. Sufyan Atstsaury (komentar #44)

    SELAMAT JALAN PAK HARTO…

    Tidak ada gading yang tak retak, biar bagaimanapun bapak sudah sangat berjasa untuk anak negeri ini.
    karena bapak juga lah biaya kuliah di PTN dulu bisa murah sehingga kami yang dari pelosok kampung pun bisa mengenyam perguruan tinggi. terimakasih Pak Harto..selamat jalan…
    Ya Allah, Jadikan lah segala hasil karya almarhum di negeri ini menjadi amal jariyah almarhum ..amin..

  15. miftah (komentar #45)

    episode gugurnya sang pendekar pembangunan: Soeharto

    bung gmn langkah sebaiknya, buat jalannya reformasi yg sudah sepuluh tahun tumbangnya rezim soeharto, namun blom nampak perubahan yg signifikan malah langkah tambah rancu!!!???

  16. Iwan Asnawi (komentar #46)

    @Innalillahi wa inna lilllahi roji’un…

    @Hallo, bung Bonar… Kamu kok jadi sensitif banget sih? Mana teori kehidupanmu?
    Tapi ungkapanmu ada benarnya, mungkin Bangsa Kita (baca:Indonesia) menganut paham Filsapat Afrika. “Ikan itu, membusuk dari kepalanya”. Ya.., kita busukin dulu “kepala” Ikannya, kemudian baru “badan” dan seluruh isi
    “perutnya”. Pelan-pelan tapi pasti gitu…he…he…
    Kamu tak akan dihukum Bonar, kalau tak ada salah. Tapi hanya dan mungkin… akan memikul “beban bersama”, warisan hutang Negara. Negara itu terdiri dari, “Pemerintah dan Rakyat”, kata YIM. Termasuk saya, sebagai rakyat dan bahkan seorang bayi yang belum lahir sekalipun. Asalkan dia pemegang Paspor dan atau memiliki KTP Warga Negara Indonesia.
    Makanya, yang belum punya KTP, dan atau Paspor Indonesia… Mikir deh, sebelum “kebagian” hutang…he…he…

    @Bang, YIM… dan kawan-kawan… wassalaaaam…

  17. Hanara (komentar #47)

    La’allahu maghfur wa marhum billah…. Amin…

  18. Mardias Gufron (komentar #48)

    Allahummaghfirlahu warhamhu wa’aafihi wa’fu ‘anhu. Semoga Allah mengampuni dosa-dosanya dan menempatkannya di sisi-Nya, amin.

  19. Fatoni (komentar #49)

    I
    soeharto terhenti jiwanya
    kembali pada Sang Pencipta
    bertanggungjawab akan lakunya
    entah nasibnya bagaimana

    rupa-rupa lakunya
    beraneka wajahnya
    menjadi puja
    juga hina dinista

    meski kau menyuruh aku lupa
    tapi bagaimana kami bisa lupa
    terhadap sejarah yang tertitah
    yang mulia juga yang tercela

    II
    masjid dibangun
    menjamur bendungan dan jalan-jalan
    listrik dan SD inpres masuk desa
    ABRI pun masuk desa

    posyandu dan imunisasi menjadi
    klompencapir jadi sosialisasi
    swasembada beras mengentas
    pesawat terbang merentas

    III
    tanjung priok dikepruk
    talangsari digebuk
    kedungombo digaruk
    badega ditimpuk

    aceh digranat
    timor dilumat
    komando jihad dicipta
    para aktivis dinista

    demokrasi dilibas
    kebebasan ditebas
    keadilan digerus
    bromocora dipetrus

    pers dibredel
    kampus disteril
    partai politik dikebiri
    suara rakyat dimanipulasi

    IV
    mohon maaf
    kami tak berniat mencela atau membela
    hanya mencatat yang tersisa
    dari sejarah yang tercipta

  20. Bambang Sasmita (komentar #50)

    Semasa Pak Harto memimpin, saya merasa sangat bangga sebagai bangsa Indonesia, karena beliau benar-benar seorang pemimpin yang kharismatik. Jika kita mau arif bersikap, jasa yang beliau berikan kepada bangsa ini sungguh sangat besar, dan sudah selayaknya kita menempatkan Pak Harto sebagai pemimpin bangsa yang telah berjasa pada Negara Indonesia.

    Selamat jalan Pak Harto, jiwa dan semangat mu akan selalu terukir di hati kami. semoga amal ibadah yang telah di berikan akan mendapatkan pahala serta tempat yang layak disisi Nya. Amin.

  21. masemann (komentar #51)

    BRAVO BOS, JARANG KALI KULIHAT BAHASAN SEPERTI YANG ANDA TULIS INI. TULISAN ANDA MENCERMINKAN PEMBAHASAN SEORANG INTELEKTUAL YANG FAIR, RASIONAL DAN BERDASARKAN FAKTA YANG KUAT.
    SELAMAT BOS, KUNANTI LAGI TULISAN ANDA YANG LAINNYA

  22. luthfi maulana (komentar #52)

    Saya bukan siapa - siapa tapi saya masih punya hati nurani….mendengar kabar Pak Harto meninggal saya hanya menangis dalam hati….semoga Allah SWT memberi bimbingan agar kita dapat melihat siapa yang benar dan siapa yang salah, Amiin…..

  23. Maryono (komentar #53)

    Innalillahi wa inna ilaihi raji’un (sesungguhnya kita semua kepunyaan Allah dan kepadaNya jua kita akan kembali).

    Selamat Jalan Bp. HM. Soeharto bapak pembangunan. Saya tuut bela sungkawa yang sedalam - dalamnya atas meninggalnya Bp. HM. Soeharto di RSP Pertamina 27 Januari 2008 jam 13.10 menit. Semoga arwah beliau diterima di sisi-Nya dan diterima semua amal kebaikan beliau serta diampuni segala dosa- dosanya. Amin

  24. fireman (komentar #54)

    Salamun’alaikum,

    Semenjak krisis tahun 1997, saya termasuk yang ikut dan pernah teriak-teriak baik dijalan maupun di kampus agar keadaan ekonomi diperbaiki yang nota bene dipegangan oleh presiden Suharto , sampai akhirnya beliau jatuh di tahun 1998. Walau pernah ikut dalam gerbang reformasi tersebut saya merasa bahwa Suharto tetap mempunyai jasa yang besar bagi bangsa ini dan harus diperlakukan dengan layak sebagai seorang mantan kepala negara, sudah seharusnya kita menghargai dan memperlakukan pemimpin negara ini dengan baik dan jangan sampai mengulangi sejarah perlakukan bangsa ini kepada pendiri - pendiri negeri dimasa lalu. Ahlak yang baik dan koreksi pada pemimpin tetap dibutuhkan dan harus diteruskan. Selamat jalan Suharto….

    Salam

  25. hanyfa (komentar #55)

    Walaupun terlambat, tapi tak ada salahnya jika saya berhasrat untuk menyampaikan komentar terhadap artikel yang ditulis bang yim ini. Secara pribadi mungkin saya bisa memaklumi jika ada suara agar segala dosa dan kesalahan pak harto dimaafkan, namun sebagai bagian integral dari umat Islam, sebagai umat mayoritas di negeri ini, rasanya sangat berat bagi saya untuk memaafkannya. Derita umat Islam di Lampung dalam Kasus Warsidi, jerit tangis anak yatim dan janda-janda dari para Mujahid Da’wah yang menjadi korban pada peristiwa Tanjung Priok, dan peristiwa lain yang memposisikan umat Islam sebagai korban, sampai saat ini masih begitu terdengar dan sangat menyayat hati. Ironisnya, terhadap kasus-kasus itu tak sepatah katapun terlontar kalimat “maaf” dari Soeharto, baik ketika masih menjabat sebagai Presiden maupun ketika Soeharto sudah tidak menjabat sebagai presiden. Kedekatan Soeharto kepada Islam di akhir masa kekuasaannya, sebagaimana telah diulas oleh bang yim tadi, seharusnya dibarengi dengan mengadakan silaturahmi kepada keluarga-keluarga korban keganasannya. Dengan begitu derita korban pada peristiwa-peristiwa tersebut minimal bisa terobati.

  26. aminullah mawardi (komentar #56)

    selamat jalan “bapak pembangunan” kami bangsa indonesia selalu mendoakan mu

  27. Syam Jr (komentar #57)

    Aku Sungguh Berduka.
    Bertepatan dengan hari wafatnya Pak Harto tercinta, seminggu yang lalu, di kampoeng aku telah pula berpulang ke rahmat Allah SWT, si fulan bin fulan. Almarhum adalah warga biasa, dia adalah dia, bukan pejabat bukan pula orang jahat. Tanpa kerepotan berlebihan, jenazah diselenggarakan dengan seksama, banyak kerabat melayat termasuk aku melakukan takziah menyampaikan dukacita.
    Selesai dimandikan, dikafan, disholatkan, diantar kepemakaman hanya dengan usungan keranda tanpa mobil dengan sirene tolat tolet. Karena memang didesa yang jalannya tidak dapat masuk mobil.
    Ketika jenazah masuk keliang lahat dikumandangkan azan diiringi pembacaan surah Yaasin. Keluarga dan kerabat nampak tabah menghadapinya realitas kematian sebagai bagian dari perjalanan menuju keabadian. Tangis meski tanpa air mata memang manusiawi adanya.
    Eh, maaf ada satu yang terlewatkan, ketika sholat jenazah dan imam selesai mengucap salam, pada saat itu oleh ustaz ditannyakan kepada seluruh hadirin. Apakah si fulan yang meninggal ini adalah orang yang baik. ”choir” jawab jamaah. Ditanyakan tiga kali dijawab tiga kali. Ada testamen yang menyatakan bahwa almarhum adalah orang yang baik.
    Upacara ditutup dengan khutbah talqien, doa dan tabur bunga seadanya. Semuanya serba biasa, almarhum mulai menjalani kehidupan yang lain. Yang luar biasa adalah mereka yang masih hidup seperti saya saat ini.
    Menjadi luar biasa karena ada saja yang memberi komentar kepada yang sudah almarhum. Komentarnya itulah yang menimbulkan konflik dan nyaris insiden. Anda ingin tahu bagaiama sih komentar yang nyaris menimbulkan baku bacok di kampung saya. Entah karena terobsesi penyataan para ”tokoh” di teve maupun koran.
    Dengan nada minor, si Fulin ngomong ” ya sebaiknya beliau kita ampuni saja” begitu lagaknya seperti komentar ketua partai habis bezuk ke RSPP. Rupanya omongan ini sampai pula ketelinga kerabat dan terus merambat ke ahli waris almarhum.
    Selanjutnya anda bisa menebak bahwa keluarga almarhum minta penjelasan akan yang dimaksud dengan ”diampuni saja” dan siapa saja ”kita” itu tadi. ” Sejak jaman reformasi dia selalu menghujat orang tua kami, mengatakan tanahnya diserobot tetapi tidak bisa membuktikan apapun di pengadilan, meski sejari miringpun dia tidak bisa memberi bukti apa apa, mengapa terus menyebar fitnah bahkan ketika orang tua kami sudah tiada.
    Kalau kalah dipengadilan karena tidak punya bukti kenapa mengatakan pengadilannya yang nggak becus. Memangnya dia nggak punya dosa? Memangnya dia tuhan…apa…setan sih. Begitulah omelan yang namanya orang lagi marah.
    Sang Ustaz yang dengan sabar mendengarkan curhat itu kemudian membacakan beberapa ayat yang aku tidak paham. Penawar dingin rupanya. Tapi sepertinya sang ustaz wejangkan makna tentang mengambil hikmah, memberikan keteduhan, kharisma sabar, sabar dan sabar.
    ”Kalau seseorang menuduhkan perbuatan munkar dan dia tidak bisa membuktikannya maka dia akan bertanggung jawab di akhirat kelak, semuanya akan dihitung, ditimbang dan diganjar oleh yang maha adil. Jika itu fitnah maka seluruh dosa orang yang dituduhnya akan ditanggung oleh mereka yang memfitnah”.
    Maka serahkanlah seluruh urusannya kepada Allah Maha Pengadil. Malam harinya akupun tidak bisa tidur, karena pada waktu takziah ketika almarhum terbaring sakit, tak sempat terucap mohon maaf kepada beliau. Aku sungguh berduka. (Syam Jr )

  28. UTUH (komentar #58)

    SATU AYAT.

    Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri melainkan telah tertulis didalam kitab sebelum kami mewujudkannya.
    Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.
    “alhadid 22″

    Semua telah ditakdirkan di suatu data yang berisi catatan aksi reaksi sempurna. Data yang berisi ilmu pengetahuan yang terus kita coba singkap tabirnya. Mustahil ataupun logis telah ada jawabannya.
    Sample and simple, air yang turun dari langit karena malaikat yang diberi nama mikail diperintahkan untuk menurunkannya ataupun karena kita tahu itu hasil dari penguapan air di bumi ini dan element lainnya yang berkumpul diatas sana kemudian bereaksi menjadi air hujan.
    Maka, jika kita ingin hasil yang kita inginkan hasilnya. Tentunya kita harus berusaha dengan :
    end - pasrah dan ber doa kepada pencipta hasil yang kita inginkan itu ataupun start - tawakkal dan ber aksi dengan kemampuan kita yang ada untuk mendapatkan hasil ciptaan yang diinginkan.
    Ada apa dengan banjir yang yang melanda tempat kita berada yang membuat anda basah kuyup tersiram terendam air. semuanya tidak luput dari pengabulan doa, permintaan kita dengan usaha kita sendiri pada tindakan alam sekitar kita.

    What do you can, with what you have, where you are.

    KITA JADIKAN HARI ESOK LEBIH BAIK DARI BENCANA MASA LAMPAU YANG TAK KITA INGINKAN. “PERJUANGAN DAN DOA”.

  29. UTUH (komentar #59)

    SALE AUCTION PERSONAL COLLECTION POSTAGE STAMP
    SUHARTO PICTURES + 95 JENIS PERANGKO DARI TAHUN 1960 AN
    HARGA MAX : RP.480.000,-
    saya serahkan semuanya pada anda yang lebih mengerti tentang perangko “kolektor perangko”
    SMS : 0511.8803889

  30. Hendra (komentar #60)

    Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabaraktuh,.

    Pa Yusril, waktu anda menjadi pengetik naskah pidato mantan presiden Soeharto -maaf kalau slah pemilihan kata. apa murni dari pemikiran anda atau ada intervensi dari mensesneg atau dari pak Harto??? sempat belajar ilmu politik juga gak?? gimana sih ceritannya sampai bisa masuk lingkaran istana??? terima kasih. semoga bapak sekeluarga Selalu dilimpahi rahmat dan barokah dari ALLAH SWT. doakan saya juga ya hehehehe. Assalamu’alaikum Warahmatullah Wabaraktuh…

Pages: « 1 [2] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda