Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Dua mantan Presiden kita telah meninggalkan kita semua. Bung Karno wafat pada tahun 1970 dan Pak Harto baru saja wafat pada tahun ini.
Seseorang menjadi Presiden di negara sebesar negara kita, tentulah bukan orang biasa. Walaupun berusaha dan berjuang sekeras mungkin, pada akhirnya takdir Allah Ta’ala jua yang akan menentukan apakah seseorang terpilih menjadi presiden atau tidak. Bung Karno dan Pak Harto adalah dua presiden kita. Keduanya telah memimpin bangsa dan negara kita. Keduanya juga telah memberikan sumbangsih yang besar dalam membangun bangsa dan negara. Namun sebagai manusia, keduanya juga tak luput dari kekurangan, kekeliruan dan kesalahan. Kesempurnaan hanyalah milik Allah. Tiada manusia yang sempurna.
Kemangkatan dua mantan Presiden kita, sama-sama menyisakan persoalan hukum yang tak pernah terselesaikan hingga wafatnya. Persoalan hukum itu akhirnya selesai dengan sendirinya, karena segala tuntutan pidana terhadap seseorang gugur demi hukum dengan wafatnya orang yang bersangkutan. Kalau kita kembalikan persoalan ini kepada prinsip hak asasi manusia, maka keduanya harus dianggap tidak bersalah. Asas praduga tak bersalah mengajarkan kepada kita, bahwa seseorang harus dianggap tidak bersalah, sampai ada putusan final pengadilan yang diktumnya menyatakan orang yang bersangkutan bersalah. Karena itu, baik Bung Karno maupun Pak Harto dua-duanya haruslah dianggap tidak bersalah. Selamanya takkan pernah ada putusan pengadilan yang akan menyatakan kedua beliau bersalah. Kedua beliau telah meninggalkan kita semua. Tidak akan pernah ada peradilan pidana terhadap kedua beliau. Tuntutan perkara telah gugur demi hukum.
Kita tentu tidak ingin nama baik, harkat dan martabat Bung Karno maupun Pak Harto menjadi pertanyaan selamanya. Untuk itu, hanya ada satu kemungkinan yang dapat dilakukan oleh Presiden yang sedang memerintah, yakni merehabilitasi nama baik, harkat dan martabat kedua pemimpin bangsa itu. Rehabilitasi bukanlah memberi maaf atau memberi pengampunan. Rehabilitasi adalah tindakan memulihkan nama baik, harkat dan martabat seseorang yang mungkin telah tercemar, atau telah menimbulkan keragu-raguan apakah seseorang itu bersalah atau tidak atasdugaansuatu tindak pidana. Berbeda dengan memberi grasi yang hanya dapat dilakukan Presiden kalau telah ada putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukukm yang tetap, maka memberikan rehabilitasi tidak harus terikat dengan hal itu. Memberi rehabilitasi dapat dilakukan Presiden dengan atau tanpa permohonan yang bersangkutan, keluarganya atau penasehat hukumnya. Hanya satu syarat yang harus dipenuhi Presiden, sebagaimana diatur dalam Pasal 14 UUD 1945, yakni keharusan untuk memperhatikan pertimbangan Mahkamah Agung, sebelum mengambil keputusan memberikan rehabilitasi.
Saya kira, Mahkamah Agung takkan keberatan memberikan pertimbangan yang mendukung keinginan Presiden untuk merehabilitasi Bung Karno maupun Pak Harto. Pertimbangan seperti itu telah pernah diberikan Mahkamah Agung pada tanggal 12 Me1 2006, ketika ada rencana Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk memberikan rehabilitasi kepada Bung Karno dan Pak Harto. Pada waktu itu, Presiden “mengendapkan” rencana memberikan rehabilitasi itu, mungkin mempertimbangkan reaksi pro dan kontra di dalam masyarakat. Kini setelah Pak Harto wafat, maka keputusan untuk memberikan rehabilitasi atau tidak memberikannya, sepenuhnya terletak di tangan Presiden SBY. Pada hemat saya, sebaiknya Presiden SBY memberikan rehabilitasi itu, agar seluruh rakyat tidak ragu-ragu lagi mengakui jasa-jasa yang telah diberikan oleh kedua mantan Presiden itu kepada bangsa dan negara.
Setelah rehabilitasi diberikan, sebaiknyalah Presiden memprakarsai pembentukan sebuah panitia negara, untuk menyusun buku putih tentang dugaan pelanggaran hukum yang telah dilakukan oleh Bung Karno dan Pak Harto, dengan berpedoman kepada Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 yang berisi perintah kepada Pejabat Presiden Soeharto untuk mengambil langkah hukum kepada Bung Karno, dan Ketetapan MPR Nomor XI/1998 yang antara lain berisi harus ada langkah hukum yang tegas terhadap kasus KKN yang melibatkan mantan Presiden Soeharto. Ketetapan MPRS Nomor XXXIII/MPRS/1967 sekarang ini sudah tidak berlaku lagi, apalagi Bung Karno sudah wafat. Sejauh mengenai Pak Harto, ketentuan Pasal 4 Ketetapan MPR Nomor XI/MPR/1978 juga otomatis tidak berlaku pula dengan wafatnya beliau. Buku Putih itu disusun untuk mengungkapkan fakta-fakta yang diduga sebagai tindak pidana, baik yang dilakukan Bung Karno maupun Pak Harto, disertai dengan analisis hukum atas fakta-fakta itu. Pengungkapan semua ini dilakukan untuk menjadi bahan renungan dan bahan pelajaran agar kita mampu menata kehidupan bangsa dan negara, agar hal seperti itu tidak terulang kembali di masa depan.
Bangsa kita haruslah belajar pada sejarahnya sendiri. Bangsa kita harus berjiwa besar mengakui keunggulan dan keberhasilan yang telah dicapai oleh pemimpin-pemimpinnya di masa lalu, dan berani pula mengakui kekurangan, kekeliruan dan kesalahannya. Apa yang baik wajib diteruskan dan ditingkatkan lagi. Apa yang kurang, keliru dan salah harus diperbaiki agar tidak terulang lagi. Dengan demikian, kita tidak lagi salah menyalahkan, apalagi hujat menghujat yang hanya akan mengabadikan dendam dan kebencian. Perasaan seperti itu sungguh tidak sehat dalam membangun sebuah bangsa menuju keadaan yang lebih baik. Bung Karno dan Pak Harto adalah pemimpin pada zamannya, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Setiap pemimpin wajib kita hormati dan kita kenang jasa-jasanya. Segala kesalahan dan kekeliruannya wajib pula kita maafkan, lebih-lebih ketika mereka telah tiada.
Perjalanan bangsa dan negara kita ke depan masih sangat panjang. Kita memerlukan pemimpin bangsa yang tegas, berani dan tidak ragu-ragu mengambil keputusan. Pemimpin harus menunjukkan jalan apa yang terbaik yang harus diambil oleh bangsanya, untuk menuju ke masa depan yang lebih baik. Persoalan hukum Bung Karno dan Pak Harto adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh Presiden dengan segala risiko yang mungkin akan terjadi. Mungkin Presiden tidak populer dengan keputusannya. Namun berikan kesempatan kepada rakyat untuk berpikir dan merenung tentang langkah Presiden, untuk kemajuan bangsa dan negara ke depan. Presiden harus bertindak sebagai guru bangsa yang mendidik rakyatnya, agar menghormati dan mengenang jasa pemimpin di masa lalu dan memaafkan kesalahannya. Presiden bukanlah orang biasa. Dia adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kewibawaan dan kearifan yang lebih dibandingkan dengan rakyat biasa. Karena itulah dia dijadikan pemimpin untuk memperbaiki nasib banganya di masa kini, dan membawanya ke arah yang lebih baik di masa depan.
Akhirnya, semuanya kita serahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil keputusan.
Wallahu’alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 29th, 2008
55 tanggapan untuk “REHABILITASI BUNG KARNO DAN PAK HARTO”
Pages: [1] 2 » Show All
Iwan Asnawi (komentar #1)
Yth: YIM
Terima kasih… telah mengungkapkan bagian ini, “berikan kesempatan kepada rakyat untuk berpikir dan merenung tentang langkah Presiden, untuk kemajuan Bangsa dan Negara ke masa depan yang lebih baik”.
Tapi, saya kira SBY… “belum ada waktu, untuk berpikir dan merenung. Masih…berkabung…”. Presiden kan banyak penasihat, he…he…
Jadi belum memutuskan, apakah harus melangkah ke depan? Atau mundur ke belakang? Dan atau malah “maju-mundur” jalan di tempat. Kan, didalam “keprajuritan” ada istilah, “jalan di tempaaaat, gerak!”…
Dari renungan seorang rakyat
Wassalaaam…
January 30th, 2008 at 12:31 am
Bimo (komentar #2)
Pak Yusril,
Saya kira SBY harus memahami bahwa keputusan apapun yang diambil seorang pemimpin tidak akan bisa memuaskan hati semua orang. Pasti ada pro-kontra. Tapi hal ini tidak boleh dijadikan alasan untuk tidak mengambil keputusan, karena seorang presiden bukan banci.
Saya pernah berdiam 6 tahun di Malaysia. Sejujurnya, saya respek dengan cara Mahathir Mohamad mengambil keputusan. Tak pernah ada keraguan, bahkan siap menyerang siapa saja yang meragukan keputusannya. Dia pernah bilang: “Bagi saya, pertahanan terbaik adalah dengan menyerang balik.” Tak heran, Mahathir menggemari lagu “My Way”, yang mungkin bisa menggambarkan kekerasan hati dan kekuatan prinsipnya dalam memutuskan sesuatu.
Tentu jauh kalau mau membandingkan keberanian Mahathir dengan SBY yang notabene seorang jenderal.
Keputusan merehabilitasi Soekarno mungkin perkara ringan bagi SBY, tapi merehabilitasi Soeharto lain ceritanya. Resiko pro-kontra yang akan muncul dari masyarakat bisa jadi sangat memberatkan SBY yang legacy-nya selama ini bertumpu pada tebar pesona. Jangankan soal merehabilitasi Soeharto, ketika memberhentikan Anda pun SBY tunduk pada desakan opini publik.
Mungkin akan lebih aman bagi SBY untuk membiarkan pro-kontra soal Soeharto ini berlarutan selama paling tidak 10 tahun. Pengganti beliaulah yang nanti akan beres-beres cuci piring. Siapa dia? Saya tak mau berspekulasi :-)
January 30th, 2008 at 12:37 am
masagus (komentar #3)
Assalamu’alaikum wr. wb
Pak Yusril yth.
sebagai orang yang buta istilah hukum, saya banyak mengikuti perkembangan perkembangan berita asing, yang kontributornya juga orang indonesia sendiri. menyebut mantan presiden indonesia sebagai mantan diktator. Kira2 tepatkah istilah tersebut?
berikut ini saya kutipkan pernyataan indonesianis dari UNiversitas Nasional Australia (ANU), bahwa penyebutan mantan diktator kepada alm. Mantan presiden soeharto bisa menyebabkan kekeliruan pemahaman pembaca dan pemirsa seperti di link berikut :
http://www.antara.co.id/arc/2008/1/15/pengamat-asing-menyesatkan-sebutan-soeharto-mantan-diktator/
Terima kasih
Wassalam
Setiap orang bebas saja berpendapat dan memberikan penilaian terhadap seseorang, apalagi mantan Presiden Soeharto. Ada yang berpendapat bahwa beliau adfalah seorang diktator. Orang lain mungkin pula akan berpendapat sebaliknya. Hal demikian adalah lumrah dalam kehidupan demokrasi. Dalam dunia ilmu pengetahuanpun keadaannya hampir sama. Setiap akademisi akan menganalisis sesuatu fenomena dengan bertitik tolak dari kerangka teori tertentu, asumsi-asumsi tertentu, dan sejauh mana dia berhasil menghimpun data yang relevan dengan topik kajiannya. Kesimpulan mereka bisa sama, bisa pula berbeda. Hal demikian biasa terjadi dalam dunia ilmu-pengetahuan.(YIM)
January 30th, 2008 at 2:41 am
namora (komentar #4)
Pak Yusril,
Menurut saya pemberian rehabilitasi kepada kedua mantan presiden tersebut adalah inisiatif yang baik. Cepat atau lambat tidaklah menjadi masalah. SBY atau bukan yang merehabilitasinya juga bukan menjadi soal.
Tapi jika inisiatif tersebut mau dijalankan sekarang, hendaknya bersegeralah dilakukan oleh SBY sebelum menimbulkan polemik yang berkepanjangan dan menghabiskan waktu serta tenaga. SBY harus tegas memutuskan, karena sekarang sepertinya sedang pada puncaknya masyarakat memberikan perhatian kepada almarhum Pak Harto. Tapi jika SBY memang tidak dapat tegas, sebaiknya ‘lupakan’ saja, dan SBY dapat mengerjakan hal-hal lain yang masih banyak dengan caranya yang (sepertinya) penuh perhitungan dan terkesan lamban. Ini semua ujungnya pada keberanian dan ketegasan seorang SBY.
Meskipun pemberian rehabilitasi adalah bagus, sepertinya hal tersebut tidaklah memberi benefit yang besar dan nyata bagi kehidupan bangsa. Mungkin ada benefitnya sebagai penghargaan dan juga pembelajaran bagi bangsa. Tapi jauh dari itu semua, sebenarnya di lubuk hati yang terdalam dari seluruh rakyatnya telah tersimpan citra tersendiri terhadap kedua mantan presiden kita tersebut. Meskipun kadang citra tersebut bisa benar dan kadang juga bisa salah.
January 30th, 2008 at 8:27 am
Vavai (komentar #5)
Saya sependapat dengan opini pak Yusril. Jika rehabilitasi ini hanya menjadi wacana dan dilempar ke publik, niscaya akan selalu ada pro kontra. Media juga akan menangkapnya sebagai berita yang layak jual. Pada akhirnya, tidak ada penyelesaian untuk masalah ini.
Kemungkinan terburuk dari rehabilitasi dimaksud adalah turunnya popularitas SBY. Jangan lupa juga bahwa opini publik biasanya dibentuk oleh dinamika pemberitaan media. Bisa saja sekarang SBY didorong untuk memberikan rehabilitasi maupun untuk memberi maaf, tapi begitu hal tersebut dilakukan, yang terjadi adalah cercaan dan makian pada SBY.
Tapi ini tak masalah. Seorang pemimpin harus berani mengambil keputusan, meski itu tidak populer sekalipun. Jangan takut juga jika rehabilitasi dianggap meniadakan dan menghalangi proses penyelidikan pada koruptor yang selama ini menikmati harta kekayaan dimasa pak Harto berkuasa. Ingat, rehabilitasi ini dibatasi pada personal Pak Karno dan Pak Harto, bukan kroninya.
Jika masalah ini diendapkan sampai pemilu mendatang (siapa tahu bisa terpilih lagi), SBY akan selalu dikenang sebagai pemimpin yang ragu-ragu dan terkesan cari selamat.
Masalah pak Harto dan Pak Karno menyita dan menguras debat sesama anak bangsa, yang mungkin akan kontra produktif dengan upaya memperbaiki kondisi sosial ekonomi dimasa mendatang. Jika debat itu menghasilkan konsensus, tentu bermanfaat, tapi jika debat itu hanya menjadi debat kusir berkepanjangan tanpa ujung, sayang sekali rasanya.
January 30th, 2008 at 8:27 am
Mardias Gufron (komentar #6)
Saya sangat setuju dengan pendapat Pak Yusril tentang perlunya rehabilitasi Bung Karno dan Pak Harto. Bahkan lebih dari itu, bagi saya para tokoh nasional yang telah “berjasa” bagi bangsa ini sudah selayaknya mendapatkan penghargaan dan penghormatan atas jasa-jasa mereka, sebab mereka telah memberikan kontribusi yang sangat besar bagi republik ini. Memang dalam perjalanan republik ini telah banyak tokoh-tokoh negarawan yang telah ikut mewarnai sejarah panjang bangsa ini, namun mereka tidak mendapatkan penghormatan yang layak atas jasa-jasa mereka. Diakui memang banyak pula kesalahan dan dosa-dosa politik yang telah mereka lakukan dalam memainkan peranannya sebagai negarawan. Namun itu semua terjadi bukan semata-mata faktor individu tokoh-tokoh tersebut, -saya yakin tokoh-tokoh tersebut merupakan para nasionalis sejati yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini- tetapi lebih banyak disebabkan kondisi dan situasi aktual perpolitikan yang sedang mereka hadapi. Bukan hanya Bung Karno dan Pak Harto yang perlu direhabilitasi namanya tetapi juga para founding fathers bangsa ini juga mempunyai andil besar bagi lahirnya republik ini. Pak Natsir, Pak Syaf, Pak Burhanuddin, bahkan Kartosuwiryo, sekedar menyebut beberapa nama besar tokoh negarawan yang layak pula direhabilitasi namanya. Perlu kembali dilakukan retrospeksi sejarah bangsa ini, agar kita bisa menempatkan para tokoh bangsa yang telah berperan besar bagi kemerdekaan bangsa ini secara layak. Wallahu’alam.
Terima kasih atas masukannya. Patut untuk kita renungkan bersama (YIM)
January 30th, 2008 at 10:00 am
Ardi (komentar #7)
Mohon maaf bang Yusril, bukankah Bung Karno wafat pada tahun 1970, dan bukan 1971?. Terimakasih.
Ya. Terima kasih atas koreksinya. (YIM)
January 30th, 2008 at 11:29 am
Nasrullah (komentar #8)
Bung Karno sudah wafat, Pak Harto baru saja meninggal dunia, saya kira rehabilitas nama itu perlu. Tapi mungkin untuk rehabilitas Bung Karno dulu, Pak Harto saat ini masih pro dan kontra dan tanah pekuburannya masih merah. Tapi menurut bang YIM kalo sekarang direhabilitas apakah tidak menimbulkan pihak tertentu mendulang untung banyak, terutama untuk kematian Pak Harto??
Saya kira lebih baik buku putihnya dulu, dan itu menunjukkan “….pemimpin bangsa yang tegas, berani dan tidak ragu-ragu mengambil keputusan.” Anggap saja buku putih itu sebuah pengadilan terhadap pemimpin kita di masa lalu dan setelah itu, kalau pemerintah mau merehabilitas nama Bung Karno dan Pak Harto saya kira akan lebih objektif.
Bagaimana pendapat bang YIM
Bisa saja. Semuanya kita kembalikan kepada Presiden (YIM)
January 30th, 2008 at 7:44 pm
Risvi Khoumeiny (komentar #9)
jika mengacu pada prinsip hak asasi manusia, mengapa petrus tidak pernah diungkap ke permukaan? seolah-olah semuanya setuju dengan tindakan yang justru tidak sesuai dengan prinsip hak asasi manusia. sangat berbeda dengan mencuatnya kasus priok.
lalu, mengapa jika ada seorang mantan pejabat tinggi (yang sudah mangkat ataupun tidak) dituntut, kemudian yang muncul adalah “asas praduga tak bersalah”? bahkan, salah satu contoh, seorang gubenur BI yang menjadi tersangka-pun tidak ditahan. bukankah statusnya sudah “tersangka”? lalu mengapa seseorang yang menjadi tersangka di daerah saya langsung ditahan? dimana letak keadilannya?
Jika sama-sama berbuat kesalahan, apa keadilan bagi seorang yang berstatus pemimpin itu berbeda dengan seorang yang berstatus rakyat?
January 31st, 2008 at 12:42 am
Fakhrurrozy (komentar #10)
Assalamu’alaikum Pak Yusril,
Alhamdulillah, apa yang Bapak ungkap lewat tulisan ini semestinya bisa membuka mata kita, lebih-lebih mata hati kita, warga negara dan rakyat yang pernah dipimpin oleh kedua Mantan Pemimpin di atas yang kini telah tiada. Sungguh, manusia itu adalah sosak yg tidak terjaga dari khilaf dan dosa, Namun sebaik-baiknya manusia adalah yg senantiasa mau dan terus memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik. Negara ini tidak akan bangkit, jika tiap-tiap diri hanya menyuburkan rasa sakit di hati, rasa dendam, dan tidak melatih diri untuk bersabar dan berjiwa besar dalam mengahdapi setiap persoalan serta tidak terpanggil untuk melakukan sinergi satu sama lain (dengan masing-masing spesialisasi yg dikuasai tiap orang). Karena sesungguhnya, Negara ini tidak hanya dibangun oleh seorang yg sudah diamanahkan padanya kekuasaan untuk memimpin, namun sesungguhnya dibangun bersama oleh setiap komponen rakyat dari segala lapisan strata sosial.
Saudaraku,
Mari bersama-sama membangun indonesia, agar menjadi negeri yang dicintai dan diridhoi ilahi dengan memulainya dari diri sendiri.
Terima kasih kepada Pak Yusril Ihza Mahendra atas kesempatan yang diberikan untuk berbagi pandangan di ruang ini.
Wallahu a’lam
Wassalam
January 31st, 2008 at 8:56 am
arif rahman (komentar #11)
“Kita memerlukan pemimpin bangsa yang tegas, berani dan tidak ragu-ragu mengambil keputusan. Pemimpin harus menunjukkan jalan apa yang terbaik yang harus diambil oleh bangsanya, untuk menuju ke masa depan yang lebih baik. Persoalan hukum Bung Karno dan Pak Harto adalah sesuatu yang harus diputuskan oleh Presiden dengan segala risiko yang mungkin akan terjadi. Mungkin Presiden tidak populer dengan keputusannya. Namun berikan kesempatan kepada rakyat untuk berpikir dan merenung tentang langkah Presiden, untuk kemajuan bangsa dan negara ke depan. Presiden harus bertindak sebagai guru bangsa yang mendidik rakyatnya, agar menghormati dan mengenang jasa pemimpin di masa lalu dan memaafkan kesalahannya.Presiden bukanlah orang biasa. Dia adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kewibawaan dan kearifan yang lebih dibandingkan dengan rakyat biasa. Karena itulah dia dijadikan pemimpin untuk memperbaiki nasib banganya di masa kini, dan membawanya ke arah yang lebih baik di masa depan. Akhirnya, semuanya kita serahkan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk mengambil keputusan.”
saya tergelitik dengat pandangan bapak diatas.
mudah2an Pak SBY membaca pernyataan ini ya. karena ada harapan yg baik untuk presiden SBY dari bapak YIM, dan belum terlaksana :)
tapi harus disadari. menjadi pelaku sebagai pemimpin, jauh lebih sulit dan kompleks dari pada sekedar orang yang mengamati dan menasehati.
mungkin bapak YIM masih berkenan untuk mencoba merealisasikan harapan diatas lewat teladan langsung. pemilu 2009 bisa dicoba pak. dalam Islam kan, niat yang baik dan ikhlas disertai usaha yg benar (gagal atau berhasil) sudah menjadi tabungan akhirat :). mudah2an lewat kampanye bapak YIM bisa bertindak sebagai guru bangsa yang mendidik rakyatnya :)
gimana pak? :)
January 31st, 2008 at 10:25 am
v-jay (komentar #12)
pembaca setia blog ini :)
January 31st, 2008 at 1:19 pm
Zulkar9 (komentar #13)
Karena kedua Pemimpin besar ini telah tiada dan menjadi bagian Sejarah Indonesia, utk memberikan penilaian tentu ada pro dan kontra karena generasi yg ada sekarang masih dapat mengenal beliau2 tsb, biarlah penilaian itu nanti kita dapatkan setelah beberapa generasi kedepan yg akan menilainya,itu akan lebih baik dan obyektif.
February 1st, 2008 at 3:43 pm
ainun abdullah (komentar #14)
pak yusril, apa yang disampaikan mas arif rohman saya pikir perlu direnungkan.kalau memang ada kesempatan kenapa tidak di coba. berhasil apa tidak? kita hanya dikasih wewenang untuk ikhtiar. selamat mencoba.
February 2nd, 2008 at 1:49 pm
marjuki (komentar #15)
Aku salah satu orang yang mengagumi bang Yusril…
dengan apa yang disampaikan mas arif rohman saya pikir perlu direnungkan.kalau memang ada kesempatan kenapa tidak di coba. berhasil apa tidak? kita hanya dikasih wewenang untuk ikhtiar. Allah melihat apa yang dilakukan hamba-Nya itu dari niat yang baik, ikhtiar yang baik, dan berdo’a yang baik. masalah hasil itu wewenang Allah sepenuhnya…
Semoga ridlo Allah selalu bersama kita.Amien…
February 3rd, 2008 at 1:07 pm
arif rahman (komentar #16)
terlepas dari kagum atau tidak kagum.
saya pikir, bang YIM bisa kongkrit menjadi sebagai guru bangsa yang mendidik rakyatnya :) walaupun “hanya” dengan berkampanye yg sehat dan mencerdaskan. :)
dan satu lagi. untuk pembuktian juga. seperti yg saya katakan sebelumnya “menjadi pelaku sebagai pemimpin, jauh lebih sulit dan kompleks dari pada sekedar orang yang mengamati dan menasehati ”
mudah2an dipertimbangkan :)
arif rahman (dengan “a” bukan “o” ) :)
February 3rd, 2008 at 10:14 pm
Gembul (komentar #17)
@Bang, sedikit ku kutip bagian ini:
“Presiden bukanlah orang biasa. Dia adalah manusia yang memiliki kecerdasan, kewibawaan dan kearifan yang lebih dibandingkan dengan rakyat biasa”
karena inikah abang mundur saat itu, & menyerahkan nya kepada org yg lebih cerdas,berwibawa & arif????..sepertinya janggal bang, sorri bang!
Kalau yang dimaksud saya mundur dalam pencalonan tahun 1999, bukan itu faktor pertimbangannya. Waktu itu banyak sekali tekanan agar saya mundur. Insya Allah Tahun 2009, setelah 10 tahun kemudian, saya akan maju lagi, he he… (YIM)
February 5th, 2008 at 4:12 am
bangzenk (komentar #18)
@YIM di komentar#17
saran.. “he he…” -nya di hilangkan.. biar tidak terkesan bercanda..
sejujurnya saya termasuk yang kecewa abang mundur di tahun 1999, karena satu-satunya yang bisa saya percayai bahkan sebagian dari anak bangsa masa itu banyak menaruh harap adanya perubahan andaikata abang terpilih.
bila mengaca pada kondisi saat ini yang luar biasa banyak perubahan di iklim perpolitikan, saran saya abang tidak jalan sendiri, melainkan bersama-sama partai islam lainnya membangun kekuatan yang utuh. sehingga, ketakutan masyarakat awan atau sikap antipati mereka mulai berkurang. bukankah itu yang Pak Natsir inginkan dahulu? persatuan islam yang utuh secara politik..
salamhangat,
-ditengahRinduIndonesia-
February 5th, 2008 at 6:51 pm
Gembul (komentar #19)
serius Bang??, Itu baru seru bro!!. setidaknya dari sekian juta suara bang YIM sdh dapet jaminan 1 suara mutlak!! he.he.. sisanya entar kita cariin bro!, yg penting ok dulu buat jaminan kita-kita.
February 7th, 2008 at 1:41 pm
Pengembang Web IF (komentar #20)
Assalaamu’alaikum.
Pak Yusril,
Dalam batas tertentu, pernyataan “presiden bukan orang biasa” itu pantas dan bisa saya terima. Tetapi, sungguh heran membaca pernyataan itu Bapak tulis sampai dua kali, apalagi dikaitkan dengan judul tulisan ini. Jika artinya mau ditafsirkan sesukanya, setiap orang di dunia ini pun tentu “bukanlah orang biasa” dibandingkan orang lain, bahkan saudara kembarnya sekalipun. Janganlah “terlalu” membesar-besarkan presiden, apalagi kalau ia tidak semulia khalifah yang taqwa, amanah dan disukai rakyat. Keberhasilan memenangkan kompetisi sehingga terpilih menjadi presiden RI itu sendiri sama sekali tidak bisa dijadikan alasan hingga menghilangkan kewajiban kita sebagai rakyat untuk menilai atau meluruskan pemimpin. Kalaupun maksudnya mengadu keunggulan duniawi semata-mata, level keberhasilan itu pun “cuma” nasional, bukan? Apa lebih hebat dibandingkan pemimpin organisasi dunia, negara maju, bahkan juara dunia tinju kelas berat? Apakah jabatan presiden RI itu prestasi tertinggi di dunia ini dan boleh bersombong?
Begitu pun atas komentar saudara Arif Rahman yang senada. Dia juga menuliskan dua kali, “menjadi pelaku sebagai pemimpin, jauh lebih sulit dan kompleks dari pada sekedar orang yang mengamati dan menasehati.” Betul, memangnya siapa yang tidak menyadari itu? Jadi, apa motif dan tujuan menyatakannya sampai-sampai diulangi? Konsekuensi memilih menjadi “pelaku” tentunya mempertanggungjawabkan kelakuannya. Yang berhak menilainya di dunia ini tentunya siapa lagi kalau bukan orang lain. Sekarang mari kita pertanyakan sebaliknya. Apakah penonton, wasit, bahkan presiden, yang sekedar mengamati dan menasehati seorang pemain sepakbola nasional itu merasa bahwa menjadi pemain sepakbola yang hebat itu gampang dan sederhana? Saya suka komentar Gembul yang mengena. Kalau Pak Yusril merasa lebih cerdas, berwibawa dan arif dibandingkan dengan calon presiden lain, mengapa mundur dari pencalonan pada tahun 1999. Karena banyak sekali tekanan? Nah, sudah jelas ‘kan bahwa di RI ini, seseorang bisa menjadi presiden dengan modal menekan-nekan? Kalau begitu, sekali lagi, apanya yang hebat?
Soal rehabilitasi Bung Karno dan Pak Harto, menurut kesimpulan saya secara pribadi, tidak perlu. Saya memang tidak berilmu untuk berargumentasi menurut hukum Islam maupun hukum positif. Melihat gelar-gelar yang Bapak sandang, tidak diragukan lagi bahwa Bapaklah salah seorang yang seharusnya berkompeten mempertimbangkannya dengan dasar-dasar yang jelas. Namun, setahu saya, pengajar dan pembelajar ilmu hadits pun tidak perlu lagi merehabilitasi perawi-perawi yang “dianggap” berdaya ingat lemah, pembohong atau tidak bisa dipercaya. Saya tidak tahu, apa dulu mereka pernah diadili untuk membuktikan benar-tidaknya “anggapan” itu? Bapak sendiri menyebutkan bahwa orang yang sudah meninggal tidak bisa diadili lagi, maka logikanya jelas sekali. Orang itu tidak bisa direhabilitasi. Benar-salahnya tidak terbukti. Jadi, konsisten sajalah sesuai pilihan:
a. Adili dg praduga tidak bersalah
—1 > terbukti tidak bersalah > rehabilitasi!
—2 > terbukti bersalah > laksanakan hukuman!
b. Tidak diadili > tidak pernah terbukti benar-salahnya > tidak ada rehabilitasi ataupun hukuman
—1 > pelajaran bagi yg masih hidup dg praduga tidak bersalah!
—2 > pelajaran bagi yg masih hidup dg praduga bersalah!
Bagaimana juga, setiap orang selalu punya kebaikan selama hidupnya, entah jasa, kontribusi, sikap atau apa pun yang dianggap berarti dan positif. Seberapa banyak penghormatan yang dapat diberikan kepada seseorang itu tergantung seberapa banyak juga kebaikannya setelah dikurangi kejahatannya. Selisihnya akan plus, impas atau minus? Tanpa diadili, cuma reka-reka semacam ini yang bisa dilakukan manusia, dan jelas hasilnya tidak akan pernah sama.
Terima kasih,
Irfan Fakhir
Saya mohon maaf, komentar anda terperangkap akismet dan baru hari ini saya ketahui. Tentu dari sudut pandang yang umum, Presiden hanyalah orang biasa. Saya hanya mengatakan dalam konteks tertentu seperti dalam tulisan saya, saya mengatakan bahwa Presiden “bukanlah orang biasa”. Terhadap pandangan anda yang lain, tidak apa-apa kalau ada perbedaan dengan pandangan saya. Terima kasih atas komentarnya. (YIM)
February 7th, 2008 at 8:19 pm
aditya (komentar #21)
#17 & 19.. Mas Gembul
saya sangat setuju dengan mas gembul… tapi kita lihat apa bang yusril konsisten dengan tulisannya di blog ini.. he.. he… dan jangan sampai abang mengulangi kejadian 10 tahun yang lalu… ha … ha….
February 7th, 2008 at 8:36 pm
Gembul (komentar #22)
Yo i Bro!,sampai hari ini sudah nambah satu suara lagi dari yg siap dimutalkkan he..he.., thx ki U bang Adit!
February 8th, 2008 at 9:27 am
Aday (komentar #23)
Hmm,, keputusan SBY udah tepat klo menurut saya..
Btw, sudilah kiranya pak Yuzril liat tulisan saya dan ngasih komen
http://parameswara.wordpress.com/2008/02/02/pujian-untuk-sby/
February 9th, 2008 at 11:36 am
Aday (komentar #24)
Aslm,,
Hmm,, keputusan SBY udah tepat klo menurut saya..
Btw, sudilah kiranya pak Yuzril liat tulisan saya dan ngasih komen
http://parameswara.wordpress.com/2008/02/02/pujian-untuk-sby/
February 9th, 2008 at 11:39 am
SAMARUDIN (komentar #25)
semoga ketemu pemimpin besar Indonesia yang ketiga, setelah Bung Karno dan Pak Harto. Semoga Bang Yusril saja, saya doakan.terima kasih
February 10th, 2008 at 1:43 pm
aditya (komentar #26)
Assalamualaikum Bang…..
udah beberapa hari ini saya lihat abang belum sama sekali menulis artikel terbaru, apa abang terlalu sibuk ya, sehingga kami tidak bisa menikmati tulisan-tulisan abang yang baru… he… he…
kalau dapat abang juga menulis bagaimana Indonesia kedepan, hingga kami sebagai penikmat blog abang ini mengetahui bagaimana Indonesia ke depan dari salah seorang kandidat RI-1 2009 -20014 mendatang..
bagaimanapun kami sebagai anak bangsa ini menginginkan secercah harapan dari para kandidat-kandidat Calon Presiden Ri masa mendatang, bukan hanya sekedar cuap-cuap dari para pengikutnya atau dari Partai yang menyatakan dirinya Mayoritas, tetapi pemimpin atau Calon dari Presiden tersebut tidak mempunyai Visi yang jelas terhadap masa depan bangsa ini, sebab apabila pemimpin tersebut tidak mempunyai Visi bagaimana ia dapat melaksanakan missi (kewajiban) nya dalam membangun bangsa Indonesia…
dalam negara yang maju (perekonomian) kandidat Presiden nya harus dapat menyampaikan visinya sehingga para pengikutnya mempunyai harapan terhadap perubahan bangsanya…. bukan hanya berdasarkan kefanatikan yang tidak memberikan pencerahan terhadap para pengikutnya tersebut…
kita dapat melihat bagaimana hari-hari terakhir ini pemberitaan media massa sangat gencar memberitakan pemilihan umum yang akan diadakan oleh Negara Amerika, dimana para kandidat memaparkan visinya terhadap negara yang akan dipimpinnya… dari penyampaian visi mereka tersebut maka dikemudian hari rakyat dapat menilai apakah kandidat Presiden tersebut telah melaksanakan visinya atau hanya sekedar pepesan kosong belaka.
sehingga rakyat dapat memilih dengan rasional bukan berdasarkan faktor emosional belaka..
terimakasih….
February 11th, 2008 at 12:07 pm
janzen dumai (komentar #27)
Salam Kompak !
buat semua komentator ,
Sorry …. biasaya komentator kan selalu lebih tauuuuu > hoa ha ha ha
contohnya komentator dari Pengembang Web IF, tau kali sekali dia dengan Presiden soeharto ? apa iya ?
Justru apa yang Pengembang Web IF sampaikan itulah yang sudah diuraikan oleh Bapak Yusril, pada prinsipnya saya sangat setuju dengan Bapak Yusril, maaf kalau boleh saya bilang ” ada seorang sarjana dia baru tamat tapi dia lihat orang semuanya bego ! tak tauanya orang yang yang dibilangnya bego itu adalah seorang profesor ” Kaciaaaan dech loe !
Ada lagi ceritanya ” ada seorang anak umur 8 tahun telah melihat dan mengetahui sesuatu yang baru dan hebat, lantas iya ngomong sama orang, ” aku baru lihat mahluk besar berkaki empat dan bertanduk lagi. dia ceritakan semuanya tentang mahluk itu ” dia omong besar , tapi dia tak tahu apa nama mahluk itu ? ………… itu namanya kerbau bego ! kata orang yang umurnya 32 tahun.
jadi sekali lagi saya sampaikan kepada semua bahwa kita adalah anak kemarin sore yang belum tahu secara lengkap dan benar sejarah bangsa ini, jadi berhentilah bersikap seolah olah kita sudah mengerti semua persoalan bangsa ini, contoh sederhana ” ada manusia yang katanya pemuka agama, matan ketua MPR RI, Dosen dan juga tahu dengan detil soal agama, tapi apa nyatanya setiap omongannya selalu berisikan cacian, cemoohan dan ejekan kepada orang lain, seolah-olah dialah yang mengetahui semua pesoalan bangsa ini, tapi ketika gagal jadi presiden katanya tak mau ikut campur urusan negara, eh………sekarang dia terus yang bising ! untunglah dia tak jadi presiden. Siapa dia ?
terus terang saya benci dengan orang yang tidak konsisten dengan omongannya dan omong sembarangan, dan agama juga mengajarkan kepada kita lebih baik diam, dari pada ngomong tapi memfitnah. renungkanlah!
February 16th, 2008 at 10:57 am
Pengembang Web IF (komentar #28)
@janzen dumai
Betul, diam itu lebih baik. Anda sendiri yang mengatakan “…dari pada ngomong tapi memfitnah”? Hmm.. maaf, sepertinya Anda memang lebih baik diam kalau belum bisa mencerna baik-baik komentar saya di atas, di mana ada pernyataan saya yg memfitnah? Silakan Anda sebutkan kalau ada.
Profesor itu tinggi ilmunya, bukan berarti pasti adil & bijaksana. Apa junjungan kita, Nabi Besar Muhammad SAW, seorang profesor? Silakan pelajari lagi atau Anda mungkin sudah jauh lebih tahu. Yang penting diingat, seberapa berani Anda mengakui pengetahuan itu? Atau, semuanya sekedar koleksi “ilmu tinggi” Anda….
Saya ingat, pada thn 1999, seorang profesor di dalam ruang sidang DPR/MPR menyatakan di depan para wartawan televisi (memang sih, dengan nada humor) bahwa “tidak semua anggota MPR itu profesor”. Wah, kalau ditanggapi serius, itu pernyataan yg sombong dan melecehkan anggota yang lain, bukan? Makanya, saya bersama teman2 yg tadinya merasa respek dg orang tsb (apalagi kebetulan berasal dari propinsi yg sama) berbalik menjadi tidak suka (lebih malu lagi, karena saya kebetulan berasal dari propinsi yg sama dg orang itu). Padahal, saya sempat baca di sebuah media cetak, orang tersebut ialah pemimpin partai yg cukup pro dg konsep/ideologi negara Islam. Ironis, bukan?
Bagaimana pun, di negara dg penduduk mayoritas Islam, presiden adalah khalifah atau pemimpin ummat. Dalam konteks demokrasi di negara republik, presiden adalah pelaksana & rakyatlah “bos”-nya. Anda merasa tidak punya hak mengawasi atau meluruskan? Mungkin karena Anda memang merasa calon bosnya :)
Dengan senang hati, saya bisa secepatnya menjauh dari blog ini bila saya mengganggu.
Mohon maaf atas pemikiran & kata2 saya yg keliru atau kurang baik.
Terima kasih.
February 16th, 2008 at 4:09 pm
Pengembang Web IF (komentar #29)
Maaf teman2, sekalian saya mau melengkapi/meralat kalimat dlm tanggapan saya tadi atas janzen dumai.
>> … “tidak semua anggota MPR itu profesor”.
Saya tidak ingat lagi persisnya, tetapi pernyataan lebih lengkapnya kira2 begini … “wajar, ‘kan tidak semua anggota MPR itu profesor?”
>> … tidak punya hak mengawasi atau meluruskan? Mungkin karena Anda memang merasa calon bosnya :)
RALAT: … tidak punya hak mengawasi atau meluruskan? Mungkin karena Anda memang merasa calon pelaksananya :)
Btw, kita ‘kan sudah pernah dipimpin oleh seorang profesor dg gelar berderet-deret & sering disanjung2 sbg teknokrat jenius. Ada yg mau bilang bhw orang seperti itulah yg mengerti semua persoalan bangsa ini dan tidak ada lagi seorang pun di bawahnya yg layak berkomentar? Kalau ya, kok tidak dibela terus? Bgm Pak Yusril, bisa membuat saya tidak bingung lagi?
Saya sebenarnya sangat menghargai tingginya ilmu seseorang. Jadi tentunya akan ikut mendukung, senang, optimis & puas dlm beberapa segi bila orang sekelas profesor terpilih menjadi presiden. Pasti banyak keunggulan “otak” yg bisa didayagunakannya, walaupun tidak otomatis berarti ia akan lebih unggul segalanya dibandingkan yg berlatar belakang tentara, bintang film, atau lain2. Yg penting, bagaimana kemampuan & kesungguhannya nanti selama melaksanakan amanat utk memperbaiki bangsa ini secara benar. Kalau jasanya benar2 diakui, gelar nobel atau lain2 yg prestisius di dunia ini mungkin tidak akan luput. Tidak perlu dikejar2, datang sendiri.
Soal konsistensi berpendapat, saya ‘kan memang cuma seorang “pengembang web” yg memungut lalu mencampurkan pengetahuan yg sedikit2 dari bermacam2 sudut pandang atau pemikiran orang lain. Jadi ya.. apa mungkin bisa sepintar apalagi sekonsisten orang2 itu secara individu? Menurut ilmu agama? Tanya saja ulama. Menurut ilmu tata pemerintahan? Tanya saja ahlinya, contohnya Prof. Yusril. Menurut ilmu ekonomi kapitalis? Tiru saja ekonom & pengusaha Barat. Menurut ekonomi Islam? Menurut hukum Belanda? Menurut fiqih Islam? Menurut ilmu budaya/sejarah? Wah, seabreg2 ilmu-pengetahuan di dunia ini. Mana mungkin ada seorang manusia menguasai semuanya? Apalagi sekaligus prakteknya!
Ngomong2, saya penasaran, apa ada orang yg BUKAN anak kemarin sore menurut janzen dumai, yg katanya sudah tahu secara lengkap & benar sejarah bangsa ini? Kita barangkali sama2 masih ingat kontroversi tahun lalu, lagu kebangsaan kita ternyata diklaim seorang pakar multimedia Indonesia bahwa itu baru ditemukan dari server Belanda oleh dia/timnya. Kalau benar, di manakah orang yg sudah tahu secara lengkap & benar sejarah bangsa ini? Di Belanda? Di Jepang? Di barang2 peninggalan sejarah yg masih terkubur di dalam tanah? Di saksi2 sejarah yg sudah dikuburkan dari zaman ke zaman? Ingatlah teman, pengetahuan siapa pun itu di antara kita semua tetaplah sangat sedikit! Bahkan, Anda yg memiliki anak berusia 8 tahun pun tidak akan pernah tahu apakah anak itu suatu saat kelak akan benar2 menjadi lebih banyak tahu daripada Anda, sesuai harapan Anda sendiri sebagai bapaknya? Atau, apa ada orangtua 32 tahun yg suka membego-begokan anak 8 tahun? Syukurlah saya bukan ayah yg seperti itu buat anak sulung saya yg berusia 6 tahun sekarang. Jika seorang ayah tidak tahu itu kerbau atau bukan, mengapa tidak mengajarinya saja utk cari tahu sendiri? Ada ibu, alam, guru, teman, buku, dll… Mari sama2 belajar. Sebelum menemukan jawabannya, apa salahnya ayah dan anak saling mengemukakan pendapat?
Maaf, keluar topik. Silakan dipotong, dihapus atau tidak ditampilkan sama sekali.
Komentar anda ini terlambat ditampilkan karena terperangkap akismet. Saya tidak melakukan sensor terhadap semua komentar yang masuk. Sebab itu, agar tidak terperangkap akismet lagi, saya sarankan agar anda menghindari penggunaan link. Terima kasih atas perhatiannya. (YIM)
February 16th, 2008 at 7:37 pm
janzen dumai (komentar #30)
salam hangat juga buat pengembang Web IF..
…. sepertinya !
Jaka sembung bawa golok,
Nggak nyambung goblok.
February 17th, 2008 at 12:04 am
Pages: [1] 2 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda