Beranda

KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM

Kebanyakan orang-orang Masyumi itu berpikir strukturalis dan bahkan cenderung formalis. Tak lama sesudah tokoh-tokoh Masyumi dikeluarkan dari tahanan, mereka mulai bergerak untuk Mesjid Istiqlalmerehabilitasi partai itu. Partai adalah alat untuk mencapai tujuan. Karena itu, keberadaan Masyumi adalah keharusan. Dukungan untuk merehabilitasi Masyumi juga datang dari Persahi. Para ahli hukum mengeluarkan statemen yang ditandatangani Dr. Wirjono Prodjokiduro, agar Masyumi direhabilitasi, karena partai itu adalah korban kesewenang-wenangan Orde Lama. Padahal Wirjono pula, yang ketika menjadi Ketua Mahkamah Agung, memberikan fatwa kepada Soekarno tentang keabsahan alasan hukum untuk membubarkan Masyumi berdasarkan Penetapan Presiden (Penpres) Nomor 7 Tahun 1959 tentang Penyederhanaan dan Pembubaran Partai Politik. Penpres itu sendiri sangat kontroversial, karena tidak ada dasar hukum keberadaannya. Prawoto Mangkusasmito mengatakan bahwa Penpres itu adalah langkah sepihak Presiden Soekarno untuk menyeleksi mana partai yang mendukung Revolusi pro Nasakom dan mana yang menentangnya.

Namun keinginan tokoh-tokoh Masyumi untuk merehabilitasi partainya segera menghadapi tembok penghalang yang kukuh. Soeharto dan para jendral pemegang kendali Orde Baru, ternyata cenderung bersikap anti ideologi. Mereka bukan saja anti Komunis, tetapi juga anti Islam yang ditransformasikan sebagai ideologi dan kekuatan politik. Slogan terkenal Orde Baru sejak kelahirannya ialah “melaksanakan Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen”. Mereka mempunyai tafsir sendiri terhadap Pancasila dan UUD 1945, yang kemudian dijadikan doktrin dan pijakan ideologis Orde Baru. Dalam komunikasi politik yang dibangunnya, Orde Baru mengatakan bahwa mereka tidak berorientasi ideologi. Mereka ingin membangun. Mereka cenderung “anti politik” dan mengedepankan langkah pragmatis untuk menyelesaikan persoalan sosial ekonomi yang amat berat. Kekuatan politik baru muncul dibalik Orde Baru, yakni militer dan teknokrat pragmatis, sebagiannya berorientasi ideologis kepada PSI dan kalangan politisi dan teknokrat non Muslim. Sebagai mesin politik, mereka mereorganisasi Sekber Golkar menjadi Golongan Karya (Golkar), yang mereka katakan bukan partai politik seperti halnya partai-partai yang lain.

Meskipun menolak rehabilitasi Masyumi, namun Orde Baru dibawah kepemimpinan Jendral Soeharto sedia berkompromi untuk mewadahi kelompok eks Masyumi, dengan memberi peluang kepada mereka mendirikan Partai Muslimin Indonesia (Parmusi).Namun penguasa Orde Baru menolak eks tokoh-tokoh Masyumi memimpin partai itu. Jangankan Natsir dan Prawoto, Mohamad Roem yang dikenal sangat moderat, diplomatis dan kompromis juga ditolak. Djarnawi Hadikusuma, tokoh muda Muhammadiyah yang dikukuhkan menjadi Ketua Parmusi juga terganjal, sampai akhirnya dengan dukungan penguasa, partai itu dikomandani oleh Jailani Naro yang tak begitu jelas akar keterlibatannya dalam gerakan politik Islam di masa lalu.

Itulah awal keterlibatan kekuasaan dalam mengintervensi suatu kekuatan politik. Sejak itu, hampir tidak ada partai yang sepenuhnya independen dan berdaulat. Setiap calon pimpinan sebuah partai, memerlukan “restu” atau persetujuan penguasa. Intervensi kekuasaan, baik terang-terangan maupun secara terselubung melalui operasi intelejens, selalu membayangi setiap partai dan gerakan politik manapun juga. Bahkan lebih jauh dari itu, setiap organisasi – termasuk organisasi sosial, kepemudaan dan profesi — gerakan kampus bahkan sampai ke mesjid-mesjid tidak sunyi dari pantauan intelejens. Orde Baru melakukan rekayasa sosial dan politik yang efektif melaluiDwi Fungsi ABRI. TNI dan POLRI bukan saja kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga kekuatan sosial dan politik. TNI dan POLRI mendapat jatah kursi di DPR, MPR dan DPRD. TNI melalui Kodam, Kodim dan Koramil, aktif memantau semua gerakan politik, bahkan melakukan intervensi terhadap semua kegiatan itu, demi menjaga “stabilitas nasional” untuk kelangsungan pembangunan.

Meskipun telah menghirup udara bebas, tokoh-tokoh inti Masyumi secara perlahan mulai tersingkir dari panggung politik, sejalan dengan menguatnya Orde Baru. Mohammad Natsir dan rekan-rekannya mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, dan mulai memusatkan perhatian mereka ke bidang dakwah, sambil tetap bersikap kritis kepada Pemerintah Orde Baru. Dulu kita berpolitik, sekarang kita berdakwah. Nanti hasilnya akan sama saja, kata Natsir kepada saya suatu ketika.Natsir mungkin benar. Dakwah Islam akan makin meluas dan tak terbendung, justru ketika kiprah politik mereka menghadapi hambatan. Natsir dan kawan-kawannya mulai menyadari bahwa mereka mulai tua. Mereka mulai berpikir untuk membangun kesadaran keagamaan kepada masyarakat menuju masa depan. Mereka perlu menyiapkan generasi penerus bangsa yang dilandasi semangat dan komitmen Keislaman. Untuk itu dakwah dalam arti seluas-luasnya, terutama di kampus-kampus, harus dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.

Orde Baru merancang format politik dan pembangunan Indonesia ke depan secara sistematik dan terencana. CSIS (Center for Strategic and International Studies) menjadi salah satu lembaga kajian yang tersohor dalam merumuskan dan memback-up konsep-konsep pembangunan Orde Baru dengan berbagai rekayasanya. Buku Ali Moertopo yang berjudul “Akselerasi Modernisasi 25 Tahun” yang diterbitkan CSIS adalah salah satu “buku sakti” yang memuat perencanaan itu. Dari buku itu saja suda tergambar bahwa Presiden Soeharto telah dirancang untuk menjadi Presiden minimal 5 periode, atau lima kali Pelita (Pembangunan Lima Tahun) sampai saatnya Indonesia tinggal landas dalam pembangunan ekonomi. Dalam rekayasa politik, partai-partai dikelompokkan berdasarkan program, bukan lagi berdasarkan ideologi. Akhirnya partai-partai Islam berfusi dengan tekanan penguasa ke dalam Partai Persatuan Pembangunan, dan partai-partai nasionalis, Kristen dan Katolik ke dalam Partai Demokrasi Indonesia. Sejak itu selalu dikatakan bahwa di negara kita ini ada dua partai politik dan satu Golongan Karya. Golongan Karya (Golkar) meskipun memenuhi segala syarat dan rukun – kalau menggunakan istilah fikih – untuk disebut sebagai partai politik, menolak menyebut dirinya sebagai partai.

Pancasila menjadi satu-satunya ideologi bagi semua kekuatan politik dan UUD 1945 menjadi landasan operasionalnya dengan tafsiran khas Orde Baru. Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai sila pertama Pancasila, kata Ali Moertopo, bukanlah tuhan sebagaimana dipahami agama, melainkan tuhan dalam makna politik. Proses sekularisasi Pancasila mulai dicanangkan. Konsepsi ideologis keagamaan mulai dipinggirkan. Namun pada saat bersamaan, secara bertahap konsepsi mistis-Kejawaan mulai menguat, dan berujung dengan munculnya Eka Prasetya Pancakarsa sebagai pedoman pelaksanaan Pancasila melalui Ketetapan MPR tahun 1978, meskipun ditentang keras oleh PPP. Sekularisme dan Javanisme seakan menemukan titik temu dan saling mendukung. Kebatinan Jawa mendapat baju baru yang dinamai Aliran Kepercayaan, sehingga terkesan mendapat legitimasi konstitusional di dalam Pasal 29 UUD 1945. Status Aliran Kepercayaan hampir-hampir mendapat perlakuan setara dengan agama. Soeharto, Ali Moertopo dan Sudjono Humardani berada di balik semua ini. Zahid Hussein, salah seorang pejabat di Sekretariat Negara, menjadi operator penyebar-luasannya.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 31st, 2008

74 tanggapan untuk “KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM”

Pages: « 1 2 [3] Show All

  1. Fadhly Syofian (komentar #61)

    YIM : Perihal yang sama saya amati terjadi juga di Philipina. Orang Philipina umumnya lebih mengenal Magellan daripada Lapu-Lapu, Sultan Kudarat atau Raja-Sulaiman. Magellan adalah penakluk Spanyol dan penyebar Agama Katolik di Philipina. Lapu-Lapu adalah pemimpin Muslim dari Visaya………….(deleted)

    Orang Philipina selalu bingung memahami sejarah, karena Spanyol selalu mengatakan Lapu-Lapu, Sultan Kudarat dan Raja Sulaiman adalah penjahat………(deleted)

    FS:
    Bang Yusril,
    Sekitar 2 minggu lalu saya pergi ke Cebu, sebuah pulau dengan 45 menit penerbangan dari Manila. Mendarat di Mactan International Airport yang terletak di Lapu-Lapu City. Nama Lapu-Lapu jelas diambil dari nama tokoh yang abang ceritakan di atas. Saya juga pergi ke Lapu-Lapu Monument di daerah Punta Engano dimana monument tersebut letak berada dalam area yang sama dengan Magellan Monument. Dari sebuah prasasti di monumen itu diketahui bahwa Magellan dibunuh oleh Lapu-Lapu.

    Saya penasaran untuk mengetahui apa pendapat orang-orang di sana mengenai Lapu-Lapu dengan mengadakan survei kecil-kecil. Dari beberapa orang yang saya tanyai semua berpendapat Lapu-Lapu adalah seorang hero. Lalu saat saya tanya pendapat mereka tentang Magellan, jawabannya terpecah. Ada yang menganggapnya sebagai tokoh biasa, tapi ada yang menganggapnya sebagai musuh (enemy). Tapi semua sependapat kalau Magellan adalah yang menyebarkan Katholik di Cebu. Teman saya yang orang Cebu bilang, jika tidak ada Magellan, mungkin banyak orang di Cebu seperti saya (seorang muslim)

    Penjelasan saya ini berbeda dengan pendapat abang, karena Lapu-Lapu cukup dikenal di Cebu dan dianggap sebagai pahlawan.
    Namun saya sependapat kalau ada kebingungan dalam memahami sejarah di Philipina. Mereka “berhutang”pada Magellan karena berkat Magellan mereka beragama Katholik namun di sisi lain tidak dapat menampik akan kepahlawan Lapu-Lapu. Di depan casino di Water Front Hotel, patung Lapu-Lapu bahkan dipajang lengkap dengan kata-kata heroiknya akan perjuangan.

    Terima kasih atas komentarnya. Anda benar kalau melihat perspektif orang Visaya (Cebu terletak di Visaya) tentang Lapu-Lapu. Dia dianggap sebagai pahlawan dan cukup dikenal di daerah itu. Namanya juga diabadikan menjadi nama kota “Lapu-Lapu City” yang terletak di Pulau Cebu. Saya agak keliru sedikit, karena saya mengamati perspektif orang Luzon — yang secara etnik beda dengan orang Visaya, bahasanya juga beda — tentang Lapu-Lapu. Di Luzon (Manila khususnya) Lapu-Lapu kurang populer sebagaimana di Visaya. Orang Manila juga relatif banyak yang tidak mengetahui tentang Raja (Raha) Sulaiman. Nama Sultan Kudarat relatif dikenal karena di Mindanao ada kota yang namanya Sultan Kudarat, sebagaimana kota di Cebu yang diambil dari nama Lapu-Lapu.

    Terima kasih atas koreksi dan tanggapan anda. (YIM)

  2. erick (komentar #62)

    Saya masih ingat, dulu sekali, sebelum Pak Yusril menceburkan diri ke politik praktis, mungkin sekitar tahun 1989-1994, ayah saya selalu membeli majalah Media Dakwah yang di sana saya banyak baca tulisan dari orang-orang yang merupakan orang Masyumi, seperti Mohamad Natsir, Dr Anwar Haryono dan Pak Yusril sendiri. Bapak saya (almarhum) juga seorang Masyumi yang setiap kali pemilu mulai tahun 1971 sampai 1998 selalu masuk penjara minimal seminggu selama pemilu berlangsung. Itu adalah bukti betapa jeleknya perlakuan orde baru kepada orang masyumi. Saya dulu sangat berharap, Pak Yusril berani untuk mendirikan kembali masyumi itu bukan partai bulan bintang atau bintang bulan. Karena dari pergaulan Pak Yusril dengan M. Natsir atau Anwar Haryono, sepertinya mereka menitipkan Masyumi kepada bapak. Tapi sepertinya hal itu sudah tak mungkin. Apalagi saat ini, momentum itu sudah jauh sekali berlalu.

    Tanggapan saya:

    Mengenai nama partai itu, kami membahasnya panjang sekali, antara lain di rumah Alm Pak Anwar Harjono. Waktu itu kami sepakat untuk tidak menggunakan nama Masyumi lagi. Biarlah Masyumi menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan bangsa kita. Nama yang kami putuskan adalah “Bulan Bintang”, yakni nama lain dari Masyumi. Setelah Masyumi dibubarkan pada tahun 196o, seluruh keluarga besar Masyumi selalu menyebut dirinya dengan istilah “Keluarga Besar Bulan Bintang” atau “Keluarga Besar Bintang Bulan”. Secara ideologis Partai Bulan Bintang tetap meneruskan ideologi Masyumi, dengan tentunya memperhatikan perkembangan zaman. Islam diyakini sebagai agama universal dan “rahmatan lil ‘Alamin”. Prinsip-prinsip ajaran sosial dan politik Islam yang universal itu perlu ditransformasikan ke dalam rumusan ideologis untuk dijadilkan landasan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam dan bangsa Indonesia di negeri ini.

    Beberapa kawan yang lain, akhirnya mendirikan Masyumi sebagai nama dari sebuah partai baru yang dipimpin oleh Pak Abdullah Hehamahua. Masyumi Baru juga berdiri di bawah pimpinan Pak Ridwan Saidi. Itulah fakta sejarah yang terjadi.

    Terima kasih atas harapan dan tanggapan yang disampaikan (YIM).

  3. adi riyadi (komentar #63)

    Tulisannya bagus. Dan terus terus Bang. Mumpung banyak waktu. Kan udah nggak jadi menter, he he he

    Insya Allah. Kalau ada waktu dan kesempatan, saya akan menulis, baik di blog ini maupun di media yang lain. (YIM)

  4. adi riyadi (komentar #64)

    Tulisannya bagus and runut. Terus bersemangat Bang. Mumpung banyak waktu luang. Kan udah nggak jadi menteri, he he he

  5. Syam Jr (komentar #65)

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Bung YIM secara tidak langsung menggambarkan konflik ideologis sangat tajam pada dekde 60 an. Keadaan tersebut serupa meski tak sama dengan era reformasi. Kalau dulu arogansi ideologi sekarang terbaca sebagai arogansi partai. Dengan argumentasi demi rakyat kedua duanya sama menghasilkan kesengsaraan rakyat. Kalau dulu Bung Karno menciptakan common enemy nekolim sehingga “revolusi belum selesai”. Sekarang bangsa ini dikondisikan pada tahapan “belajar berdemokrasi” atau barangkalai dapat disebut sebagai membiasakan diri untuk berkonflik. Suatu proses pembelajaran yang tidak akan pernah selesai, karena tidak punya platform sebagai pijakan kehidupan berbangsa. Dalam visi yang lain ada tesis ada anti tesis yang kemudian muncul sintesis sebagai tesis baru…dan seterusnya……akan berlangsung mulus dalam kehidupan akademik. Tetapi apabila hal ini berlangsung pada tatanan kehidupan nyata…lihatlah konflik pilkada dimana mana. Memang jawaban paling gampang…..maklum kita sedang belajar berdemokrasi…

  6. Anam (komentar #66)

    Assalamu’alaikum Wr. Wb.

    Alhamdulillah saya panjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT atas tulisan yang telah bapak muat mengenai “seklumit” sejarah bangsa ini. Menurut pendapat saya, hampir 80% generasi muda bangsa ini tidak tahu sejarah bangsanya dengan benar, karena desakan arus informasi dari luar (imperealisme, sekularisme dll) dan penyampaian fakta sejarah bangsa yang “keliru” (memutar balikkan fakta).

    Semoga bapak terus diberi kekuatan dan kesehatan untuk terus memberikan/menyampaikan “pencerahan”. Amin..!

    Saya tunggu artikel berikutnya pak.

    Wassalamu’alaikum Wr. Wb.

  7. Mohammad Novel Damopolii (komentar #67)

    Assalamu alaikum Wr Wb

    Bang YIM,untuk kepentingan “Political Marketing”,Novel mohon ijinnya, untuk melakukan :

    1. Penyebaran tulisan/buah Pikiran bang YIM ke beberapa mailing list, antara lain ke Yahoogrups dan Komunitas HMI.

    2. Mengikut sertakan Bang YIM ke Komunitas “Friendster.Com”

    Untuk hal ini, sebelumnya Novel sudah konsultasi ke Bang Jurhum, dan beliau menyarankan untuk meminta ijin ke

    Bang YIM.

    Apabila diijinkan, perkembangannya secara kontinyu akan Novel kabarkan via imelnya bang YIM
    (
    yusril@ihzamahendra.com/ Novel dapatkan imel ini dari jawaban bang YIM atas komentar #67 , Harismanto di

    Preview Episode I Film Laksamana Cheng Ho) dan ke Bang Jurhum.

    Demikian, atas ijinnya Novel ucapkan terima kasih.

    Wassalamu alaikum wr wb

    Silahkan saja kalau ada manfaatnya. Tentang Friendster, memang ada yang memasukkan nama saya ke dalamnya. Namun saya sendiri tidak tahu siapa yang membuatnya. Meskipun nama saya ada di Friendster, namun itu bukan berasal dari saya. Terima kasih. (YIM)

  8. Yunan (komentar #68)

    Ass.
    Biar kelihatan akrab, saya panggil Bang Yuzril saja lah. Saya begitu baca artikel ini teringat dengan desertasinya Abang yg kemudian dibukukan itu. Saya sempat beli, tpi lupa karena sdh lama sekali saya membacanya. Tpi, saya tdk ingin terjebak dgn analisis politik semata. Coba lihat bgmn tatanan hukum kita yg kacau. Tpi disisi lain, kadang konsep Islam yg selalu ditawarkan tdk merespon nyata, hanya sekadar simbolik. Bagi saya, ini persoalan internal bagi umat juga sehingga umat juga menjadi korban. Misalnya saja, revisi UU Ekonomi Syariah saja dianggap islamisasi, krn gerakan simbolik itu sangat ‘resisten’ menyinggung kelompok lain. Gimana menurut Abang terkait persoaloan-persoalan teknis hukum semacam itu? Kita ini tiap hari dibikin berkerut, tpi untunglah semangat ini tak pernah henti untuk menuju perubahan
    Wass…

  9. Rusdi H Susilo (komentar #69)

    Pengungkapan sejarah yang sesuai dengan fakta nya.
    Sangat penting difahami oleh generasi muda yang tidak mengalami peristiwa tsb dan hanya membaca nya dari buku sejarah resmi yang sudah bias.
    Sebagai bekal bagi generasi muda agar supaya tidak mudah terpengaruh oleh provokasi musuh2 rakyat dan negara yang mengaku sebagai pahlawan.
    Dengan hati yang ikhlas, dalam rangka “tawaa shoubil haq watawaa shoubis-shobr” kami berharap mudah2an bang Yusril tidak mabuk pujian, oleh karena hal itu dapat menjatuhkan abang sendiri dimasa yang akan datang.
    wassalam wr wb

    Rusdi H Susilo

    Insya Allah. Saya selalu berlindung kepada Allah dari mabuk karena dipuji, dan berlindung pula kepadaNya, agar selalu sabar ketika dicaci (YIM)

  10. Bhre Rakian (komentar #70)

    Saya insya’al’Lah tidak akan melupakan bahwa “tiada sesuatupun terjadi melainkan karena perkenan Al’Lah”, dan “tiada perubahan nasib suatu kaum melainkan kaum itu mengusahakannya”.

    Saya pernah berjumpa dalam dialog dengan seorang yang konon adalah seorang sufi. Kepada beliau saya kemukakan kekecewa’an saya masalah antara lain illegal logging yang konon justru menterinya sendiri terlibat, kalau bukan malah dalangnya. Jawabannya adalah dua kalimat suci di atas.

    Jadi kapan negeri ini maju, dengan sistem dikatator >>> penuh dengan kesewenang2an, ada petrus, orang hilang dsb. Demokrasi parlementer, anggota DPR yg aji mumpung jadi pejabat malahan penuh dengan kisah2 memalukan. Gubernur, Bupati pilihan rakyat, malahan perhitungan BEP (Break Event Point) kapan investasi kembali (ongkos maju pilkada kapan lunas dari hasil korupsi setelah menjabat) setelah berapa tahun menjabat…. waduh rusak !

    Islam memang agama yang mulia, tetapi manusianya juga yang melaksanakannya lurus atau agak bengkok2 dikit. Jaman kilafah Usmaniah, jatuhnya juga karena orangnya, dari dalam. Jaman Salahuddin juga jatuhnya karena mabuk2an dari dalam. Sadam Husein yang Islam (formalitas) jatuh. Syah Iran yang Islam (juga formalitas) juga jatuh. Bahkan kerajaan tinggalan nabi Sulaiman a.s. ( beliau juga “Islam” seperti “Islam”nya nabi Ibrahim a.s., note: dalam filosofi bahwa kata islam menurut bahasa Arab konon artinya = pasrah), juga jatuh.

    Saya merasa ( merasa bukan beranalisa ! ya) bahwa bukan karena formalitas agamanya yang menentukan keberhasilan suatu perjuangan, termasuk perjuangan partai. tetapi kesungguhan, integritas orang2-nya, apakah memakai Islam untuk supaya dapat kesempatan jadi penggede dan lalu berkesempatan untuk korupsi (orang yang kaya gini kalaupun dapat rezeki maka rezeki itu gak berkah, tapi cobaan supaya lebih terjurumus barangkali).

    Lee Kwan You yang orang “kafir” , dan bukan Islam, dan tidak berdasar partai Islam, toh berhasil memperjuangkan Singapura yang sekarang sudah jauh lebih kaya dari Indonesia (Devisanya 300 billion USD, Indonesia 54 billion USD)karena integritas Lee Kwan You.

    Kalau kita ingin membangun kembali Masyumi hanya untuk balas dendam atau eksklusivitas kumunal sesama kaum sarungan yang tidur di surau, boleh kawin (secara resmi) lebih dari satu, dengan mengatas namakan atau membawa Nama-Nya, ah apa kita gak malu ama diri sendiri ? Malu ama malaikat penjemput kita nantinya.
    Cobalah kita periksa diri kita sendiri dulu ….

    Soekarno, Suharto, semua bergelut dengan kebhinekaan bangsa ini, ada musang, serigala ada ayam ada kambing, atau surut dengan selamat dan hormat seperti Bung Hatta, tetapi kasihan bangsa yang ditinggal ngambeg. Jadi Islam jangan hanya jadi topeng.

    Kepada teman2 yang memang dengan tulus mendambakan kesejahteraan bangsa ini, lahir bathin, saya dukung dan saya ucapkan selamat berjuang. Tuhan bersamamu. Kepada pak YIM yang telah menguak kisah itu, yg saya sendiri juga tidak tahu sebelumnya, saya ucapkan terima kasih. Anda telah berjasa melengkapi sejarah.

    Wabilahit Taufic wal Hidayah, wassalamualay’kum Wr.wb.
    H.B.R.

  11. Syaiful Haq (komentar #71)

    Salam.
    bapak yang kami hormati.
    kalau boleh nanya pak, salah satu dari anggota Masyumi yang paling revolusioner adalah alm. Sjafrudiin Prawiranegara, sepak terjannya dimana. saya pernah membaca sekilas, kalau pak syafrussin pernah menjabat sebagai ketua HUSAMI (Himpunan Usahawan Muslim Indonesia). tahun 1970an Husami sebagai salah satu dari organisasi yang merekrut orang2 yang sedang melaksanakan ibadah haji. tahun itu juga pernah terjadi konflik denagn pemerintah atau mungkin lebih tepatnya denagn peristiwa Gambela. kalau boleh saya tahu mungin bapak punya referensinya tentang peristiwa itu. gimana bapak?
    sebelumnya terimas kasih maaf merepotkan bapak.
    salam.

  12. sita (komentar #72)

    mf sblmny..
    sy mw bertanya..
    tntng kebijakan orde baru di bidang pendidikan…
    klo bs mhon anda jlaskan mengenai hal trsbt…
    terima kasih sblmny…

  13. Syaiful Haq (komentar #73)

    terima kasih pak. mungkin itu yang kami maksudkan. persoalanya sampai sekarang saya belum menemukan buku tersebut kalau tidak salah judulnya 712 Mujdahid yang menggemparkan oleh pak Yasin. mungkin kalau organisasi bapak punya referensi, saya minta bantuannya pak.soalnya penting banget untuk mendukung data penelitian saya.
    terima kasih.
    wassalamu’alaikum

  14. Syaiful Haq (komentar #74)

    Assalamu’alaikum Wr.Wb
    Kepada yang terhormat para jajaran Pengurus Bulan Bintang,
    Mengenai Sejarah Alm. Revolusioner Sjafrudin Prawiranegara. mohon untuk solusinya khususnya menegnai HUSAMI dan Peristiwa Gambela. mungkin itu saja yang kami dapat sampaikan.terima kasih
    Wassalamu’alaikum

Pages: « 1 2 [3] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda