Beranda

KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM

Orang-orang eks Masyumi dan para pengikutnya sangat khawatir dengan sekularisasi Pancasila dan menguatnya Aliran Kepercayaan ini. Di mata mereka, dibalik semua ini ada grand-design untuk mengelaminir Islam dengan berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan luar, dan kepentingan agama tertentu yang memanfaatkan Soeharto dan Orde Baru. Kelompok ini bukan saja memegang posisi-posisi strategis militer, tetapi juga menguasai pos-pos penting di bidang perekonomian dalam berbagai kabinet Orde Baru. Di kalangan eks Masyumi ada anggapan bahwa militer telah dijauhkan dari Islam. Maraden Panggabean, Soedomo dan Benny Moerdani yang semuanya non Muslim, memainkan peranan penting dan menentukan. Di masa itu ada kesan, bahwa perwira militer yang taat menjalankan agama Islam, sulit untuk mendapatkan promosi. Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih perwira menengah juga mengalami nasib yang sama. Dia dianggap sebagai perwira yang taat menjalankan agama Islam, sehingga beberapa kali promosinya dihambat Benny Moredani. Demikian pula Radius Prawiro, Sumarlin, Adrianus Mooy, dan Sudrajat Djiwandono  yang semuanya non-Muslim, cukup lama menduduki posisi kunci pos-pos ekonomi kabinet  Orde Baru. Arsitek utama ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, meskipun Muslim, dikenal sangat jauh dari Islam.

Orang-orang eks Masyumi berpikir bahwa jika Aliran Kepercayaan diformalkan, dan seluruh orang Jawa Abangan dikelompokkan sebagai penganut Aliran Kepercayaan dan bukan Muslim, maka Islam di Indonesia bukan saja akan menjadi minoritas dalam politik dan ekonomi, tetapi juga minoritas dalam jumlah. Indonesia tak dapat lagi menyatakan dirinya sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kekhwatiran ini terasa di mana-mana. Kegiatan dakwah makin gencar dilaksanakan, terutama di kampus-kampus dan kantor-kantor pemerintah untuk mengimbangi kecenderungan anti Islam dalam kebijakan Orde Baru. Istilah Ekstrim Kanan (Islam iedologis) dan Ekstrim Kiri (Komunis) menjadi istilah umum yang selalu dikatakan sebagai bahaya laten yang akan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.

Dakwah yang luar biasa gencarnya itu akhirnya mendorong pula suatu perubahan. Secara politik Islam dikalahkan, namun kesadaran keislaman terasa makin menguat di mana-mana. Kesempatan pendidikan yang luas yang diberikan oleh Orde Baru telah membuka peluang anak-anak Muslim, dan lebih khusus lagi, anak-anak orang Masyumi untuk menempuh pendidikan. Tanpa disadari jumlah mereka sangat besar. Mereka mulai mengisi jajaran birokrasi, militer dan kekuatan politik yang secara resminya sebenarnya was-was dengan Islam Ideologis dan gerakan politik Islam. Anak-anak orang Masyumi seperti Feisal Tanjung dan Syarwan Hamid mulai menanjak karier militernya. Akbar Tanjung dan Abdul Gafur menjadi tokoh muda Golkar dan Ridwan Saidi menjadi muda tokoh PPP. Di kampus-kampus muncul kaum intelektual yang berasal dari anak-anak orang Masyumi. Keadaan ini mulai menggeser peranan intelektual yang dulunya selalu diklaim dan didominasi oleh orang-orang PSI.

Meskipun telah lahir kekuatan baru Islam yang berwajah non politik, namun tekanan terhadfap Islam terus berlangsung, terutama ketika Dr. Daoed Joesoef — salah seorang tokoh CSIS — diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dia sangat tersohor dengan konsep NKK/BKK dan mengeliminir unsur Islam dalam pendidikan nasional kita. Saya masih ingat suatu ketika, Professor Slamet Imam Santoso dan Professor Selo Sumardjan mengatakan kepada saya kekecewaannya dengan terhadap sikap Pemerintah Orde Baru yang mereka nilai menekan Islam. “Lha, walau saya ini cuma Islam abangan, yang nggak pernah solat, tetapi kalau Islam itu dimacem-macemin, saya juga tidak rela”, kata Professor Selo suatu ketika. Sebagai orang Islam, kata Prof. Selo, “saya merasa tersinggung dengan kebijakan ini”. Saya sangat heran dengan ucapan Prof. Selo, karena selama kami menjadi mahasiswa kami tak pernah merasa beliau dekat dan mempunyai perhatian terhadap Islam.

Prof. Slamet Imam Santoso juga begitu jengkel dengan kebijakan anti Islam Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Beliau bersama-sama Prof. Rasjidi dan Prof. Osman Raliby mengambil inistaif menatar dosen-dosen Agama Islam di UI agar mampu mengajarkan Islam dalam bahasa yang dimengerti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Gejala serupa nampaknya terjadi di mana-mana. Saya sendiri, yang berlatar belakang pendidikan hukum dan filsafat ikut direkrut untuk mengajarkan Agama Islam dengan pendekatan yang lebih intelektual. Prof. Slamet bersedia memberikan ceramah Agama Islam menjelang solat tarawih di Mesjid Arief Rachman Hakiem UI, walau beliau sendiri tidak ikut tarawih. Sambil bercanda Prof Slamet mengatakan kepada saya “Jelek-jelek Slamet ini dulunya pendukung Masyumi”. Beliau bercerita, suatu ketika diajak oleh Dr. Sudarsono – ayah Juwono Sudarsono – untuk mendukung PSI dengan alasan partai itu didukung kaum intelektual. Pak Slamet bilang, saya menolak, saya lebih senang mendukung Masyumi. Masyumi juga intelektual, tapi merakyat.

Puncak dari sikap anti Islam ideologis dan poltis dari Orde Baru adalah tatkala terjadinya Peristiwa Tanjung Priok yang menyebabkan sejumlah aktivis Islam dibawah pimpinan Amir Biki dibunuh tentara. Pasca peristiwa itu, sejumlah aktivis Islam termasuk AM Fatwa dan Abdul Kadir Jaelani ditangkapi. Abdullah Hehamahuwa dan saya sempat dikejar-kejar tanpa kami tahu apa sebabnya. Sebelum itu berbagai operasi intelejens dibawah komando Benny Moerdani telah merekayasa berbagai gerakan ekstrim seperti Komando Jihad dan pembajakan pesawat terbang Woyla. Suasana sangat mencekam. Saya sendiri ketika itu bekerja di lembaga riset LIPPM yang dipimpin Anwar Harjono. Mohammad Nastsir setiap hari datang berkantor ke lembaga ini. Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Roem dan Boerhanoeddin Harahap juga sering datang. Pergaulan saya dengan mereka sangat dekat, sehingga sayapun sering dituduh sebagai ekstrim kanan. Setelah mereka ikut menandatangani Petisi 50, banyak pula tokoh-tokoh lain seperti Ali Sadikin dan Hoegeng sering datang. Sejak tahun 1978, kami tegas menentang asas tunggal Pancasila dan P4. Mohammad Natsir memerintahkan saya menyusun argumentasi menolak asas tunggal dan P4. Tulisan saya itu dijadikan bahan berbagai organiasi Islam, termasuk Kongres HMI di Medan yang akhirnya menolak asas tunggal. Sampai P4 dihentikan di masa Presiden Habibie, saya tak pernah mau ikut penataran P4. Ini sama sekali tidak berarti kami menolak Pancasila sebagai falsafah negara. Kami menolak tafsiran sepihak Orde Baru terhadap Pancasila.

Tak ada yang menyangsikan bahwa sikap anti Islam ideologis dan politis di bawah Orde Baru ini tanpa arahan, atau paling tidak di bawah pengetahuan Presiden Soeharto. Soeharto sendiri berasal dari kalangan Jawa Abangan, walau di masa kecil pernah belajar di sekolah Muhammadiyah dan aktif belajar mengaji serta tidur di mesjid di kampungnya. Namun pemahaman Soeharto terhadap agama tergolong minim, begitu juga ketaatannya dalam menjalankan ibadah agama. Sampai akhir dekade tahun 1980-an, rakyat tak pernah tahu apakah beliau mengerjakan solat Jum’at apa tidak. Tak pernah beliau nampak pergi menunaian solat Jum’at di Masjid Baiturrahim di Istana Negara atau mesjid lainnya. Walau begitu, Soeharto selalu mengucapkan salam baik di awal maupun di akhir pidatonya, meskipun di dalam teks pidatonya, ucapan salam itu tidak ada. Soeharto dan Ibu Tien hanya nampak menghadiri acara Nuzul Qur’an di Istana negara, dan peringatan Isra Mi’raj dan Nuzul Qur’an di Mesjid Istiqlal. Dalam ucapan lisannya sehari-hari Soeharto lebih banyak mengutip mutiara-mutiara falsafah Jawa – terutama Ronggowarsito – daripada merujuk kepada khazanah ajaran Islam.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 31st, 2008

74 tanggapan untuk “KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM”

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

  1. abu ghifari (komentar #31)

    Assalamu’alaikum, wr, wb,

    Dalam sebuah dialog di TV Swasta malam setelah pemakaman Soeharto, Amien Rais mengatakan ‘ dari awal masa berkuasanya hingga pertengahan, Soeharto berada di track yang benar, setelah itu keluar dari track yang benar hingga akhirnya lengser ’.

    Karena mengikuti terus perkembangan politik di tahun2 terakhir kekuasaan Soeharto, saya sepakat dgn Pak YIM bahwa Soeharto saat itu memang telah berubah menjadi lebih akomodatif terhadap aspirasi Ummat Islam.

    Jika dikaitkan dgn pernyataan Amien Rais di atas, maka ketika Soeharto lebih akomodatif thd Islam dia justru keluar dari ‘track’ ?????, gimana ya jelasinnya .. tolong ya Pak ..

    Dalam buku ‘membentuk jama’atul muslimin’ yang ditulis seorang ikhwan dari Timur Tengah (sy lupa namanya) Masyumi disejajarkan dgn Ikhwanul Muslimin, Hizbut Tahrir, Jama’ah Tabligh, dsb. Artinya kebesaran Masyumi beserta tokoh2nya memang fenomenal dan disegani di dunia Islam. Sebagaimana gerakan-gerakan Islam lain yang hingga saat ini masih eksis maka wajar sekali jika Masyumi pun demikian. Terbukti dengan hadirnya sebuah Partai Politik Islam di Indonesia yang ingin melanjutkan perjuangannya. Kebetulan sekali Pak YIM adalah salah satu pendirinya, bahkan sebagai murid kesayangan M Natsir relevan sekali rasanya jika kita ingin menggali ideologi politik Masyumi dari Pak YIM. Ditunggu ya pak .. biarpun lebih panjang dari ‘kenangan masa kecil’ ane jabanin deh he he ..

    Walau dampaknya sulit untuk dihindari, sy tidak berharap blog ini jadi ajang kampanye utk PBB. Karena jika demikian, luasnya wawasan pengetahuan Pak YIM utk sebagian orang akan terasa jadi begitu sempit. Di blog ini sy yakini berkumpul intelektual2 dgn beragam minat, ada yg peduli politik, ada yg tidak, ada yg tau hukum, ada jg yg buta dgn istilah2 hukum, ada yg concern dgn perjuangan Islam mungkin ada jg yg tidak, ada yg tertarik politik dgn kemasan demokrasi, ada jg yg tertarik politik dgn kemasan ideologi Islam dalam kerangka demokrasi dan mungkin jg ada yg anti demokrasi krn menganggapnya keluar dr Islam. Mudah2an Pak YIM bisa mengakomodir semua itu, sy yakin sih bisa …

    Semoga Pak YIM selalu diberi kesehatan oleh Allah SWT agar kita terus bisa berdiskusi dlm suasana yg luar biasa ini …, khawatir jg sih kalo tahun 2009 pemilik blog ini dgn ijin Allah jadi RI 1 atau 2 kita terpaksa putus kuliah gratis he he ..

    Wassalam,

  2. Bimo (komentar #32)

    Pak Yusril,

    Terima kasih atas saran Anda - saya sudah membaca artikel Anda mengenai adopsi hukum Islam ke dalam hukum nasional. Saya tinggalkan sedikit komentar dan pertanyaan disana. Juga, saya sudah berkunjung ke website PBB. Sekali lagi, terima kasih.

    Mengenai survei LSI yang memberi dua pilihan kepada responden: hukum nasional yang mengakui keragaman dan hukum Islam (yang tidak mengakui keragaman), saya pikir hal itu reasonable. Bagi saya, doktrin Islam sedikit bermasalah dalam mengakui pluralitas. Pluralitas disini maksudnya keragaman agama.

    Al-Qur’an memang mengakui eksistensi agama samawi lain selain Islam. No doubt about it. Tetapi dalam hubungannya dengan agama lain, al-Qur’an menempatkan Islam sebagai agama tertinggi dan agama lain sebagai kelas dua.

    “Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Ali-Imran : 85).

    Sejarah Khilafah Islam selama 1300 tahun juga mencatat bahwa umat non-muslim ditempatkan sebagai umat kelas dua. Mereka tidak boleh menjadi kepala negara. Mereka harus membayar jizyah (pajak keamanan) kalau mau selamat. Walaupun kita juga harus mengakui bahwa umat non-muslim mendapat perlindungan khusus (dzimmah) yang terkadang jauh lebih baik dibanding dengan kerajaan-kerajaan Kristen yang ada masa itu. Lebih kurang seperti golongan Afrika-Amerika sebelum tahun 70-an; mereka bisa makan, bekerja, menjabat posisi-posisi tertentu, tapi tak bisa mendapat sejumlah privilege yang diberikan hanya untuk kulit putih.

    Selain menempatkan orang non-muslim lebih rendah dibanding muslim, doktrin Islam juga tidak mengakui pagan dan atheist. Tentu hal ini akan bermasalah di Indonesia yang masih terdapat banyak penganut aliran kepercayaan.

    Saya kira, landasan inilah yang dijadikan LSI untuk menganggap hukum Islam sebagai anti-pluralist. Tentu ini adalah tantangan bagi siapapun pejuang Islam (termasuk Anda) untuk menjawabnya dengan menawarkan alternatif lain yang berbeda dengan apa yang sudah terjadi di masa Khilafah.

    Salam,
    Bimo

  3. daffa (komentar #33)

    mudah-mudahan pa yusril selalu diberi kesehatan dan hidayah agar selalu memberikan pencerahan melalui tulisan-tulisannya di media blog ini dan tidak hanya saat sekarang saja tapi terus dan terusssssssssssssssssssssssssss ( jadi jangan hangat-hangat tahi ayam pak )

  4. Nasrullah (komentar #34)

    Bang YIM, tulisan abang seperti magnet saya sanggup duduk berjam-jam di warnet hanya untuk membaca tulisan abang. Tapi, mohon maaf kalau saya keliru, dan yang saya sampaikan tidak satu tema dengan tulisan ini. Bang YIM banyak menulis tentang masa kecil bang YIM, tapi kelihatannya tidak nampak tulisan tentang perjalanan studi bang YIM, kabarnya bang YIM termasuk cepat menyelesaikan desertasi dengan hasil memuaskan. Saya kira penting mengikuti perjalanan studi seorang intelektual, supaya saya dan pembaca yang lainnya bisa mengambil manfaatnya.
    So, saya tunggu tulisan tentang kisah studi bang YIM.
    Salam,

  5. Vavai (komentar #35)

    #33 Nasrullah,

    Tapi, mohon maaf kalau saya keliru, dan yang saya sampaikan tidak satu tema dengan tulisan ini. Bang YIM banyak menulis tentang masa kecil bang YIM, tapi kelihatannya tidak nampak tulisan tentang perjalanan studi bang YIM, kabarnya bang YIM termasuk cepat menyelesaikan desertasi dengan hasil memuaskan.

    Sekedar info, posting tentang Kenangan Masa Kecil memang baru berkisah seputar masa kecil, belum sampai ke masa dewasa dan merantau ke Jakarta, termasuk soal kuliah dan menjadi kondektur bus :-D . jadi memang bukan tidak nampak melainkan memang belum sempat ditulis.

    Hehehe sok tahu juga saya. Mudah-mudahan pak YIM bisa meneruskan Kenangan Masa Kecil Hingga Dewasa, karena dari sana ada banyak pengalaman dan pemahaman yang bisa dipetik.

  6. ainun abdullah (komentar #36)

    we,e,e,e,e,e,e,

    jadi bisa kuliah gratisan kalo gini terus.
    pak yusril, saya mohon diijinkan cetak artikel - artikel yang ada di blog ini. sebagai koleksi pribadi dan untuk teman - teman.

    trima kasih

    assalamu’alaikum. Wr. Wb.

  7. ainun abdullah (komentar #37)

    maaf agak menyimpang dari pembicaraan

    kalo tidak salah pak yusril adalah salah satu dari 100 orang yang diminta oleh panitia penyusunan buku 100 th BUYA HAMKA, untuk memberikan kesaksian bapak terhadap beliau. sekarang saya sudah pegang kesaksian yang dibuat oleh Bp. KH Nadjih. saya berharap bisa atau minimal baca kesaksian yang bapak berikan kepada beliau. itu kalo bapak tidak keberatan. trimakasih .

    assalamu’alaikum Wr. Wb.

  8. muhammad kustiawan (komentar #38)

    Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

    Assalamualaikum warrahmatullahiwabarakatuh
    Pak Yusril, terima kasih saya sangat senang akhirnya Pak Yusril bisa bercerita mengenai Masyumi. Dari banyak data -data yg saya teliti di Jepang ini, saya menemukan kalau pemberontakan PRRI tidak terjadi dan kepemimpinan Masyumi tidak didominasi oleh kelompok sumatera akan tetapi secara baik saling bekerjasama dengan masyumi dipimpin oleh kelompok Islam jawa yg cerdas, mungkin ceritanya akan menjadi lain..kita tahu Nasir dan sukiman. Ingat bahwa selama 22 tahun di majelis konstituante perdebatan dasar negara belum selesakan sampaikan akhirnya sukarno bertindak otoriter. Itu yg saya kira harus disadari kelompok islam politik, apa yg salah? itu harus dicari..menurut Pak Yusril bagaimana mengenai hal ini…ini penting untuk kemajuan Indonesia. Mungkin pendapat saya ini yg saat ini sedang belajar banyak ttg jepang adalah salah….mohon dikoreksi..

    terima kasih
    salam kenal dan hangat

    Muhammad Kustiawan

  9. Iwan Asnawi (komentar #39)

    Yth:YIM

    Membaca tulisan anda di atas, saya tertarik untuk sedikit memberikan “tambahan” pada kurun waktu 80-an sampai tahun 90-an, karena bagi saya seperti tak ada “benang merahnya”, tentu bukan yang dekat “Penguasa” di Jakarta, tapi lebih pada keadaan di Yogya. Karena, saya kira pada era ini adalah juga cikal-bakal tumbuhnya lagi suatu “gerakan” perlawanan (kritik) terhadap penguasa.

    Saya akan mulai, dari penertiban (pembredelan) Pers Mahasiswa di berbagai Perguruan Tinggi, termasuk Perguruan Tinggi Islam di Yogya. Perguruan Tinggi Islam itu termasuk Universitas Islam Indonesia (UII), yang tentu anda sudah tau, salah satu yang kondang dari “UII”sekarang adalah sdr. Mahfud MD… Pers Mahasiswa, akhirnya banyak yang terkapar,”mati” tak terbit lagi! Ini adalah salah contoh “Pembunuhan Generasi” oleh Soeharto (eks Presiden RI) almarhum. Dan itu terjadi pula pada Universitas Islam Indonesia di Yogya, bagaimana anda mengatakan bahwa Soeharto mulai berpihak pada Islam?

    Tentang organisasi, HMI (Himpunan Mahasiswa Islam). Hampir setali dua uwang, aktivisnya diInteli… Bahkan untuk mengadakan “Basic Trainning” (Batra), haruslah berpindah-pindah… Saya akhirnya, tak habis berpikir… dan bertanya bagaimana anda mengatakan Soeharto mulai berpihak pada orang Islam? Apakah karena dia mendirikan Mesjid? Atau karena dia mulai Sholat? Kalau ini saja alasannya, maka menjadi haknya sejarah di Indonesia kalau hanya timbul dua “orang muda” saja, satu Mahfud MD di Yogya dan Yusril dari Jakarta… sebagai pemikir dari kalangan Islam. Apakah “anak muda” harus maklum?
    Apakah ini juga harus kita maklumi sebagai contoh ada satu “generasi yang hilang”?… Yang terbungkam oleh kehendak “Penguasa” saat itu… Ya, Soeharto itu…

    Keislaman saya tidaklah mendalam, tidaklah sebanding dengan anda… Apalagi mau di bandingkan dengan para kiayai, dan atau “Datuk-Datuk” di Nusantara (baca:Indonesia). Saya mungkin seperti Prof. Selo, tapi saya bukanlah seorang Professor. he…he…

    Saya hanya seorang “Pejalan”, dan “pembaca”… yang beragama Islam…

    Salaaaam…

  10. Purnama (komentar #40)

    Assaamu’alaikum wr wb.
    Sejatinya, saya hanya seorang pelajar yang sedang belajar. Saya sangat berterimakasih pada pak Yusril yang memberikan pencerahan kepada para pembaca blog ini khususnya maupun kepada masyarakat yang membaca Republika dan rakyat Indonesia pada umumnya. Sayapun sebagaimana anda yang menyukai sejarah bahkan senang menulis pengalaman hidup sebagai langkah maju dari sekedar mengingat masa lalu kehidupan, saya dan sangat mungkin bahwa bapak selalu memeiliki intens lebih kepada sejarah.
    Sebagai tanggapan saya terhadap tulisan bapak mengenai sejarah Masyumi, saya kembali merasa meloncat dari satu kebingungan ke satu kebingungan yang lain, saat bertatap muka lagi dengan sejarah yang sudah ‘diteorikan’, sebagai kata lain dari sejarah yang diceritakan pada orang lain. Tentu saja bapak sebagaian sayapun takkan sanggup mengatasnamakan objektifitas atas realita sejarah yang kita usung. Kalangan pakar sosial pun menertawakan sikap objektifitas untuk sebuah sejarah. Namun kebingungan saya bukan di situ, saya hanya masih bingung dengan terma ‘KIRI’ pak. Yang digagas pertama kali oleh Karl Mark cs, bukankah mereka berbicara tentang sebuah solusi? Mereka juga mengatasnamakan perbaikan atas kebobrokan sosial yang nyata? Mereka bukan kriminal msyarakat, tapi kriminal bagi para pelaku kebijakan. Yang mereka ganggu bukan harta maupun kehormatan orang lain. Tapi mereka menentang suatu hal yang besar, hal yang justru mengatur bagaimana menghukum siap siap yang mengganggu harta dan kehormatan seseorang, (bisa jadi yang ditentang adalah polisi polisi maupun tentara, tapi ini lebih dari kepala polisi maupun jendral atau bahkan presiden sekalipun) mereka menentang kemapanan. Sebuah kemapanan dalam arti sempit, maupun semua wujud kemapanan dalam arti luas, dalam pandangan mereka, kekuasaan, hegemoni, doktrin, asas asas, simbol simbol, formalitas bahkan agama sekalipun adalah bentuk bentuk dari kemapanan yang sejatinya adalah aturan manusia. Saya menyadari hal itu, dan kita hidup tidak hanya ada dalam ruang waktu, namun juga hidup dalam sebuah pengaruh (power) dan itu adalah bagian kita, ia takdir kita, kita hidup bukan hanya karena kita sendiri, namun kita hidup karena jutaan bahkan milyaran hal hal lain yang menjadikan kita eksis. Tapi dari berbagai bentuk kemapanan, undang undang, jadwal kerja, berbagai macam simbolis maupun formalitas formalitas yang kita tunduk padanya ternyata berasal perspektif kita yang kadang bahkan kita sendiri menilainya sebagai sebuah aturan yang sempurna (as the perfect things) dan kita kadang lambat atau enggan mengadakan rekonstruksi maupun dekonstruksi atas apa yang memang bukan sesuatu yang baik. Begitu juga bagi sebuah bangsa seperti Indonesia, bukankah pemerintah Indonesia sejak masa perjuangan kemerdekaan, maupun hingga paska Revolusi Pancasila menyadari bahwa UUD 45 ternyata bayak kekurangan? Mereka menyadari Pancasila sudah mengaburkan agama, dan di pihak lain agama pun mampu mengaburkan Pancasila. Masing masing dari apa yang sudah mereka atau-katakanlah-kita buat sebagai keputusan final dan solusi terakhir serta sebuah kebijakan positif. Tetapi ternyata aktor sejarah (yang itu kita sendiri) memandang itu sebagai bagian yang aman bagi mereka dan kita maupun bagi rakyat Indonesia yang hidup kemudian tanpa memandang serius pada cela sebuah kenyataan yang dilihat sebagai produk dari sejarah. Namun di saat yang sama, kita menyadari pula bahwa kita juga takut pada perubahan, karena perubahan bukan berarti stabil, namun tidak berubah bukankah berarti stagnan? Tapi kita butuh keduanya, hidup antara aturan dan kebebasan adalah hidup nekat, tidak hanya karena bahwa dengan begitu berarti hidup dengan kesia-siaan, karena telah menyia-nyiakan aturan aturan yang kita buat maupun kita taati, tapi juga kebebasan seseorang maupun sekelompok tentu saja akan berbenturan dengan kebebasan seseorang maupun sekelompok yang lain. Lagi pula sangat berbahaya bila kita hidup dalam ketidakpastian, karena sama saja hidup kita jalani dengan akrab dengan chaos, dan itu tidak mungkin, karena chaos sangat tidak ramah dengan kehidupan. Dengan demikian, ternyata di sisi lain kita butuh doktrinisasi, diktatorisasi, apalagi-tentu saja-kita butuh Tuhan, dan kita lebih memilih membuat dan atau tunduk pada aturan aturan. Namun di sisi lain, ternyata aturan aturan itu bergerak di luar kendali kita karena kendali itu juga diperlukan oleh yang selain kita, (maaf, saya berbicara di luar konteks agama, di sini, saya hanya memandang agama Islam dari perspektif para pakar hukumnya yaitu para kyai kyai, ustadz ustadz, dan ulama ulama). jangan kira hanya kita sendiri yang butuh kendali, karena selain kita juga butuh kendali, karena ia butuh hidup tenang, butuh nyaman juga seperti kita. Yang terjadi selanjutnya, adalah kerja sama untuk menghadapi kerja sama yang lain. Yang kata bagusnya, kita kenal dengan kontrak sosial sebagaimana yang digagas Rosseau, untuk menghadapi kesulitan kesulitan manusia dalam bersosialisasi. Dan bersosialisasi adalah kata yang diartikan multikoneksi, bukan kata yang berarti tunggal.
    Pak, kebingungan saya, inikah realita yang cukup kita terima dan biarkan realita itu berjalan, mengalir seperti air, nantinya juga akan menjadi sejarah yang akan dikenal generasi kemudian tergantung seperti apa yang mereka tahu dan percaya? Lalu di mana letak maslahat? Sedangkan yang ‘pasti pasti’ saja ternyata penuh misteri dan intrik yang menjerumuskan. Namun apakah kita sedemikian kuat dan beraninya menggoyang goyang demokrasi yang sudah terlanjur diiklankan dan dipuji puji banyak orang dan dibilang ‘amin’ oleh rata rata ‘makmum’, atau mengusik undang undang yang mengatur tatanan dan ketertiban suatu masyarakat, bukankah itu sama saja dengan sifat sifat mesin perusak semata?
    Sekian dari saya, mohon maaf atas segala kekuranga dan ini sekedar tanggapan tidak mutlak sebuah pertanyaan, salam dari bujang Gantong…… salam dari Negeri Kinanah
    Wassalamu’alaikum wr wb…

  11. Aulia (komentar #41)

    Perjalanan panjang kehidupan religius HM Soeharto bisa dikatakan hampir mirip dengan manusia lain pada umumnya (tidak semua). Saat muda jauh dari nilai-nilai agama, menjelang tua mulai tersadar dan akhirnya mengerti akan penting dan wajibnya berserah diri kepada Sang Khalik.

    Bagi seorang suami, ke alpaan terhadap Agama berakibat buruk terhadap keluarganya. Untuk seorang pemimpin negara, rakyat dan bangsanyalah yang terkena getahnya. Jelas ini berkaibat fatal. Akibat ketidak mengertiannya terhadap Islam, segala kebijakannya benar-benar mengantam dan merugikan umat Islam di Indonesia.

    Apapun, semua telah terjadi. Semoga kedepan rakyat Indonesia bisa lebih pintar dan bijaksana dalam memilih pemimpinya.

    Wassalam

  12. Idil Akbar (komentar #42)

    Sedikit tanggapan untuk saudara Purnama

    Saya sepakat dengan pendapat saudara bahwa sepertinya kita memang telah diindoktrinasi dengan sejarah yang diteorikan. Namunyang mesti kita pahami pula bahwa kekuasaan absolut dan otoriter biasanya (dan selalu) tidak hanya sebatas pada persoalan pembangunan ekonomi. Pendidikan sebagai upaya untuk membangun paradigma berpikir juga akan menjadi target. Artinya pendidikan kita sebetulnya tidaklah murni, tergantung pada siapa yang berkuasa. Kita bisa bayangkan, berkuasa lebih dari 3 dasawarsa tentunya akan merubah perspektif kita atau paradigma berpikir kita secara signifikan.

    Dari sisi keilmuan yang seharusnya menganut paham “kebebasan” tentu hal ini diangga sebagai kemunduran. Tapi pertanyaannya apa yang bisa kita lakukan? Sementara penguasa pada kala itu sangat menutup segala akses yang dapat “mengancam” doktrinasi mereka. Maka tak heran paham “KIRI” (bahkan paham “kanan”) tidak terlalu berkembang dalam ruang pendidikan kita.

    Demikian pula dengan sejarah Bangsa ini yang di tangan orba kala itu menjadi bias. Sehingga tak heran kita akan kesulitan menerima kenyataan ketika mendapatkan informasi yang kontroversi, berbeda dan bertentangan dengan apa yang kita dapatkan selama ini. Saya memahami kebingunan saudara Purnama akan hal ini. Bukan hanya saudara, tetapi saya dan mungkin para pelajar, mahasiswa, dan masyarakat umum akan mengalami hal yang sama, diliputi dengan kebingungan “MANA YANG BENAR?”.

    Persoalan kemudian yang muncul adalah ketika kita dihadapkan pada situasi yang tidak rasional sebagai akibat dari pemahaman kita terhadap apa yang selama ini diterima (baca: diindoktrinkan). Agak sulit memang untuk memahami situasi ini. Sebab realitasnya kita dihadapkan pada suatu persimpangan jalan yang mesti dipilih namun pilihannya diibaratkan kita makan buah simalakama. Jika kita ikuti keadaan atau menerima bagaimana proses rezim dijalankan, kita adalah bagian dari rezim itu sendiri. Namun disaat pilihan kita berada diluar itu, maka cap atau slogan negatif (buruk) akan menjadi bagian dari kehidupan kita.

    Akan tetapi kita ternyata tidak bisa memilih (atau lebih tepatnya dipaksakan untuk memilih ikuti keadaan), dan menerima bagaimana proses rezim dijalankan. Hal inilah yang saya pikir kita seolah-olah melayang atau gamang dalam menentukan arah. Setiap keadaan akan selalu menjadi “jalan panas” bagi kita dalam melangkah. Sekarang tergantung bagaimana sikap kita dalam memahami sejarah dengan baik dan benar. Meskipun “baik dan benar” ini juga masih dipertanyakan substansinya. Saya sebetulnya bukanlah orang yang terlalu suka dengan sejarah. Saya menilai sejarah hanya sebagai pemahaman, bukan tindak tanduk dan perilaku. Meskipun sejarah terkadang penuh dengan contoh dan hikmah, saya membayangkan hal itu sebagai nostalgia.

    Sekarang saya pikir hanya dibutuhkan suatu optimisme untuk memberikan nuansa positif dalam memandang situasi atau keadaan. Saya kira sejarah pada kenyataannya hanya memberikan sepotong dari suatu keseluruhan kehidupan. Kemaslahatan akan sejarah sangat tergantung pada seberapa besar kita mampu mem-filter sejarah itu sendiri berdasarkan pikiran dan pemahaman murni kita. Dan itu perlu proses panjang agar mampu mengeliminir atau setidaknya mengurangi bias yang ada. Jangankan sejarah orang lain, bahkan sejarah kita sendiri terkadang bias bukan begitu? :-)

    Ini saja tanggapan saya. Maaf jika ada yang kurang berkenan… Salam dari urang Manggar..

  13. Olangbiaca (komentar #43)

    Asl….Pak YIM, terimakasih banyak atas kesaksian sejarahnya.., ini bisa membuka mata kita……, membuka mata kita tentang sejarah bangsa ini…..yup Pak YIM, salam kenal dari saya ORANG BIASA, walau bapak tak kenal sy, tapi sy mengenal Bapak…tetap Istiqomah pak.

  14. Rinie S Y (komentar #44)

    Terima kasih banyak atas tulisannya kali ini yang runut, runtut, jelas, tegas dan lugas serta mudah dipahami dan enak dibaca YIM, karena dengan tulisan ini pulalah saya jadi tahu kenapa almarhum Bapak saya dulu yang notabene seorang masyumi, amat benci dengan yang namanya Daoed Joesoef, Moerdani dan Sudomo. Dulu kalau melihat acara Berita di TV yang menyangkut berita orang-orang tersebut, almarhum Bapak saya selalu emosi dan kaya marah-marah sendiri (kita anak-anak masih kecil yang belum mengerti) padahal almarhum Bapak saya itu gak pernah marah dan murah senyum kepada semua orang. Dan satu lagi YIM, waktu saya masih kecil dulu tetangga saya banyak yang kejawen juga (ada semacam perkumpulan) yang berpakaian blangkon, tapi ya tetap pada sholat ke Masjid juga. Jadi ritual kejawen iya, sholat iya juga.

  15. aditya (komentar #45)

    Komentar #29

    tentang Mosi Integral Natsir bisa dilihat dalam Capita Selecta II Moh. Natsir..

    perlu juga diingat bahwa konsep negara kesatuan merupakan salah satu bentuk keinginan yang disampaikan dan diperjuangkan dengan sengit oleh Muhammad Yamin dalam Sidang BPUPK…

    jadi sebenarnya mosi intagral bukanlah suatu yang baru dalam sistem ketatatanegaraan Indonesia, meskipun pada saat ini ada sebagian dari anak bangsa Indonesia yang menginginkan susunan negara Indonesia adalah berbentuk susunan federal..

  16. Khalid (komentar #46)

    Yth pak Yusril,

    Menarik sekali membaca tulisan pak Yusril ini. Pada bagian tulisan bpk dijelaskan bahwa pak Harto pada awalnya bukanlah muslim yg taat dalam menjalankan perintah ibadah sholat, termasuk juga beliau sangat jarang menjalankan sholat Jum’at berjemaah, namun beliau baru tergerak sejak utk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT sejak awal tahun 1990. Pernyataan saya kpd pak Yusril, darimana sumber yg bapak jadikan sebagai bahan utk menjelaskan mengenai sangat jarangnya bpk alm Suharto menjalankan ibadah sholat sebelum tahun 1990. Apakah bpk sangat dekat dgn beliau sehingga tahu sehari-harinya apa yg dilakukan oleh pak Harto termasuk juga mengenai jarangnya beliau menjalankan ibadah….mohon penjelasan dari Bapak. Tks Wassalam

  17. abyan rafa (komentar #47)

    Memang tidak banyak generasi muda yang faham sejarah perjuangan ummat Islam Indonesia, khususnya Masyumi dalam kancah perpolitikan Indonesia. Setidaknya, tulisan Bang YIM ini akan membantu pelurusan sejarah di Indonesia, termasuk kaitan Bang YIM dalam ORBA. Banyak orang yang menuduh bahwa Bang YIM adalah bagian dari orde baru dengan alasan Bang YIM yang berperan cukup besar dalam kepemimpinan presiden Suharto. Bahkan PBB yang saat itu dikomandoi oleh Bang YIM panen kritik seperti itu.
    PBB sebagai penerus cita-cita perjuangan Masyumi, hendaknya tetap istiqomah mempertahankan perjuangan Islam dan Ummat Islam. Apapun tuduhan yang ditujukan kepada PBB, hendaknya tidak menyurutkan perjuangan kader-kader penerus Masyumi. Masyumi memang telah tiada, tetapi semangatnya harus tetap menggelora.
    Jika Masyumi bubar karena kebijakan zalim ORLA, maka PBB tidak lolos ET pada pemilu 2004, karena bebarapa faktor, al;
    1. Para pengurus PBB sudah banyak yang tidak mengenal sejarah perjuangan Masyumi.
    2. Semangat para pengurus dan kader PBB tidak seperti yang dimiliki oleh para kader Masyumi. Tua-tua keladi, semakin tua, semakin jadi. Maaf, bukan megelke ati.
    3. PBB lemah karena juga diserang oleh lawan-lawan politik yang anti Islam dan juga kawan politik yang tidak senang dengan orang perorang.
    Semoga PBB dan para kadernya tetap istiqomah dalam mempertahankan visi dan misi perjuangan. Biarkan orang lain yang sok Islami dan eksklusif tiba-tiba menjadi gentar dan akhirnya tampil inklusif (terbuka).
    4. Berapa banyak kelompok yang sedikit bisa mengalahkan kelompok yang besar dengan izin Allah (karena tetap teguh dan istiqomah mempertahankan Islam).
    5. PBB sebagai penerus perjuangan Masyumi harus terus disosialisasikan baik kepada kader sendiri maupun kepada masyarakat umum sehingga mereka pada pemilu 2009 mau dengan sadar dan ikhlas memilih PBB.
    terima kasih, Jazaakumullah khairan.

  18. abyan rafa (komentar #48)

    Semoga tulisan BAng YIM dapat menjadi klarifikasi atas tuduhan orang-orang yang buta sejarah tentang Masyumi, PBB, Yusril dan teman-teman seperjuangan. Alaa inna nashrallahi qoriib.

  19. luna (komentar #49)

    Bang! Saya ini juga heran Abi saya hampir tidak pernah berhenti beraktivitas. Masya Allah, saya sampai jadi geleng-geleng. Kok ya nggak kesel loh Abi. Isinya, ngaji, ngurus ummat yang kebanjiran, ngurus partai, dan macem-macem lagi. Barangkali Abi juga sudah baca sejarah para pejuang Masyumi yang tidak kenal lelah. Sebagai anak sa bangga, walaupun juga agak jarang dipeluk dan disayang. Bagaimana dengan Bang Yusril. Saya pingin lebih mantap lagi setelah mendengar perjalanan bapak-bapak dulu seperti Abang,

  20. Dila (komentar #50)

    Assalamu’alaikum.

    Mohon tanggapan;
    1. Siapa saja sih yang pernah minta tolong Bang YIM agar pak Harto ketika pidato kenegaraan atau yang lainnya
    bicara sebagaimana yang dimauinya?
    2. Sejauh mana sih efektifitas perjuangan Bang YIM untuk Islam dan ummat Islam selama dalam lingkaran istana
    ORBA?
    3. Bang YIM sudah berpengalaman dalam kabinet. Siapkah Bang YIM untuk dipilih menjadi presiden. Kata pak Amin,
    saatnya yang mudah tampil menjadi presiden. Artinya, pak Amin kan sudah tidak nafsu lagi untuk jadi presiden,
    dulu pernah menjadi rival dalam debat calon presiden, bahkan juga agak ngeledek-ngeledek Bang YIM bahasa
    Inggrisnya blepotan (gelih ah). Bahkan saya juga pernah baca stiker saat pemilu 2004 “SAATNYA YANG MUDAH
    MENJADI PRESIDEN” ada gambar PBB yang sekarang tidak lolos ET.
    4. Maaf Bang, gayanya Bang YIM seperti sombong begitu, walaupun mungkin hati Bang YIM sangat halus. Tapi
    sekiranya itu bisa dirubah sedikit saja, Bang YIM akan tampil meyakinkan sebagai calon Presiden mendatang
    (2009).
    5. Maaf Bang, anda pernah berdo’a apa terhadap PKS yang dulu sering menghujat Bang YIM dan PBB, sekarang
    berikrar untuk menjadi partai inklusif, karena Islam sebagai rahmat lil’alamin. Bahkan sekarang mereka jujur kalau
    di Irian ada dua orang anggota DPRD PKS yang agamanya Nashrani. sementara PBB pernah dihajar habis karena
    ada calonnya angguta DPR nya di Sumatera juga beragama Kresten ( sudah muallaf). Bukankah do’a orang yang
    dizalimi itu mustajab. Atau orang yang menghina itu tidak akan mati sehingga dia seperti orang yang dihinanya.

    Terima kasih Bang! Semoga Anda tetap dalam lindungan rahmat dan maghfira Allah. Amiin.

  21. safan (komentar #51)

    Assalamu’alaikum Wr Wb
    Tulisan anda sangat membantu kami sebagai generasi muda yang butuh akan informasi yang otentik, karena selama ini kita belajar dari sejarah yang telah dan banyak di rekayasa untuk satu kepentingan yang menguntungkan satu kelompok pada masa orde baru.”KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM” seakan membuka mata hati kita tentang Indonesia pra ORBA, ORBA dan pasca ORBA walaupun hanya sedikit yang disampaikan. Jika boleh saya menyampaikan saran dalam tulisan abang, yaitu masih kurangnya informasi yang perlu dijelaskan tentang peranan dan sumbangsih partai MASYUMI kepada negara pada saat itu serta tokoh-tokohnya baik kehidupan pribadi maupun pemikirannya, sehingga ada suri tauladan yang bisa kami petik.
    Mengapa saya meminta itu, karena opini yang dibangun dalam ”cerita” sejarah yang selalu kita dengar bahwa hanya PKI dan tokoh-tokohnya saja yang diekspose sebagai korban rezim pemerintahan masa lalu, sehingga banyak anak-anak muda kita yang terpengaruh dan merasa perlu menjadi bagian dari keterzholiman dan bangga menjadi bagian dari gerakan-gerakannya pada saat ini.
    Tongkat estafet perjuangan MASYUMI tentu dewasa ini pasti ada dan saya yakin bukan hanya YIM, kalo boleh kami tahu apakah mereka sekarang berjuang melalui jalur partai politik, kalo ya partai apa, apakah PBB or partai Islam lainnya, karena saya mendengar sedikit bahwa PKS juga mengklaim bahwa mereka juga pewaris MASYUMI.
    Sekarang anda berada di Partai Bulan Bintang (PBB), kalo boleh saya tanya apa sumbangsih PBB diera reformasi ini (sejak tahun 1999 s/d sekarang) terhadap bangsa dan negara ? dan menduduki jabatan apa anda sekarang ? karena kami sangat awam tentang PBB, yang kami dengar bahwa PBB sebagai penerus cita-cita dan perjuangan MASYUMI tetapi s/d sekarang kami belum pernah dengar sepak terjangnya dan nyaris tidak bersuara (kaya iklan aja!). terima kasih kalo anda dapat memberikan informasi yang saya tanyakan….
    Wassaluma’alaikum Wr Wb.

  22. dumas (komentar #52)

    wah..jos gandos nih….. kayaknya duduk seminggu sama Pak YIM cukup untuk bisa tau sejarah indonesia deh…
    Tapi pak..klo saya boleh tanya… sekarang kok kayaknya lagi musimnya disintegrasi ya… Irian udah mulai ngajak perang.. Mmmmm….saya kok jadi kawatir kalo bangsa ini jadi pecah beneran. ..

  23. a,malik (komentar #53)

    Dalam kaitannya dengan Masyumi masih banyak yang harus diungkap berdasarkan fakta sejarah seperti antara lain:

    Keterlibatan Pak Natsir CS.Dalam PRRI’

    Pak Natsir terkenal sebagai tokoh yang berpegang pada prinsip dan diutarakan dalam ucapan / tulisan yang sopan, Keterlibatan beliau dalam PRRI menurut suatu tulisan yang saya baca – mohon maaf saya lupa sumbernya – adalah karena beliau pada pertemuan di sungai dareh terjebak dengan golongan militer untuk memproklamirkan PRRI padahal acara pertemuan bukan dimaksudkan untuk itu. Pak Natsir yang santun dan belum pernah berkecimpung dalam bidang letentaraan/lasykar mengapa sampai ikut dalam dalam PRRI . Perginya beliau ke Sumatera memang di Jakarta pada waktu itu sudah tidak nyaman lagi bagi Pak Natsir karena diprovokasi oleh PKI.,Sebab musabab ikut sertanya Pak Natsir Cs dalam PRRI dan peranan beliau perlu diungkap secara jelas .

    Partai penerus aspirasi Masyumi.

    Masyumi adalah partai yang dibubarkan oleh Pengurusnya karena karena adanya Kepres dari Soekarno apabila Masyumi tidak dibubarkan akan menjadi Partai terlarang, Pak Roem pernah mengajukan gugatan kepada pengadilan negeri Jakarta yang sampai saat ini tidak pernah disidangkan . Selain itu pada periode reformasi ada partai yang bernama Partai Islam Masyumi dan ada pula Partai Bulan Bintang sebagai partai penerus aspirasi Masyumi.Selain itu generasi Pak Natsir dapat dikatakan telah meninggalkan kita,generasi Pak Anwar Haryono mungkin ada satu dua dan generasi Pak Husien Oemar mungkin masih banyak tersebar . Tokoh-2 Dewan Dakwah periode Pak Anwar Haryono tokoh=2nya tersebar dalam beberapa partai. Yang perlu ditegaskan disini sebenarnya siapa yang berhak untuk menyebut dirinya pewaris yang syah dari perjuangan Masyumi, apakah mereka yang berjuang sesuai dengan prinsip perjuangan Masyumi dahulu ataukah mereka yang berjuang melalui partai penerus Masyumi.

    PBB sebagai partai penerus aspirasi Masyumi.

    Prinsip perjuangan Masyumi dahulu sudah jelas teguh berpegang pada agama dan undang-2 yang berlaku, menuju masyarakat BALDATUN TAYYIBATUN WARABUN GHAFUR. Dalam perjuangannya melalui jalur demokrasi dan karenanya anti kediktatoran dan anti komunis. Partai penerus perjuangan Masyumi dahulu mungkin melalui tokoh-2 dari partai lain juga terasa, Karenanya sebagai otokritik terhadap PBB yang Bapak Yusril sebagai Rais Aamnya perlu penegasan visi perjuangannya selain tetap pada prinsip perjuangan Masyumi dahulu yaitu taat kepada agama dan undang -2 yang berlaku thema perjuangan politiknya harus disesuaikan dengan kondisi sekarang antara lain rule of the law, demokratis dan usaha kesejahteraan rakyat kecil termasuk membela kaum dhuafa yang terdiri dari buruh=tani dan nelayan serta jangan dilupakan pengusaha keciL. Label sebagai penerus perjuangan Masyumi tidak marketable karena masyarakat pada umumnya buta akan sejarah perjuangan Masuimi.

    YIM DAN KEMUNGKINAN KANDIDAT CAPRES,

    Pemilu 2 tahun lagi, dan banyak penulis diblog ini yang yang mendukung Pak Yusril maju sebagai Capres. Menurut saya lebih efektif Pak Yusril membesarkan partai dahulu.
    Pak Yusril mempunyai potensi yang cukup besar untuk membesarkan Parta terutama untuk menggaet golongan generasi muda dan intelektual..Perjuangan melalui Partai atau melalui jabatan executive sama saja. Saya setuju wacana Pak Yusril sebagai Capres sebagai sarana untuk membesarkan Partai.

    Akhirnya saya mohon Pak Yusril tetap menuangkan pemikirannya melalui blog ini, sangat sangat berguna.Amin.

  24. dumas (komentar #54)

    Selamat malam pak…

    Pak, untuk masalah logo-logo…entah itu partai atau logo-logo yang dibuat untuk keperluan politik, apakah memang diserahkan oleh design firm untuk membuatnya atau ditangani sendiri oleh anggota-anggota pemilik bakal logo tersebut ? Maaf….pertanyaan saya sedikit menyimpang dari konteks blog bapak, karena sejujurnya, saya lebih senang membacanya dari pada ikut terjun jadi politikus. Bukan apa-apa, semata-mata karena minat yang berbeda saja.

    Terima kasih

    http://www.one-lineone.blogspot.com

    Logo partai tentu mencerminkan filosofi dari partai itu. Bahwa finalisasi desain diserahkan kepada mereka yang ahli mungkin saja. Namun setelah itu, apabila telah disetujui tentu disahkan oleh partai ybs. Logo (lambang) partai juga harus disertakan ketika partai itu mendaftarkan diri di Departemen Hukum dan HAM, karena lambang partai tak boleh sama, tidak boleh menyerupai lambang negara dsb.

  25. bangzenk (komentar #55)

    @dumas
    iya, bang yusril. sendi-sendi pelajaran politiknya memang menarik (iya memang anda ahlinya). tapi kadang-kadang bosen juga ya..

  26. M.S. RIZAL (komentar #56)

    Sebelumnya saya haturkan terima kasih Prof telah mulai muncul dalam panggung perjuangan setelah beberapa tahun semenjak Reformasi Prof lebih banyak di belakang meja.
    Yang jelas bahwa dengan Blog Prof yang ada, saya harap akan membantu kami generasi muda untuk memahami bagaimana sih kerangka bernegara dan menjalankan negara ini dengan baik, Berpolitik yang baik dan bermoral.
    Terus terang Prof ketiaka saya mendengar prof di gepak dari tampuk MENSESNEG oleh si SBY yang Peragu dan plin plan itu, saya kemudian berasumsi negatif bahwa, Habis nih SBY kalu dia harus terpengaruh dengan orang2 di sekelilingnya sepereti si Jenderal Bego SUHDI, si Rambut Puti tak bervitamin (ADNAN BUYUNG) maupun para kelompok sosialis lainnya.
    Mungkin saya gak mau mengomentari tulisan Prof diatas karena saya tau bahwa Prof juga adalah Pelaku sejarah sebagai Anak Masyumi yang benar2 memahami jantung, darah, urat maupun seluruh organ-organ masyumi lain. Akan tetapi kalau boleh saya sarankan kepada Prof bahwa Bisa gaka kalau Issu KHILFAH dalam membenahi negara ini dikomendangkan ?……..terus terang bahwa saya sangat pesimis kalau Para jendral maupun para tokoh Politik Nasional lain selalu mendengungkan Nasionalisme dan Religius tapi pada implementasi gak ada bahkan semua itu hanya dibibir. yang berikut bahwa Skali2 Presiden/mantan Presiden di Republik ini kita penjarain dong Prof kalau ada kesalahan mereka yg melanggar Konstitusi maupun Hukum2 lain yg berkaitan dengan Pidana.

  27. Iwan Asnawi (komentar #57)

    @Hallo, sdr. Idil Akbar Urang Manggar…
    Bagus juga komentarmu, atas bung. Purnama. Tapi kan, “buah simalakama”, kan tidak berlaku pada “anak yang Yatim Piatu”. Yang sudah “tidak berbapak dan beribu”…he…he…

    @Yth: YIM…
    Maaf, numpang lewat lagi nih…
    Saya menunggu kisah KKMK…

    Salaaaam…

  28. jamaludin mohyiddin (komentar #58)

    Assalam mu Alaikum wa RahmatulLlah hi wa Barokatuh,

    Saudara Yusril I. Mahendra

    Ketika itu PKI sedang jaya. Ketika mereka sedang jaya, mereka juga membantai orang-orang Masyumi di Madiun tahun 1948, dan menculik dan menghilangkan paksa orang-orang Masyumi di Jawa Barat dan tempat-tempat lain. Hendaknya sejarah jangan melupakan semua peristiwa ini. Di era Reformasi sekarang, banyak aktivis HAM hanya berbicara tentang orang-orang PKI pasca G 30 S yang menjadi korban pembantaian Orde Baru, tetapi mereka melupakan orang-orang Masyumi yang menjadi korban pembantaian dan penghilangan paksa PKI, ketika mereka masih jaya-jayanya.

    Kalau dapat, boleh tidak saudara melampirkan beberapa bahan rujukan sama ada dalam bentuk buku, survey, lapuran resmi dan tidak resmi atau artikel yang memberitakan dan menceritakan pembantaian, pembunuhan, penyeksaan yang di lakukan oleh PKI semasa jayanya. Amnesty International, Human Rights Organization, dan hatta Noam Chomsky sekali pun dalam membicara tentang pelanggaran HAM di Indonesia selalunya mengulangi pembunuhan beramai ramai oleh Orde Baru keatas ahli, aktivis dan simpatisan PKI. Noam Chomsky tidak pernah merujuk akan peristiwa yang saudara telah terangkan. Sekiranya saya mempunyai bahan bahan ini, saya akan menghantar kepada pehak pehak tertentu untuk samada meminta mereka melihat semula peristiwa ini atau melakukan koreksi yang sepatutnya mesti dilakukan atau melakukan penulisan semula/rewriting satu episod sejarah yang tidak boleh di lupakan sebegitu sahaja. Saya akan juga meminta Noam Chomsky menimbang semula memasuki fakta sejarah pembantaian PKI atas umat islam dan anggota MASYUMI.

    Saya ingin tahu samaada telah ada penceritaan semula atau penulisan semula secara resmi tentang peristiwa ini di dalam negerai Indonesia. Sekiranya ada di harapkan saudara mampu merujukkan kepada saya sumber sumbernya.

    Terima kasih daun keladi.

  29. riyadi (komentar #59)

    membaca tulisan Abang yang begitu runut, tampaknya baru kali ini saya mendapat referensi soal Masyumi dan kiprah politiknya dalam berbangsa dan bernegara pada eranya waktu itu. Setelah saya amati dari tulisan Abang, rezim Sukarno dan Soeharto ternyata banyak ‘kesamaan’. Apa kesamaannya? Sama-sama kurang mengakomodasikan kepentingan Islam. Namun, dari dua mantan presiden itu, Sukarno kayaknya lumayan lebih ‘kejam’ dibandingkan Soeharto. Itu karena Sukarno telah menerbitkan Keppres Nomor 200/1960 pada tanggal 15 Agustus 1960 terkait pembubaran Masyumi. Sedangkan Soeharto, meski di awal-awal pemerintahannya kurang manis terhadap akomodasi kepentingan politik Islam, namun di akhir-akhir pemerintahannya, dia ’sedikit’ memberi nafas terhadap kepentingan Islam. Referensi soal Masyumi dan sejarah pergerakan Islam di Indonesia, sebaiknya Abang lebih intens untuk mengupas lebih banyak lagi. Makasih sumbangan pemikirannya. Saya berdoa semoga Abang menjadi negarawan di masa yang akan datang. Terus bersemangat dan akhirnya Bravo Yusril….

  30. adi riyadi (komentar #60)

    Tulisan soal Masyumi bagus and runut. Jangan segan-segan lagi ungkap sejarah perjalanan bangsa dan kiprah pergerakan Islam lainnya ya Bang.

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda