Orang-orang eks Masyumi dan para pengikutnya sangat khawatir dengan sekularisasi Pancasila dan menguatnya Aliran Kepercayaan ini. Di mata mereka, dibalik semua ini ada grand-design untuk mengelaminir Islam dengan berkolaborasi dengan kekuatan-kekuatan luar, dan kepentingan agama tertentu yang memanfaatkan Soeharto dan Orde Baru. Kelompok ini bukan saja memegang posisi-posisi strategis militer, tetapi juga menguasai pos-pos penting di bidang perekonomian dalam berbagai kabinet Orde Baru. Di kalangan eks Masyumi ada anggapan bahwa militer telah dijauhkan dari Islam. Maraden Panggabean, Soedomo dan Benny Moerdani yang semuanya non Muslim, memainkan peranan penting dan menentukan. Di masa itu ada kesan, bahwa perwira militer yang taat menjalankan agama Islam, sulit untuk mendapatkan promosi. Susilo Bambang Yudhoyono ketika masih perwira menengah juga mengalami nasib yang sama. Dia dianggap sebagai perwira yang taat menjalankan agama Islam, sehingga beberapa kali promosinya dihambat Benny Moredani. Demikian pula Radius Prawiro, Sumarlin, Adrianus Mooy, dan Sudrajat Djiwandono yang semuanya non-Muslim, cukup lama menduduki posisi kunci pos-pos ekonomi kabinet Orde Baru. Arsitek utama ekonomi Orde Baru, Widjojo Nitisastro dan Ali Wardhana, meskipun Muslim, dikenal sangat jauh dari Islam.
Orang-orang eks Masyumi berpikir bahwa jika Aliran Kepercayaan diformalkan, dan seluruh orang Jawa Abangan dikelompokkan sebagai penganut Aliran Kepercayaan dan bukan Muslim, maka Islam di Indonesia bukan saja akan menjadi minoritas dalam politik dan ekonomi, tetapi juga minoritas dalam jumlah. Indonesia tak dapat lagi menyatakan dirinya sebagai negara mayoritas Muslim terbesar di dunia. Kekhwatiran ini terasa di mana-mana. Kegiatan dakwah makin gencar dilaksanakan, terutama di kampus-kampus dan kantor-kantor pemerintah untuk mengimbangi kecenderungan anti Islam dalam kebijakan Orde Baru. Istilah Ekstrim Kanan (Islam iedologis) dan Ekstrim Kiri (Komunis) menjadi istilah umum yang selalu dikatakan sebagai bahaya laten yang akan memecah-belah persatuan dan kesatuan bangsa.
Dakwah yang luar biasa gencarnya itu akhirnya mendorong pula suatu perubahan. Secara politik Islam dikalahkan, namun kesadaran keislaman terasa makin menguat di mana-mana. Kesempatan pendidikan yang luas yang diberikan oleh Orde Baru telah membuka peluang anak-anak Muslim, dan lebih khusus lagi, anak-anak orang Masyumi untuk menempuh pendidikan. Tanpa disadari jumlah mereka sangat besar. Mereka mulai mengisi jajaran birokrasi, militer dan kekuatan politik yang secara resminya sebenarnya was-was dengan Islam Ideologis dan gerakan politik Islam. Anak-anak orang Masyumi seperti Feisal Tanjung dan Syarwan Hamid mulai menanjak karier militernya. Akbar Tanjung dan Abdul Gafur menjadi tokoh muda Golkar dan Ridwan Saidi menjadi muda tokoh PPP. Di kampus-kampus muncul kaum intelektual yang berasal dari anak-anak orang Masyumi. Keadaan ini mulai menggeser peranan intelektual yang dulunya selalu diklaim dan didominasi oleh orang-orang PSI.
Meskipun telah lahir kekuatan baru Islam yang berwajah non politik, namun tekanan terhadfap Islam terus berlangsung, terutama ketika Dr. Daoed Joesoef — salah seorang tokoh CSIS — diangkat menjadi Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Dia sangat tersohor dengan konsep NKK/BKK dan mengeliminir unsur Islam dalam pendidikan nasional kita. Saya masih ingat suatu ketika, Professor Slamet Imam Santoso dan Professor Selo Sumardjan mengatakan kepada saya kekecewaannya dengan terhadap sikap Pemerintah Orde Baru yang mereka nilai menekan Islam. “Lha, walau saya ini cuma Islam abangan, yang nggak pernah solat, tetapi kalau Islam itu dimacem-macemin, saya juga tidak rela”, kata Professor Selo suatu ketika. Sebagai orang Islam, kata Prof. Selo, “saya merasa tersinggung dengan kebijakan ini”. Saya sangat heran dengan ucapan Prof. Selo, karena selama kami menjadi mahasiswa kami tak pernah merasa beliau dekat dan mempunyai perhatian terhadap Islam.
Prof. Slamet Imam Santoso juga begitu jengkel dengan kebijakan anti Islam Menteri Pendidikan Daoed Joesoef. Beliau bersama-sama Prof. Rasjidi dan Prof. Osman Raliby mengambil inistaif menatar dosen-dosen Agama Islam di UI agar mampu mengajarkan Islam dalam bahasa yang dimengerti oleh mahasiswa dari berbagai fakultas. Gejala serupa nampaknya terjadi di mana-mana. Saya sendiri, yang berlatar belakang pendidikan hukum dan filsafat ikut direkrut untuk mengajarkan Agama Islam dengan pendekatan yang lebih intelektual. Prof. Slamet bersedia memberikan ceramah Agama Islam menjelang solat tarawih di Mesjid Arief Rachman Hakiem UI, walau beliau sendiri tidak ikut tarawih. Sambil bercanda Prof Slamet mengatakan kepada saya “Jelek-jelek Slamet ini dulunya pendukung Masyumi”. Beliau bercerita, suatu ketika diajak oleh Dr. Sudarsono – ayah Juwono Sudarsono – untuk mendukung PSI dengan alasan partai itu didukung kaum intelektual. Pak Slamet bilang, saya menolak, saya lebih senang mendukung Masyumi. Masyumi juga intelektual, tapi merakyat.
Puncak dari sikap anti Islam ideologis dan poltis dari Orde Baru adalah tatkala terjadinya Peristiwa Tanjung Priok yang menyebabkan sejumlah aktivis Islam dibawah pimpinan Amir Biki dibunuh tentara. Pasca peristiwa itu, sejumlah aktivis Islam termasuk AM Fatwa dan Abdul Kadir Jaelani ditangkapi. Abdullah Hehamahuwa dan saya sempat dikejar-kejar tanpa kami tahu apa sebabnya. Sebelum itu berbagai operasi intelejens dibawah komando Benny Moerdani telah merekayasa berbagai gerakan ekstrim seperti Komando Jihad dan pembajakan pesawat terbang Woyla. Suasana sangat mencekam. Saya sendiri ketika itu bekerja di lembaga riset LIPPM yang dipimpin Anwar Harjono. Mohammad Nastsir setiap hari datang berkantor ke lembaga ini. Sjafruddin Prawiranegara, Mohamad Roem dan Boerhanoeddin Harahap juga sering datang. Pergaulan saya dengan mereka sangat dekat, sehingga sayapun sering dituduh sebagai ekstrim kanan. Setelah mereka ikut menandatangani Petisi 50, banyak pula tokoh-tokoh lain seperti Ali Sadikin dan Hoegeng sering datang. Sejak tahun 1978, kami tegas menentang asas tunggal Pancasila dan P4. Mohammad Natsir memerintahkan saya menyusun argumentasi menolak asas tunggal dan P4. Tulisan saya itu dijadikan bahan berbagai organiasi Islam, termasuk Kongres HMI di Medan yang akhirnya menolak asas tunggal. Sampai P4 dihentikan di masa Presiden Habibie, saya tak pernah mau ikut penataran P4. Ini sama sekali tidak berarti kami menolak Pancasila sebagai falsafah negara. Kami menolak tafsiran sepihak Orde Baru terhadap Pancasila.
Tak ada yang menyangsikan bahwa sikap anti Islam ideologis dan politis di bawah Orde Baru ini tanpa arahan, atau paling tidak di bawah pengetahuan Presiden Soeharto. Soeharto sendiri berasal dari kalangan Jawa Abangan, walau di masa kecil pernah belajar di sekolah Muhammadiyah dan aktif belajar mengaji serta tidur di mesjid di kampungnya. Namun pemahaman Soeharto terhadap agama tergolong minim, begitu juga ketaatannya dalam menjalankan ibadah agama. Sampai akhir dekade tahun 1980-an, rakyat tak pernah tahu apakah beliau mengerjakan solat Jum’at apa tidak. Tak pernah beliau nampak pergi menunaian solat Jum’at di Masjid Baiturrahim di Istana Negara atau mesjid lainnya. Walau begitu, Soeharto selalu mengucapkan salam baik di awal maupun di akhir pidatonya, meskipun di dalam teks pidatonya, ucapan salam itu tidak ada. Soeharto dan Ibu Tien hanya nampak menghadiri acara Nuzul Qur’an di Istana negara, dan peringatan Isra Mi’raj dan Nuzul Qur’an di Mesjid Istiqlal. Dalam ucapan lisannya sehari-hari Soeharto lebih banyak mengutip mutiara-mutiara falsafah Jawa – terutama Ronggowarsito – daripada merujuk kepada khazanah ajaran Islam.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — January 31st, 2008
74 tanggapan untuk “KEBIJAKAN ORDE BARU, MASYUMI DAN ISLAM”
Pages: « 1 2 [3] Show All
Fadhly Syofian (komentar #61)
YIM : Perihal yang sama saya amati terjadi juga di Philipina. Orang Philipina umumnya lebih mengenal Magellan daripada Lapu-Lapu, Sultan Kudarat atau Raja-Sulaiman. Magellan adalah penakluk Spanyol dan penyebar Agama Katolik di Philipina. Lapu-Lapu adalah pemimpin Muslim dari Visaya………….(deleted)
Orang Philipina selalu bingung memahami sejarah, karena Spanyol selalu mengatakan Lapu-Lapu, Sultan Kudarat dan Raja Sulaiman adalah penjahat………(deleted)
FS:
Bang Yusril,
Sekitar 2 minggu lalu saya pergi ke Cebu, sebuah pulau dengan 45 menit penerbangan dari Manila. Mendarat di Mactan International Airport yang terletak di Lapu-Lapu City. Nama Lapu-Lapu jelas diambil dari nama tokoh yang abang ceritakan di atas. Saya juga pergi ke Lapu-Lapu Monument di daerah Punta Engano dimana monument tersebut letak berada dalam area yang sama dengan Magellan Monument. Dari sebuah prasasti di monumen itu diketahui bahwa Magellan dibunuh oleh Lapu-Lapu.
Saya penasaran untuk mengetahui apa pendapat orang-orang di sana mengenai Lapu-Lapu dengan mengadakan survei kecil-kecil. Dari beberapa orang yang saya tanyai semua berpendapat Lapu-Lapu adalah seorang hero. Lalu saat saya tanya pendapat mereka tentang Magellan, jawabannya terpecah. Ada yang menganggapnya sebagai tokoh biasa, tapi ada yang menganggapnya sebagai musuh (enemy). Tapi semua sependapat kalau Magellan adalah yang menyebarkan Katholik di Cebu. Teman saya yang orang Cebu bilang, jika tidak ada Magellan, mungkin banyak orang di Cebu seperti saya (seorang muslim)
Penjelasan saya ini berbeda dengan pendapat abang, karena Lapu-Lapu cukup dikenal di Cebu dan dianggap sebagai pahlawan.
Namun saya sependapat kalau ada kebingungan dalam memahami sejarah di Philipina. Mereka “berhutang”pada Magellan karena berkat Magellan mereka beragama Katholik namun di sisi lain tidak dapat menampik akan kepahlawan Lapu-Lapu. Di depan casino di Water Front Hotel, patung Lapu-Lapu bahkan dipajang lengkap dengan kata-kata heroiknya akan perjuangan.
Terima kasih atas komentarnya. Anda benar kalau melihat perspektif orang Visaya (Cebu terletak di Visaya) tentang Lapu-Lapu. Dia dianggap sebagai pahlawan dan cukup dikenal di daerah itu. Namanya juga diabadikan menjadi nama kota “Lapu-Lapu City” yang terletak di Pulau Cebu. Saya agak keliru sedikit, karena saya mengamati perspektif orang Luzon — yang secara etnik beda dengan orang Visaya, bahasanya juga beda — tentang Lapu-Lapu. Di Luzon (Manila khususnya) Lapu-Lapu kurang populer sebagaimana di Visaya. Orang Manila juga relatif banyak yang tidak mengetahui tentang Raja (Raha) Sulaiman. Nama Sultan Kudarat relatif dikenal karena di Mindanao ada kota yang namanya Sultan Kudarat, sebagaimana kota di Cebu yang diambil dari nama Lapu-Lapu.
Terima kasih atas koreksi dan tanggapan anda. (YIM)
February 24th, 2008 at 1:12 pm
erick (komentar #62)
Saya masih ingat, dulu sekali, sebelum Pak Yusril menceburkan diri ke politik praktis, mungkin sekitar tahun 1989-1994, ayah saya selalu membeli majalah Media Dakwah yang di sana saya banyak baca tulisan dari orang-orang yang merupakan orang Masyumi, seperti Mohamad Natsir, Dr Anwar Haryono dan Pak Yusril sendiri. Bapak saya (almarhum) juga seorang Masyumi yang setiap kali pemilu mulai tahun 1971 sampai 1998 selalu masuk penjara minimal seminggu selama pemilu berlangsung. Itu adalah bukti betapa jeleknya perlakuan orde baru kepada orang masyumi. Saya dulu sangat berharap, Pak Yusril berani untuk mendirikan kembali masyumi itu bukan partai bulan bintang atau bintang bulan. Karena dari pergaulan Pak Yusril dengan M. Natsir atau Anwar Haryono, sepertinya mereka menitipkan Masyumi kepada bapak. Tapi sepertinya hal itu sudah tak mungkin. Apalagi saat ini, momentum itu sudah jauh sekali berlalu.
Tanggapan saya:
Mengenai nama partai itu, kami membahasnya panjang sekali, antara lain di rumah Alm Pak Anwar Harjono. Waktu itu kami sepakat untuk tidak menggunakan nama Masyumi lagi. Biarlah Masyumi menjadi bagian dari sejarah panjang perjalanan bangsa kita. Nama yang kami putuskan adalah “Bulan Bintang”, yakni nama lain dari Masyumi. Setelah Masyumi dibubarkan pada tahun 196o, seluruh keluarga besar Masyumi selalu menyebut dirinya dengan istilah “Keluarga Besar Bulan Bintang” atau “Keluarga Besar Bintang Bulan”. Secara ideologis Partai Bulan Bintang tetap meneruskan ideologi Masyumi, dengan tentunya memperhatikan perkembangan zaman. Islam diyakini sebagai agama universal dan “rahmatan lil ‘Alamin”. Prinsip-prinsip ajaran sosial dan politik Islam yang universal itu perlu ditransformasikan ke dalam rumusan ideologis untuk dijadilkan landasan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan umat Islam dan bangsa Indonesia di negeri ini.
Beberapa kawan yang lain, akhirnya mendirikan Masyumi sebagai nama dari sebuah partai baru yang dipimpin oleh Pak Abdullah Hehamahua. Masyumi Baru juga berdiri di bawah pimpinan Pak Ridwan Saidi. Itulah fakta sejarah yang terjadi.
Terima kasih atas harapan dan tanggapan yang disampaikan (YIM).
February 26th, 2008 at 1:47 pm
adi riyadi (komentar #63)
Tulisannya bagus. Dan terus terus Bang. Mumpung banyak waktu. Kan udah nggak jadi menter, he he he
Insya Allah. Kalau ada waktu dan kesempatan, saya akan menulis, baik di blog ini maupun di media yang lain. (YIM)
February 26th, 2008 at 7:22 pm
adi riyadi (komentar #64)
Tulisannya bagus and runut. Terus bersemangat Bang. Mumpung banyak waktu luang. Kan udah nggak jadi menteri, he he he
February 26th, 2008 at 7:25 pm
Syam Jr (komentar #65)
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Bung YIM secara tidak langsung menggambarkan konflik ideologis sangat tajam pada dekde 60 an. Keadaan tersebut serupa meski tak sama dengan era reformasi. Kalau dulu arogansi ideologi sekarang terbaca sebagai arogansi partai. Dengan argumentasi demi rakyat kedua duanya sama menghasilkan kesengsaraan rakyat. Kalau dulu Bung Karno menciptakan common enemy nekolim sehingga “revolusi belum selesai”. Sekarang bangsa ini dikondisikan pada tahapan “belajar berdemokrasi” atau barangkalai dapat disebut sebagai membiasakan diri untuk berkonflik. Suatu proses pembelajaran yang tidak akan pernah selesai, karena tidak punya platform sebagai pijakan kehidupan berbangsa. Dalam visi yang lain ada tesis ada anti tesis yang kemudian muncul sintesis sebagai tesis baru…dan seterusnya……akan berlangsung mulus dalam kehidupan akademik. Tetapi apabila hal ini berlangsung pada tatanan kehidupan nyata…lihatlah konflik pilkada dimana mana. Memang jawaban paling gampang…..maklum kita sedang belajar berdemokrasi…
March 2nd, 2008 at 12:21 am
Anam (komentar #66)
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Alhamdulillah saya panjatkan puji syukur kehadirat Alloh SWT atas tulisan yang telah bapak muat mengenai “seklumit” sejarah bangsa ini. Menurut pendapat saya, hampir 80% generasi muda bangsa ini tidak tahu sejarah bangsanya dengan benar, karena desakan arus informasi dari luar (imperealisme, sekularisme dll) dan penyampaian fakta sejarah bangsa yang “keliru” (memutar balikkan fakta).
Semoga bapak terus diberi kekuatan dan kesehatan untuk terus memberikan/menyampaikan “pencerahan”. Amin..!
Saya tunggu artikel berikutnya pak.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
March 13th, 2008 at 1:30 pm
Mohammad Novel Damopolii (komentar #67)
Assalamu alaikum Wr Wb
Bang YIM,untuk kepentingan “Political Marketing”,Novel mohon ijinnya, untuk melakukan :
1. Penyebaran tulisan/buah Pikiran bang YIM ke beberapa mailing list, antara lain ke Yahoogrups dan Komunitas HMI.
2. Mengikut sertakan Bang YIM ke Komunitas “Friendster.Com”
Untuk hal ini, sebelumnya Novel sudah konsultasi ke Bang Jurhum, dan beliau menyarankan untuk meminta ijin ke
Bang YIM.
Apabila diijinkan, perkembangannya secara kontinyu akan Novel kabarkan via imelnya bang YIM
(
yusril@ihzamahendra.com/ Novel dapatkan imel ini dari jawaban bang YIM atas komentar #67 , Harismanto di
Preview Episode I Film Laksamana Cheng Ho) dan ke Bang Jurhum.
Demikian, atas ijinnya Novel ucapkan terima kasih.
Wassalamu alaikum wr wb
Silahkan saja kalau ada manfaatnya. Tentang Friendster, memang ada yang memasukkan nama saya ke dalamnya. Namun saya sendiri tidak tahu siapa yang membuatnya. Meskipun nama saya ada di Friendster, namun itu bukan berasal dari saya. Terima kasih. (YIM)
March 15th, 2008 at 10:23 pm
Yunan (komentar #68)
Ass.
Biar kelihatan akrab, saya panggil Bang Yuzril saja lah. Saya begitu baca artikel ini teringat dengan desertasinya Abang yg kemudian dibukukan itu. Saya sempat beli, tpi lupa karena sdh lama sekali saya membacanya. Tpi, saya tdk ingin terjebak dgn analisis politik semata. Coba lihat bgmn tatanan hukum kita yg kacau. Tpi disisi lain, kadang konsep Islam yg selalu ditawarkan tdk merespon nyata, hanya sekadar simbolik. Bagi saya, ini persoalan internal bagi umat juga sehingga umat juga menjadi korban. Misalnya saja, revisi UU Ekonomi Syariah saja dianggap islamisasi, krn gerakan simbolik itu sangat ‘resisten’ menyinggung kelompok lain. Gimana menurut Abang terkait persoaloan-persoalan teknis hukum semacam itu? Kita ini tiap hari dibikin berkerut, tpi untunglah semangat ini tak pernah henti untuk menuju perubahan
Wass…
March 27th, 2008 at 8:40 pm
Rusdi H Susilo (komentar #69)
Pengungkapan sejarah yang sesuai dengan fakta nya.
Sangat penting difahami oleh generasi muda yang tidak mengalami peristiwa tsb dan hanya membaca nya dari buku sejarah resmi yang sudah bias.
Sebagai bekal bagi generasi muda agar supaya tidak mudah terpengaruh oleh provokasi musuh2 rakyat dan negara yang mengaku sebagai pahlawan.
Dengan hati yang ikhlas, dalam rangka “tawaa shoubil haq watawaa shoubis-shobr” kami berharap mudah2an bang Yusril tidak mabuk pujian, oleh karena hal itu dapat menjatuhkan abang sendiri dimasa yang akan datang.
wassalam wr wb
Rusdi H Susilo
Insya Allah. Saya selalu berlindung kepada Allah dari mabuk karena dipuji, dan berlindung pula kepadaNya, agar selalu sabar ketika dicaci (YIM)
March 28th, 2008 at 3:43 am
Bhre Rakian (komentar #70)
Saya insya’al’Lah tidak akan melupakan bahwa “tiada sesuatupun terjadi melainkan karena perkenan Al’Lah”, dan “tiada perubahan nasib suatu kaum melainkan kaum itu mengusahakannya”.
Saya pernah berjumpa dalam dialog dengan seorang yang konon adalah seorang sufi. Kepada beliau saya kemukakan kekecewa’an saya masalah antara lain illegal logging yang konon justru menterinya sendiri terlibat, kalau bukan malah dalangnya. Jawabannya adalah dua kalimat suci di atas.
Jadi kapan negeri ini maju, dengan sistem dikatator >>> penuh dengan kesewenang2an, ada petrus, orang hilang dsb. Demokrasi parlementer, anggota DPR yg aji mumpung jadi pejabat malahan penuh dengan kisah2 memalukan. Gubernur, Bupati pilihan rakyat, malahan perhitungan BEP (Break Event Point) kapan investasi kembali (ongkos maju pilkada kapan lunas dari hasil korupsi setelah menjabat) setelah berapa tahun menjabat…. waduh rusak !
Islam memang agama yang mulia, tetapi manusianya juga yang melaksanakannya lurus atau agak bengkok2 dikit. Jaman kilafah Usmaniah, jatuhnya juga karena orangnya, dari dalam. Jaman Salahuddin juga jatuhnya karena mabuk2an dari dalam. Sadam Husein yang Islam (formalitas) jatuh. Syah Iran yang Islam (juga formalitas) juga jatuh. Bahkan kerajaan tinggalan nabi Sulaiman a.s. ( beliau juga “Islam” seperti “Islam”nya nabi Ibrahim a.s., note: dalam filosofi bahwa kata islam menurut bahasa Arab konon artinya = pasrah), juga jatuh.
Saya merasa ( merasa bukan beranalisa ! ya) bahwa bukan karena formalitas agamanya yang menentukan keberhasilan suatu perjuangan, termasuk perjuangan partai. tetapi kesungguhan, integritas orang2-nya, apakah memakai Islam untuk supaya dapat kesempatan jadi penggede dan lalu berkesempatan untuk korupsi (orang yang kaya gini kalaupun dapat rezeki maka rezeki itu gak berkah, tapi cobaan supaya lebih terjurumus barangkali).
Lee Kwan You yang orang “kafir” , dan bukan Islam, dan tidak berdasar partai Islam, toh berhasil memperjuangkan Singapura yang sekarang sudah jauh lebih kaya dari Indonesia (Devisanya 300 billion USD, Indonesia 54 billion USD)karena integritas Lee Kwan You.
Kalau kita ingin membangun kembali Masyumi hanya untuk balas dendam atau eksklusivitas kumunal sesama kaum sarungan yang tidur di surau, boleh kawin (secara resmi) lebih dari satu, dengan mengatas namakan atau membawa Nama-Nya, ah apa kita gak malu ama diri sendiri ? Malu ama malaikat penjemput kita nantinya.
Cobalah kita periksa diri kita sendiri dulu ….
Soekarno, Suharto, semua bergelut dengan kebhinekaan bangsa ini, ada musang, serigala ada ayam ada kambing, atau surut dengan selamat dan hormat seperti Bung Hatta, tetapi kasihan bangsa yang ditinggal ngambeg. Jadi Islam jangan hanya jadi topeng.
Kepada teman2 yang memang dengan tulus mendambakan kesejahteraan bangsa ini, lahir bathin, saya dukung dan saya ucapkan selamat berjuang. Tuhan bersamamu. Kepada pak YIM yang telah menguak kisah itu, yg saya sendiri juga tidak tahu sebelumnya, saya ucapkan terima kasih. Anda telah berjasa melengkapi sejarah.
Wabilahit Taufic wal Hidayah, wassalamualay’kum Wr.wb.
H.B.R.
April 2nd, 2008 at 3:30 pm
Syaiful Haq (komentar #71)
Salam.
bapak yang kami hormati.
kalau boleh nanya pak, salah satu dari anggota Masyumi yang paling revolusioner adalah alm. Sjafrudiin Prawiranegara, sepak terjannya dimana. saya pernah membaca sekilas, kalau pak syafrussin pernah menjabat sebagai ketua HUSAMI (Himpunan Usahawan Muslim Indonesia). tahun 1970an Husami sebagai salah satu dari organisasi yang merekrut orang2 yang sedang melaksanakan ibadah haji. tahun itu juga pernah terjadi konflik denagn pemerintah atau mungkin lebih tepatnya denagn peristiwa Gambela. kalau boleh saya tahu mungin bapak punya referensinya tentang peristiwa itu. gimana bapak?
sebelumnya terimas kasih maaf merepotkan bapak.
salam.
September 6th, 2008 at 9:14 pm
sita (komentar #72)
mf sblmny..
sy mw bertanya..
tntng kebijakan orde baru di bidang pendidikan…
klo bs mhon anda jlaskan mengenai hal trsbt…
terima kasih sblmny…
November 11th, 2008 at 5:29 pm
Syaiful Haq (komentar #73)
terima kasih pak. mungkin itu yang kami maksudkan. persoalanya sampai sekarang saya belum menemukan buku tersebut kalau tidak salah judulnya 712 Mujdahid yang menggemparkan oleh pak Yasin. mungkin kalau organisasi bapak punya referensi, saya minta bantuannya pak.soalnya penting banget untuk mendukung data penelitian saya.
terima kasih.
wassalamu’alaikum
December 4th, 2008 at 11:42 pm
Syaiful Haq (komentar #74)
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Kepada yang terhormat para jajaran Pengurus Bulan Bintang,
Mengenai Sejarah Alm. Revolusioner Sjafrudin Prawiranegara. mohon untuk solusinya khususnya menegnai HUSAMI dan Peristiwa Gambela. mungkin itu saja yang kami dapat sampaikan.terima kasih
Wassalamu’alaikum
December 27th, 2008 at 2:44 pm
Pages: « 1 2 [3] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda