Beranda

PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Ombak laut terasa tinggi dibanding biasanya ketika kami menyeberang dari Batam ke Pulau Penyengat. Namun kami tiba juga dengan selamat. Dari kejauhan saya menatap pulau penuh sejarah IMG_0001itu,dengan menara kuning keemasan Mesjid Sultan Riau peninggalan zaman dahulu. Penyengat hanyalah sebuah pulau kecil di antara gugusan Kepualauan Riau. Namun pulau itu penuh makna bukan saja bagi Nusantara, tetapi juga bagiDunia Melayu pada umumnya. Di zaman keemasan Kesultanan Riau, pulau itu bukan saja menjadi pusat pemerintahan, tetapi juga pusat kebudayaan dan keagamaan.Di pulau itu pula dimakamkan pahlawan nasional kita yang gagah berani, Raja Haji Fi Sabilillah yang tewas dalam pertempuran melawan Belanda di Melaka pada akhir abad 18. Di pulau itu pula dimakamkan Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, pahlawan nasional kita yang amat berjasa mengembangkan bahasa Melayu modern. Beliau juga dikenal sebagai cendekiawan yang mewarisi kita berbagai risalah sejarah, agama, budaya dan bahasa.

Penyengat kini sunyi dan sepi dimakan waktu. Setelah dihancurkan Belanda, pulau ini dibangun kembali pada tahun 1803. Berbagai bangunan masa lampau yang kini tersisa hanyalah Mesjid Sultan dan Istana serta beberapa rumah saja. Benteng pertahanan kesultanan di masa lalu tinggal reruntuhan. Makam berserakan di seluruh pulau, sebagai saksi kepahlawanan dan sekaligus kebiadaban orang-orang Belanda di masa lalu. Hanya kompleks makam Raja Haji Fi Sabilillah dan kompleks makam Engku IMG_0006Putri, yang di sampingnya ada makam Raja Ali Haji bin Raja Ahmad yang nampak terpelihara. Makam-makam lainnya mulai hancur di makan usia. Di dalam kompleks makam Engku Putri yang dibuat bangunan menyerupai sebuah mesjid, terpatri Gurindam Dua Belas karya Raja Ali Haji bin Raja Ahmad, di atas batu pualam. Nasihat dalam gurindam itu bernuansa tasawwuf dan terasa mengena bagi semua orang di segala zaman. Walau beliau telah lama meninggalkan kita, namun Raja Ali Haji terasa tetap hidup. Beliaulah Bapak Bahasa Indonesia, bahasa nasional kita.

Bagi saya pribadi, ziarah ke Pulau Penyengat mengandung makna yang amat dalam. Saya tak sekedar seorang yang datang untuk berdarmawisata. Saya tahu, nenek moyang saya berasal dari daerahIMG_0008 ini. Haji Muhammad Taib, seorang yang bergelar tengku, datuk saya, adalah anak watan negeri Melayu yang datang dari Johor Riau dan hijrah ke Pulau Belitung, karena sebab-sebab politik dan keluarga di zaman yang lampau. Kami mewarisi semangat keagamaan, intelektual dan dinamika yang tak pernah padam dari semangat Melayu dan Islam. Zaman akan terus berubah dan berganti, generasi demi generasi akan datang dan pergi, namun semangat ini sekali-kali tak boleh lenyap ditelan masa.

Semangat itulah yang saya tekankan ketika saya menyampaikan ceramah singkat ba’da Zuhur di Mesjid Sultan Riau di tengah puluhan IMG_0009jemaah lelaki dan perempuan yang hadir. Islam adalah agama universal yang tak pernah padam menyemangati zaman. Ajarannya laksana lentera menerangi perjalanan peradaban umat manusia agar tetap berada di jalan yang benar. Kemajuan wajib dicapai, namun akhlak wajib ditegakkan. Perdamaian wajib dikedepankan dan pemusuhan dienyahkan. Allah Ta’ala telah menciptakan manusia dengan keragaman dan perbedaan. Kita disuruh berlomba-lomba berbuat kebajikan, bukan berlomba-lomba berbuat keonaran karena ketamakan, khasad dan dengki. Semangat egeliter Islam itu bertemu dan sekaligus mengukuhkan adat istiadat orang Melayu yang menjunjung tinggi kemajuan, kesetaraan dan sopan santun dalam berbudi bahasa.

Nilai-nilai universalitas Islam dan jiwa semangat Melayu pada hemat saya tetap relevan dengan kemajuan kita sebagai sebuah bangsa. Kebudayaan Melayu mengajari kita berpikir sistematis dan logisIMG_0010 dengan tetap mengedepankan nilai-nilai keindahan dan kehidupan yang selaras dengan alam sekitar. Kebudayaan itu juga mengajarkan kita akan penghormatan terhadap keragaman. Kita wajib bersikap terbuka terhadap dunia luar, namun tetaplah kita menjadi diri kita sendiri. Anak watan haruslah menyelesaikan persoalan-persoalannya sendiri. Kita tidak mungkin bergantung kepada belas kasih yang entah ada entah tidak dari bangsa-bangsa lain. Ada berjuta potensi dan masalah di negeri ini, yang tak mungkin kita diamkan, apalagi hanya dengan salah menyalahkan kepada masa lalu. Islam dan kebudayaan Melayu mengajarkan kita memahami masa lalu untuk menyelesaikan masalah masa kini dan melangkah ke hari depan yang gemilang. Kita tak boleh terpenjara oleh masa lalu, yang membuat kita kehilangan vitalitas membangun perubahan besar di masa depan.

Hari mulai senja ketika kami meninggalkan Pulau Penyengat dengan perasaan haru. Kami merapat ke Tanjung Pinang IMG_NEWuntuk bermalam. Suasana Tahun Baru Cina masih terasa di kota yang kini menjadi ibu kota Provinsi Kepulauan Riau itu. Saya merasa senang di Tanjung Pinang, seperti saya pulang ke kampung saya di Pulau Belitung. Meskipun saya telah berada di Tanjung Pinang, saya selalu saja memandang Pulau Penyengat dari kejauhan. Saya mencoba memotret pulau itu dari Tanjung Pinang, ketika hari mulai senja dan matahari mulai tenggelam. Istri saya juga sangat senang di TanjungIMG_0003 Pinang. Dia memang lebih menyukai kota kecil daripada kota besar. Saya memotretnya dengan latar belakang kota Tanjung Pinang dan Pulau Penyengat dari kejauhan. Hanya semalam kami di Tanjung Pinang. Esok harinya kami menyeberang ke Pulau Batam. Meskipun hanya dua hari di Penyengat dan Tanjung Pinang, hati saya selalu terkenang. Teringatlah saya akan sebuah pantun:

Dari Penyengat
ke Tanjung Pinang,
Siang teringat
malam terkenang…

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 21st, 2008

50 tanggapan untuk “PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN”

Pages: « 1 [2] Show All

  1. Iwan Asnawi (komentar #31)

    @Yth: YIM…

    Dari sekarang, saya harus belajar melupakan anda!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    Komentar Anda tentang egaliter dalam kaitannya dengan Islam, telah saya respons di #21. Mohon maaf agak terlambat memberikan jawaban. (YIM)

  2. Tengku Dini M. (komentar #32)

    Assalamualaikum Bang YIM..
    Wah ternyata hasil browsing saya dengan tajuk ‘how to get to Pulau Penyengat from Batam’ menghantarkan saya ke blog abang.
    Alhamdulillah terjawab semua pertanyaan saya.
    InsyaAllah saya juga ada rencana kesana, mudah2an terkabul, amien..
    Saya baru tahu kalau abang Melayu juga sama halnya dengan saya.
    Sekedar usul kenapa tidak abang coba kirim ke Melayu Online cerita ini?, pasti sangat berguna buat semua yang akses ke situs tersebut.
    Semoga abang sukses selalu dan teruntuk salam buat Kak Rika:)

    Wassalam,
    Dini@Rempoa

    He he he, kita sama-sama puak Melayu rupanya. Datuk saya juga bergelar tengku, karena beliau bangsawan Melayu. Tapi saya sendiri bergelar Tuanku, sebutan yang dianugerahkan oleh para pemuka Tarikat Syatariah kepada seorang guru tarikat. Namun rasanya berat bahu saya memikul sebutan Tuanku, sebab bisa disejajarkan dengan Tuanku Imam Bonjol, Tuanku Tambusai dan sebagainya. Padahal awak ini apalah… Salam hormat saya buat Anda. (YIM)

  3. Iwan Asnawi (komentar #33)

    @Yth: YIM…

    Terima kasih atas komentar anda, saya akan mengunjungi Mr. Boisard… suatu hari…
    Sungguh, saya pun hormat dengan anda… Karena, sangat sedikit (hanya, satu atau dua) orang (Ilmuan) di Indonesia yang dapat menerangkan “pertanyaan” saya. Dulu pun saya “kecewa” dengan Mahfud. MD (Profesor dari UII, Yogya)… dia “Senior” saya… Dan akhirnya, saya terdampar disini…di Swiss.

    Sekali lagi, mohon maaf… Kalau saya “kurang” hormat…

    Salaaam…

    Terima kasih banyak. Tidak apa-apa. Kita saling memaafkan kekhilafan masing-masing. Saya mendoakan semoga Anda dapat bertemu Professor Boisard. Dulu beliau mengajar di Institut Diplomasi di Swiss. Bukunya sangat menarik. Guru saya alm. Professor HM Rasjidi menyuruh saya membaca buku itu pada akhir tahun 1980. Di Geneve ada seorang teman saya, namanya Dr. Kamil Idris, dia Dirjen Intellectual Property Rights. Beliau juga sering mendiskusikan masalah-masalah Islam dengan saya. Namun sudah beberapa tahun ini saya tak pernah lagi datang ke Geneve, sehingga saya tak berjumpa lagi dengannya. Di markas PBB di Geneve mungkin masih tersimpan naskah dan rekaman pidato saya mengenai HAM, juga berita berbagai jurnal mengenai perdebatan saya dengan Mary Robinson. Semoga anda mendapatkannya. (YIM)

  4. aditya (komentar #34)

    Tanggapan #33.

    dari tanggapan yang abang tulis, dapat dibaca abang pernah menyampaikan pidato di maskas PBB (bukan markas Partai Bulan Bintang-kan, he.. he..). jika abang berkenan mungkin naskah pidato tersebut dapat abang muat dalam blog ini, sekaligus kalau bisa dengan perdebatan dengan Mrs. Mary Robinson agar kami para neikmat blog ini juga dapat pencerah dari abang. terimakasih..

    Insya Allah. Saya akan minta dokumennya di Departemen Hukum dan HAM. (YIM)

  5. aditya (komentar #35)

    Tanggapan #33.

    dari tanggapan yang abang tulis, dapat dibaca abang pernah menyampaikan pidato di maskas PBB (bukan markas Partai Bulan Bintang-kan, he.. he..). jika abang berkenan mungkin naskah pidato tersebut dapat abang muat dalam blog ini, sekaligus kalau bisa dengan perdebatan dengan Mrs. Mary Robinson agar kami para neikmat blog ini juga dapat pencerah dari abang. terimakasih..

    oya buat mas Iwan Asnawi… kiranya juga dapat berbagi cerita tentang pendidikanya di Swiss, agar kami dapat mengikuti langkah mas Iwan.. terimakasih…

  6. Farhan (komentar #36)

    Assalamualaikum…. pak Yusril…..rupanya senang jalan2 ke tempat pemandangan dan panorama yang indah seperti kepulauan riau (P. Penyengat dll) yang dikelilingi laut yang biru dan pasir pantai yang bagus, sekalian melihat daerah asal usul datuk nenek pak Yusril serta daerah yang memiliki sejarah yang bernilai tinggi. Alhamdulillah, kali ini saya lihat foto isterinya sudah memakai jilbab. Semoga selalu diberikan hidayahnya, amin. Jangan lupa daerah sekitar pesisir pulau Belitung, Bangka dan sekitarnya perlu di ekspos juga lain kali ya pak Yusril.
    Salam.

  7. Marzuki.Ms (komentar #37)

    Assalamu’alaikum Bang Yusril yth,

    Setelah saya baca artikel2 bang Yusril ,nampaknya senang sekali dengan sastra dan lingkungan yang nyata
    juga sejarah peninggalan.Memang bangsa yang baik tidak melupakan sejarah.Saya pribadi salut dengan bang Yusril
    mendatangi tempat2 bersejarah dan mempublikasikan kepada bangsa2 terutama bangsa Indonesia.
    Bisa2 suatu sa’at atau genersi selanjutnya bang Yusril sebagai pujangga sastra Indonesia di abad sekarang, agar
    nanti anak cucu mengenal Indonesia.Memang memerlukan dana yang banyak untuk hal2 yang dilakukan bang Yusril
    mengujungi peninggalan sejarah.Secara tidak langsung bang Yusril sebagai Wisnu dan berbagi pengalaman kepada
    kami2 yang nggak dapat mengujungi tempat2 tsb. Saaluuut buat bang Yusril semoga succes.

    Wassalam,
    MzMs.

  8. SAMARUDIN (komentar #38)

    “Penyengat” dalam bahasa Toboali Bangka Selatan adalah “penyenget”, sejenis lebah tapi ukurannya kecil, sarangnya kecil, kalau diganggu, akan mengejar dan menyengat kita. Di Belitung istilah “penyengat” di konotasikan dengan Polisi yang sering mengejar pengendara kendaraan bermotor karena melanggar peraturan lalu lintas atau hal lainnya. Mungkin daerah lain juga punya arti lain dengan “penyengat” ini???, atau bang Yusril punya perbendaharaan lain tentang penyengat ini, tolong dijawab Bang, terima kasih.

  9. Iwan Asnawi (komentar #39)

    @Yth: YIM…

    Maaf untuk komentar #35, Bung Aditya… Mestinya, anda bertanya pada YIM?… Bolehkah saya, menulis kisah saya disini? Ini kan, blog-nya YIM…
    So, i dont think that’s a good idea to disturb him (YIM)…
    Sorry, but thanks to ask me…
    Honestly… i want to be “under cover”…

    Untuk YIM… Salaaam hormat

  10. Iwan Asnawi (komentar #40)

    @Yth: YIM…

    Saya masih sibuk mencari tau keberadaan Mr. Boisard (Prof)… Karena juga sibuk kerja, he…he…
    Maklum tinggal di Eropa, kan mesti begitu… Paling tidak, buku “Humanism in Islam”, akan saya lumat (baca= Iqro’) habis, sehabis-habisnya… Kalau, bukunya saya dapatkan…he…he…
    Tapi nanti, kalau saya ada waktu akan ke Geneva, mengunjunginya… InsyaAllah…
    Juga kawan anda itu, Dr.Kamil Idris, yang akan pensiun tahun depan.
    Saya juga berpikir mungkin, “kalau ada sumur di ladang boleh kita menumpang mandi, kalau ada umur kita panjang boleh kita berjumpa lagi…”

    Salaaam hormat…

  11. khusairi (komentar #41)

    Assalamualaikum Wr. Wb.
    Bang. Berita terakhir tentang MK, saya tertarik. Sikap termanis yang aku temui dari sosok bang yusril. menolak. memperlihatkan taji dan jati diri. selamat berjuang! Musim kampanye datang, Cheng Ho disebar, nonton gratis di lapangan terbuka dengan LCD. Bisa jadi, abang seperti arnold swezzeneger—atau lebih, karena arnold cuma seorang gubernur. Saya pikir abang nanti akan sukses. saya mendukung itu.
    Satu pertanyaan yang patut minta jawaban ke abang, ketika dua aliran besar —meminjam istilah Harun Nasution, rasional dan tradisional, istilah Cak Nur, peradaban dan Doktrin, istilah pengamat dan media, radikal dan plural, selalu bergesekan di dalam Islam, apa yang mesti kita lakukan? Dua-duanya bisa —sudah dimainkan– dipermainkan oleh kelompok dan agama lain dengan dana dan sistem kapital yang menjerat.Saya curiga, keduanya, dengan cara berpikir tersebut, dipelihara.
    salam hangat dari ranahminang

    abdullah khusairi
    +628126714240

  12. adi riyadi (komentar #42)

    Bang, sekarang kok agak menanggapi komentar-komentar ane? Apa tidak penting ya….

  13. adi riyadi (komentar #43)

    Bang, sekarang kok agak pelit menanggapi komentar-komentar ane? Apa nggak penting ya?……

  14. dian nusa (komentar #44)

    ass ww, kebesaran melayu dan islam memang sejarah kebelakang. apakah sekarang melayu akan bangkit? banyak faktor yang menghambatnya, salah satunya karakter orang melayu itu sendiri, lingkungan yang tidak bersahabat, teladan/panutan dari pemimpin. selamat ketemu lagi bang, mudah2an kenangan di penyengat dan tanjungpinang sangat berkesan, sehingga berkah di 2009. jangan lupa janji foto, terutama dengan kawan2 waktu makan malam di melayu square. sebetulnya kerajaan melayu yang pertamadi kepri adalah kerajaan bentan di pulau bintan sekitar abad 14 dan abad 15. raja malaka dan sekitarnya berasal dari bentan.. tetapi sejak dikalahkan portugis tahun 1511, sultan malaka terakhir (mahmudsyah) lari ke bentan, kemudian ke Pekan Tuo Kampar, dan dimakamkan tahun 1526 disana. DARI BATAM LANGSUNG KEPULAU PENYENYAT - KETEMU UMAT LANGSUNG BERSAHABAT - SEMOGA BANG YUSRIL SELAMAT KEAKHIR HAYAT - JADI PEMIMPIN DI 2009 YANG HEBAT

    Terima kasih atas informasinya (YIM)

  15. heru gautama (komentar #45)

    Assalamuaikum … abang Cerite penyengat aku teringat pulak kan batam bintan dua pulau yang lebeh sepulo tahun diam desana dan juak berape kali kite betemu dan itu ndak dapat aku lupakan … sekarang balik kekampong selinsing
    lejuk nak ketemu dan kelakar kan abg tape ape daye sekarang aku bukan sape sape agik ! Tulong kalok balik kesinek
    tingok tingok kamek !!! heru mantan ketue ikmb batam.

    Insya Allah, kalau saya pulang lagi ke Belitung nanti, kita dapat bertemu di sana. Saya selalu pergi ke Gantung melalui Selinsing naik sepeda motor. (YIM)

  16. Adi Wirawan (komentar #46)

    Penyengat, nama yang unik.., latar belakang sejarah yang unik sekaligus cukup panjang dan pola kehidupan serta lingkungan alam yang unik karena suasana alam yang lebih ramah, hijau juga teduh (berbeda dengan pulau-pulau lain yang relatif lebih panas) kebetulan saya pernah kesana satu kali, Begitu menjejakkan kaki di tanah penyengat, emosi saya langsung terbawa ke masa lalu.
    Sebuah realita yang sebelumnya hanya berbentuk gambaran dari uraian guru sastra Indonesia semasa sekolah. Spontan saya mendengar kembali pantun nasihat, gurindam dua belas yang terus terang tidak pernah bisa saya hapal.
    Meski bukan orang melayu, saya merasakan sebuah ikatan aneh dengan khususnya terhadap pulau ini. Berkeliling pulau yang hanya memakan waktu tidak sampai dua jam dengan mengunjungi berbagai situs yang ada saya sudah merasa sebagian hati saya (mungkin kami) akan tertinggal di sini.
    Terlebih ketika ayah kami berdialog dengan salah salah satu penjaga rumah panggung(pendopo?) yang di bawahnya terdapat mata air. Ketika itu pak tua menyampaikan harapannya agar kami bisa kembali yang diamini ayah saya jika usia mengijinkan.
    Saya hanya berharap jika saya bisa kembali mengunjungi pulau itu, saya masih bisa menemukan keramahan dan ketulusan penduduk setempat.

  17. Zulkarnaein (komentar #47)

    As-Salamu’alaikum. Yth. : Pak YIM

    Saya terkejut membaca tulisan Pak YIM yang menyebutkan bahwa Pak YIM adalah keturunan bangsawan Melayu Johor-Riau. Kebetulan, kedua orang tua saya adalah orang Penyengat, tetapi kami tinggal sekitar 30 Km. dari Penyengat di sebuah desa di Pulau Bintan. Saya berbahagia bahwa Pak YIM begitu concern dengan budaya melayu. Saya harap, Pak YIM menulis tentang melayu. Terima kasih.

    Dalam kesempatan ini, izinkanlah saya menanggapi tulisan Saudara Dian Nusa di komentar #44. Saya menulis tanggapan ini adalah dari “kacamata saya” yang menetap di Prov. Kepulauan Riau.

    Saudara Dian Nusa menulis demikian : “Kebesaran melayu dan Islam memang sejarah ke belakang. Apakah sekarang melayu akan bangkit? banyak faktor yang menghambatnya, salah satunya karakter melayu itu sendiri…..“. Saya agak terusik membacanya. Ada apa dengan karakter melayu? Apakah yang dimaksud Saudara Dian Nusa itu adalah bahwa orang melayu adalah orang yang malas (karena ini yang sering dikatakan orang) sehingga kebangkitan melayu terhambat karena karakter melayu?. Kalau memang demikian, saya tidak sependapat.

    Karakter malas ini berdampak luas, lekat dengan kebodohan dan tidak mampu bersaing. Kalau dikaitkan dengan masalah mental, itu terpulang kepada diri masing-masing. Tetapi secara umum, itu semua bisa diubah dengan corcern-nya pemerintah membangun masyarakatnya.

    Zaman sudah berbeda. Dulu, orang melayu berjaya. Banyak kerajaan melayu yang tersebar terutama di Semenanjung Malaya, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Sumatera bagian Timur. Mereka memimpin sendiri bangsanya. Lihat saja kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Sejak ditandatanganinya Traktat London 17 Maret 1824, Johor dan Pahang dikuasai Inggris, sementara Riau dan Lingga dikuasai Belanda. Inilah yang memecah melayu (dalam hal ini Johor-Pahang-Riau-Lingga) sebagaimana ditulis Raja Ali Haji dalam Tuhfat Al-Nafis-nya, memecah kawan dengan kawan, saudara dengan saudara. Ujung-ujungnya, tidak lepas dari politik. Yaitu bagaimana Belanda hanya merampas harta kekayaan melayu tanpa membangun masyarakatnya.

    Berbeda dengan Belanda, walaupun Inggris menjajah Semenanjung Malaya, tetapi mereka ikut membangun masyarakat jajahannya (maaf kalau saya salah, karena informasi inilah yang saya dapat waktu kecil, tolong dikoreksi). Anda tentu mafhum, bagaimana kekuasaan politik Orde Baru telah ’merampas’ minyak Riau untuk kemakmuran sebagian orang-orang di Jakarta. Orang melayu di Riau pun miskin. Saya kaget ketika saya pertama kali berangkat untuk kuliah ke Jogja tahun 1998 naik kereta api. Saya lihat sepanjang jalan menuju Jogja, kebanyakan jalan-jalan sudah diaspal dengan mulus. Padahal aspal itu di area persawahan. Listrik pun sudah masuk. Sebaliknya, kita bisa lihat di pulau-pulau di Riau dan Kepulauan Riau. Bagaimana sengsaranya mereka. Listrik, bangunan sekolah apalagi telepon, belum masuk. Hanya sejak reformasi, dengan berlakunya otonomi daerah, pulau-pulau terpencil itu diperhatikan. Inilah politik kekuasaan.

    Pada tanggal 31 Desember 2007 dan 1 Januari 2008 di harian Batam Pos, saya membaca tulisan Pak Rida K. Liamsi yang mengkritik Bu Aida Ismeth (anggota DPD asal Prov. Kepri). Bu Aida mengeluh dengan orang-orang Lingga yang ditemuinya yang katanya seperti tidak mempunyai semangat hidup. Pak Rida bilang, jangan salahkan mereka. Saya sepakat. Salahkanlah pemerintah Orde Baru yang tidak memperhatikan mereka. Bu Aida tidak bisa menceramahi mereka untuk merubah sifat mereka hanya dengan mengeluh bahwa mereka seperti tidak mempunyai semangat hidup. Menurut Pak Rida, ubahlah mereka dengan membangun Lingga menggunakan APBD. Sampai kapan masyarakat akan berubah kalau menungu kesadaran orang jika tidak dimulai dengan pemimpin/pemerintah yang mengubahnya. Padahal dulunya, pulau Lingga adalah Bunda Tanah Melayu, tempat Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga pernah memerintah. Sebagai pusat pemerintahan, tentunya keadaan dulu lebih makmur dari keadaan sekarang.

    Lihat Malaysia, bagaimana orang-orangnya mempunyai disiplin diri karena diatur dengan peraturan-peraturan yang ada oleh jajaran pemerintahannya. Secara umum, rata-rata mereka lebih disiplin daripada kita. Lihat juga bagaimana disiplinnya orang-orang Singapura. Buang ludah di tempat-tempat tertentu saja didenda. Semua itu adalah bagaimana pemimpin/pemerintah suatu daerah mengatur masyarakatnya dengan baik.

    Dalam dunia informasi, imej tentang karakter melayu ini termasuk opini publik yang dampaknya luar biasa. Ini hanya imej. Imej inilah yang harus diubah. Toh, banyak orang melayu yang berhasil, yang jadi ini dan jadi itu (kalau ukuran yang diambil adalah dunia). Kalau imej ini yang terus berkembang, maka saya yakin, sebagian besar generasi melayu seterusnya tidak akan mau maju karena sudah tertanam dalam diri mereka bahwa mereka adalah orang yang malas.

    Saya tentu setuju, merubah diri adalah dimulai dari diri sendiri. Agar lebih cepat dan lebih terarah, tentu pemimpin/pemerintah yang perlu membimbing masyarakatnya. Kalau dua-duanya berjalan beriringan tentu cepat dirasakan hasilnya.

    Pendapat ini tentu dirasa idealis. Atau pendapat yang semua orang bisa mengatakannya. Tetapi, yang saya ingin tekankan adalah bahwa, pemerintah daerah sekarang dengan otonomi daerahnya dapatlah untuk mengubah imej ini dengan mengerahkan APBD yang ada. Bikin peraturan yang bagus. Bangun sekolah-sekolah di pulau-pulau. Biayai siswa-siswa berpretasi ke daerah luar, dan lain-lain. Toh, itu adalah uang rakyat yang harus dikembalikan lagi kepada mereka. Tak dapat dipungkiri juga bahwa berhasil tidaknya suatu daerah akan dilihat dari berhasil tidaknya orang yang memimpin.

    Dalam al-Qur’an disebutkan, Allah Swt. tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mengubah diri mereka sendiri. Hemat saya, kata-kata kaum itu menunjuk tidak hanya untuk pribadi-pribadi, tetapi sejumlah orang di suatu negeri. Bagaimana kaum yang banyak itu berubah, tentu sangat didukung oleh pemimpinnya.

    Saya tidak anti dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak ada di dunia ini, sampai kapan pun. Tentu, yang baik adalah kekuasaan yang adil dan merata.

    Jadi, karakter buruk orang melayu seperti yang disebutkan di atas itu hanyalah imej orang karena sebagian orang melayu –terutama di pulau-pulau terpencil- hidup terbelakang. Bukankah dahulu melayu berjaya? Jika suatu masyarakat ingin berubah, maka pemimpin/pemerintah yang concern dengan masyarakatnya adalah kunci utamanya dengan mengerahkan APBD yang ada. Sejarah masa lalu juga perlu dilihat. So, jangan salahkan karakter melayu, salahkanlah politik masa lalu yang meng-anaktirikan orang melayu.

    Mohon maaf kalau pendapat saya banyak yang janggal. Saya orang muda yang ingin belajar menulis. Kepada Pak YIM saya minta tanggapannya, (coz Bapak orang melayu) begitu juga kepada Saudara saya, Dian. Semoge bile-bile mase nanti kite bise jumpe, karena dari tulisan awak, saye tahu kalau awak juge tinggal di Tanjungpinang. Salam hormat saye buat Pak YIM dan salam hangat saye buat Dian. Btw, Jangan marah e…he3.

  18. karirhy (komentar #48)

  19. PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN - Pulau Seribu (komentar #49)

    [...] Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 21st, 2008 Sumber : yusril.ihzamahendra.com [...]

  20. JAKARTAoke.com (komentar #50)

    catatan perjalanan yang sangat informatif. belum pernah ada keinginan untuk mendatangi pulau penyengat, tp setelah membaca tulisan ini, pulau penyengat bakal masuk daftar yg akan dikunjungi bila sedang berkunjung ke daerah Riau Kepulauan

Pages: « 1 [2] Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda