<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
		>
<channel>
	<title>Comments on: PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN</title>
	<atom:link href="http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/</link>
	<description>Blog Yusril Ihza Mahendra</description>
	<lastBuildDate>Thu, 02 Feb 2012 14:26:43 +0000</lastBuildDate>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.2.1</generator>
	<item>
		<title>By: Winoto Anung (Jatim)</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-2/#comment-89967</link>
		<dc:creator>Winoto Anung (Jatim)</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 27 Apr 2010 06:51:03 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-89967</guid>
		<description>Bang Yusril, kalo baca cerita kejayaan Penyengat dan membandingkan dengan keadaan sekarang betapa sedihnya. Pusat maritim, dengan kekuatan armada, benteng pertahanan, pusat intelektual, ada Rusdiyah Club, percetakan untuk buku-buku, karya-karya menjulang, semua terlahir dari secuil tanah yang diberi nama Pulau Penyengat. Dalam pikiran saya, jahat sekali Belanda, sebab menghanguskan kekuatan berpikir dan berkarya, padahal kekuasaan Inggris di Malaya (yang masih sesaudara dengan Riau) tidak begitu caranya &quot;menjajah&quot;. Kalau dibayangkan, betapa majunya Riau kalau tidak ada Perang Riau dan penguasaan cara belanda yang merusak itu... banyak lagi lah ...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Bang Yusril, kalo baca cerita kejayaan Penyengat dan membandingkan dengan keadaan sekarang betapa sedihnya. Pusat maritim, dengan kekuatan armada, benteng pertahanan, pusat intelektual, ada Rusdiyah Club, percetakan untuk buku-buku, karya-karya menjulang, semua terlahir dari secuil tanah yang diberi nama Pulau Penyengat. Dalam pikiran saya, jahat sekali Belanda, sebab menghanguskan kekuatan berpikir dan berkarya, padahal kekuasaan Inggris di Malaya (yang masih sesaudara dengan Riau) tidak begitu caranya &#8220;menjajah&#8221;. Kalau dibayangkan, betapa majunya Riau kalau tidak ada Perang Riau dan penguasaan cara belanda yang merusak itu&#8230; banyak lagi lah &#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: ana ardyana</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-2/#comment-88387</link>
		<dc:creator>ana ardyana</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 10 Feb 2010 12:12:24 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-88387</guid>
		<description>macasih yaa??karna gurindam ini qu bisa yeledain tugas bahasa indonesia dari guru thank ya??????</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>macasih yaa??karna gurindam ini qu bisa yeledain tugas bahasa indonesia dari guru thank ya??????</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Sultan Yusuf Iskandar Muda</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-2/#comment-66641</link>
		<dc:creator>Sultan Yusuf Iskandar Muda</dc:creator>
		<pubDate>Wed, 01 Apr 2009 02:34:34 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-66641</guid>
		<description>Assamuikum Wr Wb
kami dari pelaku Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam
ingin menjalin Kerja sama


Sultan Yusuf Iskandar Muda
Peneliti Kesultanan Aceh Darussalam</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assamuikum Wr Wb<br />
kami dari pelaku Sejarah Kesultanan Aceh Darussalam<br />
ingin menjalin Kerja sama</p>
<p>Sultan Yusuf Iskandar Muda<br />
Peneliti Kesultanan Aceh Darussalam</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: haniff</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-2/#comment-42407</link>
		<dc:creator>haniff</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 04 Dec 2008 06:23:22 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-42407</guid>
		<description>Ya Allah! persatukan lah kami malaysia dan indonesia...</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Ya Allah! persatukan lah kami malaysia dan indonesia&#8230;</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: JAKARTAoke.com</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-36294</link>
		<dc:creator>JAKARTAoke.com</dc:creator>
		<pubDate>Thu, 16 Oct 2008 08:17:08 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-36294</guid>
		<description>catatan perjalanan yang sangat informatif. belum pernah ada keinginan untuk mendatangi pulau penyengat, tp setelah membaca tulisan ini, pulau penyengat bakal masuk daftar yg akan dikunjungi bila sedang berkunjung ke daerah Riau Kepulauan</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>catatan perjalanan yang sangat informatif. belum pernah ada keinginan untuk mendatangi pulau penyengat, tp setelah membaca tulisan ini, pulau penyengat bakal masuk daftar yg akan dikunjungi bila sedang berkunjung ke daerah Riau Kepulauan</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN - Pulau Seribu</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-9044</link>
		<dc:creator>PENYENGAT: PULAU SERIBU KENANGAN - Pulau Seribu</dc:creator>
		<pubDate>Sun, 27 Jul 2008 06:03:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-9044</guid>
		<description>[...] Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 21st, 2008 Sumber : yusril.ihzamahendra.com [...]</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>[...] Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 21st, 2008 Sumber : yusril.ihzamahendra.com [...]</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: karirhy</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-2614</link>
		<dc:creator>karirhy</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 08 Apr 2008 07:21:23 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-2614</guid>
		<description>Useful!</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Useful!</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Zulkarnaein</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-2351</link>
		<dc:creator>Zulkarnaein</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 18:32:05 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-2351</guid>
		<description>As-Salamu’alaikum. Yth. : Pak YIM

Saya terkejut membaca tulisan Pak YIM yang menyebutkan bahwa Pak YIM adalah keturunan bangsawan Melayu Johor-Riau. Kebetulan, kedua orang tua saya adalah orang Penyengat, tetapi kami tinggal sekitar 30 Km. dari Penyengat di sebuah desa di Pulau Bintan. Saya berbahagia bahwa Pak YIM begitu concern dengan budaya melayu. Saya harap, Pak YIM menulis tentang melayu. Terima kasih.

Dalam kesempatan ini, izinkanlah saya menanggapi tulisan Saudara Dian Nusa di komentar #44. Saya menulis tanggapan ini adalah dari “kacamata saya” yang menetap di Prov. Kepulauan Riau.

Saudara Dian Nusa menulis demikian : “Kebesaran melayu dan Islam memang sejarah ke belakang. Apakah sekarang melayu akan bangkit? banyak faktor yang menghambatnya, salah satunya karakter melayu itu sendiri…..“. Saya agak terusik membacanya. Ada apa dengan karakter melayu? Apakah yang dimaksud Saudara Dian Nusa itu adalah bahwa orang melayu adalah orang yang malas (karena ini yang sering dikatakan orang) sehingga kebangkitan melayu terhambat karena karakter melayu?. Kalau memang demikian, saya tidak sependapat. 

Karakter malas ini berdampak luas, lekat dengan kebodohan dan tidak mampu bersaing. Kalau dikaitkan dengan masalah mental, itu terpulang kepada diri masing-masing. Tetapi secara umum, itu semua bisa diubah dengan corcern-nya pemerintah membangun masyarakatnya.

Zaman sudah berbeda. Dulu, orang melayu berjaya. Banyak kerajaan melayu yang tersebar terutama di Semenanjung Malaya, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Sumatera bagian Timur. Mereka memimpin sendiri bangsanya. Lihat saja kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Sejak ditandatanganinya Traktat London 17 Maret 1824, Johor dan Pahang dikuasai Inggris, sementara Riau dan Lingga dikuasai Belanda. Inilah yang memecah melayu (dalam hal ini Johor-Pahang-Riau-Lingga) sebagaimana ditulis Raja Ali Haji dalam Tuhfat Al-Nafis-nya, memecah kawan dengan kawan, saudara dengan saudara. Ujung-ujungnya, tidak lepas dari politik. Yaitu bagaimana Belanda hanya merampas harta kekayaan melayu tanpa membangun masyarakatnya. 

Berbeda dengan Belanda, walaupun Inggris menjajah Semenanjung Malaya, tetapi mereka ikut membangun masyarakat jajahannya (maaf kalau saya salah, karena informasi inilah yang saya dapat waktu kecil, tolong dikoreksi). Anda tentu mafhum, bagaimana kekuasaan politik Orde Baru telah ’merampas’ minyak Riau untuk kemakmuran sebagian orang-orang di Jakarta. Orang melayu di Riau pun miskin. Saya kaget ketika saya pertama kali berangkat untuk kuliah ke Jogja tahun 1998 naik kereta api. Saya lihat sepanjang jalan menuju Jogja, kebanyakan jalan-jalan sudah diaspal dengan mulus. Padahal aspal itu di area persawahan. Listrik pun sudah masuk. Sebaliknya, kita bisa lihat di pulau-pulau di Riau dan Kepulauan Riau. Bagaimana sengsaranya mereka. Listrik, bangunan sekolah apalagi telepon, belum masuk. Hanya sejak reformasi, dengan berlakunya otonomi daerah, pulau-pulau terpencil itu diperhatikan. Inilah politik kekuasaan.

Pada tanggal 31 Desember 2007 dan 1 Januari 2008 di harian Batam Pos, saya membaca tulisan Pak Rida K. Liamsi yang mengkritik Bu Aida Ismeth (anggota DPD asal Prov. Kepri). Bu Aida mengeluh dengan orang-orang Lingga yang ditemuinya yang katanya seperti tidak mempunyai semangat hidup. Pak Rida bilang, jangan salahkan mereka. Saya sepakat. Salahkanlah pemerintah Orde Baru yang tidak memperhatikan mereka. Bu Aida tidak bisa menceramahi mereka untuk merubah sifat mereka hanya dengan mengeluh bahwa mereka seperti tidak mempunyai semangat hidup. Menurut Pak Rida, ubahlah mereka dengan membangun Lingga menggunakan APBD. Sampai kapan masyarakat akan berubah kalau menungu kesadaran orang jika tidak dimulai dengan pemimpin/pemerintah yang mengubahnya. Padahal dulunya, pulau Lingga adalah Bunda Tanah Melayu, tempat Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga pernah memerintah. Sebagai pusat pemerintahan, tentunya keadaan dulu lebih makmur dari keadaan sekarang. 

Lihat Malaysia, bagaimana orang-orangnya mempunyai disiplin diri karena diatur dengan peraturan-peraturan yang ada oleh jajaran pemerintahannya. Secara umum, rata-rata mereka lebih disiplin daripada kita. Lihat juga bagaimana disiplinnya orang-orang Singapura. Buang ludah di tempat-tempat tertentu saja didenda. Semua itu adalah bagaimana pemimpin/pemerintah suatu daerah mengatur masyarakatnya dengan baik.

Dalam dunia informasi, imej tentang karakter melayu ini termasuk opini publik yang dampaknya luar biasa. Ini hanya imej. Imej inilah yang harus diubah. Toh, banyak orang melayu yang berhasil, yang jadi ini dan jadi itu (kalau ukuran yang diambil adalah dunia). Kalau imej ini yang terus berkembang, maka saya yakin, sebagian besar generasi melayu seterusnya tidak akan mau maju karena sudah tertanam dalam diri mereka bahwa mereka adalah orang yang malas.

Saya tentu setuju, merubah diri adalah dimulai dari diri sendiri. Agar lebih cepat dan lebih terarah, tentu pemimpin/pemerintah yang perlu membimbing masyarakatnya. Kalau dua-duanya berjalan beriringan tentu cepat dirasakan hasilnya. 

Pendapat ini tentu dirasa idealis. Atau pendapat yang semua orang bisa mengatakannya. Tetapi, yang saya ingin tekankan adalah bahwa, pemerintah daerah sekarang dengan otonomi daerahnya dapatlah untuk mengubah imej ini dengan mengerahkan APBD yang ada. Bikin peraturan yang bagus. Bangun sekolah-sekolah di pulau-pulau. Biayai siswa-siswa berpretasi ke daerah luar, dan lain-lain. Toh, itu adalah uang rakyat yang harus dikembalikan lagi kepada mereka. Tak dapat dipungkiri juga bahwa berhasil tidaknya suatu daerah akan dilihat dari berhasil tidaknya orang yang memimpin.

Dalam al-Qur’an disebutkan, Allah Swt. tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mengubah diri mereka sendiri. Hemat saya, kata-kata kaum itu menunjuk tidak hanya untuk pribadi-pribadi, tetapi sejumlah orang di suatu negeri. Bagaimana kaum yang banyak itu berubah, tentu sangat didukung oleh pemimpinnya.

Saya tidak anti dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak ada di dunia ini, sampai kapan pun. Tentu, yang baik adalah kekuasaan yang adil dan merata. 

Jadi, karakter buruk orang melayu seperti yang disebutkan di atas itu hanyalah imej orang karena sebagian orang melayu –terutama di pulau-pulau terpencil- hidup terbelakang. Bukankah dahulu melayu berjaya? Jika suatu masyarakat ingin berubah, maka pemimpin/pemerintah yang concern dengan masyarakatnya adalah kunci utamanya dengan mengerahkan APBD yang ada. Sejarah masa lalu juga perlu dilihat. So, jangan salahkan karakter melayu, salahkanlah politik masa lalu yang meng-anaktirikan orang melayu.

Mohon maaf kalau pendapat saya banyak yang janggal. Saya orang muda yang ingin belajar menulis. Kepada Pak YIM saya minta tanggapannya, (coz Bapak orang melayu) begitu juga kepada Saudara saya, Dian. Semoge bile-bile mase nanti kite bise jumpe, karena dari tulisan awak, saye tahu kalau awak juge tinggal di Tanjungpinang. Salam hormat saye buat Pak YIM dan salam hangat saye buat Dian. Btw, Jangan marah e...he3.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>As-Salamu’alaikum. Yth. : Pak YIM</p>
<p>Saya terkejut membaca tulisan Pak YIM yang menyebutkan bahwa Pak YIM adalah keturunan bangsawan Melayu Johor-Riau. Kebetulan, kedua orang tua saya adalah orang Penyengat, tetapi kami tinggal sekitar 30 Km. dari Penyengat di sebuah desa di Pulau Bintan. Saya berbahagia bahwa Pak YIM begitu concern dengan budaya melayu. Saya harap, Pak YIM menulis tentang melayu. Terima kasih.</p>
<p>Dalam kesempatan ini, izinkanlah saya menanggapi tulisan Saudara Dian Nusa di komentar #44. Saya menulis tanggapan ini adalah dari “kacamata saya” yang menetap di Prov. Kepulauan Riau.</p>
<p>Saudara Dian Nusa menulis demikian : “Kebesaran melayu dan Islam memang sejarah ke belakang. Apakah sekarang melayu akan bangkit? banyak faktor yang menghambatnya, salah satunya karakter melayu itu sendiri…..“. Saya agak terusik membacanya. Ada apa dengan karakter melayu? Apakah yang dimaksud Saudara Dian Nusa itu adalah bahwa orang melayu adalah orang yang malas (karena ini yang sering dikatakan orang) sehingga kebangkitan melayu terhambat karena karakter melayu?. Kalau memang demikian, saya tidak sependapat. </p>
<p>Karakter malas ini berdampak luas, lekat dengan kebodohan dan tidak mampu bersaing. Kalau dikaitkan dengan masalah mental, itu terpulang kepada diri masing-masing. Tetapi secara umum, itu semua bisa diubah dengan corcern-nya pemerintah membangun masyarakatnya.</p>
<p>Zaman sudah berbeda. Dulu, orang melayu berjaya. Banyak kerajaan melayu yang tersebar terutama di Semenanjung Malaya, Kalimantan Barat, Kepulauan Riau dan Sumatera bagian Timur. Mereka memimpin sendiri bangsanya. Lihat saja kerajaan Johor-Pahang-Riau-Lingga. Sejak ditandatanganinya Traktat London 17 Maret 1824, Johor dan Pahang dikuasai Inggris, sementara Riau dan Lingga dikuasai Belanda. Inilah yang memecah melayu (dalam hal ini Johor-Pahang-Riau-Lingga) sebagaimana ditulis Raja Ali Haji dalam Tuhfat Al-Nafis-nya, memecah kawan dengan kawan, saudara dengan saudara. Ujung-ujungnya, tidak lepas dari politik. Yaitu bagaimana Belanda hanya merampas harta kekayaan melayu tanpa membangun masyarakatnya. </p>
<p>Berbeda dengan Belanda, walaupun Inggris menjajah Semenanjung Malaya, tetapi mereka ikut membangun masyarakat jajahannya (maaf kalau saya salah, karena informasi inilah yang saya dapat waktu kecil, tolong dikoreksi). Anda tentu mafhum, bagaimana kekuasaan politik Orde Baru telah ’merampas’ minyak Riau untuk kemakmuran sebagian orang-orang di Jakarta. Orang melayu di Riau pun miskin. Saya kaget ketika saya pertama kali berangkat untuk kuliah ke Jogja tahun 1998 naik kereta api. Saya lihat sepanjang jalan menuju Jogja, kebanyakan jalan-jalan sudah diaspal dengan mulus. Padahal aspal itu di area persawahan. Listrik pun sudah masuk. Sebaliknya, kita bisa lihat di pulau-pulau di Riau dan Kepulauan Riau. Bagaimana sengsaranya mereka. Listrik, bangunan sekolah apalagi telepon, belum masuk. Hanya sejak reformasi, dengan berlakunya otonomi daerah, pulau-pulau terpencil itu diperhatikan. Inilah politik kekuasaan.</p>
<p>Pada tanggal 31 Desember 2007 dan 1 Januari 2008 di harian Batam Pos, saya membaca tulisan Pak Rida K. Liamsi yang mengkritik Bu Aida Ismeth (anggota DPD asal Prov. Kepri). Bu Aida mengeluh dengan orang-orang Lingga yang ditemuinya yang katanya seperti tidak mempunyai semangat hidup. Pak Rida bilang, jangan salahkan mereka. Saya sepakat. Salahkanlah pemerintah Orde Baru yang tidak memperhatikan mereka. Bu Aida tidak bisa menceramahi mereka untuk merubah sifat mereka hanya dengan mengeluh bahwa mereka seperti tidak mempunyai semangat hidup. Menurut Pak Rida, ubahlah mereka dengan membangun Lingga menggunakan APBD. Sampai kapan masyarakat akan berubah kalau menungu kesadaran orang jika tidak dimulai dengan pemimpin/pemerintah yang mengubahnya. Padahal dulunya, pulau Lingga adalah Bunda Tanah Melayu, tempat Sultan Johor-Pahang-Riau-Lingga pernah memerintah. Sebagai pusat pemerintahan, tentunya keadaan dulu lebih makmur dari keadaan sekarang. </p>
<p>Lihat Malaysia, bagaimana orang-orangnya mempunyai disiplin diri karena diatur dengan peraturan-peraturan yang ada oleh jajaran pemerintahannya. Secara umum, rata-rata mereka lebih disiplin daripada kita. Lihat juga bagaimana disiplinnya orang-orang Singapura. Buang ludah di tempat-tempat tertentu saja didenda. Semua itu adalah bagaimana pemimpin/pemerintah suatu daerah mengatur masyarakatnya dengan baik.</p>
<p>Dalam dunia informasi, imej tentang karakter melayu ini termasuk opini publik yang dampaknya luar biasa. Ini hanya imej. Imej inilah yang harus diubah. Toh, banyak orang melayu yang berhasil, yang jadi ini dan jadi itu (kalau ukuran yang diambil adalah dunia). Kalau imej ini yang terus berkembang, maka saya yakin, sebagian besar generasi melayu seterusnya tidak akan mau maju karena sudah tertanam dalam diri mereka bahwa mereka adalah orang yang malas.</p>
<p>Saya tentu setuju, merubah diri adalah dimulai dari diri sendiri. Agar lebih cepat dan lebih terarah, tentu pemimpin/pemerintah yang perlu membimbing masyarakatnya. Kalau dua-duanya berjalan beriringan tentu cepat dirasakan hasilnya. </p>
<p>Pendapat ini tentu dirasa idealis. Atau pendapat yang semua orang bisa mengatakannya. Tetapi, yang saya ingin tekankan adalah bahwa, pemerintah daerah sekarang dengan otonomi daerahnya dapatlah untuk mengubah imej ini dengan mengerahkan APBD yang ada. Bikin peraturan yang bagus. Bangun sekolah-sekolah di pulau-pulau. Biayai siswa-siswa berpretasi ke daerah luar, dan lain-lain. Toh, itu adalah uang rakyat yang harus dikembalikan lagi kepada mereka. Tak dapat dipungkiri juga bahwa berhasil tidaknya suatu daerah akan dilihat dari berhasil tidaknya orang yang memimpin.</p>
<p>Dalam al-Qur’an disebutkan, Allah Swt. tidak akan mengubah suatu kaum kalau kaum itu tidak mengubah diri mereka sendiri. Hemat saya, kata-kata kaum itu menunjuk tidak hanya untuk pribadi-pribadi, tetapi sejumlah orang di suatu negeri. Bagaimana kaum yang banyak itu berubah, tentu sangat didukung oleh pemimpinnya.</p>
<p>Saya tidak anti dengan kekuasaan. Kekuasaan adalah sesuatu yang mutlak ada di dunia ini, sampai kapan pun. Tentu, yang baik adalah kekuasaan yang adil dan merata. </p>
<p>Jadi, karakter buruk orang melayu seperti yang disebutkan di atas itu hanyalah imej orang karena sebagian orang melayu –terutama di pulau-pulau terpencil- hidup terbelakang. Bukankah dahulu melayu berjaya? Jika suatu masyarakat ingin berubah, maka pemimpin/pemerintah yang concern dengan masyarakatnya adalah kunci utamanya dengan mengerahkan APBD yang ada. Sejarah masa lalu juga perlu dilihat. So, jangan salahkan karakter melayu, salahkanlah politik masa lalu yang meng-anaktirikan orang melayu.</p>
<p>Mohon maaf kalau pendapat saya banyak yang janggal. Saya orang muda yang ingin belajar menulis. Kepada Pak YIM saya minta tanggapannya, (coz Bapak orang melayu) begitu juga kepada Saudara saya, Dian. Semoge bile-bile mase nanti kite bise jumpe, karena dari tulisan awak, saye tahu kalau awak juge tinggal di Tanjungpinang. Salam hormat saye buat Pak YIM dan salam hangat saye buat Dian. Btw, Jangan marah e&#8230;he3.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: Adi Wirawan</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-2345</link>
		<dc:creator>Adi Wirawan</dc:creator>
		<pubDate>Tue, 18 Mar 2008 11:25:30 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-2345</guid>
		<description>Penyengat, nama yang unik.., latar belakang sejarah yang unik sekaligus cukup panjang dan pola kehidupan serta lingkungan alam yang unik karena suasana alam yang lebih ramah, hijau juga teduh (berbeda dengan pulau-pulau lain yang relatif lebih panas) kebetulan saya pernah kesana satu kali, Begitu menjejakkan kaki di tanah penyengat, emosi saya langsung terbawa ke masa lalu. 
Sebuah realita yang sebelumnya hanya berbentuk gambaran dari uraian guru sastra Indonesia semasa sekolah.  Spontan saya mendengar kembali pantun nasihat, gurindam dua belas yang terus terang tidak pernah bisa saya hapal. 
Meski bukan orang melayu, saya merasakan sebuah ikatan aneh dengan khususnya terhadap pulau ini. Berkeliling pulau yang hanya memakan waktu tidak sampai dua jam dengan mengunjungi berbagai situs yang ada saya sudah merasa sebagian hati saya (mungkin kami) akan tertinggal di sini. 
Terlebih ketika ayah kami berdialog dengan salah salah satu penjaga rumah panggung(pendopo?) yang di bawahnya terdapat mata air. Ketika itu pak tua menyampaikan harapannya agar kami bisa kembali yang diamini ayah saya jika usia mengijinkan.
Saya hanya berharap jika saya bisa kembali mengunjungi pulau itu, saya masih bisa menemukan keramahan dan ketulusan penduduk setempat.</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Penyengat, nama yang unik.., latar belakang sejarah yang unik sekaligus cukup panjang dan pola kehidupan serta lingkungan alam yang unik karena suasana alam yang lebih ramah, hijau juga teduh (berbeda dengan pulau-pulau lain yang relatif lebih panas) kebetulan saya pernah kesana satu kali, Begitu menjejakkan kaki di tanah penyengat, emosi saya langsung terbawa ke masa lalu.<br />
Sebuah realita yang sebelumnya hanya berbentuk gambaran dari uraian guru sastra Indonesia semasa sekolah.  Spontan saya mendengar kembali pantun nasihat, gurindam dua belas yang terus terang tidak pernah bisa saya hapal.<br />
Meski bukan orang melayu, saya merasakan sebuah ikatan aneh dengan khususnya terhadap pulau ini. Berkeliling pulau yang hanya memakan waktu tidak sampai dua jam dengan mengunjungi berbagai situs yang ada saya sudah merasa sebagian hati saya (mungkin kami) akan tertinggal di sini.<br />
Terlebih ketika ayah kami berdialog dengan salah salah satu penjaga rumah panggung(pendopo?) yang di bawahnya terdapat mata air. Ketika itu pak tua menyampaikan harapannya agar kami bisa kembali yang diamini ayah saya jika usia mengijinkan.<br />
Saya hanya berharap jika saya bisa kembali mengunjungi pulau itu, saya masih bisa menemukan keramahan dan ketulusan penduduk setempat.</p>
]]></content:encoded>
	</item>
	<item>
		<title>By: heru gautama</title>
		<link>http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/comment-page-1/#comment-2330</link>
		<dc:creator>heru gautama</dc:creator>
		<pubDate>Mon, 17 Mar 2008 09:17:41 +0000</pubDate>
		<guid isPermaLink="false">http://yusril.ihzamahendra.com/2008/02/21/penyengat-pulau-seribu-kenangan/#comment-2330</guid>
		<description>Assalamuaikum ... abang Cerite penyengat aku teringat pulak kan batam bintan dua pulau yang lebeh sepulo tahun diam desana dan juak berape kali kite betemu dan itu ndak dapat aku lupakan ... sekarang balik kekampong selinsing
lejuk nak ketemu dan kelakar kan abg tape ape daye sekarang aku bukan sape sape agik ! Tulong kalok balik kesinek
tingok tingok kamek !!! heru mantan ketue ikmb batam.



&lt;em&gt;Insya Allah, kalau saya pulang lagi ke Belitung nanti, kita dapat bertemu di sana. Saya selalu pergi ke Gantung melalui Selinsing naik sepeda motor. (YIM)&lt;/em&gt;</description>
		<content:encoded><![CDATA[<p>Assalamuaikum &#8230; abang Cerite penyengat aku teringat pulak kan batam bintan dua pulau yang lebeh sepulo tahun diam desana dan juak berape kali kite betemu dan itu ndak dapat aku lupakan &#8230; sekarang balik kekampong selinsing<br />
lejuk nak ketemu dan kelakar kan abg tape ape daye sekarang aku bukan sape sape agik ! Tulong kalok balik kesinek<br />
tingok tingok kamek !!! heru mantan ketue ikmb batam.</p>
<p><em>Insya Allah, kalau saya pulang lagi ke Belitung nanti, kita dapat bertemu di sana. Saya selalu pergi ke Gantung melalui Selinsing naik sepeda motor. (YIM)</em></p>
]]></content:encoded>
	</item>
</channel>
</rss>

