Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Provinsi Bangka Belitung memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Keunikan pantai-pantai di daerah ini ialah golekan batu-
batu granit raksasa yang tersusun berjajar dan bertumpuk secara alami. Batu-batu besar itu adalah batu alami endapan sedimen yang telah berlangsung jutaan tahun lamanya. Bangka Belitung memang terkenal sebagai daerah pertambangan, timah, batu besi, bauksit, bahkan emas dan uranium. Semua bebatuan itu nampaknya terkait dengan berbagai sumber mineral daerah ini. Pantai Tanjung Kelayang di Tanjung Pandan, Pantai Burung Mandi dan Malang Lepau di Manggar tersohor karena kombinasi laut yang membiru, pasir yang memutih dan bebatuan raksasa yang tersusun secara alami. Pantai Parai dan Matras di Sungai Liat juga memiliki keindahan yang serupa. Pantai-pantai indah menawan ini menjadi obyek pariwisata andalan Bangka Belitung.
Tentu keindahan pantai saja belumlah berarti apa-apa sebagai daerah tujuan wisata. Berbagai fasilitas pendukung memang perlu dibangun. Masyarakat dan lingkungan juga harus dididik untuk
bersikap ramah kepada setiap wisatawan. Aneka produk budaya, bahkan produk kerajinan khas daerah juga harus dibina dan dikembangkan. Satu hal yang paling menentukan ialah promosi daerah tujuan wisata itu ke mancanegara. Pada hemat saya, pantai-pantai dan kawasan hutan topis yang menghijau di Bangka Belitung patut dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata untuk menyepi sambil menikmati perasaan menyatu dengan alam tropis. Penduduk Bangka Belitung relatif sedikit. Orang dapat menyepi tanpa bersintuhan dengan keramaian di daerah-daerah yang jauh dari kebisingan dan polusi. Hidup menyatu dengan alam, walau hanya sementara, sungguh terasa menyenangkan untuk mengusir lelahnya kehidupan modern yang hingar bingar manusia, mesin dan peralatan teknologi.
Akhir bulan lalu, saya berkunjung ke Bangka dalam rangka Musyawarah Kerja Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang.
Saya sendiri lahir di Belitung, pulau di sebelahnya. Saya mengunjungi Pangkal Pinang, yang kini telah berubah menjadi ibu kota provinsi. Saya juga berkunjung ke Sungai Liat dan bermalam di Pantai Parai. Sayapun pergi ke Muntok dan mengunjungi Bukit Menumbing yang bersejarah. Di bukit itu ada pesanggrahan tua yang dibangun Belanda tahun 1927 sebagai tempat istirahat pegawai tinggi perusahaan timah Belanda. Entah apa sebabnya, di tahun 1948-1949, tempat itu dijadikan Belanda sebagai rumah pengasingan bagi Presiden Soekarno, Wakil
Presiden Hatta dan sejumlah menteri, termasuk Haji Agus Salim dan Mohamad Roem. Para pemimpin bangsa itu ditawan pasukan Belanda setelah mereka berhasil menduduki Yogyakarta dalam Agresi Militer II. Di dalam rumah itu masih ada mobil sedan yang dulu digunakan oleh Presiden Soekarno ketika ditawan, sejumlah dokumen dan foto-foto. Menumbing kini sepi dan nampak kurang terawat. Tempat itu, sesungguhnya adalah bagian integral dari sejarah perjuangan bangsa kita dalam menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara.
Di samping ke Pangkal Pinang, Sungai Liat dan Muntok, saya sengaja datang ke Tanjung Berikat. Saya ingin mengunjungi sebuah desa, namanya Batu Beriga. Penduduk desa itu berjumlah sekitar
1700 orang, yang sebagian besar berasal dari Pulau Belitung. Ada juga yang berasal dari Pulau Pungok, pulau yang termasuk wilayah adiministrasi Bangka Tengah, tetapi penduduknya menggunakan Bahasa Belitung. Saya datang ke desa itu untuk membantu mereka membangun sebuah masjid, yang juga telah dibantu oleh Gubernur Bangka Belitung, Eko Maulana Ali. Penduduk desa sungguh ramah dan bersahaja. Mata pencarian mereka pada umumnya menangkap ikan. Ketika
kami datang, mereka menunggu kami di mesjid lama sambil menyuguhkan makan siang dari hasil laut. Kami makan bersila duduk di lantai dengan makanan yang tersaji menggunakan dulang, gaya khas makan orang Belitung ketika kenduri. Sehabis makan, saya didaulat memberi sambutan menggunakan Bahasa Belitung. Suasana terasa begitu akrab dan santai.
Sehabis makan, kami berjalan kaki melihat pantai Batu Beriga yang indah menawan. Ada setumpuk bebatuan besar yang di dekat pantai yang membentuk sebuah pulau kecil, dan ditumbuhi pepohonan.
Pulau kecil itu nampak indah sekali di tengah laut yang membiru. Para nelayan memarkir perahu mereka di sepanjang pantai. Ada sebuah warung tempat orang menjual makanan dan minuman. Pantai itu bersih, sebagaimana lautnyapun bersih. Anak-anak bermain sepanjang pantai, mengingatkan saya kepada masa lalu ketika saya kecil. Penduduk desa itu hidup damai walau nampak bersahaja. Di desa itu adalah sebuah sekolah dasar dan Taman Pengajian al-Qur’an. Kondisi sekolahnya cukup baik. Listrik juga telah lama menerangi desa itu. Jalan yang menghubungkan desa itu dengan ibu kota kabupaten Bangka Tengah, Koba, juga diaspal dengan mulus.
Kehidupan nelayan di desa itu, walau selintas nampak baik kondisinya, namun tetap saja membuat saya khawatir. Sebagai anak
yang dibesarkan di pantai, saya tahu betul penderitaan nelayan jika musim angin kencang dan ombak besar. Kebanyakan nelayan kita adalah manusia yang hidup dari hari ke hari. Hari ini melaut hanya cukup untuk makan hari ini. Melaut di masa sekarang sudah jauh ke tengah melebihi batas sepuluh mil. Jarak sejauh itu sudah hampir tak mungkin lagi ditempuh dengan perahu layar. Perahu bermotor – walau menggunakan mesin bekas mobil – adalah pilihannya. Namun harga solar yang mahal membuat modal nelayan untuk melaut makin tinggi. Modal harus keluar dulu, sementara tangkapan belum tentu. Di musim angin kencang dan ombak besar seperti sekarang, nelayan praktis tak dapat melaut. Tak ada pilihan lain, kecuali menunggu angin teduh kembali dan ombak tak lagi mengganas. Kehidupan nelayan memang tergantung kepada kemurahan alam.
Dua minggu yang lalu, saya pulang ke Belitung. Niat hati ingin melaut pergi memancing. Namun apa daya, niat diurungkan ketika melihat laut memutih karena buih, pertanda angin dan gelombang tidak menentu. Nelayanpun hanya duduk-duduk saja di pinggir pantai
sambil memperbaiki perahu. Waktu itu memang baru saja usai perayaan Tahun Baru Cina. Orang Belitung percaya bahwa menjelang dan sesudah Tahun Baru Cina, angin pasti bertiup kencang. Dua minggu selepas itu, angin akan normal kembali. Namun kini, sudah lebih dua minggu angin masih tak menentu. Kemarin petang, saya pergi ke Kampung Nelayan di Muara Angke. Saya menemui kawan-kawan di sana, yang saya tahu persis mereka tak melaut. Benar juga. Puluhan perahu motor berjajar-jajar bersandar di dermaga. Buruh nelayan hanya duduk-duduk sambil berkelakar dan bermain dengan anak-anak mereka. Tempat pelelangan ikanpun sepi. Ikan-ikan yang ada di situ adalah stok lama yang sudah membeku. Sebagian malah sudah menyerupai bangkai.
Pagi ini saya membaca beberapa koran Jakarta yang mengisahkan nelayan di Marunda mulai didera kesengsaraan. Sebagian mereka
mulai menjadi pemulung, menarik ojek sepeda, bahkan ada yang menjadi pengemis. Sebagian mereka terpaksa meminjam uang kepada tukang ijon dan bahkan rentenir dengan bunga mencekik leher. Orang seakan tak perduli dengan nasib nelayan kita di seluruh tanah air yang kini menderita karena alam yang tak bersahabat. Lebih-lebih nelayan bagan yang menetap di pulau-pulau kecil. Melaut tak dapat, pergi ke daratpun untuk membeli bahan makanan dan obat-obatan bagai orang harus
berjibaku melawan badai. Maksud hati membeli beras, namun bisa-bisa nyawa menjadi taruhan. Saya sudah mengalami hidup seperti itu di masa lalu. Hingga kini saya tetap merasakannya. Saya tak hanya berteori tentang kemiskinan nelayan, namun benar-benar mempunyai pengalaman empiris dalam menjalaninya.
Sebab itu, saya tak pernah berhenti berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan keluarganya. Pembangunan kelautan haruslah sungguh-sungguh memperhatikan keterkaitan antara kelestarian alam dan dukungan kepada kaum nelayan melalui suatu kebijakan yang intensif dan sungguh-sungguh. Konsumsi dan ekspor merupakan salah satu faktor dalam memicu pertumbuhan ekonomi. Hasil laut yang diekspor tentu menghasilkan devisa. Namun untuk mengekspor, menangkap ikan dilaut bebas memerlukan modal yang besar dan manajemen yang rapi. Kebanyakan nelayan kita tak mampu melakukannya.Andalan mereka adalah konsumsi dalam negeri yang juga sangat penting artinya bagi kehidupan bangsa kita. Hasil yang dijual di dalam negeri adalah konsumsi yang akan mendorong dampak berganda pertumbuhan ekonomi. Untuk itu kredit permodalan dengan bunga rendah untuk membeli peralatan dan barang modal dalam pertambakan ikan sangat mutlak diperlukan. Penggalakan koperasi untuk mengatasi keadaan jika musim angin kencang dan gelombang besar tiba, sangatlah penting agar nelayan dapat bertahan ketika mereka tak dapat melaut.
Itulah sekelumit dilema bangsa kita. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan pantai-pantai yang indah, seperti nampak di Bangka Belitung. Laut yang luas terbentang telah memberikan aneka kekayaan. Namun nelayan kita, dan bangsa kita, tetap saja terlilit dalam kemiskinan. Alam sesungguhnya dapat dipelajari agar kita tahu bagaimana memanfaatkannya, termasuk pula agar kita mampu mengantisipasi jika suatu ketika alam menunjukkan tanda-tanda kurang bersahabat. Tuhan menciptakan Adam dengan kemampuan “memberi nama kepada setiap benda”, yang menunjukkan kesanggupan manusia untuk berpikir secara abstrak dan konsepsional.
Sebab itulah manusia dijadikan sebagai khalifahNya di muka bumi agar mampu mengelola dan memanfaatkan seluruh isi alam semesta demi kemaslahatannya. Kalau kita masih tak mampu juga, bukanlah salah siapa-siapa, melainkan kesalahan kita sendiri. Tuhan telah memberi segalanya kepada bangsa kita, maka — seperti dikatakan berulang kali di dalam surah Ar-Rahman – “maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kalian dustakan” (fabiayyia la i Rabbikuma tukazziban)?
Semoga Allah Ta’ala akan membuka pintu hati dan pikiran kepada bangsa kita, serta memberikan segala kekuatan, agar mampu menyelesaikan problema-problema besar yang kita hadapi bersama.
Wallahu ‘alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 25th, 2008
57 tanggapan untuk “PANTAI BANGKA BELITUNG DAN NASIB NELAYAN”
Pages: [1] 2 » Show All
Inaz (komentar #1)
Bangka Belitung tanah kelahiran para Pujangga, laut, gunung, hutan, isi bumi, dan langit, menjadi inspirasi mereka. Namun kaum nelayannya bernasib kurang beruntung…. Duh sedihnya…
February 25th, 2008 at 10:30 am
aditya (komentar #2)
Assalammualaikum Bang Yusril….
Jika kita simak secara mendalam makna surat Ar-Rahman, seperti yang abang kutip diatas, maka sebenarnya bukan rakyatlah yang mendustakan nikmat Allah, tapi mungkin kecenderungan penguasalah yang mendustakan nikmat tersebut. hal ini dapat dilihat dari berbagai kebijakan yang diambil dan diputuskan oleh para penguasa, baik itu pihak eksekutif maupun legislatif…
dari tulisan bang Yusril dalam judul ini bang yusril juga telah membuat sebuah solusi bagi kesejahteraan nelayan (meskipun solusi tersebut baru sebuah wacana dalam tataran yang sangat umum). solusi yang abang tawaran baru dapat tercapai apabila solusi itu menjadi kebijakan pemerintah bagi nelayan Indonesia. Kebijakan yang abang sampaikan tersebut baru dapat berjalan efektif ketika abang sendiri menjadi salah satu pihak penguasa (legislatif atau ekseskutif).
oleh karena itu bersiap sedialah abang untuk menjadi Calon Presiden 2009 dan bertarung dengan para penguasa saat ini. dari perjalanan yang abang lakukan ke beberapa daerah terlihat antusias masyarakat cukup besar untuk modal awal melangkah ke Bina Ghra, he he….. tapi modal awal ini belumlah cukup ketika tidak ada kendaraan politik yang menhantarkan abang untuk menjadi petarung dalam Pemilu Presiden, sebagaimana yang di amanatkan dalam konstitusi..
untuk menjadi Presiden yang dapat membawa kesejahteraan rakyat, sebagaimana yang di muat dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, ada dua hal penting yang harus ada bagi setiap calon Presiden Indonesia, yakni kata “bisa” dan “Kesanggupan”… mungkin saja Presiden yang sekarang atau yang terdahulu mempunyai kata “bisa” tapi kata “kesanggupan” dapat dilhat dari hasil yang diterima saat ini.. he…he … dari perjalan sejarah Republik ini terlihat bahwa Presiden yang ada saat ini dan yang terdahulu hanya memiliki kata “bisa” saja, yakni hanya sekadar bisa menjadi Presiden tapi dalam perjalanan waktu terlihat mereka tidak mempunyai kesanggupan menjadi Presiden.. ha..ha….
Pertanyaan selanjutnya siapakah yang dapat menjadi Presiden yang memilki dua kata tersebut diatas, maka kita saksikan saja beramai-ramai……. ha..ha..
Terima kasih atas masukan dan tanggapannya. Namun sekarang Bina Graha tak lagi dijadikan sebagai Kantor Presiden. (YIM)
February 25th, 2008 at 10:51 am
koohar (komentar #3)
Salam buat Pak Yusril dan keluarga Ihza…
fenomena alam yang kita rasakan selama ini telah memberikan pelajaran bagi kita untuk instrosfeksi diri akan segala perbuatan kita selama ini. sesungguhnya pergantian siang dan malam telah menunjukkan tanda-tanda kekuasaan Allah SWT. Alquran telah menuntun kita untuk mencermati segala fenomena yang terjadi di dunia ini agar kita patuh dan tunduk kepada-Nya. namun seringkali kita luapa bahwa kekuasaan Allah tak terbatas. berbagai perkiraan dan peramalan yang dilakukan oleh berbagai badan metrologi dan geofisika seakan tidak bisa menjawab kenapa fenomena alam sekarang ini sudah semakin sulit diprediksi. musibah semacam bencana alam silih berganti terjadi di tanah air ini. kita hanya terdiam, gempa bumi hampir tiap hari terjadi di belahan bumi kita ini. adakah ini memberikan makna bagi kehidupan kita?
kekayaan alam yang berlimpah ternyata tidak banyak memberikan arti bagi kehidupan kita. kita terlalu angkuh dan sombong akan kekuasaan Tuhan. air sebagai rahmat ternyata sudah membawa petaka di negeri ini, banjir silih berganti, kalau dulu hanya terjadi di ibukota, namaun hari ini sudah hampir terjadi di seluruh bumi indonesia. di darat sudah tidak aman, laut sudah tidak bershabat, angin telah memporakporandakan kehidupan kita, udara sudah menimbulkan berbagai macam penyakit pernafasan. lalu dimanakan kita harus berdiri?
benarlah apa yang dikatakan al quran, telah terjadi kerusakan dipermukaan bumi oleh karena tangan manusia itu sendiri. kelalaian sedikit orang telah berdampak buruk bagi masyarakat luas. penebangan hutan yang dilakukan oleh oknum yang hanya mementingkan keuntungan ternyatan menimbulkan kerugian yang lebih besar dipihak lain. industri-industri yang bertebaran di negeri ini ternyata juga telah memiliki andil atas pencemaran yang menimbulkan berbagai macam penyakit.
Tuhan telah memberikan rahmat buat manusia sekalian alam (lil’alamain). namun perbuatan sekelompok orang yang hanya memnetingkan diri dan kroninya telah menimbulkan petaku untuk seluruh makhluk di dunia ini. kita masih ingat atas fenomena pemanasan global yang membuat negara-negara yang sedang berkembang menjadi terpuruk karena cuaca dan iklim sudah tidak menentu lagi. keadaan iklim ini sangat penting untuk berkebun, bertanai dan berladang yang menjadi pekerjaan utama bagi masyarakat yang masih belum maju.
moga kita bisa menjaga lingkungan di sekitar kita untuk masa depan anak cucu kita nanti. keindahan alam yang telah diceritakan oleh pak Yusril semoga harus selalu memberikan manfaat bagi kehidupan kita, baik dari sudut ekonomi, sosial dan budaya kita. m0ga menjadi pekerjaan kita bersama untuk menjaga dan melestarikan keseimbangan alam di sekitar kita. moga menjadi renungan kita bersama. wassalam
February 25th, 2008 at 11:00 am
IMIGRASI (komentar #4)
Ass. Wr. Wb.
Sejak wafatnya Pak Harto, masyarakat Indonesia pada umumnya semakin menyadari pentingnya pembangunan ekonomi bangsa di dalam negeri/mancanegara melalui pengembangan sektor riil seperti di bidang pertanian dan perikanan yang menjadi potensi alamiah geografis bangsa kita. Beberapa daerah pantai seperti Belitung, Marunda di teluk Jakarta, Natuna, Seram di Maluku, dll merupakan beberapa potensi bahari yang harus diperhatikan dan dilestarikan.
Bagaimana bapak melihat keterkaitan dunia bahari dan agraris sebagai sektor potensial dan bagaimana sebenarnya langkah konkrit yang harus dilakukan pemerintah pusat ataupun daerah untuk memperhatikan tidak hanya hasil alam yang diekspor untuk kepentingan negara, namun juga nasib dari nelayan/petani sebagai “user” harus diperhatikan sebagaimana yang bapak kemukakan?
Wass. Wr. Wb.
Presiden SBY pernah mencanangkan revitalisasi pertanian kira-kira dua tahun yang lalu, namun hasilnya belum terasa. Pada hemat saya pembangunan pertanian dan kelautan harus dimulai dengan suatu kebijakan umum dengan menetapkan skala prioritas dan sasaran yang ingin dicapai. Masalah paling pokok dalam pertanian adalah swasembada pangan dan peningkatan ekspor holtikultura yang dapat menghasilkan devisa. Kita sesungguhnya dapat menghitung berapa luas lahan persawahan yang dibutuhkan untuk menghasilkan beras sehingga kita berswasembada, dan berapa tahun waktu yang dibutuhkan untuk itu serta dana yang diperlukan. Dalam waktu bersamaan holtikultura dirangsang untuk berkembang, dengan menebar bibit unggul dan peningkatan kualitasnya. Kita misalnya memilikim puluhan jenis pisang, mangga, jambu, sawo dll yang selama ini belum pernah digarap sungguh-sungguh untuk dijadikan sebagai produk ekspor. Dalam menangani ekspor ini, Pemerintah memang harus menetapkan regulasi, agar ekspor tidak jatuh ke dalam kartel, seperti terjadi di masa lalu. Kita masih ingat ada tata niaga cengkeh, jeruk dan lada yang berakibat petani kita sangat terpukul.
Mengenai subsidi pertanian telah saya jelaskan di dalam tulisan saya mengenai Kedelai. Suatu hal yang tak kalah pentingnya ialah mendudukkan kembali soal otonomi daerah dalam kaitannya dengan pertanian. Bukan berarti kita kembali ke sentralisme, namun koordinasi pembangunan pertanian, penyediaan tenaga penyuluh lapangan dan menghidupkan kembali koperasi tani, sangat penting. Apa yang dulu pernah dilakukan di masa Presiden Soeharto ada berbagai hal yang perlu diteruskan, kekurangannya diperbaiki.
Pengalaman saya yang akrab dengan dunia kelautan nelayan menyadarkan saya bahwa yang harus menjadi fokus perhatian ialah nelayan tangkapan yang bekerja secara mandiri, bukan buruh nelayan yang bekerja di perusahaan perikanan. Kelompok nelayan mandiri itu hanya untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri dan hidup mereka tergantung kepada alam. Penanganan terhadap soal ini mestilah bersifat integratif, mulai dari dukungan peralatan, bimbingan dan pemasaran hasil tangkapan. Nelayan mandiri seperti ini takkan serta merta mampu menjadi petambak ikan, yang memerlukan modal besar dan risiko berusaha yang sangat tinggi. Kepada pengusaha perikanan tambak memang perlu dukungan Pemerintah dan sekaligus pengawasan kepada perusahaan penangkapan ikan, agar usaha ini tidak memukul nelayan mandiri yang tradisional.
Demikian pokok-pokok tanggapan saya. (YIM)
February 25th, 2008 at 12:26 pm
rahmat dahlan (komentar #5)
Allah Maha Kaya atas segala sesuatu
apa yang dapat kita sombongkan sebagai manusia yang biasanya suka menumpahkan darah dan berbuat kerusakan,
kita hanyalah makhluk Allah yang punya kelemahan dan kekurangan,
Bang Yusril, teruslah memotret sisi kehidupan bangsa yang penuh dengan keprihatinan agar dapat hikmah dari semua itu,
mungkin abang dahulu terlalu sibuk dnegan birokratisasi,
Alhamdulillah kini ada waktu luang
bantu kami,
peringan beban kami.
jadikan bangsa ini bangkit kembali
abang yusril
berikan sentuhan keindahan pada alam indonesia ini
aku dukung abang jadi presiden
Sekarang ada waktu untuk lebih banyak berpikir. Namun waktu untuk berbuat tidak banyak, jika dibandingkan ketika saya berada dalam pemerintahan. Ketika menjadi Menteri Kehakiman dan HAM maupun Mensesneg, pekerjaan saya terfokus kepada bidang tugas saya. Sekarang saya mencoba untuk memikirkan masalah-masalah lain secara komprehensif untuk dirumuskan dalam suatu kebijakan umum. Tentu semuanya masih memerlukan pembahasan yang lebih rinci agar dapat diwujudkan dalam dunia nyata. Terima kasih atas dukungan Anda agar saya jadi Presiden. Saya hanya mengatakan Insya Allah… (YIM)
February 25th, 2008 at 4:25 pm
WAGE SYAHRUDIN BIN SYAFE'IE ABDULLAH (komentar #6)
Assalamualaikum Wr. Wb
Sudah lama saya ngikutin tulisan2 Abang di blogspot ini, tapi baru kali ikutan nimrung. Perkenalkan, saya putra daerah Lalang-Manggar Beltim anak dari dari pasangan H.Syafe’ie Abdullah dan Hj.Nurhayati.
Melihat objek wisata di Belitung saya rasa tidak kalah indahnya dengan objek2 wisata seperti Kute-Bali, Pangandaran dan daerah wisata bahari lainnya, tapi sampai terakhir saya pulang ke Belitung pada hari raya idul fitri tahun lalu belum banyak perubahan dari sisi jumlah wisatawannya, kalau dari objek wisata sudah banyak sekali pembenahan. Mungkin Abang bisa memberikan masukan kepada pemerintah daerah untuk menggalakkan sektor wisata dengan memajukan seni dan budaya masyarakat disana dan juga membina usaha2 industri kecil seperti kerajinan rotan, anyaman2 lais dlsb.
Tentang nelayan, di Belitung kebanyakan nelayan adalah orang2 bugis sementara masyarakat Belitung sendiri hanya mencari ikan di seputar pantai dengan pukat atau pancing. Memang sekarang ini mereka banyak mengandalkan dari hasil tangkapannya sehingga hasil yang diperoleh tidak dapat dipastikan. Belum ada usaha2 untuk membudidayakan dengan menggunakan tambak2 atau keramba2.
Semoga Bangka-Belitung menjadi propinsi terdepan dikemudian hari, Amin.
Terima kasih atas sarannya. Oh, rupanya Anda anak Pak Syafe’i Abdullah. Apa beliau masih tinggal di Semarang? (YIM)
February 25th, 2008 at 4:38 pm
rusmanik (komentar #7)
Semoga Allah Ta’ala akan membuka pintu hati dan pikiran kepada bangsa kita, serta memberikan segala kekuatan, agar mampu menyelesaikan problema-problema besar yang kita hadapi bersama.
Amin
Ini doa sederhana dan telah sangat sering kita dengar, kita panjatkan dan kita amini. Takutnya, doa ini telah berasa hambar dan berubah menjadi sekedar basa-basi penutup pidato. Barangkali, kita juga harus mau membuka pintu hati dan pikiran kita setelah berdoa “semoga Allah Ta’ala akan membuka pintu hati dan pikiran …”.
Katanya orang-orang, masalah besar bisa dipecahkan kalau punya MAMPU dan juga punya MAU. Idealnya, kedua hal ini ada bersama-sama dan saling memperkuat satu sama lain. Tetapi, bila dipaksa memilih darinya, MAU lebih penting daripada MAMPU. Where there is a WILL there is a way. Sementara, walaupun MAMPU, tetapi tidak MAU, maka masalah besar tetap menjadi besar (dan mungkin bisa makin besar lagi).
Nasib Nelayan akan dapat diperbaiki saat semua pihak, terutama Pemda dan DPRD mau dan mampu mengubahnya. Dilihat dari sisi sumberdaya di Pemda dan DPRD Babel, kita agak yakinlah kalau mereka sebenarnya mampu memperbaiki Nasib Nelayan. Masalahnya adalah MAUKAH?
Pak YIM, kayaknya aturan, ketentuan, norma, dan lain-lain dalam kelompok rule of the game harus benar-benar di tata ulang ya. Untuk apa? Agar semuanya berlomba-lomba MAU BERBUAT YANG TERBAIK sesuai fungsinya masing-masing. Yang masih “AGAK MAU” harus dikasih insentif sehingga mau beneran + penuh komitmen. Bagi yang “LUPA UNTUK MAU” harus dikasih pengingat sehingga kembali ingat pada mau-nya yang semula. Lalu bagi yang “TIDAK MAU”, harus ada dis-insentif sehingga berubah menjadi mau.
Pada kondisi sekarang, kayaknya rule of the game udah agak gimana gitu; susah mendeskripsikannya. Sehingga benar kata Jayabaya; “jamannya, jaman gila. kalau tidak ikutan gila, tidak akan kebagian!” Bad man drive out good man.
Benarkah pendapat kami ini? Makasih atas jawabannya.
Pada prinsipnya saya sependapat dengan apa yang dikemukakan. Allah SWT tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum sebelum kaum itu berjuang keras untuk mengubah nasibnya. Namun kita wajib pula berdoa agar kita diberikan kekuatan dalam mewujudkan cita-cita. Seperti dikatakan al-Qur’an, Tuhan, sesungguhnya Dia dekat dengan manusia dan Dia mengabulkan segala doa orang yang meminta, tetapi manusia wajiblah mengikuti jalan yang ditunjukanNya dan beriman kepadaNya. Dengan cara itulah manusia akan memperoleh bimbingan.
Pada dasarnya kemauan harus ada. Kemauan membulatkan tekad dan semangat untuk mewujudkan sesuatu yang disertai dengan pemikiran, perhitungan, perencanaan dan kerja keras. Ini semua adalah tugas pemimpin. Rakyat perlu didorong, diberi motivasi dan sekaligus diciptakan kondisi yang memungkinkan mereka dapat bangkit dari kemiskinan dan keterpurukan. Saya mengerti kebanyakan pemimpin kita kurang memikirkan hal-hal yang mereka anggap kecil, namun sebenarnya bernilai amat besar. Saya berpendapat, membangun bangsa haruslah berbasis kerakyatan. Jadi ada semacam “kerjasama” antara rakyat dengan pemimpin.
Terakhir, sedikit saya ingin menyampaikan koreksi tentang “Zaman Edan”. Kata-kata itu termaktub di dalam Serat Kalatida buah karya Raden Mas Ngabehi Ranggawarsita, seorang pujangga dari Kesultanan Surakarta. Jadi bukan kata-kata Jayabaya. Namun masih ada kelanjutannya yakni “sak bejo-bejone wong sing edan, isih bejo wong sing eling lan wospodo” (Namun seuntung-untungnya orang yang gila-gilaan, masih lebih untung orang yang selalu ingat dan waspada”. Jadi meskipun zaman sudah edan, ya .. lebih baik kita tidak usah ikut edan, walau risikonya “ora keduman” (tidak ikut kebagian). Toh yang “keduman” karena ikut-ikutan “edan” sekarang sudah banyak yang didakwa ke Pengadilan Tipikor.. Na’udzubillahi min dzalik (YIM)
February 25th, 2008 at 10:37 pm
Pertanian dan Kesejahteraan « berbagi cerita.. (komentar #8)
[...] dan Kesejahteraan Sebuah komentar dari Yusril Ihza Mahendra, kira butuh perubahan memang. Negeri ini perlu pemimpin dengan pandangan yang jauh ke depan dan [...]
February 25th, 2008 at 10:40 pm
koohar (komentar #9)
Salam buat Pak Yusril sekeluarga…
sejak kebijakan otonomi daerah diberlakukan oleh pemerintah pusat, banyak daerah yang masih belum siap untuk membangun kemandirian dan ketahanan ekonomi di tingkat lokal. bangka belitung merupakan daerah kepulauan yang masih banyak memiliki ketergantungan dengan sumber alam dari luar. berbagai komoditas harus didatangkan melalui angkutan laut dari berbagai daerah. terutama dari ibu kota. hampir semua kebutuhan kita mulai dari rempah-rempah, berbagai jenis makanan hingga barang-barang elektronik berasal dari luar. padahal semestinya yang didatangkan dari luar hanyalah kebutuhan yang tidak dapat kita peroleh atau kita produksi di daerah. jadi sebagai daerah kepulauan kita masih belum memiliki ketahanan ekonomi. jikapun ketergantungan itu ada namun jangan terlalu mendominasi atau berlebihan. karena ketergantungan adalah titik lemah kita untuk bersaing dengan daerah lain.
pulau bangka belitung merupakan wilayah yang masih memiliki luas hutan untuk pertanian dan perkebunan yang masih cukup potensial. kalau kita melihat pulau belitung dari ketinggian tertentu misalnya saat kita di atas pesawat, kita menyaksikan pemandangan hutan belantara yang hampir menutupi kedua pulau ini. ada sebuah pertanyaan yang agak menggelitik ketika saya mengajak teman untuk datang ke belitung, ia bertanya, apakah di pulau belitng ada penghuninya? pertanyaan ini agak menyinggung saya, tapi tidak apalah mungkin inilah kesan pertama yang ia lihat.
memang pulau ini bila dilihat dari ketinggian seakan tidak berpenghuni, akan tetapi masyarakat di kota besar perlu menyadari bahwa kedua pulau inilah yang telah banyak menyuplai oksigen yang sangat penting bagi kehidupan kita. tumbuh-tumbuhan dan hutan di pulau belitung dan bangka telah menjadi paru-paru dunia yang secara tidak sadar telah memberikan manfaat yang sangat besar bagi seluruh makhluk di dunia ini.
menurut hemat saya,sudah sepantasnya negara lain di dunia ini yang telah banyak mendapatkan manfaat atas keberaaan hutan kita, memberikan konpensasi untuk pelestarian hutan yang ada di setiap daerah. pemerintah daerah maupun pemerintah pusat mesti memiliki komitmen yang sama bahwa kelestarian hutan kita juga telah menghidupi jutaan penduduk di dunia. jadi kita jangan sibuk untuk mencari investor untuk menebangi hutan dan menjual kayunya keluar negeri.
ada baiknya keberadaan hutan yang kita miliki dapat kita manfaatkan untuk membuka lahan pertanian dan perkebunan yang hasilnya akan berlipat ganda dari pada kita hanya memanfaatkan kayunya untuk diolah oleh pihak lain. jika kita menjual kayu kepada pihak ketiga, maka keuntungan yang kita dapat hanyalah sedikit sekali, dibandingkan dengan kayu hasil olahan yang telah mereka kelolah menjadi barang-barang yang bernilai jual tinggi.
dan pada akhirnya kita jugalah yang membeli kayu hasil olahan tersebut. kita telah banyak merugi. disatu sisi kita telah kehilangan ribuan bahkan jutaan hektar hutan dan disisi lain kita juga telah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk mengkonsumsi barang-barang tersebut. pantaslah jika bangsa ini dijadikan sebagai pasar yang potensial bagi para kaum kapitalis dunia, karena prilaku hidup kita sangat konsumtif. kita sekan tidak produktif hal ini dapat kita lihat dari kekayaan alam di pulau belitung dan bangka, hanya berapa persen saja yang diolah dan dijual dalam bentuk barang jadi (final product).
sudah sejak lama kita terjerumus dengan cara-cara seperti itu. kekayaan alam kita yang ada di perut bumi seperti yang telah diutarakan oleh pak yusril di atas ternyata tidaklah mampu menjamin daerah ini menjadi daerah yang makmur dan sejahtera hingga hari ini. ironis memang, namun apa hendak dikata kondisinya tidak bisa dikembalikan ke titik nol lagi. kita sebagai anak cucu, hari ini telah merasakan penderitaan itu. kekayaan alam yang kita miliki hanya menjadi tontonan yang tidak menarik bagi kita. masyarakat hanya mengeluh, petani yang hanya bercocok tanam untuk memenuhi kehidupannya sendiri, nelayan yang menangkap ikan hanya untuk konsumsi rumah tangganya dan bila ada pendapatan yang lebih bisa dijual kepada tengkulak-tengkulak yang tidak begitu paham akan sulitnya mencari ikan.
kondisi inilah yang selama ini telah membuat daerah bangka belitung menjadi tidak diunggulkan karena kekayaan alam yang dimiliki tidak sejalan dengan kondisi masyarakatnya yang masih banyak yang susah untuk bekerja. hari ini telah kita saksikan betapa mata pencaharian di sektor pertambangan terutama biji timah telah menjadi sandaran hidup masyarakat kecil untuk survive. pemerintah daerah belum banyak menanamkan pola pikir kepada masyarakt betapa pentingnya membangun dan bekerja di sektor lain pasca timah. menyedihkan kalau kita melihat anak-anak yang masih usia sekolah di daerah terutama yang wilayahnya memiliki biji timah telah putus sekolah. mereka bekerja ikut orang tuanya sebagai pelimbang timah. menyaksikan ini rasanya hari saya seperti disayat pisau, sangat perih sekali. namun itulah kehidupan yang mesti harus kita utarakan dan kita cari jalan keluarnya.
hanya satu bagi saya, kita butuh pemimpin daerah yang paham dalam menyikapi masalah ini. pak yusril, bapak adalah putra belitung yang harus terus berjuang untuk masyarakt di daerah. bapak tidak sendiri, masih banyak putra belitung yang sepaham dengan bapak tentunya. mari kita berbagi dalam memberikan solusi-solusi terbaik buat daerah ini. moga kita bisa bersatu dan tidak ada yang merasa lebih lebat dalam membangun daerah ini. saya sangat paham bapak adalah sosok pemimpin yang rendah hati. dan semoga bisa dijadikan contoh bagi pemimpin yang sekarang memimpin daerah ini. moga mereka membaca tulisan anak daerah yang merindukan kebaikan buat masa depan daerah kita bersama.
mohon maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. wassalam
koohar
Putra Burman
Saya sependapat dengan apa yang dikemukakan. Membangun Bangka Belitung memang memerlukan kecerdasan dan keberanian. Potensi daerah sangat besar dengan penduduk relatif sedikit. Saya sepenuhnya sependapat bahwa membangun haruslah berwawasan lingkungan. Kelestarian alam haruslah dijaga agar tidak rusak binasa yang berkibat memakan waktu panjang dan biaya besar untuk memulihkannya. Saya berulangkali meningatkan aparat Pemda agar membuat perencanaan kota dan lingkungan yang baik. Jangan biarkan kota dan pemukiman berkembang secara alamiah tanpa perencanaan. Kota di Bangka Belitung sekarng berkembang asal bangun, tanpa perencanaan yang jelas. Alangkah banyak pohon ditebang untuk membangun kompleks perkantoran seperti di Desa Ngarawan, Manggar. Saya sudah ingatkan mereka, biarkan hutan seperti sediakala. Perkantoran dibangun persis di tengah hutan, dengan tetap menjaga kelestariannya. Kini hutan bakau di sekitar Sungai Manggar diuruk penduduk untuk membuat rumah. Padahal, keindahan hutan bakau di pinggir sungai itu sangat penting untuk kelestarian alam. Banyak anggota DPRD melakukan studi banding, tetapi tak pernah mau belajar merencanakan pembangunan kota dan wilayah pemukiman agar tertata dengan asri dan kota tidak berpotensi jadi kumuh. (YIM)
February 26th, 2008 at 1:53 am
aditya (komentar #10)
Assalammualaikum Bang Yusril….
tanggapan #4
dari solusi yang abang sampaikan dapat dilihat bahwa program tersebut termasuk kedalam eksistensifikasi pertanian dan intensifikasi pertanian, namun program ini belum dapat berjalan ketika tidak ada kebijakan yang diambil oleh pelaksana pemerintahan dalam hal pertanian khususnya tentang produk pangan nasional…
melihat kebijakan yang diputuskan oleh pemerintah saat ini cenderung kebijakannya terkesan sporadis dan temporer. hal ini dapat dilihat dari kebijakan pemerintah dalam impor beras, tetapi kebijakan masa menengah dan masa panjang tentang produk pertanian pangan tidak jelas arahnya malah cenderung tidak ada sama sekali. mungkin saya terlalu berasumsi negatif kepada pemerintah tapi hal itulah yang saya lihat dan rasakan saat ini. he he…
melihat kepada kondisi alam Indonesia yang terbentang dari merauke sampai ke sabang, terlihat bahwa konsidi alam Indonesia tidak semuanya sama, ada daerah yang sangat subur dan ada pula daerah yang kurang subur untuk jenis tanaman tertentu (padi). daerah yang sangat subur untuk komoditas padi adalah daerah atau Pulau Jawa dan Pulau Sumatera, namun kedua daerah tersebut telah berubah menjadi areal industri (khususnya Jawa), sedangkan Pulau Sumatera juga telah berubah menjadi industri perkebunan (sawit dan akasia).
atas dasar pola pembangunan pertanian seperti ini bagaimana mungkin bangsa Indonesia kedepan akan swasembada pangan, apabila lahan pertanian telah berubah menjadi lahan industri sedangkan penduduknya terus meningkat secara deret ukur.. he ..he… jika pemerintah tidak tanggap maka mungkin bangsa Indonesia akan mengalami krisis pangan nasional (busung lapar semua). ha.. ha…
sedikit sumbang saran kepada pemerintah dalam blog ini, maka saya lebih cenderung berpikir pemerintah mengubah pola penempatan lahan yang ada di wilayah Indonesia, dimana pemerintah harus menjadikan daerah-daerah yang cenderung kurang subur untuk pertanian menjadikan sebagai lahan industri, seperti daerah Pulau Kalimantan yang cenderung berawa dan bertanah gambut, maka daerah tersebut dijadikan sebagai daerah central industri, atau malah dijadikan Ibukota Negara (hal ini pernah direncanakan oleh Soekarno), hal ini juga akan mengurangi dampak pemborosan yang terjadi di pulau jawa (khususnya) jakarta. mungkin sumbang saran saya ini masih sangat general tapi sebagai salah seorang warga negara minimal saya dapat menyampaikan unek-unek yang ada dalam otak saya agar otak saya tidak pecah karena tidak ada wadah untuk menyampaikan unek-unek yang terdapat dalam kepala saya tersebut.. he… he….
atas sumbang saran yang sangat dangkal tersebut saya mohon tanggapan dari bang yusril, dan kalau dapat melengkapi atau mengkritik saran yang saya sampaikan agar kita penikmat blog ini dapat mengetahui pikiran-pikiran segar dari abang, sehingga kami mempunyai harapan untuk hidup yang lebih baik dikemudian hari. terimakasih sebelumnya atas tanggapan dan kritikan dari abang…
February 26th, 2008 at 12:03 pm
olangbiaca (komentar #11)
Aslkm…pak YIM, gimana khabar nih ? sehat2 ?
Subhanallah…indahnya……….ini kampung pak YIM kan ?
moga..kita bisa bersama.
Terima kasih banyak. Mudah-mudahan foto-foto Bangka Belitung di blog ini tidak “lebih indah dari aslinya” sebagaimana iklan film Fuji tempo dulu. (YIM)
February 26th, 2008 at 2:35 pm
Hairul Wz (komentar #12)
Ternyata keindahan pulau - pulau kita sangat bagus juga ya ?!
Subhanallah
February 26th, 2008 at 3:52 pm
bangzenk (komentar #13)
Bang, huruf tulisannya kegedean.. sekedar usulan, klo boleh hurufnya dikecilkan.. klo muat foto bisa baca tutorialnya di http://fatihsyuhud.com/tutorial-blog/ itu sangat membantu.. begitu saja. numpang lewat. baru sadar juga klo alamatnya difanti ya. bukan lagi wordpress, tapi sudah langsung [dot] com. :D
salamhangat.
Terima kasih atas sarannya. Saya tentu akan banyak belajar untuk menyempurnakan penampilan blog ini. Kalau saya buka blog ini menggunakan Mozilla Firefox dan Windows Internet Exporer 7, hurufnya sudah kecil. Mungkin anda menggunakan yang lain, sehingga nampak kebesaran. Tolong diinfokan. Terima kasih, sekali lagi (YIM)
February 26th, 2008 at 6:26 pm
ibnu (komentar #14)
Ass…
Bang, saya pendatang baru di komunitas blog ini. Saya sudah lama ingin berdiskusi dengan Abang, maka hadirnya blog ini bisa menjadi penawar bagi saya untuk bisa berdiskusi dengan Abang.
Komentar saya terhadap tulisan Abang, SUBHANALLAH kekayaan alam Indonesia yang begitu melimpah ruah seperti di Babel, akan tetapi pengelolaan kekayaan alam tersebut oleh kita, terutama para pemimpinnya belum didayagunakan secara maksimal untuk kemakmuran rakyat Indonesia. Saya berharap untuk ke depan, pengelolaan alam Indonesia untuk menjadi perhatian yang sangat serius oleh Abang bilamana kelak ALLAH SWT mengizinkan dan rakyat memeberikan dukungan/amanah kepada Abang untuk memompin NKRI Tercinta.
Salam Kenal,
Ibnu Jauhari Asyarqawi (HMI Jakarta Timur)
February 26th, 2008 at 10:22 pm
aini t.vierra (komentar #15)
Pak Yusril, artikel PBB ( Pantai Bangka Belitung) dan nasib nelayan telah menarik pembaca blog ini untuk berdiskusi dengan Bapak secara detail berikut permasahan dan saran untuk solusinya. Saya sangat senang, berarti memang mereka punya tempat dan kesempatan untuk melontarkan unek-unek mereka kepada orang yg MAU MENDENGARKAN
nasib rakyat miskin dan PEDULI kepada mereka, potensi daerah, dan lingkungan khususnya daerah Bangka-Belitung.
Bagi Aditya komentar # 10, untunglah otak anda tidak jadi meledak, karena adanya saluran pelepasannya pada blog Pak Yusril ini. Bangka Belitung punya potensi alam yg sangat kaya tetapi rakyatnya masih belum sejahtera , itu memang realita dan sangat menyedihkan. Tetapi Bangka Belitung juga punya potensi lain yg sangat penting , hanya selama ini tidak dimanfaakan secara maksimal yaitu SUMBER DAYA MANUSIA nya. Banyak orang BABEl yg punya potensi baik intelektual, mental, financial, sosial dst tersebar di seluruh Indonesia dan bahkan di dunia. Seandainya mereka -mereka ini diajak untuk bersatu memikirkan dan memperjuangkan apa yg Pak yusril bahas dan concern dalam blog ini , saya percaya bahwa mereka tidak akan cuek atau menolak . Meninjau letak geografis BaBel yg sangat strategis untuk di masa mendatang , di mana dunia akan melirik ke arah Asia, tidaklah terlambat seandainya Pak Yusril membuat suatu gagasan untuk mewujudkan apa yg telah dibahas di atas. Suatu saat Babel tidak kalah menariknya dengan Singapura, he..he…Saya berdoa dan punya harapan yg besar pada Pak Yusril untuk tugas yg mulia ini, karena memang YIM bukanlah orang biasa ( kemampuan, pengalaman, mental, sikap dst tidak diragukan lagi) tetapi ia juga seorang yg sangat biasa ( simple, caring for the poor, low-profile, dan SUdaH TAHU ARTINYA HIDUP SUSAH ) sehingga apa yg direncanakan nanti dan pelaksanaannya tidaklah seperti siang dan malam, tetapi rakyat akan merasakan perjuangannya Pak Yusril. Rakyat Indonesia merindukan pemimpin yg tidak hanya pintar rencana , tetapi sudah tahu dan mau berbuat untuk mewujudkan perubahan yg nyata. Pemimpin itu , tidaklah salah kalau kita tujukan ke Pak Yusril. Paling tidak rakyat BaBel akan sangat bahagia sekali kalau Pak Yusril mau mencurahkan perhatiannya untuk perkembangan Babel di masa mendatang. untuk 2009, kalau tidak RI #1, ya #2 juga boleh. terima kasih, selamat berjuang Pak Yusril.
February 27th, 2008 at 12:33 am
rusmanik (komentar #16)
1. Sekali lagi terima kasih atas jawabannya. Sangat senang rasanya. Sampai gigi pada kering, karena senyum terus :-) Benar juga kata orang-orang, sikap perhatian dan peduli kadang lebih penting dari yang lain. Terima kasih.
2. Terima kasih juga pada koreksiannya.
3. Kukutip dari jawaban pak YIM di komentar #9
Nah itu dia yang kumaksud. Dana telah habis. Studi bandingnya pun telah selesai. Tetapi, mengapa mereka tak pernah mau?
Misalnya, kita anggap faktor manusia = tetap dan tak bisa lagi kita ubah; kita anggap udah kodratnya manusia itu pengen yang seneng dan pengen cari untung dan hal-hal yang sejenis. Dalam kondisi seperti ini, hal apakah yang harus ada sehingga mereka menjadi mau?
Kayaknya memang aturan main perlu diubah ya.
a. Jalur, mekanisme dan ketentuan akuntabilitas DPRD pada voter harus diubah sedemikian rupa sehingga, saat mereka tidak mau, kita segera dapat mencabut vote yang telah kita berikan.
b. Rekrutmennya juga harus diubah sehingga DPRD tidak berpikir untuk BALIK MODAL. Harus dipastikan bahwa mereka hanya berpikir bagaimana cara agar rakyatnya BALIK SEJAHTERA lagi.
c. . . .
Setujukah? Adakah hal lain yang harus ada sehingga mereka berlomba-lomba berbuat yang terbaik?
February 27th, 2008 at 12:38 am
adi riyadi (komentar #17)
Sebagaimana Bang Yusril merasakan penderitaan nelayan. Saya insya Allah juga bisa merasakan penderitaan para nelayan karena saya memang terlahir di daerah kampung nelayan, tepatnya di Bulu, Kecamatan Bancar, Kabupaten Tuban. Sebenarnya kita sama, tapi beda nasib dan penghasilan, ha ha ha. Bang, sekali-kali deh mampir ke Tuban. Saya siap menjamu Abang makanan dari hasil laut. Ini niat tulus lho Bang. Abang suka makan ikan, saya juga lebih suka,– dan itu sejak kecil hingga dewasa sepertin sekarang ini. Makan nasi tanpa ikan, rasanya nggak lengkap. kalau soal makan ikan, boleh diadu deh, ha ha ha. Insya Allah Bang, saya sedikit banyak paham perjalanan karir, termasuk riwayat Abang. Banyak referensi maupun karya Abang,– baik yang terbit di media massa maupun diterbitkan sebuah penerbitan buku yang saya baca. Karena itu, jangan heran kalau saya tahu Abang doyan ikan. Sorry Bang itu hanya intro saja. Tapi benar khan?
Menurut saya, untuk mengangkat derajat nelayan, perlu policy dari pemerintah. Sejak kecil hingga kini, yang saya tahu, nasib nelayan ya begitu-begitu saja. Mereka tetap saja melarat. Hanya segelintir orang saja (juragan) yang nasibnya mujur karena mereka punya beberapa perahu yang dibuat untuk melaut,– dan warga sebagai awaknya. Bahkan, kalau sedang musim angin kencang dan ombak besar, mereka tidak melaut dan itu bisa sampai berhari-hari bahkan berbulan-bulan. Kalau sudah seperti itu, apapun yang dimiliki, termasuk perabotan rumah tangga, dijual dengan harga murah,– untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anak.
Uraian Abang di atas menarik perhatian saya. Karena itu, jika Abang mempunyai konsep seperti itu, akan lebih efektif dan bermanfaat jika konsep tersebut direalisasikan menjadi sebuah kebijakan. Dan itu hanya penguasa yang bisa melakukannya. Perorangan memang bisa, tapi keterbatasan dana tentu menjadi kendala untuk mewujudkan kesejahteraan nelayan itu. Artinya, untuk merealisasikan kesejahteraan nelayan, Abang harus jadi presiden dulu.
Pertanyaan saya,
1. apakah Abang siap dicalonkan menjadi presiden 2009?
Mohon jawaban Bang, tx…..
Tanggapan saya:
Kalau ditanya siap atau sanggup, saya berani mengatakan saya siap dan sanggup. Persoalannya, apakah saya bisa? UU Nomor 23/2003 menyebutkan bahwa calon Presiden dan Wakil Presiden hanya dapat diajukan oleh partai politik peserta Pemilu — atau gabungan partai politik peserta pemilu — yang mendapatkan kursi di DPR minimal 15%, atau 84 kursi jika mengacu kepada komposisi DPR sekarang ini. Bisa juga jika suara sah pemilih bagi partai yang bersangkutan mencapai angka 20% dari suara sah secara nasional.
Kalau ada yang mengharapkan saya menjadi calon Presiden, maka PBB sebagai kendaraan politik saya harus didukung rakyat dalam Pemilu 2009 sehingga mencapai angka 15% itu. Kalau tidak, sekiranya tidak dapat berkoalisi dengan partai lain sehingga mencapai angka 15%, maka saya tidak mungkin maju ke pencalonan.
Demikian tanggapan saya. (YIM)
February 27th, 2008 at 1:01 pm
Nasrullah (komentar #18)
Buat Adi Raidi dan lain-lain, kalau bang YIM jadi presiden apakah kita bisa baca tulisannya di blog ini lagi ya….???
Buat Bang YIM Kapan kopi darat, mohon diberi kabar dan undangannya ya bang … please…
Sesekali tentu bisa. Namun tentu tidak seintensif sekarang lagi. Akan sulit membagi waktu. (YIM)
February 27th, 2008 at 7:50 pm
warman (komentar #19)
Sesekali tentu bisa. Namun tentu tidak seintensif sekarang lagi. Akan sulit membagi waktu. (YIM)
huh (?) para blogger dipaksa memilih, enakan mana tiap hari ngeblog dengan Pak YIM yang aktor Cheng Ho; atau punya Presiden YIM tapi ngga bisa sering-sering berblog-ria seperti sekarang…
nampaknya pilihan yang sulit juga yah
Jadi Presiden tentu dapat berbuat lebih banyak secara kongkrit bagi kemajuan bangsa dan negara. Menulis di blog bisa jalan terus. Anggap saja sebagai hobbi dan sekaligus ajang untuk menuangkan pikiran dan berdiskusi. (YIM)
February 27th, 2008 at 9:26 pm
Toni Parman (komentar #20)
Assalamualaikum wabaraku,
Salam perkenalan, saya ndak tahu harus ber-abang atau ber-adik kepada Mang Yusril, tulisan Mamang telah membuka kenangan tentang Kampung Halaman saya. Saya kelahiran pulau Bangka tepatnya Sungailiat, umur saya 57 tahun.
Masa kecil saya di Airkantung persis sama dengan pengalaman ” Laskar Pelangi” novelnya budak Belitong Andrea Hirata ( maaf jika salah tulis )dan mungkin juga pengalaman hidup ratusan perantauan asal Bangka-Belitung. Bangka-Belitung adalah dua pulau kembar dari Alam, hasil tambang, penduduk dan lain-lainya. Mungkin secara kepadatan penduduk masih boleh dikatakan jarang, tetapi menurut seorang lingkungan hidup dalam tulisan di Kompas kalau ndak salah, sebetunya kedua pulau ini sudah overpupulated ( kelebihan Penduduk ). Karena aktivitas pertambangan Timah yang sudah mulai sejak zaman Kerajaan Sriwijaya sampai ke Republik Indonesia sudah ribuan hektar permukaan tanah yang dibuka. Dari udara ribuan danau kecil ( kolong ) bertebaran. Sampai ada yang berkomentar kalau mau ke Bulan ndak usah jauh-jauh pergi saja kepulau Bangka.
Jadi menurut sang Pakar daya dukung kedua pulau ini tidak cukup untuk dapat mendukung populasi penduduknya kalau mengharap penghidupan mengandalkan alam seperti perkebunan dan pertaniaan.
Karena pertambangan yang telah berabad-abad telah mengikis habis lapisan tanah subur kedua pulau ini. Memang secara kasat mata setiap kali pulang Kampung, perjalanan darat dari Muntok ke Sungailiat sepanjang 130 KM tidak dijumpai lagi hutan Primer. Memang ironis pertambangan timah yang telah menyuapai mulut sebagian penduduk Bangka_Belitung juga mehabisi kehidupan di kedua pulau tersebut.
Terus terang Timah telah memberi kehidupan beratus-ratus tahun kepada penduduk Bangka Belitung mungin juga ikut andil membangun Kerajaan Sriwijaya, Majapahit, Kerajaan Inggris dan Belanda atau mungkin juga ikut andil membangun peradaban Dunia Moderen.
Terutama Belanda dengan sumber daya minim dapat menjadi negara kaya, mungkin paling banyak mengambil harta kekayaan bumi di kedua pulau ini, jadi himbauan saya mungkin bisa didirikan badan international untuk mengumpulkan sumberdaya dan pikiran untuk membangun kembali kedua pulau ini sebagai kompensasi atas apa yang telah di ambil dari ke 2 pulau ini.
Menurut pendapat saya karena kondisi yang sudah rusak dari kedua pulau ini pertanian dan perkebunan tidak akan dapat mendukung pembanguan untuk mensejajarkan diri dengan propinsi lain di Indonesia.
Propinsi ini dengan potensi alamya memang bisa berpotensi dalam beberapa bidang misalnya : Parawisata, Perikanan dan Industri.
Potensi Parawisata dengan didukung Pantai yang indah dan mosaik bebatuan dan pasir putih, terubuh karang, kekhasan makanan dan objek-objek sejarah, tetapi sayangnya pantai pantai yang indah mulai rusak karena akifitas pertambangan demi isi perut, tetapi industri parawisata mungkin dapat mengimport sisi negatif seperti rusaknya moral, narkoba dll, perluh dipikiran jalan keluaranya dengan tetap berazaskan keluhuran budi melalui pendidikan moral agama.
Mungkin kita dapat belajar dari Malaysia dimana kota baru Putra jaya dan Subang Jaya dimana terdapat pusat rekreasi terkenal ” Langon ” dibangun pada bekas-bekas kolong timah.
Perikanan; tidak diragukan lagi dengan garis pantai yang begitu panjang pertemuan antara laut Jawa dan Laut Cina Selatan ini menyimpan jenis-jenis ikan yang lezat seperti Tenggiri, Kerisi, Krapuk, Kakap, Jebung, Udang, Kepiting dll.
Industri pengolahan makanan laut seperti belacan, teritip, kerupuk, getas dan lain-lain sangat terkenal .
Industri; membaca “Bangkapos’ dengan mulai dibangunnya industri hilir bebasis timah seperti timah solder, pewter, tin slag menimbulkan harapan akan makin berkembangnya industri pengolaan timah.
Sumber Manusia yang terambil dibidang teknik juga banyak terdapat, dikota saya Pekanbaru, banyak orang Tionghoa ex Bangka yang membuka toko berbasis teknik seperti toko alat-alat berat, hidrolik, aksessories mobil.
Juga tukang las asal Bangka banyak yang sudah diterima bekerja di perusahaan-perusahaan Multinasional.
Tulisan Mamang menunjukan besarnya kecintaan Mamang kepada negeri ini semoga menjadi RI1 tentu jadi kebanggaan kita, Insyah Allah.
Wassalam,
February 27th, 2008 at 10:47 pm
SAMARUDIN (komentar #21)
Bang Yusril Yth,
Pertama saya ingin mengoreksi bahwa pulang pongok berada dalam adminsitrasi kabupaten Bangka Selatan, bukan bangka Tengah. Namun penduduk setempat banyak berinteraksi ke wilayah belitung, karena Ibukota Bangka Selatan tidak sebesar Tanjungpandan.
Fenomena nelayan yang miskin adalah fenomena yang sering muncul di benak kita. namun sebenarnya banyak sekali nelayan yang hidupnya makmur. Bang Yusril silahkan pergi ke Toboali, Bangka Selatan. Pemasaran hasil perikanan sangatlah mudah, karena hasil laut tidak perlu dibawa ke darat, sudah ada pembeli di laut. Masalahnya mungkin manajemen pengelolaan hasil laut dan juga manajemen keuangannya. Mengingat hasil laut tidak bisa diprediksi, kadang hasilnya banyak, kadang hasilnya sedikit. Mungkin ini menjadi perhatian Bang Yusril, bukan hanya modal uang yang dibutuhkan nelayan, tapi juga keterampilan manajemen. Sekian dan terima kasih, mohon tanggapannya.
Terima kasih atas koreksinya. Saya menyadari bahwa ada kondisi nelayan yang agak baik, ada yang susah dan sangat susah. Pembelian ikan langsung ke nelayan di laut itu menimbulkan masalah juga. karena dapat mengurangi stok ikan untuk konsumsi dalam negeri dan lokal. Rakyat di dalam negeri juga harus mendapat jaminan stok yang stabil dengan harga yang juga relatif stabil. Penjualan ikan langsung di tengah laut, apalagi ke pihak asing, akan menyulitkan kontrol di samping negara dapat dirugikan dari segi pemungutan pajak. Sebab itu, penangkapan untuk ekspor seyogianya hanya dilakukan oleh perusahaan yang berizin menangkap dan mengekspor dengan kawasan operasi tertentu yang tidak mengganggu wilayah tangakapan nelayan tradisional. (YIM)
February 28th, 2008 at 8:03 am
adi riyadi (komentar #22)
Buat Nasrullah yang budiman, apa sampeyan Nasrulllah temanku waktu kuliah di Malang dulu? Soory sambil kenalan nih yee….
February 28th, 2008 at 11:44 am
WAGE SYAHRUDIN BIN SYAFE'IE ABDULLAH (komentar #23)
Dikoreksi Bang, saya adalah anak Cik Kulup cucu dari Kek Haji Dulla, bukan Syafe’ie Abdullah yang tinggal di Semarang seperti yang Abang maksud. Terimakasih atas tanggapannya Bang.
Ooo demikian. Saya kira Sjafii Abdullah yang juga orang Kampung Lalang, yang tinggal di Semarang. Sekarang saya mengerti. Kalau demikian, kita masih keluarga (YIM).
February 28th, 2008 at 3:10 pm
Nasrullah (komentar #24)
Buat Adi Riyadi salam kenal, saya tidak kuliah di Malang meskipun pernah kuliah juga :-) Silahkan klik nama saya, disitu link ke my blog.
February 28th, 2008 at 6:38 pm
adi riyadi (komentar #25)
Alhamdulillah, akhirnya jawaban yang saya tunggu-tunggu muncul juga soal kesiapan Abang dicalonkan menjadi capres 2009 dalam dialog bertema Arah Kepemimpinan Nasional yang digelar HMI di beberapa media cetak di tanah air pada 28 Februari 2008 kemarin. Jawaban Abang sangat menenteramkan hati saya, dan seluruh rakyat Indonesia di tengah krisis kepemimpinan yang terjadi saat ini. Keputusan Abang menolak jabatan ketua Mahkamah Konstitusi (MK) atas permintaan Presiden SBY merupakan keputusan yang tepat. Cukup sudah bagi Abang dan PBB yang dikhianati secara telanjang oleh SBY dengan diberhentikannya Abang sebagai Mensesneg serta Abdurrahman Saleh (Arman) sebagai Jaksa Agung. Pemberhentian sebagai Mensesneg merupakan bukti pengingkaran terhadap komitmen sebuah koalisi serta melukai jutaan pemilih, pendukung, simpatisan, serta organisasi underbouw PBB. Tawaran SBY untuk jabatan ketua MK hanya sebuah strategi untuk mengerdilkan Abang dan PBB dalam running Pilpres 2009 nanti. Sebagai partai pengusung calon pemenang pilpres 2004, idealnya PBB tidak hanya berhak menempatkan beberapa kadernya, tapi juga berhak ikut menentukan tatanan pemerintahan serta menilai kinerja anggota Kabinet Indonesia Bersatu (KIB). Sebab, hirarki koalisi itu, pilihannya hanya dua. Hidup mulia atau hancur lebur. Namun yang terjadi, SBY-JK justru mengkhianati Abang, pemilih, pendukung, dan simpatisan PBB. Sementara kedua petinggi negara itu justru malah menambah jatah kader partainya duduk di pemerintahan dengan dalih karena memiliki anggota DPR mayoritas. Jadi, cukup sekali saja Abang dan PBB dikhianati dan dipermalukan secara mentah-mentah.
Saya sebetulnya ingin menyampaikan pokok-pokok pikiran ini secara langsung kepada Abang, namun tak pernah kesampaian karena kesibukan serta memahami perasaan Abang saat diberhentikan sebagai Mensesneg waktu itu. Untuk saat ini, dari sekian para kandidat yang bakal bersaing dalam pilpres 2009 nanti, insya Allah Abang sudah memenuhi kriteria sebagai calon. Selain mumpuni, performent Abang yang sudah memiliki visi ke depan terhadap bangsa ini merupakan kredit poin tersendiri di mata rakyat Indonesia. Tinggal seberapa besar dukungan rakyat terhadap PBB dalam pemilu legislatif nanti. Sebab, dengan memiliki 15 persen dari anggota DPR RI, maka jalan Abang menuju RI-1 kian lapang. Yang perlu diingat, tidak menjadi jaminan bahwa partai pemenang pemilu secara otomatis akan menjadikan kader terbaiknya terpilih menjadi presiden. Dan itu sudah terbukti saat pilpres 2004 lalu. PD, PBB, dan PKPI yang mengusung SBY-JK menjadi pemenang dan mengungguli calon partai pemenang pemilu sekalipun. Dan itu tidak hanya terjadi pada pilpres 2004, tapi juga pilkada di beberapa daerah di tanah air. Tidak hanya kader partai pemenang pemilu,–bahkan calon incumbent sekaligus, dikalahkan para calon new comers. Misalnya yang terjadi dalam pilkada di Sulsel, Maluku Utara, dan Sultra.
Cuma pesan saya, dalam perjalanan nanti, Abang akan diganjal dengan cara mencari kelemahan Abang yang belum tentu kebenarannya. Bahkan, bisa jadi kekuatan PBB nanti akan dikerdilkan dengan cara mengadu domba sesama kader. Tapi Abang jangan takut. Menghadapi manuver-manuver seperti itu, pemilih PBB tidak akan termakan. Sebab, itu hanya manuver murahan. Jadi, dengan mengucapkan Bismillahirahmanirrahim, Abang tetap tawakal kepada Allah SWT dan semangat untuk membawa perubahan bangsa ini. Selama benar, Abang jangan takut menghadapi manuver-manuver pesaing dalam running pilpres 2009. Teguhkan hati menuju jalan Allah dan sunnah rasulnya. Insya Allah rakyat akan memberi mandat pada Abang.
Pesan ini untuk Abang YIM. Tapi kalau Abang atau yang lain baca dan memberi komentar, saya tentu akan dengan senang hati menyimaknya. Dan akhirnya, mari kita berdoa untuk para pemimpin yang mendahului kita,– yang telah merintis dan mambangun bangsa ini. Semoga Allah SWT menerima amal mereka sebagai amal saleh dan mendapatkan jannatun naim, amin 3x
Salam dari anak kampung nelayan Pantura….
February 28th, 2008 at 11:27 pm
khafidhin (komentar #26)
amin. saya sependapat dengan apa yang disampaikan oleh mas adi riyadi, negara kita memang membutuhkan pemimpin yang memiliki visi dan pandangan ke depan yang bagus. tanpa itu rasanya kita akan terus terkutat pada kondisi seperti ini terus.
yang jadi masalah adalah untuk mengusung seorang calon presiden maka dibutuhkan kendaraan politik yang memiliki 15 % pemilih, padahal semuanya tahu perolehan suara PBB hasil pemilu tahun 2004. maka benar saran pak YIM diatas, kalau ada masyarakat yang menghendaki pak YIM menjadi presiden mendatang maka harus dibesarkan dulu kendaraan politiknya.
boss adi riyadi, anda pantura mana ?
February 29th, 2008 at 8:09 am
khafidhin (komentar #27)
akhirnya jawaban yang saya tunggu-tunggu muncul juga soal kesiapan Abang dicalonkan menjadi capres 2009 dalam dialog bertema Arah Kepemimpinan Nasional yang digelar HMI di beberapa media cetak di tanah air pada 28 Februari 2008 kemarin.Jawaban Abang sangat menenteramkan hati saya ( adi riyadi )
mudah - mudahan mas adi riyadi tidak keberatan untuk turut memperkenalkan pak YIM dan program - programnya kepada masyarakat luas?
February 29th, 2008 at 8:21 am
adi riyadi (komentar #28)
Assalamualaikum,…. Salam kenal pula buat saudaraku Nasrullah. Wah-wah, saya kalah satu langkah nih. Sampeyan udah menempuh S-2 di usia sangat mudah, sementara saya nggak sempat-sempat. Kalau ada waktu, dolan ke tempatku ya. Nggak jauh kok. Timur Jogja sekitar 6-7 jam lah kalau ditempuh kendaraan. Ya, itung-itung untuk menyambung silaturrahmi. Dulu saya punya teman namanya Nasrullah. Dia sekarang menjadi staf pengajar di Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Muhammadiyah Malang. Saat jadi mahasiswa, dia memang ambil jurusan itu. Saya sendiri jarang berkomunikasi dengan dia karena mungkin sama-sama sibuk. Buat Mas Nasrul yang sedang studi di Jogja, semoga cepet selesai kuliahnya dan tentu juga harus berprestasi. Masyarakat Kalsel masih menunggu kiprah sampeyan….. Dan akhirnya salam untuk keluarga Wassalam…
February 29th, 2008 at 11:02 am
adi riyadi (komentar #29)
Untuk saudaraku Khafidin, salam kenal ya…….
1. Saya dari sebuah kampung nelayan di Kabupaten Tuban, Jawa Timur.
2. Ya, tentu nggak keberatan. Yang penting niat kita ikhlas melakukannya….
Salam untuk keluarga….
February 29th, 2008 at 11:09 am
Bonar (komentar #30)
Yth. YIM.
Sekedar penasaran Pak, maaf off-topic,
Mari kita berandai-andai. Seandainya Anda menjadi Presiden, siapa yang akan Anda tunjuk untuk memegang posisi-posisi menteri ekonomi? …dan kenapa?
March 1st, 2008 at 1:03 am
Pages: [1] 2 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda