Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Provinsi Bangka Belitung memang terkenal dengan pantai-pantainya yang indah. Keunikan pantai-pantai di daerah ini ialah golekan batu-
batu granit raksasa yang tersusun berjajar dan bertumpuk secara alami. Batu-batu besar itu adalah batu alami endapan sedimen yang telah berlangsung jutaan tahun lamanya. Bangka Belitung memang terkenal sebagai daerah pertambangan, timah, batu besi, bauksit, bahkan emas dan uranium. Semua bebatuan itu nampaknya terkait dengan berbagai sumber mineral daerah ini. Pantai Tanjung Kelayang di Tanjung Pandan, Pantai Burung Mandi dan Malang Lepau di Manggar tersohor karena kombinasi laut yang membiru, pasir yang memutih dan bebatuan raksasa yang tersusun secara alami. Pantai Parai dan Matras di Sungai Liat juga memiliki keindahan yang serupa. Pantai-pantai indah menawan ini menjadi obyek pariwisata andalan Bangka Belitung.
Tentu keindahan pantai saja belumlah berarti apa-apa sebagai daerah tujuan wisata. Berbagai fasilitas pendukung memang perlu dibangun. Masyarakat dan lingkungan juga harus dididik untuk
bersikap ramah kepada setiap wisatawan. Aneka produk budaya, bahkan produk kerajinan khas daerah juga harus dibina dan dikembangkan. Satu hal yang paling menentukan ialah promosi daerah tujuan wisata itu ke mancanegara. Pada hemat saya, pantai-pantai dan kawasan hutan topis yang menghijau di Bangka Belitung patut dikembangkan sebagai daerah tujuan wisata untuk menyepi sambil menikmati perasaan menyatu dengan alam tropis. Penduduk Bangka Belitung relatif sedikit. Orang dapat menyepi tanpa bersintuhan dengan keramaian di daerah-daerah yang jauh dari kebisingan dan polusi. Hidup menyatu dengan alam, walau hanya sementara, sungguh terasa menyenangkan untuk mengusir lelahnya kehidupan modern yang hingar bingar manusia, mesin dan peralatan teknologi.
Akhir bulan lalu, saya berkunjung ke Bangka dalam rangka Musyawarah Kerja Dewan Pimpinan Wilayah Partai Bulan Bintang.
Saya sendiri lahir di Belitung, pulau di sebelahnya. Saya mengunjungi Pangkal Pinang, yang kini telah berubah menjadi ibu kota provinsi. Saya juga berkunjung ke Sungai Liat dan bermalam di Pantai Parai. Sayapun pergi ke Muntok dan mengunjungi Bukit Menumbing yang bersejarah. Di bukit itu ada pesanggrahan tua yang dibangun Belanda tahun 1927 sebagai tempat istirahat pegawai tinggi perusahaan timah Belanda. Entah apa sebabnya, di tahun 1948-1949, tempat itu dijadikan Belanda sebagai rumah pengasingan bagi Presiden Soekarno, Wakil
Presiden Hatta dan sejumlah menteri, termasuk Haji Agus Salim dan Mohamad Roem. Para pemimpin bangsa itu ditawan pasukan Belanda setelah mereka berhasil menduduki Yogyakarta dalam Agresi Militer II. Di dalam rumah itu masih ada mobil sedan yang dulu digunakan oleh Presiden Soekarno ketika ditawan, sejumlah dokumen dan foto-foto. Menumbing kini sepi dan nampak kurang terawat. Tempat itu, sesungguhnya adalah bagian integral dari sejarah perjuangan bangsa kita dalam menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan negara.
Di samping ke Pangkal Pinang, Sungai Liat dan Muntok, saya sengaja datang ke Tanjung Berikat. Saya ingin mengunjungi sebuah desa, namanya Batu Beriga. Penduduk desa itu berjumlah sekitar
1700 orang, yang sebagian besar berasal dari Pulau Belitung. Ada juga yang berasal dari Pulau Pungok, pulau yang termasuk wilayah adiministrasi Bangka Tengah, tetapi penduduknya menggunakan Bahasa Belitung. Saya datang ke desa itu untuk membantu mereka membangun sebuah masjid, yang juga telah dibantu oleh Gubernur Bangka Belitung, Eko Maulana Ali. Penduduk desa sungguh ramah dan bersahaja. Mata pencarian mereka pada umumnya menangkap ikan. Ketika
kami datang, mereka menunggu kami di mesjid lama sambil menyuguhkan makan siang dari hasil laut. Kami makan bersila duduk di lantai dengan makanan yang tersaji menggunakan dulang, gaya khas makan orang Belitung ketika kenduri. Sehabis makan, saya didaulat memberi sambutan menggunakan Bahasa Belitung. Suasana terasa begitu akrab dan santai.
Sehabis makan, kami berjalan kaki melihat pantai Batu Beriga yang indah menawan. Ada setumpuk bebatuan besar yang di dekat pantai yang membentuk sebuah pulau kecil, dan ditumbuhi pepohonan.
Pulau kecil itu nampak indah sekali di tengah laut yang membiru. Para nelayan memarkir perahu mereka di sepanjang pantai. Ada sebuah warung tempat orang menjual makanan dan minuman. Pantai itu bersih, sebagaimana lautnyapun bersih. Anak-anak bermain sepanjang pantai, mengingatkan saya kepada masa lalu ketika saya kecil. Penduduk desa itu hidup damai walau nampak bersahaja. Di desa itu adalah sebuah sekolah dasar dan Taman Pengajian al-Qur’an. Kondisi sekolahnya cukup baik. Listrik juga telah lama menerangi desa itu. Jalan yang menghubungkan desa itu dengan ibu kota kabupaten Bangka Tengah, Koba, juga diaspal dengan mulus.
Kehidupan nelayan di desa itu, walau selintas nampak baik kondisinya, namun tetap saja membuat saya khawatir. Sebagai anak
yang dibesarkan di pantai, saya tahu betul penderitaan nelayan jika musim angin kencang dan ombak besar. Kebanyakan nelayan kita adalah manusia yang hidup dari hari ke hari. Hari ini melaut hanya cukup untuk makan hari ini. Melaut di masa sekarang sudah jauh ke tengah melebihi batas sepuluh mil. Jarak sejauh itu sudah hampir tak mungkin lagi ditempuh dengan perahu layar. Perahu bermotor – walau menggunakan mesin bekas mobil – adalah pilihannya. Namun harga solar yang mahal membuat modal nelayan untuk melaut makin tinggi. Modal harus keluar dulu, sementara tangkapan belum tentu. Di musim angin kencang dan ombak besar seperti sekarang, nelayan praktis tak dapat melaut. Tak ada pilihan lain, kecuali menunggu angin teduh kembali dan ombak tak lagi mengganas. Kehidupan nelayan memang tergantung kepada kemurahan alam.
Dua minggu yang lalu, saya pulang ke Belitung. Niat hati ingin melaut pergi memancing. Namun apa daya, niat diurungkan ketika melihat laut memutih karena buih, pertanda angin dan gelombang tidak menentu. Nelayanpun hanya duduk-duduk saja di pinggir pantai
sambil memperbaiki perahu. Waktu itu memang baru saja usai perayaan Tahun Baru Cina. Orang Belitung percaya bahwa menjelang dan sesudah Tahun Baru Cina, angin pasti bertiup kencang. Dua minggu selepas itu, angin akan normal kembali. Namun kini, sudah lebih dua minggu angin masih tak menentu. Kemarin petang, saya pergi ke Kampung Nelayan di Muara Angke. Saya menemui kawan-kawan di sana, yang saya tahu persis mereka tak melaut. Benar juga. Puluhan perahu motor berjajar-jajar bersandar di dermaga. Buruh nelayan hanya duduk-duduk sambil berkelakar dan bermain dengan anak-anak mereka. Tempat pelelangan ikanpun sepi. Ikan-ikan yang ada di situ adalah stok lama yang sudah membeku. Sebagian malah sudah menyerupai bangkai.
Pagi ini saya membaca beberapa koran Jakarta yang mengisahkan nelayan di Marunda mulai didera kesengsaraan. Sebagian mereka
mulai menjadi pemulung, menarik ojek sepeda, bahkan ada yang menjadi pengemis. Sebagian mereka terpaksa meminjam uang kepada tukang ijon dan bahkan rentenir dengan bunga mencekik leher. Orang seakan tak perduli dengan nasib nelayan kita di seluruh tanah air yang kini menderita karena alam yang tak bersahabat. Lebih-lebih nelayan bagan yang menetap di pulau-pulau kecil. Melaut tak dapat, pergi ke daratpun untuk membeli bahan makanan dan obat-obatan bagai orang harus
berjibaku melawan badai. Maksud hati membeli beras, namun bisa-bisa nyawa menjadi taruhan. Saya sudah mengalami hidup seperti itu di masa lalu. Hingga kini saya tetap merasakannya. Saya tak hanya berteori tentang kemiskinan nelayan, namun benar-benar mempunyai pengalaman empiris dalam menjalaninya.
Sebab itu, saya tak pernah berhenti berpikir bagaimana meningkatkan kesejahteraan para nelayan dan keluarganya. Pembangunan kelautan haruslah sungguh-sungguh memperhatikan keterkaitan antara kelestarian alam dan dukungan kepada kaum nelayan melalui suatu kebijakan yang intensif dan sungguh-sungguh. Konsumsi dan ekspor merupakan salah satu faktor dalam memicu pertumbuhan ekonomi. Hasil laut yang diekspor tentu menghasilkan devisa. Namun untuk mengekspor, menangkap ikan dilaut bebas memerlukan modal yang besar dan manajemen yang rapi. Kebanyakan nelayan kita tak mampu melakukannya.Andalan mereka adalah konsumsi dalam negeri yang juga sangat penting artinya bagi kehidupan bangsa kita. Hasil yang dijual di dalam negeri adalah konsumsi yang akan mendorong dampak berganda pertumbuhan ekonomi. Untuk itu kredit permodalan dengan bunga rendah untuk membeli peralatan dan barang modal dalam pertambakan ikan sangat mutlak diperlukan. Penggalakan koperasi untuk mengatasi keadaan jika musim angin kencang dan gelombang besar tiba, sangatlah penting agar nelayan dapat bertahan ketika mereka tak dapat melaut.
Itulah sekelumit dilema bangsa kita. Tuhan Yang Maha Kuasa telah menciptakan pantai-pantai yang indah, seperti nampak di Bangka Belitung. Laut yang luas terbentang telah memberikan aneka kekayaan. Namun nelayan kita, dan bangsa kita, tetap saja terlilit dalam kemiskinan. Alam sesungguhnya dapat dipelajari agar kita tahu bagaimana memanfaatkannya, termasuk pula agar kita mampu mengantisipasi jika suatu ketika alam menunjukkan tanda-tanda kurang bersahabat. Tuhan menciptakan Adam dengan kemampuan “memberi nama kepada setiap benda”, yang menunjukkan kesanggupan manusia untuk berpikir secara abstrak dan konsepsional.
Sebab itulah manusia dijadikan sebagai khalifahNya di muka bumi agar mampu mengelola dan memanfaatkan seluruh isi alam semesta demi kemaslahatannya. Kalau kita masih tak mampu juga, bukanlah salah siapa-siapa, melainkan kesalahan kita sendiri. Tuhan telah memberi segalanya kepada bangsa kita, maka — seperti dikatakan berulang kali di dalam surah Ar-Rahman – “maka nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang akan kalian dustakan” (fabiayyia la i Rabbikuma tukazziban)?
Semoga Allah Ta’ala akan membuka pintu hati dan pikiran kepada bangsa kita, serta memberikan segala kekuatan, agar mampu menyelesaikan problema-problema besar yang kita hadapi bersama.
Wallahu ‘alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 25th, 2008
57 tanggapan untuk “PANTAI BANGKA BELITUNG DAN NASIB NELAYAN”
Pages: « 1 [2] Show All
koohar (komentar #31)
Pak Yusril yang saya hormati…
menyimak tanggapan bapak diatas, saya menjadi sangat percaya bahwa apa yang saya lihat dan amati akhir-akhir ini telah menjadi fakta dan sekaligus masalah yang harus kita sikapi. kesalahan elit lokal dalam mebuat kebijakan daerah telah memberikan resiko besar untuk masyarakt belitung di masa yang akan datang. hari ini kesalahan itu dianggap sebuah kesuksesan dalam membangun daerah. beltim berhasil membangun fasilitas dan infrastruktur daerah, inilah yang saya tangkap dari saat peresmian gedung-gedung pemerintahan daerah tersebut.
namun adakah masayarakt menyadari bahwa cara-cara itu sudah tidak sesuai dengan arah pembangunan kita kedepan. kalau pemerintahan daerah juga tidak bisa menjaga dan melestarian hutan bagaimana dengan masyarakt kita lainnya. ini ironis sekali karena membangun daerah ini hanya memikirkan satu sisi saja yaitu trsedianya sarana fisik untuk birokrat daerah bekerja. namun adakah pemeimpin daerah merancang sebuah pola pembangunan yang holistik dan saling keterkaitan satu sama lain?
inilah yang akan terjadi ketika pemimpin daerah baik di eksekutif amaupun di legislatif yang selalu merasa benar, pintar, berkuasa dan tidak memerlukan pendapat orang lain lagi. sangat tidak akomodatif dan aspiratif!! saya sejujurnya kecewa akan keangkuhan pejabat daerah yang tidak merespon segala masukan-masukan anak daerah lainnya. bahkan yang lebih kecewa, suara bapak pun tidak didengar dan dipertimbangkan. kalau kita melihat kantor bupati di beltim, maka kita menyaksikan sebuah kegersangan wilayah, seakan tak ada kesejukan, sebuah gedung yang congkak penuh kesombongan. kegersangan itu bukan saja dari sisi lahiriah, namun dari sisi batin pun sudah terasa hampa.(maaf agak sedikit keras, karena tak ada respon ketika kita berdiskusi soal ini, media pun tak mampu menuliskan pemberitaannya)
beginilah kalau banyak putra daerah yang tidak diberi tempat untuk bersikap kritis sedikit atas sikap penguasa lokal. kita sangat ingin membela masyarakt di daerah namun ruang harus dibuat sendiri, pemerinah daerah balum pernah membuka ruang dialog kepada putra daerah lainnya. maka komitmen kita kedepan, dialog dengan masyarakt akan selalu hadir demi kebaikan kita bersama. walaupun pemerintah daerah tidak mendukung dalam soal ini. kita serahkan kepada masayarakt yang menilai.
banyak hal yang tidak disentuh oleh kebijakan daerah, pemekaran yang dilakukan oleh banyak daerah hanyalah sebuah akla-akalan elit yang tidak layak untuk berkuasa. jangankan kita bicara soal kualitas pemekaran, bicara soal birokrat di dalam pemerintahan pun kita masih sangat kekurangan. belum lagi kita berbicara soal ketahanan ekonomi, membangun pusat-pusat pendidikan, pelatihan, sarana publik, tata ruang kota, prioritas pembangunan daerah, peningkatan kualitas sdm, pengelolaan sda berwawasan lingkungan dan lain sebagainya.
tahun 2009, adalah tahun pengujian kembali buat masyarakt untuk memilih wakil-wakilnya di paremen baik di tingkat lokal maupun di pusat. cabut mandat para pemimpin yang tidak memberikan manfaat buat rakyat selama 5 tahun berkuasa. kita harus membuat kontrak politik dengan calon pemimpin kita, jika mereka tidak bayakl berbuat maka harus siap mengundurkan diri sebelum masa jabatan berakhir. inilah bentuk control rakyat, karean legitimasi pemimpin diperoleh dari tangan rakyat yang memilih. maka tidak pantas pemimpin menyombongkan diri hanya sebagai penguasa di tingkat lokal. jabatan adalah amanah, maka amanah sewaktu-waktu bisa dicabut oleh para pemberi amanah. sadarilah akan semua itu.
untuk itu, sya sangat sependapat atas tanggapan Pak Yusril yang begitu peka melihat ketidakbenaran yang telah dilakukan oleh pemimpin kita di daerah. berani karena benar, takut karena salah, mungkin itulah pepatahnya. semoga bisa menjadi bahan renungan kita untuk mengubah pandangan, pikiran dan pola pikir pemimpin kita kedepan untuk memiliki planning. pemimpin jangan banyak yang dadakan, karena programnya serba dadakan yang sangat rawan dari kekeliruan dan kesalahan. bagus di depan belum tentu bisa bertahan lebih lama. maka arah, langkah dan prioritas pembangunan harus jelas dulu, jangan suka tambal sulam dalam membangun, inilah yang terjadi di indonesia sekarang ini.
mohon maaf atas kata-kata yang kurang berkenan. wassalam
March 1st, 2008 at 11:42 am
Kandar Cik Kulup (komentar #32)
Assalamualaikum wr.wb.
Saat ini saya sedang berada di pulau selat nasik kab.belitung barat untuk survei penggunaan PLTS (Pembangkit listrik tenaga surya) karena memang di pulau ini yang mayoritas nelayan sangat memerlukan energi listrik dan jaringan listrik yang belum memadai disana.
Dalam obrolan ringan dengan penduduk setempat, saya sempat mendengar ada rencana explorasi bauksit di pulau itu bahkan saya sempat berbicara dengan kapolsek setempat yang mendukung hal itu. Hemat saya, kalau rencana itu jadi dilaksanakan saya berpendapat tentunya akan mengganggu ekosistem di pulau tersebut. Tolong diingatkan bang, kepada Pak Darman agar jangan meluluskan rencana tersebut. Terima Kasih
March 1st, 2008 at 12:35 pm
naimul hajar alkaromy (komentar #33)
ass. bang yusril negara ini sesungguhnya perlu pembenahan - pembenahan yang nyata.kita tidak tahu kemampuan seseorang sebelum mengetahui upaya-upaya yang dilakukan.sebentar lagi pilihan umum negara tercinta akan terselenggara saya pribadi selaku mahasiswa mendambakan pemimpin yang masih berjiwa muda.saya pikir sekarang lah saatnya kaum intelek muda di berdayakan bukan hanya kaum-kaum tua yang d unggulkan
kalau terus memuji pada sosok tua yang mungkin di dambakan karena pesonanya bukan kapabilitasnya kapan indonesia akan maju dan berubah memberi kesempatan kepada kaum muda.tak tahu siapa kaum muda yang akan maju dalam pilpres mendatang tapi salah satu yang saya harapkan adalah bang yusril..dan mungkin kaum2 muda lainnya.saya merasa kurang variatif pemimpin kita bila hanya di dominasi kaum tua.
terima kasih ….. salam perjuangan
wassalam
March 1st, 2008 at 11:22 pm
abu ghifari (komentar #34)
mohon maaf kpd rekan2 krn ini ‘out of topics’, tp krn ini blog-nya pak Yusril sy rasa ilustrasi kisah di bawah ini cukup relevan n sedikit banyak bisa menggambarkan apa yg telah dialami pak Yusril .. minimal 15 % suara bagi PBB utk bisa maju jd presiden ?? wah .. betul2 harus kerja keras deh kader2 PBB, tapi ‘ yakin usaha sampai lah’ .. with all my respect to you sir ..
” Seorang wanita mengulang sepotong berita yang memalukan mengenai tetangganya. Dalam beberapa hari, seluruh desa mengetahui ceritanya. Dan, orang yang diceritakan itu merasa sakit hati dan terpukul.
Kemudian si wanita yang menyebarluaskan berita buruk tersebut mengetahui bahwa berita itu betul-betul salah. Dia menyesal dan mendatangi seorang orang tua yang bijak untuk mencari tahu apa yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kesalahannya itu.
“Pergilah ke pasar,” kata orang tua bijak itu, “dan belilah seekor ayam. Sembelihlah. Kemudian dalam perjalanan pulang, cabuti bulunya dan buang satu persatu di sepanjang jalan.”
Meski kaget mendengarkan itu, si wanita melakukan apa yang disarankan kepadanya. Namun, ia merasa masih belum bisa memperbaiki kesalahannya menyebarluaskan berita bohong itu pada seluruh penduduk desa. Keesokan harinya, ia kembali mengunjungi orang tua bijak itu dan menanyakan persoalannya kembali.
Si orang bijak itu berkata, “Hmm, kalau begitu, sekarang pergilah dan kumpulkan semua bulu yang kau buang kemarin dan bawa kembali kepadaku.”
Si wanita itu pun menyusuri jalan yang sama dan berusaha mengumpulkan bulu-bulu ayam yang telah dicabutinya kemarin. Namun, angin telah menerbangkan semua bulu-bulu itu kemana-mana sehingga mustahillah ia bisa mengumpulkannya semua. Setelah mencari-cari selama berjam-jam, ia kembali hanya bisa mengumpulkan sebanyak tiga potong bulu saja. Si wanita itu kembali menemui orang tua bijak.
“Lihatlah!” kata si orang bijak, “sangat mudah mencabuti bulu ayam dan melemparkannya. Namun sangat tidak mungkin menariknya kembali. Begitu pula dengan gosip dan berita bohong. Tidak sulit untuk menyebarluaskan
rumor, namun sekali terlempar, batapapun kita ingin memperbaiki .. tidak akan pernah secara penuh memperbaiki kesalahan yg ada.”
“Hai orang2 yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah DOSA dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebahagian yang lain. Sukakah salah seorang dari kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa
jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi maha Penyayang”. (Qs.49:12)
March 2nd, 2008 at 10:00 pm
ur@ng belitonk (komentar #35)
Assalamualaikum wr.wb
Menurut saya belum berkembangnya sektor pariwisata di daerah kep. Bangka Belitung dikarenakan kurangnya promosi tentang keberadaan daerah ini, baik itu di dalam negeri kita sendiri apalagi di luar negeri. Disinilah tanggung jawab kita sebagai putra daerah (bagi yang merasa urang Bangka Belitong) untuk membantu pemerintah daerah setempat, paling tidak meng-upload foto-foto tempat wisata di Bangka Belitung, jangan bang Yusril saja yang terus-menerus memberikannya dan kita cuma komentar melulu.
Untuk Kandar Cik Kulup jangan langsung bilang tidak setuju dengan rencana eksplorasi Bauksit di Selat Nasik, anda kan belum mendengar langsung dari investornya mengenai eksplorasi tersebut. Kita jangan langsung bilang eksplorasi tersebut akan mengganggu ekosistem tanpa penelitian terlebih dahulu, saya rasa Dinas Pertambangan dan Energi kab. Belitung tidak akan segampang itu langsung memberikan izin. Mereka pasti akan bertanya dan mendiskusikannya dengan Dinas-Dinas terkait.
Kita jangan menghambat investasi, bagaimanapun juga daerah Bangka Belitung ini tidak bisa langsung lepas dari keberadaan investasi di bidang pertambangan, tinggal bagaimana meminimalisir dampak-dampak yang akan ditimbulkannya. Saya kira Pak Darmansyah sebagai seorang sarjana planologi ITB juga tidak akan gegabah dalam mengambil keputusan.
Terima Kasih.
March 2nd, 2008 at 11:19 pm
Ersis W. Abbas (komentar #36)
Rindumu padamu, wahai Negeri Tangan Tuhan
deru ombak lembut menyapa tepian
harap-harap terpesan
melengkung lurus ke lubuk hati
angnku tergadai mengirim tanda
kapan aku menjamah hatimu yang terdera
Wahai negeri sembahan keindahan
kenapa tangan-tangan jahat terdera
merobek jantung cinta yang kau tebar
bersama semilir pagi jelejah tak bertepi
Bangkaku Belitungmu
pagut rindu
March 5th, 2008 at 5:09 am
arif_gendut (komentar #37)
buat aditya #komentar 2…
pak YIM sudah punya kendaraan…yaitu PBB,
ini dia presiden saya…. saya sosialisakan ya pak…boleh kan?
Silahkan saja. Terima kasih atas perhatiannya.
March 10th, 2008 at 3:09 pm
adi riyadi (komentar #38)
1. Berkaca dari pengalaman yang pernah dialami Abang, masih mungkinkah jika kelak Abang nanti dicalonkan menjadi RI-1 atau sebaliknya, akan berpasangan dengan mantan militer? Ini perlu penegasan dari Abang agar tidak terjadi ‘luka’ kedua kali saat mengusung SBY pada pilpres 2004 lalu. Pengalaman pahit diberhentikan sebagai Mensesneg rasanya masih belum terlupakan dan terlewatkan begitu saja. Alasan karena desakan publik seperti dalam surat SBY kayaknya masih jauh dari nalar jika dilihat dari peran Abang, pengurus, pendukung, dan simpatisan PBB saat mengusung SBY-JK.
2. Saya berpesan, jika Abang nanti benar-benar dicalonkan dan ikut running Pilpres 2009, jangan sampai salah dalam memilih pasangan calon. Untuk running Pilpres 2009, kombinasi Jawa dan luar Jawa tampaknya menjadi idaman umat (rakyat). Jujur saja, kalau kita sudah sepakat dengan NKRI, istilah kedaerahan idealnya memang tidak berlaku lagi. Namun, harus jujur diakui bahwa sentimen kedaerahan tampak masih kental dengan pemilih dalam menjatuhkan pilihan. Itu realita.
3. Saya ingin tanggapan Abang soal pengaruh survei beserta hasil-hasilnya? Masih relevankah hasil survei untuk mempengaruhi publik dalam menjatuhkan pilihan. Sebab, hingga kini yang nongol pada hasil survei yang dilakukan oleh beberapa lembaga survei ternyata masih menempatkan para pelaku dan wajah-wajah lama,– yang kalau boleh jujur kinerjanya belum sesuai dengan agenda reformasi dan harapan publik.
4. Ke depan, bangsa ini perlu pemimpin yang tegas (bukan berarti tegas identik dengan para mantan TNI/Polri). Tegas dalam bersikap dan santun saat berbaur dan menyapa umat. Performa Abang sudah bagus. Bahkan saya menganggap punya nilai lebih di banding beberapa calon yang bakal bersaing pada pilpres 2009 nanti. Hanya saja, yang perlu ditata adalah pengendalian emosi kejiwaan Abang yang gampang terpancing, sehingga menjadi santapan media massa,– yang notabene dikendalikan para pemilik modal yang mendukung penguasa. Tidak gampang mencari sosok calon pemimpin yang jujur seperti Abang. Berbagai isu dan kasus pernah dilempar, namun hingga kini tak ada ujungnya seiring mundurnya Abang dari jabatan yang diemban. Saya haqqul yaqin bahwa semua itu rekayasa dan tipu muslihat belaka.
Terus istiqamah dan tetap bertawakal kepada Allah SWT. Semoga Allah SWT memberi jalan yang terbaik bagi Abang.
March 10th, 2008 at 10:16 pm
koohar (komentar #39)
Salam buat pak Yusril…
terkejut!!! itulah ekspresi saya ketika mendengar pemberitaan robohnya atap genteng gedung perkantoran BUPATI BELITUNG TIMUR di manggar. gedung yang sangat megah ini diresmikan oleh gubernur kepualauan Bangka Belitung, Eko Maulana Ali, sebulan yang lalu. menurut perhitungan hal ini tidak mungkin terjadi karena biaya yang telah dikeluarkan untuk pembuatan gedung tersebut sangat besar, milyaran rupiah. namun jumlah milyaran itu tidak bisa digunakan untuk membeli barang yang berkualitas agar bisa bertahan lebih lama. entah apa yang akan terjadi bila umur gedung ini sudah satu tahun, mungkin sudah rata dengan tanah.
tidak pantas kiranya bila untuk membangun fasilitas pelayanan publik, pemerintah daerah tidak sepenuh hati untuk menjaga agar bangunan itu bisa digunakan bukan hanya untuk 5 tahun saja atau satu peride kepemimpinan seorang bupati. bangunan itu harus tetap berdiri sepanjang kabupaten beltim masih ada. namun kondisi sekarang ini seakan telah menunjukkan lemahnya leadership dari berbagai lini yang memungkinkan kab. beltim diubah statusnya menjadi bagian dari kabupaten Belitung. tentu hal ini tidak kita inginkan, sekali kita melangkah maka jangan sesekasli untuk mundur ke belakang. ini sebuah konsekuensi, tentunya kita tidak ingin menjadi daerah yang dimekarkan hanya sebuah uji coba.
yang utama untuk memajukan beltim di masa yang akan datang adalah soal kepemimpinan, di sinilah kunci sukses kita kedepan. bayangkan saja bila setiap pembangunan proyek perkantoran saja mengalami masalah, belum kita berfikir bagaimana strategi membangun daerah, saya pikir itu masih jauh dari harapan publik. penyataan seorang bupati ketika terjadinya peristiwa itu demikianlah adanya :
“Kita minta untuk segera diperbaiki jangan sampai aktivitas para pegawai terganggu. Jangan cari siapa yang salah dan benar dalam hal ini, tapi bagaimana solusinya untuk memperbaiki ini. Kita berharap secepatnya diperbaiki,” kata bupati. (BELITUNG POS, 11 MARET 2008)
Itulah penggalan jawaban seorang bupati yang sebelumnya dingkat untuk menggantikan bupati Basuki T. Purnama yang hari ini dipersoalkan oleh Barisan Penyelamat Beltim. mereka meminta perihal pengangkatan itu untuk ditinjau kembali oleh MA bagaimana aturan hukummya, karena mereka terpilih melalui mekanisme langsung. pemberhentian lewat mekanisme perwakilan telah menimbulkan tanda tanya bagi masyarakat. sambil menunggu fatwa dari mahkamah agung tentunya kita juga harus berdiskusi masalah ini bagaimana duduk persoalannya.
kembali kepada persoalan diatas, robohnya atap kantor bupati ini menimbulkan banyak dugaan, mengenai pekerjaan pemborong yang lalai, mestinya pemerintah daerah menyoroti soal kualitas barang yang digunakan untuk perkantoran itu. maka diperlukan tim investigasi untuk mengaudit kualitas pekerjaan pemborong tersebut, jika memang mereka bekerja diluar standarisasi dan mutu barang yang digunakan maka, harus dikenakan sanksi. seklaigus memperbaiki kerusakan yang ada, dan ini bukan tanggung jawab pemerintah. tentu kita tahu bahwa setiap barang yang kita beli memiliki kartu garansi, sehingga jika terjadi kerusakan sebelum masa yang telah ditetapkan, maka bentuk kerusakan adalah tanggung jawab perusahaan.
bagi saya jawaban bupati dalam persoalan ini tidak tepat dan kurang memahami persoalan. seorang bupati adalah pimpinan di daerah yang memiliki hak untuk melakukan tindakan yang ekstra jika terjadi kekeliruan dalam manajemen pemerintahannya. jika ia lemah dalam soal ini, maka akan banyak pimpinan proyek yang main mata dengan para pemborong, hal ini tentu akan memberikan pandangan yang tidak baik juga terhadap kepemimpinan seorang bupati. dampak selanjutnya yaitu pencitraan seorang bupati akan semakin buruk di mata publik.
anggota legislatif daerah semestinya peka menyikapi persoalan ini. jangan selalu melihat persoalan itu adalah hal yang biasa saja. selama ini saya melihat peran yang dimainkan oleh anggota legislatif daerah kurang “menggigit” banyak kekeliruan dibiarkan dan tidak ada sikap untuk menyelesaikannya. pada akhirnya masalah semakin menumpuk dan hari ini sudah dirasakan oleh masyarakt daerah. hari ini juga guru bantu mengeluh karena keterlambatan dalam membayar hasil keringat mereka selama bekerja. mereka pinjam sana-sini untuk memenuhi kehidupan sehari-hari. kita juga mendengar gaji PNS sering terlambat di bayar. ini adalah masalah kecil yang tidak patut terjadi bila ada manajemen tata kelolah pemerintah yang baik. saya sering bertanya, dalam soal ini dimanakan power seorang bupati, sepertinya ia hanya bekerja untuk dirinya sendiri, bila gajinya tidak bermasalah, maka ia tidak akan banyak protes atas kinerja bawasannya yang kurang cakap.
saya semakin kecewa ketika pemberitaan bahwa tim sepakbola U-15 gagal diberangkatkan untuk memperebutkan piala menpora di pangkal pinang, padahal mereka sudah berlatih keras. apalagi tiga bulan yang lalu saya mendirikan sekolah sepak bola di burung mandi untuk U-15 dengan nama SSB JUNIOR BURUNG MANDI. di dalam tim itu ada anak-anak didik dari SSB JUNIOR tadi. alasan ketidakberangkatan itu oleh karena tidak ada izin dari bupati. ada 3 alasan utama bupati, pertama, sudah mendekati waktu ujian, cuaca yang kurang bersahabat dan pemerintah daerah tidak memiliki dana yang cukup.
sebuah alasan yang kurang masuk akal bagi saya, kalau itu alasannya buat apa mereka dikarantina untuk dilatih sebelum mereka bertanding? bukankah jadwal ulangan sudah diketahui lebih awal setiap tahun pembelajaran? dan bukankah dana untuk hal itu sudah tersedia? sulit memang mengurai pemikiran pemimpin kita, namun tidak ada upaya yang berarti bagi masyarakt untuk memprotesnya.
semoga kita sama-sama memberikan tinjauan atas sikap pemimpin kita. tinjauan ini sangat ita harapkan dari wakil kita di lembaga perwakilan daerah. kritis bukan berarti kita ingin mengacaukan suasana, namaun kita mencari kebenaran dari setiap kebijakan yang dikeluarkan
semoga tulisan ini tidak membuat komentator di blok ini bosan, karena mungkin terlalu panjang. semoga pemimpin kita membaca suara hati rakyat ini. maaf bila ada kata-kata yang kurang berkenan. wassalam
Koohar
March 13th, 2008 at 8:10 pm
dian nusa (komentar #40)
ass ww, muntok bangka adalah tempat kelahiran ayah saya tahun 1928. seorang anak nelayan piatu (ayah meninggal tahun 1942) yang miskin dan sulit bersekolah dan kebanyakan dengan biaya sendiri. tetapi akhirnya dapat juga tamat sga palembang. berkat ketemu soekarno dan juga hatta di menumbing serta memang karena kemampuan otaknya dapat bea siswa ke indiana university dan menfdapat gelar MA tahun 1958. mendirikan sekolah bahasa inggeris di bukittinggi, cikal bakal ikip padang. tempat ketemu ibu saya dan kelahiran saya tahun 1960. zaman yang sulit untuk ayah yang muhamadiyah, sehingga akhirnya pindah ke caltex dumai tahun 1966. sekarang berumur 80 tahun, sehat walafiat, tidak pernah lupa lima waktu dan selalu di mesjid. masih bisa bawa mobil, hidup sehat tanpa suka bergosip atau mencari komisi.. bangka tempat yang selalu kurindukan, senang membaca dan membuat karangan (ada otobiografi, mungkin perlu tanggapan bang yusril). sekarang tinggal dengan ibu saya di rumbai, pekanbaru riau. sulit mencari ayah seperti beliau, hampir tidak pernah marah selama hidupnya. bangka tempat yang selalu kurindukan, walaupun baru dua kali kesana (1961 dan 1974). ayah dan ibu terakhir berdua ke bangka tahun 2007, via jakarta . walaupun sudah tua, tetapi semangat dan fisik sampai juga ke bangka. semoga semangat bangka-belitung, semangat masyarakat luar jawa dapat menjadi inspirasi bang yusril tahun 2009 dan juga dapat menjalankan amanah saya sebagai ketua ikatan persaudaraan bangka belitung tanjungpinang-bintan yang belum dilantik. mohon dukungan bang yusril. gub babel (eko maulana) , bang antasari (ketua kpk) yang pernah tugas di tanjung pinang dan warga bangka=belitung
March 13th, 2008 at 10:06 pm
erin (komentar #41)
dear pak yusril..
pernah ke pulau lanun??
Wah, belum pernah ke pulau itu. Kalau Pulau Batun, yang terletak antara Jakarta dengn Belitung, saya pernah. Tetapi Pulau Lanun belum, bisakah memberitahu saya di mana letak pulau itu? (YIM)
March 19th, 2008 at 3:42 pm
Ardi Hatta (komentar #42)
As.W.W
Aku dapat protes dari keponakan yang berdomisili di Padang, “Lho Kakek saya dulu tengkulak ikan ?”. Ini kutipan kenangan masa kecil bagian ke V sbb : ……Ferry Sonoville berhasil mengalahkan lawannya, mungkin dari Swedia. Namanya saya sudah lupa. Namun pada set pertama Ferry kalah. Keesokan harinya, ketika saya duduk-duduk di pantai, adik kakek saya, Pak Yakub, bertanya kepada saya, apakah Ferry Sounoville menang dalam pertandingan semalam. Kakek saya itu seorang guru SD merangkap tengkulak ikan, sehingga tiap hari ada di pantai menunggu nelayan pulang melaut…..
Mohon maaf sebenaranya belau tue aku ukan tengkulak tape nulonge bang Bakar jual ikan maklum zaman ekonomi sulit. Aku pun biase ngantaran ikan dari pengempangan ke pasar makai mutor DKW belau ini terjadi mun musim tenggiri belau ngenjual de pasar, bang Bakar nunggu de pantai aku ngantaran mun la tekumpul sekeranjang pempang.
Tengkulak sama dengan pengijon meminjamkan uang dengan bunga yang dilakukan musim paceklik dan diganti berikut bunganya di musim panen ikan. Belau tue rase aku ndak isak punyi duit banyak, kamek nok sekula jak harus banting tulang nyari duit untuk meli sepatu kan mayar duit sekula maklum zaman itu serba kekurangan. Aku ndak tahu persis gimane hasil baginye tapi nok jelas kamek sekeluarge ndak payah meli ikan untuk laok ini hikmahnya belau jadi tukang rae.
Wasssalam, Ardi
Terima kasih atas komentarnya dan sekaligus saya mohon maaf atas penggunaan istilah “tengkulak ikan” itu. Saya memang kesulitan menemukan istilah yang tepat dalam Bahasa Indonesia untuk menerjemahkan istilah Bahasa Belitung “Tukang Rae”. Kata yang agak mendekati adalah istilah “tengkulak” itu. Saya menyadari bahwa di berbagai daerah istilah “tengkulak” bisa berkonotasi negatif, karena terasosiasi dengan istilah “tukang ijon”. Sebab itulah dalam tulisan Kenang-Kenangan Masa Kecil itu, saya menjelaskan bahwa “tengkulak ikan” di Belitung di zaman itu bukanlah semacam tukang ijon, karena sikap mereka yang baik dengan para nelayan, atas dasar prinsip kekeluargaan dan tolong-menolong. Saya memang mengetahui persis bahwa Kik Yakub bekerjasama dengan Pak Long Bakar, hanya saya kurang mengetahui corak kerjasamanya antara kedua beliau. Seingat saya, Pak Basri, yang pernah menjadi Lurah Kampung Lalang, juga menjadi tukang rae ikan.
Kalau saya teringat pengalaman di masa kecil itu, hati saya sering merasa terharu. Saya masih ingat wajah orang yang setiap hari saya bergaul di Pengempangan di zaman itu. Sebagian besar mereka telah wafat, kecuali Rahili yang masih hidup. Saya sungguh berhutang budi dengan beliau-beliau itu, termasuk Kik Yakub, karena obrolan saya dengan beliau di masa kecil, banyak sekali memberi ilham kepada saya. Kik Yakub, adalah orang baik hati dan benar-benar seorang pendidik. Saya pernah menjadi murid beliau di kelas IV SD II di samping Kubur Lalang. Saya tak pernah melupakan kebaikan hati beliau. Sebab itu, saya mohon maaf, kalau istilah “tengkulak ikan” itu menjadi kurang mengenakkan hati.
Saya sependapat, meskipun saya sendiri hidup miskin di masa kecil, namun banyak makan ikan, setidaknya memberikan gizi yang lumayan. Biar badan sangat kurus di masa kecil, namun otak tetap berjalan baik. Alhamdulillah semua itu membawa manfaat untuk perkembangan di kemudian hari.
Demikianlah penjelasan saya. Terima kasih dan salam kepada semua keluarga yang ada di Padang. Sebenarnya beberapa kali saya datang ke Padang dan Sumbar. Mohon maaf kalau saya tak mampir karena tak tahu alamatnya. Tolong berikan alamat dan HP melalui email pribadi ke alamat email: yusril.ihzamahendra.com, agar nanti kalau saya ke Padang, saya dapat mampir bersilaturrahmi. (YIM)
March 27th, 2008 at 9:21 pm
Pengembang Web IF (komentar #43)
Semoga pemerintah Babel bisa tidur nyenyak, betapa indahnya Pantai Kapuk di Jakarta. Jika kelak Sungai Rangkui pun sudah berhasil meniru Kali Ciliwung, jangan lupa proyek masa depan seperti banjir kanal dan perahu liburan akhir pekan. Dari trilyunan anggaran yang akan dihabiskan, saya hanya menitipkan sebuah harapan kecil saja demi masa depan yang sangat bergengsi itu. Alokasikan sepercik saja lagi buat sektor pendidikan. Gemblenglah mental anak-anak sekolah dan para orangtuanya agar mengerti bahwa cita-cita menjadi pemulung sampah, pengasong tisu atau sapu tangan, dan nelayan pemotong serat fiber atau kabel bawah laut juga berprospek bagus karena aksi sirkus dan sulap yang mereka tonton pada akhirnya kesulitan mengharumkan bau sampah di sungai, dan seribu tahun lagi mungkin di laut. Jika sekedar membangun cita-cita generasi penerus bangsa ini terlalu tinggi tanpa sistem yang dapat mendorong pengayaan iman secara besar-besaran, bisa-bisa cuma orang gila beneran yang akan semakin ramai berkeliaran di jalan-jalan kota, disembunyikan di RSJ atau dibuang ke jalan-jalan sepi di kecamatan.
April 1st, 2008 at 11:15 pm
WENDY PURNAMA TARIGAN (komentar #44)
Bang Yusril yang saya hormati,
Saya adalah mahasiswa semester akhir MBA Program di Universitas Utara Malaysia, dengan course Tourism. Saya memang punya rencana untuk menulis Journal Ilmiah Pariwisata, dengan case Bangka Belitung, adapun topiknya adalah “Community Base Tourism, case Bangka Belitung “. Betapa cocoknya dengan bahasan Abang.
Saya sudah pernah mengunjungi Bangka Belitung dalam rangka tourism field project study tahun lalu. Saya melihat pariwisata di Bangka Belitung masih agak jauh melibatkan peran serta masyarakat, seharusnya mereka adalah orang pertama yang merasakan pembangunan pariwisata. Saya melihat, pariwisata dapat menjadi suatu alternatif penyelesaian masalah ekonomi di Babel, contoh yang sangat riil adalah pantai kuta Bali, pihak yang berkompeten harus pandai membaca situasi yang ada dengan alternatif yang kreatif. Abang tahu betul apa yang saya maksud di atas. Apalagi sebagai putra daerah setempat.
April 1st, 2008 at 11:44 pm
Zumimoto (komentar #45)
Bang YIM, saya pernah dikirim ke belitung untuk tangani potensi batu dan kayu supaya digarap menjadi barang-barang kerajinan, saya setuju jika bang YIM juga memikirkan kerajinan khas belitung, sebab saya sedih melihat para penambang timah yang tidak melihat efek dari penambangan tersebut, tanah jadi rawa dan tanaman tidak bisa ditanami. bagaimana jika bang YIM membuat program pelestarian alam dengan mengalihkan pekerjaan tambang timah ke pekerjaan kerajinan.tentu saja lewat parpol yang panjenengan pimpin.
April 19th, 2008 at 2:27 pm
AgusOnly (komentar #46)
Kapan Film nya Tayang? atau saya yang ketingalan informasi.
April 28th, 2008 at 2:16 pm
abdul (komentar #47)
Assalamualikum Pak Yusril
Perkenalkan nama saya abdul rachman bin muhammad dilahirkan di manggar pada tanggal 24 bulan empat tahun 1977,sekarang saya bekerja di malaysia sebagai Dimensional Control surveyor di Khl SDN.BHD yang beroperasi dibidang pembuatan Pelantar Minyak (Oil and Gas Company )yang sebagian sahamnya di miliki oleh anak Tun Mahathir, saya sudah lama mendengar cerita tentang bapak dari paman saya.Mengenai nasib nelayan,walaupun saya bukan nelayan tetapi kakek saya yang bernama Sadeli adalah nelayan sejati,yang hampir separuh hidupnya adalah sebagai nelayan,jadi sedikit banyak saya tahu arti kehidupan nelayan itu.
Negara kita adalah negara maritim dan salah satu kekayaan yang ada selain migas adalah ikan dan hasil laut yang lain,tetapi berbicara hal ini saya rasa tdk mudah, karena dari beberapa presiden yang telah memimpin bangsa indonesia tidak ada solusi untuk mensejahterakan para nelayan dan petani, apalagi sekarang dunia sedang di landa krisis pangan.
Tetapi setelah saya mengikuti Blog bapak, saya jadi tambah yakin dengan kemampuan bapak dalam hal memimpin negara kita yang sedang terpuruk ini.
Tapi saran saya kalau nanti bapak memang mencalonkan sebagai Presiden,tolong cari wakil presiden yang kredibel.
ohya pak,bagaimana kalau dimanggar ada fabricator untuk pelantar minyak seperti di batam namanya PT.MC Dermott,untuk mengurangkan pengangguran di BABEL,Khususnya di BELTIM.
Wassalam,Abdul
May 5th, 2008 at 7:19 am
Wawan Sulistyo (komentar #48)
Selamat Malam Pak YIM
saya tinggal di gantung beltim, asal dari jogja karena berjodoh dng orang gantung maka tinggal di daerah situ, saat ini saya kerja di kalimantan, pada saat saya pulang cuti, dirumah mertua masuk air sampai rumah yang disebabkan air sungai lenggang meluap, Hal tersebut disebabkan karena hutan lindung di area lenggang sudah habis yang disebabkan oleh penambangan pasir yang tidak diwajibkan untuk backfill dan wajib penanaman kembali. sehingga penahan / peresapan air laut tidak ada. saya sangat prihatin dengan hal tersebut. saya sebagai seorang pendatang yang ingin menetap di gantung menjadi ragu dengan kondisi tersebut, Adakah komuniti yang melakukan mengontrol / pegawasan penambangan yang sembarangan. sehinga dapat membantu mengingatkan pemerintah daerah terhadap kondisi alam beltim. terimakasih
May 8th, 2008 at 11:22 pm
rio marseli (komentar #49)
ass wr. wb…
saya sepakat akan apa yg telah diungkapkan bpk dimana bumi bangka-belitung, sesungguhnya memiliki potensi kelautan yang memadai dimana dengan laut yang bersih yang mengandung banyak sumberdaya dan pantai yang indah yang sangat cocok untuk pariwisata. dari kondisi yang seperti ini seharusnya masyarakat pesisir dapat hidup sejahtera dan makmur dan daerah tentunya jadi lebih maju.
namun kenyataannya seperti yang bpk ungkapkan diatas, bahwa keadaan yang tercipta/sesungguhnya (das sollen) terdapat kemiskinan pada masyarakat daerah pesisir. dan hal tersebut tentunya bertentangan dengan keadaaan yang seharusnya (das sein) dimana seharusnya dengan kondisi perairan & kelautan yang mengandung banyak banyak potensi pada nantinya akan menciptakan kemakmuran masyarakat pesisir dan tamban pemasukan bagi daerah.
untuk mensikapi hal tersebut, maka menurut saya pemerintah daerah-lah yang mesti memegang peranan penting. karena dalam era otonomi daerah, permasalahan daerah sepenuhnya menjadi tanggungjawab pemerintah daerah. otonomi daerah pada hakikatnya berupa kemandirian dan kreatifitas daerah untuk menjawab segala persoalan daerah dengan kearifan lokal setempat. untuk itu, maka pemerintah daerah harus lebih peka dan responsif dalam menjawab permasalahan yang muncul di daerah.
mengenai kendala yang seperti yang dikemukakan diatas dimana masyarakat pesisir masih mengalami kemiskinan, menurut saya pemerintah perlu untuk mengambil sebuah kebijakan. kebijakan yang saya maksudkan disini adalah “program pemberdayaan masyarakat pesisir.” dalam program tersebut pada nantinya masyarakat akan diberikan banyak pemahaman mengenai potensi kelautan, penyuluhan akan peralatan dan teknologi tepat guna dalam mencari ikan, pemberian modal kepada masyarakat pesisir agar bisa lebih maju, memfasitasi masyarakat tentang pemasaran hasil laut dengan mengadakan pameran hasil budidaya laut, dan masih banyak lagi yang dapat di cakup dalam isi program tersebut.
saya adalah mahasiswa tingkat akhir asal belitung di s1 ilmu_pemerintahan unpad. sebenarnya saya juga tertarik untuk meneliti masyarakat pesisir belitung untuk skripsi saya, namun kendala saya, saya belum belum mendapatkan bentuk implementasi yang jelas akan program pemberdayaan masyarakat pesisir atau peran pemerintah daerah dalam pemberdayaan masyarakat pesisir saya tidak mengetahui konkritnya seperti apa? jika seandainya saya mengetahui lebih lanjut dan lebih jelas, mungkin pemberdayaan masyarakat pesisir akan saya tuangkan lebih jelas dalam skripsi saya.
mungkin itu saja tanggapan/komentar saya, dalam blog bapak yang berjudul “pantai bangka-belitung dan nasib nelayan”. mohon maaf apabila kurang sempurna dan kurang bisa diterima pikiran dan nurani bapak. sesungguhnya apa yang saya berikan dalam komentar ini saya ini merupakan wujud keperdulian saya terhadap bangka-belitung yang kita cintai ini, dan saya berharap buah pikiran saya dalam komentar ini dapat memberikan masukan bagi kemajuan bersama bangka-belitung dalam otonomi daerah. amein…
wassallam wr. wb.
rio marseli [0857-2020-9892]
(e-mail: chellz_256@yahoo.co.id)
May 13th, 2008 at 10:17 pm
edi santosa (komentar #50)
Ass,
Mau tanya Pak, saya pernah baca di Koran rakyat Merdeka (sudah agak lama tapi masih 2008 ini), katanya Bapak siap disandingkan dgn Ibu Megawati di 2009 nanti( disitu jg terdapat tanggapan Bpk .Ngabalin, “rasanya agak susah, tapi dalam politik tidak ada yang tidak mungkin”.Wah kalau iya beneran, mohon maaf, saya coblos yang lain ya Pak…
June 10th, 2008 at 6:17 pm
Chrisna Permana (komentar #51)
Bang Yusril…
Sekitar awal januari saya sempat tugas ke Belitung..
ternyata di sana Bang Yusril bagai Habibie dengan Makassarnya atau Sri Sultan dg Yogyakartanya.. Smua orang suka bercerita ttg bang yusril. Mereka antusias sekali, ketika diajak bernostalgia ttg masa2 muda bang Yusril. Cocok! karena saya kebetulan pengagum bang yusril. Jadilah kita banyak bercerita.
Oya saya sempat mampir ke rumah bang Yusril di Belitung dan bertemu ibunda abang dan sempat ngobrol2 dg dihidangkan kue dan es jeruk dingin. He2. ketika itu Saya diantar oleh sopir mobil dinas saya yg katanya kebetulan bekas teman lama bang yusril ketika suka memancing di Manggar waktu SMU. Tanpa malu2 saya lantas minta izin utk berfoto dg halaman rumah bapak (meski bukan sm Bapaknya langsung) ;)
salam hormat. Semakin membumi. Tetap Inovatif dan bersolusi di saat yg tepat Bang Yusril. Hidupp!
July 4th, 2008 at 8:15 am
rustam effendi (komentar #52)
bang yusril lah saat ee kite pulang bangun babel, abang dak usah jadi calon presiden jadi gubernur babel pasti maju “mari bangkit bersama untuk perubahan”
September 23rd, 2008 at 2:36 pm
RasYa (komentar #53)
……. Bangsa kita butuh perubahan bin terobosan…..dan menurut saya sebagai orang yg minim wawasan ini,,,terobosan tersebut adalah dengan menjadikan Bang Yusril Ihza Mahendra sebagai Presiden RI…entah mengapa, tapi perasaan dan “bathin” saya yang mengatakan bahwa KITA akan jauh lebih baik bila bang Yusril yang menjadi Presiden RI……(kami merindukan masa itu bang) semoga Allah SWT mendengarkan…AMIN………………………………….smoga Abang selalu dalam rahmat NYA..AMIN…
October 18th, 2008 at 12:26 pm
Pindra (komentar #54)
Assalamualaikum Pak Cik,
saya kelahiran Manggar sekarang tinggal di Batam, saya masih saudara pak Cik, cucu dari kek Mael, (ikam manggil kakek aku pak Long),
saya ingin melanjutkan komentar Abdul tentang Industri pembuatan pelantar Minyak (Oil & Gas Construction), dimana industri ini tengah “Booming” di seluruh dunia dan diperkirakan sampai tahun 2015 karena saat ini Perusahaan minyak dunia sedang expansi untuk Blok-Blok baru dan RIG & Platform mereka yang lama sudah masanya repair ataupun dibuat baru.
Di Batam sendiri bidang ini sedang ramai-ramainya, semua barang dari seluruh didunia dikerjakan di Batam, dari Brazil, Nigeria, Norway, Australia dll. Saya berpikir mengapa kita tidak ikut mengambil peluang ini. Daerah kita strategis untuk industri ini, sumber daya juga saya rasa cukup karena kita pernah punya PT. Timah.
Kendala mungkin di material baja, tapi saya rasa tidak terlalu masalah, karena industri di Batam juga mengimpor material baja dari, Eropa Timur, Italia, China dll. Masalah tenaga kerja saya sanggup untuk membantu, karena di Batam sekarang ini saya ikut menjalankan lembaga training Piping dengan nama “Batam Basic Piping and Engineering Training” yang melatih orang untuk tenaga Fitter dan Welder.
Masalah yang tinggal hanya bagaimana menarik Investor, saya rasa Pak Yusril bisa mengcover nya dengan relasi yang sangat luas. Perusahaan besar Italia SAIPEM sudah sign kontrak dengan PEMDA KARIMUN untuk 70 tahun, tadinya mereka mau masuk ke BATAM tapi sudah tidak kebagian lahan untuk lokasi YARD mereka. Kalau saja kita bisa menggaet perusahaan besar seperti ini bisa makmur masyarakat kita.
Kalau masalah peluang proyek saya rasa cukup banyak. Untuk daerah Kalimantan saja peluangnya sangat besar, sekarang ini peralatan perminyakan di Kalimantan, juga armada Tug-Boat dan Tongkangnya di buat di Batam, Jakarta, Surabaya, Cilegon dll.
Waktu Leo ke Batam saya sudah ceritakan ini, hanya saja saya tidak sempat ajak Leo keliling masuk ke lokasi Industri pembuatan peralatan Migas ini karena waktunya terlalu sempit.
Semoga ini menjadi masukan untuk kemajuan masyarakat kita.
Wassalam
Pindra
October 19th, 2008 at 12:40 pm
setya wahyudi (komentar #55)
Assalamu’alaikum Wr.wb
Saat ini saya sedang menyelesaikan Tesis di UGM dengan tema Keberdayaan Masyarakat Lokal Sekitar Obyek Wisata Pantai di Bangka
Saya sependapat dengan Pak YIM tentang bagaiaman mensejahterakan rakyat, . Melihat Potensi Alam Babel terutama potensi kepariwisataannya yaitu Pantai yang indah. Terlebih pasca timah . Menurut saya Sektor pariwisata merupakan cara yang tepat dalam rangka memberdayakan Masarakat dengan konsep COMMUNITY BASED TOURISM (CBT) karena sektor pariwisata memberikan dampak ekonomi yang menyeluruh dengan multiplier effect nya. sebagai ilustrasi ketika wisatawan berkunjung ke ODTW yang pastinya wisatawan akan memerlukan beberapa sarana dan prasarana serta akomodasi untuk keperluannya. Pariwisata baik langsung maupun tak langsung akan memberikan kesejahteraan masyarakat. Pariwisata juga akan memberikan NILAI TAMBAH. Yang menjadi kendala saat ini adalah bagaimana kesiapan infrastruktur dan SDM nya apalagi dengan adanya BABEL ARCHI 2010
October 26th, 2008 at 4:36 pm
abdul (komentar #56)
untuk saudara pindra salam kenal dari saya………………..kalau boleh,saya minta nomor yang bisa di hubungi,nanti kalau saya balik batam mungkin kita bisa berkenalan secara langsung
October 26th, 2008 at 10:22 pm
indri (komentar #57)
bagus buaaaanget…..aq bangga dech jd penduduk bangka belitung yang pemandangannya innnnnnnndaaaaah niaaaaan
November 7th, 2008 at 9:20 am
Pages: « 1 [2] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda