Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Persiapan syuting sessi terakhir pembuatan film Laksamana Cheng Ho yang akan dilakukan di negara kita, kini hampir rampung. Insya Allah, syuting akan dimulai pada hari Sabtu tanggal 1 Maret 2008 nanti. Persiapan ini memang dilakukan dengan sungguh-sungguh, mengingat banyak adegan penting yang diambil di negara kita. Adegan itu bukan saja mengisahkan Perang Majapahit dengan Blambangan, Konflik Malaka dan Jawa dalam memperebutkan Palembang, dan konflik Samudra-Pasai di Aceh, tetapi seluruh adegan di atas geladak kapal dan perang di laut dilakukan di Indonesia. Cukup lama waktu yang diperlukan untuk membuat replika Kapal Ba Choan, kapal induk Armada Cheng Ho, untuk kepentingan pembuatan film ini.
Dalam sejarah disebutkan bahwa seluruh armada Cheng Ho terdiri atas 300 kapal dengan 28.000 prajurit Angkatan Laut Kekaisaran Ming dan sekitar 5000 awak kapal yang mengarungi samudra mulai dari bagian timur negeri Tiongkok sampai ke Mogadishu (Somalia) dan Madagaskar di pantai Timur Afrika. Armada itu bukan saja telah menjalankan misi muhibah ke negara-negara Asia Tenggara (Nan Yang) seperti Majapahit, Champa, Chirebon, Sunda Kelapa, Palembang, Samudra Pasai, Brunei, Pontianak, Ayuththaya dan Suvarnabhumi (Thailand), Angkor (Kamboja), Melaka, dan Formusa, tetapi juga Sri Lanka, India, Iran, Irak, Yaman, dan Hejaz (Saudi Arabia), Moldives, serta negara-negara di Afrika. Ada delapan kali ekspedisi yang dilakukan Cheng Ho untuk mewujudkan impian Kaisar Ming Chui Ti membangun perdamaian dunia, setelah Tiongkok makmur, kuat dan bersatu menjadi negara adikuasa seperti Amerika Serikat sekarang, di zaman itu. Ekspedisi itu berlangsung dalam kurun waktu 28 tahun lamanya, antara tahun 1406 sampai tahun 1434 Masehi. Laksamana Cheng Ho sendiri wafat sekembalinya dari kota suci Mekkah setelah menunaikan ibadah umroh, dalam pelayaran ke depalan. Dia wafat di Lautan Hindia di selatan Sri Lanka dan jenazahnya dibawa untuk dimakamkan di Nan Jing, China. Konon, inilah armada angkatan laut terbesar dalam sejarah yang pernah ada, sebelum umat manusia memasuki zaman modern. Armada Cheng Ho jauh lebih besar dibandingkan dengan armada Columbus ketika mencapai daratan Amerika dan armada Ferdinand de Magelhaenz yang berlayar dari Spanyol sampai ke Philipina, lebih seabad kemudian.
Menurut catatan sejarah, Kapal Induk Ba Choan, yang memimpin seluruh armada itu, panjangnya 142 meter dan lebarnya 40 meter. Kapal itu digambarkan sangat mewah, bagaikan istana terapung di tengah laut. Namun walau bagaimanapun juga, kapal itu pada dasarnya adalah sebuah kapal perang. Sebab itu, kapal itu dilengkapi dengan sejumlah meriam yang dibeli dari Turki. Meriam sejenis konon telah digunakan oleh Salahuddin Al-Ayyubi dalam Perang Salib. Jarak tembak meriam itu dikisahkan telah mencapai 2000 meter. Dalam film ini, ada dikisahkan Laksamana Cheng Ho pernah mendisplai seluruh armadanya dan mengarahkan meriam ke Pelabuhan Tuban, bandar pelabuhan utama Kerajaan Majapahit di masa itu, setelah terjadi kesalahpahaman antara Majapahit dengan armada Tiongkok itu dalam Perang Blambangan.
Beberapa komandan militer armada Cheng Ho sangat gusar ketika mendengar kabar 170 prajurit kehormatan mereka, yang mengawal seorang perwira untuk menghadap Raja Bhre Kertabumi, dibunuh oleh tentara Majapahit, ketika mereka menyerbu Blambangan. Pasukan Majapahit mengira prajurit Tiongkok itu akan membantu Blambangan dalam perang melawan mereka. Padahal pasukan kehormatan itu bukanlah prajurit siap tempur.
Sebab itulah, Cheng Ho kemudian menyatukan seluruh armadanya yang sebagian berada di Banyuwangi dan sebagian lagi di Semarang menuju ke Tuban. Konon, kalau Cheng Ho mau, Tuban dapat mereka hancurkan dalam sehari. Penduduk Tuban (termasuk Angkatan Laut Majapahit) hanya berjumlah 5000 orang. Dengan kekuatan militer sebanyak 28.000 prajurit mungkin saja mereka dapat melakukannya.
Namun, misi Cheng Ho adalah misi damai dan kerjasama antara bangsa. Salah paham dengan Majapahit dapat diselesaikan dengan damai melalui diplomasi, setelah Cheng Ho bertemu dengan Raja Majapahit, Prabu Wikramawardhana, di ibu kota kerajaan , Trowulan. Cheng Ho kemudian menyampaikan komitmen untuk melatih tentara Majapahit serta memberikan bantuan teknis di bidang pertanian, kesehatan, perdagangan dan industri pembuatan keramik dan kain sutera untuk memulihkan ekonomi Majapahit yang hancur akibat perang berkepanjangan. Mereka juga sepakat untuk saling menempatkan duta besar di kedua negara untuk mempererat kerjasama Majapahit dengan Tiongkok. Realisasi komitmen itu dipenuhi Cheng Ho dalam kunjungan muhibahnya yang kedua ke Majapahit dua tahun kemudian. Digambarkan pula, Laksamana Cheng Ho dan sejumlah perwira militer Kekaisaran Ming yang beragama Islam menunaikan solat Jum’at bersama kaum Muslimin yang minoritas jumlahnya di Kerajaan Majapahit yang mayoritas beragama Hindu.
Tentu dalam pembuatan film ini, replika Kapal Induk Ba Choan tidaklah sebesar aslinya. Replika kapal yang dibuat hanya berukuran panjang 40 meter dan lebar 20 meter. Di samping replika kapal
induk, juga dibuatkan miniatur kapal-kapal lain dalam ukuran kecil. Dengan bantuan komputer grafis, kapal-kapal ini, Insya Allah, akan nampak gagah perkasa mengharungi lautan. Kantana Ltd yang menjadi produser utama pembuatan film ini, telah berpengalaman mengerjakan komputer grafis pembuatan film Titanic, bekerja sama dengan perusahaan film dari Amerika Serikat. Mereka akan mengoptimalkan penampilan gambar kapal-kapal dalam film Cheng Ho ini seperti yang mereka lakukan dalam pembuatan film Titanic. Teknologi pembuatan film di zaman sekarang – komputer grafis, animasi dan sound effects –memungkinkan produser membuat film jauh lebih mudah dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu. Produser juga dapat menggunakan enam kamera sekaligus untuk mengambil gambar. Dengan demikian, pengambilan adegan akan jauh lebih cepat dan efisien. Proses editing setiap scene yang diambil, juga dilakukan secara digital menggunakan komputer.
Hari ini, saya kembali menyempatkan diri untuk datang ke studio PT Jupiter Global Film di Kemayoran. Seluruh awak dari Thailand hari ini melakukan sembahyang menurut agama Buddha untuk mengawali
pekerjaan mereka. Sementara awak dari Indonesia membaca doa menurut agama Islam. Sejumlah 32 teknisi dari Thailand sudah seminggu ini berada di Jakarta untuk melakukan persiapan teknis. Dalam dua hari mendatang para aktor Thailand, Malaysia dan Vietnam akan berdatangan ke Jakarta. Aktor dari China dan Hong Kong tidak ada lagi yang datang, karena pengambilan seluruh adegan yang melibatkan mereka telah selesai dalam syuting di China.
Aktor Indonesia yang akan terlibat selama syuting di sini, selain saya sendiri — yang sebenarnya bukan bintang film sungguhan dan beberapa aktor lain yang terlibat sejak awal — diantaranya adalah
Slamet Rahardjo yang akan memerankan Bhre Kertabumi (Raja Blambangan) dan Saifullah Yusuf yang memerankan Prabu Wikramawardhana (Raja Majapahit). Nurul Arifin juga akan tampil memerankan istri Bhre Kertabumi, di samping sejumlah aktor dan aktris Indonesia yang lain. Tak ketinggalan pula, sekitar 300 prajurit Kostrad dari Batalyon Kavaleri dan Infantri akan dilibatkan dalam pembuatan film ini. Kali ini para prajurit TNI Angkatan Darat itu tidak akan menggunakan tank dan panser, senapang dan meriam artileri, tetapi menggunakan kuda bersenjatakan pedang, tameng, panah dan tombak sambil memakai seragam militer Kerajaan Majapahit dan Blambangan di zaman dahulu. Walaupun jumlah mereka 300 prajurit, namun ketika ditayangkan nanti, jumlah mereka akan “dikloning” sehingga nampak berjumlah ribuan orang. Semua ini berkat kemajuan teknologi animasi dalam pembuatan film ini. Membuat film memang banyak “boong-boongannya”, he he…
Ruang Balairung Kerajaan Majapahit dan Istana Kerajaan Blambangan juga telah selesai dibuat, dengan pengawasan dari
Dinas Pariwisata Kabupaten Bojonegoro. Beberapa kali desain balairung dan istana ini direvisi agar mendekati bentuk yang sesungguhnya. Produser film ini tidak ingin salah dalam mendisain istana Majapahit dan Blambangan, termasuk kostum dan dandanan orang di zaman itu. Ketika syuting di China, seorang professor ahli sejarah Ming dari Universitas Beijing setiap hari ada di lapangan untuk mengawasi tatacara dan adat istiadat Dinasti Ming, agar jangan sampai salah. Art Director dari Thailand juga meneliti dengan cermat pakaian, dandanan, peralatan
makan-minum dan segala macam dekorasi istana dan rumah di zaman Dinasti Ming, agar jangan tercampur dengan dinasti yang lain. Kalau salah, film ini akan menjadi bahan tertawaan bagi mereka yang mengerti sejarah. Sebab itu, di lantai dua studio Jupiter di Kemayoran, saya menyaksikan ratusan pedang, tombak dan tameng zaman Majahapit, serta konstum masyarakat di zaman itu. Peralatan yang digunakan Armada Cheng Ho, termasuk kamera dan kostum yang telah digunakan dalam syuting di Thailand dan China, juga telah dibawa dengan kontainer ke Jakarta. Kami mengucapkan terima kasih kepada aparat bea cukai kita, yang dapat memahami bahwa barang-barang ini digunakan untuk pembuatan film, sehingga dapat mengurangi biaya pembuatan film ini, yang kini sudah mencapai lima juta dollar Amerika Serikat.
Penyiapan pembuatan replika armada Cheng Ho dan pembuatan replika Balairung Majapahit dan Blambangan memang memakan
waktu. Semua sarana itu ada di dalam studio Jupiter Global Film seperti nampak dalam foto di sebelah ini. Sebab itu, syuting yang dilakukan di Indonesia mengalami penundaan hampir sebulan. Musim hujan dan banjir di ibukota juga menjadi faktor yang menyebabkan penundaan ini, belum lagi gangguan listrik yang terjadi dalam beberapa minggu belakangan ini. Namun demikian, semua ini tidaklah mengurangi semangat para awak pembuatan film ini beserta seluruh aktor dan aktris pendukungnya. Kami memang berniat membuat film dengan sungguh-sungguh, dengan menjaga mutu. Apalagi film ini mendapat predikat film Asia, karena pembuatannya dilakukan oleh tiga produser dari Thailand, Indonesia dan China.
Seluruh proses syuting di Indonesia diperkirakan akan memakan waktu sekitar dua bulan, dengan memperhitungkan musim hujan yang kini masih berlangsung. Selain, menggunakan studio di Kemayoran, syuting juga akan dilakukan di Pangandaran, serta mungkin pula menggunakan studio alam TVRI di Depok.
Dengan mempertimbangkan faktor-faktor itu, mungkin penayangan film ini baru dapat dilaksanakan pada akhir bulan Mei yang akan datang. Jadi terlambat dari rencana semula untuk menayangkan film ini pada akhir bulan Maret tahun ini. Kami mohon maaf atas keterlambatan ini. Namun demikian, dengan persiapan yang lebih matang, kami berharap film ini benar-benar akan menjadi karya monumental dengan kualitas sebagaimana yang kami harapkan. Sayapun memohon doa restu dari masyarakat agar seluruh proses pembuatan ini, nantinya akan menghasilkan sebuah tontotan yang menarik, dan sekaligus memberikan banyak bahan pelajaran dan renungan bagi kita yang hidup di zaman sekarang.
Wallahu’alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — February 27th, 2008
69 tanggapan untuk “PERSIAPAN SYUTING TERAKHIR FILM CHENG HO”
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
AJU (komentar #31)
Doa kami menyertai abang, semoga sukses deh syuting terakhirnya. Dan yang lebih penting semoga Bang Yusril mampu menjadi Panglima Cheng Ho yang gagah pada PEMILU 2009. Keren bang ……
March 3rd, 2008 at 11:31 pm
herry r munadji (komentar #32)
wah…mantep bener nih… gak bisa komentar dah…. harus nonton :)
March 4th, 2008 at 12:11 pm
zaldi (komentar #33)
mudah-mudahan pasca tayang filem ini dapat menggugah pembuktian yang lebih ilmiah dan lebih lengkap tentang kebenaran perajalan muhibah Ceng ho.
para sineas dan budayawan merasa bertanggung jawab menampilkan karya tentang sejarah besar ini, namun ilmuan harus mempertegasnya dengan teori dan bukti-bukri empiris, selanjutnya perjuangan kita semua untuk mengumandangkan sebuah fakta,
itu semua sulit, karena itulah maka kejujuran itu diganjal mahal oleh-Nya.
” La Takhaf wa la Tahzan Innallaha ma’ana “wa antum ma’ana aidhan”
March 4th, 2008 at 8:57 pm
Ersis W. Abbas (komentar #34)
Say ingin sekali menonton … ingin, sangat ingin. Dari cuplikan, Sampeyan sungguh bagus mainnya. Salam.
March 5th, 2008 at 5:01 am
tuyulk3c1l (komentar #35)
wah….
kapan nih
aku senang ma film sejarah soalnya
ditunggu tanggal terbitnya nih
March 16th, 2008 at 9:05 am
masjid muhammad cheng hoo (lagi) — fahmi! (komentar #36)
[...] filemnya yg dibintangi pak yusril ihza mahendra mestinya sekarang sudah pd tahap finishing. kapan bisa [...]
March 18th, 2008 at 9:33 am
kian nen (komentar #37)
saya tunggu filmnya.kabari beli dimana dvd/vcd nya?bravo bang
March 19th, 2008 at 12:06 pm
chira (komentar #38)
Saya jarang nonton film/sinetron televisi, karena kebanyakan yang ditayangkan akan berdampak buruk terhadap perkembangan anak-anak. Walaupun di sinetron tsb banyak pemain anak-anak, sy kira kurang layak untuk jadi konsumsi anak-anak, di situ ada kekerasan, saya sendiri tidak tertarik, terlalu banyak masalah yang dibuat-buat. Jadi yang anak saya tonton adalah memang tayangan khusus untuk anak-anak.
Saya tunggu film ini, insya Allah tak akan saya lewatkan. Apalagi kalo film ini dibuat durasinya untuk bioskop ya… pasti banyak yang nonton. Sekarang orang lebih suka nonton di bioskop, coba perhatikan… Film AAC aja selama sebulan masih ngantri, sy sampai nonton dua kali dan selalu duduk di depan (karena tiket habis untuk di blk).
Kapan tayang di televisi?
March 26th, 2008 at 9:52 am
Indonesiana : Ray Blog (komentar #39)
[...] di alam sekitar kita. Meski jalannya panjang dan susah kita rajut kembali benang benang sejarah masa lalu, masa kini dan masa depan yg berceceran. Kita berharap semoga dengan begitu kita akan lahir [...]
March 28th, 2008 at 4:08 am
nadeea (komentar #40)
Ditunggu film-na……
>_<
March 28th, 2008 at 12:03 pm
motz2 (komentar #41)
selamat ya Pak buat filmnya…semoga cepat ditayangkan,udah ga sabar ni pengen nonton.
pak,tampilin profile tiap pemainnya donk…Saya lihat di ShowBiz ada dua cowo di belakang pak Yusril koq keren-keren.
emang artis dari mana??hehehe…..
March 29th, 2008 at 9:42 pm
Suswi N - Kalimantan Selatan (komentar #42)
Ass. War. Wab.
Pak YIM, Jika diijinkan, mohon untuk PBB diberikan VCD Laks. Cheng HO untuk diputar kepelosok tanah air. ini semua untuk memudahkan dan menggugah simpatisan PBB yg tertidur, menggalang suara PBB sekaligus menunjukkan ke masyarakat, bahwa PBB mempunyai sosok Pemimpin yg hebat, dan semua orang bisa mengingat wajah Pak YIM, soalnya nggak semua masyarakat pinggiran bisa mengingat wajah pak YIM.
Wass. War. Wab.
April 5th, 2008 at 3:05 pm
kian nen (komentar #43)
nanti di kasih info dimna say bs beli cd nya thank
April 9th, 2008 at 11:15 am
yessy gusti (komentar #44)
assalamualaikum pak yusril.
setiap kiprah bapak,saya selalu amati dan ikuti. Dari Bapak di belakang gedung istana, sampai Bapak jadi Menteri terus jadi calon Presiden trus jadi Menteri lagi, terus Bapak kawin lagi, terus bapak berlanjut jadi aktor baru. salut dengan bapak. semua profesi Bapak jalani. saya mau tanya, sebetulnya Bapak mau jadi apa sih? menurut hemat saya, pantasnya bapak menjadi seorang negarawan yang sejati. bpk konsisten dengan kemampuan yg bpk miliki. o k pak saya tunggu kiprah bpk di politik lagi.
April 11th, 2008 at 10:40 pm
jeffreywinmart (komentar #45)
Saya pernah membaca beberapa artikel mengenai sejarah masuknya Islam ke Indonesia yang di bawa oleh masyarakat China dan juga sunan-sunan yang katanya keturunan China.
Film Cheng Ho ini tentunya juga akan melengkapi pemahaman mengenai andil masuknya Islam ke bumi Nusantara, membuat saya penasaran dalam menunggu kisahnya.
April 12th, 2008 at 6:46 pm
kaninubu (komentar #46)
salut utk bang yusril. film aac bakalan tumbang neeh bang..
abang memang multi talent man..
April 14th, 2008 at 11:21 pm
Zheng He Fan (komentar #47)
Sudah ga sabar saya mau lihat film Cheng Ho, pak Yusril. Kapan tayang nih di bioskop Jakarta ?
April 17th, 2008 at 12:37 pm
Alak (komentar #48)
pencerahan baru bagi dunia film
April 22nd, 2008 at 11:47 pm
MicoKelana Daily Share » Artis Jadi Pemimpin Rakyat (komentar #49)
[...] salah satu tokoh politik Indonesia yang akan bersiap-siap menjadi artis karena akan bermain dalam sebuah film. Saya tidak akan membahas kenapa pak Yusril ingin menjadi artis, melainkan kenapa banyak calon [...]
April 28th, 2008 at 12:43 am
hamzah ansori (komentar #50)
Hidup Bang yusril cheng hoo. persiapan 2009 oke dengan filmnya masa kalah sama dede yusuf. kalo dede yusuf artis jadi pejabat mah gampang tapi pejabat jadi artis boleh juga. Bang pinjam gambar panglima chengg hoo untuk beground poster saya mau nyalon . Boleh ya Bang.
April 28th, 2008 at 3:55 pm
hamzah ansori (komentar #51)
bang Yusril Cheng Hoo. Jangan kalah sama dede yusuf. Artis jadi pelabat mah gampang tapi pejabat jadi artis boleh juga. Abang harus jadi Panglima beneran. kudoakan selalu
April 28th, 2008 at 3:58 pm
Yayan Sopyani al-Hadi (komentar #52)
Asw.
mudah2n setiap tokoh mempunyai karakter yang kokoh dan khas. tidak seperti seperti sinetron selama ini, tokohnya hanya sekedar lalau lalang, tanpa meninggalkan kesan yang khas. kecuali Film “Naga Bonar”
sukses selalu bang!
May 4th, 2008 at 7:50 pm
akhyari hananto (komentar #53)
Insyaa allah, pasti saya tonton. bangganya jadi bangsa ini
May 17th, 2008 at 10:04 pm
slamet riyadi (komentar #54)
aa.bismillahirrohmanirrohim. setelah sedikit mendapat informasi tentang jerih payah bang YIM ; ini *proses pembuatan* butuh perjuangan dan pengorbanan. pendalaman sosok laksamana cheng hoo yang agung dan penggambaran sejarah masa lalu yang detail *tidak main-main *mendekati yang sesungguhnya. semoga perjuangan bang yusril mendapatkan hikmah secara pribadi dan untuk kemajuan masyarakat. tentu dengan bercermin dari sejarah..sekiranya berkenan ” hikmah apakah yang bang YIM pribadi dapatkan dg pembuatan film ini?,” sekian wassalam;es-er
May 18th, 2008 at 9:48 pm
himmler (komentar #55)
Saya ada pandapat PAK YUS, menurut gw BAPAK Tidak PANTAS berperan jadi CHENG HO. sepintas dari MUKAA BAPAK
BAPAK dipenuhi nafsu BIRAHI, wajah yang tidak menjual. JADi bukan dilihat dari karena Cheng Ho menganut Islam,
bukan berarti LANTAS PAK YUS pantas karena BAPAKKKK ISLAM.
May 19th, 2008 at 12:47 am
A.Thalib.ilyantara (komentar #56)
Bang kapan tayangnya……….koq lama sekali….rencana stasiun Televisi mana yang akan dapat hak siarnya…okay good luck…..oh ya buat himmler….semoga diberikan kesabaran….dan kesejukan hati…..serta kelapangan dada…Amien…
May 19th, 2008 at 9:13 pm
Arum Rukmono (komentar #57)
semoga film tersebut akan sukses besaaar, sehingga dapat sefenomenal film Ayat Ayat Cinta.
June 2nd, 2008 at 3:50 pm
Maisyarah Sani (komentar #58)
Saya seorang mahasiswa dan ini tulisan sesama teman mahasiswi. Namanya dia Mursidah. Baguis tulisannya dan saya setuju. Pak Yusril harus setuju lah. Ini dia!
Kalau lai Elman Saragih malu malu dalam bersikap pada tulisannya, dan apalagi secara tak langsung malah membela pihak pemerintah, polisi, yang dalam hal ini jelas jelas keliru, sebab mereka melindungi kriminal, FPI, maka lai Elman akan kami gantung pula. Hati hati anda, lai Elman!!!
Dan marilah kita berstu untuk menyerukan satu kata: BUNUH RIZIQ, BUNUH MUNARMAN!
Dari perilaku dan sandiwara polisi yang tidak jelas, Polisi sengaja dan terang terangan melindungi Munarman dan Riziq, preman dan habib palsu. Munarman disembunyikan polisi dan Riziq diindungi. Bunuh Riziq! Itulah polisi Indonesuia, akal sehat diputar balikkan polisi. Sesuai KUHAP, pelaku kriminal yang menjadi tersangka seperti Riziq dan Munarman, harus ditahan dan ditangkap. Namun polisi bersandiwara, menggerakkan puluhan polisi dengan senjata lengkap ke kantor pusat FPI, menangkap Riziq tapi hanya pura pura. Riziq tidak ditahan malah dilindungi! Polisi nyata nyata tidak menegakkan hukum dan keadilan. Polisi sengaja melecehkan hukum yang mestinya mereka tegakkan! Polisi takut sipa? Ini jelas FPI adalah organisasi preman yang sengaja dipelihara dan dieprtahankan Polisi. Polisi melecehkan hukum di depan rakyat Indonesia. Rakyat menyaksikan pembodohan oleh polisi melalui televisi dan langsung. Padahal mahasiswa yang berdemo membela rakyat ditangkapi, ditahan lebih dari 12 hari! Polisi gila. Pemerintah SBY-JK gila, membiarkan Polisi melanggar hukum sendiri! Gara gara SBY tidak tegas. Mari kita jatuhkan SBY-JK! Kita mahasiswa tidak bisa dibelokkan. Demo menentang kenaikan BBM / BLT jalan terus. Mahasiswa dan buruh mendukung pemenjaraan Riziq dan penangkapan pemenjaraan Munarman serta pembubaran segera FPI. Mahasiswa mendukung sepenuhnya Hizbut Tahrir, NU, Muhammadiyah, ummat Kristiani, Hindu, Buddha, yang mendesak pembubara FPI. Kita bersatu dan bergerak, menekan SBY-JK dengan dua agenda utama: Bubarkan FPI, dan batalkan kenaikan BBM/BLT/BKM! Tahan Riziq, tangkap Munarman. Hidup kerukunan beragama. Hidup Ahmadiyah! Hidup Ahmadiyah. Hidup ummat manapun. Kebebasan beragama dijamin penuh UUD 1945. Mari kita hajar FPI. Mari kita hajar Pemuda Pancasila khususnya Yapto kalau mereka membela FPI! Kita tangkap juga Yapto! Bunuh Riziq, bunuh Munarman. Bersatulah saat ini, Hisbut Tahrir, juga NU dan Muhammadiyah, harus bersatu dan bergerak. NU Maduro dan Jatim harus obrak-abrok kantor-kantor perwakilan FPI se Indonesia, jangan sakiti wanita dan anak-anak. dan mari bakar, bakar dan bakar kantor-kantor FPI se Indonesia. Kasihani dan lindungi perempuan dan anak-anak. Anggota FPI yang melawan, balas sakiti! Fokus kita: Bunuh Riziq, bunuh Munarman. Mari kita minta bantuan senjata Amerika, lawan polisi Indonesia kalau terus saja melindungi kriminal Riziq dan Munarman dan Yapto yang ikut-ikutan!
June 5th, 2008 at 3:09 pm
Andy S (komentar #59)
Halo Bang, kemana aja nih…dah lama gak nongol…
Mudah-mudahan bulan Agustus besok film Cheng Ho jadi ditayangkan di Indonesia….ada tapinya nih….saya kuatir film abang gak lama ditayangkan dan di cut penayangan selanjutnya, karena ternyata film nya bagus…yang secara tidak langsung mendongkrak popularitas Abang…yang berencana maju sebagai capres 2009.
Tapi saya yakin Abang sudah mengantisipasi adanya kemungkinan “sabotase” semacam ini…hehe
June 11th, 2008 at 7:46 am
Hadi M. (komentar #60)
Assalamualaikum
Bang Yusril, saya dari ciputat anggota PBB, selalu mendoakann bang Yusril sukses disegala bidang.
Maju terus berjuang untuk Islam
Hati2 jegalan orang2 yg gak senang dengan abang.
Maju terus sampai jadi presiden RI, kami dukung.
Wassalam.
July 8th, 2008 at 10:01 am
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda