Beranda

PANTAI KUTA DI PULAU LOMBOK

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Udara terasa panas ketika kami melintas dengan kendaraan dari Mataram menuju Kuta – nama sebuah pantai indah di Pulau Lombok. LombokBangka 164Jarak antara Mataram-Kuta sekitar 70 km, namun kami tempuh dalam waktu lebih kurang satu setengah jam. Kami sengaja mengendarai mobil agak lamban, mengingat lebar jalan yang relatif kecil dan berliku. Sepanjang jalan, saya dapat menyaksikan suasana kehidupan masyarakat desa. Saya senang memperhatikan arsitektur tradisional rumah suku Sasak yang terasa menyatu dengan alam. Rumah-rumah itu terletak di antara rerimbunan dahan-dahan pepohonan, berjajar-jajar sehingga membentuk keindahan tersendiri. Bukan sekali ini saja saya datang ke Lombok. Namun sebelumnya saya hanya datang ke kota. Kali ini saya masuk jauh ke pedalaman, keluar masuk kampung-kampung, dan akhirnya pergi ke Kuta.

LombokBangka 177Dalam pengamatan saya yang sering pergi ke pantai, Pantai Kuta di Lombok jauh lebih menawan dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Kedua pantai ini memiliki nama yang sama, namun kondisinya jauh berbeda. Pantai Kuta di Bali terletak sangat dekat dengan kota. Kawasannya sudah dibangun dan dikunjungi banyak turis, dari dalam maupun dari luar negeri. Pantai Kuta di Lombok masih tergolong sepi. Penduduk sekitar masih diliputi suasana kehidupan perdesaan, dengan bangunan-bangunan relatif sederhana. LombokBangka 154Hanya Hotel Novotel yang tergolong mewah di pantai itu. Hotel ini dibangun dengan gaya tradisional Sasak dalam bentuk rumah kampung terbuat dari kayu beratap ijuk dan daun ilalang. Pemandangan dari hotel yang menghadap ke laut nampak sangat indah. Alam masih asri, belum banyak sentuhan tangan manusia.

Ada sejumlah wisatawan asing, dari Eropa, Jepang dan Korea yang sengaja datang untuk menyepi dan menikmati keindahan Pantai Kuta. Kedatangan para wisatawan dalam dan luar negeri itu sedikit banyaknya membantu perekonomian masyarakat di kampung itu. Banyak warung berdiri di tepi pantai menjual keperluan sehari-hari serta makanan dan minuman khas Lombok. Saya ikut minum kopi dan makan nasi di sebuah warung sederhana namun menyenangkan. Meski sudah lama tinggal dikota, selera makan saya tetap saja selera orang kampung. Menikmati ikan bakar dengan sambal dan lalap-lalapan di pinggir pantai, sungguh terasa enak tiada terkira. Kalau LombokBangka 118LombokBangka 153tak ada wisatawan berkunjung, mungkin warung-warung itu akan mati. Maka biarkanlah segalanya berjalan sebagaimana adanya. Wisatawan boleh datang dan pergi, namun suasana kampung haruslah tetap terpelihara. Suasana kampung yang bersahaja itulah yang membuat segalanya menjadi menarik. Kampung tak perlu diubah menjadi kota. Namun kesejahteraan hidup orang di kampung tentu harus ditingkatkan. Dengan hidup sejahtera itu, orang tidak akan merusak lingkungan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup.

Keluar masuk kampung yang tak saya kenal adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Saya selalu heran, karena begitu saya masuk kampung – di mana saja di seluruh tanah air – orang-orang di LombokBangka 115kampung itu dengan mudah menyapa saya dan mengenal saya dengan baik. Mereka mengatakan sering melihat wajah saya di televisi dan berbagai media cetak, sehingga telah begitu akrab. Di kampung-kampung itu, saya sering diajak mampir ke rumah seseorang yang sebelumnya tak saya kenal. Mereka menyuguhi saya minuman sambil bercakap-cakap dengan orang kampung yang segera saja datang berkerumun. LombokBangka 107Dari pengamatan dan mendengarkan cerita orang di kampung itu, saya mengerti suasana hati rakyat. Apa keluhan mereka dan apa harapan mereka. Saya selalu menyimaknya dengan penuh kesungguhan, walau kadang kami tertawa-tawa sambil bercanda. Memang, berjalan kaki menyusuri kampung-kampung memberi inspirasi yang sangat berharga untuk saya renungkan. Saya pun senang memotret suasana kehidupan di kampung. Semuanya saya simpan dalam album untuk menjadi kenangan sepanjang hayat.

Orang kampung di sekitar Pantai Kuta di Lombok hidup dari bertani, berternak, menangkap ikan dan menenun. Kebanyakan mereka menanam padi dan palawija di sawah dan ladang. Mereka banyak LombokBangka 147memelihara sapi, kerbau dan kuda. Sebagian mereka melaut menangkap ikan menggunakan perahu nelayan tradisional. Kegiatan menenum dilakukan kaum wanita, menggunakan alat tenun tradisional.Kegiatan menenun itu dilakukan hampir setiap rumah. Ada toko bahan tenunan di pinggir jalan untuk memasarkan hasil tenunan itu, terutama kepada mereka yang berkunjung. Ada pula anak-anak dan perempuan dewasa yang LombokBangka 146menjunjung hasil tenunan dan menjajakannya kepada wisatawan yang datang ke Pantai Kuta. Kain tenunan yang nampak bagus itu dijual dengan harga yang murah. Mereka bahkan menawarkan kain sarung untuk laki-laki dengan harga Rp. 20 ribu sehelai. Kain songket relatif agak tinggi harganya. Mulai Rp.600 ribu sampai Rp 1 juta. Namun menenun songket sebagus itu, kadangkala memakan waktu satu bulan lamanya.

Menyimak harga-harga kain tenun yang dipasarkan, saya dapat membayangkan betapa sulitnya mencari uang bagi masyarakat perdesaan. Namun rezeki tentu datang dari mana saja, kalau orang rajin berbuat dan berusaha. Rumah-rumah nampak sederhana,LombokBangka 136 sebagai cerminan kesedrhanaan kehidupan sosial ekonomi penduduk kampung itu. Mereka hanya membeli sesuatu yang tidak dapat mereka buat sendiri, atau tak dapat diambil dari alam di sekitar mereka tinggal. Ongkos transportasi juga sedikit, karena agak jarang-jarang orang kampung bepergian. Hiburan juga ala kadarnya. Hidup tanpa banyak keinginan dan tuntutan, kadang-kadang menyenangkan juga. Kebahagiaan dan kesenangan hidup, tidak selalu dapat diukur dengan materi dan gemerlap kehidupan perkotaan. Hidup sederhana di kampung, jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan hidup di kota, namun diliputi kemiskinan.

Ketika waktu sembahyang Jum’at tiba, saya menghampiri sebuah mesjid di tepi jalan. Saya membaur dengan orang-orang kampung dengan bersahaja. Namun, tetap saja jemaah mesjid itu mengenal saya. Mereka ingin bersalaman dan menanyakan bagaimana LombokBangka 097ceritanya saya sampai ke kampung itu. Saya mengatakan, saya ingin berjalan-jalan dan memarkir kendaraan agak jauh, agar saya dapat berjalan kaki. Istri saya juga ikut dan dia menggunakan payung karena tak begitu tahan ditimpa teriknya sinar matahari. Orang Sasak beragama Islam. Mereka pada umumnya sangat kuat memegang ajaran agama. Saya bertanya kepada mereka tentang ajaran Islam Telu – sinkretismeLombokBangka 114 antara Islam dan Hindu – di kalangan warga Sasak. Mereka hanya tertawa dan mengatakan bahwa semua penduduk kampung itu menganut Islam Limo, artinya mereka mengerjakan sembahyang lima kali sehari semalam, bukan tiga kali seperti Islam Telu. Islam Telu sudah hampir punah, walau masih ada sedikit pengikutnya di gunung-gunung.

LombokBangka 110Mengamati kehidupan masyarakat kampung di Lombok makin membuat saya mengerti akan dinamika sosial. Tidak ada sesuatu yang statis. Kehidupan akan terus berubah. Masalahnya hanyalah apakah perubahan itu datang dengan cepat atau lambat. Dalam kasus Islam Telu misalnya, proses purifikasi pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam, cepat atau lambat akan datang juga. Demikian pula aspek-aspek yang lain dalam kehidupan sosial. Arsitektur mesjid di Lombok juga kian berubah, makin dipengaruhi oleg gaya bangunan Mughul dan Timur Tengah. Mesjid-mesjid lama masih menampakkan unsur tradisional Lombok, bahkan pengaruh arsitektur Hindu Jawa dan BaliLombokBangka 209 masih terasa. Secara subyektif, saya sebenarnya lebih menyukai arsitektur mesjid bergaya lokal, dengan tetap memenuhi ketentuan persyaratan sebuah masjid, terutama arah kiblat yang pas menunju Mekkah al-Mukarramah. Saya sering berkelana di negeri Tiongkok untuk menyaksikan mesjid-mesjid bergaya Kelenteng dengan perasaan takjub. Menjadi Muslim tidaklah harus menjadi seperti orang Arab. Islam menghargai dan menghormati ciri khas budaya suatu bangsa. Sering orang salah paham dengan hal ini.

LombokBangka 013Ketaatan orang sasak kepada agama Islam memang menakjubkan saya. Saya hampir tak percaya, ketika kawan-kawan di Lombok mengajak saya datang ke sana untuk menyampaikan ceramah dan pidato menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Mereka bilang, kalau anda datang, maka pertemuan itu akan dihadiri tak kurang lima puluh ribu orang. Ternyata, yang hadir mendekati angka tujuh puluh ribu orang. LombokBangka 033Sayapun heran, jemaah sebanyak itu dengan tenang mendengarkan pesan-pesan yang saya sampaikan. Mereka menyimak kata demi kata yang saya ucapkan dengan penuh perhatian. Pengaruh ajaran agama terasa begitu dalam bagi kehidupan masyarakat Lombok. Seharusnyalah ketaatan kepada ajaran Islam itu mendorong masyarakat ke arah kemajuan.

Beberapa hari di Lombok, membawa kesan yang dalam ke lubuk hati sanubari saya. Saya merasa memiliki sebuah tanggungjawab sosial dan politik, untuk ikut membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna. Maju secara sosial dan ekonomi, namun tetap berlandaskan kepada nilai-nilai Islam dan ciri khas budaya bangsa kita sendiri. Keadaan sosial ekonomi dan budaya di Lombok, sebenarnya hampir sama saja dengan daerah-daerah lain di seluruh tanah air. Masyarakat ingin sekali maju dan berkembang. Tugas para pemimpinlah untuk membawa mereka ke arah kemajuan itu…

Wallahu ‘alam bissawwab.

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 4th, 2008

61 tanggapan untuk “PANTAI KUTA DI PULAU LOMBOK”

Pages: [1] 2 3 » Show All

  1. SAMARUDIN (komentar #1)

    Menyimak tulisan bang Yusril, saya menanggapi dua permasalahan yaitu tentang kehidupan masyarakat desa dan kehidupan agama islam di lombok. Keinginan masyarakat sebenarnya sangat sederhana, mereka hanya ingin agar kebutuhan pokok terpenuhi. tidak ada antrian beras, tidak ada antrian minyak, itu sudah cukup. Tidak perlu muluk-muluk. Terus terang kalau saya tanya dengan orang-orang tua, mana lebih senang jaman suharto dan sekarang, mereka semua menjawab lebih senang jaman suharto. Karena memang demikianlah kenyataannya. Minyak mudah didapat, beras mudah didapat, dan lada (hasil pertanian Bangka) harganya mahal.
    Yang kedua mengenai proses akulturasi agama islam dalam masyarakat, saya memberi tanggapan bahwa memang banyak kebiasaan animisme dan hindu masuk dalam tradisi masyarakat islam. (termasuk di daerah Bang Yusril, Belitung). Namun dengan semakin tingginya pemahaman masyarakat tentang agama dengan sendirinya akan hilang segala pengaruh animisme tersebut. Akan lebih baik kalau ada upaya dakwah yang menyejukkan, bukan dakwah yang keras, yang mungkin akan mendapat tentangan. Sebagai contoh tradisi perayaan tahlilan di Kabupaten Bangka Selatan, tahlilan memang masih diadakan, namun tidak lagi memberatkan fihak keluarga yang berduka, karena sudah dilaksanakan di mesjid dan dananya dari tetangga. Secara perlahan-lahan nantinya acara seputar peringatan kematian nujuh, empat puluh, seratus, suatu hari tidak lagi menimbulkan efek negatif. Dengan sadar masyarakat kita akan dapat menilai mana yang benar dan mana yang tidak benar.

  2. fahmi! (komentar #2)

    wah, informasi yg menarik, makasih pak yusril. saya sendiri belom pernah maen ke kuta, lombok.

    buat saya, tulisan yg menarik adalah: “Menyimak harga-harga kain tenun yang dipasarkan, saya dapat membayangkan betapa sulitnya mencari uang bagi masyarakat perdesaan.” persis seperti yg dulu saya pernah pikirkan. gimana orang bisa hidup dg produktivitas yg cuman segitu. dan seperti yg pak yusril tulis juga di kalimat2 berikutnya, nggak semua kebutuhan hidup dan gaya hidup harus dibeli dengan uang. berbeda dg kehidupan di kota, di desa orang bisa hidup dari alam. kalo mau makan sayur ya tinggal panen dari kebun di belakang rumah.

    hehe jadi pingin hidup di desa (tapi tetep di desa yg terjangkau jaringan seluler hehe).

  3. rahmat dahlan (komentar #3)

  4. rahmat dahlan (komentar #4)

    SEORANG pemimpin yang baik adalah yang mau berbaur dengan rakyat
    mau berkomunikasi langsung
    mau mendengarkan suara rakyat
    mengerti betul apa permasalahan yang ada
    bukan yang asal tebar karisma
    jual tampang dan hanya menang di orasi
    kenyataannya?
    bang yusril teruslah berkomunikasi dengan rakyat kalau perlu
    sampai ke papua dan desa terpencil yang belum pernah terjamah pejabat
    abang nanti akan merasakan betul
    bagaimana abang sangat dibutuhkan oleh mereka
    ya……………..mereka yang senantiasa mencari sosok pemimpin
    yang adil, bersahaja, komunikatif dan tau apa yang diinginkan rakyat
    teruslah berjuang
    calon presidenku 2009

  5. Firman (komentar #5)

    Sungguh indah pemandangan negeri tercinta ini yang di tuangkan melalui foto2 yg diambil bang YIM.
    Semoga umat muslim di Indonesia bisa benar2 menjadi orang2 yang berwatak islamiyah, sehingga semua anugrah yang diberikan Allah di negeri ini bisa disyukuri dan dimanfaatkan untuk kesejahteraan umat. Sungguh takjub saya melihat bagaimana orang2 dengan antusiame dibawah terik matahari mendengarkan khotbah dari bang YIM. Mudah2an khotbah yang abang berikan bisa memperkuat nilai2 keislaman di masyarakat desa tersebut dan diri abang sendiri. Amien.
    Terus konsisten dalam memperjuangkan nilai2 islam untuk negeri ini bang……

  6. Hairul Wz (komentar #6)

    Assalalmu’alaikum, bang Yusril
    Selamat atas perolehan tiket ke pemilu 2009 semoga PBB tetap jaya dan dapat mendaftarkan bang Yusril sebagai calon prisiden, amin.
    sekarang waktunya kita berfikir menang dan menjadi besar
    wasslam

  7. Donny@Cibubur (komentar #7)

    Assalalmu’alaikum,

    Bang Yusril,

    Saya berfikir mungkin masa ini memang waktu yang tepat buat anda melakukan banyak perjalanan kedaerah-daerah untuk melihat kehidupan masyarakat kecil dan juga mendengarkan harapan-harapan mereka terhadap pemimpin bangsa. Hal ini saya kira akan menjadi semacam ikatan emosional yang akan sangat berguna buat kebijakan yang akan anda laksanakan seandainya nanti terpilih menjadi Presiden R.I 2009.

    Wassalam

  8. abdullah khusairi (komentar #8)

    Teruslah mengelilingi nusantara. Semoga menemukan keajaiban. Ini sebuah perjalanan untuk perjuangan masa depan. Bang, jangan lupa sisi sejarah daerah dan nama penyebar Islamnya.
    terima kasih….
    salam hangat dari ranahminang

    abdullah khusairi
    628126714240

  9. resti (komentar #9)

    @ Bpk abdullah khusairi, lebih baik apabila bapak tidak mencantumkan nomor telepon secara terbuka di internet, kecuali dalamkomunitas terbatas. ini hanya untuk berjaga2 saja dari berbagai macam kemungkinan tindakan orang yang berniat buruk, karena internet sangat terbuka. Untuk kepentingan bapak Abdullah Khusairi mohon Bang yusril bisa menyamarkan nomor telepon beliau.

    Bang, Lombok indah sekali ya…suatu saat saya ingin kesana.
    Jika satu saat abang dipercaya memegang amanah menjadi pimpinan negara ini, mudah2an pengalaman abang yang suka berjalan2 dari daerah ke daerah untuk mengetahui kehidupan masyarakatnya bisa menjadikan abang pemimpin yang dapat bertindak bijaksana.

    Saya sendiri sampai saat ini belum memiliki calon pimpinan pilihan. Mungkin karena saya kecewa dengan presiden2 sejak mulai pak harto sampai pak yudhoyono, walau tak semua hasilnya buruk. Tapi sebagai seorang muslim, saya tetap optimis dan yakin bahwa satu saat, negara kita akan memiliki pemimpin yang amanah. Mudah2an segera….

  10. Abdurahman (komentar #10)

    Wah, bapak rupanya senang travelling juga toh..

    liburan berikutnya saya berencana mengajak teman2 kuliah saya ke indonesia, mungkin lombok tujuan yang bagus juga buat dipertimbangkan

    *sekalian promosi visit indonesia 2008*

    hehe, terima kasih pak buat laporan perjalanannya..

  11. adi riyadi (komentar #11)

    Dua periode Abang memimpin partai dan tetap aktif di pemerintahan ternyata tidak efektif bagi perjalanan partai dan karir Abang. Banyak hikmah yang Abang dapatkan setelah diberhentikan dari jabatan Mensesneg oleh Presiden SBY. Abang bisa bersilaturrahmi dan mendengar langsung keinginan dan aspirasi rakyat Indonesia secara utuh. Siapapun tokoh politik, termasuk Abang, merangkap jabatan partai dan publik ternyata cukup merepotkan. Dan itu sudah terbukti selama dua periode Abang pimpin PBB. Abang selalu disibukkan pekerjaan dinas, sehingga mengabaikan dan tidak banyak memberi waktu kepada rakyat. Saya takjub dengan melubernya massa yang menghadiri pengajian umum yang Abang hadiri di Lombok itu. Saya yakin, perasaan Abang sekarang ini lebih enjoy daripada saat masih menjadi ketua partai dan merangkat jadi pejabat. Memang, Abang mendapat fasilitas negara. Tapi apa artinya semua itu jika lupa pada rakyat. Sekarang waktu yang pas bagi Abang untuk terus turun ke bawah dan bersilaturrahmi rakyat. Sapa dan dekati rakyat Indonesia dengan sentuhan kemanusiaan serta rendah hati. Jika itu terus Abang dilakukan, insya Allah mereka akan memberi kepercayaan jika sekiranya Abang nanti benar-benar dicalonkan menjadi presiden pada 2009 nanti. Allah SWT tidak akan mengubah nasib suatu kaum (seseorang), jika kaum itu tidak mau merubah nasibnya sendiri. Nilai silaturrahmi itu tidak bisa ditebus dengan duit sekalipun. Jujur saja, saat ini rakyat sudah tidak begitu simpati tokoh politik yang hanya menyapa mereka dalam lima tahun sekali itu. Moga-moga muhibah Abang ke berbagai daerah di seluruh penjuru Nusantara mendapat tempat dan perhatian di hati rakyat yang sedang mendambakan perubahan di segala bidang. Rakyat saat ini butuh sentuhan dan minta diajak bicara. Terus terang saya bangga pada Abang yang tidak larut dalam kesedihan meski tanpa menyandang jabatan publik. Sampai saat ini, saya percaya dan haqqul yakin bahwa intrik-intrik yang pernah berembus selama ini hanya bertujuan menghadang Abang. Sekali, dua kali, mungkin mereka berhasil. Tapi jika Allah SWT menghendaki dan rakyat memberi kepercayaan pada Abang, tidak ada satu bentuk persekongkolan jahat yang mampu membendungnya Abang menjadi pemimpin di negeri ini. Dengan tetap tawakal kepada Allah SWT, semoga rakyat Indonesia ke depan mampu memilih dan melahirkan pemimpin yang amanah serta menjadikan jabatan yang diemban pemimpin itu untuk memperjuangkan izzul islam wal muslimin. Mari wujudkan Islam sebagai tatanan yang rahmatan lil alamin.

    Selamat bersilaturrahmi dan terus bersemangat. Jangan bosan-bosan berbaur dengan rakyat, candidate my president…..

    Akhirnya, teriring doa, semoga keselamatan, kesejahteraan, dan ridla Allah SWT selalu mengiringi seluruh rakyat Indonesia…..

  12. zaldi (komentar #12)

    saya terharu karena masih ada kuta yang perawan, masih ada keindahan yang berbusana, namun sampai dimana itu bisa kita lestarikan? apa program yang bisa membentengi budaya terhormat ini dengan tetap meniriskan pencerahan dan kesejahteraan yang berkesimnambungan.

    setinggi-tinggi tuntutan rakyat dalam hidup adalah, “ketentraman dalam berkarya, kemudahan untuk memenuhi kebutuhan, kebebasan untuk bekepercayaan dan kedamaian dalam bergaul. Namun kebesaran sebuah bangsa sangat ditentukan oleh tekad rakyatnya untuk tidak terlalu menggantungkan nasibnya orang dan bangs lain (swasembada).

    Bang, ironi bagi saya mengikuti kisah abang di pulau “nan indah” ini, bawa masyarakatnya mayoritas Islam dan lagi-lagi miskin, padahal dalam Islam sangat banyak konsep yang dapat memotifasi untuk keluar dari “kejahiliahan finan sial tsb.” harus ada upaya yang sistematis mengentaskan mereka dari bawah garis itu, jangan biarkan mereka dikunjungi karena keperawanan budaya “miskin” mereka.

    karena saya yakin (walaupun belum pernah kesana) setelah membaca berbagai literatur bahwa banyak orang besar juga lahir di lombok. banyak potensi juga yang bisa dikembangkan

    bang, jadilah pengendali negeri ini! karena tanpa itu keluh kesahku tak berarti.

  13. Adila (komentar #13)

    assalamualaikum wr. wb

    salut n simpatik dengan langkah yang bang YIM lakukan :)
    trus bang !!! lihat kondisi masyarakat indonesia ini :(
    trus bang !!! klo perlu dari sabang sampai merauke turbanya :)
    tapi ingat ya bang klo udah jadi, jadilah Pemimpin yang amanah, OK !!!

    Ada gak nih episode bang YIM naik gunung ?????

    RRRRRRRR IIIIIIIIIIIII 111111
    RRRRRRRRR IIIIIIIIIIII 1111111
    RRR RRR IIIIIIIIII 11111111
    RRR RRR IIIIIIII 11111111
    RRR RRR IIIIIIII 11111111
    RRRRRRRRR IIIIIIII 111111
    RRRRRRRR IIIIIIII 111111
    RRR RRR IIIIIIII 111111
    RRR RRR IIIIIIII 111111
    RRR RRR IIIIIIIIII 111111
    RRR RRR IIIIIIIIIIII 11111111
    RRR RRR IIIIIIIIIIIIII 11111111

    YYY YYY YYY YYY YYY
    YYY YYY YYY YYYY YYYY
    YYY YYY YYY YYYYY YYYY
    YYY YYY YYY YYYYYY YYYYY
    YYYYYY YYY YYY YYY YYYYYY
    YYY YYY YYY YYYYYYY YYY
    YYY YYY YYY YYYYY YYY
    YYY YYY YYY YYY YYY
    YYY YYY YYY YYY
    YYY YYY YYY YYY
    YYY YYY YYY YYY
    YYY YYY YYY YYY

    THANK’S
    wss.wr.wb

  14. Iwan Asnawi (komentar #14)

    @Yim yang terhormat…

    Ini hanya usul dari saya,
    Saya kira ada baiknya kalau dalam tulisan anda juga dilengkapi dengan analisa sosial kultural masyarakat setempat yang anda kunjungi. Dan atau tradisi yang lainnya, tidak hanya melulu pada keindahan sebuah Pulau Lombok belaka. Atau Pulau lain nantinya, bosan… Misalnya, pada tradisi pengobatannya. Di Pulau Lombok, sepengetahuan saya ada banyak juga rakyatnya yang ahli meramu obat2an, dan ahli pahat. Yang juga pandai membuat aneka kerajinan dari tangan, dan laku di pasaran Dunia.
    Karena di Pulau itu, banyak tumbuh pohon Pasak Bumi. Pohon ini, secara tradisional dipercaya oleh masyarakat untuk obat atau Jamu Kuat…he…he…
    Juga obat kencing manis, dan sakit pinggang.

    Tentang hiburan, orang Lombok kebanyakan menyukai musik Dangdut. Saya tidak tau, sampai sekarang selera musik anda? he…he…
    Karena dedengkot, atau pemimpin Grup itu ada tinggal disini sekarang, di Swiss…
    Saya tak usah sebutkan namanya…
    Tapi dia sangat alim dan taat, sholat lima waktu… Malam Jum at baca Yassin, masya Allah…

    @untuk Adila, komentar 13… Kok nulis begitu amat sih? Pemborosan halaman…Dan mengganggu mata saya juga..he…he…

    Salaaaam Hormat…

  15. bangzenk (komentar #15)

    @Iwan Asnawi
    sodara jangan begitu.. “Kok nulis begitu amat sih? Pemborosan halaman…Dan mengganggu mata saya juga..he…he…”
    saling memahami saja.. toh abang YIM ini abang semua (huahahahaha..)
    jangan tersinggung, tapi memang bahasa “mengganggu mata saya” itu membuat suasana pantai Kuta jadi kayak perang Majapahit :D

    @YIM
    udah liat ke Rinjani-nya blom?? disitu bakal terasa lebih dalem lagi bang.. suasana Indonesia Raya yang dipuja-puja keindahannya ma orang-orang sini (eropa).

    salamhangat.

  16. Ersis W. Abbas (komentar #16)

    Saya akan lebih tersenang manakala Bangka-Belitung lebih dikupas … duh daerah cantik yang ‘dirusak’ penambangan timah yang seronok. Salam.

  17. Iwan Asnawi (komentar #17)

    @Yim yang terhormat…

    @salam kenal bung Bangzenk…
    Itu kan hanya usul… Namanya juga usul, dia (usul itu) boleh diterima… Dan juga bisa dilupakan…he…he…
    Tentang bahasa perang, itu bahasa anda. Bukan bahasa saya, dan memang disini tak ada musuh kok? Harapan saya begitu, kalau kawan berdebat itu biasa.

    Usul lagi,
    perbaikilah bahasa anda…he…he…

    @Untuk Yim, kok telat lagi?

    Salam hormat…

    Saya belum ke Injani.Insya Allah suatu ketika nanti. (YIM)

  18. lmjaelani (komentar #18)

    wow, pak yusril membuat tulisan tentang daerah saya.
    terimakasih pak.

  19. Rozi (komentar #19)

    Assalamu’alikum Bpk Yusril.
    saya kagum dengan tulisan Bapak, saya sendiri sebagai anak Lombok jarang sekali berkeliling untuk mengunjungi Pulau sendiri yang Indah dan Mempesona…
    Suasana Pulau yang Teduh dan Masyarakat yang Mayoritas Agama Islamnya kuat tapi terbelakang dalam Ekonomi sangat memprihatinkan..

    Sebagai Pemuda Lombok dan Indonesia saya berharap suatu saat Pulau Lombok dapat memberikan kontribusi yang banyak buat kemajuan Indonesia ini.. Amien

    Salam
    Fahrur Rozi

  20. aditya23 (komentar #20)

    Salam buat Bang YIM… yang lagi sibuk menyelesaikan syuting-syuting akhir dari Laksamana Cheng ho..

    Mungkin telah cukup banyak Bang YIM menyampaikan pandangannya tentang keindahan-keindahan alam Indonesia khususnya mengenai daerah pesisir, namun belum ada saya lihat bang YIM menyampaikan atau pun memuat dalam blog ini mengenai daerah daerah daratan atau pengunungan yang ada di wilayah Indonesia.. semoga kedepan Bang YIM pun memuat daerah-daerah tersebut…

    setiap warga negara sudah tentu menginginkan seorang penguasa yang dapat memberikan harapan kepada rakyatnya, namun hanya memberikan harapan tidak lah cukup untuk mempertahankan posisi seorang penguasa supaya tetap bertahta dalam kekuasaanya.. kita (khususnya saya) telah merasakan bagaimana seorang penguasa telah sanggup memberikan harapan kepada kita semua bahwa dengan terpilihnya ia menjadi penguasa, maka ia akan menjadi penguasa yang baik yang akan memperhatikan rakyatnya, khususnya akan memperhatikan kesejahteraan baik lahir maupun batin…

    namun ketika penguasa tersebut telah berkuasa maka kembali kita (khususnya saya) tidak merasakan bahwa penguasa tersebut telah memenuhi janji-janjinya ketika ia belum jadi penguasa.. maka kembali yang digunakannya untuk melindungi kekuasaanya adalah kata-kata “akan”…

    berdasarkan kepada pengalaman kita bersama ini apakah bangsa ini akan terjerembab kedalam lobang yang sama ???? jawabnya tentu kita sendiri yang menentukan..

    Bang YIM telah memberikan sedikit harapan kepada kita sebagai anak bangsa yang selalu dikecewakan oleh penguasa-penguasa terdahulu, yang selalu menjanjikan kesejahteraan namun yang ada hanya kemiskinan dan kemelaratan yang kita jumpai dan kita rasakan…

    oleh karena itu, yang menjadi pertanyaan kita (khususnya saya) sebagai manusia yang terdampar dan menjadi anak bangsa Indonesia adalah apakah Bang YIM akan sama seperti “bapak-bapak” kita sebelumnya? jawabnya tentu hanya bang YIM yang dapat menjawabnya, atau kalau bang YIm ngak memberikan jawaban maka tentu kita akan kembali bertanya kepada rumput yang bergoyang… he he… he.. terimakasih.

  21. Erwin Juanda (komentar #21)

    Pak YIM yth,
    Kalu melihat kata2/kebijakn yang bapak tampilkan website sini alangkah bijaksana dan berwibawanya bapak untuk jadi pemimpin negeri ini, tidak di ragukan lagi saya akan memilih partai PBB agar bapak jadi presiden negeri ini.

    dulu waktu pemilu 2004 saya memilih PAN pak amin rais sebagai ilmuan yang bersahaja tapi sayang partai PAN kalah dalam pemilu
    tapi kalu bapak sudah jadi Presiden saya masih ragu apakah komitmen untuk rakyat akan di laksanakn seperti presiden sebelumnya yang selalu ngumbar janji….
    maaf agak fulgar dikit kata2 nya…

  22. safan (komentar #22)

    Ass.Wr.Wb Pa YIM yg terhormat…….
    Alam Indonesia tentu banyak membeli pelajaran yang sangat berharga buat bathin kita, yang ber-implikasi kepada cara pandang dan prilaku kita, alam memberi tahu kita dengan cara yang polos dan apa adanya, semakin kita “ber-khidmat” kepada alam semakin kita “cinta” kepada jagad raya dan isinya semakin membuat kita dekat dan mengenal “Sang Pencipta”……..prosese ini pula yang akan membuat anda (YIM) menjadi orang yang arif, bijaksana dan mengenal diri anda. Ini adalah modal untuk menjadi pemimpin bangsa, karena cerdas, pintar dan berwawasan luas tidak cukup dan bangsa ini telah mengalaminya, kepintaran hanya untuk melindungi dirinya dan kroni-kroninya, kecerdasan hanya untuk membohongi orang lain yang dianggap bodoh, berwawasan luas hanya ingin menjual bangsa dan alamnya kepada asing dengan dalih untuk kemakmuran rakyat……dan saya berharap agar pak YIM terus berupaya berbenah diri untuk tetap loyal kepada rakyat dengan gaya anda sendiri……bangsa ini masih banyak berharap dari orang-orang yang dapat “ber-khidmat” dengan alam…..teruslah menggali dan belajar dari alam jadikan dia “guru” yang bersahaja buat anda……dan anda telah memiliki modal untuk maju menjadi seorang pemimpin…tapi biarlah rakyat yang menilai…dan ALLAH SWT yang punya rahasia………
    Wassalam

  23. Iwan Asnawi (komentar #23)

    Yth, Yim…

    Usul lanjutan,
    Kalau boleh menambahkan lagi, semoga ini tidak mengganjilkan.
    Saya berharaf malah melengkapkan…he…he…
    Juga misalnya, bagaimana tentang hubungan sosialnya, (Sosialisme Islam?, yang ini juga belum pernah anda singgung)… Atau kemudian pada terjaganya hubungan harmoni (balanced) dengan alam. Entah itu, pada orang kepulauan, tentu saja juga pada orang Daratan.
    Kan pertanyaannya adalah, apakah betul yang sedang anda (kita juga) pikirkan itu? Sama betul dengan pikiran mereka, Rakyat yang anda kunjungi itu?

    Juga pada asumsi bahwa orang desa miskin, orang kota kaya.
    Ini asumsi yang sudah kita ungkap turun_temurun, yang mestinya tak perlu kita ungkapkan lagi.
    Karena, lanjutannya adalah orang kota pintar, orang desa bodoh…

    Jadi sebelum saya menceburkan diri lebih basah, he…he…
    berikanlah pencerahan anda, termasuk pada pandangan Islam terhadap Sosialisme…

    Salam hormat…

  24. Nasrullah (komentar #24)

    Saya sepakat dengan bangzenk komentar 15, supaya komentar kita ngga usah terlalu panjang sederhana dan pendek saja, kasian yang lain juga pengen di baca komentarnya.
    Untuk bang YIM, teruslah berkelana di pelosok negeri. Jadilah pedoman cara kerja seorang khalifah yang mendengarkan suara rakyatnya di malam sepi dan mengantarkan sendiri sekarung gandung untuk rakyat yang kelaparan.

  25. Iwan Asnawi (komentar #25)

    @hallo, Nasrullah…

    Usul pemborosan halaman itu, sebenarnya dari saya. Baca komentar 14, he…he…

    @Untuk YIM, salam hormat…

  26. bangzenk (komentar #26)

    @Nasrullah
    terima kasih (atas kesepakatannya)

    @YIM
    Bang, saya ingin meminta pendapat abang terkait kasus Lumpur Sidoarjo dalam pandangan hukum. Karena dalam pandangan saya, tidak semestinya musibah tersebut menjadi tanggungan pemerintah. Memang berlandaskan hukum (Perpres apa Inpres :D, maaf saya kurang memahami ini). Kemudian satu hal lagi, terkait kejaksaan yang saat ini tengah disoroti. Saya menantikan tulisan abang terkait dua hal tadi. Terima kasih banyak.

    @Iwan Asnawi
    sama-sama belajar. insya Allah berkah.

    salamhangat.

  27. Nasrullah (komentar #27)

    Untuk Iwan Asnawi Hallo juga dan salam hormat, sorry tak kebaca soalnya komentar Bapak sedikit panjang juga he…he… tapi betul pendapay anda artinya kita sepakat aja.
    Untuk bang YIM, maaf nih web sitenya kami pakai untuk berkomentar sesama komentator namun diniatkan untuk silaturrahmi. Harap maklum bang.

  28. Iwan Asnawi (komentar #28)

    @Yth, Yim…

    @Ooh, tentu saja Bung Nasrullah… terima kasih.
    Apalagi niat anda untuk silaturrahmi dengan saya, alkhamdulillah…

    @YIM, mohon maaf. Blog anda saya pakai untuk menyapa kawan2
    Salam hormat…

  29. Rien HS (komentar #29)

    Yth Pak Yusril IM,
    Saya setuju sekali bahwa pantai kuta di Loteng NTB sana sangat indah dan hampir semua pesisir NTB terlebih semakin ke timur maka semakin indah. Namun indahnya pantai tidaklah seindah kehidupan nelayan pinggir pantai kuta. Beberapa tahun lalu, saya sempatkan untuk duduk2 bersama mereka di atas pasir putih yang panas. Sebagian mereka adalah nelayan2 tua yang mengeluhkan betapa kehidupan semakin sulit. Mereka hanya bisa makan satu kali (paling banyak 2 x) sehari dan masuk dalam perangkap hutang gali lubang tutup lubang yang entah kapan akan berakhir.

    Diantara merekapun banyak petani budidaya rumput laut, namun sayang sekali rumput laut tidak membuat hidup mereka lebih nyaman, karena harga rumput laut sangat rendah di tangan mereka. Saat itu (saya yakin hingga saat ini) mereka sangat membutuhkan bantuan ketrampilan/ilmu dan teknologi tepat guna agar mereka bisa memanfaatkan langsung rumput lautnya dalam berbagai bentuk olahan dan membutuhkan pemasaran sekaligus dana operasi.

    Kuta Lombok itu indah, seharusnya kehidupan penduduk aslinya pun turut indah. Mudah2an traveling bapak memberi inspirasi ke depan dalam penentuan kebijakan2 pemerintah jika pak Yusril dipercaya mengemban amanah lagi yang lebih besar.

    Salam cowgirl Stillwater

  30. adila (komentar #30)

    ass wr.wb

    sebelumnya saya mohon maaf pada temen - temen smua yang terganggu atas tulisan saya yang terlalu banyak makan tempat diblog ini n mengganggu mata. Sorry bang YIM (maksudnya mau nulis RI 1 YIM)

    terima kasih

Pages: [1] 2 3 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda