Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Udara terasa panas ketika kami melintas dengan kendaraan dari Mataram menuju Kuta – nama sebuah pantai indah di Pulau Lombok.
Jarak antara Mataram-Kuta sekitar 70 km, namun kami tempuh dalam waktu lebih kurang satu setengah jam. Kami sengaja mengendarai mobil agak lamban, mengingat lebar jalan yang relatif kecil dan berliku. Sepanjang jalan, saya dapat menyaksikan suasana kehidupan masyarakat desa. Saya senang memperhatikan arsitektur tradisional rumah suku Sasak yang terasa menyatu dengan alam. Rumah-rumah itu terletak di antara rerimbunan dahan-dahan pepohonan, berjajar-jajar sehingga membentuk keindahan tersendiri. Bukan sekali ini saja saya datang ke Lombok. Namun sebelumnya saya hanya datang ke kota. Kali ini saya masuk jauh ke pedalaman, keluar masuk kampung-kampung, dan akhirnya pergi ke Kuta.
Dalam pengamatan saya yang sering pergi ke pantai, Pantai Kuta di Lombok jauh lebih menawan dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Kedua pantai ini memiliki nama yang sama, namun kondisinya jauh berbeda. Pantai Kuta di Bali terletak sangat dekat dengan kota. Kawasannya sudah dibangun dan dikunjungi banyak turis, dari dalam maupun dari luar negeri. Pantai Kuta di Lombok masih tergolong sepi. Penduduk sekitar masih diliputi suasana kehidupan perdesaan, dengan bangunan-bangunan relatif sederhana.
Hanya Hotel Novotel yang tergolong mewah di pantai itu. Hotel ini dibangun dengan gaya tradisional Sasak dalam bentuk rumah kampung terbuat dari kayu beratap ijuk dan daun ilalang. Pemandangan dari hotel yang menghadap ke laut nampak sangat indah. Alam masih asri, belum banyak sentuhan tangan manusia.
Ada sejumlah wisatawan asing, dari Eropa, Jepang dan Korea yang sengaja datang untuk menyepi dan menikmati keindahan Pantai Kuta. Kedatangan para wisatawan dalam dan luar negeri itu sedikit banyaknya membantu perekonomian masyarakat di kampung itu. Banyak warung berdiri di tepi pantai menjual keperluan sehari-hari serta makanan dan minuman khas Lombok. Saya ikut minum kopi dan makan nasi di sebuah warung sederhana namun menyenangkan. Meski sudah lama tinggal dikota, selera makan saya tetap saja selera orang kampung. Menikmati ikan bakar dengan sambal dan lalap-lalapan di pinggir pantai, sungguh terasa enak tiada terkira. Kalau 
tak ada wisatawan berkunjung, mungkin warung-warung itu akan mati. Maka biarkanlah segalanya berjalan sebagaimana adanya. Wisatawan boleh datang dan pergi, namun suasana kampung haruslah tetap terpelihara. Suasana kampung yang bersahaja itulah yang membuat segalanya menjadi menarik. Kampung tak perlu diubah menjadi kota. Namun kesejahteraan hidup orang di kampung tentu harus ditingkatkan. Dengan hidup sejahtera itu, orang tidak akan merusak lingkungan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Keluar masuk kampung yang tak saya kenal adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Saya selalu heran, karena begitu saya masuk kampung – di mana saja di seluruh tanah air – orang-orang di
kampung itu dengan mudah menyapa saya dan mengenal saya dengan baik. Mereka mengatakan sering melihat wajah saya di televisi dan berbagai media cetak, sehingga telah begitu akrab. Di kampung-kampung itu, saya sering diajak mampir ke rumah seseorang yang sebelumnya tak saya kenal. Mereka menyuguhi saya minuman sambil bercakap-cakap dengan orang kampung yang segera saja datang berkerumun.
Dari pengamatan dan mendengarkan cerita orang di kampung itu, saya mengerti suasana hati rakyat. Apa keluhan mereka dan apa harapan mereka. Saya selalu menyimaknya dengan penuh kesungguhan, walau kadang kami tertawa-tawa sambil bercanda. Memang, berjalan kaki menyusuri kampung-kampung memberi inspirasi yang sangat berharga untuk saya renungkan. Saya pun senang memotret suasana kehidupan di kampung. Semuanya saya simpan dalam album untuk menjadi kenangan sepanjang hayat.
Orang kampung di sekitar Pantai Kuta di Lombok hidup dari bertani, berternak, menangkap ikan dan menenun. Kebanyakan mereka menanam padi dan palawija di sawah dan ladang. Mereka banyak
memelihara sapi, kerbau dan kuda. Sebagian mereka melaut menangkap ikan menggunakan perahu nelayan tradisional. Kegiatan menenum dilakukan kaum wanita, menggunakan alat tenun tradisional.Kegiatan menenun itu dilakukan hampir setiap rumah. Ada toko bahan tenunan di pinggir jalan untuk memasarkan hasil tenunan itu, terutama kepada mereka yang berkunjung. Ada pula anak-anak dan perempuan dewasa yang
menjunjung hasil tenunan dan menjajakannya kepada wisatawan yang datang ke Pantai Kuta. Kain tenunan yang nampak bagus itu dijual dengan harga yang murah. Mereka bahkan menawarkan kain sarung untuk laki-laki dengan harga Rp. 20 ribu sehelai. Kain songket relatif agak tinggi harganya. Mulai Rp.600 ribu sampai Rp 1 juta. Namun menenun songket sebagus itu, kadangkala memakan waktu satu bulan lamanya.
Menyimak harga-harga kain tenun yang dipasarkan, saya dapat membayangkan betapa sulitnya mencari uang bagi masyarakat perdesaan. Namun rezeki tentu datang dari mana saja, kalau orang rajin berbuat dan berusaha. Rumah-rumah nampak sederhana,
sebagai cerminan kesedrhanaan kehidupan sosial ekonomi penduduk kampung itu. Mereka hanya membeli sesuatu yang tidak dapat mereka buat sendiri, atau tak dapat diambil dari alam di sekitar mereka tinggal. Ongkos transportasi juga sedikit, karena agak jarang-jarang orang kampung bepergian. Hiburan juga ala kadarnya. Hidup tanpa banyak keinginan dan tuntutan, kadang-kadang menyenangkan juga. Kebahagiaan dan kesenangan hidup, tidak selalu dapat diukur dengan materi dan gemerlap kehidupan perkotaan. Hidup sederhana di kampung, jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan hidup di kota, namun diliputi kemiskinan.
Ketika waktu sembahyang Jum’at tiba, saya menghampiri sebuah mesjid di tepi jalan. Saya membaur dengan orang-orang kampung dengan bersahaja. Namun, tetap saja jemaah mesjid itu mengenal saya. Mereka ingin bersalaman dan menanyakan bagaimana
ceritanya saya sampai ke kampung itu. Saya mengatakan, saya ingin berjalan-jalan dan memarkir kendaraan agak jauh, agar saya dapat berjalan kaki. Istri saya juga ikut dan dia menggunakan payung karena tak begitu tahan ditimpa teriknya sinar matahari. Orang Sasak beragama Islam. Mereka pada umumnya sangat kuat memegang ajaran agama. Saya bertanya kepada mereka tentang ajaran Islam Telu – sinkretisme
antara Islam dan Hindu – di kalangan warga Sasak. Mereka hanya tertawa dan mengatakan bahwa semua penduduk kampung itu menganut Islam Limo, artinya mereka mengerjakan sembahyang lima kali sehari semalam, bukan tiga kali seperti Islam Telu. Islam Telu sudah hampir punah, walau masih ada sedikit pengikutnya di gunung-gunung.
Mengamati kehidupan masyarakat kampung di Lombok makin membuat saya mengerti akan dinamika sosial. Tidak ada sesuatu yang statis. Kehidupan akan terus berubah. Masalahnya hanyalah apakah perubahan itu datang dengan cepat atau lambat. Dalam kasus Islam Telu misalnya, proses purifikasi pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam, cepat atau lambat akan datang juga. Demikian pula aspek-aspek yang lain dalam kehidupan sosial. Arsitektur mesjid di Lombok juga kian berubah, makin dipengaruhi oleg gaya bangunan Mughul dan Timur Tengah. Mesjid-mesjid lama masih menampakkan unsur tradisional Lombok, bahkan pengaruh arsitektur Hindu Jawa dan Bali
masih terasa. Secara subyektif, saya sebenarnya lebih menyukai arsitektur mesjid bergaya lokal, dengan tetap memenuhi ketentuan persyaratan sebuah masjid, terutama arah kiblat yang pas menunju Mekkah al-Mukarramah. Saya sering berkelana di negeri Tiongkok untuk menyaksikan mesjid-mesjid bergaya Kelenteng dengan perasaan takjub. Menjadi Muslim tidaklah harus menjadi seperti orang Arab. Islam menghargai dan menghormati ciri khas budaya suatu bangsa. Sering orang salah paham dengan hal ini.
Ketaatan orang sasak kepada agama Islam memang menakjubkan saya. Saya hampir tak percaya, ketika kawan-kawan di Lombok mengajak saya datang ke sana untuk menyampaikan ceramah dan pidato menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Mereka bilang, kalau anda datang, maka pertemuan itu akan dihadiri tak kurang lima puluh ribu orang. Ternyata, yang hadir mendekati angka tujuh puluh ribu orang.
Sayapun heran, jemaah sebanyak itu dengan tenang mendengarkan pesan-pesan yang saya sampaikan. Mereka menyimak kata demi kata yang saya ucapkan dengan penuh perhatian. Pengaruh ajaran agama terasa begitu dalam bagi kehidupan masyarakat Lombok. Seharusnyalah ketaatan kepada ajaran Islam itu mendorong masyarakat ke arah kemajuan.
Beberapa hari di Lombok, membawa kesan yang dalam ke lubuk hati sanubari saya. Saya merasa memiliki sebuah tanggungjawab sosial dan politik, untuk ikut membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna. Maju secara sosial dan ekonomi, namun tetap berlandaskan kepada nilai-nilai Islam dan ciri khas budaya bangsa kita sendiri. Keadaan sosial ekonomi dan budaya di Lombok, sebenarnya hampir sama saja dengan daerah-daerah lain di seluruh tanah air. Masyarakat ingin sekali maju dan berkembang. Tugas para pemimpinlah untuk membawa mereka ke arah kemajuan itu…
Wallahu ‘alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 4th, 2008
70 tanggapan untuk “PANTAI KUTA DI PULAU LOMBOK”
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
taro (komentar #31)
bang, cerita kali kayaknya lebih seru dan menyakinkan !!! bahwa perubahan angka 50 menjadi 70 rb memberikan arti harapan besar terhadap PERUBAHAN untuk NEGERI ini !!! 2009 angka yang lebih menarik lagi untuk diraih sebagai PRESIDENT OF INDONESIA. VIVAT YUSRIL IHZA MAHNEDRA !!! amien………..
March 6th, 2008 at 8:58 am
taro (komentar #32)
Bang, cerita kali kayaknya lebih seru dan menyakinkan !!! bahwa perubahan angka 50 menjadi 70 rb memberikan arti harapan besar terhadap PERUBAHAN untuk NEGERI ini !!! siapakah itu ?????? 2009, angka yang lebih menarik lagi untuk diraih sebagai PRESIDENT OF INDONESIA. VIVAT YUSRIL IHZA MAHNEDRA !!! amien………..
March 6th, 2008 at 9:42 am
Syamsudin Noor (komentar #33)
Bang, coba Abang sekali-kali jalan ke Kalimantan Selatan, disini banyak pantai alami yang tidak kalah menariknya dengan daerah lain,..ditunggu ya Bang
March 6th, 2008 at 12:07 pm
ori (komentar #34)
Ass.Wr.Wb,
Boleh Juga Abang nih, kaya e perlu semakin sering tetirah sambil promosi pariwisata negeri kite nih, istilah e, sambil menyelam dapat ikan tenggiri, selain abang semakin terkenal, mungkin makin banyak orang yang tau kan abang, maksud e rakyat yang jarang bersentuhan dengan perpolitikan ataupun yang jarang ketemu koran ataupun nonton tv ( karena kebanyakan orang kite nonton TV e, kalo gak sinetron ya dangdut ). Jadi gak salah lah kalo mereka nanti milih abang jadi pemimpin negara di masa yang akan datang….kalo bisak laporan kekayaan cepet dilaporin Bang, biar orang-orang dak berprasangka yang bukan-bukan….Wass.Wr.Wb
March 6th, 2008 at 4:11 pm
AJU (komentar #35)
Intensitas bermuhibahnya keseluruh nusantara dikencangkan terus bang, Insya Allah popularitas abang akan semakin mantap, Pilpres nanti kita tinggal menuai hasilnya, yah ngak bang ……
March 6th, 2008 at 11:49 pm
abu ghifari (komentar #36)
off-topic lg deh ..
mohon maaf pak .. tolong pencerahannya dong tentang ‘parliamentary treshold’ yg buat PBB n bbrp partai lainnya bisa langsung ikut pemilu 2009 .., jazakallah sbelumnya ..
March 7th, 2008 at 10:51 am
Agus Enqi (komentar #37)
ok. saya paham kenapa di media masa beberapa hari lalu abang mengeluarkan statement akan maju mencalonkan diri menjadi presiden di 2009. Pengikraran/pernyataan diri untuk menunjukkan seseorang menjadi seorang pemimpin, apalagi seorang Presiden di negara kita masih barang langka. padahal hal itu baik jika pengikrarannya jauh sebelum saat termaskud datang. Supaya bisa tahu bagaimana reaksi orang terhadap pernyataan itu. Selain itu, juga supaya sejak saat ini bisa menyerap kepentingan-kepentingan atau kebuituhan rakyat hari ini untuk dijadikan program kelak ketika dia menjadi pemimpin. Program turun gunung bang Yusril, itu bagus juga dan merupakan barang lanmgka untuk hitingan hari ini. Namun demikian, saya husnudzon bahwa program itu dilakukan tidak hanya karena ada maksud mencalonkan diri jadi Presiden. namun akhirnya semua akan kembali kepada “nawaetunya” yang melakukan kegiatan tersebut. Padahal, menurut pendengaran dan penglihatan saya, ketika abang memimpin partai, nampaknya lumayan jarang juga untuk turun ke daerah-daerah. Kendati anggota PBB sangat banyak yang merindukan abang ketika itu.
Demikian semoga manfaat.
Waktu saya menjadi menteri kehakiman dan Ham, saya cukup banyak turun ke daerah-daerah. Namun ketika menjadi Mensesneg, memang harus saya akui saya sibuk sekali. Kerja hampir tak mengenal waktu lagi, karena menangani urusan-urusan yang terkait langsung dengan Presiden. Sekarang saya tak menjadi menteri lagi, karena itu lebih banyak waktu untuk pergi ke daerah-daerah. Pak Kaban selaku Ketua Umum PBB tentu lebih banyak melakukannya dibanding saya. Posisi sebagai Ketua Majelis Syuro PBB, bukanlah posisi eksekutif partai. Namun demikian, tanggungjawab moral saya kepada PBB tidak berkurang, masih sama seperti dulu. (YIM)
March 7th, 2008 at 3:11 pm
KomsTek UM (komentar #38)
setiap manusia adalah pemimpin,
dan setiap pemimpin akan ditanyai kelak kepemimpinannya
selamat beraktivitas Pak.
March 8th, 2008 at 8:22 am
nita agustin (komentar #39)
sejak 6 bulan lalu, saya sering membaca hasil karya tulis bang yusril. dan sangat kagum dengan anda. bagaimana anda bisa berbaur dengan masyarakat, benar2 membumi. tulisan anda juga sangat mengesankan, projeksi dari intelektualitas anda. terima kasih pula sudah menginspirasi saya untuk menjadi seorang calon PR yang baik, yang tidak hanya ahli dalam berbicara, tapi dalam hal menulis pula. (akan sangat mengesankan bila suatu saat saya bisa bertemu dengan anda =)
Insya Allah, kapan-kapan kita dapat bertemu. Sekarang ini saya setiap hari ada di studio PT Jupiter Film di Kemayoran, menyelesaikan film Cheng Ho (YIM)
March 8th, 2008 at 8:28 pm
koohar (komentar #40)
salam buat pa Yusril sekeluarga..
hari ini saya baru saja menginjakkan kaki di tanah Bali, tepatnya di Pantai Kuta Bali. suasana di sini bagi saya tidak banyak yang menarik oleh karena sya sendiri juga berasal dari daerah yang memiliki banyak keindahan pantai. bagi saya pemandangan di pantai kuta bali bukan suatu yang baru seakan saya sudah pernah melihatnya dan itu adalah pantai dimana saya tinggal, pulau belitung. namun dalam hati saya mengapa pantai ini begitu banyak disebut dalam sederetan tempat-tempat wisata pantai di tanah air ini. namanya begitu familiar bagi siapa pun yang mendengar.
namun itulah suatu fakta yang ada, kita harus mengakuinya. segala sesuatu memang butuh proses untuk disebut menjadi terkenal paling tidak diketahui oleh banyak orang. para turis-turis mancanegara seakan terkagum akan indahnya kota bali dengan berbagai kemasan wisatanya. hati saya seakan ingin bicara bahwa di daerah saya juga banyak keindahan alam yang tidak kalah menarik untuk dinikmati. mungkin para-turis itu belum mengetahui bahwa pulau saya juga tidak kalah dengan keindahan pantai di pulau bali. hanya saja nama pantai kita tidak ada dalam daftar tempat wisata bila turis-turis tersebut membuka kamus objek wisata di tanah air. begitulah kira-kira perumpamaannya.
lalu apakah hikmah yang dapat kita petik dari masalah tersebut? kita tentu menyadari bahwa segala macam keindahan alam di negeri ini tidaklah dengan tiba-tiba diketahui oleh banyak orang bila tidak ada promosi. sebagus apapun barang yang kita buat bila tidak ada promosi maka tidak akan banyak diminati. bisa saja selama ini orang tidak tau produk kita, karena hanya di jual untuk kalangan tersendiri atau terbatas. begitulah wisata di pulau kita, belitung hanya untuk kalangan sendiri, belum ada upaya bagaimana untuk menarik turis mancanegara, atau paling tidak untuk wisatawan domestik.
kita mesti berupaya agar pemandangan pantai kita dapat tersentuh oleh para pecandu alam untuk mengetahui dan mengungkapnya lebih dalam. jangan kita kalah dengan nama besar pantai kuta bali yang pada hemat saya tidak sebesar keindahan yang disajikan. maaf bukan berarti saya mengecilkan kemajuan wisata di pulau ini, namun kita mesti bercermin untuk dijadikan acuan demi membangun wisata di pulau bangka belitng yang kita cintai. wassalam
koohar
Bali, 9 Maret 2008
Pulau Bali sudah dipromosikan sejak zaman Belanda, tentu bukan pantainya, tetapi budayanya yang unik dan tak ada duanya di dunia. Itulah daya tarik utama Bali sebagai daerah tujuan wisata. Pantai Kuta di Bali baru beberapa dekade ini saja dikenal luas oleh dunia pariwisata. Belitung memang mempunyai pantai-pantai yang indah, bahkan lebih indah dari pantai di Bali. Sayangnya masyarakat Belitung tak mempunyai keunikan budaya untuk ditonjolkan ke seluruh dunia. Promosi wisata di Belitung juga baru saja dimulai. Kita harus menonjolkan sesuatu yang lain, di samping pantai yang indah, untuk membuat Belitung menjadi daerah tujuan wisata yang banyak didatangi. Saya sendiri belum menemukan sesuatu yang lain itu. (YIM)
March 9th, 2008 at 6:22 pm
gigs (komentar #41)
Pak Yusril mau beli pulau ya? 4 artikel terakhir bapak nuansanya pulau, pantai dan laut sih…
Saya senang dengan pulau, pantai dan laut. Bukan maksudnya ingin beli pulau, he he.. (YIM)
March 10th, 2008 at 12:00 am
hawee (komentar #42)
Pak, Pulau Bangka sudah di review blom ? Sukses 2009 !!
Sedikit sudah disinggung dalam artikel “Pantai Bangka Belitung dan Nasib Nelayan” di blog ini juga (YIM)
March 10th, 2008 at 11:32 am
Saherman (komentar #43)
Pak Yusril, saya selalu berusaha menerapkan filosofi hidup demikian. Namun, terus terang sampai sekarang tetap saja kuat godaan untuk memiliki materi secara berlebihan. Semoga saja saya bisa menjadi “kaya” namun tetap taat beribadah. Juga menjadi kaya sehingga bisa berbuat kebajikan dengan lebih banyak lagi. Dan sungguh Maha Bijaksana Allah SWT itu, menilai hambanya dari “Ketakwaan” bukan dari pemilikan segala hal selama di dunia.
Saya masih memimpikan untuk menghabiskan umur saya di desa, mengamalkan pengetahuan yang saya miliki untuk masyarakat di sana.
Memiliki sebuah cita-cita yang baik, tentulah tidak ada salahnya, dan kita berjuang untuk mencapainya dengan cara-cara yang haqq. Namun di atas segala-galanya, kita wajib mensyukuri apa yang ada dan telah kita dapatkan, dan tidak perlu menyesali apa yang terasa masih kurang dan jauh dari harapan. Allah SWT Maha Tahu apa yang terbaik bagi hamba-hambaNya. Bersyukur dan bersabar adalah kunci dalam memahami dan menjalani hidup, apapun dan bagaimanapun keadaannya. (YIM)
March 10th, 2008 at 11:58 am
ISRAL BAHAR (komentar #44)
Bang memang bagus jelan-jalan ke daerah terpencil, agar abang semakin dikenal masyarakat di kedesaan
ini merupakan untuk menuju RI 1. selamat berjuang bang.
March 10th, 2008 at 12:52 pm
Nasrullah (komentar #45)
Buat Nita Agustina komentar #39. Anda benar, sejak saya mengakses blog ini saya lebih mengenal bang YIM setidaknya dari pemikiran beliau, daripada beliau di PBB dan Menkumham atau mensesneg karena membaca tulisannya kita merasa lebih dekat.
Untuk bang Yim, Mohon maaf ini penilaian pribadi saya.
Tidak apa-apa. Okey saja.
March 10th, 2008 at 7:42 pm
koohar (komentar #46)
Salam buat pak Yusril sekeluarga
tanggapan yang bapak sampaikan telah memancing saya untuk terus berdiskusi mengenai pembangunan wisata di daerah. mestipun saya memiliki latar pendidikan politik dan bapak juga seorang pakar HTN sekaligus politisi namun diskusi wisata juga perlu kita lakukan. nah, disinilah saya melihat bahwa kita perlu mengupas lebih dalam mengapa budaya kita, melayu, belum bisa bergandengan dengan sektor wisata.
memang saya belum banyak mengetahui bagaimana kondisi pariwisata di beberapa daerah yang memiliki budaya melayu muslim. apakah disana terdapat “perkawinan” wisata yang telah memberikan daya tarik tersendiri. klau dibali tentu kita memahami bahwa pariwisata dibungkus dengan kemasan budaya hindu, dimana bayak berbagai macam relief yang enak dipandang mata. ada keunikan dalam kreasi seperti dalam seni ukir dan pahat yang sangat menarik. sisi lain yaitu adanya religion ceremony sebagai daya tarik yang memikat orang lain untuk menyaksikannya tanpa kita merasa terlibat dalam soal keyakinan.
tentu disini kita berbicara dalam hal kemasan. kemasan wisata di bali sangat menarik perhatian, kita melihat ada suatu yang berbeda dan unik. padahal kalau kita menarik jauh ke belakang, dari sisi keindahan wisata, pulau belitung lebih indah dalam hal tampilan seperti apa yang telah diutarakan oleh pak Yusril . namun sekarang kita harus mengakui bahwa kita kalah dalam kemasan. jadi sangat jelas bahwa sebagus apapun ‘wajah’ alam kita kalau tidak ada upaya untuk mengemasnya maka akan sia-sia.
nah sekarang kita harus berfikir, bagaimana cara kita untuk mengemasnya. hal ini masih sering terjadi perdebatan diantara kita. membangun wisata sering diidentikan dengan membangun tempat tempat hiburan malam, dan hiburan malam sering mengarah kepada kemaksiatan. mengapa endingnya kemaksiatan? nah, pola fikir inilah yang masih kita pergunakan selama ini. karena memang pada dasarnya kita mengambil contoh pembangunan wisata yang mengarah ke arah itu. itu adalah sebuah hipotesis yang keliru dengan memutarbalikkan operasionalisasi konsep wisata. kalau kita mengambil variabel ekonomi, maka pembangunan wisata harus meningkattkan pendapatan penduduk di wilayah itu. dalam variabel agama, maka pembangunan wisata jangan dicampuradukkan dengan cara-cara yang maksiat, seperti berjudi, minuman keras, dan pelacuran, agama manapun didunia tentu melarang kemaksiatan tersebut. ktatakutan akan hal itulah yang menjadi pembangunan wisata menjadi tersendat.
tentu ada upaya yang bisa dilakukan untuk menghindari hal-hal tersebut yaitu dengan membuat aturan daerah yang jelas untuk mengatur etika moral dan agama dalam membangun pariwisata. selama tidak ada aturan yang jelas maka untuk mengontrol dan mengawasi sekaligus punishing masih sulit dilakukan. budaya melayu yang identik dengan budaya di dalam ajaran islam harus menjadi identitas sekaligus kekhasan dalam wisata kita. cara ini bisa dilakukan dengan membangun rumah-rumah adat di pinggiran pantai, menghadirkan makanan khas daerah dimana para wisatawan bisa langsung melihat cara memasaknya dan setiap waktu mempilkan pertunjukan semacam kesenian adat melayu yang dikemas secara modern.
jadi pada prinsipnya kita harus menari sebelum orang datang. jadi jangan kita menyuruh orang datang dulu baru kita menari. peran yang harus dimainkan oleh masyarakt dan pemerintah dalam membangun wisata harus seiring. masyarakt harus partisipatif sedangkan pemerintah bertindak sebagai eksekutor yang aspiratif bila dalam perjalanan untuk memajukan wisata, ternodai oleh sekelompok orang yang memanfaatkan wisata sebagai tempat tumbuh dan suburnya kemaksiatan.
untuk mempilkan budaya melayu secara apa adanya memang kurang begitu menarik, oleh karena itu sentuhan-sentuahan modernis perlu juga dilakukan tanpa merusak nilai-nilai buyada daerah. oleh karena itu kita mesti berupaya selangkah demi selangkah menggarap wisata sehingga wisatawan tidak hanya ke Bali saja, pulau belutng adalah tujuan selanjutnya. pada suatu titik tentu ada kejenuhan apalagi di era globalisasi ini tidak ada lagi batas negara atau daerah yang ada hanyalah kepentingan ekonomi. bila kita berfokus untuk hal ini, bukan tidak mungkin kita bisa maju seperti negara tetangga lainnya. maka mari kita tunjukan keunikan kita melalui strategi-strategi dan manajemen wisata yang bersaing. bagi saya ini harus dilakukan oleh pemerintah daerah, pemimpin harus memiliki jiwa wisata, kreator seni dan budaya yang terealisasikan dalam rencana strategis pembangunan daerah (restra-pemda) untuk jangka panjang.
semoga bisa memberikan sedikit motivasi dan pencerahan bagi kita bersama. wassalam
March 11th, 2008 at 2:42 pm
Jon (komentar #47)
yth. pak YIM
Keindahan yang termuat dalam gambar saya yakin memilii nilai jual yang sangat tinggi terutama untuk wisatawan domestik. Tempat nginap bisa rumah penduduk. Kuncinya hanya di komunikasi dan transpotasi bukan?
sekali lagi akses informasi dan transportasi.
March 11th, 2008 at 9:08 pm
Erwin Juanda (komentar #48)
Sekedar rasa simpatisan, Saya Juga sependapat dengan komentar Nita agustina dan Nasrullah komentar #45, coba sebelum pemilu kemarin Pak YIM bikin Blog, tentu hasilnya akan lain.
Tapi masih ada hari esok untuk menyongsong membangun bangsa ini bersama-sama
Nb : Mantap sekali Jawaban pak YIM di komentar #43 Suherman, dapat menyejukan hati kita yang penghasilannya pas-pasan dan tidak mempunyai jabatan apa2
March 12th, 2008 at 9:53 am
ISRAL BAHAR (komentar #49)
selamat ya bang
Mart, 12 th. 2008
March 12th, 2008 at 2:35 pm
architect (komentar #50)
Indonesia adalah negara kepulauan, negara maritim yang mempunyai banyak aneka ragaman hayati maupun buatan dan berbagai bentuk arsitektur dan seni budaya yang bernilai tinggi, yang sampai sekarang belum di kelola dan dikembangkan dengan baik. adalah tugas dan kewajiban kita semua sebagai rakyat Indonesia untuk turut serta memajukan negara kita, salah satu contohnya dari artikel lombok yang ditulis bapak Yusril ini. Salut dan hormat, disela sela kesibukannya beliau masih sempat nge blog.
salam,
seorang arsitek Indonesia
March 12th, 2008 at 8:46 pm
Awang (komentar #51)
Salam dari kampong …. Menarik cerite ttg suku sasak yg taat menganut islam. Urang suku sasak itu tenyate ndak sasak.
March 13th, 2008 at 7:49 pm
Awang (komentar #52)
menarik sekali ceritanya. urang suku sasak tenyate ndak sasak.
salam dari kampong!
Ya tentu saja.Dalam Bahasa Belitung “sasak” berarti “gila-gilaan”. Namun suku Sasak, tidaklah demikian tentunya. (YIM)
March 13th, 2008 at 8:04 pm
Muhammad Syamsul Rizal (komentar #53)
Ass Wr.Wb
Masya Allah Bang,..Luar Biasa saya salut sama Abang. Andaikan Manusia yg punya pemikiran Seperti Abang ini 10 orang aja di di Republik ini maka insya Allah Bangsa ini senantiasa akan diberikan kemudahan dan keistimewaan oleh Allah SWT.
Terus terang bang bahwa setelah saya membaca semu tulisan Abang,..sudah sepatutnya bahwa abang lah yang layak jadi pemimpin di republik ini sekarang dan akan datang. tetapi saya heran bang, kenapa sih stigma yg terbentuk kok bahwa yg layak pimpin republik ini harus orang jawa dan harus militer ya ?…………..pada hal kalau kita mau pikir sederhana bahwa tentara itukan harus di kembalikan ke posisi mereka yakni pertahanan keamanan Bang.
kemudian juga Bang kalau boleh saya tanyakan ke abang,..Bisa Gak demokrasi Pancasila ini dirubah menajdi Demokrasi Indonesia dengan bersandar pada nilai-nilai Budaya bangsa kita dari sabang sampai meroke ?….masalahnya saya melihat bahwa sesungguhnya demokrasi Pancasila itukan dalam implementasi didominasi dengan budaya jawa Bang.
Berikut juga bang,..Abang mau gak kita konsolidasi kembali komponen Masyumi tapi yg buat anak muda ?………
Ya. Saya terus melakukannya. Masyumi adalah partai kaum modernis Muslim, yang meyakini Islam adalah agama universal. Prinsip-prinsip sosio-politik yang diajarkannya dapat diijtihadkan untuk memecahkan persoalan-persoalan suatu bangsa yang hidup pada suatu tempat dan zaman tertentu. Insya Allah. (YIM)
March 13th, 2008 at 9:15 pm
Andi Gunawan (komentar #54)
Assalamualaikum Wr.Wb.
Bang Yusril, tulisan terbarunya belum nongol yaa… lagi sibuk yaaa Bang.
Saya mau minta pendapat sama Abang tentang tulisan saya dalam blog ….
Mudah-mudah Abang ada waktu untuk membacanya.
Bang, saya ada rencana isi blog saya itu mau saya terbitkan menjadi sebuah buku
komentar Abang sangat saya butuhkan untuk memperbaiki tulisan saya.
Kalau ada penerbit yang mau menerbitkan blog saya menjadi sebuah buku, sudikah
kiranya Abang menulis Kata Pengantar atau sambutannya?
Terima kasih atas perhatian Abang.
O ya Bang ini alamat situsnya : http://www.AyoBangkitIndonesiaku.wordpress.com
Wasalam
Andi Gunawan
Saya akan mencobanya. Silahkan beritahu saya melalui email. (YIM)
March 14th, 2008 at 12:45 am
adila (komentar #55)
ass wr. wb
agak nyleneh dikit boleh khan ?
bang gmana tanggapan abang mengenai judicial review yang dilakukan beberapa parpol lain yang tidak punya wakil DPR terhadap ” UU Pemilu pasal 316, khususnya poin (d), mengatur tentang pemberian perlakuan khusus terhadap sembilan partai politik yang mempunyai kursi di DPR bisa langsung mengikuti pemilu tanpa verifikasi”. dimana PBB termasuk partai yang diuntungkan. Thank’s
wassalam
Perkiraan saya, MK akan menolak permohonan itu. Yang diuji oleh MK ialah pasal undang-undang yang bertentangan dengan pasal-pasal UUD 1945. Sembilan partai sebelumnya pernah memohon uji materil terhadap “electoral treshold” tetapi juga ditolak oleh MK. (YIM)
March 14th, 2008 at 7:54 am
Khomsah (komentar #56)
Assalamu’alaikum Wr.Wb. Setelah berkeliling mampir ke berbagai blog yang dimiliki rekan-rekan Indonesia, akhirnya kecantol dengan nama Bang Yusril neh. Baru tau dan baru sekali mampir klo dah ikutan ngeblog juga, Hidup blogger! Semoga bermanfaat artikel-artikelnya ya… Slam dari Kuwait.
March 14th, 2008 at 3:19 pm
Khomsah (komentar #57)
Assalamu’alaikum Wr.Wb. Setelah berkeliling mampir ke berbagai blog yang dimiliki rekan-rekan Indonesia, akhirnya kecantol dengan nama Bang Yusril neh. Baru tau dan baru sekali mampir klo dah ikutan ngeblog juga, Hidup blogger! Semoga bermanfaat artikel-artikelnya ya… Salam dari Kuwait.
Terima kasih atas komentarnya. Salam juga untuk teman-teman di Kuwait. (YIM)
March 14th, 2008 at 3:20 pm
aya electro (komentar #58)
Indonesia mempunyai panorama seindah itu, begitu Indah dunia ciptaan-Nya ini.
March 21st, 2008 at 7:29 pm
Badrut Tamam Gaffas (komentar #59)
Lombok adalah Basis Bulan Bintang di Ujung Timur Nusantara, Jadi tidak salah jika bang yusril datang berbaur dengan masyarakat setempat untuk bersilaturrahim terlebih disana ada Tuan Guru Bajang KH Zainul Majdi, MA yang InsyaAllah tengah berjuang untuk meraih dukungan masyarakat untuk menjadi Gubernur NTB.
Begitulah seharusnya warga NTB memang NTB (Nyoblos TuanGuru Bajang)…jadi kampanye nih
Maaf lagi fokus nih soalnya tengah dekat - dekatnya pilkada disana dan untuk itu tidak berlebihan jika saya mengajak seluruh pemerhati blog ini untuk melihat sejenak profil Tuan Guru Bajang berikut ini :
http://bulanbintang.wordpress.com/2008/02/24/tuan-guru-bajang-demi-ishlahul-ummah-melangkah-di-jalur-perjuangan-syariah/
Terimakasih dan Maju Terus Bang Yusril …Blog Abang Makin Asyik Aja…
March 22nd, 2008 at 7:19 pm
Komariyah (komentar #60)
Assalamu’alaikum, Pak Yusril
Salam kenal sebelumnya…
Saya seorang guru di Jakarta, yang selalu memberi pengajaran dan pendidikan dengan memberi contoh dari apa yang ada di sekitar kita. Membaca tulisan bapak, seluruhnya membuat bertambahnya pengetahuan saya meski dari sudut pandang bapak. belum lama ini pun saya berangkat ke Lombok yang ke tiga kali. Namun seperti yang dituturkan bapak , memang kondisi Lombok tidak berubah jika boleh dibilang aura dan spiritnya. Namun sayangnya meski sudah ke Lombok tiga kali saya belum sempat ke GIli Trawangan dan sekitarnya.
Saya sependapat dengan bapak, Lombok harus maju secara ekonomi dan sosial namun tidak meninggalkan kekhasan daerah yang bersahaja tersebut. Bagaimana kalau kita memulainya dari sisi pendidikan masyarakat Lombok, karena menurut saya dengan pendidikan khususnya yang bersifat kejuruan Lombok secara perlahan membuahkan hasil.
Salam takzim,
Komariyah
Saya sependapat dengan pandangan itu. Pembangunan sosial ekonomi sebuah masyarakat haruslah berasas kepada budaya dan nilai-nilai setempat. Menjadi bangsa yang maju, bukanlah menjadi orang Eropa. Saya tidak ingin melihat bangsa kita mengalami krisis identitas, seperti Orang Barat di Dunia Timur. (YIM)
April 16th, 2008 at 9:10 pm
Pages: « 1 [2] 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda