Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Udara terasa panas ketika kami melintas dengan kendaraan dari Mataram menuju Kuta – nama sebuah pantai indah di Pulau Lombok.
Jarak antara Mataram-Kuta sekitar 70 km, namun kami tempuh dalam waktu lebih kurang satu setengah jam. Kami sengaja mengendarai mobil agak lamban, mengingat lebar jalan yang relatif kecil dan berliku. Sepanjang jalan, saya dapat menyaksikan suasana kehidupan masyarakat desa. Saya senang memperhatikan arsitektur tradisional rumah suku Sasak yang terasa menyatu dengan alam. Rumah-rumah itu terletak di antara rerimbunan dahan-dahan pepohonan, berjajar-jajar sehingga membentuk keindahan tersendiri. Bukan sekali ini saja saya datang ke Lombok. Namun sebelumnya saya hanya datang ke kota. Kali ini saya masuk jauh ke pedalaman, keluar masuk kampung-kampung, dan akhirnya pergi ke Kuta.
Dalam pengamatan saya yang sering pergi ke pantai, Pantai Kuta di Lombok jauh lebih menawan dibandingkan Pantai Kuta di Bali. Kedua pantai ini memiliki nama yang sama, namun kondisinya jauh berbeda. Pantai Kuta di Bali terletak sangat dekat dengan kota. Kawasannya sudah dibangun dan dikunjungi banyak turis, dari dalam maupun dari luar negeri. Pantai Kuta di Lombok masih tergolong sepi. Penduduk sekitar masih diliputi suasana kehidupan perdesaan, dengan bangunan-bangunan relatif sederhana.
Hanya Hotel Novotel yang tergolong mewah di pantai itu. Hotel ini dibangun dengan gaya tradisional Sasak dalam bentuk rumah kampung terbuat dari kayu beratap ijuk dan daun ilalang. Pemandangan dari hotel yang menghadap ke laut nampak sangat indah. Alam masih asri, belum banyak sentuhan tangan manusia.
Ada sejumlah wisatawan asing, dari Eropa, Jepang dan Korea yang sengaja datang untuk menyepi dan menikmati keindahan Pantai Kuta. Kedatangan para wisatawan dalam dan luar negeri itu sedikit banyaknya membantu perekonomian masyarakat di kampung itu. Banyak warung berdiri di tepi pantai menjual keperluan sehari-hari serta makanan dan minuman khas Lombok. Saya ikut minum kopi dan makan nasi di sebuah warung sederhana namun menyenangkan. Meski sudah lama tinggal dikota, selera makan saya tetap saja selera orang kampung. Menikmati ikan bakar dengan sambal dan lalap-lalapan di pinggir pantai, sungguh terasa enak tiada terkira. Kalau 
tak ada wisatawan berkunjung, mungkin warung-warung itu akan mati. Maka biarkanlah segalanya berjalan sebagaimana adanya. Wisatawan boleh datang dan pergi, namun suasana kampung haruslah tetap terpelihara. Suasana kampung yang bersahaja itulah yang membuat segalanya menjadi menarik. Kampung tak perlu diubah menjadi kota. Namun kesejahteraan hidup orang di kampung tentu harus ditingkatkan. Dengan hidup sejahtera itu, orang tidak akan merusak lingkungan, sekedar untuk memenuhi kebutuhan hidup.
Keluar masuk kampung yang tak saya kenal adalah suatu kebahagiaan tersendiri. Saya selalu heran, karena begitu saya masuk kampung – di mana saja di seluruh tanah air – orang-orang di
kampung itu dengan mudah menyapa saya dan mengenal saya dengan baik. Mereka mengatakan sering melihat wajah saya di televisi dan berbagai media cetak, sehingga telah begitu akrab. Di kampung-kampung itu, saya sering diajak mampir ke rumah seseorang yang sebelumnya tak saya kenal. Mereka menyuguhi saya minuman sambil bercakap-cakap dengan orang kampung yang segera saja datang berkerumun.
Dari pengamatan dan mendengarkan cerita orang di kampung itu, saya mengerti suasana hati rakyat. Apa keluhan mereka dan apa harapan mereka. Saya selalu menyimaknya dengan penuh kesungguhan, walau kadang kami tertawa-tawa sambil bercanda. Memang, berjalan kaki menyusuri kampung-kampung memberi inspirasi yang sangat berharga untuk saya renungkan. Saya pun senang memotret suasana kehidupan di kampung. Semuanya saya simpan dalam album untuk menjadi kenangan sepanjang hayat.
Orang kampung di sekitar Pantai Kuta di Lombok hidup dari bertani, berternak, menangkap ikan dan menenun. Kebanyakan mereka menanam padi dan palawija di sawah dan ladang. Mereka banyak
memelihara sapi, kerbau dan kuda. Sebagian mereka melaut menangkap ikan menggunakan perahu nelayan tradisional. Kegiatan menenum dilakukan kaum wanita, menggunakan alat tenun tradisional.Kegiatan menenun itu dilakukan hampir setiap rumah. Ada toko bahan tenunan di pinggir jalan untuk memasarkan hasil tenunan itu, terutama kepada mereka yang berkunjung. Ada pula anak-anak dan perempuan dewasa yang
menjunjung hasil tenunan dan menjajakannya kepada wisatawan yang datang ke Pantai Kuta. Kain tenunan yang nampak bagus itu dijual dengan harga yang murah. Mereka bahkan menawarkan kain sarung untuk laki-laki dengan harga Rp. 20 ribu sehelai. Kain songket relatif agak tinggi harganya. Mulai Rp.600 ribu sampai Rp 1 juta. Namun menenun songket sebagus itu, kadangkala memakan waktu satu bulan lamanya.
Menyimak harga-harga kain tenun yang dipasarkan, saya dapat membayangkan betapa sulitnya mencari uang bagi masyarakat perdesaan. Namun rezeki tentu datang dari mana saja, kalau orang rajin berbuat dan berusaha. Rumah-rumah nampak sederhana,
sebagai cerminan kesedrhanaan kehidupan sosial ekonomi penduduk kampung itu. Mereka hanya membeli sesuatu yang tidak dapat mereka buat sendiri, atau tak dapat diambil dari alam di sekitar mereka tinggal. Ongkos transportasi juga sedikit, karena agak jarang-jarang orang kampung bepergian. Hiburan juga ala kadarnya. Hidup tanpa banyak keinginan dan tuntutan, kadang-kadang menyenangkan juga. Kebahagiaan dan kesenangan hidup, tidak selalu dapat diukur dengan materi dan gemerlap kehidupan perkotaan. Hidup sederhana di kampung, jauh lebih menyenangkan dibandingkan dengan hidup di kota, namun diliputi kemiskinan.
Ketika waktu sembahyang Jum’at tiba, saya menghampiri sebuah mesjid di tepi jalan. Saya membaur dengan orang-orang kampung dengan bersahaja. Namun, tetap saja jemaah mesjid itu mengenal saya. Mereka ingin bersalaman dan menanyakan bagaimana
ceritanya saya sampai ke kampung itu. Saya mengatakan, saya ingin berjalan-jalan dan memarkir kendaraan agak jauh, agar saya dapat berjalan kaki. Istri saya juga ikut dan dia menggunakan payung karena tak begitu tahan ditimpa teriknya sinar matahari. Orang Sasak beragama Islam. Mereka pada umumnya sangat kuat memegang ajaran agama. Saya bertanya kepada mereka tentang ajaran Islam Telu – sinkretisme
antara Islam dan Hindu – di kalangan warga Sasak. Mereka hanya tertawa dan mengatakan bahwa semua penduduk kampung itu menganut Islam Limo, artinya mereka mengerjakan sembahyang lima kali sehari semalam, bukan tiga kali seperti Islam Telu. Islam Telu sudah hampir punah, walau masih ada sedikit pengikutnya di gunung-gunung.
Mengamati kehidupan masyarakat kampung di Lombok makin membuat saya mengerti akan dinamika sosial. Tidak ada sesuatu yang statis. Kehidupan akan terus berubah. Masalahnya hanyalah apakah perubahan itu datang dengan cepat atau lambat. Dalam kasus Islam Telu misalnya, proses purifikasi pemahaman dan pelaksanaan ajaran Islam, cepat atau lambat akan datang juga. Demikian pula aspek-aspek yang lain dalam kehidupan sosial. Arsitektur mesjid di Lombok juga kian berubah, makin dipengaruhi oleg gaya bangunan Mughul dan Timur Tengah. Mesjid-mesjid lama masih menampakkan unsur tradisional Lombok, bahkan pengaruh arsitektur Hindu Jawa dan Bali
masih terasa. Secara subyektif, saya sebenarnya lebih menyukai arsitektur mesjid bergaya lokal, dengan tetap memenuhi ketentuan persyaratan sebuah masjid, terutama arah kiblat yang pas menunju Mekkah al-Mukarramah. Saya sering berkelana di negeri Tiongkok untuk menyaksikan mesjid-mesjid bergaya Kelenteng dengan perasaan takjub. Menjadi Muslim tidaklah harus menjadi seperti orang Arab. Islam menghargai dan menghormati ciri khas budaya suatu bangsa. Sering orang salah paham dengan hal ini.
Ketaatan orang sasak kepada agama Islam memang menakjubkan saya. Saya hampir tak percaya, ketika kawan-kawan di Lombok mengajak saya datang ke sana untuk menyampaikan ceramah dan pidato menyambut Tahun Baru Islam, 1 Muharram. Mereka bilang, kalau anda datang, maka pertemuan itu akan dihadiri tak kurang lima puluh ribu orang. Ternyata, yang hadir mendekati angka tujuh puluh ribu orang.
Sayapun heran, jemaah sebanyak itu dengan tenang mendengarkan pesan-pesan yang saya sampaikan. Mereka menyimak kata demi kata yang saya ucapkan dengan penuh perhatian. Pengaruh ajaran agama terasa begitu dalam bagi kehidupan masyarakat Lombok. Seharusnyalah ketaatan kepada ajaran Islam itu mendorong masyarakat ke arah kemajuan.
Beberapa hari di Lombok, membawa kesan yang dalam ke lubuk hati sanubari saya. Saya merasa memiliki sebuah tanggungjawab sosial dan politik, untuk ikut membawa masyarakat ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih bermakna. Maju secara sosial dan ekonomi, namun tetap berlandaskan kepada nilai-nilai Islam dan ciri khas budaya bangsa kita sendiri. Keadaan sosial ekonomi dan budaya di Lombok, sebenarnya hampir sama saja dengan daerah-daerah lain di seluruh tanah air. Masyarakat ingin sekali maju dan berkembang. Tugas para pemimpinlah untuk membawa mereka ke arah kemajuan itu…
Wallahu ‘alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 4th, 2008
70 tanggapan untuk “PANTAI KUTA DI PULAU LOMBOK”
Pages: « 1 2 [3] Show All
rhakateza (komentar #61)
wah, pak, nggak nyangka bapak ke Lombok sampai ke pelosok-pelosok kampung. Pertama kali melihat judul postingan, saya berpikir “paling Pak YIM mau mengulas pengalamannya menikmati wisata di Lombok”, setelah membaca saya sedikit kaget ternyata Bukan hanya pantainya yang bapak nikmati, melainkan nuansa pedesaan, berbaur dengan penduduk sekitar. Salut, salut…..!!!
Pak kapan Film nya siap tayang? gak sabar neh!!! :D
Seluruh syuting film Cheng Ho akan selesai tanggal 22 April ini. Sesudah itu perlu waktu dua bulan untuk mengisi musik, computer grafis, sound effect serta dubbing dan mixing. Hanya dubbing yang dilakukan di Indonesia (untuk bahasa Indonesia), selebihnya dikerjakan di Bangkok. Metro TV akan menayangkannya mulai tanggal 1 Agustus 2008 sampai April 2009.
April 17th, 2008 at 6:44 am
WiWi (komentar #62)
Pak YIM,
Karena bapak sudah pergi sampai ke pelosok2 Lombok, Bapak mungkin tahu tempat dimana sentra industri tenun Lombok.
Saya bekerja di sebuah industri garment. Buyer saya ( USA ) saat ini sedang mencari kain2 tenun tradisional Indonesia. Karena skalanya untuk industri garment, mungkin kita lebih mengarah ke usaha yang outputnya besar.
Kalau Bapak mengetahui info mengenai tempat di Lombok yang menjadi sentra industri tenun, mohon kiranya bisa memberitahukan kepada saya.
terima kasih.
July 31st, 2008 at 1:23 pm
Abedhian Ahmad (komentar #63)
Sebagai salah satu dari warga Gumi Sasak (Lombok), Saya merasa harus berterimakasih kepada Bapak YIM, karena bagaimanapun, tulisan diatas sekaligus tampil sebagai salah satu promosi dari pulau yang masih tergolong terbelakang. Bapak…. Saya selalu di belakangmu. Jangan pernah berhenti berandil untuk negeri ini.
July 31st, 2008 at 7:41 pm
JASMANSYAH (komentar #64)
THANK YA PA YUSRIL…. SAYA INI ORANG LOMBOK TAPI BELUM PERNAH MENULIS HAL - HAL YANG TERKAIT DENGAN ASAL SAYA, PA YUSRIL YANG BUKAN ORG LOMBOK SUDH MENULIS TTG LOMBOK. MDAH-MUDAHAN MENJADI INSPIRASI BUAT TEMAN2 ASLI LOMBOK
August 20th, 2008 at 9:21 pm
SURIYANAH (komentar #65)
assalamualaikum..saya amat kagum dengan encik kerana dapat beberapa keping foto yang amat menarik di lokasi Pantai Kuta. berbekalkan sumber daripada encik, saya juga ingin meneroka ke kawasan tersebut tetapi masih belum kesampaian kerana saya masih dalam pengajian. walau bagaimana pun, terima kasih saya ucapkan. jangan lupa lampirkan lagi foto-foto kawasan pelancongan menarik yang lain.
August 25th, 2008 at 12:33 pm
Dari Gili Trawangan ke Mataram « Nez dan perjalanannya… (komentar #66)
[...] Senggigi, pantai terkenal disini alah Pantai Kuta Lombok. Kata orang2 termasuk Yusril Ihza Mahendra , pantai ini lebih bersih dan indah daripada saudara kembarnya Pantai Kuta Bali. Kabarnya pantai [...]
August 28th, 2008 at 8:19 am
Oviar Candra Bumi (komentar #67)
Yth. Bang Yusril,
Pertama saya mengharapkan jika Allah memberi amanah unutk memimpin Indonesia, gandakan syaraf keberanian Abang 1000 kali lipat karena Indonesia memerlukan itu.
Kedua, apa yang abang amati di Pantai Kuta Lombok Tengah bisa saya bayangkan karena saya juga pernah berkunjung kesana. Sungguh Indah, bahkan tyerik mataharipun justru menambah indah. Banyak anak kecil berlarian mengejar tamu untuk sekedar beberapa keping rupiah…itulah bagian wajah Indonesia. Apabila satu orang diberi, yang lain bakal mengejar anda untuk mendapatkan pemberian serupa … itu juga bagian wajah Indonesia. Biarkan Pantai Kuta Lombok Indah Alami, tapi jangan lupa makmurkan rakyat disekitarnya.
September 1st, 2008 at 11:18 am
Ed aFief (komentar #68)
Asas demokrasi memberi kebebasan (untuk dipilih dan memilih). Sepenting apa pun seorang Yusril Ihza Mahendara -kala ia mendeklarasikan dirinya menuju RI 1- ia harus menyadari dalam “kali pertama tarikan nafas” bahwa inilah “kredit” demokrasi (untuk Anda).
“Kesan” kita selama ini Bung Yusril adalah “penentang” demokrasi (”berdarah dingin”). Sebuah falsafah bangsa, yang diam-diam justru dinikmati dengan free oleh Bung Yusril, tanpa memberikan “kue” dan “kredit” apa pun terhadap demokrasi itu sendiri. (Dalam bahasa agama, “gaya” semacam ini merupakan watak, maaf saja, seorang munafiq; seorang yang bermuka dua, Wallahu A’lam).
Di belokan itulah, saya ingin berkata (sedikit saja): hijralah dari jalur fundamentalisme berislam (baca: politisasi Islam) menuju demokrasi Islam yang mencerahkan dan menyejukkan, Bung! (Sebab, fundamentalisme adalah “musuh” bebunyutan Islam dan akal sehat. Cukuplah Baasyir Cs, Amrozi Cs, dan Rizieq Cs menjadi pelajaran buat Bung). Jika tidak, maka alternatifnya mudah saja dibaca: Bung akan tetap begitu saja, tidak akan jadi-jadi Presiden! Sebuah kenyataan yang tragis sekaligus meruntuhkan sejumlah tesis dalam “naskah doktoral” Bung, bukan? (Atau saya memang menginginkah begitu).
NB: Catatan Kecil dan Tidak Penting
September 1st, 2008 at 9:08 pm
Debby (komentar #69)
Ass wr wb
Foto2nya indah sekali. Saya yang belum pernah kesana jadi ingin sekali melihat langsung.
Masih banyak keindahan Indonesia ditempat lainnya, namun hanya saja belum terekspos banyak oleh media. Yang ada keindahan2 itu banyak direbut oleh beberapa faktor. Seperti bencana alam, penebangan liar, pengrusakan alam lainnya.
Jika bapak menjadi presiden nanti, tindakan apa yang akan bapak lakukan untuk mengatasi pengrusakan alam Indonesia yang kita cintai ini? karena sepertinya peraturan tetap menjadi peraturan, undang undang mejadi basi selama tidak ada tindakan tegas dan hukuman seberat beratnya bagi pelaku pengrusakan itu. Maybe karena para petingginya sudah di suap oleh para perusak..hehehehe..jadi ingat kasus al amin..
Selain kerusakan alam, rakyat Indonesia sudah sangat amat sangat (sampe dobel kata2 sangatnya) miskin. Banyak para petinggi yang sudah menjabat lalu melupakan begitu saja janji nya, kejadian itu terus berulang seperti sudah menjadi tradisi politik di Indonesia.. Langkah2 apa saja yang bapak lakukan untuk mengatasi hal itu seandainya nanti bapak menjadi presiden?
Satu lagi pertanyaan, kalau hukuman dlm KUHP di ubah, misalnya yang pada awalnya ” dihukum seberat beratnya 50 tahun penjara dan denda maksimal 500 juta..” di ubah menjadi ” dihukum seringan ringan nya 50 tahun penjara dan denda minimal 500 juta..” apakah itu akan membuat orang2 menjadi takut berbuat kesalahan? dan hukum dinegara ini makin maksimal ditegakkan.
Terima kasih bapak. mohon maaf jika ada kesalahan kata atau bahkan menimbulkan salah persepsi. saya hanyalah anak mahasiswi yang ingin belajar banyak dr bapak. sekali lagi terima kasih.
September 3rd, 2008 at 12:46 pm
ryu (komentar #70)
terus terang saya adalah orang yg menjagokan abang utk menjadi presiden,sewaktu bersaing dgn gus dur dulu,,, tp sayang abang mengundurkan diri pada saat detik-detik terakhir pemilihan….melihat dari seluruh tulisan abang, saya akan bertanya kembali kepada abang… apakah orientasi abang utk memajukan negeri ini sama dengan sejarah bangsa kita,… maritim…. karena saya percaya bahwa hanya dengan menjadi negara maritim kita akan menjadi negara yg besar…sukses ya bang
September 16th, 2008 at 12:24 pm
Pages: « 1 2 [3] Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda