Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Seperti diberitakan berbagai media massa akhir-akhir ini, saya telah sampai pada kesimpulan untuk tidak menerima tawaran Presiden SBY menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Dalam beberapa kali pertemuan dengan saya, Presiden bukan saja mengharapkan kesediaan saya menjadi hakim mahkamah itu, tetapi juga, kalau mungkin menjadi ketuanya. Saya menyadari bahwa soal Ketua Mahkamah Konstitusi bukanlah kewenangan Presiden, karena ketua itu dipilih dari dan oleh para hakim Mahkamah Konstitusi yang berjumlah sembilan orang itu. Sebagaimana kita maklum, Ketua Mahkamah Konstitusi yang kini dijabat oleh Jimly Asshiddiqy akan berakhir pada tanggal 15 Agustus 2008 nanti. Sementara itu, Jimly Asshiddiqy, Machfud MD dan M. Akil Mochtar dua hari yang lalu telah dipilih oleh DPR menjadi hakim Mahkamah Konstitusi. Kita belum tahu siapa hakim mahkamah itu yang akan diangkat berdasarkan pilihan Presiden dan Mahkamah Agung.
Pertimbangan utama saya untuk akhirnya menolak tawaran sebagai hakim Mahkamah Konstitusi itu, disebabkan oleh konsekwensi dari jabatan tersebut yang mengharuskan saya mundur dari keanggotaan saya di partai politik. Hakim Mahkamah Konstitusi memang wajib untuk tidak berpolitik, agar putusan yang diambilnya benar-benar objektif dan murni berdasarkan kaidah-kaidah hukum. Saya termasuk salah seorang penggagas, pendiri dan pernah dua kali menjadi Ketua Umum Partai Bulan Bintang. Kini saya menduduki jabatan sebagai Ketua Majelis Syuro partai itu. Saya telah mendengar masukan dan saran dari berbagai pihak dalam struktur partai, baik di pusat maupun di daerah, yang kebanyakan berat hati melepaskan saya dari partai. Memang ada beban moral yang sangat berat bagi saya, kalau harus meninggalkan partai demi jabatan Ketua Mahkamah Konstitusi. Saya bukanlah tipe orang yang dengan mudah keluar masuk sebuah partai. Buat pertama kalinya saya menjadi anggota partai dan partai itu ialah Partai Bulan Bintang. Saya berkeinginan agar inilah untuk pertama dan terakhir kali saya menjadi anggota sebuah partai politik.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa partai adalah alat untuk mencapai sebuah tujuan, dan bukan tujuan itu sendiri. Saya masuk menjadi anggota partai, bukan karena ingin menjadikan partai itu sebagai kuda tunggangan untuk menduduki sebuah jabatan. Kalau demikian keadaannya, saya dengan mudah menjadi anggota partai besar yang sudah mapan. Saya mungkin pula dapat memilih jalan lain sebagai alternatif, misalnya dengan tampil berkprah murni sebagai seorang intelektual dan teknokrat untuk masuk ke jajaran pemerintahan. Sejarah politik negara kita, sejak awal kemerdekaan sampai sekarang, membuktikan bahwa tidak sedikit jumlahnya teknorat non-partai terlibat dalam pengisian jabatan-jabatan kenegaraan. Mr. Asaat misalnya, bahkan pernah menjadi Pemangku Presiden RI, ketika Soekarno menjadi Presiden Republik Indonesia Serikat (RIS). Dr. Ir. Juanda juga pernah beberapa kali menjadi menteri, bahkan menjadi Perdana Menteri RI. Keduanya tidak menjadi anggota partai apapun juga. Dalam kabinet Indonesia Bersatu sekarang ini, cukup banyak pula menteri yang tidak berpartai.
Saya masuk partai dengan sebuah kesadaran dan keyakinan tentang ideologi politik dan cita-cita. Bahkan saya sendiri yang mendraf Tafsir Asas Partai Bulan Bintang, yang merupakan rumusan ideologi resmi partai ini, sama halnya dengan Mohammad Natsir yang mendraf Tafsir Asas Masyumi sebagai rumusan ideologi resmi partai. Saya meyakini dengan sepenuh hati bahwa Islam adalah ajaran agama yang bersifat abadi dan universal. Prose mentransformasi ajaran-ajaran Islamke dalam suatu formula untuk menjawab tantangan zaman pada sebuah negeri dengan problema-problemanya yang khas adalah sebuah proses perumusan ideologi. Ajaran Islam dalam hal kemasyarakatan dan politik pada umumnya adalah bersifat prinsip prinsip dan tidak memasuki urusan yang detail. Hasil rumusannya secara lebih kongkrit dan lebih eksplisit untuk menjawab tantangan zaman pada kurun waktu tertentu dan tempat tertentu, itulah yang kita namakan sebagai ideologi. Saya tidak mungkin meninggalkan partai dengan ideologi yang saya yakini itu.
Kenyataan yang saya hadapi sekarang ialah, PBB hanyalah sebuah partai kecil dengan jumlah pendukung mendekati tiga juta orang atau 2,7 persen dari suara pemilih yang sah, seperti nampak dalam Pemilihan Umum tahun 2004. Saya tidak kecewa dengan kenyataan ini, karena sejarah telah mengajarkan kepada saya, bahwa partai politik di sebuah negara akan selalu saja mengalami pasang surut. Partai kecil bukanlah mustahil suatu ketika akan berubah menjadi partai besar. Sebaliknya pula, partai besar bukan mustahil pula akan berubah menjadi partai kecil. Roda zaman akan terus berputar, generasi demi generasi akan datang silih berganti. Saya ingin Partai Bulan Bintang tetap eksis, walau sekarang kecil, dan partai ini akan diwariskan kepada generasi penerus di masa-masa yang akan datang. Sebuah generasi boleh saja pergi meninggalkan dunia yang fana ini. Namun sebuah ideologi yang mengandung cita-cita yang luhur haruslah tetap hidup untuk selama-lamanya.
Sebab itulah dalam beberapa bulan terakhir ini saya turun ke daerah-daerah untuk menggalang kembali kekuatan partai. PBB memang tidak mengedepankan tokoh karismatik karena semangat ajaran Islam adalah egaliter. Saya tidak ingin menjadi tokoh karismatik selama saya masih hidup, sebagimana juga saya tidak ingin kalau saya sudah meninggal, kuburan saya dikeramatkan orang. Namun kehadiran saya ke daerah-daerah itu sedikit banyaknya akan menggelorakan semangat seluruh jajaran pemimpin partai untuk memperkuat posisi, khususnya dalam menghadapi Pemilihan Umum 2009 yang akan datang. Waktu yang dimiliki tidaklah banyak. Persiapan-persiapan harus dimulai sejak sekarang. Waktu yang tinggal sedikit ini, juga menjadi salah satu pertimbangan saya untuk menolak tawaran menjadi hakim konsititusi. Saya tidak ingin ada anggapan, jabatan di Mahkamah Konstitusi itu hanya sebagai batu loncatan untuk menduduki jabatan lain yang lebih bergengsi.
Jabatan hakim sesungguhnya adalah jabatan profesional. Bukanlah karena saya salah seorang tokoh partai, maka saya ditawari jabatan itu. Saya lebih melihat tawaran itu diberikan kepada saya dalam posisi sebagai gurubesar hukum tatanegara, dan pengalaman saya bertahun-tahun dalam mendraf dan membahas berbagai rancangan peraturan perundang-undangan di negeri ini, termasuk pembahasan Rancangan Undang-Undang tentang Mahkamah Konstitusi itu sendiri. Berkali-kali pula saya tampil menjadi kuasa hukum Presiden RI – baik Megawati maupun Susilo Bambang Yudhoyono — dalam menghadapi berbagai perkara di Mahkamah Konstitusi, tanpa pernah dikalahkan. Bahkan ketika menghadapi Adnan Buyung Nasution yang menjadi kuasa hukum mantan Bupati Bekasi dalam perkara sengketa kewenangan antar lembaga negara, dengan salah satu tergugatnya adalah Presiden RI, saya dapat mematahkan seluruh argumen-argumen yang beliau kemukakan.
Pertimbangan lain yang mendorong saya untuk menolak tawaran jabatan hakim Mahkamah Konstitusi ialah, niatsaya untuk maju ke pencalonan Presiden RI dalam pemilihan umum Presiden dan Wakil Presiden tahun 2009 nanti. Banyak wartawan bertanya kepada saya, apakah saya siap dan sanggup menjadi Presiden. Jawaban saya, saya siap dan sanggup. Namun saya masih memikirkan dan mempersiapkan segala sesuatu agar saya bisa maju dan tentu harapan saya, bisa pula terpilih dalam pemilihan itu. Saya telah terlibat aktif dalam pemerintahan sejak tahun 1994. Pernah menjadi anggota DPR dan MPR, serta tiga kali menjadi menteri. Ketika menjadi Menteri Kehakiman dan HAM, berkali-kali saya merangkap sebagai Menteri Luar Negeri Ad Interim. Bahkan ketika menjabat Menseneg, pernah saya menjabat sebagai Menteri Hukum dan HAM serta Menteri Luar Negeri Ad Interim sekaligus. Saya paham dan mengerti apa yang menjadi tugas dan kewajiban Presiden.
Telah beberapa kali pula saya bekerja di belakang layar dalam membantu tugas-tugas seorang Presiden, sejak Presiden Soeharto, Habibie sampai Susilo Bambang Yudhoyono. Saya telah pernah pula menjadi calon Presiden yang disahkan oleh MPR Tahun 1999 bersama-sama dengan Abdurrahman Wahid dan Megawati Soekarnoputri. Ketika itu banyak sekali yang mendesak agar saya mundur, dengan pertimbangan utama saya masih sangat muda. Waktu itu saya berumur 42 tahun. Saya bersedia saja untuk mengalah untuk memberi kesempatan kepada mereka yang lebih tua usianya. Sepuluh tahun kemudian, tak ada lagi alasan mengatakan usia saya masih terlalu muda dan kurang ilmu serta pengalaman dalam mengelola negara.
Saya menyadari bahwa jalan untuk maju ke pencalonan Presiden memang berat dan berliku. Dengan mengacu kepada Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2003 tentang Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden yang berlaku sekarang, maka pasangan calon Presiden dan Wakil Presiden haruslah diajukan oleh partai politik peserta pemilu baik sendiri atau gabungan, dengan total kursi DPR minimal 15 persen, atau mencapai angka 20 persen suara sah pemilih pada tingkat nasional. Kalau mengacu pada ketentuan ini, dengan melihat pada hasil pemilu 2004, maka hanya Golkar dan PDIP saja yang dapat mencalonkan Presiden dan Wakil Presiden tanpa harus bergabung dengan partai lain. Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla, adalah mustahil dapat dicalonkan dalam pemilihan Presiden dan Wakil Presiden tahun 2004, tanpa Partai Demokrat berkoalisi dengan Partai Bulan Bintang. Jusuf Kalla sendiri ketika itu dalam posisi terpojok, karena dia sedang diskors dari keanggotaannya di Partai Golkar.
Bahwa setelah terpilih, dua kader Partai Bulan Bintang diberhentikan dari kabinet karena antara lain, desakan sejumlah anggota partai besar dan gerilya politik yang mereka lakukan melalui penggalangan publik opini, itu adalah soal lain. Tidak ada koalisi yang permanen. Bagi sebagian politisi — mungkin termasuk Prsiden Susilo Bambang Yodhoyono — mempertahankan kekuasaan tentu sangat penting. Sebab itu kawan lama disuruh pergi dari gelanggang dan lawan lama ditarik masuk menjadi kawan baru untuk memperkuat posisi, adalah suatu hal yang mungkin saja terjadi dalam prilaku politik, walau kalau saya, tentu akan merasa berat melakukannya. Situasi politik telah berubah. Jusuf Kalla telah terpilih menjadi Wakil Presiden, dan dengan posisi itu pula dia terpilih menjadi Ketua Umum Partai Golkar. Sukar membayangkan Kalla akan terpilih menjadi Ketua Golkar, kalau dia bukan Wakil Presiden. Golkar perlu cantolan kekuasaan, setelah calon Presiden hasil konvensinya, Wiranto, kalah dalam pemilihan. Sementara Yudhoyono juga diuntungkan dengan posisi Jusuf Kalla di sana untuk mengamankan posisi pemerintahannya berhadapan dengan DPR. Kursi PBB di DPR tak banyak membantu Susilo Bambang Yudhoyono baik dalam kerjasama, maupun dalam menghadapi penggunakan berbagai hak DPR, mulai dari interplasi, angket bahkan sampai pada kemungkinan dilakukannya “impeachment” oleh DPR kepada Presiden.
Dengan menyadari sungguh-sungguh perjalanan politik seperti saya kemukakan di atas, dan menyadari pula prosedur pencalonan Presiden dan Wakil Presiden sebagaimana diatur dalam UU Nomor 23 Tahun 2003, maka saya tidak mempunyai pilihan lain, kecuali harus memperkuat posisi Partai Bulan Bintang dalam Pemilihan Umum 2009 yang akan datang. Berbagai pihak yang selama ini mengemukakan saran dan harapan agar saya maju dalam pencalonan Presiden dalam pemilu 2009, saya harapkan akan memberikan dukungan kepada Partai Bulan Bintang. Kepada seluruh jajaran pengurus partai, dari pusat sampai ke daerah-daerah, saya serukan untuk bekerja keras dan tidak menyia-nyiakan waktu dan kesempatan yang makin pendek.
Partai Bulan Bintang memang tidak memiliki sumber dana yang besar dalam membiayai kegiatan-kegiatan politiknya. Namun dana bukanlah segala-galanya. Apa yang terutama dilakukan ialah menarik simpati dan dukungan rakyat yang seluas-luasnya, dengan mengemukakan program-program yang sungguh-sungguh menyentuh kehidupan rakyat banyak, terutama kaum tani, buruh dan nelayan, yang menjadi komponen bangsa kita yang terbesar. Meningkatkan kesejahteraan seluruh rakyat adalah cita-cita mulia yang sejalan dengan cita-cita ajaran Islam.
Apa yang saya tulis kali ini mungkin nampak sebagai sebuah impian. Namun, sejarah telah mengajarkan kepada kita bahwa sebuah kisah suksespada awalnya tidak jarang hanyalah sebuah impian, yang mungkin menjadi bahan cemooh dan tertawaan ketika dikemukakan. Apa yang terpenting bagi saya ialah, dapatnya saya membawa bangsa dan negara ke arah kemajuan, melalui suatu perubahan. Perubahan hanya mungkin dilakukan oleh orang yang energik, mengerti seluk-beluk masalah yang dihadapi, disertai dengan kecerdasan dan ketajaman analisa dalam melakukan terobosan, serta keberanian mengambil sikap dan membuat keputusan yang tepat pada moment yang tepat, cepat dan tidak bertele-tele. Momentum untuk melakukan lompatan, seringkali tidak terulang dua kali. Karena itu keputusan yang tepat waktu dan konsistensi dalam menerapkan suatu kebijakan yang benar, akan sangat menentukan keberhasilan membangun sebuah bangsa…
La hawla wala quwwata illa billah al-’aliyyul ’azim.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 16th, 2008
97 tanggapan untuk “PENOLAKAN PENCALONAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI DAN PENCALONAN PRESIDEN 2009”
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
Fachrudin Fasyah (komentar #31)
Iya Pak Yusril …Saya dukung lah jadi Presiden…
Ntar klo jadi Presiden…jadilah Presiden yang baik ya…Bapak
Yang Semua Keputusannya didasarkan atas karena Allah SWT.
Yang memiliki Suri Tauladan Muhammad SAW.
Presiden yang Diridhoi Allah SWT…Amien
March 19th, 2008 at 9:53 am
arif_gendut (komentar #32)
usul pak….kalo boleh..di posting di berpolitik.com pak…
Silahkan saja. Mungkin anda bisa membantu melinknya ke sana. Terima kasih (YIM)
March 19th, 2008 at 10:26 am
khafidhin (komentar #33)
ass.
boss . boss…. sekalian, bagaimana kalo ngadakan acara jumpa Fans ? lalu rembukan bareng-bareng cari cara bagaimana supaya pak yusril BISA MAJU NYALON PRESIDEN. dan yang JADI ketuanya BOSSS JABEE indonesia. ada yang sepakat ?
buat pak YIM ngapunten?.
March 19th, 2008 at 11:28 am
erdian (komentar #34)
gini aja, jika memang sebagian di sini tidak milih PBB tapi milih YIM for President perlu disiapkan lewat blog ini gimana supaya sukses.
March 19th, 2008 at 6:55 pm
Mohammad Natsir (komentar #35)
Asslamammu’alaikum w. wb…
Pa Kabar Bang Yusril ? Kumaha Damang ? :)
Perasaan dah lama sekali gak ’silaturahmi’ ke blog bang yusril…..tahu2 udah banyak tulisan yang baru.
good..good..good writing. I like the way you write sir………….
Alhamdulillah, saya baik-baik saja. Sering-seringlah berkunjung ke blog ini. Insya Allah, saya akan terus mengupdate tulisan-tulisan yang ada di sini. (YIM)
March 19th, 2008 at 6:56 pm
H.M.Ikhsan.Prapansyah,SH (komentar #36)
assalamualaikum w.wb
Nama : H.M.IKHSAN.PRAPANSYAH,SH
Tem/tgl lhr : Padang , Sumbar 23 juni 1985
Alamat : Jalan Gajah Mada no.104 Gunung Pangilun Padang . Hp. 08126777452
Posisi : Komandan brigade hizbullah bulan bintang wilayah sumbar
Pekerjaan : Bisnis
salam hangat bang yusril …
saya sangat setuju dengan langkah yang bapak telah tentukan dengan total memperjuangkan PBB dan tidak menerima tawaran pencalonan hakim konstitusi, karna memang benar kita kader PBB di daerah sangat membutuhkan sosok seperti bang yusri yang cerdas tangkas dan berani sebagai sosok panutan kita untuk tingkat nasional
semoga perjuangan kita di PBB ini bisa mencapai titik maksimal pada pemilu 2009 ini dan insyaallah seluruh anak dan cucu masyumi bisa merasakan betapa bahagia jika berkibarnya bendera islam di republik indonesia
bang saya sebagai kader muda ingin sekali bisa bertemu dan belajar banyak dengan abang
semoga kita bisa bertemu bang :)
wassalam
Insya Allah. Tentu kita dapat bertemu. Saya terbuka saja. (YIM)
March 19th, 2008 at 7:48 pm
ibrahim gayolues (komentar #37)
Bravo pak yusril mahendra… anda adalah bintang flim holiwood indonesia, kapan kira kira diputar dilayar putih ??>
Mengenai niat dan tekat anda maju dalam pilsung presiden RI tahun 2009 yang harus diperhitungkan peta suara di pulau jawa dan diluar pulau jawa…..?? bagi intellektual mungkin akan dipilih calon presiden… tapi bagi non intelktual dia tidak tau …poilitik yang penting ekonomi….dan itu suara tukang becak sama dengan suara seorang profesor tidak ada bedanya dalam hal memilih presiden…..
Apa strategi dan resep fikirkan pak yusril meyakin masyarakat arus bawah memilih anda jadi presiden??????????????
Terima kasih. Saya tentu memperhitungkan segalanya secermat mungkin. Tentang strategi dan taktik yang saya tempuh, tentu tak dapat saya ungkapkan secara terbuka di blog ini. (YIM)
March 20th, 2008 at 9:18 pm
PENOLAKAN PENCALONAN HAKIM MAHKAMAH KONSTITUSI DAN PENCALONAN PRESIDEN 2009 « Indopolitik’s Weblog (komentar #38)
[...] Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 16th, 2008 [...]
March 21st, 2008 at 9:26 am
aini (komentar #39)
salam Pak Yusril.
Setelah membaca artikel ini, saya menjadi lebih jelas tentang lika-liku pencalonan seorang presiden di Indonesia. Terima kasih pula untuk Solo Mama ( komentar # 14 ), karena anda mengangkat isu yg menjadi kekhawatiran anda (jawa-non jawa) dan telah ditanggapi oleh Pak YIM. Menurut pendapat saya, apa yg anda khawatirkan itu memang nyata. Itulah sebabnya isu itu harus dikikis habis dari pikiran yg telah mencuci otak sebagian rakyat kita. Indonesia itu bukan milik suatu etnis tertentu, maka presidennya pun tidaklah harus dari etnis tertentu. Orang Indonesia harus belajar dari rakyat Amerika yg telah mencalonkan presiden mereka dari etnis yg berbeda dari etnis mayoritas. Jadi, Pak YIM tidak perlu ragu lagi untuk maju jadi RI #1. Kalau sampai Pak YIM tidak terpilih hanya karena beliau bukan dari Jawa, maka tamatlah harapan rakyat Indonesia untuk lebih maju, karena mereka sendiri tidak mau dipimpin oleh orang yg berkualitas dan memikirkan nasib mereka. Mau bilang apa lagi. Sulit bagi saya untuk membayangkan suatu dilema yg aneh tapi nyata ini.
Good luck Pak YIM. Doaku selalu agar Pak YIM jadi #1 or at least # 2. Terima kasih.
Terima kasih atas komentarnya. Kalau benar-benar saya masuk ke pencalonan Presiden, maka nasib saya tentulah tergantung kepada rakyat yang memilih. Seperti telah Anda kemukakan, persoalan Jawa non Jawa telah saya jelaskan di Komentar #14. Bangsa dan negara kita takkan pernah maju kalau terus terbelenggu oleh pemikiran yang non rasional dalam memilih pemimpin. Saya berharap, setelah kita berkali-kali mengalami pergantian Presiden, rakyat akan menyadari bahwa seorang pemimpin tidaklah cukup dengan mengandalkan faktor asal-usul etnik dan karisma yang diwarisi belaka. Namun, apapun keputusan rakyat nanti, haruslah kita hormati. Itulah demokrasi. (YIM)
March 22nd, 2008 at 1:11 pm
Yudi Ardiansyah, ST (komentar #40)
Assalamu,alaikum. Wr. Wb.
Salam Kenal Pak Yusril.
Saya salah satu kader PBB yang berasal dari Kota Binjai, kebetulan seikarang posisi saya merupakan Ketua Bulan Sabit Merah DPC PBB Kota Binjai, sekaligus wkil ketua KAPPU DPC PBB Kota Binjai.(Daerah asal Bapak MS. Kaban).
Saya tidak memiliki kemampuan yang memadai untuk mengomentari tulisan - tulisan Bapak. Tapi saya berharap Bapak mau menulis tentang Peran Politik Masyarakat Islam di Indonesia serta tentang pendidikan Politik bagi masyarakat. Dan saya berharap tulisan tersebut menggunakan bahasa yang mudah dicerna oleh masyarakat awam.
saya juga meminta izin kepada Bapak untuk menjadikan beberapa tulisan Bapak sebagai bahan Buletin Mimbar Politik yang merupakan bagian dari Program KAPPU DPC PBB Kota Binjai. Yang mana Buletin Mimbar Politik tersebut akan kami sebarkan kepada masyarakat awam dalam bentuk edisi bulanan. Format Buletin tersebut sudah pernah di bawa dan diperlihatkan kepada Bapak MS. Kaban oleh Ketua DPC PBB Kota Binjai.
sebelumnya saya ucapkan Terima kasih.
Billahi Taufiq Wal Hidayah,
Wassalau’alaikum. Wr. Wb…
Terima kasih banyak. Insya Allah saya akan menulisnya. Di samping itu, saya memang berkeinginan untuk menerbitkan kembali tulisan-tulisan lama yang pernah saya publikasikan mengenai politik Islam. Salah satunya yang telah saya posting di blog ini ialah tulisan mengenai pemikiran Mohammad Natsir. (YIM)
March 22nd, 2008 at 1:38 pm
Tono Triyono (komentar #41)
Assalamu”alaikum Wr.Wb
salam hangat buat pak yusril, kami bangga mempunyai pemimpin seperti anda, muda cerdas dan berwibawa.
namun ada satu hal yang ga kami mengerti dengan diri anda pak. kenapa ketika pemilihan umum yang lalu ketika partai bulan bintang di zhalimi oleh partai islam yang katanya partai bersih kenapa wktu itu anda diam…..
kami dan ikhwan yang lainya tak berdaya sehingga suara kita habis oleh mereka.
mohon maaf atas kata katanya yang aga keras tapi itulah kata hati saya.
kami berharap kepada pak yusril jadilah pak yusril tahun 1999.
makasih mudah madahan kita semua mendapatkan magfiroh dari-Nya Amiiin.
Demikianlah dunia politik. Kadang-kadang kita berhadapan dengan hal-hal yang sungguh tidak menyenangkan. Namun ada kalanya kita harus bereaksi keras, ada kalanya pula kita harus bersabar dan menahan diri serta bersikap persuasif kepada sesama. Apa yang terjadi di masa lalu, baiklah kita jadikan sebagai bahan pelajaran dan introspeksi. Saya sendiri tidak luput dari kekurangan dan kekeliruan dalam menentukan sikap. Namun semua itu saya anggap sebagai bagian dari proses pembelajaran di bidang politik. Kepada keluarga besar Bulan Bintang, saya menyerukan tetaplah berpolitik atas dasar akhlak yang tinggi. Fitnah jangan dibalas dengan fitnah. Kebencian jangan dibalas dengan kebencian. Tunjukkanlah jiwa besar serta kemampuan, walau terhadang kita harus berhadapan dengan kekalahan. Kita harus menang secara terhormat, dan kalah secara terhormat pula. Itulah dinamika politik yang harus kita jalani. (YIM)
March 22nd, 2008 at 4:00 pm
dian nusa (komentar #42)
Ass ww, DARI BINTAN KEPULAU PENYENGAT - TERINGAT KELUARGA DINEGERI SEMBILAN - SEMOGA BANG YUSRIL JADI PEMIMPIN UMAT - DIPILPRES DUA RIBU SEMBILAN ; Sudah lama kita merindukan bahwa memang kita ini bangsa yang besar, tapi kenapa makin lama kita makin kerdil dimata dunia, makin merosot nasionalismenya, makin rendah pertumbuhan ekonominya. Kita memerlukan pemimpin yang cerdas, pemimpin yang tegas, tidak ragu-ragu, tidak kehilangan momentum. Indonesia bangsa yang besar, jumlah penduduknya, sumber daya alamnya, geografis yang strategis, tetapi pemimpinya kecil, tidak ada LEADERSHIP. Semoga bang Yusril dapat mencapai momentum sebagai pemimpin bangsa yang sudah lama dirindukan. Strategi harus dimatangkan, perahu yang kecil (PBB) harus ditingkatan. Perlu kerjasama dengan partai lain, negarawan, intelektual. Rakyat sudah lama muak bang dengan pemimpin, baik dilevel bawah (Bupati/Walikota, Gubernur) maupun level pusat. Sukses bang, kami merindukan pemimpin masa depan yang visioner
March 22nd, 2008 at 5:49 pm
Badrut Tamam Gaffas (komentar #43)
Salam Bang Yusril, Kapan menyempatkan diri hadir di Lumajang…keluarga besar bulan bintang Lumajang sangat respek dengan komitmen abang untuk membesarkan partai…tentu dukungan itu disertai niat untuk meneguhkan perjuangan syariat dan mengedepankan figur pemimpin yang bisa istiqomah memperjuangkan amanat tersebut. Sayangnya Bang Yusril adalah orang yang tepat untuk itu jadi jangan mengelak lagi bang…maju terus dan raih simpati dengan langkah - langkah, pemikiran dan pandangan politik abang untuk Menghijaukan Negeri ini karena PBB adalah Laskar Hijau Pejuang Syariah yang kini perlahan bangkit menggeliat dan BANGKITKAN KEKUATAN HIJAU itu.
Di Bulan Bintang Media Saya menulis tentang YANG MENGGELEMBUNG DAN YANG PECAH
http://bulanbintang.wordpress.com/2007/10/18/yang-menggelembung-dan-yang-pecah/
Semoga Partai Bulan Bintang termasuk yang MENGGELEMBUNG !!! Amien…Ya Rabbal Alamin.
Oh Ya sekalian Ijin Bang, Tulisan tentang Bang Yusril Tentang Pulau Penyengat juga saya adaptasi di Bulan Bintang Media dengan Judul “PENYENGAT DAN TITIK PANCAR SYIAR ISLAM DI ASIA TENGGARA (Bagian 2)”
http://bulanbintang.wordpress.com/2008/03/19/pulau-penyengat-titik-pancar-syiar-islam-di-asia-tenggara-bagian-2/
Terimasaih dan Wassalam
March 22nd, 2008 at 6:57 pm
Syam Jr (komentar #44)
Assalamu’alaikum Wr.Wb.
Saya memahami kalau Bung YIM menolak untuk jabatan hakim konstitusi, tentu saja ya, sebab punya kans untuk RI satu, yang akan lebih bermakna. Tetapi kalau boleh, mungkin anda punya pandangan tentang penolakan calon Gubernur BI oleh DPR. Berikut saya coba sampaikan pandangan sederhana saya yang tidak memahami hukum tata negara, mohon tanggapannya;
Ketika bangsa Indonesia menyatakan kemerdekaanya melalui Proklamasi 17 Agustus 1945 maka terdapat hal mendasar selain mengenai kekuasaan. Disebutkan, ”hal hal mengenai pemindahan kekuasaan dan lain lain akan diselenggarakan secara seksama dan dalam tempo sesingkat singkatnya”. Hal lain lain itu diantaranya adalah yang berkenaan dengan keuangan dan moneter.
Pertama, berdaulat atas diri sendiri yang diwujudkan dalam bentuk kebebasan berfikir, menyatakan pendapat atau kebebasan pers, bermasyarakat, beroraganisasi, menjalankan hukum serta menyelenggarakan pemerintahan, dll, yang secara keseluruhan bermuara pada hak politik setiap warga negara menyangkut hal kekuasaan.
Kedua, setiap warga negara berhak mempertahan wilayah teritorial negaranya. Setiap warga negara berhak untuk memegang senjata dalam konteks mempertahakan kemerdekaannya.
Ketiga, kedaulatan untuk menentukan nilai budidaya, nilai atas kreatifitas dan produktivitas setiap warga negara. Wujud kemerdekaan ekonomi dalam bentuk konkrit nilai tukar atau mata uang. Begitu proklamasi di kumandangkan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta, tokoh tokoh kompeten mulai merancang nilai tukar yang disebut sebagai Oeang Republik Indonesia atau ORI. sebagai ekspresi bangsa yang merdeka.
Selanjutnya Bank Negara Indonesia pada 30 Oktober 1946 mengedarkan ORI menggantikan Gulden dan Yen pada saat itu. Setelah Konfrensi Meja Bundar yang menghasilkan penyerahan kedaulatan pada 25 Desember 1949, dalam hal ini De Javsche Bank bagian dari kerangka warisan Pemerintah Nederland Indie, ditunjuk sebagai bank sentral selanjutnya berubah menjadi Bank Indonesia. Melalui de Javasche Bank diatur ketersediaan uang untuk mampu membayar hutang.
Sebagian pendapat menyatakan hal ini sebagai nasionalisasi de Javasche Bank. Tetapi terasa lebih tepat dikatakan sebagai warisan utang kolonial, pelimpahan utang pemerintahan Gubernur Jenderal Hindia Belanda sebesar 44 triliun rupiah yang baru lunas pada 2003.
Singkat kata, Menerima de Javashe Bank dengan guldennya dam menolak ORI dari Bank Negara Indonesia 1946, suatu keputusan politik yang agaknya merupakan kesalahan sejarah.
Bank Indonesia dalam kebijakan moneter hendaknya terbebas dari pengaruh tekanan kepentingan politik sesaat baik dari representasi mayoritas maupun minoritas di DPR. Pemilihan Gubernur Bank Indonesia yang dipenuhi intrik politik sebagaimana diramaikan di DPR mengindikasikan betapa kepentingan politik sesaat telah mengesampingkan kebutuhan akan pemimpin profesional.
Dua calon yang diajukan berdasarkan hak prerogative presiden tentu merupakan figur terbaik peringkat pertama dari pandangan seorang presiden. Dengan penolakan kedua calon tersebut maka sekarang akan ditampilkan calon terbaik pada peringkat kedua. Adalah suatu keputusan politik ketika para pemimpin kita menerima de Javasche Bank. Seperti sekarang, juga suatu keputusan politik dengan segala resiko yang harus ditanggung oleh rakyat. Dengan penolakan itu berarti terjadi kesalahan sejarah yang kedua kalinya dalam konteks moneter Indonesia.
Terima kasih
Saya berterima kasih atas informasi sejarah yang Anda sampaikan, khususnya tatkala nasionalisasi De Javasche Bank. Seingat saya, nasionalisasi De Javasche Bank dilakukan oleh Menteri Keuangan Jusuf Wibisono pada masa Kabinet Wilopo. Jadi sesudah Persetujuan KMB akhir Desember 1949. Saya ingin menelaah kembali soal hutang Pemerintah Hindia Belanda yang kita warisi akibat nasionalisasi De Javasche Bank itu.
Soal pemilihan Gubernur BI, adalah konsekuensi dari independennya Bank Sentral kita dari Pemerintah, setelah munculnya UU Bank Indonesia yang baru. Amendemen UUD 1945 juga menegaskan sifat independensi itu. Sejalan dengan keinginan untuk memperkuat posisi DPR, maka proses rekrutmen pencalonan Gubernur BI dilakukan oleh Presiden, dengan meminta persetujuan DPR. Disinilah “politicking” itu mulai terjadi. Hal yang sama juga terjadi dalam proses rekrutment Panglima TNI dan Kapolri, yang banyak saya kritik ketika PAH MPR membahas rancangan amandemen UUD 1945. Kita memang menghadapi dilema. Kita telah berpengalaman dengan sangat kuatnya posisi Presiden sebelum amandemen UUD 1945. Sebab itu, ada keinginan untuk menciptakan “check and balances” dengan menyeimbangkan atau “memperkuat” posisi DPR. Namun akhirnya, penolakan DPR itulah yang terjadi. Di masa depan, bukan mustahil pula calon Panglima TNI dan Kapolri juga akan ditolak oleh DPR.
Mengenai penolakan dua calon Gubernur BI itu, saya belum dapat menganalisa dampaknya bagi kepentingan bangsa dan negara. Bagi Presiden sendiri, memang tidak mudah memilih calon Gubernur yang benar-benar kompeten. Kerumitan yang sama — bahkan lebih rumit — jika calon Panglima TNI atau Kapolri ditolak oleh DPR, sebab mereka yang dapat diajukan oleh Presiden telah dibatasi oleh UU. Bagaimana kalau semuanya ditolak DPR? Ini soal yang cukup rumit. (YIM)
March 23rd, 2008 at 2:36 pm
Mohammad Novel Damopolii (komentar #45)
Ass wr wb
Bravo..bang..Keep Going..Never Give Up..
Bang..kpn ke Sulut..dan kalau ke Sulut,mhn mampir di Bolaang Mongondow..
Bagi Kami, Abang adalah “Bogani”nya Orang Mongondow..(
“Bogani adalah Pemimpin/Raja di Bolaang Mongondow, dan memiliki sifat Bijaksana,Gagah berani dan pantang menyerah).
Wassaamu alaikum wr wb
Insya Allah saya akan ke sana. Jadualnya sedang kami bahas dan persiapkan. (YIM)
March 23rd, 2008 at 3:12 pm
fadhil ZA (komentar #46)
Ass wr wb
Maju terus Bang Yusril semoga sukses
Bersama Allah tidak ada yang tidak mungkin , terus focus untuk RI 1
Do’a dan harapan kami menyertai Bang YIM
Wassalamu alaikum wr wb
Terima kasih atas dorongannya Bang Fadhil. (YIM)
March 23rd, 2008 at 7:45 pm
adila (komentar #47)
assalamu’alaikum wr. wb
bang YIM maju terus pantang mundur
salam hangat dari pemuda bulan bintang sidoarjo
kapan berkunjung kesidoarjo, jenguk dong bang korban lumpur lapindo atau ditunggu tulisannya tentang lapindo dilihat dari sudut pandang hukum.(siapa yang salah? atau adakah yang perlu disalahkan? atau tidak ada yang salah atau yang lainnya) mohon sedikit pencerahannya bang?
www
March 23rd, 2008 at 8:31 pm
ku5ya (komentar #48)
Kita ikut trenyuh dengarkan tekat yang begitu dalam dari bang YIM.
Namun kalau jadi berhasil bang tolong keluarkan tekat itu dalam bentuk strategi praktis yang dapat termanifestasi dari karya- karya anak bangsa bangsa.
Selama ini kita yang banyak hanyalah mengumpulkan kepedihan yang menyesak dalam dada yang seolaholah siap kita muntahkan dalam merubah budaya.
Namun bila kesempatan sudah dalam genggaman, tiada daya dan upaya selain dari ber”apologi” dan cari “kambing” warna “hitam”
Klo tekad abang tu kito rang dokung………………
March 23rd, 2008 at 9:15 pm
koohar (komentar #49)
Salam bagi Pak Yusril sekeluarga…
mencermati komentar bapak di beberapa tulisan di atas, saya sangat memahami bahwa perjuangan bapak sangat besar untuk membuktikan bahwa PBB masih solid. dengan menghadiri acara di beberapa daerah tentu bapak bisa menilai bagaimana kondisi PBB sekarang ini menjelang 1 tahun sebelum pemilihan umum. hitung-hitungan politik sangat perlu dilakukan untuk mengetahui posisi PBB terhadap partai lainnya. pilihan politik selalu berubah setiap saat tergantung situasi yang berkembang. dan saya pun berharap semoga konstituen PBB di berbagai daerah bisa konsisten terhadap pilihan politiknya. dan membangun jaringan untuk kemenangan bersama.
saya agak kuatir bila dukungan yang diberikan oleh konstituen hanya sekedarnya tanpa menjiwai makna dari setiap perjuangan Partai Bulan Bintang. saya mengajak kepada seluruh masyarakat untuk memberikan dukungannya secara penuh. karena kemenangan kita sebagai warga PBB akan sangat berpengaruh demi terciptanya perubahan di republik ini. tentu pak yusril memahami bahwa selama ini dalam kurun waktu antara 1999 hingga pemilu 2004 jumlah pemilih PBB tidak meningkat siknifikan. faktor utama tentunya terletak dari manajerial pimpinan PBB di daerah yang tidak dapat dilepas dari pantauan bapak. fakta yang terjadi di belitung timur misalnya. semestinya masyarakat bulan-bintang pada pilkada 2004 memenangkan pasangan yang di usung oleh PBB sendiri, namun hal itu sangat jauh dari harapan. personalitas seseorang tokoh di daerah ternyata lebih menjual bagi partai, meskipun partai itu kecil. oleh karena itu pada pemilu legislatif nanti, semoga bapak bisa menempatkan figur-figur yang mampu untuk memberikan perubahan bagi daerah dan memiliki nilai jual yang menguntungkan bagi partai. maka “stock lama” yang telah gagal dalam membangun daerah sudah semestinya diganti dengan figur-figur dan tokoh-tokoh daerah yang dikenal dan disukai oleh masyarakat, tentunya memiliki pengetahuan dan kapasitas yang memadai. namun semua itu dilakukan dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu. maka DPC dan DPP harus mulai menjaring tokoh-tokoh lokal ini. karena kemenangan lokal adalah menjadi akar dari kemenangan PBB secara nasional.
semoga kedatangan pak yusril ke beberapa daerah di tanah air ini semoga akan memberikan dampak yang positif bagi kemenagan PBB pada PEMILU 2009 nanti. wassalam
KOOHAR
March 24th, 2008 at 1:09 am
Andi Bachtiar (komentar #50)
Dengan seksama saya membaca tulisan Abang tentang dasar penolakan menjadi calon hakim konstitusi dan saya juga mengerti mengapa Seorang Yusril ihza Mahendra harus dengan serius dan berani menyatakan untuk siap menjadi calon presiden. Saya sangat setuju dengan keinginan abang untuk tetap mencalonkan diri sebagai presiden dengan terlebih dahulu melakukan konsolidasi Partai pada tiap tingkatan dan terus melakukan safari ke daerah-daerah agar Abang ” mangkin ” dikenal dan dekat dengan rakyat sehingga tiket intuk menjadi calon presiden dapat dengan mudah diperoleh tanpa harus berharap untuk berkoalisi dengan partai lain.
kemampuan Intelektual dan pengalaman yang Abang miliki dengan 3 ( tiga ) kali menjadi Menteri dan berkali-kali menjadi pemain di belakang layar untuk menjadi pembantu presiden dan mantan Presiden dalam berbagai persoalan sudah sangat cukup memenuhi syarat buat abang untuk menjadi Presiden terlepas dari intrik-intrik kotor yang akan digunakan oleh lawan-lawan politik untuk menjegal abang dari bursa pencalonan kelak, Walllahu alam bi sawab ?? tapi bukankah itu sebagai salah satu fenomena yang mau tidak mau akan dan harus kita hadapi ?? so,,,siapa takut ?? Ayo bang terus maju pantang mundur.
Sekedar harapan jika mungkin di penuhi. Saya punya rencana pulang ke Indonesia ( kabupaten Dompu ) pada akhir oktober tahun ini dan dengan rencana kepulangan saya ini ada beberapa keluarga dan temen-temen dekat yang meminta saya untuk ikut calon anggota DPRD kabupaten Dompu pada pemilu 2009. sampai saat ini saya belum menanggapi harapan sebagian keluarga dan teman saya itu karna saya cukup paham dan sadar bahwa saya bukan kader partai tertentu dan saya gak yakin ada partai yang mau menerima saya untuk serta merta menjadi calon anggota legislatif hanya karna baru pulang dari Amerika. dalam kesempatan ini mungkin Bang Yusril bisa memberikan arahan buat saya dan Mohon maaf kalau media ( Blog ) yang saya gunakan untuk menyampaikan masalah ini tidak tepat dan jika Bang Yusril berkenan untuk menanggapinya, harap arahan atau masukan Abang untuk masalah saya ini dikirim ke email saya, daengkempo@yahoo.com. sekali lagi mohon maaf dan terima kasih atas tanggapannya.
Wassalam
Andi Bachtiar
March 24th, 2008 at 5:40 am
aditya (komentar #51)
Assalamualaikum Wr Wb…
Bagaimana agendanya dilampung bang, semoga selalu memberikan pencerahan terhadap kader-kader Bulan bintang dan masyarakat lampung umumnya, dengan ceramah dan tausiah dari abang sebagai Ketua Majelis Suro Partai Bulan Bintang, amin….
perjalanan abang kedaerah memang terkadang disambut dengan sangat antusias oleh masyarakat tempat-tempat yang abang datangi, namun sayang kunjungan tersebut terkadang juga belum di koordinir dengan baik, hingga visi yang abang sampaikan mengawang-awang bagi sebagian masyarakat yang abang kunjung. untuk itu saya berharap semoga abang sesegera mungkin membentuk tim guna mengkoordinir daerah-daerah hinggga pesan yang abang sampaikan sepenuhnya sampai kepada konstituen….
terimakasih…….
March 24th, 2008 at 10:15 am
Rahmat Aji (komentar #52)
Ada pertanyaan nih bang.
Jika keadaan terbalik, anda sebagai presiden dan pak sby jadi anda. Anda yang dibantu pak sby jadi presiden, trus pak sby diangkat menteri oleh anda, kemudian kena kasus seperti yang bapak alami sebelum pemberhentian dari jabatan menteri. What do you do?
Trus satu lagi, saya ingat betul waktu gusdur terpilih jadi president, bang yusril menangis terisak sekali waktu itu? Ada perasaan haru, puas, bangga, kesal, campur aduk kelihatannya. Waktu itu apa yang abang rasakan kok sampe histeria seperti itu?
Sebagai pimpinan saya tentu harus membela “anak buah” (dalam hal ini Presiden dengan menteri) kalau dia berada pada posisi yang benar. Presiden tahu bahwa kasus “Uang Tommy Soeharto” dan “Kasus AFIS” adalah rekayasa politik dengan membentuk poini publik dan tujuan sesungguhnya adalah mendesak saya agar keluar dari kabinet. Presiden sendiri sudah meminta Ketua Timtas Tipikor Hendarman untuk menyelidiki kasus “Uang Tomy” itu namun tidak menemukan kesalahan hukum apapun. Dalam kasus AFIS Presiden juga tahu bahwa tidak ada kesalahan hukum di sana. Putusan Pengadilan Tinggi terhadap kasus ini dengan terdakwa Zulkarnain Yunus, akhirnya menegaskan bahwa keputusan saya selaku Menkeh HAM memilih metode penunjukan langsung dalam pengadaan proyek AFIS telah sesuai dengan peraturan perundang-undangan. Motif Zulkarnain melakukan korupsi juga tidak terbukti. Demikian putusan Pengadilan Tinggi Jakarta atas kasus yang diramaikan itu. Bagi saya, pemimpin tidak boleh mengalah pada “tekanan publik” melalui media cetak tertentu. Namun saya pribadi, tidak mempersoalkan lagi keputusan Presiden mengeluarkan saya dari kabinet. Saya berpikir legalistik saja karena adalah hak prerogatif Presiden untuk mengganti menteri.
Ketika mengundurkan diri dari pencalonan Presiden tahun 1999 memang ada gejolak batin yang dalam pada diri saya. Perasaan begitu berkecamuk. Bayangkan, kans saya untuk memenangkan pemilihan sebenarnya ada. Tetapi saya harus mundur. Memang ada perasaan sedih dan haru — namun tidak histeris seperti anda katakan — karena kesempatan seperti itu takkan terulang lagi untuk kedua kalinya. Setelah itu Presiden tidak lagi dipilih oleh MPR. Mungkin karena saya mundurlah maka Gus Dur menang dalam pemilihan. Dari awal sebenarnya saya ragu akan kemampuannya menjadi Presiden. Tetapi semua itu akhirnya terjadi. Saya akhirnya menjadi menteri di bawah Presiden Abdurrahman Wahid. Tapi kemudian, saya diberhentikannya. Itulah perjalanan hidup, tak perlu disesali. Mudah-mudahan masih ada kesempatan bagi saya di masa yang akan datang. (YIM)
March 25th, 2008 at 12:43 am
daffa (komentar #53)
“ Kursi PBB di DPR tak banyak membantu Susilo Bambang Yudhoyono baik dalam kerjasama, maupun dalam menghadapi penggunakan berbagai hak DPR, mulai dari interplasi, angket bahkan sampai pada kemungkinan dilakukannya “impeachment” oleh DPR kepada Presiden “
Saya tertarik dengan pernyataan bapak diatas, kalau boleh saya sumbang saran dan kritik, maka saya hanya ingin mengatakan agar bapak dapat mereview kembali mekanisme perekrutan calon anggota legislatif dari partai bapak, karena kalau saya lihat sekarang dari sedikit anggota DPR dari partai bapak hanya ada 2 nama yang sering tampil dimedia dan dijadikan nara sumber berita dengan gaya dan argumen yang lumayan cerdas dan memikat yaitu bapak Muhtar ngabalin dan saudara Yusron Ihza Mahendra , terlepas ada pro dan kontra terhadap berbagai pernyataannya, namun publik dapat melihat bahwa ini lho wakil dari PBB.
Maaf bukan saya mengecilkan nama-nama anggota DPR dari PBB yang lain seperti, Sdr M Fauzi, M Tonas, Bapak Jamaludin Karim, Abdulrahman saleh, bapak Nizar dan yang lainnya. Mungkin mereka mereka ini adalah orang pintar dan hebat dari berbagai disiplin ilmu, namun suka-tidak suka untuk menjadi anggota DPR perlu kemampuan tambahan yaitu kemampuan berdebat dan memainkan isu yang berkembang, sehingga publik bisa mengetahui bahwa ini anggota DPR dari PBB melalui kiparahnya yang selalu dijadikan Nara sumber oleh berbagai media.
Jadi saya harap PBB untuk kedepan dapat melihat kader-kader mana yang pantas menjadi anggota legislatif dengan melalui proses yang lagi trend yaitu Fit dan propertest , jadi bukan karena kedekatan dengan pimpinan partai yang mempunyai kewenangan memainkan nomor urut calon legislatif.
Maaf, jangannkan publik diluar PBB, simpatisan PBB pun banyak yang tidak tau siapa-siapa saja yang menjadi wakil PBB di DPR
Jadi biar menjadi iklan kampanye partai, maka anggota legislatif dari PBB harus dapat memainkan isu yang bekembang, berbicara dan berdebat dengan argumen-argumen yang cerdas dan memikat. Karena menurut saya walaupun sedikit namun apabila mempunyai kemampuan seperti yang saya sebut diatas, maka akan terlihat sangat efektif.
Jadi saya kira PBB terkesan ditinggalkan oleh SBY, bukan dikarenakan sedikitnya wakil PBB di DPR namun karena kemampuan wakil PBB nya di DPR dalam membantu SBY menangkal ISU-Isu yang berkembang dengan berbagai cara seperti memberi statement dimedia, berbicara dan berdebat dengan argumen-argumen yang cerdas dan memikat,
Maka menurut saya hitung-hitungan yang masuk akal kalau SBY terkesan meninggalkan PBB, karena publik hanya tau bahwa anggota PBB yang menonjol hanya pak Yusril saja.
Bagaimana bisa membantu SBY , membantu Pak Yusril saja dalam menangkal isu dan Opini terkait Kasus Tomy ( Paribas ) dan Alat bantu sidik jari (AFIS) tidak kelihatan, hanya ada yang saya lihat yaitu “ Bang Hamdan Zoelva” yang sekarang bukan anggota DPR lagi.
Sampai disini aja pa Yusril, terima kasih
Maaf kalau gaya tulisannya tidak enak dibaca HE HE HE
Sukses selalu buat pa yusril semoga tercapai segala harapannya
Salam buat bang Hamdan Zoelva, 2009 jangan jadi calon diwilayah yang ngak jelas, sayang kemampuannya bila tidak menjadi wakil PBB di DPR.
Buat anggota PBB diLegislatif tolong intropeksi diri dengan kemampuannya, jangan maksain mau jadi anggota legislatif kembali. Jangan mentang-mentang deket dengan pimpinan partai yang mempunyai kewenangan memainkan nomor urut calon.
Saya berterima kasih atas saran dan kritik yang Anda kemukakan. Hal-hal yang Anda ungkapkan itu memang menjadi keprihatinan saya juga. Saya ingin belajar dari kesalahan dan kekurangan, untuk memperbaikinya. Mudah-mudahan masih ada kesempatan untuk memperbaiki segala kekurangan dan kesalahan yang ada, untuk tampil lebih baik lagi di masa sekarang dan masa depan. (YIM)
March 25th, 2008 at 9:49 am
Syamsudin Noor (komentar #54)
Abang, kenapa tidak mampir ke Kab Tanah laut di Kalimantan Selatan? Padahal simpatisan abang banyak yang mengharapkannya.
Selamat Cheng Ho menuju RI 1
Minggu lalu saya datang sebentar ke Kalimantan Selatan. Saya sempat bertemu dengan beberapa pengurus wilayah PBB, anggota DPRD dan Bupati Hulu Sungai Tengah. Saya sedang menyusun jadual untuk pergi ke beberapa daerah di Kalsel. Sdr. Jamaluddin Karim, anggota DPR RI dari Kalsel, sedang membantu saya mempersiapkannya. Terima kasih atas komentarnya (YIM)
March 25th, 2008 at 1:07 pm
hanyfa (komentar #55)
Secara pribadi jujur saya akui bahwa bapak YIM ini salah satu dari sekian banyak tokoh Islam Indonesia yang saya kagumi pemikiran-pemikirannya. Yang sangat kagumi dari bang YIM adalah ketika bang YIM memberikan pandangan tentang pentingnya syari’at Islam tegak di Indonesia. Dengan kerangka berpikir yang terstruktur dan sistematis pikiran-pikiran abang sangat enak untuk dibaca dan diselami. Namun bang, ada sedikit kekhawatiran saya apakah pemikiran abang tentang syari’at Islam akan teraplikasikan setelah abang nanti misalkan ditakdirkan Allah untuk menjadi Presiden RI? Bukankah sampai saat ini masih banyak orang2 muslim Indonesia, bahkan tokoh Islam sekalipun, yang alergi dengan istilah penegakkan syari’at Islam? Apa yang akan abang lakukan menghadapi orang2 seperti itu?
Bang YIM, mungkin saya salah satu di antara sekian banyak orang yang sangat merindukan tegaknya syari’at Islam di Indonesia. Sudah banyak tokoh Islam, baik yang berasal dari partai Islam ataupun ormas Islam, yang berjuang dengan sungguh2 untuk tegaknya syar’i, namun apa yang terjadi? Setiap kali berjuang setiap kali itu pulalah kegagalan demi kegagalan kerap tidak mau beranjak dari mereka. yang pada akhirnya muncul image bahwa penegakkan syari’at itu lebih dekat dengan kegagalan.
Saya cuman bisa berdo’a mudah2an perjuangan abang untuk tegaknya syari’at Islam tidak hanya dalam tataran konsep, tapi juga direalisasikan dalam wujud yang nyata dengan, tentunya, ikhlas karena mengharap ridla Allah semata tidak ditumpangi dengan muatan2 lain yang dapat merusak syari’at itu sendiri. Amien.
Selama saya menjadi Menteri Kehakiman dan HAM maupun menjadi Mensesneg, transformasi dari syariah Islam ke dalam hukum nasional dan peraturan daerah (Qanun di Aceh) berjalan tanpa hampir tanpa masalah yang berarti. Saya dengan hati-hati melakukan proses transformasi itu dengan dilandasi oleh semangat intelektualisme yang dalam. Ketika membahas RUU itu di DPR kadanglkala secara tegas saya katakan bahwa pasal tertentu dari RUU adalah transformasi dari asas-asas hukum Islam, kadang-kadang saya diam saja tanpa menyebutkannya. Namun dalam hal RUU Pemerintahan Aceh dan RUU Otsus Papua, sikap saya tegas. Dengan penjelasan yang simpatik, dan argumen-argumen yang dapat dipertanggungjawabkan, serta menunjukkan kemasalahatannya bagi kepentingan bersama, akhirnya semua fraksi-fraksi, termasuk mereka yang non Muslim dapat menerimanya. Masalah ini kuncinya ada dua, pertama argumen dan kedua seni untuk meyakinkan pihak lain. Insya Allah semuanya akan berjalan baik. (YIM)
March 26th, 2008 at 3:39 pm
Rambu Ballakan (komentar #56)
Anda sangat simpatik sekali dengan gagasannya. Sekalipun saya seorang yg beragama Kristen saya jadi ingin ingin coblos partai anda. Apakah ada dalam hati anda kalau ada kesempatan untuk mebuat negara Indonesia menjadi Negara Islam seperti Iran?
Dalam hati dan pikiran saya, Indonesia tetaplah Indonesia. Tiap-tiap negara memeiliki latar belakang sejarah, budaya, komposisi penduduk, komposisi geografi, sosial dan ekonomi serta sejarah politik yang unik. Ada kesamaan yang bersifat umum, namun detik-detilnya sangat berbada.Saya bertitik tolak dari realitas yang kita hadapi, dan berusaha maksimal, baik dalam tingkat gagasan maupun tindakan, untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi untuk menuju keadaan yang lebih baik.
Islam adalah agama universal. Ajaran-ajaran Islam bersifat abadi. Dalam hal penataan kehidupan masyarakat, bangsa dan negara, serta solusinya, ajaran Islam memberikan petunjuk-petunjuk untuk itu. Umat Islam menggunakan petunjuk-petunjuk itu untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang mereka hadapi pada suatu zaman dan tempat tertentu. Karane prinsip-prinsip itu bersifat universal, maka pada umumnya hal itu juga menyangkut kepentingan semua manusia, baik Muslim maupun bukan Muslim. Negara Republik Indonesia dengan Undang-Undang Dasar Negara RI Tahun 1945 dilihat dari sudut pandangan saya, adalah pengejawantahan prinsip-prinsip sosial politik yang diajarkan Islam untuk menjawab tantangan dan sekaligus penataan kehidupan bangsa dan negara Republik Indonesia. Saya lebih menekankan kepada substansi universalitas itu, dan tidak menekankan kepada nama dan istilah.
Tentu negara kita masih banyak kekurangannya, dan kekurangan itu menjadi tanggungjawab kita bersama untuk mengatasinya.
Indonesia tentu takkan menjadi seperti Iran. Konstitusi Republik Islam Iran sekarang, adalah sesuatu yang sesuai dengan harapan dan keinginan rakyat Iran. Tidak mungkin konstitusi Iran diterapkan di negara kita, yang sejarah, latar belakang budaya serta lainnya berbeda.
Saya mengucapkan terima kasih atas komentarnya. (YIM)
March 27th, 2008 at 1:57 am
Irwan Syarif (komentar #57)
Ass.Wb.
Salam hangat buat bang yusril..
Kami turut doakan semoga bang YIM dapat maju dalam pilpres 2009 agar dapat membawa perubahan-perubahan yang signifikan terutama dalam penegakan hukum di tanah air, termasuk proses perekrutan calon hakim yang profesional, transparan dan objektif, mengingat proses tersebut masih sarat dengan hubungan kekerabatan.
Maju terus pantang mundur…………salam.
March 27th, 2008 at 12:58 pm
fauzi rahman (komentar #58)
oke deh pak ,aya dukung kalau bapa mau jadi presidenmah . semoga sukses di pilpres 2009
March 27th, 2008 at 9:42 pm
aini (komentar #59)
salam lagi Paak Yusril. saya baru saja membaca artikel di tempo yg memberitakan tentang saran dari ahli yg berkompeten bahwa untuk Pemilu 2009 ini , hendaknya dari tiap partai mengumumkan calon pasangan pres dan wapres. Juga perlu diadakan debat publik. saya pikir itu pendapat yg sangat menarik sekali. untuk soal debat, saya tidak meragukan lagi bahwa Pak YIM akan siap. kalau boleh usul, bagaimana Pak YIM kalau bapak juga usul kepada mereka bahwa para calon presnya juga perlu diadakan brain imaging. bukan hanya proper test fisik biasa seperti jantung, paru-paru dsb. tetapi yg ini sangat penting. dengan brain imaging itu, nanti bisa dilihat keadaan otak para calonnya itu apakah ada yg abnormal pada salah satu systemnya, karena ini akan mempengaruhi judgment sang pres. waktu melaksanakan tugas yg berat itu. kalau usul ini diterapkan saya yakin Pak YIM juga akan memenuhi syarat. terimakasih.
Saya tidak keberatan dengan susul Anda. Namun seperti kita maklum, banyak sekali kepentingan politik dan personal, ketika berlangsung pembahasan RUU Pemilihan Presiden di DPR sekarang ini. (YIM)
March 28th, 2008 at 7:12 am
Erry Choirie (komentar #60)
Yth. Prof YIM
Assalamu Alaikum Wr Wb
Saya selalu mengikuti tulisan-tulisan Prof melalui blog ini. Bagi saya YIM tetaplah seorang sosok intelektual di bidang Hukum Tata Negara dan pemikiran Islam, meskipun telah lama berkecimpung di dunia politik dan beberapa kali menjadi menteri.
Sebenarnya, saya salah seorang yang berharap Prof YIM masuk di Mahkamah Konstitusi, dan kalau bisa menjadi ketua lembaga tinggi negara itu. Karena Prof YIM memilih tidak menerima tawaran Presiden, dengan alasan yang dikemukan, saya dapat memahaminya.
Kebetulan saya adalah salah satu editorial koran lokal yang terbit di Sulawesi Tengah, apakah Prof YIM, tidak keberatan sekiranya tulisan ini, saya muat di koran kami. Terus terang, banyak pihak yang ingin mengikuti pemikiran-pemikiran Prof YIM tapi mungkin tidak semua orang dapat mengakses blog ini.
Sekiranya berkenan mohon email Prof YIM dikirim ke email saya, untuk saya memberikan identitas diri dan koran di mana saya bekerja.
Satu lagi Prof, apakah tidak ada rencana untuk menerbitkan buku seputar dinamika ketatanegaraan kita dalam waktu dekat. Saya yakin tulisan Prof YIM, senantiasa ditunggu banyak pihak.
Wassalam
Terima kasih banyak. Silahkan saja tulisan ini dikutip oleh media anda. Email saya seperti tertera di blog ini yusril.ihzamahendra.com
March 28th, 2008 at 8:56 am
Pages: « 1 [2] 3 4 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda