Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Dalam kurun waktu sebulan terakhir ini, dua kali saya pergi ke Lampung. Daerah ini memang mempunyai kenangan tersendiri bagi saya. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu, pertama kalinya saya menginjakkan kaki di Bumi Lampung, dengan menumpang bis dari Terminal Grogol, terus menyeberang Selat Sunda dan sampailah ke Bumi Lampung. Ketika itu saya masih menjadi mahasiswa merangkap menjadi juragan perahu layar. Seorang kawan membawa perahu milik keluarga kami ke Lampung, dan peristiwa malang terjadi. Perahu itu terbawa arus yang berputar di Pulau Sertung, antara Pulau Sibesi dengan Pulau Krakatau. Perahupun
tenggelam, namun awak beserta nakhodanya dapat diselamatkan kapal patroli TNI Angkatan Laut dan dibawa ke Pulau Sibesi. Berhari-hari saya berusaha untuk mengangkat perahu yang tenggelam, namun sia-sia. Akhirnya seluruh awak saya bawa pulang ke Jakarta melalui jalan darat. Mereka akhirnya kembali ke kampung kami di Pulau Belitung melalui Pelabuhan Pasar Ikan, Jakarta.
Kenangan tiga puluh tahun yang lalu itu masih membekas dalam ingatan saya. Pulau Krakatau, yang sebelumnya
hanya saya kenal melalui buku-buku, tiba-tiba telah berada di depan mata. Saya mencoba mendarat di pulau itu, namun pasir terasa panas karena gunung api yang masih aktif. Menginap beberapa malam di Pulau Sibesi membawa kenangan tersendiri pula. Kepala Desa pulau itu begitu baik kepada kami yang datang ingin menyelamatkan perahu yang tenggelam. Beliau menyediakan penginapan sederhana di pulau itu. Saya menyempatkan diri pergi memancing dan menangkap kepiting Krakatau yang nampak unik. Kepiting itu berada
di lereng gunung, dan tinggal di dalam lobang-lobang di sela-sela akar pohon hutan. Ketika kembali ke darat, di Kota Kalianda, saya diajak seorang teman untuk mandi di kolam air belerang. Air belerang itu mengalir melalui sungai kecil dan juga muncul dari dalam tanah. Bau belerang sungguh menyengat, mengingat tingginya kadar belerang di dalam air itu. Air belerang yang berhawa panas itu bersumber dari Gunung Rajabasa, tak jauh dari Kota Kalianda. Waktu itu, kolam air belerang itu masih sangat alami. Belum ada jalan, kecuali jalan setapak. Kolam belerangpun belum tersentuh tangan manusia.
Dibandingkan suasana tiga puluh tahun yang lalu, Bumi Lampung kini jauh berubah. Penduduk kian padat.
Bangunan-bangunan baru bermunculan di seluruh pelosok. Infrastruktur juga semakin berkembang. Kabupatenpun bermekaran, dengan munculnya daerah-daerah baru. Dalam kurun waktu tiga puluh tahun, memang berkali-kali saya datang ke Lampung. Namun hanya terbatas ke Tanjung Karang-Teluk Betung. Kali ini saya datang jauh ke pedalaman untuk bertemu dengan pengurus partai, pendukung PBB dan masyarakat di daerah ini. Lampung, termasuk salah satu daerah di Sumatra yang PBB paling
lemah. Tidak ada anggota DPR duduk di pusat maupun di tingkat provinsi. Yang ada hanyalah di beberapa kabupaten. Sebab itu, saya harus datang ke Lampung untuk membangkitkan kembali semangat kawan-kawan dan mengkonsolidasi kekuatan partai di daerah ini. Saya berharap, dalam Pemilu 2009 nanti, PBB di Lampung akan lebih menguat dibandingkan dengan dua Pemilu yang lalu. PBB dengan berkoalisi dengan partai-partai lain, juga mengajukan calon Gubernur dan Wakil Gubernur Lampung dalam Pilkada menjelang akhir tahun 2008 ini.
Walaupun sibuk dengan berbagai acara partai, dalam kunjungan pertama ke Lampung tahun ini, saya masih
menyempatkan diri beberapa jam untuk turun ke laut melihat Teluk Lampung. Teluk Lampung ternyata indah menawan. Air laut membiru disertai udara panas dan awan tipis yang bergerak perlahan. Air laut nampak masih bersih dan belum terkena polusi yang berarti. Pulau-pulau kecil yang ada di Teluk Lampung juga terjaga kelestariannya. Hutan di pulau itu nampak rapat dan menghijau. Beberapa pulau nampak telah dibangun
sebagai tempat peristirahatan dan daerah tujuan wisata. Ada sebuah pulau yang dilengkapi dengan lapangan pendaratan helikopter, yang menunjukkan bahwa pulau ini sering dikunjungi. Perahu nelayan berlayar kencang memecah ombak, di sela-sela kapal-kapal besar yang hilir mudik menuju Pelabuhan Tanjung Karang. Beberapa bagan nelayan, nampak bertengger kokoh di atas permukaan laut. Di siang hari, bagan nampak sepi. Saya tahu, bagan hanya berfungsi di waktu malam untuk menangkap ikan japu, selar, teri dan cumi-cumi.
Sebagian besar penduduk Lampung memang menggantungkan hidupnya kepada sektor pertanian dan
perkebunan. Lebih setengah penduduk Lampung adalah kaum pendatang dari Pulau Jawa, yang mengelola sektor pertanian itu. Tidak banyak yang menjadi nelayan. Memang telah ada usaha perikanan yang padat modal, terutama pemeliharaan ikan kerapu untuk ekspor. Laut yang jernih dengan batu-batu karang di sekitar pulau-pulau kecil memang sesuai untuk memelihara ikan kerapu di dalam kerambah terapung.
Usaha seperti ini hampir tak mungkin dilakukan oleh nelayan tradisional. Selain padat modal, usaha ini juga memerlukan kehalian yang khusus, berbagai peralatan dan juga risiko yang tinggi. Ikan di dalam keramba itu mudah saja mati apabila terserang virus. Sekali mati bisa-bisa memukul usaha secara keseluruhan. Usaha pertambakan udang yang besar juga ada di Lampung. Namun kini nasibnya tidak menentu. Usaha itu kabarnya terlilit masalah keuangan dengan pihak perbankan.
Setelah beberapa jam di Teluk Lampung, saya memutuskan untuk pergi ke Kalianda, kota yang saya
kunjungi untuk pertama kalinya tiga puluh tahun yang lalu. Kalianda kini telah berubah dari kota kecamatan menjadi ibukota Kabupaten Lampung Selatan. Menjelang masuk kota, saya menyaksikan sebuah hotel cukup bagus yang dibangun oleh Kelompok Usaha Bakrie. Almarhum Pak Bakrie memang berasal dari Kalianda. Usaha Pak Bakrie – yang berawal dari pedagang hasil bumi — kini diteruskan oleh anak-anaknya, dan berkembang menjadi kelompok usaha yang besar dan bergerak hingga ke mancanegara. Sayang hotel itu nampak sepi pengunjung dan mulai nampak kurang
terawat dengan baik. Masyarakat Lampung Selatan nampaknya belum siap betul untuk menyambut dan mendukung industri pariwisata. Padahal, Kalianda cukup indah. Dari pantainya yang cukup bagus, orang dapat memandang Gunung Krakatau di kejauhan. Wisata bahari di kabupaten itu sebenarnya cukup potensial untuk dikembangkan. Sayang, potensi besar ini belum dapat dimanfaatkan secara maksimal. Padahal, jarak dari Jakarta ke Lampung tergolong dekat. Orang dapat naik mobil menuju Provinsi Banten sebelum menyeberang Selat Sunda menuju Lampung. Naik pesawat terbang, hanya memakan waktu tiga puluh menit dari Jakarta.
Di Kalianda saya bertanya kepada penduduk setempat tentang kolam air panas yang saya kunjungi tiga puluh tahun yang lalu. Tempat itu, kini lebih mudah untuk
dicapai dengan kendaraan. Jalan ke tempat itu telah dibangun untuk dilewati kendaraan bermotor. Kolam yang dulu alami, kini ternyata telah dibangun oleh Pemda setempat mirip sebuah kolam renang. Namun sumber airnya, tetap saja aliran sungai kecil dari Gunung Rajabasa, dengan bau belerang yang menyengat hidung. Saya kembali mandi di tempat itu, di luar kolam, agar mendapatkan air yang langsung ke luar dari dalam tanah.
Air terasa panas dan kandungan belerangnya sangat tinggi, lebih tinggi dari kandungan belerang di Gunung Papandayan di Kabupaten Garut, tak jauh di selatan kota Bandung. Saya merasa senang dan bahagia, dapat mengunjungi lagi tempat yang tetap saya ingat dan saya kenang selama tiga puluh tahun lamanya. Penduduk di kampung sekitar kolam air panas itu, mengenal saya dengan baik. Mereka tak mengira saya akan datang ke tempat itu. Saya merasa senang pula bertemu dan dapat bercakap-cakap dengan mereka.
Kunjungan kedua saya ke Bumi Lampung dalam kurun waktu sebulan terakhir, berkaitan dengan kegiatan Partai
Bulan Bintang yang bertepatan dengan Maulid Nabi Muhammad S.a.w. Saya mendarat di Bandar Udara Tanjung Karang pagi hari dan kemudian meneruskan perjalanan lebih kurang satu jam ke sebuah kota kecamatan di Kabupaten Lampung Tengah. Kota itu kecil saja. Ketika saya tiba, telah ada sekitar 3000 orang menanti di Alun-Alun Kecamatan Punggur, Gunung Sugi, Lampung Tengah. Mereka memasang tenda dan memainkan musik kasidahan. Pengurus PBB Cabang Lampung Tengah menyelenggarakan kegiatan ini, dengan dihadiri oleh anggota dan simpatisan PBB di Kecamatan itu. Saya diminta untuk menyampaikan ceramah Maulid Nabi dan sekaligus menyampaikan pesan-pesan kepada Keluarga Besar Bulan Bintang di kecamatan itu. Kami mengakhiri acara itu menjelang tibanya waktu zuhur. Selanjutnya saya meneruskan perjalanan ke kecamatan lain yang terletak di Kabupaten Lampung Utara. Ibu Megawati, sebulan sebelumnya juga berkunjung ke kabupaten itu untuk menemui warga dan simpatisan PDI Perjuangan.
Di Kotabumi, Lampung Utara, rombongan kami disambut dan dijamu makan siang oleh Wakil Bupati Lampung Utara, Zainal Abidin. Beliau juga menyertai rombongan saya hadir ke sebuah tanah lapang di kecamatan tempat
penyelenggaraan Peringatan Maulid Nabi dan sekaligus silaturrahim warga Bulan Bintang. Para pemuka Adat Lampung di kecamatan itu menyambut kedatangan saya dengan upacara adat. Kami berjalan kaki cukup panjang sambil menyapa penduduk yang berjejal-jejal berdiri di sepanjang jalan. Sebagian mereka berteriak memanggil saya “Laksamana Cheng Ho”. Sebagiannya lagi berteriak agar saya maju ke pencalonan Presiden 2009. “Jangan mundur lagi, Pak!” kata mereka mengingatkan saya ketika mundur dari pencalonan Presiden dalam Sidang Umum MPR Tahun 1999. Saya tertegun mendengar teriakan-teriakan itu. Kalau saya datang ke basis PBB mendengar teriakan seperti itu, rasanya biasa-biasa saja. Namun Lampung Utara selama ini bukan daerah basis PBB. Tidak satupun anggota DPRD Kabupaten Lampung Utara yang berasal dari PBB.
Di Lapangan Kecamatan itu, saya menyaksikan sekitar 5000 orang menghadiri kegiatan PBB itu. Bendera dan
spanduk PBB juga dipasang menghiasi hampir seluruh penjuru Kotabumi yang berpenduduk sekitar 40.000 jiwa. Tokoh-tokoh Adat tampil kemuka menyampaikan pidato dalam Bahasa Lampung, yang isinya memberi gelar adat “Tuan Rajo Asli” kepada saya. Istri saya juga mendapat gelar adat “Ratu Permaisuri”. Dengan pemberian gelar adat itu, maka saya dianggap menjadi anak angkat Haji Sofwan dan dengan demikian menjadi anggota masyarakat hukum adat di Bumi Lampung. Saya berterima kasih atas penghargaan itu. Ketua Masyarakat Adat kemudian membaca secarik kertas
yang ditulis dalam Bahasa Indonesia. Isinya mendukung saya untuk dicalonkan menjadi Presiden RI tahun 2009 yang akan datang. Padahal, saya tak pernah menggalang “kebulatan tekad” seperti terjadi di zaman Presiden Soeharto dahulu. Saya sendiri sebelumnya tidak tahu akan ada acara seperti itu. Ketua DPC PBB Lampung Utara, Syahrul, juga tak memberitahu saya sebelumnya akan adan upacara adat seperti itu. Sebab itu, saya hadir hanya mengenakan celana jeans dan baju lengan pendek saja. Akhirnya, Ketua Adat memberi saya sebuah peci khas Lampung dan kain samping, seperti yang biasa digunakan sebagai bagian dari pakaian adat orang Melayu. Saya pun dipersilahkan menyampaikan ceramah dan pesan-pesan kepada Keluarga Besar Bulan Bintang yang hadir, dengan menggunakan peci dan kain samping khas Lampung itu.
Saya menyampaikan ceramah dalam bahasa sederhana agar dapat dimegerti oleh sebagian besar hadirin, yang profesi sehari-harinya adalah petani. Dengan kehadiran
Wakil Bupati, maka aparat Pemerintah Daerah banyak pula yang hadir ke lapangan itu. Tentu saja saya membahas hikmah peringatan maulid untuk meningkatkan iman dan takwa. Namun sebagian besar materi ceramah membahas kehidupan rakyat sehari-hari, terutama bagaimana meningkatkan kesejahteraan kaum tani. Saya menyampaikan kebijakan umum yang ingin saya laksanakan, yakni membangun perekonomian nasional
dengan berbasis kepada pertanian untuk mengatasi kemiskinan dan keterbelakangan rakyat kita. Persoalan lain, yang menyangkut beratnya beban subsidi BBM, pembayaran utang pokok dan cicilan dalam dan luar negeri, serta upaya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, saya uraikan dalam bahasa yang mudah agar dapat dimengerti oleh para hadirin. Tak banyak slogan atau pidato berapi-api. Sebab, saya harus menjelaskan apa yang akan kami lakukan, agar rakyat dapat memahaminya. Masa Kampanye memang belum tiba.
Kami meninggalkan Lampung Utara ketika waktu Ashar telah tiba. Setelah menunaikan solat di Mesjid Kampung Mulang Maya, kami bergegas menuju Bandar Lampung.
Masih ada satu acara lagi yang akan saya hadiri, yakni Milad Himpunan Mahasiswa Islam, yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Bandar Lampung. Acara milad ini dihadiri sekitar 200 orang anggotadan alumni HMI di daerah itu. Kali ini, ceramah saya lebih intelektual membahas persoalan-persoalan besar yang dihadapi bangsa dan negara, dan perspektif Islam untuk menanganinya. Sekitar satu setengah jam saya menyampaikan ceramah sampai hari telah larut malam. Saya menginap di sebuah hotel
dengan fisik yang agak lelah, namun merasa senang dan bahagia. Saya hanya tidur beberapa jam, karena beberapa rekan telah menunggu di hotel untuk menyampaikan berbagai permasalahan yang ada di daerah itu. Pagi-pagi sekali, saya bergerak ke Bandara Tanjung Karang untuk kembali ke Jakarta. Saya akan datang lagi ke Bumi Lampung mengunjungi kabupaten-kabupaten yang lain, sebagaimana saya lakukan di provinsi-provinsi lain di seluruh tanah air. Saya ingin menggalang kekuatan PBB sampai ke pelosok-pelosok daerah.
Suatu hal yang tak pernah saya lupakan selama berkunjung ke daerah-daerah ialah kunjungan kepada
Redaksi media cetak setempat. Di Lampung, saya menyempatkan diri bertukar pikiran dengan Harian Lampung Pos. Hal yang sama saya lakukan di Pekan Baru, Tanjung Pinang dan Batam serta Pangkal Pinang. Hasil pertukar pikiran itu selalu menghiasi halaman muka koran-koran daerah. Bahkan sampai beberapa hari kemudian, isi diskusi atau wawancara khusus itu mereka
muat sambung-menyambung. Dengan demikian, pikiran-pikiran saya dalam menyikapi berbagai masalah, baik nasional maupun daerah, dapat menjangkau mereka yang tidak sempat hadir mendengarkan saya menyampaikan ceramah dan pidato. Namun dalam kunjungan yang kedua ke Bumi Lampung, saya tak sempat bersilaturrahim dengan redaksi media cetak setempat. Beberapa wartawan media cetak dan elektornik, mewawancarai saya di lapangan. Semoga semua itu akan membawa manfaat bagi kepentingan rakyat kita di daerah-daerah.
Wallahu’alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 24th, 2008
61 tanggapan untuk “KUNJUNGAN KE PROVINSI LAMPUNG”
Pages: [1] 2 3 » Show All
Firman (komentar #1)
Terus maju bang Yusril.
Kapan ke Serpongya bang???
Kapan2 bikin tulisan tentang kekuatan politik partai2 Islam bang.
March 24th, 2008 at 12:37 pm
T Ahmad Danial (komentar #2)
Selama ini, saya sering lewat Lampung. Tapi ya hanya lewat saja. Ternyata banyak tempat indah di Lampung yang saya abaikan. Sayang sekali ….
March 24th, 2008 at 1:06 pm
Yuni Banjarmasin (komentar #3)
Alhamdulillah sekarang abang telah kembali ke pangkuan kontituen abang, salah satu kekalahan PBB Tahun 2004 yang lalu dikarenakan abang terlalu jarang melakukan komunikasi politik dengan massa PBB. Teruslah berjuang bang Insya Allah kalau abang terus melakukan komunikasi politik akan menuai hasilnya pada PEmilu 2009. Kami warga besar PBB selalu setia berjuang demi kebesaran Bulan Bintang. Kapan ya abang ke Banjarmasin, kebetulan PBB di KOta Banjarmasin cukup solid, sekarang memiliki 4 anggota legislatif, meskipun pada pemilu 2004 kemarin abang tidak ke Banjarmasin dan saat itu banyak simpatisan yang sangat kecewa dengan PBB. Tapi Insya Allah kawan-kawan di DPC KOta Banjarmasin pemilu tahun 2009 akan all out membesarkan PBB, seiring dengan kepastiannya PBB mengikuti Pemilu 2009, dan diharapkan abang dapat memberikan kompensasi berupa kehadiran abang ke Banjarmasin pada saat kampanye 2009 nanti, wajib loh bang hukumnya ke Kota Banjarmasin …..
Insya Allah, seperti di tahun-tahun yang lalu, saya datang ke berbagai daerah di Kalimantan Selatan. (YIM)
March 24th, 2008 at 1:17 pm
Saherman (komentar #4)
Bagus juga safari politik yang Bapak lakukan ini. Saya berharap, kunjungan-kunjungan semacam ini dilakukan bukan hanya dalam upaya menggalang kekuatan untuk berlaga di Pemilu berikutnya. Buat saya, pemimpin yang baik itu adalah pemimpin yang selalu mengunjungi khalayak secara rutin, selain untuk mengumpulkan aspirasi juga untuk menjaga hubungan dengan konstituen dan masyarakat umumnya. Supaya tahu seperti apa rakyat yang ia pimpin.
Hanya saja, saya melihat selama ini kunjungan ke masyarakat melulu dalam upaya pengumpulan suara. Lihat bagaimana (kalau tidak salah) Abu Bakar berkeliling kampung dan mengetahui ada warganya yang kelaparan. Ia menangis karena merasa sebagai pemimpin ia adalah orang yang paling bertanggung jawab kalau ada warga yang ia pimpin mengalami kelaparan. Ia pikul gandum dari gudang istana untuk ia berikan langsung kepada rakyatnya itu. Ia enggan menikmati kemewahan di atas kemiskinan. Saya berharap Pak Yusril bisa menjadi pemimpin demikian. Sebagai seorang Muslim, tentunya Bapak sangat paham begitu berat tanggung jawab menjadi pemimpin. Untuk itulah, jangan pernah lupa kepada masyarakat setelah Bapak berhasil menduduki kursi kepempinan nasional. Saya akan mendukung p enuh setiap pemimpin demikian, tidak terkecuali Anda.
Gaya kehidupan saya, baik mempunyai jabatan atau tidak, tidak banyak berubah. Sekiranya Anda menyempatkan diri membaca berbagai tulisan saya di blog ini, antara lain Kenang-Kenangan Di Masa Kecil (6 seri), saya yakin anda akan memahami latar belakang kehidupan saya. Saya masih saja seperti itu. Problemanya, media massa takkan meliput semua hal yang saya lakukan, sehingga banyak masyarakat yang tidak tahu.
March 24th, 2008 at 1:25 pm
rahmat dahlan (komentar #5)
hidup itu indah bila kita selalu nikmati dan bersyukur padaNYA
hidup itu seperti mencicipi makanan
kadang rasanya asin, manis, asem, dsb
hidup itu penuh warna
waenailah hidupmu dengan warna yang indah
agar yang melihatpun senang
teruslah maju calon presidenku
March 24th, 2008 at 1:41 pm
Zul Asri (komentar #6)
Assalamu’alaikum wr.wb.
Saya sependapat dengan komentar disampaikan sahabat kita “Saherman”. Dalam hal ini saya hanya ingin menambahkan bahwa memang suatu tantangan yang berat buat pemimpin masa depan adalah bagaimana benar-benar bisa mentauladani kepemimpinan Rasulullah dan sahabatnya seperti Abu Bakar. Kita semua bertanya-tanya dalam hati apakah akan ada calon presiden kita kedepan seperti contoh diatas? Kita semua sebagai bagian dari bangsa ini sudah sangat mengidamkan pemimpin nasional seperti seorang Abu Bakar sebagaimana dikisahkan diatas.
Saya sebagai generasi muda muslim yakin dan mudah-mudahan bahwa bang Yusril dapat mewujudkannya insya Allah. Untuk itu mari kita berjuang bersama dan terus maju calon presiden ku.
Wassalam
Zul Asri, ST
Keteladanan yang beliau berikan itu bersifat universal sehingga berlaku untuk segala zaman. Pelaksanaannya tentunya dengan memperhatikan keadaan zaman dan tantangan nyata yang kita hadapi sekarang ini. Insya Allah, semua itu tetap menjadi acuan dalam saya melaksanakan tugas, dulu dan sekarang serta di masa-masa yang akan datang (YIM)
March 24th, 2008 at 3:34 pm
Iwan Asnawi (komentar #7)
Yth, YIM…
“Lay Out” fhotonya lebih egaliter sekarang…
Salaaam hormat…
March 24th, 2008 at 3:36 pm
zakariya (komentar #8)
Alhamdulillah, saya sekarang lebih bersyukur dengan adanya blog abang ini, saya brusaha ikutin terus. Disamping menggantikan websitenya PBB, blog ini bisa menjadi media informasi bagi kita simpatisan PBB.
Saya memang berharap Bang Yusril mau maju ke Pilpres 2009, karena tidak ada calon (pemimpin) yang seperti abang - yang punya solusi dan ide praktis menangani permasalahan bangsa yang orisinal (bukan dari orang lain/aspri2nya) - tidak selalu mengekor dari orang lain.
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kesehatan dan umur panjang pada abang dan keluarga untuk dapat berkunjung ke daerah2 seluruh tanah air, sehingga kepemimpinan Islam di Indonesia terwujud dan tidak bersifat kedaerahan seperti zaman raja2 lampau hingga otonomi daerah sekarang ini. Sebenarnya orang-orang berharap penerapan syariah Allah diterapkan di bumi ini, tapi juga banyak yang takut karena sanksinya.
Tolong dijelaskan ke seluruh rakyat Indonesia yang sudah banyak hak2nya dikebiri dengan perspektif syariah di blog ini.
Semoga dengan ini Partai Bulan Bintang ke depan lebih kuat dari yang lalu. Oh, ya. saya tunggu kunjungannya di Jawa Timur lagi & jgn lupa istri dibawa ke tempat acara ya!
Terima kasih.
Tahun 2007 yang lalu, beberapa kali saya datang ke Surabaya dan mengadakan pertemuan dengan jajaran PBB Jatim. Tahun ini, Insya Allah akan saya lakukan lagi. Saya sementara ini berkeliling di daerah-daerah di louar Jawa dulu, namun tentunya Jawa Timur tidak saya lupakan (YIM)
March 24th, 2008 at 4:38 pm
n. jamil ghazali (komentar #9)
Assalamu’alaikum Bang Yus ..
Dalam pemilu yad (2009) nampaknya dua Abang (Bang) akan bersaing ketat .. yaitu Bang Yos dan Bang Yus .. dua nama ini memamng mempunyai kelebihan masing-masing ..
Untuk Bang Yus .. selain daerah kering konstituten PBB, spt Lampung dll .. (Sumateran), Kalimantan, Sulawesi dan Irian Jaya .. JawaTimur sebagai kantong Partai Islam terbesar .. perlu juga dikunjungi .. Bang Yus sudah bebeapa kali menengok NTB waktu masih sebagai Menteri Kabinet . . jangan lupa ditengok lagi mereka-mereka yang dulu pernah Abang sambangi .. Insya Allah dgn cara ini PBB kedepan akan semakin gemuk dengan lokomotif-nya Abang Yusril tentunya ..
Wassalam..
March 24th, 2008 at 6:43 pm
N. ANWAR (komentar #10)
Assalamu’alaikum Wr… Wb…
Melihat kondisi alam lampung ditampilkan di blog ini aku jadi iri Bang, terbayang dalam benakku kapan Madura Sumenep khususnya bisa dikunjungi Bang Yusril dan Bang Yusril bisa melihat kondisi alam Sumenep yang panas namun Indah lho ! Bang ada beberapa tempat wisata di Sumenep yang begitu indah yang dikelilingi pohon cemara udang yang cuma ada 2 di dunia namanya pantai lumbang dan ada juga banyak tempat wisata lainnya yang tidak bisa saya sebutkan semuanya. harapan saya, semoga Bang Yusril berkenan berkunjung ke sumenep, yang uda ditunggu-tunggu oleh kader-kader PBB.
Maju terus, Pantang mundur untuk menuju RI 1
Wassalam….
March 24th, 2008 at 8:31 pm
SYAHRUL SAPUTRA (KETUA DPC PBB LAMPUNG UTARA (komentar #11)
Assalamu’alaikum, bang Yusril. saya telah membaca kesan dari kehadiran abang di Bumi Lampung Utara Sikep. saya di Lampung Utara bersama kawan-kawan, akan berjuang keras untuk meraih kemenangan bagi PBB di agenda besar Pesta Demokrasi bangsa kita, medio Pemilu April 2009. abang telah melihat sendiri hasil pekerjaan kami sementara ini. Antusiasnya sambutan masyarakat kepada abang YIM. saya yakin dan percaya sepanjang bang YIM gencar turun ke ‘bawah’, PBB 2009 akan lebih eksis. dan harapan kami keluarga besar PBB Lampung Utara, agar Bang YIM dapat maju pada PILPRES 2009. Bang YIM harus percaya bahwa kalangan masyarakat bawah banyak bersimpati kepada abang. Dan ini memberi kami semangat baru untuk terus berjuang. satu saran dari kami, Bang YIM harus pandai-pandai memanfaatkan moment dan membentuk tim yang solid untuk senantiasa mempublikasikan bang YIM di media massa cetak dan elektronik. kelemahan kita ada pada hal tersebut. agar sosok bang YIM betul-betul lebih mengakar ke masyarakat.sehingga popularitas bang YIM lebih terangkat sampai ke tingkat paling bawah. kami di DPC PBB Lampung Utara akan terus membuat terobosan-terobosan baru untuk lebih mengembangkan PBB di Lampung dan akan menjadikan PBB di Lampung Utara menjadi mobilisator dan fasilitator bagi PBB sehingga PBB di Lampung lebih dapat menggeliat.
March 24th, 2008 at 9:25 pm
koohar (komentar #12)
Pak Yusril yang saya hormati…
kedatangan bapak untuk bertemu secara langsung dengan konstituen PBB di Lampung mudah-mudahan akan menambah keyakinan masyarakt di sana untuk bersama-sama memilih PBB pada pemilu 2009 nanti. dengan melihat antusias masyarakt pada acara tersebut, sepertinya masyarakt di Lampung telah sepenuh hati mengusung bapak menjadi Capres 2009. “bapak tidak boleh mengalah” itulah bahasa mereka ketika menyambut kedatangan bapak di bumi Lampung.
mengalah pada hakekatnya merupakan sebuah strategi untuk menang secara terhormat pada suatu waktu. mengalah bukan berarti kita kalah, tapi mengalah adalah suatu moment untuk mengumpulkan tenaga untuk kemenangan yang lebih besar. 2009 adalah pembuktian setelah 10 tahun sikap “mengalah” itu dialamatkan kepada sosok pemimpin yang mereka kagumi. namun ditangan rakyatlah segala keputusan dan target politik itu bisa tercapai. oleh karena itu, meskipun ibu Megawati sudah datang lebih awal ke Bumi Lampung untuk bertemu dengan konstituennya, namun masyarakt lampung harus teguh dengan pilihan politiknya. ingat bahwa pak Yusril adalah seorang tokoh yang punya jam terbang yang tidak kalah dengan para mantan presiden di republik ini. dia seorang juru kunci yang selalu menjadi tempat pengaduan terakhir bagi pemimpin di republik ini. namun banyak orang yang kurang mengetahuinya.
maka, menurut saya pak yusril tidak usah lagi menjadi pemimpin di balik layar. banyak pemimpin yang telah memperoleh kepopuleran dari pemikran-pemikiran bapak namun seringkali mereka menikam dari belakang. jadi sangat wajar jika banyak konstituen di beberapa daerah yang marah, kesal, kecewa dan lain sebagainya atas sikap atasan bapak yang membabi buta “mengorbankan’ bapak sebagai akar dari kesemerautan pemerintahannya. bapak diangap penghalang bagi kebijakan pemimpin yang kurang bijaksana. masyarakt sebagai pengikut dan keluarga besar PBB sangat kecewa atas perlakukan yang menimpa diri bapak. namun suatu saat kebenaran itu akan muncul, yang benar adalah benar dan kebenaran akan mendatangkan kemenangan bagi kita semua.
banyak daerah bila dilihat dari beberapa kementator di blog ini yang merindukan kehadiran bapak untuk bertatap muka secara langsung. semoga pak yusril dalam waktu dekat ini bisa mengunjungi daerah-daerah tersebut sesuai dengan planning yang telah dibuat. selama ini mungkin pemimpin kita perlu menggunakan “kaca pembesar” untuk melihat lebih dekat penderitaan rakyat di daerah-daerah. dan semoga bapak tidak membutuhkan kaca itu karena bapak dapat melihat langsung keresahan masyarakt di daerah dari berbagai sisi kehidupan.
harapan kami sebagai anak bangsa ingin merealisasikan perubahan itu, namun sebagai masyarakat tentu hanya bisa berharap pada pemimpinnya. perubahan itu harus ada meskipun secara bertahap yang penting ada langkah yang kongkret untuk menciptakannya. semoga Allah meridhoi perjalanan bapak ke beberapa daerah untuk sebuah tujuan yang mulia mengungkap dan memperjungakan kebenaran. “KEBENARAN MILIK BERSAMA” itulah tema besar yang diangkat oleh PBB dalam mengusung bapak untuk menjadi pemenang pada pemilihan umum 2009. SELAMAT BERJUANG, KAMI SELALU BESAMA MEMBELA KEBENARAN. WASSALAM
KOOHAR
Burman City
DEPOK, MARET 2008
Terima kasih atas saran dan pandangannya (YIM)
March 24th, 2008 at 11:02 pm
A.malik (komentar #13)
Ass.w.w.
Sambutan yang begitu yang sangat baik dari Blog Pak Yusril menunjukkan bahwa Bapak mempunyai banyak pengikut karena itu dengan kemampuan dan pengalaman Bapak serta perhatian yang besar terhadap Partai DENGAN KUNJUNGAN KEDAERAH DAERAH Insya Allah cita cita Warga PBB yaitu terciptanyanya baldatun tayyibatun wa rabbun ghafir dengan Presidennya Yusril Ihza Mahendra akan menjadi kenyataan.
March 24th, 2008 at 11:12 pm
A.malik (komentar #14)
Ass.w.w.
Sambutan yang begitu yang sangat baik dari Blog Pak Yusril menunjukkan bahwa Bapak mempunyai banyak pengikut karena itu dengan kemampuan dan pengalaman Bapak serta perhatian yang besar terhadap Partai Insya Allah cita cita Warga PBB yaitu terciptanyanya baldatun tayyibatun wa rabbun ghafir dengan Presidennya Yusril Ihza Mahendra akan menjadi kenyataan. Kalau boleh mengadakan instrospeksi menurut saya kegagalan PBB pada pemilu pertama disebabkan dua hal pertama terlalu mengganlkan nama besar Masyumi dan kedua karena thema kampanyenya elitis. Pemilu kedua yang diikuti oleh PBB walaupun suaranya naik tetapi jumlah korsi menurun dan tidak mencapai 4 % Disini saya melihat ada hal yang menjadi penyebabnya pertama karena Ketua Umumnya tidak aktif berkampanye , karena kesibukan jabatannya, kedua karena ada perpecahan dalam tubuh PBB.
Alhadulilah thema yang elitis sudah berubah dimana Pak YUSRIL sudah memulai berbicara mengenai masalah yang dihadapi rakyat kecil yaitu petani dan nelayan. Lebih afdHal lagi apabila Pak Yusril berbicara mengenai gagasannya terhadap segment rakyat kecil lainnya yang terdiri dari pengusaha kecil, buruh kecil,masalah pendidikan bagi orang yang kurang mampu dan masalah kesempatan kerja , tentu masih banyak lagi. Untuk memperkiat Partai perlu pula untuk menarik simpati partai sesama penerus atau pertai yang seide dengan gagasan Masyumi dan jangan dilupakan merajut kembali silaturahmi kawan-2 telah uzlah dengan PBB. Saya berpendapat bahwa gagasan Pak Yusril dengan paparan akademisnya banyak mendapat simpati dari kalangan pemuda.mahasiwa dan golongan intelektual termasuk pula dari kalangan da- i. Layar perjuangan telah berkibar pantang surut maju terus sampai mencapai pantai cita -2 warga PBB .Insya Allah dengan terus berjuang bertawakkal kepada ilahi Rabi akan tercapai/
Terima kasih atas komentarnya. Tema ceramah yang saya sampaikan lebih mengarah kepada solusi terhadap persoalan-persoalan bangsa dan negara kita, dalam bahasa yang mudah dimengerti. Sebagian warga masyarakat memang ada yang mengira bahwa PBB ini melulu bicara mengenai Syari’at Islam. Tidak demikian keadaannya. Hakum adalah salah satu komponen untuk membangun masyarakat. Namun persoalan-persoalan ekonomi harus pula mendapatkan prioritas untuk diselesaikan. Kalau ekonomi hancur, maka dampaknya akan mempengaruhi semua sektor sektor kehidupan. (YIM)
March 24th, 2008 at 11:41 pm
Rinie S Y (komentar #15)
Kenapa YIM yang dikunjungi daerah2 yang dekat dan serumpun dengan anda dulu (Melayu)…ke Jawa nya kapan YIM terutama Jawa Tengah (kok gak pernah disebut-sebut)…..atau tunggu pas mau Pemilu 2009…..ayo donk YIM jangan gentar dengan Jawa….maju terus pantang mundur….Laahaula Wa laaquwwata illa billaah…….
March 25th, 2008 at 9:36 am
taro (komentar #16)
Kalo President of United State adalah BARACK OBAMA HUSEIN (BOH) maka PRESIDENT OF INDONESIA is YUSRIL IHZA MAHENDRA (YIM). kayaknya cocok,……ya!!!! INSYA ALLAH ………………….
March 25th, 2008 at 11:31 am
chira (komentar #17)
Awal dibentuknya PBB, saya ikut bergabung, termasuk ayah saya (alm 1 tahun yl). Saya bukan saja simpatisan, tapi benar-benar ikut di dalam kepengurusan muslimat BB, waktu itu saya masih berumur 23 tahun. Saya sendiri dalam beberapa kegiatan kampanye Bapak seringkali ikut, sampai pertemuan di Jakarta pun saya datang. Teringat saya membuatkan air gula asam jawa karena Bapak ketika itu sedang batuk (atas dasar telp dari istri bapak melalui hp ajudan bapak). Mohon maaf yang sebesar-besarnya pak tentang keluarga bapak, kami kaum perempuan kok jadi kecewa ketika bapak bercerai dengan istri bapak, anak2 gimana pak, waktu itu saya dengar masih kecil2… Wassalam
Saya mengucapkan terima kasih atas dukungan anda kepada PBB, terutama di saat-saat kampanye Pemilu yang lalu. Tentang perceraian yang terjadi, tentu saya tidak dapat mengungkapkan sebab-sebabnya secara terbuka. Kepada kawan-kawan yang bertanya saya hanya menjawab singkat bahwa dalam kehidupan sehari-hari kita selalu mengatakan bahwa hidup, mati, jodoh dan rezaki adalah di tangan Tuhan. Manusia hanya berusaha maksimal, namun akhirnya harus menyerahkan segala sesuatunya kepada Tuhan juga. Jodoh itu adalah sesuatu yang tak terduga dan tak dapat direncanakan. Jodoh bisa datang, namun bisa pula pergi, baik karena berakhirnya usia salah satu pasangan, atau mungkin pula terjadi ketika mereka masih hidup. Tak seorangpun dalam keadaan yang normal menginginkan semua itu terjadi. Sebab itu, hadits Nabi mengatakan bahwa perbuatan halal yang paling tidak disukai oleh Allah adalah talak. Namun talak dapat terjadi, walau setiap orang tentu akan berusaha keras untuk menghindarinya. Apa yang akan terjadi pada diri kita di hari esok, tidak ada yang tahu, kecuali Tuhan semata. Hal yang paling kita tidak suka terjadi pada orang lainpun, mungkin pula suatu ketika terjadi pada diri kita, tanpa kita dapat berbuat banyak untuk mencegahnya. Saya bersabar menghadapi beratnya beban yang saya pikul, walau akhirnya saya berusaha untuk memulai hidup yang baru seakan dari awal lagi. Orang lain yang melihatnya, dapat saja memberikan beragam analisa dan komentar, namun tidak akan pernah ada orang yang akan mengerti keadaan yang sesungguhnya, kecuali orang yang mengalaminya sendiri. Orang lain hanya melihat sesuatu di ipermukaan, namun orang yang mengalamilah yang paling memahami hakikat dari suatu peristiwa yang terjadi pada dirinya. Orang seperti saya memilih diam, dan telah berjanji kepada diri saya sendiri, biarlah saya membawa masalah ini sampai akhir kehidupan saya di dunia yang fana ini. Saya tidak ingin mengungkapkannya, karena semuanya hanya akan menimbulkan beban-beban batin yang berat pada diri saya sendiri, dan juga bagi orang lain di sekitar saya.
Seperti Anda tahu, saya menemukan jodoh yang baru dan menikah setelah hampir setahun perceraian itu terjadi. Saya ingin memulai hidup yang baru, dengan tantangan baru pula tentunya. Tanggungjawab saya kepada anak-anak tidaklah saya abaikan, walau saya harus memulai hidup seperti dari awal lagi. Hubungan anak-anak dengan istri yang baru berjalan baik, tanpa ada masalah yang berarti. Saya telah mengambil sebuah keputusan setelah berpikir panjang sekali dan juga memohon petunjuk dari Allah SWT. Apapun risiko dari keputusan itu akan saya hadapi dan saya terima. Ini semua adalah bagian dari kisah sebuah perjalanan hidup yang saya alami. Biarkanlah saya menghadapi semua tantangan itu sendiri tanpa menyusahkan orang lain.
Demikianlah penjelasan saya dan sekali lagi saya ucapkan terima kasih atas komentarnya. Saya mohon maaf telah membuat Anda merasa kecewa dengan apa yang terjadi dalam hidup saya. Semoga dengan penjelasan ini, kekecewaan itu tidak berkepanjangan. (YIM)
March 25th, 2008 at 11:54 am
resti (komentar #18)
ehm…mau mengomentari dulu satu hal…
dengan berpakaian “rapi”, istri abang tambah cantik sekarang….
kalo jadi presiden RI, abang tetep mau juga kan berkunjung ke daerah2? untuk mendengar langsung suara rakyat ya,bang…
kan asik juga punya presiden suka bikin blog, rajin update dan rajin pula merespon komentar…ini kan berguna untuk menghilangkan jarak antara pemimpin dan rakyatnya…
Insya Allah akan saya kerjakan kalau sekiranya saya terpilih nantinya. Tentang istri saya, dia baru memeluk agama Islam dari keluarga pemeluk agama Shinto dan Katolik. Biarlah dia belajar memahami Islam dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Diapun sedang belajar menggunakan pakaian Muslimah, tentu dengan segala kekurangannya pula. Untuk itu kiranya mohon dimaklumi. (YIM)
March 25th, 2008 at 12:53 pm
Kandar Cik Kulup (komentar #19)
Salam
Cerita soal lampung, saya jadi ingat cerita nenek saya yang kebetulan keturunan lampung kalianda, walaupun saya belum pernah berkunjung kesana. Namun cerita mak cik dayang, disana masih banyak kerabat kami dari keluarga besar H. Usman. Kalo lihat fotonya bang, baju yang abang pakai sama persis ketika abang ngelayat ke rumah Pak amer, jadi waktu itu baru pulang dari lampung ya bang? terima kasih udah menyempatkan waktu. Terus maju bang!
Ya. Saya juga bertemu dengan keluarga di Kalianda dan salah satunya, Dr. Nasir Tamara, masih terus berhubungan dengan saya. Sekarang mungkin dia kembali ke Paris. Bajunya sama, mungkin kebetulan saja sedang saya pakai.
March 25th, 2008 at 2:05 pm
Hairul Wz (komentar #20)
Ass wr wb
Alhamdulillah abang mau turba terus kedaerah daerah demi kebesaran PBB, tapi ingat bang penduduk yang paling banyak di pulau jawa jadi jangan lupa datang ke jawa timur terutama Kab. Jember karenaa sudah dua kali abang kecewakan warga PBB jember, sakit karena kecewa hanya dapat diobati dengan menghilangkan kekecewaanya,
Wassalam
Insya Allah, mudah-mudahan saya diberi kesempatan dan kekuatan untuk mengunjungi semua daerah, termasuk Jember. (YIM)
March 25th, 2008 at 2:29 pm
arif_gendut (komentar #21)
berwisata sambil kampanye ya pak…
konsep yang bapak punya..menarik….tapi apa akan jadi kenyataan…?
banyak hasil survey sebagai barometer…….tapi ko nama bapak jarang masuk dalam hasil survey itu ya…
apa lembaganya yg nga tahu atao masyarakat yang……(sama2 nga tahu).
saya setuju dengan resti (komentar 18)
kalo sudah jadi presiden blognya jangan di hapus pak…
Ya. Barangkali masih banyak rakyat yang belum kenal, sehingga nama saya belum masuk dalam berbagai hasil survey. Semua itu akan memicu saya untuk bekerja lebih keras lagi agar lebih banyak lagi rakyat yang mengenal saya. Insya Allah blog ini akan tetap berjalan. (YIM)
March 25th, 2008 at 4:21 pm
farhan (komentar #22)
Ass..
Pak Yusril, saya sebagai 2009 nanti termasuk pemilih pemula.Memang disekolah oleh beberapa orang guru,saya dijejali bahwa partai Islam yang paling benar dan istiqomah cuma satu. Tapi hati kecil dan pikiran sehat saya menolak doktrin tersebut. Jujur dengan soal pemberitaan bahwa Pak Yusril belum melaporkan harta kekayaan ke KPK menjadi mengganggu pikiran saya. Mohon kiranya hal tersebut di antisipasi/dilakukan, katanya demi transparansi/akuntabilitas. Terima kasih dan mohon maaf agak lancang.
Saya sependapat bahwa ada banyak pilihan partai Islam, semuanya pada akhirnya kita serahkan kepada hati nurani pemilih. Guru di sekolah seyogianya bersikap netral dan tidak mengindoktrinasi murid-murid dengan pendapat politik pribadinya. Masalah KPK sudah saya jelaskan menjawab komentar Agung Wasono dalam psoting “Pembuka Kata” komentar #368. Silahklan membacanya. Harian Rakyat Merdeka juga memuat berita itu pagi ini, dan meminta tanggapan saya. Sementara Detik.Com memberitakannya secara sepihak, tanpa meminta tanggapan saya. Padahal, UU Pokok Pers mengamanatkan agar pemeberitaan bersifat berimbang. Kalau orang yang diberitakan belum memberikan tanggapan, maka berita seperti itu tidak layak untuk dimuat. Pemberitaan yang bersifat sepihak dapat menimbulkan prasangka bahwa media tsb memiliki motif politik tertentu dibalik pemberitaan itu. (YIM)
March 26th, 2008 at 12:32 am
chira (komentar #23)
Terima kasih atas penjelasannya, kekecewaan saya sudah hilang. Saya tetap mengagumi Bapak! Saya doakan semoga keluarga yang sekarang ini akan jauh lebih baik, karena keluarga lah yang pertama yang memberi semangat kepada Bapak.
Saya sekarang sudah bekerja di Pemda Kuningan Jabar, jadi sekarang tidak aktif lagi di PBB, tapi insya Allah akan mendukung Bapak untuk menjadi Presiden RI 2009.
Menurut saya, berwisata sambil “kampanye” berdampak baik, orang akan lebih kenal bapak dari dekat, “tak kenal maka tak sayang”, sebuah ungkapan yang kiranya jangan kita lupakan. Kuningan kota wisata lho pak, saya bukan orang Kuningan, tapi bangga akan kota kecil ini. Di Kuningan ada tempat bersejarah yaitu Linggajati. Moga Bapak berkenan singgah di Kuningan, sekalian silaturahmi dengan warga Kuningan umumnya, dan warga PBB khususnya.
Terima kasih. Saya pernah beberapa kali datang ke Kuningan, termasuk menghadiri kegiatan PBB. Saya juga mampir ke Linggarjati, tempat perundingan antara Sutan Sjahrir dengan Belanda. Insya Allah, saya akan datang lagi ke sana. Jadual kunjungan saya ke berbagai kabupaten di Jawa Barat dan Banten sedang dimatangkan oleh DPP PBB. (YIM)
March 26th, 2008 at 9:03 am
abdul zaini (komentar #24)
Assalamualaikum wr wb
Bapak Yusril Yang saya Hormati saya baru beberapa hari ini baru tahu kalau bapak punya blog, saya kira ini hal positif untuk menjalin ukhuwah dengan rakyat indonesia, saya berharap kedepan banyak pemimpin yang dekat dengan rakyat dan menerima langsung berbagai kritik saran dan kebutuhan masyarakat.
semoga Bapak selalu diberikan hidayah oleh Allah untu istiqomah dalam beribadah dan muamalah
terima kasih
Aaalaikum salam wr wb
Insya Allah. Melalui blog ini, saya dapat berkomunikasi dan juga berdiskusi dengan siapa saja atas dasar iktikad baik demi kepentingan bersama kita. (YIM)
March 26th, 2008 at 10:41 am
Jim (komentar #25)
Iri. Bang Yusril udah ke seluruh plosok nusantara tapi belum pernah ke Papua. Tapi gak papa, biar nanti tahun 2010 ke Papua meresmikan proyek perbatasan atau jalan negara ke Papua New Guinea. Sebagai Presiden RI.
March 26th, 2008 at 11:05 am
Cep Ayi Fitriana (komentar #26)
Ass. Wr. Wb.,
Selamat siang Pak YIM yg saya kagumi. Setiap kali saya membaca tulisan Bapak rasanya seperti membaca sebuah novel, mengalir begitu saja dan enak rasanya. Mohon saya dikirim resepnya Pak…he3. Namun ada yang mau saya sedikit kasih masukan mengenai tulisan Bapak kali ini yaitu mengenai “…lebih tinggi dari kandungan belerang di Gunung Papandayan di dekat Bandung.” mungkin lebih bagusnya kalau “…lebih tinggi dari kandungan belerang di Gunung Papandayan yang terletak di Kab. Garut, Jawa Barat arah selatan dari Kota Bandung.” Saya menulis begitu sehubungan saya orang Garut Pak, terima kasih.
Wass. Wr. Wb.
Terima kasih atas masukannya. Saya memahami sekarang bahwa Gunung Papandayan masuk Kabupaten Garut. (YIM)
March 26th, 2008 at 12:30 pm
v-jay (komentar #27)
salam hormat,
penyimak blog Bapak Yusril
:)
March 26th, 2008 at 4:00 pm
n. jamil ghazali (komentar #28)
Yth. Bang YIM.
Assalamu’alaikum War.Wab.
Jadwal ke jabar sedang dimatangkan oleh DP PBB, artinya jateng dan jatim sedang menunggu giliran. Semua orang mafhum bahwa jatim adalah kantong gemuk Partai Islam, PKB, PPP dll… namun untuk capres, partai-partai itu tidak punyafigur yang mumpuni. Semua orang tahu bahwa bahwa bang Yusril waktu itu sengaja mengalah dan memper-silah-kan Gus Dur untuk maju .. sekarang giliran pendukung Gus Dur seharusnya yang mempersilahkan YIM untuk maju .. Insya Allah menjadi kenyataan .. Untuk itu konsolidasi YIM saat ini tepat dan mencapai sasaran .. Saya jadi teringat SBY yang di/me-mundurkan diri sebelum maju jadi Capres .. seruapa tapi tak sama tentunya..
Wassalam..
He he he, tapi Gus Durnya kan mau maju juga… Wong PKB sudah solid ndukung Gus Dur, kok… (YIM)
March 26th, 2008 at 6:21 pm
khafidhin (komentar #29)
hasil survei lsn yang terbaru yang menjelaskan bahwa seyogyanya presiden mendatang usianya tidak lebih dari 60 tahun. seakan mempersilahkan pak yusril untuk maju mencalonkan diri jadi RI 1 .
semoga terealisasi. selamat berjuang.
tiang dusun. Dukun-gresik- jawa timur.
He he he… Insya Allah Boss, Ane baru 52 tahun. Tahun 2015 — kalo masih idup — baru 58 tahun..
March 27th, 2008 at 9:37 am
Nasrullah (komentar #30)
Jangan lupa, kalau ada waktu datang ke tempat asal saya juga Bang, kabupaten Barito Kuala.
March 27th, 2008 at 9:51 am
Pages: [1] 2 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda