JUSUF KALLA DI BILLITON BISTRO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Ada hoby saya yang tak banyak diketahui masyarakat, yakni hobi masak-memasak. Hobbi ini lahir mungkin disebabkan oleh paksaan keadaan semasa saya kecil. Keluarga saya terdiri atas sebelas Jusuf Kalla -Amcol 011orang anak. Saya hanya mempunyai satu kakak perempuan. Dua adik saya yang perempuan, masih sangat kecil. Sebab itu, saya dan kakak saya selalu membantu ibu kami memasak ala kadarnya, sesuai kemampuan keluarga kami yang hidup sangat sederhana di Pulau Belitung. Kalau kakak saya pergi ke sekolah dan ibu saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, maka perlahan-lahan saya mulai memasak. Saya belajar meracik bumbu-bumbu masakan dan menumbuknya dengan lumpang terbuat dari batu. Tidak ada resep. Tidak ada takaran. Semuanya dilakukan menurut kebiasaan dan perasaan saja. Nenek saya dan ibu saya memang pandai memasak masakan tradisional Melayu Belitung yang kaya dengan aneka rempah-rempah.


Kebiasaan masak memasak itu terus berlanjut ketika saya pindah ke Jakarta. Saya pergi ke pasar sendiri membeli ikan, daging, ayam dan sayur-sayuran, serta bumbu-bumbunya. Saya memasak di rumah dan sekaligus mengajari istri dan pembantu memasak. Pernah suatuJusuf Kalla -Amcol 010 ketika di tahun 1992, stasiun RCTI mengajak saya tampil dalam acara masak-memasak bersama Rudi Chairudin. Saya memperkenalkan gulai ikan Belitung yang berwarna kuning kemerahan yang dicampur dengan nenas. Sejak itu, sekali dua kali ada saja teman yang meminta saya mengajari mereka memasak. Kalau saya sempat, dengan senang hati saya mengajari mereka. Beberapa teman saya, antara lain Maxi Gunawan, pemilik Restoran Bumbu, menyarankan agar saya membuat restoran. Maxi suka memakan masakan saya, walau dia sendiri memiliki beberapa restoran Indonesia, bahkan sampai ke Singapura, Australia dan Belanda.

Saya memang enggan membuat restoran, karena saya tahu tingkat kerumitannya sangat tinggi. Lama saya memikirkan semua ini, Jusuf Kalla -Amcol 021sampai akhirnya saya mendorong anak-anak dan kakak saya agar mereka membuat restoran. Saya bertindak sebagai penggagas dan sekaligus guru masak bagi chef di restoran itu. Mereka tertarik. Maka anak saya Kenia membuat restoran dengan nama Billiton Bistro di Plaza Senayan Lantai II. Kakak saya Yusrniar juga membuat restoran dengan nama Billiton Café di Jakarta. Nama Billiton adalah nama lain dari Belitung. Orang Belitung zaman dahulu menyebut pulau itu “Bliton” atau “Beliton”. Belanda dan Inggris menyebutnya “Billtion”. Jepang menyebutnya “Belitung”. Orang Belitung sekarang menyebutnya “Belitong”. Demikianlah asal-usul nama restoran itu. Mengelola restoran ternyata memang tidak mudah, walau tidak memerlukan investasi yang relatif besar. Segalanya memang harus cocok dengan selera konsumen.

Menata manajemen restoran juga tidak sederhana, banyak sekali detil-detilnya mulai dari komposisi menu, seni penyajian sampai kertas tissue dan tusuk gigi. Tak banyak untung yang diharapkan dari mengelola restoran. Sewa tempat sangat mahal. Hari hujan sajaJusuf Kalla -Amcol 024 telah membuat orang enggan keluar rumah dan makan di restoran. Kompetitor dengan modal kuat dan franchise dari negeri asing juga bukan main banyaknya. Namun yang penting asal jangan rugi, keluarga ada kegiatan untuk belajar berusaha. Saya senang saja melihat keluarga mengelola restoran, walau sampai kini saya pribadi tidak menjadi pemilik restoran itu. Menghabiskan waktu bertemu dengan teman-teman sambil minum kopi di restoran milik keluarga sendiri sambil mendengarkan musik, juga terasa santai dan menyenangkan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla rupanya mengetahui keluarga saya mengelola restoran. Suatu ketika, mereka mengatakan kepada saya ingin berkunjung ke Jusuf Kalla -Amcol 034restoran itu. Hati saya ketar-ketir juga kalau ada Presiden atau Wakil Presiden datang ke restoran yang tergolong menengah, dan bukan restoran kelas atas itu. Namun, rupanya minggu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta dua menteri, keluarga dan teman-temannya datang ke restoran Billiton Bistro di Plaza Senayan. Selama tiga jam, restoran tidak menerima customer lain, karena rombongan Wakil Presiden akan datang dengan jumlah sekitar seratus orang. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Wapres Jusuf Kalla sengaja memesan masakan khas Belitung, gulai kepala ikan dicampur nenas dan sate sapi dan ayam a’la Belitung. Ibu Mufidah memilih memesan “gangan darat”, yakni sup iga sapi yang dimasak dengan aroma kencur. Keduanya menikmati hidangan itu dan sama-sama mengatakan rasanya memang beda dengan masakan daerah lain di negeri kita. Saya sungguh tak menyangka, masakan khas Belitung ternyata banyak digemari orang. Orang Eropa, orang Jepang dan India ternyata juga menggemarinya. Apalagi orang Malaysia, yang memang terkait secara budaya begitu eratnya dengan masyarakat Belitung.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan rombongan berada di Billiton Bistro selama lebih kurang dua jam. Beliau dan keluarga sebenarnya ingin menonton film Ayat-Ayat Cinta yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat di tanah air. Film itu memang sedang diputar di bioskop yang ada di Plaza Senayan. Sebab itu, penulis cerita dan skenario film itu, beserta produsernya ikut hadir di Billiton Bistro. WapresJusuf Kalla -Amcol 042 memang banyak bertanya tentang pembuatan film itu, dan menghargai munculnya tokoh-tokoh muda perfilman nasional, yang memberi harapan baru bagi kebangkitan kembali film nasional kita. Wapres juga bertanya tentang proses pembuatan film Cheng Ho, yang minggu lalu proses syutingnya sedang berlangsung di Lembang dan Cikampek, dengan aktor utama Slamet Rahardjo, Saifullah Yusuf, Nurul Arifin dan Betharia Sonata. Saya sendiri tidak ikut syuting di tempat itu, karena ceritanya adalah perang antara Kerajaan Majapahit dengan Blambangan. Ketika pecah perang antara dua kerajaan itu, Laksamana Cheng Ho sedang mendaratkan kapal induknya di Pantai Simongan, yang menjadi cikal bakal kota Semarang sekarang ini.

Beberapa yang hadir dalam acara makan malam di Billiton Bistro itu ada yang mengolok-olok bahwa acara itu membicarakan soal politik, antara lain “koalisi Golkar dengan PBB” dalam Pemilu mendatang. Sejujurnya saya katakan, tidak ada pembicaraan politik apapun Jusuf Kalla -Amcol 041malam itu. Pak Jusuf Kalla dengan saya adalah sahabat lama, bagai kakak dengan adik. Kami telah saling mengenal sejak lebih seperempat abad yang lalu, bahkan ketika saya menjadi aktivis mahasiswa. Pak Jusuf beberapa kali meminta saya menjadi khatib Jum’at di Masjid Al-Markaz di Makassar. Kami sama-sama menjadi menteri di masa Presiden Abdurrahman Wahid. Saya menteri Hukum dan Perundang-Undangan, Pak Jusuf menjadi Menteri Perdagangan. PBB mencalonkan Pak SBY dan Pak Jusuf menjadi Presiden dan Wakil Presiden, sampai akhirnya kedua beliau itu terpilih. Walaupun saya bukan anggota kabinet lagi, namun hubungan baik dengan Pak SBY dan Pak Jusuf, sebagai sahabat, tetap berjalan sebagaimana biasa. Perbedaan politik dengan seseorang, tidaklah mengharuskan kita menjadi renggang dalam persahabatan pribadi.

Pak Jusuf Kalla, Ibu Mufidah dan seluruh rombongan meninggalkan Billtion Bistro setelah makan malam. Mereka menuju ke lantai II Plaza Senayan. Mereka masih menikmati musik di sebuah kafe di Jusuf Kalla -Amcol 022lantai II itu sebelum menonton bisokop. Saya dan istri menyusul ke lantai II. Saya dan istri menonton film lain, karena telah menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta beberapa hari sebelumnya. Istri saya menyukai film Ayat-Ayat Cinta dan mengatakan bahwa film itu bagus sekali jikaditonton bagi yang baru memeluk Agama Islam. Film itu memberikan pemahaman terhadap salah satu aspek dari ajaran Islam yang seringkali disalahpahami banyak orang non Muslim.

Wallahu’alam bissawwab

Share:

Facebook
Twitter
WhatsApp
 Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, S.H., M.Sc.

“Sistem yang baik akan memaksa orang jahat menjadi orang baik dan, sebaliknya, sistem yang tidak baik akan memaksa orang baik menjadi tidak baik.”

Berita Terbaru

Dengan penuh rasa syukur, saya dan keluarga menghaturkan banyak terima kasih atas perhatian, ucapan serta doa tulus yang begitu berlimpah pada acara tasyakuran hari ulang tahun ke-70 saya, 7 Februari 2026 yang lalu di Jakarta.

Semoga Allah ‘Azza wa Jalla senantiasa melimpahkan berkah, kesehatan, dan perlindungan bagi kita semua dalam pengabdian kepada bangsa dan negara. 

Di usia saya yang telah mencapai tujuh dekade pada 5 Februari 2026, tidak ada harapan yang lebih besar selain dapat mendedikasikan sisa usia untuk memberikan kontribusi terbaik demi kejayaan Indonesia.

Segala doa baik yang bapak, ibu, dan rekan-rekan sampaikan kiranya kembali menjadi kebaikan pula bagi saudara sekalian. Amin ya Rabbal’alamin.
_
#profyim #yimstory #7dekadeYIM #RekamJejak #literasi

...

722 25
5 Februari 1956. Di Lalang, sebuah kampung di Manggar, saya dilahirkan. Tasyakuran 70 tahun usia saya tahun ini ditandai dengan peluncuran 8 buku sebagai rekam jejak setengah abad dedikasi Yusril Ihza Mahendra bagi Indonesia. Selain peluncuran buku, 7 dekade usia saya dikengkapi pula dengan kilas balik berupa film pendek yang cuplikannya menjadi visual reel ini. Silakan saksikan tayangan lengkapnya di yusril.ihzamahendra.com mulai 7 Februari 2026.
#7dekadeYIM #profyim #documentaryfilm #konstitusi #guardian

...

2379 84
Usai melakukan pembicaraan bilateral dengan Menteri Kehakiman Jepang Hiroshi Hiraguchi, saya, istri saya Rika Kato Mahendra dan kakak ipar saya Kyoko Yokoyama melakukan  kunjungan silaturahmi secara pribadi dengan Menteri Hiraguchi. Beliau menyambut kami dengan ramah dan bersahabat. Beliau tahu istri saya berdarah Jepang dan karena itu sangat senang menerima kami. Pertemuan silaturrahmi sekitar lima belas menit betul-betul berkesan. Hubungan pribadi yang baik, kadang-kadang sangat membantu memudahkan hubungan formal antar pejabat kedua negara.

...

6517 79