Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,
Ada hoby saya yang tak banyak diketahui masyarakat, yakni hobi masak-memasak. Hobbi ini lahir mungkin disebabkan oleh paksaan keadaan semasa saya kecil. Keluarga saya terdiri atas sebelas
orang anak. Saya hanya mempunyai satu kakak perempuan. Dua adik saya yang perempuan, masih sangat kecil. Sebab itu, saya dan kakak saya selalu membantu ibu kami memasak ala kadarnya, sesuai kemampuan keluarga kami yang hidup sangat sederhana di Pulau Belitung. Kalau kakak saya pergi ke sekolah dan ibu saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, maka perlahan-lahan saya mulai memasak. Saya belajar meracik bumbu-bumbu masakan dan menumbuknya dengan lumpang terbuat dari batu. Tidak ada resep. Tidak ada takaran. Semuanya dilakukan menurut kebiasaan dan perasaan saja. Nenek saya dan ibu saya memang pandai memasak masakan tradisional Melayu Belitung yang kaya dengan aneka rempah-rempah.
Kebiasaan masak memasak itu terus berlanjut ketika saya pindah ke Jakarta. Saya pergi ke pasar sendiri membeli ikan, daging, ayam dan sayur-sayuran, serta bumbu-bumbunya. Saya memasak di rumah dan sekaligus mengajari istri dan pembantu memasak. Pernah suatu
ketika di tahun 1992, stasiun RCTI mengajak saya tampil dalam acara masak-memasak bersama Rudi Chairudin. Saya memperkenalkan gulai ikan Belitung yang berwarna kuning kemerahan yang dicampur dengan nenas. Sejak itu, sekali dua kali ada saja teman yang meminta saya mengajari mereka memasak. Kalau saya sempat, dengan senang hati saya mengajari mereka. Beberapa teman saya, antara lain Maxi Gunawan, pemilik Restoran Bumbu, menyarankan agar saya membuat restoran. Maxi suka memakan masakan saya, walau dia sendiri memiliki beberapa restoran Indonesia, bahkan sampai ke Singapura, Australia dan Belanda.
Saya memang enggan membuat restoran, karena saya tahu tingkat kerumitannya sangat tinggi. Lama saya memikirkan semua ini,
sampai akhirnya saya mendorong anak-anak dan kakak saya agar mereka membuat restoran. Saya bertindak sebagai penggagas dan sekaligus guru masak bagi chef di restoran itu. Mereka tertarik. Maka anak saya Kenia membuat restoran dengan nama Billiton Bistro di Plaza Senayan Lantai II. Kakak saya Yusrniar juga membuat restoran dengan nama Billiton Café di Jakarta. Nama Billiton adalah nama lain dari Belitung. Orang Belitung zaman dahulu menyebut pulau itu “Bliton” atau “Beliton”. Belanda dan Inggris menyebutnya “Billtion”. Jepang menyebutnya “Belitung”. Orang Belitung sekarang menyebutnya “Belitong”. Demikianlah asal-usul nama restoran itu. Mengelola restoran ternyata memang tidak mudah, walau tidak memerlukan investasi yang relatif besar. Segalanya memang harus cocok dengan selera konsumen.
Menata manajemen restoran juga tidak sederhana, banyak sekali detil-detilnya mulai dari komposisi menu, seni penyajian sampai kertas tissue dan tusuk gigi. Tak banyak untung yang diharapkan dari mengelola restoran. Sewa tempat sangat mahal. Hari hujan saja
telah membuat orang enggan keluar rumah dan makan di restoran. Kompetitor dengan modal kuat dan franchise dari negeri asing juga bukan main banyaknya. Namun yang penting asal jangan rugi, keluarga ada kegiatan untuk belajar berusaha. Saya senang saja melihat keluarga mengelola restoran, walau sampai kini saya pribadi tidak menjadi pemilik restoran itu. Menghabiskan waktu bertemu dengan teman-teman sambil minum kopi di restoran milik keluarga sendiri sambil mendengarkan musik, juga terasa santai dan menyenangkan.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla rupanya mengetahui keluarga saya mengelola restoran. Suatu ketika, mereka mengatakan kepada saya ingin berkunjung ke
restoran itu. Hati saya ketar-ketir juga kalau ada Presiden atau Wakil Presiden datang ke restoran yang tergolong menengah, dan bukan restoran kelas atas itu. Namun, rupanya minggu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta dua menteri, keluarga dan teman-temannya datang ke restoran Billiton Bistro di Plaza Senayan. Selama tiga jam, restoran tidak menerima customer lain, karena rombongan Wakil Presiden akan datang dengan jumlah sekitar seratus orang. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Wapres Jusuf Kalla sengaja memesan masakan khas Belitung, gulai kepala ikan dicampur nenas dan sate sapi dan ayam a’la Belitung. Ibu Mufidah memilih memesan “gangan darat”, yakni sup iga sapi yang dimasak dengan aroma kencur. Keduanya menikmati hidangan itu dan sama-sama mengatakan rasanya memang beda dengan masakan daerah lain di negeri kita. Saya sungguh tak menyangka, masakan khas Belitung ternyata banyak digemari orang. Orang Eropa, orang Jepang dan India ternyata juga menggemarinya. Apalagi orang Malaysia, yang memang terkait secara budaya begitu eratnya dengan masyarakat Belitung.
Wakil Presiden Jusuf Kalla dan rombongan berada di Billiton Bistro selama lebih kurang dua jam. Beliau dan keluarga sebenarnya ingin menonton film Ayat-Ayat Cinta yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat di tanah air. Film itu memang sedang diputar di bioskop yang ada di Plaza Senayan. Sebab itu, penulis cerita dan skenario film itu, beserta produsernya ikut hadir di Billiton Bistro. Wapres
memang banyak bertanya tentang pembuatan film itu, dan menghargai munculnya tokoh-tokoh muda perfilman nasional, yang memberi harapan baru bagi kebangkitan kembali film nasional kita. Wapres juga bertanya tentang proses pembuatan film Cheng Ho, yang minggu lalu proses syutingnya sedang berlangsung di Lembang dan Cikampek, dengan aktor utama Slamet Rahardjo, Saifullah Yusuf, Nurul Arifin dan Betharia Sonata. Saya sendiri tidak ikut syuting di tempat itu, karena ceritanya adalah perang antara Kerajaan Majapahit dengan Blambangan. Ketika pecah perang antara dua kerajaan itu, Laksamana Cheng Ho sedang mendaratkan kapal induknya di Pantai Simongan, yang menjadi cikal bakal kota Semarang sekarang ini.
Beberapa yang hadir dalam acara makan malam di Billiton Bistro itu ada yang mengolok-olok bahwa acara itu membicarakan soal politik, antara lain “koalisi Golkar dengan PBB” dalam Pemilu mendatang. Sejujurnya saya katakan, tidak ada pembicaraan politik apapun
malam itu. Pak Jusuf Kalla dengan saya adalah sahabat lama, bagai kakak dengan adik. Kami telah saling mengenal sejak lebih seperempat abad yang lalu, bahkan ketika saya menjadi aktivis mahasiswa. Pak Jusuf beberapa kali meminta saya menjadi khatib Jum’at di Masjid Al-Markaz di Makassar. Kami sama-sama menjadi menteri di masa Presiden Abdurrahman Wahid. Saya menteri Hukum dan Perundang-Undangan, Pak Jusuf menjadi Menteri Perdagangan. PBB mencalonkan Pak SBY dan Pak Jusuf menjadi Presiden dan Wakil Presiden, sampai akhirnya kedua beliau itu terpilih. Walaupun saya bukan anggota kabinet lagi, namun hubungan baik dengan Pak SBY dan Pak Jusuf, sebagai sahabat, tetap berjalan sebagaimana biasa. Perbedaan politik dengan seseorang, tidaklah mengharuskan kita menjadi renggang dalam persahabatan pribadi.
Pak Jusuf Kalla, Ibu Mufidah dan seluruh rombongan meninggalkan Billtion Bistro setelah makan malam. Mereka menuju ke lantai II Plaza Senayan. Mereka masih menikmati musik di sebuah kafe di
lantai II itu sebelum menonton bisokop. Saya dan istri menyusul ke lantai II. Saya dan istri menonton film lain, karena telah menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta beberapa hari sebelumnya. Istri saya menyukai film Ayat-Ayat Cinta dan mengatakan bahwa film itu bagus sekali jikaditonton bagi yang baru memeluk Agama Islam. Film itu memberikan pemahaman terhadap salah satu aspek dari ajaran Islam yang seringkali disalahpahami banyak orang non Muslim.
Wallahu’alam bissawwab
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 28th, 2008
87 tanggapan untuk “JUSUF KALLA DI BILLITON BISTRO”
Pages: [1] 2 3 » Show All
Mihael Ellinsworth (komentar #1)
Aha, apalagi saya, jarang sekali bertemu dengan bintang negara. Ups, malah tidak pernah. :mrgreen:
Saya baru tahu apabila seorang Yusril mempunyai Restoran. Semoga berhasil dengan usaha tersebut. :D
March 28th, 2008 at 11:44 am
aini (komentar #2)
Pak YIM setelah membaca artikel ini, kapan kapan saya mau deh mampir ke Billiton Bistro untuk mencicipi masakan khusus gulai kepala ikan dengan nenas, sedap …..Satu lagi yg kita berikan gelar untuk calon # 1 kita ini sebagai seorang chef. Bangga sekali rasanya untuk anak-anaknya Pak YIM, ayah kami banyak keahlian karena belajar dari pengalaman hidup di masa kecil. Untuk Kenia kalau juga baca blog ini, teruskan dan kembangkan usaha yg telah kalian rintis. semoga sukses selalu. Pak YIM kalau ada rumor tentang ajakan golkar dan PBB, walaupun itu tidak benar, tetapi tidak apalah, itu artinya sekarang orang mulai melirik ke PBB. karena memang tokoh PBB nya memang telah teruji oleh hujan dan badai yg kencang, tetapi tetap mencerminkan citra sejati yg intelek, simple. visioner, beda pendapat dengan lawan politik tetapi tetap berteman baik. kualitas pribadi yg seperti ini memang penting untuk seorang pemimpin negara. istilahnya Pak Yusril menerapkan prinsip “focus on being soft on the person and tough on the issue” selamat berjuang Pak YIM untuk kursi # 1. terima kasih.
March 28th, 2008 at 12:55 pm
qoonita (komentar #3)
Bang YIM.
Saya baru pulang dari belitung ( Tanjung pandan dan Manggar ) tgl 24 Maret setelah 5 hari mengikuti kegiatan Bakti Sosial YUSRON CENTRE, malah sempat menginap di rumah nenek ( ibunda BAng YIM ) di Manggar ………
Setelah membaca artikel ini, saya teringat saat saya ” nongkrong ” di warung kopi di pasar ( manggar ), saya minum kopi khas belitung sebutannya ” kopi O “, di daerah lain di belitung ternyata tidak ada warung kopi yang menyediakan kopi tersebut…………
Alangkah baiknya jika BILITON BISTRO juga menghadirkan minuman kopi khas belitung tsb, karena cara menyajikannyapun berbeda dengan kebiasaan kita sehari-hari ketika mau minim kopi ( di seduh ), sedangkan ” kopi O ” dimasak kemudian di saring……………..
Terima kasih….
March 28th, 2008 at 1:30 pm
Kandar Cik Kulup (komentar #4)
Assalamualaikum.
He..he, nampaknya pak JK kebingungan makan “gangan darat” abang. Asyik juga kelihatannya bang, InsyaAllah senin besok saya mampir, bukanya jam berapa bang? Mudah-mudahan ada “begero”nya.
Buka dari Jam 10 pagi hingga jam 10 malam. Sayang begero tidak ada. Saya sedang memikirkan untuk menjual begero dan laksa Belitung. Kalau mie rebus, ada.
March 28th, 2008 at 2:38 pm
v-jay (komentar #5)
:)
March 28th, 2008 at 3:06 pm
abdul zaini (komentar #6)
ass wr wb
Ya saya gak nyangka hehe… kalau saya sejak kecilnya suka masak nasi goreng pak yaa meskipun saya asli lamongan tapi belum bisa buat soto lamongan.
ya keluarga kami dari petani yaa pagi-pagi sebelum sekolah buat nasi goreng sendiri, itu pun nasi kamrin yang mau basi karena ortunya kami pagi-pagi suadha ke sawah .
wass wr wb
March 28th, 2008 at 3:27 pm
resti (komentar #7)
kapan2 mau mampir…tapi…mahal ga, bang? ntar jangan2 saya musti puasa seminggu hehehe…secara plaza senayan sewanya kan pasti melangit…
saya dan suami termasuk petualang kuliner…..
ada kabar makanan enak disambangi, dicicipi, dikomentari, dikira2 bumbunya apa…
March 28th, 2008 at 4:13 pm
Ibnu Mawi (komentar #8)
pak, ado pindang patin dak di restoran bapak? hehe…
-
salam dari blogger wongkito.net
He he he, pindang patin itu makanan khas Wong Kito Plembang, Jambi, Bengkulu dan Lampung. Wong Belitung sukanya makan ikan laut. Lagi pula tak ada ikan patin di sungai-sungai di Belitung, yang ada hanya ikan gabus (mengkawak) , lele (keli) dan sejenisnya. Ikan tapa ada dan ikan malas (mentutu) ada, namun tak banyak. Ikan Belido pun yang biasa dibikin kerupuk dan Pempek Kapal Selam, tidak ada di Belitung. Jadi, saya mohon maaf. Salam kembali (YIM)
March 28th, 2008 at 4:32 pm
Yudi Ardiansyah (komentar #9)
Assalamu’alaikum, Wr. Wb..
Pak Yusril yang terhormat. terima kasih atas kesediaan Bapak untuk memperkenankan Tulisan Bapak kami jadikan sebagai bahan Buletin Mimbar Politik.
Kalau boleh saya ingin berdiskusi banyak hal dengan Bapak seputar pergerakan Partai Bulan Bintang kedepan, namun saya setuju dengan salah satu komentar pada tulisan bapak yang lalu yang menyatakan bahwa akan terlalu sempit makna Blog Bapak ini jika dijadikan sebagai mediasi kampanye PBB.
Oleh karena itu saya berharap Bapak bersedia memberikan akses kepada saya untuk dapat langsung mengirimkan bahan diskusi saya ke email Bapak. Insya Allah saya tidak akan menyalah gunakan email tersebut.
Silahkan saja alamatkan ke yusril.ihzamahendra.com
March 28th, 2008 at 4:40 pm
isna (komentar #10)
assalammu’alaikum bang yusril, semoga abang sekeluarga besar dan kita semua mendapatkan limpahan rahmat Allah,SWT.
Saya menyimak terus tulisan2 abang tapi baru kali ini saya dapat menyumbang komentar pada tulisan2 abang terutama yang bertema”Yussuf Kalla di Billiton Bistro”.
Tidaklah suatu yang aneh bila seorang “Yussuf Kalla makan di Billiton Bistro”, apalagi “Biliton Bistro” masih “berbau” milik keluarga pejabat RI” walaupun sudah “mantan”.
Yang aneh bila “Yusuf Kalla” makan di warung “Cek Isna” dengan menu: nasi putih dari beras bersubsidi, gulai pindang asam iwak patin, gorengan ikan seluang dengan sambal terasinya serta lalap jengkol dan kerupuk ikan makannya dipinggir sungai musi.
Kapan ya … seorang pemimpin negeri ini dan para pejabatnya menyempatkan diri makan di warung milik rakyat biasa? tanpa membawa “atribut2 kepemimpinannya ?” dan “segala tetek bengeknya “, dan juga sering membaur pada rakyat nonton layar tancap tanpa repot2 harus bawa barisan barikadenya ?.
Ini menandakan para pemimpin di Indonesia masih hidup dalam penjajahan, mereka tidak hidup di alam kemerdekaan. mereka terbiasa oleh kehidupan yang membiasakan hidup mereka untuk dijajah, yah… mereka terjajah oleh perasaan mereka sendiri.
Saya pernah membaca pada sebuah buku yang menuliskan tentang gagasan Bung Nasir tapi saya lupa judul dan atribut keilmiahhan buku itu, yang saya ingat adalah “gagasan bung nasir tentang mengutamakan rakyat untuk hidup sederhana”.
Alangkah indahnya Indonesia ini jika gagasan itu diterapkan dan cetuskan kembali oleh para Pemimpin Bangsa ini, ya tentunya dimulai dari kebiasaan hidup Pemimpin Bangsa itu sendiri.
Sekarang tinggal bagaimana cara mencari “sistem” agar bangsa kita tidak ketinggalan IPTEK dan IMTAK tapi tanpa harus diajajah perasaan gengsi atau kita tinggalkan kebiasaan BORJOIS itu.
Alangkah bagusnya bila kita mencontoh Negara Malaysia yang memiliki institusi tersendiri untuk memeriksa setiap warung ataupun restoran apakah warung atau restoran itu sudah meililiki standar 4 sehat 5 sempurna dan terbebas dari bakteri atau kah tidak ?. sehingga tidak ada lagi keraguan jika ada Pemimpin yang mau makan di Warung di pinggir SUNGAI MUSI…….
Wassalamu’alaikum
He he he, saya sendiri tidak perduli masih jadi menteri atau tidak, selalu saja nongkrong makan di pinggir jalan. Pernah dua kali staf protokol Deplu Malaysia kalang kabut, karena saya makan di warung Kelantan MZ di belakang Pasar Chow Kit di Kuala Lumpur. Ketika itu saya pergi ke Malaysia sebagai Menlu Ad Interim. Di Thalinad juga sama, saya makan di warung di pinggir jalan. Saya menyukai hal itu.
Ke depan mungkin saja ada standard kesehatan yang diterapkan seperti di Malaysia seperti anda kemukakan. Keluarga saya ingin belajar bisnis restoran. Siapa tahu suatu ketika akan berhasil dan membuka franchise hingga ke luar negeri. Saya sedih melihat begitu banyak franchise makanan asing di negeri kita. Lihat saja kopi, ada Starbucks, Seattle, Coffee Been and Tea Leaf dll. Padahal, kita produsen kopi terkemuka di dunia. Apa yang salah pada diri kita? Sebab itu saya mensponsori berdirinya Billiton Cafe dan Billiton Coffee, menyajika kopi Indonesia dan cara membuat kopi khas Belitung, dengan rasa dan aroma tersendiri. Mertua dan istri saya juga membuka “Rumah Makan: The House of Indonesian Soto and Sate” serta “Bali Blends Cafe” di Metro Manila. Keduanya menyajikan makanan Indonesia dan kopi serta teh Indonesia. Kedua restoran ini telah disertifikasi oleh The Islamic Council of The Philippines (semacam MUI) sebagai dua restoran halal yang ada di Manila.
March 28th, 2008 at 4:58 pm
Nasrullah (komentar #11)
Sekedar mengingatkan, ikan patin juga ada di Kalimantan, Bang, sampai sekarang masih banyak ditemukan di sungai Barito (Kalimantan Selatan dan Tengah). Ada yang lebih gurih dari patin, yakni ikan Baung di Belitung ada nggak ya? ada juga lebih kecil tapi manis rasanya, bentuknye mirip patin namanya ikan lawang. Kalau dibakar, hmm harum rasanya.
Oya, jika membaca tulisan ini, alangkah baiknya kalangan masyarakat bawah mengetahui bahwa kalangan politisi meskipun beda pendapat dan aliran mereka bisa duduk satu meja untuk makan bersama. Kelak bila pilpres berlangsung, andai bang YIM dan pak JK bersebarangan, semoga kita berdebat di panggung politik dan damai di meja makan. Hidup damai tanpa anarkis meskipun beda pendapat dan faham.
Ikan air tawar di Belitung tidak banyak jenis dan ragamnya dibanding dengan daratan Sumatera dan Kalimantan. Ikan tapa dan ikan baung, namun jumlahnya relatif sedikit. Sungai-sungai di Belitung umumnya kecil-kecil. Sungai yang agak besar biasanya sudah tercampur air laut, sehingga airnya payau. Ini disebabkan karena permukaan air laut lebih tinggi dibanding dengan permukaan sungai. Ikan air tawar sukar hidup di air payau. Namun ikan laut jenis tertentu lebih mudah beradaptasi dengan air payau ini. Pengalaman saya menununjukkan bahwa di Belitung orang bisa mancing ikan pari, kerapu, ungar dan sejenisnya di sungai, walau padaa dasarnya ikan tersebut adalah ikan laut. Namun hampir mustahil mendapatkan ikan gabus di air payau. (YIM)
March 28th, 2008 at 7:22 pm
Ibnu Mawi (komentar #12)
[oot]
ehmm..?
poligami-kah, salah satunya?
ah bapak, bisa saja. :D
[/oot]
Ya salah satunya poligami. Banyak sekali salah paham terhadap hal ini. Film ini sedikit banyak memberikan penjelasan, agar hal itu tidak selalu dipandang dari sudut yang negatif dan dijadikan sebagai bahan propaganda. (YIM)
March 28th, 2008 at 8:12 pm
eri (komentar #13)
pak..makanan apa lg khs bangka-belitung :)
kalo rusif itu apa pak???
Rusip adalah ikan laut berukuran kecil (misalnya ikan teri) basah yang dipermentasi di dalam botol. Ikan diberi sedikit garam dan gula aren dicampur air panas, kemudian disimpan didalam botol tertutup. Setelah terjadi permentasi, maka jadilah rusip. Ada yang makan rusip begitu saja setelah diberi asam jawa atau cuka, cabe dan bawang merah. Ada pula yang memasaknya dengan santan dan diberi bumbu-bumbu, setelah ikan diremas-remas hingga hancur dan disaring dengan tapisan. Kalau dimasak seperti ini, maka rusip digunakan sebagai sambal untuk makan rebusan sayur-sayuran seperti kangkung, nangka muda dsb. Rusip juga ada di Philipina. Orang sana menyebutnya “Balayan”. Namun di Billiton Bistro,kami belum menghidangkan rusip. Boleh juga untuk dicoba nantinya, siapa tahu ada yang suka memakannya. (YIM)
March 29th, 2008 at 9:24 am
Masim "Vavai" Sugianto (komentar #14)
#7 Resti,
Harganya relatif kok, nggak terlalu mahal dan masih cukupan. Nggak sampai puasa 1 minggu gara-gara makan di Billiton, hehehe…
He he he, Anda benar. Untuk ukuran Plaza Senayan, harganya relatif sudah murah. Namun untuk ukuran warung pojok, tentu sudah sangat mahal. Kami ingin menjual murah, namun apa daya, sewa tempat di Plaza Senayan, mahalnya minta ampun. Kerja siang malam, sepertinya habis untuk bayar sewa saja. (YIM)
March 29th, 2008 at 9:47 am
Blog Vavai (komentar #15)
[…] double pesan waktu itu, sebungkus saya kasih ke isteri saya )Ketika pak Yusril bercerita mengenai Pak Jusuf Kalla yang datang ke Billiton dalam rangka menonton film AAC (Ayat-Ayat Cinta, kata bu Sri Mulyani katanya Ayat-Ayat Cowok / […]
March 29th, 2008 at 10:15 am
Ray (komentar #16)
Ahhh mantab betull.. Bung Yusril membuka restaurant(habiburahman tidak memakai nama restoran, entah kenapa alasannya. *buku AAC hal 127* ).
memang ada baiknya restaurant pribumi tumbuh pesat.. jangan sampai banyak restaurant asing bertebaran di mana mana… ya salah satunya untuk menjaga warisanbudaya negeri sendiri, selain itu juga agar kita bisa yakin makanan yg kita makan itu halal atau haram dari sisi komposisinya.
Selamat Bung Yusril. semoga usahanya sukses dan bisa buka cabang di mana mana, buka juga donk di jogja ;)
Matur nuwun Mas..Saya juga mempunyai pikiran yang sama. Wargabangsa kita harusnya kreatif, betapapun kecilnya, agar kita tak tertinggal dengan bangsa-bangsa lain. Sedih juga, kalau selera makan bangsa kita juga ikut “didikte” oleh bangsa lain.Padahal, kita memiliki khazanah yang kaya untuk itu. Lihat saja, kita adalagh produsen kopi dan coklat yang cukup besar di dunia. Tetapi sekarang warung kopi didominasi oleh Amerika (Starbuck, Seatle, Coffee Been and Tea Leaf), Jepang (UCC Coffee) dsb. Coklat malah dikuasai oleh Swiss, Denmark, Belanda dll, padahal tak ada pohon coklat di sana. Mestinya kita mampu melakukan otokritik, sehingga tidak hanya menggerutu tiap hari dan menyalahkan orang lain. (YIM)
March 29th, 2008 at 11:23 am
Ray (komentar #17)
Maaf OOT :
kok komentar saya diatas tidak ngelink.. apa saya lupa nulis url atau salah nulis yah, tidak penting sih, hanya saja terkadang ada orang orang yg enggan membalas komentar seseorang yg tidak menyebutkan identitas dengan jelas (salah satunya email dan alamat web). matur nuwun.
March 29th, 2008 at 11:28 am
jebee (komentar #18)
Salam Hangat Bung Yusril
Bagus Pak Ceritanya soal Billiton ini, cukup elegan pilihan kata katanya.
Jika punya rezeki Insya Allah coba coba singgah di warung Bapak/Klg ini, walau hanya bisa nyicipi kuah dan kulit ikannya saja.
Jadi ingat Pak masa lalu saya yang juga pernah mengais hidup dgn bekerja di rumah makan. Semoga karyawan Bapak adalah seperti keluarga Bapak sendiri. Semoga sukses dan berkoh selalu…..
Salam
Jebee
Indonesia
Insya Allah, mohon doa restunya (YIM)
March 29th, 2008 at 6:53 pm
Luthfi (komentar #19)
Semoga orang2 kita semakin menghargai masakan khas daerah yg beraneka ragam itu. Sedih juga melihat org kita lebih suka dan merasa “gengsinya” naik jika duduk2 di restoran luar.
Kalo soal wisata kuliner, pendapat saya pribadi yang top markotop itu ya di Makassar walaupun saya org Medan. Hehheee… enak kali disana, makan ikan di RM Nelayan. terus ada palu basa juga. Belum cotonya yg beraneka ragam, sop juga beraneka ragam. Mienya juga enak-enak.
Hidup masakan Indonesia.
Saya sependapat tentang makanan Makassar. Saya sering makan di sana. Di Jakarta, saya sering pula beli ikan sendiri di Pelelangan Ikan Muara Karang, dan membawanya ke sebuah warung Makassar “Pantai Losari” untuk mereka bakar dan buatkan sambal khas Makassar. Duduk-duduk di warung rakyat di Muara Angke itu sungguh menyenangkan. Orang di Pelelangan Ikan dan di Kampung Nelayan di dekat Pulit itu hampir semuanya mengenal aya, karena sering datang ke sana dan ngobrol dengan mereka. Semestinyalah hdangan lezat dari Makassar dan daerah-daerah lain mulai dipasarkan secara luas, tidak saja di dalam negeri tetapi juga ke mancanegara. (YIM)
March 29th, 2008 at 8:17 pm
Nurbowo (komentar #20)
Saya senang dengan gaya informal pejabat, walaupun tentu saja tetap ada sedikit protokoler. Tapi saya kecewa ketika Pak Kalla di Bandung bilang bahwa krisis Indonesia sejak 1998 sudah berakhir, dengan dalih pendapatan perkapita rakyat sudah meningkat. Klaim ini benar untuk diri Daeng Ucu, yang menjadi pejabat terkaya kedua tahun 2007 versi Majalah SWA, dan orang terkaya Indonesia nomor 30 tahun 2007 versi Forbes Asia. Sampai beberapa menit sebelum menziarahi blog Bang Yusril ini, saya masih menerima keluhan pembantu dan tetangga yang antre seharian tapi hanya mendapat seliter minyak tanah.
March 30th, 2008 at 10:31 am
aini (komentar #21)
Halo Pak YIM, ikut nimbrung lagi nih. saya mau tanya dulu nih sama isna (# 10), seandainya isna jadi gubernur atau istri gubernur sumsel, bersediakah anda pergi sendirian makan pempek di tepi sungai musi sambil rileks bernostalgia mendengarkan lagu”sebiduk di sungai musi”? Perginya sendirian lho tanpa pengawal dan segala atributnya. thanks. mengenai banyak makanan atau franchise asing yg ada di Indo yg pesat sekali tumbuhnya, ada sisi positif dan negatifnya memang. untuk bisnis makanan supaya tetap exist dan maju banyak sekali yg harus dipertimbangkan. siapa yg menjadi target pembeli. contoh, menu masakan gulai kepala ikan pakai nenas, bagi orang Indo, terutama saya, baru dengar namanya saja sudah bikin perut lapar. jadi kalau targetnya orang Indo yg beli, saya yakin akan menjadi menu favorit. tetapi kalau kita buka restaurant di amrik sana, apakah ada orang bule mau pesan menu masakan tsb. mereka dengar kepala ikan saja, sudah terbelalak matanya. Sertifikasi untuk kebersihan tempat dan segala yg berhubungan dengan pengelolaan makanan harus ada, pencamtuman halal sangat penting , pamflet berisi menu dengan gambarnya, dst tentu telah menjadi perhatian pengelola bisnis restaurant. Nah, ini ada usul untuk Pak YIM, karena ada rencana buka franchise masakan Indonesia, untuk memajukan usaha tsb, bagaimana kalau Pak YIM dalam setiap menu makanan itu dicantumkan kandungan nutrisinya. Sehingga bagi calon pengunjung yg sangat memperhatikan makanan sehat, mereka akan tertarik untuk menjadi pelanggannya nanti. kalau yg lainnya sudah Pak YIM terapkan seperti restaurant milik keluarga istri yg di Philipina. apakah Pak YIM juga tertatik nantinya memasukkan dalam menu yg berhubungan dengan tahu dan tempe. Karena kita tahu bahwa produk dari kacang-kacangan sangat bernilai gizi tinggi. saya pernah masuk restaurant Korea yg ada menu tahunya, nama restaurantnya” House of Tofu”. Juga ada pancake yg enak dan nama tempatnya “IHOP’ ( International House of Pancake). bagaimana kalau Pak YIm beri nama spesial juga seperti” IHOTOTE” ( Indonesian House of Tofu and Tempe). aah. ini jadi seperti kejauhan, sorry Pak karena saya lupa kalau konsentrasi Bapak adalah untuk memimpin Indonesia, bukan bisnis rumah makan. Dulu orang tua saya punya bisnis rumah makan dan warung kopi serta produksi tahu, jadi semangat sekali saya nulis di sini. Sorry kalau out of topic, terima kasih.
March 30th, 2008 at 11:59 am
aristo (komentar #22)
Selama ini saya mengenal Pak YIM sebagai seorang birokrat, selalu serius, formal, cenderurung kaku, dan pokoknya elitlah. Tapi ternyata saya keliru. Nggak nyangka rupanya Bapak juga paham bener soal masakan. Bagi seorang YIM, ternyata ada juga hubungan antara bidang hukum tata negara dengan mengelola restoran. Salut. Saya respect. Semoga sukses.
March 30th, 2008 at 4:10 pm
kulimaaya (komentar #23)
mudah-mudahan kehadiran biliton bisro & biliton cafe ikut memotifasi anak-anak bangsa ini untuk mencintai maskan ibunya sendiri, apalagi alasan medirikan restoran atau cafe kini sudah semakin beragam, bisa untuk alasan ekonomi, bisa karen alasan sosialisasi selera, atau seperti kami dengan warung kecil kami yang hanya berjualan indotel (indomi telor)dan kopi kahwa (teh dari daun kopi karena buah kopinya sudah diambil penjajah) berharap akan dapar kunjungan dari bapak-bapah pemimpin bangsa ini, namun kalau membawa dayang2 100 orang kami yakin warung kami akan pecah. he.he.he
Bang YIM (tiga huruf) Maju terus, titip do’a juga untuk bapak YK (dua Huruf)
March 30th, 2008 at 4:35 pm
firman arfianto (komentar #24)
salam kenal bang,kalau saya pasti kenal sama abang ,maklum orang penting,tapi senang juga mendengar kalau abang buka resto ala masakan belitong,kapan-kapan kami singgah sekedarm minum kupi-o-
March 30th, 2008 at 5:55 pm
hanyfa (komentar #25)
Assalamu’alaikum bang.
Bangs saya punya usul, bagaimana kalo Billiton Bistro itu menjadi miniatur kuliner Indonesia. Jadi tidak hanya menyajikan masakan khas Belitung aja, tapi masakan khas dari berbagai daerah tersedia di restoran yang keluarga abang kelola. Khan bagus juga untuk memperkenalkan masakan khas dari berbagai daerah yang sehat dan kehalalannya terjamin, ya tentunya dengan harga yang bisa terjangkau oleh kantong saku kami.
Bang, saya tunggu artikel2 abang biar saya bisa menyelami lebih dalam pikiran2 abang terutama yang berkaitan dengan pengelolaan bangsa dan negara Indonesia dalam perspektif syari’at Islam. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
March 31st, 2008 at 9:32 am
isna (komentar #26)
Assalammu’alaikum,
Bang Yusril maaf ya.. saya numpang liwat nih ….. mau menyapa aini (#20).
Hallo Aini Sayang … namanya kok sama dengan nama panggilan saya dirumah, aini orang Indo ya ? …. Indo mana ?
Terimakasih doa’in Isna jadi Gubernur or Istri Gubernur Sumsel. (walau aini hanya berandai tapi siapa tahu perkataan aini diaminkan malaikat sehingga Isna bisa jadi Gubernur Sumsel he..he..he.. mimpi kali yee).
Isnya Allah jikalau Isna jadi gubernur Sumsel or Istri Gubernur Sumsel Isna selalu bisa makan di warung pinggir Sungai Musi sendirian tapi dalam artian sendirinya tetap mengajak muhrim misalnya anak, suami, atau teman wanita.
Karena bukankah jika seorang muslimah itu lebih bagus bila berpergian jika didampingi muhrimnya (ini kata bu guru ngaji lho bukan kata Isna).
Oh ya…. 2 tahun belakangan ini Aini sudah ke Palembang belum ?.
Kalau belum, Isna informasikan bahwa Palembang sekarang ini ada program “VISIT MUSI 2008″.
Objek Wisata yang utama adalah kunjungan Sungai Musi berkeliling dengan Kapal Wisata “PUTRI KEMBANG DADAR” ke seluruh pelosok Sungai Musi singgah sebentar ke Pulau Kemaro. Pulau Kemaro adalah pulau yang ada di tengah Sungai Musi, tempat beribadahnya umat beragama Khong Khu Cu. Jika lebaran cina, “wah”, ramenya bukan main, bahkan kunjungan dari mancanegara yang paling banyak diantaranya dari Malaysia, Singapur, Taiwan, Hongkong dll yang berjiarah ke Pulau Kemaro.
Dipalembang ada tempat wisata sejarah yaitu situs Purbakala Sriwijaya peninggalan kerajaan Sriwijaya, ada Bukit Siguntang dan Kawah Tekurep tempat makam para Raja dan Bangsawan di masa pemerintahan Kerajaan Kesultanan Palembang Darussalam, ada Bukit Batu tempat Si Pahit Lidah berkelilling Oh ya … keanehan bukit batu adalah banyak batu-batuan besar seperti Gunung kecil , jika diambil batu-batunya seberapapun banyaknya tidak pernah habis-habisnya selalu tumbuh yang baru jika berkata-kata disana tidak boleh sembarangan kata orang disana kata-kata yang kita ucapkan tanpa sengaja sering jadi kenyataan. Ada Goa Putri di Baturaja tempat Si Pahit Lidah mengutuk seorang putri dan tempat itu, menjadi batu. Bagi ummat Mulsim jika ingin wisata keagamaan bisa berjiarah ke makam seorang wali yaitu “KI MUARA OGAN” di Mesjid Muara Ogan. Oh ya …. Ki Muara Ogan itu salah satu Ulama yang dianggap Wali, yang turut menyebarkan agama Islam dimasa lalu disamping Ulama-ulama lainnya tapi yang sangat dikenal orang Palembang adalah Ki Muara Ogan. Salah satu Kharomahnya yang dikenal masyarakat adalah pembuatan Mesjid Lawang Kidul Oleh Ki Muara Ogan yang letakknya berada di atas Sungai Musi, mesjid itu tidak ada pondasinya tapi tetap mengambang di Sungai Musi tetapi mesjid itu tetap berdiri seperti layaknya mesjid yang ada di daratan tidak seperti kapal yang terombang-ambing oleh Gelombang Sungai Musi. Wah banyak sekali objek Wisata yang bersejarah disini. Sekarang ini lagi dikembangkan oleh Pemerintah Prop. Sumsel.
Oh Ya… Ngomong-ngomong saya ngelantur ceritanya tapi tidak apa-apa ya? … (maafin aja) moga aja tidak bosan membacanya.
Oh Ya … tentang kullinernya ada lagi nih informasinya.
Sekarang ini Sungai Musi sedang berbenah diri, menyambut tahun wisatanya. Disepanjang daerah pinggir Sungai musi (tepatnya di sekitar bawah Jembatan Apera) sudah banyak berdiri warung dan restoran mulai dari warung pojok sampai restoran untuk kalangan menengah atas, mulai dari dipinggir Sungai sampai warung terapung (diatas kapal) “oh ya” ada restoran yang terkenal yaitu “WARUNG LEGENDA”. Warung Legenda banyak dikunjungi turis, dalam maupun luar negeri yang ingin menikmati masakan khas Palembang khususnya Pempek Palembang, Model, Tekwan, Lakso, Burgo dll tapi Warung Legenda banyak juga dikunjungi masyarakat umum walaupun warung itu kebanyakan dikunjungi Pejabat, wisatawan dalam maupun luar negeri yang ingin bersantai menikmati Panorama Sungai Musi disertai Suguhan Kullinernya. Disamping itu kapal wisata “PUTRI KEMBANG DADAR” pun bisa digunakan untuk bersantai menikmati Panorama Sungai Musi sambil bersantap malam ataupun bersantap siang dengan sajian menu yang beragam. Tetapi kebanyakan kapal ini yang menggunakannya adalah para pejabat, tamu undangan, turis asing ataupun lokal yang berkantong cukup tebal kalau mau menggunakan kapal pesiar dengan uang yang pas-pasan sambil makan pempek bisa menyewa perahu “KETEK” wah asyik lho…
Oh Ya lagi …. jika aini mau berkunjung ke Sungai Musi tidak usah khawatir lagi akan keamanannya, diajamin aman “OI” karena Walikota Palembang sudah ada program untuk menggkoordinir preman (maaf jika kata saya ini salah) ataupun masyarakat didaerah sekitar wisata untuk menjaga keamanan dan ketentraman wilayah wisata sungai musi (entah bagaimana cara walikota itu saya tidak tau) tapi yang jelas saya sudah membuktikannya, hampir setiap sore saya selalu bermain di BKB, hingga sampai saat ini aman dan tentram selalu.
Oh ya lagi… mungkin jika ada wisatawan yang tidak menyukai yang pedas-pedas coba saja model atau tekwannya .
(mungkin ada dari teman-teman yang bersedia menjelaskan tentang model dan tekwan ?…) Mungkin dari Saudara Ibnu Nawi ? (#8).
Atau juga ada yang wisatawan yang mau mencoba “MARTABAK HAR” ?? yang cukup terkenal di palembang.
Oh Ya lagi …. BKB itu adalah singkatan dari Benteng Kuto Besak daerah khusus wisatawan di sungai musi tempat bermain, bersantai sambil menikmati panorama sungai musi dan jika ada kegiatan besar atau sejenis “konser” biasanya digunakan pelataran BKB dengan mengambil posisi berlatar belakang jembatan ampera.
Oh Ya lagi … jika saya jadi Gubernur atau Istri Gubernur pastilah saya akan setiap saat makan di pinggir Sungai Musi. Karena saat ini saya ikut jualan di sebuah warung pempek di pinggir sungai musi bahkan sering jualan pempek putar-putar di BKB (he..he.. he..) mudah-mudahan warung saya jadi maju jika saya jadi gubernur (he..he..he..) dan jika pada malam hari Palembang lebih indah dilihat apalagi dipingir Sungai Musi sambil bergitar melantunkan “PALEMBANG DIWAKTU MALAM” dibawah naungan bulan purnama dihiasi kapal-kapal motor yang berlalu lalang. kalau isna mendendangkan “sebiduk di sungai musi” Isna ogah ah… abisnya takut biduknya terbalik isnakan nggak bisa berenang (he.. he.. he..) pokoknya sekarang aman deh jika berada didaerah wisata BKB sekalipun pada malam hari. karena geliat perekonomian mulai subuh sampai kembali subuh ada disana.
Waduuuuuh saya keasikan nulils disini…mudah-mudahan nggak ngabisin tempat …
itulah sekedar informasi yang banyak untuk aini sayang, tinggalnya dimana aini ?..
akhirnya saya ucapkan terimakasih pada aini atas saran dan kritiknya.
Jika ada salah-salah kata mafin aje (bunyamin.s)
Jka cerita di tulisan saya ini ada kesalahan tolong dimaafkan dan tolong teman-teman memberikan yang benarnya.
Untuk Abang Yusril, Isna minta maaf karena Isna banyak komentar di blog Abang. Dan saya setuju dengan pendapatnya hanyfa (#24) jika abang mau membuka “bistro” lainnya yang menyajikan seluruh makanan yang ada dinusantara kalau bisa jangan yang miniatur tapi yang beneran, dan saya salut untuk tekad abang mengembangkan masakan Indonesia sampai keluar negeri, semoga berjaya !!!.
Jika abang yang jadi presiden saya yakin rakyatnya tidak ada yang kekurangan makan karena abang presiden yang hobi makanan (he…he..he.. becanda lho jangan diambil ati).
Saya juga bangga pada orang Palembang karena walaupun berbagai restoran cepat saji mulai dari Amrik, Jepang, Cina, India sudah bertebaran disini tapi orang palembang tetap menomor satukan Pempek palembang untuk jadi santapan utamanya sehingga Pempek, Model, dan Tekwan tetap menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Saya aja semenjak berada di Palembang jika sehari tidak makan pempek tidak enak rasanya seperti ada yang kurang gitu lho. Informasi lagi permintaan kiriman paket pempek dari USA, Jepang, dan Malaysia sudah semakin banyak juga ada kabarnya Tetangganya Teman saya yang berada di USA lagi ketagihan pempek.
Saya memuji orang Palembang karena saya sendiri bukan orang Palembang tapi saya orang Lampung (he..he…).
Mungkin ada lagi makanan yang Khas dari daerah lain yang menjadi tuan rumah di negeri sendiri ? ….
waduh saya stop dulu deh cerita tentang makanan nggak ada habisnya …. saya jadi lapar nih….
udahan dulu ya… terima kasih…
Terimakasih ya Bang untuk numpang liwatnya ….
Oh ya Bang gimana kabar Pak Ray dari Belitung yang sempat jadi anggota DPRD Prop.Bangka dari PBB? Nama Asli Pak Ray itu Siapa Ya? …
Salam Hangat dari Wong Kito ……
Wassalammu’alaikum,
March 31st, 2008 at 3:24 pm
Mohammad Novel Damopolii (komentar #27)
Assalamu alaikum wr wb
Bang YIM, mhn maaf numpang lewat..
ibu Isna (komentar# 25)
wah,bakat guidenya hebat banget,saya tak mengira di Palembang ada banyak tempat wisata,soalnya waktu tugas di sana, gak ada guide yang sejago ibu,saya malah dikasi tau tempat wisatanya cuma di Sungai Musi.
ibu Isna, kalo di lampung,tempat wisatanya di mana saja, kebetulan lagi tugas di Lampung,pengen jelajahi Lampung neh..thanks atas infonya..
Bang YIM, thanks atas numpang lewatnya
Wassalamu alaikum wr wb
April 1st, 2008 at 3:27 am
aini (komentar #28)
Salam Pak YIM, pertama tama mohon maaf dulu ya, pada komentar saya kali ini saya mau bincang bincang sama isna. apakah Pak YIM keberatan? izinkan saya untuk lewat sarana blognya Pak YIM untuk kenalan sama isna. Halo isna, wah memang anda punya bakat untuk jadi pemandu wisata dan promosi kota Palembang. Saya ucapkan terima kasih atas tanggapan dari pertanyaan saya. juga terima kasih isna telah memberi informasi terbaru tentang Palembang sekarang ini. Saya sangat senang membacanya dan jadi tertarik untuk mengunjungi objek objek wisata yg diceritakan oleh isna di atas kalau ada kesempatan di masa depan. Pertama kali saya ke Palembang pertengahan tahun 1977. Kemudian tahun 1991 , lalu 1993-1996 sering dalam setahunnya, terakhir tahun 2005 hanya semalam. Saya sering ke sana karena banyak family dari pihak ayah saya, dan family suami saya. walaupun sering ke Palembang, saya belum pernah ke tempat tempat yg diceritakan oleh isna, jadi saya baru tahu kalau Palembang sudah maju sekali dalam peningkatan bidang pariwisatanya. Kalau saya ke Palembang, hampir tiap hari juga saya makan pempek. Pulang dari sana saya bawa pempek dan kemplang Palembang. saya berasal dari pulau kembarannya Belitung dan tetangganya Palembang, isna pasti tahu jawabannya kan. setamat SMA numpang di Yogya beberapa tahun, dan bekerja di Jakarta setelah itu. sekarang saya tinggal di luar Indonesia, negri uncle Sam. mudah- mudahan di masa depan kalau saya ke Palembang, saya akan mampir ke warung pempek isna dan makan pempeknya di perahu yg berlayar di tengah sungai musi di waktu malam. saya juga doakan buat isna agar usahanya tetap maju dan kalau memang tertarik mencalonkan jadi gubernur sumsel di masa depan, tidak apa apalah isna coba mendaftar siapa tahu nanti walaupun tidak terpilih, gubernurnya mau menempatkan isna jadi asisten gubernur khusus di bidang pariwisata.heee….okay deh, isna cukup dulu ya, sudah kepanjangan bincang bincangnya. terima kasih. terima kasih Pak YIM telah mengizinkan blognya.
April 1st, 2008 at 8:07 am
noor muhammad (komentar #29)
Tetarik juga mencicipi makanan belitung, kalau baca ulasan bang YIM kayaknya enak sekali. Mungkin lebih enak lagi bila mudah didapat dan terjangkau oleh kantong kita2 ini, kalau di Plaza Senayan so pasti mahal kan Bang. Sewa tempatnya aja udah berapa? Kebetulan kami penggemar berat gulai kepala ikan..hehehehe, kapan ya bisa nyobain masakan Professor brillian merangkap aktor kita ini..hehehe
April 1st, 2008 at 2:25 pm
isna (komentar #30)
assalammu’alaikum,
Salam hormat buat abang Yusril…
Bang Yusril maaf lagi nih, numpang lewat lagi…….maafin yaa…
Salam hangat buat saudari aini, saudara muhammad novel danopollii dan saudara-saudari lainnya (ce ille kayak dimimbar aja)
buat saudara M.Novel Danopolli, untuk obyek wisata di Lampung saya sudah banyak ketinggalan informasinya karena saya sudah meninggalkan Lampung sejak tahun 1994 dan hijrah ke Kota Palembang sampai sekarang. saya juga tadinya tidak tahu kalau di Palembang banyak memiliki potensi wisatanya. Tetapi setelah mengelilingi Sumsel ternyata saya baru menyadari ternyata kota ini banyak menyimpan objek wisata yang perlu dikembangkan bahkan kota ini masih menyimpan banyak misteri wisata yang luar biasa, oh ya kami dan teman-teman saat ini sedang mengembangkan WISATA ALAM menelusuri kawasan GUNUNG DEMPO saat ini masih dalam pembelajaran mudah-mudahan ini akan sukses. Oh YA jika ingin menikmati TEH HITAM GUNUNG DEMPO lebih lezat jika diminum didaerah itu (daerah pagar alam dan sekitarnya) mungkin suasana yang dingin membuat teh itu terasa nikmat …..saya sendiri masih heran teh itu di Ekspor ke luar negeri tapi tidak di jual di Indonesia paling jika ingin menikmatinya harus ke Pagar Alam dulu jika teh itu dibawa ke luar pagar alam atau ke Palembang anehnya kenikmatan rasa teh itu agak berkurang.
Obyek wisata yang saya ingat sewaktu masa kecil saya hingga remaja adalah “Pantai Merak Belatung, Pantai Pasir Putih, Pulau Bidadari, Serensem dan yang lainnya saya lupa tapi kata kakak saya yang masih di Lampung katanya mulai tidak terawat. Saya juga pernah sehari ke lampung akhir tahun 2007 yang lalu lampung yang dulunya sangat bersih tapi kok saat ini lebih enak memandang kota Palembang ?? saya jadi bingung ??. Oh ya dulu ada objek wisata tersendiri bagi saya yang masih kanak-kanak sewaktu di Tanjung Karang tepatnya di kebon jeruk didepan Klenteng Cina, waktu itu rumah saya berada dekat kuburan yang sekarang tidak jauh dari pusat kota atau dekat dengan pasar tidak jauh dari stasion kereta api, rumah saya yang letaknya agak tinggi, saya sering memandang gunung “SUMMAILANG” gungung itu muncul hanya diwaktu pagi dan sore. tapi entah kenapa sewaktu saya datang lagi ke Lampung gunung itu nampakknya memang benar-benar sudah MENGHILANG entah karena geografis bumi lampung sudah berubah atau ?……. saya tidak tau.
itulah sekedar ingatan wisata di Lampung bagi saya.
Aduh Bang yusril lagi-lagi saya minta maaf deh numpang liwat lagi. ….. maaf beribu-ribu mohon maaf ya bang Yusril ?? saya kebanyakan numpang liwat…. he..he…
Sekian dulu ya…
wassalammu’alaikum
April 2nd, 2008 at 1:06 pm
Pages: [1] 2 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda