Beranda

JUSUF KALLA DI BILLITON BISTRO

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Ada hoby saya yang tak banyak diketahui masyarakat, yakni hobi masak-memasak. Hobbi ini lahir mungkin disebabkan oleh paksaan keadaan semasa saya kecil. Keluarga saya terdiri atas sebelas Jusuf Kalla -Amcol 011orang anak. Saya hanya mempunyai satu kakak perempuan. Dua adik saya yang perempuan, masih sangat kecil. Sebab itu, saya dan kakak saya selalu membantu ibu kami memasak ala kadarnya, sesuai kemampuan keluarga kami yang hidup sangat sederhana di Pulau Belitung. Kalau kakak saya pergi ke sekolah dan ibu saya sibuk mengerjakan pekerjaan rumah yang lain, maka perlahan-lahan saya mulai memasak. Saya belajar meracik bumbu-bumbu masakan dan menumbuknya dengan lumpang terbuat dari batu. Tidak ada resep. Tidak ada takaran. Semuanya dilakukan menurut kebiasaan dan perasaan saja. Nenek saya dan ibu saya memang pandai memasak masakan tradisional Melayu Belitung yang kaya dengan aneka rempah-rempah.


Kebiasaan masak memasak itu terus berlanjut ketika saya pindah ke Jakarta. Saya pergi ke pasar sendiri membeli ikan, daging, ayam dan sayur-sayuran, serta bumbu-bumbunya. Saya memasak di rumah dan sekaligus mengajari istri dan pembantu memasak. Pernah suatuJusuf Kalla -Amcol 010 ketika di tahun 1992, stasiun RCTI mengajak saya tampil dalam acara masak-memasak bersama Rudi Chairudin. Saya memperkenalkan gulai ikan Belitung yang berwarna kuning kemerahan yang dicampur dengan nenas. Sejak itu, sekali dua kali ada saja teman yang meminta saya mengajari mereka memasak. Kalau saya sempat, dengan senang hati saya mengajari mereka. Beberapa teman saya, antara lain Maxi Gunawan, pemilik Restoran Bumbu, menyarankan agar saya membuat restoran. Maxi suka memakan masakan saya, walau dia sendiri memiliki beberapa restoran Indonesia, bahkan sampai ke Singapura, Australia dan Belanda.

Saya memang enggan membuat restoran, karena saya tahu tingkat kerumitannya sangat tinggi. Lama saya memikirkan semua ini, Jusuf Kalla -Amcol 021sampai akhirnya saya mendorong anak-anak dan kakak saya agar mereka membuat restoran. Saya bertindak sebagai penggagas dan sekaligus guru masak bagi chef di restoran itu. Mereka tertarik. Maka anak saya Kenia membuat restoran dengan nama Billiton Bistro di Plaza Senayan Lantai II. Kakak saya Yusrniar juga membuat restoran dengan nama Billiton Café di Jakarta. Nama Billiton adalah nama lain dari Belitung. Orang Belitung zaman dahulu menyebut pulau itu “Bliton” atau “Beliton”. Belanda dan Inggris menyebutnya “Billtion”. Jepang menyebutnya “Belitung”. Orang Belitung sekarang menyebutnya “Belitong”. Demikianlah asal-usul nama restoran itu. Mengelola restoran ternyata memang tidak mudah, walau tidak memerlukan investasi yang relatif besar. Segalanya memang harus cocok dengan selera konsumen.

Menata manajemen restoran juga tidak sederhana, banyak sekali detil-detilnya mulai dari komposisi menu, seni penyajian sampai kertas tissue dan tusuk gigi. Tak banyak untung yang diharapkan dari mengelola restoran. Sewa tempat sangat mahal. Hari hujan sajaJusuf Kalla -Amcol 024 telah membuat orang enggan keluar rumah dan makan di restoran. Kompetitor dengan modal kuat dan franchise dari negeri asing juga bukan main banyaknya. Namun yang penting asal jangan rugi, keluarga ada kegiatan untuk belajar berusaha. Saya senang saja melihat keluarga mengelola restoran, walau sampai kini saya pribadi tidak menjadi pemilik restoran itu. Menghabiskan waktu bertemu dengan teman-teman sambil minum kopi di restoran milik keluarga sendiri sambil mendengarkan musik, juga terasa santai dan menyenangkan.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla rupanya mengetahui keluarga saya mengelola restoran. Suatu ketika, mereka mengatakan kepada saya ingin berkunjung ke Jusuf Kalla -Amcol 034restoran itu. Hati saya ketar-ketir juga kalau ada Presiden atau Wakil Presiden datang ke restoran yang tergolong menengah, dan bukan restoran kelas atas itu. Namun, rupanya minggu lalu Wakil Presiden Jusuf Kalla beserta dua menteri, keluarga dan teman-temannya datang ke restoran Billiton Bistro di Plaza Senayan. Selama tiga jam, restoran tidak menerima customer lain, karena rombongan Wakil Presiden akan datang dengan jumlah sekitar seratus orang. Alhamdulillah, semuanya berjalan lancar. Wapres Jusuf Kalla sengaja memesan masakan khas Belitung, gulai kepala ikan dicampur nenas dan sate sapi dan ayam a’la Belitung. Ibu Mufidah memilih memesan “gangan darat”, yakni sup iga sapi yang dimasak dengan aroma kencur. Keduanya menikmati hidangan itu dan sama-sama mengatakan rasanya memang beda dengan masakan daerah lain di negeri kita. Saya sungguh tak menyangka, masakan khas Belitung ternyata banyak digemari orang. Orang Eropa, orang Jepang dan India ternyata juga menggemarinya. Apalagi orang Malaysia, yang memang terkait secara budaya begitu eratnya dengan masyarakat Belitung.

Wakil Presiden Jusuf Kalla dan rombongan berada di Billiton Bistro selama lebih kurang dua jam. Beliau dan keluarga sebenarnya ingin menonton film Ayat-Ayat Cinta yang kini sedang menjadi buah bibir masyarakat di tanah air. Film itu memang sedang diputar di bioskop yang ada di Plaza Senayan. Sebab itu, penulis cerita dan skenario film itu, beserta produsernya ikut hadir di Billiton Bistro. WapresJusuf Kalla -Amcol 042 memang banyak bertanya tentang pembuatan film itu, dan menghargai munculnya tokoh-tokoh muda perfilman nasional, yang memberi harapan baru bagi kebangkitan kembali film nasional kita. Wapres juga bertanya tentang proses pembuatan film Cheng Ho, yang minggu lalu proses syutingnya sedang berlangsung di Lembang dan Cikampek, dengan aktor utama Slamet Rahardjo, Saifullah Yusuf, Nurul Arifin dan Betharia Sonata. Saya sendiri tidak ikut syuting di tempat itu, karena ceritanya adalah perang antara Kerajaan Majapahit dengan Blambangan. Ketika pecah perang antara dua kerajaan itu, Laksamana Cheng Ho sedang mendaratkan kapal induknya di Pantai Simongan, yang menjadi cikal bakal kota Semarang sekarang ini.

Beberapa yang hadir dalam acara makan malam di Billiton Bistro itu ada yang mengolok-olok bahwa acara itu membicarakan soal politik, antara lain “koalisi Golkar dengan PBB” dalam Pemilu mendatang. Sejujurnya saya katakan, tidak ada pembicaraan politik apapun Jusuf Kalla -Amcol 041malam itu. Pak Jusuf Kalla dengan saya adalah sahabat lama, bagai kakak dengan adik. Kami telah saling mengenal sejak lebih seperempat abad yang lalu, bahkan ketika saya menjadi aktivis mahasiswa. Pak Jusuf beberapa kali meminta saya menjadi khatib Jum’at di Masjid Al-Markaz di Makassar. Kami sama-sama menjadi menteri di masa Presiden Abdurrahman Wahid. Saya menteri Hukum dan Perundang-Undangan, Pak Jusuf menjadi Menteri Perdagangan. PBB mencalonkan Pak SBY dan Pak Jusuf menjadi Presiden dan Wakil Presiden, sampai akhirnya kedua beliau itu terpilih. Walaupun saya bukan anggota kabinet lagi, namun hubungan baik dengan Pak SBY dan Pak Jusuf, sebagai sahabat, tetap berjalan sebagaimana biasa. Perbedaan politik dengan seseorang, tidaklah mengharuskan kita menjadi renggang dalam persahabatan pribadi.

Pak Jusuf Kalla, Ibu Mufidah dan seluruh rombongan meninggalkan Billtion Bistro setelah makan malam. Mereka menuju ke lantai II Plaza Senayan. Mereka masih menikmati musik di sebuah kafe di Jusuf Kalla -Amcol 022lantai II itu sebelum menonton bisokop. Saya dan istri menyusul ke lantai II. Saya dan istri menonton film lain, karena telah menyaksikan film Ayat-Ayat Cinta beberapa hari sebelumnya. Istri saya menyukai film Ayat-Ayat Cinta dan mengatakan bahwa film itu bagus sekali jikaditonton bagi yang baru memeluk Agama Islam. Film itu memberikan pemahaman terhadap salah satu aspek dari ajaran Islam yang seringkali disalahpahami banyak orang non Muslim.

Wallahu’alam bissawwab

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — March 28th, 2008

90 tanggapan untuk “JUSUF KALLA DI BILLITON BISTRO”

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

  1. Iwan Asnawi (komentar #31)

    Yth, YIM…

    Ada satu ungkapan, “kekuatan Lelaki terletak pada Perempuan yang mendampinginya”…
    Saya mungkin agak “rewel” disini… pada “Lay outer”. Karena saya yakin bukanlah anda (YIM) yang menyusun tata letak (lay out) fhoto. Tapi, ini adalah kali ketiga, saya saran untuk tata letak fhoto biar lebih egaliter. Sekarang terjadi lagi, “fhoto Ibu Mufidah (Ibu Wakil Presiden) ditaruh paling bawah”…
    Saya bukanlah pengagum Yusuf Kalla, dan bukan juga orang Golkar. Saya hanya seorang yang selalu membaca ide2 anda, karena salah satu ide anda itu adalah, “Egaliter”… Untuk itu (egaliter), saya coba mengungkap hal ini sedetail detailnya.

    Kan, kalau nanti anda jadi Presiden…
    Mungkin tak ada lagi waktu membaca komentar saya ini.

    Salaaaam dari Swiss…

  2. agss (komentar #32)

    Makasih Bang atas infonya, enak juga kayaknya masakan Belitong itu..
    Mudah2 an kapan2 saya mencicipinya.

  3. Akhmad Guntar (komentar #33)

    Wah wah, hebat juga nih Pak Ihza tyt jagoan masak. Saya sampai skr masih bertanya2 lho, kenapa ya kok banyak koki hebat (misal di resto dan hotel) yg mereka itu cowok. Klo kata mas Iwan Asnawi, “kekuatan Lelaki terletak pada Perempuan yang mendampinginya”. Klo kata saya, “kebahagiaan lelaki terletak pada istri yg pandai bikin masakan untuknya”

    ^_^

  4. koohar (komentar #34)

    Pak Yusril yang Saya Hormati..

    Pulau Belitung sebagai daerah yang kaya akan berbagai macam masakan sudah selayaknya untuk diperkenalkan kepada masyarakat luar. di kota-kota besar, seperti jakarta ini, kita jarang sekali menemukan warung masakan belitung. meskipun ada, jumlahnya sangat sedikit, hanya di tempat-tempat tertentu saja. tentu hal ini berbeda dengan warung “masakan padang” yang hampir bisa ditemukan di setiap persimpangan jalan. padahal dalam soal rasa dan aroma serta penyajiannya tentu kita bisa menilai sendiri, masakan belitung pun sangat mungkin diterima oleh masyarakat ibukota jakarta dan sekitarnya. namun persoalan yang mendasar bagaimana mempromosikannya?
    tentunya kita harus mendengar bagaimana penerimaan dan tanggapan masyarakat di luar pulau belitung terhadap masakan belitung ini. mungkin pak yusril bisa menceritakan hal ini karena di billiton bistro juga menyediakan masakan belitung, sebagai menu utama. apalagi banyak yang mengatakan bahwa rasa masakan belitung memiliki cri khas tersendiri.

    namun dibalik semua itu tentu kita ingin kehadiran biiliton bistro juga dapat memberikan promo masakan belitung agar dapat dinikmati juga oleh masayarakat di pinggiran. mungkin masyarakat menengah ke bawah yang tidak mungkin untuk datang ke plaza senayan juga dapat menikmatinya. mungkin untuk ukuran mereka harga makanan di sebuah tempat elit seperti plaza senayan relatif lebih mahal. hal tersebut wajar saja karena tidak mungkin di tempat se elit plaza senayan harganya tidak disesuaikan. namun upaya apa kiranya yang dapat kita lakukan supaya masakan daerah kita ini dapat dinikmati juga oleh seluruh masyarakat seperti halnya menikmati masakan padang tadi. kita memang tidak tau sejak kapan warung masakan padang tersebut sedemikian terkenal. ketika kita datang di pulau dewata pun kita sudah disambut oleh warung masakan padang.

    di belitung, kita punya makanan bakso ikan yang sangat kita gemari, namun untuk di jakarta ini sepertinya kurang dapat diterima. entah apa alasannya, apakah karena rasa bakso ikan kalah bersaing dengan rasa bakso daging yang memang lebih banyak dijual dan dikonsumsi masyarakat jakarta dan sekitarnya. ataukah karena orang jakarta tidak menyukai ikan? terutama ikan laut. pertanyaan saya ini memang cukup beralasan karena banyak teman-teman saya yang mengatakan bahwa ikan laut itu amis dan banyak sekali diantara mereka yang alergi bila menyentuhnya. setiap kali mereka makan di kantin selalu saja memilih menu sayur-sayuran. lain halnya saya ketika makan selalu saja mengambil menu yang ada ikan lautnya. mungkin karena ini sudah kebiasaan kita sebagai masayarakt belitung yang berada sangat dekat dengan laut yang setiap saat mengkonsumsi ikan.

    masyarakt jakarta memang menganggap orang belitung itu royal dan kaya karena menu sehari-harinya selalu ada ikan. kita tau bahwa harga ikan laut sangat mahal di jakarta ini melebihi harga daging ayam. padahal orang belitung sendiri merasa mewah bila mengkonsumsi daging ayam. ada sebuah perbedaan dalam soal ini, kita sebagai orang belitung merasa bangga bila mengkonsumsi daging, makan ikan merupakan hal biasa dan tidk ada kaitannya dengan kemewahan. namun kita harus bangga bahwa makanan laut yang kita konsumsi sangat tinggi proteinnya, dibandingkan dengan makanan lainnya. orang di jepang sana sudah menjadikan menu yang utama dari makanan seafood, mereka biasa makan ikan mentah, kerang mentah, cumi mentah, udang mentah dan lain sebagainya.

    semoga kehadiran pak jusuf kalla bisa memberikan harapan baru bagi promosi masakan belitung di masa yang akan datang. selamat buat pak yusril, semoga harapan bapak untuk membuka masakan belitung di tempat lainnya akan segera terwujud. sebuah peluang bisnis sekaligus promo masakan daerah untuk go internasional yang sangat potensial, asalkan bisa didirikan di tempat-tempat strategis yang mudah dijumpai dan harganya masih terjangkau oleh masyarakat umum lainnya.

    dan mudah-mudahan bila bapak jadi presiden, masakan belitung akan menjadi menu utama di instana negara yang bisa disajikan bagi para tamu negara dari berbagai penjuru dunia. sebagai informasi di harian seputar indonesia beberapa hari lalu, nama bapak masuk dalam 5 besar bursa capres sebagai tokoh alternatif di pilpres 2009, Mereka adalah, Sri Sultan, Yusril Ihza, Hidayat Nurwahid, Syaifullah Yusuf dan Anas Urbaningrum. wassalam

    KOOHAR

  5. koohar (komentar #35)

    Pak Yusril yang Saya Hormati..

    Pulau Belitung sebagai daerah yang kaya akan berbagai macam masakan sudah selayaknya untuk diperkenalkan kepada masyarakat luar. di kota-kota besar, seperti jakarta ini, kita jarang sekali menemukan warung masakan belitung. meskipun ada, jumlahnya sangat sedikit, hanya di tempat-tempat tertentu saja. tentu hal ini berbeda dengan warung “masakan padang” yang hampir bisa ditemukan di setiap persimpangan jalan. padahal dalam soal rasa dan aroma serta penyajiannya tentu kita bisa menilai sendiri, masakan belitung pun sangat mungkin diterima oleh masyarakat ibukota jakarta dan sekitarnya. namun persoalan yang mendasar bagaimana mempromosikannya?
    tentunya kita harus mendengar bagaimana penerimaan dan tanggapan masyarakat di luar pulau belitung terhadap masakan belitung ini. mungkin pak yusril bisa menceritakan hal ini karena di billiton bistro juga menyediakan masakan belitung, sebagai menu utama. apalagi banyak yang mengatakan bahwa rasa masakan belitung memiliki cri khas tersendiri.

    namun dibalik semua itu tentu kita ingin kehadiran biiliton bistro juga dapat memberikan promo masakan belitung agar dapat dinikmati juga oleh masayarakat di pinggiran. mungkin masyarakat menengah ke bawah yang tidak mungkin untuk datang ke plaza senayan juga dapat menikmatinya. mungkin untuk ukuran mereka harga makanan di sebuah tempat elit seperti plaza senayan relatif lebih mahal. hal tersebut wajar saja karena tidak mungkin di tempat se elit plaza senayan harganya tidak disesuaikan. namun upaya apa kiranya yang dapat kita lakukan supaya masakan daerah kita ini dapat dinikmati juga oleh seluruh masyarakat seperti halnya menikmati masakan padang tadi. kita memang tidak tau sejak kapan warung masakan padang tersebut sedemikian terkenal. ketika kita datang di pulau dewata pun kita sudah disambut oleh warung masakan padang.

    di belitung, kita punya makanan bakso ikan yang sangat kita gemari, namun untuk di jakarta ini sepertinya kurang dapat diterima. entah apa alasannya, apakah karena rasa bakso ikan kalah bersaing dengan rasa bakso daging yang memang lebih banyak dijual dan dikonsumsi masyarakat jakarta dan sekitarnya. ataukah karena orang jakarta tidak menyukai ikan? terutama ikan laut. pertanyaan saya ini memang cukup beralasan karena banyak teman-teman saya yang mengatakan bahwa ikan laut itu amis dan banyak sekali diantara mereka yang alergi bila menyentuhnya. setiap kali mereka makan di kantin selalu saja memilih menu sayur-sayuran. lain halnya saya ketika makan selalu saja mengambil menu yang ada ikan lautnya. mungkin karena ini sudah kebiasaan kita sebagai masayarakt belitung yang berada sangat dekat dengan laut yang setiap saat mengkonsumsi ikan.

    masyarakt jakarta memang menganggap orang belitung itu royal dan kaya karena menu sehari-harinya selalu ada ikan. kita tau bahwa harga ikan laut sangat mahal di jakarta ini melebihi harga daging ayam. padahal orang belitung sendiri merasa mewah bila mengkonsumsi daging ayam. ada sebuah perbedaan dalam soal ini, kita sebagai orang belitung merasa bangga bila mengkonsumsi daging, makan ikan merupakan hal biasa dan tidk ada kaitannya dengan kemewahan. namun kita harus bangga bahwa makanan laut yang kita konsumsi sangat tinggi proteinnya, dibandingkan dengan makanan lainnya. orang di jepang sana sudah menjadikan menu yang utama dari makanan seafood, mereka biasa makan ikan mentah, kerang mentah, cumi mentah, udang mentah dan lain sebagainya.

    semoga kehadiran pak jusuf kalla bisa memberikan harapan baru bagi promosi masakan belitung di masa yang akan datang. selamat buat pak yusril, semoga harapan bapak untuk membuka masakan belitung di tempat lainnya akan segera terwujud. sebuah peluang bisnis sekaligus promo masakan daerah untuk go internasional yang sangat potensial, asalkan bisa didirikan di tempat-tempat strategis yang mudah dijumpai dan harganya masih terjangkau oleh masyarakat umum lainnya.

    dan mudah-mudahan bila bapak jadi presiden, masakan belitung akan menjadi menu utama di instana negara yang bisa disajikan bagi para tamu negara dari berbagai penjuru dunia. sebagai informasi di harian seputar indonesia beberapa hari lalu, nama bapak masuk dalam 5 besar bursa capres sebagai tokoh alternatif di pilpres 2009, Mereka adalah, Sri Sultan, Yusril Ihza, Hidayat Nurwahid, Syaifullah Yusuf dan Anas Urbaningrum. wassalam

    KOOHAR

    Putra Burman

  6. resti (komentar #36)

    Diluar soal billiton bistro, saya mau usul….

    bang, sekarang kan UU ITE lagi ramai dibicarakan setelah pengesahannya, bagaimana menurut pandangan abang yang sekarang sudah jadi blogger? karena ternyata banyak pasal karet, ya bang.
    berarti kalo kita mengritik kebijakan pemerintah (walau membangun),atau mengungkapkan fakta, kalau ada pihak yang tak suka, bisa dijerat dengan pasal menyebarkan kebencian…

    kalau bisa, abang bikin ulasan ya, soal UU ITE ini..

    o,ya bgm pendapat abang mengenai statement dari yang disebut pakar dan menyamakan blogger dan hacker?

  7. si pengkritik pedas (komentar #37)

    pejabat pemerintah memang sekarang otaknya lagi kacau, dan yang disebut pakar IT sok KEPINTARAN juga, emang ada hukum yang masuk akal mau menjerat para blogger ?. kan bisa saja setiap orang memanfaatkan alamat email orang lain untuk menyebarkan issue atau membuat blogger palsu atau bloggernya mengambil nama beken seseorang, SAYA SENDIRI AJA MENGGUNAKAN ALAMAT DARI EMAIL ORANG LAIN YANG KEBENARAN SAYA KENAL MELALUI INTERNET he.. he.. he… (ketawan lho)…… ini dunia Maya Booo ingat ini dunia Mayaa, jadi jangan khawatir akan hal tersebut bagi para Blogger. Dan Pasal-pasal yang dibuat hanya politik untuk menyetop akses Pak Yusril di dunia Maya dasar anteknya pemerintah itu kurang kerjaan “HAYO SANA URUSIN RAKYAT YANG BUSUNG LAPAR DI PELOSOK NEGERI INI” nggak usah ngejahilin orang-orang pinter yang ada di dunia Maya”.. “hidup dunia maya” !!!

    Hidup dan Jayalah YUSRIL IHZA MAHENDRA !!!!!!!!!!!! MERDEKA !!!!!!!!

  8. isna (komentar #38)

    Assalammu’alaikum,

    Iya saya jadi bingung nih jadi dimana lagi tempat yang MERDEKA untuk mengutarakan pendapat ?
    Semoga Allah menghukum langsung orang-orang yang mencekal kebebasan seseorang untuk beragumentasi, Amiiin.
    semoga yang membuat pasal asal-asalan tentang dunia Teknologi Informasi kena Virus-Virus Hacker yang mematikan.

    wassalammu’alaikum,

  9. siluman (komentar #39)

    Ya memang, Dasar orang gila yang membuat UU ITE itu jangan dipedullikan oiiii, semoga benar-benar jadi gila tuh mereka.

    heeeee jerat nih Gue!! gue juga pake alamat email palsu alias alamat orang lain yang saya ambil dari internet. he .. he
    Ah gara-gara UU ITE yang dibuat orang-orang gila itu akhirnya gue jadi ikutan gila nih.

    Kalau begitu stop dulu ah gue jadi pusiiiiiing.

    Untuk bang Yusril jangan mundur dari Bloggernya.

  10. hantu (komentar #40)

    No Commet, Sayu takut dijerat, kan kalau masuk dalam jeratan nggak bisa kemana-mana, ikan kali ya?

  11. Arie Ashford (komentar #41)

    Sudah lama Saya tidak menekan angka dan huruf yang ada di laptop yang ditujukan kepada blog Professor Yusril Ihza Mahendra. Maaf, Professor.
    Setuju sekali dengan resti (#35). Sebaiknya Professor Yusril angkat bicara dan tidak angkat kaki, tentang blogger khususnya dalam kaitanny dengan UU ITE secara umum. Hal ini perlu agar kita yang berharap menjadikan blog sebagai media komunikasi dan pembelajaran, mampu berdiri tegak di hadapan sejarah.
    Mas Roy Suryo, saat Anda belum mendapat gelar apa-apa, khususnya kata Pakar, Saya dan teman-teman yang tinggal di Jogja sekitar tahun 90-an, kenal betul, who you are.
    “Janganlah kebencian terhadap sesuatu hal membuat kita tidak berbuat adil”. Bukankah ada petuah bagus dari tradisi budaya bangsa, “bila hendak membunuh (maaf) tikus di lumbung, mengapa harus membakar lumbungnya?” Semoga Allah swt., senantiasa memberikan kejernihan berfikir kepada kita. Amin.

  12. aini (komentar #42)

    kalau komentar # 36 tsb di atas benar, berati bisa bisa film ceng ho akan mendapat hambatan dong dalam tayangannya nanti. ini suatu kekhawatiran saya juga. entahlah bagaimana nanti nasib orang orang yg intelek, care, berjiwa pemimpin, hidup sederhana, melek teknologi, kalau di negara ini ada cara cara seperti yg diungkapkan oleh # 36. terima kasih.

  13. Andika (komentar #43)

    Kenapa sih semua pada ketakutan soal kebebasan pendapat yang akan disensor. Saya mengenal pak Moh Nuh sebagai Menkominfo yang berkompeten dan memiliki integritas. Coba sampaikan, apa bisa kita membangun bangsa dengan pornografi ?

    Kenapa takut menkominfo atau pejabat lain terpengaruh oleh berita tidak benar ? Memangnya mereka tidak recheck ? Memangnya M Nuh lebih (maaf) tolol dari Roy Suryo.

    Ayolah, jangan berlindung dibalik kebebasan pendapat padahal kita sendiri masih malu-malu kucing untuk bertanggung jawab pada setiap komentar dan apa-apa yang kita lakukan. Sekarang ini sudah cukup bebas, kebablasan malah. Bagi yang niat ingin sebebas-bebasnya, coba apa komentar anda tentang sinetron suck yang ada di TV Indonesia sekarang ? Itu sinetron atau Shitnetron ?

    Tanggung jawab ? Ah, di Indonesia ini kalau menguntungkan diri sendiri kenapa mikir soal tanggung jawab. Semua orang tahu kalau pasir laut di Indonesia dikeruk habis, Indonesia bakal cilaka dan rugi besar terhadap negara tetangga. Tapi karena itu menguntungkan beberapa gelintir orang, peduli amat sama kerugian bangsa. Jangan mimpi dululah supaya orang di Indonesia bertanggung jawab dalam melakukan sesuatu atau dalam menghasilkan sesuatu.

    Ehm, ini menyimpang dari tema posting ini :-)

  14. khafidhin (komentar #44)

    bener bosss, OOT. ……………………tapi bagus juga analisisnya.
    sekarang anak - anak kecil aja uda berani bilang preeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeet ama bapak ibunya. apa gak kurang ajar itu. he .he.he.

    sory.

  15. Suswi N - Kalimantan Selatan (komentar #45)

    SubhanAllah……………..ternyata Seorang YUSRIL IHZA MAHENDRA begitu banyak kepiawaian, selain sosok ganteng yg Cerdas, Bijaksana, penuh kharisma juga hebat maen Film, plus ahli masak, biasanya seorang yg pintar masak itu type penyayang anak, bener ya pak? betul-2 luar……….biasa. Boleh donk usul, gimana kalo Pak YIM bentuk waralaba “RM BB” ato BBC ( Bukan Radio Inggeris lho! tetapi Biliton Bistro Cafe ), apalagi di kalsel mudah untuk mendapatkan ikan segar, kan Pak YIM udah ada link ke penjuru nusantara. tinggal nanti diadakan pelatihan aja. Saya dari KalSel siap untuk mengembangkan Pak. Kebetulan saya sangat hobi masak memasak, biarpun saya setiap hari bergelut dengan perangkat TI, tapi masih sempat kok kalo ada bisnis cafe yg spesial. gimana Pak ? saya tunggu infonya, ato boleh kirim lewat email. Wassalam mualaikum war. wab.

  16. chiw (komentar #46)

    :shock:
    waks…
    :oops:

    jadi malu saya…
    saya yang cewek malah sama sekali gak bisa masak :D

    bisa masak indomie ama goreng telur aja :oops:

    salut deh, pas yusril ampe bisa buka resto segala *tepuk tangan*

    Iwan Asnawi
    (komentar #30)

    Yth, YIM…

    Ada satu ungkapan, “kekuatan Lelaki terletak pada Perempuan yang mendampinginya”…
    Saya mungkin agak “rewel” disini… pada “Lay outer”. Karena saya yakin bukanlah anda (YIM) yang menyusun tata letak (lay out) fhoto. Tapi, ini adalah kali ketiga, saya saran untuk tata letak fhoto biar lebih egaliter. Sekarang terjadi lagi, “fhoto Ibu Mufidah (Ibu Wakil Presiden) ditaruh paling bawah”…

    sedikit sepakat sama komentar dari Pak Iwan Asnawi di atas, tata letak foto di postingan agak kurang sip tuh…
    ehehe… fotonya juga blur :razz:
    kok saya jadi malah mengkritik fotonya sih?

    eniwei, keep blogging Pak!

  17. chiw (komentar #47)

    betewe, kok smileynya ndak muncul? di-disable kah?

    kurang berwarna tanpa smiley Pak…

    :D

  18. Ei Nasution (komentar #48)

    Assalamu’alaikum

    Wah, pak YIM ternyata selain lihai dalm politik tetapi juga dalam bisnis (enterpreneuers) sejati juga ternya…, selamat pak. Insya Allah kalo saya punya rejki saya akan datang ke resto bapak.

    Maaf pak YIM saya kok rasanya gak enak ya kalo gak membicarakan nasib rakyat kecil…., apalagi menjelang PILPRES 2009 mendatang…. he he.

    Sebagaimana komentas saya yang terdahulu, jadi rakyat miskin itu sungguh tidak enak ya, mereka itu miskin ternyata bukan gak mau usaha, tetapi karena dikondisikan seperti itu….., gak percaya?, ini buktinya:

    1. “Dari jaman kuda sampe jaman besi terbang” harga produk pertanian itu kok gak pernah dapat mensejahterakan mereka (PETANI), yahhhh, BERAS itu komodtas POLITIK katanya dalm ‘buku sejarah waktu saya SMA”.

    2. Saya hari selasa lalu ke DEMAK (daerah sentra BERAS), harga gabah disana cuma Rp. 1700 pak YIM, padahal dalam Inpres No. 3 Tahun 2007 harga GKP Rp 2000/kg, katanya PERUM BULOG gak mau beli karena kualitas gabahnya rendah. Bulog diamanatkan untuk membeli gabah petani sesuai dengan ketentuan dalam PERMENTAN No. 38/2007. Kita (konsumen) di perkotaan termasuk pelanggan restoran pak YIM benar-benar telah MENGINJAK LEHER PETANI, kenapa???????????, karena ya…, kata pak YK (Yusuf Kalla) konsumen itu harus diperjuangkan jangan sampai harga beras mahal karena konsumen jauh lebih banyak daripada petani. Pak YK juga kemarin (5/4) nongol di TV pada saat berkunjung ke petani di Cirbon dan menyaksikan sendiri harga gabah cuman Rp 1600/kg, sangat jauh bedanya bila dibandingkan dengan harga minyak tanah yang tidak bersubsidi itu………………..

    3. Contoh lainnya silahkan baca artikel (Membeli Parang Pun Tak ukup) http://alumnifpusu.org/blog/?p=27#more-27

    Mereka barangkali sudah di takdirkan untuk jadi miskin trus ya pak YIM, kebijakan yang kita buat seringkali tidak berpihak kepada mereka, merea hanya komoditas politik kalangan POLITISI, janji-janji politik seringkali kita dengung-dengungkan ketika kita membutuhkan mereka.

    Sukses buat pak/bang YIM untuk Capres 2009 anda harapan baru petani……, saya ingatkan jangan sekali-kali mengangkan pembantu/menteri dari pengusaha karena sense of humanity-nya sepertinya kurang………………

    Aduh… capek sudah pak YIM, lain kali saya sambung kalo saya ketemu lagi sama petani miskin

    Edi Nasution

  19. detnot (komentar #49)

    Kapan2 saya di traktir dong pak Yusril :mrgreen:

  20. Agus Ustar (komentar #50)

    Assaamualaikum wr wb…
    Senang bisa mendengar & melihat ada orang belitong yang sangat peduli atas tanah kelahirannya terlebih orang tersebut adalah penggede di negara ini sampai-2 mau membuat restoran masakan khas daerahnya sendiri salut buat bang YIM…. Moga saya & klrga bisa mampir dan menikmati makanan favorit saya gangan ikan lengkap dengan pucok menggale dan sambal belacan (smoga ade)…. gaok rasenye kan itu smue
    salam sukses buat bang YIM & klrga Wassalam

  21. Syam Jr (komentar #51)

    Assalamu’alaikum Wr.Wb.
    Membangun komunikasi tentu mempunyai berbagai formula. Kunjungan JK ke Bung YIM yang dikenal sebagai politisi bagi saya mengandung makna keinginan membangun semangat kebersamaan. Karena saya melihat dua figur adalah pemimpin bangsa. Pemimpin yang merakyat tidaklah mesti makan diwarung pinggir jalan, lantas kalau makan di Bilitton Bistro berarti JK tidak merakyat. Kalau tidak salah analog semacam itu adalah pemikiran proletarian.
    Saya pikir Bung YIM juga telah melakukan hal penting berupa pemikiran, gagasan dan tindakan dalam konteks penyelenggaran pemerintahan maupun kenegaraan berorientasi kepada pentingan rakyat banyak sesuai tatanan hukumnya. Saya yakin bahwa apa yang bung lakukan selama ini tidaklah hanya sekadar keinginan warga Belitung saja tetapi untuk seluruh masyarakat Indonesia.
    Membangun komunikasi bukan sesuatu yang salah. Semoga Sukses.

  22. Zul Asri (komentar #52)

    Subhanallah, Allahuakbar,
    Membaca blog bang YIM membuat saya pribadi dan mungkin juga pembaca lain merasa melanglang buana dengan penuh pengalaman yang membuat hati dan perasaan seperti nano-nano. Semuanya lengkap, kadang tergugah, kadang simpatik, kadang tertawa geli, bahkan jujur saja saya pernah saat membaca artikel bang YIM tanpa terasa menetes air mata dan bulu roma jadi berdiri karena terpacu semangat bergelora dan bercampur haru. Bagaimana tidak sambil membaca artikel The Biography of Mohammad Natsir, yang terbayang adalah bagaimana indahnya jika suatu saat nanti perjuangan PBB untuk melanjutkan cita-cita Masyumi dapat tercapai sehingga di negara yang kita banggakan ini hidup masyarakat Islam yang menjalankan syaria’t Islam dan saling menghargai dengan sesama pemeluk agama lain. Keindahan itulah yang pernah dibuat oleh Nabi Muhammad SAW masa pemerintahannya dan masa pemerintahan Khalifah.
    Kemudian sekarang saya bisa sedikit tertawa geli dengan kelucuan para pecinta blog bang YIM dengan saling menumpang memberi komentar.
    Mengenai topik ini, saya sebagai putra Minang yang selama ini baru bisa sebatas bercita-cita untuk membuat Rumah Makan Minang dengan ciri khas KAPAU jadi semakin bersemangat untuk mencapai cita-cita tersebut, namun saat ini belum cukup modal dan keberanian untuk memulai.
    Sekedar sharing info saja, saya pernah membuat konsep usulan rekomendasi dalam pertemuan warga KAPAU se Indonesia di Bandung 5 Mei 2007 yang salah satu usulan saya adalah membuat industri rumah tangga yang memproduksi rempah-rempah masakan khas KAPAU yang kemudian rempah-rempah tersebut dapat dipatenkan. Saat ini Masakan Khas KAPAU seperti Gulai Tunjang, Gulai Tambusu (usus sapi), Rendang dan juga ada Ketupat KAPAU yang mana sudah terkenal sampai kemanca negara. Mohon doa restunya mudah-mudahan suatu saat rencana untuk mematenkan produk khas ini tercapai, karena belajar dari pengalaman sudah dipatenkannya Rendang oleh Malaysia. Saya sarankan juga ciri khas masakan Belliton (Belitung) dapat di patenkan untuk antisipasi era persaingan global.
    Yang terpenting adalah tauladan yang bang YIM buat sebagai seorang Entrepreneurship adalah perlu kita kembangkan untuk generasi penerus bangsa ini. Amin.
    Wassalam,
    Zul Asri, ST

  23. Hery Azwan (komentar #53)

    Pak Yusril, di kalangan non muslim ada kesan seolah2 Anda itu kurang ramah (dari kesan yang saya tangkap lho?).
    Di artikel ini Bapak menulis persahabatan Bapak dengan Maxi Gunawan yang dari namanya saya kira bukan seorang muslim. Tulisan yang mengangkat persahabatan seperti ini, menurut saya, perlu diperbanyak agar kekhawatiran sebagian teman non muslim bisa berkurang. Memang tidak perlu terlalu frontal seperti yang dilakukan Gus Dur. Persahabatan antara Natsir dan Kasimo yang seperti Bapak sering sampaikan perlu terus diimplementasikan pada generasi muda saat ini.
    Btw, blognya sangat inspiratif sekali. Tulisan yang lengkap seperti ini beserta komennya pasti tidak mungkin kita peroleh di media cetak konvensional.

    Salam

    Hery Azwan

    Saya mengerti karena begitu banyak propaganda yang ditujukan kepada saya seolah-olah saya bersikap intolerans kepada umat beragama lain, karena saya aktivis sebuah partai Islam. Padahal hubungan saya dengan tokoh-tokoh beragama Kristen seperti Sabam Sirait, Kwik Kian Gie, Tunggul Sirait mendiang Astrid Susanto, Manasse Mallo, demikian akrab. Belum lama ini ada teman yang mengatakan hal yang serupa, ketika dia ngobrol dengan Christianto Wibisono. Katanya, saya ini kurang menyukai orang Cina. Tetapi suatu hari Christianto datang ke studio syuting film Cheng Ho. Saya masih memakai baju Cheng Ho dan menghampirinya. Saya berbicara dalam bahasa Cina dengannya. Tetapi dia bengong, dan mengatakan kepada saya bahwa dia tidak memahami apa yang saya katakan. Apa yang saya ucapkan dalam bahasa Cina itu artinya, “saya mendengar dari seseorang bahwa anda mempunyai kesan saya ini anti China. Padahal saya sangat memahami budaya Cina dan bersahabat dengan begitu banyak orang Cina, lihatlah sekrang, Anda menyaksikan saya membuat film Cheng Ho”. Setelah dia bengong itu saya mengatakan kepadanya, dalam bahasa Cina juga sambil tertawa “Sekarang anda tahu, mungkin saya lebih Cina daripada Anda, ha ha ha..”. (YIM)

  24. billitone (komentar #54)

    Minggu lalu saya mampir di Billiton Bistro, quite cozy place dan pilihan menu lumayan beragam. Kalau ada waktu akan mampir lagi untuk mencicipi masakan belitong.

    Mumpung tulisan ini mengenai bistronya, cuma mau menyampaikan kesan saja:
    AC nya kurang dingin, lalu waktu itu wi-fi nya lagi gak “connect”, katanya sudah dua hari. Jadinya saya hanya ngopi dan ngemil sebentar.

    salam.

    Terima kasih atas infonya. Soal AC memang sentral dari Plaza Senayan. Soal Wi-fi mudah-mudahan sudah jalan..(YIM)

  25. Adek (komentar #55)

    Bang YIM, aku pernah dengan beberapa teman ke Billiton Caffe, Plaza Senayan. Sayangnya bagi kami yang mempunyai lidah asli. Tidak bisa mengatakan pas rasanya, mungkin sang juru masak harus belajar lebih banyak untuk bisa mendapatkan feel dari Gangan / gulai ikan + nanas tersebut.

    Tiap-tiap rumah orang asli Belitungpun kalau masak gangan ikan dengan nenas, rasanya sudah beda-beda. Saya mengikuti resep yang diajarkan ibu saya. Seperti itu jugalah rasanya yang dihidangkan di Billiton Bistro. Sebagaimana kita maklum, rendang Padangpun bisa beda-beda juga rasanya. Mohon maaf kalau rasanya tidak terlalu pas di lidah anda. (YIM)

  26. Erwan (komentar #56)

    Soal harga kok ga disinggung pak….bisnis adalah bisnis atau harga temen..he..he…

  27. Teddy (komentar #57)

    Bung Adek , itu tandanya mesti balik kampung he he he

    was : ……… Sayangnya bagi kami yang mempunyai lidah asli. Tidak bisa mengatakan pas rasanya……..

  28. Siska (komentar #58)

    Assalaamu’alaykum Bang Yusril,
    gulai kepala ikan dicampur nenasnya tampaknya hampir sama dengan gulai ikan kuning dari Pagaralam, daerah asal saya (Pernah denger nama daerah ini Pak? daerah pegunungan setelah kota Lahat dari Palembang ke arah Bengkulu/Tebing Tinggi).
    tapi kalau di Pagaralam ada variasi lain untuk gulai ikan kuning ini, dicampur dengan tempoyak (durian yang di fermentasi) rasanya mak nyusss…Indonesia emang kaya ya Bang :)

    Ya. Gulai seperti itu sebenarnya khas Melayu. Di Malaysia juga ada, demikian pula di daerah Riau dan daratan Sumatera Selatan lainnya. Juga di Kalimantan Barat. (YIM)

  29. Iwan Asnawi (komentar #59)

    Yth, YIM

    Saya baru pergi lagi ke Swiss… setelah liburan dua minggu di Indonesia. Malam terakhir, tgl 22 April saya menyempatkan minum kopi di BILLITON. Eeeeh, ternyata kopi yang saya pesan tidak ada… Yang “made in Indo”, ala Belitung itu. Penasaran? Saya bertanya pada “pelayan”, mana kopi ala Belitungnya? Jawabnya, waah… Pak disini tidak menggunakan “kopi Lokal”. Kopi disini, semua import… semua kopinya didatangkan dari Australia, ujar pelayan itu bangga!!!

    Ala mak… jauh jauh dari Swiss, pengennya minum kopi khas Belitung… ditawarin “kopi Ausie”… Kecewa? Laa, iya la…
    Apalagi, bau asap rokok… ngebul kemana mana. Ada Fachry Ali malam itu, duduk ditengah Resto. Di mejanya penuh rokok, dan asap rokok… Pokoknya, malam itu Resto kayak “Kereta Api” yang asapnya mengembul kemana mana. Semua tamu merokok!!! Waaah, saya hampir membatalkan niat untuk makan malam. Tapi, karena keramahan satu pelayannya (laki laki), niat itu saya urungkan. Akhirnya, saya menyantap sop “Iga Sapi”… Waaah, nikmat…

    Sekarang, saya sudah di Swiss lagi, setelah dua minggu liburan…
    Saya usul nih, bagaimana antara tamu perokok… dan yang tidak merokok… coba dipisah tempatnya.
    Atau malah dilarang merokok sama sekali!!!
    Itukan Restoran Bung! Bukan kedai Tuak!
    Kita makan kan mau sehat, bukan mau sakit!

    Salaaam…

  30. Iwan Asnawi (komentar #60)

    Yth, YIM…
    Lagi kemana nih, Tuan Rumah?

    Kok “ruangan” seperti tanah tak bertuan?
    @59…Apakah anda baca komentar saya?

    Salaaaam…

Pages: « 1 [2] 3 » Show All

Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda