SKB TENTANG AHMADIYAH
Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Kemarin, usai acara diskusi “Konstruksi Kepemimpinan Menuju Kebangkitan Nasional” yang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta Media Center, saya ditanya oleh sejumlah wartawan mengenai Ahmadiyah, sehubungan dengan
rencana diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, yang kini tengah menjadi berita hangat media massa di tanah air. Waktu itu saya menjawab, yang harus diterbitkan bukanlah sebuah SKB karena istilah itu sudah tidak dikenal lagi dengan diundangkannya UU Nomor 10 Tahun 2004. Istilah yang benar ialah Peraturan Menteri. Apakah Peraturan itu dikeluarkan sendiri-sendiri oleh menteri atau pejabat setingkat menteri, atau secara bersama-sama, semuanya tergantung kepada kebutuhan materi yang ingin diatur. Istilah Keputusan, dengan berlakunya UU Nomor 10 Tahun 2004, hanya digunakan untuk sebuah penetapan, seperti pengangkatan dan pemberhentian seseorang dalam jabatan, bukan sesuatu yang berisi norma yang bersifat mengatur.
Beberapa jam setelah saya menjawab pertanyaan wartawan di atas, beredar berita melalui SMS bahwa saya sama saja dengan Adnan Buyung Nasution yang menentang SKB tentang Ahmadiyah. Hal inilah yang mendorong saya untuk menulis artikel ini, melengkapi apa yang sudah diberitakan oleh beberapa media, antara lain Detik.Com kemarin, Republika, Indopos dan The Jakarta Post hari ini. Saya menegaskan bahwa saya bukannya tidak setuju dengan SKB itu, tetapi bentuk peraturan hukum yang diterbitkan ialah Peraturan Bersama, bukan Surat Keputusan Bersama. Memang istilah Keputusan Bersama dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, tetapi setelah berlakunya UU Nomor 10 Tahun 2004, maka istilah Peraturan Bersama lebih sesuai untuk digunakan. Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan segala kesalahpahaman akibat pemberitaan sepotong-sepotong, dapat dijernihkan.
Pendapat saya tentang Ahmadiyah sebenarnya tegas saja. Bagi saya, seseorang masih dapat dikatakan seorang Muslim, apabila dia berpegang teguh dan berkeyakinan sejalan dengan prinsip akidah Islam, yakni La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Tentang Muhammadur Rasulullah itu tegas pula dianut prinsip, bahwa sesudah beliau tidak ada lagi rasul dan nabi yang lain. Kalau mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad (lihat gambar) adalah nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w, saya berpendirian bahwa keyakinan tersebut sudah menyimpang dari pokok akidah Islam. Karena itu, lebih baik jika penganut Ahmadiyah itu menyatakan diri atau dinyatakan sebagai non-Muslim saja. Dengan demikian, hak-hak konstitusional mereka di negara Republik Indonesia ini tetap sah dan diakui. Saya memberikan contoh di Pakistan, para penganut Ahmadiyah –lebih khusus disebutkan kelompok Ahmadiyah Qadian atau Qadiani — yang tegas-tegas digolongkan sebagai minoritas bukan Muslim atau “Non Muslim minority”. Sebab itu Konstitusi Pakistan menetapkan bahwa mereka mempunyai wakil di Majelis Nasional Pakistan yang diangkat untuk mewakili golongan minoritas.
Dalam agama Islam memang diakui keberadaan mazhab-mazhab, yakni berbagai aliran penafsiran baik di bidang Ilmu Kalam, Fiqih dan Tasawwuf. Namun perbedaan penafsiran itu tidaklah sampai mempertentangkan pokok-pokok ajaran Islam, melainkan detil-detilnya. Dalam Kalam misalnya, tafsiran kaum Muktazilah dengan kaum Asy’ariyyah tentang al-Qada wal-Qadar, walau berbeda namun tetap dalam batas-batas yang sejalan dengan pokok-pokok akidah. Demikian pula halnya mazhab-mazhab fiqih, adalah perbedaan dalam menafsirkan kaidah-kaidah hukum sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang tidak menyimpang dari asas-asas syariah. Dalam Tasawwuf, para aliran sufi saling berbeda persepsi mengenai cara-cara berdzikir dalam mendekatkan diri kepada Allah. Namun dalam hal akidah yang pokok, tak ada perbedaan yang prinsipil di antara aliran-aliran tasawwuf. Adapun meyakini bahwa masih ada seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w, jelaslah menyalahi prinsip akidah Islam. Sebab itulah, Rabithah al-Alam al-Islami dan Organisasi Konfrensi Islam (OKI) telah lama mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyah (Qadian) adalah golongan yang telah keluar dari Islam. Pemerintah Arab Saudi juga melarang penganut Ahmadiyah (Qadian) menunaikan ibadah haji. Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1984 juga telah menerbitkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang telah keluar dari Islam.
Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Sebagai sebuah perkumpulan, Ahmadiyah Indonesia telah pula mendapat status badan hukum yang disahkan Kementerian Kehakiman pada tahun 1950-an. Namun aktivitas gerakan ini sampai sekarang meresahkan bagian terbesar Umat Islam di Indonesia. Tempat ibadah mereka disebut “mesjid” juga. Sementara di samping al-Qur’an, mereka juga menggunakan Kitab Tadzkirah sebagai pegangan dalam keyakinan mereka, khususnya tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad serta ajaran-ajarannya. Sebab itu tidak mengherankan jika berbagai ormas Islam mendesak Pemerintah untuk melarang gerakan Ahmadiyah ini sejak lama. Dalam beberapa bulan terakhir ini isyu Ahmadiyah kembali mencuat dan tindak kekerasan terjadi di berbagai tempat. Dalam konteks inilah, wacana keluarnya “SKB” muncul ke permukaan.
Apakah dasar hukum yang diinginkan agar Pemerintah melarang keberadaan Gerakan Ahmadiyah itu? SKB yang menjadi bahan pembicaraan itu bersumber pada Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 yang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 ditetapkan menjadi undang-undang. Dalam undang-undang ini disebutkan “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu (Pasal 1). Selanjutnya dalam Pasal 2 disebutkan bahwa bagi mereka yang melakukan kegiatan seperti itu, diberi “perintah dan peringatan keras” untuk menghentikan kegiatannya. Perintah itu dikeluarkan oleh Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri dalam bentuk “Keputusan Bersama”. Apabila kegiatan itu dilakukan oleh sebuah organisasi maka “Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri”. Apabila orang/organisasi tersebut telah diberi peringatan atau dibubarkan dan dilarang oleh Presiden, namun tetap membandel, maka kepada mereka dapat dituntut pidana dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya lima tahun. Dengan UU Nomor 1/PNPS/1965 ini pula, ketentuan Pasal 156 KUHP ditambah dengan Pasal 156a yang antara lain berbunyi “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap sesuatu agama yang dianut di Indonesia”.
Nah, kalau membaca dengan cermat isi UU Nomor 1/PNPS/1965 di atas, maka keliru kalau ada yang meminta Pemerintah — dalam hal ini Menteri Agama, mendagri dan Jaksa Agung — untuk menerbitkan “SKB “untuk melarang Ahmadiyah. “SKB” hanya dapat memberikan perintah dan peringatan keras kepada orang perorangan yang melanggar ketentuan Pasal 1 UU tersebut. Kalau Ahmadiyah sebagai sebuah gerakan/perkumpulan/organisasi, maka yang dapat membubarkan dan melarangnya bukan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, tetapi Presiden Republik Indonesia. Jadi permintaan harus disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bukan kepada Muhammad Maftuch Basyuni, Mardiyanto dan Hendarman Supanji.
Ada kalangan yang berpendapat bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 itu sudah ketinggalan zaman, tidak sejalan dengan hak asasi manusia, demokrasi dan bertentangan dengan UUD 1945 hasil amandemen. Sebagai tafsiran dan pendapat boleh-boleh saja. Pendapat yang sebaliknya juga ada, namanya saja tafsir dan pemahaman. Namun hingga kini keberadaan undang-undang tersebut sebagai kaidah hukum postif secara formal masih berlaku, sebab belum pernah diubah atau dicabut oleh Presiden dan DPR. Mahkamah Konstitusi sampai kini juga belum pernah membatalkan undang-undang itu dan menganggapnya bertentangan dengan UUD 1945 dalam permohonan uji materil. Jadi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 itu sah sebagai undang-undang yang berlaku. Bahwa sampai sekarang dua menteri dan Jaksa Agung belum juga menerbitkan “SKB” dan Presiden belum juga mengeluarkan Peraturan Presiden membubarkan dan sekaligus melarang organisasi/perkumpulan Ahmadiyah, semuanya itu tergantung kepada kemauan dan keberanian politik mereka itu. Walaupun konon, anggota Wantimpres Adnan Buyung Nasution menentang, namun nasehat anggota Wantimpres, bahkan Wantimpres sebagai sebuah lembaga, tidaklah mengikat Presiden. Jangankan hanya Adnan Buyung Nasution, nasehat seluruh anggota Wantimpres dapat diabaikan Presiden, kalau Presiden berpendapat lain. Saya dengar rapat mengenai Ahmadiyah ini telah beberapa kali dilakukan oleh beberapa menteri yang dipimpin Presiden dan juga dihadiri anggota Wantimpres. Namun hingga kini, kita belum tahu keputusan apa yang akan diambil, baik oleh Manteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung, maupun oleh Presiden sendiri. Reaksi atau komentar Presiden atas soal Ahmadiyah ini belum terdengar. Ini beda dengan reaksi beliau yang cukup cepat terhadap isyu poligami yang dilakukan Aa Gim, walau hal itu lebih bersifat personal Aa Gim. Perbedaan tafsir mengenai poligami masuk ke dalam bidang fikih Islam. Masalahnya tidak menyangkut akidah, dibanding dengan isyu Ahmadiyah yang kini menyita banyak perhatian umat Islam, politisi dan aktivis hak asasi manusia di tanah air, bahkan gemanya jauh ke mancanegara.
Wallahu’alam bissawwab
Short URL: http://yusril.ihzamahendra.com/?p=248
May 9th, 2008 at 3:51 pm
Terima kasih atas penjelasan yang komprehensif ini pak.
Saya memandang polemik soal Ahmadiyah ini adalah soal ketidaktegasan seorang pemimpin untuk mengambil keputusan, akibatnya terlalu banyak pihak-pihak yang mempermasalahkannya. Andaikata pemimpinnya tegas, niscaya polemik dapat dieliminasi dan diskursus yang berkembang dapat dibicarakan secara cerdas.
Sekarang ini orang jauh meributkan soal sikap ekstrim sebagian kalangan tanpa melihat sikap sebagian besar masyarakat.
Pelanggaran HAM ? Telisik dulu siapa yang melanggar dan siapa yang dilanggar. Biasanya orang yang tunjuk muka soal HAM, dia itulah yang melanggarnya.
May 9th, 2008 at 4:10 pm
@ vavai: saya sependapat dengan anda
May 9th, 2008 at 6:24 pm
Saya sedih sekali melihat pihak yang berkoar-koar untuk mendukung eksistensi Ahmadiyah sebagai bagian dari Islam. Koq mereka begitu menutup mata. Apakah mereka tidak bisa merasakan betapa terzaliminya pemeluk Islam akibat kengeyelan Ahmadiyah ini. Apakah mereka tidak melihat kebulatan suara di seluruh dunia bahwa Ahmadiyah bukan Islam. Apakah mereka tidak bisa membayangkan kalau ini terjadi pada diri mereka. Apakah yang ingin mereka kejar sebenarnya???
Saya setuju dengan abang bahwa sebaiknya perlakuan terhadap Ahmadiyah bisa mengambil contoh dari Pakistan.
May 9th, 2008 at 7:30 pm
Ahmadiyah adalah bukan Islam, biarkan mereka hidup di Indonesia, tapi mereka kita akui sebagai Non Muslim, mereka juga harus mengakui hal tersebut, mereka adalah Non Muslim. Masalah mereka sudah menodai Aqidah Islam, Nabi SAW pun sudah mengajarkan untuk tidak mendzalimi umat selain Islam selama mereka tidak mengusik kita, masalah mereka mempunyai keyakinan ada Nabi setelah Rasululloh SAW, itu suatu kesalahan mereka, biarkan mereka pertanggungjawabkan di hadapan Alloh, SWT kelak, mereka belum diberikan hidayah. Wallahu’alam.
May 9th, 2008 at 7:33 pm
Jernih pak. Sedari awal saya juga berpikir, kalau saja mereka memproklamirkan agama baru, maka tidak akan pernah ada masalah, layaknya perlakuan umat Islam terhadap Hindu, Buddha, dan Nasrani selama ini.
May 9th, 2008 at 7:34 pm
Oke, saya tanya bang? kalau sebuah organisasi itu dilarang, nanti lantas bagaimana dengan asetnya? kemudian apakah hanya payung hukum Keputusan Presiden cukup untuk membuat pembubaran Ahmadiyah? kalau PKI kan pakai TAP MPR. Terus, kemudian, kalau misalnya ahmadiyah dibuatkan agama sendiri. Pengaturannya lewat apa bang???
Bang, antum gabung aja ke PKS…! biar partai islam tambah jaya….
Kalau organisasi dilarang, maka harta benda miliknya dapat ditangani oleh Balai Harta Peninggalan (BHP) yang berada di bawah Departemen Hukum dan HAM untuk diurus. Kalau mengacu kepada UU Nomor 1/PNPS/1965 pelarangan organisasi Ahmadiyah cukup dilakukan dengan Peraturan Presiden. Tentu beda dengan pembubaran PKI. Waktu itu (1966) dasar hukum Pembubaran PKI ialah Penpres Nomor 7 tahun 1959. Namun Pengemban Supersemar (Mayjen Soeharto) waktu membubarkan PKI dengan sebuah keputusan yang diambil atas nama Presiden RI. Baru belakangan keputusan itu dikukuhkan dengan Ketetapan MPRS.
Saran Anda agar saya gabung ke PKS berat juga bagi saya. Saya termasuk pendiri PBB dan pernah dua kali menjadi Ketua Umum dan kini menjadi Ketua Majelis Syura. PBB dan PKS sama-sama partai Islam, karena itu adalah bersaudara. Asas dan cita-citanya mempunyai banyak kesamaan. Karena itu kedua partai ini memang harus bekerjasama dengan erat sebagai dua saudara. (YIM)
May 9th, 2008 at 9:18 pm
Nah ini dia tulisan yang saya tunggu, entah kenapa masalah Ahmadiyah ini terus berlarut-larut. Memang selayaknya Pemerintah RI melihat bagaimana negara di tempat kelahiran Ahmadiyah, memperlakukan kelompok ini untuk melihat perbandingannya.
Menurut Bang YIM jika keputusan tentang Ahmadiyah baik melalui SKB atau Perpres masih menggantung apa dampaknya bagi Ahmadiyah di Indonesia dan umat Islam???
Untuk Fikreatif dalam komentar #6, saya pikir alangkah lebih baik kalau kita ingin menggapai kejayaan Islam tidak melihat dari satu partai saja. Biarkan orang memilih, apalagi kalau orang tersebut sudah punya pilihan dan menjadi pendiri sebuah partai.
May 9th, 2008 at 9:36 pm
Oya bang YIM satu tanya lagi, bagaimana kalau Ahmadiyah di Indonesia gak mau diperlakukan seperti di Pakistan? (misalnya mereka ngotot masuk dalam Agama Islam, dengan alasan mengaku nabi Muhammad adalah nabi terakhir??)
Kalau penganut Ahmadiyah itu mengakui Nabi Muhammad S.a.w sebagai Rasul dan Nabi terakhir, dan hanya mengakui Mirza Ghulam Ahmad hanyalah seorang mujaddid (pembaharu), maka mereka telah kembali kepada Islam yang sesungguhnya. Pengikut Ahmadiyah seperti itu telah dilakukan oleh Jemaat Ahmadiyah Lahore di Pakistan. Karena itu tidak ada masalah dengan mereka. Kelompok yang tetap berpendirian bahwa Mieza Ghulam Ahmad adalah Nabi adalah Jemaat Ahmadiyah Qadian. Mereka inilah yang digolongkan sebagai non Muslim minority di Pakistan. (YIM)
May 10th, 2008 at 8:44 am
Ini dia tulisan yang saya nanti-nanti, saya setuju itu. Tapi kenapa pemerintah sepertinya lama sekali untuk mengambil keputusan mengenai Ahmadiyah ini ?
May 10th, 2008 at 8:46 am
Ass. Wr.Wb….Bang Yusril….
Nah gitu donk..Bang…saya sangat senang Abang mulai menyampaikan gagasan, pandangan dan komentar terhadap masalah-masalah penting yang sedang ramai dibicarakan dan dirasakan oleh masyarakat Indonesia sekarang..
Dari gagasan, pandangan dan komentar Abang inilah rakyat akan terus menilai Abang apakah Abang memang pantas mengemban amanat sebagai Presiden RI yang baru…inilah “kampanye” buat Abang sendiri…sebelum musim kampanye itu sendiri resmi dimulai…
100 % saya setuju dengan pendapat Abang tentang Ahmadyah.
May 10th, 2008 at 10:01 am
kenapa tho pemerintah takut-takut untuk mengambil yindakan tegas untuk ahamadiyah, padahal kan negara-negara tetangga kita udah bertindak secara tegas ! menurut anda bagaimana pemerintahan saat ini, koq mencla-mencle !
Saya tidak tahu apa sebabnya. Keputusan akhir ada di tangan Presiden SBY. Beliaulah yang mengambil keputusan. Para menteri atau Wantimpres dapat saja memberi masukan, namun akhirnya segalanya tergantung kepada Presiden. (YIM)
May 10th, 2008 at 11:13 am
akhirnya terbit juga SKB tentang ahmadiyah setelah berlarut-larut tak ada kejelasan…
Ah yang bener Boss. Kapan terbitnya? (YIM)
May 10th, 2008 at 12:38 pm
terima kasih penjelasannya bang, jangan lupa kalau sudah menjadi presiden tetap “ngeblog”, ya.
Saya do’akan bisa menjadi RI 1 dua periode saja, sukses bang.
May 10th, 2008 at 1:07 pm
YIM,
Sungguh penjelasan ini sangat berguna bagi masyarakat. Alangkah baiknya kalau tulisan ini dapat disebar luaskan juga melalui media cetak agar dapat dibaca oleh orang yang belum mengenal Internet, itu manfaat pertama yang saya tangkap, manfaat kedua bisa lebih mengenal tentang kapabiliti calon presiden 2009 nanti.
May 10th, 2008 at 2:45 pm
Ada empat tujuan pokok pembentukan aliran ini:
1. Penodaan terhadap Alquran
2. Penistaan terhadap kerasulan Muhammad SAW
3. Pengaburan pemahaman jihad
4. Merusak ukhuwah Islamiyah
Inti dari solusi persoalan ini adalah Presiden. Beranikah Presiden mengeluarkan keputusan Ahmadiyah bukan Islam? atau memang Presiden nga berani atao mungkin Presiden lagi pusing mikirin BBM. btw Pak kapan bapak menulis tentang isu kenaikan BBM, kalau boleh usul, sering-sering nulis tentang perkembang bangsa dan negara Pak, terus sama solusinya dah.
sama seperti ahmadiyah ini Bapak menulis dan kasih jalan keluarnya…
May 10th, 2008 at 2:51 pm
Ada empat tujuan pokok pembentukan aliran ini:
1. Penodaan terhadap Alquran
2. Penistaan terhadap kerasulan Muhammad SAW
3. Pengaburan pemahaman jihad
4. Merusak ukhuwah Islamiyah
Inti dari solusi persoalan ini adalah Presiden. Beranikah Presiden mengeluarkan keputusan Ahmadiyah bukan Islam? atau memang Presiden nga berani atao mungkin Presiden lagi pusing mikirin BBM. btw Pak kapan bapak menulis tentang isu kenaikan BBM, kalau boleh usul, sering-sering nulis tentang perkembang Bangas dan negara Pak, terus sama solusinya dah.
sama seperti ahmadiyah ini Bapak menulis dan kasih jalan keluarnya…
oh ya Pak ini diluar Topik menurut Bapak perlukah Pemerintah menaikan harga BBM?
May 10th, 2008 at 10:36 pm
soal ahmadiyah paling – paling di endapkan ?
tapi kalo uda urusan BBM, sudah pasti naik, tinggal nunggu tanggalnya.
untuk pak YIM, mudah – mudahan tidak pernah terbesit sedikitpun untuk pindah partai… kasihan simpatisan abang di tingkat bawah. BRAVO PAK YUSRIL.
He he he… Soal endap-mengendapkan itu nampaknya memang telah menjadi salah satu style kepemimpinan Pak SBY, Boss.. Soal pindah partai, nggaklah Boss. Insya Allah, sekali merdeka tetap merdeka… Sekali PBB tetap PBB! (YIM)
May 11th, 2008 at 1:00 am
Alhamdulillah akhirnya sedikit saya memahami salah satu keributan akidah di negara tercinta ini. Kalau saya lihat jelas-jelas yang diterbitkan ahmadiyah.org mereka mengakui AlQuran dan Rasullah SAW, lantas yang banyak di Indonesia nih Ahmadiyah yang mana lagi…?? Sudah jelaskan langkah yang harus diambil oleh pak SBY…??? tinggal nunggu pers conference lagi nih…!!!!
May 11th, 2008 at 7:54 am
Asw.
bang sejuta persen, saya menolak ajaran yang mengatakan ada nabi setelah Rasulullah Muhammaad SAW.
namun demikian, apakah keyakinan seseorang bisa diadili? bagimana pasal dan bunyi undang-undanngnya?
Trims
Keyakinan seseorang memang tidak dapat diadili oleh pengadilan kita berdasarkan hukum postif Indonesia. Di bidang ideologi, negara memang dapat melarang penyebarluasan suatu ideologi yang bertentangan dengan asas atau dasar negara. Di bidang agama, keyakinan orang juga tidak dapat diadili. Namun apabila keyakinan seperti itu disebarkan atau diperlihatkan di muka umum, dan ternyata dapat mengganggu ketenteraman masyarakat, maka perbuatan itu dapat dihukum. Bahwa seseorang tidak percaya kepada Allah sebagai Tuhan dan menolak kerasulan Nabi Muhammad s.a.w tidak dapat dihukum, tentunya. Mereka bukan Muslim. Namun jika ada seseorang atau sekelompok orang — apalagi membentuk sebuah organisasi — yang menyatakan diri Muslim namun menganut paham yang secara prinsipil bertentangan dengan asas-asas keyakinan Islam — seperti misalnya meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w — dan mereka menyatakannya serta menyebarkannya secara terbuka, maka perbuatan itu dapat meresahkan orang-orang Islam yang sesungguhnya. Negara berkewajiban untuk melindungi orang-orang Islam dari penyelewengan terhadap ajaran agama yang mereka yakini, serta memelihara ketenteraman rakyatnya. Atas dasar itulah negara dapat bertindak demi kepentingan umum.
Kalau penganut Ahmadiyah menyatakan bahwa Ahamidyah itu bukan Islam dan meyakini Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi yang membawa agama baru, tidak masalah. Tidak ada alasan untuk mengadili mereka. Penganut agama Sikh aman-aman saja di negara kita ini. Ajaran Guru Nanak, pendiri agama Sikh dengan Kitab Grand Sahib sebagai kitab sucinya, mulanya mengkombinasikan ajaran Hindu dan Islam pada masa Sultan Akbar — sultan Muslim dari Kerajaan Moghul — memerintah India. Mula-mula ajaran Sikh juga meresahkan orang Hindu dan orang Islam. Namun, ketika Sikh menyatakan sebagai agama tersendiri, mereka aman-aman saja. Anda dapat menyaksikan dua tempat sembahyang agama Sikh (Sikh Temple) di Jakarta, di Jalan Kartini, Pasar Baru dan di Jalan Lagoa, Tanjung Priok. Sepanjang pengetahuan saya, tak ada orang yang mempersoalkan kegiatan agama Sikh di negara kita ini. Di India apalagi, mereka aman-aman saja. Bahkan satu propinsi di India yakni East Punjab, mayoritas penduduknya menganut agama Sikh. Kalau saya tak salah, ada orang Sikh yang pernah menjadi Perdana Menteri India. (YIM)
May 11th, 2008 at 11:33 am
Tulisan dan penjelasan yg menarik.. bagus dan jelas, semoga orang orang yg hanya ikut ikutan menghakimi bisa tahu kejelasannya.
Menjadi sebuah polemik yg tidak pernah usai di negara kita ini. berbeda dengan negara yg memang sebuah negara Islam.. pasti mereka akan langsung menolak dan mengharamkannya, walau dengan alasan dan dalih apapun. tetapi di sebuah negara yang heterogen seperti Indonesia ini.. dimana semua hal bisa berkembang dengan subur, ya harus bener bener bisa selektif dan bisa menghargai pemdapat dan keyakinan orang lain, terlepas dari undang undang yg berlaku.
Tetapi semua itu akan berujung lain ketika dibenturkan dengan Undang Undang dan aturan yang berlaku, maka dari itu pemerintah harus tegas dengan undang undang yang ada, kesannya saat ini pemerintah sangat memble dengan kasus serupa seperti ini, maka tak heran jika banyak aliran aliran sesat yg muncul di basmi kemudian muncul lagi.
Meskipun begitu, tidak ada pembenaran juga atas semua tindakan ormas ormas yg mengatasnamakan pembela agama tetapi mereka menolak dengan merusak dan menghancurkan.
Kita masih negara yang berbudaya. Mari kita selesaikan dengan kepala dingin.. jangan ada tindakan yang anarkis, serahkan saja pemerintah dan para aparat dan ulama. Tindakan apapun itu dan oleh siapapun itu, selama dilakukan dengan kekerasan tetep sebuah kesalahan.
*btw mas Vavai sepertinya harus mengedit tulisan lagi, karena Bung Yusril copi paste artikel dari ms word lagi ;)
May 11th, 2008 at 1:46 pm
yessssssssssssssssss………………….
Insya Allah, sekali merdeka tetap merdeka… Sekali PBB tetap PBB! (YIM)
heheheheh……………itulah pemimpin yang punya idealis.
boss lampung utara ( syahrul ) mana suaranya, sibuk kampanye ya ? ditunggu pak yusril ni.
May 11th, 2008 at 4:03 pm
Tentang fatwa sesat ahmadiyah saya sepakat, tapi pembakaran rumah orang adalah kriminal, soal kekurang tegasan pemerintah terhadap kasus ahmadiah memang SBY sedang ambisi untuk pemilu 2009. melindungi ahmadiyah melawan arus besar keinginan mayoritas muslim di indonesia meskipun sesuai dgn konstitusi. membubarkan ahmadiyah melanggar konstitusi bisa di impacment (klo ada yang berani sih meski logikanya mungkin) dan berseberangan dgn para aktifis ham dan mereka para intelektual yg bisa menciptakan opini publik, jd benar kata bang yusril hanya masalah keberanian saja.
May 11th, 2008 at 11:22 pm
Pak YIM, saya terus terang agak bingung dengan yang kontra dan yang pro terhadap Ahmadiyah. Kalo saya lihat dua-duanya percaya akan ada Nabi setelah Nabi Muhammad saw. Tapi kenapa mereka ribut sih ?
Yang Anti Ahmadiyah, jika saya tanya tentang tentang Imam Mahdi akhir zaman ? mereka menjawab “Iya dia akan datang di akhir zaman. Nabi Isa as. katanya. Berarti kan ada nabi lagi , betul kan ?
Gitu aja pak, mohon maaf jika ada kata yang salah,
Ryansyah
Jakarta.
May 11th, 2008 at 11:35 pm
Bung Yusril,
Sesuai dengan kapasitas anda, seharusnya anda bisa lebih spesifik, Apakah maksud anda setuju untuk membubarkan Semua aliran Ahmadiyah atau sebagiah Ahmadiyah yang ada di Indonesia?
Di alenia terakhir Anda mengatakan perihal Aa Gym adalah perbedaan tafsir dalam masalah fikih, dan bila kalimat terakhir itu anda teruskan APAKAH Anda akan mengatakan bahwa urusan dokrin dan keyakinan terhadap adanya nabi baru adalah perbedaan tafsir dalam masalah akidah, dan karena dalam sejarah penanganan kedua wilayah teologi itu secara umum perbedaan tafsir atas fikih tidak terlalu berdampak politis dan menggangu stabilitas, maka nampaknya Presiden perlu/terlalu/ hati-hati untuk mengambil keputusan dalam wilayah tafsir akidah.
Ini bisa dimaklumi karena dalam sejarahnya, perbedaan tafsir atas akidah jika ditangani dengan cara yang kurang pas maka akan mengganggu stabilitas , sebagaimana yang pernah kita lihat dalam sejarah mazhab-mazhab terdahulu seperti apa yang dialami oleh khawarij, Asy`ariyah, Muta`zilah, Syiah dan lainnya.
OK, itu yang pertama, yang kedua saya ingin tanya :
Apakah anda sudah tahu betul press release yang mereka [ahmadiyah] keluarkan tempoe hari? Apakah betul mereka tidak mengucapkan dua kalimah syahadat sebagaimana yang anda maksud?
“MEngakui adanya nabi lain setelah nabi Muhammad saw”
Apakah anda sudah klarifikasi bahwa semua aliran ahmadiyah yang ada di Indonesia mengakui perihal serupa? MEngakui bahwa ada nabi lain setelah nabi Muhammad saw?
Anda mengatakan bahwa “Tempat ibadah mereka disebut “mesjid” juga. Sementara di samping al-Qur’an, mereka juga menggunakan Kitab Tadzkirah sebagai pegangan dalam keyakinan mereka, khususnya tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad serta ajaran-ajarannya”
PErtanyaan saya, dimanakah selayaknya orang yang mengucapkan dua kalimah syahadat untuk beribadah?
Apa yang anda maksud dengan “pegangan dalam keyakinan mereka?” , Apakah yang anda maksud “pegangan dalam keyakinan mereka” adalah pegangan sebagai penganti alquran?
Kalau maksud anda begitu, apakah anda sudah verifikasi ke ahmadiyah bahwa betul semua penganut aliran ahmadiyah menilai kitab Tadzkirah itu sebagai pengganti Al-quran?
Bung Yusril yang saya hormati,
Sifat dan bawaan sejatinya agama islam itu adalah untuk menebar kedamaian, bukan untuk menebar teror dan intimidasi. Saya termasuk orang yang menolak cara-cara yang dilakukan oleh teman-teman muslim fundamental kemarin yang jelas-jelas sudah membakar masjid, mengeluarkan teror dan kata-kata bunuh, bunuh, bunuh!. Saya yakin anda akan menolak juga cara yang barbar seperti itu, atau dugaan saya keliru terhadap anda?
Dari sisi urgensi, bagi saya kalaupun harus ada yang dibubarkan maka yang perlu dibubarkan terlebih dahulu adalah pihak-pihak/kelompok-kelompok yang terang-terangan telah menebarkan teror dan ancaman pembunuhan, setelah itu bisa di ‘aman’ kan baru lah pemerintah mengurus urusan yang sifat urgensinya ada dilevel berikutnya, yaitu ‘menangani’ organisasi/aliran/kelompok yang ‘membahayakan akidah’ kelompok lain.
Bung Yusril,
Prinsipnya saya setuju dengan anda, bahwa islam tulen/sejati adalah islam yang menolak adanya nabi lain setelah nabi Muhammad, walaupun setelah kata nabi itu disusupi dengan istilah teknis “bukan nabi pembawa syariat” sebagaimana argue dari sebagian mereka (ahmadiyah), bagi saya mereka tetap berada diluar koridor islam yang asli. Islam sejati tidak akan pernah mengatakan ada nabi lain selain dari Muhammad saw.
Namun demikian, pada tulisan anda masih ada kontradiksi pada kata “Ahmadiyah” . Diawal anda katakan setuju atau mendukung pembubaran ahmadiyah, namun pada penjelasan berikutnya anda katakan ” kecuali untuk mereka-mereka yang tetap mengakui bahwa nabi terakhir adalah nabi Muhammad saw”.
Sepintas, kata “kecuali” yang anda tuliskan mengisyaratkan kepada saya bahwa anda belum memverifikasi betul apakah ‘isi ahamdiyah’ itu secara keseluruhan.
Anda menisbahkan kata ahmadiyah itu untuk keseluruhan ahmadiyah diawal, tetapi diakhir anda mengakui tidak keseluruh ahmadiyah mempunyai pandangan yang sama.
Boleh saya mendapat pencerahan lebih ditail dari tulisan anda ini?
Salam,
Iman K.
http://www.parapemikir.com
NB:
Maaf saya tidak memanggil anda dengan kata Pak/Bapak, apakah anda keberatan?
Tanggapan saya:
Dalam pengamatan dan telaah saya, meskipun tidak menegaskan aliran Ahmadiyah yang mana, namun keyakinan Jemaah Ahmadiyah Indonesia adalah sama dengan keyakinan Ahmadiyah Qadiani seperti telah saya tulis dan jawaban saya atas beberapa tanggapan di atas. Mereka yang mengucapkan sayahadatain, meyakininya dan mengamalkannya, tempat ibadahnya tentu adalah masjid. Tetapi kalau syahadatain itu kemudian ditambahi dengan hal-hal lain, walau tak disebutkan secara eksplisit dan dirangkaikan dengan syahadatain, seperti mengakui kenabian Mirza Ghulam Ahmad, maka tetaplah merupakan keyakinan yang menyimpang dari pokok akidah Islam. Bahwa Presiden bersikap hati-hati dalam mengambil keputusan, saya menghargainya. Namun pada akhirnya, ketegasan amatlah perlu, karena wewenang mengambil keputusan ada pada beliau. Dalam tulisan saya di atas, tegas saya kemukakan bahwa soal poligami adalah perbedaan tafsir dalam fikih, berbeda dengan kenabian Mirza Ghulam Ahmad, yang telah memasuki bidang akidah.
Menghadapi persoalan Ahmadiyah, saya tetap menolak cara-cara kekerasan seperti telah terjadi di berbagai tempat. Langkah hukumlah yang harus dikedepankan, bukan kekerasan. Terhadap mereka yang melakukan kekerasan, tetap dapat diambil langkah hukum.
Mengenai Kitab Tadzkiran, jemaah Ahmadiyah tidaklah menganggapnya sebagai pengganti al-Qur’an. Al-Qur’an yang merupakan himpunan wahyu Allah kepada Rasul/Nabi Muhammad S.a.w tetap dijadikan pegangan. Namun, Kitab Tadzkirah juga mereka yakini sebagai “wahyu Allah” pula yang diterima oleh Mirza Ghulam Ahmad dan dijadikan pegangan di samping al-Qur’an. Di sinilah letak persoalannya.
Saya berpandangan bahwa persoalan “kenabian” Mirza Ghulam Ahmad itu berbeda dengan persoalan Imam Mahdi sebagaimana yang anda kemukakan.
Saya dipanggil Pak, Bung, Bang, Mas, Saudara, Dik dsb, oke saya. Tidak masalah.
Terima kasih atas komentar Anda.(YIM)
May 12th, 2008 at 1:40 am
#Iman K,
Anda meributkan soal Islam garis keras, padahal mereka muncul karena ada pihak yang menyulut mereka. Bagaimana mungkin akibat diselesaikan kalau penyebabnya tidak diselesaikan.
Bicara soal pembakaran masjid dan ancaman, tentu kita semua tahu itu salah. Kamu merasa aneh nggak kenapa yang kamu sebut Islam garis keras itu demikian bodohnya mengeluarkan statement seperti itu ? Kamu tahu nggak kenapa mereka dibiarkan saja melakukan pembakaran ?
Pada akhirnya ini cuma politik yang dilakukan yang terus berkembang karena pemerintah tidak tegas.
May 12th, 2008 at 9:33 am
iskam adalah agama rahmatan lil’alamin dan telah sempurna diturunkan oleh Allah swat kepada umat manusia melalui nabi Muhammad saw jadi mari kita murnikan agama ini dengantidak menambah atau mengurangi apa yang telah diturunkan dan jangan terlau banyak menafsirkan karena penafsiran akan menjerumuskan kita pada prasangka belaka. masalah baik dan benar tergantung tolok ukurnya yang dipakai apa. bagi para pejuang HAM maka semua diselaraskan pada HAM masalah salah dan benar tergantung HAM, jika HAM mengatakan benar sekalipun Al-Qur’an mengatakan salah ya harus dibenarkan. Lain dengan jika tolok ukur yang dipakai ISLAM (Al-Qur’an dan Sunah) semua urusan harus diselaraskan dengan ajaran ISLAM sekalipun kadang – kadang bertentangan dengan HAM dan DEMOKRASI
bicara masalah Ahmadiyah ya harus kita lihat dengan kacamata Islam (karean Ahmadiyah mengaku islam) kalau memang secara prinsip ahmadiyah bertentangan dengan prinsip dasar aqidah islam yan berarti ahmadiyah salah dan sesat menyseatkan sehingga harus di bubarkan atau dianggap sebagi agama baru diluar agama Islam. lebih baik antara Islam dan Ahmadiyah hidup rukun seperti bertetangga saja saling menghormati dan kerjasama yang baik (Ahmadiyah bukan bagian keluarga besar Islam demikian juga sebaliknya islam bukan bagian Ahmadiyah kedua agama yang berbeda)
May 12th, 2008 at 10:48 am
Menurut pendapat saya presiden belum berani mengatakan bahwa ahmadiyah adalah aliran sesat, seperti kita ketahui bahwa pemilu sudah dekat, mungkin presiden kalo mengeluarkan statment bahwa ahmadiyah sesat…apa yang akan terjadi dengan pencalonan presiden nanti?
May 12th, 2008 at 11:46 am
thnx ohm penjelasan dan klarifikasinya.
sempet kaget juga baca berita kemarin :D
May 12th, 2008 at 11:46 am
Assalamu alaikum wr.wb.
Semoga pak Yusril dalam keadaan sehat dan diberikan kekuatan untuk terus memberikan pencerahan kepada masyarakat Indonesia sesuai peraturan perundang-undangan yang berlaku sekaligus sebagai pencerahan dan pembela umat muslim…
Sebelumnya saya atau kami sebagai umat muslim bisa tidak menggugat JAI telah melakukan penistaan dan pengrusakan akidah dan kaidah agama Islam? Apakah hak ini ada payung hukumnya pak? Sebab saya pribadi merasakan bahwa dengan adanya JAI ini benar-benar telah merusak ajaran agama Islam (dimana semua umat muslim walau berbeda mahzab, tetap sama dalam hal akidah Lailahaillallahu Muhammadarrasulullah), dan agama Islam juga merupakan agama yang sah diakui di republik ini. Jadi saya kira langkah yang tepat adalah memperjuangkan hak akidah agama kami?
Akan tetapi yang sangat meyedihkan para pemimpin negeri ini, koq begitu susah dan berlarut-larutnya memutuskan hal ini, sehingga terjadi pembakaran tempat ibadah JAI, secara pribadi saya sendiri, dari hati saya yang paling dalam sih sangat tidak setuju dengan pembakaran dan pengrusakan itu, harusnya yang kita kejar itu adalah para pemimpin republik ini yang secara hukum dan struktural berkewajiban memberikan solusi, yang lebih meyedihkan dan meyesakkan hati saya mereka secara KTP beragama Islam dan telah menunaikan ibadah haji, tetapi mereka tidak sedih dan terketuk hatinya ketika agama yang mereka anut di injak-injak ajarannya. Terus terang pak saya tidak habis pikir dengan sikap dan langkah yang mereka lakukan, padahal jikalau pak SBY dan jajarannya mengeleuarkan sikap dan keputusan melarang exist-nya organisasi JAI jika masih mengaku Islam dan menjamin keberadaannya jika mereka mau mengakui bahwa mereka bukan agama Islam, tetapi agama baru atau apalah, saya yakin seluruh umat muslim negeri ini akan mendukung dan berteriak Allahu akbar, memangnya harus takut kepada siapa? takut kepada siapa? hanya kepada Allah-lah hakiki-nya kita harus takut, dan ingat secara undang-undang mungkin presiden menjalankan pemerintahan berdasar konstitusi, tapi secara pribadi mereka adalah muslim, sebagai pemimpin dan sebagai seorang muslim akan diminta pertanggung jawabannya dihadapan Allah kelak, ataukah mereka takut dengan tokoh yang katanya ulama kesohor di negeri ini, yang tempo hari ini mengeluarkan argumen bahwa jikalau akan dipersidangkan pelarangan JAI ini, beliau akan menjadi salah satu pembelanya, naudzu billah min dzalik. saya memang penganut islam yang ilmunya sangat jauh dibawah beliau dan juga pak yusril, tapi saya sama sekali tidak menaruh respek kepda beliau, tidak akan pernah, yang paling menyedihkan lagi bahwa masih banyak juga umat muslim yang menjadi pendukungnya, beliau A pendukungnya A, beliau B pendukungnya juga B…
Pak yusril, dulu ketika bapak ke kota Kendari, kalo ga salah akhir tahun 90-an, dengan PBB, saya sangat menaruh simpati yang sangat tinggi, apalagi pak yusril melalui PBB akan memperjuangkan piagam Jakarta. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, gaungnya tidak terdengar lagi. Akhirnya sampai sekarang saya lebih memilih menjadi golput saja. Jika ada yang menyarankan Bapak pindah partai, jangan pak! sekali lagi saya mohon jangan pak, dan jangan pula sembarangan ber-koalisi dengan partai lain hanya untuk tujuan kekuasaan. Saya salah satu pengagum bapak, bapak pun orang pintar secara akademis, dan insya allah secara ilmu agama, saya sangat berharap bapak melalui partai bisa menjadi pembela Islam, tidak mengapa bapak tidak menjadi penguasa, tetaplah menjadi tokoh yang sederhana, pro rakyat, memperjuangkan Islam, mempersatukan umat Islam minimal di republik ini pak, memang mengapa kalau kita tidak jadi penguasa di dunia ini, tapi kita dikenang sebagai tokoh yang membela rakyat, membela Islam, Toh yang paling mulia adalah orang yang paling bertaqwa kepada Allah SWT. Pak sekali lagi saya mohon, di negeri ini sudah krisis ketokohan, hampir semua tokoh yang akan maju yang berkedok akan mensejahterakan rakyat, tapi lihatlah kenapa masih ada jarak antara mereka dengan rakyat, berjas berdasi, sedang rakyat hanya punya dua baju dan celana, satu dipakai sehari-hari, satu lagi dipakai untuk jumatan dan hari raya, mereka masih senang makan enak tapi lihatlah rakyat, bagusnya ada kenikmatan dalam senin-kamis bagi yang menunaikannya. Jadi tanggalkanlah pakaian mewah bapak, jadilah pemimpin yang sederhana, tapi kaya hati, jadilah pemimpin yang sering berpuasa lillahi ta’ala demi makannya rakyat ini, bukankan kita semua ingin kehidupan akhirat yang membahagiakan?
Terima kasih atas doanya. Istilah “menggugat” dalam istilah hukum selalu dikaitkan dengan sengketa di bidang perdata dan tata usaha negara. Dalam kasus Ahmadiyah ini, bukan gugatan yang harus dilakukan, melainkan desakan kepada Presiden, termasuk kepada Menag, Mendagrdi dan Jaksa Agung, agar tidak ragu-ragu mengambil keputusan. Setelah adanya keputusan itu, jika masih terus dilanggar, maka kepolisian/kejaksaan dapat melakukan langkah hukum menindak mereka, dengan diawali penyelidikan, penydikan dan kemudian tuntutan pidana ke pengadilan. Tanpa keputusan Presiden dan tiga pejabat tinggi itu, kepolisian dan kejaksaan belum dapat beritindak atas nama hukum terhadap sebuah sebuah organisasi.
Minggu yang lalu saya datang ke Kendari dan memberikan Khutbah Jum’at di Mesjid Agung, dan memberikan pengajian kepada jemaah kaum ibu ba’da Ashar. Mengenai Piagam Jakarta — dalam arti mengembalikan ketentuan Pasal 29 ayat (1) UUD 1945 mengenai syar’at Islam — PBB tetap konsisten dengan hal itu. Perjuangan atas hal itu dilanjutkan kembali jika terbuka kesempatan melakukan amandeman UUD 1945 di sidang MPR. Walau demikian, transformasi terhadap asas-asas syari’ah Islam ke dalam hukum positif nasional, terus kami lakukan. Untuk memahami hal ini, mohon anda membaca artikel tentang Transformasi Syariah Islam ke dalam Hukum Positif Nasional di blog ini juga.
Saya berterima kasih atas saran agar saya tetap konsisten memperjuangan cita-cita kebajikan bagi bangsa dan negara. Sehari-hari gaya berpakaian saya sederhana saja,mirip pakaian anak-anak muda zaman sekarang. Kalau pakai jas dan dasi, biasanya dilakukan pada acara-acara resmi, termasuk sidang kabinet dahulu, sebagaimana sering disiarkan televisi. Namun dalam kehidupan sehari-hari tidaklah seperti digambarkan tv itu.
Terima kasih dan salam hormat saya.
May 12th, 2008 at 11:50 am
Orang sering sekali berdalih ini HAM, tapi bukankah HAM umat Islam yang telah dilanggar oleh JAI???
May 12th, 2008 at 2:05 pm
pendapat abang tentang ahmadyah saya sangat setuju sekali,
memang rakyat kita tidak memahami undang-undang yang abang
sebutkan di atas.
May 12th, 2008 at 2:34 pm
pak yusril, kalo pakai opera. tulisannya masih nampak besar – besar . gak nyaman bacanya.
ngapunten.
May 12th, 2008 at 3:11 pm
Ray #20 & Khafidin #32
Tulisan sudah direvisi kebentuk yang standar. Pada waktu pertama kali diposting juga sudah direvisi namun kemudian formatnya tertimpa lagi karena ada beberapa perbaikan penulisan.
May 12th, 2008 at 3:23 pm
ingat isyu poligini Aa’ Gym yang dapet reaksi cepat dari Sby, kabar-kabur mengatakan karena ada tekanan dari dalam, yakni dar Bu Ani. Jad, kepada kalangan yang ngin Sby mengeluarkan juga reaksi cepatnya bisa mnta tolong Bu Ani.
Sangat asumtif memang. Tapi, ngomong2 rupanya peran ibu negara menjadi penting karena punya kekuatan menekan, sebagaimana juga Ibu Tien Suharto.
Moga-moga Bang YIM nggak ngaruh!
May 12th, 2008 at 3:28 pm
Pendapat Abang sangat bagus sekali
May 12th, 2008 at 8:12 pm
Memperhatikan pola perjuangan Pak Yusril fikiran saya teringat pada Alm.Pak Natsir.Beliau istiqomah dalam perjuangan
tegas dalam pendirian tetapi diutarakan dalam bahasa santun dan alasan yang jelas. Selain itu seperti juga Pak Natsir mampu mengutarakan pendapatnya dengan bentuk lisan dan tulisan.Saya harapkan agar Pak Yusril tetap berdiri dalam barisan paling depan dalam membela kepentingan ummat.Kalau pemilu pertama setelah reformasi saya pilih PBB kemudian pada pemilu kedua saya pilih partai yang berasas lainnya dan Insya Allah pada pemilu yad. saya kembali pilih PBB. Soal Capres saya dukung Pak Yusril tetapi saya realistis saja, yaitu dengan syarat suara PBB dukungan partai lain cukup significant.
May 12th, 2008 at 9:33 pm
Assalamualaikum Wr.Wb.
Semoga sehat selalu bang, saya melihat ada “pertentangan” antara abang dengan bang buyung. Tapi saya sependapat dengan abang soal ahmadiyah walaupun saya sendiri awam mengenai ini. Kalo boleh tahu kenapa sih waktu itu presiden sby membentuk wantimpres bang? Politik akomodasikah? atau memang pak sby kurang pd mengambil keputusan? Setahu saya waktu itu abang masih jadi mensesnegnya pak sby. Seandainya abang tahu syarat apa saja untuk menjadi wantimpres? Siapa tahu saya keterima jadi anggotanya he..he lumayanlah.
Ada benarnya apa yang Anda katakan. Antara saya dengan Pak Adnan Buyung Nasuiton, adakalanya berbeda pendapat, namun ada kalanya pendapatnya sama. Prsiden membentuk Wantimpres untuk melaksanakan perintah Pasal 16 Undang-Undang Dasar 1945 yang bunyinya “Presiden membentuk suatu dewan pertimbangan yang bertugas memberikan nasihat dan pertimbangan kepada Presiden, yang selanjutnya diatur dalam undang-undang”. Pada tahun 2006, saya mewakili Presiden membahas RUU Wantimpres dengan DPR, sehingga terbentuklah UU Nomor 19/2006 tentang Dewan Pretimbangan Preiden. Presiden sangat puas dengan pekerjaan saya mewakili beliau dalam membahas dan menyelesaikan RUU itu. Kemudian, Presiden meminta saya dan Sdr. Sudi Silalahi untuk membantu beliau menyusun keanggotaan Wantimpres. Nama Adnan Buyung Nasution memang berasal dari Presiden sendiri. Presiden mengatakan lebih baik Pak Buyung itu “ada bersama-sama kita, daripada ada di luar”. Saya dimintai pendapat tentang nama-nama yang Presiden calonkan, termasuk Adnan Buyung Nasution. Setelah itu, Sdr. Sudi menghubungi mereka satu demi satu. Saya terlibat dalam seluruh proses pembentukan Wantimpres itu, sampai pelantikan semua anggota Wantimpres di Istana Negara. Sehari sebelum mereka dilantik, saya juga melantik Sekjen Wantimpres, yang secara administratif berada di bawah Sekretariat Negara, termasuk menyediakan semua fasilitas yang diperlukan bagi Wantimpres.
Mengenai syarat-syarat menjadi anggota Wantimpres, saya sarankan untuk membaca saja UU Nomor 19 Tahun 2006 tentang Dewan Pertimbangan Presiden. (YIM)
May 12th, 2008 at 9:53 pm
Sungguh suatu Pencerahan bagi kami
Pengunjung Setia Blog Bung “Natsir Muda”
May 12th, 2008 at 10:05 pm
Saya sangat setuju dengan pendapat abang. Pemerintahan SBY harus segera mengambil sikap, paling tidak menetapkan bahwa ahmadia bukan islam, kalau memang tidak punya nyali untuk membubarkannya.
May 13th, 2008 at 12:30 am
Bung Yusril,
Agaknya tepat dugaan saya, bahwa Anda menyamaratakan [main pukul rata,red] saja semua hal dalam masalah ahmadiyah itu dengan tidak mau menyebut perihal ahmadiyah lahore dan apa yang mereka yakini tentang nabi Muhammad dan kitab suci Alquran. Besar dugaan saya Anda belum tahu ditail tentang ‘isi ahmadiyah’.
Itu artinya Anda juga kemakan skenario ‘intelijen luar’ untuk ikut-ikutan mempublikasikan perkara ahmadiyah ini secara gratis. Ikut mengipas-ngipasi supaya isu ini tetap menjadi top hunter-nya para wartawan , supaya di CNN orang bisa menyaksikan aksi muslim kelahi dengan muslim. Pembakaran masjid, teror sesama muslim, ancaman pembunuhan dan seterusnya….
Tadinya saya bertanya-tanya, Apakah Anda ikut komentar tentang ahmadiyah karena :
1. Anda tahu persis tentang ahmadiyah
2. Anda sekedar kemakan isu [Memasarkan Isu]
Agaknya saya sekarang sudah mengerti anda ada dimana :)
Bung Yusril,
PErkara ahmadiyah ini adalah perkara usang, sebagaimana yang anda sebutkan juga bahwa mereka sudah ada di indonesia jauh-jauh hari sebelum indonesia merdeka, apakah anda tidak ikut bertanya-tanya kenapa tiba-tiba sekarang isu ini diangkat? kenapa ndak dari dulu-dulu…, apa ini bukan hanya untuk mengalihkan persoalan dari ….
Setelah ‘mereka’ mengompor-ngompori islam sebagai teroris, seluruh dunia islam jadi si tertuduh. Rusuh dimana-mana, penangkapan ‘teroris’ menjadi pamandangan sehari-hari dan CNN jadi panen berita dengan tajuk islam sebagai teroris.
Counter argumen kita nihil, yang ada juga ikut-ikutan ngata-ngatain islam secara ‘pukul rata’ dan menyamaratakan semua hal-hal yang bersifat teror dan saling hantam menghantam serta kerusuhan dengan islam. Setelah isu murahan seperti kartoon Nabi Muhammad, film Fitna dan lain-lain itu sekarang ditingkat lokal kita di ‘adu’ dengan meributkan ahmadiyah dan sekaligus mempromosikannnya secara gratis ke CNN.
Sekarang sebagian tujuan mereka sudah tercapai, yakni dengan munculnya ksatria jadi-jadian yang ingin berjihad membela ‘islam dan Tuhan’ dengan membakar masjid, membongkar rumah orang, meneror masyarakat dan seterusnya…
CNN panen berita lagi, Islam adalah agama barbar….
Bung Yusril,
Kalau mau fair, dan kalau memang betul-betul mau mengangkat isu tentang akidah islam kenapa malah tidak mempersoalkan kelompok yang lebih ngawur dari ahmadiyah, misalnya kelompok islam jamaah?
Musuh utama islam itu adalah kemiskinan, kebodohan dan pembodohan.
Terakhir, Apakah memang anda tidak melihat ada yang salah dengan isu-isu itu?
Salam,
Iman K.
Tanggapan saya:
Walaupun saya bukan spesialis tentang Ahmadiyah, namun saya mempelajari masalah ini sejak lama. Berbagai literatur tentang hal itu saya baca. Dalam sejarah politik kita, awalnya di zaman penjajahan, Ahmadiyah diterima oleh Sarekat Islam karena kekurangan pahaman, namun kemudian mereka menyadari perbedaan akidah dengan Ahmadiyah, sehingga SI menjauh. Persoalan Ahmadiyah telah ada sejak lama dan sewaktu-waktu menjadi fokus perhatian. Sekarang isyu itu munul lagi. Namun isyu ini tak pernah tuntas pada tingkat Pemerintah Indonesia. Pada tingkat organisasi-organisasi Islam, termasuk MUI, sikap tegas mengenai Ahmadiyah telah lama mereka ambil.
Dalam artikel, saya tidak mengulas perbedaan di antara Ahmadiyah itu sendiri, namun dalam tanggapan saya atas beberapa komentar, saya menjelaskannya lebih rinci. Buku pertama yang saya baca tentang Ahmadiyah ialah tulisan Allama Mohammag Iqbal berjudul “Islam and Ahmadism” kira-kira tahun 1976 (buku ini situlis Iqbal tahun 1928) baru menyusul buku-buku yang lain, seperti “De Religie van den Islam” yang diterbitkan Ahmadiyah Indonesia sekitar tahun 1926, termasuk juga pegangan mereka yakni Kitab Tadzkirah. Berbagai literatur tentang Ahmadiyah, baik berbahasa Inggris, Urdu, Belanda maupun Indonesia saya baca di masa yang lalu. Tentu sekarang, saya tak sempat lagi menelaah berbagai literatur tentang masalah ini, karena fokus studi saya mengarah pada yang lain.
Soal kemiskinan, keterbelakangan dan ketertinggalan umat Islam, adalah masalah yang tiap hari kita bahas dan kita tangani dengan berbagai cara. Isyu Islam Jamaah, saya terlibat membahas dan menyikapinya akhir tahun 1970-an, ketika saya masih aktif di Dewan Dakwah dan aktif dalam gerakan dakwah kampus. Saya telaah juga pemikiran Nur Hasan Ubaidah — maaf kalau salah menuliskan nama beliau — ketika IslamJamaah tengah gencar-gencarnya melakukan kegiatan pada tahun 1970-an. Saya masih ingat terjadi diskusi cukup panjang antara saya dengan Sdr. Keenan Nasution di mesjid UI Rawamangun tahun 1979. Membahas Ahmadiyah sekarang, karena kenyataan masalah ini tidak tuntas dan berbagai gejala tindak kekerasan mulai terjadi lagi. Membahas masalah ini, tidak mengabaikan isyu yang lain. Saya menaruh perhatian terhadap semua masalah yang dihadapi umat Islam di negeri ini.
Demikian penjelasan saya. Terima kasih atas tanggapannya (YIM).
May 13th, 2008 at 1:12 am
Manusia mempunyai hak asasi untuk memilih agama dan kepercayaannya. Terhadap Islam dan Ahmadiyah terdapat kekhawatiran. Saya yakin bahwa tidak semua orang tahu apakah Islam dan apakah Ahmadiyah. Kejadian akhir-akhir ini, membuat sebagian besar orang lebih tajam berfikir mengenai perbedaan. Kekhawatiran itu terutama adanya persamaan antara Islam dan Ahmadiyah. Padahal ini ternyata sangat jauh berbeda. Kunci pemecahannya adalah : Bagaimana membuat ini betul-betul berbeda ? Bagaimana memberitahu generasi mudah bahwa ini berbeda ? Supaya orang Islam tidak shalat di rumah ibadah Ahmadiyah dan sebaliknya. Supaya orang Ahmadiyah tidak dikira orang Islam dan sebaliknya. Supaya tidak ada yang merasa kecele atau terhina.
Tugas pemerintah adalah mendefinisikan dan mensosialisasikan definisi tersebut. Tugas umat adalah memahami dan menerangkan. Supaya orang dapat memilih dengan benar. Supaya tidak saling menghina dan mengecam. Kacamata ‘sesat’ itu adalah relatif. Yang jelas, kita harus dengan sadar memilih agama / kepercayaan. Tidak ada seorangpun dapat menyelamatkan seseorang dari ‘kesesatan’ apabila tidak mendapat ‘hidayah’. Tidak ada kerugian, apabila kita telah memilih dengan sadar agama dan kepercayaan, serta mengajarkan yang benar kepada anak-cucu kita.
May 13th, 2008 at 9:07 am
Bang, saya pernyah melakukan KUliah Kerja Nyata (KKN) di kec. SAlawu TAsikmalaya yang salah satu desanya (saya lupa desa apa) hampir seluruh penduduknya adalah Jamaah Ahmadiah. Saya KKN tahun 95, dan kalau tak salah fatwa bahwa Ahmadiah menyimpang dari ajaran Islam sudah ada sejak tahun 80-an. Namun kondisi kecamatan tersebut baik2 saja, tak ada kekerasan disana.
Disekeliling desa tersebut, cukup banyak pesantren. Rupanya hal ini disengaja untuk melokalisir penyebaran Ahmadiah sendiri dan melakukan tarbiyak kepada pengikutnya untuk kembali ke ajaran Islam . Bagaimanapun ini masalah keyakinan, pendekatan secara persuasif untuk kembali ke akidah Islam tentunya lebih efektif dibandingkan dengan terus menerus menghakimi orang lain tanpa melakukan tarbiyah.
Jika diambil kesimpulan bahwa Fatwa MUI itulah yang memancing tindakan anarkis, saya pikir salah besar. Jika benar begitu, mungkin sudah sejak tahun 80-an terjadi kekerasan. Sudah jelas, ini adalah suatu desain untuk memecah belau umat Islam dengan menggunakan isu Ahmadiah.
Pernahkah terlintas dalam pikiran kita semua, di dunia ini, kenapa penyimpangan dari ajaran Islam selalu muncul di kantong2 Islam dan justru di negara yang sedang dijajah? Sebut saja Pakistan, Mesir dan Indonesia. Di Indonesia pun selalu muncul di daerah yang umat Islamnya tergolong mayoritas. Jakarta, Jawa Barat, dan Batam misalnya. Tak pernah ditemukan ajaran yang menyimpang dari Islam di daerah yang umat Islamnya adalah minoritas, misalnya di Papua. polanya selalu sama, diikuti generasi muda, mengusung isu yang kontroversial seperti pengakuan nabi terakhir, banyaknya waktu dan rakaat sholat, cara melakukan shaum atau syahadat. Dan satu lagi, kelompok2 ini pasti memiliki sokongan dana yang lumayan.
Kaum inkar sunnah pertama kali muncul di Basrah saat masa khulafaur Rasyidin, bersifat individual, dan tak memiliki pengikut. SAat mereka diberikan pengertian, mereka sadar dan mau bertobat kembali ke jalan yang benar. Muncul kembali di Abad 13-14 H justru di kantong2 kaum muslimin seperti pakistan dan mesir, sifatnya sudah membentuk jamaah. Selama 12 abad sejarah tak mencatat adanya penyimpangan, tetapi kenapa justru muncul di kantong2 umat Islam?
Kita memang harus waspada terhadap segala bentuk cara memecah belah umat, dan mudah2an para pemimpin negara kita bisa lebih bijaksana untuk menyikapi hal ini.
May 13th, 2008 at 10:16 am
Bang Yusril, saya sependapat dengan anda mengenai masalah Ahmadiyah ini, dan memang yang lebih baik adalah mengkategorikan bahwa Ahmadiyah adalah agama baru jika memang mengakui Mirza Gulam Ahmad sebagai nabi setelah Muhammad.
Bravo bang !!!
Bang kapan ke Bandung lagi dan mudah-mudahan bisa ceramah lagi bareng dengan Ustz. Shiddiq Amin?,
Saya pengagum bang yusril dan PBB nya, mudah-mudahan Allah mentaqdirkan bapak untuk menjadi presiden di 2009 nanti. Amien..!!
May 13th, 2008 at 10:22 am
Bung Yusril,
Anda tidak menjawab secara jelas pertanyaan terakhir saya, apakah yang anda maksud dengan ‘tidak mengabaikan isyu yang lain’. Apakah itu artinya anda setuju bahwa isyu ahmadiyah ini adalah kerjaan orang iseng (intelijen asing) , atau anda punya definisi lain tentant ‘isyu yang lain’ tersebut?
Sebagaimana yang saya tulis sebelumnya, saya khawatir banyak diantara diantara tokoh-tokoh kita (mungkin termasuk anda,red) yang kemakan isu dan terjebak kepada skenario adu domba sesama muslim dinegara ‘target’. Perlu kita ingat dan telaah secara jernih, bahwa penganut ahmadiyah ini berjumlah lebih kurang 200jt, dan mereka yang tinggal dinegara maju/tercerahkan bisa duduk berdampingan dan tenang-tenang aja dengan sesama muslim lainnya.
Saya melihat isyu, provokasi dan adu domba seperti ini hanya terjadi dinegara-negara miskin dan negara ‘target’ saja, ‘mereka’ tidak melakukannya dinegara-negara yang sudah ‘tercerahkan’ .
Bung Yusril,
Jawaban anda : “karena kenyataan masalah ini tidak tuntas dan berbagai gejala tindak kekerasan mulai terjadi lagi” agak sulit saya pahami. Pernyataan anda ini agaknya hanya sekedar menyoroti permasalahan / fenomena luar saja dari persoalan yang sedang terjadi, saya ragu apakah anda sudah memperhitungkan seberapa besar pengaruh ‘isyu lain’ yang saya sinyalir dan sebagaimana yang dan isyaratkan juga berperan dibalik layar.
Mengenai masalah yang belum tuntas :
Banyak persoalan yang lebih urgen yang menyangkut perut orang miskin, kebodohan, pembodohan dan kelaparan terjadi dimana-mana yang belum tuntas yang perlu mendapat prioritas lebih , tetapi tidak di blow up (promosikan secara gratis) sesuai porsinya. Dan isu ini juga telah banyak menimbulkan tindak kekerasan dan korban yang sia-sia, darah, air mata, dan nyawa.
Boleh saya tahu jawaban yang jelas dari anda, apakah yang anda maksud dengan ‘isyu yang lain’ tersebut?
Salam,
Iman K.
http://www.parapemikir.com
Tanggapan saya:
Masalah Ahmadiyah telah ada sejak lama di tanah air kita, lepas dari persoalan ini diangkat oleh intelejen asing atau bukan, diangkat menjadi isyu oleh CNN atau bukan. Isyu lain yang saya maksudkan saya kembalikan kepada hal-hal yang anda kemukakan, yakni Islam Jamaah,kemiskinan, kebodohan dan pembodohan yang menurut Anda — nampaknya — lebih penting untuk dibahas. Istilah “isyu” saya pahami sebagai masalah yang menghangat dan perlu segera ditangani, bukan “isyu” dalam bahasa sehari-hari yang bisa berarti kabar-burung, kabar angin, rumors dan sebagainya.
Ketika Iqbal menulis buku Islam dan Ahmadism, orang bisa saja mengatakan bahwa beliau terpancing oleh propaganda Inggris, padahal masalah mendasar saat itu di India ialah penjajahan, kemiskinan, kebodohan, konflik Islam-Hindu dan seterusnya. Namun kalau kita membaca karya-karya Iqbal, beliau membahas juga masalah itu dengan serius. Saya berpendapat cara berdebat seperti ini tidak fair, karena melarikan suatu masalah yang dibahas dalam topik perdebatan ke masalah lain yang justru tidak menjadi topik bahasan.
Suatu isyu diangkat menjadi bahan diskusi, maka sebaiknya tanggapan diarahkan kepada apa yang dibahas. Bisa saja kita membahas masalah kemiskinan, pembodohan, Islam Jamaah, kegiatan intelejen asing dan seterusnya. Anda menganggap isyu Islam Jamaah lebih serius dibandingkan dengan isyu Ahmadiyah. Tentu itu pendapat subyektif anda. Kalau anda menulis artikel tentang Islam Jamaah sekarang, orang lain juga bisa mengatakan kepada anda, mengapa repot-repot membahas Islam Jamaah, padahal soal kemiskinan, kebodohan, pembodohan dan Ahmadiyah adalah soal yang lebih serius?
Kali ini saya sedang menulis tentang Ahmadiyah. Itu saja. Bukan berarti yang lain tidak penting. Ada saatnya kita membahas masalah itu, mungkin telah, sedang dan bahkan akan saya bahas terus.
Demikian tanggapan saya. Terima kasih (YIM).
May 13th, 2008 at 12:06 pm
Bang YIM.
belum selesai masalah Ahmadiyah, muncul lagi berita heboh yakni harga minyak naik, trus teror sms santet. Yang terakhir ini bagaimana pendapat Abang, ko’ hal-hal seperti itu saja bikin heboh? Bagaimana dalam pandangan Islam…
May 13th, 2008 at 12:22 pm
Saya tertarik membaca pernyataan dan pertanyaan Iman K #40, 41 dan 44 dan Bang YIM serius menanggapinya, nampaknya Iman memancing ke dalam satu alur pembicaraan “Agaknya tepat dugaan saya, bahwa Anda menyamaratakan [main pukul rata,red] saja semua hal dalam masalah ahmadiyah itu dengan tidak mau menyebut perihal ahmadiyah lahore dan apa yang mereka yakini tentang nabi Muhammad dan kitab suci Alquran. Besar dugaan saya Anda belum tahu ditail tentang ‘isi ahmadiyah’.” (komentar #40).
Diskusi ini semakin menarik andai saja (“…Itu artinya Anda juga kemakan skenario ‘intelijen luar’ untuk ikut-ikutan mempublikasikan perkara ahmadiyah ini secara gratis. Ikut mengipas-ngipasi supaya isu ini tetap menjadi top hunter-nya para wartawan , supaya di CNN orang bisa menyaksikan aksi muslim kelahi dengan muslim. Pembakaran masjid, teror sesama muslim, ancaman pembunuhan dan seterusnya….”) pernyataan seperti ini dilengkapi data yang bisa memperkuat argument sehingga tidak sekedar berdasarkan anggapan belaka.
Untuk cerita Resti #42 bagi saya sungguh sangat menarik. Real.
May 13th, 2008 at 12:27 pm
Bung Yusril,
Pembicaraan ini menjadi melebar ke ‘isyu yang lain’ karena saya menganggap anda tidak menjelaskan perihal kedua dari dua dugaan saya, yakni apakah :
1. Anda tahu persis tentang ahmadiyah
2. Anda sekedar kemakan isu [Memasarkan Isu]
Mengenai yang pertama, anda sudah menjawab “Walaupun saya bukan spesialis tentang Ahmadiyah, namun saya mempelajari masalah ini sejak lama. Berbagai literatur tentang hal itu saya baca. ” . Pengakuan tentang pengetahuan yang anda miliiki berkenaan dengan ahmadiyah sebagaimana yang anda nyatakan tersebut saya rasa sudah cukup untuk menyimpulkan posisi anda. Saya tidak akan mempertanyakan lebih jauh dari itu, apakah yang anda ketahui tentang ahmadiyah melebihi dari apa yang saya ketahui, atau apakah pengetahuan anda tentang ahmadiyah melebihi dari pengetahuan anggota ahmadiyah itu sendiri dan seterusnya…
Saya rasa jawaban anda mengenai masalah pertama itu sudah cukup jelas…
Sekarang yang kedua, saya rasa anda telah menjawab pertanyaan saya dengan “Membahas masalah ini, tidak mengabaikan isyu yang lain.”
Sebagaimana yang saya kemukakan direply sebelumnya, saya ingin pencerahan lebih lanjut, apakah yang anda maksudkan dengan isyu yang lain tersebut?
Nampaknya anda terburu-buru menjawabnya sehingga anda seperti ngeles dengan mengatakan “Isyu lain yang saya maksudkan saya kembalikan kepada hal-hal yang anda kemukakan, yakni Islam Jamaah,kemiskinan, kebodohan dan pembodohan”
Coba anda telusuri tulisan saya, saya tidak mengatakan isyu yang lain itu adalah “Islam Jamaah,kemiskinan, kebodohan dan pembodohan” , yang saya katakan tentang isyu yang lain itu adalah kemungkinan adanya pekerjaan iseng dari ‘intelijen asing’ untuk mengadu domba sesama muslim.
Mengenai pernyataan saya tentang isyu ” Islam Jamaah,kemiskinan, kebodohan dan pembodohan” adalah kontra argumen dari pernyataan anda sebelumnya yang mengatakan “Membahas Ahmadiyah sekarang, karena kenyataan masalah ini tidak tuntas dan berbagai gejala tindak kekerasan mulai terjadi lagi.”
Anda katakan masalahnya adalah karena perkara ini belum tuntas, dan kontra argumen saya adalah sekala priortas penyelesaian masalah adalah lebih penting menuntaskan masalah kemiskinan, kebodohan dan pembodohan…
Mungkin saya tidak akan tanya lebih jauh kalau anda punya alasan lain kenapa perkara ahmadiyah ini diangkat sekarang selain alasan ‘belum tuntas’.
Saya setuju dengan anda, tidak pada tempatnya kita mempedalam isyu tentang kemiskinan dan pendidikan disini, namun nampaknya ada perbedaan mendasar bagaimana anda dan saya memandang ‘isyu yang lain’ tersebut.
Saya jelas mengatakan isyu yang lain itu adalah adanya dugaan keterlibatan intelijen asing untuk mengadu domba sesama muslim, dan anda belum mempunyai pendapat tentang itu kecuali hanya merangkai kemungkinan kemungkinan dari rangkaian pendapat saya, atau apakah anda mempunyai definisi tersendiri tentang “isyu yang lain” tersebut selain dari apa yang sudah saya kemukakan?
Salam,
Iman K.
http://www.parapemikir.com
May 13th, 2008 at 12:36 pm
Bung Nasrullah,
Coba tanyakan langsung ke bung Yusril, apakah pekerjaan intelijen bisa dipublikasikan dan bisa dibuktikan didepan umum dengan membawa segerobak data sebagaimana yang anda butuhkan tersebut?
Pembuktian itu, dan kalaupun perlu pembuktian dengan dokumen maka hanya bisa dilakukan dan ditunjukkan dikalangan intelijen itu sendiri atau pemerintah. Jadi akan lebih pas kalau pertanyaan itu anda arahkan ke bung Yusril.
Salam,
Iman K.
Secara hipotetis, dapat saja kita mengatakan ada rekayasa intelejens. Namun untuk melakukan pembuktian empiris, sukar sekali. Hal ini tidak spesifik isyu Ahmadiyah saja tentunya. (YIM)
May 13th, 2008 at 3:05 pm
@Iman.k:
Argumentasi Anda stylenya “ignoratio elenchi” bukan (?)
Maaf jika salah:
http://en.wikipedia.org/wiki/List_of_logical_fallacies
@Pak YIM:
Secara konstitusional, apakah Presiden memang berhak ikut campur memutuskan dalam hal internal agama tertentu?
Jika kebetulan Presiden beragama sama dengan agama tersebut, kemudian ia memberikan suatu keputusan,
apakah keberadaan “conflict of interest” tersebut dapat merugikan posisinya secara legal?
Betapapun itu untuk “the greater good”, Seberapa jauh hak negara dalam mencampuri keyakinan pribadi masing-masing rakyatnya?
Kalau secara konstitusional, masalahnya masuk ke ruang tafsir atas konstitusi, karena konstitusi tidak memberikan pengaturan yang tegas. Kalau tafsir, maka rumusannya tentu berbeda-beda. Namun kalau menggunakan UU Nomor 1/PNPS/1965, Presiden dapat melakukannya. Salah satu bunyi sumpah jabatan Presiden sebagaimana diatur dalam UUD 1945 ialah dia akan mentaati Undang-Undang Dasar dan semua peraturan undang-undang yang berlaku dengan selurus-lurusnya dan seadil-adilnya.
Pertanyaan anda yang terakhir masuk ke dalam ruang filsafat hukum dan teori tentang negara. Ada banyak pandangan dan pendapat mengenai hal itu yang bukan saja beraneka ragam, namun juga bertolak belakang. Akhirnya tergantung kepada kita sendiri mau mengikuti pandangan yang mana. Ketika Pemerintah Perancis melarang warganegaranya yang beragama Islam memakai jilbab, juga menimbulkan polemik di negara itu. Bukankah ini adalah keyakinan pribadi warganegaranya, lantas sejauh mana Pemerintah Perancis berwenang mencampuri urusan pribadi seperti itu? Pertanyaan seperti itu dapat muncul di negara mana saja. (YIM)
May 13th, 2008 at 3:29 pm
Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Baru kali ini lagi saya membuka blog abang setelah selama beberapa hari tidak ikut larut mendalami pikiran2 bang Yusril di blog ini, dan pas saya buka terpampang artikel abang tentang Ahmadiyah yang sejak beberapa bulan ini menjadi pembicaraan publik masyarakat Indonesia, baik yang pro maupun yang kontra. Yang ingin saya sampaikan tidak muluk2 cuman ingin mengajak kepada masyarakat Indonesia agar dalam menanggapi masalah Ahmadiyah ini jangan terlalu mengedepankan emosi yang bisa jadi sangat subyektif ketika menilai suatu hal, tapi kedepankanlah sikap dan watak intelektual yang dalam menilai sesuatu itu tidak lepas dari bingkai ilmu sehingga argumen2 yang digunakan mempunyai bobot ilmiah, jadi tidak atas dasar dugaan, prasangka dan fitnah belaka. Saya yakin apa yang bang Yusril paparkan dalam artikelnya didasarkan pada pandangan yang objektif berdasarkan ilmu yang dimiliki tentang ahmadiyah setelah membandingkannya terlebih dahulu dengan fundamen agama Islam yang orsinil ditunjang dengan penguasaan hukum tata negara yang memang menjadi spesialisasinya selama ini. Jadi untuk #44, #47 dan #48 kalau anda begitu ragu dengan penguasaan bang Yusril perihal Ahmadiyah ini tentunya keraguan itu mestinya dikembalikan kepada diri anda sendiri, sejauhmana pengetahuan anda tentang Ahmadiyah ini. Terus anda sendiri gimana, sudahkan anda mengadakan studi komperatif antara ajaran Ahmadiyah dengan ajaran Islam yang sebenarnya ataukah belum?
May 13th, 2008 at 4:05 pm
Ahmadiyah punya kekuatan besar, bahkan sudah past punya kekuatan-kekuatan di belahan dunia lain. menurut kabar yang saya dengar, Uni Eropa juga mempunyai andil terhadap belum keluarnya “SKB” ini. UE mendapat laporan bahwa indonesia telah melanggar HAM dengan banyaknya perusakan aset milik jamaah ahmadiyah.
Akhirnya UE mendesak pemerintah untuk tetap membiarkan amhadiyah subur dengan dalih kebebasan berkeyakinan.
Wallahu A’lam.. Fastabiqul khairaat…
May 13th, 2008 at 4:38 pm
Sepertinya sdr. Iman mencoba untuk mempraktekan materi pelajaran “Pengantar Logika Berfikir” dan “Retorika” yang baru saja di dapat dari training LK 1 HMI…….yang tentunya diiringi dengan kehausan akan wawasan ilmu. Menarik, memang, hanya saja saran saya ada baiknya sdr. Iman juga melakukan pengayaan terhadap wawasannya dengan banyak membaca literatur-literatur yang berkaitan dengan masalah/topik yang sedang di bahas. Sehingga dalam menanggapi sebuah persoalan tidak harus selalu ditakar oleh persepsinya sendiri, sementara persepsi yang dimilikinya sangatlah terbatas karena miskin akan literatur.
May 13th, 2008 at 5:26 pm
jazakallah khair
May 13th, 2008 at 6:22 pm
Untuk Hanifa #51 saya setuju pendapat anda, saat ini kita tidak tahu bagaimana pendapat Iman #44, #47 dan #48 sendiri tentang Ahmadiyah, Untuk Sulthan #52 anda benar, kalau dia meragukan pendapat Orang lain semestinya ada argumen pembanding. Kalau tidak, kita para pembaca hanya terjebak ke dalam permainan retorika yang berbual-bual.
May 13th, 2008 at 6:40 pm
Kalau boleh saya rangkumkan sedikit, berarti permasalahan Ahmadiyah di Indoneisa dapat dikategorikan ke 3 macam:
1. Islam: Ada nabi setelah Muhammad SAW berarti sudah tidak sejalan dengan akidah dasar Islam. Sehingga jika ada yang menganggap Mirza Ghulam Ahmad nabi setelah Muhammad SAW, otomatis orang tersebut tidak lagi sejalan dengan akidah dasar Islam. Konsekuensi logisnya, orang ini bukan lagi Islam.
2. Peraturan perundang-undangan Indonesia: Peringatan keras oleh para pembantu presiden, dan pembubaran dilakukan oleh Presiden RI kalau memang diputuskan untuk dibubarkan. Penafsiran saya dari artikel Pak Yusril (mohon diluruskan kalau salah tangkap), bahwa bila Ahmadiyah menyatakan dirinya bukan bagian dari Islam, maka peraturan menteri yang memberikan peringatan keras di atas tidak lagi dapat dikeluarkan, karena sesuai Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 yang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 ditetapkan menjadi undang-undang, yang diatur adalan “…penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia…”. Bila Ahmadiyah menyatakan agama lain dan bukan Islam, maka ajarannya bukanlah penafsiran tentang Islam, melainkan agama sendiri.
3. Pendapat bahwa Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 sudah ketinggalan jaman, tidak demokratis dst. Ini hanya sebatas pendapat dan argumen, bukan hukum yang dapat dipaksakan. Untuk dapat menjalankan pendapat ini perlu terlebih dahulu dijadikan hukum positif, melalui prosedur dan/atau proses yang berlaku.
Sedikit pendapat saya: Jika benar pendapat yang “menentang” Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 dijadikan hukum positif, maka hal tersebut makin menegaskan posisi negara RI sebagai negara sekuler*. Sepertinya posisi ini kurang dimengerti oleh sebagian besar rakyat RI. Ada baiknya disosialisasikan berikut dengan segala konsekuensinya.
*mohon pencerahan Pak Yusril, apa benar sudah dapat dikatakan demikian dari kajian hukum tatanegara?
May 13th, 2008 at 7:32 pm
Bung Sulthan, Nasrullah dan hanyfa…
Kenapa anda bertiga tidak coba berdiri ditengah-tengah dan melihat persoalan yang sedang saya ajukan ke Bung Yusril secara objektif?
Kenapa anda tidak tanya ke Bung Yusril , apakah jawabannya terhadap pertanyaan saya, apa yang beliau maksud dengan ‘isyu yang lain’ dari sisi beliau kecuali merangkai kontra argumen dari saya?
Apakah anda tidak perhatikan bahwa bung Yusril sendiri tidak memberikan jawaban atas generalisasi yang beliau ajukan mengenai perkara yang dinisbahkan terhadap satu objek?
Menyatakan ahmadiyah secara pukul rata sebagaimana barat menyamaratakan setiap persoalan teroris dengan islam?
Come on …
KEnapa anda malah mempersoalkan pribadi saya, tentang ilmu dan status saya??? Apa urgensinya anda mengetahui latar belakang saya?
Kalau ada yang keliru dari jawab menjawab antara saya dengan bung yusril, silakan dikritisi disebelah mana dari tulisan saya yang ‘membual’ dan penuh retorika?
Marilah kita belajar melihat persoalan sebagaimana persoalan itu adanya, janganlah karena ini situs beliau maka anda bertiga taklik pada beliau. Hormat tidak sama dengan taklik, masalah hormat saya juga menghormati Bung Yusril, namun perbedaan diantara kita, saya berani mengatakan apa yang harus saya katakan.
Lihatlah apa yang kami bicarakan, Apakah anda bertiga memperhatikan kalimat bung yusril tersebut?
Beliau mengatakan :
1. Semua Ahamdiyah harus segera dibubarkan.
2. Sebagian Ahmadiyah tidak harus segera dibubarkan.
Dalam rangkaian dialog kami, beliau tidak gentlemen mengoreksi kalimatnya dengan kalimat standar yang logis. Tapi dikoreksi dengan kalimat politis, bahwa tidak semua ahmadiyah dibubarkan, karena barang siapa yang masih mengucapkan kalimah syahadat maka dia masih berhak bersholat dimasjid dan seterusnya…
Karena jawaban beliau politis, maka saya rasa pada tempatnya saya tanyakan pula perihal politis lainnya, yakni apakah beliau tidak melihat ada yang salah dalam perkara ahmadiyah ini, apakah beliau tidak melihat ada kemungkinan aksi iseng inteligen asing?
Beliau tidak menjawab toh? kenapa beliau yang tidak menjawab tapi anda bertiga malah mempersoalkan saya yang sudah menjawab?
Aneh…
Sekarang anda bertiga men’cap’ saya bukan karena sangkalan saya terhadap apa yang beliau tulis, tapi malah mempertanyakan kapasitas saya?
Apa hubungannya kapasitas saya dengan kalimat yang beliau buat?
Saya masih menunggu respon dari bung Yusril, dan kalau beliau tidak respon saya juga tidak akan menulis apapun lagi disini walaupun anda masih terus mempersoalkan kapasitas saya, dan kalau anda bertiga masih ingin direspon mengenai perkara ini, saya ada dihampir semua milist umum dengan nick name Alexander Soebroto, mari kita diskusikan perkara ini ditempat yang netral.
Saya tidak sarankan anda bertiga masuk ke milist parapemikir@yahoogroups.com , karena owner milist itu adalah saya, kita bisa diskusikan perakara ini dimilist yang lebih terbuka dan netral.
Salam,
Iman K.
Alias : Alexander Soebroto
http://www.parapemikir.com
Di Indonesia, hanya ada satu organisasi Ahmadiyah yang terdaftar di Departemen Kehakiman dan HAM (dulu Kementerian Kehakiman), yakni Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Organisasi ini tidak spesifik menyebutkan dirinya kelompok Lahore atau Qadian. Namun sepanjang telaah terhadap faham yang dianut, Jemaat Ahmadiyah Indonesia itu sama dengan faham Ahmadiyah Qadian. Kalau Presiden berdasarkan kewenangan yang ada di dalam UU Nomor 1/PNPS/1965 ingin membubarkan organisasi, maka yang harus dibubarkan itu ialah Jemaat Ahmadiyah Indonesia itu. Jadi tidak ada pembubaran terhadap Ahmadiyah Lahore atau Qadian, karena organisasi kedua aliran itu memang tidak ada di negara kita, setidaknya tidak terdaftar menurut hukum Indonesia. Dengan penjelasan ini, soal “generalisasi” terhadap Ahmadiyah yang Anda kemukakan kiranya menjadi jelas.
Soal adanya keterlibatan intelejens, seperti telah saya kemukakan, pada dataran hipotetis hal itu sangat mungkin. Namun saya tidak berani menyimpulkan karena sulitnya melakukan pembuktian empiris. Tulisan saya, lebih fokus kepada masalah hukum, sambil menjelaskan tentang keyakinan Ahmadiyah. Mohon maaf, pengetahuan saya mengenai aktivitas intelejen terbatas. Mungkin ada orang lain, yang ahli di bidang ini yang ilmiunya lebih mumpuni untuk menjelaskannya.(YIM)
May 14th, 2008 at 4:41 am
Ass, wr, wb,
Ucapan dan amalan orang-orang Ahmadiyah sudah “La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah” lho, coba anda tengok dg mata dan telinga anda sendiri secara langsung, kalo memang ini yg ingin anda kedepankan, cara tabayun.
Tentang “nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w,” , bukankah itu keimanan anda juga sebagai seorang muslim yg percaya kepada masa depan Islam? , masa depan yg dinubuwatan, nubuwatan baginda Rasulullah saw. bahwa kemenangan Islam itu akan ditangan seorang nabi. Kitab2 hadis menyebutkan dg jelas tentang kedatangan Nabi Isa as. akhir zaman ini. bukankan itu disebut jelas kedatangan NABI?
nah, itulah perbedaan penafsiran pak Yusril, orang ahmadiyah tidak memaksa kepercayaannya kok! sehingga anda tidak perlu jauh2 menulis begini; “penganut Ahmadiyah itu menyatakan diri atau dinyatakan sebagai non-Muslim saja.” ,
Sekedar pengetahuan saja; Melalui ahmadiyah, selain di Indonesia, NKRI tercinta kita ini, dinegeri seberang sana seperti cina, thailand, jepang, vietnam, sampe ujung papua.. , termasuk yg ujung yg jauh itu; benua eropa, benua afrika, dll, mubaligh-mubaligh ahmadiyah telah SUKSES berdakwah menjadikan orang diluar islam (kristen, budha, dll) masuk kehariban Islam dan menjadikan mereka pencinta Rasulullah saw.
Info ini tentunya semakin menambah banyak para penghidmat baginda Rasulullah saw bukan?
Tp yg heran anda sebagai orang Islam malah meminta orang ahmadiyah ini untuk keluar dari islam? Bagaimana ini??
Sebagai seorang negarawan, sekaligus sebagai artis yg sukses semestinya anda belajar juga dari kesuksesan orang-orang ahmadiyah itu, thanks.
salam,
May 14th, 2008 at 7:03 am
/*BEGIN TRAN
SELECT DISTINCT A.NABI_NAME
FROM ISLAM A,
AHMADIYAH B
WHERE A.NABI_NAME=B.NABI_NAME
AND A.NABI_NAME LIKE ‘%AHMAD%’
COMMIT*/
# KALAU HASIL QUERYNYA MENEMUKAN NAMA NABI : AHMAD DI AHMADIYAH, MAKA JELAS AHMADIYAH BUKAN ISLAM, ISLAM TIDAK MENGENAL NABI DENGAN NAMA AHMAD.
# KESIMPULAN : AHMADIYAH BUKAN ISLAM, TAPI SEBUAH AGAMA LAIN SELAIN ISLAM, MEREKA BELUM TAHU, MEREKA BELUM DIBERIKAN HIDAYAH, BIARKAN MEREKA HIDUP BERDAMPINGAN DENGAN KITA, UMAT MUSLIM, KITA TETAPKAN MEREKA SEBAGAI NON MUSLIM, DAN MEREKA HARUS MENGAKUINYA KARENA JELAS-JELAS AHMADIYAH ADALAH AGAMA SELAIN ISLAM.
May 14th, 2008 at 7:31 am
Asw.
terima kasih bang atas jawabanya. Jawaban dan tulisan-tulisan abang secara umum, memng menentramkan hati dan menggairahkan akal.
Saya mohon ijin, beberapa tulisan abang, apakah boleh diposting di blog saya? Memang setiap pagi, sebelum memulai aktifitas, selain baca kompas dan republika, saya buka blog abang ini, takut ketinggalan kalo ada tulisan baru.
Apakah abang bersedia untuk memberikan orasi ilmiah, di forum Dewan Pimpinan Daerah Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (DPD IMM) DKI Jakarta?
Terima kasih banyak bang
wass
May 14th, 2008 at 9:39 am
@Thariq
Tidak ada nabi setelah Nbai Muhammad SAW adalah “Pembawa Risalah”. Harap Diingat, Nabi Isa AS membawa risalah sebelum nabi Muhammad SAW.
Tidak ada paksaan dalam beragama, YA! Tapi kalau sudah memilih salah satunya, ikuti ajarannya beserta konsekuensinya. Jika memilih Islam, ya jalani secara utuh. Untuk masalah2 pokok, para jumhur ulama tidak ada perbedaan, sholat 5 waktu, waktu shaum, cara syahadat, masalah kitab suci dan nabi. Perbedaan memang ada dalam pelaksanaan ibadah tentunya masih bisa diterima dengan disertai dalil yang kuat, dan kita hormati itu. tapi untuk masalah pokok diatas, tidak ada pendapat ulama yang berbeda.
Maaf kalau saya menganalogikan seorang konsumen untuk memilih bank. Bebas, kan? tapi kalau sudah memilih salah satu, ikuti aturan bank pilihan kita, jangan semau kita dengan dalih kebebasan.
@ Nasrullah #46
Terimakasih, saya mendapatkan materi perkembangan ajaran yang menyimpang dari salah seorang Ustad di MUI yang juga menjadi saksi ahli saat pengadilan atas “Lia Eden”. Beliau mengatakan adalah hal yang sangat aneh ketika sejarah tak mencatat adanya ajaran menyimpang sejak ditemukannya kaum inkar sunnah di Basrah (yang jauh dari pusat dakwah saat itu), tapi 12 abad kemudian tiba2 muncul justru di daerah yg umat muslim justru menjadi mayoritas disana dan tak jauh dari pusat dakwah.
Saat beliau menjadi saksi ahli Lia Eden, sempat seorang anggota Polisi membisikinya, “hati2 pak, dibelakang Lia itu xxxxx, tapi kami tak punya buktinya”. xxxx= nama negara, silakan tebak sendiri.
memang, kita cuma bisa membuat hipotesa bahwa ini adalah ulah intelejen asing, tapi membuktikannya hampir tak mungkin. Betul kan bang Yusril?
May 14th, 2008 at 11:13 am
bang usril … yang terhormat. Indonesia bukanlah sebuah negara yang berwarganegara dengan tingkat intelektulitas tinggi oleh karena itu kemampuan mencerna dan mengamati suatu persoalan apa alagi pendapat sesorang sangat rendah. Contohnya saja pendapat bang Yusril yang ternyata di cuplik media tidak secara utuh seperti yang di maksudkan. Saya berharap Seorang Yusril Ihzamahendra mau memberikan tanggapan balik atau paling tidak mengklarifikasi apa maksud dari bang yusril seperti yang telah tertulis dalam blog di atas.
terima kasih semoga bermanfaa
jazaakumulloh khoir..!!!
wassalam ..
May 14th, 2008 at 12:55 pm
Saya salut dengan penganut ahmadiyah. Mereka dengan kukuh mempertahankan keyakinannya, apapun yang terjadi dengan mereka…, Saya menyarankan agar ada dialog oleh tokoh-tokoh islam dan ahmadiyah yang sejuk, yang betul-betul ingin mencari kebenaran. Insya Allah, mata hati mereka masih dapat dibuka..Amiin
May 14th, 2008 at 3:48 pm
ketika menyelesaikan urusan – urusan agama, semestinya mendahulukan wahyu dari pada akal.
bagaimana dengan kita ?.
May 14th, 2008 at 3:56 pm
Aqidah tidak bisa dianalisa dengan filsafat ilmu. Islam ya Islam, Kanjeng Nabi Muhammad, SAW pembawa risalahnya, Al-Qur’an dan hadist pedomannya, yang sudah mengakui nabi lagi setelah Nabi Muhammad, SAW, jelas bukan Islam. Ahmadiyah bukan Islam, biarkan mereka hidup, mereka akan mempertanggungjawabkannya di hadapan Alloh kelak, jangan disakiti, sama seperti kaum kafir yang lain, selama mereka tidak menyakiti Muslim. Pemerintah harus tegaskan, Ahmadiyah adalah agama baru, perlakukan seperti agama-agam lain yang diakui pemerintah. Kalau mereka masih menganggap sebagai Muslim, cuekin aja, toh mereka bukan Muslim.
May 14th, 2008 at 5:53 pm
Buat Iman K (komentar #56)
Ada tiga orang meragukan kapasitas anda, meminjam bahasa iklan rokok tanya kenapa?
Ketika saya mempertanyakan kapasitas anda, itu karena diskusi ini menjadi kurang jernih dalam penilaian saya. Anda hanya melempar pertanyaan, dan mengkritisi, saya kira kurang berimbang kalau data yang anda miliki tidak dipaparkan.
Saya tidak berpihak kepada Bang YIM, karena kami tidak punya hubungan apa-apa, apalagi kalau berpihak kepada Anda. Keberpihakan saya adalah kepada sebuah diskusi yang menarik. Walaupun saya bukan pemilik website ini, sangat disayangkan kalau anda tidak menulis disini. Sebab diskusi kita akan berkurang satu orang.
Terima kasih atas undangan Anda, saya akan datang ke tempat yang rindang untuk berteduh termasuk di website ini.
May 14th, 2008 at 10:25 pm
Assalamu Alaikum Wr. Wb
Prof Yusril, agak lama tidak ada tulisan baru yang masuk di blog ini. Mungkin lagi sibuk ke daerah. Saya hanya minta perkenan Prof, apakah artikel tentang Ahmadiyah ini, dapat dimuat di media tempat saya bekerja. Sebuah harian lokal yang terbit di Palu, Sulteng. Sama seperti artikel tentang penolakan pencalonan MK yang telah dimuat sebelumnya. Trims
Silahkan saja. Terima kasih (YIM)
May 15th, 2008 at 7:02 am
Islam mengajarkan kepada pengikutnya untuk melakukan al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar (mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang buruk). (redaksi saya edit YIM)
May 15th, 2008 at 12:11 pm
trimaskasih pak yusril.
al-amru bil ma’ruf wan nahyu ‘anil munkar (mengajak kepada perbuatan yang baik dan mencegah perbuatan yang buruk).
kata – kata seperti itu sering saya dengan dari guru saya Bp. KH. Nadjih Ahjad. Maskumambang Gresik.
May 15th, 2008 at 1:32 pm
Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokatuh, Pak Yusril
Wah, ketinggalan saya, baru tahu ada blog. Pak YIM. Tapi lebih baik terlambat dari pada tidak tahu sama sekali..
Saya salut dengan dibukanya blog bapak YIM…, Saya sudah membaca beberapa topiknya.
Dan alhamdulillah menambah pengetahuan saya…. yang mungkin akan sangat mahal kalo harus ikut perkuliahan Bapak secara langsung. Semoga Bapak terus sudi me’nular’kan ilmu-ilmu Bapak melalui log ini. Dan dengan niat yang tulus hal ini semoga bisa menjadi ‘Ilmun yun tafa u bih’.
Saya tahu (karena belum kenalan langsung) Bapak YIM mulai saat pelengseran Pak Harto.
Dan kekaguman meningkat seiring dengan banyaknya tayangan dan pemberitaan Bapak di media masa (… berarti selain ada negatifnya, media masa juga ada positifnya loh, Pak …) seperti debat-debat terbuka dengan Pak Amin Rais dan sebagainya (waktu itu saya lebih respek ke Bapak YIM loh..)
Memang setelah Bapak YIM menjadi Pejabat RI, kekaguman saya naik turun. Kalo benar saya setuju, kalo menurut saya salah saya tidak senang (meskipun hanya dalam hati).. Karena saya termasuk yang tidak bisa mengkultuskan buta kepada seseorang (kecuali Rosullulloh, yang dijamin Alloh kebenarannya).
Mengenai JAI, … Saya sangat setuju dengan Bapak. Mereka harus dikeluarkan dari Islam, karena terbukti tidak mau kembali ke koridor Islam. Masalahnya…. Bagaimana caranya agar Presiden SBY segera membuat Peraturan Presiden tentang pelarangan penodaan JAI terhadap Islam… Mungkin Pak YIM punya akses untuk memberikan nasehat kepada Presiden Sby .. (ini jihad lo.. Pak YIM)
Oh, ya, sebagai sesama muslim boleh juga dong saya ‘tawasaubil haq’ kepada Bapak YIM.
1. Sebagai tokoh yang muslim, Kenapa sih harus main film ?
2. Kenapa mau di shooting pakai celana pendek (jangan niru Gus Dur saat dilengserkan)…? Saya melihat diacara TV waktu pagi hari diwawancarai dan belanja di pasar…. ? Meskipun itu hak bapak tapi sebagai panutan bisa diitu orang loh..)
3. Saya lihat ‘salam’ nya penulis komentar di blog Pak YIM banyak ngga’ dibalas deh… Membalas salam itukan wajib. Dan itu tanda ukhuwwah dan doa sesama muslim yang terbaik loh..
For all, saya berterima kasih bisa nulis, dan kalo ikut menggunakan ilmu, pendapat Bapak sebagai tambahan ilmu saya mohon ridhonya ya Pak..
Wassalamu’alaiku warohmatullohi wabarokatuh
May 15th, 2008 at 1:48 pm
Iman K.; #56
Aku ingatkan kepadamu, bahwa penggalan kalimatmu yang kukutip,
“Beliau mengatakan :
1. Semua Ahamdiyah harus segera dibubarkan.
2. Sebagian Ahmadiyah tidak harus segera dibubarkan.
Dalam rangkaian dialog kami, beliau tidak gentlemen mengoreksi kalimatnya dengan kalimat standar yang logis. Tapi dikoreksi dengan kalimat politis, bahwa tidak semua ahmadiyah dibubarkan, karena barang siapa yang masih mengucapkan kalimah syahadat maka dia masih berhak bersholat dimasjid dan seterusnya…”, SUNGGUH TAK ADA YANG SALAH DENGAN KALIMAT PROF. YUSRIL itu.
Aku tak peduli dengan latar belakangmu. Apa pun itu adanya. Kalau kau pakai cara berfikirmu yang melahirkan logika 1 dan 2, yang seolah akan mempertentangkan kata SEMUA dan SEBAGIAN ; HARUS dan TIDAK HARUS, kami pun tahu DIMANA POSISIMU seperti kau MENEBAK DI MANA POSISI PROF. YUSRIL. Sudahlah.
Kalau kususun logikaku, menyerupai alur logika 1 dan 2 mu;
1. Semua YANG MEMBACA PENJELASAN YUSRIL tentang Ahmadiyah DAPAT memahami kesesatannya.
2. Sebagian YANG MEMBACA PENJELASAN YUSRIL tentang Ahmadiyah TIDAK DAPAT memahami kesesatannya.
Aku dan beberapa yang lain ada pada SEMUA yang DAPAT memahami (Logika 1), sedang Kau adalah SEBAGIAN dari yang TIDAK DAPAT memahami. Keduanya eksis, dan ril.
Jadi, sudahlah.
Oh, ya ada pesan bagus dalam Kitab Suci Agama Kami yang SEMUA ini. Tepatnya di QS. 39 : 18 (maaf jelasnya az-Zumar ayat 18), kira-kira begini pesannya:
“Yaitu orang-orang yang mendengarkan perkataan (wacana, analisis, pendapat, diskursus) lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal.”
Semoga Kau masih layak disebut yang mempunyai akal.
May 15th, 2008 at 2:54 pm
Untuk #56 Sdr. Iman K. alias Alexander Soebroto!
Untuk anda ketahui bahwa saya bukanlah termasuk salah seorang dari orang2 yang suka menganggap sepele kapasitas ilmu seseorang. Dalam Islam itu merupakan suatu dosa. Saya yakin akan kapasitas dan kemampuan ilmu anda. Anda memberikan pendapat dan tanggapan atas artikel bang Yusril sudah cukup memberikan butki akan kapasitas dan kemampuan anda. Hanya, sekali lagi, saya ingin mengajak semua orang agar ketika melihat satu materi/objek yang diperdebatkan itu hendaklah mengedepankan ilmu bukan emosi agar tidak terjebak pada sikap subjektifitas. Jika anda merasa tersinggung dengan tanggapan saya anggaplah itu sebagai satu dinamika diskusi walaupun sebetulnya tidak ada sedikitpun niat saya untuk menyinggung anda. Dan untuk anda ketahui juga bahwa dalam hal ini saya tidak berada dalam posisi berpihak dan tidak berpihak kepada siapa. Saya hanya memposisikan diri dalam kebenaran. Saya juga kadang suka memberikan kritikan kepada bang Yusril ketika saya lihat bahwa apa yang beliau sampaikan menurut saya tidak benar dan harus dikritik. Dan saya nilai bang Yusril juga cukup terbuka dan legowo ketika pendapatnya menurut orang lain keliru. Jadi kalau anda menilai bahwa saya telah bersikap subjektif dan taklid terhadap diri bang Yusril itu salah besar. dan bukankah Islam juga mencela sikap taklid kepada seseorang tanpa ditunjang ilmu pengetahuan yang cukup?
Dalam konteks yang sedang kita diskusikan ini kesan yang bisa saya tangkap adalah anda begitu ragu akan kapasitas bang Yusril tentang Ahmadiyah. Nah wajar kan kalau saya juga mempertanyakan tingkat pengetahuan anda terhadap Ahmadiyah ini. Ini saya tanyakan mudah2an pengetahuan anda tentang Ahmadiyah menjadi pembanding/penyeimbang terhadap “konsep” Ahmadiyah yang bang Yusril utarakan dalam artikelnya.
Mengenai urgen dan tidak urgennya saya mengetahui latar belakang anda, tentu saja saya tidak mau tahu anda ini siapa, rumahnya di mana, kuliahnya tamat apa enggak, masih bujangan atau sudah menikah, cakep apa tidak, dan lain sebagainya. Yang ingin saya ketahui dari anda adalah pengetahuan anda terhadap “segala hal” yang berkaitan dengan Ahamdiyah. Cukup fair kan apa yang saya tanyakan? Trims.
May 15th, 2008 at 4:45 pm
@Seperti Nembak Nyamuk dengan Meriam
Hallo, kawan2… Menurut aku biarkanlah diskusi antara Yusril dan Iman K berjalan apa adanya. Janganlah dia (Iman K) kalian “keroyok”… Kalau mau “ngeroyok”? Keroyok aja si Yusril itu… Kan, enak… Ngeroyok mantan Menteri, atau eks Mensekneg… hahahahaha…
Ngeroyok yang kecil2… Kayak nembak nyamuk dengan meriam…
May 15th, 2008 at 7:58 pm
Assalamu alaikum, Bang YIM. Saya sangat berharap kalau Indonesia dipimpin oleh seorang negarawan yang ulama dan ulama yang negarawan plus sikap hidup yang sederhana dan merakyat, kira-kira seperti sosok pak Natsir- Allahu yarham-. barangkali Bang YIM bisa mendekati Idealisme itu kalau Bang YIM serius menyiapkan diri untuk itu.
di PP.Pemuda Persis ada Acara Seminar Nasional (Awal Juli 2009) tentang “Yang muda yang memimpin; menakar prospek kepemimpinan nasional generasi muda”. pa Bang YIM masih dikatagorikan muda, kira-kira siap jadi pembicaranya? apa komentarnya?
May 15th, 2008 at 8:06 pm
(Revisi) Assalamu alaikum, Bang YIM. Saya sangat berharap kalau Indonesia dipimpin oleh seorang negarawan yang ulama dan ulama yang negarawan plus sikap hidup yang sederhana dan merakyat, kira-kira seperti sosok pak Natsir- Allahu yarham-. barangkali Bang YIM bisa mendekati Idealisme itu kalau Bang YIM serius menyiapkan diri untuk itu.
di PP.Pemuda Persis ada Acara Seminar Nasional (Awal Juli 2008) tentang “Yang muda yang memimpin; menakar prospek kepemimpinan nasional generasi muda”. apa Bang YIM masih dikatagorikan muda, kira-kira siap jadi pembicaranya? apa komentarnya?
Insya Allah, kalau tak ada halangan, saya akan hadir dalam acara itu. Usia saya sekarang sudah 52 tahun. Tentu tidak dapat dikategorikan muda, setidaknya menurut kreteria KNPI. Namun masih lumayan muda bila dibanding dengan calion-calon Presiden yang sekarang muncul ke permukaan, antara lain Gus Dur, Megawati, SBY, Sutiyoso, Wiranto, Prabowo, Sri Sultan, Akbar Tanjung, Jusuf Kalla dan yang lainnya, he he he… (YIM)
May 15th, 2008 at 10:47 pm
Hihihihihi… Wong Kito (#72) ngajak orang untuk rame-rame ngroyok Laksamana Cheng Ho…. Hihihihi entar ente semue pada kebeset baru tau.. Hihihihihihi…. Kung Fu Laksamana Cheng Ho kagak maen-maen lho.. Hihihihihi…
May 16th, 2008 at 12:34 am
@Wong Betawi
Enak aja…
Tupai melompat aja bisa jatuh.
Apalagi “Laksamana Cheng Ho” yang gak bisa “melompat”…
hehehehe….
May 16th, 2008 at 12:40 am
(komentar #72)
Gak ada keroyokan di sini, kebetulan aja ada beberapa orang yang sepemikiran. Perbedaan pendapat itu biasa aja, yang penting rasanya Bung…. :-)
Jangan-jangan wong kito ini jelmaan si dia….
Buat Bang YIM, maaf nih tempat Anda di pake buat silaturrahmi antar komentator…. :-) gak apa-apa kan???
May 16th, 2008 at 12:52 am
@ Nasrullah…
Bung ini, kebanyakan nonton TV barangkali…
Bahasa kok, pakai “jangan2 Wong Kito ini jelamaan si Dia……”
Emang gua makhluk halus apa?
hehehehehehehe…….
May 16th, 2008 at 10:40 am
@ Wong Kito
Anda tidak usah merasa gusar gitu, apalagi ngatain sdr. Iman K sebagai yang kecil2 kayak nyamuk lagi. Jangan gitu bang ngatain orang lain kecil ntar ybs ngambek lagi. Dan ga da hasratan bagi saya khususnya tuk ngroyok sdr. Iman. Betul kata Nasrullah bahwa di sini ada beberapa yang kebetulan satu pemikiran. Atau jangan2 bener lagi praduga Nasrullah bahwa anda ini makhluk jadi2an hehehehe………….
May 16th, 2008 at 11:27 am
begitu dongbang, gimana persiapannya menuju ri 1?
May 16th, 2008 at 11:55 am
@Iman.K, Wong Kito:
Orang yang menuduh partner diskusi tidak kompeten, harus bersedia juga dikritik tidak kompeten.
Sederhananya, Sang pelempar batu harus bersedia dilempar dengan batu yang sama.
:)
@YIM:
Anda mengatakan:
Apakah itu berarti, jika kemudian Presiden mengambil sikap membuat peraturan yang merugikan Ahmadiyah, maka pihak Ahmadiyah dapat mengkonteskannya(contesting/uji materil? maaf saya kurang paham istilah yang dipakai) di tingkat penafsir konstitusi tertinggi (MK) ?
Satu yang tertinggal,
Jika presiden(atau pejabat manapun) sebagai pembuat peraturan, memilik konflik kepentingan dalam keputusan tersebut, apakah akan merugikan posisi legalnya? apakah ia dapat dituntut karena membuat peraturan/keputusan yang bias menuju keyakinannya sendiri, dalam urusan publik?
Anda mengatakan:
Maaf walaupun pendapat saya dalam hal ini tidak terlalu penting, saya tergelitik untuk berpendapat.
Penerapan laicite/laiklik/sekulerisme di Perancis, setahu saya hanya di tempat publik yang dimiliki pemerintah, seperti sekolah negeri dan (pegawai)kantor pemerintahan, dan tidak hanya pada jilbab, juga pada kalung salib, jilbabnya biarawati kristen, turban sikh, dan mangkok kepala yahudi(saya tidak tahu istilahnya).
Artinya, di sekolah-sekolah religius, di jalan dan ruang pribadi, laicite itu tidak diterapkan. Argumentasi pendukung laicite adalah untuk menghapus diskriminasi. Spiritnya adalah bukan agar negara mencampuri urusan personal warga, tapi mencegah keyakinan warga tercampur dengan hal-hal pemerintah.
Masalahnya jadi besar karena mayoritas yang terkena imbasnya adalah muslim imigran, yang justru kemudian menyebabkan diskriminasi lebih besar, rasisme yang lebih besar dan sentimen anti imigran.
Bagi orang prancis kebanyakan, anti laicite = anti konstitusi = anti prancis, kira-kira sama feelnya jika seorang bule menjadi warga negara Indonesia, lalu menolak validitas pancasila.
Tentu saja tidak semua pendapat seragam, Sarkozy misalnya, menyebutnya sebagai laicite negatif. Lambang-lambang spiritual dianggap sebagai kekayaan budaya, bukan usaha menggilas laicite.
Yth Pak YIM,
Dalam kaitannya dengan pertanyaan awal, posisi Anda sendiri bagaimana? Seberapa jauh menurut Anda negara(atau penguasa) boleh mencampuri urusan keyakinan rakyatnya? Sebaliknya seberapa jauh urusan keyakinan(versi penguasa) boleh mempengaruhi pengambilan keputusan?
Tanggapan saya:
Kalau Presiden akan bertindak melarang organisasi/perkumpulan Jemaat Ahmadiyah Indonesia, dia tidak perlu mendasarkan tindakannya kepada UUD 1945, tetapi menggunakan UU NOmor 1/PNPS/1965 seperti telah saya bahas dalam tulisan saya. Seperti telah saya katakan, bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 adalah hukum postif yang masih berlaku. UU tersebut dibuat pada masa pemerintahan Presiden Sukarno. Namun dikukuhkan lagi menjadi undang-undang di bawah Presiden Suharto. Presiden SBY dapat bertindak berdasarkan undang-undang itu untuk melarang organisasi/perkumpulan Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Kalau sekiranya ada yang berpendapat –katakanlah Jemaat Ahmadiyah Indonesia — bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 itu bertentangan dengan UUD 1945, maka mereka dapat mengajukan permohonan uji materil terhadap undang-undang tersebut kepada Mahkamah Konsitusi (MK). Mahkamah Konstitusilah yang berwenang memutuskan, apakah UU tsb sesuai atau bertentangan dengan UUD 1945. Jalan lain yang mungkin ditempuh ialah, jika Presiden atau DPR mengajukan RUU untuk mencabut UU Nomor 1/PNPS/1965. Keputusan dicabut atau tidaknya UU tsb tergantung kepada persetujuan persama antara Presiden dengan DPR. Kalau seandainya Presiden menerbitkan Keputusan Presiden yang melarang organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia, maka subyek yang dibubarkan dapat saja menggugat keputusan itu ke Pengadilan Tata Usaha Negara dalam tenggang waktu yang ditetapkan oleh undang-undang. Tergantung pada putusan pengadilan, apakah Keputusan Presiden tersebut bertentangan dengan undang-undang atau tidak. Namun jika Peraturan Presiden yang dikeluarkan, yang isinya bersifat mengatur, maka Peraturan itu dapat diuji materil ke Mahkamah Agung.
Tentang penjelasan Anda mengenai apa yang terjadi di Perancis, saya dapat memahaminya. Saya juga memahami prinsip negara sekular di Perancis, juga menimbulkan silang pendapat.
Anda mengajukan pertanyaan: “Jika presiden(atau pejabat manapun) sebagai pembuat peraturan, memilik konflik kepentingan dalam keputusan tersebut, apakah akan merugikan posisi legalnya? apakah ia dapat dituntut karena membuat peraturan/keputusan yang bias menuju keyakinannya sendiri, dalam urusan publik?” Jika Presiden atau pejabat mana saja yang membuat peraturan, dan di dalamnya ada hal-hal yang tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, maka tentu saja akan merugikan pejabat yang bersangutan. Secara politik dia bisa dikecam, dan secara hukum, peraturan tsb dapat dimintakan uji materil, tergantung pada apa bentuk peraturan perundang-undangan yang dibuat. Jika undang-undang, dan undang-undang itu dianggap bertentangan dengan konsitusi, maka perorangan warganegara, organisasi dan siapa saja yang “memiliki legal standing” dapat mengajukan permohonan uji materil kepada MK. Jika peraturan yang tingkatannya di bawah undang-undang, maka uji materil diajukan ke Mahkamah Agung.
Terhadap hal terakhir yang anda kemukakan, secara singkat saya berpendapat bahwa negara tidak dapat mencampuri keyakinan pribadi yang bersifat keagamaan pada rakyatnya. Bahkan negara tidak dapat mencampuri ajaran sesuatu agama yang diyakini oleh pemeluk-pemeluknya. Namun negara berkewajiban melindungi, mengayomi, membantu dan sekaligus memfasilitasi apa yang dibutuhkan oleh umat beragama untuk melaksanakan keyakinan keagamaannya. Kalau umat Islam berkeyakinan bahwa sholat Jumat itu wajib fardhu ‘ain bagi Mukmin, maka negara tidak bisa menawar bagaimana kalau sunnah mu’akkad saja. Namun negara berkewajiban menyediakan waktu yang cukup agar pada hari Jum’at setiap Mukmin dapat menunaikan kewajiban sholat Jum’at itu, meskipun hari Jum’at adalah hari kerja. Umat Islam juga berkeyakinan bahwa menunaikan ibadah haji adalah wajib bagi mereka yang mampu menunaikannya. Negara berkewajiban memfasilitasi, agar pelaksanaan ibadah haji itu berjalan dengan leluasa, aman dan tertib. Sebab itulah ada Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji yang menangani masalah ini. Kalau sekiranya Konsili Vatikan mengeluarkan dekrit bagi umat Katolik wajib berziarah ke Bethlehem seperti umat Islam wajib mengerjakan haji, maka Dirjen Bimas Katolik juga harus dikembangkan menjadi Dirjen Bimas Katolik dan Urusan Ziarah. Negara tidak boleh mencampuri keputusan yang diambil oleh pimpinan tertinggi umat Katolik, sekiranya ada keputusan seperti itu.
Kalau keyakinan pribadi yang terkait dengan agama itu berkaitan dengan hukum, saya telah menjelaskannya panjang lebar di dalam tulisan saya “Transformasi Hukum Islam ke dalam Hukum Nasional”.
Khusus mengenai Ahmadiyah yang saya bahas di dalam tulisan di atas, negara juga tidak bisa melarang orang yang meyakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad itu adalah Nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w, jika mereka membentuk agama mereka sendiri. Masalahnya, mereka menyatakan bahwa mereka itu tetap Islam. Sikap ini meresahkan umat Islam. Negara berkewajiban untuk melindungi umat Islam yang merasa agama mereka “dipermainkan” atau “dirusak” oleh pengikut Ahmadiyah itu. Jika negara bertindak, negara bukan mencampuri urusan keyakinan mereka terhadap kenabian Mirza Ghulam Ahmad, tetapi bertindak atas dasar kepentingan umat Islam yang merasa keyakinan keagamaan mereka dinodai oleh sekelompok orang. Apa yang saya kemukakan ini, tidaklah spesifik Islam dan Ahmadiyah, tetapi berlaku juga bagi agama-agama lain di negara kita ini.
Kalau sekiranya adalah sekelompok orang yang mengaku tetap beragama Kristen, namun membentuk organisasi, mendirikan gereja dan kegiatan-kegiatan keagamaan lainnya, namun aliran Kristen mereka itu nyata-nyata bertentangan dengan dogma pokok agama Kristen, misalnya mereka menolak Ketuhanan Jesus, mengingkari sebagian Kitab Bijbel, dan penganut Kristen yang sesungguhnya merasa resah dan menganggap kelompok ini mempermainkan agama Kristen yang sesungguhnya, maka negara juga dapat melarang kegiatan organisasi tersebut.
Tentu negara — katakanlah Presiden — selain harus mendengar masukan dari Menteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung, juga harus mendengar masukan dan pertimbangan dari Persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGI) dan Konfrensi Waligereja Indonesia (KWI) sebelum mengambil keputusan. Mendengar masukan dan pertimbangan dari dua majelis agama ini tidak disebutkan di dalam UU Nomor 1/PNPS/1965, namun jika Presiden bijaksana, tentu dia akan melakukannya.
Demikian penjelasan dan pendapat saya, semoga ada manfaatnya. (YIM)
May 16th, 2008 at 4:41 pm
@Hanyfa…
Kamu terlalu “pelamun” juga… sibuk baca karya Yusril “hitam-putih” di KKMK barangkali?…
Referensinya gak pas dong… masak gua dibilang, “makhluk jadi-jadian”…
Emang gua keturunan orang Bunian apa? Baca KKMK…
hehehe….
Tapi, terima kasih tanggapannya…
May 17th, 2008 at 1:15 am
Assalamu’alaikum Wr wb. Sebenarnya sudah lama saya mendengar tentang Ahmadiah ini dari buku pelajaran kami di pondok dalam materi perbandingan agama. Dan Ahmadiah memang sejak ‘doeloe’ digolongkan sebagai golongan sempalan islam. Jadi ya itu, dari dulu nyempal nyempil saja kerjanya.
Dan sudah seharusnya, di mana saya dan kawan kawan kami yang banyak tahu tentang Ahmadiah ini memberikan informasi yang berarti bagi masyarakat di Indonesia, maupun kontribusi positif dalam perjuangan menegakkan akidah. Namun saya khususnya ternyata belum bisa berbuat sebanyak bapak. Meskipun kami telah mendalami hukum dan dalam kacamata syari’ah dan kajian modern secara bersamaan, namun belum mampu berbuat banyak. Kebetulan sekali, kami keluarga FSQ di negeri Kinanah ini sedang konsen menghadapi ujian, jadi sampai sampai diskusi 10 harian yang biasa kami lakukan pun kami tinggalkan untuk sementara.
Tetapi saya sangat berbahagia, bila bapak telah memberikan informasi tentang apa yang terjadi sekarang (polemik Ahmadiah di indonesia) pada tempatnya. Tentu Bapak tahu bahwa banyak orang bicara meributkan apa yang sebenarnya tidak tau apa yang mereka ributkan. Orang Hukum bicara Agama (dan celakanya salah), dan para ulama ngomongin HAM (dan lebih celakanya juga sering keliru). Hingga MUI pun saking jengahnya sampai-sampai seorang diantaranya menyatakan agar mereka yang kurang paham agama agar tahu diri. Dan saya nyatakan, bahwa bapak bukan dari golongan yang disebut-sebut MUI tidak tahu diri. bahkan bapak sudah berkompeten untuk memberikan tanggapan bagi Ahmadiah dengan tinjauan Manhaj Akidah Islam.
Tentu saja ini hanya sebagai tanggapan saya atas artikel bapak. Bagaimanapun, bapak tentu bicara dan menulis dengan segala pertimbangan dan kebijaksanaan yang bapak miliki.
Yang pasti, secara langsung dan tidak langsung, bapak telah mengajar (menjadi guru) bagi banyak orang, termasuk saya. Nalar dari pemberitaan yang bapak keluhkan adalah kenyataan yang memang harus mendapat pembenahan bersama.
Wassalamu’alaikum wr wb.
May 17th, 2008 at 8:55 am
Hihihihi Wong Kito, Pak Yusril itu wong Sumbagsel… Baiknya sesama ‘wong kito’ rukun-rukun saja.. Daripada kroyok-kroyokan, lebih baik makan pempek kapal selam sama-sama. Lumayan…
May 17th, 2008 at 11:02 am
@wong betawi
Anda ini aneh? Emang makan empek2 “kapal selam” bisa buat “rukun” apa?
Setau aku, cukanya bisa buat gigi rontok! Maka, hati2lah…
hehehe…
May 17th, 2008 at 12:49 pm
sudah – sudah ” GITU AJA KOK REPOT ”
hehehe.
May 17th, 2008 at 7:55 pm
bila Bpk jadi Presiden / Orang yang bisa membuat presiden mengambil keputusan, maka saya punya pendapat agar seluruh bentuk aliran/ ajaran selain lima Agama yang sudah di akui supaya dilarang ada di Indonesia, sehingga para pemimpin negeri dan masyarakat tidak lagi membahas hal ini. Karena memikirkan bersama bagaimana supaya perekonomian jauh lebih baik. sementara agama yg sudah ada dilaksanakan, itu sudah lebih dari cukup… tiga syarat menjadi pemimpin publik 1.intelek, 2.religius…… itu sudah ada pada diri Bpk. tapi yang ke 3. punya massssssaa!!! ???? Bpk sebaik berbuat sesuatu, …. sy adalah pengagum Bpk, sy orang awam yg hidup dilapisan masy. paling bawah…
May 18th, 2008 at 12:43 am
@Yth. YIM:
Baiklah, terimakasih, sudah sungguh jelas.
Namun, walaupun dapat saya pahami tujuan dan spiritnya, implikasi lanjutan/jangka panjang, dari tingkat campur tangan pemerintah seperti itu, agak meresahkan saya secara pribadi.
Mengambil contoh Anda tentang umat kristiani yang tidak mengakui ketuhanan Jesus misalnya. Mazhab seperti itu ada, dan disebut sebagai unitarianisme (referensi: http://en.wikipedia.org/wiki/Unitarianism ).
Jika kemudian di indonesia mazhab tersebut muncul (dan memang sudah pernah muncul), dan Presidennya muslim, campur tangan presiden dalam menentukan mana yang “benar kristen” akan menjadi sesuatu yang menyulitkan. Apakah Presidennya harus mendukung Trinitarian yang mainstream atau Unitarian yang lebih kompatibel dengan konsep tauhid yang dipegang secara personal oleh sang presiden. Campur tangan pemerintah, menurut saya pribadi, hanyalah mengkaburkan proses alamiah pencarian kebenaran.
Terimakasih sekali lagi atas penjelasannya pak, terutama dalam aspek hukumnya.
May 18th, 2008 at 7:02 pm
Ass. Bang Yusril dan para komentator ..
Mengapa pemerintah – baca Presiden – tidak tegas mengambil keputusan ttg Ahmadiyah .. padahal dinegeri asal-nya sudah jelas banget ada Ahmadiyah Qadian dan Lahore .. tinggal putuskan saja bahwa yang boleh itu hanya yang Ahmadiyah Lahore dan bukan Qadian .. titik .. selesai .. soalnya lagi, Presiden nggak ada tempat bertanya yang pas, Menagnya, MUI-nya gak kasih masukan yang bener seperti Bang Yusril .. Kalau saja “Mensegneg pertama” tidak di lengserkan, Insya Allah tidak terjadi keruwetan seperti sekarang ini. “Mensegneg kedua” sudah ditanya oleh Presiden tapi engga bisa jawab kali … ia bisanya menunggu perintah saja dan sekali kali jadi jubir yang kadang2 suka keliru … Tapi ok lah, ini kan masa kepemimpinan SBY yang akan berakhir “Insya Allah” tahun 2009 .. kalau saja Abang sendiri – Insya Allah – yang menjadi pemimpin .. kira-kira Abang tegas nggak mengambil keputusan apa saja yang menguntungkan rakyat ? Memang pemain bola dan penontonnya lebih pinter penonton sih .. Mudah-mudah2an tidak demikian dengan Abang .. Sudah ada semacam kesan umum, pemimpin yang Islami itu tidak akan sanggup membawa negara yang ‘walaupun’ penduduknya mayoritas namun mereka lebih percaya kepada pemimpin yang Islami .. Lihat saja, bung Karno, Bung Harto – nasionalis – dan begitu seterusnya …
Wallahu ‘alam bisshawab
May 18th, 2008 at 7:20 pm
Koreksi dikit .. pada paragraf akhir, Pemimpin Islami itu tidak akan sanggup membawa negara yang ‘walaupun’ penduduknya mayoritas muslim, namun mereka lebih percaya kepada pemimpin yang ‘tidak’ Islami..
May 18th, 2008 at 11:28 pm
Bang YIM ,Bubarkan Ahmadiyah merupakan penghormatan terhadap HAM umat muslim Indonesia.
May 19th, 2008 at 8:41 am
[...] SKB dan Positivisme Hukum Lihat Yusril Ihza Mahendra: “Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 itu sah sebagai undang-undang yang [...]
May 19th, 2008 at 11:32 am
Assalammu’alaikum wr wb.
How are you Today Bang Yusril ? I hope you always be fine…:)
I have no comments about your “SKB TENTANG AHMADIYAH”
but, i really would like to know your ‘political view’ about the hottets issue ‘kenaikan harga BBM”.
Thanks be4…
Wassalammu’alaikum wr. wb.
May 19th, 2008 at 3:37 pm
suatu pencerahan dari penjelasan pak yusril tetang masalah ahmadiyah, sekarang tinggal secepatnya pemerintah mengambil sikap dengan segera mengeluarkan satu aturan mengenai keberadaan ahmadiyah sebagai suatu keyakinan yang tidak mengatas namakan sebagai agama islam wasalam
May 19th, 2008 at 6:12 pm
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Kesehatan, Taufik, Hidayah dan Karunia kepada Bang YIM dan keluarga, Amin.
Bang YIM, adanya Pro dan Kontra tentang JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dikarenakan adanya Perbedaan Penafsiran arti dari “Khataman Nabiyyin” antara JAI dan MUI khususnya, terutama masalah “Adanya Pintu Kenabian setelah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”.
Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASHADUALLAILLAHAILLALAH WAASHADUANNA MUHAMMADARRASULULULLAH (Aku bersaksi, Tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tazkirah), yakin akan Rukun Iman dan Rukun Islam, ber-Haji ke Mekkah, Shalat menghadap Kiblat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Mesjid nama tempat ibadahnya.
Disamping itu yang saya tahu bahwa organisasi ini adalah organisasi yang murni Religius, mengajarkan masalah kemurnian agama Islam, tentang Indahnya Islam yang penuh damai, sarat dengan ibadah dan Doa, serta mengajarkan tentang kecintaannya kepada Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang PALING SEMPURNA, yang PALING MULIA dari antara semua Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT, (sangat jauh dari urusan duniawi, politik dan kekuasaan).
Disatu sisi, JAI berkeyakinan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah seorang Imam Mahdi, Nabi Isa as. yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Melalui ucapan Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW. 1400 tahun yang lalu, bahwa diakhir zaman, Nabi Isa as. akan di utus oleh-Nya untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah terbang jauh ke Bintang Suraya dan mengembalikan kemurnian Ajaran Agama Islam yang Sejati dan me-Menang-kan Agama Islam diatas Agama-Agama yang lain di pelosok Dunia Timur-Barat-Selatan-Utara.
Karena Allah SWT telah berjanji bahwa akan memelihara Kemurnian Alquran dan Agama Islam, tidak seperti kitab suci dan Agama yang lain yang telah diturunkan sebelum masa Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, dimana kemurniannya telah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Bang YIM, sebagai Orang Islam Intelektual, mau meng-kaji Alquran bukan hanya berdasarkan pendapat MUI atau Ulama Pakistan atau Rabitah saja, sebab mereka juga manusia, penafsiran mereka tentang “Khataman Nabiyyin” belum tentu benar., menurut saya yang terbaik adalah Kita harus kembali kepada Alquran dan Hadist.
Harapan saya pribadi, ada sejenis Diskusi atau Dialog secara terbuka, diikuti oleh perwakilan Organisasi Ahmadiyah, dan Organisasi Islam besar, yaitu MUI, NU dan Muhamadiyah disertakan pula Pihak Netral (sebagai Moderator), dimana Bahan Diskusi ini harus kembali kepada Kitab Suci Alquran dan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW. Khusus membahas Tafsir Khataman Nabiyyin dan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as. Yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Karena tanpa Diskusi berbahan Alquran dan Hadist, hanya berdasarkan kata MUI, Ulama Pakistan, Rabitah, yang merekapun manusia biasa sementara seolah-olah tafsir merekalah yang paling benar sehingga MUI dengan ringannya mengeluarkan “fatwa sesat” dan diprovokasikan ke masyarakat umum yang sebenarnya mereka tidak tahu-menahu akan arti “Khataman Nabiyyin” yang sebenarnya, serta kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as yang telah dijanjikan kedatangannya, sementara hanya Allah SWT lah yang berhak menentukan “siapa yang sesat, siapa yang benar”, karena kita hanya manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Mudah-mudahan Diskusi dan Dialog itu bisa terealisasi, Semoga Allah SWT dapat membukakan kebersihan hati kita semua dan mudah-mudahan kita dapat menemukan Kebenaran yang Sejati serta mudah-mudahan dapat meluruskan silang pendapat yang selama ini terjadi antara JAI dan MUI serta Umat Islam umumnya, Amin.
Islam adalah Rahmatul Alamin, mengajarkan kedamaian dan ketentraman, menjaga keharmonisan hubungan Hablumminallah dan hablumminannas.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 20th, 2008 at 9:35 am
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Kesehatan, Taufik, Hidayah dan Karunia kepada Bang YIM dan keluarga, Amin.
Bang YIM, adanya Pro dan Kontra tentang JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dikarenakan adanya Perbedaan Penafsiran arti dari “Khataman Nabiyyin” antara JAI dan MUI khususnya, terutama masalah “Adanya Pintu Kenabian setelah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”.
Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tadzkirah), yakin akan Rukun Iman dan Rukun Islam, ber-Haji ke Mekkah, Shalat menghadap Kiblat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Mesjid nama tempat ibadahnya.
Disamping itu yang saya tahu bahwa organisasi ini adalah organisasi yang murni Religius, mengajarkan masalah kemurnian agama Islam, tentang Indahnya Islam yang penuh damai, sarat dengan ibadah dan Doa, serta mengajarkan tentang kecintaannya kepada Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang PALING SEMPURNA, yang PALING MULIA dari antara semua Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT, (sangat jauh dari urusan duniawi, politik dan kekuasaan).
Disatu sisi, JAI berkeyakinan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah seorang Imam Mahdi, Nabi Isa as. yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Melalui ucapan Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW. lebih dari 1400 tahun yang lalu, bahwa diakhir zaman, Nabi Isa as. akan di utus oleh-Nya untuk memperbaiki akhlak dan keimanan manusia yang telah terbang jauh ke Bintang Suraya dan mengembalikan kemurnian Ajaran Agama Islam yang Sejati dan me-Menang-kan Agama Islam diatas Agama-Agama yang lain di seluruh pelosok Dunia Timur-Barat-Selatan-Utara.
Karena Allah SWT telah berjanji bahwa akan memelihara Kemurnian Alquran dan Agama Islam, tidak seperti kitab suci dan Agama yang lain yang telah diturunkan sebelum masa Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, dimana kemurniannya telah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Bang YIM, sebagai Orang Islam Intelektual, mau meng-kaji Alquran bukan hanya berdasarkan pendapat MUI atau Ulama Pakistan atau Rabitah saja, sebab mereka juga manusia, penafsiran mereka tentang “Khataman Nabiyyin” belum tentu benar., menurut saya yang terbaik adalah Kita harus kembali kepada Alquran dan Hadist. (Maknanya tidak saling bertentangan dengan ayat-ayat Alquran lainnya).
Harapan saya pribadi, ada sejenis Diskusi atau Dialog secara terbuka, diikuti oleh perwakilan Organisasi Ahmadiyah, dan Organisasi Islam besar, yaitu MUI, NU dan Muhamadiyah disertakan pula Pihak Netral (sebagai Moderator), dimana Bahan Diskusi ini harus kembali kepada Kitab Suci Alquran dan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW. Khusus membahas Tafsir Khataman Nabiyyin dan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as. Yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Karena tanpa Diskusi berbahan Alquran dan Hadist, hanya berdasarkan kata MUI, Ulama Pakistan, Rabitah, yang merekapun manusia biasa sementara seolah-olah tafsir merekalah yang paling benar sehingga MUI dengan ringannya mengeluarkan “fatwa sesat” dan diprovokasikan ke masyarakat umum yang sebenarnya mereka tidak tahu-menahu akan arti “Khataman Nabiyyin” yang sebenarnya, serta kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as yang telah dijanjikan kedatangannya, sementara hanya Allah SWT lah yang berhak menentukan “siapa yang sesat, siapa yang benar”, karena kita hanya manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Mudah-mudahan Diskusi dan Dialog itu bisa terealisasi, Semoga Allah SWT dapat membukakan kebersihan hati kita semua dan mudah-mudahan kita dapat menemukan Kebenaran yang Sejati serta mudah-mudahan dapat meluruskan silang pendapat yang selama ini terjadi antara JAI dan MUI serta Umat Islam umumnya, Amin.
Islam adalah Rahmatul Alamin, mengajarkan kedamaian dan ketentraman, menjaga keharmonisan hubungan Hablumminallah dan Hablumminannas.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 20th, 2008 at 12:20 pm
@ imran.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
mohon penjelasan :
1. baca buku apa sebagai rujukan, saya kok jadi ingin baca juga.?
2. apakah yang dimahsud dengan pembaharu dalam islam itu harus dengan membawa kitab suci baru ?
@Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tadzkirah)
lalu kitab tadzkirahnya buat apa mas?
May 20th, 2008 at 1:56 pm
Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW bersabda:
“Semua dosa akan ditangguhkan oleh Allah SWT sampai hari Kiamat nanti apa saja yang Dia kehendaki, kecuali durhaka kepada orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya
sebelum meninggal dunia” (Hadist Riwayat Hakim)
Disampaikan pada 9 Dzulhijjah 10 H di Lembah Uranah, Arafah.
Ya, saudara-saudaraku, perhatikan apa yang akan aku sampaikan, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih berada di antara kalian. Karenanya dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang
tidak dapat hadir saat ini.
Ya, saudara-saudaraku, seperti kita ketahui, bulan ini, hari ini dan kota ini adalah suci, karenanya pandanglah kehidupan dan milik, setiap orang Muslim sebagai kepercayaan yang suci.
Kembalikan barang-barang yang dipercayakan kepadamu kepada pemilik yang sebenarnya. Jangan kau lukai orang lain sebagaimana orang lain tidak melukaimu.
Ingatlah bahwa kamu akan bertemu dengan Allah SWT dan Dia akan memperhitungkan amalanmu dengan sebenar-benarnya.
Allah SWT telah melarangmu memungut riba, karenanya mulai saat ini dan untuk seterusnya kewajiban membayar riba dihapuskan. Waspadalah terhadap syaitan, demi keselamatan Agamamu. Dia telah kehilangan semua harapannya untuk membawa kalian pada kesesatan yang nyata, tapi waspadalah agar tidak terjebak pada tipuan halusnya.
Ya, saudara-saudaraku, adalah benar kamu mempunyai hak tertentu terhadap isteri-isterimu, tapi mereka juga mempunyai hak atas dirimu. Apabila mereka mematuhi hakmu maka mereka memperoleh haknya untuk mendapat makanan dan pakaian secara layak.
Perlakukanlah isteri-isterimu dengan baik dan bersikaplah manis terhadap mereka, karena mereka adalah pendampingmu dan penolongmu yang setia. Dan adalah hakmu untuk melarang mereka berteman dengan orang-orang yang tidak kamu sukai, dan juga terlarang melakukan perzinahan.
Ya, saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, sembahlah Allah, Shalat lima kali dalam sehari, laksanakan Puasa selama bulan Ramadhan dan tunaikanlah Zakat, laksanakan ibadah Haji bila mampu.
Ketahuilah bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Kamu semua adalah sederajat.
Tidak ada perbedaan satu terhadap yang lain kecuali Ketaqwaan dan Amal Shalih.
Ingatlah, suatu hari kamu akan menghadap Allah dan harus mempertanggung jawabkan semua amalanmu. Karena itu berhati-hatilah jangan menyimpang dari jalan kebenaran setelah kepergianku nanti.
Ya, saudara-saudaraku, tidak akan ada Nabi atau Rasul sesudahku dan tidak akan ada agama lain yang lahir. Karenanya simaklah baik-baik ya Saudaraku, dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu, bahwa aku meninggalkan dua pusaka, Al-Qur’an dan contoh-contohku sebagai As-Sunnah dan bila kalian
mengikutinya tidak mungkin akan tersesat.
Siapa yang mendengarkan perkataanku ini wajib menyampaikannya kepada yang lain dan seterusnya dan mungkin yang terakhir memahami kata-kataku ini bisa lebih baik dari yang langsung mendengarkan.
Demi Allah aku bersaksi, bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada umat-Mu ya Allah.
May 20th, 2008 at 3:37 pm
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW bersabda dalam Kitab Hadist Abu Daud Jilid II, halaman 21 dan Misykat halaman 36, artinya :
“Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT akan mengirimkan untuk umat ini pada permulaan setiap abad seorang (mujadid) yang akan memperbaiki keadaan umat”.
Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist Ad-Darul Qutni, Jilid 1, halaman 188, artinya :
“Sesungguhnya untuk Mahdi kami ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat Langit dan Bumi diciptakan : Gerhana Bulan akan terjadi dalam malam pertama dalam Bulan Ramadhan dan Gerhana Matahari akan terjadi pada pertengahannya”.
Pada tahun 1890, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1894, Allah SWT memperlihatkan Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari dalam Bulan Ramadhan untuk menyatakan kebenaran dakwa beliau, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.
TADZKIRAH
Didalam Literatur Ahmadiyah, dalam bahasa apapun, tidak akan mungkin ditemukan sebutan atau istilah Kitab Suci Tadzkirah. Istilah Kitab Suci Tdzkirah hanya rekaan yang terdapat didalam literatur-literatur dari kalangan yang Anti-Ahmadiyah untuk memberikan citra kepada khalayak ramai bahwa Naudzubillah Ahmadiyah mempunyai kitab suci tersendiri sebagai tandingan Al-Quran.
Kata Tadzkirah sendiri berarti antara lain : sebuah catatan, biografi.
Sesuai dengan judul kitab itu, di dalamnya terkandung kumpulan-kumpulan episode saat Pendiri Jemaat Ahmadiyah mendapat pengalaman-pengalaman spiritual.
Kitab Suci Jemaat Ahmadiyah adalah Kitab Suci Al-Quran, yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran.
May 20th, 2008 at 6:04 pm
Yth. Bapak Imran ..
Pada tahun 1890, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1894, Allah SWT memperlihatkan Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari dalam Bulan Ramadhan untuk menyatakan kebenaran dakwa beliau, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.
Pertanyaan :
1. Apakah sebutan as dibelakang Ghulam Ahamd berarti ‘alaihissalam, sama dengan Nabi Isa as., kalau benar demikian, maka Ghulam Ahmad itu sama atau sejajar dengan Nabi Isa as. dan tidak sama / sejajar dengan Imam Mahdi, karena Imam Mahdi tidak digunakan sebutan as.
2. Ghulam Ahmad, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1890, sementara gerhana bulan dan matahari di bulan ramadhan terjadi pada tahun 1894. Jadi lebih dulu ‘mendakwakan diri’ nya sendiri dengan peristiwa gerhana bulan dan matahari .. Allah SWT memperlihatkan kedua gerhana tersebut sebagai ‘pernyataan kebenaran dakwah beliau’ ? apakah pernyataan Allah SWT itu, disebut dalam Tadzkirah-nya Ghulam Ahmad ? mohon penjelasan ..
terima kasih ..
May 21st, 2008 at 9:29 am
# Imran
Mas sampean (anda) selalu menyebut “Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW” dalam konteks bahasa jika ada besar bertari ada kecil jadi apakah “Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as” sebagai nabi kecil ?
buat teman2 dan bang YIM terimakasih atas pencerahannya Blog ini semakin ramai aja
bang Yim sudah saatnya ganti topik karena komentarnya sudah lebih seratus
May 21st, 2008 at 10:13 am
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Keberkatan, Kesehatan, Kesuksesan, Karunia, Taufiq dan Hidayah kepada Bang YIM dan kita semua, Amin.
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW, dikatakan bahwa di dunia ini terdapat 124.000 nabi.
Ada dua macam Nabi, Pertama, Tashri’i, yaitu Nabi yang membawa kitab suci serta Hukum baru, dan lazimnya mengembangkan sebuah umat. Kedua, Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang tidak membawa kitab suci dan ajaran baru, namun dikirim untuk menyegarkan kembali dan mengimplementasikan ajaran-ajaran suci yang dibawa oleh Nabi-Nabi Tashri’I sebelumnya.
Menurut Jemaat Ahmadiyah, Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dalam artian Tashri’i, karena Agama Islam adalah Agama Terakhir, Agama yang paling sempurna, sedangkan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Adalah Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Allah SWT, merupakan Nabi Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menyegarkan kembali Ajaran Agama Islam sesuai dengan yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. yang mengajarkan Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian untuk seluruh umat manusia yang ada di pelosok Dunia.
Dalam Kitab Suci Al-Quran Surah An-Nisa ayat 69-70, artinya :
“Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk diantara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni Nabi-Nabi, Shiddiq-Shiddiq, Syahid-Syahid, dan orang-orang Saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati”.
“Ini karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui”.
Ayat diatas menerangkan semua jalur kemajuan rohani yang terbuka bagi kaum muslimin. Keempat martabat kerohanian – Para Nabi, Para Shiddiq, Para Syuhada dan Para Shalihin – semua dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW.
Dalam Kitab Suci Al-Quran Surah Ash-Shaf ayat 6-7, artinya :
“Dan ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata,”Hai, Bani Isra’il, sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad” – Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “ini adalah sihir yang nyata””.
“Dan, siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, padahal ia diajak kepada Islam ? Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya”.
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. Memperjuangkan tentang indahnya Ajaran Agama Islam yang merupakan Ajaran Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian serta mempunyai misi me-Menangkan dan meng-Islamkan seluruh umat manusia yang ada di seluruh pelosok Dunia Timur, Barat, Selatan, Utara. Karena Islam merupakan Rahmatul Alamin, Agama Universal, Agama untuk seluruh umat manusia, akan tetapi, orang-orang anti-Ahmadiyah telah mem-provokasi dan mem-fitnah serta menuduh Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan Jemaatnya sebagai kaum bukan muslim.
Dalam Kitab Suci Al-Quran surah Ash-Shaf ayat 8-9, artinya :
“Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai”.
“Dia-lah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya diatas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai”.
Dalam Hadist Abu Daud, Jilid II halaman 216, artinya :
“Bahwa dalam zaman nabi Isa as. Yang dijanjikan, yakni dalam zaman Imam Mahdi as. Allah akan menghancurkan* semua agama lain kecuali agama Islam”. ( * = menghancurkan paham-paham ajarannya).
Dalam buku Tafsir Ibnu Jarir Jilid 15 halaman 72, tertulis, artinya :
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama benar, agar Dia memenangkannya (agama Islam) diatas segala agama yang lain, yakni kemenangan itu akan terjadi pada waktu nabi Isa as, yakni Imam mahdi as.
Dalam buku Tafsir Ibnu Jarir, Jilid 25 halaman 54 tertulis, artinya :
“Abu Hurairah ra. ditanya tentang Firman Allah SWT, “Agar Dia memenangkannya diatas segala agama lain”……
Beliau menjawab : Bahwa (kemenangan itu) akan terjadi pada waktu sudah datang Nabi Isa as. Yakni Imam Mahdi as. Saya jelaskan diatas bahwa Nabi Isa as. Itu adalah Imam Mahdi as. Sesuai dengan Sabda Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. di dalam Hadist Ibnu Majah, yang artinya :
“Tiada Mahdi kecuali Isa”
Jadi, Nabi isa as. Yang dijanjikan kedatangannya itu adalah Imam Mahdi as.
Dalam buku BIHARUL ANWAR jilid 13, halaman 24, artinya :
“Kemenangan Agama Islam akan terjadi di zaman Imam Mahdi as”.
Yang mulia Nabi Besar Muhammad SAW telah menerangkan, bahwa Imam Mahdi as. Yang akan datang namanya AHMAD, sbb :
“Hadzrat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebuah Jemaat akan berperang menentang India, dan jemaat itu beserta Imam Mahdi as. yang namanya AHMAD” .(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam tarikh-nya).
Hadist tersebut telah sempurna waktu terjadi perang antara India dan Pakistan, karena murid-murid Imam Mahdi as. ikut berperang bersama tentara Pakistan melawan India.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 21st, 2008 at 11:04 am
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Yth. Bang N. Jamil Ghazali,
Pada tahun 1890, Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1908, Hadzrat Mirza Gulam Ahmad as. Wafat, sementara pada tahun 1894, terjadi gerhana bulan dan matahari di bulan ramadhan, artinya fenomena alam itu terjadi mada masa kehidupan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. diantara sejak beliau as. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi sampai dengan beliau as. meninggal dunia.
Menurut saya yang lemah, fenomena alam ini adalah salah satu tanda bahwa dimasa itu Imam Mahdi telah datang dan di perkuat oleh Hadist Rasulullah SAW dalam Hadist Ad-Darul Qutni, Jilid 1, halaman 188, dan Allah SWT telah menyempurnakan atau merealisasikan Hadist tersebut melalui fenomena alam itu pada tahun 1894, dimana masa kurun waktu beliau as. menyampaikan tablighnya ke seluruh umat manusia untuk kemenangan Ajaran Agama Islam diatas agama-agama lainnya.
Mohon maaf ya Bang, kalau jawaban saya kurang tepat, karena saya pun masih berusaha terus belajar untuk mencari kebenaran.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran.
May 21st, 2008 at 11:25 am
mudah – mudahan petunjuk dan hidayah ALLAH tetap bersama kita.
amin.
May 21st, 2008 at 12:04 pm
salam.
mas imran, gak usah berdialektika lagi, pointnya sudah jelas, Ahmadiyah kalau mau eksis di Indonesia maka harus merubah nomenklatur keyakinannya-gak usah pakai islam. kalau tidak maka satu-satunya jalan adalah dilarang berkembang -dalam pandangan hukum nasional- di Indonesia. persoalan pemahaman ke agamaan, itu juga sudah jelas, selain persoalan akidah memang ada perdebatan panjang -itu hanya soal furu’ saja-. thanks.
salam
May 21st, 2008 at 12:15 pm
Sebagai bahan renungan yang didapat dari milis…
Ceramah cak Nun
Di milis ini kerap kita jumpai posting berbau agama. Atau perdebatan
yang menjurus pada perdebatan soal agama. Kadang perdebatannya begitu
panas. Sindir-menyindir atau ejek mengejek. Buat saya itu menyedihkan.
Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja.
Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke
patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan
kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ.
Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga
ngobrolin soal keagamaan.
Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo,
Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan
Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau
pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama
berkumpul melingkar disitu.
Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
“Apakah anda semua punya tetangga?”
Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja
kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi
saya ikut-ikutan saja menjawab : “Tentu saja punya”.
Cak Nun melanjutkan bertanya : “Punya istri enggak tetangga Anda?”
Sebagian hadirin menjawab : “Ya, punya dong”. Saya diam saja. Rasanya
tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak
desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.
Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : “Apakah anda pernah lihat
kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus
atau ada bekas korengnya ?”
Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.
Kebanyakan menjawab : “Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?”
Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : “Body-nya sexy enggak?”
Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang
benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu.
Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini
senantiasai saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk
sebuah negeri yang memilih Pancasila : “Jadi ya begitu. Jari kakinya
lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak
usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan,
diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.
“Kenapa cak?” salah satu teman bertanya, penasaran.
“Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya
ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah
dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun.
Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini
begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam
hati saja”.
Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.
Dia melanjutkan serius : “Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan
atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam?
Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar
itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga,
itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan,
atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah
kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai
istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung
hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai
dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama
tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. ”
Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.
Cak Nun terus berkata : “Itu prinsip kita dalam memandang berbagai
agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya
gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk
mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana
karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh
pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada
orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha,
kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga
Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.Begitu. ”
Kami semua terus menyimak paparannya.
“Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda
ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas
dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk
agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun,
silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan,
sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. ”
“Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama,
bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa
main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim,
cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau
apapun. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah,”
ujarnya.
Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi
serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat
baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di
Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil
mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia.
Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya
perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan. Sangat menyedihkan.
May 21st, 2008 at 12:57 pm
@denie
Pergaulan yg anda gambarkan itu, sebagaimana anda merujuk cak nun, itulah implementasi toleransi yg kita kenal sejak SD dulu hingga sekarang. Dalam hal beda keyakinan, yaa begitulah yang berlaku yaitu “bagimu agamamu bagiku agamaku”. Kalau Ahmadiyah berkeyakinan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad saw, ya silahkan jadi tetangga kita sebagaimana umat Katolik atau Budha itu …
Itulah yang disarankan umat Islam Indonesia yang peduli dg ajaran agamnya.
May 21st, 2008 at 2:42 pm
Luar biasa, saya benar2 terbantu dengan tulisan Abang, terlalu banyak penjelasan yang tidak jelas di bumi Indonesia, pun demikian sikap para pemimpinnya, media bahkan turut dalam karut marut itu. Lucunya, sangat “Indonesia” banget, hanya dengar selentingan saja merasa sudah paling tahu, dan begitu banyak “suara sumbang” justru muncul dari orang2 yang tidak begitu kenal Abang. Saya sedih sekali tatkala orang menilai Islam itu “teroris” meski saya baru memeluk Islam saat duduk di bangku SMA kelas 3. Ternyata orang yang berpendapat seperti itu juga tidak mengenal Islam. begitu kesimpulan saya. Sama halnya ketika orang berbicara tentang Abang. Saya bersyukur, mesti hanya sesaat sempat mengenal Abang dari dekat. Sempat ngobrol langsung, sempat jamaah. Atas dasar pengenalan secara “langsung” itu saya memiliki keyakinan Abang merupakan figur yang cocok untuk jadi pemimpin. Saya sempat begitu bahagia dan bersemangat ketika Abang mencalonkan diri jadi Presiden, namun demi menjaga persatuan Umat Islam, Abang mundur. Namun ternyata orang Indonesia tetaplah orang Indonesia, dia lebih mempercayai”apa kata media” bukan melihat suatu permasalahan secara jernih. Mereka cenderung menghakimi, tanpa melakukan “cover bothside”. Oya, terkait dengan pencalonan Abang, kalau boleh jujur, mungkin tak ada salahnya sedikit belajar menjadi “orang Indonesia kebanyakan” yang suka basa-basi, n berpura-pura. Saya sangat paham karakter Abang yang malas berbasa-basi, namun itu menimbulkan prasangka seolah Abang “sombong n merasa pinter” setidaknya itulah yang dikatakan tentang Abang….belum lagi stempel “laskar orba” yang seolah sebagai “penyakit kulit” meski saya pribadi tetap berpandangan wajar karena Abang punya kemampuan maka dilirik “Pak Harto”…
May 21st, 2008 at 2:58 pm
@ Imran
Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW, dikatakan bahwa di dunia ini terdapat 124.000 nabi.
Ada dua macam Nabi, Pertama, Tashri’i, yaitu Nabi yang membawa kitab suci serta Hukum baru, dan lazimnya mengembangkan sebuah umat. Kedua, Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang tidak membawa kitab suci dan ajaran baru, namun dikirim untuk menyegarkan kembali dan mengimplementasikan ajaran-ajaran suci yang dibawa oleh Nabi-Nabi Tashri’I sebelumnya.
Menurut Jemaat Ahmadiyah, Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dalam artian Tashri’i, karena Agama Islam adalah Agama Terakhir, Agama yang paling sempurna, sedangkan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Adalah Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Allah SWT, merupakan Nabi Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menyegarkan kembali Ajaran Agama Islam sesuai dengan yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. yang mengajarkan Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian untuk seluruh umat manusia yang ada di pelosok Dunia.
1. Dalam Islam tidak ada sebutan “Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”, yang ada adalah Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dalam litelatur agama Islam tidak ada sebutan Nabi Besar atau Nabi Kecil,
sebutan Nabi Besar hanya ada dalam kamus bangsa Israil. Dalam lirelatur agama mereka memang ada
pengklasifikasian nabi2. Ada Nabi Kecil, ada Nabi pertengahan dan ada Nabi Besar.
Sementara dalam Islam dengan tegas Allah menyatakan Laa Nufarriqu baiana ahadin min rusulin (Kami tidak
membeda2kan di antara satu rasul (utusan) dengan rasul2 (utusan2) yang lain);
2. Saran anda kepada bang YIM dalam menafsirkan Khataman Nabiyyin agar jangan terlalu mengikuti tafsir MUI atau
Rabithah dan Pakistan, saran saya sama anda juga dalam menafsirkan Khataman Nabiyyin jangan terlalu
mengikuti model penafsiran para pengikut Ahmadiyah, toh mereka juga manusia biasa yang peluang untuk salah
begitu terbuka lebar. Dan apakah anda tahu sejarah pendirian Ahamdiyah. Bukankah di dalamnya banyak sekali
unsur kepentingan politik penjajah Inggris yang sedang menguasai India waktu itu? Kalau benar Mirza Ghulam
Ahmad itu sebagai pembaharu, menyegarkan kembali ajaran Islam kepada aslinya seperti yang anda katakan,
mengapa MGA melarang umat Islam ketika itu untuk Jihad mengangkat senjata melawan penjajahan Inggris.
Bukankah Jihad merupakan salah satu ajaran orsinili agama Islam?
3. Islam memang sangat menganjurkan umatnya untuk memberikan rasa damai dan tentram, baik kepada sesama
umat Islam sendiri maupun dengan orang kafir, namun Islam juga mengajarkan kepada umatnya ketika ada
sementara orang, baik secara personal maupun komunal, mengobok2 fundamental ajaran Islam. Membela dan
mempertahankan kesucian dan kemurnian agama merupakan jihad fi sabilillah.
@ Denie
Islam itu agama yang sangat toleran di dunia. Islam mengajarkan tasamuh (toleransi) terhadap agama lain. Apa yang Cak Nun ilustrasikan itu memang yang dikehendaki oleh Islam. Islam tidak pernah merasa alergi dengan perbedaan, bahkan Islam sangat menghargai adanya perbedaan dan keanekaragaman karena itu bagian dari sunnatullah yang sulit kita hindari. Kami dilarang untuk mengganggu dan mengusik keyakinan penganut agama lain. Namun ketika keyakinan agama kami diusik, dosa hukumnya jika kami duduk berdiam diri dan tidak memberi pembelaan sedikitpun terhadap agama kami. Saya yakin penganut agama lain akan bereaksi sama jika ada sekelompok orang yang dengan begitu demonstratifnya mengusik ajaran agamanya. Jadi bagi kami tidak ada masalah dengan perbedaan, yang menjadi masalah adalah apakah “tetangga2″ kami itu juga mempunyai ajaran yang sama tentang toleransi? Kalo memang punya kenapa mesti terjadi pembantaian thd umat Islam di Ambon, Poso, Bosnia, Irak, Afganistan dan daerah/belahan dunia lainnya.
May 22nd, 2008 at 8:43 am
@Denie
uraian anda memang betul kita tidak boleh ngurusi tetangga mau jari kakinya lima atau tujuh tapi dalam hal kasus Ahmadiyah konteksnya beda bukan konflik antar tetangga tetapi orang yang mengaku keluarga namun tidak sesuai dengan prinsip dasar rumah tangga yang diikuti
anda boleh bertetangga dengan siapa saja, agama apa saja suku apa saja dan bisa saling menghormati tapi bagai mana jika ada orang yang mengku saudara anda namun tidak pernah sepaham dengan anda dan selalu berbuat yang tidak mengenakkan anda tapi ingain selalu satu rumah dengan anda, bagai mana pendapat anda terhadap orang ini apakah anda menerimanya sebagai angota keluarga atau menyarankan dia agar mencari rumah lain biarlah bertetangga saja
@imran
diantara tugas imam mahdi adalah membunuh Dajjal dan akan mematahkan salib kalau memang MGA adalah imam mahdi siapa dajjalnya ? dan kenapa sampai sekarang banyak orang yang belum beriman kepada Allah SWT sedang MGA sendiri sudah wafat. apakah nanti ada imam mahdi lagi ?
May 22nd, 2008 at 12:21 pm
Sebagai sesama umat manusia, aku prihatin dengan yang dialami warga ahmadiyah setahun terakhir ini. Namun, sebagai muslim, aku kecewa dengan Ahmadiyah yang masih bermuka dua dalam pengakuan kerasullannya dan kitab suci. Jika memperhatikan bahwa pemerintah sebenarnya sudah cukup bersabar – untuk tidak dikatakan melalaikan – membiarkan Ahmadiyah tumbuh dan berkembang. Sementara, di negara muslim lain, Ahmadiyah dilarang dan dicegah tumbuh dan berkembang.
Berbagai pendekatan pun sudah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan, dan lembaga-lembaga sosial, agar Ahmadaiyah menyadari kekeliruannya. Tinggal dua pilihan, apakah kembali ke jalan islam yang benar atau ke luar dari Islam dan membentuk agama baru. Namun, tampaknya Ahmadiyah masih memainkan peran sesuai kepentingannya.
Sekarang, palu putusan tinggal di tangan presiden. Jika SKB 3 menteri tidak punya kekuatan memberangus, maka SBY selaku presiden harus mengeluarkan keputusan melarang. Selanjutnya tinggal aparat hukum yang akan mengambil tindakan.
Apa yang Pak YIM sampaikan sudah sangat proposional.
Semoga masih ada cahaya kebenaran yang bersinar di bumi Indonesia ini.
Tabik!
May 22nd, 2008 at 4:29 pm
emangnya ahmadiyah masih banyak ya umatnya :)
May 22nd, 2008 at 6:22 pm
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Keberkatan, Kesehatan, Kesuksesan, Karunia, Taufiq dan Hidayah kepada Bang YIM dan kita semua, Amin.
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bang Hanifa jika tidak berkenan karena tulisan saya menggunakan nama Nabi Muhammad SAW dengan panggilan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, tidak lain, karena rasa cinta saya yang lemah ini kepada Beliau SAW, karena saya berfikir Beliau SAW. adalah “Khataman Nabiyyin”, merupakan Nabi Pembawa Syariat Tertinggi yaitu Syariat Islam, merupakan Nabi yang Paling Mulia, Paling Sempurna, Nabi yang Terbaik diantara Nabi-Nabi yang lain.
“Ahmad” adalah nama “jamal” (Keindahan), yang pada zamannya tidak akan digunakan kekerasan terhadap penentang-penentangnya, jadi istilah “Jihad” untuk zaman Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan murid-muridnya sampai dengan yang akan datang, bukan menggunakan pedang akan tetapi menggunakan pena dan tinta, berjihad menghancurkan dajal dan memecahkan salib dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW.
“Muhammad” adalah nama “jalal” (kegagahan), yang di dalam zamannya terjadi pertempuran phisik dengan musuh-musuhnya. Jadi “Jihad” untuk zaman Rasulullah SAW. menggunakan pedang.
Dalam satu Hadist dikatakan, artinya :
“Rasulullah bersabda, sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Ibnu maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, Ia akan memecahkan salib dan akan membunuh babi”. (Musnad Ahmad bin Hambal Jilid II halaman 156)
Perkataan “memecahkan salib dan membunuh babi” maksudnya Imam Mahdi as. akan menzahirkan kekeliruan kaum Kristen dan akan mematahkan (membatalkan) agamanya dengan bukti-bukti. (Syarah Bukhari oleh Allama Badruddin dan Syarah Muslim Jilid I halaman 266)
Dalam satu hadist juga dikatakan, artinya :
“Hadhrat Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Apabila sembahyang didirikan makan akan turun (datang) Isa bin Maryam (Imam Mahdi) dan beliau akan menjadi Imam mereka maka apabila musuh Allah yakni dajal melihat Isa (Imam Mahdi), ia (dajal) akan mencair sebagaimana garam mencair dalam air …….. Dan Allah SWT. Akan membunuhnya (dajal) dengan tangan Isa (Imam Mahdi as)”. ( Muslim dan Misykat halaman 466).
Menurut Hadist tersebut, satu tugas Imam Mahdi as. ialah membunuh dajal. Di isyaratkan dalam makrah awal dan akhir Surat Al-Kahfi bahwa dajal itu adalah orang yang ingkar (Kristen), dan dalam zaman ini Imam Mahdi Hadhrat Ahmad as. sudah mematahkan kepercayaan orang ingkar dengan membuktikan bahwa Nabi Isa as. tidak mati diatas salib dan kuburan beliau as. ada di Kashmir, India.
Sedangkan orang Kristen tidak dapat membantah beliau as. bahkan mereka selalu takut kepada Imam Mahdi dan murid-muridnya. Dan pada waktu yang akan datang, Agama Kristen akan habis melalui Imam Mahdi as. dan murid-muridnya, menurut hadist tersebut, InsyaAllah.
Dalam Al-Quran, Surat An Nur, ayat 55, Allah SWT. Berfirman, artinya :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan khalifah dari antara mereka di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-Nya orang yang sebelum mereka. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka dari keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang ingkar sesudah itu maka mereka itulah orang-orang fasik”.
Sesuai dengan ayat tersebut diatas, pada zaman ini hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. beserta Jemaat Beliau as. yang percaya bahwa dalam Agama Islam Khalifah atau Khilafat terus berjalan.
Dan dalam zaman itu, hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. (Imam Mahdi) mendapat wahyu tersebut dibawah ini hingga 13 kali, yang artinya :
“Aku menghendaki menjadikan khalifah, maka Aku menciptakan Adam”.
Ayat diatas juga berarti Agama islam akan mendapatkan kekuatan dan kemenangan melalui khalifah-khalifah, dan dalam zaman ini hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. yang mengatakan dengan wahyu Allah SWT. Bahwa Islam akan mendapat kemenangan di seluruh dunia melalui Beliau dan murid-murid Beliau selama tiga abad sejak dari Beliau as. diutus.
Karena itu bisa disimpulkan bahwa ayat tersebut diatas hanya berlaku bagi Imam Mahdi as. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.) dan bagi murid-murid Beliau yang mengaku bahwa Khilafat atau Khalifah terus berjalan dalam Agama Islam.
Dalam kitab Hadist Musnad Ahmad, Baihaqi dan Misykat, artinya :
“Rasulullah SAW bersabda :
“ Akan terjadi nubuat sampai waktu yang disukai Allah.
Kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudian akan terjadi kerajaan yang lalim sampai waktu yang disukai Allah.
Kemudian akan terjadi khilafat dalam nubuat.
Kemudian Beliau SAW berdiam diri”.
Menurut Hadist tersebut akan terjadi beberapa zaman, Pertama adalah Zaman Rasulullah SAW. Kedua adalah zaman para khalifah beliau SAW. Ketida adalah zaman raja-raja dalam umat Islam. Keempat adalah zaman Kenabian Hadhrat Imam Mahdi as. dan para Khalifah setelah Beliau as.
Pada tahun 1835 telah lahir seorang suci di Qadian (India) bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., berasal dari keluarga terhormat. Mirza adalah gelar kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dinasti Moghul berasal dari Persia (Iran), Hadhrat biasa diberikan orang kepada wujud-wujud suci atau para rohaniawan, Ghulam adalah nama keluarga, AHMAD adalah namanya aslinya.
Beliau as. pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah SWT pada tahun 1876, kemudian atas perintah Allah SWT. Beliau as. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1890. Dan pada tanggal 26 Mei 1908 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. berpulang ke rahmatullah dan dikebumikan di Qadian, pada saat itu Beliau as. meninggalkan pengikut sebanyak 200 ribu orang yang setia dan saleh. Dilanjutkan dengan Khalifah I (1908-1914), Hadhrat Hakim Nuruddin ra. ; Khalifah II (1914-1965), Hadhrat Bashiruddin Mahmud Ahmad atba. ; Khalifah III (1965-1982), Hadhrat Mirza Nasir Ahmad atba. ; Khalifah IV (1982-2003), Hadhrat Mirza Taher Ahmad atba. ; Khalifah V (2003-sekarang), Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba.
Alhamdulillah, sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah tersebar ke 189 negara untuk ber-Jihad menyerukan suara Allah, dan Alhamdulillah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. telah memiliki murid sebanyak 200 juta orang yang setia dan saleh, berasal dari berbagai macam agama dan kepercayaan dan Alhamdulillah kini mereka telah menjadi Islam dan bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah).
Pada tanggal 27 Mei 2008, Jemaat Ahmadiyah akan merayakan 100 tahun Khilafat (27 Mei 1908 – 27 Mei 2008), Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada Jemaat-Nya untuk me-Menangkan dan meng-Islamkan seluruh umat manusia yang ada di seluruh pelosok Dunia Timur, Barat, Selatan, Utara, karena Islam merupakan Agama Universal, Rahmatul Alamin.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 22nd, 2008 at 8:27 pm
ha ha ha Imran sedang berda’wah Ahmadiyah di blog bang YIM ini ya.
Ngomong dong dari tadi, nggak ngalur ngidul kemana rupanya maunya gini.
May 22nd, 2008 at 8:46 pm
Assalamualaikum bang…
saya sangat setuju dengan permintaan #92…
barangkali semua penikmat blog bang Yusril saat ini sangat ingin mendengar pernyataan dari abang mengenai kenaikan BBM yang sangat menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, mungkin memang di satu sisi kenaikan BBM dapat mempertahankan defisit APBN, namun di sisi lain kenaikan itu sangatlah memberatkan rakyat terutama rakyat yang akan jatuh kepada fakir dan miskin akibat dampak kenaikan BBM tersebut…
saya atas nama bloger se Indonesia berharap abang memerikan sumbang saran atas rencana kenaikan BBm ini…
terimakasih
wassalamualaikum Wr Wb….
May 23rd, 2008 at 9:24 am
Berarti saya dajjal ya :)
Saya tidak setuju dengan Anda, dan tidak sepakat dengan beberapa pokok-pokok ajaran Anda.
Tapi saya rela terpancung dalam berjuang agar Anda dapat menyuarakannya.
May 23rd, 2008 at 9:52 am
@ Imran
Anda tidak harus meminta maaf kepada saya perihal panggilan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya cuma mengingatkan aja karena memang sebutan Nabi Besar itu hanya ada dalam litelatur agama Yahudi. Toh para sahabat juga yang rasa cinta, hormat, ta’zhim dan belanya kepada Nabi Muhammad melebihi kita mereka tidak sampai berlebihan ketika memanggil Nabi Muhammad SAW.
hehehehe……. ternyata bang Imran ini suka bercanda juga kayaknya, masa Inggris yang ketika itu membantai umat Islam India dengan senjata mesin otomatis, meriam, bom dll dilawan dengan pena dan tinta. Logika apa yang dipakai, yang benar aja bang masa meriam dilawan sama pena dan tinta.
May 23rd, 2008 at 11:02 am
Ass Wr. Wb,
Pak YIM semoga bpk selalu dlm lindungan ALLAH SWT, dan bagi seluruh UMAT ISLAM INDONESIA semoga kita tetap menjadi orang yang bersabar dan masih memegang uquwah ISLAM (mari sama-2 kita BERSALAWAT utk NABI BESAR MUHAMMAD SAW) tak ada ruginya khan pak, 100 orang saja yang bersalawat pasti kita mendapat hidayah,
mengenai tindak tanduk ahmadiyah, saya sendiri secara pribadi menantang, karena sudah menyimpang dari akidah ISLAM, memang sih kita bukan negara ISLAM tapi INDONESIA adalah negara berpenduduk MUSLIM terbesar di seluruh dunia, sehingga selalu ada saja yang ingin memcah belah UMAT ISLAM , hendaknya PARA PEMIMPIN KITA mawas diri dan cepat bersikap/bertindak karena akibat dari perpecahan tersebut berujung kepada kerusuhan dan huru hara dimana-mana, saya bingung loh pak YIM para BIROKRAT kita kok DPR, KPK dll apatah itu namanya, apa mereka tidak ingat bahwa KITA UMAT ISLAM punya 2 TUJUAN HIDUP ( Dunia & Akhirat ) yang mana yang harus didahulukan dan yang mana yang harus di kesampingkan, kayaknya LEBIH MENDUNIA DEH , kalau kita ingat akhirat pasti kita akan sejahtera karena tidak ada korup DLL , OI PARA PEMIMPIN INGAT AKHIRAT DUNIA SUDAH TUA DAN SUDAH TAK SANGGUP LAGI MEMIKUL BEBAN DOSA. demikian Pak YIM terim kasih.
May 23rd, 2008 at 3:41 pm
Assalamualaikum Bang YIM dan semuanya.
Allahu Akbar…..Salam kenal mas Imran….
Terus terang saya sangat terkesan atas tulisan-tulisan yang telah di susun oleh mas Imran, terutama definisi “Jihad” dan “Imam Mahdi” sbb :
“Ahmad” adalah nama “jamal” (Keindahan), yang pada zamannya tidak akan digunakan kekerasan terhadap penentang-penentangnya, jadi istilah “Jihad” untuk zaman Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan murid-muridnya sampai dengan yang akan datang, bukan menggunakan pedang akan tetapi menggunakan pena dan tinta, berjihad menghancurkan dajal dan memecahkan salib dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW.
“Muhammad” adalah nama “jalal” (kegagahan), yang di dalam zamannya terjadi pertempuran phisik dengan musuh-musuhnya. Jadi “Jihad” untuk zaman Rasulullah SAW. menggunakan pedang.
Pengertian “Jihad” seperti yang mas Imran tulis, begitu terasa indahnya ajaran agama Islam, dan saya setuju, di era intelektual seperti sekarang ini adalah bersenjatakan pena dan tinta dengan menggunakan dalil-dalil Alqurdan dan Hadist Rasulullah saw, tidak seperti yang diperlihatkan oleh Aliran yang mengaku-ngaku Pembela Islam akan tetapi bentuk perjuangannya ala barbar, bengis, brutal, dan bodoh, mengadakan penghancuran tempat ibadah dan mengadakan huru-hara tapi mengaku sedang ber”Jihad ”, sementara yang yang diserangnya tidak melakukan perlawanan apalagi melakukan pembalasan. Menurut saya ini bukan “Jihad”, lebih tepat disebut “JAHAT”, benar-benar memalukan umat Islam, mengotori Ajaran Islam, sangat bertentangan dengan nasehat-nasehat Rasulullah dan sangat merusak martabat dan nama baik kemuliaan ajaran nabi Muhammad saw.
Di dunia amerika dan barat, nama Islam identik dengan teroris, bukan saja islam yang berasal dari Indonesia saja, akan tetapi juga islam-islam yang sudah menjadi negara islam, telah berhasil memperoleh predikat yang sangat buruk, mudah sekali diadu domba, perang yang katanya Jihad tidak ada henti-hentinya, hal ini benar-benar sesuai yang diinginkan oleh dajal untuk menghancurkan ajaran agama islam, apalagi dengan adanya persahabatan yang begitu mesra antara amerika, arab dan Israel. Astaghfirullah….
Pusing ah…..mending mikirin yang bersih-bersih…..
Walaupun baru kenal disini, terus terang saya kagum ke mas Imran, ulasan-ulasan penerangan yang menurut saya cukup jelas, selalu berdasarkan Alquran dan Hadist, tutur bahasanya santun, dan menurut saya, anda dan golongan anda adalah kaum Islam yang sejati, tidak seperti kami yang tidak mempunyai pimpinan skala internasional dan berfikiran sempit, tidak terbayangkan sedikitpun golongan islam anda mampu menyerukan kesejukan rohani islami sampai ke 189 negara termasuk negeri-negeri dajal, sehingga kaum-kaum yang sebelumnya tersesat menjadi dapat menemukan jalan Ilahi, Subhanallah…
Saya punya teman, sengaja kutipan tulisannya saya simpan, saya sangat terkesan karena kata-kata dan kalimatnya sangat indah, namanya Ahmad Badrudduja, sbb :
Assalamu ‘alaikum,
Bagaimana kita tahu bahwa seseorang adalah nabi sungguhan atau gadungan? Saya akan mencoba membahas masalah yang rumit ini secara ringkas dalam tulisan pendek ini.
Di kalangan sarjana Sunni, dikenal tiga syarat utama untuk mengetes kebenaran kleim kenabian:
1. Seseorang yang mengaku sebagai nabi haruslah mempunyai kualitas etis dan intelektual yang istimewa, misalnya ia memiliki kemampuan artikulasi berbahasa yang sangat baik, kesempurnaan akhlak, keluhuran budi, dsb.
2. Dia harus menunjukkan suatu mukjizat.
3. Mukjizat itu harus dibarengi dengan pengakuan sebagai seorang nabi. Maksudnya, jika seseorang memperlihatkan tindakan mukjizat tetapi tidak mengakui sebagai nabi, maka ia bukan nabi.
Tiga kriteria ini bisa dibaca dalam banyak karya sarjana Sunni. Sebagai contoh, anda bisa merujuk karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Mawardi, A’lam al-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi adalah salah satu ulama besar di lingkungan mazhab Syafii yang dikenal antara lain karena bukunya tentang manual penyelenggaraan kekuasaan, yaitu al-Ahkam al-Sulthaniyyah.
Dengan demikian, kriteria nabi palsu dan gadungan itu sebetulnya sangat sederhana dan tidak bertele-tele.
Para filosof Muslim menambahkan ciri-ciri yang lain. Ibn Sina, misalnya, mengatakan bahwa ada tiga jenis manusia.
1. Manusia yang sempurna dalam dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang-orang lain yang kurang sempurna (maksud “sempurna” di sini adalah dari segi spiritual, intelektual dan etis atau akhlak).
2. Manusia yang sempurna pada dirinya sendiri tapi tak mampu menyempurnakan orang lain. Jadi kesempurnannya bersifat terbatas, tidak meluber ke orang lain.
3. Orang yang pada dirinya sendiri menderita kekurangan, sehingga butuh dibantu oleh orang lain agak mencapai kesempurnaan spritiual dan akhlak.
Nabi adalah manusia dari jenis yang pertama. Jadi, nabi adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan kemampuan untuk menularkan kesempurnaan itu kepada orang lain. Inilah pendapat Ibn Sina yang banyak dikutip oleh para teolog Sunni seperti Fakhruddin al-Razi, misalnya.
Saya sendiri berpandangan bahwa nabi yang benar, bukan yang gadungan, bisa kita ketahui dari manusia-manusia yang ia didik, manusia-manusia yang menjadi umat dan pengikutnya. Kalau seorang yang mengaku nabi berhasil mendidik dan mencetak manusia yang bermoral dan bermartabat, maka dia adalah nabi. Kita juga bisa mengetahui kebenaran seorang nabi melalui ajaran-ajarannya: apakah ia mengajarkan norma yang baik atau malah kejahatan.
Hampir semua orang yang mengaku nabi sudah pasti akan diledek dan dilecehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kita lihat saja sejarah Nabi Muhammad yang dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Ini terjadi pada hampir semua nabi dan guru-guru kebijaksanaan di seantero dunia, bukan hanya pada Nabi Muhammad.
Saya sendiri bukan orang Ahmadi dan bukan pengikut ajaran Ahmadiyah. Tetapi berdasarkan kriteria-kriteria di atas, saya bisa membenarkan kleim Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Apalagi seluruh ajaran Ghulam Ahmad sebetulnya hanya menegaskan kembali ajaran-ajaran yang ada dalam Islam. Kita juga bisa melihat masyarakat dan jamaah yang berhasil dicetak oleh kelompok ini di mana-mana. Mereka para jamaah Ahmadiyah adalah orang-orang yang cinta perdamaian di mana-mana, menekankan pentingnya rasio dan pendekatan rasional pada agama, dan inilah yang menjadi rahasia daya tarik Ahmadiyah di kalangan para anak muda di zaman perjuangan dulu di beberapa kota di Indonesia. Mereka bukan manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi.
Jadi, alat paling baik untuk mengetes seorang adalah nabi sungguhan dan tidak adalah dari hasil akhirnya: apakah dia mencetak manusia yang bermoral dan berbudi luhur atau tidak.
Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang berhasil mencetak suatu masyarakat yang berbudi luhur adalah nabi. Kiai Haji Ahmad Dahlan jelas berhasil mencetak jamaah yang berbudi luhur, tetapi dia bukan nabi. Begitu juga Kiai Hasyim Asyari bukan nabi walau dia berhasil mencetak generasi yang bermoral dan berbudi luhur. Alasannya satu: karena mereka tidak mengaku sebagai nabi. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mawardi di atas, seseorang hanya boleh disebut nabi kalau dia mengaku nabi, dan tidak cukup hanya mempertunjukkan mukjizat sahaja.
Lalu apa mukjizat Mirza Ghulam Ahmad? Yang bisa menceritakan ini hanyalah jamaah Ahmadiyah sendiri. Jamaah Ahmadiyah tentu percaya bahwa Ghulam Ahmad memiliki sejumlah ‘khawariq al’adah” atau mukjizat. Soal orang-orang di luar Ahmadiyah tidak percaya, itu bukan urusan. Sebab, percaya atau tidak, itu masalah masing-masing orang. Orang di luar Islam bisa saja tidak percaya pada mukjizat Nabi Muhammad, tetapi itu tidak berpengaruh apa-apa.
Menurut saya, kalau ada mukjizat terbesar yang dipelihatkan oleh Ghulam Ahmad adalah kemampuannya membangun gerakan yang berhasil bertahan jauh setelah ia wafat dan menyebar ke seluruh dunia. Mukjizat Ghulam Ahmad yang paling penting adalah ia mampu mencetak manusia-manusia bermoral dari berbagai suku bangsa. Ini prestasi luar biasa yang tak bisa dicapai oleh sembarang orang. Ini sesuai dengan ciri-ciri nabi menurut Ibn Sina di atas, yakni orang yang sempurna pada dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang lain.
Demikian keterangan saya, semoga bermanfaat.
AB
Ahmad Badrudduja
Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi
Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
– Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)
Semoga bermanfaat untuk semuanya….
Terima kasih mas Imran, jika tidak keberatan, tolong beri saya informasi lebih seputar kedatangan Imam Mahdi, karena saya sangat tertarik, kirim ke sultan.ahmad30@yahoo.com, Wassalam.
Sultan.
May 23rd, 2008 at 5:58 pm
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
InsyaAllah Bang Sultan, segera akan saya kirim e-mail ayat-ayat Al-Quran dan Hadist-Hadist tentang Kedatangan Imam Mahdi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran
May 23rd, 2008 at 6:13 pm
gimana ini shohibul bait i?
May 24th, 2008 at 1:48 pm
Asw, Pak YIM dan semuanya
mas Imran saya mau juga dong ayat-ayat tentang kedatangan IMAM MAHDI,
karena saya sudah membaca buku yang dikarang oleh orang ISRAEL yang sudah masuk ISLAM dan disitu menerangkan bahwa kedatangannya tidak lama lagi,
mohon di kirima ke : distry_tbh_upms1@yahoo.co.id, terima kasih.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
May 24th, 2008 at 2:38 pm
Assalamualaikum.
Puunteen…
# Kang Sultan,
Saya setuju dengan anda, bahwa yang terpenting hasil pekerjaannya, maksudnya, orang atau golongan yang kita anggap diluar Islam akan tetapi malah menghasilkan banyak orang Islam, sementara orang yang meneriakkan sesat terhadap orang atau golongan itu apakah keadaannya lebih baik dari orang yang di cap nya sesat ? wallahualam…
Salah satu ayat Alquran, Allah berfirman, artinya lebih kurang : ‘Tidaklah aku jadikan Jin dan Manusia kecuali beribadah kepada-Ku’. Kemudian di ayat lain Allah berfirman, artinya lebih kurang ‘Seandainya dia mengada-adakan sebagian perkataan atas nama Kami, niscaya Kami renggut dia pada tangan kanannya, kemudian pasti Kami potong urat nadi jantungnya’.
Masalah klem sesat-menyesatkan itu mah urusan Allah, karena hanya Allah lah Yang Maha Tahu dan Berkuasa atas segala yang di-Kehendaki-Nya, janganlah kita mencoba untuk mengambil hak keputusan Allah SWT. Nah, sekarang, emangnya kita siapa ? ngapain ngurusin orang atau golongan lain sementara mereka yang kita anggap sesat ternyata di depan Allah, kita tidak lebih baik dari orang atau golongan tersebut.
Bagi saya, sebagai tolak ukurnya sederhana saja, apakah satu golongan itu keluar dari Islam atau tidak, coba kita baca salah satu Hadist yang termuat dalam rangkaian hadist empat puluh yang dikumpulkan oleh Imam Nawawi, dikenal dengan “Al-Arba’in al-Nawawiyyah”, Hadist nomor 3, sbb :
Hadis riwayat Bukhari dan Muslim dari sahabat Umar. Kata Umar, aku mendengar Rasullah saw. bersabda : ‘Islam didasarkan pada lima hal, bersaksi tak ada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, menegakkan Shalat, mengeluarkan Zakat, pergi Haji menuju rumah (Allah), dan berpuasa pada bulan Ramadan’.
Kita hanya bisa melihat dan menilai, cukup kita simpan dalam hati, tidak perlu di gembar-gemborkan apalagi ikut-ikutan berperan jadi Tuhan untuk meng-kleim golongan tersebut keluar dari Islam apalagi sambil menghantam dan menghancurkan secara phisik dengan menyebut-nyebut nama Allah seolah-olah penghancurannya mendapat tugas khusus langsung dari Allah SWT. Naudzubillah….
Teman-temanku sesama muslim, kita jangan mudah di adu domba, disatu sisi sang dajal yang program kristenisasinya semakin mulus dan gencar, sementara kita warga muslim pada sibuk mem-fatwa-kan orang atau suatu golongan itu sesat.
Harus kita ketahui dan sadari bahwa hak menyatakan sesat atau satu golongan itu keluar dari Islam , itu hanyalah Hak Allah SWT. Toh kita tinggal menyaksikan, seandainya MGA itu nabi palsu, sudah pasti Allah akan segera memotong urat nadi jantungnya dengan penuh kehinaan dan pasti ajaran dan pengikutnya pun akan habis tidak bersisa, karena Allah SWT pasti dan pasti akan selalu menjaga kemurnian dan nama baik agama yang dibawa oleh nabi Muhammad saw. Pasti kita percaya dengan janji-janji-Nya serta Kekuasaan dan Keperkasaan-Nya kan ??
Kecuali Allah berkehendak lain, jika seandainya ternyata MGA ini adalah benar-benar utusan dan Imam Mahdi (seperti yang di yakini oleh golongan Ahmadiyah) yang ternyata datangnya dari Allah SWT ???
MasyaAllah…. Semoga Allah mengampuni kita semua….
Karena sudah bukan satu rahasia lagi, bahwa memang benar yang sebenar-benarnya bahwa seluruh umat Islam sedang menunggu-nunggu kedatangan Imam Mahdi dan Nabi Isa yang akan datang di akhir zaman…
Malah saya khawatir terhadap diri saya, jika saya teringat dengan sebuah Hadist yang pernah saya baca, lebih kurang bunyi artinya sbb :
Rasulullah saw bersabda : ‘Akan datang suatu zaman pada manusia bilamana Islam hanya tinggal namanya saja, dan Alquran hanya tinggal tulisannya saja. Mesjid-mesjid mereka akan ramai dan penuh dengan orang-orang, akan tetapi kosong dari petunjuk. Ulama-ulama mereka adalah wujud yang paling buruk di kolong langit. Fitnah-fitnah akan keluar dari mereka dan akan kembali ke mereka juga’.
Kemudian apa yang terjadi seandainya ternyata MGA dan golongannya ternyata merupakan satu golongan yang benar-benar datangnya dari Allah SWT. ???
Seperti dalam salah satu Hadist yang artinya lebih kurang sbb :
Rasulullah saw. bersabda : ‘Suatu masa akan datang bilamana umatku akan pecah menjadi 73 firkah, semuanya akan masuk neraka kecuali satu firkah’.
Agar semua ini menjadi bahan renungan kita, semoga Allah SWT. Memberikan petunjuk dan karunia kepada kita semua untuk menemukan jalan yang lurus dan di ridhoi-Nya. Amin.
Hatur nuhuun….
Budiman.
May 24th, 2008 at 2:48 pm
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh,
InsyaAllah Bang Marhad, mudah-mudahan Allah SWT memberikan Rahmat, Taufiq dan Hidayah kepada kita semua, Amin ya Rabbal Alamin.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran.
May 24th, 2008 at 6:11 pm
Assalamualaikum warahmatullahi Wabarakatuh, untuk semua ( khususnya pak YIM )
alhamdulilah semoga kita semua dalam lindungan ALLAH SWT, dan diberi petunjuk
nah sekarang saya baru ingat yang mengarang buku itu nama nya JABER BOLUSHI dan beliau akan membuat karangan lagi kita tunggu aja ok….
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
marhad
May 25th, 2008 at 3:22 pm
assalaamu alikum,
makin ke sini nampaknya makin bias komentar-komentar yang masuk menanggapi tulisan bang yusril.
ban yusril menulis klarifikasi pemberitaan tentang skb yang menjadi polemik dan sedikit mendiskreditkan bang yusril.
Sayangnya, komentar-komentar terakhir dari mas imran, marhad, dan sultan kok kayaknya hanya mengasyikan mereka saja. Bagi saya, komentar-komentar mereka semakin menjauh dari isi/materi tulisan bang yusril. Kalau memang mau, kenapa tidak dibikin forum debat sendiri tentang kebenaran dan kepalsuan ahmadiyah, menurut saya itu lebih fair dan tdk melibatkan orang lain yg tidak mau mengikutinya.
Mengulangi pertanyaan mas rudi, gimana nih, shohibul bait?
terima kasih, semoga berkah, rahmat dan maghfiroh Alloh SWT senantiasa tercurahkan kepada kita semua.
wassalaamu alaikum,
abu afa
May 26th, 2008 at 4:46 pm
mungkin, para pemberi komentar panjang2 di blognya bang Yusril ini lebih baik memiliki blog juga,…seperti bang yusril dulu…posting puanjang bgt di blog jay, dan akhirnya puny ablog.
kalo mau komentar terkait di postingan blog YIM, bisa pake pake tracback. apalagi kalau tulisannya tak terlalu terkait postingan pemilik blog, namun diilhami dari sini.
Atau bang Yusril mau jadi moderator milis nih? sepertinya sudah mulai sahut2an di sini…mungkinl ebih nyaman jika ada maling list tersendiri yang membahas postingan Bang YUsril.
May 26th, 2008 at 4:57 pm
Pak Yusril, gimana menurut bapak tentang kenaikan BBM di Indonesia?
Apakah pemerintah sudah dalam keadaan mengharuskan kenaikan BBM?
Atau menurut Bapak masih ada jalan keluar yang lain?
terus tentang BLT nih pak, apakah jurus jitu permerintah tersebut merupakan langkah yang paling tepat?
karena sepertinya ini justru banyak menimbulkan gejolak sosial di masyarakat.
dan BLT hanya seperti tameng pemerintah untuk meredam emosi massa.
tolong dibuat postingnya pak…
May 26th, 2008 at 6:56 pm
Saya setuju dengan Chanda Saputra #128.
Pak Yusril mohon menulis juga tentang kenaikan BBM, bagaimana langkah yang akan Bapak lakukan jika berada di posisi SBY, apa akan berbeda atau sama saja dengan SBY yang terus membuat rakyat menderita.. ?
Mudah2an tulisan Pak Yusril tentang kenaikan BBM memberi gambaran terhadap kita bagaimana seorang calon RI-1 akan bersikap.. ?
Salam
Rifai
May 26th, 2008 at 8:07 pm
Bung Yusril
Calon Presiden RI
Sibuk yaa Pak ?
Mana nih komentar/ulasan/pemikiran/gagasan/solusi-nya buat negeriku Indonesia Tercinta ?
yang sekarang lagi banyak dihimpit persoalan ekonomi dan periuk nasi rakyat terutama menyangkut BBM, BLT dan dampak terhadap harga harga pangan lainnya…
Ayooo Pak keluarkan ide dan gagasannya..
Kalau jadi calon Pemimpin harus menguasai semua bidang lho Pak
jangan hanya hukum dan agama saja….
Minimal pandangan bapak terhadap kondisi akhir akhir ini dan apa solusi terbaik buat bangsa kedepan, jika belum mampu menyigi dan mengurai apa sebenarnya akar hakiki yang menyelimuti kebobrokan bangsa selama ini…
ayooo Pak ditunggu pemikiran pemikiran segarnya buat anak negeri…
kalau bisa kombinasikan pemikiran bapak antara aspek teoritis dengan praktisnya… tataran ideal dan realita
nanti biar pembaca yang mencerna dan mengulasnya…
Ditunggu Pak
Salam
Jebee
Indonesia
May 27th, 2008 at 3:57 am
Saya setuju sekali dengan pandangan Pak Yuzril di tulisan ini..
May 27th, 2008 at 12:56 pm
Ass.
sekedar info :
beberapa hari yang lalu setelah kartu tanda penerima BLT di bagikan di sebuah desa di sekitar tempat tinggal saya, beberapa warga desa langsung nglurug ke balai desa.
masalahnya ;
ada beberapa keluarga yang kurang mampu ternyata tidak dapat BLT, sedangkan yang dapat BLT ada bebarapa yang tingkat ekonominya di atas mereka. jadi rameeeeeeeeeeeeeeeeeee deh.
kira – kira yang datanya tidak benar : Pak RT ato pak RW ya ?
May 27th, 2008 at 2:57 pm
#132. Apa hubungannya BLT sama Ahmadiyah? Mestinya kalo mo nanya soal itu ke blognya presiden SBY (www.presidensby.info) . Sekalian tolong tanyakan mana janji tidak akan naikkan harga bbm-nya
May 27th, 2008 at 4:12 pm
#133. trimakasih.
saya ingin tahu pendangannya pak yusril tentang kebijakan ini, ngapunten boss.
May 27th, 2008 at 5:21 pm
saudara Joe dan Bung Yusril
kan PAK YUSRIL
nyalon Presiden
Wajarrr tooo yoooo ?? jika harus memberikan sebuah pandangan, pemikiran dan solusi nan konstruktif buat rakyat
lihat tuh kampanye Barack Obama VS Hillary Clinton
semua isu yang dibahas adalah masalah isu rakyat apalagi tentang kebijakan ekonomi rakyat dan perlindungan warga negaranya….. (bukan berarti saya sok kebarat baratan… tetapi memang terbukti mereka jadi Presiden untuk Rakyat dan Negaranya… bukan untuk kepentingan PARTAI nan sempit)
ayooo Pak Yusril
tunjukkan kegarangan suara dan tindakannya buat kesejahteraan dan kemakmuran rakyat
jangan berkutat dengan kenangan masa lalu, tetek bengek hukum dan perjalanan safari kampanyenya (walau itu juga hak Bapak dan penting)
tetapi kalau mau jadi Presiden… Rakyat dan Kearifan Negara yang harus digarangkan ntuk disuarakan Pak terlebih dahulu….
ayoooo Pak
(komentar saya jangan dianggap tak beretika lagi yaa Pak ? semua demi kebaikan Bapak dan terutama Negaraku tercinta INDONESIA)
Salam
Jebee
Indonesia
May 27th, 2008 at 7:13 pm
Pak YIM lagi sibuk tour ke daerah kali, jadi nggak sempat buka laptop-nya.. tapi sesibuk apapun, seorang capres itu, harus mengatur waktunya dgn baik dan memilah milih mana yang prioritas dan mana yang bukan. Emganya mikirin rakyat banyak itu seperti itu, sibuk lagi dan sibuk.. apalagi .. komentar jebee dan yang lain itu peting untuk ditang-gapi bang .. ayo kita tunggu tulisan berikut .. terutama yang masih anget ttg dampak naiknya BBM thdp masyarakat, BLT itu apaan .. malah bikin sengsara rakyat saja … keputusan pemberian BLT itu tergesa-gesa tanpa studi mateng, masa orang hanya di kasih ikan .. bukan kailnya .. semua orang tau itu .. abg juga tau.. pemerintah sekarang itu dipimpin oleh peragu, penakut dan belum dewasa .. Nah karena itu kita tunggu ide-ide pemimpin baru yang masih energik, muda dan pinter .. wassalam
salam
May 28th, 2008 at 4:05 pm
bang Yusril tu jago debat beneran..
SBY, Amien, GusDur, dan semua pejabat penting di negeri ini pernah ditantang berdebat.
cuman sedikit yang berani.
Lha kalo ada yg ngajak debat di blog ini, trus malah pakai “logical fallacy” ya gak seharusnya dianggap penting.
kalo di acara debat resmi, seseorang yang mengajukan pertanyaan dengan logical fallacy itu akan mendapat kartu kuning/merah dan dikenakan pengurangan nilai.
kalo dipersamakan dengan tinju, logical fallace itu sama aja “memukul bagian belakang kepala”
Taulah siapa yg ku maksud..?? peace..!!
May 28th, 2008 at 4:53 pm
# 137 agungwasono (saya nggak yakin dengan nama anda) tapi yaa sudahlah…. karena kita sama sama anonymous, tentu anda mempertahankan “SIAPA” anda, PASTI.
menurut saya
bukan masalah jago debat-nya Bung
buat apa sesama anak bangsa saling debat dan berantem
buat apa kalo saling mengklaim yang paling “JAGO” kalo nggak ada bukti
tapi jika Bung Yusril memang serius maju ntuk jadi calon Presiden RI bangsaku yang kucintai
yaa kemukakanlah pemikiran dan argumen argumennya yang konstruktif, solutif, mencerahkan, dan arif buat siapapun juga
yang penting niatnya satu buat Rakyat dan Bangsa Indonesia…
bukan masalah “logical fallacy” yang saudara kemukakan itu, itu pelarian dan menghindarkan diri dari keterjebakan ntuk mengemukakan pendapat namanya
anak bangsa itu bermacam polahnya Bung, anda lihat saja bentrokan dan tawuran anak anak bangsa kemaren di Unas, UKI dan lainnya…
nah disini dituntut bagaimana Bung Yusril menyikapi itu semua dengan kacamata hati yang jernih, arif dan bijaksana, kalau bisa dapat menggali apa akar permasalahannya, kenapa itu terjadi, apa yang harus dilakukan dsbbbbbbb…
Jebee
Indonesia
May 29th, 2008 at 12:15 pm
lah ini bukan anonimous mas..
namaku beneran agung wasono (klik aja blogku atau search di google namaku)
debat itu jadi ukuran kemampuan berpikir dan bertindak juga loh
makanya di negara maju, debat capres itu penting dan jadi agenda KPU
peace,
Agung Wasono
May 29th, 2008 at 3:13 pm
# 139 agungwasono
Yuup… Makasih banyak atas koreksian kesalahan saya,
karena pada # 137 saya dah klik, yang terbuka hanya logo blogger saja
saya juga udah buka blog Saudara, bagus walau belum sempat saya baca… :D
soal debat ?
saya setuju debat, tapi jangan JAGO Jagoan,
tapi saling mengisi dan cari solusi
kemudian yang paling penting juga ada wujud nyata dari debat yang diperdebatkan itu
bukan hanya cari kelemahan lawan dan peluang menang bak seorang pengacara
Bangsa kita butuh solusi nan arif dan bijaksana, sambil membongkar bobrok bobrok kudis penyakit akut yang mendera selama ini… kalau tidak kita hanya akan selalu menjadi objek remot sensor dari bangsa asing… kita tidak bisa salahkan bangsa asing sepenuhnya, mereke mencaplok kekayaan alam dan menipu kita karena kebodohan dan kemunafikan kita juga
karena itu mari kita jalan bersama, membangun bersama, siapapun Presidennya mari kita dukung bersama… asal Niat dan tindakannya jelas buat rakyat dan kemajuan bangsa…
SEMOGA
May 29th, 2008 at 5:39 pm
bung jebee
diskusi tu asyik kalo ada yang jadi JAGOnya, ada yang jadi sasaran tembaknya, tentang saling mengisi dan
cari solusi, serta wujud nyata dari yang di perdebatkan, saya setuju dengan anda.
May 30th, 2008 at 2:11 pm
Terima kasih penjelasannya Pak Yusril. Dengan penjelasan ini saya semakin yakin dengan pendapat saya.
Suatu ketika saya ditanya oleh seorang yang beragama nasrani, dia mengawali dengan pernyataan: “bahwa Islam itu toleransi, kok menghadapi ahmadiyah tanpak anarkis”. Lalu saya jawab. Masalah ini harus didudukan dulu pokok persoalannya. Dan saya menyatakan apabila berkaitan dengan aqidah, tidak ada toleransi dalam agama Islam. Berkaitan dengan ahmadiyah, sudah merusak aqidah, karena mereka tetap menyatakan dirinya Islam, pada hal mempunyai nabi yang lain. Jika mereka konsisten dengan menyatakan diri ahmadiyah, semestinya mereka membuat kitab sendiri selain Al-Qur’an. Bukankah Al-Qur’an itu diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW?
May 30th, 2008 at 2:14 pm
Menurut saya keterlambatan pemerintah mengeluarkan SKB justru akan menimbulkan konflik sesama umat Islam.
Salam dari Heni Hendrawati untuk Pak Yusril
June 2nd, 2008 at 3:20 am
Terima Kasih Pak, tulisan Pak Yuzril sangat bermanfaat buat kami.
Regards,
http://www.arimurti.com
June 2nd, 2008 at 11:20 am
“pendapat saya begini,..selama mayoritas sunny menguasai negara kita, AHMADIAH NGGA BISA HIDUP BERAGAMA DIINDONESIA SAMPAI KIAMAT!,pulang di kejar2,….beribadah serong sedikit tau sendirilah,..!kalau ahmadiah mau hidup damai,.. lebih bagus di TRANSFER ke tempat yg mayoritas AHMADIAH,…! walaupun mengadu ke tingkat langit ataupun khalifahnx mas gulam ahmad sekalipun agar dapat hidup di INDONESIA………jamin 100 persen gagal,…!
June 2nd, 2008 at 11:50 am
“dan juga kejadian krasak krusuk seperti ini adalah dampak ke kurang tegasan hukum kita,….!
June 2nd, 2008 at 11:25 pm
Assw,w,
Rylisan Bapak SKB Ahmadiah ssangat lengkap dan jelas termasuk permasalahan yang seharusnya diambil oleh pemerintah.Yang sangat merisaukan hati saya adalah mengapa Buyung Nasution sebagai Watimpres memberikan kpmentar-2 negatif dan keras terhadap usul pembubaran Ahmadiah.Apalagi komentarnya terhadap kasus FPI kemarin.
Yang menarik bagi saya mengapa golongan sekuler, Non MUSLIM dan sekelompok Muslim yang ngotot membela Ahmadiah aras dasar HAM.Setelah terjadi keributan di Monas sekarang masalahnya menjadi helas yang non muslim mundur dan yang diadu adalah sesama Ummat Islam.Menghadapi kasus ini mohon koranya Pak Yusril baik sebagai Ketua Dewan Syuro PBB ataupun sebagai Pakar Hukum Tatanegara memberikan keterangan Pers sebagao counter terhadap aksi-2 yang menyudutkan Ummat Islam.Sebagai warga PBB saya sangat mengharapkan hal tersebut sebelum masalahnya menjadi berlarut dan merugikan perjuangan Ummat.
Wassalam. A.Malik
June 3rd, 2008 at 6:22 am
buat saudara BUDIMAN,@anda mengatakan seandainya MGA seperti yg di janjikan allah,masya allah…..semoga allah mengampuni kita dan dan seandainya MGA nabi palsu niscaya penganutnya akan tiada alias allah akan memotongurat nadi MGA.”apakah saudara tau IMAM MAHDI dn NABI ISA adalah dua mahluk allah yg hidup pda waktu yg berbeda alias ISA adalah nabi dn mahdi adalah penegak dari keturunan nabi muhamad emang urusan sesat allah yg menentukan dan yg memusnahkanya tapi syaratnya pda siapa manusia apa jin,….?tau ngga anda siapa di balik berdirinya ahmadiah,…..saudara tau inggris,…….pda waktu india dijajah inggris,inggris mendapat kendala dari kelompok jihad islam oleh karna itu inggris membeli iman MGA agar menjadi nabi palsu untuk meghapus jihad,…coba lihat risalah hidup MGA di internet secara ringkas,….dan setelah inggris enyah dari india terjadi pengusiran ahmadiah di india dan pakistan dan para pengikut MGA mecari perlindungan dn merekapun di bopong sang pembuat yaitu inggris ke london dan sampai saat ini medapat perlindungan dari inggris di sana,…..!dan yang pernah saya lihat di situsnya,wahyu yg di terima MGA lebih condong membela kerajaan inggris,…….!lebih jelasnya lihat situs MGA sendiri,…!
June 3rd, 2008 at 6:52 am
Halo Bang Yusril…..kemana aja ..kok sudah lama gak ada kabarnya nih.
di koran dan tv pun abang pun tak ade…gmn nih bang…udah banyak masalah-masalah yang lagi “hot” yang perlu dikasih komentar dan pendapat dari Abang kita tunggu-tunggu nih.
June 3rd, 2008 at 4:55 pm
Assalamu ‘alaikum warahmatullah wabarakatuh…
Salam sejatera pak, semoga bapak dalam keadaan sehat, diberi kekuatan untuk terus berjuang di jalan Allah SWT…
Pada kesempatan ini saya ingin mengetahui bagaimana pandangan bapak masih tentang polemik SKB Ahmadiyah, apalagi ada kejadian yang baru saja terjadi yang membuat banyak pihak geram, yaitu aksi “pembubaran” paksa anggota FPI kepada massa yang tergabung dalam AAKB (kalo ga salah ketik). Kemudian aksi tersebut hampir di tiap media TV diperlihatkan aksi-aksi tersebut. padahal menurut Habib Rizieq aksi anggota FPI itu diprovokasi oleh massa lain yang membawa senjata api, dsb.
Terima kasih atas jawabannya…
Jazakallah…
June 3rd, 2008 at 8:49 pm
Pak Yusril, Pak Bangun Pak . Bapak lagi tidur ya !!!!!
June 4th, 2008 at 8:42 am
Assalamualikum Wr Wb
To the point aja ya Bang Yusril, melihat aksi polisi pagi ini saat mengepung markas FPI di Tv One saya langsung buka website Abang, cuman satu kata yang terlintas BERLEBIHAN, giliran soal AHMADIYAH memble… eh malah cari sensasi & over acting soal FPI. Saya ingin mengetahui pendapat Abang mengenai hal ini, bagaimana menurut pendapat Abang ?, istilah orang Jawa “ngono yo ngono yen ojo ngono”, penegakan hukum ya penegakan hukum cari simpati ya cari simpati.. tapi kalau sudah seperti yang tadi pagi terlihat di Tv One, terlalu berlebihan lah.. masa sampai 50 bus menurut Tv One.
Menurut pendapat saya pribadi, sungguh naif PBB kalau sampai berkoalisi dengan SBY untuk pemilu tahun depan. Harga mati nih bang, gak bisa ditawar !!! he… he… :D, kalau sampai berkoalisi dengan SBY di tahun depan, sepertinya kok roh Masyumi sudah hilang dari PBB.
Wassalamualaikum Wr Wb
June 4th, 2008 at 12:40 pm
Assalamualaikum wr.wb,
Bang Yusril yang saya hormati, Alhamdulillah saya bisa berkomunikasi dengan abang lewat blog ini. Sejak dulu, khususnya saat peralihan orde baru ke orde reformasi, saya selalu mengamati sepak terjang abang sehingga saya mempunyai 2 (dua) tokoh yang saya kagumi yaitu pak Amien Rais dan abang, kendati dia dan abang kadang berseberangan. Namun dengan berjalannya waktu, kini saya telah kecewa dengan pak Amien Rais khususnya sejak dia mengatakan UU Antipornografi tidak diperlukan atau tidak urgent dan dukungannya terhadap Ahmadiyah. Abang, kini harapan saya dan banyak jutaan muslim Indonesia berada dipundak abang. Saya doakan semoga Dia Yang Maha Kuasa yang menggenggam jiwa kita selalu meneguhkan dan menguatkan iman abang serta kekuatan lahir bathin dalam menghadapi kemunkaran di bumi Indonesia ini. Saya mendukung abang maju dalam Pilpres 2009 mendatang dan sangat sangat berharap abang bisa bersinergi dengan PKS (Partai Keadilan Sejahtera). Kalau perlu, saya insya Allah bisa bantu mencarikan “gizi” untuk kampanye abang. Demikian terima kasih dan salam kenal.
Wassalam
June 4th, 2008 at 1:38 pm
Pak Yusril,
kalau melihat berlaru-larutnya masalah ini di Indonesia, padahal di paskistan sendiri sudah ada solusi qadian, nampaknya achmadiyah indonesia keberatan kalo dianggap sebagai non muslim (solusi gaya pakistan).
apakah hal ini karena saudi melarang qadian menunaikan ibadah haji?
atau ada hal lain?
dalam hal haji ini siapakah yang melakukan filter qadian, negara asal atau saudi?
maap berat kalo udah pernah dibahas
June 4th, 2008 at 2:07 pm
Bang, melihat perkembangan situasi terkait jamaah Ahmadiah sekarang bagaimana menurut Abang? Bukankan keributan2 ini adalah buah ketidaktegasan pemerintah dalam memutuskan masalah Ahmadiyah?
Bahkan sekarang pemberitaan cenderung menyudutkan pihak FPI dan menempatkan AKKBB sebagai korban, bahkan aparat penegak hukum pun sepertinya turut terpengaruh.
Apakah ini terkait dengan taktik “lupa” dan “ingat”?
Melupakan kenaikan BBM dan kenaikan harga2 yang terus membumbung?
Melupakan kasus Ahmadiyah dan merubah ingatan orang2 agar memberikan dukungan untuk membubarkan FPI?
sungguh hebat ya, Bang…
Dari isu “bubarkan Ahmadiyah” dan “Turunkan harga BBM” menjadi Isu “Bubarkan FPI”…
selamat untuk pemerintah…
June 4th, 2008 at 3:42 pm
Insiden Monas telah membuka mata bahwa bagi golongan tertentu , termasuk mereka yang dahulunya dikatagroikan pemimpin Islam , membela Ahmadiah bahkan sekarang mereka menuntut FPI dibubarkan. Kita semuanya sepakat bahwa pelanggar hukum yang terjadi di Monas harus diusut tuntas , termasuk orang-2 atau kelompok yang setelah kejadian tersebut menyerbu kantor FPI didaerah atau kerusuhan lain yang sejenis tanpa pandang bulu dan warna.Mass Media terutama TV tertentu telah mendramatir berita tersebut dengan Headline KEKERASAN FPI. Ini memang momentum yang tepat bagi mereka untuk bersikap keras terhadap FPI.Ini merupakan testcase bagi Ummat untuk menunjukkan solidaritasnya.Bukan membela FPI , tetapi tegakakkan hukum secara adil dfan dudukakkan permasalahannya secara proporsional. Bentrokan antara dua krumunan massa yang bertolak belakang dalam pendirian sudah biasa terjadi Mungkin saya salah menganalisa ,ada nuansa lain dibalik tuntutan yang menggebu gebu dari segolongan tertentu untuk membubarkan FPI.
June 4th, 2008 at 3:44 pm
mas vavai, bagaimana kabarnya pak yusril?.
June 4th, 2008 at 3:57 pm
#157,
Pak Yusril sedang ada banyak kesibukan pak, jadi mungkin belum bisa merespon komentar rekan-rekan disini. Kalau sudah ada waktu yang lebih luang insya Allah akan langsung merespon.
June 4th, 2008 at 4:03 pm
LailahailaAllah Muhammad Rosulullah, Tiada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad utusan Allah, sudah jelas tidak
boleh ditambah dan mengurangi, Al-Qur’an dan Sunnah Nabi, sudah jelas dan tidak bisa diutak atik lagi, jadi yang
tidak sesuai akidah Islam, ya bukan Islam tapi kafir (sesat). Jadi mengenai pembubaran JAI tidak melanggar HAM,
justru yang melanggar HAM dan merusak akidah umat Islam itu adalah JAI. Maka disini Pemerintah, MUI, dan semua
aparat Hukum harus bertindak tegas, jangan takut terhadap LSM tapi harus lebih takut hanya Allah saja.Saya merasa
khawatir jangan jangan LSM dan Pendukung JAI itu adalah orang-orang yang anti Islam.Saya berharap pemerintah
bisa mewaspadai sepak terjang mereka.Karena itu JAI harus dibubarkan dan jangan ragu ragu lagi…gitu ajah kok
repot sih !!!
June 4th, 2008 at 4:21 pm
# 158.
trimakasih
mudah – mudahan segala urusannya dimudahkan allah SWT.
pembaca setia blog pak yusril.
Gresik jawa timur.
June 4th, 2008 at 10:07 pm
Sekadar tambahan atas komentar saya no, 156 Pramono Anum Sekjen PDIP dalam detik com hari ini menyatakan bahwa sudah waktunya Partai atau Ormas yang berlabel agama, termasuk partai Islam tentunya, ditertibkan. Karena itu sudah waktu Pak Yusril segera muncul dalam blog ini atau media lain untuk memberikan pandangannya.iSSUE SEKARANG SUDAH TERBALIK DARI MEMBUBARKAN AHMADIAH menjadi BUBARKAN FPI DARI kesesasatan ahmadiah menjadi KEKERASAN FPI. Kantor bahkan rumah Ketua FPI MENJADI SASARAN .
June 5th, 2008 at 7:56 am
ass.
FPI memang sedang kena batunya, berbuat “anarkis” yang tertangkap kamera orang. tapi kenapa mesti dibubarkan? harusnya kasih sangsi yang proporsional sajalah. Lagi pula, banyak organisasi lain yang juga anarkis dan lebih anarkis.
bang yusril, kalau masih mungkin, tolong “bisikin” SBY dan para pembantunya yang masih punya potensi kejernihan berifikir untuk tidak terbawa arus yang dialirkan oleh para sekuler yg mereka sekarang ini sedang di atas angin nih. Siapa tahu masih mau dengerin.
Semoga Alloh SWT mengampuni kita semua. Amin.
wass.
abu afa
June 5th, 2008 at 7:58 am
Jangan terlalu lama masalah ahmadiyah cepat dibubarkan, karena tidak sesuai dengan Islam yang sumber pokoknya Al qur’an dan Hadits.
Ahmadiyah jelas sesat sebagai sabda Rosulullah SAW Taroktu fiikum amroini maa in tamasaktum bihimaa Lan tadhilluu ba’di abadan Kitaaballahi Wasunnati Rosulullah.
Aku tinggalkan untukmu ( umat Islam ) dua perkara apabila kamu berpegang kepada keduanya niscaya tidak akan tersesat selama-lamanya yaitu Kitabullah Al Qur’an dan sunnah Hadits.
Dengan dasar Hadits bahwa Ahmadiyah sudah menyimpang dari Qur’an dan Hadits maka Ahmadiyah ajarannya sesat.
June 5th, 2008 at 10:24 am
@abu afa, ada baiknya mencari sumber informasi lain, apa yang sebetulnya terjadi di monas, tidak dari satu sisi saja.
sekarang saya tutup mata dari media, tak ada yang bisa dipercaya. semua menghakimi satu pihak, tanpa melihat dari kedua sisi. tujuannya jelas cuma satu, pecah belah umat Islam, buat umat Islam mencaci maki antar saudaranya sendiri.
Btw..saya tunggu tulisan berikutnya Bang Yusril,…mudah2an kalau abang jadi pemimpin nanti, bisa bertindak tanpa keraguan.
June 5th, 2008 at 12:42 pm
SY PRIBADI SANGAT SETUJU BANGET DENGAN PENDAPAT BAPAK YUSRIL APABILA ALIRAN AHMADIYAH YANG BERADA DI INDONESIA DINYATAKAN SBG GOLONGAN MINORITAS NON MUSLIM SPT YANG DIBERLAKUKAN DI NEGARA PAKISTAN. SY YAKIN BAHWA AGAMA YANG BENAR DIMATA ALLAH SWT PASTILAH HIDUP SEPANJANG MASA KRN DIJAMIN OLEH ALLAH SWT SENDIRI YAITU ISLAM YANG BENAR2 MENJALANKAN AKIDAH YANG DIAJARKAN OLEH NABI MUHAMMAD SAW. DAN SESUAI HUKUM ALAM SEMESTA SESUATU YANG BERTENTANGAN DENGAN HUKUM ALAM SEMESTA APALAGI MENENTANG HUKUM YANG DIBUAT ALLAH SWT SENDIRI PASTILAH AKAN PUNAH DENGAN SENDIRINYA.
June 5th, 2008 at 6:24 pm
[...] baca tentang skb ahmadiyah di blognya mr yusril. Selain pendapat hukumnya, hal lain yang menarik adalah alasan pemicu [...]
June 5th, 2008 at 8:35 pm
Yth. Bang Imron
Saya jadi tertarik apa yang Bang Imron jelaskan di blog ini. Pertanyaan dan kritikan saudara-saudaraku disini dijawab dengan jelas dan gamblang, apalagi bagi yang awam sepertinya benar. Pertanyaan saya ke Bang Imron adalah
1. Pernyataan anda bahwa Agama Kristen akan habis oleh Imam Mahdi dan murit-2nya, dalam hal ini oleh
kelompok ahmadyah ?. Habisnya dibunuh pengikut-pengikutnya atau diajak masuk semua ke kelompok
ahmadyah ?
2. Wahyu apa yang telah diturunkan oleh ALLAH SWT kepada MGA ?
3. Apa beda Nabi dan Rosul menurut kelompok ahmadyah ? dan MGA termasuk nabi atau rasul atau kedua-duanya
?
4. Menrut anda MGA turun untuk menyempurnakan ajaran islam, apakah ada yang beda dengan islam yang dianut
oleh kebanyakan masyarakat muslim indonesia yang tergabung dalam wadam NU, Muhammdiyah, Persis dll ?.
Apakah ada perbedaan fundamental ?
5. Informasi yang saya terima bahwa di Negara asal ajaran Ahmadyah ( Pakistan) adalah bahwa ahmadyah adalah
agama sendiri, bukan muslim, Apakah betul ?. Jikalau betul bagaimana di Indonesia apakah juga bukan muslim ?
6. Bagaimana menurut Bang Imran masalah ahmadyah di Indonesia tidak berlarut-larut ? Apakah harus
membubarkan diri atau dibubarkan atau membentuk ajaran sendiri ?
mudah-mudahan ini bisa memberikan pencerahan untuk segera menyelesaikan masalah yang berkembang sekarang, trima kasih.
June 9th, 2008 at 9:18 pm
Assalamu’alaiku…
dalam sebuah hadist dikatakan bahwa “Jika Anda melihat sebuah kemungkaran, maka cegahlah dengan 3 (tiga) cara. Pertama cegahlah dengan tangan, dalam artian disini tangan disini adalah kekuasaan maupun kekuatan, naha disisni pemerintah masih sangat berperan untuk mengambil kebijakan mengenai Ahmadiyah.
Kedua, cegahlah dengan Lisan, dalam artian kita menggugat atau memberikan pengertian kepada mereka yang sudah menyimpang dari ajaran Tauhid. Sudah banyak aksi maupun gugatan mengenai pembubaran Ahmadiyah dilakukan, bahkan kawan-kawan di FPI berani mengambil sikap untuk melawan mereka yang inkar sunnah.
Ketiga cegahlah dengan hati nurani, dalam artian disini bukannya umat Islam diam dalam melihat hal seperti kesesatan Ahmadiyah melainkan mendoakan mereka agar kembali ke jalan Tauhid serta pemerintah serta Umat Islam lainnya cepat mengambil tindakan dalam mengahdapi Ahmadiyah ini..
Semoga pemerintah dapat mengambil kebijakan yang bijak mengenai hal ini, jangan sampai pemerintah malah melindungi mereka yang telah kafir (Ahmadiyah) dari ajaran Islam.
Semoga sealu Allah melindungi orang-orang yang berjalan di jalan kebenaran.. dan yakinlah kesesatan itu pasti akan sirna.
Allahuakbar…..
semua yang benar datang dari Allah dan kesalahan datang dari saya sendiri..
June 10th, 2008 at 3:05 pm
ahamadiyah tidak jahat!
saya mau nanya ini pak, orang kalau melakukan penodaan itu kan dianggap sebagai kejahatan. jika itu suatu kejahatan, mestinya harus dibuktikan adanya niat jahat seseorang atau kelompok orang yang dituduh melakukan penodaan agama. kalau kasus seperti ahmadiyah, mereka tidak pernah berniat jahat untuk menyelewengkan Islam, tetapi memang murni dari interpretasi mereka atas agama Islam yang mereka anut. jika demikian, sangat tidak mungkin kita memidana seorang atau sekelompok orang hanya karena prasangka jahat. selain itu, kita tidak mungkin memidana suatu keyakinan karena memang tidak bisa dibuktikan. tolong direspon. makasih.
June 10th, 2008 at 11:45 pm
Asssalamu’alaikum bang YIM. SKB 3 menteri sudah keluar.. nah permasalahannya seperti yang abang kemukakan diatas seyogyanya yang dikeluarkan itu tidak berbentuk SKB melainkan Peraturan Menteri. lantas bagaimana kekuatan hukumnya….? sementara pihak Ahmadyah akan membawa hal ini ketingkat International. Terima kasih bang.
June 11th, 2008 at 9:28 am
Saya melihat sekarang ini begitu banyak Organisasi Massa dan LSM yang mengusung HAM dalam misinya. Namun mereka tidak menyadari bahwa HAM yang mereka bawa adalah HAMnya orang yang tidak beragama. Yang lebih parah lagi, tokoh2 yang seharusnya menjadi panutan dimasyarakat latah2 mendukung organisasi ini seperti Gus Dur dan Adna Buyung Nasution, LBH, dll.
Jika para ulama’ tidak lagi dapat menjadi panutan, kemana kita harus mencari cermin kebajikan. Gus Dur, yang nyata2 masih di gandrungi sebagian warga NU, bagi saya tidak lagi mencerminkan seorang panutan. Entah darimana beliau mendapat masukans sehingga begitu keras mendukung Ahmadiyah dengan ajaran2 sesatnya. Adnan Buyung juga demikian. Bagiamana bisa seorang Muslim meminta MUI yang menjadi rujukan seluruh ummat muslim di Indinesia dan sampai saat ini masih sangat kredibel perannya di bubarkan….
Lalu tokoh2 agama islam lain yang juga mendukung ajaran2 sesat semacam JIL….
Mengapa kepandaian mereka dalam hal agama dan akidah begitu mudah dibelokkan oleh paham2 menyesatkan itu.
Tidak mengherankan NU dan PKB terpecah-pecah dan ini pihak lain tertawa-tawa melihat sesama muslim saling pecat dan saling klaim. Karena apa ? Karena tokoh sentral NU dan PKB (Gus Dur) sudah yang kontroversial itu masih saja di agung2kan. Sedangkan anggota NU dan PKB yang moderat belum memiliki tokoh sekelas Gus Dur, walau mereka sebenarnya lebih bersih.
SKB itu sudah bagus…cuma perlu ada kontrol dari pemerintah dan MUI serta organisasi massa lain yang memastikan tidak ada lagi kegiatan Ahmadiyah di bumi Indonesia…..
Bagi saya, Silahkan Ahmadiyah eksis, tapi jangan sekali2 mengatasnamakan ISLAM. Buat aja agama baru misalnya agama Ghulam dll.
June 11th, 2008 at 10:28 am
tadi pagi saya baca RUN TEKS di TV ONE, kalo pak yusril bersedia menjadi kuasa hukum presiden tentang SKB ahmadiyah.
1. sejauh mana kebenaran informasi ini.?
2. kalo memang pak yusril benar telah mengisyaratkan kesediaanya, dan kemudian menjadi kenyataan, maka jalan
terus pak yusril. ini adalah bagian yang bisa diambil pak yusril untuk menegakkan AGIDAH ISLAM.
3. mohon penjelasan, klo pak YIM sibuk, mas VAVAi juga boleh bantu jelaskan.
June 11th, 2008 at 10:30 am
SALUT buat pak YIM !
June 11th, 2008 at 11:46 am
Bang, kalau sempat tolong tulis artikel yang berkaitan dengan artikel disini http://www.eramuslim.com/ustadz/pol/8610145227-ternyata-dasar-negara-indonesia-bukan-pancasila-tapi-allah.htm
Kalau ini benar (dasar negara bukannya pancasila melainkan Ketuhanan YME), maka sebenarnya umat Islam bisa lebih leluasa untuk menerapkan Syariah Islam dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Terima kasih banyak bang :)
June 11th, 2008 at 12:19 pm
Bang YIM
Semua ribut soal ahmadiyah
cobalah sedikit kita berkaca tentang keislaman kita
kenapa ada NU,Muhammadiyah,Persis,LDII,FPI danlain sebagainya
Kenapa kita gak punya satu pimpinan tempat kita berpijak
Kenapa kita ada perbedaan yang sebagian mengatak n perbedaan itu rahmat
kenapa perbedaan itu gak disebut saja musibah
Mana Imam besar kita
Mana kasih sayang kita
mana toleransi yang diajarkan Nabi kita
kalu kita mau merpermasalahkan ini sesat itu sesat,akhirnya kesimpulan kami semua sesat
karena tidak ada yang membawa kepada kami ketenangan ,ketentraman dan kedamaian
Lantas apa mau nya kalian yang memimpin semua kelompok ini.
apa karena kalian telah jadi pemimpin trus bisa mensejahterakn rakyat
Jadi pemimpin keloompok saja kalian sudah keluar sifat hasut hasat dengki dan lainnya
kembalilah pelajari lagi sifat dan watak nabi kita
jangan hanya taunya maulid nabi (seremonial belaka)
Tapi tak ada keteladan yg diambil dari beliau
Maaf bang YIM
Jika Allah mengizinkan anda jadi Presiden
Mau kah anda bernazar/niat menjadikan Islam ini satu ,tidak ada kelompok/Organisasi
Terimakasih
June 11th, 2008 at 2:29 pm
Kalau Pak Yusril jd presiden, prioritas apa yg akan dilakukan & targetnya apa, kira2 berapa lama target itu akan tercapai ? mohon jawaban dari Pak Yusril
June 11th, 2008 at 7:58 pm
bismillahirrahmanirrahim
assalamu’alaikum
Umat Islam Indonesia agaknya membutuhkan advokat hukum ke depan terkait dengan permasalahan Ahmadiyah ini. Terlebih pasca penerbitan SKB saudara-saudara kita dari Aliansi Kebangsaan dan Ahmadiyah sendiri mulai mewacanakan kemunkinan judicial review, bahkan mereka pun telah membawa permasalhan ini dengan mengirimkan beleid ke PBB. sejak semula indikasi permasalahan ini mengarah pada pertarungan ideologis, rekan-rekan Aliansi Kebebasan telah berupaya memaksakan penafsiran liberalistiknya atas keber-agamaan Pancasila dengan menjadikan hari kelahiran Pancasila sebagai momen mewartakan penafsiran tersebut. Terlebih sejak reformasi tidak ada upaya merevitalisasi Pancasila pasca era orde baru , bahkan terkesan Pancasila ‘ditinggalkan’ dan semangat liberalistik (dalam artian pembebasan) terlalu kuat hingga paham liberalisme sedemikian kental masuk ke hampir seluruh sendi-sendi kehidupan berbangsa kita. Padahal Pancasila merupakan cita negara kita, dia adalah ruh konstitusi, dimana suasana dan penafsiran atas konstitusi harus berangkat dan berlandaskan pada semangat dan cita yang dikandung dalam Pancasila.
Hal ini juga termasuk dalam kebebasan beragama yang diperjuangkan oleh teman-teman aliansi kebangsaan. Maka hak konsitusional tersebut harus ditafsirkan berdasarkan suasana Pancasila. Di sinilah masalahnya, saat terjadi kekosongan upaya merevitalisasi Pancasila teman-teman aliansi lebih dulu ‘mencuri’ start dengan memaksakan penafsiran mereka. PAdahal kalau kita mau menggali dan mengkaji keberagamaan yang dikehendaki oleh Pancasila adalah keberagamaan yang bertanggung jawab, sila pertama dan pasal 29 UUD 1945 sebagaimana ditafsirkan oleh Prof. hazairin selain menghormati kebebasan warga negara untuk memeluk dan mengamalkan agamanya juga mengandung makna kewajiban Negara untuk menjamin berlakunya syariat Islam bagi umat Islam, syariat Kristen untuk Umat Kristiani dan seterusnya. Perlindungan negara atas agama-agama yang ada dimaksudkan untuk menjadikan kehidupan beragama dapat berjalan dengan baik, dan pelaksanaan sila ke-satu ini berjalan selaras dengan semangat persatuan dan kemanusiaan pada sla-sila lainnya. Dasar filosofi inilah yang melandasi UU penistaan dan penodaan agama, juga adanya pembinaan bagi aliran-aliran kepercayaan di bawah kejaksaan, untuk memastikan kehidupan beragama berjalan secara bertanggung jawab.
Atas permasalahan Ahmadiyah, ketika mereka mengaku Islam tetapi menyimpang, maka berdasarkan kewajiban Negara untuk melindungi dan menjamin berlakunya syariat Islam harus diluruskan sesuai dengan hukum yang berlaku. Sebagaimana jika Ahmadiyah mengaku Kristen tetapi menyimpang maka negara wajib meluruskan. Dengan menyimpang dari ajaran pokok maka Ahmadiyah secara aktif mengancam kehidupan beragama dan mengancam persatuan bangsa. Sikap kukuh mereka dengan tetap mengaku ‘Islam’ tidak bisa dikatakan sebagai hak mereka untuk mendapatkan hak konstitusional dalam beragama karena secara bersamaan pelaksanaannya melanggar hak yang lainnya.
Pancasila memberikan jalan tengah bagi pemeluk Ahmadiyah jika opsi kembali kepada Islam tidak mereka pilih, yaitu sebagaimana yang diungkap oleh bang YIM: membentuk agama baru. Dengan demikian, sebagaimana Konghuchu sejak Presiden Abdrrahman Wahib kini mendapatkan hak dan perlindungan penuh dalam kerangka Negara Pancasila.
Hal yang saya amati, rekan-rekan yang membela Ahmadiyah selalu merujuk pada Hak Asasi Manusia berikut konsep-konsep impornya. Mereka hanya mengambil sebagian dari Pancasila dan meninggalkan sebagian yang lain. Saya berharap kalaupun niatan mereka untuk melakukan judicial review para hakim konstitusi di MK dapat menegakkan Pancasila dengan baik, tidak mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian lainnya. Kalau demikian adanya apa tidak sebaiknya kita meninggalkan Pancasila???????
Vuo Qadis Pancasila???
June 12th, 2008 at 8:31 am
Bang yus. Bertanya neh. Ko bisa yah manusia mencampuri urusan manusia dengan Tuhannya. Just a simple question i think. Tapi kita balikkan suasana sekarang. Jika Urusan anda dengan Tuhan anda di campuri dan dilarang apakah yang akan anda lakukan. Menyerang 3 menteri? Saya berharap kedepannya tidak lagi muncul SKB-SKB sejenis yang mungkin menyerang umat beragama yang lain dengan kedok “aliran sesat”
terima kasih
June 12th, 2008 at 6:41 pm
#178
kalo menurut saya yang orang awam ini, kalo soal Ahmadiyah ini bukan soal hubungan antara Tuhan dan umatnya semata.kalo soal kebebasan, kita lihat, di indonesia ada Muhamadiyah, NU, Persis yang secara nyata telihat perbedaanya.yang satu baca nawaitu yang lain tidak, yang satu telunjuknya goyang2 yang lain tidak tapi kenapa tidak menjadi masalah seperti masalah Ahmadiyah ini? karena perbedaan itu saya rasa masih dalam koridor “islam”. tapi kalo Ahmadiyah ini lain soal, terus terang saya bukan muslim santri, sholat saya masih bolong2, lu urusin aja sholat lu tuh sebelum ngomongin ahmadiyah; mungkin kata2 itu akan anda katakan pada saya. tetapi sebagai orang islam, tidak ada tawar menawar kalo sudah menyangkut soal Tuhan nya, Nabinya, Kitab sucinya.
punten sakali deui abdimah jalmi bodo.ngiringan diajar….
June 13th, 2008 at 2:43 pm
Saya tidak sependapat dengan Anda. Tidak ada seorang pun yang memiliki Islam. Pengikut/penganut Islam ada, tetapi pemilik Islam itu tidak ada. Jadi jika terjadi penafsiran yang berbeda tentang kaidah di dalam Islam, maka tafsiran itu tidak bisa dikekang atau dibekukan oleh penganut mayoritas Islam yang lain. Terlepas dari UU atau ketidaktegasan pemimpin, keyakinan seseorang tidak bisa dituduh sesat. Agama Nasrani duluan dari Islam. Apakah ini berarti Islam adalah penyimpangan atau sesat di mata penganut Nasrani. Dasar sifat posesif dari penganut Islam itu yang memicu segala kekacauan ini semua. Penganut Kristiani di Indonesia menganggap Mormon atau Saksi Yehovah adalah penyimpangan dari kaidah Kristiani, tetapi karena kasih dan kasihan itu, banyak penganut Kristiani lebih menempuh jalan persuasif daripada jalan pedang atau jalan darah.
June 13th, 2008 at 3:52 pm
Bang Yusril, saya salut atas tulisan Abang tentang SKB. Namun ada beberapa permasalahan yang ingin saya tanyakan kepada Abang.
1. Apakah kekerasan kepada sekelompok orang seperti Ahmadiyah dibolehkan?
2. Apakah penghancuran dan pembekuan aset milik Ahmadiyah dengan dalil penistaan agama dibolehkan?
3. Seandainya penganut Ahmadiyah menyatakan diri keluar dari Islam, apakah Bang Yusril tidak menyesal?
4. Salah satu dalil penistaan agama yang dilakukan Ahmadiyah adalah pengakuan Mirza Ghulam Ahmad sebagai Imam Mahdi. Apakah Bang Yusril pernah membaca hadis tentang Imam Mahdi dari Nabi Muhammad saw? Apakah Bang Yusril meyakini akan munculnya Imam Mahdi?
June 13th, 2008 at 4:10 pm
#181,
Saya bantu menjawab :
1. Tentu saja tidak boleh, tapi jangan lupa bahwa akibat terjadi karena ada penyebab
2. Sama dengan nomor 1
3. Mengapa mesti menyesal, bukankah keyakinan itu hak pribadi seseorang
4. Bukan Imam Mahdi, tapi Nabi lain setelah nabi Muhammad. Ingat, orang Islam marah karena Ahmadiyah ngotot MENYATAKAN BAHWA MIRZA GA ADALAH NABI ! Islam memiliki nabi terakhir adalah nabi Muhammad.
Untuk point 4, jika Ahmadiyah menyatakan tidak mengakui MGA sebagai nabi, mengapa mereka harus takut dan marah ? Jawabnya karena mereka lain dimulut lain dikenyataan !
June 15th, 2008 at 12:11 am
[...] yang mungkin terkait: – Tentang SKB Ahmadiyah – Sekali Lagi Tentang SKB Ahmadiyah « Italy 0 – [...]
June 15th, 2008 at 1:29 pm
CONGRATULATIONs SKB AHMADYAH, TERIMAKASIH BANG MUNARMAN
Terima kasih buat para petinggi negara pemerhati ISLAM, napa ndak sedari dulu sih ajaran Ahmadyah dibuatkan SK. Wong udah jelas-jelas keblinger gitu. Dilematis sih emang, apalagi beberapa komunitas di indonesia sekarang punya lagu wajib (dikit-dikit) “Pelanggaran HAM”. Apa emang ada skenario buat mancing FPI atau ormas islam garis keras bertindak trus ada alasan dari pemerintah untuk bikin manuver nagkepin pemimpin2 mereka???
Boleh-boleh saja, asal niatnya bukan cari sensasi buat nambah kredit point pemilu 2009 nanti he..he..he……maklumlah pamor SBY-Kalla tak lagi menyala.
Buat para Ahmadyah Fans Club, silahkan saudara beribadah dengan tenang. Tapi mulai sekarang sampean-sampean jangan ngaku ISLAM lagi ya. Karena syarat jadi Muslim itu mengucapkan dan menyakini “DUA KALIMAH SHAHADAT”, sampai mati. Mengakui Alloh SWT sebagai Tuhan dan Nabi Muhammad sebagai Nabi terakhir, TITIK!!!
Buat Buyung Nasution, please deh. kalo berArgumen (apalagi Live di SCTV) pakai donk alasan yang “CERDAS”. Masak pakai bawa-bawa orang tua ma mertua, emang siapa mereka?? Ulama? Wali? atau jangan2 Anda mengakui sebagai Nabi baru??? Atau jangan-jangan orang macam buyung ndak ngerti shahadat?? sudahlah….CAPEK DEEEHHHHH
June 15th, 2008 at 7:58 pm
asw…
Kami atas nama Lembaga Da’wah Kampus Pusat Studi Islam Universitas Mulwarman mengecam keras adanya aliran sesat dan menyesatkan ini. Ahmadiyah sebagaimana saat ini lagi hangat-hangatnya untuk diperbincangkan bahkan hampir diseluruh media cetak maupun elektronik memuat isu keberadaan Ahmadiyah. Masyarakatpun sebenarnya capek dengan kasus tersebut, apalagi diperparah oleh ketidak tegasan pemerintah dalam membubarkan Jamaat Ahmadiyah Indonesia (JAI).
Pada hari Jum’at, 13 Juni 2008 silam tepatnya pukul 16.00-17.30 Forum Silaturahim Lembaga Da’wah Kampus Daerah (FSLDK) Kaltim mengadakan aksi turun kejalan, menyuarakkan aspirasi kami menyikapi keberadaan Ahmadiyah. keberadaannya diindonesia, dan tidak hanya sebatas bahkan diseluruh penjuru dunia, sungguh sangat meresahkan warga yang beragama Islam, mereka (ahmadiyah) mengatakan bahwa setelah kenabian nya Muhammad SAW, bahwa Mirza Ghulam Ahmad atau Almasih atau biasa kata mereka Imam Mahdi adalah Nabi akhir dan dengan pede nya mengatakan mendapatkan wahyu. sangat ironis sekali…
wahai Ummat atau pengikut JAI, sadarlah kalian, kembalilah kejalan yang benar, jalan yang diridhai Allah SWT, bertaubatlah kalian, insaflah kalian, karena sesungguhnya ajaran yang kalian ikuti adalah salah, adalah sesat, tidak sesuai dengan aqidah ummat islam.
June 18th, 2008 at 10:41 pm
Assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Dengan menyaksikan berbagai pemberitaan di televisi mengenai BERANG-nya SBY ketika mendapati anak buahnya yang “ketiduran”, sesungguhnya dapat kita kategorikan ibarat ”lawakan” slapstick seperti upaya Charlie Chaplin pada jaman doeloe untuk membuat audience-nya tertawa…
Jadi perumpamaan seperti itu dapat kita simpulkan menjadi lawakan yang “DIPAKSAKAN”. Maka apabila kita hubungkan dengan ungkapan kemarahan sang Presiden ketika itu, bisa jadi terdapat maksud yang hendak “dipaksakannya” untuk meng-kamuflase permasalahan yang lain. Wa Allahu a’lam.
Alasannya sederhana:
Bukankah ketika zaman Soeharto masalah ngantuk-mengantuk ini sudah biasa terjadi..!? Bahkan Iwan Fals juga mendendangkan lewat lagunya. Kok baru sekarang SBY seperti ”kebakaran jenggot” mendapati sesuatu yang sebenarnya sudah ”lumrah” itu..!? Lha ada apa ini…???
Seumpamanya penjabaran berikut ini kami masukkan ke dalam kelompok ”praduga tak bersalah”, boleh donk…
1. Tebar Pesona; toh sebentar lagi mau pemilu, siapa tahu aja hal tersebut dapat membangun opini publik.
2. Mood Beliau Lagi Jelek; dan kaitannya lantaran kebijakan PEMERINTAH untuk menaikkan harga BBM (yang MUNGKIN diperintahkan oleh ”Negara-negara” kafir SELAKU ”teman terdekat”), tentu akan menimbulkan banyak pertentangan dari masyarakat di Endonesia. (Maaf kami terpaksa menulis dengan E, karena SBY gak bisa bilang Indonesia).
3. Bodoh bener; kok orang ketiduran aja diomelin, tapi ISLAM agamanya DINODAI beliau diam saja. Sementara, bukankah beliau itu punya otoritas untuk melakukan TINDAKAN ”Apapun” dan bukannya malah bersikap ”adem ayem”, ditamba lagi seolah membiarkan Ahmadiyah tetap ada, lalu di dalih dengan hak azazi bagi kebebasan beragama dan berkeyakinan…???
Nah khusus untuk poin 3 ini, kami berani mengatakan bahwa beliau itu adalah manusia MUNAFIK yang dipercaya oleh rakyat untuk memimpin negeri elok milik Allah Subhanahu wa Ta’ala. Disamping itu beliau juga TEGA menipu umat Islam yang jelas-jelas MAYORITAS di negeri ini.
Maka apabila beliau tidak punya keberanian, alias PENGECUT menjalankan OTORITAS-nya terhadap sesuatu yang sudah pasti HAQ bagi agamanya, bagaimana jika beliau segera melakukan cara yang sama seperti ketika beliau di pilih langsung oleh rakyat ketika itu. Caranya, dengan penarikkan suara langsung atas PENOLAKAN umat Islam terhadap Ahmadiyah.
Bagaimana pak Presiden…!? Bukankah melalui pemberitaan di televisi tersebut Anda berusaha ”memberitahukan” kepada kami, bahwasanya Anda pun mampu untuk bersikap TEGAS…???
Allah Subhanahu wa Ta’ala tercinta kita, berfirman:
”Dan tetaplah memberi peringatan karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Adz-Dzaariyaat: 55).
Jazakumullaah khairan jaza.
Wassalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.
Karina Dive,—
June 22nd, 2008 at 12:54 pm
Saya awam masalah yg menyangkut internal umat islam, mohon maaf apabila keliru. Satu yg pasti, “Jangan pernah memakai kekerasan untuk menyatakan pendapat”, entah yg sepaham maupun yg tidak sepaham. Setiap manusia berhak dan layak hidup di muka bumi ini, maka dari itu manusia dilahirkan dan melahirkan. Salam damai bagi bangsa Indonesia.
Saya sepenuhnya sependapat. Cara-cara damai harus tetap dikedepankan. Hal ini saya kemukakan juga dalam tulisan kedua mengenai SKB Ahmadiyah ini. Silahkan Anda membacanya (YIM)
June 22nd, 2008 at 3:43 pm
SAYA TIDAK SETUJU DENGAN ADANYA SKB YANG TIDAK MEMBERI TINDAKAN TEGAS DENGAN ALIRAN AHMADIYAH YANG JELAS-JELAS MELECEHKAN DAN MENGHINA ISLAM DENGAN MENGAKU JADI NABI.TOLONG PIHAK PEMERINTAH UNTUK MENYIKAPI DENGA TEGAS TERHADAP ALIRAN AHAMDIYAH, KARENA UNTUK MENGHINDARI DARI KONFLIK-KONFLIK DI LAIN TEMPAT YANG MENENTANG TERHADAP AHMADIYAH.
KALAU MEMANG PEMERINTAH TIDAK BISA MENINDAK DENGAN TEGAS TERHADAP ALIRAN AHAMDIYAH, APA PERLU UMAT ISLAM YANG MENINDAK DENGAN HUKUM ISLAM?????
WAHAI PEMERINTAH JANGAN TAKUT DAN RAGU UNTUK MENYIKAPI.
June 25th, 2008 at 7:57 pm
ass.
tentang ahmadiyah ……………..
selalu aja jadi bahasan utama tiap kali saya sedang ada kuliah pancasila…….hampir 40% waktu habis buat mbahas ahmadiyah jadi isi kuliah dari dosen ya……….nda jauh dari ahmadiyah,SKB 3mentri, dan kaitannya dengan pasal 29 ayat 1 dan 2 UUD 45^_^nah akhirnya sudah ketebak endingnya jadi bahan buat ujian akhir smester .
June 26th, 2008 at 2:02 pm
asalam mualaikum warohmatulohi wabarokatuh.
Bang Yusril……. saya dari dulu fans anda, satu yang ingin saya sampaikan tidak banyak kelompok muda pemikir islam yang moderat, saya baca beberapa pidato abang diantaranya : indonesia bersyariat, dan beberapa tentang bahasan abang ( judulnya lupa) . cuman saya jadi agak sedikit kehilangan gaung abang, sebab setelah kasus uang keluarga cendana saya jadi jarang mendengar komentar abang di televisi maupun media lainnya.
apakah menurut abang mungkin ahmadiyah hidup di indonesia, sebab agama yang syah di indonesia tidak ada agama ahmadiyah, lantas menurut berita katanya orang ahmadiyah mau mengadukan SKB ke PBB, menurut kacamata abang, akan kah indonesia berhasil mempertahankan SKB tersebut di mata hukum internasional ?
kami kaum muda yogyakarta, akan sangat senang jika bang Yusril mau berdiskusi tentang hal-hal yang berkaitan dengan hukum terutama yang terkait dengan kehidupan bisnis di indonesia, by the way…………………… kenapa pbb tidak pernah memilik yel untuk menibulkan semangat ya bang? padahal pendahulunya penuh semangat. ……… he…..he…..he…. wasalam mualaikum warohmatullohi wabarokatu.
July 5th, 2008 at 11:35 pm
Assalamualaikum wr.wb, saudaraku diseluruh INDONESIA pada khususnya dan DUNIA pada umum nya..kalau saudaraku memang menganggap bahwa NABI MUHAMMAD SAW adalah nabi dan rasul yang terakhir dan tidak ada lagi selain Dia yang patut di IKUT. Maka saya menyerukan kepada semua ummat TUMPAS AHMADIYAH SAMPAI TITIK DARAH TERAKHIR . karena setia manusia yang mencaci, fitnah dan mendustai NABI MUHAMMAD SAW.., “DARAHNYA HALAL”
July 5th, 2008 at 11:56 pm
Permata HAKIKAT QOLBU terbang diatas sebuah kesucian dan ikhlas, jangan lah pernah berdusta kepada ALLAH SWT dan RASUL NYA,,,Seorang PEMIMPIN yang ADIL adalah pemimpin yang berada dibawah rakyatnya, dan menjalankan semua perintah ALLAH SWT..sekali tertipu oleh dunia,,akan menyesal SELAMANYA..INGATLAH ITU WAHAI PEMIMPIN UMMAT YANG BERHATI MULIA, seindah “PERMATA QOLBU YANG BERSINAR DIDALAM DARAH DAN TUBUH, maka itulah TUJUAN. Ingat lah pemimpin TUJUAN HIDUP YANG HAKIKI ADALAH MATI DENGAN SEBUAH KEAMPUNAN ALLAH SWT. AMIN
July 6th, 2008 at 7:04 pm
tangapan tentang SKB ahmadiah dengan pasal 29 ayat 2.
dan isi SKB ahmadiah.
July 8th, 2008 at 1:59 am
artikel ini berguna sekali untuk mendukung thesis saya tentang kebebasan beragama di indonesia (kasus ahmadiyah) dari perspektif hukum internasional. saya cuma menambahkan tentang urgensi untuk mengganti uu no. 1/1965 berkaitan dengan diratifikasinya kovenan sipil dan politik (ICCPR) th 2006 oleh pemerintah. menurut general comment dari Komite HAM PBB selaku lembaga yg memiliki otoritas menerjemahkan isi ICCPR, suatu negara yg telah meratifikasi kovenan ini harus menciptakan atau menyesuaikan produk hukumnya dg asas2 yang terkandung didalam kovenan tsb. artinya UU No. 1/1965 harus cepat diganti dg perpu lainnya yg selaras dg standar kovenan. jika tidak, berarti pemerintah masih setengah2 dlm menghormati HAM terutama isu2 agama. padahal untuk pemberantasan korupsi kita no 2 terbaik setelah cina, tp untuk urusan agama, saya kira masih bisa disejajarkan dg Iran. bagaimana pak yusril?
July 8th, 2008 at 8:13 am
Menurut saya yang paling esensial dalam mensikapi Ahmadiyah adalah dengan melihat dimensi keimanan dan amalan shalehnya. Siapapun orangnya atau apapun kelomoknya, apabila mereka adalah orang-orang yang mengimani adanya Tuhah yang Satu, yakni Allah, dan mereka adalah kaum yang juga beramal shaleh. adalah termasuk yang dijanjikan Allah masuk sorga. Bahkan mereka setiap hari membaca shahadat seperti Muslim yang lain, menjalankan shalat, berpuasa di bulam Ramadhan. Siapa yang meragukan itu. Sehingga Allah berfirman:
Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Merekaa kekal di dalamnya. ( QS. al Baqarah/2: 82).
Dalam Hadis Nabi, juga diceritakan, bahwa orang-orang yang telah mengucap “Lailaha Illallah” adalah bagian dari keberadaan engkau (kaum Muslimin), maka darahnya terpelihara karenanya. Penjelasan mengenai hadis ini, bisa anda baca pada buku 2002 Mutiara Hadis Jld. I oleh Prof. Dr. Hasbi Ashidieqy, hal 262.
Atas dasar itulah, saya berpendapat bahwa, Ahmadiyah itu adalah golongan Islam. Adapun mengenai paham kenabian setelah Muhammad, merupakan kecacatan dalam keberimanan. Paham itu tidak menghilangkan ketauhidan tersebut. Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap sebagai nabi juga tidak menyuruh menyembah selain Allah, dan mereka juga tetap dalam koridor menjalankan shalat lima waktu, puasa di bulan Raamdhan, dst.
Saya sendiri bukan pegikut Ahmadiyah, dan tidak setuj dengan paham tersebut. Tetapi tidak ada hak bagi saya untuk mengklaim Ahmadiyah sebagai non Muslim, karena alasan-alasan tersebut.
Wassalamu’alaikum.
Marzani Anwar
July 9th, 2008 at 9:37 am
ASS,
SKB ttg ahmadyah saya sangat2 tdk setju itu sama halnya ketidak jelasan dalam bertindak. apalagi, dibalik isu ahmadyah masalah2 skrg spt BBM jd tdk terdengar/tdk dipermasalahkan lg malah jd terkubur hidup2 seperti tidak pnh ada masalah kenaikan BBM. SKB spt es batu kapan es itu mencair,es itu akan menjadi air kembali. begitu juga dengan SKB ahmadyah,sewaktu2 bisa jadi mencair kembali dan akan membuat jaringan yang lebih luas lagi. lebih baik dimusnahkan sekalian, dari pada harus tanggung2 buat tindakan seperti ini malah akan membuat rugi.
CUMA SATU SOLUSI YANG PANTAS YAITU TERAPKAN HUKUM2 ALLAH DENGAN MENERAPKAN SYARI’AT ISLAM.
July 9th, 2008 at 1:38 pm
[...] Comment on SKB TENTANG AHMADIYAH by Marzani Anwar Mirza Ghulam Ahmad yang dianggap sebagai nabi juga tidak menyuruh menyembah selain Allah, dan mereka juga tetap dalam koridor menjalankan… [...]
July 15th, 2008 at 2:01 pm
benarkah dasar negara kita ini bukan Pancasila, kalau tdk dimana hal tersebut dijelaskan ?
kalau iya apa dasar negara kita ? tlg dong bang jelaskan
terimakasih
July 17th, 2008 at 10:03 pm
Makasih pak tentang urusan Ahmadiyah!!! sudah jelas banget dech>>
tapi yang ga habis pikir ada partai islam yang cari suara di partai islam apalagi ini ama pendirinya…
duh gimana yang di bawah …..
keterlaluan banget ya he he he ( biadab) he he he
July 18th, 2008 at 4:30 pm
Bung Yusril,
Saya pelajari dan berusaha memahami garis politik Anda dengan membedah beberapa buku2 politik almarhum Bapak saya. Dan, itu membuat wawasan saya tentang Syariat Islam makin luas dan dalam. Saya juga makin menaruh respek kepada Anda tetapi sekaligus was was dan kasihan. Kenapa? Perjuangan untuk mensyiarkan Islam saja begitu berat. Nah, ini memperjuangkan Syariat Islam yang kebanyakan orang berpikir bahwa Syariat Islam akan diadu dengan Pancasila. Apakah Anda sudah memiliki strategi yang bagus untuk melakukan pendidikan massa? Anda sadar kan, bahwa ini akan menjadi pendidikan massa? Saran saya, pintarkan dulu pengikut Anda sampai pada garis grass root. Kemudian pendidikan dalam rumah, dari bapak ke ibu atau sebaliknya, kemudian ke anak2, saudara2, ke… ke…. gitu dech! Pokoknya yang efektif. Supaya semua mata terbuka, bahwa Islam cinta damai, Islam tidak selalu berdarah-darah. Do’a saya Anda bisa menjadi RI1 dan jika itu terjadi, jaga tampilan keren dan smart Anda. Satu lagi pertanyaan saya, kenapa Anda berani memberi pernyataan tentang jilbab bahwa jilbab tidak bisa dipaksakan. Boleh saya tahu secara komplit dasar pemikiran Anda mengenai jilbab?
Sekian komentar dan pertanyaan saya, terima kasih perhatian Bung Yusril.
August 7th, 2008 at 4:36 pm
kayaknya berita ttg ahmadiyah hanya itu2 aja dech…ga da perubahan..
August 9th, 2008 at 3:42 pm
Sejak kehadirannya (tahun 1889), Ahmadiyah ditentang oleh sebagian besar ulama, mullah mainstream, mereka men-cap Ahmadiyah sebagai bukan Islam, bahkan di-cap kafir, sesat dan menyesatkan. Secara umum, mereka yang memusuhi Ahmadiyah itu tidak mengemukakan dalil dan hujah dari Alqur-aan dan Hadits Nabi Muhammad saw. Sebaliknya, Ahmadiyah dalam dakwahnya selalu menampilkan dalil dan bukti dari Alqur-aan dan Hadits, bahwa dia, Ahmadiyah itu adalah Muslim dan tidak menyimpang sedikit pun dari ajaran Islam. Dalam hal ini Ahmadiyah bukan saja menampilkan bukti-bukti tetapi siap diuji secara adil dan dengan itikad yang baik serta secara tulus ikhlas akan membuktikan di hadapan khalayak bahwa dia, Ahmadiyah itu tidak menyimpang sejengkal pun dari ajaran Alqur-aan dan Hadits.
Sebagai contohnya, ulama di Indonesia pun mengeluarkan fatwa men-cap Ahmadiyah sesat dan menyesatkan, tetapi fatwa tersebut tidak didukung dan tidak didasarkan pada dalil-dalil dan bukti menurut Alqur-aan dan Hadits. Lebih jauh lagi Ahmadiyah dituduh “meresahkan masyarakat” dan di-diskreditkan serta dipojokkan dari segala penjuru, ini pun tanpa dalil dan bukti serta fakta. Karena pada fakta kenyataannya dalam sejarah, Ahmadiyah itu tidak pernah melakukan sesuatu yang melawan hukum, tidak pernah merugikan pihak mana pun, Ahmadiyah tidak pernah mengambil hak-hak dari orang lain, apalagi untuk merugikan umat Islam.
Dalam menghadapi semua permusuhan itu Ahmadiyah selalu bersikap sabar dan tawakal, pasrah kepada Allah Yang Maha Esa, yang meyakini bahwa Ahmadiyah ini adalah didirikan dengan petunjuk dan dukungan dari Tuhan Yang Maha Kuasa, sehingga meyakini bahwa kebenaran ini tidak dapat dipadamkan oleh kekuatan duniawi apa pun, di mana sejarah akan membuktikan bahwa Ahmadiyah akan terus maju dan senantiasa akan berada di atas, insya Allah. Begitulah ceritera riwayat dari Jama’at-jama’at Ilahi itu di masa lalu dan di sepanjang masa. Para wali, orang-orang suci, Imam-imam Madzhab seperti Abu Hanifah, Ahmad bin Hanbal dan para sahabat, semuanya tidak lepas dari tuduhan pahit seperti itu.
Untuk melihat dan menguji kebenarannya Ahmadiyah itu tidaklah sulit, asalkan dilihat dengan hati dan kaca-mata yang bersih dan tetap berpegang pada tali Allah, selalu mengikuti nasihat Nabi Muhammad Rasulullah saw., untuk tidak meninggalkan Alqur-aan dan Sunnah Rasul. Tetapi tidak menilai Ahmadiyah itu dengan secara terburu-buru, belum apa-apa dengan hati yang sentiment sudah menanam rasa antipati lebih dahulu. Namun demikian, kalau di satu pihak Ahmadiyah itu dimusuhi dan dianggap merusak agama yang seolah-olah kehadirannya itu bertujuan untuk menghancurkan Islam –naudzu billahi min dzalik- maka tidak semuanya manusia di dunia ini berpikiran keruh dan berkaca mata kabur. Mereka manusia-manusia yang bersifat adil dan mau melihat Ahmadiyah itu dari sumbernya yang asli, apakah dengan mempelajari buku-buku dan literaturnya langsung, ataukah melihat dari tayangan MTA – Muslim Television Ahmadiyya – Internasional, atau membuka internet dan web-site tentang Ahmadiyah – http://www.alislam. org; http://www.ahmadiyy a.or.id., dll. atau bahkan dengan melalui mimpi-mimpi yang benar, ada ratusan ribu orang dalam satu tahunnya, orang-orang yang dengan hati yang ikhlas dan penuh rasa syukur mereka minta bai’at dan masuk ke dalam Jama’at Ahmadiyah. Dalam perayaan seabad Khilafat Ahmadiyah 1908-2008, ada 350.000 orang lebih, yang masuk dan ikut ke dalam Jama’at Ahmadiyah selama satu tahun terakhir ini, ada ratusan buah mesjid yang dibangun dan/atau yang diserahkan kepada Jama’at Ahmadiyah oleh warga dan ulama mereka yang sudah bai’at itu; Mesjid di Calgary, Canada adalah satu mesjid yang baru selesai dibangun dengan biaya Can$15 juta. Mereka ini adalah orang-orang yang sudah menyadari dan mengakui bahwa Ahmadiyah itu adalah benar-benar membela dan mendukung Islam, bahkan berjuang mati-matian untuk meng-Islamkan seluruh dunia, agar seluruh umat manusia berada di bawah bendera dan standard Nabi Muhammad, Rasulullah s.a.w. Demikianlah Ahmadiyah sekarang sudah berada di 189 negara di dunia dengan jumlah anggotanya hampir 200 juta orang.
Beberapa rujukan dari Kitab Suci Alqur-aan Allah SWT berfirman dalam Surah Yaa Siin:
Yaa hasratan ‘alaa ‘ibaadi maa yaa tiihim mir rasuulin illa kaanuu bihii yastahzi’uun. (36:30)
Ah, sayang bagi hamba-hamba- Ku! Tidak pernah datang kepada mereka seorang Rasul, melainkan mereka senantiasa mencemoohkannya.
Innamaa tundziru manit taba’adz dzikra wa khasyiyar rahmaana bil ghaibi fa basysyirhu bi
maghfiratinw wa ajrin kariim (36:11)
Engkau hanya dapat menasihati orang yang mengikuti Pemberi peringatan dan yang takut kepada Tuhan Yang Maha Pemurah dalam keadaan tidak tampak, maka berilah dia khabar suka tentang ampunan dan ganjaran yang mulia.
Di berbagai tempat di dalam Kitab Suci Alqur-aan, Allah Taala telah menerangkan tentang kehebatannya dari Sifat Dia Yang Ar-Rahmaan. Tentang arti dari Ar-Rahmaan itu adalah penyayang, pemurah, kasih sayang yang sedemikian, yang dilimpahkan, diberikan sebagai suatu kedermawanan dan kebaikan hati. Karena sifat-Nya inilah Dia itu, dengan tanpa membeda-bedakan apa agamanya atau suku bangsanya yaitu kepada setiap orang itu apakah ia termasuk pada suku bangsa apa saja, termasuk pada agama apa pun, Allah Taala itu melimpahkan kebaikan berdasarkan dari sifat-Nya ini, di mana setiap benda dan mahluk yang hidup semuanya memperoleh kebaikan ini. Allah Sendiri menyediakan kepada semua mahluk yang hidup apa saja yang mereka perlukan. Allah Taala menyediakan semuanya itu dengan tanpa diminta, dan tanpa usahanya dari pihak mereka. Kebaikan dari Tuhan ini yang Dia telah menerangkan dengan jelasnya bahwa keperluan dari semua mahluk hidup itu apa pun yang diperlukannya sesuai keadaan alamiahnya, Allah Taala menyediakan semuanya itu, baik keperluan yang bersifat duniawi dan jasmaninya maupun untuk keperluan spritualnya.
Kualitas Ar-Rahmaan dari Tuhan dalam kategori kebaikan kedua di mana kita dapat mengatakan tentang kedermawanan- Nya yang bersifat umum lainnya yakni rabbul’alamiin. Di dalam Surah Al-Faatihah disebutkan juga terminology dari Ar-Rahmaan, nama ar-Rahmaan di dalam Kitab Suci Alqur-aan adalah dikarenakan Dia itu telah menyediakan bagi setiap mahluk yang hidup dalam bentuk dan bagaimana pun rupanya apa yang hidup ini, kemampuan dan kekuatan apa pun yang diperlukan dan bentuk bagaimana pun yang diperlukan serta apa saja yang diperlukannya, Allah Taala menyediakannya untuknya. Kemudian untuk kehidupannya dan kelanjutan hidupnya mereka pun mempunyainya, disediakan oleh-Nya untuk burung-burung sesuai apa yang diperlukannya dan hewan ternak apa yang diperlukannya serta untuk manusia sesuai dengan apa yang diperlukannya. Bukan saja itu, bahwa ribuan tahun sebelumnya penciptaan dari mereka ini, dikarenakan oleh sifat Rahmaan-Nya itu Dia telah menciptakan bintang planet dan cakrawala cosmos.
Jadi, ini membuktikan bahwa sifat Rahmaan dari Tuhan itu tidaklah tergantung pada usaha-usaha orang, tetapi hal itu adalah semata-mata kemurahan yang dasar pondasinya sudah diletakkan sebelumnya penciptaan dari benda-benda tersebut. Tetapi orang, manusia itu mendapatkan bagian terbesar dari karunia sifat Allah Yang Rahmaan itu karena segala sesuatu benda lainnya itu mengorbankan dan mendedikasikan dirinya untuk keperluan manusia-manusia. Oleh karena itu kepada orang sudah diingatkan bahwa Tuhannya itu adalah Tuhan Yang Rahmaan. Ini adalah satu kebaikan besar bahwa seorang manusia itu yang kepadanya telah diberikan kesadaran dan intelligent, yang disebut sebagai mahluk yang paling tinggi kedudukannya, paling istimewa, paling tinggi di antara semua ciptaan itu. Oleh karena itu seyogianya orang ini haruslah bersyukur kepada Tuhan dan menyembah kepada-Nya. Tetapi pada kenyataannya mayoritas terbesar dari orang-orang itu berjalan pada arah jurusan yang berlawanan. Kebanyakan dari mereka tidak mengingat dan mengenal kepada Tuhan mereka. Mereka itu memang mengambil manfaat dari kebaikan dan kedermawan-Nya Tuhan, tetapi mereka, orang ini melupakan Dia. Dengan sifatnya Yang Rahmaan-Nya itu, Allah Taala mengutus Nabi ke dunia, yang memberikan kabar suka kepada orang-orang dan untuk memperingatkan kepada mereka. Nabi juga membimbing orang-orang ini dengan petunjuk yang diterima dari Tuhan, yaitu untuk melakukan amal baik, tetapi kebanyakan dari orang-orang itu tidak membuat dirinya bersedia untuk mengadakan reformasi. Para Nabi Allah ini merasakan kekhawatirannya akan apa yang terjadi pada orang-orang ini, dan Nabi ini merasa sangat-sangat khawatir. Kekawatiran mendalam seperti yang dirasakan oleh Y.M. Nabi Muhammad Rasulullah s.a.w. dalam Islam itu sehingga Allah Taala harus memfirmankan:
Fa la’allaka baakhi’un nafsaka ‘alaa aatsaarihim il lam yu’minuu bi haadzal hadiitsi asafaa
Surah Al Kahfi (1 8) ayat 6 :
Maka boleh jadi engkau itu membinasakan dirimu karena merasa sangat berdukacita atas kelakuan mereka yang menyimpang, jika mereka itu tidak beriman pada jalan/keterangan dari Alqur-aan ini.
Dan
La’allakaa baakhi’un nafsaka allaa yakuunuu mu’miniin. Surah Asy-Syu’araa’ (26) ayat 3:
Boleh jadi engkau (Nabi Allah) karena berdukacita itu sampai hendak membinasakan dirimu karena mereka itu tidak mau beriman.
Tanggal 27 Mei 1908 merupakan hari bersejarah ketika Allah s.w.t. menganugrahkan kepada Jama’at Ahmadiyah yang didirikan oleh Al-Masih Yang Dijanjikan sebuah karunia berupa sistem Khilafat yang akan menjadi sarana pencapaian kemenangan dan keberhasilan bagi kejayaan Islam. Hari ini ganjaran Ilahi tersebut telah berusia 100 tahun. Tuhan menjadi saksi di mana kita dengan sujud syukur mengakui kalau setiap hari dari masa 100 tahun itu menjadi bukti bagaimana Khilafat Ahmadiyah telah menjadikan Islam cemerlang dan jaya secara global sehingga keseluruhannya bisa dianggap sebagai suatu mukjizat hidup yang berkesinambungan.
Berkat Khilafat Ahmadiyah, kisah kemenangan Islam yang menyejukkan dan menggugah hati demikian agungnya sehingga pena sulit mencatatnya dan kata-kata terasa kelu mengukirnya. Sesungguhnya benih khidmat dan pengembangan Islam yang ditanam oleh tangan suci Masih Mau’ud a.s. sekarang ini telah berkembang menjadi sebuah pohon besar dalam naungan Khilafat Ahmadiyah. Seperti juga Kalimah Shahadat, akar pohon ini tertanam kuat di segala penjuru dunia dan dahan-dahannya mengisi alam semesta. Pembentukan missi di luar India bermula dalam era Khilafat Ahmadiyah dan sekarang berkat rahmat Allah s.w.t. di 190 negeri telah terbentuk Jama’at Ahmadiyah. Konvoi yang dimulai dengan 40 orang penganut, sekarang telah mencapai hampir 200 juta orang dan masih meningkat terus. Suara yang dikumandangkan dari kota kecil Qadian sekarang telah bergema di seluruh pelosok dunia. Allah s.w.t. meridhai suara ini dengan kebesaran dan penerimaan manusia dimana karena melihat kejernihan dan manfaatnya maka para intelektual di penjuru dunia terjauh pun mau mendengarkannya dengan tekun dan mengakui kebenarannya.
Sungguh, dalam naungan Khilafat, gerakan Jama’at Ahmadiyah bisa mencapai keberhasilan global dimana tidak ada bagian dari dunia ini yang kalis dari berkatnya. Kita bisa mengatakan secara harfiah tanpa ada yang bisa menyangkal bahwa matahari tidak pernah terbenam di dunia lingkungan Ahmadiyah. Adalah suatu kenyataan bahwa pada setiap saat dan di setiap tempat, Allah s.w.t. menyinarkan matahari pertolongan- Nya dan kemenangan terus menerus bersinar di dunia Ahmadiyah dan dalam naungan keberhasilan Ilahi ini maka fajar kemenangan global dari Islam telah bertambah cerah dari waktu ke waktu.
Bersamaan dengan pengembangan jaringan sentra-sentra penyebaran Islam di bawah bmbingan Khilafat Ahmadiyah, publikasi dari literatur dalam berbagai bahasa di dunia sudah menjadi suatu keberhasilan tersendiri. Di bidang literatur yang paling menonjol adalah terjemah kitab suci Alqur-aan. Apakah bukan suatu mukjizat bahwa dalam waktu beberapa tahun dari masa Khilafat Ahmadiyah keempat, Jama’at ini telah sanggup mempersembahkan terjemah Al-Quran dalam bahasa-bahasa dunia dua kali lebih banyak dari jumlah yang dilakukan umat Muslim lainnya selama 300 tahun yang silam? Berbagai pilihan ayat Al-Quran, Hadith dan nukilan tulisan Masih Maud a.s. telah diterbitkan dalam lebih dari seratus bahasa. Literatur Islam dipublikasikan dan diedarkan dalam jumlah luar biasa banyaknya. Skema `ekshibisi buku’ yang ekstensif mempunyai peran penting dalam penyebaran Islam.
Kemashuran Jama’at Ahmadiyah antara lain dikenal melalui pembangunan mesjid-mesjid di seluruh pelosok dunia. Komunitas ini telah membangun ribuan mesjid. Aplikasi dari ajaran Islam dalam bentuk pendirian lembaga pendidikan dan kesehatan di Afrika Timur dan Barat berikut jasa pelayanan masyarakat yang diberikan telah memenangkan hati orang-orang di daerah itu kepada Islam. Di zaman penjarahan dan perampokan di daerah tersebut seperti sekarang ini, Jama’at Ahmadiyah berkesempatan memberikan kepada mereka akomodasi bagi para yatim dan janda melalui proyek perumahan `Baiyut-ul Hamd.’
Jama’at Ahmadiyah selalu memegang peran teladan dan terdepan dalam upaya pertahanan kehormatan dan nama baik Islam. Sepanjang menyangkut pengurbanan bagi kejayaan dan kemajuan Islam, setiap bagian dari masa sejarah Jama’at ini penuh dengan segala peristiwa yang menggugah hati.
Jama’at ini benar-benar memberikan pengurbanan nyawa, waktu dan kehormatan bagi penyebaran Islam, dimana semua pengurbanan itu telah mengingatkan kita pada ingatan tentang para Sahabat di masa lalu. Siapa yang tidak mencintai nyawanya sendiri? Mengabdikan nyawa yang demikian berharga ini bagi kejayaan Islam, mempersembahkan anak-anak yang belum dilahirkan sebagai wakaf bagi pengembangan Islam, hijrah dari negeri sendiri dalam rangka penyebaran agama dan ada yang sampai harus menyerahkan nyawa dan terkubur di tanah asing, digebuki sampai mati karena berani mengucapkan Kalimah Tayyibah, mengenakan belenggu dan menciuminya dengan kasih, dipenjarakan karena kecintaan kepada Islam serta menghabiskan umur bertahun-tahun dalam sel penjara yang gelap, memikul derita dan menyerahkan nyawa dan dengan itu menulis kisah pengabdian dengan darahnya sendiri, semua ini merupakan manifestasi dari bentuk pengabdian tersebut.
Singkat kata, tidak ada cabang apa pun di jalan menuju kemajuan Islam dimana Jama’at Ahmadiyah tidak ikut berperan. Di semua tahapan dari jalan itu akan selalu ditemui jejak kaki semangat para Ahmadi yang memandang Islam sebagai suatu hal yang lebih berharga dari nyawanya sendiri. Allah s.w.t. berkenan mengaruniakan kehormatan dan privilege ini kepada para Ahmadi karena pada saat ini di muka bumi ini hanya mereka itu saja komunitas yang memiliki fondasi yang amat kuat berkat naungan seorang Imam mulia yang dipatuhi sepenuhnya.
Ini adalah satu-satunya Jama’at yang mendapat bantuan Tuhan karena diberkati dengan Khilafat, dimana mereka memahami benar kapan saatnya bangkit karena suara pemimpin ruhani mereka dan kapan saatnya duduk dalam perintahnya. Sesungguhnya inilah komunitas dimana kecintaan seorang Imam bagi anggota Jama’atnya lebih besar dari kecintaan ibu mereka sendiri. Semua anggota Jama’at menghormati Imam mereka. Berkat dari Khilafat yang terpusat di satu tangan telah menghasilkan mukjizat ini dimana puluhan juta Ahmadi telah memberikan kinerja luhur dalam pelayanan dan penyebaran Islam, dimana umat lainnya yang menyebut dirinya Muslim tidak sanggup melakukannya. Yang menjadi dasar dari semua itu tidak lain adalah karena Allah s.w.t. berkenan menganugrahkan berkat Khilafat kepada Jama’at Ahmadiyah. Adalah suatu kenyataan bahwa kesempatan untuk berjuang dan berkurban demi Islam juga erat berkaitan dengan Khilafat.
Hadhrat Khalifatul Masih II menyatakan bahwa: `Perhatikanlah, kita telah menyebarkan Islam ke seluruh pelosok dunia, tetapi apakah kalian pernah merenungkan bagaimana penyebaran itu bisa terjadi? Disini ada sebuah sentra dimana mereka yang mencintai Islam dalam hatinya bisa berkumpul dan secara bersama berjuang demi kejayaan dan kebangkitan kembali Islam. Kelihatannya hanya segelintir manusia namun nyatanya mereka memiliki kekuatan luar biasa, dimana mereka berhasil melaksanakan tugas-tugas besar yang signifikan. Sebagaimana juga air hujan turun dari langit dalam bentuk tetesan-tetesan, dan tetesan itu menjadi kucuran yang kemudian menjadi sungai, begitu pula kita memperoleh peningkatan dalam kekuatan dan kehormatan. Dasar pertimbangan dari semua itu hanya karena Allah s.w.t. telah menganugrahkan kepada kalian berkat Khilafat.’
Beliau juga menyatakan: `Islam tidak akan mungkin berkembang kecuali dengan adanya Khilafat. Sepanjang sejarahnya Islam maju karena Khilafat dan di masa depan pun juga akan maju melalui sarana ini.’
Selama masa Khilafat kedua muncul gangguan di mana Kelompok Ahrar secara nasional mulai menggerakan upaya eliminasi Jama’at. Guncangan karena pemisahan India – Pakistan telah memaksa Jama’at hijrah dari sentra permanennya dan mendirikan sentra baru di Rabwah. Komunitas ini baru saja menjejakkan
kaki ketika pada tahun 1953 muncul pergolakan nasional menentang Jama’at. Partai Haqiqat Pasand memanfaatkan situasi itu dan secara internal mencoba memecah belah dan menyesatkan komunitas. Semua kegalauan itu muncul silih berganti, namun setiap kali berbenturan dengan batu karang yang bernama Khilafat, semuanya pecah berantakan. Kelompok Ahrar limbung dan rencana kotor para munafik pun dimusnahkan.
Tangan Tuhan yang Maha Perkasa telah memberikan kemenangan dan kemajuan kepada Islam melalui Khilafat. Dalam era Khilafat ketiga dalam kegalauan tahun 1974, kembali para musuh mencoba dengan segala daya untuk memusnahkan komunitas ini, tetapi sebagaimana biasanya mereka pun gagal dan dipermalukan. Banyak sekali para Ahmadi yang beruntung menjadi sahid, harta benda mereka dijarah, rumah mereka dibakar namun tidak ada yang mampu merampas keteguhan hati mereka atau menghapus senyum dari wajah mereka.
Di awal masa Khilafat keempat, musuh-musuh Jama’at karena terpana melihat personalitas karismatik dari Khalifah saat itu, lalu meningkatkan usaha perlawanan mereka sampai ke puncaknya dalam bentuk diterbitkannya ordonansi XX/1984 yang mengkafirkan Jama’at Ahmadiyah. Akibat dari ini adalah hilangnya nyawa beberapa orang saleh yang disahidkan serta masih banyak lagi tawanan di jalan Allah yang terkurung dalam kegelapan sel penjara. Namun Tuhan menjadi saksi bahwa matahari kemenangan yang muncul di ufuk Ahmadiyah telah memeterai upaya para musuh itu dengan kegagalan. Allah yang Maha Kuasa telah meniup lenyap mereka yang demikian nekadnya berusaha memupus Jama’at. Dimana sekarang keberadaan tirani yang menganggap dirinya demikian kuasa yang mengatakan bahwa para Ahmadi akan dibuat menjadi pengemis dengan mangkuk mengemisnya? Kemanakah perginya tirani yang mengikuti jejak Firaun yang telah menyatakan akan memupus kanker yang katanya bernama Jama’at Ahmadiyah itu?
Perhatikan bagaimana Tuhan kita telah memusnahkan musuh-musuh Islam ini dari muka bumi. Doa dari para pemuka kebenaran, para Khalifah Ahmadiyah telah menghancurkan keangkuhan tirani itu. Yang satu bisa dilihat tergantung mati di tiang gantungan, Juli 1979, sedangkan yang lainnya tubuhnya lumat menjadi debu yang tersebar di padang pasir dalam pesawat canggih Hercules Pak-One, Rabu, 17-8-1988. Demikian itulah selalu nasib dari para musuh Jama’at di setiap masa dan takdir masa depan mereka juga tidak akan jauh berbeda. Kemenangan satu per satu telah menunggu Jama’at Ahmadiyah di bawah berkat naungan dari Khilafat dan para musuh kita ditakdirkan untuk selalu gagal.
Dengarkan wujud yang bicaranya ditopang oleh Tuhan, wujud yang dilindungi oleh-Nya, wujud yang dipilih sebagai penjaga bahtera Islam serta imam dari para mukminin zaman ini. Dengar dan perhatikan apa yang dikatakannya. Imam kita yang tercinta, Hadhrat Khalifatul Masih IV berkata: `Kita akan menghadapi berbagai perlawanan pasti di masa depan, tidak ada keraguan mengenai hal itu sama sekali karena sudah menjadi takdir dari Jama’at bahwa kita semua akan menghadapi berbagai kesulitan untuk bisa menapaki tingkat-tingkat kemajuan. Adalah kesulitan-kesulitan tersebut yang akan menjadi pelengkap Jama’at sepanjang umurnya. Setelah perlawanan yang sekarang, akan ada lagi perlawanan yang lebih dahsyat dimana aku melihat bahwa masalahnya tidak lagi berkaitan dengan hanya satu atau dua pemerintahan saja. Banyak pemerintahan kuat akan bergabung merencanakan pemusnahan Jama’at ini. Tambah besar konspirasinya akan tambah besar pula tingkat kegagalan mereka.
Para Khalifah yang terdahulu telah memberikan semangat kepada para Khalifah masa depan dan memberitahukan kepada mereka agar menempatkan keyakinan mereka kepada Tuhan semata serta tidak usah takut kepada semua musuh. Demi Allah, para Khalifah di masa depan pun akan selalu tetap berani dan bersabar serta bersiteguh seperti yang telah aku lakukan dan tidak akan merasa takut kepada kekuatan apa pun di dunia ini. Tuhan yang telah memupus para musuh rendahan di masa lalu, juga akan menghancurkan kekuasaan yang lebih besar dan lebih kuat serta akan menghapuskan mereka dari muka bumi.
Jama’at Ahmadiyah sendiri tetap akan menapaki setingkat demi setingkat jenjang ke arah kemenangan. Tidak ada kekuatan dunia yang akan mampu merubah takdir ini dengan cara apa pun. Insya Allah.
Sesuai dengan janji Tuhan, diletakkan kembali fondasi bagi kebangkitan kembali Islam di akhir zaman melalui seorang mujadid Ilahi. Allah s.w.t. telah mengutus Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad a.s. dari Qadian sebagai Manifestasi Kedua dari sosok Hadhrat Rasulullah s.a.w. dan menetapkannya sebagai Imam Mahdi dan Al-Masih Yang Dijanjikan, yang tujuan kedatangannya adalah untuk membangkitkan kembali Islam, menegakkan syariah dan menyelesaikan tugas penyebaran Islam sampai pada tahap kemenangannya. Semua para wali, orang-orang suci dan penafsir Al-Quran sepakat berkaitan dengan ayat: `Dia-lah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang benar supaya Dia memenangkannya atas agama-agama lain seluruhnya walau pun orang-orang musyrik tidak menyukai hal itu.’, bahwa kemenangan Islam di atas semua agama lainnya akan dimanifestasikan dalam segala kecemerlangannya dalam masa Imam Zaman ini.
Surat At-Taubah -9- ayat 32:
Huwal ladzii arsala rasuulahuu bil hudaa wa diinil haqqi li yuzh-hirahuu ‘alad diini kullihii wa lau karihal musyrikuun.
Dia-lah yang mengirimkan Rasul-Nya dengan petunjuk dan agama yang hak supaya Dia meng-unggulkannya (menjadikannya agama yang hak ini dominant) di atas semua agama, walaupun orang yang musyrik tidak menyukainya.
August 10th, 2008 at 8:45 am
Ass wr wb.
Saya orang bodoh dan tak ada pendapat, hanya saja saya minta pada saudara tolong qulilhaqqa walau kana murran nya ditegakkan jika saudara ummat Muhammad aw
Terima kasih
August 12th, 2008 at 9:45 am
Maha Suci Allah SWT, yang memiliki sekalian Alam. Istigfar merupakan jawaban yang paling afdol yang bisa dilakukan oleh semua lapisan masyarakat. Tidak pada tempatnya kalau kita meng-klaim sepangjang umur sifat Malikiyaat yang hanya dipunyai oleh Sang Yaumidin. Alfatihah mengajarkan kepada kita untuk meratifikasi dan melaksanakan sifat-sifat Rabulbiyaat, Rahmaniyaat dan Rahhimiyaat. Kembali ke diri kita dan kembali ke istigfar, AlQur’an yang maha sempurna dan manusia yang tidak sempurna akan melahirkan perbedaan persepsi sesuai batas paradigma masing-masing. Namun begitu dengan mengimplementasikan ketiga sifat Tuhan yang terkandung dalam Alfatihah akan membawa kita pada pemahaman hak dan batas klaim antara makhluk dengan maklhuk dan hanya Allah SWT yang berhak meng-klaim sifat Malikiyaat. (Siapa yang bisa mengetahui apa yang diingini oleh Tuhan yang tidak serupa dan menyerupai semua makhluknya ?). Tidak ada tool yang dapat mencapai Hakekat Tuhan selain memahami dan mengimplementasikan sifat-sifat Tuhan sebatas Iradah yang diturunkan_Nya pada Makhluk yang disayangi-Nya. Sebaiknya kita jangan terjatuh pada perbedaan persepsi yang dangkal, apa yang kita yakini benar akan bertabrakan dengan keyakinan orang lain yang merasa benar. Perbedaan Persepsi ini tidak bisa diselesaikan hanya pada tataran Semantik yang hanya akan bermuara pada permasalahan bendera dan menjurus pada Agama Persepsi yang sepanjang peradaban selalu menjadi tidak damai. Ketiga sifat Tuhan yang terkandung dalam Alfatihah akan menuntun kita pada jalan yang benar dan merupakan koridor yang dapat menelanjangi kita atas keyakinan yang kita klaim dan sejauh mana kita telah berbuat untuk membela Islam pada paradigma kita masing-masing. Pada tataran Amarah kita hanya berbohong pada klaim kita tentang Islam, hanya tataran Lauwamah klaim kita mungkin dapat diterima dan pada tataran Muthmainah-lah para Ulama bisa dapat berbicara tentang eksistensi. Kembali ke kita, di tataran manakah kita, apakah kita berhak meng-klaim dan mengujat orang lain sebelum menyadari posisi kita? Auzubillah, Hanya Tuhan yang Maha Kuasa.
August 12th, 2008 at 4:47 pm
Semoga keselamatan, rahmat ALLAH, dan berkahNya beserta anda sekalian
perbedaan mndasar sesatnya ahmadiyah adalah tentang nabi yang dikatakan bahwa tdk ada lagi nabi setelah Muhammad SAW dlm surat Al-Ahzab:40
“Muhammad bkanlah skali-kali bapk diantara kamu tapi dia adl Rasul Allah dan Khotam skalian Nabi.”
Menurut saya khootam dlm firman diatas apbl ditafsirkan sbagai penutup amat janggal.
Karena yang bisa menutup para Nabi hanyalah Allah SWT sprti dlm firman Allah:
“Hanya pada sisiNya lah pengetahuan tntang hari kiamat, kelahiran, dan para nabi-nabi, dan ssngghnya Allah Maha Mengetahui atas sgl sesuatu.”
dan dlm hadits kanjul Umal juga dijelaskan bahwa Muhammad SAW brsabda:
“Aku adl Khootam skalian nabi dan Ali adl Khootam skalian Wali”
apbl khootam ditafsirkan sbg penutup. maka wali juga ditutup oleh Ali bin Abu Thalib”
Trus prtanyaan saya untuk sluruh umat Islam skrang adl:
Allah berfirman:
“taatilah Allah, Rasul dan lil amri antara kamu dan janganlah kalian berpecah belah”
skrng siapa yang ingkar terhadap ayat Allah itu?
adalagi…
“Jgnlah kamu skali kali memiliki pemimpin sprti org Yahudi dan Nasrani yang apbl dibacakan ayat Allah mereka mengingkari”
“Seorang pemmpin yang tidak menegakan hkum islam adalah org kafir”
Skrang siapakah pemimpin yang merobek ke 2 ayat tsbt?
Rasullulah jg tlh bersabda
“Bhwasnya tiada Islam tanpa Jemaah, tiada jemaah, tanpa bai’at, dan tiada bai’at tanpa baraah”
“Apbl datang Al mahdi berbaiatlah kepadanya karena dia Adalah khalifatullah meskipun sampai merangkak di bukit salju”
Dan masih banyak lagi
Semoga keselamatan, rahmat ALLAH, dan berkahNya beserta anda sekalian
Trims
August 13th, 2008 at 5:26 pm
Assalamu’alaikum,
Setelah membaca uraian dari mahluk Allah yang bernama imran, saya beristighfar, dan memohon doa kepada Allah SWT agar berkenan memberikan hidayah-NYA agar bang imran bisa kembali ke jalan yang benar. Allahuma amin ya Allah.
Selanjutnya, mohon maaf, saya akan panggil bang imran dengan sebutan anda. Saya kagum dengan literatur dan gaya bahasa anda, dan ini menunjukkan bahwa anda adalah sosok yang mapan secara intelektual akademis. Tetapi kekaguman saya kepada anda hanya sampai disitu. Dalam akidah Islam, bentuk kekaguman saya adalah ekspresi dari Hablumminannash. Dalam dimensi fiqih, hukumnya adalah Sunnat Mu’akad (sangat dianjurkan) dan dari sisi etika, status kekaguman saya pada anda pada level manusiawi. Hal tersebut tidak beda dengan sebagaimana saya kagum terhadap upaya iblis yang masih mampu mengajukan penawaran kepada Allah, :
“Ya Robb, tidak masalah bila kelak Engkau menempatkan hamba di dalam neraka, namun izinkanlah hamba menggoda manusia agar mereka dengan senang hati menemani hamba di neraka”. Dan Allah pun memberikan izin, Subhanallah.
Luar biasa si iblis ini, dan saya beranggapan bahwa iblis adalah negosiator paling unggul yang pernah ada dalam sejarah kehidupan alam semesta.
Kembali ke bang imran, saya adalah kambing dan anda adalah sapi, tetapi tolong jangan anda katakan bahwa anda adalah domba, hanya karena kita sama berkaki 4 dan sama doyan rumput. Atau sebaliknya, saya sapi dan anda adalah kambing. Dan jangan pernah katakan bahwa anda adalah lembu hanya karena kita sama-sama mahluk memamah biak. Dan jangan anda benturkan dengan dalih apapun.
Kongkritnya, saya adalah seorang muslim dan anda adalah non muslim. Saya akan sangat menghormati anda apabila anda tidak mengatakan bahwa anda adalah seorang yang beragama Islam, hanya karena kita sama-sama mengerti tentang ajaran Islam.
Kalau itu dalil anda, maka illustrasinya adalah besok pagi saya akan ke pasar hewan membeli seekor monyet dan akan saya sertakan monyet tersebut dalam pelatihan ajaran Islam, semisal gerakan-gerakan sholat. Kelak ketika sang monyet telah berhasil menguasai ilmu gerakan-gerakan sholat, bila si monyet memproklamirkan diri sebagai beragama Islam, maka pada detik yang sama, saya akan meminum darah si monyet, karena telah halal akibat satu sebab.
Bang imran, saya hanya mengatakan yang sebenarnya, walau itu pahit buat anda. Namun, kapan pun, silahkan anda meminta tolong apa saja kepada saya, insya Allah saya akan membantu anda. Atau, mari sama-sama kita menjadi panitia nasional untuk menyambut Hari Kemerdekaan Bangsa Indinesia yang 4 hari lagi kita peringati. Barangkali, inilah yang dimaksud oleh Emha Ainun Nadjib tentang Maiyah, mengutip tulisan beliau di atas.
Jakarta, 13 Agustus 2008
Wassalamu’alaikum
August 17th, 2008 at 5:24 pm
kata singkat dan tegas BUBARKAN AHMADIYAH di Indonesia
August 25th, 2008 at 6:42 am
mestinya para pengikut ahmadiyah itu sadar bahawa sudah jelas-jelas dan nyata diterangkan dalam alqur’an bahwa nabi muhammad SAW adalah nabi terakhir dan penutup para nabi. jadi kalau yang ngerti maksunya mah gak perlu di jelasin lagi dong. hei mirza gulam anjing
August 27th, 2008 at 5:18 am
sori. saya adalah salah satu orang yang mendukung kegiatan ahmadiyah dan mengecam siapapun yang memaksa jemaat ahmadiyah untuk tidak menjalankan ibadahnya. Berikut ini adalah tulisan saya tentang ahmadiyah yang sebenarnya juga sudah ada di blog saya: http://wisnuops.net/blog/?p=44
Ahmadiyah dan SKB Tiga Menteri
Breaking News di Metro TV pada hari Senin, 9 Juni 2008, Pukul 17.00 memberitakan bahwa Pemerintah mengeluarkan keputusan untuk melarang aktivitas Ahmadiyah. Kalimat tersebut sebenarnya masih “kabur”. Apa yang dimaksud dengan “aktivitas Ahmadiyah” dan bentuk pelarangan apa yang diambil? Salah satu aktivitas Ahmadiyah, seperti aktivitas muslim-muslim lainnya, adalah shalat lima waktu. Apakah pemerintah akan melarang shalat lima waktu yang dilakukan jamaah Ahmadiyah? Rasanya terlalu jauh kalau menduga ke arah itu. Tetapi, “kaburnya” pernyataan “melarang aktivitas” memang dengan sendirinya akan menciptakan interpretasi berbeda-beda. Bukan tidak mungkin pemerintah pada akhirnya menutup masjid-masjid Ahmadiyah. Hahaha… sudah seperti orde baru saja.
Okay, mungkin kekhawatiran gue terlalu jauh. Tetapi, melihat kemungkinan terburuk tidak ada salahnya, bukan? Sekarang, mari kita lihat kemungkinan ter-“mending”-nya (sorry, gue nggak mau bilang “terbaik”). Misalkan saja tidak ada tindakan, aksi, atau apapun berbentuk fisik oleh pemerintah terhadap Ahmadiyah. Tidak ada penutupan masjid. Tidak ada penyiar Ahmadiyah yang di tangkap. Tidak ada pembubaran ceramah yang berisikan ajaran-ajaran Ahmadiyah –pada saat shalat jumat, misalnya. Tetapi tetap saja, keputusan pemerintah tentang Ahmadiyah sama saja dengan melegitimasi pengucilan masyarakat terhadap Ahmadiyah. Meskipun pemerintah melarang aksi represif oleh sekelompok masyarakat terhadap kelompok Ahmadiah, pada prakteknya, akan tetap saja ada aksi yang tidak dapat pemerintah kendalikan.
Surat Keputusan Bersama Tiga Menteri
Sekarang, coba kita telaah SKB tiga menteri yang dikeluarkan oleh pemerintah dalam rangka melarang kegiatan Ahmadiyah. SKB ini baru aja gue baca dari harian Kompas, 10 Juni 2008. SKB tersebut terdiri dari lima poin. Poin pertama, pemerintah memberi peringatan dan memerintahkan untuk (gue ambil intinya saja) tidak menyebarkan agama yang “sesat”. Poin ke dua, memberi peringatan dan memerintahkan Ahmadiyah untuk tidak menyebarluaskan ajarannya. Dengan kata lain, melarang syiar Ahmadiyah.
Sebenarnya ada yang lucu di sini. SKB tersebut menggunakan kata-kata “memberi peringatan dan memerintahkan”. Kemudian, pemerintah mengatakan bahwa pemerintah tidak melakukan pelarangan atau pembubaran. “Kami tidak melarang. Hanya memberi peringatan dan memerintahkan,” kata pemerintah yang gue kutip dari harian Kompas. Tapi kalau kita perhatikan poin ke tiga dari SKB tiga menteri, di situ dinyatakan bahwa siapapun yang melanggar pasal 1 dan 2 akan dikenakan sanksi. Hahahaha… Jika peringatan tidak diindahkan, maka diberikan sanksi. Bukankah itu adalah definisi melarang? Ini hanya permainan bahasa saja. Seperti orde baru saja, kata-kata dibuat “kabur” dan tidak jujur.
Mengenai Kebebasan Beragama
Jika seseorang pembicara berbicara kepada sepuluh orang kemudian kesepuluh orang tersebut diminta menginterpretasikan omongan pembicara tersebut, tentunya akan muncul beragam interpretasi. Hal tersebut lumrah, mengingat manusia adalah makhluk berpikir. Begitu juga yang terjadi pada agama. Meskipun mengacu kepada satu kitab, meskipun sama-sama mendengarkan satu orang, interpretasinya tentu bermacam-macam. Dan, setiap interpretasi tersebut seharusnya dihargai, karena itu merupakan kepercayaan yang sifatnya pribadi dan menjadi haknya untuk menjalankan ibadah sesuai dengan yang dipercayainya. Pernyataan gue ini juga didukung oleh “Universal Declaration of Human Rights” 10 Desember 1948 pada artikel 18 yang berbunyi:
Everyone has the right to freedom of thought, conscience and religion; this right includes freedom to change his religion or belief, and freedom, either alone or in community with others and in public or private, to manifest his religion or belief in teaching, practice, worship and observance
Meskipun begitu, lahirnya banyak interpretasi ini tentunya berpotensi menimbulkan keributan. Dan, tidak jarang lahir bentrokan fisik. Pada kasus seperti ini, biasanya golongan mayoritas, jika diberi celah, akan menindas golongan minoritas. Contoh paling nyata adalah pembakaran masjid Ahmadiyah oleh FPI.
Tugas Pemerintah
Pemerintah memiliki power, kekuasaan, yang seharusnya berfungsi untuk mencegah elemen masyarakat yang satu menindas elemen masyarakat yang lain. Tugas pemerintah adalah memayungi semua golongan dan memberi perlindungan kepada semua lapisan masyarakat. Tugas pemerintah adalah menjaga hak-hak warga negaranya, agar tidak dirampas oleh orang atau elemen masyarakat lain. Namun, yang ditunjukkan oleh SKB tiga menteri ini justru sebaliknya: pemerintah memihak salah satu elemen untuk merebut hak pengikut Ahmadiyah.
Perdebatan antara agama bukanlah sesuatu yang baru. Hal ini sangat lumrah dan sudah berlangsung ratusan atau bahkan ribuan tahun. Pemerintah tidak perlu ikut campur dalam perdebatan ini. Biarlahlah terjadi perdebatan secara intern di kalangan pengikut agama. Di tanah air sendiri, hal ini tidak hanya terjadi pada pengikut islam, namun juga terjadi pada kristen, buddha, dan hindu. Dalam perdebatan semacam ini, pemerintah tidak perlu memihak salah satu aliran.
Tentang Ahmadiyah
Ahmadiyah sendiri bukanlah aliran baru di Tanah Air. Paling tidak, tahun 1936 Ahmadiyah sudah mengakar di Tanah Air ini. Hal ini gue simpulkan setelah melihat sendiri catatan Soekarno yang dibukukan dalam buku “Di Bawah Bendera Revolusi”. Dari tulisan Soekarno, gue sendiri bisa melihat bahwa pada aliran Ahmadiyah sendiri telah terjadi proses dialektika berulang-ulang. Ahmadiyah bukan sembarang islam yang muncul di kalangan preman. Dalam bukunya, Soekarno sendiri menyatakan berterima kasih atas sumbangan-sumbangan para pengikut Ahmadiyah kepada dunia islam. Bukan mustahil jika Ahmadiyah mengambil peran penting dalam revolusi kemerdekaan Indonesia.
Semua pengikut Ahmadiyah, seperti juga pengikut-pengikut agama lainnya, hanya ingin menjalani kepercayaannya. Mereka tidak ingin haknya dirampas. Kewajiban pemerintah adalah mencegah orang-orang merampas hak mereka, bukan sebaliknya. Atas dasar ini lah, gue berharap pemerintah menarik kembali SKB tiga menteri yang dikeluarkan pada 9 Juni 2008.
Wisnu O. P. S.
10 Juni 2008
August 27th, 2008 at 5:57 pm
Wisnu…wisnu,
Kesimpulan aku, tulisan kau itu sangat ok lah dalam kaidah berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Cuman lagi, kau tak mengerti substansi dari polemik tentang ajaran Ahmadiyah. Ilmu kau bukan disitu..karena tak paham kau tentang agama..!
Dewi Persik itu penyanyi Dangdut, jangan lah kau suruh dia nyanyiin lagunya Freddy Mercury. Nah, macam gitulah kau…!
Saran aku, mending tulisan kau itu, kau sertakan aja dalam lomba mengarang cerita fiktif. Kuyakin, 3 besar aja, masuklah kau. Ok Kawan..?
September 7th, 2008 at 5:53 am
saya sangat merasa sedih dengan terjadinya amukan masa yang membakar tempat ibadah kaum ahmadiyah
mengapa hanya dengan perbedaan pandangan kita tega melukai hati sesama manusia,bahkan sesama bangsa indonesia,dan saya tidak mengerti apa yang di inginkan pemimpin-pemimpin Islam di Indonesia ,mengapa tidak ada
pemikiran ingin membagun bangsa dengan aman dan damai yang mereka ributkan hanyalah perbedaan pandangan
saya ,mungkin banyak orang islam yang menjadi ragu dan berpendapat kita memilih agama untuk mencari kedammaian tapi mengapaorang-orang Islam sukasekali dengan perbedaan pendapat dan keributan,saya ingin menyampaikan kata hati saya “cintailah bangsa mu ,cintailah agamamu “tak ada manfa`atnya kita bertentangan
dengan sesama bangsa hanya karena perbedaan pandangan!
October 3rd, 2008 at 10:35 pm
Berbeda boleh saja, tapi tidak dengan mengacak-acak agama orang. Ahmadiyah itu mengaku Islam tapi pada kenyataannya adalah bukan Islam. Boleh tanya kepada mereka, siapa nabi mereka, tentu mereka menjawab Nabi Mirza Ghulam Ahmad. Adakah kitabnya, ada yaitu kumpulan wahyu-wahyu suci MGA terangkum dalam Tazkirah. Yang semua itu dalam Islam yang asli (yang dibawa Rasullullah SAW) tidak ada. Wajar kalau di negara2 islam spt Malaysia, Brunai dan bahkan di Pakistan sendiri sudah dilarang. Nah tinggal di Indonesia ini, walau bukan negara Islam tapi mayoritas Islam berhak untuk menentukan boleh ada atau tidaknya Ahmadiyah di tanah Indonesia tercinta ini.
Wassalam,
October 4th, 2008 at 12:28 pm
Sepengetahuan saya di Pakistan tidak dilarang, hanya saja dianggap sebagai non-muslim.
November 22nd, 2008 at 4:49 am
Ada punya pendangan yang berlaianan;
Sejak kita terlepas dari penjajahan Belanda dan kita kembali dijajah oleh pemimpin bangsa sendiri selama 63 tahun..?
Kok rakyat kita masih tetap miskin dan menderita. Apalagi sekarang ini penjajahan terbaru muncul Kropsi sedang menjadi politik penguasa, rakyat sampai saat tetap berdiam dibawah jembatan….kemiskin dimana-mana,pengangguran membuat sebahagian besar mengambil keputusan menjadi perampok daripada kita kelaparan ya rampok saja bila ada kesempatan. Karena yang diatas juga maling biarlah kita maling-maling kejilan yang penting perut tidak keronjongan .
November 27th, 2008 at 11:24 pm
yang penting gw dapet duit banyak, bisa kawin lagi , korupsi lagi …. semua orang kena gw kadalin, hahahaha… orang-orang bego semua, tertipu sama ocehan gw … yusril.. yusril… bentar lagi lo masuk bui karena banyak bikin dosa…. mulut keliatan alim tapi hati busuk !!!!
November 28th, 2008 at 3:12 am
@Atas gue,
Apa hubungannya sama Ahmadiyah?? Topik soal Ahmadiyah ngelantur kemana-mana.
Ya, mungkin lo seneng bisa keluar uneg-uneg, daripada disimpan dihati nanti lama-lama jadi kanker hati. Selamat menjalani hari esok dengan modal kebencian ini, semoga hari-hari lo menyenangkan.
November 28th, 2008 at 10:15 am
#215 Penjilat korup
Dari cara anda berkomentar, kesimpulan saya :
1. Pendidikan anda sangat rendah
2. Anda Jarang beribadah (apapun agama anda)
3. Bila diajak berbicara tdk pernah nyambung
4. Hati anda selalu kotor dan penuh kebencian kesemua orang
December 26th, 2008 at 9:13 pm
Wow…inspiratif banget Pak…thank berat…nambah wawasan nih
Regards,
http://www.batikoke.com – Batik ekslusif harga miring banget
March 24th, 2009 at 5:51 pm
asalumualaikum wr wb
Sebenar nya kalau kita mengaku orang islam dan menjujung akhlak nabi muhammad saw apakah pantas kita sebagai orang yang masih belum sempurna berani mengatakan ( sesat ) sungguh hebat nya perkataan itu di ucapakan dari mulut orang yang sering ibadah, shalat, dan sungguh sedih nya kita harus membenci suatu ajaran tsb.
cobalah sebelum kita ucapakan hal tersebut kita padang kita sendiri agama yang dianut sendiri apakah kalian merasa sudah sempurna untuk segela nya, tolong jawab hati nurani anda. sesempurna siapakah diri anda, atau agama anda.
May 3rd, 2009 at 2:38 pm
bila ada seseorang mengatakan saya islam, hak apa kita mengatakan dia bukan islam? apa kita harus memaksanya dia itu keluar dari islam ? merusak islam , menginjak nginjak islam katanya. apa untuk menjaga kesucian islam alloh swt memerlukan bantuan kita? ah saya mah ngak ngerti.
banyak kenalan dengan orang ahmadiyah, tapi ternyata jauh berbeda dengan apa yang dikatakan orang2, kebanyakan ngak tau apa ahmadiyah itu, taunya dari katanya. apakah kita berdusta dengan mengatakan islam itu benar, inilah kebanyakan kiyai kiyai saat ini. terus terang dengan gencarnya penistaan terhadap ahmadiyah, saya bertambah jadi 5xsimpatik dari sebelumnya. andaikata kalian tau benar tentang ahmadiyah, maka penyesalan yang akan kalian dapatkan, saya mempelajari ahmadiyah sudah lama.
May 5th, 2009 at 1:25 am
mari kita bangun diri kita sendiri melalui keyakinan kita agama islam. berikan contoh islam agama yang damai penuh toleransi, dan mencintai sesama manusia. masalah ahmadiyah kenapa harus buat agama sendiri ? kalau dia mengakui islam, kata sdr arif apa haknya kita mengusir dia dari islam, toh perbedaan cuma masalah penafsiran aja kan ? kata pa ustad yang saya tau, di akhir zaman akan turun nabi isa. berarti pintu nabi tdk tertutup kan ? apa andai nabi isa datang, nama nabi nya akan dilepas ? jadi bukan nabi isa lagi, apa diganti dengan kiyai isa atau ustad isa ?
udahlah jangan saling mengkafirkan saling menyesatkan dll, benci aku. toh yang ngomong begitu belum pasti masuk surga, apa bang yusril yakin masuk surga atau dg menyalahkan orang dijamin masuk surga. kalau ngak salah surga it hak perogratif alloh. apalagi sambil berteriak alloh hu akbar sambil menghancurkan tempat ibadah. ih ngeri saya kalau orang2 yang mengaku islam demikian.
June 12th, 2009 at 3:56 pm
Allah memberikan petunjuk kepada orang-orang beriman agar menghindari sikap merendahkan, mengolok-olok, mencela dan memanggil dengan panggilan yang buruk. Panggilan buruk ialah gelar-gelar yang tidak disukai oleh orang yang digelari dengan gelar itu, seperti panggilan kepada seseorang yang sudah beriman dengan kata-kata: hai fasik, hai kafir dan sebagainya.
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mencemoohkan kaum lain, mungkin mereka (yang dicemoohkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mencemoohkan), dan janganlah wanita mencemoohkan wanita lain, mungkin mereka (yang dicemoohkan) itu lebih baik daripada mereka (yang mencemoohkan), dan janganlah kamu memburuk-burukkan di antara kamu, begitu pula jangan panggil-memanggil dengan nama buruk. Seburuk-buruk nama adalah fasik sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang aniaya.” (Surah Al-Hujurat (49): 12)
Ayat diatas menyebutkan beberapa keburukan sosial, yang menyebabkan ketidakserasian, pertentangan dan perselisihan yang dengan menghindarinya tercipta keserasian, keakraban, dan kerjasama yang baik di antara orang-orang Muslim secara individu atau golongan. Cara dakwah Islam dengan mencap ‘sesat dan menyesatkan’, ‘Jaringan Iblis Laknatullah’, ‘keluar dari Islam’ dan sebagainya tidak mendapat justifikasi dari Alquran. Bisa jadi apa yang dituduhkan berbalik kepada si penuduh yakni, mereka yang memenuhi kualifikasi sesat, iblis dan keluar dari Islam.
Mungkin ada anggapan bahwa ayat ini khusus ditujukan kepada sesama orang yang beriman atau mukmin artinya tidak diterapkan kepada selain mereka sehingga memulai mengolok-olok, mencela dan memanggil dengan nama buruk kepada orang-orang yang dianggap sesat, salah bahkan menentang Islam dibenarkan.
Anggapan ini tidak tepat dengan beberapa argumentasi. Pertama, ada ayat Alquran lain yang menyebutkan cara berdakwah bil hikmah (dengan kebijaksanaaan), mau’izhah hasanah (nasihat yang indah) dan jadilhum billati hiya ahsan (berdebat dengan cara sebaik-baiknya) sebagaimana dapat dibaca dalam Surah An-Nahl,16:126.
Kedua, sekalipun ada ayat Alquran menyebut kafir kepada orang yang menuhankan Isa dan menolak para nabi namun tidak ada tradisi atau sunnah dari Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam pergaulan sehari-hari untuk memanggil mereka kaum sesat menyesatkan, orang-orang kafir dan lain sebagainya.
January 28th, 2010 at 12:03 pm
Nice article….:)
July 31st, 2010 at 1:33 am
Sudahlah, gak usah bicara ttg pak Yusril, belum tentu kita tau duduk masalahnya, jangan ikut2an membenci orang dan bila perlu tanamkan dalam diri anda “APAKAH DIRI INI SUDAH BENAR KOK BERANI BENAR MENGHUJAT DAN MENILAI DIRI ORANG”