Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Kemarin, usai acara diskusi “Konstruksi Kepemimpinan Menuju Kebangkitan Nasional” yang diselenggarakan Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) di Jakarta Media Center, saya ditanya oleh sejumlah wartawan mengenai Ahmadiyah, sehubungan dengan
rencana diterbitkannya Surat Keputusan Bersama (SKB) Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, yang kini tengah menjadi berita hangat media massa di tanah air. Waktu itu saya menjawab, yang harus diterbitkan bukanlah sebuah SKB karena istilah itu sudah tidak dikenal lagi dengan diundangkannya UU Nomor 10 Tahun 2004. Istilah yang benar ialah Peraturan Menteri. Apakah Peraturan itu dikeluarkan sendiri-sendiri oleh menteri atau pejabat setingkat menteri, atau secara bersama-sama, semuanya tergantung kepada kebutuhan materi yang ingin diatur. Istilah Keputusan, dengan berlakunya UU Nomor 10 Tahun 2004, hanya digunakan untuk sebuah penetapan, seperti pengangkatan dan pemberhentian seseorang dalam jabatan, bukan sesuatu yang berisi norma yang bersifat mengatur.
Beberapa jam setelah saya menjawab pertanyaan wartawan di atas, beredar berita melalui SMS bahwa saya sama saja dengan Adnan Buyung Nasution yang menentang SKB tentang Ahmadiyah. Hal inilah yang mendorong saya untuk menulis artikel ini, melengkapi apa yang sudah diberitakan oleh beberapa media, antara lain Detik.Com kemarin, Republika, Indopos dan The Jakarta Post hari ini. Saya menegaskan bahwa saya bukannya tidak setuju dengan SKB itu, tetapi bentuk peraturan hukum yang diterbitkan ialah Peraturan Bersama, bukan Surat Keputusan Bersama. Memang istilah Keputusan Bersama dicantumkan dalam Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965, tetapi setelah berlakunya UU Nomor 10 Tahun 2004, maka istilah Peraturan Bersama lebih sesuai untuk digunakan. Dengan penjelasan ini, mudah-mudahan segala kesalahpahaman akibat pemberitaan sepotong-sepotong, dapat dijernihkan.
Pendapat saya tentang Ahmadiyah sebenarnya tegas saja. Bagi saya, seseorang masih dapat dikatakan seorang Muslim, apabila dia berpegang teguh dan berkeyakinan sejalan dengan prinsip akidah Islam, yakni La Ilaha illallah Muhammadur Rasulullah. Tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasulullah. Tentang Muhammadur Rasulullah itu tegas pula dianut prinsip, bahwa sesudah beliau tidak ada lagi rasul dan nabi yang lain. Kalau mengakui bahwa Mirza Ghulam Ahmad (lihat gambar) adalah nabi sesudah Nabi Muhammad s.a.w, saya berpendirian bahwa keyakinan tersebut sudah menyimpang dari pokok akidah Islam. Karena itu, lebih baik jika penganut Ahmadiyah itu menyatakan diri atau dinyatakan sebagai non-Muslim saja. Dengan demikian, hak-hak konstitusional mereka di negara Republik Indonesia ini tetap sah dan diakui. Saya memberikan contoh di Pakistan, para penganut Ahmadiyah –lebih khusus disebutkan kelompok Ahmadiyah Qadian atau Qadiani — yang tegas-tegas digolongkan sebagai minoritas bukan Muslim atau “Non Muslim minority”. Sebab itu Konstitusi Pakistan menetapkan bahwa mereka mempunyai wakil di Majelis Nasional Pakistan yang diangkat untuk mewakili golongan minoritas.
Dalam agama Islam memang diakui keberadaan mazhab-mazhab, yakni berbagai aliran penafsiran baik di bidang Ilmu Kalam, Fiqih dan Tasawwuf. Namun perbedaan penafsiran itu tidaklah sampai mempertentangkan pokok-pokok ajaran Islam, melainkan detil-detilnya. Dalam Kalam misalnya, tafsiran kaum Muktazilah dengan kaum Asy’ariyyah tentang al-Qada wal-Qadar, walau berbeda namun tetap dalam batas-batas yang sejalan dengan pokok-pokok akidah. Demikian pula halnya mazhab-mazhab fiqih, adalah perbedaan dalam menafsirkan kaidah-kaidah hukum sebagaimana termaktub di dalam al-Qur’an dan al-Hadits yang tidak menyimpang dari asas-asas syariah. Dalam Tasawwuf, para aliran sufi saling berbeda persepsi mengenai cara-cara berdzikir dalam mendekatkan diri kepada Allah. Namun dalam hal akidah yang pokok, tak ada perbedaan yang prinsipil di antara aliran-aliran tasawwuf. Adapun meyakini bahwa masih ada seorang nabi setelah Nabi Muhammad s.a.w, jelaslah menyalahi prinsip akidah Islam. Sebab itulah, Rabithah al-Alam al-Islami dan Organisasi Konfrensi Islam (OKI) telah lama mengeluarkan pernyataan bahwa Ahmadiyah (Qadian) adalah golongan yang telah keluar dari Islam. Pemerintah Arab Saudi juga melarang penganut Ahmadiyah (Qadian) menunaikan ibadah haji. Majelis Ulama Indonesia pada tahun 1984 juga telah menerbitkan fatwa bahwa Ahmadiyah adalah aliran sesat yang telah keluar dari Islam.
Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia sebenarnya telah dimulai sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Sebagai sebuah perkumpulan, Ahmadiyah Indonesia telah pula mendapat status badan hukum yang disahkan Kementerian Kehakiman pada tahun 1950-an. Namun aktivitas gerakan ini sampai sekarang meresahkan bagian terbesar Umat Islam di Indonesia. Tempat ibadah mereka disebut “mesjid” juga. Sementara di samping al-Qur’an, mereka juga menggunakan Kitab Tadzkirah sebagai pegangan dalam keyakinan mereka, khususnya tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad serta ajaran-ajarannya. Sebab itu tidak mengherankan jika berbagai ormas Islam mendesak Pemerintah untuk melarang gerakan Ahmadiyah ini sejak lama. Dalam beberapa bulan terakhir ini isyu Ahmadiyah kembali mencuat dan tindak kekerasan terjadi di berbagai tempat. Dalam konteks inilah, wacana keluarnya “SKB” muncul ke permukaan.
Apakah dasar hukum yang diinginkan agar Pemerintah melarang keberadaan Gerakan Ahmadiyah itu? SKB yang menjadi bahan pembicaraan itu bersumber pada Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 yang oleh Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1969 ditetapkan menjadi undang-undang. Dalam undang-undang ini disebutkan “Setiap orang dilarang dengan sengaja di muka umum menceritakan, menganjurkan atau mengusahakan dukungan umum, untuk melakukan penafsiran tentang sesuatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan-kegiatan keagamaan dari agama itu; penafsiran dan kegiatan mana menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu (Pasal 1). Selanjutnya dalam Pasal 2 disebutkan bahwa bagi mereka yang melakukan kegiatan seperti itu, diberi “perintah dan peringatan keras” untuk menghentikan kegiatannya. Perintah itu dikeluarkan oleh Menteri Agama, Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri dalam bentuk “Keputusan Bersama”. Apabila kegiatan itu dilakukan oleh sebuah organisasi maka “Presiden Republik Indonesia dapat membubarkan organisasi itu dan menyatakan organisasi atau aliran tersebut sebagai organisasi/aliran terlarang, satu dan lain setelah Presiden mendapat pertimbangan dari Menteri Agama, Menteri/Jaksa Agung dan Menteri Dalam Negeri”. Apabila orang/organisasi tersebut telah diberi peringatan atau dibubarkan dan dilarang oleh Presiden, namun tetap membandel, maka kepada mereka dapat dituntut pidana dengan ancaman hukuman penjara selama-lamanya lima tahun. Dengan UU Nomor 1/PNPS/1965 ini pula, ketentuan Pasal 156 KUHP ditambah dengan Pasal 156a yang antara lain berbunyi “Dipidana dengan pidana penjara selama-lamanya lima tahun barangsiapa dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan: yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap sesuatu agama yang dianut di Indonesia”.
Nah, kalau membaca dengan cermat isi UU Nomor 1/PNPS/1965 di atas, maka keliru kalau ada yang meminta Pemerintah — dalam hal ini Menteri Agama, mendagri dan Jaksa Agung — untuk menerbitkan “SKB “untuk melarang Ahmadiyah. “SKB” hanya dapat memberikan perintah dan peringatan keras kepada orang perorangan yang melanggar ketentuan Pasal 1 UU tersebut. Kalau Ahmadiyah sebagai sebuah gerakan/perkumpulan/organisasi, maka yang dapat membubarkan dan melarangnya bukan Menteri Agama, Menteri Dalam Negeri dan Jaksa Agung, tetapi Presiden Republik Indonesia. Jadi permintaan harus disampaikan kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, bukan kepada Muhammad Maftuch Basyuni, Mardiyanto dan Hendarman Supanji.
Ada kalangan yang berpendapat bahwa UU Nomor 1/PNPS/1965 itu sudah ketinggalan zaman, tidak sejalan dengan hak asasi manusia, demokrasi dan bertentangan dengan UUD 1945 hasil amandemen. Sebagai tafsiran dan pendapat boleh-boleh saja. Pendapat yang sebaliknya juga ada, namanya saja tafsir dan pemahaman. Namun hingga kini keberadaan undang-undang tersebut sebagai kaidah hukum postif secara formal masih berlaku, sebab belum pernah diubah atau dicabut oleh Presiden dan DPR. Mahkamah Konstitusi sampai kini juga belum pernah membatalkan undang-undang itu dan menganggapnya bertentangan dengan UUD 1945 dalam permohonan uji materil. Jadi Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 itu sah sebagai undang-undang yang berlaku. Bahwa sampai sekarang dua menteri dan Jaksa Agung belum juga menerbitkan “SKB” dan Presiden belum juga mengeluarkan Peraturan Presiden membubarkan dan sekaligus melarang organisasi/perkumpulan Ahmadiyah, semuanya itu tergantung kepada kemauan dan keberanian politik mereka itu. Walaupun konon, anggota Wantimpres Adnan Buyung Nasution menentang, namun nasehat anggota Wantimpres, bahkan Wantimpres sebagai sebuah lembaga, tidaklah mengikat Presiden. Jangankan hanya Adnan Buyung Nasution, nasehat seluruh anggota Wantimpres dapat diabaikan Presiden, kalau Presiden berpendapat lain. Saya dengar rapat mengenai Ahmadiyah ini telah beberapa kali dilakukan oleh beberapa menteri yang dipimpin Presiden dan juga dihadiri anggota Wantimpres. Namun hingga kini, kita belum tahu keputusan apa yang akan diambil, baik oleh Manteri Agama, Mendagri dan Jaksa Agung, maupun oleh Presiden sendiri. Reaksi atau komentar Presiden atas soal Ahmadiyah ini belum terdengar. Ini beda dengan reaksi beliau yang cukup cepat terhadap isyu poligami yang dilakukan Aa Gim, walau hal itu lebih bersifat personal Aa Gim. Perbedaan tafsir mengenai poligami masuk ke dalam bidang fikih Islam. Masalahnya tidak menyangkut akidah, dibanding dengan isyu Ahmadiyah yang kini menyita banyak perhatian umat Islam, politisi dan aktivis hak asasi manusia di tanah air, bahkan gemanya jauh ke mancanegara.
Wallahu’alam bissawwab
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — May 9th, 2008
213 tanggapan untuk “SKB TENTANG AHMADIYAH”
Pages: « 1 2 3 [4] 5 6 7 8 » Show All
atmaja (komentar #91)
Bang YIM ,Bubarkan Ahmadiyah merupakan penghormatan terhadap HAM umat muslim Indonesia.
May 18th, 2008 at 11:28 pm
Buntut kasus Ahmadiyah: Usul PNPS Penodaan Agama Dicabut « Shariah @ National Law (komentar #92)
[...] SKB dan Positivisme Hukum Lihat Yusril Ihza Mahendra: “Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 itu sah sebagai undang-undang yang [...]
May 19th, 2008 at 8:41 am
Mohammad Natsir (komentar #93)
Assalammu’alaikum wr wb.
How are you Today Bang Yusril ? I hope you always be fine…:)
I have no comments about your “SKB TENTANG AHMADIYAH”
but, i really would like to know your ‘political view’ about the hottets issue ‘kenaikan harga BBM”.
Thanks be4…
Wassalammu’alaikum wr. wb.
May 19th, 2008 at 11:32 am
Hermansyah (komentar #94)
suatu pencerahan dari penjelasan pak yusril tetang masalah ahmadiyah, sekarang tinggal secepatnya pemerintah mengambil sikap dengan segera mengeluarkan satu aturan mengenai keberadaan ahmadiyah sebagai suatu keyakinan yang tidak mengatas namakan sebagai agama islam wasalam
May 19th, 2008 at 3:37 pm
Imran (komentar #95)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Kesehatan, Taufik, Hidayah dan Karunia kepada Bang YIM dan keluarga, Amin.
Bang YIM, adanya Pro dan Kontra tentang JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dikarenakan adanya Perbedaan Penafsiran arti dari “Khataman Nabiyyin” antara JAI dan MUI khususnya, terutama masalah “Adanya Pintu Kenabian setelah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”.
Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASHADUALLAILLAHAILLALAH WAASHADUANNA MUHAMMADARRASULULULLAH (Aku bersaksi, Tiada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tazkirah), yakin akan Rukun Iman dan Rukun Islam, ber-Haji ke Mekkah, Shalat menghadap Kiblat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Mesjid nama tempat ibadahnya.
Disamping itu yang saya tahu bahwa organisasi ini adalah organisasi yang murni Religius, mengajarkan masalah kemurnian agama Islam, tentang Indahnya Islam yang penuh damai, sarat dengan ibadah dan Doa, serta mengajarkan tentang kecintaannya kepada Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang PALING SEMPURNA, yang PALING MULIA dari antara semua Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT, (sangat jauh dari urusan duniawi, politik dan kekuasaan).
Disatu sisi, JAI berkeyakinan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah seorang Imam Mahdi, Nabi Isa as. yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Melalui ucapan Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW. 1400 tahun yang lalu, bahwa diakhir zaman, Nabi Isa as. akan di utus oleh-Nya untuk memperbaiki akhlak manusia yang telah terbang jauh ke Bintang Suraya dan mengembalikan kemurnian Ajaran Agama Islam yang Sejati dan me-Menang-kan Agama Islam diatas Agama-Agama yang lain di pelosok Dunia Timur-Barat-Selatan-Utara.
Karena Allah SWT telah berjanji bahwa akan memelihara Kemurnian Alquran dan Agama Islam, tidak seperti kitab suci dan Agama yang lain yang telah diturunkan sebelum masa Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, dimana kemurniannya telah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Bang YIM, sebagai Orang Islam Intelektual, mau meng-kaji Alquran bukan hanya berdasarkan pendapat MUI atau Ulama Pakistan atau Rabitah saja, sebab mereka juga manusia, penafsiran mereka tentang “Khataman Nabiyyin” belum tentu benar., menurut saya yang terbaik adalah Kita harus kembali kepada Alquran dan Hadist.
Harapan saya pribadi, ada sejenis Diskusi atau Dialog secara terbuka, diikuti oleh perwakilan Organisasi Ahmadiyah, dan Organisasi Islam besar, yaitu MUI, NU dan Muhamadiyah disertakan pula Pihak Netral (sebagai Moderator), dimana Bahan Diskusi ini harus kembali kepada Kitab Suci Alquran dan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW. Khusus membahas Tafsir Khataman Nabiyyin dan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as. Yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Karena tanpa Diskusi berbahan Alquran dan Hadist, hanya berdasarkan kata MUI, Ulama Pakistan, Rabitah, yang merekapun manusia biasa sementara seolah-olah tafsir merekalah yang paling benar sehingga MUI dengan ringannya mengeluarkan “fatwa sesat” dan diprovokasikan ke masyarakat umum yang sebenarnya mereka tidak tahu-menahu akan arti “Khataman Nabiyyin” yang sebenarnya, serta kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as yang telah dijanjikan kedatangannya, sementara hanya Allah SWT lah yang berhak menentukan “siapa yang sesat, siapa yang benar”, karena kita hanya manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Mudah-mudahan Diskusi dan Dialog itu bisa terealisasi, Semoga Allah SWT dapat membukakan kebersihan hati kita semua dan mudah-mudahan kita dapat menemukan Kebenaran yang Sejati serta mudah-mudahan dapat meluruskan silang pendapat yang selama ini terjadi antara JAI dan MUI serta Umat Islam umumnya, Amin.
Islam adalah Rahmatul Alamin, mengajarkan kedamaian dan ketentraman, menjaga keharmonisan hubungan Hablumminallah dan hablumminannas.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 19th, 2008 at 6:12 pm
Imran (komentar #96)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa memberikan Kesehatan, Taufik, Hidayah dan Karunia kepada Bang YIM dan keluarga, Amin.
Bang YIM, adanya Pro dan Kontra tentang JAI (Jemaat Ahmadiyah Indonesia) dikarenakan adanya Perbedaan Penafsiran arti dari “Khataman Nabiyyin” antara JAI dan MUI khususnya, terutama masalah “Adanya Pintu Kenabian setelah Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”.
Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tadzkirah), yakin akan Rukun Iman dan Rukun Islam, ber-Haji ke Mekkah, Shalat menghadap Kiblat, berpuasa di bulan Ramadhan dan Mesjid nama tempat ibadahnya.
Disamping itu yang saya tahu bahwa organisasi ini adalah organisasi yang murni Religius, mengajarkan masalah kemurnian agama Islam, tentang Indahnya Islam yang penuh damai, sarat dengan ibadah dan Doa, serta mengajarkan tentang kecintaannya kepada Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW sebagai Nabi yang PALING SEMPURNA, yang PALING MULIA dari antara semua Nabi yang telah diutus oleh Allah SWT, (sangat jauh dari urusan duniawi, politik dan kekuasaan).
Disatu sisi, JAI berkeyakinan bahwa Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. adalah seorang Imam Mahdi, Nabi Isa as. yang telah dijanjikan oleh Allah SWT. Melalui ucapan Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW. lebih dari 1400 tahun yang lalu, bahwa diakhir zaman, Nabi Isa as. akan di utus oleh-Nya untuk memperbaiki akhlak dan keimanan manusia yang telah terbang jauh ke Bintang Suraya dan mengembalikan kemurnian Ajaran Agama Islam yang Sejati dan me-Menang-kan Agama Islam diatas Agama-Agama yang lain di seluruh pelosok Dunia Timur-Barat-Selatan-Utara.
Karena Allah SWT telah berjanji bahwa akan memelihara Kemurnian Alquran dan Agama Islam, tidak seperti kitab suci dan Agama yang lain yang telah diturunkan sebelum masa Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, dimana kemurniannya telah tercemar oleh tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
Mudah-mudahan Bang YIM, sebagai Orang Islam Intelektual, mau meng-kaji Alquran bukan hanya berdasarkan pendapat MUI atau Ulama Pakistan atau Rabitah saja, sebab mereka juga manusia, penafsiran mereka tentang “Khataman Nabiyyin” belum tentu benar., menurut saya yang terbaik adalah Kita harus kembali kepada Alquran dan Hadist. (Maknanya tidak saling bertentangan dengan ayat-ayat Alquran lainnya).
Harapan saya pribadi, ada sejenis Diskusi atau Dialog secara terbuka, diikuti oleh perwakilan Organisasi Ahmadiyah, dan Organisasi Islam besar, yaitu MUI, NU dan Muhamadiyah disertakan pula Pihak Netral (sebagai Moderator), dimana Bahan Diskusi ini harus kembali kepada Kitab Suci Alquran dan Hadist Nabi Besar Muhammad SAW. Khusus membahas Tafsir Khataman Nabiyyin dan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as. Yang dijanjikan oleh Allah SWT.
Karena tanpa Diskusi berbahan Alquran dan Hadist, hanya berdasarkan kata MUI, Ulama Pakistan, Rabitah, yang merekapun manusia biasa sementara seolah-olah tafsir merekalah yang paling benar sehingga MUI dengan ringannya mengeluarkan “fatwa sesat” dan diprovokasikan ke masyarakat umum yang sebenarnya mereka tidak tahu-menahu akan arti “Khataman Nabiyyin” yang sebenarnya, serta kaitannya dengan kedatangan Imam Mahdi, Nabi Isa as yang telah dijanjikan kedatangannya, sementara hanya Allah SWT lah yang berhak menentukan “siapa yang sesat, siapa yang benar”, karena kita hanya manusia biasa yang penuh dengan kelemahan.
Mudah-mudahan Diskusi dan Dialog itu bisa terealisasi, Semoga Allah SWT dapat membukakan kebersihan hati kita semua dan mudah-mudahan kita dapat menemukan Kebenaran yang Sejati serta mudah-mudahan dapat meluruskan silang pendapat yang selama ini terjadi antara JAI dan MUI serta Umat Islam umumnya, Amin.
Islam adalah Rahmatul Alamin, mengajarkan kedamaian dan ketentraman, menjaga keharmonisan hubungan Hablumminallah dan Hablumminannas.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 20th, 2008 at 9:35 am
Pengagum pak YIM (komentar #97)
@ imran.
Allah SWT. Telah berjanji melalui ucapan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, bahwa setelah beliau SAW wafat, untuk menjaga kemurnian Alquran dan Agama Islam, akan diutus “Seorang Mujaddid” setiap 100 tahun sekali sebagai “Pembaharu” ajaran Islam, (karena walaupun Alquran dan Agama Islam merupakan agama yang sempurna, akan tetapi, umat-nya dengan beragam pemikiran yang berbeda-beda, sehingga tanpa ada “Utusan” dari Allah SAW, Agama Islam akan bernasib sama dengan kaum-kaum sebelum datangnya Yang Mulia Nabi Besar SAW) dan puncaknya, diakhir zaman, akan diutus Imam Mahdi, Nabi Isa as. Untuk meraih Kemenangan Kebenaran, mengembalikan Kemurnian Ajaran Agama Islam seperti yang telah diajarkan oleh Yang Mulia Nabi besar Muhammad SAW.
mohon penjelasan :
1. baca buku apa sebagai rujukan, saya kok jadi ingin baca juga.?
2. apakah yang dimahsud dengan pembaharu dalam islam itu harus dengan membawa kitab suci baru ?
@Sementara Ajaran JAI Dasar Islamnya, sama dengan umat Islam lain yaitu bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah), mempuyai Kitab Suci Alquran (bukan Tadzkirah)
lalu kitab tadzkirahnya buat apa mas?
May 20th, 2008 at 12:20 pm
Yoyo (komentar #98)
Khutbah Terakhir Nabi Muhammad SAW
Rasulullah SAW bersabda:
“Semua dosa akan ditangguhkan oleh Allah SWT sampai hari Kiamat nanti apa saja yang Dia kehendaki, kecuali durhaka kepada orang tua, maka sesungguhnya Allah akan menyegerakan kepada pelakunya dalam hidupnya
sebelum meninggal dunia” (Hadist Riwayat Hakim)
Disampaikan pada 9 Dzulhijjah 10 H di Lembah Uranah, Arafah.
Ya, saudara-saudaraku, perhatikan apa yang akan aku sampaikan, aku tidak tahu apakah tahun depan aku masih berada di antara kalian. Karenanya dengarkan baik-baik apa yang kukatakan ini dan sampaikan kepada mereka yang
tidak dapat hadir saat ini.
Ya, saudara-saudaraku, seperti kita ketahui, bulan ini, hari ini dan kota ini adalah suci, karenanya pandanglah kehidupan dan milik, setiap orang Muslim sebagai kepercayaan yang suci.
Kembalikan barang-barang yang dipercayakan kepadamu kepada pemilik yang sebenarnya. Jangan kau lukai orang lain sebagaimana orang lain tidak melukaimu.
Ingatlah bahwa kamu akan bertemu dengan Allah SWT dan Dia akan memperhitungkan amalanmu dengan sebenar-benarnya.
Allah SWT telah melarangmu memungut riba, karenanya mulai saat ini dan untuk seterusnya kewajiban membayar riba dihapuskan. Waspadalah terhadap syaitan, demi keselamatan Agamamu. Dia telah kehilangan semua harapannya untuk membawa kalian pada kesesatan yang nyata, tapi waspadalah agar tidak terjebak pada tipuan halusnya.
Ya, saudara-saudaraku, adalah benar kamu mempunyai hak tertentu terhadap isteri-isterimu, tapi mereka juga mempunyai hak atas dirimu. Apabila mereka mematuhi hakmu maka mereka memperoleh haknya untuk mendapat makanan dan pakaian secara layak.
Perlakukanlah isteri-isterimu dengan baik dan bersikaplah manis terhadap mereka, karena mereka adalah pendampingmu dan penolongmu yang setia. Dan adalah hakmu untuk melarang mereka berteman dengan orang-orang yang tidak kamu sukai, dan juga terlarang melakukan perzinahan.
Ya, saudara-saudaraku, dengarkanlah baik-baik, sembahlah Allah, Shalat lima kali dalam sehari, laksanakan Puasa selama bulan Ramadhan dan tunaikanlah Zakat, laksanakan ibadah Haji bila mampu.
Ketahuilah bahwa sesama Muslim adalah bersaudara. Kamu semua adalah sederajat.
Tidak ada perbedaan satu terhadap yang lain kecuali Ketaqwaan dan Amal Shalih.
Ingatlah, suatu hari kamu akan menghadap Allah dan harus mempertanggung jawabkan semua amalanmu. Karena itu berhati-hatilah jangan menyimpang dari jalan kebenaran setelah kepergianku nanti.
Ya, saudara-saudaraku, tidak akan ada Nabi atau Rasul sesudahku dan tidak akan ada agama lain yang lahir. Karenanya simaklah baik-baik ya Saudaraku, dan pahamilah kata-kata yang kusampaikan kepadamu, bahwa aku meninggalkan dua pusaka, Al-Qur’an dan contoh-contohku sebagai As-Sunnah dan bila kalian
mengikutinya tidak mungkin akan tersesat.
Siapa yang mendengarkan perkataanku ini wajib menyampaikannya kepada yang lain dan seterusnya dan mungkin yang terakhir memahami kata-kataku ini bisa lebih baik dari yang langsung mendengarkan.
Demi Allah aku bersaksi, bahwa aku telah menyampaikan ajaran-Mu kepada umat-Mu ya Allah.
May 20th, 2008 at 1:56 pm
Imran (komentar #99)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW bersabda dalam Kitab Hadist Abu Daud Jilid II, halaman 21 dan Misykat halaman 36, artinya :
“Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : Sesungguhnya Allah SWT akan mengirimkan untuk umat ini pada permulaan setiap abad seorang (mujadid) yang akan memperbaiki keadaan umat”.
Rasulullah SAW bersabda dalam Hadist Ad-Darul Qutni, Jilid 1, halaman 188, artinya :
“Sesungguhnya untuk Mahdi kami ada dua tanda yang belum pernah terjadi sejak saat Langit dan Bumi diciptakan : Gerhana Bulan akan terjadi dalam malam pertama dalam Bulan Ramadhan dan Gerhana Matahari akan terjadi pada pertengahannya”.
Pada tahun 1890, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1894, Allah SWT memperlihatkan Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari dalam Bulan Ramadhan untuk menyatakan kebenaran dakwa beliau, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.
TADZKIRAH
Didalam Literatur Ahmadiyah, dalam bahasa apapun, tidak akan mungkin ditemukan sebutan atau istilah Kitab Suci Tadzkirah. Istilah Kitab Suci Tdzkirah hanya rekaan yang terdapat didalam literatur-literatur dari kalangan yang Anti-Ahmadiyah untuk memberikan citra kepada khalayak ramai bahwa Naudzubillah Ahmadiyah mempunyai kitab suci tersendiri sebagai tandingan Al-Quran.
Kata Tadzkirah sendiri berarti antara lain : sebuah catatan, biografi.
Sesuai dengan judul kitab itu, di dalamnya terkandung kumpulan-kumpulan episode saat Pendiri Jemaat Ahmadiyah mendapat pengalaman-pengalaman spiritual.
Kitab Suci Jemaat Ahmadiyah adalah Kitab Suci Al-Quran, yang diturunkan oleh Allah SWT melalui Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran.
May 20th, 2008 at 3:37 pm
n. jamil ghazali (komentar #100)
Yth. Bapak Imran ..
Pada tahun 1890, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as., pendiri Jemaat Ahmadiyah, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1894, Allah SWT memperlihatkan Gerhana Bulan dan Gerhana Matahari dalam Bulan Ramadhan untuk menyatakan kebenaran dakwa beliau, Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as.
Pertanyaan :
1. Apakah sebutan as dibelakang Ghulam Ahamd berarti ‘alaihissalam, sama dengan Nabi Isa as., kalau benar demikian, maka Ghulam Ahmad itu sama atau sejajar dengan Nabi Isa as. dan tidak sama / sejajar dengan Imam Mahdi, karena Imam Mahdi tidak digunakan sebutan as.
2. Ghulam Ahmad, mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1890, sementara gerhana bulan dan matahari di bulan ramadhan terjadi pada tahun 1894. Jadi lebih dulu ‘mendakwakan diri’ nya sendiri dengan peristiwa gerhana bulan dan matahari .. Allah SWT memperlihatkan kedua gerhana tersebut sebagai ‘pernyataan kebenaran dakwah beliau’ ? apakah pernyataan Allah SWT itu, disebut dalam Tadzkirah-nya Ghulam Ahmad ? mohon penjelasan ..
terima kasih ..
May 20th, 2008 at 6:04 pm
Hairul Wz (komentar #101)
# Imran
Mas sampean (anda) selalu menyebut “Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW” dalam konteks bahasa jika ada besar bertari ada kecil jadi apakah “Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as” sebagai nabi kecil ?
buat teman2 dan bang YIM terimakasih atas pencerahannya Blog ini semakin ramai aja
bang Yim sudah saatnya ganti topik karena komentarnya sudah lebih seratus
May 21st, 2008 at 9:29 am
Imran (komentar #102)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Keberkatan, Kesehatan, Kesuksesan, Karunia, Taufiq dan Hidayah kepada Bang YIM dan kita semua, Amin.
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW, dikatakan bahwa di dunia ini terdapat 124.000 nabi.
Ada dua macam Nabi, Pertama, Tashri’i, yaitu Nabi yang membawa kitab suci serta Hukum baru, dan lazimnya mengembangkan sebuah umat. Kedua, Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang tidak membawa kitab suci dan ajaran baru, namun dikirim untuk menyegarkan kembali dan mengimplementasikan ajaran-ajaran suci yang dibawa oleh Nabi-Nabi Tashri’I sebelumnya.
Menurut Jemaat Ahmadiyah, Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dalam artian Tashri’i, karena Agama Islam adalah Agama Terakhir, Agama yang paling sempurna, sedangkan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Adalah Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Allah SWT, merupakan Nabi Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menyegarkan kembali Ajaran Agama Islam sesuai dengan yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. yang mengajarkan Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian untuk seluruh umat manusia yang ada di pelosok Dunia.
Dalam Kitab Suci Al-Quran Surah An-Nisa ayat 69-70, artinya :
“Dan barang siapa taat kepada Allah dan Rasul ini maka mereka akan termasuk diantara orang-orang yang kepada mereka Allah memberikan nikmat, yakni Nabi-Nabi, Shiddiq-Shiddiq, Syahid-Syahid, dan orang-orang Saleh. Dan mereka itulah sahabat yang sejati”.
“Ini karunia dari Allah, dan cukuplah Allah Yang Maha Mengetahui”.
Ayat diatas menerangkan semua jalur kemajuan rohani yang terbuka bagi kaum muslimin. Keempat martabat kerohanian – Para Nabi, Para Shiddiq, Para Syuhada dan Para Shalihin – semua dapat dicapai hanya dengan jalan mengikuti Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW.
Dalam Kitab Suci Al-Quran Surah Ash-Shaf ayat 6-7, artinya :
“Dan ingatlah ketika Isa Ibnu Maryam berkata,”Hai, Bani Isra’il, sesungguhnya aku Rasul Allah kepadamu membenarkan apa yang ada sebelumku yaitu Taurat, dan memberi kabar suka tentang seorang Rasul yang akan datang sesudahku namanya Ahmad” – Maka tatkala ia datang kepada mereka dengan bukti-bukti jelas, mereka berkata, “ini adalah sihir yang nyata””.
“Dan, siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, padahal ia diajak kepada Islam ? Dan Allah tidak akan memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya”.
Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. Memperjuangkan tentang indahnya Ajaran Agama Islam yang merupakan Ajaran Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian serta mempunyai misi me-Menangkan dan meng-Islamkan seluruh umat manusia yang ada di seluruh pelosok Dunia Timur, Barat, Selatan, Utara. Karena Islam merupakan Rahmatul Alamin, Agama Universal, Agama untuk seluruh umat manusia, akan tetapi, orang-orang anti-Ahmadiyah telah mem-provokasi dan mem-fitnah serta menuduh Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan Jemaatnya sebagai kaum bukan muslim.
Dalam Kitab Suci Al-Quran surah Ash-Shaf ayat 8-9, artinya :
“Mereka berkehendak memadamkan Cahaya Allah dengan mulut mereka, tetapi Allah akan menyempurnakan Cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai”.
“Dia-lah yang mengirim Rasul-Nya dengan petunjuk dan dengan agama yang benar supaya Dia memenangkannya diatas semua agama, walaupun orang musyrik tidak menyukai”.
Dalam Hadist Abu Daud, Jilid II halaman 216, artinya :
“Bahwa dalam zaman nabi Isa as. Yang dijanjikan, yakni dalam zaman Imam Mahdi as. Allah akan menghancurkan* semua agama lain kecuali agama Islam”. ( * = menghancurkan paham-paham ajarannya).
Dalam buku Tafsir Ibnu Jarir Jilid 15 halaman 72, tertulis, artinya :
Dia-lah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama benar, agar Dia memenangkannya (agama Islam) diatas segala agama yang lain, yakni kemenangan itu akan terjadi pada waktu nabi Isa as, yakni Imam mahdi as.
Dalam buku Tafsir Ibnu Jarir, Jilid 25 halaman 54 tertulis, artinya :
“Abu Hurairah ra. ditanya tentang Firman Allah SWT, “Agar Dia memenangkannya diatas segala agama lain”……
Beliau menjawab : Bahwa (kemenangan itu) akan terjadi pada waktu sudah datang Nabi Isa as. Yakni Imam Mahdi as. Saya jelaskan diatas bahwa Nabi Isa as. Itu adalah Imam Mahdi as. Sesuai dengan Sabda Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. di dalam Hadist Ibnu Majah, yang artinya :
“Tiada Mahdi kecuali Isa”
Jadi, Nabi isa as. Yang dijanjikan kedatangannya itu adalah Imam Mahdi as.
Dalam buku BIHARUL ANWAR jilid 13, halaman 24, artinya :
“Kemenangan Agama Islam akan terjadi di zaman Imam Mahdi as”.
Yang mulia Nabi Besar Muhammad SAW telah menerangkan, bahwa Imam Mahdi as. Yang akan datang namanya AHMAD, sbb :
“Hadzrat Anas ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Sebuah Jemaat akan berperang menentang India, dan jemaat itu beserta Imam Mahdi as. yang namanya AHMAD” .(Diriwayatkan oleh Bukhari dalam tarikh-nya).
Hadist tersebut telah sempurna waktu terjadi perang antara India dan Pakistan, karena murid-murid Imam Mahdi as. ikut berperang bersama tentara Pakistan melawan India.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 21st, 2008 at 10:13 am
Imran (komentar #103)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Yth. Bang N. Jamil Ghazali,
Pada tahun 1890, Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi dan pada tahun 1908, Hadzrat Mirza Gulam Ahmad as. Wafat, sementara pada tahun 1894, terjadi gerhana bulan dan matahari di bulan ramadhan, artinya fenomena alam itu terjadi mada masa kehidupan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. diantara sejak beliau as. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi sampai dengan beliau as. meninggal dunia.
Menurut saya yang lemah, fenomena alam ini adalah salah satu tanda bahwa dimasa itu Imam Mahdi telah datang dan di perkuat oleh Hadist Rasulullah SAW dalam Hadist Ad-Darul Qutni, Jilid 1, halaman 188, dan Allah SWT telah menyempurnakan atau merealisasikan Hadist tersebut melalui fenomena alam itu pada tahun 1894, dimana masa kurun waktu beliau as. menyampaikan tablighnya ke seluruh umat manusia untuk kemenangan Ajaran Agama Islam diatas agama-agama lainnya.
Mohon maaf ya Bang, kalau jawaban saya kurang tepat, karena saya pun masih berusaha terus belajar untuk mencari kebenaran.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran.
May 21st, 2008 at 11:04 am
khafidhin (komentar #104)
mudah - mudahan petunjuk dan hidayah ALLAH tetap bersama kita.
amin.
May 21st, 2008 at 11:25 am
thinkers (komentar #105)
salam.
mas imran, gak usah berdialektika lagi, pointnya sudah jelas, Ahmadiyah kalau mau eksis di Indonesia maka harus merubah nomenklatur keyakinannya-gak usah pakai islam. kalau tidak maka satu-satunya jalan adalah dilarang berkembang -dalam pandangan hukum nasional- di Indonesia. persoalan pemahaman ke agamaan, itu juga sudah jelas, selain persoalan akidah memang ada perdebatan panjang -itu hanya soal furu’ saja-. thanks.
salam
May 21st, 2008 at 12:04 pm
denie (komentar #106)
Sebagai bahan renungan yang didapat dari milis…
Ceramah cak Nun
Di milis ini kerap kita jumpai posting berbau agama. Atau perdebatan
yang menjurus pada perdebatan soal agama. Kadang perdebatannya begitu
panas. Sindir-menyindir atau ejek mengejek. Buat saya itu menyedihkan.
Saya teringat waktu lebih dari 15 tahun yang lalu belajar di Jogja.
Waktu itu, tiap Rabu malam, saya dan teman-teman memilih nglurug ke
patang puluhan, rumahnya Cak Nun, ini panggilan akrabnya penyair dan
kiai mbeling Emha Ainun Nadjib. Kita bikin forum melingkar di situ.
Biasanya kita bicara soal kesenian atau kebudayaan, tapi juga
ngobrolin soal keagamaan.
Forum itu diprakarsai oleh Sanggar Shalahuddin. Komandannya anak Solo,
Nasution Wahyudi. Ini nama asli Jawa, nggak ada hubungannya dengan
Nasution yang dari Medan. Pesertanya juga tidak cuma mahasiswa atau
pemuda yang beragama Islam. Pendek kata, pemeluk berbagai agama
berkumpul melingkar disitu.
Suatu malam, Cak Nun tanya pada kami di forum itu.
“Apakah anda semua punya tetangga?”
Wah, saya sebenarnya belum punya. Tetapi saya anak kost, tentu saja
kamar sebelah saya bisa disamakan dengan tetangga. Tetangga kost. Jadi
saya ikut-ikutan saja menjawab : “Tentu saja punya”.
Cak Nun melanjutkan bertanya : “Punya istri enggak tetangga Anda?”
Sebagian hadirin menjawab : “Ya, punya dong”. Saya diam saja. Rasanya
tetangga kost saya bujangan semua. Kebanyakan jomblo. Maklum anak
desa. Nggak pede ngajak pacaran teman kampusnya.
Yang menarik adalah pertanyaan berikutnya : “Apakah anda pernah lihat
kaki istri tetangga Anda itu? Jari-jari kakinya lima atau tujuh? Mulus
atau ada bekas korengnya ?”
Saya mulai kebingungan. Nggak ngeh sama arah pembicaraan Cak Nun.
Kebanyakan menjawab : “Tidak pernah memperhatikan Cak. Ono opo Cak?”
Cak Nun ndak peduli. Dia tanya lagi : “Body-nya sexy enggak?”
Kami tak lagi bisa menahan tertawa. Geli deh. Apalagi saya yang
benar-benar tidak faham arah pembicaraan sang Kiai mbeling itu.
Cuma Cak Nun yang tersenyum tipis. Jawabannya bagus banget. Dan ini
senantiasai saya ingat sampai hari ini. Sebuah prinsip pergaulan untuk
sebuah negeri yang memilih Pancasila : “Jadi ya begitu. Jari kakinya
lima atau tujuh. Bodynya sexy atau tidak bukan urusan kita,kan? Tidak
usah kita perhatikan, tak usah kita amati, tak usah kita dialogkan,
diskusikan atau perdebatkan. Biarin saja”.
“Kenapa cak?” salah satu teman bertanya, penasaran.
“Ya apa urusan kita ? Nah, keyakinan keagamaan orang lain itu ya
ibarat istri orang lain. Ndak usah diomong-omongkan, ndak usah
dipersoalkan benar salahnya, mana yang lebih unggul atau apapun.
Tentu, masing-masing suami punya penilaian bahwa istrinya begini
begitu dibanding istri tetangganya, tapi cukuplah disimpan didalam
hati saja”.
Saya pun menangkap apa yang dia maksudkan. Saya setuju dengan pandangan Cak Nun.
Dia melanjutkan serius : “Bagi orang non-Islam, agama Islam itu salah.
Dan itulah sebabnya ia menjadi orang non-Islam. Kalau dia beranggapan
atau meyakini bahwa Islam itu benar ngapain dia jadi non-Islam?
Demikian juga, bagi orang Islam, agama lain itu salah, justru berdasar
itulah maka ia menjadi orang Islam. Tapi, sebagaimana istri tetangga,
itu disimpan saja didalam hati, jangan diungkapkan, diperbandingkan,
atau dijadikan bahan seminar atau pertengkaran.
Biarlah setiap orang memilih istri sendiri-sendiri, dan jagalah
kemerdekaan masing-masing orang untuk menghormati dan mencintai
istrinya masing-masing, tak usah rewel bahwa istri kita lebih mancung
hidungnya karena Bapaknya dulu sunatnya pakai calak dan tidak pakai
dokter, umpamanya. Dengan kata yang lebih jelas, teologi agama-agama
tak usah dipertengkarkan, biarkan masing-masing pada keyakinannya. ”
Mengasyikkan. Saya kagum dibuatnya.
Cak Nun terus berkata : “Itu prinsip kita dalam memandang berbagai
agama. Sementara itu orang muslim yang mau melahirkan padahal motornya
gembos, silakan pinjam motor tetangganya yang beragama Katolik untuk
mengantar istrinya ke rumah sakit. Atau, Pak Pastor yang sebelah sana
karena baju misanya kehujanan, padahal waktunya mendesak, dia boleh
pinjam baju koko tetangganya yang NU maupun yang Muhamadiyah. Atau ada
orang Hindu kerjasama bikin warung soto dengan tetangga Budha,
kemudian bareng-bareng bawa colt bak ke pasar dengan tetangga
Protestan untuk kulakan bahan-bahan jualannya.Begitu. ”
Kami semua terus menyimak paparannya.
“Jadi ndak usah meributkan teologi agama orang lain. Itu sama aja anda
ngajak gelut tetangga anda. Mana ada orang yang mau isterinya dibahas
dan diomongin tanpa ujung pangkal. Tetangga-tetangga berbagai pemeluk
agama, warga berbagai parpol, golongan, aliran, kelompok, atau apapun,
silakan bekerja sama di bidang usaha perekonomian, sosial, kebudayaan,
sambil saling melindungi koridor teologi masing-masing. ”
“Kerjasama itu dilakukan bisa dengan memperbaiki pagar bersama-sama,
bisa gugur gunung membersihkan kampung, bisa pergi mancing bareng bisa
main gaple dan remi bersama. Tidak ada masalah lurahnya Muslim,
cariknya Katolik, kamituwonya Hindu, kebayannya Gatholoco, atau
apapun. Itulah lingkaran tulus hati dangan hati. Itulah maiyah,”
ujarnya.
Ketika mengatakan itu nada Cak Nun datar, nyaris tanpa emosi. Tapi
serius dan dalam. Saya menyimaknya sungguh-sungguh. Dan saya catat
baik-baik dalam hati saya. Sayangnya dunia memang tidak ideal. Di
Ambon dan Palu, misalnya saya lihat terlalu banyak orang usil
mengurusi isteri tetangganya. Begitu juga di berbagai tempat di dunia.
Di Bosnia. Atau yang paling baru di Irak dan Afghanistan. Akibatnya ya
perang dan hancur-hancuran. Menyedihkan. Sangat menyedihkan.
May 21st, 2008 at 12:15 pm
ohoi (komentar #107)
@denie
Pergaulan yg anda gambarkan itu, sebagaimana anda merujuk cak nun, itulah implementasi toleransi yg kita kenal sejak SD dulu hingga sekarang. Dalam hal beda keyakinan, yaa begitulah yang berlaku yaitu “bagimu agamamu bagiku agamaku”. Kalau Ahmadiyah berkeyakinan ada Nabi sesudah Nabi Muhammad saw, ya silahkan jadi tetangga kita sebagaimana umat Katolik atau Budha itu …
Itulah yang disarankan umat Islam Indonesia yang peduli dg ajaran agamnya.
May 21st, 2008 at 12:57 pm
andri (komentar #108)
Luar biasa, saya benar2 terbantu dengan tulisan Abang, terlalu banyak penjelasan yang tidak jelas di bumi Indonesia, pun demikian sikap para pemimpinnya, media bahkan turut dalam karut marut itu. Lucunya, sangat “Indonesia” banget, hanya dengar selentingan saja merasa sudah paling tahu, dan begitu banyak “suara sumbang” justru muncul dari orang2 yang tidak begitu kenal Abang. Saya sedih sekali tatkala orang menilai Islam itu “teroris” meski saya baru memeluk Islam saat duduk di bangku SMA kelas 3. Ternyata orang yang berpendapat seperti itu juga tidak mengenal Islam. begitu kesimpulan saya. Sama halnya ketika orang berbicara tentang Abang. Saya bersyukur, mesti hanya sesaat sempat mengenal Abang dari dekat. Sempat ngobrol langsung, sempat jamaah. Atas dasar pengenalan secara “langsung” itu saya memiliki keyakinan Abang merupakan figur yang cocok untuk jadi pemimpin. Saya sempat begitu bahagia dan bersemangat ketika Abang mencalonkan diri jadi Presiden, namun demi menjaga persatuan Umat Islam, Abang mundur. Namun ternyata orang Indonesia tetaplah orang Indonesia, dia lebih mempercayai”apa kata media” bukan melihat suatu permasalahan secara jernih. Mereka cenderung menghakimi, tanpa melakukan “cover bothside”. Oya, terkait dengan pencalonan Abang, kalau boleh jujur, mungkin tak ada salahnya sedikit belajar menjadi “orang Indonesia kebanyakan” yang suka basa-basi, n berpura-pura. Saya sangat paham karakter Abang yang malas berbasa-basi, namun itu menimbulkan prasangka seolah Abang “sombong n merasa pinter” setidaknya itulah yang dikatakan tentang Abang….belum lagi stempel “laskar orba” yang seolah sebagai “penyakit kulit” meski saya pribadi tetap berpandangan wajar karena Abang punya kemampuan maka dilirik “Pak Harto”…
May 21st, 2008 at 2:42 pm
hanyfa (komentar #109)
@ Imran
Dalam sebuah Hadist Rasulullah SAW, dikatakan bahwa di dunia ini terdapat 124.000 nabi.
Ada dua macam Nabi, Pertama, Tashri’i, yaitu Nabi yang membawa kitab suci serta Hukum baru, dan lazimnya mengembangkan sebuah umat. Kedua, Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang tidak membawa kitab suci dan ajaran baru, namun dikirim untuk menyegarkan kembali dan mengimplementasikan ajaran-ajaran suci yang dibawa oleh Nabi-Nabi Tashri’I sebelumnya.
Menurut Jemaat Ahmadiyah, Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW adalah Nabi terakhir dalam artian Tashri’i, karena Agama Islam adalah Agama Terakhir, Agama yang paling sempurna, sedangkan Hadzrat Mirza Ghulam Ahmad as. Adalah Imam Mahdi dan Nabi Isa as. Yang telah dijanjikan kedatangannya oleh Allah SWT, merupakan Nabi Ghayr Tashri’i, yaitu Nabi yang diturunkan oleh Allah SWT untuk menyegarkan kembali Ajaran Agama Islam sesuai dengan yang diajarkan oleh Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW. yang mengajarkan Kedamaian, Ketentraman dan Perdamaian untuk seluruh umat manusia yang ada di pelosok Dunia.
1. Dalam Islam tidak ada sebutan “Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW”, yang ada adalah Nabi Muhammad
Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena dalam litelatur agama Islam tidak ada sebutan Nabi Besar atau Nabi Kecil,
sebutan Nabi Besar hanya ada dalam kamus bangsa Israil. Dalam lirelatur agama mereka memang ada
pengklasifikasian nabi2. Ada Nabi Kecil, ada Nabi pertengahan dan ada Nabi Besar.
Sementara dalam Islam dengan tegas Allah menyatakan Laa Nufarriqu baiana ahadin min rusulin (Kami tidak
membeda2kan di antara satu rasul (utusan) dengan rasul2 (utusan2) yang lain);
2. Saran anda kepada bang YIM dalam menafsirkan Khataman Nabiyyin agar jangan terlalu mengikuti tafsir MUI atau
Rabithah dan Pakistan, saran saya sama anda juga dalam menafsirkan Khataman Nabiyyin jangan terlalu
mengikuti model penafsiran para pengikut Ahmadiyah, toh mereka juga manusia biasa yang peluang untuk salah
begitu terbuka lebar. Dan apakah anda tahu sejarah pendirian Ahamdiyah. Bukankah di dalamnya banyak sekali
unsur kepentingan politik penjajah Inggris yang sedang menguasai India waktu itu? Kalau benar Mirza Ghulam
Ahmad itu sebagai pembaharu, menyegarkan kembali ajaran Islam kepada aslinya seperti yang anda katakan,
mengapa MGA melarang umat Islam ketika itu untuk Jihad mengangkat senjata melawan penjajahan Inggris.
Bukankah Jihad merupakan salah satu ajaran orsinili agama Islam?
3. Islam memang sangat menganjurkan umatnya untuk memberikan rasa damai dan tentram, baik kepada sesama
umat Islam sendiri maupun dengan orang kafir, namun Islam juga mengajarkan kepada umatnya ketika ada
sementara orang, baik secara personal maupun komunal, mengobok2 fundamental ajaran Islam. Membela dan
mempertahankan kesucian dan kemurnian agama merupakan jihad fi sabilillah.
@ Denie
Islam itu agama yang sangat toleran di dunia. Islam mengajarkan tasamuh (toleransi) terhadap agama lain. Apa yang Cak Nun ilustrasikan itu memang yang dikehendaki oleh Islam. Islam tidak pernah merasa alergi dengan perbedaan, bahkan Islam sangat menghargai adanya perbedaan dan keanekaragaman karena itu bagian dari sunnatullah yang sulit kita hindari. Kami dilarang untuk mengganggu dan mengusik keyakinan penganut agama lain. Namun ketika keyakinan agama kami diusik, dosa hukumnya jika kami duduk berdiam diri dan tidak memberi pembelaan sedikitpun terhadap agama kami. Saya yakin penganut agama lain akan bereaksi sama jika ada sekelompok orang yang dengan begitu demonstratifnya mengusik ajaran agamanya. Jadi bagi kami tidak ada masalah dengan perbedaan, yang menjadi masalah adalah apakah “tetangga2″ kami itu juga mempunyai ajaran yang sama tentang toleransi? Kalo memang punya kenapa mesti terjadi pembantaian thd umat Islam di Ambon, Poso, Bosnia, Irak, Afganistan dan daerah/belahan dunia lainnya.
May 21st, 2008 at 2:58 pm
Hairul Wz (komentar #110)
@Denie
uraian anda memang betul kita tidak boleh ngurusi tetangga mau jari kakinya lima atau tujuh tapi dalam hal kasus Ahmadiyah konteksnya beda bukan konflik antar tetangga tetapi orang yang mengaku keluarga namun tidak sesuai dengan prinsip dasar rumah tangga yang diikuti
anda boleh bertetangga dengan siapa saja, agama apa saja suku apa saja dan bisa saling menghormati tapi bagai mana jika ada orang yang mengku saudara anda namun tidak pernah sepaham dengan anda dan selalu berbuat yang tidak mengenakkan anda tapi ingain selalu satu rumah dengan anda, bagai mana pendapat anda terhadap orang ini apakah anda menerimanya sebagai angota keluarga atau menyarankan dia agar mencari rumah lain biarlah bertetangga saja
@imran
diantara tugas imam mahdi adalah membunuh Dajjal dan akan mematahkan salib kalau memang MGA adalah imam mahdi siapa dajjalnya ? dan kenapa sampai sekarang banyak orang yang belum beriman kepada Allah SWT sedang MGA sendiri sudah wafat. apakah nanti ada imam mahdi lagi ?
May 22nd, 2008 at 8:43 am
Zulfaisal Putera (komentar #111)
Sebagai sesama umat manusia, aku prihatin dengan yang dialami warga ahmadiyah setahun terakhir ini. Namun, sebagai muslim, aku kecewa dengan Ahmadiyah yang masih bermuka dua dalam pengakuan kerasullannya dan kitab suci. Jika memperhatikan bahwa pemerintah sebenarnya sudah cukup bersabar - untuk tidak dikatakan melalaikan - membiarkan Ahmadiyah tumbuh dan berkembang. Sementara, di negara muslim lain, Ahmadiyah dilarang dan dicegah tumbuh dan berkembang.
Berbagai pendekatan pun sudah dilakukan oleh berbagai pihak, baik pemerintah, lembaga-lembaga keagamaan, dan lembaga-lembaga sosial, agar Ahmadaiyah menyadari kekeliruannya. Tinggal dua pilihan, apakah kembali ke jalan islam yang benar atau ke luar dari Islam dan membentuk agama baru. Namun, tampaknya Ahmadiyah masih memainkan peran sesuai kepentingannya.
Sekarang, palu putusan tinggal di tangan presiden. Jika SKB 3 menteri tidak punya kekuatan memberangus, maka SBY selaku presiden harus mengeluarkan keputusan melarang. Selanjutnya tinggal aparat hukum yang akan mengambil tindakan.
Apa yang Pak YIM sampaikan sudah sangat proposional.
Semoga masih ada cahaya kebenaran yang bersinar di bumi Indonesia ini.
Tabik!
May 22nd, 2008 at 12:21 pm
Teguh Aditya (komentar #112)
emangnya ahmadiyah masih banyak ya umatnya :)
May 22nd, 2008 at 4:29 pm
Imran (komentar #113)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Semoga Allah SWT senantiasa melimpahkan Keberkatan, Kesehatan, Kesuksesan, Karunia, Taufiq dan Hidayah kepada Bang YIM dan kita semua, Amin.
Bismillaahirrahmaanirrahim.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Bang Hanifa jika tidak berkenan karena tulisan saya menggunakan nama Nabi Muhammad SAW dengan panggilan Yang Mulia Nabi Besar Muhammad SAW, tidak lain, karena rasa cinta saya yang lemah ini kepada Beliau SAW, karena saya berfikir Beliau SAW. adalah “Khataman Nabiyyin”, merupakan Nabi Pembawa Syariat Tertinggi yaitu Syariat Islam, merupakan Nabi yang Paling Mulia, Paling Sempurna, Nabi yang Terbaik diantara Nabi-Nabi yang lain.
“Ahmad” adalah nama “jamal” (Keindahan), yang pada zamannya tidak akan digunakan kekerasan terhadap penentang-penentangnya, jadi istilah “Jihad” untuk zaman Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan murid-muridnya sampai dengan yang akan datang, bukan menggunakan pedang akan tetapi menggunakan pena dan tinta, berjihad menghancurkan dajal dan memecahkan salib dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW.
“Muhammad” adalah nama “jalal” (kegagahan), yang di dalam zamannya terjadi pertempuran phisik dengan musuh-musuhnya. Jadi “Jihad” untuk zaman Rasulullah SAW. menggunakan pedang.
Dalam satu Hadist dikatakan, artinya :
“Rasulullah bersabda, sudah dekat orang yang hidup dari antara kamu akan bertemu dengan Ibnu maryam sebagai Imam Mahdi dan Hakim yang adil, Ia akan memecahkan salib dan akan membunuh babi”. (Musnad Ahmad bin Hambal Jilid II halaman 156)
Perkataan “memecahkan salib dan membunuh babi” maksudnya Imam Mahdi as. akan menzahirkan kekeliruan kaum Kristen dan akan mematahkan (membatalkan) agamanya dengan bukti-bukti. (Syarah Bukhari oleh Allama Badruddin dan Syarah Muslim Jilid I halaman 266)
Dalam satu hadist juga dikatakan, artinya :
“Hadhrat Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Apabila sembahyang didirikan makan akan turun (datang) Isa bin Maryam (Imam Mahdi) dan beliau akan menjadi Imam mereka maka apabila musuh Allah yakni dajal melihat Isa (Imam Mahdi), ia (dajal) akan mencair sebagaimana garam mencair dalam air …….. Dan Allah SWT. Akan membunuhnya (dajal) dengan tangan Isa (Imam Mahdi as)”. ( Muslim dan Misykat halaman 466).
Menurut Hadist tersebut, satu tugas Imam Mahdi as. ialah membunuh dajal. Di isyaratkan dalam makrah awal dan akhir Surat Al-Kahfi bahwa dajal itu adalah orang yang ingkar (Kristen), dan dalam zaman ini Imam Mahdi Hadhrat Ahmad as. sudah mematahkan kepercayaan orang ingkar dengan membuktikan bahwa Nabi Isa as. tidak mati diatas salib dan kuburan beliau as. ada di Kashmir, India.
Sedangkan orang Kristen tidak dapat membantah beliau as. bahkan mereka selalu takut kepada Imam Mahdi dan murid-muridnya. Dan pada waktu yang akan datang, Agama Kristen akan habis melalui Imam Mahdi as. dan murid-muridnya, menurut hadist tersebut, InsyaAllah.
Dalam Al-Quran, Surat An Nur, ayat 55, Allah SWT. Berfirman, artinya :
“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman diantara kamu dan mengerjakan amal yang saleh bahwa Dia sesungguhnya akan menjadikan khalifah dari antara mereka di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan khalifah-Nya orang yang sebelum mereka. Dan sesungguhnya Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhoinya untuk mereka. Dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka dari keadaan ketakutan menjadi aman sentausa, mereka tetap menyembah-Ku dengan tiada mempersekutukan sesuatu apapun dengan-Ku. Dan barang siapa yang ingkar sesudah itu maka mereka itulah orang-orang fasik”.
Sesuai dengan ayat tersebut diatas, pada zaman ini hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. beserta Jemaat Beliau as. yang percaya bahwa dalam Agama Islam Khalifah atau Khilafat terus berjalan.
Dan dalam zaman itu, hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. (Imam Mahdi) mendapat wahyu tersebut dibawah ini hingga 13 kali, yang artinya :
“Aku menghendaki menjadikan khalifah, maka Aku menciptakan Adam”.
Ayat diatas juga berarti Agama islam akan mendapatkan kekuatan dan kemenangan melalui khalifah-khalifah, dan dalam zaman ini hanya Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. yang mengatakan dengan wahyu Allah SWT. Bahwa Islam akan mendapat kemenangan di seluruh dunia melalui Beliau dan murid-murid Beliau selama tiga abad sejak dari Beliau as. diutus.
Karena itu bisa disimpulkan bahwa ayat tersebut diatas hanya berlaku bagi Imam Mahdi as. (Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as.) dan bagi murid-murid Beliau yang mengaku bahwa Khilafat atau Khalifah terus berjalan dalam Agama Islam.
Dalam kitab Hadist Musnad Ahmad, Baihaqi dan Misykat, artinya :
“Rasulullah SAW bersabda :
“ Akan terjadi nubuat sampai waktu yang disukai Allah.
Kemudian akan terjadi khilafat seperti dalam nubuat sampai waktu yang dikehendaki Allah.
Kemudian akan terjadi kerajaan yang lalim sampai waktu yang disukai Allah.
Kemudian akan terjadi khilafat dalam nubuat.
Kemudian Beliau SAW berdiam diri”.
Menurut Hadist tersebut akan terjadi beberapa zaman, Pertama adalah Zaman Rasulullah SAW. Kedua adalah zaman para khalifah beliau SAW. Ketida adalah zaman raja-raja dalam umat Islam. Keempat adalah zaman Kenabian Hadhrat Imam Mahdi as. dan para Khalifah setelah Beliau as.
Pada tahun 1835 telah lahir seorang suci di Qadian (India) bernama Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as., berasal dari keluarga terhormat. Mirza adalah gelar kaum ningrat keturunan raja-raja Islam dinasti Moghul berasal dari Persia (Iran), Hadhrat biasa diberikan orang kepada wujud-wujud suci atau para rohaniawan, Ghulam adalah nama keluarga, AHMAD adalah namanya aslinya.
Beliau as. pertama kali mendapatkan wahyu dari Allah SWT pada tahun 1876, kemudian atas perintah Allah SWT. Beliau as. mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi pada tahun 1890. Dan pada tanggal 26 Mei 1908 Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. berpulang ke rahmatullah dan dikebumikan di Qadian, pada saat itu Beliau as. meninggalkan pengikut sebanyak 200 ribu orang yang setia dan saleh. Dilanjutkan dengan Khalifah I (1908-1914), Hadhrat Hakim Nuruddin ra. ; Khalifah II (1914-1965), Hadhrat Bashiruddin Mahmud Ahmad atba. ; Khalifah III (1965-1982), Hadhrat Mirza Nasir Ahmad atba. ; Khalifah IV (1982-2003), Hadhrat Mirza Taher Ahmad atba. ; Khalifah V (2003-sekarang), Hadhrat Mirza Masroor Ahmad atba.
Alhamdulillah, sekarang, Jemaat Ahmadiyah telah tersebar ke 189 negara untuk ber-Jihad menyerukan suara Allah, dan Alhamdulillah, Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. telah memiliki murid sebanyak 200 juta orang yang setia dan saleh, berasal dari berbagai macam agama dan kepercayaan dan Alhamdulillah kini mereka telah menjadi Islam dan bersyahadat ASY-HADUALLAA ILAAHA ILLALLAAH WA ASY HADU ANNA MUHAMMADARRASUULULLAH (Aku bersaksi, tidak ada Tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah Utusan Allah).
Pada tanggal 27 Mei 2008, Jemaat Ahmadiyah akan merayakan 100 tahun Khilafat (27 Mei 1908 – 27 Mei 2008), Semoga Allah SWT senantiasa memberikan pertolongan kepada Jemaat-Nya untuk me-Menangkan dan meng-Islamkan seluruh umat manusia yang ada di seluruh pelosok Dunia Timur, Barat, Selatan, Utara, karena Islam merupakan Agama Universal, Rahmatul Alamin.
Mohon maaf yang sebesar-besarnya jika ada kata-kata yang kurang berkenan.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Imran.
May 22nd, 2008 at 6:22 pm
erdian (komentar #114)
ha ha ha Imran sedang berda’wah Ahmadiyah di blog bang YIM ini ya.
Ngomong dong dari tadi, nggak ngalur ngidul kemana rupanya maunya gini.
May 22nd, 2008 at 8:27 pm
aditya (komentar #115)
Assalamualaikum bang…
saya sangat setuju dengan permintaan #92…
barangkali semua penikmat blog bang Yusril saat ini sangat ingin mendengar pernyataan dari abang mengenai kenaikan BBM yang sangat menyengsarakan sendi-sendi kehidupan rakyat, mungkin memang di satu sisi kenaikan BBM dapat mempertahankan defisit APBN, namun di sisi lain kenaikan itu sangatlah memberatkan rakyat terutama rakyat yang akan jatuh kepada fakir dan miskin akibat dampak kenaikan BBM tersebut…
saya atas nama bloger se Indonesia berharap abang memerikan sumbang saran atas rencana kenaikan BBm ini…
terimakasih
wassalamualaikum Wr Wb….
May 22nd, 2008 at 8:46 pm
Bonar (komentar #116)
Berarti saya dajjal ya :)
Saya tidak setuju dengan Anda, dan tidak sepakat dengan beberapa pokok-pokok ajaran Anda.
Tapi saya rela terpancung dalam berjuang agar Anda dapat menyuarakannya.
May 23rd, 2008 at 9:24 am
hanyfa (komentar #117)
@ Imran
Anda tidak harus meminta maaf kepada saya perihal panggilan kepada Nabi Muhammad SAW. Saya cuma mengingatkan aja karena memang sebutan Nabi Besar itu hanya ada dalam litelatur agama Yahudi. Toh para sahabat juga yang rasa cinta, hormat, ta’zhim dan belanya kepada Nabi Muhammad melebihi kita mereka tidak sampai berlebihan ketika memanggil Nabi Muhammad SAW.
hehehehe……. ternyata bang Imran ini suka bercanda juga kayaknya, masa Inggris yang ketika itu membantai umat Islam India dengan senjata mesin otomatis, meriam, bom dll dilawan dengan pena dan tinta. Logika apa yang dipakai, yang benar aja bang masa meriam dilawan sama pena dan tinta.
May 23rd, 2008 at 9:52 am
Marhad (komentar #118)
Ass Wr. Wb,
Pak YIM semoga bpk selalu dlm lindungan ALLAH SWT, dan bagi seluruh UMAT ISLAM INDONESIA semoga kita tetap menjadi orang yang bersabar dan masih memegang uquwah ISLAM (mari sama-2 kita BERSALAWAT utk NABI BESAR MUHAMMAD SAW) tak ada ruginya khan pak, 100 orang saja yang bersalawat pasti kita mendapat hidayah,
mengenai tindak tanduk ahmadiyah, saya sendiri secara pribadi menantang, karena sudah menyimpang dari akidah ISLAM, memang sih kita bukan negara ISLAM tapi INDONESIA adalah negara berpenduduk MUSLIM terbesar di seluruh dunia, sehingga selalu ada saja yang ingin memcah belah UMAT ISLAM , hendaknya PARA PEMIMPIN KITA mawas diri dan cepat bersikap/bertindak karena akibat dari perpecahan tersebut berujung kepada kerusuhan dan huru hara dimana-mana, saya bingung loh pak YIM para BIROKRAT kita kok DPR, KPK dll apatah itu namanya, apa mereka tidak ingat bahwa KITA UMAT ISLAM punya 2 TUJUAN HIDUP ( Dunia & Akhirat ) yang mana yang harus didahulukan dan yang mana yang harus di kesampingkan, kayaknya LEBIH MENDUNIA DEH , kalau kita ingat akhirat pasti kita akan sejahtera karena tidak ada korup DLL , OI PARA PEMIMPIN INGAT AKHIRAT DUNIA SUDAH TUA DAN SUDAH TAK SANGGUP LAGI MEMIKUL BEBAN DOSA. demikian Pak YIM terim kasih.
May 23rd, 2008 at 11:02 am
Sultan (komentar #119)
Assalamualaikum Bang YIM dan semuanya.
Allahu Akbar…..Salam kenal mas Imran….
Terus terang saya sangat terkesan atas tulisan-tulisan yang telah di susun oleh mas Imran, terutama definisi “Jihad” dan “Imam Mahdi” sbb :
“Ahmad” adalah nama “jamal” (Keindahan), yang pada zamannya tidak akan digunakan kekerasan terhadap penentang-penentangnya, jadi istilah “Jihad” untuk zaman Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad as. dan murid-muridnya sampai dengan yang akan datang, bukan menggunakan pedang akan tetapi menggunakan pena dan tinta, berjihad menghancurkan dajal dan memecahkan salib dengan ayat-ayat Al-Quran dan Hadist Rasulullah SAW.
“Muhammad” adalah nama “jalal” (kegagahan), yang di dalam zamannya terjadi pertempuran phisik dengan musuh-musuhnya. Jadi “Jihad” untuk zaman Rasulullah SAW. menggunakan pedang.
Pengertian “Jihad” seperti yang mas Imran tulis, begitu terasa indahnya ajaran agama Islam, dan saya setuju, di era intelektual seperti sekarang ini adalah bersenjatakan pena dan tinta dengan menggunakan dalil-dalil Alqurdan dan Hadist Rasulullah saw, tidak seperti yang diperlihatkan oleh Aliran yang mengaku-ngaku Pembela Islam akan tetapi bentuk perjuangannya ala barbar, bengis, brutal, dan bodoh, mengadakan penghancuran tempat ibadah dan mengadakan huru-hara tapi mengaku sedang ber”Jihad ”, sementara yang yang diserangnya tidak melakukan perlawanan apalagi melakukan pembalasan. Menurut saya ini bukan “Jihad”, lebih tepat disebut “JAHAT”, benar-benar memalukan umat Islam, mengotori Ajaran Islam, sangat bertentangan dengan nasehat-nasehat Rasulullah dan sangat merusak martabat dan nama baik kemuliaan ajaran nabi Muhammad saw.
Di dunia amerika dan barat, nama Islam identik dengan teroris, bukan saja islam yang berasal dari Indonesia saja, akan tetapi juga islam-islam yang sudah menjadi negara islam, telah berhasil memperoleh predikat yang sangat buruk, mudah sekali diadu domba, perang yang katanya Jihad tidak ada henti-hentinya, hal ini benar-benar sesuai yang diinginkan oleh dajal untuk menghancurkan ajaran agama islam, apalagi dengan adanya persahabatan yang begitu mesra antara amerika, arab dan Israel. Astaghfirullah….
Pusing ah…..mending mikirin yang bersih-bersih…..
Walaupun baru kenal disini, terus terang saya kagum ke mas Imran, ulasan-ulasan penerangan yang menurut saya cukup jelas, selalu berdasarkan Alquran dan Hadist, tutur bahasanya santun, dan menurut saya, anda dan golongan anda adalah kaum Islam yang sejati, tidak seperti kami yang tidak mempunyai pimpinan skala internasional dan berfikiran sempit, tidak terbayangkan sedikitpun golongan islam anda mampu menyerukan kesejukan rohani islami sampai ke 189 negara termasuk negeri-negeri dajal, sehingga kaum-kaum yang sebelumnya tersesat menjadi dapat menemukan jalan Ilahi, Subhanallah…
Saya punya teman, sengaja kutipan tulisannya saya simpan, saya sangat terkesan karena kata-kata dan kalimatnya sangat indah, namanya Ahmad Badrudduja, sbb :
Assalamu ‘alaikum,
Bagaimana kita tahu bahwa seseorang adalah nabi sungguhan atau gadungan? Saya akan mencoba membahas masalah yang rumit ini secara ringkas dalam tulisan pendek ini.
Di kalangan sarjana Sunni, dikenal tiga syarat utama untuk mengetes kebenaran kleim kenabian:
1. Seseorang yang mengaku sebagai nabi haruslah mempunyai kualitas etis dan intelektual yang istimewa, misalnya ia memiliki kemampuan artikulasi berbahasa yang sangat baik, kesempurnaan akhlak, keluhuran budi, dsb.
2. Dia harus menunjukkan suatu mukjizat.
3. Mukjizat itu harus dibarengi dengan pengakuan sebagai seorang nabi. Maksudnya, jika seseorang memperlihatkan tindakan mukjizat tetapi tidak mengakui sebagai nabi, maka ia bukan nabi.
Tiga kriteria ini bisa dibaca dalam banyak karya sarjana Sunni. Sebagai contoh, anda bisa merujuk karya Abu al-Hasan Ali ibn Muhammad al-Mawardi, A’lam al-Nubuwwah (Tanda-Tanda Kenabian). Sebagaimana kita tahu, al-Mawardi adalah salah satu ulama besar di lingkungan mazhab Syafii yang dikenal antara lain karena bukunya tentang manual penyelenggaraan kekuasaan, yaitu al-Ahkam al-Sulthaniyyah.
Dengan demikian, kriteria nabi palsu dan gadungan itu sebetulnya sangat sederhana dan tidak bertele-tele.
Para filosof Muslim menambahkan ciri-ciri yang lain. Ibn Sina, misalnya, mengatakan bahwa ada tiga jenis manusia.
1. Manusia yang sempurna dalam dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang-orang lain yang kurang sempurna (maksud “sempurna” di sini adalah dari segi spiritual, intelektual dan etis atau akhlak).
2. Manusia yang sempurna pada dirinya sendiri tapi tak mampu menyempurnakan orang lain. Jadi kesempurnannya bersifat terbatas, tidak meluber ke orang lain.
3. Orang yang pada dirinya sendiri menderita kekurangan, sehingga butuh dibantu oleh orang lain agak mencapai kesempurnaan spritiual dan akhlak.
Nabi adalah manusia dari jenis yang pertama. Jadi, nabi adalah orang yang memiliki kesempurnaan dan kemampuan untuk menularkan kesempurnaan itu kepada orang lain. Inilah pendapat Ibn Sina yang banyak dikutip oleh para teolog Sunni seperti Fakhruddin al-Razi, misalnya.
Saya sendiri berpandangan bahwa nabi yang benar, bukan yang gadungan, bisa kita ketahui dari manusia-manusia yang ia didik, manusia-manusia yang menjadi umat dan pengikutnya. Kalau seorang yang mengaku nabi berhasil mendidik dan mencetak manusia yang bermoral dan bermartabat, maka dia adalah nabi. Kita juga bisa mengetahui kebenaran seorang nabi melalui ajaran-ajarannya: apakah ia mengajarkan norma yang baik atau malah kejahatan.
Hampir semua orang yang mengaku nabi sudah pasti akan diledek dan dilecehkan oleh orang-orang di sekitarnya. Kita lihat saja sejarah Nabi Muhammad yang dilecehkan oleh masyarakatnya sendiri. Ini terjadi pada hampir semua nabi dan guru-guru kebijaksanaan di seantero dunia, bukan hanya pada Nabi Muhammad.
Saya sendiri bukan orang Ahmadi dan bukan pengikut ajaran Ahmadiyah. Tetapi berdasarkan kriteria-kriteria di atas, saya bisa membenarkan kleim Mirza Ghulam Ahmad sebagai seorang nabi. Apalagi seluruh ajaran Ghulam Ahmad sebetulnya hanya menegaskan kembali ajaran-ajaran yang ada dalam Islam. Kita juga bisa melihat masyarakat dan jamaah yang berhasil dicetak oleh kelompok ini di mana-mana. Mereka para jamaah Ahmadiyah adalah orang-orang yang cinta perdamaian di mana-mana, menekankan pentingnya rasio dan pendekatan rasional pada agama, dan inilah yang menjadi rahasia daya tarik Ahmadiyah di kalangan para anak muda di zaman perjuangan dulu di beberapa kota di Indonesia. Mereka bukan manusia yang berbuat kerusakan di muka bumi.
Jadi, alat paling baik untuk mengetes seorang adalah nabi sungguhan dan tidak adalah dari hasil akhirnya: apakah dia mencetak manusia yang bermoral dan berbudi luhur atau tidak.
Ini bukan berarti bahwa setiap orang yang berhasil mencetak suatu masyarakat yang berbudi luhur adalah nabi. Kiai Haji Ahmad Dahlan jelas berhasil mencetak jamaah yang berbudi luhur, tetapi dia bukan nabi. Begitu juga Kiai Hasyim Asyari bukan nabi walau dia berhasil mencetak generasi yang bermoral dan berbudi luhur. Alasannya satu: karena mereka tidak mengaku sebagai nabi. Sebagaimana dikatakan oleh al-Mawardi di atas, seseorang hanya boleh disebut nabi kalau dia mengaku nabi, dan tidak cukup hanya mempertunjukkan mukjizat sahaja.
Lalu apa mukjizat Mirza Ghulam Ahmad? Yang bisa menceritakan ini hanyalah jamaah Ahmadiyah sendiri. Jamaah Ahmadiyah tentu percaya bahwa Ghulam Ahmad memiliki sejumlah ‘khawariq al’adah” atau mukjizat. Soal orang-orang di luar Ahmadiyah tidak percaya, itu bukan urusan. Sebab, percaya atau tidak, itu masalah masing-masing orang. Orang di luar Islam bisa saja tidak percaya pada mukjizat Nabi Muhammad, tetapi itu tidak berpengaruh apa-apa.
Menurut saya, kalau ada mukjizat terbesar yang dipelihatkan oleh Ghulam Ahmad adalah kemampuannya membangun gerakan yang berhasil bertahan jauh setelah ia wafat dan menyebar ke seluruh dunia. Mukjizat Ghulam Ahmad yang paling penting adalah ia mampu mencetak manusia-manusia bermoral dari berbagai suku bangsa. Ini prestasi luar biasa yang tak bisa dicapai oleh sembarang orang. Ini sesuai dengan ciri-ciri nabi menurut Ibn Sina di atas, yakni orang yang sempurna pada dirinya sendiri dan mampu menyempurnakan orang lain.
Demikian keterangan saya, semoga bermanfaat.
AB
Ahmad Badrudduja
Inna ikhtilaf al-mukhtalifin fi al-haqq la yujibu ikhtilaf al-haqq fi nafsihi
Kebenaran tak menjadi banyak hanya karena orang-orang berbeda pendapat
– Ibn al-Sid al-Batalyawsi (w. Valencia 1127 M)
Semoga bermanfaat untuk semuanya….
Terima kasih mas Imran, jika tidak keberatan, tolong beri saya informasi lebih seputar kedatangan Imam Mahdi, karena saya sangat tertarik, kirim ke sultan.ahmad30@yahoo.com, Wassalam.
Sultan.
May 23rd, 2008 at 3:41 pm
Imran (komentar #120)
Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
InsyaAllah Bang Sultan, segera akan saya kirim e-mail ayat-ayat Al-Quran dan Hadist-Hadist tentang Kedatangan Imam Mahdi.
Wassalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Imran
May 23rd, 2008 at 5:58 pm
Pages: « 1 2 3 [4] 5 6 7 8 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda