Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Tanggal 17 Juli 2008 nanti akan ada Peringatan Seratus Tahun Mohammad Natsir di Jakarta. Berbagai acara telah dan akan diselenggarakan dalam peringatan ini, mulai dari diskusi, seminar, penulisan buku dan penerbitan kembali buku-buku karya Almarhum Mohammad Natsir. Keluarga Pak Natsir meminta saya untuk menulis kata pengantar atas diterbitkannya kembali Capita Selecta Jilid I karya almarhum yang pernah diterbitkan tahun 1954. Oleh karena buku itu dicetak terbatas, maka kata pengantar yang saya tulis itu saya hidangkan di blog ini, agar dapat dibaca oleh kalangan yang tidak sempat memiliki buku karya Mohammad Natsir yang diterbitkan kembali itu. Apa yang saya tulis dalam kata pengantar itu, sesungguhnya lebih dari sekedar mengantarkan pembaca untuk memahami buku yang diterbitkan, namun memberikan gambaran umum tentang sosok Mohammad Natsir, agar kehidupan dan sumbangannya bagi bangsa, negara dan agama dapat diingat kembali dan dikenang oleh generasi yang hidup di masa sekarang.
Pak Natsir (1908-1993) adalah tokoh intelektual, pejuang, politikus, ulama dan sekaligus salah seorang negarawan yang dimiliki bangsa kita. Sejak usia muda, beliau menaruh minat yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, falsafah dan kajian keislaman. Di zaman ketika beliau masih muda, untuk mendapatkan informasi dan bahan-bahan untuk mendalami bidang-bidang itu tidaklah mudah. Perpustakaan tidaklah sebanyak zaman sekarang. Mesin fotocopy belum ada. Internet yang dapat membantu seseorang menelusuri berbagai bahan yang diperlukan, juga belum ada. Namun Pak Natsir bagai orang yang tak pernah putus asa untuk mencari. Meskipun beliau sepenuhnya menempuh pendidikan Barat di sekolah-sekolah Belanda, namun minatnya untuk menelaah khazanah ilmu pengetahuan keislaman bagai tak pernah padam. Beliau pergi ke sana ke mari untuk mencari buku, meminjam dengan orang-orang, atau meminjam buku di berbagai perpustakaan. Beruntung beliau, karena memahami bahasa Belanda, Arab, Inggris dan Perancis, sehingga berbagai buku yang diperlukan, yang ditulis dalam bahasa-bahasa itu dapat beliau baca. Bahkan, beliau tidak saja menulis dalam Bahasa Indonesia, namun juga menulis dalam Bahasa Belanda, Perancis dan Bahasa Inggris.
Kebiasaan Pak Natsir memburu buku itu, bukan hanya terjadi ketika beliau masih muda. Ketika usia beliau makin senja, saya adalah salah seorang yang selalu beliau suruh untuk mencari berbagai buku yang ingin beliau baca. Saya bukan saja harus mencari buku-buku itu di berbagai toko buku atau di perpustakaan, tetapi bukan sekali dua harus datang ke rumah beberapa tokoh untuk mendapatkan buku itu. Pernah beliau menyuruh saya datang ke rumah Prof. Osman Raliby, ke rumah Prof. Zakiah Darajat, Prof. Deliar Noer, M.Yunan Nasution, Zainal Abidin Ahmad, dan bahkan saya di suruh pergi ke Bandung, karena buku yang beliau cari ada di rumah Endang Saifuddin Anshary. Pak Natsir membaca buku-buku itu dengan penuh minat. Saya menyadari bahwa Pak Natsir tidak ingin sembarangan bicara atau sembarangan menulis. Beliau ingin mendalami segala sesuatu sebelum menyampaikan pendapat atau menentukan sikap terhadap sesuatu masalah.
Sikap yang ditunjukkan Pak Natsir seperti saya gambarkan di atas sangatlah baik untuk diteladani. Seorang cendekiawan dan seorang pemimpin, sebaiknyalah mendalami segala sesuatu sebelum menyampaikan pendapat dan menentukan sikap. Karena itulah, kalau kita menelaah tulisan-tulisan Pak Natsir, baik tulisan lepas maupun sebuah polemik, beliau mengemukakan pandangan berdasarkan data, analisa dan argumentasi yang kokoh. Karena itu pula pandangan-pandangan beliau mempunyai bobot yang tinggi dan juga mempunyai pengaruh yang luas kepada publik. Tulisan-tulisan itu, bahkan melampaui zaman. Apa yang beliau kemukakan ketika beliau masih muda – di zaman kita masih dijajah – maupun setelah kita merdeka, tetap mempunyai nuansa yang relevan dengan zaman ketika kita hidup di masa sekarang. Masalah-masalah memang datang silih berganti sesuai tantangan zaman. Namun esensi persoalannya tidaklah bergeser terlalu jauh. Karena itu, dalam membaca tulisan-tulisan beliau yang dihimpun dalam buku ini, kita harus mampu menangkap esensinya, bukan menangkap peristiwa-peristiwanya saja, yang kini telah menjadi bagian dari sejarah bangsa kita.
Membaca tulisan-tulisan Pak Natsir yang dihimpun dalam buku ini, saya berani mengatakan bahwa Pak Natsir bukanlah seorang yang murni intelektual, kalau kita menggunakan ukuran-ukuran sebagaimana dikemukakan Julien Benda. Bagi Benda, intelektual adalah manusia yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya untuk bergelut dengan dunia pemikiran. Mereka menjauhi dunia praktis dan tidak menaruh minat kepada dunia politik. Bagi Benda, intelektual nampaknya seperti seorang yang berdiri di menara gading. Kepalanya tidak menyentuh langit dan kakinya tidak menginjak bumi. Mereka berumah di atas angin, berada di awang-awang nun jauh di sana di atas tanah tempat kita berpijak. Pak Natsir pada dasarnya adalah seorang aktivis. Beliau terlibat dalam berbagai pergerakan, baik kepemudaan, keagamaan, sosial dan politik. Beliau menulis dalam rangka pergerakan itu dengan bertitik tolak pada kenyataan-kenyataan sosial yang dihadapinya. Beliau tidak menulis untuk melontarkan gagasan di ruang hampa. Sebab itulah, kita jarang menemukan sebuah buku yang benar-benar buku yang pernah beliau tulis untuk membahas sesuatu masalah. Beliau lebih banyak menulis essay, atau risalah pendek, yang kemudian dihimpun dan dibukukan.
Menghadapi kenyataan di atas, suatu ketika saya pernah berbicara berdua dengan Pak Natsir mengenai kontribusi beliau dalam dunia intelektual. Saya katakan kepada beliau, andaikata Pak Natsir mencurahkan sepenuh waktu dalam hidup beliau untuk melakukan studi dan menulis, mungkin beliau akan melampaui karya-karya Allama Mohammad Iqbal atau Fazlur Rahman, dua filsuf dan intelektual dari Pakistan. Mendengar komentar saya itu, Pak Natsir hanya tertawa. Beliau mengatakan bahwa jalan hidup seseorang tidaklah ditentukan oleh kemauannya sendiri, karena segala sesuatu berjalan seakan terjadi begitu saja. Saya mengerti bahwa Pak Natsir lebih tertarik untuk menjadi aktivis daripada menjadi intelektual murni. Kalau beliau memang menginginkan menjadi intelektual murni, saya yakin beliau takkan menolak tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi ke Rechts Hoogeschool di Batavia atau sekalian saja meneruskan pendidikan ke Universitas Leiden di Negeri Belanda. Saya yakin, dengan bakat intelektual yang beliau miliki, dengan mudah beliau mendapatkan gelar PhD di bidang filsafat, hukum atau kajian keislaman dari universitas tersebut. Namun sejarah telah menunjukkan, Pak Natsir lebih senang bekerja secara independen setelah menamatkan AMS di Bandung. Beliau memilih menjadi guru dan mendirikan sekolah sendiri, sambil terus aktif di dalam pergerakan.
Prestasi Pak Natsir di bidang politik, nampaknya telah melampaui apa yang dicapai oleh guru-guru beliau. Salah seorang guru Pak Natsir yang hidup sampai ke zaman kita merdeka, ialah Haji Agus Salim. HOS Tjokroaminoto yang juga memberikan banyak ilham kepada Pak Natsir, telah wafat sebelum kita merdeka. Haji Agus Salim sama-sama aktif dalam Masyumi setelah partai itu terbentuk di awal kemerdekaan. Haji Agus Salim dan Pak Natsir sama-sama menjadi menteri di awal kemerdekaan. Agus Salim menjadi Menteri Luar Negeri dan Pak Natsir menjadi Menteri Penerangan. Faktor usia jugalah yang mendorong Haji Agus Salim untuk memberikan kesempatan kepada tokoh-tokoh yang berusia muda, antara lain kepada Pak Natsir, Pak Mohamad Roem, Pak Kasman Singodimedjo dan Pak Jusuf Wibisono yang kesemuanya adalah murid-murid Haji Agus Salim ketika mereka aktif di dalam Jong Islamieten Bond. Pak Natsir pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, sebuah jabatan yang merupakan karier puncak seorang politikus dalam sistem pemerintahan parlementer. Nama beliau bukan saja dikenal di di tanah air, tetapi juga di seluruh pelosok dunia Islam, jauh melampaui guru-gurunya dan tokoh-tokoh lain seangkatannya.
Dengan uraian di atas, kita akan dapat memahami tulisan-tulisan Pak Natsir, yang seluruhnya ditulis sebagai respons intelektual terhadap perkembangan zaman, yang menjadi keprihatinan beliau. Tulisan-tulisan itu dibuat untuk memberikan percerahan dalam rangka membangun kesadaran baru terhadap dua hal pokok, pertama keprihatinan terhadap Islam dan umatnya, dan kedua keprihatinan terhadap situasi yang dihadapi bangsa kita, baik di masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Keprihatinan terhadap Islam dan umatnya memang telah menjadi fokus perhatian Pak Natsir sejak awal. Beliau lahir dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Minangkabau, ketika Adat dan Islam menjadi bahan polemik berkepanjangan dalam masyaratnya. Memasuki awal abad ke dua puluh, gerakan pembaharuan Islam semakin menguat di Minangkabau, dan hal ini menjadi sumber polemik pula. Pak Natsir – karena latar belakang keluarganya – memilih Islam sebagai jalan hidup. Pengaruh Adat Minangkabau dalam kehidupan pribadi Pak Natsir hampir tidak terasa, walau secara formal beliau diangkat menjadi Datuk oleh kaum kerabatnya dan bergelar Datuk Sinaro Panjang. Keterlibatan beliau dalam mengurusi adat, sepanjang pengamatan saya, tidak begitu nampak. Bahkan dalam keseluruhan tulisan-tulisan beliau – ini agak beda dengan Buya Hamka dan Agus Salim – hampir tak pernah Pak Natsir membicarakan masalah adat.
Dengan memilih Islam, Pak Natsir ingin memberikan kerangka pemahaman baru terhadap Islam, sehingga Islam benar-benar menjadi pedoman hidup dan jalan hidup yang bersifat abadi dan universal. Dalam konteks ini Pak Natsir memberikan kontribusi yang signifikan, yang menempatkan diri beliau sebagai seorang pembaharu, bukan saja di bidang pemikiran, tetapi juga di dalam gerakan Islam. Dalam konteks pembaharuan ini, para akademisi umumnya menyimpulkan bahwa gerakan pembaharuan Islam di Indonesia karena pengaruh dari berbagai gerakan pembaharu di Timur Tengah atau Asia Selatan. Buya Hamka dalam orasi penerimaan gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar di tahun 1962, menyebutkan pengaruh yang sangat besar dari Syekh Muhammad Abduh kepada gerakan pembaharuan di tanah air. Buya Hamka menyebutkan hampir semua tokoh-tokoh pembaharu itu mendapat pengaruh dari Mohammad Abduh. Dari berbagai dialog saya dengan Pak Natsir, saya berkesimpulan bahwa Pak Natsir sampai kepada cita pembaharuan Islam itu, bukanlah karena pengaruh pemikiran dari Timur Tengah, melainkan berngkat dari keprihatiannya sendiri. Beliau kemudian menggunakan metode berpikir yang didapatnya di pendidikan Barat yang ditempuhnya untuk menelaah berbagai literatur dengan kritis. Pak Natsir mengatakan kepada saya, baru di masa belakangan beliau membaca Tafsir Al-Manar dan karya-karya Mohammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla, serta pembaharu lainnya dari Timur Tengah. Namun beliau mengakui telah membaca berulangkali karya Ali Abdurraziq yang kontroversial, Al-Islam wa Uhulul Hukm, ketika berpolemik dengan Sukarno. Sebelumnya – seperti telah saya katakan — beliau banyak berdiskusi dengan A Hassan (gurunya di Persatuan Islam Bandung dan Pak Natsir sendiri kemudian pernah menjadi ketua organisasi ini), Agus Salim dan Tjokroaminoto. Pak Natsir, pada dasarnya adalah seorang otodidak dalam mengembangkan pemikiran tentang Islam.
Pak Natsir berkeyakinan bahwa ajaran Islam adalah adalah abadi dan bersifat universal. Islam menekankan tauhid dan menentang kemusyrikan, agar manusia mempunyai orientasi yang benar dalam hidupnya. Etika pribadi dan sosial ditegakkan atas dasar iman kepada Allah Yang Maha Melihat lagi Mengetahui. Iman kepada hari akhir akan mendorong ketaatan setiap insan kepada kaidah-kaidah etika, karena Allah akan mengadili setiap perbuatan manusia dengan seadil-adilnya. Ibadat harus dilaksanakan dengan konsisten. Itulah sebabnya Pak Natsir menulis buku tentang pelajaran shalat yang sengaja ditulisnya di dalam Bahasa Belanda, yang ditujukan kepada orang-orang berpendidikan Barat agar memahami dan melaksanakannya. Mengenai soal hukum, Pak Natsir berpendapat syari’at Islam sangatlah luas dan mempunyai fleksibelitas untuk ditafsirkan ulang guna memenuhi kebutuhan zaman. Namun manusia, katanya, tidak dapat melampaui batas-batas atau hudud yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya. Untuk itulah diperlukan iman, mengingat keterbatasan pengetahuan manusia dan relativitas temuan ilmu-pengetahuan. Nuansa pemikiran seperti ini terlihat dalam jawaban Pak Natsir atas tulisan-tulisan Ir. Soekarno menjelang tahun 1940.
Tentu sumbangan besar Pak Natsir dalam pemikiran Islam ialah gagasannya tentang Islam sebagai Ideologi. Apa yang dimaksud Pak Natsir tentulah bukan wahyu Allah di dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah adalah sebuah ideologi. Namun ajaran-ajaran Islam yang terkandung di dalam kedua sumber ajaran itu dapat ditransformasikan dan diformulasikan ke dalam sebuah rumusan untuk dijadikan sebagai landasan bagi sebuah gerakan politik. Rumusan itu bersifat eksplisit, tegas dan sekaligus menyebutkan cara-cara untuk mencapainya. Rumusan seperti itulah yang disebut sebagai ideologi. Pak Natsir sendiri adalah konseptor Tafsir Asas Masyumi, yang setelah disempurnakan oleh muktamar partai itu, disahkan sebagai “ideologi” Masyumi. Islam adalah asas Masyumi. Tafsir Asas memberikan tafsiran terhadap Islam yang dijadikan sebagai asas partai itu, untuk dijadikan sebagai pedoman berpikir, bertindak dan sekaligus landasan Masyumi dalam derap langkah dan perjuangannya. Tulisan Pak Natsir tentang Islam sebagai ideologi yang paling berkesan ialah pidato beliau di Majelis Konstituante, ketika Masyumi membela Islam untuk dijadikan sebagai dasar negara berhadapan dengan dasar Pancasila dan Sosial Ekonomi. Pak Natsir menegaskan bahwa menghadapi dasar negara itu, pilihan kita hanya dua: agama atau sekularisme. Sayang, tulisan tentang dasar negara itu belum dimuat di dalam Capita Selecta Jilid I ini.
Dalam pidato tentang dasar negara di Konstituante itu, Pak Natsir menggolongkan Pancasila sebagai sekularisme. Penggolongan itu didasarkan beliau atas uraian-uraian dari para pendukung dasar negara Pancasila itu sendiri. Kalau tafsiran terhadap Pancasila itu memang bercorak sekuler – seperti dikemukakan oleh para pendukungnya — dan tidak berhubungan dengan ajaran agama, maka Pak Natsir menolak Pancasila sebagai dasar negara. Namun sikap Pak Natsir mengenai Pancasila itu sendiri, tidaklah demikian. Beliau dapat menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, sepanjang Pancasila itu ditafsirkan dalam premis-premis Islam. Hal itu ditegaskan Pak Natsir dalam pidatonya di hadapan Pakistan’s Institute of World Affairs tahun 1952. Jadi, soal Pancasila adalah soal tafsir belaka. Indonesia, kata Pak Natsir, dapat disebut sebagai Negara Islam karena kenyataan bahwa bagian terbesar penduduknya beragama Islam. Meskipun Islam tidak dinyatakan secara tegas sebagai dasar negara sebagaimana halnya Pakistan, namun Pancasila, yakni lima asas yang dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah sesuatu yang sejalan dengan ajaran-ajaran Islam.
Tentang konsep sebuah negara, Pak Natsir menganut pandangan bahwa ajaran-ajaran Islam mengenai negara, hanyalah terbatas kepada asas-asasnya saja. Asas-asas itu dapat ditransformasikan ke dalam sebuah rumusan yang bersifat konsepsional tentang negara, sesuai dengan keadaan ruang dan waktu. Umat Islam yang hidup pada suatu tempat dan zaman tertentu dapat memikirkan rumusan sebuah negara yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka. Untuk itu, menurut Pak Natsir, Islam memberikan kesempatan kepada umatnya untuk mengadopsi berbagai sistem yang berkembang di berbagai negara, untuk diintegrasikan ke dalam sistem yang mereka bangun dengan mengaju kepada asas-asas yang diajarkan Islam. Islam tidaklah seratus persen demokrasi, dan tidak pula seratus persen autokrasi. Islam adalah Islam, demikian kata Pak Natsir sebelum kita merdeka. Namun setelah kita merdeka, dan telah beberapa tahun berpengalaman memiliki negara, Pak Natsir sampai pada kesimpulan bahwa meskipun demokrasi itu mempunyai banyak kekurangan dan kesulitan dalam melaksanakannya, namun sampai dewasa ini umat manusia belum menemukan sistem lain yang lebih baik dari demokrasi. Namun Pak Natsir kembali menegaskan bahwa demokrasi yang harus dilaksanakan ialah “theistic democracy”, yakni demokrasi yang didasarkan kepada nilai-nilai ketuhanan.
Selain di bidang pemikiran politik Islam, Pak Natsir memberikan sumbangan pemikiran yang sangat penting untuk membangun kesadaran umat Islam dalam melaksanakan ajaran agama dan mempertahankan eksistensi dirinya. Di zaman Belanda, beliau sangat prihatin dengan ketimpangan kebijakan Pemerintah kolonial Belanda dalam mendukung kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan Islam, dibandingkan dengan dukungannya kepada missi dan penyelenggaraan pendidikan Kristen di tanah air. Keprihatinan Pak Natsir terhadap kegiatan missi Kristen terus berlanjut sampai usia beliau menjelang senja. Perhatian beliau kepada soal dakwah di daerah-daerah terpencil dan daerah transmigrasi tak pernah padam. Namun beliau mempunyai perhatian yang besar pula dalam mendukung kegiatan-kegiatan dakwah di berbagai kampus di seluruh tanah air. Perhatian beliau kepada pendidikan, telah muncul sejak usia muda. Pak Natsir terlibat dalam mendirikan berbagai perguruan tinggi Islam di tanah air. Beliau melihat jauh ke depan. Nasib umat Islam akan menjadi lebih baik, jika pendidikan dibenahi. Pak Natsir juga mengirim banyak generasi muda untuk menuntut ilmu ke berbagai negara.
Bagi Pak Natsir hidup adalah perjuangan dan pengabdian tanpa akhir. Beliau berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, baik berada di luar panggung kekuasaan maupun berada di luarnya. Karier Pak Natsir di panggung kekuasaan tidak berlangsung lama. Menjadi Menteri Penerangan di dalam Kabinet Sjahrir hanya beberapa bulan saja. Menjadi Perdana Menteri hanya sekitar enam bulan saja. Selebihnya menjadi anggota parlemen dan konstituante. Namun pengabdian beliau tak pernah padam, walau terkadang terlihat kontroversial seperti ketika beliau melibatkan diri ke dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Pak Natsir sangat prihatian melihat negara yang semakin bergerak ke arah kiri dan prihatin pula akan munculnya kediktatoran di bawah Presiden Soekarno. Keprihatinan itu makin bertambah ketika Presiden Soekarno membentuk Kabinet Darurat Ekstra Parlementer di bawah pimpinan Ir. Djuanda. Beliau melihat semua ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap konstitusi dan demokrasi. Sementara di daerah-daerah terus-menerus terjadi berbagai pergolakan yang berpotensi pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Pada awal Pebruari 1958, Pak Natsir memutuskan untuk bergabung dengan tokoh-tokoh di daerah yang menentang pemerintah pusat yang mereka yakini bersifat inkonstitusional itu. Dari pertemuan Sungai Dareh lahirlah ultimatum untuk membubarkan pemerintah Djuanda dan membentuk pemerintahan baru yang dipimpin Mohammad Hatta. Kalau lima kali dua puluh empat jam ultimatum tidak dipenuhi, maka mereka akan menempuh jalan sendiri dan tidak mengakui keberadaan dan keabsahan pemerintah pusat. Inilah awal lahirnya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah, sebagai pemerintahan tandingan. Pak Natsir ingin agar persoalan ketidaksahan pemerintah pusat itu segera diakhiri, dan dengan begitu setiap saat mereka dengan sukarela akan mengakhiri keberadaan PRRI.
Namun konflik politik terus berlanjut dan konflik bersenjata tidak dapat dihindari lagi. TNI membom Lapangan Terbang Tabing di Padang dan mendaratkan pasukan di sana. Perang saudara tak terhindarkan lagi. Tetapi suatu hal yang harus dicatat dari peristiwa ini, Pak Natsir tetap menginginkan konflik ini adalah konflik internal bangsa kita sendiri. PRRI tidak boleh mengarah kepada separatisme. Sebagai penggagas “mosi integral” yang melebur negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) ke dalam Republik Indonesia, Pak Natsir tetap menginginkan bangsa dan negara kita bersatu. “Ibarat rumah tangga, periuk belanga boleh beterbangan” kata Pak Natsir kepada saya. “Tetapi rumah kita jangan kita rubuhkan”.Jadi, PRRI haruslah dilihat sebagai konflik internal antar sesama bangsa kita sendiri, antara mereka yang menganggap pemerintah pusat sah dan tidak sah, dan konflik antara daerah dengan pusat yang memerlukan penyelesaian yang bijaksana. Karena itu, sungguh keliru menganggap PRRI sebagai gerakan separatis.
Meskipun Pak Natsir dan seluruh mereka yang terlibat dalam PRRI memenuhi panggilan amnesti umum yang disampaikan Presiden Soekarno, namun beliau tetap saja ditahan oleh Pemerintah Soekarno tanpa tuduhan yang jelas. Penahanan terhadap Pak Natsir itu tidak pernah dilanjutkan dengan proses hukum, Ini terang-terangan merupakan suatu bentuk pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang dilakukan Pemerintah Presiden Soekarno. Pak Natsir baru dibebaskan setelah Presiden Soekarno jatuh dari panggung kekuasaan. Ketika memasuki alam bebas, Pak Natsir terus melanjutkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Masyumi telah dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Ketika pada akhir tahun 1960, ketika Pak Natsir masih berada di hutan-hutan. Usaha merehabilitasi Masyumi mengalami kegagalan karena sikap keras pemerintahan militer di bawah Jenderal Soeharto. Ketika pintu untuk kembali terlibat dalam pergerakan politik menjadi tertutup bagi beliau, Pak Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan mulai aktif dalam Muktamar al-Alam al-Islami dan Rabithah al-Alam al-Islami. Dengan begitu, beliau diakui bukan saja tokoh Islam di tanah air, tetapi juga tokoh dunia Islam.
Selama pemerintahan Orde Baru, Pak Natsir tetap dianggap sebagai pemimpin yang disegani dan sekaligus juga “dikhawatirkan” pengaruhnya oleh Pemerintah Orde Baru. Namun berbagai keterbatasan yang beliau hadapi – apalagi setelah beliau ikut menandatangani Petisi 50 beliau dilarang ke luar negeri – kegiatan dakwah Pak Natsir tak pernah berhenti. Beliau juga menulis dan memberikan masukan sekaligus kritik terhadap berbagai kebijakan Pemerintah. Namun, gaya Pak Natsir menulis dan berpidato tetaplah halus, tenang dan tidak berapi-api sebagaimana kebanyakan pemimpin yang menghadapi banyak tekanan dan hambatan. Namun dibalik ketenangan dan kehalusaannya itu, terdapat kekuatan semangat dan keteguhan pendirian. Mengenai hal ini, saya sungguh banyak belajar dari Pak Natsir. Keteguhan hati seorang pemimpin bukanlah tercermin dari kerasnya kata-kata yang dia ucapkan, melainkan dari sikap dan prilakunya yang tidak berubah ketika dia menghadapi tekanan dan tantangan, bahkan bujukan dan rayuan.
Sepanjang saya mengenal Pak Natsir dan bergaul erat dengan beliau, kesan saya, Pak Natsir adalah pribadi yang amat jujur dan bersahaja. Beliau sering mengenakan baju putih yang ada bekas tinta di kantongnya, atau mengenakan baju batik berwarna biru tua. Peci dan sehelai syal selalu dipakainya ke mana saja beliau pergi. Kalau di rumah beliau memakai kain sarung dan baju “potong Cina”, sejenis baju khas orang Melayu. Dengan saya, Pak Natsir seringkali bersenda gurau dan berbicara hal yang lucu-lucu, yang mungkin jarang diucapkannya kepada orang lain. Pribadi beliau sangat menarik dan nampak mudah sekali merasa kasihan dengan orang lain. Ketika saya mula-mula bergaul dengan Pak Natsir, saya masih mahasiswa dan tinggal di Asrama UI di Rawamangun. Setiap Pak Natsir menyuruh saya mengerjakan sesuatu, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau apa yang dikerjakan sudah selesai saya mengantarkannya ke rumah beliau di Jalan Cokroaminoto No 46 Menteng. Saya ngobrol-ngobrol ke sana ke mari sebentar dengan beliau, dan setelah itu mohon pamit.
Ketika saya sudah di pintu pagar rumah beliau, tiba-tiba Pak Natsir memanggil saya dan mengatakan “Saudara Yusril. Tunggu sebentar”. Entah mengapa beliau selalu memanggil saya dengan sebutan “saudara” itu. Saya tunggu sebentar dan Pak Natsir keluar dari dalam rumah lalu memasukkan tangannya ke kantong baju saya. Sambil tertawa beliau mengatakan “Ini ongkos becaknya”. Sayapun tertawa, saya katakan “Pak, sekarang tidak ada becak lagi di Jakarta”. Pak Natsirpun tertawa dan mengatakan “Saudara kan mahasiswa dan tinggal di asrama. Ini untuk naik bis dan untuk ongkos makan”.Saya sungguh terharu dengan sikap Pak Natsir itu. Kalau saya teringat dengan beliau, hati saya merasa sedih. Saya merasa seperti kehilangan orang tua saya sendiri.
Pak Natsir pernah pula mencari saya ke Asrama UI Daksinapati Rawamangun, Jakarta. Saya terkejut bukan kepalang karena teman-teman seasrama memberitahu saya “ada Pak Natsir datang ke asrama mencari anda”, demikian kata mereka. Saya setengah berlari menghampiri Pak Natsir yang menunggu saya di lobby arsama itu. Dengan perasaan malu, saya katakan kepada beliau, biarlah saya yang datang ke rumah Pak Natsir, kalau ada tugas-tugas yang beliau berikan. Kalau beliau datang ke asrama mencari saya, saya merasa saya seperti orang penting, padahal saya hanya mahasiswa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebesaran beliau. Mendengar apa yang saya katakan itu, sambil tertawa Pak Natsir berkata “Ya, kalau Saudara yang perlu dengan saya, Saudara yang datang ke rumah saya. Tapi kalau saya yang perlu dengan Saudara, saya yang datang ke tempat Saudara”. Beliau mengucapkan kata-kata itu tanpa beban. Saya sungguh tertegun dengan ucapan beliau itu. Saya pikir ketika itu, alangkah demokratis dan rendah hati beliau yang bernama Mohammad Natsir ini, sampai saya sendiri tak dapat menutupi rasa malu kepada diri sendiri di hati saya.
Demikianlah sekelumit kata pengantar saya atas diterbitkannya kembali Capita Selecta Jilid I buah tangan Pak Natsir ini. Saya sungguh merasa mendapat kehormatan yang amat besar, dimintakan untuk menulis kata pengantar ini. Semoga kata pengantar saya ini berguna bagi siapa saja yang membaca buku Capita Selecta Jilid I ini. Akhirnya, kepada Allah SWT jua saya mengambalikan segala persoalan.
Wallahu ‘alam bissawwab
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — July 3rd, 2008
76 tanggapan untuk “MENGENANG SERATUS TAHUN MOHAMMAD NATSIR”
Pages: [1] 2 3 » Show All
mahdi (komentar #1)
saya teringat dulu tahun 1987 kelas 1 smk dulu stm, saya pernah baca tulisan Allahuyarham ini milik orang tua, memang benar apa yang dikatakan abang kalau saya ulang baca pun rasanya masih relevan dengan keadaan sekarang. terima kasih bos … sudah menuliskan kata pengantar cetakan ulang buku ini, mudah-mudahan orang tambah tahu perjuangan beliau yang tidak pernah mendapatkan tempat yang layak, mudah-mudahan mendapatkan balasan yang paling baik dari Allah SWT.
Presiden RI sebenarnya telah menganugerahkan Bintang Republik Indonesia untuk Alm Mohammad Natsir sebagai pengakuan atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara. Bintang itu lazimnya diberikan kepada seorang yang memegang atau pernah memegang kepala pemerintahan di suatu negara. Seingat saya, hanya Nelson Mandela, yang ketika sedang berjuang melawan apartheid di Afrika Selatan — jadi bukan kepala pemerintahan — yang pernah dianugerahi bintang itu. Kini sedang diupayakan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Saya kira baik juga diusulkan ke daerah-daerah, misalnya memberi nama jalan atau bangunan-bangunan tertentu dengan nama Jalan Mohammad Natsir, misalnya, agar kita dapat mengenang jasa-jasa beliau semasa hidupnya. Selanjutnya buku-buku sejarah untuk pelajaran di sekolah-sekolah, seyogianyalah memberikan tempat yang wajar kepada peranan beliau dalam membangun bangsa dan negara. (YIM)
July 3rd, 2008 at 9:50 pm
Furqon (komentar #2)
Assalamu’alaikum Wr Wb
Bang Yusril, Ane mo nanya niy dikit,
koq hubungan Pak Natsir dengan Persis nya ga di bahas?…
Tulisan ini bersifat umum dan pengantar saja. Hubungan Pak Natsir dengan A Hasan dan beliau pernah menjadi Ketua Persis dikemukakan dalam tulisan di atas. (YIM)
July 3rd, 2008 at 11:12 pm
abu ghifari (komentar #3)
Terharu tp juga iri dengan bapak yg sempat menikmati kedekatan dgn tokoh spt Allahuyarham M Natsir, negara ini memang tidak memberi porsi yg sepadan utk kontribusi dan pengabdiannya, buku2 sejarah kurikulum resmi pendidikan nasional pun demikian, bahkan seingat sy nama Mohammad Natsir hampir tdk pernah sy dengar meskipun sy bersekolah di SMA Islam Al Azhar.
Bapak sering disebut sebagai ‘Natsir Muda’, mungkin krn begitu dekatnya bapak dgn beliau, semoga bapak bisa mengikuti jejak langkah Allahuyarham M Natsir yg telah mencapai puncak karir politiknya saat menjadi Perdana Mentri dengan menjadi Presiden RI di tahun 2009 .. amiin ..
July 3rd, 2008 at 11:34 pm
ricky (komentar #4)
Semoga Alloh SWT melapangkan kuburan beliau, dan apa yang ditinggalkan beliau menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, amien
July 4th, 2008 at 7:29 am
Chrisna Permana (komentar #5)
Salem’aleikum Bang Yusril…
Media blog sudah, media sinema sudah, media cetak dan infotainment pastinya (he2…), Nah skr saya pikir-pikir. kenapa tidak bang yusril coba mendirikan semacam research institute kecil2an? Melihat tulisan2 bpk ttg Sejarah dan Budaya serta Wisata2, kok sy berpikir pemahaman dan perhatian bpk terhadap masalah2 trsbut sadar atau tidak disadari sangat tinggi jg yah..
Kan bagus juga yah ada Yusril Ihza Mahendra Center, yg cocern pd persoalan2 sosial, budaya, dan pariwisata (jarang lho Bang penelitian yg mikirin kemajuan sos-budaya kita dan pariwisata kita. Banyaknya masih sekitaran politik, ekonomi, dan sosial kemiskinan) Insyaallah, jika berkenan saya siap menjadi bagian dari pioneer penggagas dan pembuat konsepnya jika diperlukan. Mudah2n latar belakang saya pada bidang urban regional planning dan kebijakan perkotaan bisa berkontribusi. Untuk abang, siap lah saya berjuang. Silahkan dihub di mail saya. Wass.
Sudah lama saya memikirkan hal itu. Namun kendala utama yang saya hadapi, saya tak mempunyai dana untuk membiayainya. Seperti Anda lihat, blog saya inipun saya tangani sendiri, tanpa staf. Pak Natsir semasa hidupnya pernah mendirikan LIPPM, yang bergerak di bidang riset, dan pernah dipimpin Alm Pak Deliar Noer dan Alm Pak Anwar Harjono, saya bergabung ke lembaga ini di tahun 1980. Namun akhirnya lembaga ini ditutup karena kekurangan biaya. Namun demikian, saya berterima kasih atas saran dan masukannya. (YIM)
July 4th, 2008 at 8:28 am
adila sp (komentar #6)
ass wr. w
setuju dengan saran chrisna permana.
kapan film nya (cheng Ho) ditayangkan Bos
wes ra sabar pingin lihat.:)
‘Alaikum salam. Versi Bahasa Indonesia Film Laksamana Cheng Ho Insya Allah akan ditayangkan Metro TV mulai tanggal 9 Agustus 2008 jam 21.00 (WIB) sampai akhir bulan Maret 2009 sebanyak 30 episode, dengan masa tayang satu jam tiap episodenya. Saya belum tahu pasti kapan versi Bahasa Mandarin akan ditayangkan oleh CCTV 4 Beijing dan versi Bahasa Thai akan ditayangkan oleh TV 3 Bangkok. (YIM)
July 4th, 2008 at 9:32 am
abu afa (komentar #7)
ass,
Bang YIM, yang dimaksud abang bahwa islam tidak 100% demokrasi dan tidak juga 100% otokrasi dalam tulisan abang ini, apakah ekuivalen dengan konsep “nomokrasi”nya prof Tahir Azhari?
Terima kasih.
wassalam
Yang mengatakan demikian itu bukan saya, tetapi Pak Natsir. Pak Natsir adalah pendukung konsep kedaulatan rakyat, namun rakyat tidak dapat memutuskan segala-galanya menurut maunya sendiri. Ada hukum-hukum Tuhan yang menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Hukum-hukum Tuhan itu tidak dapat dilampaui oleh musyawarah atau voting secara “demokratis”. Demikian kira-kira pandangan Pak Natsir di awal tahun 1940. Memang ada kesamaannya dengan teori tentang “nomokrasi”. Pak Natsir menggunakan istilah “tehistic democracy” tahun 1957 di Majelis Konstituante. (YIM)
July 4th, 2008 at 11:42 am
Suswi N - kalsel (komentar #8)
Assalamu’alaykum………………
Saya setuju dgn pendapat Crhisna Permana, YIM Center, keren abis. kalo bisa didalamnya juga terdapat teknologi dan segala yg menggambarkan tentang Islam yg modern tetapi tidak meninggalkan norma dan kaidah-2 islam. “” masa’ sich semua isi blog ini hasil dari tarian jari jemari Pak YIM sendiri? kalo memang benar begitu, SubhanAllah……………… Luar biasa…………. seorang Yusril Ihza Mahendra yg udah punya nama Besar, masih mau dan bisa meluangkan waktu untuk mememperhatikan, mencerna dan menanggapi kata-demi kata yg jumlahnya tidak sedikit, sbb informasi yg saya terima biasanya org yg sudah terkenal, semua mengandalkan asisten atau admin. “” Pak YIM, untuk mengembangkan YIM Center, kenapa Bapak nggak bikin konsepnya aja dan selanjutnya dilemparkan ( ditawarkan) kepasaran aja ?. kan Pak YIM punya jaringan yg cukup kuat, dan punya relasi yg banyak, nach di dlm YIM Center nanti, konsepnya nggak cuma sosial dan budaya aja, didalamnya juga ada unsur bisnis ( shar’e) misalnya bimbingan belajar, Pelatihan teknologi , Pelatihan yg ada magang kerja atau Entertaiment, enterpreneur dll. InsyaAllah dengan Pak YIM punya konsep dan nama besar Pak YIM, nantinya akan banyak yg respon dan bersimpati dgn program tsb. kalo memang ada nanti di KalSel, saya yg akan jemput bola duluan. Apalagi Pak YIM punya Pengalaman di bidang pendidikan ( lingk. kampus ) yg sangat mumpuni. Nach…………… kalo hal itu bisa berhasil, artinya kita bangun YIM center nggak perlu dana yang berlebih, masalah kantor YIM Center sementara cukup nongkrong di Blogger YIM dulu, untuk dapat dana pengembangan, mungkin bisa minta bantuan pemerintah atau swasta, tapi dgn catatan YIM Cenyer hrs punya badan hukum ( masalah ini pak YIM nggak asing lagi ). Untuk mengembangkan prog. ini, Pak YIM bisa respon ke email saya, InsyaAllah saya akan suport dari daerah. Wassalamu’alaykum……………..
July 4th, 2008 at 12:20 pm
abu afa (komentar #9)
ass,
bang YIM, terima kasih atas jawabannya. Saya tertarik ingin tahu lebih detail tentang konsep “tehistic democracy” yang disampaikan Pak Natsir. Dimana ya literaturnya bisa saya dapatkan? Terima kasih.
wassalam.
Silahkan anda cari buku di Perpustakaan Nasional Jakarta. Judulnya “Tentang Dasar Negara di Konstituante” diterbitkan oleh Setjen Konstituante tahun 1957. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia juga mungkin masih menyimpan buku tsb. (YIM)
July 4th, 2008 at 2:12 pm
Chrisna Permana (komentar #10)
Kawan Suswi.. terima kasih banyak.
Mari kita dukung bapak bangsa kita ini utk mendirikan YIM Center. Akan semakin memberikan kontribusi besar bagi generasi mudanya.. positif sekali pak! (bersemangat) hehe. Kami2 akan sangat bangga dan bersemangat apabila harus berada di baris terdepan utk merangkai konsep, dan mempersiapkan hal2 paling dasar hingga yg substansial. Demi tersalurkannya keteladanan, kepemimpinan, keilmuan bang yusril pada generasi muda. Yakin sekali saya akan banyak yg dukung! Hehe..
Dana besar? Knp tidak kita mulai dr hanya skdr kumpul2 tim kecil yg bervisi sama di suatu tempat yg dijanjikan dan share konsep yg lantas ditindaklanjuti dg berani mulai terlibat dlm kegiatan pnelitian kecil2 (bisa juga dg media blog ini dg menyediakan satu slot utk itu). Bnyk lembaga penelitian yg hanya dimulai dari gagasan apik, ide cemerlang, namun sumbangsih besar, meski hanya dg modal awal dibawah juta. Jikalaupun hrs minta dukungan sponsor, yakin sekali akan bnyk yg mw mensponsori. Mudah2n dapat dipertimbangkan pak. Pasti bermanfaat. hehe (bersemangat sekali nih..)
Trims.
July 4th, 2008 at 2:35 pm
Ashford (komentar #11)
” Sudah lama saya memikirkan hal itu. Namun kendala utama yang saya hadapi, saya tak mempunyai dana untuk membiayainyaAlhamdulillah, ada sedikit jalan”.
Soal yang Profesor keluhkan, belajar dari pengalaman di luar. Melalui Blog ini PROFESOR BOLEH KAN MEMBUAT KOLOM DONASI UNTUK YIM CENTER? Di Australia (Kevin Rudd), di Amerika –seperti Barack Hussein Obama, misalnya. Para pengharap dan yakin akan CHANGE-nya membentuk komunitas dan membantu donasi untuk mewujudkan itu, Kok.
Hayoo, bantu Use the Real For Presiden. Vavai ente buatin dan komunikasikan dengan Profesor-lah.
Demi Allah, jika berkenan, Saya memulainya saat ini dengan mendosnasikan AUS $ 15, Profesor. Harap Maklum, Mahasiswa.
DONASI for Use the Real !
July 4th, 2008 at 2:55 pm
Ashford (komentar #12)
#9
Membantu harapan Anda, ada juga beberapa buku yang diterbitkan ulang oleh
1. Pustaka Panjimas, berjudul PERDEBATAN TENTANG DASAR NEGARA DI KONSTITUANTE. Berwarna Biru bergaris-garis putih, atau
2. Media Dakwah, berjudul ISLAM DAN DASAR NEGARA. Berwana agak kuning keemasan
July 4th, 2008 at 3:00 pm
Suswi N - kalsel (komentar #13)
Ayo……..Pak YIM, kita bergerak, udah mulai ada yg respon nich, bahkan ada yg memulai ada donatur nich, tinggal Pak YIM buka kolom yg dicantumkan no. rek. YIM center, kalau kami ada rejeki lebih yg bener-2 halal InsyaAllah kami-2 akan segera memulainya. sobat chrisna, Ashford dan juga YIM’ER CENTER ( pecinta dan penggagas YIM center ) yg lain ayo kita wujudkan segera. Salam YIM’ER
July 4th, 2008 at 3:42 pm
Kandar Cik Kulup (komentar #14)
Asslmkm,wr.wb
Bang, mengenai konsep syariah islam saya jadi teringat acara di tvone semalam yang nara sumbernya Bpk. Ali Mochtar Ngabalin dan Prof.Thamrin M..apa yang beliau utarakan sebenarnya tidak berbeda dengan konsep Pak Natsir, hanya yang menarik penampilan pak ali yang berapi-api sampai harus gebrak meja segala. Salam buat pak ali bang saya suka gayanya.
Sdr. Ali telah sering mendapat penjelasan saya mengenai syari’at Islam yang diperjuangkan PBB. Kami sependirian. Gaya Sdr Ali kalau sedang bicara atau berdebat memang demikian. Saya memakluminya. (YIM)
July 4th, 2008 at 4:09 pm
Ariedi (komentar #15)
mungkin pendapat saya termasuk yang tidak enak dibaca dan perlu ! saya bukan pengidola tokoh tempoe doloe pak Natsir , Bapak bangsaku hanya satu , Proklamator soekarno dan Ibu Haribaan kebangsaan diriku , hanya Bunda Lulu , induk tali pusar ras manusia , Nenek Moyang Karuhun Borobudur : Bumi Ibu Poro Luhur . maka jika harus ada pilihan lain , selain induk urusan jati Diri yang di Idolakan , aku lebih suka Chairil Anwar - Kahlil Gibran dan master of rock , Ndoro - ndoro Pink Floyd , cantrik para publik Rock magic Understood fantastic Lyric , Penuntun perasaan yang ditinggal pergi oleh eksitensi = Ruwatan Jati Diri Bangsa yang Bertuhan , Bangsa yang Beradab , Bangsa Berbudi Bahasa Tahta Singasana 10281928 Catch the Rainbow Sila 5 Bangsa Merdeka Berdaulat Di Bumi Ibu : Dwi Tunggal Maneping Cipta - Maneping Rasa Siliwangi Disiplin Ilmu Dom Sumurup Banyu , seperti misalnya AIR yang bisa diubah jadi energi alternatif ! dan Hukum Tuhan yang sehubungnya - : JANGAN DITANYA ! alamatnya pada sanubari kedaulatan para pejalan - yang termasuk bisa dialamatkan pada pikiran manusia dan setelahnya membuat data agar tertuang dalam pasal ayat produk Hukum Negara - adalah Hukum alam , Bidang Urusan Getar Astrologi , Keilmuan tingkat selebriti galaxy seperti Sang Profesor Stephen Hawking , Cantrik Pangripta Kitab : Riwayat Sang Kala dan Hukum Kharmapala tanah electron , aturan pengguna jasa satelit - Urusan Dunia Maya Java script : Hono Coroko Eletric Magic ! tidak untuk Hukum Tuhan - Hukum Tuhan tidak dapar diproduksi manusia atas dasar imej bahasa kocap kacarito : Hey Adam Dimana kau Sembunyi ?! Sengkuni ketengoknya Kau ! , Seng Bau - Kuni bunyi , Mbagusi entut berlaku surut ! yaitu = Hamil segentong kocap sepanjang sungai Nil , TIDAK BERLAKU di tanah Jawi gerbang kertasusila Negara Pancasila , Maknawi pancodriyo Negari , seperti perlunya seutuh jari tangan , Genggam DEMI + atas landasan menuju urusan : MEGANG BANGET = tali kekang kuda - kuda demokrasi dan kemerdekaan berekpresi - Menyatakan Pendapat Suluk tambang Laras Serat Centhini , itu = Magic sulur Martial art Pangudi Luhur - : Mendhem Njero Mikul Nduwur - Panjat Syukur Borobudur - jadi ?! - ya = Pendapatku yang sesungguh seklumit , bukan seperti pendapat Jeneng siro YIM , Mengenai Pak Natsir , salah satu pengamal Asas keraguan yang beralasan pada Kesaktian Pancasila - Dasar + Identitas Negara WARIS Sejarah Mahaputra Bumi Ibu Palapa Sumpah Pemuda ! Nyata Tokoh seperti pak natsir itu , Menggurui Publik Jawi bagimana berprilaku sesuai gamitan visi Bongo GURUNG = Purwa - Sebelum Mars Indonesia Raya di perkenalakan untuk pertama kalinya pada 28 oktober 1928 yang sampai saat ini tidak dihubung = Hari Raya Kebangsaan Indonesia Raya . mamulo iku oleh publik Jawi Di = Rumpun Minggat - Njaluk Berlaku surut Tunjangan Rioyo Ketupat arab - : No Batt ! mana arti ” Marilah menuju kemenangan ” yang sehubungnga Indonesia dan Keindonesiaan , dan mana pula yang mentok hubungnya Islam dan Keislaman - Arab perkawisnya , maka kalok Arab dan memangnya arab - ya Arab !! : So What ?! Opo Dene ?!! memangnya arti OPO DENE = Seperti Jua - Nalindra Galaxy tanah jawi Kinasih Tuhan - itu seperti nada tegas kata : Opo Dene ?!! apa kali rupanya - Lha ya itu - jadi simpul bedanya terletak pada periihal mengenali TANDA BACA , Moco - Pat , jati diri Manjing ing tanah aksara alkisah : Hono Coroko - Doto Sowolo - Podho Joyonyo - Mogo Bothongo = yang mewarisi urusan Legalitas sehubung Urusan Kukuh carito kuno , Lingkup Sila 1 - Makanya itu - ada gamitan visi JAWI yang masuk dalam ajaran hukum tata negara di Indonesia ? - ada Naik Bahas Mengenai Serat Centhini di sila 4 setelah masa Bung karno ? kalau tidak ada , dan tidak banyak mengetahui perihal Visi jawi = Bandrol kait wingi Tanah kelahiran dan harga diri Budi Bahasa Kromo Inggil = yang dipakai menulis suratan Takdir - maka apapun pendapat !! sepanjang pendapat tersebut menggunakan bahasa dinas sumpah pemuda , akan ketahuan arahnya dikemanakan , Diperdaya sebagai Lulur aurat bla bla bla arabi , kebelakang dan kebawah seperti tradisi menulis arab - Buang air tinta , ataukah kedepan dan keatas seperti arah jarum jam ; batang hari Pejalan amanat Proklamasi , Keluarga Perjuang - Jua = tradisi dalam menulis aksara tri murti di sila 1 Indonesia Inggris jawa - Bahasa Pribumi Tanah air Pusaka , itu = Three in one - Dua diantaranya dimiliki Negri Kekuatan Regenerasi 10281928 Bahasa Tanah Pusaka + Inggris = Air - Udara Hukum yang memancar pencar kepejuru segala : Airlangga !
Matur Nuwun atas segala masukannya, Mas. Beda pendapat nggak apa-apa. Satu hal yang ingin saya komentari, yakni mengenai Arab. Islam itu tentu tidak identik dengan Arab, sebagaimana Buddhisme — yang tidak boleh sampeyan lupakan kalau bicara tentang Borobudur — juga tidak identik dengan India. Pendapat sampeyan yang lain-lain, kebnayakan saya tidak sependapat, namun biarlah kita saling hormat-menghormati dalam perbedaan dan kebersamaan. (YIM)
July 4th, 2008 at 5:43 pm
edi.santosa (komentar #16)
Iya tuh saking gak bisa ngomong apa-apalagi prof Thamrin sampai harus mengeluarkan kata-kata penistaan demi menyelamatkan mukannya. TVone salah ngambil nara sumber.Bang Ali dilawan..untung bukan Pak Prof kitanya yang turun langsung hehehe…
Ngomong2 soal Alm. Pak Natsir, saya punya Biografi beliau yang ditulis Ajip Rosidi tapi baru punya jilid 1 saja. susah sekali cari jilid yang lainnya.Ada yang punya gak ya???
Oh ya Pak, saya jadi berangan angan suatu saat diperbolehkan untuk melihat dan membaca koleksi buku Buku Bapak.mudah2an terwujud amien… :-)
Wah pada semangat bikin YIM Centre nih..asal jangan semangat diawal memble belakangan aja n cari nama doank yaa..saya hanya bisa dukung lewat do`a mudah2an tercapai, kalaupun tidak, masih banyak jalan untuk berbuat sesuatu.
MAkanya Pak, dana yang buat beli rokok mulai sekarang ditabung buat yang lebih manfaat :-) kalau 2 bungkus sehari berarti sekitar Rp 18.000/hari dibakar x 30 = Rp 530.000/bulan tuh uang yang Bapak bakar hehehe.sayang banget, mendingan buat bikin iklan di TV Pak kayak Pak SB. Lumyan tambah-tambah rating LSI hehehe…Maaf ya Pak nyinggung2 lg soal rokok..
Oya Pak, Bapak selalu bilang kalau PBB kesulitan dana, dengan tanpa mengurangi rasa hormat, Bapak sudah sukses dengan Kantor Hukum dan usaha restonya.Pak Kaban udah jadi menteri, di legislatif juga ada, paling tidak untuk pendanaan tidak separah waktu Partai baru berdiri donk hehehe…
Semoga Bapak dan Keluarga sehat selalu…
July 4th, 2008 at 5:46 pm
aditya (komentar #17)
assalamualaikum bang…
setuju dengan saran dari chrisna permana.. masalah pendanaan mungkin kita bersama bisa saling bantu, tidak penuh keatas yang penuh kebawah kan juga ga apa apa bang.. insyallah dengan tekan bulat dari abang banyak rekan-rekan blogger yang akan mencari foundingnya bang…
terutama di daerah, saya optimis banyak para dermawan yang akan membantu…
semoga saran rekan-rekan ini secepatnya terwujud… amin…
mohon abang beri tahu saja apa yang harus kami lakukan, maka kami akan bergerak…
terimakasih..
July 4th, 2008 at 8:07 pm
okthariza (komentar #18)
Assalamu’alaikum
ini buku yang sudah lama saya tunggu, waktu ada pameran buku di kampus memang ada yang jual, tapi karena buku klasik, harganya 250 rb. saya ga sanggup beli. akhirnya saya cari ke pasar buku di SEnen, tapi harganya malah lebih tinggi lagi.
kalo boleh tau, kapan terbitnya bang? kira2 dijual di toko2 buku di Jkt ga ya? saya sangat berminat membelinya, Natsir salah satu tokoh favorit saya.
July 4th, 2008 at 11:56 pm
Syam Jr (komentar #19)
Ketika Bung Karno menyampaikan rumusan Pancasila pada rapat Penitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Dokuritschu chiombe chosakai 1 Juni 1945. Agaknya Mr. Kasman Singodimedjo maupun founding father lainnya, toleran dan menerimanya untuk dijadikan dasar negera. Sebagamana Bung YIM tuliskan Pak Natsir juga dapat menerimanya.
“Namun sikap Pak Natsir mengenai Pancasila itu sendiri, tidaklah demikian. Beliau dapat menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, sepanjang Pancasila itu ditafsirkan dalam premis-premis Islam. Hal itu ditegaskan Pak Natsir dalam pidatonya di hadapan Pakistan’s Institute of World Affairs tahun 1952. Jadi, soal Pancasila adalah soal tafsir belaka. Indonesia, kata Pak Natsir, dapat disebut sebagai Negara Islam karena kenyataan bahwa bagian terbesar penduduknya beragama Islam. Meskipun Islam tidak dinyatakan secara tegas sebagai dasar negara sebagaimana halnya Pakistan, namun Pancasila, yakni lima asas yang dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah sesuatu yang sejalan dengan ajaran-ajaran Islam.”
Dengan azas Pancasila maka republik ini bukanlah negara sekuler, karena premis prmis Islam dapat diterapkan dalah menata kehidupan bernegara, meskipun tidak secara langsung berazaskan shariat Islam.
Tetapi menurut hemat saya, pada era reformasi terdapat distorsi terhadap falsafah negara Republik Indonesia, yaitu tidak berlakunya azas musyawarah mufakat. sehinga yang terjadi saat ini adalah sistem demokrasi dengan pemilihan langsung one man one vote, bukan lagi demokrasi Pancasila.
Padahal Pancasila mengamanatkan bahwa “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan” Dengan adanya amandemen maka berarti falsafah negara ini berubah menjadi “Catursila”. Republik ini tidak lagi punya falsafah negara…
July 5th, 2008 at 12:58 am
jebee (komentar #20)
Ass WW
Terima kasih Bung Yusril
Saya serasa melihat dan menyaksikan Alm. Buya Mhd. Natsir hidup kembali…..
Beruntung dan Bersyukurlah ‘Saudara’ yang bisa menimba ilmu, berdiskusi dan bersenda gurau dengan Buya Natsir.
Saat saya kuliah dulu, buku Capita Selekta Buya Natsir ini sangat sulit mencarinya dipasaran, hanya dimiliki oleh orang tertentu saja dan buku ini sepertinya saat itu ibarat sebuah bom atom yang meledak jika ditemukan.
Bagi saya judul buku ‘Capita Selekta’ ini sejak dulu sangatlah familiar dan sering dicelotehkan oleh guru guru saya betapa bagusnya kandungan isi buku ini, cuma saya heran mereka hanya bisa berkata saja tetapi tidak memiliki bukunya, termasuk saya yang sampai saat ini juga masih belum memiliki dan membaca buku itu, tetapi saya sudah membaca dan mengoleksi beberapa buku karangan Alm. Buya Natsir.
Selamat atas penerbitan buku ini, saya juga sudah tak sabar untuk memburu dan membaca buku itu.
Cuma sayang mengapa menerbitkannya masih terbatas ? apa tidak diterbitkan secara luas untuk umum Pak ?
terima kasih
Salam
Indonesia
JEBEE
Buku tsb diedarkan untuk umum atas kerjasama antara Media Dakwah dengan Yayasan Bulan Bintang Abadi. Kali ini dicetak sekitar 10.000 eksemplar. Semoga kali ini anda akan mendapatkannya. (YIM)
July 5th, 2008 at 4:20 am
M. Zakariya (komentar #21)
Assalamu’alaikum wr wb.
Alhamdulillah. akhirnya bang Yusril meneruskan juga di media ini. Maklum sy kangen dengan tulisan2 abang, krn agak lama sy tunggu tulisan berikut setelah skb dll. Saya usul tulisan tentang polemik Pak Natsir dengan tokoh2 lain yang berseberangan ideologi - seperti dg pak Karno dkk - Juga alasan2 Pak Karno yang kurang sensitif/kontra dg ketokohan dan memilih nama pahlawan yang tidak kental dg keislaman ( Spt Kartini, Bung Tomo dll.)
Terima ksih, semoga bisa dilanjutkan tulisannya yang lebih bagus lagi.
Wassalamu’alaikum wr wb.
Insya Allah kalau ada kesempatan, saya akan menuliskannya. (YIM)
July 5th, 2008 at 10:33 am
Haurul Wz (komentar #22)
Mudah mudahan saya bisa kebagian buku “CAPITA SELECTA” yang asli karena saya hanya punya edisi fotho copy saja
July 5th, 2008 at 5:00 pm
isna (komentar #23)
saya pernah membaca buku capita selekta jilid III milik papa saya, apakah buku itu karangan bung natsir juga ? buku itu benar- benar hebat tapi hanya orang yang mengerti tauhid yang bisa memahaminya mudah-mudahnya saya dapat memiliki buku capita selekta jilid I dan II nya.
Entahlah, apakah itu karya Pak Natsir juga. Mungkin judulnya sama tetapi kumpulan tulisan orang lain. Capita Selecta Jilid III memang ada, tetapi masih dalam bentuk ketikan dan belum pernah diterbitkan. Capita Selecta Jilid III karya Pak Natsir adalah tulusan-tulisan beliau sekitar tahun 1958-1961. Ada bagian-bagian tulisan ketika beliau sedang bergabung dengan PRRI. (YIM)
July 5th, 2008 at 5:15 pm
isbandiono (komentar #24)
Kepiawaian Pak Natsir dalam berpolitik dan berdakwah dengan tetap teguh berpegang pada prinsip yang diyakininya tidak diragukan lag, demikian juga kesederhanaan dan kejujuran beliau .Jasanya kepada negara selain memberikan contoh untuk dalam berpolitik juga adalah mosi integralnya sehingga terbentuk NKRI yang sekarang banyak politisi kesiangan berkoar koar membelanya. Yang selalu terngiang dibenak saya adalah apa alasan yang sesungguhnya sehingga beliau yang bersikap santun dan demokratis iktu serta dalam kegiatan PRRI bahkan menjadi Presiden RPI. Saya pernah membaca bahwa beliau hijrah ke Sumatera karena keamanan dirinya sudah tidak terjamin.
lagi.Alasan ini belum memuaskan saya.Mohon Pal YIM menjelaskan mengapa sampai beliau ikut dalam PRRI.
Saya sebenarnya telah pernah menulis hal ini kira-kira tahun 1980, judulnya “Prolog PRRI dan Keterlibatan Sjafruddin Natsir”. Saya akan mencari tulisan tsb di arsip. (YIM)
July 5th, 2008 at 7:46 pm
isbandiono (komentar #25)
Kepiawaian Pak Natsir dalam berpolitik dan berdakwah dengan tetap teguh berpegang pada prinsip yang diyakininya tidak diragukan lag, demikian juga kesederhanaan dan kejujuran beliau .Jasanya kepada negara selain memberikan contoh untuk dalam berpolitik juga adalah mosi integralnya sehingga terbentuk NKRI yang sekarang banyak politisi kesiangan berkoar koar membelanya. Yang selalu terngiang dibenak saya adalah apa alasan yang sesungguhnya sehingga beliau yang bersikap santun dan demokratis iktu serta dalam kegiatan PRRI bahkan menjadi Presiden RPI. Saya pernah membaca bahwa beliau hijrah ke Sumatera karena keamanan dirinya sudah tidak terjamin.
lagi.Alasan ini belum memuaskan saya.Mohon Pal YIM menjelaskan mengapa sampai beliau ikut dalam PRRI.
July 5th, 2008 at 7:46 pm
Ariedi (komentar #26)
tunes - : Salam Panjang Umur dan Makmur - HONG ILAHENG TATA WINANCI AWIGHNAMASTU NAMAS SIDDHAM - Sinegeg - : Borobudur ! Sentosa God Bless You are Salamun Miir robi rohim Ramayana The Greatest Love of all ! *
penguasa seantero jagad peristiwa Konstelasi Bintang Di luar angkasa menyatakan secara tersirat melalui kidung
sastra Tanah electron ( 70’s Hit goerge Benson ) : I beileve the children are our FUTURE - Teach them well and let them lead the way - Show them all the beauty they possesess inside - Give them a sense of PRIDE to make it Easier
Let Children’s laughter remind us how we used to be - dan seterusnya Cumbu Biduan tersebut mendayu jazzy 70′an
Terima kasih , atas seklumit patah kata bapak , atau Bung , Usia kita tidak terpaut jauh , aku 40′an dari angkatan putro wayah ( pada giliran Megang Banget Kendali Sila 4 ) yang lahir sebagai Bangsa Indonesia Raya Merdeka + Berdaulat , yaitu setelah Pemilu pertama 1955 - anda termasuk senior , tepat satu diatas Ubun - Generasi Posisi pemilik Negri Sumpah pemuda - yang lahir sebelum 1955 = angkatan Kuasa Hukum - : BUKAN PEMILIK Negri kekuatan Regenerasi 10281928 .
Monggo kulo aturi Pirso , simpuil benang merah lingkungan visi angkatan dibahwah anda , seperti perlunya mengetahui sifat - karakter bawak’an adik sendiri , karena kita Di Indonesia Hidup dalam aturan keluarga Besar - Hukum Rumpun Gema Sila 3 - dan itu adalah : IDENTITAS - jadi tidak membiarkan perbedaan yang Nyata sehubung JAWI - Dengan Visi gamitan Raos ARABI begitu saja - seolah bukan saudara - setanah air sendiri , ya = tidak megang PENTHUNG Penduduk Setempat ! yang memang Bukan rumpun Tebar tradisi Rioyo Ketupat No batt ! - anda itu bagaimana , lha wong memangnya dari arab , ya arab ! - masak harus dibilang ndoro tuan wan salud berlaku surut atasan visi akar rumput ? - Rumput mana pula ? - rumput pekarangan tetangga yang lebih terlihat elok dari tanah alamat Diri Unjuk atur pangabekti ? - karena jeneng siro YIM - Nyandhak urusan IDENTIK - Baiklah Islam itu : Seberapa Tidak Identik dengan ARAB - Visi Rumpun Bani Da’am ?! tolong hati - hati seperti ketika menyebrang jalan - Lintas 7 langit perkara di sila 1 - karena sampai saat ini - katepeku masih tertulis beragama Islam - lalu ortu , saudara hingga handai taulan dan teman juga demikian , total nggak kurang dari 90 persen dibawah pengaruh Lingkup Visi Islam dan entah apa aliran keislaman semenjak masih anak - anak .
maka kalau saat ini diriku terkesan Muak , mau muntah rasanya dengan ragam entah apa - APA aliran islam - Itu adalah dengan sendirinya - Diri Lahir lengkap dengan masukan pekerti PEMBEDA - sebagai suku - selaku warga dan Bangsa - Juga gamitan labuhan Visi yang diwarisi oleh leluhur dan Bapak Bangsanya , yang pada dewasa ini terganjal - akibatnya banyaknya masukan visi Impor , semakin terjerembab menjadi satu genangan : Lumpur Nhul Puthul Lapindo , itu jua = Bukti seperti kemajemukan islam yang dijadikan satu - Bukanlah maknawi Indonesia yang majemuk = Orang sini - Penduduk setempat , Berasal dari pekerti Indonesia Dalam bhineka Tunggal Ika : Prinsip Dasar ! Kedugo papan panggon - kalau Islam yang majemuk = Nyamuk sini - DENGING Setempat ! Njaluk berlaku Surut Tunjangan Rioyo Kertupat Pada NKRI - Gilairan Menggadang Elu - elu pepuji pada Tanah arabi , maka yang Benar Mintalah pada Ndoro Tuan Arab Saudi , Negri Priyayi Sumur Minyak - karena derajat Cekak aos syahdan tanah airnya = Tanah air Pesuruh - Itu menurut otomatis Budi + Raos Manjing pernah ( On the level ) = Bawahan Syahdan Tanah air Pusaka : Kinasih Tuhan , Negri Waris Sejarah Mahaputra Bumi Ibu - Palapa Sumpah pemuda !
jangan - jangan termasuk disitu letaknya : TIDAK SEPENDAPAT Anda - kalau demikian simpan untuk diri sendiri , beda bangetnya sampeyan - Bukan Demokrasi Arabi yang berlaku Disini - Melainkan Jawi You Know ? Jawi !! maknawi laras sami ugi - balung titah amargi ing marchapadha - Batang Tubuh Bangsa Indonesia Raya , Trah Geni Prapat Sumpah pemuda . dan Negrinya disebut Gerbang Kertasusila Sapto parwo Mojopahit = 7 langit perkara NKRI : Nusantara dan Bahasa Kita Bela Bersama ( Dinding Sila 3 Mars Satu Nusa - Satu Bangsa ) apakah juga disitu , KEBANYAKAN tidak sependapatnya anda ? - Seberapa Banyak ? Maka Teliti dulu sebelum , Ber Seklumit Opo + Tumon Nya pendapat - Bahwa aku tidak sedang menegaskan Identik ini itu sehubung arab india atau cina , Melainkan mengenai posisi Tanah Pijak ku , alamat putra - Putri Bangsa - Bernada empat per empat Moco- Pat : Disanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku - Indonesia Kebangsaan Ku = lagu Kuku pancanaka Semesta Nasional Bima Sakti , Kuku pancodriyo Negari , daya Cengkram - Genggam Keutuhan + Urusan kukuh carito Kuno - yang disingkat : Iman - yang berasal dari kandungan lokal sumur bathin Bumi Ibu karuhun Jagad Paranatan Kedaulatan .
Maka bagi generasi seangkatanku - yang hidupnya dijaman listrik , Java script : Hono Coroko Eletric Magic , dan dewasa ini di abad Hilir - abad Tagihan Rumongso Nduwe Udhel - Ponsel , BERIMAN - keabsahannya bukan dari buku - termasuk yang dijual di kios Loak - Kitab kasat dan darimana isi bla bla bla nya berasal , bagi kami hal beriman adalah : DARI YAKIN KU TEGUH - HATI IKHLAS KU PENUH = KUKU jati diri Publik Kedugo Rapal Mantram Sinegeg Sakhathahe Para Jawata Watak Nine to five - Toleransi pada Hukum KERJA dan pengamalan informasi Kerohanian Hadirat Sila 1 Negari . jika dihubung kata kitab - namanya KITAB KRUNGU KABAR - Keluarga Halilintar , al kitab sanubari kedaulatan rumpun Gema Samosir - Prasasat Kethog - Kunir Keluarga Petir - sebatas tidak berlaku bagi tuna rungu - tuna wicara , karena terkaitnya = Hukum mireng - Moral Mudheng - Penuh Pesan Kosmik Energi Kidung Sastra Pepujian - Pakem Sonteng Primbon Kejawen - Serat jamus kalimusodo - Hingga Centhini , akrab bukan kepalang dengan yang namanya Tembang laras Pringgondani , maknawi : PRI + NGGON + DANI = hal penempatan suku kata , yang ditempatkan pada pernahnya : ON THE LEVEL - ajaran yang paling terkemuka di sila 1 = Moco-pat , fakta tidak buta huruf penempatan ketika pada Ketikanya - Diri individu warga didalam jati dirinya sebagai BANGSA yang Bertuhan - Lebih Mengedepankan Tujuan Cita Bangsa - yang tidak dapat dengan seenaknya di = Umat - istilah yang di impor dari arab - Oleh Importir Petir bla bla bla Wahyu rumpun Langit Guo Hiraj - dalam Khasanah bahasa Indonesia garis keras - tidak tepat disebut WAHYU - karena disuarakan di goa = tidak di tempat kejadian perkara = Alibi - adalah istilah wangsit Dewi ARRIMBI - OR and BE - Bunda Kerajaan on the level Kiss Army Pringgondani ! Wangsit Levelnya , bukan wahyu - Pengertian sehubung kata Wahyu + Kraton Gung Binatara Sila 1 - Negri Kosmik Energi Kesaktian Pancasila yang Punya - Bersifat Tunggal dan hanya Bangsa Indonesia yang mewarisi ! - apakah Juga Disitu , Letak tidak sependapat Bung ? - Jika ya , simpan ! atau sunggihen dewe papan dhodhol Rujak Propanganda Derajat tanah Mekah : Sorga Mabrur Manalagi yang lebih menggoda ( ??? ) + Sila 5 = Insya’allah Tunggu tanggal mainnya , lakone metu - jagonya keluar ! batgirl - batman datang ! - atau yang mirip visinya pak natsir - yang anda andalkan sebagai jagonya tuntunan Laku Sahandap Sila 3 di sila 1 dan sila 2 ??! ya , jawabnya itu - kasar jadinya : Ngoko Bloko Suthong Metu sungut Visi jawi laras Centhini - Orang sini ! seperti misalnya kata : ghak nuthuti Kulak ANE - Ente Majnun Soale ! Islam Hardcore kelas berat Tumrap Derajat raos Arab - Berwalirasa + Gengsi + Tersinggung PINJAMAN Wali rasa warga Arab pra listrik - ulangi : Islam itu seberapa tidak identik dengan Arab ? wong mengucap salam saja seragam , salah alamat Induk Imigrasi - alamat nya di sila 1 Milik Bangsa Indonesia - dan letaknya di : Tanah air Pusaka - Gerbang kertasusila Negara Pancasila ! dan pengucapan salamnya kurang lebih seperti yang kuhaturkan diatas , jika untuk bergema di ruang sila 4 dimulai dengan kata : Jaya Wijaya ! Hong Ilaheng Tata Winanci Awighnamastu namas siddham , Sentosa Syailendra Susuhunan atur Mendhem Njero , Mikul Nduwur - Panjat Syukur Borobudur , Sejahtera panjang umur dan Makmur ! Sinegeg Toleransi - Bandrol kait wingi Pejalan amanat Proklamasi !
Wah sudah jam berapa , nih ! duh ngapunten bung yusril , sampai kelupaan mengisi Perut - semoga bung tetap sehat , dan tidak sepertiku , waktu makan nggak aturan , Pertahankan situs ini untuk silaturahmi antar angkatan , anjang sana - urun rembhuk visi , kalau sehubungnya Visi Impor - hati hatilah agar tidak tidak terkesan menggurui harga mati - Jati diri Bangsa - Tanah Pijak , maupun Rumpun = Rumpung gaung Borobudur ! dan aku fakta ! tidak bicara tentang Borobudur atau Budhisme - India , aku sedang menulis : AKU - melangkahkan Aku - Bukan Tuak menggelegak - gamitan demokrasi Dahak , negri Priyayi Sumur Minyak arafah : APA KALI RUPANYA = arti sendiri Arafah + arti sendiri islam = PATUH TUNDUK TANPA MEMBANTAH - hakekat tanah PESURUH Tuhan , Bukan seperti Tanah Jawi Laras serat Centhini : Tanah KINASIH Tuhan - Hadirat Sila 1 BANGSA yang Bertuhan ! Salamun miir robi rohim - yang Lebih tepat diberikan kepada kita dari Umat beragama islam - lain Imigrasi , termasuk warga Arab saudi - dan kita menjawabnya dengan : Asalamualaikum = letak jawaban - tetapi kalau salah alamat , aturan wilayah induk imigrasi - adat Tanah Jawi - menyapa dengan Asalamualaikum - ya dijawab seperti darurat bergegas memanggil : Dokterrrr !!! - perhatikan nada kalimat memanggil Dokter yang beragam Inotasinya dalam Situs The Doctor : Pink Floyd - The definitive ( nge Downloadig POD MP3 Cantrik alam al kisah ) padang Kuru Bharata Yudha , Dokter ? - Dokter ! - atau mendayu - setengah menggatang seperti suara lemah pasien : Dokter … ??
Sekali lagi matur nuwun Mas. Pendapat sampeyan yang gandrung sama klenik itu bagi saya biasa-biasa saja. Yang lebih serem dari itupun sudah saya baca seperti tertuang dalam Serat Darmogandul dan Gatoloco. Bagi saya yang penting untuk direnungkan di zaman sekarang ialah wejangan Raden Mas Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, khususnya bagian “Zaman Edan”. Di zaman edan ini “sopo sing ora edan, oran keduman”. Namun “sak bejo-bejo ne wong sing edan, isik bejo sing eling lan wospodo”. Almarhum Pak Zahid Hussein pernah menjelaskan kepada saya bahwa “eling lan wopodo” itu adalah istilah lain dari “zikrullah dan takwa”. Mudah-mudahan sampeyan setuju. Kalo nggak, ya gak opo-opo.. he he he.(YIM)
Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengkubuwono X) pernah bercerita kepada saya, suatu ketika beliau berkunjung ke Suriname. Oleh Pemerintah di sana, beliau dipertemukan dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Di antara yang hadir itu ada tokoh yang berpakaian khas Jawa. Ketika diperkenalkan beliau itu disebut sebagai tokoh “Gomo Jowo”. Sri Sultan sempat kaget, namun akhirnya beliau tertawa. Saya bersyukur KTP sampeyan tetap mencantumkan agama sampeyan Islam. Orang beragama itu kadang-kadang mengalami pergolakan batin yang dahsyat. Saya maklum akan hal itu. Mudah-mudahan sampeyan bersabar dan dapat menemukan jalan kebenaran di dalam Islam. (YIM)
July 5th, 2008 at 10:04 pm
Iwan Asnawi (komentar #27)
Dear; Mr. Yusril Ihza Mahendra…
I am thinking how i can get this book?! I am living in Switzerland!
There is someone organice to send me one?
then i can send some money for that reason?
Your sincerrally
Iwan Asnawi
Brienz Strasse 38
3800 Interlaken
Republik of Switzerland
Okay. I already got your address. I will ask the publisher to send it.
July 6th, 2008 at 12:07 am
Hamba Allah (komentar #28)
@Bapak Ariedi
Waalaik buat Pak Ariedi
( tulis salam yang bener dong !!! )
kalau tulis comment yang jelas dong. susah dibaca, gak usah pakai bahasa di awang-awang. GAK JELAS !!!
ISLAM tidak identik dengan ARAB, begitu juga dengan Budha dan Hindu, semuanya juga import. Kalau mau yang orsinil Indonesia, pilih saja Animisme, gak usah muter-muter lah. Umur sudah 40 tahun, harus cerdas memilah dan mencerna opini yang gak berdasar !!!
Kalau masalah salam yang seragam, coba cari tahu dulu kenapa redaksi salam seperti yang ada sekarang. Atau jangan-jangan Bapak tidak tahu asal-usul mengenai masalah salam.
Kalau saya maklum saja. Membaca tulisan Pak Ariedi, sementara ini saya berkesimpulan beliau itu gandrung kepada dunia kebatinan. Dunia ini rada-rada susah kalau diomongkan, karena omongan (atau tulisan) itu adalah bahasa zahir. Makin banyak diomongkan, makin “kleru” (salah atau keliru). Di sinilah sebenarnya letak perbedaan antara “ilmu” (dalam Bahasa Arab) dengan “ngelmu” (dalam Bahasa Jawa). Ilmu itu menggunakan nalar, metode dan pengujian empiris untuk membuat sesuatu yang gelap menjadi terang benderang. Sementara “ngelmu” (kadang-kadang diplesetkan menjadi “angel ketemu” (susah untuk ditemukan), bisa sebaliknya, yakni, makin dikupas, dibicarakan dan didiskusikan, sesuatu itu bukannya tambah terang, malah tambah gelap dan akhirnya gelap gulita, he he he… Namanya saja “Kebatinan”, jadi sesuatu yang ada di alam batin. Kalo diomong-omongkan terus secara zahir malah jadi “ngawur nggak karuan”. Ajaran tasawwuf Syach Siti Jenar karena diomong-omongkan (ajaran tentang “manunggaling kawulo Gusti”) maka akhirnya membuat “kleru” bagi orang yang mendengarnya. Sebab itu ada peneliti tasawwuf yang mengatakan bahwa Syech Situ Jenar itu “kafir” di hadapan manusia — khususnya para penentangnya — tetapi “mukmin” di hadapan Allah. Demikian komentar saya. Menghadapi Pak Ariedi itu saya menganjurkan untuk mempedomani firman Allah SWT di dalam Surah An Nahl ayat 125 yang artinya “ajaklah manusia itu ke jalan Allah, dengan hikmah (pendekatan yang bijak, yang rasional dan filosofis), dan “mau’izatil hasanah” (berilah contoh-contoh yang baik), jika perlu dilakukan perdebatan “mujadalah”, maka lakukanlah dengan cara yang baik pula”(YIM)
July 6th, 2008 at 12:42 am
Iwan Asnawi (komentar #29)
@27… Mr. Mahendra
Thank you so much for your attention!?
and i am so glad finally i can get this book…
please, put slip payment inside that book…
and i wish you all the best!
Yours sincerely
Iwan Asnawi
July 6th, 2008 at 5:09 pm
n. jamil (komentar #30)
Saya lega membaca tulisan Bang YIM ttg pak nasir, tokoh yang selama orde baru sulit bernafas. Lebih lega lagi tanggapan bang YIM ttg komentar #26 Ariedi. Saya sudah berangan-angan menulis tanggapan utk Ariedi, tentu saja agak garang. Namun bang YIM memberikan jawaban yang menenangkan jiwa saya, sehingga tidak jadi ditulis.
Selamat menuju tangga RI1 .. amin 3 x
July 6th, 2008 at 8:00 pm
Pages: [1] 2 3 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda