Beranda

MENGENANG SERATUS TAHUN MOHAMMAD NATSIR

Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Tanggal 17 Juli 2008 nanti akan ada Peringatan Seratus Tahun Mohammad Natsir di Jakarta. Berbagai acara telah dan akan diselenggarakan dalam peringatan ini, mulai dari diskusi, seminar, penulisan buku dan penerbitan kembali buku-buku karya Almarhum Mohammad Natsir. Keluarga Pak Natsir meminta saya untuk menulis kata pengantar atas diterbitkannya kembali Capita Selecta Jilid I karya almarhum yang pernah diterbitkan tahun 1954. Oleh karena buku itu dicetak terbatas, maka kata pengantar yang saya tulis itu saya hidangkan di blog ini, agar dapat dibaca oleh kalangan yang tidak sempat memiliki buku karya Mohammad Natsir yang diterbitkan kembali itu. Apa yang saya tulis dalam kata pengantar itu, sesungguhnya lebih dari sekedar mengantarkan pembaca untuk memahami buku yang diterbitkan, namun memberikan gambaran umum tentang sosok Mohammad Natsir, agar kehidupan dan sumbangannya bagi bangsa, negara dan agama dapat diingat kembali dan dikenang oleh generasi yang hidup di masa sekarang.

Pak Natsir (1908-1993) adalah tokoh intelektual, pejuang, politikus, ulama dan sekaligus salah seorang negarawan yang dimiliki bangsa kita. Sejak usia muda, beliau menaruh minat yang sangat besar terhadap ilmu pengetahuan, falsafah dan kajian keislaman. Di zaman ketika beliau masih muda, untuk mendapatkan informasi dan bahan-bahan untuk mendalami bidang-bidang itu tidaklah mudah. Perpustakaan tidaklah sebanyak zaman sekarang. Mesin fotocopy belum ada. Internet yang dapat membantu seseorang menelusuri berbagai bahan yang diperlukan, juga belum ada. Namun Pak Natsir bagai orang yang tak pernah putus asa untuk mencari. Meskipun beliau sepenuhnya menempuh pendidikan Barat di sekolah-sekolah Belanda, namun minatnya untuk menelaah khazanah ilmu pengetahuan keislaman bagai tak pernah padam. Beliau pergi ke sana ke mari untuk mencari buku, meminjam dengan orang-orang, atau meminjam buku di berbagai perpustakaan. Beruntung beliau, karena memahami bahasa Belanda, Arab, Inggris dan Perancis, sehingga berbagai buku yang diperlukan, yang ditulis dalam bahasa-bahasa itu dapat beliau baca. Bahkan, beliau tidak saja menulis dalam Bahasa Indonesia, namun juga menulis dalam Bahasa Belanda, Perancis dan Bahasa Inggris.

Kebiasaan Pak Natsir memburu buku itu, bukan hanya terjadi ketika beliau masih muda. Ketika usia beliau makin senja, saya adalah salah seorang yang selalu beliau suruh untuk mencari berbagai buku yang ingin beliau baca. Saya bukan saja harus mencari buku-buku itu di berbagai toko buku atau di perpustakaan, tetapi bukan sekali dua harus datang ke rumah beberapa tokoh untuk mendapatkan buku itu. Pernah beliau menyuruh saya datang ke rumah Prof. Osman Raliby, ke rumah Prof. Zakiah Darajat, Prof. Deliar Noer, M.Yunan Nasution, Zainal Abidin Ahmad, dan bahkan saya di suruh pergi ke Bandung, karena buku yang beliau cari ada di rumah Endang Saifuddin Anshary. Pak Natsir membaca buku-buku itu dengan penuh minat. Saya menyadari bahwa Pak Natsir tidak ingin sembarangan bicara atau sembarangan menulis. Beliau ingin mendalami segala sesuatu sebelum menyampaikan pendapat atau menentukan sikap terhadap sesuatu masalah.

Sikap yang ditunjukkan Pak Natsir seperti saya gambarkan di atas sangatlah baik untuk diteladani. Seorang cendekiawan dan seorang pemimpin, sebaiknyalah mendalami segala sesuatu sebelum menyampaikan pendapat dan menentukan sikap. Karena itulah, kalau kita menelaah tulisan-tulisan Pak Natsir, baik tulisan lepas maupun sebuah polemik, beliau mengemukakan pandangan berdasarkan data, analisa dan argumentasi yang kokoh. Karena itu pula pandangan-pandangan beliau mempunyai bobot yang tinggi dan juga mempunyai pengaruh yang luas kepada publik. Tulisan-tulisan itu, bahkan melampaui zaman. Apa yang beliau kemukakan ketika beliau masih muda – di zaman kita masih dijajah – maupun setelah kita merdeka, tetap mempunyai nuansa yang relevan dengan zaman ketika kita hidup di masa sekarang. Masalah-masalah memang datang silih berganti sesuai tantangan zaman. Namun esensi persoalannya tidaklah bergeser terlalu jauh. Karena itu, dalam membaca tulisan-tulisan beliau yang dihimpun dalam buku ini, kita harus mampu menangkap esensinya, bukan menangkap peristiwa-peristiwanya saja, yang kini telah menjadi bagian dari sejarah bangsa kita.

Membaca tulisan-tulisan Pak Natsir yang dihimpun dalam buku ini, saya berani mengatakan bahwa Pak Natsir bukanlah seorang yang murni intelektual, kalau kita menggunakan ukuran-ukuran sebagaimana dikemukakan Julien Benda. Bagi Benda, intelektual adalah manusia yang menghabiskan waktu sepanjang hidupnya untuk bergelut dengan dunia pemikiran. Mereka menjauhi dunia praktis dan tidak menaruh minat kepada dunia politik. Bagi Benda, intelektual nampaknya seperti seorang yang berdiri di menara gading. Kepalanya tidak menyentuh langit dan kakinya tidak menginjak bumi. Mereka berumah di atas angin, berada di awang-awang nun jauh di sana di atas tanah tempat kita berpijak. Pak Natsir pada dasarnya adalah seorang aktivis. Beliau terlibat dalam berbagai pergerakan, baik kepemudaan, keagamaan, sosial dan politik. Beliau menulis dalam rangka pergerakan itu dengan bertitik tolak pada kenyataan-kenyataan sosial yang dihadapinya. Beliau tidak menulis untuk melontarkan gagasan di ruang hampa. Sebab itulah, kita jarang menemukan sebuah buku yang benar-benar buku yang pernah beliau tulis untuk membahas sesuatu masalah. Beliau lebih banyak menulis essay, atau risalah pendek, yang kemudian dihimpun dan dibukukan.

Menghadapi kenyataan di atas, suatu ketika saya pernah berbicara berdua dengan Pak Natsir mengenai kontribusi beliau dalam dunia intelektual. Saya katakan kepada beliau, andaikata Pak Natsir mencurahkan sepenuh waktu dalam hidup beliau untuk melakukan studi dan menulis, mungkin beliau akan melampaui karya-karya Allama Mohammad Iqbal atau Fazlur Rahman, dua filsuf dan intelektual dari Pakistan. Mendengar komentar saya itu, Pak Natsir hanya tertawa. Beliau mengatakan bahwa jalan hidup seseorang tidaklah ditentukan oleh kemauannya sendiri, karena segala sesuatu berjalan seakan terjadi begitu saja. Saya mengerti bahwa Pak Natsir lebih tertarik untuk menjadi aktivis daripada menjadi intelektual murni. Kalau beliau memang menginginkan menjadi intelektual murni, saya yakin beliau takkan menolak tawaran beasiswa untuk melanjutkan studi ke Rechts Hoogeschool di Batavia atau sekalian saja meneruskan pendidikan ke Universitas Leiden di Negeri Belanda. Saya yakin, dengan bakat intelektual yang beliau miliki, dengan mudah beliau mendapatkan gelar PhD di bidang filsafat, hukum atau kajian keislaman dari universitas tersebut. Namun sejarah telah menunjukkan, Pak Natsir lebih senang bekerja secara independen setelah menamatkan AMS di Bandung. Beliau memilih menjadi guru dan mendirikan sekolah sendiri, sambil terus aktif di dalam pergerakan.

Prestasi Pak Natsir di bidang politik, nampaknya telah melampaui apa yang dicapai oleh guru-guru beliau. Salah seorang guru Pak Natsir yang hidup sampai ke zaman kita merdeka, ialah Haji Agus Salim. HOS Tjokroaminoto yang juga memberikan banyak ilham kepada Pak Natsir, telah wafat sebelum kita merdeka. Haji Agus Salim sama-sama aktif dalam Masyumi setelah partai itu terbentuk di awal kemerdekaan. Haji Agus Salim dan Pak Natsir sama-sama menjadi menteri di awal kemerdekaan. Agus Salim menjadi Menteri Luar Negeri dan Pak Natsir menjadi Menteri Penerangan. Faktor usia jugalah yang mendorong Haji Agus Salim untuk memberikan kesempatan kepada tokoh-tokoh yang berusia muda, antara lain kepada Pak Natsir, Pak Mohamad Roem, Pak Kasman Singodimedjo dan Pak Jusuf Wibisono yang kesemuanya adalah murid-murid Haji Agus Salim ketika mereka aktif di dalam Jong Islamieten Bond. Pak Natsir pernah menjadi Perdana Menteri Republik Indonesia, sebuah jabatan yang merupakan karier puncak seorang politikus dalam sistem pemerintahan parlementer. Nama beliau bukan saja dikenal di di tanah air, tetapi juga di seluruh pelosok dunia Islam, jauh melampaui guru-gurunya dan tokoh-tokoh lain seangkatannya.

Dengan uraian di atas, kita akan dapat memahami tulisan-tulisan Pak Natsir, yang seluruhnya ditulis sebagai respons intelektual terhadap perkembangan zaman, yang menjadi keprihatinan beliau. Tulisan-tulisan itu dibuat untuk memberikan percerahan dalam rangka membangun kesadaran baru terhadap dua hal pokok, pertama keprihatinan terhadap Islam dan umatnya, dan kedua keprihatinan terhadap situasi yang dihadapi bangsa kita, baik di masa penjajahan maupun setelah kemerdekaan. Keprihatinan terhadap Islam dan umatnya memang telah menjadi fokus perhatian Pak Natsir sejak awal. Beliau lahir dan dibesarkan dalam lingkungan masyarakat Minangkabau, ketika Adat dan Islam menjadi bahan polemik berkepanjangan dalam masyaratnya. Memasuki awal abad ke dua puluh, gerakan pembaharuan Islam semakin menguat di Minangkabau, dan hal ini menjadi sumber polemik pula. Pak Natsir – karena latar belakang keluarganya – memilih Islam sebagai jalan hidup. Pengaruh Adat Minangkabau dalam kehidupan pribadi Pak Natsir hampir tidak terasa, walau secara formal beliau diangkat menjadi Datuk oleh kaum kerabatnya dan bergelar Datuk Sinaro Panjang. Keterlibatan beliau dalam mengurusi adat, sepanjang pengamatan saya, tidak begitu nampak. Bahkan dalam keseluruhan tulisan-tulisan beliau – ini agak beda dengan Buya Hamka dan Agus Salim – hampir tak pernah Pak Natsir membicarakan masalah adat.

Dengan memilih Islam, Pak Natsir ingin memberikan kerangka pemahaman baru terhadap Islam, sehingga Islam benar-benar menjadi pedoman hidup dan jalan hidup yang bersifat abadi dan universal. Dalam konteks ini Pak Natsir memberikan kontribusi yang signifikan, yang menempatkan diri beliau sebagai seorang pembaharu, bukan saja di bidang pemikiran, tetapi juga di dalam gerakan Islam. Dalam konteks pembaharuan ini, para akademisi umumnya menyimpulkan bahwa gerakan pembaharuan Islam di Indonesia karena pengaruh dari berbagai gerakan pembaharu di Timur Tengah atau Asia Selatan. Buya Hamka dalam orasi penerimaan gelar doktor kehormatan dari Universitas Al-Azhar di tahun 1962, menyebutkan pengaruh yang sangat besar dari Syekh Muhammad Abduh kepada gerakan pembaharuan di tanah air. Buya Hamka menyebutkan hampir semua tokoh-tokoh pembaharu itu mendapat pengaruh dari Mohammad Abduh. Dari berbagai dialog saya dengan Pak Natsir, saya berkesimpulan bahwa Pak Natsir sampai kepada cita pembaharuan Islam itu, bukanlah karena pengaruh pemikiran dari Timur Tengah, melainkan berngkat dari keprihatiannya sendiri. Beliau kemudian menggunakan metode berpikir yang didapatnya di pendidikan Barat yang ditempuhnya untuk menelaah berbagai literatur dengan kritis. Pak Natsir mengatakan kepada saya, baru di masa belakangan beliau membaca Tafsir Al-Manar dan karya-karya Mohammad Abduh dan Muhammad Rasyid Ridla, serta pembaharu lainnya dari Timur Tengah. Namun beliau mengakui telah membaca berulangkali karya Ali Abdurraziq yang kontroversial, Al-Islam wa Uhulul Hukm, ketika berpolemik dengan Sukarno. Sebelumnya – seperti telah saya katakan — beliau banyak berdiskusi dengan A Hassan (gurunya di Persatuan Islam Bandung dan Pak Natsir sendiri kemudian pernah menjadi ketua organisasi ini), Agus Salim dan Tjokroaminoto. Pak Natsir, pada dasarnya adalah seorang otodidak dalam mengembangkan pemikiran tentang Islam.

Pak Natsir berkeyakinan bahwa ajaran Islam adalah adalah abadi dan bersifat universal. Islam menekankan tauhid dan menentang kemusyrikan, agar manusia mempunyai orientasi yang benar dalam hidupnya. Etika pribadi dan sosial ditegakkan atas dasar iman kepada Allah Yang Maha Melihat lagi Mengetahui. Iman kepada hari akhir akan mendorong ketaatan setiap insan kepada kaidah-kaidah etika, karena Allah akan mengadili setiap perbuatan manusia dengan seadil-adilnya. Ibadat harus dilaksanakan dengan konsisten. Itulah sebabnya Pak Natsir menulis buku tentang pelajaran shalat yang sengaja ditulisnya di dalam Bahasa Belanda, yang ditujukan kepada orang-orang berpendidikan Barat agar memahami dan melaksanakannya. Mengenai soal hukum, Pak Natsir berpendapat syari’at Islam sangatlah luas dan mempunyai fleksibelitas untuk ditafsirkan ulang guna memenuhi kebutuhan zaman. Namun manusia, katanya, tidak dapat melampaui batas-batas atau hudud yang telah ditetapkan Allah dan Rasulnya. Untuk itulah diperlukan iman, mengingat keterbatasan pengetahuan manusia dan relativitas temuan ilmu-pengetahuan. Nuansa pemikiran seperti ini terlihat dalam jawaban Pak Natsir atas tulisan-tulisan Ir. Soekarno menjelang tahun 1940.

Tentu sumbangan besar Pak Natsir dalam pemikiran Islam ialah gagasannya tentang Islam sebagai Ideologi. Apa yang dimaksud Pak Natsir tentulah bukan wahyu Allah di dalam al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah adalah sebuah ideologi. Namun ajaran-ajaran Islam yang terkandung di dalam kedua sumber ajaran itu dapat ditransformasikan dan diformulasikan ke dalam sebuah rumusan untuk dijadikan sebagai landasan bagi sebuah gerakan politik. Rumusan itu bersifat eksplisit, tegas dan sekaligus menyebutkan cara-cara untuk mencapainya. Rumusan seperti itulah yang disebut sebagai ideologi. Pak Natsir sendiri adalah konseptor Tafsir Asas Masyumi, yang setelah disempurnakan oleh muktamar partai itu, disahkan sebagai “ideologi” Masyumi. Islam adalah asas Masyumi. Tafsir Asas memberikan tafsiran terhadap Islam yang dijadikan sebagai asas partai itu, untuk dijadikan sebagai pedoman berpikir, bertindak dan sekaligus landasan Masyumi dalam derap langkah dan perjuangannya. Tulisan Pak Natsir tentang Islam sebagai ideologi yang paling berkesan ialah pidato beliau di Majelis Konstituante, ketika Masyumi membela Islam untuk dijadikan sebagai dasar negara berhadapan dengan dasar Pancasila dan Sosial Ekonomi. Pak Natsir menegaskan bahwa menghadapi dasar negara itu, pilihan kita hanya dua: agama atau sekularisme. Sayang, tulisan tentang dasar negara itu belum dimuat di dalam Capita Selecta Jilid I ini.

Dalam pidato tentang dasar negara di Konstituante itu, Pak Natsir menggolongkan Pancasila sebagai sekularisme. Penggolongan itu didasarkan beliau atas uraian-uraian dari para pendukung dasar negara Pancasila itu sendiri. Kalau tafsiran terhadap Pancasila itu memang bercorak sekuler – seperti dikemukakan oleh para pendukungnya — dan tidak berhubungan dengan ajaran agama, maka Pak Natsir menolak Pancasila sebagai dasar negara. Namun sikap Pak Natsir mengenai Pancasila itu sendiri, tidaklah demikian. Beliau dapat menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, sepanjang Pancasila itu ditafsirkan dalam premis-premis Islam. Hal itu ditegaskan Pak Natsir dalam pidatonya di hadapan Pakistan’s Institute of World Affairs tahun 1952. Jadi, soal Pancasila adalah soal tafsir belaka. Indonesia, kata Pak Natsir, dapat disebut sebagai Negara Islam karena kenyataan bahwa bagian terbesar penduduknya beragama Islam. Meskipun Islam tidak dinyatakan secara tegas sebagai dasar negara sebagaimana halnya Pakistan, namun Pancasila, yakni lima asas yang dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah sesuatu yang sejalan dengan ajaran-ajaran Islam.

Tentang konsep sebuah negara, Pak Natsir menganut pandangan bahwa ajaran-ajaran Islam mengenai negara, hanyalah terbatas kepada asas-asasnya saja. Asas-asas itu dapat ditransformasikan ke dalam sebuah rumusan yang bersifat konsepsional tentang negara, sesuai dengan keadaan ruang dan waktu. Umat Islam yang hidup pada suatu tempat dan zaman tertentu dapat memikirkan rumusan sebuah negara yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhan mereka. Untuk itu, menurut Pak Natsir, Islam memberikan kesempatan kepada umatnya untuk mengadopsi berbagai sistem yang berkembang di berbagai negara, untuk diintegrasikan ke dalam sistem yang mereka bangun dengan mengaju kepada asas-asas yang diajarkan Islam. Islam tidaklah seratus persen demokrasi, dan tidak pula seratus persen autokrasi. Islam adalah Islam, demikian kata Pak Natsir sebelum kita merdeka. Namun setelah kita merdeka, dan telah beberapa tahun berpengalaman memiliki negara, Pak Natsir sampai pada kesimpulan bahwa meskipun demokrasi itu mempunyai banyak kekurangan dan kesulitan dalam melaksanakannya, namun sampai dewasa ini umat manusia belum menemukan sistem lain yang lebih baik dari demokrasi. Namun Pak Natsir kembali menegaskan bahwa demokrasi yang harus dilaksanakan ialah “theistic democracy”, yakni demokrasi yang didasarkan kepada nilai-nilai ketuhanan.

Selain di bidang pemikiran politik Islam, Pak Natsir memberikan sumbangan pemikiran yang sangat penting untuk membangun kesadaran umat Islam dalam melaksanakan ajaran agama dan mempertahankan eksistensi dirinya. Di zaman Belanda, beliau sangat prihatin dengan ketimpangan kebijakan Pemerintah kolonial Belanda dalam mendukung kegiatan-kegiatan dakwah dan pendidikan Islam, dibandingkan dengan dukungannya kepada missi dan penyelenggaraan pendidikan Kristen di tanah air. Keprihatinan Pak Natsir terhadap kegiatan missi Kristen terus berlanjut sampai usia beliau menjelang senja. Perhatian beliau kepada soal dakwah di daerah-daerah terpencil dan daerah transmigrasi tak pernah padam. Namun beliau mempunyai perhatian yang besar pula dalam mendukung kegiatan-kegiatan dakwah di berbagai kampus di seluruh tanah air. Perhatian beliau kepada pendidikan, telah muncul sejak usia muda. Pak Natsir terlibat dalam mendirikan berbagai perguruan tinggi Islam di tanah air. Beliau melihat jauh ke depan. Nasib umat Islam akan menjadi lebih baik, jika pendidikan dibenahi. Pak Natsir juga mengirim banyak generasi muda untuk menuntut ilmu ke berbagai negara.

Bagi Pak Natsir hidup adalah perjuangan dan pengabdian tanpa akhir. Beliau berbuat sesuatu untuk kepentingan masyarakat, bangsa dan negara, baik berada di luar panggung kekuasaan maupun berada di luarnya. Karier Pak Natsir di panggung kekuasaan tidak berlangsung lama. Menjadi Menteri Penerangan di dalam Kabinet Sjahrir hanya beberapa bulan saja. Menjadi Perdana Menteri hanya sekitar enam bulan saja. Selebihnya menjadi anggota parlemen dan konstituante. Namun pengabdian beliau tak pernah padam, walau terkadang terlihat kontroversial seperti ketika beliau melibatkan diri ke dalam Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia. Pak Natsir sangat prihatian melihat negara yang semakin bergerak ke arah kiri dan prihatin pula akan munculnya kediktatoran di bawah Presiden Soekarno. Keprihatinan itu makin bertambah ketika Presiden Soekarno membentuk Kabinet Darurat Ekstra Parlementer di bawah pimpinan Ir. Djuanda. Beliau melihat semua ini sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap konstitusi dan demokrasi. Sementara di daerah-daerah terus-menerus terjadi berbagai pergolakan yang berpotensi pecahnya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Pada awal Pebruari 1958, Pak Natsir memutuskan untuk bergabung dengan tokoh-tokoh di daerah yang menentang pemerintah pusat yang mereka yakini bersifat inkonstitusional itu. Dari pertemuan Sungai Dareh lahirlah ultimatum untuk membubarkan pemerintah Djuanda dan membentuk pemerintahan baru yang dipimpin Mohammad Hatta. Kalau lima kali dua puluh empat jam ultimatum tidak dipenuhi, maka mereka akan menempuh jalan sendiri dan tidak mengakui keberadaan dan keabsahan pemerintah pusat. Inilah awal lahirnya Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) di Sumatera Tengah, sebagai pemerintahan tandingan. Pak Natsir ingin agar persoalan ketidaksahan pemerintah pusat itu segera diakhiri, dan dengan begitu setiap saat mereka dengan sukarela akan mengakhiri keberadaan PRRI.

Namun konflik politik terus berlanjut dan konflik bersenjata tidak dapat dihindari lagi. TNI membom Lapangan Terbang Tabing di Padang dan mendaratkan pasukan di sana. Perang saudara tak terhindarkan lagi. Tetapi suatu hal yang harus dicatat dari peristiwa ini, Pak Natsir tetap menginginkan konflik ini adalah konflik internal bangsa kita sendiri. PRRI tidak boleh mengarah kepada separatisme. Sebagai penggagas “mosi integral” yang melebur negara-negara bagian Republik Indonesia Serikat (RIS) ke dalam Republik Indonesia, Pak Natsir tetap menginginkan bangsa dan negara kita bersatu. “Ibarat rumah tangga, periuk belanga boleh beterbangan” kata Pak Natsir kepada saya. “Tetapi rumah kita jangan kita rubuhkan”.Jadi, PRRI haruslah dilihat sebagai konflik internal antar sesama bangsa kita sendiri, antara mereka yang menganggap pemerintah pusat sah dan tidak sah, dan konflik antara daerah dengan pusat yang memerlukan penyelesaian yang bijaksana. Karena itu, sungguh keliru menganggap PRRI sebagai gerakan separatis.

Meskipun Pak Natsir dan seluruh mereka yang terlibat dalam PRRI memenuhi panggilan amnesti umum yang disampaikan Presiden Soekarno, namun beliau tetap saja ditahan oleh Pemerintah Soekarno tanpa tuduhan yang jelas. Penahanan terhadap Pak Natsir itu tidak pernah dilanjutkan dengan proses hukum, Ini terang-terangan merupakan suatu bentuk pelanggaran hukum dan hak asasi manusia yang dilakukan Pemerintah Presiden Soekarno. Pak Natsir baru dibebaskan setelah Presiden Soekarno jatuh dari panggung kekuasaan. Ketika memasuki alam bebas, Pak Natsir terus melanjutkan pengabdiannya kepada bangsa dan negara. Masyumi telah dipaksa membubarkan diri oleh Presiden Ketika pada akhir tahun 1960, ketika Pak Natsir masih berada di hutan-hutan. Usaha merehabilitasi Masyumi mengalami kegagalan karena sikap keras pemerintahan militer di bawah Jenderal Soeharto. Ketika pintu untuk kembali terlibat dalam pergerakan politik menjadi tertutup bagi beliau, Pak Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan mulai aktif dalam Muktamar al-Alam al-Islami dan Rabithah al-Alam al-Islami. Dengan begitu, beliau diakui bukan saja tokoh Islam di tanah air, tetapi juga tokoh dunia Islam.

Selama pemerintahan Orde Baru, Pak Natsir tetap dianggap sebagai pemimpin yang disegani dan sekaligus juga “dikhawatirkan” pengaruhnya oleh Pemerintah Orde Baru. Namun berbagai keterbatasan yang beliau hadapi – apalagi setelah beliau ikut menandatangani Petisi 50 beliau dilarang ke luar negeri – kegiatan dakwah Pak Natsir tak pernah berhenti. Beliau juga menulis dan memberikan masukan sekaligus kritik terhadap berbagai kebijakan Pemerintah. Namun, gaya Pak Natsir menulis dan berpidato tetaplah halus, tenang dan tidak berapi-api sebagaimana kebanyakan pemimpin yang menghadapi banyak tekanan dan hambatan. Namun dibalik ketenangan dan kehalusaannya itu, terdapat kekuatan semangat dan keteguhan pendirian. Mengenai hal ini, saya sungguh banyak belajar dari Pak Natsir. Keteguhan hati seorang pemimpin bukanlah tercermin dari kerasnya kata-kata yang dia ucapkan, melainkan dari sikap dan prilakunya yang tidak berubah ketika dia menghadapi tekanan dan tantangan, bahkan bujukan dan rayuan.

Sepanjang saya mengenal Pak Natsir dan bergaul erat dengan beliau, kesan saya, Pak Natsir adalah pribadi yang amat jujur dan bersahaja. Beliau sering mengenakan baju putih yang ada bekas tinta di kantongnya, atau mengenakan baju batik berwarna biru tua. Peci dan sehelai syal selalu dipakainya ke mana saja beliau pergi. Kalau di rumah beliau memakai kain sarung dan baju “potong Cina”, sejenis baju khas orang Melayu. Dengan saya, Pak Natsir seringkali bersenda gurau dan berbicara hal yang lucu-lucu, yang mungkin jarang diucapkannya kepada orang lain. Pribadi beliau sangat menarik dan nampak mudah sekali merasa kasihan dengan orang lain. Ketika saya mula-mula bergaul dengan Pak Natsir, saya masih mahasiswa dan tinggal di Asrama UI di Rawamangun. Setiap Pak Natsir menyuruh saya mengerjakan sesuatu, saya kerjakan dengan sungguh-sungguh. Kalau apa yang dikerjakan sudah selesai saya mengantarkannya ke rumah beliau di Jalan Cokroaminoto No 46 Menteng. Saya ngobrol-ngobrol ke sana ke mari sebentar dengan beliau, dan setelah itu mohon pamit.

Ketika saya sudah di pintu pagar rumah beliau, tiba-tiba Pak Natsir memanggil saya dan mengatakan “Saudara Yusril. Tunggu sebentar”. Entah mengapa beliau selalu memanggil saya dengan sebutan “saudara” itu. Saya tunggu sebentar dan Pak Natsir keluar dari dalam rumah lalu memasukkan tangannya ke kantong baju saya. Sambil tertawa beliau mengatakan “Ini ongkos becaknya”. Sayapun tertawa, saya katakan “Pak, sekarang tidak ada becak lagi di Jakarta”. Pak Natsirpun tertawa dan mengatakan “Saudara kan mahasiswa dan tinggal di asrama. Ini untuk naik bis dan untuk ongkos makan”.Saya sungguh terharu dengan sikap Pak Natsir itu. Kalau saya teringat dengan beliau, hati saya merasa sedih. Saya merasa seperti kehilangan orang tua saya sendiri.

Pak Natsir pernah pula mencari saya ke Asrama UI Daksinapati Rawamangun, Jakarta. Saya terkejut bukan kepalang karena teman-teman seasrama memberitahu saya “ada Pak Natsir datang ke asrama mencari anda”, demikian kata mereka. Saya setengah berlari menghampiri Pak Natsir yang menunggu saya di lobby arsama itu. Dengan perasaan malu, saya katakan kepada beliau, biarlah saya yang datang ke rumah Pak Natsir, kalau ada tugas-tugas yang beliau berikan. Kalau beliau datang ke asrama mencari saya, saya merasa saya seperti orang penting, padahal saya hanya mahasiswa yang tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kebesaran beliau. Mendengar apa yang saya katakan itu, sambil tertawa Pak Natsir berkata “Ya, kalau Saudara yang perlu dengan saya, Saudara yang datang ke rumah saya. Tapi kalau saya yang perlu dengan Saudara, saya yang datang ke tempat Saudara”. Beliau mengucapkan kata-kata itu tanpa beban. Saya sungguh tertegun dengan ucapan beliau itu. Saya pikir ketika itu, alangkah demokratis dan rendah hati beliau yang bernama Mohammad Natsir ini, sampai saya sendiri tak dapat menutupi rasa malu kepada diri sendiri di hati saya.

Demikianlah sekelumit kata pengantar saya atas diterbitkannya kembali Capita Selecta Jilid I buah tangan Pak Natsir ini. Saya sungguh merasa mendapat kehormatan yang amat besar, dimintakan untuk menulis kata pengantar ini. Semoga kata pengantar saya ini berguna bagi siapa saja yang membaca buku Capita Selecta Jilid I ini. Akhirnya, kepada Allah SWT jua saya mengambalikan segala persoalan.

Wallahu ‘alam bissawwab

Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — July 3rd, 2008

79 tanggapan untuk “MENGENANG SERATUS TAHUN MOHAMMAD NATSIR”

  1. mahdi (komentar #1)

    saya teringat dulu tahun 1987 kelas 1 smk dulu stm, saya pernah baca tulisan Allahuyarham ini milik orang tua, memang benar apa yang dikatakan abang kalau saya ulang baca pun rasanya masih relevan dengan keadaan sekarang. terima kasih bos … sudah menuliskan kata pengantar cetakan ulang buku ini, mudah-mudahan orang tambah tahu perjuangan beliau yang tidak pernah mendapatkan tempat yang layak, mudah-mudahan mendapatkan balasan yang paling baik dari Allah SWT.

    Presiden RI sebenarnya telah menganugerahkan Bintang Republik Indonesia untuk Alm Mohammad Natsir sebagai pengakuan atas jasa-jasanya kepada bangsa dan negara. Bintang itu lazimnya diberikan kepada seorang yang memegang atau pernah memegang kepala pemerintahan di suatu negara. Seingat saya, hanya Nelson Mandela, yang ketika sedang berjuang melawan apartheid di Afrika Selatan — jadi bukan kepala pemerintahan — yang pernah dianugerahi bintang itu. Kini sedang diupayakan untuk dianugerahi gelar Pahlawan Nasional. Saya kira baik juga diusulkan ke daerah-daerah, misalnya memberi nama jalan atau bangunan-bangunan tertentu dengan nama Jalan Mohammad Natsir, misalnya, agar kita dapat mengenang jasa-jasa beliau semasa hidupnya. Selanjutnya buku-buku sejarah untuk pelajaran di sekolah-sekolah, seyogianyalah memberikan tempat yang wajar kepada peranan beliau dalam membangun bangsa dan negara. (YIM)

  2. Furqon (komentar #2)

    Assalamu’alaikum Wr Wb

    Bang Yusril, Ane mo nanya niy dikit,
    koq hubungan Pak Natsir dengan Persis nya ga di bahas?…

    Tulisan ini bersifat umum dan pengantar saja. Hubungan Pak Natsir dengan A Hasan dan beliau pernah menjadi Ketua Persis dikemukakan dalam tulisan di atas. (YIM)

  3. abu ghifari (komentar #3)

    Terharu tp juga iri dengan bapak yg sempat menikmati kedekatan dgn tokoh spt Allahuyarham M Natsir, negara ini memang tidak memberi porsi yg sepadan utk kontribusi dan pengabdiannya, buku2 sejarah kurikulum resmi pendidikan nasional pun demikian, bahkan seingat sy nama Mohammad Natsir hampir tdk pernah sy dengar meskipun sy bersekolah di SMA Islam Al Azhar.

    Bapak sering disebut sebagai ‘Natsir Muda’, mungkin krn begitu dekatnya bapak dgn beliau, semoga bapak bisa mengikuti jejak langkah Allahuyarham M Natsir yg telah mencapai puncak karir politiknya saat menjadi Perdana Mentri dengan menjadi Presiden RI di tahun 2009 .. amiin ..

  4. ricky (komentar #4)

    Semoga Alloh SWT melapangkan kuburan beliau, dan apa yang ditinggalkan beliau menjadi ilmu yang bermanfaat bagi kita semua, amien

  5. Chrisna Permana (komentar #5)

    Salem’aleikum Bang Yusril…
    Media blog sudah, media sinema sudah, media cetak dan infotainment pastinya (he2…), Nah skr saya pikir-pikir. kenapa tidak bang yusril coba mendirikan semacam research institute kecil2an? Melihat tulisan2 bpk ttg Sejarah dan Budaya serta Wisata2, kok sy berpikir pemahaman dan perhatian bpk terhadap masalah2 trsbut sadar atau tidak disadari sangat tinggi jg yah..

    Kan bagus juga yah ada Yusril Ihza Mahendra Center, yg cocern pd persoalan2 sosial, budaya, dan pariwisata (jarang lho Bang penelitian yg mikirin kemajuan sos-budaya kita dan pariwisata kita. Banyaknya masih sekitaran politik, ekonomi, dan sosial kemiskinan) Insyaallah, jika berkenan saya siap menjadi bagian dari pioneer penggagas dan pembuat konsepnya jika diperlukan. Mudah2n latar belakang saya pada bidang urban regional planning dan kebijakan perkotaan bisa berkontribusi. Untuk abang, siap lah saya berjuang. Silahkan dihub di mail saya. Wass.

    Sudah lama saya memikirkan hal itu. Namun kendala utama yang saya hadapi, saya tak mempunyai dana untuk membiayainya. Seperti Anda lihat, blog saya inipun saya tangani sendiri, tanpa staf. Pak Natsir semasa hidupnya pernah mendirikan LIPPM, yang bergerak di bidang riset, dan pernah dipimpin Alm Pak Deliar Noer dan Alm Pak Anwar Harjono, saya bergabung ke lembaga ini di tahun 1980. Namun akhirnya lembaga ini ditutup karena kekurangan biaya. Namun demikian, saya berterima kasih atas saran dan masukannya. (YIM)

  6. adila sp (komentar #6)

    ass wr. w
    setuju dengan saran chrisna permana.
    kapan film nya (cheng Ho) ditayangkan Bos
    wes ra sabar pingin lihat.:)

    ‘Alaikum salam. Versi Bahasa Indonesia Film Laksamana Cheng Ho Insya Allah akan ditayangkan Metro TV mulai tanggal 9 Agustus 2008 jam 21.00 (WIB) sampai akhir bulan Maret 2009 sebanyak 30 episode, dengan masa tayang satu jam tiap episodenya. Saya belum tahu pasti kapan versi Bahasa Mandarin akan ditayangkan oleh CCTV 4 Beijing dan versi Bahasa Thai akan ditayangkan oleh TV 3 Bangkok. (YIM)

  7. abu afa (komentar #7)

    ass,
    Bang YIM, yang dimaksud abang bahwa islam tidak 100% demokrasi dan tidak juga 100% otokrasi dalam tulisan abang ini, apakah ekuivalen dengan konsep “nomokrasi”nya prof Tahir Azhari?
    Terima kasih.
    wassalam

    Yang mengatakan demikian itu bukan saya, tetapi Pak Natsir. Pak Natsir adalah pendukung konsep kedaulatan rakyat, namun rakyat tidak dapat memutuskan segala-galanya menurut maunya sendiri. Ada hukum-hukum Tuhan yang menjadi pedoman dalam mengambil keputusan. Hukum-hukum Tuhan itu tidak dapat dilampaui oleh musyawarah atau voting secara “demokratis”. Demikian kira-kira pandangan Pak Natsir di awal tahun 1940. Memang ada kesamaannya dengan teori tentang “nomokrasi”. Pak Natsir menggunakan istilah “tehistic democracy” tahun 1957 di Majelis Konstituante. (YIM)

  8. Suswi N - kalsel (komentar #8)

    Assalamu’alaykum………………
    Saya setuju dgn pendapat Crhisna Permana, YIM Center, keren abis. kalo bisa didalamnya juga terdapat teknologi dan segala yg menggambarkan tentang Islam yg modern tetapi tidak meninggalkan norma dan kaidah-2 islam. “” masa’ sich semua isi blog ini hasil dari tarian jari jemari Pak YIM sendiri? kalo memang benar begitu, SubhanAllah……………… Luar biasa…………. seorang Yusril Ihza Mahendra yg udah punya nama Besar, masih mau dan bisa meluangkan waktu untuk mememperhatikan, mencerna dan menanggapi kata-demi kata yg jumlahnya tidak sedikit, sbb informasi yg saya terima biasanya org yg sudah terkenal, semua mengandalkan asisten atau admin. “” Pak YIM, untuk mengembangkan YIM Center, kenapa Bapak nggak bikin konsepnya aja dan selanjutnya dilemparkan ( ditawarkan) kepasaran aja ?. kan Pak YIM punya jaringan yg cukup kuat, dan punya relasi yg banyak, nach di dlm YIM Center nanti, konsepnya nggak cuma sosial dan budaya aja, didalamnya juga ada unsur bisnis ( shar’e) misalnya bimbingan belajar, Pelatihan teknologi , Pelatihan yg ada magang kerja atau Entertaiment, enterpreneur dll. InsyaAllah dengan Pak YIM punya konsep dan nama besar Pak YIM, nantinya akan banyak yg respon dan bersimpati dgn program tsb. kalo memang ada nanti di KalSel, saya yg akan jemput bola duluan. Apalagi Pak YIM punya Pengalaman di bidang pendidikan ( lingk. kampus ) yg sangat mumpuni. Nach…………… kalo hal itu bisa berhasil, artinya kita bangun YIM center nggak perlu dana yang berlebih, masalah kantor YIM Center sementara cukup nongkrong di Blogger YIM dulu, untuk dapat dana pengembangan, mungkin bisa minta bantuan pemerintah atau swasta, tapi dgn catatan YIM Cenyer hrs punya badan hukum ( masalah ini pak YIM nggak asing lagi ). Untuk mengembangkan prog. ini, Pak YIM bisa respon ke email saya, InsyaAllah saya akan suport dari daerah. Wassalamu’alaykum……………..

  9. abu afa (komentar #9)

    ass,
    bang YIM, terima kasih atas jawabannya. Saya tertarik ingin tahu lebih detail tentang konsep “tehistic democracy” yang disampaikan Pak Natsir. Dimana ya literaturnya bisa saya dapatkan? Terima kasih.
    wassalam.

    Silahkan anda cari buku di Perpustakaan Nasional Jakarta. Judulnya “Tentang Dasar Negara di Konstituante” diterbitkan oleh Setjen Konstituante tahun 1957. Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia juga mungkin masih menyimpan buku tsb. (YIM)

  10. Chrisna Permana (komentar #10)

    Kawan Suswi.. terima kasih banyak.
    Mari kita dukung bapak bangsa kita ini utk mendirikan YIM Center. Akan semakin memberikan kontribusi besar bagi generasi mudanya.. positif sekali pak! (bersemangat) hehe. Kami2 akan sangat bangga dan bersemangat apabila harus berada di baris terdepan utk merangkai konsep, dan mempersiapkan hal2 paling dasar hingga yg substansial. Demi tersalurkannya keteladanan, kepemimpinan, keilmuan bang yusril pada generasi muda. Yakin sekali saya akan banyak yg dukung! Hehe..

    Dana besar? Knp tidak kita mulai dr hanya skdr kumpul2 tim kecil yg bervisi sama di suatu tempat yg dijanjikan dan share konsep yg lantas ditindaklanjuti dg berani mulai terlibat dlm kegiatan pnelitian kecil2 (bisa juga dg media blog ini dg menyediakan satu slot utk itu). Bnyk lembaga penelitian yg hanya dimulai dari gagasan apik, ide cemerlang, namun sumbangsih besar, meski hanya dg modal awal dibawah juta. Jikalaupun hrs minta dukungan sponsor, yakin sekali akan bnyk yg mw mensponsori. Mudah2n dapat dipertimbangkan pak. Pasti bermanfaat. hehe (bersemangat sekali nih..)

    Trims.

  11. Ashford (komentar #11)

    ” Sudah lama saya memikirkan hal itu. Namun kendala utama yang saya hadapi, saya tak mempunyai dana untuk membiayainyaAlhamdulillah, ada sedikit jalan”.

    Soal yang Profesor keluhkan, belajar dari pengalaman di luar. Melalui Blog ini PROFESOR BOLEH KAN MEMBUAT KOLOM DONASI UNTUK YIM CENTER? Di Australia (Kevin Rudd), di Amerika –seperti Barack Hussein Obama, misalnya. Para pengharap dan yakin akan CHANGE-nya membentuk komunitas dan membantu donasi untuk mewujudkan itu, Kok.

    Hayoo, bantu Use the Real For Presiden. Vavai ente buatin dan komunikasikan dengan Profesor-lah.
    Demi Allah, jika berkenan, Saya memulainya saat ini dengan mendosnasikan AUS $ 15, Profesor. Harap Maklum, Mahasiswa.

    DONASI for Use the Real !

  12. Ashford (komentar #12)

    #9
    Membantu harapan Anda, ada juga beberapa buku yang diterbitkan ulang oleh
    1. Pustaka Panjimas, berjudul PERDEBATAN TENTANG DASAR NEGARA DI KONSTITUANTE. Berwarna Biru bergaris-garis putih, atau
    2. Media Dakwah, berjudul ISLAM DAN DASAR NEGARA. Berwana agak kuning keemasan

  13. Suswi N - kalsel (komentar #13)

    Ayo……..Pak YIM, kita bergerak, udah mulai ada yg respon nich, bahkan ada yg memulai ada donatur nich, tinggal Pak YIM buka kolom yg dicantumkan no. rek. YIM center, kalau kami ada rejeki lebih yg bener-2 halal InsyaAllah kami-2 akan segera memulainya. sobat chrisna, Ashford dan juga YIM’ER CENTER ( pecinta dan penggagas YIM center ) yg lain ayo kita wujudkan segera. Salam YIM’ER

  14. Kandar Cik Kulup (komentar #14)

    Asslmkm,wr.wb
    Bang, mengenai konsep syariah islam saya jadi teringat acara di tvone semalam yang nara sumbernya Bpk. Ali Mochtar Ngabalin dan Prof.Thamrin M..apa yang beliau utarakan sebenarnya tidak berbeda dengan konsep Pak Natsir, hanya yang menarik penampilan pak ali yang berapi-api sampai harus gebrak meja segala. Salam buat pak ali bang saya suka gayanya.

    Sdr. Ali telah sering mendapat penjelasan saya mengenai syari’at Islam yang diperjuangkan PBB. Kami sependirian. Gaya Sdr Ali kalau sedang bicara atau berdebat memang demikian. Saya memakluminya. (YIM)

  15. Ariedi (komentar #15)

    mungkin pendapat saya termasuk yang tidak enak dibaca dan perlu ! saya bukan pengidola tokoh tempoe doloe pak Natsir , Bapak bangsaku hanya satu , Proklamator soekarno dan Ibu Haribaan kebangsaan diriku , hanya Bunda Lulu , induk tali pusar ras manusia , Nenek Moyang Karuhun Borobudur : Bumi Ibu Poro Luhur . maka jika harus ada pilihan lain , selain induk urusan jati Diri yang di Idolakan , aku lebih suka Chairil Anwar - Kahlil Gibran dan master of rock , Ndoro - ndoro Pink Floyd , cantrik para publik Rock magic Understood fantastic Lyric , Penuntun perasaan yang ditinggal pergi oleh eksitensi = Ruwatan Jati Diri Bangsa yang Bertuhan , Bangsa yang Beradab , Bangsa Berbudi Bahasa Tahta Singasana 10281928 Catch the Rainbow Sila 5 Bangsa Merdeka Berdaulat Di Bumi Ibu : Dwi Tunggal Maneping Cipta - Maneping Rasa Siliwangi Disiplin Ilmu Dom Sumurup Banyu , seperti misalnya AIR yang bisa diubah jadi energi alternatif ! dan Hukum Tuhan yang sehubungnya - : JANGAN DITANYA ! alamatnya pada sanubari kedaulatan para pejalan - yang termasuk bisa dialamatkan pada pikiran manusia dan setelahnya membuat data agar tertuang dalam pasal ayat produk Hukum Negara - adalah Hukum alam , Bidang Urusan Getar Astrologi , Keilmuan tingkat selebriti galaxy seperti Sang Profesor Stephen Hawking , Cantrik Pangripta Kitab : Riwayat Sang Kala dan Hukum Kharmapala tanah electron , aturan pengguna jasa satelit - Urusan Dunia Maya Java script : Hono Coroko Eletric Magic ! tidak untuk Hukum Tuhan - Hukum Tuhan tidak dapar diproduksi manusia atas dasar imej bahasa kocap kacarito : Hey Adam Dimana kau Sembunyi ?! Sengkuni ketengoknya Kau ! , Seng Bau - Kuni bunyi , Mbagusi entut berlaku surut ! yaitu = Hamil segentong kocap sepanjang sungai Nil , TIDAK BERLAKU di tanah Jawi gerbang kertasusila Negara Pancasila , Maknawi pancodriyo Negari , seperti perlunya seutuh jari tangan , Genggam DEMI + atas landasan menuju urusan : MEGANG BANGET = tali kekang kuda - kuda demokrasi dan kemerdekaan berekpresi - Menyatakan Pendapat Suluk tambang Laras Serat Centhini , itu = Magic sulur Martial art Pangudi Luhur - : Mendhem Njero Mikul Nduwur - Panjat Syukur Borobudur - jadi ?! - ya = Pendapatku yang sesungguh seklumit , bukan seperti pendapat Jeneng siro YIM , Mengenai Pak Natsir , salah satu pengamal Asas keraguan yang beralasan pada Kesaktian Pancasila - Dasar + Identitas Negara WARIS Sejarah Mahaputra Bumi Ibu Palapa Sumpah Pemuda ! Nyata Tokoh seperti pak natsir itu , Menggurui Publik Jawi bagimana berprilaku sesuai gamitan visi Bongo GURUNG = Purwa - Sebelum Mars Indonesia Raya di perkenalakan untuk pertama kalinya pada 28 oktober 1928 yang sampai saat ini tidak dihubung = Hari Raya Kebangsaan Indonesia Raya . mamulo iku oleh publik Jawi Di = Rumpun Minggat - Njaluk Berlaku surut Tunjangan Rioyo Ketupat arab - : No Batt ! mana arti ” Marilah menuju kemenangan ” yang sehubungnga Indonesia dan Keindonesiaan , dan mana pula yang mentok hubungnya Islam dan Keislaman - Arab perkawisnya , maka kalok Arab dan memangnya arab - ya Arab !! : So What ?! Opo Dene ?!! memangnya arti OPO DENE = Seperti Jua - Nalindra Galaxy tanah jawi Kinasih Tuhan - itu seperti nada tegas kata : Opo Dene ?!! apa kali rupanya - Lha ya itu - jadi simpul bedanya terletak pada periihal mengenali TANDA BACA , Moco - Pat , jati diri Manjing ing tanah aksara alkisah : Hono Coroko - Doto Sowolo - Podho Joyonyo - Mogo Bothongo = yang mewarisi urusan Legalitas sehubung Urusan Kukuh carito kuno , Lingkup Sila 1 - Makanya itu - ada gamitan visi JAWI yang masuk dalam ajaran hukum tata negara di Indonesia ? - ada Naik Bahas Mengenai Serat Centhini di sila 4 setelah masa Bung karno ? kalau tidak ada , dan tidak banyak mengetahui perihal Visi jawi = Bandrol kait wingi Tanah kelahiran dan harga diri Budi Bahasa Kromo Inggil = yang dipakai menulis suratan Takdir - maka apapun pendapat !! sepanjang pendapat tersebut menggunakan bahasa dinas sumpah pemuda , akan ketahuan arahnya dikemanakan , Diperdaya sebagai Lulur aurat bla bla bla arabi , kebelakang dan kebawah seperti tradisi menulis arab - Buang air tinta , ataukah kedepan dan keatas seperti arah jarum jam ; batang hari Pejalan amanat Proklamasi , Keluarga Perjuang - Jua = tradisi dalam menulis aksara tri murti di sila 1 Indonesia Inggris jawa - Bahasa Pribumi Tanah air Pusaka , itu = Three in one - Dua diantaranya dimiliki Negri Kekuatan Regenerasi 10281928 Bahasa Tanah Pusaka + Inggris = Air - Udara Hukum yang memancar pencar kepejuru segala : Airlangga !

    Matur Nuwun atas segala masukannya, Mas. Beda pendapat nggak apa-apa. Satu hal yang ingin saya komentari, yakni mengenai Arab. Islam itu tentu tidak identik dengan Arab, sebagaimana Buddhisme — yang tidak boleh sampeyan lupakan kalau bicara tentang Borobudur — juga tidak identik dengan India. Pendapat sampeyan yang lain-lain, kebnayakan saya tidak sependapat, namun biarlah kita saling hormat-menghormati dalam perbedaan dan kebersamaan. (YIM)

  16. edi.santosa (komentar #16)

    Iya tuh saking gak bisa ngomong apa-apalagi prof Thamrin sampai harus mengeluarkan kata-kata penistaan demi menyelamatkan mukannya. TVone salah ngambil nara sumber.Bang Ali dilawan..untung bukan Pak Prof kitanya yang turun langsung hehehe…
    Ngomong2 soal Alm. Pak Natsir, saya punya Biografi beliau yang ditulis Ajip Rosidi tapi baru punya jilid 1 saja. susah sekali cari jilid yang lainnya.Ada yang punya gak ya???
    Oh ya Pak, saya jadi berangan angan suatu saat diperbolehkan untuk melihat dan membaca koleksi buku Buku Bapak.mudah2an terwujud amien… :-)

    Wah pada semangat bikin YIM Centre nih..asal jangan semangat diawal memble belakangan aja n cari nama doank yaa..saya hanya bisa dukung lewat do`a mudah2an tercapai, kalaupun tidak, masih banyak jalan untuk berbuat sesuatu.

    MAkanya Pak, dana yang buat beli rokok mulai sekarang ditabung buat yang lebih manfaat :-) kalau 2 bungkus sehari berarti sekitar Rp 18.000/hari dibakar x 30 = Rp 530.000/bulan tuh uang yang Bapak bakar hehehe.sayang banget, mendingan buat bikin iklan di TV Pak kayak Pak SB. Lumyan tambah-tambah rating LSI hehehe…Maaf ya Pak nyinggung2 lg soal rokok..

    Oya Pak, Bapak selalu bilang kalau PBB kesulitan dana, dengan tanpa mengurangi rasa hormat, Bapak sudah sukses dengan Kantor Hukum dan usaha restonya.Pak Kaban udah jadi menteri, di legislatif juga ada, paling tidak untuk pendanaan tidak separah waktu Partai baru berdiri donk hehehe…

    Semoga Bapak dan Keluarga sehat selalu…

  17. aditya (komentar #17)

    assalamualaikum bang…

    setuju dengan saran dari chrisna permana.. masalah pendanaan mungkin kita bersama bisa saling bantu, tidak penuh keatas yang penuh kebawah kan juga ga apa apa bang.. insyallah dengan tekan bulat dari abang banyak rekan-rekan blogger yang akan mencari foundingnya bang…

    terutama di daerah, saya optimis banyak para dermawan yang akan membantu…
    semoga saran rekan-rekan ini secepatnya terwujud… amin…
    mohon abang beri tahu saja apa yang harus kami lakukan, maka kami akan bergerak…
    terimakasih..

  18. okthariza (komentar #18)

    Assalamu’alaikum
    ini buku yang sudah lama saya tunggu, waktu ada pameran buku di kampus memang ada yang jual, tapi karena buku klasik, harganya 250 rb. saya ga sanggup beli. akhirnya saya cari ke pasar buku di SEnen, tapi harganya malah lebih tinggi lagi.

    kalo boleh tau, kapan terbitnya bang? kira2 dijual di toko2 buku di Jkt ga ya? saya sangat berminat membelinya, Natsir salah satu tokoh favorit saya.

  19. Syam Jr (komentar #19)

    Ketika Bung Karno menyampaikan rumusan Pancasila pada rapat Penitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia Dokuritschu chiombe chosakai 1 Juni 1945. Agaknya Mr. Kasman Singodimedjo maupun founding father lainnya, toleran dan menerimanya untuk dijadikan dasar negera. Sebagamana Bung YIM tuliskan Pak Natsir juga dapat menerimanya.
    “Namun sikap Pak Natsir mengenai Pancasila itu sendiri, tidaklah demikian. Beliau dapat menerima Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara, sepanjang Pancasila itu ditafsirkan dalam premis-premis Islam. Hal itu ditegaskan Pak Natsir dalam pidatonya di hadapan Pakistan’s Institute of World Affairs tahun 1952. Jadi, soal Pancasila adalah soal tafsir belaka. Indonesia, kata Pak Natsir, dapat disebut sebagai Negara Islam karena kenyataan bahwa bagian terbesar penduduknya beragama Islam. Meskipun Islam tidak dinyatakan secara tegas sebagai dasar negara sebagaimana halnya Pakistan, namun Pancasila, yakni lima asas yang dijadikan sebagai dasar negara Republik Indonesia adalah sesuatu yang sejalan dengan ajaran-ajaran Islam.”
    Dengan azas Pancasila maka republik ini bukanlah negara sekuler, karena premis prmis Islam dapat diterapkan dalah menata kehidupan bernegara, meskipun tidak secara langsung berazaskan shariat Islam.
    Tetapi menurut hemat saya, pada era reformasi terdapat distorsi terhadap falsafah negara Republik Indonesia, yaitu tidak berlakunya azas musyawarah mufakat. sehinga yang terjadi saat ini adalah sistem demokrasi dengan pemilihan langsung one man one vote, bukan lagi demokrasi Pancasila.
    Padahal Pancasila mengamanatkan bahwa “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusywaratan perwakilan” Dengan adanya amandemen maka berarti falsafah negara ini berubah menjadi “Catursila”. Republik ini tidak lagi punya falsafah negara…

  20. jebee (komentar #20)

    Ass WW

    Terima kasih Bung Yusril

    Saya serasa melihat dan menyaksikan Alm. Buya Mhd. Natsir hidup kembali…..
    Beruntung dan Bersyukurlah ‘Saudara’ yang bisa menimba ilmu, berdiskusi dan bersenda gurau dengan Buya Natsir.

    Saat saya kuliah dulu, buku Capita Selekta Buya Natsir ini sangat sulit mencarinya dipasaran, hanya dimiliki oleh orang tertentu saja dan buku ini sepertinya saat itu ibarat sebuah bom atom yang meledak jika ditemukan.
    Bagi saya judul buku ‘Capita Selekta’ ini sejak dulu sangatlah familiar dan sering dicelotehkan oleh guru guru saya betapa bagusnya kandungan isi buku ini, cuma saya heran mereka hanya bisa berkata saja tetapi tidak memiliki bukunya, termasuk saya yang sampai saat ini juga masih belum memiliki dan membaca buku itu, tetapi saya sudah membaca dan mengoleksi beberapa buku karangan Alm. Buya Natsir.

    Selamat atas penerbitan buku ini, saya juga sudah tak sabar untuk memburu dan membaca buku itu.
    Cuma sayang mengapa menerbitkannya masih terbatas ? apa tidak diterbitkan secara luas untuk umum Pak ?
    terima kasih

    Salam

    Indonesia
    JEBEE

    Buku tsb diedarkan untuk umum atas kerjasama antara Media Dakwah dengan Yayasan Bulan Bintang Abadi. Kali ini dicetak sekitar 10.000 eksemplar. Semoga kali ini anda akan mendapatkannya. (YIM)

  21. M. Zakariya (komentar #21)

    Assalamu’alaikum wr wb.
    Alhamdulillah. akhirnya bang Yusril meneruskan juga di media ini. Maklum sy kangen dengan tulisan2 abang, krn agak lama sy tunggu tulisan berikut setelah skb dll. Saya usul tulisan tentang polemik Pak Natsir dengan tokoh2 lain yang berseberangan ideologi - seperti dg pak Karno dkk - Juga alasan2 Pak Karno yang kurang sensitif/kontra dg ketokohan dan memilih nama pahlawan yang tidak kental dg keislaman ( Spt Kartini, Bung Tomo dll.)
    Terima ksih, semoga bisa dilanjutkan tulisannya yang lebih bagus lagi.
    Wassalamu’alaikum wr wb.

    Insya Allah kalau ada kesempatan, saya akan menuliskannya. (YIM)

  22. Haurul Wz (komentar #22)

    Mudah mudahan saya bisa kebagian buku “CAPITA SELECTA” yang asli karena saya hanya punya edisi fotho copy saja

  23. isna (komentar #23)

    saya pernah membaca buku capita selekta jilid III milik papa saya, apakah buku itu karangan bung natsir juga ? buku itu benar- benar hebat tapi hanya orang yang mengerti tauhid yang bisa memahaminya mudah-mudahnya saya dapat memiliki buku capita selekta jilid I dan II nya.

    Entahlah, apakah itu karya Pak Natsir juga. Mungkin judulnya sama tetapi kumpulan tulisan orang lain. Capita Selecta Jilid III memang ada, tetapi masih dalam bentuk ketikan dan belum pernah diterbitkan. Capita Selecta Jilid III karya Pak Natsir adalah tulusan-tulisan beliau sekitar tahun 1958-1961. Ada bagian-bagian tulisan ketika beliau sedang bergabung dengan PRRI. (YIM)

  24. isbandiono (komentar #24)

    Kepiawaian Pak Natsir dalam berpolitik dan berdakwah dengan tetap teguh berpegang pada prinsip yang diyakininya tidak diragukan lag, demikian juga kesederhanaan dan kejujuran beliau .Jasanya kepada negara selain memberikan contoh untuk dalam berpolitik juga adalah mosi integralnya sehingga terbentuk NKRI yang sekarang banyak politisi kesiangan berkoar koar membelanya. Yang selalu terngiang dibenak saya adalah apa alasan yang sesungguhnya sehingga beliau yang bersikap santun dan demokratis iktu serta dalam kegiatan PRRI bahkan menjadi Presiden RPI. Saya pernah membaca bahwa beliau hijrah ke Sumatera karena keamanan dirinya sudah tidak terjamin.
    lagi.Alasan ini belum memuaskan saya.Mohon Pal YIM menjelaskan mengapa sampai beliau ikut dalam PRRI.

    Saya sebenarnya telah pernah menulis hal ini kira-kira tahun 1980, judulnya “Prolog PRRI dan Keterlibatan Sjafruddin Natsir”. Saya akan mencari tulisan tsb di arsip. (YIM)

  25. isbandiono (komentar #25)

    Kepiawaian Pak Natsir dalam berpolitik dan berdakwah dengan tetap teguh berpegang pada prinsip yang diyakininya tidak diragukan lag, demikian juga kesederhanaan dan kejujuran beliau .Jasanya kepada negara selain memberikan contoh untuk dalam berpolitik juga adalah mosi integralnya sehingga terbentuk NKRI yang sekarang banyak politisi kesiangan berkoar koar membelanya. Yang selalu terngiang dibenak saya adalah apa alasan yang sesungguhnya sehingga beliau yang bersikap santun dan demokratis iktu serta dalam kegiatan PRRI bahkan menjadi Presiden RPI. Saya pernah membaca bahwa beliau hijrah ke Sumatera karena keamanan dirinya sudah tidak terjamin.
    lagi.Alasan ini belum memuaskan saya.Mohon Pal YIM menjelaskan mengapa sampai beliau ikut dalam PRRI.

  26. Ariedi (komentar #26)

    tunes - : Salam Panjang Umur dan Makmur - HONG ILAHENG TATA WINANCI AWIGHNAMASTU NAMAS SIDDHAM - Sinegeg - : Borobudur ! Sentosa God Bless You are Salamun Miir robi rohim Ramayana The Greatest Love of all ! *
    penguasa seantero jagad peristiwa Konstelasi Bintang Di luar angkasa menyatakan secara tersirat melalui kidung
    sastra Tanah electron ( 70’s Hit goerge Benson ) : I beileve the children are our FUTURE - Teach them well and let them lead the way - Show them all the beauty they possesess inside - Give them a sense of PRIDE to make it Easier
    Let Children’s laughter remind us how we used to be - dan seterusnya Cumbu Biduan tersebut mendayu jazzy 70′an

    Terima kasih , atas seklumit patah kata bapak , atau Bung , Usia kita tidak terpaut jauh , aku 40′an dari angkatan putro wayah ( pada giliran Megang Banget Kendali Sila 4 ) yang lahir sebagai Bangsa Indonesia Raya Merdeka + Berdaulat , yaitu setelah Pemilu pertama 1955 - anda termasuk senior , tepat satu diatas Ubun - Generasi Posisi pemilik Negri Sumpah pemuda - yang lahir sebelum 1955 = angkatan Kuasa Hukum - : BUKAN PEMILIK Negri kekuatan Regenerasi 10281928 .
    Monggo kulo aturi Pirso , simpuil benang merah lingkungan visi angkatan dibahwah anda , seperti perlunya mengetahui sifat - karakter bawak’an adik sendiri , karena kita Di Indonesia Hidup dalam aturan keluarga Besar - Hukum Rumpun Gema Sila 3 - dan itu adalah : IDENTITAS - jadi tidak membiarkan perbedaan yang Nyata sehubung JAWI - Dengan Visi gamitan Raos ARABI begitu saja - seolah bukan saudara - setanah air sendiri , ya = tidak megang PENTHUNG Penduduk Setempat ! yang memang Bukan rumpun Tebar tradisi Rioyo Ketupat No batt ! - anda itu bagaimana , lha wong memangnya dari arab , ya arab ! - masak harus dibilang ndoro tuan wan salud berlaku surut atasan visi akar rumput ? - Rumput mana pula ? - rumput pekarangan tetangga yang lebih terlihat elok dari tanah alamat Diri Unjuk atur pangabekti ? - karena jeneng siro YIM - Nyandhak urusan IDENTIK - Baiklah Islam itu : Seberapa Tidak Identik dengan ARAB - Visi Rumpun Bani Da’am ?! tolong hati - hati seperti ketika menyebrang jalan - Lintas 7 langit perkara di sila 1 - karena sampai saat ini - katepeku masih tertulis beragama Islam - lalu ortu , saudara hingga handai taulan dan teman juga demikian , total nggak kurang dari 90 persen dibawah pengaruh Lingkup Visi Islam dan entah apa aliran keislaman semenjak masih anak - anak .
    maka kalau saat ini diriku terkesan Muak , mau muntah rasanya dengan ragam entah apa - APA aliran islam - Itu adalah dengan sendirinya - Diri Lahir lengkap dengan masukan pekerti PEMBEDA - sebagai suku - selaku warga dan Bangsa - Juga gamitan labuhan Visi yang diwarisi oleh leluhur dan Bapak Bangsanya , yang pada dewasa ini terganjal - akibatnya banyaknya masukan visi Impor , semakin terjerembab menjadi satu genangan : Lumpur Nhul Puthul Lapindo , itu jua = Bukti seperti kemajemukan islam yang dijadikan satu - Bukanlah maknawi Indonesia yang majemuk = Orang sini - Penduduk setempat , Berasal dari pekerti Indonesia Dalam bhineka Tunggal Ika : Prinsip Dasar ! Kedugo papan panggon - kalau Islam yang majemuk = Nyamuk sini - DENGING Setempat ! Njaluk berlaku Surut Tunjangan Rioyo Kertupat Pada NKRI - Gilairan Menggadang Elu - elu pepuji pada Tanah arabi , maka yang Benar Mintalah pada Ndoro Tuan Arab Saudi , Negri Priyayi Sumur Minyak - karena derajat Cekak aos syahdan tanah airnya = Tanah air Pesuruh - Itu menurut otomatis Budi + Raos Manjing pernah ( On the level ) = Bawahan Syahdan Tanah air Pusaka : Kinasih Tuhan , Negri Waris Sejarah Mahaputra Bumi Ibu - Palapa Sumpah pemuda !
    jangan - jangan termasuk disitu letaknya : TIDAK SEPENDAPAT Anda - kalau demikian simpan untuk diri sendiri , beda bangetnya sampeyan - Bukan Demokrasi Arabi yang berlaku Disini - Melainkan Jawi You Know ? Jawi !! maknawi laras sami ugi - balung titah amargi ing marchapadha - Batang Tubuh Bangsa Indonesia Raya , Trah Geni Prapat Sumpah pemuda . dan Negrinya disebut Gerbang Kertasusila Sapto parwo Mojopahit = 7 langit perkara NKRI : Nusantara dan Bahasa Kita Bela Bersama ( Dinding Sila 3 Mars Satu Nusa - Satu Bangsa ) apakah juga disitu , KEBANYAKAN tidak sependapatnya anda ? - Seberapa Banyak ? Maka Teliti dulu sebelum , Ber Seklumit Opo + Tumon Nya pendapat - Bahwa aku tidak sedang menegaskan Identik ini itu sehubung arab india atau cina , Melainkan mengenai posisi Tanah Pijak ku , alamat putra - Putri Bangsa - Bernada empat per empat Moco- Pat : Disanalah Aku Berdiri Jadi Pandu Ibuku - Indonesia Kebangsaan Ku = lagu Kuku pancanaka Semesta Nasional Bima Sakti , Kuku pancodriyo Negari , daya Cengkram - Genggam Keutuhan + Urusan kukuh carito Kuno - yang disingkat : Iman - yang berasal dari kandungan lokal sumur bathin Bumi Ibu karuhun Jagad Paranatan Kedaulatan .

    Maka bagi generasi seangkatanku - yang hidupnya dijaman listrik , Java script : Hono Coroko Eletric Magic , dan dewasa ini di abad Hilir - abad Tagihan Rumongso Nduwe Udhel - Ponsel , BERIMAN - keabsahannya bukan dari buku - termasuk yang dijual di kios Loak - Kitab kasat dan darimana isi bla bla bla nya berasal , bagi kami hal beriman adalah : DARI YAKIN KU TEGUH - HATI IKHLAS KU PENUH = KUKU jati diri Publik Kedugo Rapal Mantram Sinegeg Sakhathahe Para Jawata Watak Nine to five - Toleransi pada Hukum KERJA dan pengamalan informasi Kerohanian Hadirat Sila 1 Negari . jika dihubung kata kitab - namanya KITAB KRUNGU KABAR - Keluarga Halilintar , al kitab sanubari kedaulatan rumpun Gema Samosir - Prasasat Kethog - Kunir Keluarga Petir - sebatas tidak berlaku bagi tuna rungu - tuna wicara , karena terkaitnya = Hukum mireng - Moral Mudheng - Penuh Pesan Kosmik Energi Kidung Sastra Pepujian - Pakem Sonteng Primbon Kejawen - Serat jamus kalimusodo - Hingga Centhini , akrab bukan kepalang dengan yang namanya Tembang laras Pringgondani , maknawi : PRI + NGGON + DANI = hal penempatan suku kata , yang ditempatkan pada pernahnya : ON THE LEVEL - ajaran yang paling terkemuka di sila 1 = Moco-pat , fakta tidak buta huruf penempatan ketika pada Ketikanya - Diri individu warga didalam jati dirinya sebagai BANGSA yang Bertuhan - Lebih Mengedepankan Tujuan Cita Bangsa - yang tidak dapat dengan seenaknya di = Umat - istilah yang di impor dari arab - Oleh Importir Petir bla bla bla Wahyu rumpun Langit Guo Hiraj - dalam Khasanah bahasa Indonesia garis keras - tidak tepat disebut WAHYU - karena disuarakan di goa = tidak di tempat kejadian perkara = Alibi - adalah istilah wangsit Dewi ARRIMBI - OR and BE - Bunda Kerajaan on the level Kiss Army Pringgondani ! Wangsit Levelnya , bukan wahyu - Pengertian sehubung kata Wahyu + Kraton Gung Binatara Sila 1 - Negri Kosmik Energi Kesaktian Pancasila yang Punya - Bersifat Tunggal dan hanya Bangsa Indonesia yang mewarisi ! - apakah Juga Disitu , Letak tidak sependapat Bung ? - Jika ya , simpan ! atau sunggihen dewe papan dhodhol Rujak Propanganda Derajat tanah Mekah : Sorga Mabrur Manalagi yang lebih menggoda ( ??? ) + Sila 5 = Insya’allah Tunggu tanggal mainnya , lakone metu - jagonya keluar ! batgirl - batman datang ! - atau yang mirip visinya pak natsir - yang anda andalkan sebagai jagonya tuntunan Laku Sahandap Sila 3 di sila 1 dan sila 2 ??! ya , jawabnya itu - kasar jadinya : Ngoko Bloko Suthong Metu sungut Visi jawi laras Centhini - Orang sini ! seperti misalnya kata : ghak nuthuti Kulak ANE - Ente Majnun Soale ! Islam Hardcore kelas berat Tumrap Derajat raos Arab - Berwalirasa + Gengsi + Tersinggung PINJAMAN Wali rasa warga Arab pra listrik - ulangi : Islam itu seberapa tidak identik dengan Arab ? wong mengucap salam saja seragam , salah alamat Induk Imigrasi - alamat nya di sila 1 Milik Bangsa Indonesia - dan letaknya di : Tanah air Pusaka - Gerbang kertasusila Negara Pancasila ! dan pengucapan salamnya kurang lebih seperti yang kuhaturkan diatas , jika untuk bergema di ruang sila 4 dimulai dengan kata : Jaya Wijaya ! Hong Ilaheng Tata Winanci Awighnamastu namas siddham , Sentosa Syailendra Susuhunan atur Mendhem Njero , Mikul Nduwur - Panjat Syukur Borobudur , Sejahtera panjang umur dan Makmur ! Sinegeg Toleransi - Bandrol kait wingi Pejalan amanat Proklamasi !

    Wah sudah jam berapa , nih ! duh ngapunten bung yusril , sampai kelupaan mengisi Perut - semoga bung tetap sehat , dan tidak sepertiku , waktu makan nggak aturan , Pertahankan situs ini untuk silaturahmi antar angkatan , anjang sana - urun rembhuk visi , kalau sehubungnya Visi Impor - hati hatilah agar tidak tidak terkesan menggurui harga mati - Jati diri Bangsa - Tanah Pijak , maupun Rumpun = Rumpung gaung Borobudur ! dan aku fakta ! tidak bicara tentang Borobudur atau Budhisme - India , aku sedang menulis : AKU - melangkahkan Aku - Bukan Tuak menggelegak - gamitan demokrasi Dahak , negri Priyayi Sumur Minyak arafah : APA KALI RUPANYA = arti sendiri Arafah + arti sendiri islam = PATUH TUNDUK TANPA MEMBANTAH - hakekat tanah PESURUH Tuhan , Bukan seperti Tanah Jawi Laras serat Centhini : Tanah KINASIH Tuhan - Hadirat Sila 1 BANGSA yang Bertuhan ! Salamun miir robi rohim - yang Lebih tepat diberikan kepada kita dari Umat beragama islam - lain Imigrasi , termasuk warga Arab saudi - dan kita menjawabnya dengan : Asalamualaikum = letak jawaban - tetapi kalau salah alamat , aturan wilayah induk imigrasi - adat Tanah Jawi - menyapa dengan Asalamualaikum - ya dijawab seperti darurat bergegas memanggil : Dokterrrr !!! - perhatikan nada kalimat memanggil Dokter yang beragam Inotasinya dalam Situs The Doctor : Pink Floyd - The definitive ( nge Downloadig POD MP3 Cantrik alam al kisah ) padang Kuru Bharata Yudha , Dokter ? - Dokter ! - atau mendayu - setengah menggatang seperti suara lemah pasien : Dokter … ??

    Sekali lagi matur nuwun Mas. Pendapat sampeyan yang gandrung sama klenik itu bagi saya biasa-biasa saja. Yang lebih serem dari itupun sudah saya baca seperti tertuang dalam Serat Darmogandul dan Gatoloco. Bagi saya yang penting untuk direnungkan di zaman sekarang ialah wejangan Raden Mas Ngabehi Ranggawarsita dalam Serat Kalatida, khususnya bagian “Zaman Edan”. Di zaman edan ini “sopo sing ora edan, oran keduman”. Namun “sak bejo-bejo ne wong sing edan, isik bejo sing eling lan wospodo”. Almarhum Pak Zahid Hussein pernah menjelaskan kepada saya bahwa “eling lan wopodo” itu adalah istilah lain dari “zikrullah dan takwa”. Mudah-mudahan sampeyan setuju. Kalo nggak, ya gak opo-opo.. he he he.(YIM)

    Ngarso Dalem (Sri Sultan Hamengkubuwono X) pernah bercerita kepada saya, suatu ketika beliau berkunjung ke Suriname. Oleh Pemerintah di sana, beliau dipertemukan dengan tokoh-tokoh dari berbagai agama. Di antara yang hadir itu ada tokoh yang berpakaian khas Jawa. Ketika diperkenalkan beliau itu disebut sebagai tokoh “Gomo Jowo”. Sri Sultan sempat kaget, namun akhirnya beliau tertawa. Saya bersyukur KTP sampeyan tetap mencantumkan agama sampeyan Islam. Orang beragama itu kadang-kadang mengalami pergolakan batin yang dahsyat. Saya maklum akan hal itu. Mudah-mudahan sampeyan bersabar dan dapat menemukan jalan kebenaran di dalam Islam. (YIM)

  27. Iwan Asnawi (komentar #27)

    Dear; Mr. Yusril Ihza Mahendra…

    I am thinking how i can get this book?! I am living in Switzerland!
    There is someone organice to send me one?
    then i can send some money for that reason?

    Your sincerrally

    Iwan Asnawi
    Brienz Strasse 38
    3800 Interlaken
    Republik of Switzerland

    Okay. I already got your address. I will ask the publisher to send it.

  28. Hamba Allah (komentar #28)

    @Bapak Ariedi
    Waalaik buat Pak Ariedi
    ( tulis salam yang bener dong !!! )

    kalau tulis comment yang jelas dong. susah dibaca, gak usah pakai bahasa di awang-awang. GAK JELAS !!!

    ISLAM tidak identik dengan ARAB, begitu juga dengan Budha dan Hindu, semuanya juga import. Kalau mau yang orsinil Indonesia, pilih saja Animisme, gak usah muter-muter lah. Umur sudah 40 tahun, harus cerdas memilah dan mencerna opini yang gak berdasar !!!

    Kalau masalah salam yang seragam, coba cari tahu dulu kenapa redaksi salam seperti yang ada sekarang. Atau jangan-jangan Bapak tidak tahu asal-usul mengenai masalah salam.

    Kalau saya maklum saja. Membaca tulisan Pak Ariedi, sementara ini saya berkesimpulan beliau itu gandrung kepada dunia kebatinan. Dunia ini rada-rada susah kalau diomongkan, karena omongan (atau tulisan) itu adalah bahasa zahir. Makin banyak diomongkan, makin “kleru” (salah atau keliru). Di sinilah sebenarnya letak perbedaan antara “ilmu” (dalam Bahasa Arab) dengan “ngelmu” (dalam Bahasa Jawa). Ilmu itu menggunakan nalar, metode dan pengujian empiris untuk membuat sesuatu yang gelap menjadi terang benderang. Sementara “ngelmu” (kadang-kadang diplesetkan menjadi “angel ketemu” (susah untuk ditemukan), bisa sebaliknya, yakni, makin dikupas, dibicarakan dan didiskusikan, sesuatu itu bukannya tambah terang, malah tambah gelap dan akhirnya gelap gulita, he he he… Namanya saja “Kebatinan”, jadi sesuatu yang ada di alam batin. Kalo diomong-omongkan terus secara zahir malah jadi “ngawur nggak karuan”. Ajaran tasawwuf Syach Siti Jenar karena diomong-omongkan (ajaran tentang “manunggaling kawulo Gusti”) maka akhirnya membuat “kleru” bagi orang yang mendengarnya. Sebab itu ada peneliti tasawwuf yang mengatakan bahwa Syech Situ Jenar itu “kafir” di hadapan manusia — khususnya para penentangnya — tetapi “mukmin” di hadapan Allah. Demikian komentar saya. Menghadapi Pak Ariedi itu saya menganjurkan untuk mempedomani firman Allah SWT di dalam Surah An Nahl ayat 125 yang artinya “ajaklah manusia itu ke jalan Allah, dengan hikmah (pendekatan yang bijak, yang rasional dan filosofis), dan “mau’izatil hasanah” (berilah contoh-contoh yang baik), jika perlu dilakukan perdebatan “mujadalah”, maka lakukanlah dengan cara yang baik pula”(YIM)

  29. Iwan Asnawi (komentar #29)

    @27… Mr. Mahendra

    Thank you so much for your attention!?
    and i am so glad finally i can get this book…
    please, put slip payment inside that book…
    and i wish you all the best!

    Yours sincerely

    Iwan Asnawi

  30. n. jamil (komentar #30)

    Saya lega membaca tulisan Bang YIM ttg pak nasir, tokoh yang selama orde baru sulit bernafas. Lebih lega lagi tanggapan bang YIM ttg komentar #26 Ariedi. Saya sudah berangan-angan menulis tanggapan utk Ariedi, tentu saja agak garang. Namun bang YIM memberikan jawaban yang menenangkan jiwa saya, sehingga tidak jadi ditulis.
    Selamat menuju tangga RI1 .. amin 3 x

  31. Nasrullah (komentar #31)

    Numpang baca lagi ah,….
    Wah ada komentar menarik yang aneh di komentar #15 dan komentar #28, sangat aneh mungkin karena ketikannya susah dibaca, sehingga kata komentar #28 “susah dibaca” dia pakai bahasa yang mengawang-awang.
    Buat Bang YIM, terus terang saya semakin tahu tentang Natsir sejak baca tulisan di blog ini, entahlah generasi setelah saya yang masih SMP apakah mereka diajarkan tokoh-tokoh seperti pak Natsir itu. Semoga buku tentang Pak Natsir ada versi untuk umum, sehingga banyak orang tahu tentang beliau.

  32. T.babab (komentar #32)

    Assalam alaika..
    Pak yusril, saya makin kagum dg anda setelah tahu kedekatan anda dg allahuyarham m.natsir. Saya menganggap anda potensial jadi pemimpin indonesia. Malahan saya berangan anda -dan indonesia tentunya- jadi pemimpin di asia pada masanya..
    Hanya saja saya risau karena belum melihat adanya orang yg mampu menggantikan dan mengikuti jejak bapak di partai yg bapak dirikan. Bagaimana anda menilai permasalahan ini. Apa tidak ada tokoh lain yg sepaham dan ingin bergabung dg bapak?
    Wassalam..

    Sebagai partai modernis, PBB tidak boleh bergantung kepada figur seseorang dalam memimpin partai. Sebab itulah, setelah dua kali menjadi Ketua Umum, saya dengan sukarela memohon kepada muktamirin PBB di Surabaya tahun 2005, agar saya jangan dipilih lagi menjadi Ketua. Kini PBB dipimpin Sdr. Kaban. Saya percaya, masih banyak kader muda di PBB yang akan meneruskan perjuangan (YIM)

  33. Darkum Sudiro (komentar #33)

    Memang hebat pak YIM
    saya dari tadi mengulang-ulang membaca komentar dengan bahasa susah itu, ndak paham-paham juga.
    Eh, malah Pak YIM bisa menjawab.
    :D

    He he he terima kasih. Sewaktu masih menjadi mahasiswa filsafat, saya berguru kepada Dr. Abdullah Tjiptoprawiro, dosen filsafat Jawa. Beliau itu putra dari Penghulu Ageng Kasunanan Surakarta. Segala macam kitab-kitab klenik Jawa saya baca tiap hari. Belakangan saya berguru dengan Prof. HM Rasyidi yang disertasinya doktornya tentang kitab Centini “Critique et Consideration du Livre Centhini” di Universitas Sorbonne, Paris. Beda dengan Pak Tjipto yang sangat kagum dan terpukau dengan Klenik Jawa, Prof. Rasjidi adalah pengkritik klenik yang tajam. Saya menelaah dengan agak dalam Aliran Pangestu dll. Belakangan saya baca juga karya-karya Dr. Simuh yang banyak meneliti tentang kebatinan Jawa. Mohammad Hari Suwarno, Pak Permadi SH dan Alm Pak Zahid Hussein adalah sahabat saya. Jadi saya sedikit maklum dengan klenik Jawa., walau tak dapat mengatakan ilmu saya dalam mengenai hal itu. Bahwa klenik itu campur aduk, sinkretisme berbagai aliran keagamaan dan kadang-kadang nampak sinis terhadap Islam, ya.. nampak seperti dalam tulisan Pak Ariedi itu. Puncak dari sinisme itu dalam literatur Jawa klasik tercermin dalam Serat Gatoloco dan Darmogandul yang saya sebutkan di atas tadi. (YIM)

  34. edi.santosa (komentar #34)

    Membaca komentar Bapak di #28 sungguh bikin saya malu, saya udah mikir nggak2 aja nih soal beliau padahal saya sendiri jarang baca komentarnya sampai tuntas, njelimet.Karena sering kali kita seperti itu; tidak tahu duduk soalnya tapi suka gatel pengen coment jadi deh tambah gak karuan.
    Saya berharap media; terutama televisi, dapat menangkap dan menampilkan sosok Bapak seperti kesan yang saya dapatkan disini.Kalem, bijak, Kebapak`an dll. Tidak seperti yang selalu saya dapatkan di TV, judes,sombong dll

    Pak, saya baca di Majalah Biografi Politik ( saya pengen beli buku ini tapi gak kebeli jadinya nyontek di gramed), Bapak bilang kalau Bapak pribadi berpendapat bahwa seorang wanita boleh jadi Presiden; apakah iini berarti seperti yang pernah di tulis koran Gramedia bahwa Bapak bersedia disandingkan dengan Megawati? sedangkan selama iini PBB dikenal sbg salah satu partai Islam yang menolak wanita jadi pemimpin.

    Bapak juga pernah bicara di sebuah tabloid kalo misalnya umur Bapak sudah mencapai 55 dan belum kesampaian jadi Presiden Bapak berencana mundur dari dunia Politik dan akan kembali ke kampung halaman. kalau memang demikian adanya, saya rasa sangat disayangkan.

    Saya pribadi berpendapat demikian, seorang wanita Muslimah boleh saja menjadi Presiden. Namun bukan berarti saya mau “disandingkan dengan Megawati”. Saya memang berniat tidak ingin lama-lama terjun ke politik, karena ingin memberi kesempatan pada mereka yang lebih muda.

    Kalau di TV saya kelihatan judes, saya mohon maaf. Saya berharap, supaya penonton tahu apa yang terjadi, sebaiknya TV juga menayangkan seperti apa gaya wartawannya ketika mengajukan pertanyaan kepada saya. Kebanyakan mereka agak sok tahu, mengajukan pertanyaan kepasa saya dengan gaya menghakimi dan memojokkan, karena itu jawaban saya sering tegas dan to the point. Namun sayangnya, ketika ditayangkan, wartawan yang nanya itu tidak dimunculkan di televisi. Namun demikian, saya berterima kasih atas komentarnya, agar saya menjawab pertanyaan dengan simpatik, walau yang nanya jauh dari sikap seperti itu. (YIM)

  35. edi.santosa (komentar #35)

    Pak , ada satu hal lagi yang ingin saya tanyakan. Bagaimana caranya supaya kita tidak terjerumus mengkultuskan seseorang; saya sering tidak suka dengan pendukung Gus Dur yang sepertinya membabi buta mendukung beliau.apapun tindakan beliau pasti benar dimata pendukungnya.sekarang saya pikir apakah mungkin hanya karena saya tidak tahu siapa Gus Dur seperti pendukungnya memahami beliau.

    Sama seperti kalau saya mendukung Bapak,kadang2 saya suka nyolot kalau misalnya ada yang berkomentar tentang Bapak, padahal setahu saya Bapak tidak seperti itu.saya juga sampai memajang foto Bapak, seperti halnya para pendukung soekarno atau soeharto selalu memajang foto tokoh pujaannya didinding rumahnya.

    Semoga Bapak selalu sehat dan ada dalam lindunganNya.
    tidak jadi RI 1 pun semoga selalu jadi Negarawan yang membanggakan rakyatnya.Amien

    Menghormati dan menghargai seseorang sebagai pemimpin boleh saja, namun wajiblah dalam batas-batas yang wajar. Cara paling sederhana mencegah kultus terhadap seseorang adalah memahami konsep Tauhid yang menjadi sendi dari ajaran Islam. Manusia, betapapun hebat dan pandainya, tetaplah seorang manusia yang tak luput dari kesalahan dan kekhilafan. Nabi Muhammad S.a.w pun beberapa kali melakukan kesalahan, sehingga Allah SWT menegurnya, padahal beliau adalah junjungan yang kita muliakan. Dalam riwayat diceritakan bahwa Nabi Muhammad S.a.w pernah berpendapat tentang sesuatu hal mengenai pertanian, namun beliau akhirnya menyadari bahwa pendapat beliau salah dan mengakui kekhilafannya. Kalau nabi saja bisa salah, apalagi manusia biasa yang bukan nabi. Kalau saya melihat kepada diri saya sendiri, alangkah banyak kekurangan dan kesalahan pada diri saya ini, sehingga saya mohon kiranya cukup menghargai saya secara wajar-wajar saja.(YIM)

  36. Ariedi (komentar #36)

    MEMBACA

    Telah Menjadikan Periksa dan Mengetahui ….. !

    Sekali lagi matur nuwun. Nuwun sewu kalau ada kata-kata yang kurang berkenan di hati sampeyan (YIM)

  37. Ariedi (komentar #37)

    Atur Nuhun ,
    Sami - Sami , Bung Yusril - Duh Biyung , Amargi garis turun Karuhun - : Menawi Lepat Atur Raos abdi , Nyuwun Dongeng pangasami .
    Tilas gamitan Tumrap Ing manah Ulun , FROM YESTERDAY - 30 Second To MARS . ( Raos Budi Kebangsaan + Kidung sastra Pepujian , Tambang laras Serat Centhini , Versi Generasi MTV . ) Sinom Pedang Jagal - ” Penghabisan ” Geni Ingsun 10 November - : shor mejo Keh ulane , Jog gelo wis carane , Perihal Diriku memang asli keluarga jatim - meski tidak semuanya , Nian jawatimuran sepertiku - Bahkan ortuku sendiri , memberi tanggapan kepadaku , kurang lebih seperti Bung Yusril , yaitu di Cetus Sinis , Di = Cenderung Klenik - kebanyakan baca kitab : Medheni Bocah ! - akan tetapi itulah imej mengenai Visi Jawi sejak sononya ( Atau SONORA ) dalam dua pekerti = Memang KERAMAT sejati Keramat - Induk Kekeramat - dan juga sebaliknya Menang WINGIT - Nian Setra ganda Mayit - Leak Broadcasting - sang Maha Taring , Dwi Tumrap Kharmapala : Hono Coroko = seperti Ubi - jalar Echoes Amargi : catu Negatip + Ibu = Daya Positip - Sehubung pemberdayaan raos bathin Pejalan : gerak yang punya arti Tut wuri Handayani - pada generasi yang lebih muda , atau belum cukup tahu apa - apa , seperti diriku ini , padi yang belum berisi - maka cenderungnya Pongah - yang walau demikian , tetap = Resiko Logis yang harus dilalui - sehubung asas tanam tubuh : BIBIT - BEBET - BOBOT Kwalitas Jiwa Kebangsaan Indonesia Raya , yang harap menjadikan Periksa , bahwa adanya setelah 28 Oktober 1928 Masehi - maka Seperti gamitan kidung nasional yang berbunyi pergi kegelanggang bersenda ” Nggak Layaw ! ” - : Indonesia SEJAK DULU KALA - Selalu di puja - Puja Bangsa = mirip takontakhondho awak ku pada bung YIM - : Seberapa DAHULU KALA ? jadi jika hubungnya merdeka ber ekpresi - Tidak Juga . oleh karena sandi yudha kata : Nasional - Nasionalis - Nasionalisme Bangsa Indonesia + Keluarga Pejuang , Hubungnya Tunggal Maknawi Geni Ingsun + Tumrap raos Ulun , Berasal dari kebulatan Tekad dan Budaya Musyawarah - Bukan dari Merdeka ber ekpresi , yang On the Level nya pada dunia murni sehubung produk jual + Telah Dijual : Dunia Film , Dunia Musik , Dunia sastra , Ilmu - Politik , dunia dalam peta dunia Bumi Pusat Restu Illahi , yang juga bisa menjadi sebaliknya , Pusat Sangkan Bilahi - di era global Warning = bagai manusia nantang perkara , Kulak Cobaan Hidup Level Super Hero - Lumpur Lapindo ! prilaku Rumpun Judul atau ibarat ( Sinom ) Peta itu sendiri = Nggak ada orangnya - Semata Judul Jabatan - Tunggale kidang talun , Publik Muncul Culun Di Bumi , sebagai KELAKHOAN + Kelakian = Visi publik + Umat suwuk mantram Bani Adam - Roh nyunggi wakul bahasa Betul + Beautiful , kelakuan semprul + amburadul ….. !

    He’s a stranger to some , and a vision to none - He can never get enough , Get enough of the world ( Titan - Atlas ! Planet Mahaputra Bumi Ibu Karuhun Meganthropus - Induk Balung Generasi Penerus )
    For a fortune He’d quit , But It’s hard to admit - How it ends and Begins - : On His face is a MAP of the world ( A Map of the World : ” Thak Suwuk - Thak Suwuk ) - : From Yesterday , It’s Coming ! - From Yesterday , The Fear ! - From Yesterday , It Calls Him - But He Doesn’t Want to Read the message Here …… !

  38. Hadi M. (komentar #38)

    Pak Natsir sudah lama menjadi idolah saya, kebetulan ayah saya orang masyumi di jawa barat, saya berdoa semoga Pak Natsir bisa diangkat menjadi pahlawan nasional, sedangkan Pak Simatupang yg tokoh PGI/DGI dan pendeta saja bisa malah jadi nama jalan tol TB Simatupang yang panjang di Jakarta, padahal jasa2nya kenegara saya gak tahu tuh. Kenapa Pak Natsir dipersulit jadi pahlawan nasional ya?
    Sejarah perjuangan orang2 dan organisasi Islam hanya sedikit di ajarkan di bangku kuliah, saya kira harus diperjuangkan secara objektif peranan pejuang dan organisasi Islam memerdekakan RI. Sekarangkan jamannya demokrasi dan terbuka, semua pihak harus menerima sejarah apa adanya, jangan hanya yang pro-barat saja yang dipandang terbaik, nyatanya Indonesia masih amburadul saja, dibawah pimpinan orang2 sekuler.
    Saya ingat tulisan tokoh katolik di Harian Republika, katanya, mereka orang katolik juga memperjuangkan penerapan ajaran katolik diterapkan di Indonesia, kenapa kita orang Islam tidak?
    Bang Yusril, kami percaya anda, jangan surut dari perjuangan membela kebeneran, jadikan PBB sekelas Masyumi, Pemimpin2nya yang jujur, pintar dan santun.

  39. edi.santosa (komentar #39)

    Terimaksih Pak, Insya Allah saya tidak sampai “memuja” bApak.cukup kagum saja kok.saya ingat dulu waktu Bapak belum terkenal sebagai politisi m,asih dikenal sebgai cendikiawan Bapak sering sekali nongol di RCTI pada saat ramadan bahkan pernah jadi peserta kuis.

    dan terutama karena saya sejak kecil sudah tidak punya seorang Ayah (ayah saya juga seorang Masyumi) maka Bapak saya personifikasikan sebagai “orangtua” saya. itulah mengapa saya agak kecewa dgn apa yang terjadi dgn Rumah tangga Bapak, tetapi seperti yang pernah saya sampaikan juga, garis hidup seseorang sudah ada yang mengatur kita hanya bisa berusaha dan menjalani apa yang terjadi. hanya saja saya harap Bapak tetap dekat dengan keluarga( seperti keterangan yang sering saya baca di buku2 atau tulisan mengenai Bapak). karena sya sangat merasakan arti kehilangan figur seorang ayah maupun Ibu.

    Semoga Bapak selalu jadi teladan bagi keluarga dan Bangsa.Amien

  40. Guspiit (komentar #40)

    Terima Bang atas informasinya. Saya pernah hadir waktu Alm. M Natsir ultah yang ke 80 di Masjid..
    Buat komentar no #26 Ariedi, buat baca komentarnya aja saya udah malas.

  41. Hairul Wz (komentar #41)

    asslamu’alaikum wr. wb
    sebagai bahan renungan
    menurut saya, seratus tahun yang lalu M. Natsir bukanlah siapa2 beliau hanya seorang bayi sebagaimana bayi bayi yang lain dan tidak punya keistimewaan apa2 lantas untuk apa kita memperingati seratus tahun Pak Natsir yang notabene tidak ada bedanya dengan kita semua. untuk mengenag seseorang cukuplah kita mengenag jasa2 beliau ketika beliau masih hidup dengan mentauladani perjuangan, kegigihan dan ketaqwaan beliau kepada Allah SWT. Jadi kita mengormati seseorang karena memang beliau patut dihormati namun jangankah berlebih lebihan sehingga akan timbul fanatisme dan kultus individu yang kurang baik. bukanlah seorang pemuda yang mengatakan inilah bapak ku dan ini lah kakek ku tetapi seorang pemuda harus berani mengatakan inilah aku dan beginilah aku.
    pertama kali saya mendengar peringatan seratus tahun adalah peringatan seratus tahun Ir. Soekarno yang diadakan oleh para pengagum beliau. kini para pengagum M.Natsir juga ikut-ikutan padahal belum jelas apa maksud dan tujuan diadakannya acara tersebut.
    masih menurut pendapat saya, kita tidak perlu mengadakan acara yang berjudul mengenang seratus tahun M.Natsir karena peringatan semacam itu tidak ada tuntunannya baik dari segi sudut pandang agama maupun sudut pandang yang lain. Rasulullah dan para sahabat tidak pernah mengadkan peringatan - peringatan semacam itu mengapa kita harus mengadakannya ? bukankah suri tauladan kita adalah Rasulllah saw.
    mohon maaf bagi yang tidak sependapat dengan saya
    wassalam wr. wb

  42. Badrut Tamam Gaffas (komentar #42)

    Saya sependapat dengan Guspiit tentang komentar kawan kita Ariedi tapi kita harus tetap hargai kebebasannya untuk berekspresi, itupun sebenarnya bagain dari pengakuan betapa blog Bang YIM sudah dianggap milik semua orang, tapi saya cenderung ingin menyoroti gagasan YIM Center, agaknya saya memang sependapat dengan Suswi-N dan Crisna Permana

    Menurut saya karasteristik Bang Yusril dan Pak Natsir memang nyaris sama, memiliki inteletualitas tinggi sebagai cendikiawan muslim tapi lebih menyukai menjadi intelektual independen sehingga senantiasa terbuka ruang untuk memenuhi setiap panggilan jiwa sebagai aktivis pergerakan, ini berbeda dengan Prof BJ Habibie atau Prof Ahmad Syafii Maarif yang sepertinya sengaja membatasi gerakannya di ranah politik dan pergerakan, sementara ketika Pak Natsir mendirikan LIPPM saat itu posisi beliau sedang vakum dari kegiatan politik karena Masyumi dikubur oleh rezim orde lama dan tidak direhabilitasi dimasa orde baru.
    Kalau berpikir praktis menurut saya ini lebih pada permasalahan prioritas bukan kendala teknis atau non teknis. Yang perlu juga dipahami adalah Posisi Bang Yusril yang juga sebagai Lokomotif Pergerakan Politik Islam Modern dengan Partai Bulan Bintang yang saat ini tengah berusaha bangkit menjadi besar dan menggelembungkan suara, lokomotif bergerak niscaya gerbong-gerbong dibelakangnya juga ikut dinamis bergerak.

    Menurut saya gagasan YIM Center sementara ini ditahan dulu, prioritasnya diganti dengan Membangun dan membesarkan Partai Bulan Bintang, ya mungkin bolehlah dibuat YIM Center tapi jangan-jangan nantinya malah dituding dan dipleset-kan sebagai Partai Bulan Bintang Center , gambarannya sederhana saja misalkan masalah pengaturan dan pengelolaan sumber dana jangan-jangan dibelakang hari bermunculan rumors dana kajian dan penelitian YIM center diselewengkan untuk tujuan politik.
    Dalam pemikiran sederhana saya yang bisa jadi sempit seharusnya jika orang tertarik dengan sosok, pikiran dan pandangan Bang Yusril seharusnya juga mendukung Partai nya Bang Yusril yakni Partai Bulan Bintang, menurut saya antara sosok, pandangan dan pemikiran dengan realitas dukungan harus bisa didekatkan, Misalkan saja Gus Dur atau Megawati semua orang tahu bagaimana sosok, pandangan dan pemikirannya. Dalam realitas gerakan kedua tokoh ini mendapat dukungan nyata, begitupun dengan Bang Yusril sebagai tokoh dan pemimpin pergerakan beliau membutuhkan dukungan riil.
    fenomena ini hampir mirip seperti Islam dan Syariat Islam, betapa banyak orang yang mengaku Islam tapi menolak keras jika diajak bicara Syariat apalagi memperjuangkan Syariat Islam.

    Bagi saya pribadi Blog Bang Yusril ini sudah merupakan bagian dari YIM Center, disini terlihat bobot bang yusril sebagai seorang negarawan, hampir tidak pernah secara terang Bang YIM meminta dukungan politik, jikalau kemudian muncul isu dan wacana politik itu lantaran yang masuk blog ini tidak bisa dibendung dan dibatasi, banyak kader partai dan simpatisan PBB didaerah yang dengan bersemangat mengakses blog ini dengan harapan bisa berkomunikasi dan bersilaturrahim dengan Bang Yusril.

    Itulah kenyataannya pada hari ini dan seandainya YIM center benar-benar berdiri maka saya dan semua pendukung Bulan Bintang Media akan merasa senang bisa menjadi bagian dari itu…

    Terimakasih dan Wassalam

  43. Ariedi (komentar #43)

    READING …..

    Telah menjadikan Periksa dan Memahami -
    Tutur - sareh sesrawung sampeyan - Berikut : OPO - gamitan Wacan tradisi berlaku surut ing manah sampeyan - saya tidak menegaskan Mengaku - ngaku Islam yang Islami sangat , sejak awak ku memasok komentar - yang bikin malas : Lazy Is One - ( Lawan kata Ikhwan ) orang - aku mengatakan - sampai saat ini katepeku tertulis beragama Islam , sebagaimana keluarga dan handai taulanku di Bumi Nusantara - aku hanya menoba menerakan sesuatu yang tidak seperti input : Senden Gunung - ( Suku Lemhak Nian ) Gunung Jughruk bandarono - Bangkrut Modalin , seperti sewenang - wenangnya pejabat - Penguasa di Republik ini , yang membuat Negara Seolah Tidak bertuan , tidak punya pandangan : Penthung Penduduk Setempat - Trah geni Prapat 10281928 . Itulah …….. !

    ON A MOUNTAIN HE SITS
    Not of gold but of shit - through the blood He can Learn , See the life that it turn - From Council of One
    He’ll decide when He’s done with the Innocent - : On his face is a map of the world ( A map of the world )

    From yesterday - 30 second to Mars .

    apapun itu sebelum dan sesudah nomer ini - Terima Kasih - atas sentilan , maupun jewerannya , Lepat atur Geni abdi - Nyuwun Dongeng pangasami

  44. isbandiono (komentar #44)

    Seluruh kehidupan Pak Natsir tidak terlepas dari kegiatan politik dan berdakwah demi untuk kemajuan ummat dan bangsa. Dua hari yang lalu KPU telah menetapkan partai peserta pemilu 2009 dan sebentar lagi dimulai kampanye selama 9 bulan.Alhamdulilah jumlah partai Islampesertapemilu yad tidaksemeriah pemilu sebelumnya dan semoga akan memberikan semangat kepada persatuan Islam.Pertanda baik pada partai Islam ini telah terlihat dari hasil pemilu gubernur NTB dimana calon yang diusung oleh Partai Islam PBB dan PKS memenangkan pemilihan. Hasil pemilihan tersebut menunjukkan bahwa:Gubernur terpilih (38 tahun) merupakan Gubernur termuda,selain Gubernur terpilih adalah Gubernur yang pertama dari golongan ulama.Kemenangan tersebut diraih karena kerjasama antara partai Islam yang mampu mengalahkan pasangan yang diusung oleh Golkar dan .
    Dalam memperingati 100 tahun Pak Natsir alangkah baiknya apabila hal ini memberikan inspirasi kepada pemimpin-2 Islam untuk memperkuat persatuan, teguh dalam pendirian.Dalam perjuangan tidak istilah kalah dan menang yang ada ada adalah leihlasan berjuang dijalan Allah. Isya Allah partai Islam mencapai sukses dalampemilu 2009 dan SEMUA PARTAI ISLAM MENGUSUNG SATU PAKET CALON CAPRES DAN CAWAPRES.

  45. Badrut Tamam Gaffas (komentar #45)

    Sependapat dengan Kawan Isbandiono,
    Profile dan Review tentang Tuan Guru Bajang bisa diakses di http://badruttamamgaffas.multiply.com/reviews/item/3
    atau di Bulan Bintang Media http://bulanbintang.wordpress.com

  46. Hadi M. (komentar #46)

    Mas Ariedi,

    Bahasa tulisan sampeyan ora mudeng aku, pakai bahasa indonesia bae lahhh…sing iso di woco ngono
    Sampeyan iku nulis dari gua di gunung to?

  47. Edwin Arif (komentar #47)

    Gagasan mengenai YIM center ini menarik. Mengambil contoh dari Pak Natsir yang membentuk Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia dan telah terbukti hasil kontribusinya terhadap kehidupan berbangsa, saya kira adalah hal yang positif untuk membentuk semacam YIM center.

    Saya terbayang, jika YIM center terbentuk, tentulah didalamnya berkumpul cendekiawan - cendekiawan Islam yang memiliki kemampuan intelektual tinggi, dengan semangat yang tak jauh berbeda seperti semangat Pak Natsir. Pemikiran - pemikiran praktis mereka jelas sangatlah diperlukan saat ini. Tanpa harus menunggangi kendaraan politik, sebagaimana Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia bisa berjalan, tujuan utama dari pendirian Partai Bulan Bintang untuk menyebarkan syariat Islam bisa tercapai.

    Kekhawatiran muncul, jika terlalu lama mencari atau menunggu kendaraan sebelum melangkah, ada kemungkinan kita tidak maju2. Ada baiknya sambil mencari atau menunggu, kita melangkahkan kaki berjalan kearah tujuan kita. Masyarakat awam seperti saya perlu sesuatu yang praktis dan tidak mengawang-awang. Masyarakat awam seperti saya perlu pembelajaran, dalam level bahasa yang kami mengerti.

    Saya hanya berharap, jika semacam YIM center atau Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia terbentuk, bisa langsung merumuskan road map to syariat dalam tataran praktis. Saya melihat banyak simpang siur mengenai syariat ini sendiri. Ada yang mengatakan ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat, ada yang mengatakan ini dapat diamandemen sesuai kebutuhan zaman, dll. Kalau tidak salah diblog ini Pak Yusril pernah mengatakan, perlu dibuat kitab hukumnya terlebih dahulu, yang mengacu pada Qur’an dan Hadist. Dalam hal inilah YIM center dapat berperan untuk merumuskannya tanpa harus menunggu kendaraan politik, kemudian mensosialisasikan kepada masyarakat sedikit demi sedikit. Kami masyarakat awam banyak yang tidak tahu mengenai syariat, diperparah dengan bombardir informasi sepihak yang miring tentang syariat itu sendiri.

    Saya secara pribadi, berkeinginan mengetahui lebih lanjut tentang syariat itu sendiri, bagaimana mulai menerapkannya pada diri sendiri, kemudian mensosialisasikan dalam keluarga, dan selanjutnya. Tapi menjadi sulit rasanya dikarenakan syariat saat ini tidak tersosialisasi dengan baik di akar rumput. Semoga YIM center atau sejenisnya bisa terbentuk, dengan pemikiran - pemikiran dan jiwa semangat dakwah sebagaimana dicontohkan Pak Natsir.

    Wassalam

  48. bimo (komentar #48)

    assalamualaikum.
    pak, knp filmnya diputar di metro tv?
    dibelitung ngak ad.
    lagian tidak semua tmpt di indonesia ad stasiun tv metro.

  49. SAMARUDIN (komentar #49)

    Assalammualaikum warahmatullahi wa barakaatuh.
    Bang YIm, Secara keilmuan saya tidak meragukan Bangk YIM untuk menjadi presiden, namun usaha dari bang YIM nampaknya belum maksimal.
    Teruslah berjuang dan melakukan sosialisasi kepada akar rumput.
    terima kasih.

  50. arif rahman (komentar #50)

    pertama berkenalan dan bisa dekat dengan Allahuyarham Buya Natsir bagaimana ceritanya Bang?

    Jazakallah khairan katsiran, saya semakin mengenal Buya.

  51. K. Candra Negara (komentar #51)

    Assalamualikum Pak Yusril..

    Tanpa sengaj, seseorang telah mem-post tulisan Anda tentang pak Natsir dalam salah satu milis, yang kemudian membawa saya menemukan blog Anda, yang ternyata sangat inspiring ini.

    Terima kasih banyak. Tulisan Anda tentang Beliau seperti membuka memori saya kembali ke masa kecil dan remaja, ketika Kakek dan Bapak saya banyak bercerita tentang sosok pak Natsir, yang sangat mereka kagumi itu –sehingga mereka pun memberi nama saya mirip dengan lambang partai Maysumi. Mendengar cerita mereka, saya pun turut kagum pada elan perjuangan Beliau, dan (ketika kecil) sempat menjadikan pak Natsir sebagai salah satu tokoh yang ingin saya kenal secara pribadi.

    Sayang sekali, Allah belum mengijinkan saya berkenalan dengan pak Natsir. Lebih sayang lagi, karena satu dan banyak urusan dunia ini, saya sampai kini belum pernah membaca langsung tulisan Beliau. Apakah mungkin, Anda dapat mencantumkan satu atau beberapa tulisan Almarhum dalam blog ini? Saya yakin, tulisan beliau akan semakin memperkaya blog Anda.

    Wassalam

    Candra

    karena satu dan banyak hal lainnya, sampai sekarang saya belum sempat menikmati tulisan Beliau secara langsung.

    –dan saya sangat menikmatinya.

  52. Ariedi (komentar #52)

    Reading ….. ( Praduga Huruf )

    ( sayang Praduga Logo dari komemtator belum bisa Tampil )

    GENDING Gambang Suling : Komentar Bung YIM - di Tepat 33 Biji Tasbih - Sindiran terhadapku , Demi info
    Ketengoknya ( Prasasat ) Dirimu : SATRIO Piningit - Nian pernah Dipingit Tutur Sewu lepat Rioyo Ketupat
    Mafhum Unggah - Ugguh Kethog Kunir , yang Otimatisnya Mengerahui , Bedanya dengan : Kethog - Tughel
    = Embek - Kaum , Uji Wong Plembang - jadi kalau Bingung itu : Pegangan - yang Klik Komentar - memaopar
    kan Huruf dalam Imej 3 bahasa , Indonesia , Inggris - Jawa + Logat Bumi Sriwijaya + Medan Cak mau = hasil
    Pengalaman pernah merantau kesitu - ya sudah , selanjutnya = Meminjam Bahasa tampilan Agnes Monica - Di Iklan Motor
    bahasa : How about You ??

  53. Ariedi (komentar #53)

    Tanpa mengurangi Hal yang mendasar respek – Terhadap Fakta Bung
    YIM – di dunia Nyata = Senator – kandidat Pilih tanding Untuk Presiden RI
    2009 – Semata Menangkap Pemamparan Huruf Jeneng Siro dan Mengakui
    Bahwasanya Situs ini BERTUAN - Meski belum Punya Staff , yang Bak
    Ahli Nujum Prasasat Huruf , jika ditangani sendiri , tidak cukup waktu –
    Untuk Terfokus = Masalah menangani Huruf – Bukan The Who – Siapakah
    Semata – mata APA – Apa kali Rupanya - : So What ?! - Opo Dene ?!!

    Dharma For One

    [ Introduction : Ber PRADUGA - Terhadap Huruf + Tak Bersalah =
    Azas – yang dapat memiliki kata Ibarat – atau Sinom Budi kata ber
    Sayap dibawah ini = SHE’ S REALLY TURNED ON BY ]

    She’s really turned on by the television , and vice versa.
    Here’s a song called, ??. Yes , right. Rearranged though,
    nevertheless. A new lease on life. In other words , it’s just a bit
    louder. “ Dharma For One ” .

    [ Lyrics : Jethro Tull Hanya ada satu kata : ]

    Dharma, seek and you will find
    truth within your mind, Dharma.

    Dharma, each to his own we say,
    together we’ll end astray, Dharma.

    Truth is like freedom, it doesn’t fool me.
    Be true to yourself, never think that you’re free.
    Dharma will come eventually.

    [ Outtroduction : Maju + Mengerti gerak yang punya arti , itu Langkah Pejalan dalam Dunia Nyata – Bukannya Dunia Maya GUNUNG YIM - : OPO Tumon = Senden Gunung – Komentar Nempel Perangko – DOANG ]

    Thank you ! ??

    Diluar Tanda Kurung . – apalagi , yang di : “ Kira’in Gua “ - prasasat temu - Gathuk nya itu lho , yang = Ber praduga Terhadap Huruf + Logo Beranda , Mirip = Komik 70’an : Super Hero Nusantara – Terdampar Di Tiongkok Kuno = Cenderung Filmis , Lha Ya Itu , emangnya nggak boleh di isi dengan = Bahasa GORO – GORO ( Dari Suku + Ras Pulau Kepala keluarga Sila 3 Jawa ) eng ing eng - Them Song ? - ya seperti = Opo tumon , kandidat Presiden 2009 = Senator – Nggak Punya Staf - Asisten TANGGAPAN - Masuk ? – Ulangi tanggapan - Bukan Tangkapan – bau kentut gunung YIM - Sengkuni or something , On the Level
    - Tujuan pengetik bertemu Huruf – Bukan bertatap Muka , menjalankan urusan Nge Klik : Kirim Komentar - Bukan Klik Kentut Sebentar – atau Klik Cemooh Sontoloyo – yang cenderung berbau : S A R A , maka nya ber Praduga itu – silahkan saja , tapi Mbok ya pakai Agak – agak ? = Agnes Monica, yang seperti Permen Mentholo Njilat itu ! - jadi kalau inipun RRRRAAAA MUDHENG , Emangnya Gue pikirin ?! modelnya bahasa public PBB Endi Maneh …..?!! Sekali lagi : Opo tumon senator , nggak punya Staff , segalanya dikerjakan sendiri – dalam praduga Huruf – antara = Self pity - ‘ sian ketengoknya dan = Super Hero – Satrio Piningit Endi Maneh … !! apapun itu , karena Semata menujum Huruf – Bukan Menilai Pribadi sesorang dan prilakunya di Dunia nyata – maka pendapat , hanyalah hasilan selayang pandang Mengenai Huruf yang terbaca – sebagai Study of Course - kepekaan terhadap tutur – huruf , dengan cara melatih diri membaca bahasa bathin nya Huruf – Jua = Modal persiapan menjelang Pemilu 2009 , agar tidak menjadi public – Golongan : Reason to Believe , pada Tutur – Tinular , masa kampanye , yang Bla bla bla nya , Cenderung berbahasa Lakone metu , Jagonya Keluar – yang pada masa kemudian , terbukti = memangnya Membohongi Publik , saudara setanah airnya sendiri . Semoga tertangkap saripati Susun Batu – kata Borobudur Ku : Kulo Nuwun Bung Yusril ….

    ( Copy right : Paparan Huruf di Beranda ” Cuthik melur ” Presiden - # 60 )

    Heh hhe hhe hheee ….

  54. once (komentar #54)

    Ariedi
    From yesterday - 30 second to Mars

    …oh ini bahasa planet mars toh…

  55. once (komentar #55)

    Yth Pak Prof.YIM

    terima kasih atas secuil infonya mengenai Bp.Natsir, setelah yg versi inggrisnya sy gak bisa ngikutin, tapi ini jauh lebih mencerahkan saya daripada bahasa planet mars_nya ariedi yg ktnya cuma 30 detik ke mars (smallville banget deh–hehehehe)

    bagi saya hanya dua kata ” Dukung Yusril”

    salam hormat

  56. anwar tribowo (komentar #56)

    Assalamualaikum wr wb.
    Sebagai generasi yang lahir setelah M. Natsir, saya sangat bangga memiliki tokoh semacam beliau. Menurut saya Pak Natsir adalah salah satu uswah tokoh pejuang Islam Indonesia bahkan dunia. Maka sudah semestinya kita tidak hanya kagum dan bangga, yang lebih penting lagi yaitu meneladani serta meneruskan cita-cita mulia beliau sesuai dengan alam/setting jaman. Sekecil apapun sumbangan kita untuk kemajuan Islam, tetap memiliki arti bagi keberadaan Islam di dunia ini. Maka, jangan terhisap energi kita di bidang politik saja, apalagi jika hanya bertengkar, berebut mementingkan individu serta kelompok sendiri. Meneruskan cita-cita Pak Natsir bisa lewat dakwah, sosial, pendidikan dan masih banyak media yang bisa kita tempuh, walau sangat sederhana misalnya menjadi penjaga masjid dan mengajar ngaji anak-anak. Wallahu a’lam.

    Wassalamu’alaikum. wr. wb.

  57. Mochammad Nor Ali (komentar #57)

    Assalaamu`alaikum wr wb.
    Mengingat M nasir mengingatkan kembali perjuangan umat Islam untuk membebaskan diri dari penjajahan Hukum kolonial Belanda 4 abad ini , meskipun bangsa Indonesia merdeka , tetapi umat Islam masih belum merdeka untuk melaksanakan hukum syariah kaffah, Indonesia memang negara Pancasila, tetapi sayang Pancasila seringkali diartikan identik dengan pluralis sekuleris, padahal paham itu justru bertentangan dengan Pancasila. Pancasila mengajarkan bahwa segala aturan harus berdasar atas Ketuhanan dan tidak boleh memaksakan keyakinan Ketuhanan seseorang. Umat Islam mempunyai hukum pidana perdata sendiri, tidak seharusnya negara memaksa umat Islam untuk tunduk hukum Belanda Yang diwariskan ke Indonesia hingga sekarang, melaksanakan hukum agama sesuai keyakinan adalah hak yang paling asasi sudah saatnya umat Islam menikmati hak haknya yang dijamin oleh Pancasila, Nah inilah Bang ysuril ..bola ditangan anda ..anda menurut saya adalah figur yang paling cocok sebagai M. Natsir muda, tokoh tokoh Islam Amin Rais…Hidayat nur Wahid mulai malu dengan kata kata syariat Islam . saya berharap bang Yusril engga ikutan malu .., Perjuangan kemerdekaan buat umat Islam belumlah selesai Orang Eropa memang sudah hengkang dari bumi pertiwi tapi kekuatannya masih mencengkram kita,,,andalah pahlawan yang ditunggu tunggu bebaskan Indonesia dari cengkaraman asing …tolong buatlah konsef KUHP syariah sehingga bangsa Indonesia kelak punya pilihan KUHP Kolonial atau KUHP syariah sebagaimana di Malaysia
    semoga berhasil bang
    Wassalam

    Insya Allah, saya tetap konsisten dengan syariat Islam. (YIM)

  58. anwar (komentar #58)

    Masih dalam ingatan, di era 60 an pasca G30S, alm Buaya M Natsir memulai dahwahnya di Kawasan T Abang (Jati Baru) kemudian di Masjid Kampung Bali T Abang ( Masjid Munawarah) kemudian berlanjut mendirikan DDII. Bila disimak perjalanan alm. masa itu kalau tak salah banyak didukung oleh pedagang/ perantau Minangkabau Ps. T Abang. Pada masa itu beliau sangat dicintai dan dihormati urang awak, Kini tinggal hanya kenangan semoga Alm. kan mendapat tempat sebaik-baiknya disisi Allah swt. Untuk Bang Yusril ikutilah langkah alm. jangan melupakan basis pendukung Alm. Buya M Natsir siapa lagi kalau bukan urang awak dimana pun dia berada,

    Terima kasih. Tentu saya tak melupakannya. Di Sumbar dan Riau posisi orang Minang dalam PBB cukup kuat. Saya sendiri ingin menjalin kerjasama yang kukuh dengan perantau Minang, baik di Jakarta maupun daerah-daerah lain. (YIM)

  59. Prahasta (komentar #59)

    Pak Yusril,
    Anda sebenarnya orang cerdas yang masih bisa berkarya besar di indonesia. Dengan kecerdasannya, anda bisa
    mendukung, mendorong, memberikan ide, atau bahkan langsung membuat karya-karya dalam bentuk peraturan atau undang undang (formal) atau tulisan yang bisa mengarahkan indonesia agar lebih baik dalam beberapa generasi kedepan. Dengan karya itu kita semua akan terpaksa masuk kedalam lingkungan yang lebih baik. Jika ini yang dilakukan, anda akan mendapatkan jariah yang banyak dalam waktu yang panjang. Dan ini tidak berarti harus memaksa diri menjadi orang nomor satu di negara BBM. Masih banyak pekerjaan lain yang lebih cocok dan mulia dari pada pemegang amanah berat yang satu itu.

    Indonesia itu ibarat gajah yang sedang tertidur, kemudian diikat pula agar tidak bisa bangun oleh orang-orang yang tidak suka. Indonesia banyak beban dan masalah: kesehatan, keuangan, ekonomi, politik, lapangan kerja, pendidikan, dll. Masalah besar ini mungkin baru akan mulai selesai ketika muncul imam mahdi. Barang siapa yang mau mengambil (mencalonkan) amanah ini, nampaknya, akan beresiko sangat besar. Rugi dunia akhirat… Carilah jalan yang tidak langsung.. amal dapat banyak tetapi potensi resiko relatif kecil.. Saya sayang sama anda, Pak.
    Tunggulah sampai rakyat memaksa siapapun yang akan (pantas) jadi presiden. Yang harus berjuang menentukan
    presiden itu sebaiknya mesin politik dan rakyat saja. Pribadi jangan mencalonkan. Menyangkut hal ini, sebaiknya partai anda harus kerja keras dan menunjukkan karyanyatanya kepada rakyat. Setelah itu lakukan pembinaan pada
    kader-kadernya agar pendukungnya makin kuat dari waktu ke waktu. Coba lihat contoh partai sebelah… yang karena jasa pembinaannya yang cukup rapih hingga memiliki potensi kadernya (kelak menjadi pemilih suara) membludak…

    salam,…

  60. Eddo (komentar #60)

    YIM YTH,

    Sungguh, Anda adalah pemapar lugas nan jelas. Saya dapat melihat citra diri Anda lebih luhur dari yang selama ini saya ‘tangkap’ di televisi - dan betapa beruntungnya bangsa ini memiliki putra seperti itu.

    Tapi, untuk RI1, saat ini saya pribadi masih menunggu tokoh lain yang saya yakini akan mampu memberikan lebih dari apa yang telah Anda berikan pada tanah air tercinta ini.

    Salam satu bangsa!
    [@Hamba Allah; ma'af...meskipun tidak tahu 'asal-usul mengenai masalah salam', bolehkan saya memberi salam di sini...??! :) ]

    Saya menerima baik salam anda. Terima kasih (YIM)

  61. Iqbal (komentar #61)

    Saya sebenarnya pusing baca comment Ariedi. Entah dia gandrung mistik atau kebatinan yang pasti saya lihat orang ini tidak usah di ladeni, sebenarnya saya sangat terganggu, saat asyik2 baca tulisan yang sangat berbobot…ehh…ditengah-tengah ada tulisan Ariedi yang ngawur. Bagusnya comment kaya gitu di Hidden saja.

    Salut buat Bang YIM, yang sabar nanggepin orang kaya gini.

  62. Ashar (komentar #62)

    Bismillahirrohmanirrohiim,
    Bang YIM, saya salut atas cara anda menanggapi Mas Ariedi, saya sebagai pembaca yang tidak memahami istilah-istilah yang digunakannya, setelah mencoba membaca secara seksama dan diulang-ulang dua tulisannya, maksud da