Bismillah ar-Rahman ar-Rahim

Lambang Partai Bulan Bintang
PBB telah memastikan diri maju ke Pemilihan Umum 2009 dengan Nomor Urut 27. Melalui Blog ini saya menyerukan kepada segenap Keluarga Besar Bulan Bintang untuk bersiap-siap maju ke pemilihan. Hanya satu kata yang harus kita pegang: Maju! Kepada segenap jajaran pengurus PBB dari pusat sampai ke daerah-daerah, saya serukan untuk segera bergerak melakukan sosialisasi tanda gambar, program dan memperkenalkan calon-calon legislatif PBB di semua tingkatan. Waktu tak banyak lagi untuk termenung dan berpangku tangan. Waktu tak banyak lagi untuk berdebat ke dalam, karena kita harus tampil keluar dengan satu sikap: Maju!
PBB harus menyadari kesalahan masa lalu: Partai ini belum merakyat. PBB masih dianggap partai elit intelektual berbasis perkotaan. Padahal bagian terbesar rakyat kita ada di kampung-kampung dan desa-desa. Rakyat harus diyakinkan bahwa PBB mempunyai cita-cita mulia memajukan bangsa dan negara, serta rakyat kita seluruhnya. Tunjukkan kepedulian dan perhatian yang besar dari partai ini kepada rakyat miskin di kampung-kampung. Bukan saja kampung-kampung terpencil, tetapi juga kampung-kampung yang ada di tengah kota-kota besar. Perbaikan kampung, dalam arti penataan lingkungan, penyediaan fasiltas umum, dan lapangan kerja bagi mereka yang tinggal di kampung menjadi pusat perhatian kita. PBB ingin rakyat sejahtera, adil dan makmur serta bebas dari rasa takut. PBB tidak ingin harga-harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan dan pendidikan mahal dan tak terjangkau oleh rakyat. PBB ingin menjalankan kebijakan energi nasional yang berpihak kepada rakyat, sehingga harga BBM dalam negeri tidak mengalami gonjang-ganjing karena fluktuasi harga minyak di pasaran internasional, akibat ulah para spekulan dan mafia minyak dunia.
PBB adalah Partai Islam dan sekaligus Partai Indonesia. Sebagai Partai Islam, PBB melandaskan perjuangannya pada ajaran-ajaran Islam yang berlaku universal dan bersifat “Rahmat Bagi Sekalian
Alam” sebagaimana dikatakan al-Qur’an. Universalisme ajaran Islam, terutama tentang asas keadilan, kejujuran, kebenaran, pemihakan kepada kaum yang lemah dan tertindas, penghormatan terhadap harkat dan martabat manusia apapun agama yang mereka peluk, adalah asas perjuangan PBB. Segenap warga PBB wajib menjunjung tinggi akhlak yang mulia, wajib menunjung tinggi norma-norma etik Islam yang universal. Politik adalah bagian dari dakwah untuk mengajak manusia ke arah kebajikan dan menolak kemungkaran. Tidak akan ada pihak yang dirugikan dengan prinsip-prinsip ini.
PBB memang memperjuangkan tegaknya syari’ah Islam dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara kita. Kita menjunjung tinggi kemajemukan masyarakat kita. Syari’ah Islam dalam arti peribadatan — seperti solat, puasa dan haji — dapat dilaksanakan umat Islam seluas-luasnya, tanpa sedikitpun kewenangan negara untuk mencampuri atau menghalanginya. Syari’ah Islam dalam kehidupan pribadi dan keluarga – seperti perkawinan dan kewarisan — dijamin untuk dilaksanakan bagi umat Islam, sebagaimana umat beragama lain juga tunduk kepada ketentuan-ketentuan agama mereka. Syari’ah dalam kehidupan yang lebih luas yang berkaitan dengan hukum publik, adalah sumber hukum yang universal, yang dapat ditransformasikan ke dalam hukum nasional atau peraturan di daerah-daerah. Kalau sudah selesai ditransformasikan, maka namanya bukan lagi syari’at Islam, melainkan hukum nasional Republik Indonesia atau Peraturan Daerah, atau peratiran lainnya yang merupakan hukum negara Republik Indonesia.
Bukan hanya syari’ah Islam sebagai sumber hukum yang kita transformasikan, asas-asas hukum Adat, Hukum Eks Kolonial Belanda yang telah diterima masyarakat, dan juga konvensi-konvensi internasional yang telah kita ratifikasi, semuanya adalah sumber hukum, di samping Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Asas dan cita-cita perjuangan PBB adalah sejalan dengan kemajemukan bangsa Indonesia. PBB menjunjung tinggi asas Bhinneka Tunggal Ika. Asas ini disahkan menjadi kata-kata yang diletakkan di dalam lambang negara Garuda Pancasila. Pengesahan itu dilakukan oleh Perdana Menteri Dr. Sukiman Wirjosandjojo di tahun 1952. Dr. Sukiman adalah Ketua Umum Pertama Partai Masyumi, Partai Islam yang memberi inspirasi kepada asas dan perjuangan PBB.
Dengan berasaskan Islam dan menimba inspirasi dan motivasi yang seluas-luasnya dari ajaran Islam yang universal itu, PBB berjuang untuk memajukan bangsa dan negara Republik Indonesia. PBB tidaklah “menjual” agama sebagaimana dituduhkan orang-orang sekuler-nasionalis, karena agama bukanlah barang dagangan yang dapat diperjual-belikan. Karena itulah, saya mengatakan bahwa PBB di samping sebuah Partai Islam, adalah juga Partai Indonesia. PBB akan terus berjuang membela tetap tegaknya Negara Kesatuan Republik Indonesia dan nama Republik Indonesia itu. PBB tidak berniat untuk mengubah nama negara kita menjadi Republik Islam Indonesia seperti sering dituduhkan kepada PBB. Namun PBB memperjuangkan ajaran Islam yang universal dapat menjiwai dan menyemangati kehidupan bangsa dan negara kita, dengan tetap menjunjung tinggi dan menghormati keberadaan pemeluk-pemeluk agama lainnya, sesuai dengan jaminan ajaran Islam tentang kemerdekaan memeluk agama dan menjalankannya, yang semuanya adalah sejalan dengan ketentuan-ketentuan di dalam Undang-Undang Dasar 1945. PBB dengan tegas menolak sekularisme, yang bercita-cita ingin memisahkan urusan keagamaan dengan urusan kenegaraan. Namun PBB bukan hanya menginginkan Umat Islam menjadi maju, tetapi menginginkan agar semua umat beragama yang merupakan bagian dari rakyat dan bangsa Indonesia harus sama-sama mencapai kemajuan. PBB bukan hanya ingin agar umat Islam dapat dengan leluasa menjalankan ajaran agamanya, melainkan semua pemeluk agama dapat menjalankan ajaran agama mereka dengan leluasa, aman dan sentosa.
Besar atau kecilnya PBB akan ditentukan oleh Pemilihan Umum 2009, yang kampanye sosialisasi pesertanya dimulai pada pertengahan bulan Juli ini. Tunjukkan kepada rakyat bahwa PBB adalah partai Islam yang moderat dan memperjuangkan cita-citanya melalui saluran-saluran yang sah menurut hukum yang berlaku. PBB adalah partai yang menjauhkan diri dari cara-cara kekerasan, kebrutalan dan pemaksaan dalam berjuang. PBB menolak politik uang, dengan cara membeli suara rakyat, sehingga mereka kehilangan haknya untuk memilih sesuai keinginan hati nuraninya. PBB juga menolak cara-cara kampanye yang tidak sejalan dengan norma-norma etika. Kami menolak “black campaign” dan menganggapnya sebagai sesuatu yang tegas-tegas melanggar suruhan agama.
Kepada seluruh Keluarga Besar Bulan Bintang saya menyerukan: ajaklah tokoh-tokoh agama, para ulama, para ustadz/ustadzah, muballigh-muballighoh, tokoh-tokoh masyarakat, tokoh-tokoh adat, pemuda, mahasiswa dan pelajar dan seluruh lapisan masyarakat untuk mendukung PBB dalam Pemilu 2009. Lakukan sosialisasi partai sekarang juga! Jangan menunggu! Kita berpacu dengan waktu untuk meraih kemenangan. Tidak ada kemenangan tanpa perjuangan dan kerja keras! Allah Ta’ala tidak akan mengubah nasib sesuatu kaum, sebelum mereka berjuang keras untuk mengubah nasib dirinya sendiri. Karena itu, jangan biarkan PBB menjadi partai kecil, partai gurem yang tak ada artinya dalam kiprah perpolitikan nasional kita! PBB harus menjadi partai besar yang kuat, dan memberikan kontribusi yang besar bagi kemjauan masyarakat, bangsa dan negara!
Tidak ada pilihan lain bagi seluruh Keluarga Besar Bulan Bintang dalam menghadapi Pemilu 2009 kecuali:
HANYA ADA SATU KATA: MAJU!
Insya Allah, Tuhan akan memberkati perjuangan kita!
Hasbiyallahu wa ni’man wakil
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — July 10th, 2008
295 tanggapan untuk “HANYA ADA SATU KATA: MAJU!”
Pages: « 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9 10 » Show All
Gusti (komentar #61)
Bismillahirohmanirohim
MAJU…. MAJU…. Majulah
Tunjukan kekuatanmu yang sebenarnya Rakyat sudah terlalu lama terzolimi
BUKTI….BUKTI….BUKTIKANLAH
Anda (YIM) Mampu memberikan yang terbaik untuk bangsa ini
Kami Senantiasa Mendukung langkahmu……………………….
July 16th, 2008 at 5:13 pm
Donny (komentar #62)
Bismillah
Kita di pontianak hanya bisa memberikan dukungan apa adanya, toh meski dengan wilayah sebesar kalbar, kita tetap tak diperhitungkan disebabkan kuantitas jumlah pemilih (mungkin) yang nda seberapa jika dibandingkan dengan daerah lain terutama jawa dan sumatra.
Tapi Haqqul Yakin
Jaya Sempurna
Jika rakyat berjaya maka negara sempurna
untuk mencapai itu salah satu harapan kita tentunya dengan bangkit dan berjayanya partai bulan bintang dan kembalinya figur YIM sebagai Pandu didepan dengan kapasitas yang tidak lagi kami ragukan untuk maju 09.
minta jurus terjitu dan terdekat pencapaiannya juga dong, bagaimana menjayakan rakyat dalam kesehatan, pendidikan, lapangan pekerjaan dan jaminan hidup dalam berbangsa dan bernegara. dengan kejayaan rakyat seperti ini negara tentu SEMPURNA.
JAYA……………………………………………………….
SEMPURNA………………………………………………
AMIN
July 16th, 2008 at 9:40 pm
Syamsul Rakan Chaniago (komentar #63)
Sebenarnya PBB 2004 tidak seharusnya menjadi gurem jika semua kita sebagai kader jujur dan sadar bahwa partai yang kita masuki atau partai yang kita dirikan dan kita bina adalah partai ”gerakan” perjuangan, bukan partai tempat mengubah nasib dari ustads miskin menjadi kaya, dari buruh/pekerja menjadi kaya/berkemampuan, dari guru honor menjadi politisi berduit, dari demonstran tukang teriak, kritik, intrik menjadi pejabat/menteri. Jika jujur pada diri sendiri, pada teman, pada partai serta sadar siapa diri kita, siapa teman, apa tujuan partai kita, kita akan bisa besar, maju, dan berkembang.
Jika semua kader PBB membaca, menyimak, merenung blog YIM ini pastilah tumbuh kesadaran bahwa perjuangan membesarkan partai bukanlah pekerjaan yang ringan, akan tetapi bukan pula berat jika dikerjakan dengan penuh kejujuran, di ikuti dengan keikhlasan Insya Allah PBB mampu melampaui ET dan menjadi partai yang diperhitungkan.
Sebagai kader saya telah membuktikan mampu menaikkan populeritas partai sehingga mampu mengantarkan kader ke DPR RI, seharusnya jejak 2004 harus lebih dikembangkan dengan cara tingginya frekwensi pimpinan partai menyapa pengurus dibawahnya dan konstituen; sayangnya langkah ini tidak di ikuti oleh pimpinan partai. YIM waktu memimpin PBB menjabat Menteri, tapi setiap kedatangannya ke daerah ada spare waktu utk kader partai, paling tdk utk pengurus partai; YIM tidak banyak memberi uang pada pengurus partai, bahkan boleh di katakan tidak ada, tapi pengurus dan kader senang dan bangga serta terpacu semangatnya untuk bergerak kebawah.
MAJU ! dengan jujur dan sadar, sapa rakyat di depan pintu rumah dan gubuknya, ikuti rakyat ke ladang dan humanya, dendangkan rakyat di kampung, di negari, di huta, dan di desanya, ajak rakyat berjuang bersama PBB menuju kehidupan yang di ridhoi oleh ALLAH SWT.
July 16th, 2008 at 9:46 pm
PrimaryDrive (komentar #64)
Dengan statement spt ini, saya tidak melihat bagimana PBB bisa menjadi partai untuk orang non-muslim. Walaupun anda juga mengatakan:
Kedua statement diatas sangat terbuka terhadap berbagai macam interpretasi. Bottom line nya, anda dan saya, sebagai contoh yang mungkin dalam konteks ini representatif dari masyarakat kita, ternyata tidak bisa saling percaya. Saya tidak percaya bahwa anda dengan PBB anda akan konsisten melindungi saya dan non-muslim lainnya. Dan anda tidak percaya pada itikad saya untuk menghormati muslim sehingga anda harus mendirikan partai islam sendiri untuk menjaga eksistensi (nilai2) islam di Indonesia.
Saling ketidak percayaan ini sangat saya sesalkan, tetapi kelihatannya begitulah Indonesia pasca 2000. Ketika saya dulu belajar PMP disekolah, yang diajarkan adalah bahwa Indonesia adalah negara yang bersatu. Saya percaya. Tapi ternyata itu semua cuma teori saja….
Anyway, tentang statement anda yg lain:
Pemerintah sekarang juga sudah melakukan itu. Tapi energi merupakan masalah pelik. Bottom line nya, permintaan energi Indonesia meningkat pesat, sementara kemampuan kita untuk memproduksi energi sendiri tersendat. Saya tidak melihat bagaimana anda bisa melakukan kebijakan energi yg berpihak pada rakyat (kecil). Jumlah rakyat kecil kita luar biasa banyak; produktivitas mereka kecil, terutama karena pendidikan yg masih rendah. Total ekonomi Indonesia tidakmemiliki kapasistas untuk mensubsidi rakyat kecil nya. Yg pada saat ini realistis bisa dilakukan adalah memberikan pendidikan, dan menyiapkan transformasi ekonomi Indonesia ke level produksi yg lebih “pintar”. Ini tidak memberikan impact nyata sekarang, tapi mungkin untuk anak atau cucu2 kita. Pada saat ini, dengan krisis energi diambang pintu, kelihatannya rakyat harus berkorban lagi untuk masa depan anak/cucunya. Tugas anda lah sebagai pemimpin untuk menjaga bahwa pengorbanan ini tidak sia2. Akan sangat sulit tentunya kalau politik kita terpecah belah…
Anda bisa mengatakan bahwa PBB “tidak bisa menjadi partai bagi orang non Muslim”, ya tidak apa-apa. Kenyataannya sangat banyak orang Islam yang tidak mendukung PBB, tetapi ada pula orang non Muslim mendukung PBB. Bahwa anda adalah di antara orang yang tidak mendukung PBB, yang sah saja. Di Bangka Belitung, Riau, Manado, Bolaang Mongondow, Papua, Irjabar, Maluku, dan NTT tak sedikit jumlah non Muslim yang mendukung PBB, bahkan menjadi pengurus dan beberapa orang menjadi anggota DPRD ( 3 orang di DPRD Kabupaten Puncak Jaya dan 1 orang di Kabupaten Maluku Tenggara). Antara fakta dengan apa yang anda katakan, bisa berbeda jauh.
Soal syari’at Islam saya sudah pernah membuka debat denga anda, namun pemahaman anda tentang hal-hal terkait dengan hukum dalam penialaian saya sangatlah minim, walaupun ketika itu anda berdalih “menggunakan common sense” saja. Kita bisa berdebat filsafat yang panjang untuk menjelaskan apa arti “common sense”. Tanpa dasar-dasar keilmuan yang memadai, “common sense” belumlah berati apa-apa. Anda bahkan tidak memahamai apa arti “hukum positif”, suatu hal yang sangat elementer dalam ilmu hukum. Namun tidak apa, sekiranya anda ingin melanjutkan debat mengenai syar’at Islam dengan modal “common sense” itu, ya saya akan meneruskannya. Hanya saja saya khawatir, debat itu akan menjadi semacam “debat Kusir” karena anda tidak memiliki dasar-dasar pengetahuan yang mencukupi untuk memperdebatkannya. Tetapi kalau anda mau, saya siap melanjutkannya. Bahkan, bukan hanya debat di blog ini, debat terbuka di depan umum atau di layar televisi juga akan saya sambut dengan baik. (YIM)
July 17th, 2008 at 4:11 am
Andy S (komentar #65)
Assalamualaikum..
komentar #60)
tanggapan Abang..
‘Alaikum salam. Tidak ada cara berpakaian yang dapat memuaskan semua orang yang memandangnya. Itu saja masalahnya. Saya pakai jas dan dasi juga dikritik. Pakai baju batik juga dikatain. Pakai baju koko dan pakai kopiah dikatan orang tua. Pakai jeans dikatakan “terlalu casual” seperti pendapat anda. Saya pakai baju Melayu dikatakan kayak orang mau menari. Saya pakai baju putih lengan panjang, juga dikatakan meniru gaya Tony Blair. Saya pakai jubah dan sorban, dikatain lagi niru-niru orang Arab. Kalau saya pakai baju Cheng Ho dii luar film, anda juga mungkin akan tertawa melihatnya. Saya sendiri kadang-kadang bingung. Islam hanya menyuruh agar menutup aurat. Soal mode adalah masalah kontemporer belaka.
Bang……menurut saya jenis pakaian yang Abang sebutkan diatas semuanya oke -oke saja kecuali jubah & sorban…karena bukan pakaian yg biasa Abang pakai..apalagi pakai baju nya Cheng Ho..lebih lucu lagi donk…hehe
saya mau mengaitkan komentar Abang di atas dengan penampilan Abang di acara Debat TV One yang disiarkan secara keseluruh Indonesia…Abang pake celana blue jeans……yang menurut saya nih..terkesan terlalu santai…padahal acara itu seperti menjadi ajang penyampaian visi dan misi PBB ..sesuatu yang sangat prinsip sekali..
Masalahnya bukan pada jenis pakaian yang Abang pakai…tapi lebih pada pantas tidaknya pakaian itu dengan acara yang Abang hadiri…itu yang lebih baik menjadi pertimbangan Abang dalam memilih pakaian yang akan dikenakan..
ini cuma sekedar masukan dari seorang pendukung YIM..
He he he, lagi lagi soal “pantas dan tidak pantas” itu yang jadi masalah, karena ukurannya nggak jelas Boss! Cobalah lihat kepada isi perdebatan antara saya dengan Moeslim Abdurrachman di TV itu. Itu yang lebih pokok dan substansial, daripada pakaian yang saya kenakan. Kalau malam itu saya pakai jas dan dasi, toh akan ada juga yang mengkritiknya. Jadi, ya sudahlah Boss… (YIM)
July 17th, 2008 at 7:41 am
HAYAT ZAINUNI (komentar #66)
BANGSA YG BESAR ADALAH BANGSA YG MENGHORMATI PAHLAWANNYA
Para pendahulu dan pendiri bangsa yang pemikirannya tercurah pada kemajuan bangsa adalah PAHLAWAN, para penerus perjuangan pendahulu dan pendiri bangsa yang senantiasa terpanggil untuk memajukan dan mengangkat harkat dan martabat negeri ini juga adalah PAHLAWAN. Mereka hidup pada masanya masing-masing.
Sayang…..bangsa ini belum mampu memberikan apresiasi objektif kepada anak bangsa yang terbukti memberikan makna kepada negeri tercinta ini. SOEKARNO terjatuh karena saat itu telah dianggap menyalahi konstitusi dan bak panas setahun terhapus oleh hujan sehari…..SELURUH JERIH PAYAH PERJUANGANNYA SEOLAH PUNAH, SOEHARTO mengalami nasib yang sama digulingkan dengan alasan yang sama….NILAI-NILAI KEBAIKAN YANG MELEKAT PADA DIRINYA PUN TERHAPUS PUNAH, Habibie ……. juga digulingkan oleh Lembaga Tertinggi Negara karena kemauan elit yang punya kepentingan, hasrat dan syahwat politik tak terkendali dan…… PEMIKIRAN BELIAU TERHADAP KEMAJUAN TEKNOLOGI NEGERI INI PUN HILANG TAK TERSISA.
Giliran berikutnya GUSDUR yang diuntungkan oleh keadaan sehingga mampu menjadikan dirinya sebagai Presiden juga bernasib sama tergulingkan…….MESKI SAYA BELUM MAMPU MENARIK MANFAAT APA YANG BISA DIAMBIL DARI HIKMAH GUSDUR JADI PRESIDEN, TAPI SAYA BISA MERASAKAN ADANYA PERUBAHAN MESKI BERAKIBAT KEPADA KEBABLASAN TP INI HANYA MASALAH WAKTU UNTUK MENERJEMAHKANNYA.
Periode berikut MEGAWATI yang juga naik ke takhta Presiden oleh situasi yang menguntungkannya, MESKI TIDAK ADA MANFAAT YANG DAPAT DIRASAKAN SECARA SIGNIFIKAN DARI HASIL KEPEMIMPINAN BELIAU, tapi saya tetap menghormatinya karena whatever Ibu Mega adalah PRESIDEN RI yang harus kita hargai dan kita hormati meski terbukti ketika bertarung secara terbuka akhirnya Tewas juga.
Saat ini kepemimpinan berada di tangan SBY, jangan menutup mata ada hal-hal positif yang dihasilkan secara signifikan khususnya dalam hal pemberantasan korupsi, meski perekonomian rakyat terengah-engah. Periode ini memang berat, SIAPAPUN YANG MENJABAT PADA PERIODE INI ADALAH MERUPAKAN PERIODE SULIT……sebagai anak bangsa saya juga tidak puas sepanjang kepemimpinan SBY. Karena sekolah yang katanya gratis juga nyatanya BOHONG, Dunia pendidikan tidak jelas arahnya disamping mahal harganya, padahal melalui jalur ini Negeri yang gemahripah loh jinawi akan mampu terjaga dari tidur panjang ketertinggalannya.
Beginilah nasib negeri ini. Ketika saya berkunjung ke negeri luar sana menangis rasanya karena irihati terhadap kemajuan yang diraih oleh negeri orang itu, semuanya serba teratur, tertib dan sangat manusiawi. Selain aman dan udaranya bersih pemimpinnya pun rasanya berpihak kepada rakyatnya karena para jompo amat sangat dihargai dan diberi fasilitas yang sangat memadai.
Mari kita hormati Para Pendiri, Penerus Perjuangan, Guru-guru yang tulus di daerah terpencil sana, Olahragawan, Para juara olimpiade science, rokhaniawan dan PARA MANTAN PRESIDEN dengan jiwa yang besar sebagai anak bangsa yang katanya menjunjung tinggi sopan santun dan beradab ini. Dengan demikian diharapkan INDONESIA kembali mampu menjadi MACAN ASIA karena dalam HIDUPNYA SELALU BERBUAT kebaikan dan semua ini akan mampu diraih secara gotong royong karena BERSAMA KITA BISA tanpa melupakan HATI NURANI RAKYAT Menuju Syariat yang mampu memberi manfaat bagi seluruh umat! AMIEN
July 17th, 2008 at 7:48 am
Andy S (komentar #67)
He he he, lagi lagi soal “pantas dan tidak pantas” itu yang jadi masalah, karena ukurannya nggak jelas Boss! Cobalah lihat kepada isi perdebatan antara saya dengan Moeslim Abdurrachman di TV itu. Itu yang lebih pokok dan substansial, daripada pakaian yang saya kenakan. Kalau malam itu saya pakai jas dan dasi, toh akan ada juga yang mengkritiknya. Jadi, ya sudahlah Boss… (YIM)…
terima kasih atas tanggapan Abang terhadap komentar saya (komentar #65)…
Bang …kalau untuk isi perdebatan antara Abang dengan Moeslim Abdurrachman bahwa itu yang lebih pokok dan substansial…saya setuju banget Bang…tapi jangan salah Bang…yang mendengar uraian Abang itu belum tentu semuanya paham …mungkin mereka cuma bisa menilai dari penampilan Abang saja.
Mengutip uraian Abang bahwa PBB harus menyadari kesalahan masa lalu: Partai ini belum merakyat. PBB masih dianggap partai elit intelektual berbasis perkotaan. Padahal bagian terbesar rakyat kita ada di kampung-kampung dan desa-desa.
Bang, mudah-mudahan rakyat di kampung-kampung dan desa-desa termasuk orang-orang yang bisa memilah mana yang lebih pokok dan substansial daripada sekedar soal “pantas dan tidak pantas”, Amin.
July 17th, 2008 at 12:25 pm
Munadi Anwar (komentar #68)
Ass………..
bang Yusril kita juga sebagai simpatisan Bulan Bintang Ingin mensukseskan untuk Kemenangan PP dan Abang sebagai Presiden, ada hal kecil yang mengelitik dari kawan-kawan kami, sebagai pelajaran dari masa lampau…. banyak Ibu-Ibu yang bersimpati kepada Abang namun Melihat Keluarga Abang belum sesuai dengan apa yang dicita-citakan Bulan Bintang… salah satunya dalam cara berpakaian layaknya seorang Muslimah…..
saya pikir ini adalah hal yang samgat Prinsip Bagi Muslimah, dan saya berharap Supaya Istri Abang yang sekarang juga bisa menunjukan seorang Muslimah yang sesungguhnya…..
Insya Alloh dengan seperti itu Minimal Keluarga saya akan lebih yakin meilih Partainya Abang ….. Karena Akhlakul Karimah Seorang pemimpin Muslim dan Keluarganya menjadi Prioritas bagi kami dalam memilih seorang Pemimpin…
Wassalam…. Bulan bintang Tetap yang terbaik………..
July 17th, 2008 at 2:57 pm
PrimaryDrive (komentar #69)
Bisa saja; tapi ini bukan inti dari isu yg saya angkat. Isu saya adalah: kenapa kita harus membentuk partai berdasarkan agama? Anda lebih kurang menunjuk pada argumentasi “hukum”, bahwa ini sah2 saja. Tapi anda adalah pemimpin! Anda tidak melakukan sesuatu hanya karena sah; pemimpin juga harus menimbang apakah langkah2nya bijak.
Waktu itu kita membicarakan ini dalam konteks ilmu hukum; itu domain anda, dan expertise anda. Anda waktu itu belum membawa PBB dalam konteks. Sekarang kita membicarakan aspirasi politik anda. Tepatnya ini menyangkut presepsi PBB ttg bagaimana PBB ingin memimpin Indonesia. Ini domain kita bersama, krn ini juga menyangkut masa depan saya dan anak/cucu saya, serta warga2 lain yg sependapat dengan saya. Dan anda menujuk pada saya bahwa seorang warga harus menjadi sarjana hukum dulu untuk bisa mengerti presepsi politis PBB??? Apakah ini tidak sedikit arogan?
Lalu bagaimana anda sendiri menjelaskan interpretasi teknis-hukum anda ttg syariat islam pada pendukung anda sendiri?
Haha televisi tidak mungkin. Jadi sayangnya harus tetap off line lewat blog.
Terima kasih atas kategorisasi anda bahwa saya unqualified. Saya ingin mengingatkan bahwa expertise anda hanya dibidang hukum. Anda juga membuat statement ttg BBM, sementara anda sendiri bukan expert dalam bidang energi. Anda tidak bisa memecahkan semua isu dan masalah negara ini hanya dengan modal kitab hukum. Kita harus bisa membicarakan semua isu yg ada dengan basis pengetahuan dan pengalaman masing2, dan itikad baik. So … debat kusir? Why not? Mungkin kita masih bisa belajar satu sama lain lewat debat kusir. Sah2 saja kan? ;)
July 17th, 2008 at 3:59 pm
Bonar (komentar #70)
@PrimaryDrive
Maaf pak, sedikit menyela. Menurut pendapat Anda, masalah energi dan ekonomi itu, apakah tidak cukup 1 generasi/1 pemilu untuk menyelesaikannya?
July 17th, 2008 at 4:05 pm
Agus Nizami (komentar #71)
Apa salahnya membentuk partai berdasarkan agama?
Di Eropa, Afrika, dan Australia saja banyak orang membentuk Partai Kristen. Coba anda ketik kata kunci dengan Christian Democratic Party di google.com
Coba anda klik link ini:
http://en.wikipedia.org/wiki/Christian_Democratic_Party
Tak jarang partai berbasis agama tersebut menang dan berkuasa.
Sila Pertama dari Pancasila juga “Ketuhanan Yang Maha Esa”
Yang penting ajaran agama itu diamalkan secara benar dan konsisten.
Pada Negara Islam, tidak ada paksaan dalam beragama. Nah pengamalannya yang konsisten.
Kemudian faktor2 produksi yang penting serta kekayaan alam dikelola negara. Ini sejalan dengan UUD 45.
Kemudian ada hukuman yang tegas seperti mati bagi pembunuh berdarah dingin dan pemerkosa. Ini boleh saja ketimbang Hukum Belanda yang diadopsi kemudian ternyata jadi sangat ringan seperti hukuman pemerkosa cuma 3 bulan penjara, dsb
July 17th, 2008 at 4:09 pm
PrimaryDrive (komentar #72)
No! Mulai sekarang dan seterusnya energi adalah isu penting. Energi sudah menjadi komoditi langka (permintaan melebihi suplai).
Energi adalah nafas dr ekonomi. Tanpa energi, tidak ada ekonomi. Bagaimana kita menggerakan pabrik2 kita, dan kendaraan2 kita tanpa energi?? Menjaga suplai energi sama pentingnya dengan menjaga suplai pangan. Tapi berbeda dengan pangan, yg hanya perlu tanah dan sedikit teknologi untuk mendapatkannya, energi membutuhkan teknologi tinggi dan investment besar untuk mendapatkannya, dua2nya pada saat ini kita tidak punya (atau hanya sedikit). Ini mungkin krn dulu minya kita berlimpah, sehingga ilusinya mungkin bahwa sumber energi kita tak berbatas. Akibatnya kita tidak pernah menyiapkan diri menyambut situasi sekarang ini. Sekarang: harga energi melejit tinggi, kapasistas kita untuk swasembada energi tersendat, dan permintaan energi kita melambung.
Ambil contoh pertumbuhan kebutuhan energi kita. Sumber2 memberikan angka berbeda, data biro statistik kalau tidak salah memberikan angka 7% pertahun. Baiknya ini tanda ekonomi kita bertumbuh. Tapi dengan kecepatan spt ini, dalam tempo 15 tahun kebutuhan energi kita adalah hampir 3x jumlah yg kita butuhkan sekarang!! Kalau sekarang saja anda sudah berteriak krn subsidi BBM hilang, bagaimana nanti anak2 anda memecahkan situasi mereka 15 tahun didapan?
(Sementara itu YIM bilang PBB ingin menerapkan policy BBM yg memihak rakyat … I just dont see how you can do that!?)
Mengingat resource kita untuk memecahkan kelangkaan energi ini sekarang sangat terbatas (dana sedikit, teknologi 0.0) berarti kita harus menyebar solusinya dalam jangka panjang. Jadi, 1 pemilu tidak cukup. Mungkin 30 tahun … dengan master plan yg baik.
July 17th, 2008 at 5:34 pm
edi.santosa (komentar #73)
PrimaryDrive saya mengenal anda hanya di blog ini. sudikah kiranya anda memberitahu saya kira-kira dimana lagi anda aktif? siapa tahu kalau anda menanyakan hal-hal yang seperti anda tanyakan pada YIM kepada tokoh2 PPP,PKS,PDS,Partai katolik dll yang sealiran, pengetahun saya bisa bertambah dengan membaca jawaban2 mereka.Atau anda baru menanyakan hal-hal yang anda tanyakan ini pada PAk YIM saja?
July 17th, 2008 at 5:50 pm
PrimaryDrive (komentar #74)
Problem saya geografis, yg tidak memungkinkan saya untuk fisik mendatangi forum diskusi misalnya di JKT. Dan setahu saya YIM adalah satu2nya politisi Indonesia yg aktif di blog. Makanya saya kadang2 berkunjung kesini. Cotoh YIM ini boleh diikuti pemimpin2 lainnya! Kita tidak harus setuju satu sama lain, tapi paling tidak kita bisa berdialog, dan mungkin belajar.
Kalau anda bersedia meneruskan pertanyaan yg sama ke partai2 lain, saya juga ingin tahu jawabannya :)
Saya kadang2 aktif di Indonesia Matters, tapi forum ini kurang baik krn bias negatif mereka thd islam (radikal). So, jangan pergi ke IM. Kalau anda tau forum yg baik saya dengan senang hati akan hijrah dr IM.
July 17th, 2008 at 6:29 pm
Anton Fathoni (komentar #75)
# 69 PrimaryDrive,
Sdr. Primarydrive bila anda tidak suka atau anti dgn syariat Islam menurut saya itu hak anda, tapi kalau anda dekat dengan agama (asumsi saya anda muslim ) anda pasti akan berteriak lantang tentang penegakkan syariat islam di Indonesia, saran saya (bila anda muslim) pelajarilah apa itu agama Islam dan hukum-hukumnya, barulah anda bisa berdebat tentang penegakkan syariat Islam.
July 17th, 2008 at 7:04 pm
PrimaryDrive (komentar #76)
Pertama saya bukan muslim. Ini menjelaskan kenapa saya khawatir dengan aspirasi anda, misalnya, untuk menegakan syariat islam di Indonesia. Dengan Indonesia yg seperti itu, dimana anda ingin menempatkan non-muslim spt saya?
Kedua, statement anda juga menyiratkan bahwa “dekat dengan islam” merupakan prekondisi bagi apresiasi thd syariat islam. Tapi non-moslim kan perdefinisi tidak dekat dengan islam. Untuk kami pesan anda adalah: “itu hak anda!”. So … anda sebetulnya tidak peduli!
(Well, YIM bukan kah ini bertolak belakang dengan klaim anda yg seolah menyiratkan bahwa syariat islam adalah framework yg universal dan majemuk? )
Posisi saya adalah sebagai berikut. Anda dan saya sama2 warga Indonesia. Kita ingin berkerja sama untuk membangun Indonesia untuk masa depan bersama. Tapi kita punya latar belakang agama dan mungkin etnis yg berbeda! Kita harus mengakui bahwa perbedaan itu ada. Tapi sekarang kita harus mencari “common ground” untuk tetap bisa kerja sama dengan konstruktif. Membasiskan common ground ini pada agama, spt aspirasi syariat islam anda, jelas hanya akan mempertajam perbedaan kita ketimbang mencarikan persamaan kita. Tidak konstruktif!
Kecuali kalau memang anda sudah mengambil posisi bahwa anda tidak terlalu perduli dengan eksistensi saya, dan tidak punya keinginan untuk bekerja sama dengan saya (non-muslim).
July 17th, 2008 at 7:52 pm
tri (komentar #77)
Allohu Akbar !!!!
Hanya ada satu kata: Maju !!!
Bila Imam, Ketua Majelis Syura telah Bertitah
Layar Telah Dikembangkan,
Genderang Perang pun Telah Ditabuh.
Setuju, Maju Mengajak Umat
Memilih Partai Bulan Bintang.
Sikap kami, satu saja
Sami’na wa atha’na,
Kami dengar dan kami patuh.
Dan, kami KERJAKAN.
Bismillah tawakalna ‘alaallah.
Pak Yusril di tunggu ke hadiranya di Tasikmalaya.
July 17th, 2008 at 10:38 pm
tri (komentar #78)
salam ukhuwah dari pengurus PBB kota tasikmalaya
July 17th, 2008 at 10:40 pm
saharudin siri (komentar #79)
Assalamu’alaikum Wr Wb
Pak Yusril, PBB merupakan Partai yang memiliki landasan pergerakan pada nilai nilai keislaman… teringat ketika bang syahril L Hasan menyampaikan kepada kader PBB di Kabupaten Nunukan Prop. Kaltim bahwa melalui politik kita berdakwah.
HANYA ADA SATU KATA : MAJU
Bang… bagaimana mungkin kita bisa maju dan melaju kalau kita hanya masih sering berbenturan pada konflik internal partai saling memperebutkan kedudukan dan kekuasaan, adakah saat ini orang yang benar-benar ikhlas berpolitik demi memperjuangkan dan membela hak-hak rakyat …. katanya PBB Partai Islam yang katanya RAHMATAN LIL ALAMIN….. ????
Bang Yusril adalah Tokoh sekaligus guru Bangsa yang sangat saya kagumi akan VIsi dan Cita - Cita nya kedepan… bang adakah semua janji - janji dan harapan kedepan abang mampu merealisasikan dan menjadikan nya nyata yang bukan hanya selogan pembasuh dahaga………
terkadang juga beberapa para tokoh dan sesepuh kita di PBB jarang sekali tampil bahwa aku bangga sebagai orang PBB…. kenapa ?
Bang Yusril… PBB di Nunukan adalah Partai terbesar ke II setelah Partai Golkar…. Bupati Nunukan H. Abdul Hafid Achmad adalah Ketua DPC PBB Kab. Nunukan adalah kader terbaik PBB yang memiliki Visi kedepan… Bagaimana dengan Abang2 di Pusat ?
by : Saharudin Siri
Kader DPC. PBB Kab. Nunukan Prop. Kalimantan Timur
July 17th, 2008 at 11:32 pm
Bmoer (komentar #80)
” Tunjukkan kepedulian dan perhatian yang besar dari partai ini kepada rakyat miskin di kampung-kampung. Bukan saja kampung-kampung terpencil, tetapi juga kampung-kampung yang ada di tengah kota-kota besar. Perbaikan kampung, dalam arti penataan lingkungan, penyediaan fasiltas umum, dan lapangan kerja bagi mereka yang tinggal di kampung menjadi pusat perhatian kita. PBB ingin rakyat sejahtera, adil dan makmur serta bebas dari rasa takut. PBB tidak ingin harga-harga kebutuhan pokok, biaya kesehatan dan pendidikan mahal dan tak terjangkau oleh rakyat. PBB ingin menjalankan kebijakan energi nasional yang berpihak kepada rakyat, sehingga harga BBM dalam negeri tidak mengalami gonjang-ganjing karena fluktuasi harga minyak di pasaran internasional, akibat ulah para spekulan dan mafia minyak dunia.”
Pak Yusril dan Partai Bulan Bintang, bapak pasti tahu, bahwa janji adalah hutang, apalagi kepada rakyat kecil, jika PBB memang berani berpegang pada janjinya….., terbitkan saja buku berisi janji-janji anda dan rencana untuk mewujudkannya pada rakyat indonesia…., jika di akhir masa pemerintahan nanti , katakan 40% saja dari janji-janji itu terwujudkan, maka jadi presiden selama 32 tahun juga mungkin pak…., kalau tidak terwujud kami bisa ber demo sambil membawa buku Bapak, paling tidak jika buku tersebut memang diterbitkan, Bapak sudah mendapat satu suara rakyat kecil….dari Saya….
Selamat berjuang pak. ( maaf kalau kata-kata saya menyinggung Bapak )
July 17th, 2008 at 11:42 pm
Bonar (komentar #81)
@PrimaryDrive:
Ok, saya tidak akan ikut campur pada diskusi Anda tentang syariah, saya punya pandangan sendiri yang lebih kompleks yang belum hendak saya share.
Tentang ekonomi dan energi, saya justru melihat masa depan yang lebih bleak dari Anda. Estimasi tahun 2002 menyebutkan 2012 cadangan minyak habis, sedangkan dari pertumbuhan ekonomi (yang paralel dengan pertumbuhan energi) mengindikasikan tahun 2010 habis. Bapak Jusuf Kalla optimis tahun 2012 akan kembali net producer, hanya dengan mengandalkan blok cepu dan natuna. JK harus segera get a grip to reality, Atau mungkin ia sedang ‘Cuma Bercanda’.
Dengan kondisi perencanaan yang seperti sekarang, siapapun yang jadi presiden besok mungkin akan menjadi Presiden yang paling dibenci sepanjang sejarah karena akan terpaksa menaikkan harga bensin ke 12.000/liter. Itupun dengan mengasumsikan ekonomi tidak tumbuh, harga minyak stagnan dibawah $200.
Tapi apakah perlu 30 tahun untuk mengembalikan swasembada energi? Hitungan saya tidak begitu.
Seperti Anda, saya juga agak liberalis dalam memahami ekonomi energi. Saya sepakat segalanya dapat dilihat dari kacamata sesederhana supply-demand, tentunya sepanjang ekonomi tidak diluted oleh spekulasi dan subsidi. Sebagai generasi muda neolib, tentu saja saya menolak desakan untuk menasionalisasikan Energy MNC. (Ya, rekan-rekan, saya neolib!)
Namun saya tidak sepakat bahwa perlu waktu lama untuk menjadi negara berdaulat dalam hal energi.
Kelemahan terbesar dalam kebijakan energi indonesia adalah kita memakai filosofi “berburu dan memetik buah-buahan” daripada “bercocok tanam dan berternak”.
Jelas-jelas memetik buah-buahan lebih primitif daripada bertani!
Ketika pemerintah bicara tentang “produksi minyak”, sebenarnya yang dimaksudkannya adalah “memetik” minyak dan “memakan” simpanan.
Sudah primitif begitu, disubsidi pula!
(sebagai catatan samping, berkaitan dengan perbincangan ekonomi Pak YIM sebelumnya. kebijakan subsidi nelayan, juga merupakan subsidi terhadap metode primitif, seandainya harus ada subsidi, budidaya ikan lah yang harus disubsidi)
Tentu saja “budidaya” minyak jauh lebih sustainable dan civilized daripada “memetik” minyak. Hal itu dapat dicapai dengan segera, hitungan saya dalam tempo 1 tahun real results dapat dicapai, seandainya pemimpin-pemimpin kita lebih inovatif sedikit. Sayang sekali saya tidak dapat berbicara lebih banyak tentang ini.
Sedangkan tentang energi listrik, hal ini dapat diselesaikan seandainya negara kita mau outsource riset nuklir ke negara lain. Metode teknologi nuklir kita sekarang hanya akan menambah kontroversi dan masalah yang tak ada habis-habisnya (Jika jepara tidak mau energi nuklir, JANGAN PERNAH berikan mereka energi nuklir).
Ada visi bush tentang energi nuklir yang saat ini sedang diwujudkan dalam project IRIS dan project SSTAR. Seandainya ada investment dari RI tentunya akan mengakselerasi perwujudan target project tersebut. Estimasi saya, 2010 merupakan proyeksi yang realistis untuk expecting results, toh risetnya sudah setengah jalan.
Project-project tersebut bertujuan menyediakan energi listrik dari nuklir selama 30 tahun, tanpa harus memusingkan soal limbah nuklir, maintenance atau bahkan teknologinya, dengan cost “hanya” 25 juta dollar per 100MWe.
Sebagai perbandingan, estimasi subsidi listrik dan minyak tahun ini yang hampir 30 milyar dollar itu akan setara dengan biaya untuk membeli 1200 SSTAR untuk memproduksi listrik sebesar 120ribu MWe, dengan ongkos produksi over time Rp 400/kwh, selama 30 tahun!!
OK, granted, hitung-hitungan diatas memang oversimplifikasi, tapi seandainya cuma 50% akurat pun, hasilnya masih berlipat-lipat dari kebutuhan total RI, dengan harga tetap 400 perak.
Bandingkan dengan ongkos produksi listrik sekarang, sebesar Rp 1300an++, dengan harga jual Rp 600++.
Jika memang kita tidak dapat berinovasi untuk memenuhi kebutuhan kita, kenapa tidak outsource penelitian kepada peneliti yang sudah lama berada dalam tradisi inovasi yang kuat?
Tidak ada dana, bukanlah merupakan alasan, sebenarnya. Kita semua tahu, toh dana yang ada cuma diputar di bank untuk mendapatkan bunga.
Estimasi akhir 2007 kemarin, cadangan devisa Indonesia akan mencapai 70 Milyar dollar di tahun 2008, atau naik sebesar 20 milyar dollar dari 2007. Dari sisi cadangan devisa, sebenarnya Pemerintah RI berada dalam titik terkaya, sepanjang masa.
Inti masalah dana adalah keinginan politik untuk mengalokasikan, kerelaan mengabaikan opportunity cost, serta kemauan berkompromi.
Jika masih tidak rela juga, masih banyak sumber pendanaan lain yang lebih inovatif.
Sebagai contoh, PLN membuang polusi sebesar 21 juta ton CO2 setiap tahunnya.
Berdasarkan protokol kyoto yang sudah dari tahun 1990an itu, seharusnya PLN dapat mengkapitalisasikan polusi tersebut sebesar 150-200 juta euro setiap tahunnya, hanya sekedar dengan cara menutup cerobong polusinya dan mengalihkan polusi ke tanah untuk membuat terra preta.
Dana itu cukup untuk membuat 3 pembangkit listrik batubara setiap tahunnya… atau 20-30 SSTAR.
Dari sejak liberalisasi perdagangan kredit karbon, kita telah kehilangan kesempatan pendapatan sebesar 10-60 trilyun rupiah, semata-mata karena bodoh, atau tidak tanggap, atau lebih parah lagi, tidak peduli.
Ada begitu banyak lagi inovasi-inovasi ide yang lain(yang begitu melelahkan jika harus diuraikan disini), kesempatan-kesempatan lain yang dapat dimanfaatkan dalam memenuhi kebutuhan energi, dan secara langsung mendorong pertumbuhan ekonomi.
…But instead, kita sibuk memuaskan mental terjajah kita, mental defeatist kita dengan mengatakan kita tidak sanggup, atau saling menyalahkan, atau terbuai dengan teori-teori konspirasi. (dont get me wrong, saya tidak menujukan ini pada anda, kalimat ini hanyalah gambaran umum bangsa ini)
July 18th, 2008 at 12:57 am
Bonar (komentar #82)
haduh, Pak Vavai, mohon bantuannya, menutup tag b setelah kata “mungkin”, maaf merepotkan.
July 18th, 2008 at 12:59 am
PrimaryDrive (komentar #83)
Bonar, saya rasa kita berdua cukup sepakat ttg urgensi dr isu energi ini.
Anda mengatakan cadangan kita 70 milyar USD kan. Well, th 2006 konsumsi listrik saja adalah 133.000 GWH (Giga watt hour). Data dr Depatemen Energi, dengan pertumbuhan 6.4 %. Ini berarti doubling time dalam 11 th. Jadi tahun 2017 kita akan butuh 266.000 GWh. Data saya mengatakan bahwa biaya murni per kwh adalah 4-6 USD/kwh (nuklir, batu bara, angin dll … kira2 costnya ada di kisaran ini) Ini berarti minimal 530 milyar dolar dalam 11 tahun kedepan! Gulp…. kalau buat yg 30 milyar saja sekarang sudah kembang kempis, gimana dengan 530 ini??
So, kalau anda memang tahu solusinya yg bisa Rp 400/kwh … YES! Indonesia selamat.
July 18th, 2008 at 3:21 am
PrimaryDrive (komentar #84)
Bonar, Google tidak bisa melacak IRIS atau SSTAR. Apa nama2 ini benar? Juga anda dapat 400Rp/KWh ini dr mana? Kalau maksud anda adalah reaktor fusi, ini memang sumbernya sustainable, tapi teknologinya masih fase prototipe. Plus estimasi harga per KWh nya kira2 sama dengan sumber2 yg ada sekarang. Tapi bedanya tentunya krn ini sustainable.
July 18th, 2008 at 6:19 am
Bonar (komentar #85)
cobalah wikipedia.org pak, atau kalau google, coba keyword “thorium sstar”
alternatif lainnya adalah paper-paper dan proceedings, yang entah sudah saya tumpuk dimana.
SSTAR = Small, Sealed, Transportable Autonomous Reactor
IRIS= International Reactor Innovative and Secure
Ini bukan fusi pak. Saya dulu peminat fusi, tapi sekarang sudah mati rasa. Dengan teknologi sekarang, fusi masih belum bisa sustainable dari sisi net energy, atau kalau net positive pun, cost over timenya masih jauh lebih besar dari operating income over time. Kalau Anda peminat fusi, saya sarankan membaca tentang sonoluminescence, itu punya potensi sebagai pembunuh teknologi fusi yang sekarang.
Angka 400/kwh itu dari cost generation tanpa operating costs, tepatnya sebenarnya 4cents/kwh in US dollar, itu untuk IRIS.
Estimasi biaya kedua reactor itu dengan mempertimbangkan beberapa hal:
1. Economics of scale
2. Carbon credit
3. Limbah sisa
Economics of scale itu karena (at least)SSTAR direncanakan dibuat massal, cost prototipenya 25juta dollar, commercial diperkirakan sekitar 21. Dengan metode massal dan kecil-kecil begitu, cost riset yang sekitar 500juta dollar, diharapkan bisa dibagi-bagi diantara ribuan reactor.
Sebagaimana umumnya riset-riset di Amerika, USGov meliberalisasikannya dengan membuat konsorsium. Kira-kira A la konsorsium waktu membuat pesawat tempur F-35 yang dibiayai banyak negara. Negara yang paling diuntungkan tentu saja negara investor terbesar.
Tentang Carbon credit, yah, tidak perlu lah saya panjang lebar menjelaskan lagi, saya kira anda lebih tau.
Tentang limbah sisa, karena filosofinya adalah sealed, kita tidak dapat mengutak atik limbah sisanya. Reactor beserta limbah-limbahnya kemudian dikembalikan ke US setelah 30 tahun, disana diproses ulang untuk diambil plutoniumnya, sebagai sumber energi mereka sendiri. Dengan demikian negara pembeli tidak melanggar NPT yang ditandatangani sendiri, tidak seperti iran.
Akibatnya, karena limbahnya sendiri bernilai lebih mahal, cost of ownership SSTAR/IRIS dapat ditekan, negara penjual untung besar, negara pembeli selamat dari krisis. Inilah yang saya sebut sebagai “kompromi”.
Saat ini Lawrence Livermore masih kekurangan dana untuk pushing research material mereka (karena praktis tidak ada lagi riset nuklir yang diperlukan). Dengan funding minimum dari USG, target mereka adalah 2015. Inilah yang dapat kita ubah, dengan menggunakan filosofi konsorsium F-35 diatas tadi.
Secara ironis, jika kita membayar mereka supaya mereka bisa merahasiakan teknologi mereka dari kita, justru kita yang diuntungkan.
Maka dari itu kita membutuhkan politisi yang jago negosiasi ke luar dalam, dan berani menanggung kontroversi.
July 18th, 2008 at 10:43 am
Agus Nizami (komentar #86)
Sebetulnya masalah energi/BBM bisa diselesaikan dalam 3-5 tahun saja. Tidak perlu berlama2.
Silahkan lihat di:
http://infoindonesia.wordpress.com/category/bbm
Bagi rakyat kita bisa pakai seperti kendaraan listrik seperti sepeda/mobil listrik yang biayanya hanya Rp 10-100/km. Kalau masih ragu rakyat bisa pakai mobil hibrida yang pemakaian bensinnya hanya 1:25 (seirit motor). Hanya pemerintah harus membebaskan bea masuk mobil hibrida/listrik agar murah. Saat ini justru rezim SBY membebaskan bea masuk mobil mewah 3000 cc yang boros bensin.
Bagi pemerintah bisa menggunakan renewable energy/energi terbarui seperti Pembangkit Listrik tenaga air, tenaga angin, matahari, panas bumi, dsb.
Biaya listrik dari energi tsb hanya US$ 2-12 cent/kwh atau Rp 186-1.116/kwh. Jadi biaya listrik kita memang belum efisien.
Silahkan baca:
http://infoindonesia.wordpress.com/2008/06/11/download-file-presentasi-solusi-hemat-bbm-listrik-dan-energi-terbarui/#more-120
Migas yang 90% dikelola asing harus dikelola negara sehingga hasilnya bisa dinikmati sebesar2nya untuk kemakmuran rakyat.
Ibaratnya kita pasang pompa air. Kita tidak mengerti cara membuat pompa air dan memasangnya. Kita bisa beli dan minta tukang memasangnya. Tapi setelah pompa itu jalan, tidak perlu kita meminta tukang pompa untuk menginap dan menjalankan pompa untuk memompa air. Kita bisa lakukan sendiri. Kalau ada masalah baru panggil tukang pompa tsb.
Nah minyak harusnya juga begitu. 95% karyawan perusahaan migas asing orang Indonesia. Sejak tahun 1964 Indonesia bisa mengelola sendiri PLTN Nuklir yang lebih canggih daripada pemompaan minyak yang merupakan industri kuno dari tahun 1859. Indonesia sudah bisa membuat pesawat sendiri dan mengemudikan pesawat terbang berikut seluruh sistem pendukungnya. Jaringan komputer juga begitu.
Nah di minyak kita bisa. AS tidak mau campur di nuklir, pesawat, atau komputer karena tak ada uang di situ. Tapi karena di migas ada penjualan ribuan trilyun rupiah/tahun, maka AS ngotot masuk ke sini termasuk merebut blok Migas Cepu dari Pertamina.
Indonesia harus bebas dari penjajahan AS. Indonesia jangan jadi sapi perahan AS terus menerus.
Mohon pak Yusril jangan pakai orang2 Neoliberalis sebagai menterinya.
July 18th, 2008 at 10:45 am
PrimaryDrive (komentar #87)
BIG thanks buat infonya Bonar!
July 18th, 2008 at 4:45 pm
Ray (komentar #88)
Alhamdulillah… akhirnya.
Insya Allah saya dukung pak :)
SEMANGATT!!!
July 18th, 2008 at 6:22 pm
Bonar (komentar #89)
@PrimaryDrive:
Don’t mention it.
Berarti saya kira kita cukup sepakat, bahwa masalah energi (dan dengan sendirinya ekonomi) bisa terselesaikan dalam tempo 1 periode khan?
Untuk lebih memperkuat argumen saya, saya akan memakai analisa data anda.
Data anda menyebutkan energi yang dibutuhkan adalah 266.000 GWH, kurang lebih setara dengan kapasitas listrik sebesar 30ribu MWe. 1200 SSTAR diatas akan menghasilkan 4 kali lipat lebih banyak. Dengan modal 1 tahun subsidi, rakyat cuma tinggal perlu membayari pegawai PLN (yang tidak efisien itu, namun ini soal lain lagi).
Kelebihan energinya dapat digunakan untuk membuat bensin atau hidrogen, atau terserah, ada berbagai alternatif jika telah tersedia energi sebanyak itu, bila perlu langsung ke transportasi listrik.
Akibatnya, dengan modal subsidi setahun saja, kita tidak perlu lagi menyumbang duit 2-10 milyar dollar setiap tahun ke kantong negara-negara arab dan malaysia. Dunia usaha bisa menikmati listrik dengan harga murah, ekonomi bisa jalan dengan pertumbuhan diatas 7 persenan.
1 Periode.
Karena urgensi masalah energi dan ekonomi ini, orang yang harus memikul beban keputusan itu harus sanggup menerima kritikan dan kontroversi yang pasti luarbiasa.
Jadi siapa? Megawati? nanti marah-marah lagi. Gusdur, pertama ia jelas-jelas tidak bisa memanage negara, kedua dia anti nuklir.
Alternatif yang saya lihat mampu, hanyalah 2 orang: either SBY atau YIM.
Atas dasar itulah, saya yang jelas-jelas berbeda secara ideologis dan agama dengan YIM, memilih untuk mengabaikan perbedaan ideologis ini untuk the greater good, dan mendukung pencalonannya.
July 18th, 2008 at 7:49 pm
khafidhin (komentar #90)
jadi pingin tau nih sama mas bonar, vavai, primarydrive.dan jabee. pemilirannya bagus!
kapan ……….. saya bisa saksikan beliau - bilau itu dalam satu acara di TV bersama bang YIM?
July 18th, 2008 at 8:35 pm
Pages: « 1 2 [3] 4 5 6 7 8 9 10 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda