Bismillah ar-Rahman ar-Rahim,

Tadi malam pukul 00.30, SCTV menyiarkan rekaman acara “Mencari Presiden Alternatif” (klik di sini bagi yang ingin menyaksikan rekaman acara tersebut) yang menampilkan saya dan Rizal Mallarangeng. Dihadirkan pula beberapa penanya, yakni Dr. Anies Baswedan, Ade Armando, Dr. Indra J Piliang dan seorang pengamat ekonomi, Poltak Hotradero. Bagi saya acara ini cukup menarik, karena dapat dijadikan sebagai wahana untuk mengemukakan pikiran dan gagasan, seputar pencalonan Presiden tahun 2009 nanti. Sayang acara ini ditayangkan lewat pukul 12 malam WIB, sehingga banyak pemirsa yang malas menonton televisi selarut itu. Apalagi para pemirsa di kawasan Indonesia Bagian Tengah dan Timur, acara ini sudah menjelang subuh baru ditayangkan. Pemirsa di sana mungkin sudah lelah dan tidur lelap. Dalam tulisan ini, saya ingin mengemukakan secara ringkas substansi dialog tersebut, terutama jawaban saya atas pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh pemandu acara maupun para pengamat politik dan ekonomi yang dihadirkan dalam acara itu.
Pertanyaan pertama yang diajukan kepada saya dan Rizal ialah, apa yang mendorong kami berdua untuk maju ke pencalonan Presiden 2009. Saya menjawab bahwa saya maju karena panggilan hati nurani saya sendiri untuk ikut memberikan sumbangan yang besar bagi kemajuan bangsa dan negara. Saya sudah pernah maju ke pencalonan Presiden dan telah disahkan oleh Ketua MPR Amien Rais tahun 1999. Namun karena desakan berbagai pihak, dengan alasan saya masih terlalu muda dan belum berpengalaman, maka saya mundur pada menit-menit terakhir menjelang pemilihan. Hampir sepuluh tahun telah berlalu, saya tidak terlalu muda lagi namun juga belum tergolong tua, maka secara emosional saya merasa telah mencapai kematangan dalam berpikir, berisikap dan bertindak. Selama sepuluh tahun terakhir, saya juga telah menimba pengetahuan dan pengalaman dalam penyelenggaraan pemerintahan dan ikut memecahkan persoalan-persoalan rumit yang dihadapi bangsa dan negara kita. Saya merasa pengalaman itu sudah cukup, dan tiba saatnya bagi saya untuk maju ke pencalonan Presiden 2009.
Seorang pengamat ekonomi yang hadir dalam kesempatan di atas menanyakan apakah pemerintahan yang saya bentuk berukuran besar atau kecil. Saya menjawab, bukan besar kecilnya pemerintahan yang menjadi masalah, melainkan apakah pemerintahan itu akan berjalan efektif atau tidak. Saya berpendapat bahwa pemerintah yang baik, adalah pemerintah yang sesedikit mungkin memerintah. Artinya, Pemerintah bertindak sebagai regulatur dan fasilitator dan memberikan pelayanan serta perlindungan kepada rakyat, dengan memberikan ruang gerak yang leluasa bagi warganegara dan penduduk untuk melakukan aktivitas sosial dan ekonomi mereka. Terhadap saran agar dilakukan rasionalisasi pegawai, saya menegaskan bahwa Pemerintah sekarang telah menerapkan kebijakan zero growth bagi pegawai negeri. Rasionalisasi harus dilakukan jika benar-benar perlu dan hati-hati untuk mencegah terjadinya gejolak. Namun segala sesuatunya dapat diputuskan berdasarkan kajian akademik yang mendalam, misalnya berapa banyak polisi yang kita butuhkan, begitu juga tenaga guru dan tenaga pelayanan medis, sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pelayanan berjalan efektif dan sesuai kebutuhan.
Saya sepenuhnya menyadari bahwa Pemerintah secara definitif dapat berganti setiap Pemilihan Umum, sesuai mandat rakyat yang diberikan kepada mereka. Pemerintah memang ditopang oleh birokrasi, yang tentunya bekerja berdasarkan jenjang karier, dan tak mudah diganti begitu saja sampai mereka pensiun. Walaupun pemerintah berganti, namun birokrasi tetap birokrasi yang lama. Problema seperti ini tidaklah spesifik Indonesia, tetapi fenomena yang terjadi pada hampir semua negara di dunia ini. Sebab itu saya ingin meneruskan kebijakan yang saya gagas sejak lama, dan sebagiannya telah dilaksanakan sejak zaman reformasi, yakni birokrasi yang bekerja secara profesional, non politis dan bertindak sebagai abdi negara dan masyarakat. Pemerintah yang terdiri dari para pejabat politik, harus mampu memberikan arahan yang jelas kepada para birokrat untuk melaksanakan kebijakan yang diambil Pemerintah. Saya kembali lagi ke teori lama saya, bahwa yang mutlak diperlukan adalah membangun sistem sambil membenahi kualitas sumberdaya manusia. Pemerintah harus mempercepat pelaksanaan program e-government agar pelayanan publik berjalan lebih cepat, sistematis dan efisien.
Kepada saya dan Rizal juga ditanyakan kabinet seperti apa yang akan saya bentuk. Rizal menekankan kabinet yang benar-benar terdiri dari para ahli dan profesional di bidangnya. Saya sependapat dengan beliau, walau saya juga mempertimbangkan dengan sungguh-sungguh sifat ke-Bhinnekaan bangsa kita. Dalam merekrut anggota kabinet, di samping faktor keahlian dan profesionalisme, saya harus sungguh-sungguh mempertimbangkan komposisi masyarakat kita. Sebab itu, faktor agama, suku, geografis penduduk akan menjadi bahan pertimbangan yang sangat penting. Saya mengambil contoh, bahwa orang Minangkabau, Aceh, Papua misalnya, harus ada di kabinet, karena hal itu akan memberikan rasa tenteram, kebanggaan dan keterwakilan bagi masyarakat yang bersangkutan. Ini penting untuk memperkukuh kesatuan dan persatuan bangsa. Faktor agama dan gender harus pula menjadi pertimbangan. Dalam kabinet, harus terdapat menteri-menteri yang beragama Islam, Kristen, Katolik serta Hindu, Buddha atau Kong Hu Cu.
Hal yang sudah berulangkali ditanyakan kepada saya, berkaitan dengan hubungan antara Pemerintah dengan DPR, kembali saya jelaskan bahwa sistem yang kita anut adalah Presidensial. DPR tidak dapat memberhentikan Presiden, dan Presiden tidak dapat membubarkan DPR. Keduanya dipilih langsung oleh rakyat, dan karenanya kedua-duanya mendapat legitimasi politik yang sama. Bahwa ada kemungkinan saya terpilih sebagai Presiden, sementara anggota DPR tidaklah dalam posisi mayritas mendukung saya, saya menganggap hal itu adalah praktek yang sesuai sistem yang kita bangun. Presiden harus mampu meyakinkan DPR dengan argumentasi dan diplomasi. Saya mencontohkan pengalaman saya bertindak mewakili Presiden dalam berhadapan dengan DPR. Selama dua kali menjadi Menteri Kehakiman dan HAM dengan dua Presiden yang berbeda, saya telah membahas lebih dari 400 Rancangan Undang-Undang dengan DPR, yang kadang-kadang harus berdebat panjang untuk beradu argumentasi dan melakukan lobby. Pada akhirnya tidak ada satu masalahpun yang tak dapat diselesaikan. Ketika telah menjadi Mensesnegpun saya lagi-lagi harus mewakili Presiden membahas RUU yang rumit, seperti RUU tentang Pemerintahan Aceh sesudah Kesepakatan Helsinki dan RUU tentang Dewan Penasehat Presiden dan RUU tentang Kementerian Negara. Ada puluhan kali rapat kerja dan konslutasi dengan DPR yang saya hadiri, termasuk pula ketika saya harus mewakili Presiden SBY menjawab interplasi DPR tentang busung lapar.
Saya berpendapat bahwa Presiden tidaklah perlu panik menghadapi kritik para anggota DPR, karena lembaga itu mempunyai hak untuk mengawasi jalannya penyelenggaraan pemerintahan. Sekali lagi saya tegaskan bahwa dikotomi antara “partai pemerintah” dengan “partai oposisi” seperti di negara-negara lain tidaklah dapat diterapkan untuk memahami praktik politik di negara kita. Ada kalanya suatu partai mempunyai kursi di kabinet, tetapi di DPR mereka bersikap seperti oposisi dan sebaliknya. Saya berkeyakinan bahwa para anggota DPR adalah politisi yang sama-sama mempunyai rasa tanggung-jawab untuk memajukan bangsa dan negara. Karena itu, jika kita mampu meyakinkan sesuatu kepada mereka secara argumentatif, dan mampu menarik simpati mereka dengan cara mengetuk hati-nurani mereka, saya percaya, semua politisi di negara kita ingin akan menyadari bahwa ada suatu langkah bersama yang harus dilakukan untuk mengatasi suatu masalah. Sebab itu, saya katakan, bahwa jika saya terpilih menjadi Presiden, saya akan memberikan briefing kepada para menteri tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan DPR. Presiden SBY dan Wapres JK sebenarnya pernah meminta saya untuk memberikan briefing itu kepada semua anggota kabinet, yang juga akan dihadiri oleh Presiden dan Wakil Presiden. Namun sayang pelaksanaan acara itu tertunda-tunda karena kesibukan jadual Presiden, sehingga sampai saya keluar dari kabinet, acara itu tidak sempat diselenggarakan.
Kepada saya dan Rizal juga ditanyakan bagaimana caranya kami berdua melakukan komunikasi politik agar dapat dipahami rakyat, karena kami berdua dianggap elit dan berpendidikan tinggi yang bahasanya sangat akademik. Saya katakan bahwa jauh sebelum saya terlibat ke dalam kancah politik, saya menjadi ustadz yang terus saya laksanakan sampai sekarang. Saya belajar komunikasi politik, dan memahami bagaimana caranya menyampaikan pesan-pesan kepada rakyat dalam bahasa yang sederhana dan dapat dipahami. Bertahun-tahun saya bekerja menulis naskah pidato Presidendan untuk itu saya berguru kepada Dr. Moerdiono, yang mengatakan kepada saya bahwa kalau Presiden berpidato maka apa yang dia ucapkan harus dimengerti semua orang. Pidato Presiden itu, kata Moerdiono “sama tukang becak harus dapat dimengerti, namun oleh professor tidak ditertawakan”. Sayapun belajar dari pengalaman saya mengajar filsafat kepada mahasiswa non filsafat. Saya harus menerangkan pemikiran filsafat yang super jelimet itu ke dalam bahasa yang dapat dimengerti orang yang tak berlatar-belakang pendidikan filsafat. Belum lama ini, saya mencontohkan, saya menyampaikan ceramah di hadapan sekitar 500 orang warga masyarakat Desa Wabula, di ujung timur Pulau Buton, yang bagian terbesarnya adalah kaum nelayan dan petani. Satu setengah jam saya berceramah, tanpa membuat mereka beranjak dari tempat duduk, dan mendengarkan ceramah itu dengan tekun. Saya berkeyakinan, bahasa komunikasi saya dengan rakyat, Insya Allah, tidak akan sulit dimengerti oleh rakyat.
Saya ditanya juga mengenai pembangunan infrastruktur, terutama ruas jalan tol yang kini tersendat-sendat. Saya katakan, masalah utama pembangunan ruas jalan tol itu terletak pada sulitnya membebaskan tanah, walau sudah ada PP Nomor 36 Tahun 2005. Pemerintah harus menyiapkan sebuah undang-undang tentang penyediaan tanah untuk pembangunan sarana kepentingan umum, kepentingan bangsa dan negara. Masalah pembangunan jalan tol, bukan disebabkan faktor modal. Swasta banyak yang berminat dan bank-bank sedia menyalurkan kredit. Karena itu, yang diperlukan adalah ketegasan Pemerintah dalam mengambil keputusan dan melaksanakannya du lapangan dengan konsisten, sekalipun harus berhadapan dengan gugatan atau tuntutan hukum. Infrastruktur Summit sudah dua kali diselenggarakan oleh Pemerintah SBY, namun pelaksanaannya masih jauh dari apa yang kita harapkan. Ada faktor kelambatan mengambil keputusan –- suatu hal yang juga dikeluhkan oleh Wapres JK – dan tidak jelasnya arahan kepada pejabat birokrasi dan BUMN, sehingga program ini berjalan tersendat-sendat. Hal yang sama terjadi pada tenaga listrik, yang sekarang mulai dirasakan menghambat pelayanan publik dan pembangunan industri.
Saya kira itulah inti pembicaraan dalam Acara Mencari Presiden Alternatif. Saya mohon maaf, saya tidak mengemukakan jawaban Rizal Mallarengeng, yang menurut penilaian saya sangat bagus dalam memberikan tanggapan dan penjelasan. Saya khawatir salah menuliskan tanggapan dan jawaban beliau. Mungkin Rizal juga mempublikasikan pembicaraan malam itu, sehingga setiap orang dapat pula mengakses ke berbagai sumber informasi yang beliau miliki.
Semoga anda manfaatnya.
Wallahu ‘alam bissawwab.
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — July 31st, 2008
174 tanggapan untuk “ACARA “MENCARI PRESIDEN ALTERNATIF” DI SCTV”
Pages: « 1 2 [3] 4 5 6 » Show All
Hery Azwan (komentar #61)
Saya setuju dengan komentar #29 Mas Hendra di atas. Kalau pengurus PBB memang nggak bisa berhenti merokok, tolong jangan malah dengan bangganya memamerkan peralatan merokoknya di depan masyarakat lewat televisi. Apalagi harganya mahal sekali, setara dengan gaji UMR sebulan di Jakarta. Ini kan sudah melanggar asas kepantasan bagi rakyat kebanyakan yang semakin susah hidupnya. Kalau yang main bola sodok, saya belum pernah lihat tayangannya, tetapi memang boleh2 saja sih, asalkan tidak diekspose di televisi. Memang mubah, tapi bagi orang awam kesannya udah beda tuh….Ingat, sebagian besar rakyat Indonesia adalah kalangan bawah….
August 7th, 2008 at 7:22 pm
Ariedi (komentar #62)
Posted : SEKAPUR SIRIH - YET ANOTHER MOVIE - Kaisar Ceng Ho Or something – bahasa Filmis – INGARSO DALEM . Kedalaman Atur SULUK ( pembuka Jalan darah – arus visi ) Kedudukan Tanah air Pusaka dan Pengandaian ( SINOM ) Pride + bahasa bawah sadar Tanah Kepulauan Nusantara – yang selain Bermutan Tuah Niscaya ( ILAT MANDI ) Giang History sumpah Palapa – Pemuda : JUA Hukum RIMBA – Kelestarian Alam = MENU LONTONG BALAP WONOKROMO ( ( Salah satu menu tradisional Suroboyo ) ) In Lyric : PARENT PATROL – IMMIGRANT SONG - : JAAAA - VAAAAH ! We come from the land of the ice and snow ,
> from the midnight sun where the hot springs blow.
The hammer of the gods ( Tanah Kelahiran Dalang Ringgit Purwo )
Will drive our ships to new lands ,
To fight the horde, singing and crying ( Nine to five : Time kerja )
Valhalla , I am coming ! ( Tepat waktu = Hukum Kantor : THOR ! )
On we sweep with threshing oar,
Our only goal will be the western shore.
Gembalaaa – aaaaah !
We come from the land of the ice and snow,
> from the midnight sun where the hot springs blow.
How soft your fields so green,
Can whisper tales of gore,
Of how we calmed the tides of war.
We are your overlords.
On we sweep with threshing oar,
Our only goal will be the western shore.
So now youd better stop and rebuild all your ruins,
For peace and trust can win the day
Despite of all your losing . * Led – Zeppelin ZEUS Sumur Bathin 10281928 + C / A : Bukan maksudku berbagi Nasib ( apalagi kecerdasan OPO isme Sengkuni ARAB – Dewo ANUBIS Whatism Arabic !! ) Nasib adalah Kesunyian masing – Masing , Kupilih kau Bung YIM Dari yang BUAAANYAK Banget – tetapi dalam sebentar saja diri akan masuk more and more maning - SEPI Lagi TERJARING – bahasa kamus sendiri – Respek Mu !! Bung Yim – semata pada Visi BULU Ketiak mu sendiri – yang kalaulah di perhalus = Bulu perindu YIM : Dadhos Presiden RI 2009 – 2014 , maka mudah – mudahan Para Pemilik Suara – mayoritasnya seperti mental huruf # 56 + # 58 Okey banget untuk ukuran Era Global Warning – COCOK dan sehubung istilah mayoritas bagi keadaan Negri Dewasa Ini = Asap Kebakaran Hutan – pencemaran Lingkungan – Ya Memang = Menang BANYAK : THUL JAENAK JAE JATUL JAEJI ( Koes plus 70’an ) Kuntul Jare BANYAK – NDOGKE BAJUL - Bajay Bajuri = Nggak pakek Argometer seperti TAXI = Visi Jawi Bandrol kait Wingi – Melainkan = Kendaraan Politik itu Posisi TAWAR - TANCAP KAYUN
>> Pok Ozon >>
August 7th, 2008 at 8:01 pm
Firman Yusi (komentar #63)
Assalamu’alaikum
Sejak kuliah saya pengagum gagasan-gagasan Bang Yusril. Sekarang saya Sekretaris DPC PBB Tabalong, yang baru dikunjungi Bang Yusril. Jangan berhenti berjuang, bang. kami selalu bersama-sama mendukung abang menjadi RI 1, Indonesia masa depan adalah yang dinaungi panji Islam, dilindungi dan diberkahi Allah dengan pemimpin muda yang cerdas, Yusril Ihza Mahendra.
August 8th, 2008 at 11:55 am
swadexi (komentar #64)
Ini nih kalau mau nyari presiden alternatif.. kayak di artikel http://swadexi.blogspot.com/2008/08/calon-presiden-sebaiknya-bermain-game.html
August 8th, 2008 at 9:13 pm
Arisandi (komentar #65)
@Swadexi,
Iklan blog ya… Jangan nye-pam ah…
August 9th, 2008 at 1:11 am
Bonar (komentar #66)
@swadexi:
Kalau favorit saya “Democracy” untuk simulasi policy making.
sedangkan untuk simulasi dunia usaha, favorit saya “Capitalism II”, game yang satu ini benar-benar membuka mata saya tentang enterpreneurship, tanpanya saya pasti masih duduk-duduk jadi pengangguran.
Game “Cesar”, “Pharaoh”, “Emperor” dan sejenisnya itu menurut saya tipenya termasuk city planning, jadi mestinya disaranin ke walikota. Itupun tidak realistis dan terlalu eye candy, lebih realistis dan kompleks jika memakai SimCity. “Emperor” itu good for fun dan menghabiskan waktu luang, tapi kalau mau mikir, mungkin lebih cocok mencoba “SimCity”.
Tahun 2000-2002 dulu saya pernah punya mimpi untuk membuat sebuah sistem e-governing real-time berfilosofi ala “SimCity”, dengan menerapkan konsep ERP(Enterprise resource planning) city wide. Sayang sekali kekurangan orang yang satu visi.
Pernah saya tawarkan ke rekan yang kebetulan bupati, untuk membuat project percontohan, tapi tanggapannya adalah: “nanti kalau sistemnya sudah jalan, saya dapat apa?”, saya jadi malas.
Ide Anda menyarankan kalangan pemerintahan untuk bermain game menurut saya bagus, yang menjadi tantangan adalah bagaimana agar masalah-masalah dalam game tidak disconnect dari realita, dan menerapkan konsep yang telah dipelajari di dunia nyata.
Swadexi, saya tantang anda untuk menyelesaikan masalah hutang sembarang negara dalam tempo 1 periode di “Democracy”.
Ini gamenya:
http://www.popgamers.com/Democracy/775
August 9th, 2008 at 10:57 am
swadexi (komentar #67)
Wah Keren-keren.. Itu dia Mas Yang Saya Maksudkan.. berhubung Saya ga punya Game-Game yang seperti Mas Sarankan Diatas.. Jadi Saya hanya menuliskan Game yang saya anggap Cukup.. Mungkin Akan Saya Update Artikel Saya diatas dengan Yang Mas Sarankan.. Thanks Banget Mas Infonya…Iya deh Mas.. Mau saya Coba dulu game democrasinya..itupun Kalau gamenya bisa di download secara gratis….Pokoknya Thanks Banget Deh Mas
August 9th, 2008 at 5:10 pm
Nugroho Ardi Cahyono (komentar #68)
Presiden pake alternatif????? itu suatu bentuk peremehan didalam prioritas kalo dalam sepakbola adalah cadangan. saya tidak setuju bapak menjadi alternatif karena bapak bukan orang baru yang mencalon Presiden.
dan bapak punya kredibilitas. masyarakat butuh pemimpin baru bosan dengan yang itu2 saja. saya pribadi mendukung bapak menjadi 5 besar calon presiden. PBB didaerah punya masalah yaitu kurangnya sosialisasi dan kegiatan2 yang menyentuh masyarakat dan simpatisan mengharapkan itu, masih ada waktu untuk itu pak.
saya percaya PBB suatu saat akan menjadi partai besar dan harus di gerakan oleh kaum mudanya. karena saat ini orang2 didaerah hanya kenal bapak, MS Kaban, Nabalin, untuk itu perlu gerakan yang lebih mendasar. ini hanya masukan dari saya pak sebagai orang yang mendukung dari jauh saat ini. semoga bermanfaat dan salam buat semuanya simpatisan PBB. wassalam.
August 9th, 2008 at 5:11 pm
putri (komentar #69)
dari dulu sampai sekarang yusril yang pantas jadi presiden masih muda tampan pinter banget maju terus kita di daerah rela habis duit jual rumah hanya untuk PBB dan bang yusril
August 9th, 2008 at 7:21 pm
Mochammad Nor Ali (komentar #70)
Assalaamu`alaikum wr wb.
Bang Yusril menjelang peringatan 17 agustus 2008 ini , saya ingin mengingatkan bang Yusril bahwa kita umat Islam di Indonesia ini sudah 4 abad di jajah hukum Belanda, Umat Islam sebagai mayoritas tidak diberi kesempatan oleh pemerintah untuk dapat melaksanakan Agamanya secara kaffah, bahkan ketika anda diberi kesempatan oleh Allah jadi menteri , semestinya bisa memanfaatkan peluang ini untuk menyusun KUHP versi syariah , sehingga umat Islam mempunyai pilihan untuk dapat menyelesaikan perkara hukumnya sesuai syariat Islam.Tapi kesempatan ini sepertinya terbuang sia sia. Dalam paparan abang sebagai kandidat presiden saya tidak melihat perbedaan anda dengan calon presiden- presiden, atau bahkan calon bubernur gubernur atau bahkan calon wali kota atau bupati yang lain, berisi janji janji formalistis, tidakkah abang sadar kebobrokan di negara kita ini karena umat Islam tidak menggunakan syariah sebagai sandaran hukum yang seharusnya di tegakkan ?
seandainya di negara kita ini ada 2 KUHP yang jadi pilihan masyarakat yaitu KUHP syariah dan KUHP konvesional masyarkat akan dapat melihat mana yang lebih membawa manfaat bagi kita danmembawa perubahan bagi Indonesia
wassalam
August 9th, 2008 at 10:42 pm
Alternatif (komentar #71)
Makin banyak alternatif makin banyak pilihan,kalo alternatif lain gimana?http://iwanfals-for-president.co.cc
August 10th, 2008 at 7:18 pm
didiet (komentar #72)
Bismillahirrahmaanirrahiim
Partai bulan bintang sesuai hasil mukernas PBB bulan juli 2008 lalu, telah menegaskan untuk membawa Bang YIM sebagai calon presiden RI tahun 2009 apabila PBB memperoleh suara yang signifikan untuk mengusung calon presiden RI. Salah satu upaya yang harusnya dilakukan PBB melalui DPC-DPC adalah memasang spanduk foto bang YIM di setiap kantor DPC PBB dengan ukuran 1 x 3 meter. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan :
1. tidak semua masyarakat menonton acara TV yang menayangkan bang YIM seperti di SCTV dan Metro TV
2. efek psikologis bagi masyarakat yang setiap hari melewati kantor DPC adalah sangat besar selama beberapa bulan ke depan khususnya bagi masyarakat yang sering melakukan perjalanan antar kota melalui transportasi darat
3. masyarakat “kecil” terutama ibu ibu yang dari dulu memang menyukai kiprah bang YIM akan semakin tersanjung apabila melihat foto bang YIM terpampang di setiap DPC PBB.
4. sebagai tanda soliditas PBB di merata tempat di seluruh Indonesia, walau tidak semua orang dan DPC PBB menyukai kiprah bang YIM.
Demikian sedikit sumbang saran buat bang YIM. semoga bermanfaat. maaf bila kurang berkenan.
semoga Allah swt menunjukkan jalan yang mudah buat bang YIM menjadi presiden RI berikutnya. amien ya Allah
5.
August 11th, 2008 at 11:05 am
n. Jamil ghazali (komentar #73)
Wah mantap nih Bang YIM untuk maju ke capres yad ..
Pengalaman, kepiawaian, kepantasan, penampilan dll .. insyaAllah banyak yang akan menjadi simpatisan Bang YIM, walaupun tidak kepada PBB-nya, namun kpd figur Bang YIM sbg calon pemimpin masa depan Indonesia yang berpenduduk muslim terbesar di dunia.
Bang YIM, kalau mungkin tulisan berikut ttg kader PBB nih.. kan lagi anget2nya berita Menhut Kababan yang ketum PBB yang juga kader PBB .. sedikit banyak akan berperngaruh thdp perjalanan PBB kedepan terutama dalam PEMILU yad .. makasih bang ..
August 11th, 2008 at 7:20 pm
khafidhin (komentar #74)
@didiet.
siiiiiiiiiiiiiip.
pak YIM dan para pengurus PBB yang lain, saran mas didiet mungkin bisa dijadikan masukan untuk dipertimbangkan. kami yang tinggal di pedesaan banyak yang belum tau YIM itu siapa?.
August 12th, 2008 at 1:02 pm
Ario Praswandaru (komentar #75)
Salam….mitrausahakapal
“Laut kita….., Harta Karun Kita ”
(Kemitraan usaha kapal tangkap ikan No: 1 di Indonesia)
Mari kita bersama manfaatkan hasil laut bangsa Indonesia
dengan waralaba kapal tangkap ikan.
Kami membuka peluang kepada masyarakat untuk memiliki usaha kapal tangkap ikan.
Klik! http://www.mitrausahakapal.com
Konsultasi:
Ario Praswandaru (08123273163)
August 12th, 2008 at 5:04 pm
ibnu Hanafie (komentar #76)
YIM emang cerdas dan bisa menangani persoalan bangsa ini, aku dukung, semoga harapan terwujud !!!
August 12th, 2008 at 10:13 pm
Yapit (komentar #77)
Ass bang YIM,
Dari hari kehari tampaknya abang makin “matang” saja. Tidak tampak lagi YIM dulu yang bertypikal fighter, yang ada sekarang adalah sosok YIM yang sabar, perpengalaman dan (masih) cerdas dan kharismatik.
Tapi pencitraan YIM yang sekarang tampaknya harus diikuti pencitraan PBB sebagai partai yang sudah terlanjur identik dengan abang. Saya lihat banyak polah Anggota Legislatif yang agak jumawa (kalau kebetulan saya shalat di Mesjid Cut Mutia, ada beberapa abang2 PBB di DPR yang sering shalat disana)
Itu dulu saja bang … senang rasanya punya calon presiden Indonesia yang melek TI.
Yakin Usaha Sampai.
Wass.
August 13th, 2008 at 1:59 pm
adila sp (komentar #78)
ass w wb
OK banget bos jawaban, tanggapan, penampilan, dll deh pada acara padamu negeri tadi malem
:)
August 13th, 2008 at 4:58 pm
Hengky (komentar #79)
Bung Yusril, saya kirimkan penilaian dari Poltak, bagaimana menurut anda?
Menilai Calon Presiden Rizal, Yusril, Fajrul dan Ratna
Oleh: Poltak Hortadero
Lusa lalu, telepon selular saya berdering dan seorang teman mengajak
saya untuk menjadi panelis penilai calon presiden pada sebuah acara di
TV. Sejenak ragu, namun akhirnya saya iya kan.
Pukul 19.30 saya menuju stasiun TV tersebut, yang terletak kompleks
pertokoan Senayan City. Ada tawaran untuk makan malam, tapi saya sudah
keburu makan di rumah dan lebih sibuk mencari dan mencatat angka-angka
perekonomian nasional. Ternyata ada empat calon presiden yang hadir,
yaitu Yusril Ihza Mahendra, Rizal Mallarangeng, Fajrul Rahman, dan
Ratna Sarumpaet.
Sebagai panelis, saya mengambil bagian menilai dan menguji capres
terkait soal ekonomi bersama dengan Mas Ade (Komunikasi UI), Indra J.
Piliang (CSIS Politik), Anies Baswedan (Rektor Universitas
Paramadina). Berempat kami “menguji” para calon presiden.
Menguji wawasan ekonomi seorang calon presiden - menurut saya amat
penting. Dan atas hal itu saya merasa beruntung. Kenapa? Karena
ekonomi selalu menyangkut pilihan - dan dalam skala nasional - tidak
ada pilihan yang mudah. Semua pilihan ekonomi adalah sulit.
Semata-mata karena setiap pilihan memiliki konsekuensi biaya. Ada
ongkos yang harus ditanggung. Dan kesadaran akan biaya itu - yang
membedakan antara seorang calon presiden sungguhan dan mereka yang
main-main.
Pada pembukaan acara - dua pihak berdebat: Rizal Mallarangeng dan
Yusril Ihza Mahendra. Saya membuka dengan pertanyaan tentang pilihan
pemerintahan: Pemerintahan Besar (Big Government) versus Pemerintahan
Kecil (Small Government). Kedua capres memilih Small Government.
Tetapi ketika saya katakan bahwa pengeluaran rutin terbesar pemerintah
RI adalah membayari PNS (Pegawai Negeri Sipil) - Rizal Mallarangeng
sepertinya bisa membaca jebakan yang saya pasang, dan menyajikan
pendapat bersifat netral soal jumlah PNS dan performa kerja para PNS
(kalau bisa disebut bekerja…). Yusril terjebak. Ia mengatakan bahwa
mengurangi jumlah PNS tidak bisa secara dadakan — tetapi harus
berkala lewat program pensiun normal. Ini jelas kontradiktif dengan
dukungannya terhadap Small Government. Seberapa banyak sih jumlah PNS
dan pengeluaran pemerintah atas PNS - yang bisa berkurang semasa 5
tahun masa jabatan presiden?? Tentu tidak banyak.
Pada kesempatan berikutnya saya juga menekan calon presiden soal
infrastruktur Indonesia yang sedemikian payah kuantitas (dan
kualitasnya). Rizal dengan cepat menyambar pertanyaan saya dan
menekankan fakta yang ia miliki - serta apa yang menurutnya harus
dikerjakan. Sementara Yusril (kembali) terjebak pada masalah status
hukum pembebasan tanah… (padahal yang saya tekankan adalah SELURUH
proyek infrastruktur - bukan semata jalan tol…).
Anda tentu bisa paham skor seperti apa yang saya berikan antara Yusril
dan Rizal.
====
Sesi debat calon presiden antara Fajrul Rahman dan Ratna Sarumpaet
tidak menarik lagi. Keduanya terlalu mirip satu sama lain. Keduanya
terjebak pada keinginan untuk populer (at all cost). Mulai dari ngomog
anti-neolib, nasionalisasi Freeport, Exxon-Cepu, Natuna — sampai
dengan mengemplang utang luar negeri dengan alasan banyak utang haram.
Saya menyentil nafsu menasionalisasi itu dengan fakta bahwa
nasionalisasi sudah pernah dilakukan jaman Bung Karno - dan ternyata
semua perusahaan Belanda yang dinasionalisasi keadaannya tidak
bertambah bagus. Yang ada tambah jeblok. Perusahaan tersebut menjadi
sarang korupsi dan sumber dana politik kotor. Fajrul berkilah bahwa
korupsi adalah masalah terpisah - dan ia sangat yakin nasionalisasi
tidak jadi masalah asal kita bisa membersihkan korupsi… (lalu apakah
kompetensi manajemen tidak penting. Apa iya SDM BUMN kita lebih bagus
daripada SDM sektor swasta???)
Untuk soal penghapusan / penundaan utang luar negeri — saya menyindir
keduanya dengan mengatakan bahwa dengan mengemplang utang luar negeri
- itu sama saja dengan mencuri duit orang. Kita boleh saja kecurian,
tapi bukan berarti kita boleh mencuri. Masak presiden menyuruh
mencuri? Keduanya naik pitam karena saya sebut begitu. Ratna sempat
mengatakan bahwa Nigeria bisa dapat diskon utang besar. Mengapa kita
tidak?
Saya menimpali bahwa Nigeria memperoleh diskon utang karena negara itu
merundingkannya dalam kerangka Paris Club. Presiden Obassanjo
merelakan dua menterinya dipenjara karena terbukti korupsi — demi
menunjukkan keseriusan pemerintah Nigeria. Itu sebabnya Nigeria dapat
pemotongan utang.
Indonesia yang telah menyatakan keluar dari bantuan IMF jelas sudah
tidak bisa lagi masuk ke Paris Club - melainkan masuk ke London Club
(utang komersial). Meminta skema Paris Club, padahal sudah ada di
London Club - jelas hanya akan menjadi bahan tertawaan komunitas
finansial dunia. Toh Indonesia sendiri yang dulu berkeras keluar dari
skema bantuan IMF. Harus konsekuen dong…
Di sisi lain, utang luar negeri terbesar Indonesia adalah kepada
Jepang - dengan tingkat bunga yang sangat rendah dan tenor sangat
panjang. Mengemplang utang Jepang - sama dengan bunuh diri secara
ekonomi. Mengapa? Itu berarti menikam pihak yang telah sedemikian
longgar terhadap bunga. Sikap kurang ajar. Lagipula karena Jepang
adalah mitra dagang terbesar Indonesia dan sumber surplus dagang -
meminta Jepang memotong utang berkonsekuensi hancurnya hubungan dagang
kita.
“Usulan” Ratna Sarumpaet menunda utang - juga sama bodohnya. Apa iya
utang yang ditunda dapat membuat total utang kita menurun? Tentu
tidak. Setiap penundaan hanya berarti utang kita meningkat (dan toh
tetap harus dibayar).
Dengan porsi utang luar negeri terhadap PDB sebesar sekitar 36% –
posisi Indonesia jauh lebih baik daripada pemerintah Inggris dan
Amerika misalnya, yang posisi utangnya 60% terhadap PDB. Jepang saja
tingkat utangnya 120% PDB.
Tingginya tingkat pertumbuhan PDB menjadi alasan bahwa utang bersifat
relatif. Sejauh PDB kita bisa tumbuh lebih cepat daripada utang kita
– maka ekonomi kita makin sehat dan kuat. Cara paling jitu untuk
mengendalikan utang adalah dengan cara bertumbuh secepat-cepatnya.
Untuk apa mengurangi utang kalau ternyata malah membuat ekonomi tidak
tumbuh, atau malah ambrol?
Utang itu membeli waktu. Membeli kesempatan. Ini penting bagi negara
dengan penduduk muda seperti Indonesia.
====
Sangat jelas bahwa pameo “It’s the economy, stupid” yang dulu
dicanangkan dan mendorong kemenangan Bill Clinton di Amerika -
ternyata juga bisa menjadi tolok ukur dana menilai para calon presiden
Indonesia.
Top Job sebagai Presiden RI - mensyaratkan kemampuan mengambil
pilihan-pilihan sulit dan membayar harga atas setiap pilihan. Tidak
semua pihak bisa puas, tetapi pilihan memang harus diambil.
Pilihan.
Itulah ekonomi sesungguhnya…
Bah, bisa aja Bos Poltak itu. Saya nggak mengatakan saya menghendaki small government. Saya mengatakan bukan besar kecilnya yang penting, tetapi apakah birokrasi pemerintah itu efektif atau tidak. Besar atau kecilnya relatif tergantung kepada sebepara besar jumlah penduduk yang harus dilayani dan seberapa pula teknologi yang kita gunakan dalam memberi pelayanan. Saya mengatakan kita dapat menghitung secara pasti misalnya berapa besar jumlah guru dan polisi yang ideal yang kita butuhkan dengan mempertimbangkan jumlah penduduk.
Soal pembangunan infrastruktur, dengan contoh pembangunan jalan tol, jawaban saya masalah utamanya sering terbentur pada pengadaan tanah. Pemerintah dapat membuka tender kepada pihak swasta dalam dan luar negeri dalam pembangunan jalan tol. Soal pengadaan tanah dan sengketa dengan warga yang tidak ingin lahannya digusur, terjadi dalam banyak praktek pembangunan jalan tol di tanah air. Investor harus mendapat jaminan bahwa penyelesaian sengketa soal tanah diselesaikan oleh Pemerintah.
Saya tidak paham apa maksudnya saya dikatakan terjebak oleh Boss Poltak. Pertanyaan Boss Poltak tidaklah spesifik pertanyaan dari sudut ekonomi, meskipun beliau disebut oleh presenter sebagai pengamat ekonomi. (YIM)
August 14th, 2008 at 10:49 am
Leil Fataya (komentar #80)
Assalammualaikum yth bang Yusril,
berkali-kali saya menyaksikan dan menanti penampilan anda di tv tdk hentinya akan bosan. Sepertinya anda ini born to be a leader, jadi charisma anda ini memang sudah dari gennya, dari sononya. Saya terkesima akan anda dengan lugas menjawab problema yang diajukan pada anda tanpa terjebak dalam labirin diplomasi. Anda ini benar-benar menghargai waktu pemirsa, seolah mafhum bahwa kaum muda dan tentunya semua generasi umumnya, jenuh akan diplomasi unggah-ungguh, kelamaan prolog tanpa tahu inti jawabannya dimana. To the point adalah substansi dari gaya bicara anda tanpa menanggalkan kecerdasan anda dalam bidang tata negara. Saat ini saya sedang mengenyam pendidikan di fak. hukum. Dosen saya adalah pak profesor Ramly Hutabarat. Senang sekali berdiskusi masalah ketatanegaraan khususnya, hukum pada umumnya, senang sekali di Indonesia ini mempunyai kandidat capres independen yang cemerlang seperi bang Yusril.
Salam hormat,
Leil
August 15th, 2008 at 11:18 pm
Sutan Rajo Endah (komentar #81)
Bang YIM,
Beberapa kali saya menyaksikan diskusi abang di media televisi serta membaca tulisan-tulisan abang, tapi yang sangat mengena sekali ketika melihat tayangan di acara Kick Andi….
Begini..dalam minggu ini anak saya kelas 5 SD sedang belajar di sekolahnya tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Ketika mereka mengerjakan PR nya mereka berulang-ulang membaca sejarah tentang kerajaan -kerajaan di Indonesia termasuklah Sriwijaya, Majapahit. Mereka ternyata menyukai kisah-kisah itu. apalagi yang namanya anak-anak mereka masih membedakan sesuatu dengan hitam atau putih. Ketika ada pertempuran mereka ingin jagoan mereka menang. Begitulah singkatnya.
Pagi-pagi saat mengantar mereka kesekolah,saya berbagi cerita dengan mereka bahwa ada lagi pahlawan nya di dalam Sejarah yang kalian pelajari itu namanya Laksamana Cheng Ho, mereka spontan menjawab itukan Yusril….. Mahendra. (Ihzanya mereka nggak ingat karena mengejanya susah dan lagi kata mereka permulaannya sama dengan membaca IH DINAS SHIRATAL MUSTAQIM, tunjukan lah kami ke jalan yang lurus) Ternyata sayah kalah informasi dari mereka….Lalu orang bisa menebak apa yang ada difikiran anak-anak itu terhadap orang yang sudah diidolakan. begitu…silahkan terjemahkan sendiri para pembaca yang budiman.
Di kedai kopi..obrolan kembali lagi kepada si Cheng Ho. Dan saya ucapkan begini. ADMIRAL CHENG HO FOR PRESIDENT is RANCAK BANA. …saya pikir-pikir dan ingat-ingat, hebat juga peran yang abang lakonkan yang sudah menjadi sebuah kursus kepemimpinan yang dalam kursus itu betul-betul dihayati…Ayo bang aplikasikan nanti, semoga kita senantiasa seperti yang dikatakan anak saya tadi susah mbaca IH…Za itu. Memohon kepada Allah Swt agar senantiasa ditunjukan ke jalan yang lurus…
Wassalam
Dari Pekanbaru
August 16th, 2008 at 10:04 am
muhammad Rozi S.Pd (komentar #82)
saya termasuk orang yang rindu Indonesia dipimpin oleh kalangan muda. mimpi itu berharap menjadi nyata, semoga pak Yusril datuak palinduang adalah adalah pewujud mimpi itu
August 16th, 2008 at 12:02 pm
Bonar (komentar #83)
@YIM, Re: Re: #79 :
Pertama saya harus akui saya agak bias condong kepada Pak Poltak, mungkin karena dia juga batak, hehehe, apalagi setelah ia sukses ‘membantai’ Fadjroel dan Ratna, jadi tidak perlulah comment saya ditanggapi terlalu serius.
Saya kira wajar saja jika Pak Poltak, dan mungkin pada derajat tertentu RM, mengira bahwa Anda pendukung Small Government.
Hal itu tak lain karena Anda mengawali jawaban Anda dengan kutipan dari Thomas Paine: “…That government is best which governs least”
(yang terus terang, cukup membuat saya kaget, karena Anda mengutip salah satu prinsip terpenting liberalisme)
Seperti yang telah diketahui, Thomas Paine adalah bapak revolusi amerika, salah seorang tokoh liberalisme/libertarianisme yang paling berpengaruh hingga kini.
Liberalisme, libertarianisme, serta eksesnya ke dalam konsep ekonomi laissez faire, selalu mencita-citakan terciptanya small government. Sedemikian sehingga, bagi yang memahami sejarah kutipan tersebut, amat mudah untuk salah menyimpulkan bahwa Anda mendukung small government (sebagaimana kemudian ia simpulkan).
Hubungannya dengan expertisenya di bidang ekonomi, tentu saja dengan besarnya belanja kepegawaian pemerintah yang kabarnya kurang lebih sama dengan besarnya subsidi BBM+PLN tahun 2007 (13 milyar dollar, koreksi saya jika saya salah).
Sebenarnya kesalahpahaman itu mudah sekali dihindari jika Anda langsung mengoreksi ulang pernyataannya di kesempatan bicara kedua. Banyak sekali kutipan yang dapat dipakai untuk mematahkan argumen liberalis small government tersebut, misalnya:
“pasukan besar, pasukan kecil, yang penting bendera-benderanya”, oleh sun tzu, yang dapat anda pakai untuk menyebutkan kepeloporan Anda di bidang E-Government, dengan menganalogikan “bendera-bendera” sebagai penerapan teknologi.
atau mungkin, argumen jane ayer:
“memang benar pemerintahan terbaik memerintah sesedikit mungkin. Sayangnya, hal yang sama juga benar terjadi pada pemerintahan terburuk”
…selain, tentu saja, menggunakan argumen tentang efektifitas yang Anda sampaikan.
Argumen lain yang biasanya sukses dapat mematahkan liberalisme, adalah argumentasi unintended consequences. Contohnya, “keberadaan jumlah PNS yang gemuk tersebut pada dasarnya merupakan BLT terselubung bagi kaum terdidik, itu tidak ideal, namun kebijakan perampingan justru akan membawa konsekwensi tak diinginkan berupa melambatnya perekonomian swasta karena kehilangan salah satu kelas konsumen terbesar, dan bahkan mungkin brain drain.”
Tentang infrastruktur, saya pribadi tidak melihat bahwa jawaban Anda memuaskan.
Jika sebelumnya pendekatan argumentasi Anda pada perdebatan small government adalah Top-Down (yaitu dari filosofi liberalis, menuju penjabaran implementasi), dalam kasus debat infrastruktur malah seperti berusaha Bottom-UP (dari detail ke general).
Sayangnya jawaban Anda terlalu spesifik (kalau tidak bisa dibilang myopic) pada pembangunan jalan tol, yang sebenarnya bukan pertanyaan Poltak tapi topik dari RM. Kemudian terlalu lama membahas itu tanpa ada usaha melanjutkan penjabaran generalisasinya pada infrastruktur yang lain (kurang UP-nya). RM terlihat berusaha menyelamatkan Anda dengan mengatakan: “Padahal kita punya dana!”.
Awam seperti saya, jika tidak menganalisa berulang-ulang secara mendalam, akan amat mudah terburu-buru menyimpulkan bahwa Anda tidak dapat melihat gambaran besar masalahnya, bahwa Anda “tidak nyambung” dengan terbawa pada arah pembicaraan pendebat lain, dan bukannya pada penanya.
Padahal kalau dipikir-pikir, sebenarnya itu juga menunjukkan bahwa Anda menguasai solusi spesifik untuk masalah spesifik.
Penguasaan detail itulah senjata Anda sebenarnya.
Mungkin lain kali Anda dapat memulai jawaban Anda dengan generalisasinya dulu atau kutipan yang membuka jalan menuju kasus spesifik, Top-Down Approach seperti:
“The devil is in details, permasalahannya selalu dalam detail, dalam kasus jalan tol misalnya adalah buruknya manajemen pembebasan tanah serta perangkat hukumnya. Dalam kasus infrastruktur lain penyebabnya adalah …… .Diperlukan pemimpin yang telah memahami solusi atas hal-hal detail seperti ini, dan bukan sekedar pemimpi yang tak berpengalaman. Mau 10 kali infrastructure summit pun kalau pemimpinnya tidak detail, tidak akan jalan”
Pernyataan yang kira-kira seperti itu akan menekankan bahwa Anda berpengalaman dalam memberikan solusi, dan amat menguasai masalahnya, sekaligus menohok lawan debat Anda dengan menjulukinya sebagai pemimpi.
Sedangkan, untuk pernyataan RM bahwa Anda pantas menjadi Mensesnegnya, dapat Anda balas dengan, “kalau Anda mungkin cocok jadi Menpora saya” dengan nada bercanda juga, namun tajam sekaligus halus menyindir semangat ke-pemudaan RM.
Pak YIM, patut saya garisbawahi, saya melihat perbedaan pembawaan yang besar dalam tulisan dan debat Anda. Tulisan-tulisan Anda menunjukkan kualitas pemikiran mendalam, tidak perlu diragukan lagi. Akan tetapi dari beberapa debat yang saya lihat, kenapa justru di lisan kualitas tersebut kurang terlihat? atau setidaknya kurang menggigitlah!
Sepantasnyalah kritik seperti dari Pak Poltak tersebut tidak direspon dengan antipati dan kritik terhadap expertisenya dia, tapi dilihat dan dianalisa metode berpikirnya lalu diformulasikan metode mendebat hal-hal seperti itu kelak.
Saya yakin Anda jauh lebih berpengalaman dalam berdebat, dibanding saya yang cuma pendebat sekelas warung kopi.
August 16th, 2008 at 5:44 pm
suara ummat (komentar #84)
Demi keutuhan partai !!! PBB harus berdasarkan suara terbanyak itu lebih jantan dan menceminkan aspirasi Ummat. salam Ukhuwah untuk ketua DPC PBB.
August 17th, 2008 at 1:54 pm
suara ummat (komentar #85)
Demi keutuhan partai !!! PBB harus berdasarkan suara terbanyak itu lebih jantan dan menceminkan aspirasi Ummat. salam Ukhuwah
August 17th, 2008 at 1:55 pm
s.zuchdi (komentar #86)
ass wr wb,
aku suka bapak,semoga anda jadi presiden beneran di negara ini
wassalam
August 18th, 2008 at 10:56 am
dodi (komentar #87)
Sebenarnya indonesia tidak perlu alternatif, pemimpin indonesia sebenarnya banyak, hanya mereka yang korupsi lebih banyak duduk sebagai pejabat sehingga terjadi monopoli di berbagai bidang baik pemerintahan, legislatif, kehakiman ataupun pekerjaan lainnya. So untuk memajukan bangsa ini pilihannya pada pengangkatan pemimpin seperti di jaman Soekarno, dan akan terlihat berapa banyak yang mendukung dan berapa banyak yang menolak. kesalahan dalam mengangkat pemimpin maka akan terjadi perpecahan bangsa indonesia. Kalau gak gitu akan lebih aman jika kita menunggu pemilu presiden lagi, kalau sekarang mencari pemimpin ya baru alternatif pemimpin untuk periode 5 tahun mendatang. Untuk bapak yusril saya dukung maju menjadi alternatif pemimpin tahun 2009-20014, MERDEKA
August 18th, 2008 at 9:11 pm
Darsah (komentar #88)
Bos, maaf nich, untuk argumen dan diplomasi, anda tidak diragukan lagi. Tapi dalam berbagai tayangan televisi sepertinya anda harus banyak senyum atau sekali-sekali tertawa, soalnya kalau lagi diam kayaknya wajah anda sinis banget, sekali lagi maaf ya boos hanya saran, soalnya nanti pemilih-pemilih di ind. banyak kaum hawanya lho…
August 19th, 2008 at 3:14 pm
darsah (komentar #89)
kayaknya perlu juga nich bos nongol di acara-acara hiburan televisi, disitu segmen pasarnya banyak banget
August 19th, 2008 at 3:49 pm
AN-XOIN (komentar #90)
Haa…!? Yusril pengen jadi Presiden. Mending ngaca dulu Om.. Orang dulu ngurus keluarga saja gagal, rumah tangga rusak, bercerai, eh…ternyata dah punya perempuan lain. Orang baru jadi menteri saja suka kawin cerai, apalagi kalo jadi Presiden. Mau dibuat apa negara ini? Ha.Ha.Haa,jangan-jangan Yusril terinspirasi Sukarno. Nyadar Bung, kelakuan Sukarno yang terbuai keduniawian, justru pernah membuat Bangsa Indonesia terpecah belah. Seruan bagi pendukung Yusril ! Mending kita milih Presiden yang cuma lulus SMP tp punya hati yang bersih daripada Profesor yang yang silau akan kemewahan dan gemerlap dunia. Iya toh…
August 19th, 2008 at 3:59 pm
Pages: « 1 2 [3] 4 5 6 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda