Bismillah ar-Rahman ar-Rahim
Seperti telah diberitakan sebelumnya Film Serial Laksamana Cheng Ho telah ditayangkan episode pertamanya di Metro TV malam minggu yang lalu. Selanjutnya film serial ini akan mengudara setiap malam minggu pukul 21.30 WIB. Beberapa stasiun televisi lokal juga ada yang merelay siaran Metro TV, sehingga mereka yang tidak memiliki parabola atau berlangganan TV kabel di berbagai daerah yang tak terjangkau siaran, dapat pula menyaksikan tayangan fim ini. Makin banyak yang menyaksikan, bagi saya akan makin bagus. Insya Allah, dvd film serial ini juga akan diproduksi, usai tayangan tiap episode di Metro TV. Dengan demikian, mereka yang tidak sempat menonton televisi, dapat menyaksikannya melalui DVD di tempat masing-masing.
Promosi film serial ini telah dilakukan baik oleh Metro TV maupun oleh produser. Saya menyaksikan beberapa iklan yang muncul di harian ibu-kota. Metro TV juga menayangkan iklan pemutaran film ini. Acara Kick Andy juga secara khusus menampilkan beberapa pemain film ini, khususnya artis dari negeri kita sendiri, yakni Slamet Rahardjo, Nurul Arifin, Betharia Sonata dan saya sendiri. Artis China, Hong Kong dan Thailand yang juga memainkan peranan penting dalam film serial ini, tak sempat dihadirkan. Maklumlah mereka tinggal di negara mereka masing-masing. Mereka juga tidak pandai berbahasa Indonesia, sehingga sulit juga untuk tampil dalam acara Kick Andy. Namun sebagai promo, saya kira, apa yang dilakukan melalui acara Kick Andy sudah lumayan juga. Setidaknya para penonton di tanah air, memperoleh informasi mengenai latar belakang pembuatan film ini, serta pesan yang ingin disampaikan melalui kisah yang difilmkan.
Seperti pernah saya kemukakan dalam artikel sebelumnya di blog ini, film serial Laksamana Cheng Ho atau Admiral Zheng He, mengisahkan perjalanan hidup sang laksamana sejak lahir sekitar
tahun 1370 Masehi hingga wafat di tahun 1432. Cheng Ho yang nama aslinya adalah Ma He – dalam Bahasa Arab adalah Muhammad Siddiq – lahir dari keluarga Cina Muslim kebanyakan di Provinsi Yunnan, dekat perbatasan Vietnam sekarang ini. Ayahnya yang bernama Ma Hazi atau Haji Ma adalah pemuka sebuah kampung. Dalam situasi yang bergolak Ma Hazi didaulat oleh penduduk sekitar untuk memimpin perlawanan terhadap Kaisar Ming yang kedua, dan beliau tewas dalam sebuah pertempuran. Ma He kecil, sangat sedih dengan kematian ayahnya dan sangat prihatin dengan ibu dan dua adik perempuannya yang ditawan dan akan dibunuh. Sebab itulah, dia merelakan dirinya untuk dikebiri, dengan imbalan ibu dan dua adiknya dibebaskan. Jendral Poh Yu Te yang memimpin pasukan Ming di Yunan, memenuhi permintaan Ma He. Dia dikebiri dan harus ikut menjadi abdi dalem istana. Ibu dan adik-adiknya dibebaskan.
Ma He yang taat menjalankan agama Islam dikenal sebagai kasim – sebutan bagi orang yang dikebiri – yang sangat rajin belajar dan berdisiplin tinggi. Berbeda dengan ayahnya yang berperang melawan
Ming, Ma He ikut milisi untuk membela Ming. Karena prestasinya, dia diangkat menjadi pembantu terdekat Pangeran Ming Chui Ti, dan pindah ke sebuah puri – yang belakangan menjadi Kota Terlarang – di kota Beijing. Sejarawan China menyebutkan Ma He sering datang ke Mesjid Niuw Che, mesjid tertua di Beijing yang dibangun oleh dua imam dari Persia yang menyebarkan agama Islam ke China pada abad ke IX Masehi. Mesjid Niew Che yang masih ada sampai sekarang dan menjadi mesjid antik bergaya kelenteng adalah mesjid yang dilindungi oleh Pemerintah China, dan dijadikan sebagai monumen Islam di Negeri Tiongkok. Saya sendiri beberapa kali bersembahyang, termasuk sembahyang Jum’at di mesjid ini yang khutbah dan pengajiannya dilaksanakan dalam Bahasa Mandarin.
Di Beijing Cheng Ho akhirnya menjadi penasehat Pangeran Ming Chui Ti yang suatu ketika menjadi sangat marah, karena ayahnya menunjuk cucunya –yakni putra dari pangeran pertama yang wafat — menjadi kaisar. Ming Chui Ti adalah pangeran kedua yang menurut tradisi China akan menjadi kaisar jika pangeran pertama meninggal
lebih dahulu. Kaisar baru, Chu Yu Wen, yang masih muda, ternyata banyak melakukan kekejaman, yang membuat Pangeran Ming Chui Ti tambah marah, sehingga akhirnya dia memberontak melawan Kaisar. Dia menunjuk Ma He sebagai panglima perang dan mempimpin penyerbuan dari Beijing ke Nanjing yang ketika itu menjadi ibukota Kekaisaran Ming. Menurut sejarawan China, jarak antara Beijing dengan Nanjing waktu itu dapat ditempuh dengan kuda yang berlari kencang selama 23 hari perjalanan. Dalam sejarahnya, Ma He memimpin 30 ribu pasukan menggempur Beijing selama tiga tahun, sampai akhirnya mereka memenangkan pertempuran. Pangeran Ming Chui Ti akhirnya berhasil merebut tahta. Dalam sejarah China, Ming Chui Ti dikenal dengan julukan Kaisar Yong Le atau Yung Lo, yakni kaisar terbesar dalam sejarah China. Ma He yang kemudian diberi marga baru Zheng atau Cheng– yang akhirnya memakai nama Zheng He atau Cheng Ho – praktis menjadi orang kedua di kekaisaran Ming. Ketika ibukota Ming pindah dari Nanjing ke Beijing dan membangun Forbidden City sekarang ini, maka Kaisar Yong Le mengendalikan pemerintahan dari Beijing dan Cheng Ho mengendalikan pemerintahan dari Najing sebagai wakil Kaisar. Peristiwa ini terjadi menjelang akhir hayat Kaisar Yong Le, setelah Cheng Ho kembali dari pelayaran yang ketujuh menjelajahi pantai timur benua Afrika.
Mengapa Cheng Ho berlayar mengarungi samudera luas sampai ke benua Afrika itu? Setelah Pangeran Ming Chui Ti merebut takhta, dia dan Cheng Ho masih memerlukan waktu beberapa tahun untuk
menyatukan dan membangun ekonomi Tiongkok. Setelah semuanya berjalan, Kaisar bertanya kepada Cheng Ho, apa lagi yang harus mereka kerjakan. Cheng Ho menjawab, inilah saatnya kita membangun perdamaian dunia dan menjadikan Tiongkok sebagai pemimpin dunia. Untuk mencapai rencana itu, Cheng Ho mengusulkan agar Kekisaran Ming membangun armada angkatan laut yang besar dan kuat agar mereka dapat menjelajah dunia dalam membangun persahabatan, perdamaian dan kerjasama dengan bangsa-bangsa lain. Walaupun rencana ini ditentang oleh Menteri Keuangan Liu Taxia dan beberapa jenderal, namun Kaisar setuju. Kaisar memutuskan menunjuk Cheng Ho menjadi laksamana yang memimpin angkatan laut kekaisaran dengan misi membangun perdamaian dan menyelesaikan konflik di seluruh dunia. Sejak itu, Cheng Ho berubah dari panglima angkatan darat, menjadi panglima angkatan laut.
Enam tahun lamanya Cheng Ho membangun 320 armada dan merekrut 28.000 prajurit angkatan laut dan melatih mereka. Setelah semuanya siap, sebelum berlayar, Cheng Ho sengaja datang berziarah ke makam Saad bin Abi Waqqash – salah seorang sahabat
Nabi Muhammad S.a.w yang ikut ke hijrah ke Negeri Habsyi dan wafat di Tiongkok — di Guang Zhou. Cheng Ho mungkin ingin mengenang sahabat Rasulullah itu karena beliau adalah salah seorang sahabat dekat Rasulullah yang berlayar begitu jauh dari Habsyi – Ethiopia sekarang ini – menuju daratan Tiongkok. Peristiwa itu terjadi sebelum Rasulullah hijrah ke Madinah. Kisah tentang Saad bin Abi Waqqash ini mengindikasikan bahwa Islam telah disebarkan di Tiongkok pada saat Rasulullah S.a.w masih hidup. Walaupun makam Saad sampai sekarang masih misterius. Sebagian sejarawan mengatakan Saad kembali bergabung dengan Rasulullah di Madinah, namun sebagiannya lagi mengatakan tidak. Saad tak sempat ikut hijrah ke Madinah, sampai beliau wafat tetap berada di Guang Zhou.
Dalam sejarahnya, Laksamana Cheng Ho memimpin delapan kali missi muhibah pelayaran mengunjungi banyak negara di zaman itu. Dia sama sekali tak ingin menggunakan kekuatan militer untuk memaksa negara lain mengikuti kemauannya. Cheng Ho bersikap
persuasif mengajak negara-negara lain untuk menyelesaikan konflik secara damai. Dia berusaha mendamaikan antara Majapahit dengan Blambangan, antara Ayuttaya dengan Swarnabhumi, antara Majapahit dengan Melaka dan membantu banyak negara dengan bantuan teknis militer, perdagangan, industri, pertanian dan kesehatan. Cheng Ho juga membawa misi mengamankan laut, khususnya Selat Malaka, agar alur pelayaran timur dan barat dapat berjalan dengan lancar. Untuk itulah dia membantu Melaka membangun pangkalan angkatan laut, melatih militer Melaka dan menampatkan sekitar 600 penasehat militer di Bandar Melaka. Cheng Ho berhasil meyakinkan Melaka, bahwa Dinasti Ming dari Tiongkok takkan mengulangi ekspansi dan penjajahan – seperti pernah dilakukan Dinasti Yuan – yang pernah memaksa Ken Arok dari Kerajaan Kediri agar takluk kepada Tiongkok. Cheng Ho ingin membangun kemitraan dan kerjasama dengan negara lain, dengan tetap menghormati kedaulatan negara itu.
Di luar missi resmi yang diemban atas perintah Kaisar, Cheng Ho dan nakhoda kapal induknya Wang Ching Hong – yang makamnya ada di Semarang dan dikenal dengan sebutan Panembahan Dompu Awang atau Kiyai Jurumudi – membawa misi pribadi mereka untuk menyebarkan agama Islam. Raja Parameswara dari Melaka adalah raja Melaka pertama yang memeluk agama Islam atas ajakan Laksamana Cheng Ho. Sejak itu Parameswara mengganti namanya menjadi Sultan Iskandar Syah dan mengubah Melaka dari kerajaan Hindu menjadi kesultanan Islam. Wang Ching Hong setelah pelayaran ketujuh memutuskan untuk tinggal di Semarang dan pensiun sebagai nakhoda. Wang Ching Hong yang hafal Qur’an dan pandai berbahasa Arab dan Persia, bergabung dengan Sunan Bonang menyebarkan agama Islam di Jawa Tengah, sampai ia wafat dan dimakamkan di tempat yang kemudian berdiri Kelenteng Sam Po Kong di kota Semarang.
Kisah Laksamana Cheng Ho sangatlah panjang. Bukan saja kisah misi muhibah perdamaian yang dijalankannya, tetapi juga kisah
intrik politik di Kekaisaran Ming sendiri. Khususnya intrik yang dilakukan Menteri Keuangan Liu Taxia dan Jendral Ma Kwee yang terus-menerus menentang misi pelayaran Cheng Ho. Dalam film serial ini juga dikisahkan beban psikologis yang berat yang dialami Cheng Ho sebagai seorang kasim yang dikebiri. Dia pernah menaruh hati dengan seorang gadis Muslimah bernama Sin Hwa, namun apa daya dia telah menjadi kasim. Namun walaun menderita secara psikologis, dia tetap bersyukur kepada Allah, karena semua itu mengandung hikmah bagi dirinya. Pada episode ke 24 dari film ini – yang selurunya ada 30 episode – dikisahkan dialog antara Cheng Ho dengan Kaisar Yong Le mengenai kebijakan setiap dinasti untuk mengebiri setiap petugas istana itu. Kaisar nampak bingung mengenai tradisi yang telah berlangsung selama 2500 tahun itu dan menunjukkan empati yang dalam atas mereka yang dikebiri. Kaisar menyadari bahwa hal itu bertentangan dengan fitrah manusia, sebagaimana dijelaskan Cheng Ho dengan mengutip ayat-ayat al-Qur’an.
Film serial ini berakhir dengan wafatnya Laksamana Cheng Ho sekembalinya dari menunaikan ibadah umroh di kota suci Mekkah. Cheng Ho wafat di Lautan Hindia di selatan Pulau Sri Lanka pada tahun 1432. Sebelum wafat dia berpesan, agar kalau dia mati, jenazahnya harus ditenggelamkan ke dasar laut sebelum matahari terbenam. Karena sakit Cheng Ho akhirnya wafat dengan tasbih yang jatuh dari tangannya dengan mengucapkan kata La Ilaha illallah. Semua orang menangisi kepergiannya. Hidupnya bagai sebuah legenda. Namun menurut sejarawan China, tak ada anak buah Cheng Ho yang berani membenamkan jenazahnya ke dasar laut seperti permintaannya. Jenazahnya dibawa pulang ke Nanjing dan dia dimakamkan di depan sebuah mesjid dengan sebuah upacara kebesaran militer yang dihadiri oleh Kaisar Ming yang baru yang menggantikan Kaisar Yong Le.
Akhirnya, saya ucapkan selamat menyaksikan film serial versi Bahasa Indonesia yang ditayangkan Metro TV ini, dengan segala kekurangan yang ada…
Wallahu ’alam bissawwab
Cetak artikel Oleh Yusril Ihza Mahendra — August 19th, 2008
133 tanggapan untuk “PENAYANGAN LAKSAMANA CHENG HO”
Pages: [1] 2 3 4 5 » Show All
Masrip Sarumpaet (komentar #1)
Ass. Wr. Wb. Prof YIM.
Actingnya Mantap Prof.
Wassalam
August 19th, 2008 at 1:19 pm
khafidhin (komentar #2)
SIIP……….. font-nya kecil - kecil, penjelasan pak YIM pada acara kick andy dan yang ditayangkan ANTV yahut .
August 19th, 2008 at 1:19 pm
agungwasono (komentar #3)
mantap..
Malem minggu jadi ada acara menarik nih..!!
August 19th, 2008 at 2:50 pm
Bang Ridha (komentar #4)
Ass. Bang YIM - Ma He
Menonton secara penuh Episode Pertama hari malam minggu, 16 Agustus 2008 yang lalu ada beberapa hal yang sangat mengganjal. Hal-hal tersebut antara lain :
1. Penggambaran untuk proses kebiriannya terlalu lama. Sehingga menghabiskan waktu. Proses pengkebirian itu juga tidak terlalu penting untuk digambarkan.
2. Pengambilan shootnya yang sangat “pintar” dimana pada saat dialog yang akan menyulitkan dalam proses dubbing, angle kameranya tidak di close up dari depan, tapi di alihkan dari angle yg berbeda. Namun tidak mengurangi makna dan alur cerita yang dibangun. Salut untuk cara ini, dan bisa ditiru untuk dialog-dialog yang sulit oleh pemeran yang kurang berpengalaman.
3. Dalam tulisan Bang YIM disebutkan bahwa Pangeran Ming Chui Ti merebut tahta karena marah, yang disebabkan oleh Kaisar Chu Yu Wen banyak melakukan kekejaman.
“Di Beijing Cheng Ho akhirnya menjadi penasehat Pangeran Ming Chui Ti yang suatu ketika menjadi sangat marah, karena ayahnya menunjuk cucunya –yakni putra dari pangeran pertama yang wafat — menjadi kaisar. Ming Chui Ti adalah pangeran kedua yang menurut tradisi China akan menjadi kaisar jika pangeran pertama meninggal IMG_2937lebih dahulu. Kaisar baru, Chu Yu Wen, yang masih muda, ternyata banyak melakukan kekejaman, yang membuat Pangeran Ming Chui Ti tambah marah, sehingga akhirnya dia memberontak melawan Kaisar.”
Tapi yang tertangkap dalam cerita Filmnya bahwa Pangeran Ming Chui Ti marah karena tidak dipilih oleh Kaisar untuk menggantikan menjadi Raja. Kesan yang muncul adalah Ming Chui Ti seorang yang sangat kekuasaan. Bukan seorang yang bijaksana dan arif.
Kemudian tidak tergambar sama sekali Kaisar Chu Yu Wen memerintah dengan kejam, yang menjadi alasan bagi Ming Chui Ti untuk memberontak. Padahal ini adalah bagian penting dari peran seorang Ma He, yang menjadi penasehat yang baik. Jika yang digambarkan seperti dalam film, maka Ma He adalah seorang penasehat pemberontak yang mabuk kekuasaan. Padahal jika lebih digambarkan sedikit pemerintahan kasira Chu Yu Wen yang kejam, dan atas itu Ma He menyarankan kepada Pangeran Ming Chui Ti untuk melawan, maka Ma He akan terlihat sebagai penasehat yang cerdas. Karena dalam penggambaran sebelumnya terlihat bagaimana Pangeran Ming Chui Ti sangat bijaksana dan sangat santun menerima tamu-tamu, sementara Ma He digambarkan sebagai orang yang gemar membaca.
Sementara itu saja komentar saya, dan mungkin saja komentar ini salah. Karena dalam title film itu diawal, tertulis kalau cerita ditulis oleh Prof. Dr. Yusril Ihza Mahendra, maka saya pikir, saya akan mendapatkan tanggapan langsung dari penulis ceritanya.
Maaf, kalau terkesan sok tau, karena baru belajar tentang perfilman.
Salam, Bang YIM, (Ma He).
Anda benar. Namun nanti dalam episode selanjutnya akan di flashback kisah tentang bagaimana Kaisar Chu Yu Wen, keponakan Ming Chui Ti memerintah. (YIM)
August 19th, 2008 at 2:59 pm
Yuda (komentar #5)
Duh, episode pertama dan kedua ga bisa saya tonton :(
August 19th, 2008 at 3:35 pm
Yuda (komentar #6)
Duh, episode pertama dan kedua ga bisa saya tonton :(. Pak Yusril ada informasi dimana atau bagaimana saya bisa mendapatkan dvd tersebut ??
August 19th, 2008 at 3:35 pm
ricky (komentar #7)
congrats buat YIM, cocok lah diputar di metro tv, sehingga tidak dianggap seperti tontonan sinetron.
August 19th, 2008 at 4:02 pm
sutan rajo endah (komentar #8)
Bang YIM,
Beberapa kali saya menyaksikan diskusi abang di media televisi serta membaca tulisan-tulisan abang, tapi yang sangat mengena sekali ketika melihat tayangan di acara Kick Andi….
Begini..dalam minggu ini anak saya kelas 5 SD sedang belajar di sekolahnya tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Indonesia. Ketika mereka mengerjakan PR nya mereka berulang-ulang membaca sejarah tentang kerajaan -kerajaan di Indonesia termasuklah Sriwijaya, Majapahit. Mereka ternyata menyukai kisah-kisah itu. apalagi yang namanya anak-anak mereka masih membedakan sesuatu dengan hitam atau putih. Ketika ada pertempuran mereka ingin jagoan mereka menang. Begitulah singkatnya.
Pagi-pagi saat mengantar mereka kesekolah,saya berbagi cerita dengan mereka bahwa ada lagi pahlawan nya di dalam Sejarah yang kalian pelajari itu namanya Laksamana Cheng Ho, mereka spontan menjawab itukan Yusril….. Mahendra. (Ihzanya mereka nggak ingat karena mengejanya susah dan lagi kata mereka permulaannya sama dengan membaca IH DINAS SHIRATAL MUSTAQIM, tunjukan lah kami ke jalan yang lurus) Ternyata sayah kalah informasi dari mereka….Lalu orang bisa menebak apa yang ada difikiran anak-anak itu terhadap orang yang sudah diidolakan. begitu…silahkan terjemahkan sendiri para pembaca yang budiman.
Di kedai kopi..obrolan kembali lagi kepada si Cheng Ho. Dan saya ucapkan begini. ADMIRAL ZHENG HE FOR PRESIDENT is RANCAK BANA. …saya pikir-pikir dan ingat-ingat, hebat juga peran yang abang lakonkan yang sudah menjadi sebuah kursus kepemimpinan yang dalam kursus itu betul-betul dihayati…Ayo bang aplikasikan nanti, semoga kita senantiasa seperti yang dikatakan anak saya tadi susah mbaca IH…Za itu. Memohon kepada Allah Swt agar senantiasa ditunjukan ke jalan yang lurus…
Bang YIM,
Di dalam mengenang Yth. Alm.Bapak Prof Mohd. Nasir, satu diantaranya yang jadi ingatan kita, yaitu terobosan beliau Alm. menyatukan kembali negara kesatuan RI ini dari bentuk negara-negara serikat disana-sini. Tentu abang lebih paham dan kita sependapat bahwa sikap , semangat dan tujuan dari kedua tokoh diatas dapat dijadikan haluan bagi pemimpin negeri ini. Tapi berat lho bang, karena kalau boleh dibilang dengan kata “pewaris pemangku adat “, abang sudah mendapat petunjuk untuk menerima pewaris itu. Masalahnya kami-kami ini menyimpan segudang harapan, seperti perekonomian baik, pengangguran berkurang, kriminalitas berkurang, aparat pemerintah pro aktif. Hidup bermasyarakat lebih harmonis tanpa ada curiga mencurigai, saat ini masyarakat sudah mulai individualis, heavy self defense, karena sudah hilang akal sehat. Tapi memang begitu kenyataannya seperti adanya perang antar kampung,rasa sosial bermasyarakat kian menipis ,sedih kan bang. Anak-anak generasi milennium ini digiring dan dihadapkan kepada kenyataan yang menurut mereka dunia di Indonesia itu memang seperti sekarang ini. Jadi, tentang persatuan dan kesatuan bangsa, gotong-royong, toleransi beragama, bermusyawarah beserta rangkaian sejarah nya, menurut mereka tidak lain hanya bahagian dari mata pelajaran di sekolah.
Bang YIM, contoh dan tauladan dari orang penting dan penentu dinegeri ini (sebagai mana yang diajarkan orang-orang tua kita) akan menjadi dasar perubahan untuk kebaikan bagi generasi penghuni ibu pertiwi ini. Informasi global biarkan dijalurnya, Informasi tauladan yang baik lebih kita kedepankan. Saya yakin abang sudah punya konsep seperti sebagian harapan kami dari sudut negeri ini.
Wassalam
Dari Pekanbaru
August 19th, 2008 at 4:11 pm
aRuL (komentar #9)
promonya pemutaran perdananya kurang menggelegar pak…. (maksudnya kurang iklannya :D)
saya kemaren sempat liat di metro TV, kirain masih promo ternyata udah tampil.
August 19th, 2008 at 4:54 pm
kang gery (komentar #10)
sayang saya nggak sempet nonton di MT, mungkin nunggu DVD nya dech
August 19th, 2008 at 5:11 pm
edi.santosa (komentar #11)
Secara keseluruhan Ok, meski ada yang kurang sreg sedikit disana sini.yang paling mengganjal saya justru pengisi suaranya.ada beberapa yang gak pas.Kalo suara Bapak masih asli atau di dubling juga?
Suara saya memang asli,baik yang ditekam langsung ketika syuting maupun diisi kembali kalau suara yang direkam ketika syuting kurang jelas. Pemain-pemain yang lain, terutama dari China, Thailand, Hong Kong, Vietnam dan Malaysia didubbing ke bahasa Indonesia. Sebagaimana halnya anda, sayapun kurang puas dengan dubbing ini. Proses pengambilan dubbing dilakukan di studio Cakrawala di Jalan Alaydrus, Jakarta Kota. Konon inilah crew dubbing terbaik yang kita miliki, yang biasa mengisi dubbing untuk TV 7. Saya sendir lebih suka menonton film ini dengan menggunakan Bahasa Mandarin, karena terasa lebih pas menggambarkan kisah ini di negeri asalnya. i
August 19th, 2008 at 5:19 pm
Bang Ridha (komentar #12)
Anda benar. Namun nanti dalam episode selanjutnya akan di flashback kisah tentang bagaimana Kaisar Chu Yu Wen, keponakan Ming Chui Ti memerintah. (YIM)
Syukur lah kalau memang ada flashbacknya, namun dalam dialog pada episode pertama kemarin tidak tergambar ketidakpuasan Ming Chui Ti atas pola pemerintahan Kaisar Chu Yu Wen. Yang ada hanyalah ketidakpuasan Ming Chui Ti atas pilihan ayahnya menjadi Kaisar. Itu juga tidak terucap dari saran Ma He sebagai penasehat. Yang ada hanya saran bahwa Ming Chui Ti harus memberontak.
Adalah hal yang berbeda antara kisah memerintah Kaisar Chu Yu Wen dengan sikap dan alasan mengapa Ming Chui Ti memberontak yang tergambar dari Episode Pertama kemarin. Menurut saya ini agak menggangu. OK lah kl untuk cara pemerintahan Kaisar Chu Yu yang banyak melakukan kekejaman itu di flashback, tapi hal itu malah membuat semakin janggal. Karena Ming Chui Ti tetap terkesan sebagai orang yang haus kekuasaan.
Secara umum, Episode pertama kemarin bagus, dan sangat berbeda dengan film/sinetron kolosal yang dibuat sebelumnya.
Semoga ini akan menjadi tren film-film kolosal yang berlatar belakang sejarah nantinya
Secara spesifik anda benar, bahwa faktor utama kemarahan Ming Chui Ti adalah karena ayahnya tidak menyerahkan takhta kerajaan pada dirinya, melainkan kepada keponakannya. Seperti telah saya jelaskan, tindakan itu menyalahi tradisi masyarakat China di zaman itu. Cheng Ho memang menasehatkan agar Ming Chui Ti bersabar. Kalau Tuhan menghendaki, suatu saat dia akan menjadi kaisar pula. Cheng Ho memang khawatir kalau Chu Yu Wen memerintah akan menimbulkan malapetaka yang besar di Tiongkok,mengingat dia pangeran yang masih sangat muda (sekitar 21 tahun) dan sangat dimanjakan oleh kakeknya. Karena itu, dia menasehatkan agar, kalau Chu Yu Wen tidak mampu menjalankan pemerintahan dengan baik, maka Ming Chui Ti harus meminta takhta diserahkan kepadanya. Kalau dia tidak mau, maka demi menyelamatkan seluruh Tiongkok dari kehancuran, maka tidak ada salahnya jika Ming Chui Ti mengambil takhta itu dengan paksa.
Dalam episode-episode sesudah ini akan terlihat bagaimana hubungan Cheng Ho dengan Chu Yu Wen, karena Cheng Ho ditugasi untuk mengajarkan beladiri kepada Chu Yu Wen ketika dia kecil.
Cheng Ho sendiri menganut pemahaman bahwa seseorang itu memang telah ditakdirkan Tuhan untuk memerintah sebagai kaisar.Dia percaya akan keberadaan sebuah dinasti. Menurut pemikiran Cheng Ho, kaisar yang sah adalah kaisar yang benar-benar sesuai dengan tradisi (hukum adat) yang diakui oleh masyarakatnya. Cheng Ho juga sependapat bahwa pengangkatan Chu Yu Wen menyalahi tradisi. Tentu semua ini harus dipahami dalam konteks pemikiran politik di abad ke XV, yang masih jauh dari semangat demokrasi modern yang kita pahami sekarang.
Kisah yang sama sebenarnya terjadi pada Majapahit. Prabu Wikramawardhana adalah menantu Hayam Wuruk yang diangkat menjadi raja. Parbu berkeinginan turun takhta dan naik gunung. Dia menyerahkan kekuasaan kepada Suhita, putrinya dari selir. Hal ini menyebabkan kemarahan Brhe Wirabumi, anak Hayam Wuruk yang menjadi pangeran di Blambangan. Inilah awal konflik antara Majapahit dan Blambangan, yang Cheng Ho berkeinginan untuk membantu menengahi konflik dua kekuatan ini. (YIM)
August 19th, 2008 at 6:26 pm
Penayangan Film Serial LAKSAMANA CHENG HO « A|G|U|S|S (komentar #13)
[...] Selengkapnya… [...]
August 19th, 2008 at 6:58 pm
Iwan Asnawi (komentar #14)
YIM, Yang Terhormat… As special Bung Vavai…
Masukin ke Youtube, dong…
Buat kita-kita yang jauh di Rantau Orang ini…
Maaf, kelihatan Mental Melayunya nih…
Maunya yang gratisan mlulu…
hehehe…
Salaaam Hangat… sehangat Kompor Gas…
Iwan Asnawi, Swiss
August 19th, 2008 at 7:44 pm
fata (komentar #15)
wah sayang. aku gak sempat liat edisi perdana. tapi saranku, lebih baik jam tayangnya dipindah ke prime time gitu. ya habis isyak lah (1/2 8 malam), biar banyak pemirsa yg bisa menonton.
August 20th, 2008 at 10:24 am
Okno (komentar #16)
Assalamualaikum,
Mohon perkenan Mas Yuzril agar saya diperkenankan untuk manyambung dan barangkali akan saya sedikit olah info ini ke grup komunitas budaya kami http://njowo.multiply.com dan situs-situs kami.
Atas bantuan dan ijinnya saya mengucapkan terima kasih.
Wassalam.
Ya silahkan saja. Matur nuwun. (YIM)
August 20th, 2008 at 11:27 am
achmad.web.id (komentar #17)
Pak yusril ada lowongan enggak untuk menjadi stunt man di Film bapak ?
August 20th, 2008 at 11:35 am
Tommy Drajat (komentar #18)
Bang YIM…
Andaikan 2009-2014 Allah SWT mengijinkan Bang YIM jadi Presiden…
Apa yang Bang YIM perankan di Film Laksamana Cheng Ho bisa jadi kenyataan…
itu Bang yang diharapkan Rakyat Indonesia, seorang pemimpin yang bijaksana, adil, tegas dan berwibawa tidak lupa yang dekat dengan rakyatnya…
Ayo Bang Kami Brigade Hizbullah Bulan Bintang Kota Bandung siap mendukung dan menyukseskan Bang YIM untuk maju di PILPRES 2009….
Allahuakbar….Allahuakbar…Allahuakbar….
August 20th, 2008 at 1:01 pm
naimul hajar alkaromy (komentar #19)
Selamat bang yusril semoga apa yang telah di ciptakan menambah syiar islam di indonesia
August 20th, 2008 at 1:13 pm
anik (komentar #20)
Artikel di blog ini bagus-bagus dan berguna bagi para pembaca. Anda bisa lebih mempromosikan artikel Anda di infoGue.com dan jadikan artikel Anda Topik yang terbaik bagi para pembaca di seluruh Indonesia.Telah tersedia plugin / widget kirim artikel & vote yang ter-integrasi dengan instalasi mudah & singkat. Salam Blogger!
http://www.infogue.com/
http://film.infogue.com/penayangan_laksamana_cheng_ho
August 20th, 2008 at 2:35 pm
Okno (komentar #21)
Maaf berikut halaman bapak saya sambung di alamat berikut :
http://njowo.multiply.com/journal/item/215/MENGENAL_CHENG_HO_DAN_SEMARANG
NJOWOdan
http://okno.890m.com/blog/2008/08/cheng-ho-dan-semarang/
OKNO.890M.COM
Sekali lagi saya mengahturkan banyak terima kasih atas keedulian bapak atas ranah budaya nenek moyang kita.
Bila tidak berkeberatan kami nantikan kehadiran bapak bergabung dengan komunitas kami.
Wassalam
August 20th, 2008 at 3:14 pm
Mudabentara (komentar #22)
Assalamualaikum pak Yusril .
melihat episode perdana penayangan film Laksamana Chengho sungguh sangat luar biasa, sudah lama rasanya wawasan kami-kami ini anak-anak muda indonesi tidak diisi dengan suguhan informasi yang baik , sebuah informasi budaya yang dapat mengembangkan kemampuan intelektualisme anak-anak bangsa , sungguh ini menjadi sesuatu yang ditunggu, saat dimana kebaikan dan kejernihan akal merupakan sesuatu yang mahal.
selamat berkarya Pak Yusril , semoga anda selalu menjadi pelita di dunia yang gelap ini
salam saya dari Aceh , negeri yang tidak hanya disinggahi Chengho, tetapi juga Marcopolo .
August 20th, 2008 at 3:51 pm
Suriansyah Bjm (komentar #23)
Alhamdulillah, atas penayangan Perdana Laksamana Cheng Ho semoga pesan yang ingin disampaikan sukses pula.kadang kala kita ini pandai memerankan suatu tokoh yang dikagumi dalam adegan Film namun ternyata sangat berat meng-aktualisasikanya dalam prilaku keseharian kita,banyak hal yang baik-baik tidak dapat kita perankan misalnya suka menebarkan seyum terhadap sesama mahluk Allah sebagaimana Rasulullah mencontohkan demikian menurut Qur’an & hadist,apalagi kalau senyum sambil menyampaikan makalah hukum Syariat diforum kuliah atau seminar2 sangatlah sulit kita tersenyum dalam keseriusan,inilah satu sisi dari sikap rasulullah yang sangat sulit kita teladani,terus terang Bang Yim saya iri melihat orang yang bicara serius namun tetap menampakan senyum dan kecerahan muka,subhanallah! memang yang namanya mahluk tidak ada yang sempurna,yang sempurna hanya Allah azza wajalla sempurnanya mahluk justru dalam ketidak sempurnaanya. kita kadang kala fasih membaca Al-Qur’an,hadist2 & kitab2 dan Do’a2 namun kita masih belum fasih mengamalkanya,meng-aplikasikanya. semoga Allah Subhanahu wata’ala meridhoi usaha ikhtiar kita. Alhamdulillah ya Rabbal a’lamin.
August 20th, 2008 at 5:04 pm
JOhan (komentar #24)
Pak saya mau berkomentar mengenai props yang digunakan dalam film ini, saya hargai pembuatan film ini dibuat sedemikian rupa mendekati gaya dan budaya Cina masa awal Dinasti Ming.
Ada satu hal yang agak tidak pas dengan zaman itu, adalah pedang yang digunakan Zheng He dalam film ini mengunakan pedang Jian zaman Han yang pada saat itu modelnya tidak lagi diproduksi.
Saya bukan ahli pedang Cina , tetapi saya pernah membaca banyak ihwal sejarah pedang Cina. Di zaman dinasti Ming, Jian sudah tidak lagi bermodel seperti yang peluk oleh Pak Yusril ( Zheng He ). Jian pada saat itu lebih bersifat seremonial meskipun ada yang memakai Jian untuk perang tetapi itu biasanya berukuran lebih besar dengan handle lebih panjang.
Bagi militer pada saat itu , banyak mengunakan saber ( Pedang golok bermata satu ) atau Dao ketimbang Jian bahkan pada saat zaman dinasti Ming 1500-1600an ada Dao yang sangat panjang sehingga membutuhkan 2 tangan untuk memegangnya.
Sebagai Saran mungkin boleh melihat Buku Militer karangan Jendral Dinasti Ming Qi Qiguang yang bernama Zhi Xiao Shin Shu, disana ada berbagai jenis persenjataan zaman Dinasti Ming untuk latihan perang bagi angkatan bersenjata mereka pada saat itu. Terima Kasih
Ini sekadar saran saja agar film ini mungkin akan jauh lebih sempurna lagi. Terima kasih
Salam Hormat
Terima kasih banyak atas tambahan pengetahuan ini. Sayang seluruh proses pembuatan film telah selesai. Saya sendiri hanya memahami keramik China, dan tidak memahai soal pedang. Art Director film ini mungkin hanya mendalam pengetahuannya mengenai pakaian dan dandanan, tidak mendalam pengetahuannya mengenai pedang, demikian pula seorang Professor Sejarah dari Universitas Beijing yang menjadi penasehat dalam pembuatan film ini dan selalu hadir di lapangan. Pedang yang saya pakai seperti dalam gambar, memang hanya digunakan sebagai pelengkap simbolis Cheng Ho sebagai panglima. Dalam perang, pedang yang digunakan Cheng Ho memang berbeda. Terima kasih atas masukannya. (YIM)
August 20th, 2008 at 6:05 pm
Zaenal Mustopa (komentar #25)
Keren Abis bang !!!!
ditunggu acara jumpa fans nya !!!!
August 20th, 2008 at 6:05 pm
ABDUL MUN'IM FAHDI (komentar #26)
Assalamu’alaikum wr.wb.
Bismillahirrohmanirrohiem
TAHUN 2009 ADALAH TITIK KLIMAKS AWAL BERKIBARNYA SYARIAT ISLAM DIBUMI PERTIWI INI.
INSYA’ALLAH.
DENGAN HATI DAN JIWA KAMI AKAN SINGSINGKAN LENGAN, MERAPATKAN BARISAN DAN ….. MAJU. UNTUK MENDUKUNG PROF. Yusril Ihza Mahendra IS THE PRESIDENT RI.
INSYA’ALLAH.
……. JIKA SUATU PERKARA TIDAK DIPEGANG OLEH AHLINYA, MAKA TUNGGULAH KEHANCURANYA.
(Mudah-mudahan kami tidak keliru. HANYA Prof. YIM-lah AHLINYA)
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
August 20th, 2008 at 8:27 pm
Demos (komentar #27)
Sejahtera Makmur - ASS . WR . WB
Permisi . . . . Jika Aku Boleh selayang pandang Dikit , Mengingat # Beranda - bertutur mengenai Warga Bumi yang
Suka Baca Buku , Lingkup Orang - orang yang suka bersunyi - Senyap Memagut Sepi , Memusat Kosentrasi dan Mendapatkan - Tangkapan Ragam Ikhtisar , Petikan isian Buku Pengetahu - yang salah satunya seperti ini . . . .
AKU MENCARI KESUNYIAN Untuk Menyembunyikan diri dari orang - orang yang memuaskan diri sendiri - yang melihat Hantu ilmu pengetahuan dalam Mimpi - mimpi mereka dan Percaya bahwa Mereka telah sampai Tujuan . - *
Aku Mencari Kesunyian karena Jiwaku Kesal , Bergaul dengan mereka yang percaya sepenuhnya , bahwa Matahari dan Bulan serta Bintang - Gemintang TIDAK TERBIT Kecuali dari Peti Simpanan Mereka , dan TIDAK TERBENAM Kecuali di Taman - taman mereka . . . . !
AKU LARI dari Pemburu Pangkat yang Mencampakkan Nasib Orang Lain ! Sementara mereka Menaburkan Debu EMAS ke dalam mata mereka dan Memenuhi Telinga Mereka dengan Omong Kosong . - *
Aku Menjahui Para Menteri yang Hidupnya tidak sesuai dengan Pidato - Pidatonya dan yang Menuntut Rakyatnya apa - Apa yang mereka tidak mampu mendapatkannya . - *
AKU MENCARI KESUNYIAN KARENA AKU TIDAK MEMPEROLEH KEBAIKAN HATI MANUSIA , Kecuali Aku Membayar dengan Hati Nuraniku . # D E M O S : Aku Mencari Kesunyian karena Aku Mencari LEMBAGA RAKSASA Yang Mengerikan - yang Orang Menyebutnya PERADABAN - SETANGKUP BENDA ANEH yang Bangkit di atas Derita Abadi Umat Manusia . - *
Posted : Atur Nuhun Kahlil Gibran
Salam untuk segenap Komentator + YIM yang Budiman .
August 20th, 2008 at 11:42 pm
ijal (komentar #28)
iya2 keren,,,cm dubbingny agak sedikit mengganggu.
mudah2an film ini bs jd alternatip bagi masyarakat wat gantiin sintron2 perusak moral…huhuhu
amin.
Memang benar, saya sendiri kurang puas dengan dubbing itu. Lebih enak nonton versi Bahasa Mandarin. Namun untuk tayangan tv kita, lebih baik didubbing daripada menggunakan teks (subtitle) yang agak menyulitkan penonton awam. (YIM)
August 21st, 2008 at 1:39 am
Yusril jadi 2 :) (komentar #29)
Demos ini adiknya ariedi apa ya..
mumet :p
August 21st, 2008 at 10:48 am
Nasrullah (komentar #30)
Selamat atas penayangan perdana Laks Cheng Ho, dan juga promosi Cheng Ho di Kick Andy. Saya salut bang YIM jarang memakai stunt-man untuk adegan laga, rupanya pandai silat juga abang kita ini. Sayangnya, menurut penilaian saya yang awam ini wajah bang YIM kelihatan agak muda sehingga pamor/wibawa Cheng Ho menjadi berkurang.
Buat Demos, boleh juga komentar aktifnya tapi saya sebagai orang awam tidak mengerti maksudnya. Padahal berbagi komentar di sini sebagai media komunikasi untuk bersilaturrahmi, semakin dimengerti saya kira semakin baik untuk dibaca.
Episode pertama sampai ketiga film ini menggambarkan Cheng Ho muda berusia di bawah 40 tahun. Karena itu dimake up kelihatan muda. Dalam eposiode ke dua puluh, Cheng Ho mulai tua dan rambutnya mulai putih. Make up yang digunakan juga berubah. (YIM)
August 21st, 2008 at 11:13 am
Pages: [1] 2 3 4 5 » Show All
Punya pendapat? Sampaikan pendapat Anda